Anda di halaman 1dari 4

Lembar Tugas Mandiri

Pengaruh Multikulturalisme dan Identitas Nasional Indonesia


Terhadap Politik Dinasti dalam NKRI
Oleh Nur Azizah, NPM 1006683772

Pemicu : Politik Dinasti dalam NKRI


Data Publikasi :
•Buku Ajar II MPKT
Pengarang : Dr. Drs. H. Zakky Mubarak, MA, dkk.
Jakarta, Badan Penerbit FK UI 2010, 143 halaman
•Fatkhuri. 2010. Politik Dinasti Apakah Berbahaya. (www.detik.com diakses
Senin, 15 November 2010 pukul 15.00)

I. Pendahuluan

Indonesia merupakan salah satu negara multikultural terbesar di dunia.


Hal ini dapat dilihat dari kondisi sosio-kultural seperti suku, agama, budaya, dan
ras maupun kondisi geografis yang begitu beragam dan luas. Keragaman yang
begitu besar tersebut dapat menimbulkan berbagai fenomena atau persoalan yang
saat ini dihadapi bangsa Indonesia seperti korupsi, kolusi, nepotisme maupun
perseteruan antarpolitik. Salah satu fenomena politik yang marak diperbincangkan
saat ini adalah fenomena politik dinasti.

Pembangunan oligarki kepemimpinan partai politik dengan membangun


trah atau dinasti politik sedang marak di Indonesia. Penyusunan calon anggota
legislatif periode 2009 – 2014, dijadikan momentum untuk mengukuhkan dinasti
politik. Banyak istri, anak, maupun anggota keluarga politikus/tokoh senior partai
politik telah diterjunkan untuk bertarung meraih kursi anggota legislatif periode
2009 – 2014. Presiden SBY sebagai Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat
sudah menurunkan putranya Edhie Baskoro Yudhoyono untuk Dapil Jawa Timur
VI. M. Amien Rais mantan Ketua Umum PAN mendorong anaknya Mumtaz Rais
di Dapil Jawa Tengah VIII. Tidak ketinggalan juga Puan Maharani, putri
Megawati Soekarno Putri selaku Ketua Umum DPP PDI Perjuangan, berlaga di
Dapil Jawa Tengah V. Dari fenomena itu, yang paling mencolok terjadi pada
Pemilukada Kabupetan Kediri yang digelar tanggal 12 Mei 2010. Dua istri bupati
bersaing ketat dalam perhelatan Pemilukada tersebut. Kedua istri tersebut yakni
Hj. Haryanti, yang tercatat sebagai istri sah Bupati Kediri saat ini, Sutrisno serta
Hj. Nurlaila, yang tercatat sebagai istri kedua dengan status nikah sirri. Keduanya
bersaing untuk memperebutkan kursi kepala daerah menggantikan jabatan
suaminya.

Kemunculan dinasti politik sebenarnya bukan hal yang harus dipandang


haram. Tetapi tetap saja ada sisi negatifnya. Tak bisa dipungkiri praktik politik
dinasti dalam banyak kasus dapat membahayakan demokrasi. Politik dinasti
membuka potensi menancapnya pengaruh politik untuk kepentingan suatu
keluarga. Dinasti politik bisa menjadi absolut manakala ruang kritik kemudian
tertutup rapat sehingga mekanisme keputusan dan regulasi yang dibuat cenderung
ekslusif. Dalam praktik kenegaraan kondisi ini pada gilirannya membuat negara
menjadi kaku dan otoriter sebab arah pemerintahan hanya bertumpu pada
kepentingan keluarga dan kroni-kroninya. Roda pemerintahan pun semakin tidak
terarah. Kondisi ini pada akhirnya juga berkontribusi terhadap tertutupnya pintu
kesejahteraan rakyat. Bukti kongkret bahwa dinasti politik berdampak negatif
adalah fakta yang ditunjukan dari rezim otoriter Soeharto pada zaman Orde Baru.

