Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN PENDAHULUAN

HIDROSEFALUS
Definisi
Hidrosefalus adalah kelainan patologis otak yang mengakibatkan bertambahnya
cairan serebrospinal dengan atau pernah dengan tekanan intrakranial yang meninggi,
sehingga terdapat pelebaran ventrikel (Darsono, 2005). Pelebaran ventrikuler ini akibat
ketidakseimbangan antara produksi dan absorbsi cairan serebrospinal. Hidrosefalus selalu
bersifat sekunder, sebagai akibat penyakit atau kerusakan otak. Adanya kelainan-kelainan
tersebut menyebabkan kepala menjadi besar serta terjadi pelebaran sutura-sutura dan ubun-
ubun (DeVito EE et al, 2007).

Epidemiologi
Insidensi hidrosefalus antara 0,2-4 setiap 1000 kelahiran. Insidensi hidrosefalus
kongenital adalah 0,5-1,8 pada tiap 1000 kelahiran dan 11%-43% disebabkan oleh stenosis
aqueductus serebri. Tidak ada perbedaan bermakna insidensi untuk kedua jenis kelamin, juga
dalam hal perbedaan ras. Hidrosefalus dapat terjadi pada semua umur. Pada remaja dan
dewasa lebih sering disebabkan oleh toksoplasmosis. Hidrosefalus infantil; 46% adalah
akibat abnormalitas perkembangan otak, 50% karena perdarahan subaraknoid dan meningitis,
dan kurang dari 4% akibat tumor fossa posterior (Darsono, 2005:211).

Etiologi
Hidrosefalus terjadi bila terdapat penyumbatan aliran cairan serebrospinal (CSS) pada
salah satu tempat antara tempat pembentukan CSS dalam sistem ventrikel dan tempat
absorbsi dalam ruang subaraknoid. Akibat penyumbatan, terjadi dilatasi ruangan CSS
diatasnya (Allan H. Ropper, 2005). Teoritis pembentukan CSS yang terlalu banyak dengan
kecepatan absorbsi yang abnormal akan menyebabkan terjadinya hidrosefalus, namun dalam
klinik sangat jarang terjadi. Penyebab penyumbatan aliran CSS yang sering terdapat pada
bayi dan anak ialah :
1) Kelainan Bawaan (Kongenital)
a. Stenosis akuaduktus Sylvii
b. Spina bifida dan kranium bifida
c. Sindrom Dandy-Walker
d. Kista araknoid dan anomali pembuluh darah
2) Infeksi
Akibat infeksi dapat timbul perlekatan meningen. Secara patologis terlihat penebalan
jaringan piamater dan araknoid sekitar sisterna basalis dan daerah lain. Penyebab lain infeksi
adalah toxoplasmosis.
3) Neoplasma
Hidrosefalus oleh obstruksi mekanik yang dapat terjadi di setiap tempat aliran CSS.
Pada anak yang terbanyak menyebabkan penyumbatan ventrikel IV atau akuaduktus Sylvii
bagian terakhir biasanya suatu glioma yang berasal dari serebelum, penyumbatan bagian
depan ventrikel III disebabkan kraniofaringioma.
4) Perdarahan
Perdarahan sebelum dan sesudah lahir dalam otak, dapat menyebabkan fibrosis
leptomeningen terutama pada daerah basal otak, selain penyumbatan yang terjadi akibat
organisasi dari darah itu sendiri (Allan H. Ropper, 2005:360).

