Anda di halaman 1dari 16

PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA

JUDUL PROGRAM
TANAMAN TEMBAKAU (Nicotiana tabacum)
SEBAGAI SUMBER BAHAN BAKU PEMBUATAN
BIOPESTISIDA

BIDANG KEGIATAN :
PKM Gagasan Tertulis (PKM-GT)

Diusulkan oleh
Septiyan Handayani NIM: 080810758 Angkatan 2008 (Ketua Kelompok)
Ni Made Pertiwi J. NIM: 080810757 Angkatan 2008 (Anggota Kelompok)
Johan Iswara NIM: 080912048 Angkatan 2009 (Anggota Kelompok)

UNIVERSITAS AIRLANGGA
SURABAYA
2010
HALAMAN PENGESAHAN
USUL PKM-GT

1. Judul Kegiatan : Tanaman Tembakau (Nicotiana


tabacum) Sebagai Sumber Bahan Baku
Pembuatan Biopestisida
2. Bidang Kegiatan : ( ) PKM-AI () PKM-GT
3. Ketua Pelaksana Kegiatan
a. Nama Lengkap : Septiyan Handayani
b. NIM : 080810758
c. Jurusan : Ilmu dan Teknologi Lingkungan
d. Universitas : Universitas Airlangga
e. Alamat Rumah dan No.HP : Ds. Ngariboyo RT. 03/ RW. 03
Magetan
HP. 08563490320
f. Alamat E-Mail : chepty_han@yahoo.com
4. Anggota Pelaksana Kegiatan : 2 orang
5. Dosen Pendamping
a. Nama Lengkap dan Gelar : Dra. Thin Soedarti, CESA
b. NIP : 19670920 199203 2 001
c. Alamat Rumah : Jalan Sudimoro No. 38 RT 6/ RW 6
Malang
d. No. HP : 08123314047

Surabaya, 8 Maret 2010


Menyetujui,
Pembina UKM Penalaran Ketua Pelaksana Kegiatan
Universitas Airlangga

( Hari Soepriandono, S.Si, M.Si) (Septiyan Handayani)


NIP. 19671122 199412 1 001 NIM. 080810758

Direktur Kemahasiswaan Dosen Pendamping


Universitas Airlangga

(Prof. Dr. Imam Mustofa, Drh., M.Kes.) (Dra. Thin Soedarti, CESA)
NIP. 19600427 198701 1 001 NIP. 19670920 199203 2 001
KATA PENGANTAR

Segala puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa berkat
karunia-Nya, penulis dapat menyelesaikan karya tulis Program Kreatifitas
Mahasiswa-Gagasan Tertulis (PKM-GT) yang berjudul “Tanaman Tembakau
(Nicotiana tabacum) Sebagai Sumber Bahan Baku Pembuatan Biopestisida” ini
dengan baik.
Tulisan ini dapat selesai dengan baik berkat bantuan dari berbagai pihak. Oleh
karena itu tidak lupa penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang
turut membantu dalam menyelesaikan karya tulis ini, yang terhormat:
1. Hari Soepriandono, S.Si, M.Si. selaku dosen pembina Unit Kegiatan Mahasiswa
(UKM) Penalaran Universitas Airlangga yang telah mendukung penulis.
2. Dra. Thin Soedarti, CESA. selaku dosen pembimbing yang telah memberikan
saran dan bimbingan untuk menyelesaikan karya tulis ini.
3. Bapak dan ibu dosen Fakultas Sains dan Teknologi yang telah memberi
dukungan dan semangat kepada penulis untuk menyususn karya tuls ini.
4. Orang tua yang turut memberi motivasi dan doa kepada penulis.
5. Kakak-kakak dan teman-teman di Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Penalaran
Universitas Airlangga.
6. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu.
Akhirnya penulis menyadari bahwa karya tulis ini jauh dari sempurna. Oleh
sebab itu, segala kritik dan saran dari pembaca yang dapat membangun sangat penulis
harapkan. Semoga karya tulis ini dapat memberikan manfaat bagi semua pihak serta
perkembangan ilmu pengetahuan.

