Anda di halaman 1dari 31

BAB I

PENDAHULUAN

1. Latar Belakang Masalah

Setiap perusahaan yang terbentuk atau didirikan tentunya bertujuan untuk

mencari laba yang besar dengan modal yang sekecil-kecilnya, laba yang diperoleh

tersebut digunakan untuk membiayai kegiatan perusahaan dimasa kini dan masa

yang akan datang. Tiap perusahaan dalam meningkatkan aktivitasnya haruslah

didukung dengan tersedianya asset yang cukup dimiliki oleh perusahaan atau

dengan kata lain perusahaan tidak terlepas dari kebutuhan akan kecukupan aktiva

(asser) yang berupa sumber dari kelancaran usahanya seperti kas, persediaan

barang dagangan, aktiva tetap dan lain-lain. Akan tetapi kondisi kas suatu

perusahaan tidak selamanya sama atau berubah-ubah. Oleh karena itulah,

diperlukan analisa untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam mengelolah

kasnya. Analisa sumber dan penggunaan kas merupakan suatu analisa laporan

yang disusun untuk menunjukan perubahan kas selama satu periode dan

memberikan alasan-alasan mengenai perubahan kas tersebut dengan menunjukan

dari mana sumber-sumber kas diperoleh beserta penggunaanya

Kas memiliki tingkat likuiditas yang paling tinggi. kas diperlukan

perusahaan untuk membiayai setiap kegiatan operasi perusahaan sehari-hari

terutama transaksi tunai. Oleh karena itu kas harus direncanakan dan diawasi

dengan baik.Semakin besar jumlah kas yang dimiliki perusahaan semakin tinggi

1
pula tingkat likuiditasnya. Tetapi suatu perusahaan yang mempunyai tingkat

likuiditas tinggi karena adanya kas dalam jumlah yang besar bearti tingkat

perputaran kas tersebut rendah dan mencerminkan bahwa perusahaan tersebut

kurang baik dalam mengelolah kas. Hal ini dikarenakan uang kas tersebut tidak

dapat menghasilkan keuntungan dan hanya mengendap dalam perusahaan serta

tidak digunakan untuk kegiatan yang nenguntungkan ataupun digunakan untuk

investasi-investasi lainnya. Sebaliknya kas dalam jumlah yang terlalu kecil akan

mengakibatkan perputaran kas tinggi dan keuntungan yang diperoleh lebih besar

tetapi perusahaan yang hanya mengejar keuntungan tanpa memperhatikan

likuiditas akhirnya akan berada dalam keadaan tidak likuid. Dengan demikian

besar kecilnya kas yang tersedia pada perusahaan tergantung kepada cara

pengeloloaan atau pengalokasian kas.

Untuk itu diperlukan analisis terhadap sumber dan penggunaan kas agar

dapat diketahui berasal dari mana pebnerimaan (sumber-sumber) kas maupun

penggunaan kas sehingga tercipta jumlah kas yang efektif dan efisien. Dengan

melihat perkembangan sumber dan penggunaan uang kas ini, maka diharapkan

dapat disusun suatu perencanan dan pengawasan terhadap arus kas masuk dan

arus kas keluar sehingga dapat dimanfaatkan secara maksimal.

CV. Putra Pundarika Batam adalah perusahaan yang bergerak dibidang

perdagangan umum baik impor dan ekspor antar pulau. Sebagaimana umumnya

perusahaan ini juga membuat analisa keuangan dalam hal ini neraca, laporan laba

rugi dan laporan perubahan modal dan laporan lainya yang berhubungan dengan

aktivitas keuangan perusahaan yang berguna sebagai sarana informasi bagi

2
perusahaan untuk mengetahui kondisi keuangan perusahaan sebagai bahan

pertimbangan dalam mengambil keputusan bagi perusahaan sehingga tujuan

perusahaan dapat tercapai sesuai dengan yang diharapkan. Perusahaan ini

tentunya memerlukan kas yang cukup untuk membiayai usahhanya sehari-hari.

Peranan kas diperusahaan ini sangat penting karena kas akan digunakan untuk

menjamin kelancaran operasional serta menunjung likuiditas perusahan sehingga

dibutuhkan suatu pengelolahan yang baik terhadap kas untuk menghasilkan kas

yang cukup.

Berdasarkan uraian diatas maka penulis tertarik untuk menganalisia

sumber dan penggunaan kas dengan menggunakan ratio keuangan berupa ratio

likuiditas dan profitabilitas dengan judul proposal “Analisis Sumber dan

Penggunaan Kas terhadap Tingkat Likuiditas dan Profitabilitas Dalam

Laporan Keuangan Pada CV. Putra Pundarika Batam

2. Batasan Masalah

Agar penulisan proposalini lebih terarah dan sesuai dengan masalah yang

ada, maka penulis membatasi ruang lingkup pembahasannya yang sehubungan

dengan sumber dan penggunaan kas pada CV Putra Pundarika Batam Penulis juga

menitikberatkan pada laporan keuangan CV Putra Pundarika Batam yaitu neraca

dan laporan laba rugi tahun 2007, 2008 dan 2009.

