Anda di halaman 1dari 21

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Konflik Palestina-Israel ini berawal dari sengketa tanah yang melibatkan antara Israel dan
Palestina. Penduduk Israel sebagaian besar menganut agama Yahudi, sebagian dari mereka
adalah pendatang dari Diaspora bangsa yahudi di seluruh dunia. Sedangkan penduduk Palestina
merupakan penduduk yang beragama Islam dan Kristen dan mayoritas bermukim berabad-abad
di Palestina.

Hal ini terjadi karena banyaknya perlakuan yang tidak adil dialami oleh bangsa Yahudi di
Eropa pasca Revolusi Peracis, maka muncullah gagasan Theodore Herz melalui bukunya ”Der
Yuden Staff” yang terbit untuk membentuk gerakan-gerakan kaum Yahudi ”kembali ke Bukit
Zion” (Zionisme). Buku ini mendapat dukungan dari masyarakat Yahudi yang tersebar di Manca
Negara, sehingga Herz berhasil mengadakan Kongres Yahudi Internasional di Basel Swiss pada
tahun 1897 dengan terbentuknya World Zionist Organization (WZO) dengan tepilihnya Herz
sebagai ketua pertama WZO.

Setelah Herz meninggal pada tahun 1904 WZO dipimpin oleh Chaim Weizman seorang
ahli kimia di London, sehingga ia memiliki hubungan dengan pihak kerajaan. Ketika Perang
dunia I, WZO bersedia membantu kerajaan, asalkan setelah perang usai Pemerintah Inggris dapat
membantu pengembalian orang-orang Yahudi ke Palestina, sebagai hasil dari pertemuan tersebut
keluarnlah ”Balfour Declaration” pada tanggal 2 Nofember 1917. isi pokok Deklarasi ini antara
lain menyatakan pengakuan Pemerintah Inggris akan eksistensi bangsa Yahudi di Dunia serta
persetujuan berdirinya negara Israel sebagai suatu ”National Home” di Palestina dan Pemerintah
Inggris akan memberikan segala sarana yang diperlukan bagi tercapainya tujuan tersebut.

Sejak dikeluarkannya Deklarasi Balfour di atas, para pemuka masyarakat Palestina sudah
mencapaikan protesnya kepada pemerintah Inggris di London dan meminta Raja Inggris juga
mengizinkan warga Palestina membentuk pemerintahan sendiri, akan tetapi tidak sampai

1
menjadi deklarasi sendiri seperti deklarasi Balfour. Sehingga sebagai akibatnya hanya bangsa
Yahudilah yang berani memproklamirkan berdirinya negara Israel pada tanggal 14 Mei 1948.

Sebenarnya sejak tahun 1947 PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa telah melakukan


pembagian wilayah negara Palestina dan Israel, akan tetapi pola pembagiaan itu ditolak oleh
kedua belah pihak, yang masing-masing tetap mengklaim seluruh wilayah Palestina untuk
mereka.

Dilain pihak, warga Palestina baru mulai membentuk organisasi perlawanan Al-Fatah
yang dipimpin oleh Nasser Arafat pada tahun 1957, yang kemudian bergabung dengan organisasi
Palestina yang diprakarsai oleh Presiden Mesir Gamal Abdeln Nasser, Palestine Liberation
Organization (PLO) pada tahun 1964 yang dipimpin oleh Khoduri, Invansi besar-besaran yang
dilakukan oleh Israel pada tahun 1967 dengan menduduki Tepi Barat Yordan, Dataran Tinggi
Golan, Jalur Gaza dan Gurun Sinai telah menyebabkan baban PLO san negara-negara Arab
lainnya semakin bertambah, sehingga konflik Arab – Israel telah semakin meningkat pula.
Semakin meningkatnya konflik yang terjadi antara palestina – Israel semakin juga
dibutuhkannya peran PBB dalam upaya penyelesaian konflik ini. Upaya-upaya pbb dalam
penyelesaian konflik menjadi sebuah harapan internasional dan menjadi tantangan kinerja PBB
kedepan dalam upaya perdamaian Timur tengah.

1.2 Rumusan Masalah


2
• Apa penyebab konflik antara Palestina dan Israel?

• Bagaimana sejarah konflik antara Palestina dengan Israel?

• Penyebab lambannya penyelesaian konflik di antara kedua belah pihak?

• Bagaimana sikap PBB dalam menangani konflik berkepanjangan di antara kedua


belah pihak?

• Bagaimana kondisi pada saat ini?

1.3 Tujuan Penulisan

Adapun tujuan dari penulisan makalah ini selain untuk memenuhi tugas sejarah kelas XII
Semester 2 juga untuk mengetahui penyebab konflik berkepanjangan antara Palestina dan Israel
yang sampai saat ini masih belum menemukan titik terang dalam penyelesaian di antara kedua
belah pihak.Serta untuk mengetahui perkembangan konflik Palestina-Israel.

1.4 Metode Penulisan

Adapun makalah ini,penulis menggunakan metode pustaka dari buku-buku serta


mengumpulkan data dari internet.