Surabaya, 8 Maret 2010

Penulis
DAFTAR ISI

Halaman
HALAMAN JUDUL ............................................................................... i
HALAMAN PENGESAHAN ............................................................... ii
KATA PENGANTAR...............................................................................iii
DAFTAR ISI .............................................................................................iv
DAFTAR GAMBAR.................................................................................v
RINGKASAN ........................................................................................ vi
PENDAHULUAN..................................................................................... 1
GAGASAN ……………………………………………………………… 2
KESIMPULAN …………………………………………………………. 8
DAFTAR PUSTAKA………………………………………………….. . 9
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
DAFTAR GAMBAR

Halaman
Gambar 1. Tanaman Tembakau (Nicotiana tabacum)……………………….. 3
Gambar 2. Diagram Alir Pembuatan Biopestisida dari Tanaman
Tembakau (Nicotiana tabacum)………………………………….. 7
RINGKASAN

Penggunaan pestisida di lingkungan pertanian khususnya untuk


mengendalikan hama yang menyerang tanaman di persemaian dan tanaman muda
saat ini masih menimbulkan dilema. Penggunaan pestisida khususnya pestisida
sintetis atau kimia memang memberikan keuntungan secara ekonomis, disamping
memberikan keuntungan secara ekonomis, namun memberikan kerugian diantaranya :
Residu yang tertinggal tidak hanya pada tanaman, tapi juga air, tanah dan udara,
Penggunaan terus- menerus akan mengakibatkan efek resistensi dan ressistensi
berbagai jenis hama.
Tujuan dari penulisan ini adalah untuk mengetahui sejauh mana potensi
tanaman Tembakau (Nicotiana tabacum) sebagai bahan baku pembuatan biopestisida,
cara yang pembuatan biopestisida dari tanaman tersebut, dan prospek
pengembangannya di Indonesia.
Biopestisida dapat diperoleh dari berbagai jenis tanaman diantaranya adalah
cabe rawit, daun mahoni, daun jarak, gadung, daun sirih dan lain sebagainya. Di
samping itu, dapat pula diketahui morfologi, habitat dan penyebaran, kandungan dan
susunan kimia, serta manfaat dari Tembakau (Nicotiana tabacum) yang mana baik
untuk bahan baku biopestisida dan pewarna pada kain sutra.
Biopestisida selain sebagai faktor mortalitas biotik yang efektif bagi serangga
hama atau antagonis pathogen penyebab penyakit tanaman juga merupakan metode-
metode pengelolaan serangga hama yang dapat melindungi, mempertahankan, dan
memperkaya kondisi lingkungan (tanah, air, hewan, dan tumbuhan) secara ramah
lingkungan.
Adapun potensi pemanfaatan Tembakau (Nicotiana tabaccum) sebagai
biopestisida adalah terletak pada zat aktif yang dikandung tanaman tersebut. Tanaman
Tembakau (Nicotiana tabacum) mengandung bahan aktif alkoloid seperti anabarine,
anatobine, myosinine, nikotinoid, nikotelline, nikotin, nikotyrin, norkotin, piperidin.
Secara umum tumbuhan ini dikenal karena kandungan nikotinnya. Konsentrasi
nikotin tertinggi terdapat pada ranting dan tulang daun. Kombinasi bahan aktif ini
disinyalir mampu mengurangi serangan ulat tanah Agrotis epsilon, belalang, aphids,
dan ulat grayak Spodopthera exigua. Cara pembuatannya, daun ditumbuk dan
diekstraksi dengan aquades. Etanol dapat digunakan sebagai pelarut organik. Aplikasi
dilakukan dengan penyemprotan atau penghembusan. Tepung daun tembakau juga
dapat digunakan untuk mengendalikan hama gudang ataupun digunakan secara
dusting (pengebutan) di lapangan.
Mengenai produksi tanaman Tembakau dibudidayakan dengan biji.
Kecambahnya tumbuh di tempat pembibitan. Umumnya 10 g dari biji yang sehat
diperlukan untuk menghasilkan cukup biji untuk tanaman 1 ha, tetapi hanya 1/3 dari
jumlah ini diperlukan jika biji dibuat pellet.
Dari pembahasan tersebut, dapat disimpulkan bahwa tanaman Tanaman
Tembakau (Nicotiana tabaccum) memiliki prospek yang baik untuk dikembangkan
sebagai biopestisida karena kandunagan nikotinnya tepatnya bagaian alkaloid
merupakan bahan aktif yang disinyalir mampu mengurangi hama serangga ulat tanah
agrotis epsilon, belalang, aphida, dan ulat.
PENDAHULUAN