Patofisiologi dan Patogenesis


CSS yang dibentuk dalam sistem ventrikel oleh pleksus khoroidalis kembali ke dalam
peredaran darah melalui kapiler dalam piamater dan arakhnoid yang meliputi seluruh susunan
saraf pusat (SSP). Cairan likuor serebrospinalis terdapat dalam suatu sistem, yakni sistem
internal dan sistem eksternal. Pada orang dewasa normal jumlah CSS 90-150 ml, anak umur
8-10 tahun 100-140 ml, bayi 40-60 ml, neonatus 20-30 ml dan prematur kecil 10-20 ml.
Cairan yang tertimbun dalam ventrikel 500-1500 ml (Darsono, 2005). Aliran CSS normal
ialah dari ventrikel lateralis melalui foramen monroe ke ventrikel III, dari tempat ini melalui
saluran yang sempit akuaduktus Sylvii ke ventrikel IV dan melalui foramen Luschka dan
Magendie ke dalam ruang subarakhnoid melalui sisterna magna. Penutupan sisterna basalis
menyebabkan gangguan kecepatan resorbsi CSS oleh sistem kapiler. (DeVito EE et al,
2007:328)
Hidrosefalus secara teoritis terjadi sebagai akibat dari tiga mekanisme yaitu :
1. Produksi likuor yang berlebihan
2. Peningkatan resistensi aliran likuor
3. Peningkatan tekanan sinus venosa
Konsekuensi tiga mekanisme di atas adalah peningkatan tekanan intrakranial sebagai
upaya mempertahankan keseimbangan sekresi dan absorbsi. Mekanisme terjadinya dilatasi
ventrikel cukup rumit dan berlangsung berbeda-beda tiap saat selama perkembangan
hidrosefalus.
Dilatasi ini terjadi sebagai akibat dari :
1. Kompresi sistem serebrovaskuler.
2. Redistribusi dari likuor serebrospinalis atau cairan ekstraseluler
3. Perubahan mekanis dari otak.
4. Efek tekanan denyut likuor serebrospinalis
5. Hilangnya jaringan otak.
6. Pembesaran volume tengkorak karena regangan abnormal sutura kranial.
Produksi likuor yang berlebihan disebabkan tumor pleksus khoroid. Gangguan aliran
likuor merupakan awal dari kebanyakan kasus hidrosefalus. Peningkatan resistensi yang
disebabkan gangguan aliran akan meningkatkan tekanan likuor secara proporsional dalam
upaya mempertahankan resorbsi yang seimbang.
Peningkatan tekanan sinus vena mempunyai dua konsekuensi, yaitu peningkatan
tekanan vena kortikal sehingga menyebabkan volume vaskuler intrakranial bertambah dan
peningkatan tekanan intrakranial sampai batas yang dibutuhkan untuk mempertahankan
aliran likuor terhadap tekanan sinus vena yang relatif tinggi. Konsekuensi klinis dari
hipertensi vena ini tergantung dari komplians tengkorak. (Darsono, 2005:212)