3
1.5 Sistematika Penulisan

Adapun makalah ini di susun dengan sistematika sebagai berikut:

HALAMAN JUDUL

KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang Masalah

1.2 Rumusan Masalah

1.3 Tujuan Penulisan

1.4 Metode Penulisan

1.5 Sistematika

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Sejarah Konflik Palestina-Israel

2.2 Penyebab Lambannya Penyelesaian Konflik

2.3 Perkembangan Konflik Palestina-Israel

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan

3.2 Saran

DAFTAR PUSTAKA

BAB II

4
PEMBAHASAN

2.1 Sejarah Konflik Palestina-Israel

pAda pun sejarah awal dari konflik Palestina-Israel yaitu di mulai pada:

• Pada tahun 500 – 1700 M

Kebangkitan pemikiran di Eropa, munculnya sekularisme (pemisahan agama/ gereja


dengan negara), nasionalisme dan kapitalisme. Mulainya kemajuan teknologi moderen di Eropa.
Abad penjelajahan samudera dimulai. Mereka mencari jalur perdagangan alternatif ke India dan
Cina, tanpa melalui daerah-daerah Islam. Tapi akhirnya mereka didorong oleh semangat
kolonialisme dan imperialisme, yakni Gold, Glory dan Gospel. Gold berarti mencari kekayaan di
tanah jajahan, Glory artinya mencari kemasyuran di atas bangsa lain dan Gospel (Injil) artinya
menyebarkan agama Kristen ke penjuru dunia.

• Tahun 1529

Tentara khilafah berusaha menghentikan arus kolonialisme/ imperialisme serta


membalas reconquista langsung ke jantung Eropa dengan mengepung Wina, namun gagal.
Tahun 1683 M kepungan diulang, dan gagal lagi. Kegagalan ini terutama karena tentara Islam
terlalu yakin pada jumlah dan perlengkapannya.

• Tahun 1798

Napoleon berpendapat bahwa bangsa Yahudi bisa diperalat bagi tujuan-tujuan Perancis
di Timur Tengah. Wilayah itu secara resmi masih di bawah Khilafah.

• Tahun 1831
5
Untuk mendukung strategi “devide et impera” Perancis mendukung gerakan
nasionalisme Arab, yakni Muhammad Ali di Mesir dan Pasya Basyir di Libanon. Khilafah mulai
lemah dirongrong oleh semangat nasionalisme yang menular begitu cepat di tanah Arab.

• Tahun 1835

Sekelompok Yahudi membeli tanah di Palestina, dan lalu mendirikan sekolah Yahudi
pertama di sana . Sponsornya adalah milyuder Yahudi di Inggris, Sir Moshe Monteveury,
anggota Free Masonry. Ini adalah pertama kalinya sekolah berkurikulum asing di wilayah
Khilafah.

• Tahun 1838

Inggris membuka konsulat di Yerusalem yang merupakan perwakilan Eropa pertama di


Palestina.

• Tahun 1849

Kampanye mendorong imigrasi orang Yahudi ke Palestina. Pada masa itu jumlah
Yahudi di Palestina baru sekitar 12.000 orang. Pada tahun 1948 jumlahnya menjadi 716.700 dan
pada tahun 1964 sudah hampir 3 juta orang.

• Tahun 1882

Imigrasi besar-besaran orang Yahudi ke Palestina yang berselubung agama, simpati dan
kemanusiaan bagi penderitaan Yahudi di Eropa saat itu.

• Tahun 1891

Para penduduk Palestina mengirim petisi ke Khalifah, menuntut dilarangnya imigrasi


besar-besaran ras Yahudi ke Palestina. Sayang saat itu khilafah sudah “sakit-sakitan” (dijuluki
6
“the sick man at Bosporus ). Dekadensi pemikiran meluas, walau Sultan Abdul Hamid sempat
membuat terobosan dengan memodernisir infrastruktur, termasuk memasang jalur kereta api dari
Damaskus ke Madinah via Palestina! Sayang, sebelum selesai, Sultan Abdul Hamid dipecat oleh
Syaikhul Islam (Hakim Agung) yang telah dipegaruhi oleh Inggris. Perang Dunia I meletus, dan
jalur kereta tersebut dihancurkan.

• Tahun 1897

Theodore Herzl menggelar kongres Zionis sedunia di Basel Swiss. Peserta kongres I
Zionis mengeluarkan resolusi, bahwa umat Yahudi tidaklah sekedar umat beragama, namun
adalah bangsa dengan tekad bulat untuk hidup secara berbangsa dan bernegara. Dalam resolusi
itu, kaum zionis menuntut tanah air bagi umat Yahudi – walaupun secara rahasia – pada “tanah
yang bersejarah bagi mereka”. Sebelumnya Inggris hampir menjanjikan tanah protektorat
Uganda atau di Amerika Latin ! Di kongres itu, Herzl menyebut, Zionisme adalah jawaban bagi
“diskriminasi dan penindasan” atas umat Yahudi yang telah berlangsung ratusan tahun.
Pergerakan ini mengenang kembali bahwa nasib umat Yahudi hanya bisa diselesaikan di tangan
umat Yahudi sendiri. Di depan kongres, Herzl berkata, “Dalam 50 tahun akan ada negara Yahudi
!” Apa yang direncanakan Herzl menjadi kenyataan pada tahun 1948.