Latar Belakang

Problem teknologi kini telah berada di depan mata. Semakin bertambahnya


jumlah populasi dan meningkatnya jenis kebutuhan masyarakat seiring dengan
berkembangnya zaman, mengakibatkan kebutuhan akan pangan semakin meningkat
sehingga persediaan dalam produksi pangan pun semakin berkurang kuantitas dan
kulitasnya.
Penggunaan pestisida di lingkungan pertanian khususnya untuk
mengendalikan hama yang menyerang tanaman di persemaian dan tanaman muda
saat ini masih menimbulkan dilema. Penggunaan pestisida khususnya pestisida
sintetis atau kimia memang memberikan keuntungan secara ekonomis, disamping
memberikan keuntungan secara ekonomis, namun memberikan kerugian diantaranya :
Residu yang tertinggal tidak hanya pada tanaman, tapi juga air, tanah dan udara,
Penggunaan terus- menerus akan mengakibatkan efek resistensi dan ressistensi
berbagai jenis hama.
Penggunaan pestisida kimia di Indonesia telah memusnahkan 55% jenis
hama dan 72 % agen pengendali hayati. Oleh karena itu diperlukan pengganti
pestisida yang ramah lingkungan. Salah satu alternatif pilihannya adalah penggunaan
pestisida hayati tumbuhan. Pestisida alami atau yang lebih sering disebut dengan
biopestisida adalah salah satu pestisida yang bahan dasarnya berasal dari tumbuhan.
Tumbuhan sendiri sebenarnya kaya akan bahan aktif yang berfungsi sebagai alat
pertahanan alami terhadap pengganggunya. Bahan pestisida yang berasal dari
tumbuhan dijamin aman bagi lingkungan karena cepat terurai di tanah
(biodegradable) dan tidak membahayakan hewan, manusia atau serangga non sasaran.
Prospek pengembangan pstisida alami di Indonesia cukup baik karena
ditunjang oleh sumber daya alam yang berlimpah. Indonesia memiliki salah satu
kebun raya terbaik di dunia. Masih banyak tanaman di Kebun Raya Bogor maupun
cabangnya di Purwodadi yang manfaatnya belum diketahui sepenuhnya. Sifat dari
tumbuhan yang berkerabat dekat dengan tumbuhan yang telah diketahui mengandung
bahan aktif pestisida perlu diteliti. Salah satu tumbuhan yang dijadikan sebagai
alternatif biopestisida adalah Tembakau (Nicotiana tabacum). Tembakau dapat
dikonsumsi, digunakan sebagai pestisida, dan dalam bentuk nikotin tartrat dapat
digunakan sebagai obat. Jika dikonsumsi, pada umumnya tembakau dibuat menjadi
rokok, tembakau kunyah, dan sebagainya.

Tujuan dan Manfaat yang Ingin Dicapai

1. Untuk mengetahui sejauh mana potensi tanaman Tembakau (Nicotiana


tabacum) sebagai bahan baku pembuatan biopestisida yang dapat digunakan
sebagai pestisida alternatif yang ramah lingkungan.
2. Untuk mengetahui cara yang dapat dilakuan untuk membuat biopestisida
dari tanaman Tembakau (Nicotiana tabacum).
3. Untuk mengetahui daya guna biopestisida dari tanaman Tembakau
(Nicotiana tabacum).

GAGASAN

Pestisida mencakup bahan-bahan racun yang digunakan untuk membunuh


jasad hidup yang mengganggu tumbuhan, ternak dan sebagainya yang diusahakan
manusia untuk kesejahteraan hidupnya. Pest berarti hama, sedangkan cide berarti
membunuh. Dalam praktek, pestisida digunakan bersama-sama dengan bahan lain
misalnya dicampur minyak untuk melarutkannya, air pengencer, tepung untuk
mempermudah dalam pengenceran atau penyebaran dan penyemprotannya, bubuk
yang dicampur sebagai pengencer (dalam formulasi dust), atraktan (misalnya bahan
feromon) untuk pengumpan, bahan yang bersifat sinergis untuk penambah daya
racun, dsb. Karena pestisida merupakan bahan racun maka penggunaanya perlu
kehati-hatian, dengan memperhatikan keamanan operator, bahan yang diberi pestisida
dan lingkungan sekitar. Solusi untuk menggurangi pemakaian pestisida sintesis
adalah dengan menggunakkan biopestisida yang ramah lingkungan. Biopestisida
adalah pestisida yang mengandung mikroorganisme seperti bakteri patogen, virus,
jamur. Berdasarkan asalnya biopestisida dapat dibedakan menjadi dua yakni
biopestisida dan pestisida hayati. Biopestisida merupakan hasil ekstraksi bagian
tertentu dari tanaman baik dari daun, buah, biji, atau akar yang senyawa atau
metabolit sekunder dan memiliki sifat racun terhadap hama dan penyakit tertentu.
Biopestisida merupakan produk alam dari tumbuhan seperti daun, bunga, buah, biji,
kulit, dan batang yang mempunyai kelompok metabolit sekunder atau senyawa
bioaktif (Plantus. 2008). Beberapa tanaman telah diketahui mengandung bahan-bahan
kimia yang dapat membunuh, menarik, atau menolak serangga. Beberapa tumbuhan
menghasilkan racun, ada juga yang mengandung senyawa-senyawa kompleks yang
dapat mengganggu siklus pertumbuhan serangga, sistem pencernaan, atau mengubah
perilaku serangga (Supriyatin dan Marwoto, 2000). Supriyatin dan Marwoto (2000)
melaporkan bahwa ekstrak daun dan batang C.odorata bersifat toksik terhadap
Spodoptera litura. Pada konsentrasi tertinggi (100 %) kematian larva S. litura pada
masing-masing ekstrak mencapai 92,5 dan 75 %. Kedua ekstrak mampu menghambat
perkembangan larva menjadi pupa dan pupa menjadi imago, serta menyebabkan
terbentuknya pupa dan imago abnormal. Melihat potensi gulma siam yang sangat
besar tersebut, sudah saatnya gulma siam dimanfaatkan sebagai sumber bahan
organik alternatif dan biopestisida pada pertumbuhan tanaman
Tanaman Tembakau (Nicotiana tabacum) mempunyai klasifikasi, menurut
Angiosperm Phylogenie Group II adalah sebagai berikut.
Kingdom : Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Ordo : Solanales
Famili : Solanaceae
Genus : Nicotiana
Spesies : Nicotiana tabacum (Sympson, 2006)

