Anda di halaman 1dari 5

ARTIKEL SEAWEED

Website : www.rumputlaut.org
Email : seaweed_undip@yahoo.com

RUMPUT LAUT, GURU MENGENAL DIRI

Di penghujung 1980-an, usaha rumput laut di pantai barat pulau


Selayar tumbuh laksana cendawan di musim hujan. Di mana-mana
laut-laut di sepanjang pulau itu seakan tidak mau memberikan ruang
gerak pemandangan lain kecuali hamparan rakit-rakit rumput laut.

Masalahnya muncul ketika hasil panen sudah berlimpah. Masyarakat


dibuat pusing memikirkan, mau memasarkan ke mana hasil keringat
mereka. Rumput laut yang dipelihara setengah mati akhirnya jadi
sampah di kolong-kolong rumah penduduk, membusuk mengeluarkan
bau kurang sedap. Walaupun mungkin pembiak perintis masih
sempatmendapatkan sedikit keuntungan pada penjualan bibit-bibit
untuk pembiak generasi penjiplak. Tentu semua berharap, penjualan
perkilo-nya pasca panen bisa sedikit menjadi sumber pendapatan
tambahan keluarga. Tapi kenyataannya, mereka harus kembali
meratapi nasib. Dewi fortuna kembali enggan berpihak kepada
mereka. Modal sudah lari, hasilnya jadi sampah. Kalaupun ada yang
berniat membeli, harganya justru tidak kuat lagi menutupi modal-
modal yang telah mereka keluarkan. Belum lagi tenaga yang terkuras
tidak tergolong kecil.

Apakah prinsif ketidakseimbangan SUPPLY-DEMAND yang


menyebabkan harga hasil panen tidak sesuai dengan harapan? Apakah
supply yang mereka hasilkan sudah sedemikian banyaknya sehingga
tidak mampu diserap oleh pasar? Boleh jadi iya, tapi tentu ada juga
opsi yang mengatakan tidak, yang justru ini yang paling masih di akal.
Mungkin saja dalam skala mini, tingkat supply demikian tinggi jauh
dari demand yang sebenarnya ada. Tapi dalam skala major, hasil
mereka itu tidaklah seberapa dari segi kwantitas.

1
ARTIKEL SEAWEED
Website : www.rumputlaut.org
Email : seaweed_undip@yahoo.com

Lalu apa yang salah?

Yang pertama pemerintah seakan tidak mau mengerti tentang apa


yang rakyatnya inginkan. Tidak ada backup dari pemkab yang
kelihatan dalam kasus ini. Rakyat jalan sendiri-sendiri mengikuti ego
dan harapan muluknya. Dan mirif kasus vanili beberapa tahun terakhir
ini, pengikut-pengikut belakangan yang jumlahnya tidak tergolong
sedikit, bisa jadi hanya merasakan nasib "sudah jatuh ditimpa tangga".
Modal sudah dihabiskan untuk ikutan trend sesaat itu, tapi harga hasil
panennya tidak seperti apa yang mereka harapkan. Bukan untung
yang datang menjenguk, malah buntung yang setia menjemput.

Lha..., koq pemerintah?

Kasus-kasus seperti ini sudah berulang kali terjadi. Tapi masyarakat


yang memang masih bodoh, tidak pernah diarahkan. Lalu apalah
gunanya dinas pertanian misalnya. Apakah memang tugas utama
instansi itu hanyalah mencari peluang proyek berupa bantuan dari
pusat untuk dihibahkan ke masyarakat luas? Yang itupun tidak ada
tindak lanjut membangun yang kelihatan. Akhirnya "niat" untuk
memberikan kail kepada masyarakat kurang mampu agar bisa
memancing ikan sendiri, hasinya kail sendiri yang hilang entah ke
mana. Masih tergolong beruntung kalau kailnya dijual untuk membeli
beras misalnya. Secara akal sehat terbayang adanya hal-hal
kekurangberesan dalam masalah ini.

Kita, terutama instansi pemerintah terkait ternyata tidak mengenal diri


sendiri. Padahal dalam sebuah pertempuran, bukan kekuatan musuh
yang paling utama harus mengerti secara detail, walau mengenal
musuh juga termasuk penting. Kita lebih perlu mengenal siapa diri kita
sendiri. Dengan itu kemenangan sudah 50% ada di tangan, walau kita
buta sama kekuatan musuh sekalipun. Walaupun kita mengenal seluk
beluk musuh, bila apa yang ada di diri sendiri tidak pernah kita tau,
pastikan bahwa kekalahan akan selalu menjadi teman. Tentu yang

2
ARTIKEL SEAWEED
Website : www.rumputlaut.org
Email : seaweed_undip@yahoo.com

paling utama dan akan membuahkan 100% kemenangan adalah


mengenal diri sendiri dan juga mengenal seperti apa musuh yang
sesungguhnya.