• Tahun 1916

Perjanjian rahasia Sykes – Picot oleh sekutu (Inggris, Perancis, Rusia) dibuat saat
meletusnya Perang Dunia (PD) I, untuk mencengkeram wilayah-wilayah Arab dan Khalifah
Utsmaniyah dan membagi-bagi di antara mereka. PD I berakhir dengan kemenangan sekutu,
Inggris mendapat control atas Palestina. Di PD I ini, Yahudi Jerman berkomplot dengan Sekutu
untuk tujuan mereka sendiri (memiliki pengaruh atau kekuasaan yang lebih besar).

• Tahun 1917

Menlu Inggris keturunan Yahudi, Arthur James Balfour, dalam deklarasi Balfour
memberitahu pemimpin Zionis Inggris, Lord Rothschild, bahwa Inggris akan memperkokoh

7
pemukiman Yahudi di Palestina dalam membantu pembentukan tanah air Yahudi. Lima tahun
kemudian Liga Bangsa-bangsa (cikal bakal PBB) memberi mandat kepada Inggris untuk
menguasai Palestina.

• Tahun 1938

Nazi Jerman menganggap bahwa pengkhianatan Yahudi Jerman adalah biang keladi
kekalahan mereka pada PD I yang telah menghancurkan ekonomi Jerman. Maka mereka perlu
“penyelesaian terakhir” (endivsung). Ratusan ribu keturunan Yahudi dikirim ke kamp
konsentrasi atau lari ke luar negeri (terutama ke AS). Sebenarnya ada etnis lain serta kaum
intelektual yang berbeda politik dengan Nazi yang bernasib sama, namun setelah PD II Yahudi
lebih berhasil menjual ceritanya karena menguasai banyak surat kabar atau kantor-kantor berita
di dunia.

• Tahun 1944

Partai buruh Inggris yang sedang berkuasa secara terbuka memaparkan politik
“membiarkan orang-orang Yahudi terus masuk ke Palestina, jika mereka ingin jadi mayoritas.
Masuknya mereka akan mendorong keluarnya pribumi Arab dari sana .” Kondisi Palestina pun
memanas.

• Tahun 1947

PBB merekomendasikan pemecahan Palestina menjadi dua negara: Arab dan Israel .

• Tanggal 14 Mei 1948

Sehari sebelum habisnya perwalian Inggris di Palestina, para pemukim Yahudi


memproklamirkan kemerdekaan negara Israel . Mereka melakukan agresi bersenjata terhadap
rakyat Palestina yang masih lemah,hingga jutaan dari mereka terpaksa mengungsi ke Libanon,
Yordania , Syria , Mesir dan lain-lain. Palestina Refugees menjadi tema dunia. Namun mereka
menolak eksistensi Palestina dan menganggap mereka telah memajukan areal yang semula
kosong dan terbelakang. Timbullah perang antara Israel dan negara-negara Arab tetangganya.

8
Namun karena para pemimpin Arab sebenarnya ada di bawah pengaruh Inggris maka Israel
mudah merebut daerah Arab Palestina yang telah ditetapkan PBB.

• Tanggal 2 Desember1948

Protes keras Liga Arab atas tindakan AS dan sekutunya berupa dorongan dan
fasilitas yang mereka berikan bagi imigrasi zionis ke Palestina. Pada waktu itu, Ikhwanul
Muslimin (IM) di bawah Hasan Al-Banna mengirim 10.000 mujahidin untuk berjihad melawan
Israel . Usaha ini kandas bukan karena mereka dikalahkan Israel, namun karena Raja Farouk
yang korup dari Mesir takut bahwa di dalam negeri IM bisa melakukan kudeta, akibatnya tokoh-
tokoh IM dipenjara atau dihukum mati.

• Tanggal 29 Oktober1956

Israel dibantu Inggris dan Perancis menyerang Sinai untuk menguasai terusan Suez .
Pada kurun waktu ini, militer di Yordania menawarkan baiat ke Hizbut Tahri (salah satu harakah
Islam) untuk mendirikan kembali Khilafah. Namun Hizbut Tahrir menolak, karena melihat
rakyat belum siap.

• Tahun 1964

Para pemimpin Arab membentuk PLO (Palestine Liberation Organization) . Dengan


ini secara resmi, nasib Palestina diserahkan ke pundak bangsa Arab-Palestina sendiri, dan tidak
lagi urusan umat Islam. Masalah Palestina direduksi menjadi persoalan nasional bangsa
Palestina.

• Tahun 1967

Israel menyerang Mesir, Yordania dan Syria selama 6 hari dengan dalih pencegahan,
Israel berhasil merebut Sinai dan Jalur Gaza (Mesir), dataran tinggi Golan (Syria), Tepi Barat
9
dan Yerussalem (Yordania). Israel dengan mudah menghancurkan angkatan udara musuhnya
karena dibantu informasi dari CIA (Central Intelligence Agency = Badan Intelijen Pusat milik
USA ). Sementara itu angkatan udara Mesir ragu membalas serangan Israel, karena Menteri
Pertahanan Mesir ikut terbang dan memerintahkan untuk tidak melakukan tembakan selama dia
ada di udara.

