Anda di halaman 1dari 22

GROUND PENETRATING RADAR

TUGAS GEOFISIKA

Oleh

Agustinus Dwi Jayanto


03053120032

UNIVERSITAS SRIWIJAYA

FAKULTAS TEKNIK

2009

METODE GROUND PENETRATING RADAR


Metode GPR dikembangkan sebagai salah satu alat bantu untuk meneliti
objek-objek bawah permukaan bumi yang relatif dangkal dan rinci bila
menggunakan frekuensi rendah, dan objek-objek pada kedalaman yang besar bila
menggunakan frekuensi tinggi. Metode ini memiliki beberapa keunggulan
dibandingkan metode-metode lain dalam hal keakuratannya, selain itu geophone
dapat dikontakkan langsung ke dalam tanah (ground-based. GPR dapat pula
digunakan untuk berbagai keperluan seperti penelitian aquiver air tanah, fosil
arkeologi, eksplorasi bahan-bahan mineral, pipa dan utilitas bawah permukaan
lainnya. Dengan semakin disadari pentingnya data-data tentang objek-objek
bawah permukaan untuk menunjangan pembangunan infrastruktur terutama
dikota-kota besar, maka metode GPR merupakan salah satu bentuk yang paling
tepat.

1. Prinsip dasar operasi ground penetrating radar

Walau tergolong baru dipopulerkan pada dekade 1980-an, namun


sebenarnya prinsip-prinsip dasar ground penetrating radar telah lama
dikenal, sejak diperkenalkannya radar untuk penelitian ilmiah pada dekade
1960-an dan menjelang perang dunia II. Prinsip penggunaan metode ini tidak
jauh berbeda dengan metode seismik pantul, suatu sistem radar terdiri dari
sebuah pembangkit sinyal, antena pengirim (transmitter) dan antena penerima
(receiver). Sinyal radar ditransmisikan sebagai pulsa-pulsa yang berfrekuensi
tinggi ≥ 500 MHz, umumnya antara 900 MHz sampai 1 GHz.

Gelombang yang dikirimkan bergerak dengan kecepatan tinggi dan


melewati media bawah permukaan. Gelombang tersebut dapat diserap oleh
media, dapat pula dipantulkan kembali. Gelombang akan diterima oleh
receiver dalam selang waktu tertentu dalam beberapa puluh hingga ribuan
nanosekon. Lama waktu tempuh tersebut tergantung pada keadaan media yang
dilewati oleh media tersebut.
Mode konfigurasi antena transmitter dan receiver pada GPR terdiri
dari mode monostatik dan bistatik. Mode monostatik yaitu bila transmitter dan
receiver digabung dalam satu antena, sedangkan mode bistatik adalah bila
kedua antenna tersebut memiliki jarak pemisah yang disebut offset.

Receiver diatur untuk dapat melakukan scan secara normal mencapai


32 hingga 512 scan perdetik. Setiap hasil scan akan ditampilkan dalam layer
monitor sebagai fungsi waktu two-way travel time, yaitu waktu yang
diperlukan oleh sinyal untuk menempuh jarak dari transmitter menuju target
dan dipantulkan kembali menuju receiver. Tampilan ini disebut radargram,
analog dengan seismogram pada penyelidikan menggunakan metode seismik.

GAMBAR 1

GAMBARAN SEDERHANA OPERASI GPR

Pada (Gambar 1) menunjukkan tentang peralatan yang umum digunakan


dalam penyelelidikan tentang bawah permukaan menggunakan GPR (A), potongan
melintang lintasan target yang dilalui sinyal (B), dan tampilan radargram yang
diperoleh dari penyelidikan (C).

