Anda di halaman 1dari 3

Kakek Tuna Wisma Blok S Dirawat

Metro Hari Ini / Metropolitan / Kamis, 13 Januari 2011 18:10 WIB

Metrotvnews.com, Jakarta: Sempat telantar, seorang kakek tuna wisma dirawat di Rumah
Sakit Umum Cengkareng, Jakarta Barat. Sebelumnya, kakek bernama Ahmad Aman itu
tinggal di pos jaga Rawabuaya, Blok S, Jakarta Selatan.

Ahmad dirawat intensif di ruang isolasi khusus RSU Cengkareng sejak Rabu (12/1). Semula,
Ahmad dititipkan Dinas Sosial DKI Jakarta ke Panti Sosial Kedoya, Kebun Jeruk. Dia
dilarikan petugas Dinsos ke RS karena keadaannya memburuk.

Kondisi kakek tersebut memprihatinkan. Petugas medis bahkan harus memberi asupan
makan kakek tersebut dengan menggunakan infus di salah satu lengannya.

Seperti diberitakan sebelumnya, Ahmad telah tiga tahun tinggal seorang diri di pos
keamanan Rawabuaya. Dia tidur hanya beralaskan kasur dan kardus. Sementara, tidak ada
tembok pelindung untuk menahan terpaan angin.

12/01/2011 13:53 | Donor Organ


Liputan6.com, Beijing: Pemerintah Cina sedang menggodok perubahan peraturan
transplantasi organ. Setelah direvisi, peraturan tersebut akan diumumkan pada Maret
mendatang. Demikian dikatakan Wakil Menteri Kesehatan Cina Huang Jiefu.

"Ini akan memberikan pijakan hukum legal kepada Palang Merah Cina untuk membuat
dan menjalankan sistem organ sumbangan di Cina," kata Huang dalam sebuah
pernyataan yang dilansir situs Xinhua, baru-baru ini. Perubahan peraturan transplantasi
organ tersebut akan diperbarui setelah diperkenalkan sejak 2007 silam.

"Dengan perubahan tersebut, Cina akan menjadi selangkah lebih dekat untuk
membangun sebuah sistem donasi organ nasional, yang sedang berjalan sebagai
sebuah proyek percontohan di 11 provinsi dan wilayah sekarang. Dengan demikian,
menjamin pembangunan berkelanjutan dan transplantasi organ sehat untuk
menyelamatkan lebih banyak nyawa," imbuh Huang.

Tanggung jawab Palang Merah itu juga termasuk mendorong para veteran untuk
menyumbang organ secara sukarela, menetapkan daftar calon donor dan menyusun
registrasi orang yang menunggu untuk menerima sumbangan organ yang cocok. Saat
ini, sumbangan organ datang terutama dari relawan dan tahanan yang memiliki kontrak
tertulis dengan keluarganya. Proses ini diletakkan di bawah pengawasan ketat dari
Departemen Kehakiman.

Saat ini sekitar 10.000 transplantasi organ dilakukan setiap tahunnya di daratan Cina.
Diperkirakan, sekitar 1,3 juta orang sedang menunggu untuk transplantasi. Namun,
akhir-akhir ini telah terjadi kekurangan pada sistem donor organ tingkat negara sebelum
proyek percobaan ini diluncurkan pada Maret 2010.(JAY/ANS)
11/01/2011 08:06 | Penelitian
Liputan6.com, Jakarta: Kondisi mulut, lidah, gigi, maupun gusi bisa menjadi indikator
ampuh untuk mendeteksi gangguan kesehatan. Contohnya saja sariawan yang
biasanya disebabkan kurangnya konsumsi vitamin C atau tak sengaja menggigit lidah .
Namun jika sariawan tak kunjung sembuh, waspadalah.

Sariawan yang disebabkan kurang vitamin C biasanya akan sembuh sendiri dalam
waktu 1-2 minggu. Namun jika sariawan tak sembuh-sembuh, bahkan jika jumlahnya
bertambah banyak dan berubah warna menjadi putih bisa berindikasi gangguan
kesehatan.

Menurut Profesor Bidang Kedokteran Gigi Klinis dari University of California, Susan
Hyde, sariwan yang tak kunjung sembuh, terutama yang ada di bawah lidah, bisa
berindikasi pada gejala kanker mulut. Cara mengatasinya hanya dengan pendeteksian
dini.

Hyde menjelaskan, di Amerika Serikat, hanya 35% pengidap kanker mulut yang berhasil
sembuh. Supaya tidak terlambat, segeralah berkonsultasi dengan dokter jika mengalami
gejala di atas. Semakin cepat kanker terdeteksi, maka tingkat kesembuhannya akan
semakin tinggi.

10/01/2011 00:15 | HIV/AIDS


Liputan6.com, Medan: Seorang bocah berumur dua tahun yang didiagnosa positif
mengidap HIV/AIDS meninggal dunia setelah sempat mendapat perawatan intensif di
Rumah Sakit Umum Dokter Pirngadi Medan, Sumatra Utara. "Dia meninggal Sabtu sore.
Meski positif HIV, meninggalnya bukan karena itu, melainkan karena penyakit lain yang
menyertai seperti infeksi paru dan gizi buruk," kata Kasubbag Hukum dan Humas RSUD
Pirngadi Edison Perangin-angin di Medan, Ahad (9/1).

Ia mengatakan, bocah berinisial BAN itu dirawat di Ruang III Anak RSUD Pirngadi sejak
Rabu lalu. Pada hari pertama dirawat, kondisinya sangat lemah, berat badannya tidak
lebih dari 5 kilogram dan saat itu hanya didampingi neneknya. "BAN sekeluarga
merupakan pasien Klinik VCT RSUD Dokter Pirngadi, bahkan ayah korban sudah lebih
dulu meninggal," katanya.

Manager Kasus HIV/AIDS RSUD Pirngadi Antis Naibaho mengatakan, pihaknya sempat
mengunjungi korban Sabtu siang sekitar pukul 12.00 WIB. Saat itu kondisi korban
sangat lemah dan nafasnya sesak mendadak. Akibat kondisi yang sangat lemah itu,
pihak rumah sakit bahkan juga memasangkan oksigen. Ayah korban, BN (28),
meninggal dunia pada 27 November 2009 akibat HIV/AIDS. Sedangkan ibunya, SU (22),
juga positif HIV/AIDS.(ADO/Ant)
Bayi Melepuh Setelah Diimunisasi
Metro Malam / Nusantara / Rabu, 12 Januari 2011 00:26 WIB

Metrotvnews.com, Majalengka: Seorang bayi mungil mendadak melepuh di bagian wajah


dan lehernya. Perubahan fisik itu terjadi selepas sang bayi menerima suntikan imunisasi
DPT. Kini anak pasangan pasangan Aisyah dan Yayat, warga Jatipamor, Kecamatan
Panyingkiran, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, dirawat di rumah sakit daerah setempat.

Menurut kedua orang tuanya, munculnya gejala melepuh pada bayi bernama Yanti
Supriyanti ini didapatkan setelah imunisasi, pada tiga Januari lalu. Meski awalnya sudah
diperiksa ke Puskesmas, luka melepuh semakin mengkhawatirkan. Akhirnya Yanti dirawat di
rumah sakit daerah setempat.

Menurut petugas Dinas Kesehatan Majalengka, gejala tersebut memang timbul akibat dari
imunisasi. Bayi Yanti dianggap memiliki kulit yang sensitif yang sering disebut kipi atau
kondisi lanjutan pascaimunisasi. Kipi cukup berbahaya bila tidak cepat ditangani.