• Pada Nopember 1967

Dewan Keamanan PBB mengeluarkan Resolusi Nomor 242, untuk perintah


penarikan mundur Israel dari wilayah yang direbutnya dalam perang 6 hari, pengakuan semua
negara di kawasan itu, dan penyelesaian secara adil masalah pengungsi Palestina.

• Tahun 1969

Yasser Arafat dari faksi Al-Fatah terpilih sebagai ketua Komite Eksekutif PLO
dengan markas di Yordania.

• Tahun 1970

Berbagai pembajakan pesawat sebagai publikasi perjuangan rakyat Palestina


membuat PLO dikecam oleh opini dunia, dan Yordania pun dikucilkan. Karena ekonomi
Yordania sangat tergantung dari AS, maka akhirnya Raja Husein mengusir markas PLO dari
Yordania. Dan akhirnya PLO pindah ke Libanon.

• Tanggal 6 Oktober 1973

Mesir dan Syria menyerang pasukan Israel di Sinai dan dataran tinggi Golan pada
hari puasanya Yahudi Yom Kippur. Pertempuran ini dikenal dengan Perang Oktober. Mesir dan
Syria hampir menang, kalau Israel tidak tiba-tiba dibantu oleh AS. Presiden Mesir Anwar Sadat
terpaksa berkompromi, karena dia Cuma siap untuk melawan Israel , namun tidak siap
berhadapan dengan AS. Arab membalas kekalahan itu dengan menutup keran minyak. Akibatnya
harga minyak melonjak pesat.

• Tanggal 22 Oktober 1973


10
Dewan Keamanan PBB mengeluarkan resolusi Nomor 338, untuk gencatan senjata,
pelaksanaan resolusi Nomor 242 dan perundingan damai di Timur Tengah.

• Tahun 1977

Pertimbangan ekonomi (perang telah memboroskan kas negara) membuat Anwar


Sadat pergi ke Israel tanpa konsultasi dengan Liga Arab. Ia menawarkan perdamaian, jika Israel
mengembalikan seluruh Sinai. Negara-negara Arab merasa dikhianati. Karena langkah
politiknya ini, belakangan Anwar Sadat dibunuh pada tahun 1982.

• Pada September 1978

Mesir dan Israel menandatangani perjanjian Camp David yang diprakarsai AS.
Perjanjian itu menjanjikan otonomi terbatas kepada rakyat Palestina di wilayah-wilayah
pendudukan Israel . Sadat dan PM Israel Menachem Begin dianugerahi Nobel Perdamaian
1979. namun Israel tetap menolak perundingan dengan PLO dan PLO menolak otonomi.
Belakangan, otonomi versi Camp David ini tidak pernah diwujudkan, demikian juga otonomi
versi lainnya. Dan AS sebagai pemrakarsanya juga tidak merasa wajib memberi sanksi, bahkan
selalu memveto resolusi PBB yang tidak menguntungkan pihak Israel .

• Tahun 1980

Israel secara sepihak menyatakan bahwa mulai musim panas 1980 kota Yerussalem
yang didudukinya itu resmi sebagai ibukota.

• Tahun 1982

Israel menyerang Libanon dan membantai ratusan pengungsi Palestina di Sabra dan
Shatila. Pelanggaran terhadap batas-batas internasional ini tidak berhasil dibawa ke forum PBB
karena – lagi-lagi – veto dari AS. Terakhir Israel juga melakukan serangkaian pemboman atas
instalasi militer dan sipil di Iraq, Libya, dan Tunis

11
• Tahun 1987

Intifadhah, perlawanan dengan batu oleh orang-orang Palestina yang tinggal di


daerah pendudukan terhadap tentara Israel mulai meledak. Intifadhah ini diprakarsai oleh
HAMAS, suatu harakah Islam yang memulai aktivitasnya dengan pendidikan dan sosial.

• Tanggal 15 Nopember1988

Diumumkan berdirinya negara Palestina di Aljiria, ibu kota.Aljazair. Dengan


bentuk negara Republik Parlementer. Ditetapkan bahwa Yerussalem Timur sebagai ibukota
negara dengan Presiden pertamanya adalah Yasser Arafat. Setelah Yasser Arafat mangkat kursi
presiden diduduki oleh Mahmud Abbas. Dewan Nasional Palestina, yang identik dengan
Parlemen Palestina beranggotakan 500 orang.

• Pada Desember 1988

AS membenarkan pembukaan dialog dengan PLO setelah Arafat secara tidak


langsung mengakui eksistensi Israel dengan menuntut realisasi resolusi PBB Nomor 242 pada
waktu memproklamirkan Republik Palestina di pengasingan di Tunis.

• Pada September1993

PLO – Israel saling mengakui eksistensi masing-masing dan Israel berjanji


memberikan hak otonomi kepada PLO di daerah pendudukan. Motto Israel adalah “land for
peace” (tanah untuk perdamaian). Pengakuan itu dikecam keras oleh pihak ultra-kanan Israel
maupun kelompok di Palestina yang tidak setuju. Namun negara negara Arab ( Saudi Arabia ,
Mesir, Emirat dan Yordania) menyambut baik perjanjian itu. Mufti Mesir dan Saudi
mengeluarkan “fatwa” untuk mendukung perdamaian.