(Sumber: Nurwardani, 2008)


Gambar 1. Tanaman Tembakau (Nicotiana tabacum)
Tanaman tembakau termasuk dalam famili Solanaceae dengan genus yang banyak
dibudidayakan nicotiana dan species komersial Nicotiana tabaccum dan Nicotiana
rustica. Keberadaan tanaman tembakau (Nicotiana tabaccum) sebagian besar untuk
bahan industri rokok, yang dikelola perusahaan besar dan kecil dengan berbagai
nama, baik untuk produk ekspor ataupun produk domestik. Untuk selanjutnya,
tanaman tembakau (Nicotiana tabaccum) dengan kandungan bahan beracun (nikotin),
selain berdampak negatif bagi kesehatan manusia juga berdampak positip bagi
lingkungan. Dalam hal ini, tembakau (Nicotiana tabaccum) melalui teknik
pengolahan tertentu sebagai salah satu bentuk perwujudan biopestisida, yang
pemanfaatannya bersifat insektisida, fungisida, dan akarisida, yang bekerja secara
sistemik melalui racun kontak, perut, dan pernapasan. Tanaman tembakau dengan
sinonim Nicotiana virginica C. Agardh atau Nicotiana mexicana Schlecht. Dalam
bahasa Inggris disebut Tobacco. Pohon tembakau dideskripsikan sebagai Semak,
semusim, tinggi ± 2 m. Batang berkayu, bulat, berbulu, diameter ± 2 cm, hijau. Daun
tunggal, berbulu, bulat telur, tepi rata, ujung runcing, pangkal tumpul, panjang 20-50
cm, lebar 5-30 cm, tangkai panjang 1-2 cm, hijau keputih-putihan. Bunga majemuk,
tumbuh di ujung batang. kelopak bunga berbulu, pangkal berlekatan. ujung terbagi
lima, tangkai bunga berbulu, hijau. benang sari lima, kepala sari abu-abu, putik
panjang 3-3,5 cm, kepala putik satu, putih, mahkota bentuk terompet, merah muda.
Buah kotak, bulat telur, masih muda hijau setelah tua coklat. Biji kecil, coklat. Akar
tunggang, putih. Tanaman tembakau (Nicotiana tabaccum) umumnya memiliki
batang yang tegak dengan tinggi sekitar 2,5 meter. Bagian terpenting dalam tanaman
tembakau yaitu daun, karena bagian inilah yang nantinya akan dipanen. Daun
tembakau bentuknya bulat panjang, ujungnya meruncing, tepinya (pinggirnya) licin
dan bertulang sirip. Setiap tanaman biasanya memiliki daun sekitar 24 helai. Ukuran
daun tembakau cukup bervariasi menurut keadaan tempat tumbuh dan jenis tembakau
yang ditanam. Sedangkan ketebalan dan kehalusan daun antara lain dipengaruhi oleh
keadaan kering dan banyaknya curah hujan. Proses penuaan (pematangan) daun
biasanya dimulai dari bagian ujungnya baru kemudian disusul pada bagian bawahnya.
Hal ini diperlihatkan oleh perubahan warna dari hijaukuning-coklat pada bagian
ujungnya kemudian disusul pada bagian bawahnya. Tembakau mengandung kadar
nikotin terendah yaitu sekitar 0,6%. (Nurwardani, Paristiyanti. 2008). Tembakau
(Nicotiana tabaccum) di Indonesia merupakan tanaman budidaya yang sudah lazim,
tersebar di seluruh nusantara dimulai dari ketinggian 4 – 1500 m dpl, terkadang masih
dijumpai hingga 2100 mi dpl. Tembakau ditanam pada berbagai macam kondisi
iklim. Rata-rata temperatur untuk pertumbuhan optimum adalah 21-27°C. Air yang
dibutuhkan adalah 300-400 mm, yang tersebar merata sepanjang musim
pertumbuhan. Tembakau sigaret memerlukan musim kering pada akhir musim untuk
mendapatkan daun tebal dan warna kuning pada daun yang diobati. Tanah yang
cocok untuk penanaman tembakau adalah tanah liat ringan dan medium dengan
kapasitas air baik dan agak asam (pH 5.0—6.0). Tanah harus mempunyai drainse
bagus, karena tembakau sensitif pada kebanjiran. Tembakau dibudidayakan dengan
biji. Kecambahnya tumbuh di tempat pembibitan. Umumnya 10 g dari biji yang sehat
diperlukan untuk menghasilkan cukup biji untuk tanaman 1 ha, tetapi hanya 1/3 dari
jumlah ini diperlukan jika biji dibuat pellet. Media perkecambahan biji merupakan
campuran tanah dan kompos, dan sebaiknya disterilisasi pada 100°C untuk 1 jam
untuk mencegah infeksi patogen dari tanah. Total areal untuk perkecambahan
biasanya 80—100 m² untuk 1 ha tanah. Pengelolaan termasuk pengairan setiap hari,
pengambilan gulma dan kontrol penyakit dan hama. Pemangkasan dilakukan untuk
membuang kecambah yang lemah. Setelah pemangkasan kecambah tidak lebih dari
400 per m². Tanaman menjadi keras dalam waktu 7—10 hari sebelum ditanam
dengan secara perlahan-lahan menghilangkan naungan dan mengurangi pengairan.
Tembakau ditanam di lapangan pada jarak 45—55 cm dalam 1 deret dan 75—110 cm
antar deret. Perkecambahan tumbuh di polibag kecil atau tempat bibit lebih siap
daripada kecambah yang ditanamdi tempat pembibitan tradisional. Kerapatan
tanaman adalah 18 000—25 000 per ha untuk segala macam tembakau (>60 000
tanaman/ha). Di dalam tanaman Tembakau (Nicotiana tabacum) terdapat nikotin.
