Anda di halaman 1dari 7

RESPIRASI PADA TUMBUHAN (RESPIRASI AEROB)

Jurnal Praktikum Fisiologi Tumbuhan

Oleh
NATALINA
J1C108027

Asisten
ADITYAWARMAN

PROGRAM STUDI S-1 BIOLOGI


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
BANJARBARU
MEI, 2010
RESPIRASI PADA TUMBUHAN (RESPIRASI AEROB)

Natalina
PS Biologi FMIPA Universitas Lambung Mangkurat
Jl. A. Yani Km 35,8 Banjarbaru
E-mail: alin.natalina@gmail.com (085654059128)

ABSTRAK
Praktikum ini bertujuan mengetahui proses respirasi aerob pada tumbuhan dan
membuktikan bahwa pada proses respirasi dihasilkan CO2. Respirasi adalah
suatu proses pembongkaran (katabolisme atau disasimilasi) di mana energi yang
tersimpan dibongkar kembali untuk menyelenggarakan proses – proses
kehidupan. jika gula heksosa diambil sebagai bahan bakar dan pembakaran itu
memerlukan oksigen bebas. Dibuat larutan Ca(OH)2 dengan cara melarutkan
CaCO3 dengan H2O sampai jernih. Dimasukkan kecambah ke dalam labu
erelenmeyer secukupnya. Dimasukkan larutan Ca(OH)2 ke dalam labu
erlenmeyer yang lain. Ditutup kedua labu dengan gabus yang telah disiapkan
duhubungkan labu dengan pipa plastik, ditutup celah pada gabus dengan vaselin.
Diamati larutan Ca(OH)2 beberapa saat. Hasil yang diperoleh adalah waktu
terjadinya endapan pada masing-masing kelompok secara berturut-turut yaitu 15
menit dengan panjang selang 32 cm, 30 menit dengan panjang selang 51,5 cm, 45
menit dengan panjang selang 50 cm, dan tidak terbentuk endapan dengan
ppanjang selang 100 cm. Semakin panjang selang maka semakin lama waktu
yang diperlukan untuk terjadi endapan. Faktor yang mempengaruhi respirasi
pada praktikum kali ini adalah panjang selang dan kondisi kecambah.

Kata kunci : aerob, proses, respirasi.

PENDAHULUAN
Kalau fotosintesis adalah suatu proses penyusunan (anabolisme atau
asimilasi) dimana energi diperoleh dari sumber cahaya dan disimpan sebagai zat
kimia, maka proses respirasi adalah suatu proses pembongkaran (katabolisme atau
disasimilasi) di mana energi yang tersimpan dibongkar kembali untuk
menyelenggarakan proses – proses kehidupan. jika gula heksosa diambil sebagai
bahan bakar dan pembakaran itu memerlukan oksigen bebas ,maka reaksi
keseluruhannya dapat ditulis sebagai berikut

