Anda di halaman 1dari 6

Kolom Penukar Ion

Kesadahan air
Kesadahan air adalah kandungan ion-ion logam (seperti Ca2+ dan Mg2+) di
dalam air. Kesadahan air dapat dibagi menjadi dua jenis yaitu kesadahan tetap dan
kesadahan sementara.
Kesadahan tetap adlah air yang memiliki kandungan ion-ion seperti Cl-, NO3-,
dan SO42-. Contoh kesadahan tetap seperti : CaCl2, MgCl2, Ca(NO3)2, Mg(NO3)2,
CaSO4, dan MgSO4. Kesadahan tetap tidak dapat dihilangkan dengan cara
memanaskan air yang mengandung kesadahan jenis ini. Kesadahan tetap dapat
dihilangkan dengan menggunakan resin.
Kesadahan sementara adalah air yang memiliki kandungan ion-ion bikarbonat
((HCO3)2). Contoh kesadahan sementara seperti : Ca(HCO3)2 dan Mg(HCO3)2.
Kesadahan sementara dapat dihilangkan dengan cara memanaskan air yang
mengandung kesadahan jenis ini.
Referensi : http://id.wikipedia.org/wiki/Kesadahan_air

Prinsip resin penukar ion


Prinsip resin penukar ion adalah mempertukarkan ion-ion logam (seperti Ca2+
dan Mg2+) yang terdapat di dalam fasa cair dengan kation di dalam fasa padat melalui
proses adsorpsi.
Mekanisme pertukaran ion yang terjadi adalah, pertama-tama ion-ion logam
(seperti Ca2+ dan Mg2+) masuk ke lapisan film resin, lalu ion-ion logam tersebut akan
berdifusi masuk ke dalam pori-pori resin. Di dalam resin, terjadi pertukaran ion antara
ion-ion logam tersebut dengan kation yang terdapat di dalam resin. Resin akan
mengikat ion-ion logam tersebut dan kation pada resin akan lepas dan berdifusi keluar
dari resin tersebut.
Referensi : http://blog.its.ac.id/masduqi/files/2010/02/pengolahan-fisik-kimia.pdf

Struktur resin penukar ion


Resin penukar ion memiliki struktur molekul yang terdiri dari gugus
fungsional dan matriks resin yang sukar larut dalam air. Resin dapat dibagi menjadi
beberapa jenis menurut gugus fungsionalnya yaitu resin penukar kation asam kuat,
resin penukar kation asam lemah, resin penukar anion basa kuat, dan resin penukar
anion basa lemah. Masing-masing resin ini memiliki gugus fungsional yang berbeda,
demikian pula dengan matriks resinnya.
Matriks resin yang umumnya dipakai adalah styrene yang dihubungsilangkan
(cross linking) dengan divinylbenzene. Hal ini menyebabkan kelarutan resin menjadi
semakin kecil sehingga resin tidak dapat larut dalam air.

Cross linking antara styrene dan divinylbenzene

Resin penukar kation asam kuat memiliki struktur molekul yang terdiri dari
matriks resin styrene divinylbenzene dengan gugus fungsional berupa gugus sulfonic
atau –SO3H. Gugus sulfonic dihasilkan dengan asam sulfat pekat pada temperatur
tinggi yang disebut reaksi sulfonasi. Gugus sulfonic pada proses ini merupakan gugus
sulfonic H. Untuk mendapatkan gugus Na yang digunakan untuk pelunakan air sadah,
perlu ditambahkan reaksi dengan natrium karbonat sehingga terbentuk gugus sulfonic
Na.

Sulfonasi styrene divinylbenzene


Resin penukar kation asam lemah memiliki matriks resin yang berbeda.
Struktur molekul resin penukar kation asam lemah terdiri dari matriks resin acrylic
seperti acrylonitrile atau methyl acrylate dengan gugus fungsional berupa gugus
karbosiklik atau –COOH. Polimer acrylonitrile dihidrolisis dengan asam sulfat dan
polimer acrylate dihidrolisis dengan soda kaustik untuk membentuk gugus
karbosiklik.

Polimerisasi acrylonitrile

Polimerisasi methyl acrylate

Hidrolisis acrylate membentuk gugus fungsional karbosiklik

Resin penukar anion basa kuat memiliki struktur molekul yang terdiri dari
matriks resin styrene divinylbenzene dengan gugus fungsional berupa ammonium
kuartener. Gugus ini dibuat melalui beberapa langkah, langkah pertama yaitu
klorometilasi, setelah itu melalui proses aminasi untuk membentuk gugus fungsional
ammonium kuartener.
Klorometilasi styrene divinylbenzene

Aminasi gugus fungsional

Resin penukar anion basa lemah memiliki struktur molekul yang terdiri dari
matriks resin styrene divinylbenzene dengan gugus fungsional berupa amina. Proses
pembuatannya sama seperti resin penukar anion basa kuat, namun yang dipakai bukan
ammonium kuartener tetapi gugus amina.