2. Gelombang elektromagnet

Penggunaan gelombang elektromagnetik dalam ground penetrating radar


didasarkan atas persamaan maxwell yang merupakan perumusan matematis untuk
hukum-hukum alam yang melandasi semua fenomena elektromagnetik. Perumusan
tersebut dirumuskan dalam persamaan sebagai berikut :

∂D
∇xH = +J
∂t

∂B
∇xE = −
∂t

∇xB = 0

ρ
∇xE =
ε

Masing-masing parameter memiliki hubungan D= εE, B= μH, dan J= σE,


dimana :
E = Kuat medan listrik
H = Fluks medan magnet
B = Permeabilitas magnetik
J = Rapat arus listrik
ε = Dielektrik
σ = Konduktifitas
ρ = Tahanan jenis

Dari persamaan Maxwell di atas dapat diperoleh nilai kecepatan


gelombang EM pada berbagai medium, kecepatan ini tergantung kepada kecepatan
cahaya (c), konstanta relatif dielektrik(εr) dan permeabilitas magnetik(μr = 1 untuk
material non magnetik). Persamaan kecepatan gelombang EM dalam suatu
medium adalah :

c
1
Vm =  ε r µ r  2
 2  1 + P( 2
) + 1
  

dimana :
c = kecepatan cahaya dalam ruang hampa (3 x 108 m/s)
εr = konstanta dielektrik relatif
μr = permeabilitas magnetik relative
P = loss factor, dimana P = σ / ωε, σ adalah konduktifitas
ω = 2πf, f adalah frekuensi
ε = permitifitas dielektrik
f = frekuensi gelombang EM
εo= permitifitas ruang bebas (8,854 x 10-12 F/m)

Pada material dengan tingkat loss factor yang rendah sehingga P = 0, maka
kecepatan gelombang dapat diketahui memalui rumus :

c 0,3
Vm = =
εr εr

loss factor menunjukkan sejumlah energi yang hilang penjalaran (propagasi)


muatan atau sinyal karena terjadi penyerpan oleh medium yang dilewati. Energi
tersebut sebenarnya tidak lenyap tetapi bertransformasi menjadi suatu bantuk yang
berbeda, misalnya dari energi EM menjadi energi termal (panas) sama halnya
seperti yang berlaku pada alat masak oven microwave. Tetapi terkadang energi
tersebut tidak berubah bentuk melainkan mengalami multiphating. Penyebaran
geometrik dan penghamburan (scattering) yang berlebihan, sehingga tidak dapat
lagi diobservasi oleh antena.

3. Koefesien refleksi
Koefesien refleksi (R) didefinisikan sebagai perbandingan energi yang
dipantulkan dan energi yang datang , persamaan untuk koefesien refleksi adalah
sebagai berikut :
R = (V1 – V2)/(V1 + V2)

Atau

R= ( )
ε r − ε 2 /( ε + ε r )

Dimana V1 dan V2 secara berturut-turut adalah kecepatan gelombang pada lapisan


1 dan 2, sedangkan ε1 dan ε2 adalah konstanta dielektrik relatif (εr) lapisan 2. ε
didefinisikan sebagai kapasitas dari suatu material dalam melewatkan muatan saat
medan elektromagnetik melaluinya, memiliki hubungan erat dengan porositas
material tersebut, dan diformulasikan sebagai berikut :

ε = (1 − φ )ε m + φε w

dimana :
φ = porositas
εm = konstanta relatif dielektrik untuk matrilks batuan
εw = konstanta relatif dielektrik untuk fluida

Nilai konstanta dielektrik relatif dan kecepatan gelombang


elektromagnetik (radio) pada berbagai macam material dapat dilihat pada dilihat
pada (Tabel 1) :

TABEL 1
KONSTANTA DIELEKTRIK RELATIF DAN KECEPATAN
GELOMBANG RADIO PADA MATERIAL ALAMI
DAN MATERIAL BUATAN MANUSIA

Material εr V (mm/ns)

