Anda di halaman 1dari 5

ARTIKEL SEAWEED

Website : www.rumputlaut.org
Email : seaweed_undip@yahoo.com

Jangan Abaikan Mutu Rumput Laut

Jannes Eudes Wawa

Tiga tahun terakhir, seolah menjadi era kebangkitan rumput laut. Di


mana-mana antusiasme masyarakat untuk membudidayakan
komoditas itu sungguh luar biasa. Gairah tersebut bukan tanpa dasar.
Maklum, rumput laut hanya memerlukan waktu 45 hari untuk layak
dipanen dengan didukung biaya produksi yang sangat murah dan
teknologi yang rendah. Harganya pun menggiurkan, berkisar Rp
4.000-Rp 5.500 per kilogram.

Salah satu contoh di sepanjang pesisir pantai dari Takalar hingga


Sinjai, Provinsi Sulawesi Selatan, nyaris tidak ditemukan lagi lokasi
penjemuran ikan. Kawasan pantai itu telah berubah menjadi tempat
penjemuran rumput laut. Demikian juga di pesisir selatan Pulau Bali
yang bukan termasuk daerah wisata, dulu cenderung dibiarkan
merana. Kini, wilayah tersebut telah berubah menjadi ”ladang” rumput
laut.

Bahkan, di Bali yang pada lima tahun lalu usaha budidaya rumput laut
hanya pada kawasan sekitar belasan hektar, kini meningkat tajam
menjadi sekitar 350 hektar. Luar biasanya lagi, sejumlah masyarakat
yang dulu tergolong sangat miskin, setelah menekuni budidaya rumput
laut status mereka terdongkrak menjadi kelompok sejahtera. Potensi
di Pulau Dewata itu mencapai 1.500 hektar.

Jika tahun 1999, volume produksi nasional hanya 157.232 ton, pada
tahun 2003 menjadi 285.653 ton atau naik 17,26 persen. Sementara
itu, volume ekspor tahun 1999 hanya 25.084 ton atau senilai 16,284
juta dollar AS, tahun 2003 menjadi 40.162 ton atau 20,511 juta dollar
AS

Namun, kenyataan di Sulawesi Selatan dan Bali sungguh kontras


dengan yang terjadi pada daerah lain di Kawasan Timur Indonesia. Di
Flores, Malaku, dan daerah sekitarnya, gairah warga setempat yang

1
ARTIKEL SEAWEED
Website : www.rumputlaut.org
Email : seaweed_undip@yahoo.com

dulu begitu tinggi membudidayakan rumput laut kini merosot lagi.

Persoalannya, pertama, usaha budidaya tersebut tidak didukung


dengan pemasaran yang terpadu. Setiap hari, mereka selalu
berhadapan dengan tengkulak yang cenderung menekan harga dengan
dalil biaya pengangkutan kapal yang mahal dari Flores ke Surabaya.

Hal itu terjadi karena industri pengolahan, baik setengah jadi dan jadi
hanya beroperasi di Pulau Jawa. Akibatnya, harga rumput laut kering
berkualitas terbaik di tingkat pembudidaya di Flores, Maluku dan
sekitarnya masih rendah, yakni hanya berkisar Rp 3.000-Rp 3.500 per
kilogram.

Kedua, kurangnya penyediaan bibit rumput laut yang berkualitas.


Padahal, setiap bibit hanya boleh dipakai paling banyak empat kali
musim tanam secara berturut-turut. Setelah itu harus diganti dengan
bibit baru. Langkah tersebut adalah bagian dari upaya menjaga
stabilitas mutu produksi. Artinya, pengalokasian dana untuk usaha
perikanan seharusnya didasarkan potensi yang dimiliki daerah itu.
Semakin banyak potensi, makin besar pula dana yang dialokasikan.

Ketiga, tidak adanya tenaga penyuluh yang khusus menangani rumput


laut. Lalu, keempat, belum adanya tata ruang yang membagi lokasi
untuk usaha pembudidayaan.

Dari keempat masalah itu, pemasaran menjadi persoalan paling serius.

Di sini tugas pemerintah mendorong pendirian industri pengolahan


rumput laut di sekitar lokasi produksi.

Manfaat yang bisa dipetik, antara lain memutuskan mata rantai


tengkulak dan meningkatkan harga di tingkat pembudidaya. Bahkan,
pembudidaya takkan lagi dibebankan biaya transportasi. ”Lebih
penting lagi, pembudidaya akan mengetahui secara transparan
kualitas rumput laut seperti apa yang diinginkan industri,” kata Mozes
Kuremas, rohaniwan yang menjadi penggiat usaha budidaya di Flores.

Mozes juga menilai kehadiran industri pengolahan di luar Pulau Jawa

2
ARTIKEL SEAWEED
Website : www.rumputlaut.org
Email : seaweed_undip@yahoo.com

merupakan bagian dari pemerataan dan keadilan pembangunan


nasional. Minimnya investasi swasta di daerah, seperti Nusa Tenggara
Timur (NTT) telah membuat pencari kerja yang mencapai ratusan ribu
orang itu menggantungkan masa depan sepenuhnya pada sektor
pegawai negeri sipil (PNS).