Klasifikasi
Klasifikasi hidrosefalus bergantung pada faktor yang berkaitan dengannya, berdasarkan :
1. Gambaran klinis, dikenal hidrosefalus manifes (overt hydrocephalus) dan hidrosefalus
tersembunyi (occult hydrocephalus).
2. Waktu pembentukan, dikenal hidrosefalus kongenital dan hidrosefalus akuisita.
3. Proses terbentuknya, dikenal hidrosefalus akut dan hidrosefalus kronik.
4. Sirkulasi CSS, dikenal hidrosefalus komunikans dan hidrosefalus non komunikans.
Hidrosefalus interna menunjukkan adanya dilatasi ventrikel, hidrosefalus eksternal
menunjukkan adanya pelebaran rongga subarakhnoid di atas permukaan korteks.
Hidrosefalus obstruktif menjabarkan kasus yang mengalami obstruksi pada aliran likuor.
Berdasarkan gejala, dibagi menjadi hidrosefalus simptomatik dan asimptomatik. Hidrosefalus
arrested menunjukan keadaan dimana faktor-faktor yang menyebabkan dilatasi ventrikel pada
saat tersebut sudah tidak aktif lagi. Hidrosefalus ex-vacuo adalah sebutan bagi kasus
ventrikulomegali yang diakibatkan atrofi otak primer, yang biasanya terdapat pada orang tua.
(Darsono, 2005)
Manifestasi Klinis
Tanda awal dan gejala hidrosefalus tergantung pada awitan dan derajat
ketidakseimbangan kapasitas produksi dan resorbsi CSS (Darsono, 2005). Gejala-gejala yang
menonjol merupakan refleksi adanya hipertensi intrakranial. Manifestasi klinis dari
hidrosefalus pada anak dikelompokkan menjadi dua golongan, yaitu :
1. Awitan hidrosefalus terjadi pada masa neonatus
Meliputi pembesaran kepala abnormal, gambaran tetap hidrosefalus kongenital dan
pada masa bayi. Lingkaran kepala neonatus biasanya adalah 35-40 cm, dan pertumbuhan
ukuran lingkar kepala terbesar adalah selama tahun pertama kehidupan. Kranium terdistensi
dalam semua arah, tetapi terutama pada daerah frontal. Tampak dorsum nasi lebih besar dari
biasa. Fontanella terbuka dan tegang, sutura masih terbuka bebas. Tulang-tulang kepala
menjadi sangat tipis. Vena-vena di sisi samping kepala tampak melebar dan berkelok. (Peter
Paul Rickham, 2003)
2. Awitan hidrosefalus terjadi pada akhir masa kanak-kanak
Pembesaran kepala tidak bermakna, tetapi nyeri kepala sebagai manifestasi hipertensi
intrakranial. Lokasi nyeri kepala tidak khas. Dapat disertai keluhan penglihatan ganda
(diplopia) dan jarang diikuti penurunan visus. Secara umum gejala yang paling umum terjadi
pada pasien-pasien hidrosefalus di bawah usia dua tahun adalah pembesaran abnormal yang
progresif dari ukuran kepala. Makrokrania mengesankan sebagai salah satu tanda bila ukuran
lingkar kepala lebih besar dari dua deviasi standar di atas ukuran normal. Makrokrania
biasanya disertai empat gejala hipertensi intrakranial lainnya yaitu:
a. Fontanel anterior yang sangat tegang.
b. Sutura kranium tampak atau teraba melebar.
c. Kulit kepala licin mengkilap dan tampak vena-vena superfisial menonjol.
d. Fenomena ‘matahari tenggelam’ (sunset phenomenon).
Gejala hipertensi intrakranial lebih menonjol pada anak yang lebih besar
dibandingkan dengan bayi. Gejalanya mencakup: nyeri kepala, muntah, gangguan kesadaran,
gangguan okulomotor, dan pada kasus yang telah lanjut ada gejala gangguan batang otak
akibat herniasi tonsiler (bradikardia, aritmia respirasi). (Darsono, 2005:213)
Diagnosis
Disamping dari pemeriksaan fisik, gambaran klinik yang samar-samar maupun yang
khas, kepastian diagnosis hidrosefalus dapat ditegakkan dengan menggunakan alat-alat
radiologik yang canggih. Pada neonatus, USG cukup bermanfaat untuk anak yang lebih
besar, umumnya diperlukan CT scanning. CT scan dan MRI dapat memastikan diagnosis
hidrosefalus dalam waktu yang relatif singkat. CT scan merupakan cara yang aman dan dapat
diandalkan untuk membedakan hidrosefalus dari penyakit lain yang juga menyebabkan
pembesaran kepala abnormal, serta untuk identifikasi tempat obstruksi aliran CSS.
Anak-anak atau orang dewasa memberikan reaksi yang berbeda karena tempurung
kepala tidak lagi bisa membesar untuk mengakomodir penumpukan jumlah CSS. Gejala
umumnya adalah muntah, mengantuk, papillederma (pembengkakan bagian syaraf optik),
pandangan yang tidak jelas, diplopia (pandangan ganda), mata layu, kehilangan
keseimbangan, dan kehilangan daya ingat. (Darsono, 2005:214)

Diagnosis Banding
Pembesaran kepala dapat terjadi pada hidrosefalus, makrosefali, tumor otak, abses otak,
granuloma intrakranial, dan hematoma subdural perinatal, hidranensefali. Hal-hal tersebut
dijumpai terutama pada bayi dan anak-anak berumur kurang dari 6 tahun. (Darsono,
2005:215)