Udara 1 300

Air tawar 81 33

Air asin 81 33

Salju kutub 1,4 - 3 192 – 252

Es kutub 3 – 3,15 168

Es murni 3,2 167

Pasir pantai (kering) 10 95

Pasir (kering) 3-6 120 – 170

Pasr basah 25 -30 55 – 60

Silt (basah) 10 95

Lempung (basah) 8 - 15 86 -115

Lempung (kering) 3 173

Tanah rata-rata 16 75

Granit 5-8 106 – 120

Batu kapur 7–9 100 – 113

Dolomit 6,8 - 8 106 -115

Batubara 4-5 134 – 150

Kwarsa 4,3 145

Beton 6 - 30 55 – 112

4. Skin depth
Skin depth adalah suatu besaran yang menyatakan kedalaman pada suatu
medium homogen dimana amplitudo gelombang elektromagnetik pada
kedalaman itu telah berkurang menjadi 1/e (mencapai 37 %) dari amplitudo
awalnya di permukaan bumi. Skin depth dirumuskan pada persamaan berikut :
εr
δ = 5,31
σ
Dimana :
δ = Skin Depth (m)
εr = konstanta dielektrik relatif
σ = konduktifitas tanah/meterial

Kedalaman penetrasi dibatasi oleh konduktifitas tanah yang rendah (atau


resisitivitas yang tinggi). Sebagai contoh, sinyal teratenuasi (penyusutan kuat
sinyal) oleh lempung yang rendah konduktivitasnya hingga kedalaman penetrasi
dapat hanya mencapai 0,2 meter. Tetapi pada garam, es, atau granit kering,
penetrasi dapat mencapai lebih dari 300 meter, hal ini dipengaruhi oleh nilai
konstanta dielektrik relatif air yang tinggi (εr=81) hingga kelembaban tanah dan
batuan dapat mempengaruhi respon radar. Lempung yang mengandung lapisan
konduktif yang rendah dan tinggi secara berselang-seling akan mempengaruhi
kedalaman penetrasi, sehingga dapat dimengerti kenapa interpretasi radar
sebelum dan sesudah hujan akan menghasilalkan nilai yang berbeda.
Untuk keperluan interpretasi, selain kedalaman diperlukan juga data
kecepatan perambatan gelombang elektromagnetik untuk setiap lapisan, geometri
perambatan sinyal ground penetrating radar tidak jauh berbeda dengan seismik
pantul yang dapat dilihat pada (Gambar 2) :
GAMBAR 2

PERAMBATAN GELOMBANG DARI TRANSMITTER MENUJU RECEIVER

Waktu yang ditempuh oleh gelombang untuk menjalar sepanjang lintasan SOR
atau dari antena pemancar ke penerimaan adalah berjarak 2r, maka:
2r
t=
Vt

Waktu tersebut adalah waktu tempuh dua arah gelomabang (two-way traval time),
dan r adalah :
2
x 2
r =   + h1
2
 

Dan x atau offset adalah jarak pemancar ke penerima, sehingga waktu tempuh
yang diperlukan menjadi :
2
x 2 + 4h1
t= 2
V1
Sedang untuk menghitung t(x) yaitu t terpisah yang terekam pada jarak x dalam
jeda tertentu (∆t) yang disebut normal move out, dapat diketahui dengan rumus :
x2
t 2 ( x ) = t 2 ( 0) +
v 2 rms
Dimana :
x = jarak antena
h = kedalam reflektor
v = kecepatan perambatan gelombang
t(0) = two- way traval time (TWT)
t(x) = TWT yang terekam pada jarak x
vrms = kecepatan rata-rata