3
3. Perumusan Masalah

Berdasarkan data yang didapat dan dari hasil analisis penulis, maka penulis

menemukan permasalah yaitu:

1. BagaimanaPengelolaan Sumber dan penggunaan Kas pada CV. Putra

Pundarika Batam?

2. Apakah perusahan berada dalam keadaan yang likuid. Serta Apakah

Perusahaan mampu menghasilkan laba yang optimal?

3. Apakah Sumber dan penggunaan Kas terhadap Likuiditas dan

Profitabilitas sesuai pada laporan keuangan pada CV. Putra Pundarika

Batam

4. Tujuan Penulisan

Adapun tujuan dari penulisan proposal ini adalah:

1. Memenuhi persyaratan kelulusan mahasiswa Universitas Riau Kepulauan


jurusan akuntansi

2. menerapkan ilmu analisa laporan keuangan yang didapat dari bangku

kuliah pada dunia kerja khususnya pada CV Putra Pundarika Batam

3. penulis dapat membuat laporan sumber dan penggunaan kas pada CV

Putra Pundarika Batam

4. Penilis dapat menganalisis sumber dan penggunaan kas pada CV Putra

Pundarika Batam

4
5. Manfaat Penulisan

Adapun manfaat dari penulisan proposal ini adalah:

1. penulis akan lebih memperdalam pemahaman mengenai mata kuliah

analisa laporan keuangan, khususnya analisa sumber dan penggunaan kas

serta analisa rasio likuiditas dan profitabilitas/rentabilitas

2. memberikan msukan kepada perusahaan sehingga laporan ini didapat

bermanfaat bagi kemajuan dan perkembangan perusahaan

6. Sistematika Penulisan

Proposal ini disusun dalam 6 Bab dan masing-masing bab terbagi

dalam sub-sub bab. Secara sistematis isi dari proposalini disusun sebagai

berikut :

BAB I PENDAHULUAN

Bab ini mengemukakan dasar, arah dan permasalahan yang akan

dibahas, dengan urutan yaitu latar belakang pemilihan judul,

perumusan masalah, ruang lingkup pembahasan, tujuan dan

manfaat penulisan, metode pengumpulan data dan sistematika

penulisan.

5
BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Bab ini akan menguraikan secara singkat mengenai teori-teori yang

akan digunakan untuk membantu penulis dalam melakukan analisis

dan pembahasan masalah. Adapun teori-teori yang akan diuraikan

adalah mengenai pengertian dan tujuan laporan keuangan,

pengertian dan tujun analisis laporan keuangan, pengertian kas dan

setara kas, kegunaan dan pengelolaan kas, sumber dan penggunaan

kas, pengertian analisis sumber dan penggunaan kas serta

manfaatnya bagi perusahaan, teknik penyusunan laporan sumber

dan penggunaan kas, jenis ratio keuangan, rasio likuiditas dan

profitabilitas.

BAB III METODE PENELITIAN

Pada bab ini penulis menguraikan tentang jenis penelitian,waktu

dan tempat penelitian,teknik pengumpulan data dan analisa data.

BAB IV GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN

Bab ini akan menguraikan gambaran mengenai keadaan CV Putra

Pundarika Batam secara umum, antara lain mengenai sejarah

singkat perusahaan, struktur organisasi dan uraian tugas, aktivitas

perusahaan secara umum, dan penyajian laporan keuangan CV

Putra Pundarika Batam.

6
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

Bab ini merupakan bab pembahasan dari permasalah yang ada

serta analisis terhadap laporan keuangan yaitu analisis neraca

perbandingan, analisis sumber dan penggunaan kas dan analisis

ratio berupa ratio likuiditas dan ratio profitabilitas.

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN

Bab ini merupakan simpulan dari penulis setelah melakukan

analisis dan pembahasan. Selain itu, pada bab ini juga penulis

mencoba memberikan saran-saran yang mungkin akan membantu

CV Putra Pundarika Batam dalam menghadapi dan menyelesaikan

masalah yang dihadapi.

7
BAB II

TINJAUN PUSTAKA

2. Kas dan Setara Kas

2.1 Pengertian Kas dan Setara Kas

Menurut S. Munawir (2004:158) dalam bukunya Analisa Laporan

Keuangan, Kas merupakan: “Aktiva yang paling likuid atau merupkan salah satu

unsur modal kerja yang paling tinggi likuiditasnya.”

Sedangkan pengertian kas menurut Soemarso (204:296) adalah: “Segala

sesuatu (baik yang berbentuk uang atau bukan) yang dapat tersedia dengan segera

dan diterima sebagai alat pelunasan kewajiban pada nilai nominalnya.”

Berdasarkan pengertian tersebut dapat diketahui bahwa kas merupakan

bagian dari aktiva lancar yang memiliki tingkat likuiditas paling tinggi, yang

dapat tersedia dengan segera dan diterima sebagai alat pelunasan kewajiban pada

nilai nominalnya.

2.2 Kegunaan Kas

Kas diperlukan oleh perusahaan dalam menjalankan kegiatan operasinya.

