Anda di halaman 1dari 14

Laporan Fisiologi Tumbuhan

“Pengaruh AIA terhadap ProsesAbsisi Daun Coleus sp.”

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Absisi adalah suatu proses secara alami terjadinya pemisahan bagian atau
organ tanaman, seperti: daun, bunga, buah atau batang. Menurut Addicot (1964)
maka dalam proses absisi ini faktor alami seperti: panas, dingin, kekeringan akan
berpengaruh terhadap absisi. Proses penurunan kondisi yang menyertai
pertumbuhan umur, yang mengarah kepada kematian organ atau organisme,
disebut penuaan (senensensi).
Gugurnya daun dipacu juga oleh faktor lingkungan, termasuk panjang hari
yang pendek pada musim gugur dan suhu yang rendah. Rangsangan dari faktor
lingkungan ini menyebabkan perubahan keseimbangan antar etilen dan auksin.
Auksin mencegah absisi dan tetap mempertahankan proses metabolisme daun,
tetapi dengan bertambahnya umur daun jumlah etilen yang dihasilkan juga akan
meningkat. Sementara itu, sel-sel yang mulai menghasilkan etilen akan
mendorong pembentukan lapisan absisi. Selanjutnya etilen merangsang lapisan
absisi terpisah dengan memacu sintesis enzim yang merusak dinding-dinding sel
pada lapisan absisi.
Gugur daun pada musim gugur merupakan adaptasi tumbuhan untuk
mencegah kehilangan air melalui penguapan pada musim salju karena pada saat
itu akar tidak mampu menyerap air pada tanah yang membeku. Pengguguran daun
pada setiap musim gugur yang diawali dengan terjadinya perubahan warna,
kemudian daun mengering dan gugur adalah juga merupakan proses penuaan.
Warna pada daun yang akan gugur merupakan kombinasi pigmen-pigmen baru
yang dibentuk pada musim gugur, kemudian pigmen-pigmen yang telah terbentuk
tersebut tertutup oleh klorofil. Daun kehilangan warna hijaunya pada musim
gugur karena daun-daun tersebut berhenti mensintesis pigmen klorofil.
Peranan etilen dalam memacu gugurnya daun lebih banyak diketahui
daripada peranannya dalam hal perubahan warna daun yang rontok dan
pengeringan daun. Pada saat daun rontok, bagian pangkal tangkai daunnya
terlepas dari batang. Daerah yang terpisah ini disebut lapisan absisi yang

1
Laporan Fisiologi Tumbuhan
“Pengaruh AIA terhadap Proses Absisi Daun Coleus sp.”

merupakan areal sempit yang tersusun dari sel-sel parenkima berukuran kecil
dengan dinding sel yang tipis dan lemah. Setelah daun rontok, daerah absisi
membentuk parut/luka pada batang. Sel-sel yang mati menutupi parut untuk
membantu melindungi tumbuhan terhadap patogen. Dari gambaran teori diatas
maka untuk dapat mengetahui pengaruh AIA terhadap proses absisi daun,
dilakukan percobaan pada tanaman Coleus sp.

B. Rumusan Masalah
Dari uraian latar belakang di atas didapatkan suatu rumusan masalah yaitu
bagaimana pengaruh AIA terhadap proses absisi daun Coleus sp.