Sinyal-sinyal yang dipantulkan oleh ketidak kontinuan secara horizontal


akan terekam kemudian setelah traval time tertentu, ke dalam reflektor akan
diperoleh jika kecepatan perambatan diketahui.
Pengukuran radar merupakan metode yang tepat untuk mendeteksi benda
kecil yang dekat dengan permukaan bumi (0,1 hingga 3 meter) pada tanah yang
kering dan hampir homogen dengan resistivitas elektrik yang besar mengingat
resolusinya yang tinggi, namun pada daerah dengan kadar kegaraman kecil, dapat
mencapai kedalaman 25-30 meter. Untuk penetrasi yang lebih dalam, frekuensi
transmisi harus rendah (< 200 Mhz), namun akan mengurangi resolusinya,
pemilihan frekuensi dipertimbangkan tergantung kepada kemungkinan kedalaman
penetrasi dan resolusi yang diinginkan, tentunya dengan ikut mempertimbangkan
sifat listrik dari daerah penyelidikan dan target penyelidikan.
5. Peralatan
Secara garis besar, peralatan yang digunakan dalam penyelidikan
geofisika menggunakan metode ground penetrating radar kurang lebih sama saja
dengan metode-metode penyelidikan lainnya yaitu :
1. perangkat komputer
2. control unit
3. graphic recorder
4. transmiterr
5. receiver

Susunan peralatan penyelidikan GPR dapat dilihat pada (Gambar 3) :

GAMBAR 3
SUSUNAN ALAT PENYELIDIKAN GPR
6. Akuisisi data ground penetrating radar
Setelah memutuskan tentang kedalaman yang akan diobservasi serta
pemilihan frekuensi berikutnya maka proses sesudahnya adalah mulai
mendeteksi kondisi bawah permukaan, dimana dalam operasi ini mula-mula
operator memindahkan kedua antena sesuai model awal yang dikehendaki.
Sinyal atau gelombang yang dipancarkan akan segera dipantulkan
kembali setelah menempuh two-way traval time tertentu, hasilnya akan terekam
pada alat grafik recorder yaitu radargram yang berbentuk penampang yang
menerus, konfigurasi inilah yang merupakan cerminan perbedaan litologi dari
reflektor di bawah permukaan.
Terdapat tiga model untuk memperoleh data penyelidikan GPR yakni :
reflection profiling (antena monostatik maupun bistatik), wide angel reflection
and refraction (WARR), common-midpoint (CMP) sounding yang merupakan
pengembangan dari WARR, dan transilluminasi atau disebut juga radar
tomografi
1. Radar reflection profiling
Cara ini dilakukan dengan membawa antena bergerak secara simultan di
atas permukaan tanah dimana nantinya hasil tampilan pada radargram
akan merupakan kumpulan dari tiap-tiap pengamtan. Cara ini serupa
dengan cara countinous seismik reflektion profiling pada metode seismik.
Kedalaman target atau reflektor dapat diketahui jika cepat rambat
gelomabang diketahui.
2. Wide angel reflection and refraction (WARR) atau common-midpoint
(CMP)
Cara WARR sounding ini dilakukan dengan meletakkan sumber pemancar
atau transmitter pada suatu posisi yang tetap, sedangkan receiver
dipindah-pindah sepanjang lintasan penyelidikan (Gambar 4). Cara ini
umumnya digunakan untuk reflektor yang realatif datar atau memiliki
kemiringan yang rendah. Tetapi asumsi bahwa reflektor cendrung datar
adalah tidak selalu benar, maka untuk mengatasi kelemahan ini digunakan
cara CMP, yang hanya sedikit berbeda dengan cara WARR, pada CMP
sounding, kedua antena bergerak menjauhi satu sama lainnya dengan titik
tengah pada titik yang tetap, kedua cara ini merupakan cara yang paling
umum digunakan.
GAMBAR 4
WIDE ANGEL REFLECTION AND REFRACTION