Setelah kekuasaan di daerah pendudukan dialihkan ke PLO, maka sesuai


perjanjian dengan Israel , PLO harus mengatasi segala aksi-aksi anti Israel. Dengan ini maka
sebenarnya PLO dijadikan perpanjangan tangan Yahudi.Yasser Arafat, Yitzak Rabin dan
Shimon Peres mendapat Nobel Perdamaian atas usahanya tersebut.

12
• Tahun 1995

Rabin dibunuh oleh Yigar Amir, seorang Yahudi fanatik. Sebelumnya, di Hebron,
seorang Yahudi fanatik membantai puluhan Muslim yang sedang shalat subuh. Hampir tiap
orang dewasa di Israel, laki-laki maupun wanita, pernah mendapat latihan dan melakukan wajib
militer. Gerakan Palestina yang menuntut kemerdekaan total menteror ke tengah masyarakat
Israel dengan bom “bunuh diri”. Targetnya, menggagalkan usaha perdamaian yang tidak adil
itu. Sebenarnya “land for peace” diartikan Israel sebagai “ Israel dapat tanah, dan Arab Palestina
tidak diganggu (bisa hidup damai).”

• Pada tahun 1996

Pemilu di Israel dimenangkan secara tipis oleh Netanyahu dari partai kanan, yang
berarti kemenangan Yahudi yang anti perdamaian. Netanyahu mengulur-ulur waktu
pelaksanaan perjanjian perdamaian. Ia menolak adanya negara Palestina, agar Palestina tetap
sekedar daerah otonom di dalam Israel . Ia bahkan ingin menunggu/menciptaka n kontelasi baru
(pemukiman Yahudi di daerah pendudukan, bila perlu perluasan hingga ke Syria dan Yordania)
untuk sama sekali membuat perjanjian baru.

AS tidak senang bahwa Israel jalan sendiri di luar garis yang ditetapkannya. Namun
karena lobby Yahudi di AS terlalu kuat, maka Bill Clinton harus memakai agen-agennya di
negara-negara Arab untuk “mengingatkan” si “anak emasnya” ini. Maka sikap negara-negara
Arab tiba-tiba kembali memusuhi Israel . Mufti Mesir malah kini memfatwakan jihad terhadap
Israel .

Sementara itu Uni Eropa (terutama Inggris dan Perancis) juga mencoba “aktif”
menjadi penengah, yang sebenarnya juga hanya untuk kepentingan masing-masing dalam
rangka menanamkan pengaruhnya di wilayah itu. Mereka juga tidak rela kalau AS “jalan
sendiri” tanpa bicara dengann Eropa.

• Kesepakatan Damai Oslo antara Palestina dan Israel 1993

13
13 September 1993. Israel dan PLO bersepakat untuk saling mengakui kedaulatan
masing-masing. Pada Agustus 1993, Arafat duduk semeja dengan Perdana Menteri Israel
Yitzhak Rabin. Hasilnya adalah Kesepakatan Oslo. Rabin bersedia menarik pasukannya dari
Tepi Barat dan Jalur Gaza serta memberi Arafat kesempatan menjalankan sebuah lembaga
semiotonom yang bisa "memerintah" di kedua wilayah itu. Arafat "mengakui hak Negara Israel
untuk eksis secara aman dan damai".28 September 1995. Implementasi Perjanjian Oslo. Otoritas
Palestina segera berdiri.

• Kerusuhan terowongan Al-Aqsa

September 1996. Kerusuhan terowongan Al-Aqsa. Israel sengaja membuka


terowongan menuju Masjidil Aqsa untuk memikat para turis, yang justru membahayakan
fondasi masjid bersejarah itu. Pertempuran berlangsung beberapa hari dan menelan korban jiwa.

18 Januari 1997 Israel bersedia menarik pasukannya dari Hebron, Tepi


Barat.Perjanjian Wye River Oktober 1998 berisi penarikan Israel dan dilepaskannya tahanan
politik dan kesediaan Palestina untuk menerapkan butir-butir perjanjian Oslo, termasuk soal
penjualan senjata ilegal.19 Mei 1999, Pemimpin partai Buruh Ehud Barak terpilih sebagai
perdana menteri. Ia berjanji mempercepat proses perdamaian.

• 2000-sekarang: Intifada al-Aqsa

Maret 2000, Kunjungan pemimpin oposisi Israel Ariel Sharon ke Masjidil Aqsa
memicu kerusuhan. Masjidil Aqsa dianggap sebagai salah satu tempat suci umat Islam.
Intifadah gelombang kedua pun dimulai.