Padahal, jumlah PNS yang diangkat setiap tahun sangat sedikit.


Ketimpangan itu di satu sisi mengakibatkan jumlah pengangguran
terus meningkat. Pada sisi lain berpeluang menimbulkan masalah
sosial yang kompleks dan rumit.

Filipina lebih unggul

Harus diakui potensi budidaya rumput laut di Indonesia sungguh


sangat besar, yakni sekitar 2 juta hektar dengan potensi produksi
mencapai 46,73 juta ton per tahun. Namun, kini baru dimanfaatkan
sekitar 350.000 hektar.

Seiring dengan kesadaran untuk memberdayakan potensi tersebut


mulai tumbuh dan berkembang di seluruh daerah, volume produksi
rumput laut pun bakal meningkat tajam. Bahkan, bukan tak mungkin
Indonesia bakal muncul sebagai produsen rumput laut terbanyak di
dunia.

Akan tetapi, apakah cukup dengan menyandang predikat tersebut?


Rasanya terlalu prematur, sebab pertanyaan yang muncul berikutnya
adalah apakah kualitasnya pun termasuk yang terbaik di dunia?

Sadar atau tidak, saat ini kualitas rumput laut Indonesia tergolong
yang paling rendah. Filipina termasuk memiliki rumput laut berkualitas
tinggi. Di sana, komoditas itu telah memiliki kekuatan gel mencapai
750 gram per sentimeter persegi. Adapun di Indonesia hanya 550
gram per sentimeter persegi. Namun, itu pun belum tercapai. Yang
ada baru berkisar 200 gram-235 gram per sentimeter persegi.

”Artinya, mutu rumput laut di Indonesia masih sangat rendah.


Penyebab utama adalah tidak ada standardisasi mutu sehingga semua

3
ARTIKEL SEAWEED
Website : www.rumputlaut.org
Email : seaweed_undip@yahoo.com

pembudidaya dan pembeli semaunya memanen dan membeli tanpa


memedulikan kualitas produk. Apalagi, bentuk rumput laut yang
berusia 30 hari dan 45 hari nyaris tak berbeda,” kata Direktur Balai
Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan
Perikanan Hari Eko Arianto.

Misalnya, di Madura, Jawa Timur. Banyak pembudidaya yang setelah


memanen, rumput laut itu direndamkan lagi ke dalam air laut selama
semalam, baru dikeringkan. Tujuannya, meningkatkan berat
komoditas tersebut.

Jika rumput laut yang langsung dikeringkan biasanya dari setiap


delapan kilogram basah dihasilkan sekilogram kering. Sebaliknya,
kalau direndam lagi dengan air laut, maka empat kilogram basah
mampu menghasilkan satu kilogram kering, sebab kadar garam
meningkat.

Cara kerja seperti itu menguntungkan pembudidaya, tetapi sangat


merugikan industri pengolahan. Alasannya, setelah diolah yang
dominan adalah kadar garam bukan rumput laut. ”Itu sebabnya
banyak industri pengolahan selalu menolak membeli rumput laut yang
berasal dari Madura,” jelas Singgih Widodo, ahli rumput laut lainnya.

Seiring maraknya usaha budidaya rumput laut di Indonesia harus


segera diikuti dengan penetapan standardisasi mutu produk. Langkah
itu penting, sebab dalam banyak kasus para pembudidaya memanen
komoditas tersebut pada usia 30 hari.

Padahal, seharusnya pada usia 45 hari baru boleh dipanen. Akibatnya,


kualitas rumput laut dan produk ikutan lain selalu rendah dan tidak
laku dijual di pasar domestik dan internasional

Setelah diselidiki, kesalahan bukan hanya dilakukan pembudidaya,


tetapi juga pembeli. Bahkan, pembeli yang mewajibkan pembudidaya
merendamkan rumput laut ke dalam air laut sebelum dikeringkan.

Praktik buruk tersebut dilakukan guna memenuhi kuota penjualan

4
ARTIKEL SEAWEED
Website : www.rumputlaut.org
Email : seaweed_undip@yahoo.com

kepada perusahaan pengolahan, baik di dalam maupun di luar negeri.


Penampung biasanya sudah memberi jaminan kepada industri
pengolahan guna menyuplai bahan baku rumput laut sekian ton per
bulan.

”Untuk memenuhi kuota segala cara dipakai, termasuk memaksa


pembudidaya merendamkan rumput laut ke dalam air laut setelah
dipanen,” tambah Th Dwi Suryaningrum, ahli rumput laut dari Balai
Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan
Perikanan.

”Jika praktik seperti ini dibiarkan terus, otomatis dijadikan senjata bagi
pesaing Indonesia guna melakukan kampanye negatif di pasar dunia.
Kerugian Indonesia pasti lebih besar lagi, sebab rumput laut bakal tak
berharga. Karena itu, harus segera dicegah sedini mungkin.

Sumber:
http://64.203.71.11/kompas-cetak/0512/09/ekonomi/2274100.htm
(diakses tanggal 8 Februari 2008).