Alasan menyimpan kas dijelaskan oleh John Maynard Keynes yang diadaptasi

oleh Agus Sartono (2001:415) yaitu:

1. Kebutuhan untuk transaksi, karena aliran kas masuk tidak sama dengan

aliran kas keluar, maka diperlukan adanya kas untuk melakukan transaksi

8
usaha, seperti membayar tenaga upah kerja, pajak deviden, pengadaan

persediaan.

2. Kebutuhan untuk berjaga-jaga, karena ketidakpastian aliran kas pada masa

datang dan kemampuan meminjam perusahaan untuk menambah

kebutuhan dana. Bila perusahaan dapat mengetahui dengan pasti aliran

kasnya maka kebutuhan kas untuk berjaga-jaga akan relatif kecil.

3. Kebutuhan untuk spekulasi, kebutuhan kas untuk

2.3 Pengelolaan Kas

Sehubungan dengan pengelolaan kas, S Munawir (2004:158) menyatakan

bahwa: Semakin besar jumlah kas yang dimiliki perusahaan akan semakin tinggi

pula tingkat likuiditasnya. Tetapi suatu perusahaan yang mempunyai tingkat

likuiditas yang tinggi karena adanya kas dalam jumlah yang besar berarti tingkat

perputaran kas tersebut rendah dan mencerminkan adanya over investment dalam

kas. Ini berarti kesempatan perusahaan dalam menghasilkan laba kecil. Sedangkan

jumlah kas yang relatif kecil akan menghasilkan tingkat perputaran kas yang

tinggi dan keuntungan yang diperoleh akan lebih besar tetapi suatu perusahaan

yang hanya mengejar keuntungan tanpa memperhatikan likuiditas akhirnya

perusahaan tersebut akan dalam keadaan illikuid apabila sewaktu-waktu ada

tagihan. Pentingnya pengelolaan kas dalam suatu perusahaan sangat

mempengaruhi aliran kas masuk (sumber kas) dan aliran kas keluar (penggunaan

kas).

9
BambangRiyanto (2001:93) menyatakan: Aliran kas itu, bagaikan darah

yang terus mengalir dalam tubuh perusahaan yang memungkinkan perusahaan itu

dapat melangsungkan hidupnya. Sehingga pengelolaan kas yang kurang efektif

akan mengancam kelangsungan hidup perusahaan.

2.2 Sumber dan Penggunaan Kas

Penerimaan (sumber) dan pengeluaran (penggunaan) kas suatu perusahaan

ada yang bersifat rutin atau terus menerus dan ada pula yang bersifat insidentil

atau tidak terus menerus. Sumber penerimaan kas dalam suatu perusahaan

menurut S. Munawir (2004:159), pada dasarnya dapat berasal:

1. Hasil penjualan investasi jangka panjang, aktiva tetap, atau adanya

penurunan aktiva tidak lancar yang diimbangi dengan penambahan kas.

2. Penjualan atau adanya emisi saham maupun adanya penambahan modal

oleh pemilik perusahaan dalam bentuk kas.

3. Pengeluaran surat tanda bukti hutang baik jangka pendek maupunjangka

panjang serta bertambahnya hutang yang diimbangi dengan penerimaan

kas.

4. Adanya penurunan atau berkurangnya aktiva lancar selain kas yang

diimbangi dengan adanya penerimaan kas.

5. Adanya penerimaan kas karena sewa, bunga atau devided dari

investasinya, sumbangan atau hadiah maupun adanya pengembalian

kelebihan pembayaran pajak pada periode-periode sebelumnya.

10
Sedangkan penggunaan atau pengeluaran kas menurut S. Munawir

(2004:159) dapat disebabkan adanya transaksi-transaksi sebagai berikut:

1. Pembelian saham atau obligasi sebagai investasi jangka pendek maupun

jangka panjang serta adanya pembelian aktiva tetap lainnya.

2. Penarikan kembali saham yang beredar maupun adanya pengambilan kas

perusahaan oleh pemilik perusahaan.

3. Pelunasan atau pembayaran angsuran hutang jangka pendek maupun

hutang jangka panjang.

4. Pembelian barang dagangan secara tunai, adanya pembayaran biaya

operasi.

5. Pengeluaran kas untuk pembayaran deviden, pembayaran pajak,denda-

denda dan lain sebagainya.

Adapun sumber dan penggunaan kas menurut Mamduh M Hanafi

(2003:226) yang diklasifikasikan berdasarkan aktivitas atau kegiatan perusahaan

adalah:

1. Aktivitas Operasi

Adalah aktivitas penghasilan utama pendapatan perusahaan dan aktivitas

lain yang bukan merupakan aktivitas investasi dan pendanaan. Menurut aktivitas

ini, sumber dan penggunaan kas yang terjadi disebabkan oleh adanya kenaikan

atau penurunan dalam aset berupa:

• Piutang Dagang

11
Rekening ini berkaitan dengan penjualan kredit yang dilakukan

perusahaan.

• Persediaan

Rekening ini berkaitan dengan persediaan yang dimiliki perusahaan.

• Aktiva Lancar Lainnya

Rekening ini berkaitan dengan pembayaran dimuka, seperti uang sewa

dibayar dimuka.