Terapi
Pada dasarnya ada tiga prinsip dalam pengobatan hidrosefalus, yaitu :
a) Mengurangi produksi CSS.
b) Mempengaruhi hubungan antara tempat produksi CSS dengan tempat absorbsi.
c) Pengeluaran likuor (CSS) kedalam organ ekstrakranial. (Darsono, 2005)
Penanganan hidrosefalus juga dapat dibagi menjadi :
1. Penanganan Sementara
Terapi konservatif medikamentosa ditujukan untuk membatasi evolusi hidrosefalus melalui
upaya mengurangi sekresi cairan dari pleksus khoroid atau upaya meningkatkan resorbsinya.
2. Penanganan Alternatif (Selain Shunting)
Misalnya : pengontrolan kasus yang mengalami intoksikasi vitamin A, reseksi radikal lesi
massa yang mengganggu aliran likuor atau perbaikan suatu malformasi. Saat ini cara terbaik
untuk melakukan perforasi dasar ventrikel III adalah dengan teknik bedah endoskopik. (Peter
Paul Rickham, 2003)
3. Operasi Pemasangan ‘Pintas’ (Shunting)
Operasi pintas bertujuan membuat saluran baru antara aliran likuor dengan kavitas drainase.
Pada anak-anak lokasi drainase yang terpilih adalah rongga peritoneum. Biasanya cairan
serebrospinalis didrainase dari ventrikel, namun kadang pada hidrosefalus komunikans ada
yang didrain ke rongga subarakhnoid lumbar. Ada dua hal yang perlu diperhatikan pada
periode pasca operasi, yaitu: pemeliharaan luka kulit terhadap kontaminasi infeksi dan
pemantauan kelancaran dan fungsi alat shunt yang dipasang. Infeksi pada shunt meningatkan
resiko akan kerusakan intelektual, lokulasi ventrikel dan bahkan kematian. (Allan H. Ropper,
2005:360)

Prognosis
Hidrosefalus yang tidak diterapi akan menimbulkan gejala sisa, gangguan neurologis
serta kecerdasan. Dari kelompok yang tidak diterapi, 50-70% akan meninggal karena
penyakitnya sendiri atau akibat infeksi berulang, atau oleh karena aspirasi pneumonia.
Namun bila prosesnya berhenti (arrested hidrosefalus) sekitar 40% anak akan mencapai
kecerdasan yang normal (Allan H. Ropper, 2005). Pada kelompok yang dioperasi, angka
kematian adalah 7%. Setelah operasi sekitar 51% kasus mencapai fungsi normal dan sekitar
16% mengalami retardasi mental ringan. Adalah penting sekali anak hidrosefalus mendapat
tindak lanjut jangka panjang dengan kelompok multidisipliner. (Darsono, 2005).

Pemeriksaan Penunjang.
1. Scan temograsfi komputer ( CT-Scan) mempertegas adanya dilatasi ventrikel dan
membantui dalam memgidentifikasi kemungkinan penyebabnya( Neoplasma,
kista,malformasi konginetal atau perdarahan intra kranial ). Fungsi ventrikel kadang
digunakan untiuk menukur tekanan intra kranial menghilangkan cairan serebrospinal
untuk kultur (aturan ditentukan untuk pengulangan pengaliran).
2. EEG : untuk mengetahui kelainan genetik atau metabolic
3. Transluminasi : Untuk mengetahui apakah adanya kelainan dalam kepala
4. MRI : ( Magnetik resonance imaging ) : memberi informasi mengenai stuktur otak
tanpa kena radiasi
Penatalaksanaan Medis
Pasang parau untuk mengeluarkjan kelebihan CSS dari ventrikel lateral kebagian
ekstrakranial ( biasanya peritonium untuk bayi dan anak-anak atau atrium pada remaja )
dimana hal tersebut dapat direabsorbsi.
Komplikasi
1.Peningkatan TIK
2.Infeksi malfungsi pirau
3.Keterlambatan perkembangan kognitif, psikososial, dan fisik
4.IQ menurun
ASUHAN KEPERAWATAN

1. PENGKAJIAN
Anamnese
1) Riwayat penyakit / keluhan utama
Muntah, gelisah nyeri kepala, lethargi, lelah apatis, penglihatan ganda, perubahan
pupil, kontriksi penglihatan perifer.
2) Riwayat Perkembangan
Kelahiran : prematur. Lahir dengan pertolongan, pada waktu lahir menangis keras
atau tidak.
Kekejangan : Mulut dan perubahan tingkah laku.
Apakah pernah terjatuh dengan kepala terbentur.
Keluhan sakit perut.

Pemeriksaan Fisik
1) Inspeksi :
 Anak dapat melioha keatas atau tidak.
 Pembesaran kepala.
 Dahi menonjol dan mengkilat. Sertas pembuluh dara terlihat jelas.
2) Palpasi
 Ukur lingkar kepala : Kepala semakin membesar.
 Fontanela : Keterlamabatan penutupan fontanela anterior sehingga
fontanela tegang, keras dan sedikit tinggi dari permukaan tengkorak.
3) Pemeriksaan Mata
 Akomodasi.
 Gerakan bola mata.
 Luas lapang pandang
 Konvergensi.
 Didapatkan hasil : alis mata dan bulu mata keatas, tidak bisa melihat keatas.
 Stabismus, nystaqmus, atropi optic.