II. Isi
Identitas berarti ciri atau sifat khas yang melekat pada suatu hal sehingga
menunjukkan suatu keunikan yang membedakannya dengan hal-hal lain.
Sementara itu, nasional berasal dari kata nation yang memiliki arti bangsa,
menunjukkan kesatuan komunitas sosio-kultural tertentu yang memiliki semangat,
cita-cita, tujuan serta ideologi bersama. Jadi, yang dimaksud dengan identitas
nasional Indonesia adalah ciri-ciri atau sifat-sifat khas bangsa Indonesia yang
membedakannya dengan bangsa-bangsa lain di dunia.
Identitas nasional Indonesia bersifat pluralistik (ada keanekaragaman) baik
menyangkut sosiokultural atau religiositas. Hal tersebut sangat erat kaitannya
dengan keadaan bangsa Indonesia yang multikultural. Beberapa identitas nasional
Indonesia, antara lain :
• Identitas fundamental/ ideal yaitu Pancasila yang merupakan falsafah
negara.
• Identitas instrumental yakni identitas sebagai alat untuk menciptakan
Negara Indonesia yang dicita-citakan yakni negara yang bersatu dalam
satu kesatuan NKRI. Alat tersebut berupa UUD 1945, lambang negara,
bahasa Indonesia, dan lagu kebangsaan.
• Identitas religiusitas yakni Indonesia memiliki keragaman dalam agama
dan kepercayaan.
• Identitas sosiokultural yakni Indonesia memiliki keragaman dalam suku
dan budaya.
• Identitas alamiah yakni Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di
dunia.
Indonesia merupakan negara yang multikultural yang menganut paham
multikulturalisme. Paham multikulturalisme mencakup gagasan, cara pandang,
kebijakan, penyikapan dan tindakan yang dilakukan oleh masyarakat suatu negara,
yang majemuk dari segi etnis, budaya, agama dan sebagainya, namun mempunyai
cita-cita untuk mengembangkan semangat kebangsaan yang sama dan mempunyai
kebanggaan untuk mempertahankan kemajemukan tersebut. Melalui paham
tersebut, perbedaan nilai-nilai yang dianut masyarakat tersebut kemudian
disatupadukan dan diselaraskan dalam suatu identitas bangsa, yakni Pancasila.
III. Penutup
Mengambil pelajaran dari kenyataan pahit yang dialami bangsa Indonesia
seperti pada masa Orde Baru, diperlukan suatu strategi yang tepat dalam rangka
menyelesaikan berbagai persoalan bangsa, dalam hal ini masalah yang timbul
akibat fenomena politik dinasti di Indonesia. Dampak negatif dinasti politik bisa
diminimalisir dengan menjadikan aspek moral dan kualitas individu sebagai suatu
pertimbangan penting dalam penetapan kader maupun calon pemimpin. Artinya,
tidak selamanya praktek dinasti politik mempunyai dampak yang destruktif.
Dalam kaitan ini, semua bergantung dari moralitas pihak yang menerima
kekuasaan dalam menjalankan kewenangannya.
Di sisi lain, praktik politik yang menyimpang dari dinasti politik juga bisa
dicegah dengan melaksanakan sistem pengawasan publik secara sungguh-
sungguh dengan melaksanakan mekanisme kontrol dan sistem rekruitmen yang
terbuka. Jadi, meskipun pihak yang mewarisi kekuasaan adalah anggota keluarga,
praktik penyalahgunaan wewenang masih bisa ditekan. Solusi terakhir yaitu
meningkatan pemahaman masyarakat mengenai paham multikulturalisme.
Berbagai keragaman yang ada pada bangsa ini harus dimanage dikelola dengan
baik untuk mendatangkan hal-hal yang bermanfaat dan menguntungkan. Dengan
demikian, diharapkan kesadaran mengenai pentingnya toleransi, pluralisme, dan
demokrasi yang bersih dapat tumbuh dalam kehidupan masyarakat, sehingga
dapat menghindari terjadinya konflik yang dapat menimbulkan
disintegrasi/perpecahan bangsa.