• Akumulasi Depresiasi

Depresiasi mengurangi laba bersih untuk suatu periode tetapi tidak

mengurangi aliran kas keluar.

• Hutang Dagang

Rekening ini berkaitan dengan pembelian yang dilakukan secara kredit.

• Hutang Lancar Lainnya

Rekening ini digunakan untuk membiayai kegiatan-kegiatan operasional

perusahaan selain pembelian barang dagangan.

• Hutang Pajak

Pajak yang akan dibayar dalam jangka waktu dekat sama dengan biaya

pajak pandapatan (yang menjadi pengurang laba bersih) ditambah atau dikurangi

perubahan dalam hutang pajak dalam periode tersebut.

• Laba Bersih

Laba bersih dikelompokkan sebagai transaksi operasional.

12
2. Aktivitas Investasi

Adalah aktivitas perolehan atau pelepasan aktiva jangka panjang(aktiva

tidak lancar) dan investasi yang tidak termasuk dalam pengertian setara kas.

Menurut aktivitas ini, sumber dan penggunaan kas yang terjadi disebabkan oleh

adanya kenaikan atau penurunan dalam aset berupa:

• Investasi pada surat-surat berharga

• Investasi pada anak perusahaan

• Harga perolehan aset

• Aset lainnya

3. Aktivitas Pendanaan

Adanya aktivitas yang mengakibatkan perubahan dalam jumlah dan

komposisi kewajiban (utang) jangka panjang dan modal (ekuitas) perusahaan.

Menurut aktivitas ini, sumber dan penggunaan kas yang terjadi disebabkan oleh

adanya kenaikan atau penurunan dalam aset berupa :

• Hutang Wesel

• Hutang Jangka Panjang

2.3 Analisis Sumber dan Pengunaan Kas

2.3.1 Pengertian Analisis Sumber dan Penggunaan Kas

Untuk dapat melakukan analisis terhadap sumber dan penggunan kas terlebih

dahulu kita harus mengetahui pengertian dari analisis sumber dan penggunaan

13
kas itu sendiri. Pengertian analisis sumber dan penggunaan kas menurut Dwi

Prastowo (2001:57) adalah:

Analisis terhadap sumber dan penggunaan kas untuk memperoleh informasi

mengenai sebab-sebab terjadinya surplus (defisit) kas selama periode tertentu,

sehingga dapat digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan tentang kas.

Sedangkan menurut S. Munawir (2004:157), analisis sumber dan

penggunaan kas adalah: Analisis terhadap sumber dan penggunaan kas dilakukan

menunjukkan perubahan kas selama satu periode dan memberikan alasan

mengenai perubahan kas tersebut dengan menunjukkan dari mana sumber-sumber

kas dan penggunaanya.

Dari pengertian diatas diketahui bahwa dengan melakukan analisis sumber

dan penggunaan kas dapat diketahui dari mana sumber kas dan penggunaannya

sehingga dapat digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan terhadap kas.

2.3.2 Manfaat Analisis Sumber dan Penggunaan Kas bagi perusahaan

Penganalisisan terhadap sumber dan penggunaan kas bagi suatu perusahaan

tentunya ada manfaat yang akan diperoleh perusahaan tersebut. Menurut Sofyan

Syafri Harahap (2004:257), dengan melakukan analisis terhadap sumber dan

penggunaan kas, perusahaan dapat mengetahui:

1. Kemampuan perusahaan meng“generate“ kas, merencanakan, mengontrol

arus kas masuk dan arus kas keluar perusahaan pada masa lalu.

2. Kemungkinan keadaan arus kas masuk dan keluar, arus kas bersih

perusahaan.

14
3. Kemampuan perusahaan untuk memasukkan kas ke perusahaan di masa

yang akan datang.

4. Memberikan informasi tentang kemampuan perusahaan dalam

mendapatkan laba dan kondisi likuiditas perusahaan di masa yang akan

datang,

5. Pengaruh investasi baik kas maupun bukan kas dan transaksi lainnya

terhadap posisi keuangan perusahaan selama satu periode tertentu.

2.4 Teknik Penyusunan Laporan Sumber dan Penggunaan Kas

Menurut Bambang Riyanto (2001:346), teknik penyusunan laporan sumber

dan penggunaan kas adalah:

1. Menyusun laporan perubahan neraca, yang menggambarkan perubahan

masing-masing elemen neraca antara dua titik waktu yang akan dianalisis

(bulanan atau tahunan).

2. Mengelompokkan perubahan-perubahan tersebut dalam golongan

perubahan-perubahan yang memperbesar kas dan golongan

perubahanperubahan yang memperkecil jumlah kas.

3. Mengadakan konsolidasi dari semua infomasi tersebut ke dalam laporan

sumber dan penggunaan kas.