Nikotin adalah suatu jenis senyawa kimia yang termasuk ke dalam golongan alkaloid
karena mempunyai sifat dan ciri alkaloid. Alkaloid merupakan senyawa yang bersifat
basa yang mengandung satu atau lebih atom nitrogen dan biasanya berupa sistem
siklis. Alkaloid mengandung atom karbon, hidrogen, nitrogen dan pada umumnya
mengandung oksigen. Senyawa alkaloid banyak terkandung dalam akar, biji, kayu
maupun daun dari tumbuhan dan juga dari hewan. Senyawa alkaloid merupakan hasil
metabolisme dari tumbuh–tumbuhan dan digunakan sebagai cadangan bagi sintesis
protein. Kegunaan alkaloid bagi tumbuhan adalah sebagai pelindung dari serangan
hama, penguat tumbuhan dan pengatur kerja hormon. Alkaloid mempunyai efek
fisiologis. Sumber alkaloid adalah tanaman berbunga, angiospermae, hewan,
serangga, organisme laut dan mikroorganisme. Famili tanaman yang mengandung
alkaloid adalah Liliaceae, solanaceae, rubiaceae, dan papaveraceae (Tobing, 1989).
Sifat – sifat alkaloid secara umum adalah sebagai berikut; biasanya merupakan kristal
tak berwarna, tidak mudah menguap, tidak larut dalam air, larut dalam pelarut
organik. Beberapa alkaloid berwujud cair dan larut dalam air. Ada juga alkaloid yang
berwarna, misalnya berberin (kuning). Yang kedua bersifat basa (pahit, racun). Sifat
yang ketiga mempunyai efek fisiologis serta aktif optis. Sifat yang terakhir adalah
dapat membentuk endapan dengan larutan asam fosfowolframat, asam fosfomolibdat,
asam pikrat, dan kalium merkuriiodida (Tobing, 1989). Alkaloid tidak mempunyai
nama yang sistematik, sehingga nama dinyatakan dengan nama trivial misalnya
kodein, morfin, heroin, kinin, kofein, nikotin. Hampir semua nama trivial diberi
akhiran –in yang mencirikan alkaloid. Sistem klasifikasi alkaloid yang banyak
diterima adalah pembagian alkaloid menjadi 3 golongan yaitu alkaloid sesungguhnya,
protoalkaloid dan pseudoalkaloid. Suatu cara mengklasifikasikan alkaloid adalah cara
yang didasarkan jenis cincin heterosiklik nitrogen yang merupakan bagian dari
struktur molekul. Jenisnya yaitu pirolidin, piperidin, kuinolin, isokuinolin, indol,
piridin dan sebagainya (Robinson, 1995). Karena tanaman Tembakau (Nicotiana
tabaccum) mengandung nikotin yang merupakan alkaloid yang dapat membunuh
nyamuk dan mengendalikan hama serangga baik di luar ruangan maupun di dalam
ruangan, maka tanaman Tembakau (Nicotiana tabacum) dapat dimanfaatkan sebagai
biopestisida. Nikotin sebagai biopestisida untuk insektisida kontak (fumigan atau
racun perut) serta mampu mengendalikan serangga kecil misalnya aphids.
Pembasmian hama dengan cara biopestisida bukanlah konsep baru yang dipicu oleh
maraknya pertanian organik akhir-akhir ini. Namun upaya ini telah ada sejak dulu,
biopestisida lahir dari kearifan nenek moyang kita dalam menyikapi mewabahnya
hama dan penyakit tanaman. Sayangnya, ketika produk kimia beredar luas di pasaran,
cara bijak itu pun dikesampingkan. Memang pestisida sintetis ini memiliki
keunggulan dalam hal kecepatan dan efektivitasnya, namun efeknya yang bisa
meracuni lingkungan mengembalikan kesadaran kita untuk memanfaatkan unsur-
unsur dari alam dalam membasmi organisme pengganggu tanaman (OPT) tersebut.
Sejauh ini pemakaian biopestisida aman bagi manusia, hewan, dan lingkungan. Inilah
keunggulan biopestisida yang sifatnya hit and run (pukul dan lari), yaitu bila
diaplikasikan akan membunuh hama pada saat itu juga dan setelah itu residunya akan
cepat menghilang/ terurai di alam. Karena sifatnya yang mudah terdegradasi, maka
pemakaian biopestisida harus sering disemprotkan di tanaman. Berbagai penelitian
membuktikan beberapa tanaman mampu membasmi atau mengusir hama dan
penyakit tanaman, bahan-bahan alamiah tersebut hadir dalam jaringan tumbuhan
seperti daun, bunga, buah, kulit dan kayunya. Tercatat ada 2.400 jenis tumbuhan yang
termasuk ke dalam 234 famili dilaporkan mengandung bahan pestisida (Agus
Kardiman, 1999). Tumbuh-tumbuhan ini dikelompokkan ke dalam: tumbuhan
insektisida nabati, tumbuhan atraktan, tumbuhan rodentia nabati, tumbuhan
moluskisida nabati dan tumbuhan pestisida serba guna. Tumbuhan insektisida nabati
adalah pengendali hama serangga. Contoh tumbuhan ini di antaranya piretrum
(krisan), babadotan, bengkuang, bitung, jeringau, saga, serai, sirsak dan srikaya.
Kemudian tumbuhan antraktan (pemikat) yang mampu menghasilkan bahan kimia
menyerupai feromon. Di antara jenis tumbuhan ini adalah daun wangi (Melaleuca
bracteata L.) serta selasih. Sementara tumbuhan yang bisa digunakan sebagai
pengendali roden (tikus, babi dll) adalah gadung KB dan gadung racun. Untuk jenis
