Anda di halaman 1dari 2

Menjadi Penonton Kritis

Judul Buku : Matikan TV-Mu : Teror Media Televisi di Indonesia


Penulis : Sunardian Wirodono
Penerbit : Resist Book, Januari< 2006
Tebal Buku : 177 halaman

Kadang, banyak yang mengeluhkan buruknya tayangan televisi itu. Terutama para
orang tua dan kalangan pendidik. Tapi, hanya sebatas keluh kesah semata. Tidak banyak
orang mencoba untuk melakukan protes langsung terhadap stasiun televisi yang
menayangkan acara yang merusak tersebut. Padahal, kalau kita mau melakukan itu, pihak
stasiun televisi setidaknya akan berpikir ulang untuk menayangkan acara-acara yang di
protes oleh masyarakat banyak. Kalau kita diam saja, pihak industri televisi akan semakin
leluasa untuk menjadikan kita sekedar
Nah, agar kita bisa kritis dalam mensikapi berbagai tayangan yang ada, sebuah buku
karya Sunardian Wirodono ini bisa menjadi alternatif bacaan bagi Anda. Setidaknya
untuk menambah wawasan dan memahami dunia pertelevisian di tanah air. Sunardian
Wirodono sendiri adalah orang yang telah malang melintang didunia pertelevisian. Jadi
bisa dikatakan buku ini menjadi semacam refleksi atas kiprahnya selama ini dalam
bergelut didunia pertelevisian.
Buku ini diawali dengan penelusuran sejarah awal televisi di Indonesia. Sunardian
menulis bahwa awalnya, televisi Indonesia lahir dari sebuah kecelakaan. Lahirnya media
televisi di Indonesia didahului dengan Televisi Republik Indonesia (TVRI). Mengenai
televisi swasta baru muncul kemudian. Acara-acara yang ditayangkan televisi swasta ini
yang mendapat sorotan tajam dari Sunardian.
Selanjutnya, Sunardian membedah berbagai program tayangan yang ada di televisi
seperti sinetron, berita, kuis (game show), infotainment dan reality show. Tidak ada
kreativitas yang menonjol yang coba dimunculkan oleh stasiun televisi. Hasilnya, kita
tidak menemukan variasi-variasi pada acara televise.
Sunardian juga tak lupa menyoroti tentang pengaruh buruk televisi. Menurutnya,
anak-anak yang sering menonton tayangan kekerasan mempunyai perilaku yang lebih
agresif. Sedangkan anak yang sering menonton tayangan seksisme menjadi sangat
membedakan peran dan perilaku antara perempuan dan laki-laki. Dunia remaja juga
begitu. Sering menonton televisi membuat remaja tidak bisa menjadi dirinya sendiri
karena dipengaruhi oleh tayangan yang ada, terutama oleh sinetron. Buat orang tua,
jangan senang dulu. Para Ibu kerap menjadi sasaran beragam produk yang ditawarkan
melalui media televisi. Jadi, tanpa terkecuali, siapapun bisa menjadi korban televisi.
Lantas, bagaimana kita mesti mensikapi beragam program televisi yang ada. Agar
televisi tidak terus menerus merongrong kita. Ada empat kemungkinan yang mesti kita
pahami agar pertelevisian kita lebih baik. Diantaranya ialah (1) Aturan yang adil dari
pemerintah (2) Lembaga kontrol televisi yang berwibawa ((3) Tumbuhnya kaun
profesional televisi yang proporsional, serta (4) Daya kritis masyarakat sebagai kelompok
penekan (hal 163). Anda yang tahu dimana sekarang berada, disitulah kontribusi Anda
diperlukan. Khusus bagi masyarakat, Anda ditantang oleh Sunardian, kalau kebetulan
sedang menonton televisi yang dirasa buruk ..Matikan saja TV-Mu. Sudahkan ini Anda
lakukan..?
Yang terakhir, buku ini bisa memotivasi Anda untuk bisa bersikap bijaksana dalam
mensikapi berbagai program televisi. Tapi, buku ini memang ada sedikit kekurangan
yaitu gaya penulisan yang mirip “tugas terstruktur” layaknya makalah anak kuliahan.
Dengan begitu, sangat kaku bahasanya dan membosankan. Belum lagi, kertasnya yang
buram membuat buku ini tidak menarik untuk dilihat. Untuk itu bersabarlah membaca
buku ini. Selamat Membaca.