Observasi Tanda –tanda vital


Didapatkan data – data sebagai berikut :
 Peningkatan sistole tekanan darah.
 Penurunan nadi / Bradicardia.
 Peningkatan frekwensi pernapasan.
Diagnosa Klinis :
 Transimulasi kepala bayi yang akan menunjukkan tahap dan lokalisasi dari
pengumpulan cairan banormal. ( Transsimulasi terang )
 Perkusi tengkorak kepala bayi akan menghasilkan bunyi “ Crakedpot “
(Mercewen’s Sign)
 Opthalmoscopy : Edema Pupil.
 CT Scan Memperlihatkan (non – invasive) type hidrocephalus dengan nalisisi
komputer.
 Radiologi : Ditemukan Pelebaran sutura, erosi tulang intra cranial.

2. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Pre Operatif
1) Gangguan rasa nyaman: Nyeri akut berhubungan dengan meningkatkanya tekanan
intrakranial .
Data Indikasi : Adanya keluahan Nyeri Kepala, Meringis atau menangis, gelisah,
kepala membesar
Tujuan ; Setelah dilakukan intervensi 1x24 jam Klien akan mendapatkan
kenyamanan, nyeri kepala berkurang
Kriteria hasil : Nyeri berkurang, tidak ada grimace meringis Kesakitan, Kepala
mengecil
Rencana Keperawatan :
1. Berikan ruangan/lingkungan yang tenang sesuai indikasi
R/ Menurunkan reaksi terhadap stimulasi dari luar atau sensitivitas pada
cahaya dan meningkatkan istirahat/relaksasi
2. Tingkatkan tirah baring, bantulah kebutuhan perawatan diri
yang penting
R/ Menurunkan gerakan yang dapat meningkatkan nyeri
3. Dukung untuk menemukan posisi yang nyaman, seperti
kepala agak tinggi sedikit.
R/ Menurunkan iritasi, resultan ketidaknyamanan lebih lanjut.
4. Berikan latihan rentang gerak aktif/pasif secara tepat dan
masase otot daerah leher/bahu
R/ Dapat membantu merelaksasikan ketegangan otot yang meningkatkan
reduksi nyeri atau rasa tidak nyaman tersebut.
5. Berikan tindakan kolaboratif pemberian analgesic (seperti
asetaminofen,kodein)
R/ Mungkin diperlukan untuk menghilangkan nyeri yang berat.

2) Kecemasan sehubungan dengan keadaan yang akan mengalami operasi.


Data Indikasi : Ekspresi verbal menunjukkan kecemasan akan keadaan anaknya.
Tujuan : Setelah dilakukan pendekatan dan intervensi Kecemasan berkurang atau
dapat diatasi.
Kriteria Hasil : kecemasan berkurang
Rencana keperawatan :
1. Kaji status mental dan tingakt ansietas dari pasien/keluarga. Catat adanya
tanda-tanda verbal atau nonverbal
R/ Gangguan tingkat kesadaran dapat mempengaruhi ekspresi rasa takut tetapi
tidak menyangkal keberadaannya. Derajat ansietas akan dipengaruhi
bagaimana informasi tersebut diterima oleh individu
2. Berikan penjelasan dan persiapkan untuk tindakan prosedur sebelum
dilakukan
R/ Dapat meringankan ansietas terutama ketika pemeriksaan.
3. Berikan kesempatan pasien untuk mengungkapkan isi pikiran dan perasaan
takutnya
R/ Mengungkapkan rasa takut secara terbuka dimana rasa takut dapat
ditujukan
4. Libatkan keluarga dalam perawatan, perencanaan, motivasi dan membuat
keputusan
R/ Meningkatkan rasa control terhadap diri dan meningkatkan kemandirian
serta dukungan.