C. Tujuan
Adapun tujuan dalam percobaan ini yaitu untuk mengetahui pengaruh AIA
terhadap proses absisi daun Coleus sp.

2
Laporan Fisiologi Tumbuhan
“Pengaruh AIA terhadap Proses Absisi Daun Coleus sp.”

BAB II
KAJIAN PUSTAKA

Absisi adalah suatu proses secara alami terjadinya pemisahan bagian atau
organ tanaman, seperti: daun, bunga, buah atau batang. Menurut Addicot (1964)
maka dalam proses absisi ini faktor alami seperti: panas, dingin, kekeringan akan
berpengaruh terhadap absisi. Dalam hubungannya dengan hormon tumbuh, mana
mungkin hormon ini akan mendukung atau menghambat proses tersebut.
http//google/absisi-daun
Peranan Hormon dalam Absisi Daun
Mengenai hubungan antara absisi dengan zat tumbuh auksin, Addicot et
all (1955) mengemukakan bahwa absisi akan terjadi apabila jumlah auksin yang
ada di daerah proksimal sama atau lebih dari jumlah auksin yang terdapat di
daerah distal. Tetapi apabila junlah auksin berada di daerah distal lebih besar dari
daerah proksimal maka tidak akan terjadi absisi. Dengan kata lain proses absisi ini
akan terlambat. Teori lain (Biggs dan Leopld 1957, 1958) menerangkan bahwa
pengaruh auksin terhadap absisi ditentukan oleh konsentrasi auksin itu sendiri.
Konsentrasi auksin yang tinggi akan menghambat terjadinya absisi, sedangkan
auksin dengan konsentrasi rendah akan mempercepat terjadinya absisi. Teori
terakhir ditentukan oleh Robinstein dan Leopold (1964) yang menerangkan bahwa
respon absisi pada daun terhadap auksin dapat dibagi ke dalam dua fase jika
perlakuan auksin diberikan setelah auksin terlepas. Fase pertama, auksin akan
menghambat absisi dan fase kedua auksin dengan konsentrasi yang sama akan
mendukung terjadinya absisi.
http//google/absisi-daun
Gugurnya daun dipacu juga oleh faktor lingkungan, termasuk panjang hari
yang pendek pada musim gugur dan suhu yang rendah. Rangsangan dari faktor
lingkungan ini menyebabkan perubahan keseimbangan antara etilen dan auksin.
Auksin mencegah absisi dan tetap mempertahankan proses metabolisme daun,
tetapi dengan bertambahnya umur daun jumlah etilen yang dihasilkan juga akan
meningkat. Sementara itu, sel-sel yang mulai menghasilkan etilen akan
mendorong pembentukan lapisan absisi. Selanjutnya etilen merangsang lapisan

3
Laporan Fisiologi Tumbuhan
“Pengaruh AIA terhadap Proses Absisi Daun Coleus sp.”

absisi terpisah dengan memacu sintesis enzim yang merusak dinding-dinding sel
pada lapisan absisi.
Peranan etilen dalam memacu gugurnya daun lebih banyak diketahui
daripada peranannya dalam hal perubahan warna daun yang rontok dan
pengeringan daun. Pada saat daun rontok, bagian pangkal tangkai daunnya
terlepas dari batang. Daerah yang terpisah ini disebut lapisan absisi yang
merupakan areal sempit yang tersusun dari sel-sel parenkima berukuran kecil
dengan dinding sel yang tipis dan lemah.
Proses pencernaan dinding, yang disertai dengan tekanan akibat
pertumbuhan yang tidak imbang antara sel proksimal yang membesar dan sel
distal yang menua di zona absisi, mengakibatkan pematahan. Selama konsentrasi
auksin yang lebih tinggi dipertahankan di helai daun, pengguguran dapat ditunda
namun penuaan menyebabkan penurunan tingkat auksin pada organ tersebut dan
konsentrasi etilen mulai meningkat. Etilen, zat pemacu pengguguran yang terkuat
dan tersebar luas diberbagai organ tumbuhan dan pada banyak spesies tumbuhan
menyebabkan pembesaran sel dan menginduksi sintesis serta sekresi hidrolase
pengurai dinding sel. Ini akibat efeknya pada transkripsi, sebab jumlah molekul
mRNA yang menjadikan hidrolase (paling tidak selulase) meningkatkan sekali
setelah diberi perlakuan etilen.