KTT Camp David 2000 antara Palestina dan Israel.Maret-April 2002 Israel
membangun Tembok Pertahanan di Tepi Barat dan diiringi rangkaian serangan bunuh diri
Palestina.Juli 2004 Mahkamah Internasional menetapkan pembangunan batas pertahanan
menyalahi hukum internasional dan Israel harus merobohkannya.9 Januari 2005 Mahmud Abbas,
dari Fatah, terpilih sebagai Presiden Otoritas Palestina. Ia menggantikan Yasser Arafat yang
wafat pada 11 November 2004Juni 2005 Mahmud Abbas dan Ariel Sharon bertemu di
Yerusalem. Abbas mengulur jadwal pemilu karena khawatir Hamas akan menang.Agustus 2005
14
Israel hengkang dari permukiman Gaza dan empat wilayah permukiman di Tepi Barat.Januari
2006 Hamas memenangkan kursi Dewan Legislatif, menyudahi dominasi Fatah selama 40
tahun.Januari-Juli 2008 Ketegangan meningkat di Gaza. Israel memutus suplai listrik dan gas.
Dunia menuding Hamas tak berhasil mengendalikan tindak kekerasan. PM Palestina Ismail
Haniyeh berkeras pihaknya tak akan tunduk. November 2008 Hamas batal ikut serta dalam
pertemuan unifikasi Palestina yang diadakan di Kairo, Mesir. Serangan roket kecil berjatuhan di
wilayah Israel.

• Serangan Israel ke Gaza dimulai 26 Desember 2008. Israel melancarkan Operasi


Oferet Yetsuka, yang dilanjutkan dengan serangan udara ke pusat-pusat operasi Hamas. Korban
dari warga sipil berjatuhan.Mei 2010 Israel mem-blokede seluruh jalur bantuan menuju
palestina30 Mei 2010 Tentara Israel Menembaki kapal bantuan Mavi Marmara yang membawa
ratusan Relawan dan belasan ton bantuan untuk palestina.

Secara singkat konflik ini dimulai setelah perang dunia kedua. ketika masyarakat
israel (yahudi) berpikir untuk memiliki negara sendiri. (menurut sejarah mereka keluar dari tanah
israel setelah perang salib karena dituduh pro-kristen oleh tentara islam, yang kemudian
ditinggali oleh orang-orang filistin atau palestine).
Pikiran berbentuk zionisme yang didorong oleh genosida oleh NAZI pada perang
dunia kedua. pilihan letak negara itu tentu saja adalah tanah leluhur mereka yang pada saat itu
merupakan tanah jajahan inggris. karena secara leluhur mereka memilikinya tapi juga secara
religius beberapa tempat keagamaan Yahudi ada disana.
Meskipun tidak secara terbuka, negara-negara barat setuju dan
mendukung(alasannya karena sebelum orang palestina tinggal disana, tanah itu adalah milik
israel). sebaliknya negara-negara arab berargumen bahwa adalah karena jerman yang melakukan
genosida maka tanah jermanlah yang harus disisihkan untuk dijadikan negara yahudi.
Dibalik semua intrik politik dan keuntungan dan kerugian politik, strategis , dll.
inggris secara sukarela mundur dari negara dan memberikan siapa saja untuk mengklaimnya.
berhubung isreal lebih siap maka mereka lebih dahulu memproklamirkan negara.
Sebaliknya orang-orang palestina yang telah tinggal dan besar disana tidak mau
terima mejadi bagian negara Yahudi (dalam literatur doktrin Islam pemimpin negara harus
seorang Muslim). Sehingga bangsa Israel kemudian melihat orang palestina sebagai ancaman
15
dalam negeri, begitu juga dengan bangsa palestina yang menganggap Israel sebagai penjajah
baru.
Hasilnya bisa ditebak, perang dan konflik yang telah berbelit-belit. yang sebenarnya
adalah urusan antara dua negara/bangsa menjadi konflik antara agama (Yahudi vs. Islam) belum
lagi stabilitas kawasan timur tengah dan ikut campur Amerika dengan kebijakan minyak mereka.
Jadi, sebenarnya masalah dasarnya tidak ada hubungannya dengan orang palestina
itu beragama Islam atau orang israel itu beragama Yahudi, tapi masalahnya adalah tanah dan
kekuasaan.

2.2 Penyebab Lambannya Penyelesaian Konflik.

Ada dua penyebab terkatung-katungnya penyelesaian konflik antara Palestina dan


Israel, yakni:

1. Perbedaan yang menonjol dan prinsip berupa pengakuan akan keberadaan kedua negara
dan bangsa tersebut di mata mereka sendiri khususnya, dan di mata negara-negara lain di
dunia termasuk Amerika Serikat yang sampai saat ini masih berpihak kepada pemerintah
Israel.

2. Kedudukan kota Jerusalem dengan mesjid Alaqsanya sebagai tempat ibadah dan
bersejarah bagi kedua bangsa yang secara umum berbeda agama tersebut.