tumbuhan moluskisida nabati atau pembasmi moluska bisa dipakai tefrosia, tuba, dan
sembung. Sementara pestisida serba guna (insektisida, fungisida, bakterisida,
moluskisida, nematisida, dll) bisa diwakili oleh jambu mete, lada, nimba, mindi, dan
cengkih. Beberapa tumbuhan bisa bersifat pestisida, ini terletak pada zat aktif yang
dikandung tanaman tersebut. Sebagai gambaran adalah tanaman Tembakau
(Nicotiana tabacum) mengandung bahan aktif alkoloid seperti anabarine, anatobine,
myosinine, nikotinoid, nikotelline, nikotin, nikotyrin, norkotin, piperidin. Secara
umum tumbuhan ini dikenal karena kandungan nikotinnya. Konsentrasi nikotin
tertinggi terdapat pada ranting dan tulang daun. Kombinasi bahan aktif ini disinyalir
mampu mengurangi serangan ulat tanah agrotis epsilon, belalang, aphids, dan ulat.
Ramah lingkungan didefinisikan sebagai suatu benda atau aksi yang dianggap
menimbulkan kerusakan minimal terhadap lingkungan. Sampai dengan saat ini tidak
ada standar internasional mengenai benda atau aksi yang ramah lingkungan, akan
tetapi segala upaya yang tidak berdampak merugikan bagi lingkungan hidup pada
umumnya disebut sebagai produk atau teknologi ramah lingkungan. Produk-produk
pertanian yang dianggap ramah lingkungan antara lain adalah pupuk organik yang
terbuat dari kompos, biopestisida yang berbahan aktif bahan organik (misalnya
ekstrak biji mimba) atau mikroorganisme (misalnya, virus, bakteri, atau jamur).
Teknologi ramah lingkungan dalam budi daya tanaman antara lain teknologi
perbaikan kesuburan tanah dengan menggunakan bahan organik, pengendalian hama
dan penyakit dengan menerapkan teknik pengendalian hayati yang menggunakan
musuh alami serangga atau antagonis penyebab penyakit tanaman.Teknik
pengendalian hama dan penyakit yang dikembangkan sesuai dengan konsep
pemanfaatan potensi alami untuk pengendalian hama penyakit. Potensi alami tersebut
dimanfaatkan melalui optimalisasi musuh alami sebagai faktor mortalitas biotik yang
efektif bagi serangga hama atau antagonis pathogen penyebab penyakit tanaman.
Optimalisasi potensi faktor mortalitas biotik dilakukan berdasarkan pemahaman
ekosistem dari masing-masing komoditas. Pengembangan system difokuskan pada
komoditas tembakau, khususnya pengendalian serangga hama, yang telah
dikembangkan adalah untuk tembakau cerutu, karena dari tipe tembakau ini yang
dikehendaki adalah produksi daun yang tidak berlubang, selain mutu kerosok yang
sesuai dengan permintaan konsumen. Tembakau merupakan produk ekspor dan
dalam proses produksinya telah ditentukan untuk menerapkan sistem good
agricultural practices (GAP), yaitu dalam pengelolaan serangga hama harus
diterapkan cara-cara memproduksi tanaman yang berkualitas dengan menggunakan
metode-metode pengelolaan serangga hama yang dapat melindungi,
mempertahankan, dan memperkaya kondisi lingkungan (tanah, air, hewan, dan
tumbuhan) (Nurindah. 2009). Dengan demikian, penggunaan biopestisida dari bahan
tanaman tembakau (Nicotiana tabaccum) yang berbasis lingkungan merupakan
sistem yang tepat untuk tetap melestarikan lingkungan.
Untuk menghasilkan bahan biopestisida siap pakai dapat dilakukan secara
sederhana. Pertama, dengan teknik penggerusan, penumbukan, pembakaran, atau
pengepresan untuk menghasilkan produk berupa tepung, abu, atau pasta. Kedua,
dengan teknik rendaman untuk menghasilkan produk ekstrak. Ketiga, dengan cara
ekstraksi menggunakan bahan kimia. Biopestisida dapat dibuat secara sederhana dan
mudah dengan biaya murah sehingga dapat menekan biaya produksi pertanian. Dari
pengalaman beberapa petani, pemakaian biopestisida bisa menekan ongkos produksi
sampai 40%. Pada gagasan tentang biopestisida dari tanaman tembakau ini, penulis
hanya memaparkan cara pembuatan biopestisida dengan menggunakan teknik
penumbukan, tanaman tembakau yang digunakan adalah daun dan batang. Umumnya
yang digunakan adalah daunnya. Tembakau mengandung bahan aktif alkoloid seperti
anabarine, anatobine, myosinine, nikotinoid, nikotelline, nikotin, nikotyrin, norkotin,
piperidin. Secara umum tumbuhan ini dikenal karena kandungan nikotinnya.
Konsentrasi nikotin tertinggi terdapat pada ranting dan tulang daun. Cara
pembuatannya, pada konsentrasi 1-2 % atau sekitar 10-20 g daun tembakau yang
ditambah sekitar 0,1 % deterjen (1 – 2 cc deterjen cair atau 1- 2 g deterjen padat)
diaduk dalam 1 liter air atau direbus, diendapkan semalam, dan ampas atau daun
tembakau yang sudah diendapkan ditumbuk kemudian diekstraksi dengan aquades.
Etanol dapat digunakan sebagai pelarut organik. Aplikasi dilakukan dengan
penyemprotan atau penghembusan.
Tembakau (Nicotiana