Gugus fungsional amina


Referensi : http://dardel.info/IX/resin_structure.html#other

Percobaan kolom penukar ion


Percobaan kolom penukar ion dilakukan dengan metode fixed bed. Metode
fixed bed ini terdiri dari 5 langkah utama yaitu start up, service, backwash, regenerasi,
dan rinsing.
Tahap start up memiliki tujuan utama yaitu untuk mengatur laju alir air dan
mengatur tinggi resin. Laju alir yang diberikan biasanya dalam satuan bed volume
(BV) yang melibatkan volume resin dalam perhitungannya. Satuan bed volume
digunakan karena laju alir akan dipengaruhi oleh volume resin. Laju alir diatur
selambat mungkin sehingga waktu kontak antara air sadah dengan resin lebih
sempurna. Tinggi resin juga diatur setinggi mungkin untuk tujuan yang sama.
Tahap service merupakan tahap dimana terjadinya pertukaran ion-ion logam
(seperti Ca2+ dan Mg2+) yang terdapat di air sadah dengan kation yang terdapat di
dalam resin. Pada tahap ini kita akan menghitung kadar Ca 2+ yang tidak teradsorpsi
oleh resin dengan titrasi menggunakan EDTA. Sebelum dititrasi, sampel diberi NH 4Cl
dan EBT. Penambahan NH4Cl berperan sebagai buffer untuk menjaga agar pH larutan
tidak berubah terlalu banyak. Penambahan EBT bertujuan untuk membentuk
kompleks dengan ion logam sehingga dapat terlihat perubahan warnanya. Pada tahap
service ini juga dibuat kurva breakthrough yang menunjukkan konsentrasi Ca2+ yang
tidak teradsorp dibandingkan dengan konsentrasi Ca2+ awal pada sumbu y dan volume
air yang ditampung pada sumbu x. Kurva breakthrough menunjukkan bahwa pada
suatu titik yang disebut break point, perbandingan Ce/Co akan naik drastis hingga
mendekati 1. Hal ini menunjukkan resin telah mulai kehilangan kemampuannya untuk
menukarkan ion dan pada nilai Ce/Co 1 berarti resin sudah tidak mampu
mempertukarkan ion.
Tahap backwash memiliki tujuan untuk menghilangkan kotoran/gas yang
terperangkap di dalam resin, memisahkan resin-resin yang menggumpal dan mengatur
resin-resin dalam kolom agar terdistribusi dengan aliran seragam. Setelah dilakukan
fluidisasi pada tahap ini, resin akan terekspansi dan bertambah tingginya
dibandingkan sebelum dilakukan tahap backwash. Fenomena yang dapat terjadi pada
tahap backwash adalah bubbling, slugging dan channeling.
Tahap regenerasi memiliki tujuan untuk mengganti ion yang telah
dipertukarkan selama proses service dan mengembalikan resin pada kapasitas awal.
Tahap regenerasi hampir sama dengan tahap service, hanya saja air sadah diganti
dengan NaCl untuk meregenerasi resin. Ion-ion Na dalam larutan akan masuk dan
berdifusi ke dalam resin yang mengandung ion-ion Ca karena sudah jenuh dan terjadi
pertukaran ion. Resin akan mengikat ion Na dan ion Ca akan terdifusi keluar dari
resin. Kurva regenerasi resin akan berbanding terbalik dengan kurva service yaitu
pertama-tama Ce/Co kurva regenerasi resin akan mendekati 1 lalu pada titik tertentu
akan turun drastis mendekati 0 yang berarti tidak ada ion yang dipertukarkan lagi.
Tahap rinsing dapat dibedakan menjadi dua jenis yaitu pembilasan cepat dan
pembilasan lambat. Pembilasan cepat bertujuan untuk mencuci sisa-sisa ion pada
resin. Pembilasan lambat bertujuan untuk mendesak sisa regeneran keluar dari unggun
resin dan membuang sisa-sisa pembilasan yang bergabung dengan garam dari
regeneran. Tahap rinsing dapat dilakukan dengan pengukuran konduktivitas atau
pengukuran pH.
Referensi : http://blog.its.ac.id/masduqi/files/2010/02/pengolahan-fisik-kimia.pdf