Manfaat Pengguguran Daun


Gugur daun pada musim gugur merupakan adaptasi tumbuhan untuk
mencegah kehilangan air melalui penguapan pada musim salju karena pada saat
itu akar tidak mampu menyerap air pada tanah yang membeku. Bagi tumbuhan,
gugurnya daun ini berguna untuk membuang organ yang tidak berguna yang
mungkin sebagai sumber infeksi yang potensial dan pada beberapa spesies untuk
memberi tempat bagi daun baru yang akan tumbuh pada musim berikutnya.

4
Laporan Fisiologi Tumbuhan
“Pengaruh AIA terhadap Proses Absisi Daun Coleus sp.”

BAB III
METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian
Kegiatan praktikum pengaruh hormon terhadap proses absisi daun bersifat
kegiatan eksperimen, karena pada penelitian ini memiliki ciri-ciri eksperimen,
yaitu terdapat variabel kontrol, variabel bebas dan variabel respon.

B. Variabel-variabel Penelitian
Variabel kontrol : jenis tanaman, media tanam tanaman, dan waktu
pemotongan daun.
Variabel manipulasi : keberadaan AIA
Variabel respon : kecepatan gugurnya daun Coleus sp.

C. Alat dan Bahan


Alat : pisau dan label.
Bahan : 2 pot tanaman Coleus sp. yang memiliki kondisi sama, lanolin,
AIA 1 ppm dalam lanolin (4 ml AIA 1 ppm dicampur dengan
100 gram lanolin).

D. Langkah Kerja
1. Mengambil dua buah pot tanaman Coleus sp. yang memiliki kondisi yang
sama besar kemudian melakukan kegiatan sebagai berikut:
- Pot I : potong satu pasang lamina yang terletak paling bawah
- Pot II : potong satu pasang lamina yang terletak tepat di atas lamina yang
paling bawah.
2. Mengolesi bekas potongan tersebut, yang satu dengan lanolin sedang yang
lain dngan 1 ppm AIA dalam lanolin.
3. Memberi tanda dengan kertas label agar tidak tertukar.
4. Mengamati setiap hari dan mencatat waktu gugurnya tangkai-tangkai daun
pada percobaan.

5
Laporan Fisiologi Tumbuhan
“Pengaruh AIA terhadap Proses Absisi Daun Coleus sp.”

E. Rancangan Percobaan:

Tumbuhan Coleus sp,

Memotong satu pasang lamina Memotong satu pasang lamina


paling bawah nomor 2 dari bawah

Mengolesi bekas potongan, dengan :


lanolin (1 potongan) dan
1 ppm AIA dalam lanolin (potongan lainnya )

Memberi tanda pada setiap potongan

Mengamati tiap hari dan mencatat waktu gugurnya tangkai-tangkai daun


tersebut

6
Laporan Fisiologi Tumbuhan
“Pengaruh AIA terhadap Proses Absisi Daun Coleus sp.”

BAB IV
DATA DAN ANALISIS

A. Hasil Pengamatan
a. Tabel Hasil Pengamatan
Tabel 1. Pengaruh AIA terhadap waktu gugurnya Ptiolus daun tanaman Coleus
sp.

Gugurnya Ptiolus paling bawah Ptiolus no.2 dari bawah


AIA dalam Lanolin AIA dalam Lanolin
daun pada hari
lanolin lanolin
ke-
1 - - - -
2 - ν - -
3 ν - - ν
4 - - ν -

b. Histogram hasil pengamatan pengaruh AIA terhadap proses absisi daun.

4.5
4
3.5
3
2.5
2
1.5
1
0.5
0
1 2
Ptiolus Daun (no.1 daun paling bawah dan no.2 daun kedua
dari bawah)

Histogram. Pengaruh AIA terhadap proses absisi daun Coleus sp.