3) Resiko Kekurangan cairan sehubungan dengan intake yang kurang diserta muntah.
Data Indikasi ; keluhan Muntah, Jarang minum.
Tujuan : Setelah dilakukan intervensi 1x24 jam Tidak terjadi kekurangan cairan dan
elektrolit.
Kriteria Hasil : muntah berkurang dan pemasukan cairan meningkat
Rencana keperawatan :
1. Kaji tanda vital, peningkatan suhu/demam memanjang, takikardi, hipotensi
ortostatik
R/ peningkatan suhu meningkatkan laju metabolic dan kehilangan cairan
melalui evaporasi. TD ortostatik berubah dan peningkatan takikardia
menunjukkan kekurangan cairan sistemik
2. Kaji turgor kulit, kelembaban membrane mukosa (bibir, lidah)
R/ Indicator langsung keadekuatan volume cairan, meskipun membrane
mukosa mulut mungkin kering karena nafas mulut dan oksigen tambahan
3. Pantau masukan dan haluaran, catat warna, karakter uruine, hitung
keseimbangan cairan. Waspadai kehilangan yang tampak. Ukur berat badan
sesuai indikasi
R/ Memberikan informasi tentang keadekuatan volume cairan dan kebutuhan
penggantian
4. Tekankan cairan sedikitnya 250cc/hari atau sesuai indikasi
R/ Pemenuhan kebutuhan dasar cairan, menurunkan resiko dehidrasi
5. Kolaborasikan pemberian obat sesuai indikasi (antipiretik, antiemetic)
R/ Berguna menurunkan kehilangan cairan
6. Berikan cairan IV sesuai keperluan
R/ Pada adanya penurunan masuka/banyak kehilangan, penggunaan parenteral
dapat memperbaiki kekurangan

Post – Operatif.
1) Nyeri akut sehubungan dengan post operasi dilakukan pemasangan shunt.
Data Indikasi ; adanya keluhan nyeri, Ekspresi non verbal adanya nyeri.
Tujuan : Setelah dilakukan intervensi 1x24 jam Rasa Nyaman Klien akan
terpenuhi, Nyeri berkurang
Kriteria hasil: Skala nyeri berkurang (1-3), Grimace kesakitan berkurang
Rencana Keperawatan :
1. Berikan ruangan/lingkungan yang tenang sesuai indikasi
R/ Menurunkan reaksi terhadap stimulasi dari luar atau sensitivitas pada
cahaya dan meningkatkan istirahat/relaksasi
2. Tingkatkan tirah baring, bantulah kebutuhan perawatan diri
yang penting
R/ Menurunkan gerakan yang dapat meningkatkan nyeri
3. Dukung untuk menemukan posisi yang nyaman, seperti
kepala agak tinggi sedikit.
R/ Menurunkan iritasi, resultan ketidaknyamanan lebih lanjut.
4. Berikan latihan rentang gerak aktif/pasif secara tepat dan
masase otot daerah leher/bahu
R/ Dapat membantu merelaksasikan ketegangan otot yang meningkatkan
reduksi nyeri atau rasa tidak nyaman tersebut.
5. Berikan tindakan kolaboratif pemberian analgesic (seperti
asetaminofen,kodein)
R/ Mungkin diperlukan untuk menghilangkan nyeri yang berat.
6. Beri kapas secukupnya dibawa telinga yang dibalut.
7. Aspirasi shunt (Posisi semi fowler), bila harus memompa shunt, maka
pemompaan dilakukan perlahan – lahan dengan interval yang telah ditentukan.
R/ Mencegah terjadinya infeksi dan pemyebaran cairan terlalu luas
8. Kolaborasi dengan tim medis bila ada kesulitan dalam pemompaan shunt.
R/ Menjaga kestabilan kondisi pasien
9. Berikan posisi yang nyaman. Hindari posisi pada tempat dilakukan shunt.
R/ Meningkatkan rasa nyaman bagi pasien
10. Observasi tingkat kesadaran dengan memperhatikan perubahan muka (Pucat,
dingin, berkeringat)
R/ Indikator adanya masalah pada nyeri
11. Kaji orisinil nyeri : Lokasi dan radiasinya.
R/ Memudahkan untuk mengatasi nyeri pasien