Pembersihan Daun

Penambahan Air

Perebusan

Pengendapan Ampas

Penumbukan

Ekstraksi

Penyemprotan/ Penghembusan

Gambar 2. Diagram Alir Pembuatan Biopestisida dari Tanaman Tembakau


(Nicotiana tabacum).
KESIMPULAN

Dari uraian gagasan di atas dapat diambil kesimpulan, yaitu:


1. Tanaman Tembakau (Nicotiana tabaccum) selain berpotensi besar sebagai
bahan baku rokok, tembakau juga bisa untuk dimanfaatkan sebagai bahan
baku pembuatan biopestisida sebab memiliki kandungan alkaloid yang
berfungsi sebagai pelindung dari serangan hama, penguat tumbuhan dan
pengatur kerja hormon.
2. Cara yang dapat dilakuan untuk membuat biopestisida dari tanaman
Tembakau (Nicotiana tabaccum) merujuk pada pembuatan biopestisida dari
biopestisida, yakni dengan menumbuk daun tembakau (Nicotiana tabaccum)
dan diekstraksi dengan aquades. Tambahan etanol dapat digunakan sebagai
pelarut organik. Aplikasi dilakukan dengan penyemprotan atau
penghembusan.
3. Tanaman Tembakau (Nicotiana tabaccum) memiliki prospek yang baik untuk
dikembangkan sebagai biopestisida karena kandunagan nikotinnya tepatnya
bagaian alkaloid merupakan bahan aktif yang disinyalir mampu mengurangi
hama serangga ulat tanah agrotis epsilon, belalang, aphida, dan ulat.
DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, Ahmad dan Soedarmanto. 1982. Budidaya Tembakau. Jakarta: CV