2.3 Perkembangan Konflik Palestina- Israel

Pendudukan Israel di Palestina Awal dari Konflik Berkepanjangan setelah Kekaisaran


Turki runtuh, Palestina dikategorikan sebagai daerah mandat LBB dan kemudian diteruskan PBB
sebagai bagian dari trusteeship (perwalian). Inggris, sebagai pemegang mandat Palestina sejak
tahun 1922, tidak mampu mengendalikan bentrokan yang terjadi antara bangsa Arab Palestina
yang terdesak dengan imigran Yahudi yang semakin membanjir. Setelah mengalami proses yang
panjang akhirnya Majelis Umum PBB mengeluarkan Resolusi No. 181 (II) pada 29 November

16
1947 yang kemudian dikenal sebagai UN Partition Plan yang isinya menyetujui rencana
membagi Palestina menjadi tiga bagian;

1. Negara Arab, dengan wilayah Acre, Nazareth, Jenin, Nablus, Ramallah, Hebron, Jalur
Gaza dan kota pelabuhan Jaffa

2. Negara Yahudi, dengan wilayah Safad, Tiberias, Beisa, Haifa, Tulkarm, Ramleh,
Sahara Negeb dan Jaffa

3. Jerusalem dan Bethlehem sebagai wilayah di bawah pengawasan internasional


Keputusan PBB ini diterima Yahudi namun ditolak Arab Palestina yang menganggap pembagian
tersebut tidak adil dan melawan kehendak mayoritas penduduk asli Palestina. Proklamasi
kemerdekaan Israel tepat sehari setelah berakhirnya mandat Inggris di Palestina yaitu pada
tanggal 14 Mei 1948 yang kemudian diperingati oleh bangsa Palestina sebagai Hari Nakbah (hari
bencana), merupakan puncak tercapainya cita-cita Kongres Zionis pada tahun 1897. Beberapa
jam kemudian Presiden Truman mengakui secara de facto negara baru ini atas nama AS. Dengan
kemerdekaan itu, cita-cita orang Yahudi yang tersebar di berbagai belahan dunia untuk
mendirikan negara sendiri, telah tercapai. Mulai hari itu, milisi bersenjata Yahudi menggunakan
momentum hengkangnya pemerintah protektorat Inggris dari wilayah Palestina dengan
merampas sebanyak mungkin wilayah dan mengusir penduduk asli Palestina. Situasi kacau balau
di Palestina saat itu memicu meletusnya perang Arab-Israel pertama.

Dalam periode 1947-1948 yang mengakibatkan kelahiran Israel, terorisme marak di


Palestina, dilancarkan terutama oleh kaum Zionis melalui anggota-anggota dua kelompok
utamanya, Irgun dan Lehi atau Stenr Gang yang melakukan kerusakan dan pembunuhan bangsa
Palestina tanpa membedakan prajurit atau rakyat sipil. Perang yang dimulai sesaat setelah
proklamasi kemerdekaan Israel ini melibatkan negara-negara Arab di sekitar Palestina dengan
masuknya tentara Arab dari Suriah, Libanon, Transjordania, Irak dan Mesir. Apa yang dilakukan
Israel pada Perang 1948 adalah suatu bentuk ekspansionisme. Secara signifikan, Deklarasi
Kemerdekaan Israel tidak menyebutkan adanya perbatasan dan negara Yahudi tidak pernah
secara terbuka menyatakan batas-batasnya. Di bawah pengawasan PBB, Arab (dalam hal ini
Mesir, Libanon, Trasnjordania dan Suriah) dan Israel menyepakati serangkaian gencatan senjata
(Januari-Juli 1949) yang pada dasarnya mempertahankan kedudukan teritorial yang dihasilkan

17
melalui perang. Ini berarti bahwa tiga perempat wilayah Palestina jatuh ke tangan Israel. Perang
ini secara de facto memperluas teritorial Israel yang sekarang meliputi bagian utara, barat dan
selatan Palestina. Bangsa Palestina sendiri hanya tinggal memiliki bagian tengah dan timur,
berdampingan dengan trasnjordania, namun dengan koridor Yahudi yang lebar antara Tel Aviv
dan Jerusalem, dan Jalur Gaza sepanjang Mediterania. Perang Arab-Israel 1948 ini membawa
perubahan besar pada situasi politik di Timur Tengah yang berpengaruh pada perkembangan
konflik Palestina-Israel selanjutnya.perubahan itu adalah Israel memperoleh kemenangan yang
kemudian menjadikannya lebih berambisi untuk terus memperluas daerah teritorial. Hal ini
terbukti ketika meletusnya Perang Enam Hari pada tahun 1967 di mana Israel berupaya merebut
Dataran Tinggi Golan dari Siria, sungai Yordan dan Jerusamel Timur dari Yordania, Jalur Gaza
dan Semenanjung Sinai dari Mesir (namun pada tahun 1982 Sinai dikembalikan)

Sejak Persetujuan Oslo, Pemerintah Israel dan Otoritas Nasional Palestina secara resmi
telah bertekad untuk akhirnya tiba pada solusi dua negara. Masalah-masalah utama yang tidak
terpecahkan di antara kedua pemerintah ini adalah:

• Status dan masa depan Tepi Barat, Jalur Gaza, dan Yerusalem Timur yang mencakup
wilayah-wilayah dari Negara Palestina yang diusulkan.
• Keamanan Israel.
• Keamanan Palestina.
• Hakikat masa depan negara Palestina.
• Nasib para pengungsi Palestina.

Masalah pengungsi muncul sebagai akibat dari perang Arab-Israel 1948. Masalah Tepi
Barat, Jalur Gaza, dan Yerusalem Timur muncul sebagai akibat dari Perang Enam Hari pada
1967.