2.5 Ratio Keuangan

Analisis berupa ratio keuangan akan dapat menjelaskan atau memberikan

gambaran mengenai baik buruknya keadaan atau posisi keuangan suatu

15
perusahaan terutama apabila angka ratio tersebut dibandingkan dengan angka

ratio pembanding sebagai standar. Faktor-faktor yang menyebabkan perbedaan

tingkat ratio perusahaan menurut S. Munawir (2004:65) yaitu:

a. Perbedaan letak perusahaan dengan tingkat harga dan biaya operasi yang

berbeda-beda, seperti besar kecilnya perusahaan. Suatu perusahaan yang

mempunyai ukuran yang sama tetapi yang satu terletak di Medan dan yang

lainnya terletak di Yogyakarta akan berakibat ratio yang dihitung juga

akan berbeda.

b. Jumlah aktiva tetap yang dimiliki oleh perusahaan yang bersangkutan

yang digunakan dalam operasi mungkin berbeda dengan perusahaan yang

lain, ada yang aktivanya atau alat-alat yang digunakan untuk operasi hanya

menyewa sehingga operating assetsnya kecil. Kemungkinan yang lain

yaitu adanya perusahaan yang memiliki alatalat operasi atau aktiva tetap

yang melebihi dari kebutuhannya.

c. Adanya perbedaan umur kekayaan yang dimiliki di antara

perusahaanperusahaan tersebut. Suatu perusahaan ada yang memiliki

kekayaan yang masih baru, ada yang sudah lama (sudah tua), ada yang

modern, ada yang sederhana dan sebagainya.

d. Perbedaan kebijaksanaan yang dilakukan untuk masing-masing

perusahaan baik dalam menaksir umur kegunaan suatu aktiva tetap,

metode depresiasi dan metode penilaiannya. Perbedaan dalam penilaian

persediaan serta kebijaksanaan dalam pembelian akan mempunyai akibat

16
bahwa jumlah persediaan yang dalam kwantitasnya sama akan mempunyai

nilai yang berbeda dan angka rationyapun akan berbeda.

e. Perbedaan struktur permodalan yang dimiliki oleh perusahaanperusahaan

yang bersangkutan, ada perusahaan yang modalnya sebagian besar

merupakan modal sendiri, ada perusahaan yang modalnya sebagian besar

dari modal asing (dari kreditor) sehingga beban bunga yang ditanggung

cukup besar.

f. Perbedaan sistem dan prosedur akuntansi yang digunakan termasuk

perbedaan-perbedaan dalam klasifikasi biaya, klasifikasi rekening dalam

penyajian laporan keuangan serta periode akuntansi (tahun buku).

2.5.1 Pengertian Ratio Keuangan

Pengertian ratio keuangan menurut Sofyan Syafri Harahap (2004:301)

adalah:

“Rasio keuangan adalah angka yang diperoleh dari perbandingan dari satu pos

laporan keuangan dengan pos lainnya yang mempunyai hubungan yang relevan

dan siknifikan (berarti).“

2.5.2 Jenis Ratio Keuangan

Menurut S. Munawir (2004:68) berdasarkan sumber datanya, angka ratio

dapat dibedakan antara:

17
1. Ratio-ratio neraca (balance sheet ratios) yang tergolong dalam kategori ini

adalah semua ratio yang semua datanya diambil atau bersumber pada

neraca, misalnya current ratio, acid test ratio.

2. Ratio-ratio rugi-laba (income statement ratios) yaitu angka-angka ratio

yang dalam penyusunannya semua datanya diambil dari Laporan Rugi-

Laba, misalnya gross profit margin, net operating margin, operating ratio

dan lain sebagainya.

3. Ratio-ratio antar laporan (interstatement ratios) ialah semua angka ratio

yang penyusunannya datanya berasal dari neraca dan data lainnya dari

laporan rugi-laba, misalnya tingkat perputaran persediaan (inventory turn

over), tingkat perputaran piutang (account receivable turn over), sales to

inventory, sales to fixed assets dan lain sebagainya.

Penggolongan angka ratio berdasarkan penganalisis yaitu untuk mengetahui

tingkat likuiditas, solvabilitas dan profitabilitas dari perusahaan yang

bersangkutan. Mahmud M Hanafi (2003:75) mengelompokkan rasio keuangan ke

dalam 5 macam kategori yaitu:

1. Ratio Likuiditas, ratio yang mengukur kemampuan perusahaan memenuhi

kewajiban jangka pendeknya.

2. Ratio Aktivitas, ratio yang mengukur sejauh mana efektifitas penggunaan

asset dengan melihat tingkat aktivitas asset.

3. Ratio Solvabilitas, ratio yang mengukur sejauh mana kemampuan

perusahaan memenuhi kewajiban jangka panjangnya.

18
4. Ratio Profitabilitas, ratio yang melihat kemampuan perusahaan

menghasilkan laba (profitabilitas).

5. Ratio Pasar

Ratio ini melihat perkembangan nilai perusahaan relatif terhadap nilai

buku perusahaan.

Analisis ratio-ratio yang dipergunakan penulis untuk menganalisis laporan

keuangan perusahaan yang berhubungan dengan permasalahan yang dibuat adalah

sebagai berikut:

1. Ratio Likuiditas

Menurut S. Munawir (2004:31) ratio likuiditas adalah: Ratio yang

digunakan untuk mengukur kemampuan suatu perusahaan untuk memenuhi

kewajiban keuangannya yang harus segera dipenuhi, atau kemampuan perusahaan

untuk memenuhi kewajiban keuangan pada saat ditagih.