2) Resiko tinggi terjadinya gangguan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh


sehubungan dengan intake yang tidak adekuat.
Data Indikasi ; Adanya keluhan kesulitan dalam mengkonsumsi makanan.
Tujuan : Setelah dilakukan intervensi 1x24 jam Tidak terjadi gangguan nutrisi.
Kriteria Hasil : Adanya peningkatan BB, Turgor kulit normal, Mukosa bibir
normal, output dan input seimbang
Rencana Keperawatan :
1. Kaji kemampuan pasien untuk menelan, mengunyah, batuk dan
mengatasi sekresi
R/ faktor ini menentukan pemilihan terhadap jenis makanan sehingga pasien
harus terlindung dari aspirasi
2. Timbang berat badan sesuai indikasi
R/ mengebaluasi kefektifan atau kebutuhan mengubah status pemberian nutrisi
3. Jaga keamanan saat memberikan makan pada pasien, seperti tinggikan
kepala tempat tidur pasien selama makan atau selama pemberian makan lewat
NGT
R/ menurunkan resiko terjadinya aspirasi
4. Berikan makanan dalam porsi kecil tapi sering
R/ Meningkatkan proses pencernaan dan toleransi pasien terhadap nutrisi yang
diberikan
5. Konsultasi dengan ahli gizi
R/ Merupakan sumber efektif untuk mengidentifikasi kebutuhan kalori/nutrisi
tergantung pada berat badan, usia, penyakit.
6. Berikan makan dengan cara yang sesuai, seperti leawat selang NG,
member makanan lunak dan cairan agak kental
R/ Pemilihan rute tergantung pada kebutuhan dan kemampuan pasien
7. Pertahankan kebersihan oral (mulut)
R/ Meningkatkan nafsu makan pasien

3) Resiko tinggi terjadinya infeksi sehubungan dengan infiltrasi bakteri melalui


shunt.
Tujuan : Setelah dilakukan intervensi 1x24 jam Tidak terjadi infeksi / Klien
bebas dari infeksi
Kriteria Hasil : suhu tubuh normal, tidak ada tanda-tanda infeksi, tidak terjadi
komplikasi.
Rencana Keperawatan:
1. Monitor terhadap tanda – tanda infeksi.
R/ Mencegah terjadinya komplikasi lebih lanjut
2. Pertahankan tekhnik kesterilan dalam prosedur perawatan
R/ Menurunkan resiko infeksi sekunder. Mengontrol penyebaran infeksi
semakin meluas
3. Cegah terhadap terjadi gangguan suhu tubuh.
R/ Timbulnya pengingkatan suhu sebagai indikasi adanya infeksi
4. Pertahanakan prinsiup aseptik pada drainase dan ekspirasi shunt.
R/ Mencegah terjadi penyebaran infeksi dan mengontrol pemajanan infeksi

4) Resiko tinggi terjadi kerusakan integritas kulit sehubungan dengan imobilisasi.


Tujuan ; Setelah dilakukan intervensi 1x24 jam Pasien bebas dari kerusakan
integritas kulit dan kontraktur.
Kriteria Hasil : tidak terdapat iritasi pada kulit, keadaan kulit kering dab bersih
Rencana keperawatan :
1. Mobilisasi klien (Miki dan Mika) setiap 2 jam.
R/ Meningkatkan sirkulasi pada kulit dan mengurangi tekanan pada daerah
tulang yang menonjol
2. Obsevasi terhadap tanda – tanda kerusakan integritas kulit dan kontrkatur.
R/ Mencegah adanya kerusakan kulit yang bertambah parah
3. Jasgalah kebersihan dan kerapihan tempat tidur.
R/ Mencegah adanya iritasi pada kulit
4. Berikan latihan secara pasif dan perlahan – lahan
R/ Menstimulasi sirkulasi, menigkatkan nutris sel atau oksigenasi jaringan,
meningkatkan kesehatan jaringan
DAFTAR PUSTAKA
• http://www.ninds.nih.gov/disorders/hydrocephalus/hydrocephalus.htm
• DeVito EE, Salmond CH, Owler BK, Sahakian BJ, Pickard JD. 2007. Caudate structural
abnormalities in idiopathic normal pressure hydrocephalus. Acta Neurol Scand 2007: 116:
pages 328–332.
• Peter Paul Rickham. 2003. Obituaries. BMJ 2003: 327: 1408-doi: 10.1136/
bmj.327.7428.1408.
• Ropper, Allan H. And Robert H. Brown. 2005. Adams And Victor’s Principles Of
Neurology: Eight Edition. USA.
• Darsono dan Himpunan dokter spesialis saraf indonesia dengan UGM. 2005. Buku Ajar
Neurologi Klinis. Yogyakarta: UGM Press.