Yasaguna.
Agus Kardiman, 1999. Biopestisida, Rumusan dan Aplikasi. Penebar Swadaya.
Jakarta II. Ramuan dan Aplikasi Biopestisida. http://www.softwarelabs.com
(diakses pada tanggal 10 Februari 2010)
Anonim. 2009. Informasi Spesies. http://www.plantamor.com (diakses pada tanggal
10 Februari 2010)
Djojosumarto, Panut. 2008. Pestisida dan Aplikasinya. AgroMedia Pustaka.
Nurindah. 2009. Konsep dan Implementasi Teknologi Budi Daya Ramah Lingkungan
pada Tanaman Tembakau, Serat, dan Minyak Industri. Buletin Tanaman
Tembakau, Serat & Minyak Industri.
Nurwardani, Paristiyanti. 2008. Teknik Pembibitan Tanaman dan Produksi Benih.
Jakarta: Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan, Departeman
Pendidikan Nasional.
Plantus. 2008. Biopestisida Sebagai Pengendali Hama dan Penyakit Tanaman Hias.
http://anekaplanta.wordpress.com (diakses pada tanggal 10 Februari 2010)
Pracaya. 1991. Hama dan Penyakit Tanaman. Jakarta : Penebar Swadaya.
Robinson, Trevor. 1995. Kandungan Organik Tumbuhan Tinggi. Edisi keenam.
Terjemahan Kokasih Padmawinata. Bandung : FMIPA ITB.
Simpson, M. G., 2006. Plant Systematics. Elsevler Academic Press. Canada.
Supriyatin dan Marwoto. 2000. Efektivitas Beberapa Bahan Nabati terhadap Hama
Perusak Daun Kedelai. Pengelolaan Sumber Daya Lahan dan Hayati Pada
Tanaman Kacang-Kacangan dan Umbi-Umbian. PPTP. Malang.
Tobing, Rangke. 1989. Kimia Bahan Alam. Jakarta : Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan. Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi. Proyek Pengembangan
Lembaga Pendidikan Tenaga kependidikan.
Yulifianti, Rahmi. Biopestisida. http://bioindustri.blogspot.com (diakses pada tanggal
10 Februari 2010)
DAFTAR RIWAYAT HIDUP

1) Biodata Pelaksana Kegiatan


Ketua Pelaksana
a. Nama Lengkap : Septiyan Handayani
b. Tempat, tanggal lahir : Magetan, 9 September 1991
c. Prestasi yang diraih :-
d. Karya Ilmiah yang Pernah Dibuat :
1. PKM Kewirausahaan: Biskuit Rumput Laut SiKuit Sebagai Camilan
Bergizi Bagi Anak dengan Variasi Bentuk Hewan Laut (Didanai oleh
DIKTI 2010)
2. Pemanfaatan Rumput Laut (Eucheuma cottonii) Sebagai Bahan Baku
Pembuatan Kertas Pembungkus Makanan yang Aman dan Ramah
Lingkungan.
e. Tanda Tangan :

Anggota Pelaksana 1
a. Nama Lengkap : Ni Made Pertiwi Jaya
b. Tempat, tanggal lahir : Singaraja, 16 Juni 1990
c. Prestasi yang diraih :-
d. Karya Ilmiah yang Pernah Dibuat :
1. Pemanfaatan Enceng Gondok (Erichhornia crassipes) Sebagai Bahan
Alternatif Kertas Pembungkus Makanan Ramah Lingkungan (2009)
2. PKM Kewirausahaan: Biskuit Rumput Laut SiKuit Sebagai Camilan
Bergizi Bagi Anak dengan Variasi Bentuk Hewan Laut (Didanai oleh
DIKTI 2010)
e. Tanda Tangan :

Anggota Pelaksana 2
a. Nama Lengkap : Johan Iswara
b. Tempat, tanggal lahir : Surabaya, 26 September 1990
c. Prestasi yang diraih :-
d. Karya Ilmiah yang Pernah Dibuat :
1. PKM Pengabdian Masyarakat: Pengajaran Bahsa Jepang Kepda Siswa
SMP-SMA Menggunakan Permainan Nihkado.
e. Tanda Tangan :