GAMBAR 5
COMMON-MIDPOINT
3. Transillumination
Cara ini dilakukan dengan menempatkan transmitter dan receiver pada
posisi yang berlawanan. Sebagai contoh jika transmitter diletakkan pada
lubang bor maka receiver diletakkan pada lubang bor lainnya
(Gambar 6). cara ini umumnya digunakan pada kasus non-destructive
testing (NDT) dengan menggunakan frekuensi antena yang tinggi, sekitar
900 Mhz.
GAMBAR 6
TRANSILLUMINATION
7. Pemprosesan data
Data-data yang diperoleh pada penyelidikan harus diproses terlebih
dahulu sebelum diinterpretasikan. Karena target dan material yang ada di bawah
permukaan bumi umumnya memiliki karakter yang tidak sama (heterogen) maka
sinyal yang dipancarkan dan yang kembali akan mengalami berbagai perubahan
sepanjang lintasannya menempuh perjalan, sinyal dapat berkurang (atenuasi)
karena berbagai sebab. Pemrosesan data dapat dibagi kedalam dua fase
pemrosesan yaitu :
1. Selama fase akuisisi
Sinyal yang diterima terlebih dahulu mengalami filtrasi untuk memilah-milah
data yang diperoleh menggunakan filter yang diset sedemikian rupa dengan
broadband seluas mungkin agar data-data yang potensial dapat terjaring
secara keseluruhan sehingga tidak memerlukan penyelidikan ulang yang
cenderung merugikan.
2. Setelah fase akuisisi
Untuk mendapatkan data yang lebih detail dan terfokus maka filtrasi turut
dilakukan pada pemrosesan data pasca fase akuisisi, pada tahap ini hanya data
digital yang dapat diproses, keberhasilan pemrosesan data seringkali
tergantung beberapa factor seperti biaya dan waktu yang tersedia, kualitas
data, dan kemampuan peralatan pemrosesan (hardware dan softwarenya).
8. Teknik Interpretasi
Pekerjaan akhir dalam penyelidikan geofisika adalah menerjemahkan data-data
sinyal yang telah diperoleh dari akuisisi untuk kemudian diplot kedalam
suatubentuk konfigurasi agar dapat dibaca dan diambil kesimpulan, pekerjaan ini
adalah interpretasi. Beberapa hal yang lazim diperhatikan dalam
penginterpretasian adalah :
1. Interpretasi grafik
Kecepatan gelombang dapat diketahui dengan berasumsi pada suatu konstanta
dielektrik relative yang mendekati atau sesuai dengan nilai material yang
diselidiki, dengan cara demikian two-way travel time (TWT) dapat
diterjemahkan menjadi kedalaman, dan jika ditambahkan dengan
pengidentifikasian sinyal pantulan dari target (refleksi), maka peta TWT
dapat dihasilkan guna menunjukkan kedalaman, ketebalan, perlapisan, dll.
Dari sini dapat diketahui nilai sebenarnya dari kecepatan gelombang.
2. Analisa kuantitatif
Dengan menggunakan beberapa analisa, kedalaman interpretasi sinyal juga
kedalaman target atau reflektor dapat dideterminasi tergantung kepada cukup
tidaknya nilai yang diketahui dari analisa kecepatan juga variasi konstanta
dielektrik relatif material yang dilewati, juga kepada analisa amplitude dan
koefisian refleksi.
3. Kegagalan interpretasi
Dua hal yang paling sering ditemui dan dianggap sebagai kelemahan dalam
interpretasi radar adalah tidak mampu mengindentifikasi permukaan tanah
dan misi identifikasi strata hitam-putih pada radargram. Hal ini dapat
disebabkan oleh perlakuan yang dialami oleh sinyal selama menempuh
perjalanan melewati medium.
9. Aplikasi Ground Penetrating Radar
Metode ground penetrating radar memiliki jangkauan aplikasi yang luas,
bahkan sangat luas, mengingat pemanfaatan gelombang elektromagnetik dalam
kehidupan manusia secara global, beberapa keuntungan menggunakan metode ini
dibandingkan metode lain diantaranya adalah :
1. Tidak memerlukan kontak langsung dengan tanah, artinya selain dengan
meletakkan dipermukaan tanah, survey dapat juga dilakukan dari udara atau
diatas permukaan air karena gelombang EM dapat merambat baik pada ruang
bebas maupun ruang hampa/vakum.
2. resolusinya tinggi, sehingga mampu mengidentifikasi material dengan
perbedaan konstanta dielektrik relative yang rendah.
3. murah dan mudah operasionalnya dan tergolong metode non-destruktif
4. survey lebih cepat, sinyal EM yang dipancarkan transmitter diterima ke receiver
hanya dalam waktu nanosekon (10-9 detik).