Ratio likuiditas terdiri dari beberapa macam. Adapun beberapa ratio

likuiditas menurut S. Munawir (2004:72) adalah sebagai berikut:

a. Current Ratio

Ratio yang menunjukkan sejauh mana aktiva lancar menutupi kewajiban-

kewajiban lancarnya. Biasanya current ratio 200% atau perbandingan antara

aktiva lancar dengan hutang lancar 2:1 sudah memuaskan, karena perusahaan

dapat menjamin hutang lancarnya dengan mencairkan setengah jumlah aktiva

lancarnya.

Aktiva Lancar
Current Ratio = X 100%
Hutang Lancar

19
b. Acid Test Ratio

Ratio yang menunjukkan kemampuan aktiva lancar yang menutupi

kewajiban lancarnya. Acid Test Ratio 100% sudah menunjukkan kondisi keuangan

dalam jangka panjang dalam keadaan yang baik.

Kas+Efek+Piutang
Acid Test Ratio= X 100%
Hutang Lancar

c. Cash Ratio

Ratio yang menunjukkan kemampuan perusahaan dalam membayar hutang

yang segera harus dipenuhi dengan kas yang tersedia dalam perusahaan dan efek

yang dapat segera diuangkan. Cash Ratio 100% sudah dianggap baik karena

perusahaan dapat menjamin hutang lancarnya dengan seluruh aktiva yang paling

likuid. Perbandingan antar hutang lancar dengan kas yaitu 1:1

Kas + Efek
Acid Test Ratio= X 100%
Hutang Lancar

2. Ratio Profitabilitas/Rentabilitas

Menurut S. Munawir (2004:33), Ratio profitabilitas atau rentabilitas adalah:

“Ratio yang digunakan untuk menunjukkan kemampuan perusahaan untuk

menghasilkan laba selama periode tertentu.”

Ratio profitabilitas atau rentabilitas terdiri dari beberapa macam yaitu sebagai

berikut:

20
a. Gross Profit Margin

Ratio yang menunjukkan persentase dari laba kotor yang dibandingkan

dengan penjualan. Semakin besar Gross Profit Margin semakin baik keadaan

operasi perusahaan, karena hal ini menunjukkan bahwa biaya langsung proyek

relatif lebih rendah dibandingkan dengan penjualan.

Penjualan Netto – Hpp


Gross Profit Margin = X 100%
Penjualan Netto X 100%

2. Operating Income Ratio

Rasio yang menunjukkan besarnya laba operasi sebelum bunga dan pajak

yang dihasilkan oleh setiap rupiah penjualan. Makin kecil ratio ini menunjukkan

keadaan yang kurang baik bagi suatu perusahaan.

Operating Income
Penjualan – Hpp – By. Adm Penjualan&umum
Ratio = X 100%
Penjualan Netto

3. Operating Ratio

Adalah biaya operasi per rupiah penjualan. Menunjukkan besarnya biaya

operasi per rupiah penjualan. Operating ratio mencerminkan tingkat efisiensi

perusahaan, sehingga yang tinggi menunjukkan keadaan yang kurang baik karena

berarti bahwa setiap rupiah penjualan yang terserap dalam biaya operasi juga

tinggi dan yang tersedia untuk laba kecil. Makin besar rasio ini menunjukkan

keadaan yang tidak baik.

21
Operating Ratio = Hpp+By. Adm Penjualan&umum X 100%

Penjualan Netto

4. Operating Assets Turnover

Adalah ratio antara jumlah aktiva yang digunakan dalam operasi (operating

addets) terhadap jumlah penjualan yang diperoleh selama periode tersebut. Ratio

ini merupakan ukuran tentang sampai seberapa jauh aktiva ini telah dipergunakan

di dalam kegiatan perusahaan atau menunjukkan berapa kali operating assets

berputar dalam suatu periode tertentu, biasanya satu tahun.

sales
d. Assets Turnover = X 1kali
Total Assets

2.6 Pengertian dan Tujuan Laporan Keuangan

2.6.1 Pengertian Laporan Keuangan

Pengertian laporan keuangan menurut Ikatan Akuntan Indonesia (2004:2)

adalah sebagai berikut:

Laporan Keuangan merupakan bagian dari proses pelaporan keuangan. Laporan

Keuangan yang lengkap biasanya meliputi Neraca, Laporan Rugi Laba, Laporan

Perubahan Posisi Keuangan (yang dapat disajikan dalam berbagai cara seperti

misalnya sebagai Laporan Arus Kas atau Laporan Arus Dana), catatan dan

laporan lain serta materi penjelasan yang merupakan bagian integral dari Laporan

Keuangan.

Sedangkan menurut S. Munawir (2004:2), laporan keuangan adalah: Hasil

dari proses akuntasi yang dapat digunakan sebagai alat untuk berkomunikasi

22
antara data keuangan atau aktivitas suatu perusahaan dengan pihak-pihak yang

berkepentingan dengan data atau aktivitas perusahaan tersebut.