C6H12O6 + 6 O2 6 CO2 + 6H2O +675 kal

Respirasi merupakan proses oksidasi bahan organik yang terjadi di dalam


sel, berlangsung secara aerobik maupun anaerobik. Dalam respirasi aerob
diperlukan oksigen dan dihasilkan karbon dioksida serta energi. Sedangkan dalam
respirasi anaerob dimana oksigen tidak/kurang tersedia dan dihasilkan senyawa
selain karbondioksida, alkohol, asetaldehida atau asam asetat dan sedikit energi
(Keeton, 1967).
Energi yang terlepas itu sangat banyak, hal ini dapat dibuktikan dengan
memanasi (bukan membakar) gula sampai pada titik mulai terbakarnya. Panas
yang ditimbulkan adalah bentuk lain dari energi. Di dalam mahluk hidup terjadi
pula pembakaran gula dan macam-macam zat organik lainnya, namun
pembakaran atau oksidasi itu tidak membutuhkan api melainkan berlangsung
dengan pertolongan enzim-enzim dan prosesnya terjadi di dalam temperatur
yang biasa (Dwidjoseputro, 1978).
Tahapan ini merupakan proses metabolisme dimana molekul kompleks yang kaya
energi dirombak menjadi molekul sederhana yang miskin energi disebut dengan
katabolisme. Pada proses ini bahan makanan padat biasanya dirombak menjadi molekul
yang lebih kecil dan mudah larut sebelum dapat dimanfaatkan oleh sel-sel. Pada proses
ini (yang merupakan hidrolisis ensimatik), polisakarida seperti amilum atau pati
dirombak menjadi gula, protein menjadi asam amino, lemak menjadi asam lemak dan
gliselor dan asam nukleat menjadi nukleotida. pada tiap proses, molekul air disisipkan di
antara subunit-subunit sehingga terpisah, oleh karena itu disebut hidrolisis (Keeton,
1967).
Kebanyakan energi bebas yang tersimpan di dalam pati, protein, dan lemak masih
tersimpan di dalam hasil akhir hidrolisisnya, yaitu glukose, asam amino, asam lemak dan
gliserol, dan untuk selanjutnya energi tersebut akan dibebaskan atau dilepaskan melalui
proses respirasi, yang terjadi melalui tiga tahap repirasi, yaitu: glikolisis (respirasi
anaerob), siklus Krebs, elektron (fosforilasi oksidatif) (Keeton, 1967).
Perbandingan antara jumlah CO 2 yang dilepaskan dan jumlah O2 yang
digunakan biasa dikenal dengan Respiratory Ratio atau Respiratory Quotient dan
disingkat RQ. Nilai RQ tergantung pada bahan/substrat untuk respirasi dan
sempurna tidaknya proses respirasi dan kondisi lainnya (Kimball, 1992).
Faktor-faktor yang mempengaruhi laju repirasi aerob meliputi ketersediaan
jumlah dan jenis substrat, ketersediaan O2 sebagai sumber energi yang akan
digunakan oleh mitokondria dalam lintasan elektron untuk membetuk ATP.
Reaksi respirasi berjalan secara enzimatis selalu memiliki kisaran suhu aktif
tertentu. Semakin tinggi suhu akan meningkatkan laju respirasi. Pada batas
tertentu kenaikan suhu akan menurunkan laju respirasi. Biji melakukan respirasi
aktif pada saat kecambah. Dengan menggunakan cadangan makanan yang
terdapat dalam keping biji, kecambah akan tumbuh besar dan sel-selnya aktif
membelah dan memanjang. Pengukuran CO2 persatuan waktu per berat basah
kecambah yang dihasilkan selama proses respirasi, dapat diukur secara asidimetri
pada larutan NaOH yang diletakkan dalam ruang tertutup bersama biji yang
sedang aktif berkecambah. Sistem respirasi, jumlah oksigen yang diambil melalui
udara pernapasan tergantung pada kebutuhan dan hal tersebut biasanya
dipengaruhi oleh jenis bahan makanan yang dimakan (Dwidjoseputro, 1978).
Respirasi anaerob sebenarnya dapat juga berlangsung didalam udara yang
bebas, akan tetapi proses ini tidak menggunakan O2 yang tesedia di udara tersebut.
Pernapasan anaerob sering juga disebut dengan fermentasi. Fermentasi adalah
proses produksi energi dalam sel dalam keadaan anaerobik (tanpa oksigen).
Secara umum, fermentasi adalah salah satu bentuk respirasi anaerobik, akan
tetapi, terdapat definisi yang lebih jelas yang mendefinisikan fermentasi sebagai
respirasi dalam lingkungan anaerobik dengan tanpa akseptor elektron eksternal.
Meskipun tidak semua fermentasi ini anaerob. Contoh mikroorganisme yang
mendapatkan energi dengan respirasi anaerob antara lain fermentasi pada ragi.
Respirometer adalah alat yang digunakan untuk mengukur rata-rata
pernapasan organisme dengan mengukur rata-rata pertukaran oksigen dan karbon
dioksida. Hal ini memungkinkan penyelidikan bagaimana faktor-faktor seperti
umur atau pengaruh cahaya mempengaruhi rata-rata pernapasan (Lovelles, 1997).
Respirometer sederhana adalah alat yang dapat digunakan untuk mengukur
kecepatan pernapasan beberapa macam organisme hidup seperti serangga, bunga,
akar, kecambah yang segar. Jika tidak ada perubahan suhu yang berarti, kecepatan
pernapasan dapat dinyatakan dalam ml/detik/g, yaitu banyaknya oksigen yang
digunakan oleh makhluk percobaan tiap 1 gram berat tiap detik (Ellis, 1986).
Respirometer ini terdiri atas dua bagian yang dapat dipisahkan, yaitu tabung
spesimen (tempat hewan atau bagian tumbuhan yang diselidiki) dan pipa kapiler
berskala yang dikaliberasikan teliti hingga 0,01 ml. Kedua bagian ini dapat
dipersatukan amat rapat hingga kedap udara dan didudukkan pada penumpu
(landasan) kayu atau logam (Ellis, 1986).
Alat ini bekerja atas suatu prinsip bahwa dalam pernapasan ada oksigen
yang digunakan oleh organisme dan ada karbon dioksida yang dikeluarkan
olehnya. Jika organisme yang bernapas itu disimpan dalam ruang tertutup dan
karbon dioksida yang dikeluarkan oleh organisme dalam ruang tertutup itu diikat,
maka penyusutan udara akan terjadi. Kecepatan penyusutan udara dalam ruang itu
dapat dicatat (diamati) pada pipa kapiler berskala.
Respirometer ganong adalah alat yang dapat digunakan untuk menentukan
angka respirasi (RQ = Respiratory Quotient) secara kuantitatif dalam suatu
peristiwa pernapasan. Tergantung pada substrat yang digunakan, harga RQ dapat
sama dengan 1, lebih dari 1 atau kurang dari 1. Harga RQ adalah harga
perbandingan CO2 yang dihasilkan dalam penapasan dengan O2 yang digunakan
dalam pernapasan tersebut.