a. Aplikasi GPR untuk penelitian bawah permukaan


Gound penetrating radar dapat diaplikasikan pada banyak bidang, diantaranya
adalah penelitian dibidang geologi, lingkungan, glasiologi, arkeologi, bahkan
GPR digunakan dalam kegiatan forensik untuk menemukan jenazah korban
pembunuhan yang ditanam dalam lapisan beton. Aplikasi GPR selengkapnya
dapat dilihat pada (Tabel 2) :
TABEL 2

CAKUPAN METODE APLIKASI METODE


GROUND PENETRATING RADAR

Bidang Aplikasi
Deteksi rongga-ronga dan celah-celah bawah tanah
Pemetan ambrukan (subsidence)
Pemetaan geometri sand body
Pemetaan cadangan dangkal
Geologi Pemetaan stratigrafi lahan
Eksplorasi mineral
Investigasi ketebalan gambut
Pemetaan struktur geologi
Penyelidikan air tanah
Lingkungan Penyelidikan lokasi kebocoran gas
Pemetaan lokasi pencemaran/kontaminasi
Pemetaan ketebalan es
Glasiologi Study pergerakan es kutub
Pemetaan stratigrafi salju
Analisa pngerasan jalan
Konstruksi Penyelidikan titik penguatan pada beton
Pengujian kelayakan bangunan
Arkeologi Penyelidikan lokasi struktur bangunan terpendam
Penyelidikan fosil dan kuburan kuno
Forensik Penyelidikan lokasi jenazah atau bukti terpendam

Keakuratan yang tinggi menjadikan metode ini metode yang banyak


digunakan dalam penyelidikan-penyelidikan di atas. Resolusi dan daya tembus
gelombang radio/radar yang digunakan dalam GPR dapat dilihat dalam
(Tabel 3) :
TABEL 3

RESOLUSI DAN DAYA TEMBUS GELOMBANG RADAR


Frekuensi antenna Ukuran target minimum Perkiraan range Penetrasi kedalaman
(MHz) yang terdeteksi kedalaman maksimum (m)
25 ≥1 5 - 30 35 – 60
50 ≥ 0,5 5 - 20 20 - 30
100 0,1 - 1 2 - 15 15 – 25
200 0,05 - 0,50 1 - 10 5 – 15
400 ≈ 0,05 1-5 3 – 10
1000 cm 0,05 - 2 0,5 - 4

Adapun penggunaan graund penetrating radar untuk penelitian dibidang


geologi dilakukan pada beberapa kegiatan seperti penyelidikan sekuen sediment
kerena resolusi spasial yang tinggi baik sat digunakan dipermukaan tanah maupun
pada perairan. Pada beberapa penyelidikan, seringkali dikombinasikan dengan
metode seismik untuk mendapatkan hasil yang lebih tepat.
Pada (Gambar 7) dapat dilihat penyelidikan lapisan sedimen di bawah dasar
sebuah danau yang permukaannya telah tertetutupi oleh lapisan es yang tebal.
Peralatan diletakkan diatas permukaan danau yang rata tertutupi es pada lintasan
area penyelidikan (profil) sepanjang 25 meter dengan frekuensi sebesar 100 MHz.
keuntungan menggunakan frekuensi rendah (<500 MHz) adalah menghasilkan
resolusi yang tinggi, memungkinkan setiap horizon perlapisan dapat diobservasi.
Cepat rambat gelombang EM melewati air 0,3 m/ns, tetapi saat melewati
lapisan es kecepatannya adalah 0,167 m/ns, sehingga akibatnya jalaran
gelombang yang pertama kali kembali setelah dipancarkan akan sering kali salah
interpretasi. Pada kasus di bawah ini diperkirakan ketebalan lapisan es 6 meter
padahal ketebalan aslinya hanyalah 0,15 meter, efek seperti ini disebut ground
coupling. Kedalaman air didapat sebesar 4.8 m dan total two-way travel timenya
300 ns, sehingga diketahui gelombang merambatdengan kecepatan 0,032 m/ns.
GAMBAR 7