Berdasarkan penjelasan-penjelasan di atas maka dapat disimpulkan bahwa

Laporan Keuangan merupakan hasil dari proses akuntansi yang pada umumnya

berupa neraca, laporan laba rugi dan laporan arus kas yang dapat digunakan oleh

pihak-pihak yang berkepentingan.

2.6.2 Tujuan Laporan Keuangan

Penyusunan laporan keuangan tentunya ada tujuan yang hendak dicapai.

Berikut tujuan dari laporan keuangan menurut Mamduh M. Hanafi dan Abdul

Halim (2003:31) yaitu:

1. Memberikan informasi yang bermanfaat bagi investor, kreditur, dan

pemakai lainnya, sekarang atau masa yang akan datang (potensial) untuk

membuat keputusan investasi, pemberian kredit, dan keputusan lainnya

yang serupa yang rasional.

2. Memberikan informasi yang bermanfaat untuk investor, kreditur, dan

pemakai lainnya saat ini atau masa yang akan datang (potensial), untuk

memperkirakan jumlah, waktu, dan ketidakpastian dari penerimaan kas

dari dividen atau bunga, dan dari penjualan, pelunasan surat-surat berharga

atau hutang pinjaman.

3. Memberi informasi untuk menolong investor, kreditur, dan pemakai

lainnya untuk memperkirakan jumlah, waktu, dan ketidakpastian aliran kas

masuk bersih ke perusahaan (lembaga).

23
2.7 Pengertian dan Tujuan Analisis Laporan Keuangan

2.7.1 Pengertian Analisis Laporan Keuangan

Salah satu tugas penting setelah akhir tahun adalah menganalisis laporan

keuangan perusahaan. Analisis ini didasarkan pada laporan keuangan yang sudah

disusun. Untuk dapat melakukan analisis terhadap laporan keuangan ada baiknya

terlebih dahulu kita mengetahui pengertian dan tujuan analisis laporan keuangan

itu sendiri. Pengertian analisis laporan keuangan menurut Sofyan Syafri Harahap

(2004:190) yaitu:

Analisis laporan keuangan yaitu menguraikan pos-pos laporan keuangan menjadi

unit informasi yang lebih kecil dan melihat hubungannya yang bersifat siknifikan

atau yang mempunyai makna antara satu dengan yang lain baik antara data

kuantitatif maupun data non-kuantitatif dengan tujuan untuk mengetahui kondisi

keuangan lebih dalam yang sangat penting dalam proses menghasilkan keputusan

yang tepat.

Adapun menurut Dwi Prastowo (2002:52), analisis laporan keuangan

adalah: “Analisis laporan keuangan merupakan suatu proses untuk membedah

laporan keuangan ke dalam unsur-unsurnya, menelaah masing-masing unsur

tersebut dan menelaah hubungan diantara unsur-unsur tersebut.”

Berdasarkan pengertian-pengertian di atas dapat penulis simpulkan bahwa

analisis laporan keuangan merupakan suatu proses untuk menelaah unsur-unsur

yang ada dalam laporan keuangan dengan tujuan untuk mengetahui kondisi

keuangan perusahaan sebagai dasar pengambilan keputusan.

24
2.7.2 Tujuan Analisis Laporan Keuangan

Tujuan analisis laporan keuangan menurut Bernstein yang diadaptasi oleh

Sofyan Syafri (2004:54) yaitu:

1. Screening

Analisis dilakukan untuk mengetahui situasi dan kondisi perusahaan dari

laporan keuangan tanpa langsung ke lapangan.

2. Understanding

Analisis dilakukan untuk memahami perusahaan, kondisi keuangan, dan

hasil usahanya.

3. Forcasting

Analisis dilakukan untuk meramalkan kondisi keuangan perusahaan di masa

yang akan datang.

4. Diagnosis

Analisis dimaksudkan untuk melihat kemungkinan adanya masalahmasalah

yang terjadi.

5. Evaluation

Analisis dilakukan untuk menilai prestasi manajemen dalam mengelola

perusahaan.

Sedangkan menurut Mamduh M. Hanafi dan Abdul Halim (2003:5) tujuan

analisis laporan keuangan adalah: “Analisis terhadap laporan keuangan suatu

perusahaan pada dasarnya karena ingin mengetahui tingkat profitabilitas

(keuntungan) dan tingkat risiko atau tingkat kesehatan suatu perusahaan.

25
BAB III

METODE PENELITIAN

3.1. Jenis Penelitian

Penelitian yang dilakukan adalah penelitian deskriptif, yaitu penelitian yang

dilakukan dengan cara menguraikan sifat-sifat dan keadaan yang sebenarnya dari

objek penelitian.