BAHAN DAN METODE


Waktu dan Tempat Praktikum. Praktikum dilaksanakan pada tanggal 5
Mei 2010, bertempat di Laboratorium Dasar Ruang Biologi 1, Fakultas
Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Lambung Mangkurat
Banjarbaru.
Alat dan Bahan. Peralatan yang digunakan pada praktikum kali ini adalah
labu erlenmeyer, gabus, pipa plastik. Bahan-bahan yang digunakan adalah vaselin,
kecambah kacang hijau, larutan Ca(OH)2.
Prosedur Kerja. Dibuat larutan Ca(OH)2 dengan cara melarutkan CaCO3
dengan H2O sampai jernih. Dimasukkan kecambah ke dalam labu erelenmeyer
secukupnya. Dimasukkan larutan Ca(OH)2 ke dalam labu erlenmeyer yang lain.
Ditutup kedua labu dengan gabus yang telah disiapkan duhubungkan labu dengan
pipa plastik, ditutup celah pada gabus dengan vaselin. Diamati larutan Ca(OH)2
beberapa saat.
HASIL
Tabel 1. Hasil pengamatan respirasi (data kelas)
No Kelom Gambar tangan Gambar foto Keterangan Hasil
pok Gambar
1 I 1. Kecambah • Waktu terjadi
2. Larutan endapan : 15
Ca(OH)2 menit