Selama ini telah terjadi konflik yang penuh kekerasan, dengan berbagai tingkat
intensitasnya dan konflik gagasan, tujuan, dan prinsip-prinsip yang berada di balik semuanya.
Pada kedua belah pihak, pada berbagai kesempatan, telah muncul kelompok-kelompok yang
berbeda pendapat dalam berbagai tingkatannya tentang penganjuran atau penggunaan taktik-
taktik kekerasan, anti kekerasan yang aktif, dll. Ada pula orang-orang yang bersimpati dengan

18
tujuan-tujuan dari pihak yang satu atau yang lainnya, walaupun itu tidak berarti mereka
merangkul taktik-taktik yang telah digunakan demi tujuan-tujuan itu. Lebih jauh, ada pula orang-
orang yang merangkul sekurang-kurangnya sebagian dari tujuan-tujuan dari kedua belah pihak.
Dan menyebutkan "kedua belah" pihak itu sendiri adalah suatu penyederhanaan: Al-Fatah dan
Hamas saling berbeda pendapat tentang tujuan-tujuan bagi bangsa Palestina. Hal yang sama
dapat digunakan tentang berbagai partai politik Israel, meskipun misalnya pembicaraannya
dibatasi pada partai-partai Yahudi Israel.

Sebuah usul perdamaian saat ini adalah Peta menuju perdamaian yang diajukan oleh
Empat Serangkai Uni Eropa, Rusia, PBB dan Amerika Serikat pada 17 September 2002. Israel
juga telah menerima peta itu namun dengan 14 "reservasi". Pada saat ini Israel sedang
menerapkan sebuah rencana pemisahan diri yang kontroversial yang diajukan oleh Perdana
Menteri Ariel Sharon. Menurut rencana yang diajukan kepada AS, Israel menyatakan bahwa ia
akan menyingkirkan seluruh "kehadiran sipil dan militer... yang permanen" di Jalur Gaza (yaitu
21 pemukiman Yahudi di sana, dan 4 pemumikan di Tepi Barat), namun akan "mengawasi dan
mengawal kantong-kantong eksternal di darat, akan mempertahankan kontrol eksklusif di
wilayah udara Gaza, dan akan terus melakukan kegiatan militer di wilayah laut dari Jalur Gaza."
Pemerintah Israel berpendapat bahwa "akibatnya, tidak akan ada dasar untuk mengklaim bahwa
Jalur Gaza adalah wilayah pendudukan," sementara yang lainnya berpendapat bahwa, apabila
pemisahan diri itu terjadi, akibat satu-satunya ialah bahwa Israel "akan diizinkan untuk
menyelesaikan tembok [artinya, Penghalang Tepi Barat Israel] dan mempertahankan situasi di
Tepi Barat seperti adanya sekarang ini"

Dengan rencana pemisahan diri sepihak, pemerintah Israel menyatakan bahwa


rencananya adalah mengizinkan bangsa Palestina untuk membangun sebuah tanah air dengan
campur tangan Israel yang minimal, sementara menarik Israel dari situasi yang diyakininya
terlalu mahal dan secara strategis tidak layak dipertahankan dalam jangka panjang. Banyak orang
Israel, termasuk sejumlah besar anggota partai Likud -- hingga beberapa minggu sebelum 2005
berakhir merupakan partai Sharon -- kuatir bahwa kurangnya kehadiran militer di Jalur Gaza
akan mengakibatkan meningkatnya kegiatan penembakan roket ke kota-kota Israel di sekitar
Gaza. Secara khusus muncul keprihatinan terhadap kelompok-kelompok militan Palestina seperti

19
Hamas, Jihad Islami atau Front Rakyat Pembebasan Palestina akan muncul dari kevakuman
kekuasaan apabila Israel memisahkan diri dari Gaza.

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Jadi,konflik antara Palestina dan Israel disebabkan oleh peranan
politik,ekonomi,dan saling mencurigai anrata negara satu dan negara lainnya.Mereka saling
mengadu kekuatan yang justru merugikan diri mereka sendiri.Persaiangan dan permusuhan ini
juga disebabkan oleh faktor internal dan faktor eksternal.Faktor internal disebabkan perbedaan

20
kepentingan dan perebutan pengaruh karena masalah kepemimpinan.Sedangkan faktor
eksternalnya,yaitu karna terlibatnya negara-negara adikuasa dalam memperluas pengaruhnya di
kawasan Timur Tengah.

3.2 Saran

Sebaiknya Palestina dan Israel jangan saling mengadu kekuatan yang justru
merugikan negara mereka sendiri.Persaiangan dan permusuhan antara Palestina dan Israel juga
menyebabkan faktor-faktor yang berpengaruh pada masalah perbedaan kepemimpinan dan
berpengaruh di kawasan Timur Tengah.

DAFTAR PUSTAKA

Tim Penyusun Master.2003.Sejarah Kelas 3 SMA.Surakarta:Cempaka Putih

http://translate.google.co.id/translate?hl=id&langpair=en|id&u=http://en.wikipedia.org/wiki/Israe
li%25E2%2580%2593Palestinian_conflict...

www.mail-archive.com/eskolnet-l@linux.../msg01259.html

21