INTERPRETASI RADARGRAM PADA SUATU DANAU


YANG TERTUTUPI LAPISAN ES

b. Penggunaan radar pada penyelidikan lubang bor


Sistem penyelidikan penyelidikan goeradar khusus untuk penyelidikan
pada lubang bor dan dipakai secara umum dalam dunia pertambangan untuk
penyelidikan air dan teknik mekanika batuan disebut RAMAC, yang baru
dikembangkan dalam dua dekade terakhir. Sistem yang dikembangkan oleh
perusahaan Mala Geoscience AB dari swedia ini juga digunakan untuk
penyelidikan pada terowongan, bendungan dan proyek-proyek konstruksi
lainnya.
Penyelidikan georadar sistem RAMAC pada lubang bor dapat
mengidentifkasi struktur batuan hingga jarak 150 meter kesamping lubang
bor, pada batuan garam dapat mencapai 300 meter. Secara sederhana sistem
RAMAC dapat dilihat pada (Gambar 8), dimana transmitter memancarkan
sinyal dengan frekuensi yang rendah (43 kHz), sedangkan receiver
diletakkan tidak jauh di bawah transmitter pada lubang bor yang sama,
umumnya berjarak sekitar dua hingga enam meter pada batuan sedimen dan
lima sampai 15 meter pada batuan-batuan kristalin, sedangkan interval
antara stasiun pengukuran berjarak sekitar satu meter.

GAMBAR 8

SUSUNAN TRANSMITTER DAN RECEIVER PADA LUBANG BOR

Selain pada lubang bor yang sama, penyelidikan RAMAC juga dapat
dilakukan dengan konfigurasi antena yang berbeda, yaitu antena diletakkan
antara lubang bor (A), transmitter diletakkan di terowongan sedangkan
receiver di letakkan dalam lubang bor (B), dan profiling vertikal dimana
transmitter diletakkan dipermukaan semantara receiver diletakkan pada
lubang bor atau dikenal juga sebagai transillumination (C).
c. Penggunaan GPR sebagai detektor logam
Penggunaan GPR untuk meneliti objek-objek yang terbuat dari logam
atau bahan yang mengandung logam (metalik) menggunakan frekuensi
antenna sebesar 1000 MHz atau 1 GHz. Frekuensi ini tergolong tinggi
sehingga memberikan resolusi yang tinggi pula, tetapi kedalaman
penetrasinya terbatas. Untuk frekuensi observasi 1 GHz, objek metallic yang
mampu diidentifikasi dengan baik berkedalaman hanya 20 cm hingga 40 cm
dengan ketebalan dalam beberapa cm saja.
Berdasarkan konduktifitasya, pada logam yang semakin konduktif,
kecepatan rambat radar akan semakin kecil, sehinga terdapat kontras yang
terjadi antara medium dan bahan. Kontras ini yang mengakibatkan
perbedaan radargram yang dihasilkan oleh masing-masing logam. Pada
(Gambar 9) dapat dilihat profil aluminium dengan konduktifitas lebih besar
(kecepatan radar lebih kecil) dari pada logam besi, sehingga memberikan
pantulan yang lebih panjang.

GAMBAR 9
PROFIL ALUMINUM DAN BESI
Sedangkan profil tembaga pada kedalaman 20 cm dan kemiringan 45º yang
menunjukkan efek kemiringan dapat dilihat pada (Gambar 10).
GAMBAR 10
PROFIL PLAT TEMBAGA