3. Pipa • Terbentuk
plastik endapan putih
4. Gabus • Panjang selang
32 cm

2 II 1. Kecambah • Waktu terjadi


2. Larutan endapan : 30
Ca(OH)2 menit
3. Pipa
plastik • Terbentuk
4. Gabus endapan putih
• Panjang selang
51,5 cm
3 III 1. Kecambah • Waktu terjadi
2. Larutan endapan : 45
Ca(OH)2 menit
3. Pipa
plastik • Terbentuk
4. Gabus endapan putih
• Panjang selang
50 cm
4 IV 1. Kecambah • Waktu terjadi
2. Larutan endapan : 15
Ca(OH)2 menit dan 30
3. Pipa menit
plastik
4. Gabus • Tidak terbentuk
endapan putih
• Panjang selang
100 cm
PEMBAHASAN
Respirasi yang merupakan proses oksidasi yang serupa yang terkendali
secara baik atau efektif yang membuat semua organisme tetap hidup. Selama
proses pembakaran dan respirasi elektron dilepaskan dari senyawa karbon dan
diluncurkan ke bawah dan kemudian elektron tersebut bersama dengan H+
bergabung dengan penerima elektron kuat O2 untuk menghasilkan H2O yang
mantap. Persamaan reaksi dapat dituliskan sebagai berikut:
C6H12O6 + 6 O2 6 CO2 + 6H2O + Energi
Respirasi merupakan proses katabolisme atau penguraian senyawa
organik menjadi senyawa anorganik. Respirasi sebagai proses oksidasi bahan
organik yang terjadi didalam sel dan berlangsung secara aerobik maupun
anaerobik. Respirasi aerob pada pengukuran respirasi kecambah berarti
diperlukan oksigen dan dihasilkan karbondioksida serta energi sedangkan
respirasi anaerob berarti respirasi dengan kadar oksigen yang kurang atau tidak
dan dihasilkan senyawa selain karbondioksida seperti alkohol, asetildehida atau
asam asetat dengan sedikit energi.
Faktor-faktor yang mempengaruhi proses respirasi adalah pengukuran
pada kegiatan respirasi dimana suatu proses respirasi dapat diketahui melalui
kenaikan temperatur yang diakibatkan oleh kedua perlakuan tersebut selain itu
faktor cahaya karena cahaya mempergiat proses fotosintesis dan selanjutnya
fotosintesis menambah substrat sedangkan penambahan substrat mempergiat
proses respirasi dan jika faktor lain tidak menggangu dan cahaya merupakan
penambahan kegiatan proses respirasi. Faktor yang lain adalah pengaruh bahan
kimia yang digunakan pada percobaan ini konsentrasinya sangat rendah sehingga
menambah kegiatan respirasi.
Pada praktikum kali ini dilakukan percobaan untuk membuktikan bahwa
proses respirasi menghasilkan CO2. Percobaan ini dilakukan dengan
menghubungkan labu erlenmeyer yang berisi kecambah dan berisi Ca(OH)2.
Berdasarkan hasil yang telah didapat, ada terbentuk endapan putih seperti pasir
pada dasar labu erlenmeyer yang berisi CO2. Endapan tersebut merupakan reaksi
antara Ca(OH)2 dengan CO2, reaksi kimianya yaitu sebagai berikut :
Ca(OH)2 + CO2 CaCO3 (endapan putih) + H2O
Berdasarkan hasil pengamatan, waktu terjadinya endapan berbeda-beda.
Endapan terbentuk pada waktu yang berbeda-beda pada masing-masing kelompok
secara berturut-turut yaitu 15 menit dengan panjang selang 32 cm, 30 menit
dengan panjang selang 51,5 cm, 45 menit dengan panjang selang 50 cm, dan tidak
terbentuk endapan pada selang yang panjangnya 100 cm. Berdasarkan hasil,
panjang selang yang relatif pendek lebih cepat terjadi endapan dibandingkan
selang yang relatif panjang, hal ini ditunjukkan dengan terbentuknya endapan
yang lebih cepat pada selang yang panjangnya 32 cm daripada selang yang
panjangnya 51,5 cm dan 50 cm. Kegagalan yang terjadi pada kelompok 4
disebabkan karena kurang rapat menutup celah pada leher erlenmeyer sehingga
CO2 yang dihasilkan masih bisa keluar dan tidak melewati selang.
Faktor yang mempengaruhi respirasi pada praktikum kali ini adalah panjang
selang dan kondisi kecambah. Semakin panjang selang yang digunakan maka
semakin lambat proses terjadinya endapan putih, karena CO2 memerlukan waktu
yang relatif lama untuk melewati selang. Kondisi kecambah pun sangat
mempengaruhi, karena jika kecambah yang digunakan sudah layu maka proses
respirasi yang dilakukan kecambah akan kurang maksimal sehingga akibatnya
proses terjadinya endapan pun akan semakin lama.

KESIMPULAN
Kesimpulan yang diperoleh dari praktikum ini adalah Respirasi sebagai
proses oksidasi bahan organik yang terjadi didalam sel dan berlangsung secara
aerobik maupun anaerobik. Dalam respirasi aerob diperlukan oksigen dan
dihasilkan karbondioksida serta energi. Pada peristiwa respirasi menghasilkan
karbondioksida, air, dan sejumlah energi. Semakin panjang selang yang
digunakan maka semakin lambat proses terjadinya endapan putih pada larutan
Ca(OH)2, kegagalan salah satu percobaan disebabkan karena kurang rapat
menutup celah pada leher erlenmeyer sehingga CO2 yang dihasilkan masih bisa
keluar dan tidak melewati selang. Faktor yang mempengaruhi respirasi pada
praktikum kali ini adalah panjang selang dan kondisi kecambah.

DAFTAR PUSTAKA

Dwidjoseputro. 1978. Pengantar Fisiologi tumbuhan. Gramedia. Jakarta.

Ellis, N. 1986. Anatomi Tumbuhan. Rajawali Press. Jakarta.


Keeton, W.T. 1967. Biological Science. Norton and company. INC. New York

Kimball, J. W. 1992. Biologi Umum. Erlangga. Jakarta.

Lovelles. A. R. 1997. Prinsip-prinsip Biologi Tumbuhan untuk daerah Tropik.


Gramedia. Jakarta.