Dalam konteks manajerial masyarakat kita yang masih termasuk lugu


ini, justru instansi terkait yang seyogyanya menjadi pemimpin di
barisan terdepan untuk mengarahkan. Itupun kalau memang ada niat
untuk mengangkat tingkat kehidupan masyarakat secara umum, yang
bukan cuma dalam bentuk retorika. Toh orang-orang di pemerintahan,
sebagaimana slogan yang selalu didengun-dengunkan adalah "abdi
negara", "abdi masyarakat". Tentu kemaslahatan masyarakat banyak
yang harus jadi prioritas utama. Otak harus diputar mencari solusi
mengeluarkan masyarakat dari kerangkeng kemiskinan. Salah satunya
adalah mencari tau apa potensi yang ada dalam masyarakat. Ini
identik dengan mencari tahu tentang diri sendiri. Lalu, step
selanjutnya adalah kemana potensi itu akan diarahkan, yang mana ini
salah saru realisasi mengenal wujud musuh yang sebenarnya.

Contoh nyata adalah rumput laut seperti diungkit dalam aliea awal.
Diri sendiri saja belum kita kenal. Apalagi siapa sang musuh yang
sesungguhnya, lebih-lebih kita tidak mengenalnya. Hasilnya....., yah
seperti yang kita alami sendiri. Sesuai teori di atas, 100% pasti
mengalami kekalahan. Ini hukum alam, yang di negeri sakura sana
diungkapkan " Teki wo siri, ko wo sireba, hyaku sen ayaukarazu ".

Pemkab Takalar ternyata tidak mau kehilangan tongkat dua kali. Dan
hasilnya seperti dilansir oleh harian Fajar, saat ini Takalar telah
menjadi inkubator pengembangan rumput laut di Sulsel. Sementara
daerah sekitarnya seperti Jeneponto, Bantaeng dan Bulukumba
hanyalah sebagai daerah penunjang atau yang lasim disebutkan
sebagai kluster.

Beberapa tahun terakhir Takalar mulai mencanangkan "Gerbang Emas"


terhadap rumput laut ini. Akibatnya produk meningkat yang bahkan
membias ke daerah-daerah sekitarnya. Dalam hal ini, peran pemkab

3
ARTIKEL SEAWEED
Website : www.rumputlaut.org
Email : seaweed_undip@yahoo.com

tidak tergolong kecil. Mereka berusaha mengenali diri sendiri. Potensi


yang mereka lihat adalah rumput laut itu. Dana 1 milyar pun diambil
dari kocek APBD sebagai bantuan modal kepada petani rumput laut di
Takalar.

Dalam rangka mengetahui medan lawan, pemkab Takalar ternyata


cukup brilyan. Pengusaha besar sebagai peninjaklanjut hasil rumput
laut petani-pun diundang untuk saling ber-simbiosis mutualisme.
Dengan dukungan suasana yang kondusif, gayungpun bersambut.
Karena memang pengusaha yang lebih tahu medan, ke mana hasil-
hasil petani tersebut bisa diserap. Dan memang ternyata pasar dunia
tidak pernah kenyang akan pasokan rumput-rumput laut itu. Dari
negara-negara Eropa seperti Jerman, Prancis, Inggeris sampai ke
kawasan asia seperti hongkong, Jepang dan lain-lainnya memang
sebuah pasar yang tidak akan pernah berhenti minta pasokan rumput
laut. Dari industri kosmetik, obat-obatan, sampai sebagai bahan
makanan selalu membutuhkannya.

Kini, Kabupaten Takalar menjadi jaya dari segi rumput laut. Pasar
dunia sudah dirambah. Tinggal menjaga kesinambungan dan kwalitas
hasil mereka. Pasar tidak akan pernah berhenti minta pasokan. Karena
masyarakat dunia tidak pernah berhenti membutuhkan barang yang
bahan bakunya banyak dari rumput laut.

Kalau saja dulu, Selayar dengan pemerintah sebagai icon terdepan,


mau mengenali diri sendiri, lalu berusaha mencari tahu tentang pasar
sebagai lawan, bukan cerita muluk kalau Selayar telah lama berjaya
lewat rumput laut itu. Karena kita punya potensi pantai yang begitu
luas sebagai medium pembiakan rumput laut tersebut. Sekarang kita
hanya bisa gigit jari melihat tetangga sebelah berjaya di medan yang
sebetulnya kita pernah bergumul di dalamnya. Dan tentu masih ada
lagi contoh kongkrit lain yang mirif dengan fenomena rumput laut ini.

Akankah kita akan terus meratapi nasib yang kata kita tidak pernah
berpihak kepada kita? Lalu menyalahkan sang nasib tersebut. Tentu

4
ARTIKEL SEAWEED
Website : www.rumputlaut.org
Email : seaweed_undip@yahoo.com

tidak. Akan tetapi sungguh naif kalau otak kita hanya sampai pada
kata "TIDAK" tersebut. Kita mesti belajar. Pemerintah tentu harus
lebih giat belajar lagi. Bukan mengarahkan anggaran ini ke kotak-
kotak pengeluaran yang semu. Pelajari siapa diri ini sesungguhnya.
Apa potensi yang ada pada diri ini. Dengan itu kita sudah bisa
melangkah ke 50% kemenangan. Tanpa itu, kita tidak tau, sampai
kapan kita akan tetap gigit jari.(AF, Jakarta 14 Agustus 2005)

Sumber: http://www.selayar.com/topics/topic001.html (diakses


tanggal 8 Februari 2008).