3.2 Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini akan dilakukan dari bulan Januari 2011 sampai dengan

Maret 2011 pada Bagian Pengelolaan Keuangan pada CV Putra Pundarika Batam

di Ruko Bunga Raya Block B No.16 ( seberang GOR CBN Bandara ) Batam

26
Tabel 3.1 Waktu Penilitian

Tabel III – 1

Skedul Penelitian

Feb Mar Apr Mei Jun Jul


No. Jenis Kegiatan
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4

1. Pemilihan Masalah

Penyusunan
2. Laporan
Penyusunan Kajian
3. Teoritis

4. Pengumpulan Data

5. Analisis Data

Penyusunan
6. Laporan Penelitian

3.3 Jenis Data

Adapun data yang penulis gunakan dalam penulisan proposal ini terdiri dari:

a. Data Primer, yaitu data yang diperoleh secara langsung yang memerlukan

pengolahan lebih lanjut dan dikembangkan dengan pemahaman sendiri oleh

penulis.

b. Data sekunder, yaitu data yang sudah diolah yang bersumber dari kantor

pemerintahan yang diteliti, misalnya sejarah singkat CV Putra Pundarika

Batam, struktur organisasi, dan informasi yang berhubungan dengan

penyajian laporan keuangan.

3.4 Metode pengumpulan data

27
Menurut supranto(2003:13) metode pengumpulan data dapat dilakukan

dengan cara sebagai berikut :

1. Riset lapangan

yaitu suatu teknik riset yang dilakukan dengan cara mendatangi secara

langsung objek dalam rangka untuk memperoleh data yang diperlukan.

a. Wawancara adalah teknik pengumpulan data dengan melalui kunjungan

dan tanya jawab langsung kepada pegawai yang mempunyai wewenang

untuk memberikan data dan informasi yang diperlukan

b. Pengamatan adalah teknik pengumpulan data dengan jalan membaca

semua buku, referensi, dan literatur guna mendapatkan teori-teori yang

dapat dipergunakan sebagai bahan peralatan analisis data yang tersedia.

2. Riset Kepustakaan (Library Research)

Yaitu suatu teknik pengumpulan data dengan jalan membaca

semua buku, referensi dan literatur yang berhubungan dengan judul dan

permasalahan yang diamati guna mendapatkan teori-teori yang dapat

dipergunakan sebagai bahan peralatan analisis data yang tersedia.

Metode pengumpulan data yang digunakan oleh penulis dalam proposalini

adalah:

1. metode riset lapangan berupa observasi dan wawancara kepada pihak

perusahaan

2. riset kepustakaan tentang teori-teori yang berhubungan dengan analisis

sumber dan penggunaan kas.

28
3.5 Definisi Operasional

1. Kas merupakan bagian dari aktiva lancar yang memiliki tingkat likuiditas

paling tinggi, yang dapat tersedia dengan segera dan diterima sebagai alat

pelunasan kewajiban pada nilai nominalnya.

2. Analisis sumber dan penggunaan kas dapat diketahui dari mana sumber

kas dan penggunaannya sehingga dapat digunakan sebagai dasar

pengambilan keputusan terhadap kas.

3. “Rasio keuangan adalah angka yang diperoleh dari perbandingan dari satu

pos laporan keuangan dengan pos lainnya yang mempunyai hubungan

yang relevan dan siknifikan (berarti).“

4. ratio likuiditas adalah: Ratio yang digunakan untuk mengukur kemampuan

suatu perusahaan untuk memenuhi kewajiban keuangannya yang harus

segera dipenuhi, atau kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban

keuangan pada saat ditagih.

5. Ratio profitabilitas atau rentabilitas adalah: “Ratio yang digunakan untuk

menunjukkan kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba selama

periode tertentu.”

6. Sumber daya manusia adalah kemampuan dari anggota atau pegawai

dalam melaksanakan tugasnya dalam penyusunan dan penyajian laporan

keuangan daerah.

29
7. Perangkat pendukung lainnya adalah ketersediaan perangkat pendukung

yang akan membantu mereka dalam melaksanakan tugas seperti

tersedianya software yang berkaitan dengan kebutuhan mereka.

3.6 Metode Analisis Data

Dalam menganalis data, penulis menggunakan metode deskriptif, yaitu

dengan mengumpulkan, mengolah, dan menginterpretasikan data yang diperoleh

sehingga memberi keterangan yang benar dan lengkap untuk pemecahan masalah

yang dihadapi.

30
DAFTAR PUSTAKA

Hanafi, Mamhud M. 2003. Analisis Laporan Keuangan. Yogyakarta: UPP AMP

YKPN

Harahap, Sofyan Syafri. 2004. Analisis Kritis Atas Laporan Keuangan. Edisi

Kedua, jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

Ikatan Akuntan Indonesia.2004. Standar Akuntansi Keuangan. Jakarta: Salemba

Empat.

Munawir, S. 2004. Analisa Laporan Keuangan. Edisi Keempat, Yogyakarta:

Liberty.

Prastowo, Dwi. 2002. Analisis Laporan Keuangan. Edisi Revisi, Yogyakarta:

UPP AMP YKPN.

Riyanto, Bambang. 2001. Dasar-dasar Pembelanjaan Perusahaan. Edisi

Keempat. Yogyakarta: BPFE.

Sartono, Agus. 2001. Manajemen Keuangan. Edisi Keempat, Yogyakarta: BPFE.

Soemarso S.R. 2004. Akuntansi Suatu Pengantar. Edisi Revisi, Jakarta: Salemba

Empat.

Supranto, J. 2003. Metode Riset dan Aplikasinya dalam Pemasaran.

Jakarta: PT Rineka Cipta.

31