Keterangan : = pengaruh lanolin
= pengaruh AIA dalam lanolin

B. Analisis Data
Berdasarkan data tabel dan grafik di atas dapat diketahui bahwa pada
batang Coleus sp. pertama dan kedua, ptiolus yang diolesi AIA dalam lanolin
waktu gugurnya lebih lama daripada ptiolus yang hanya diolesi lanolin saja. Pada
batang pertama, ptiolus paling bawah gugur pada hari ke-2 bila diolesi dengan

7
Laporan Fisiologi Tumbuhan
“Pengaruh AIA terhadap Proses Absisi Daun Coleus sp.”

lanolin sedangkan ptiolus no.2 dari bawah gugur pada hari ke-3. Berbeda dengan
batang kedua, ptiolus paling bawah yang diolesi AIA dalam lanolin akan gugur
pada hari ke-3 sedangkan ptiolus no.2 dari bawah akan gugur pada hari ke-4.
Dari tabel di atas juga dapat diketahui bahwa ptiolus yang diolesi lanolin
maupun AIA dalam lanolin, gugur secara tidak bersamaan. Ptiolus no.2 dari
bawah lebih lambat gugur daripada ptiolus yang paling bawah. Seperti halnya
pada percobaan ini menunjukkan bahwa daun ptiolus paling bawah gugur pada
hari ke-2 (diolesi lanolin) dan ke-3 (diolesi AIA dalam lanolin) sedangkan pada
ptiolus no. 2 dari bawah gugur pada hri ke-3 (diolesi lanolin) dan ke-4 (diolesi
AIA dalam lanolin). Semakin bawah letak daun maka semakin cepat proses absisi
daun. Dan juga ptiolus yang diolesi AIA dalam lanolin waktu gugurnya lebih
lama daripada ptiolus yang hanya diolesi lanolin saja.

C. Pembahasan
Berdasarkan analisis data di atas dapat diketahui bahwa ptiolus yang
diolesi AIA dalam lanolin waktu gugurnya lebih lama daripada ptiolus yang
hanya diolesi lanolin saja. Hal itu dikarenakan AIA yang memiliki struktur sama
dengan auksin berperan untuk mencegah absisi dan tetap mempertahankan proses
metabolisme daun, sehingga sel-sel terus melakukan pertumbuhan meski dalam
tubuh tumbuhannya tidak dihasilkan lagi auksin karena tangkai daun yang
dipotong tidak akan menghasilkan hormon auksin lagi. Sedangkan pada ptiolus
yang hanya diolesi lanolin saja tidak akan melakukan pertumbuhan karena auksin
telah habis sehingga terjadi proses absisi daun karena aktivitas hormon etilen dan
Karena tidak adanya penghambat bagi aktivitas kerja hormone Asam Absisat
(ABA). Dimana ABA yang berperan adalah ABA endogen yang menyebabkan
pengguguran yang terjadi lebih maksimal, selain itu juga pengaruh ABA eksogen
yang juga dapat menyebabkan pengguguran daun. Namun, ABA disini tidak
bekerja secara langsung yakni diawali dengan penuaan prematur pada sel organ
yang akan gugur.
Sebelum lamina pada daun Coleus sp. mengalami absisi maka terjadi
lapisan pemisah pada daerah absisi tersebut. Lapisan pemisah berlanjut melintasi
sel-sel parenkim di dalam berkas vaskuler. Sel-sel parenkim tempat tersebut

8
Laporan Fisiologi Tumbuhan
“Pengaruh AIA terhadap Proses Absisi Daun Coleus sp.”

membelah menjadi sel yang lebih kecil, pipih mengandung tepung dan plasmanya
kental. Sel-sel penyusun lapisan ini dindingnya larut atau bahkan seluruh selnya
hancur sehingga daun gugur akibat tenaga mekanis. Lapisan yang tersisa pada
batang akan membentuk lapisan pelindung berupa pelindung jaringan primer atau
berupa periderm. Dibawah lapisan pelindung primer kemudian diendapkan
suberin dan lignin sebagai barier keluarnya air dan masuknya infeksi penyakit.
Lapisan periderm ini bersambung dengan periderm batang. Lapisan pelindung
primer dan lapisan pelindung sekunder digunakan sebagai penutup luka akibat
tangkai daun yang gugur.
Pada bagian yang dipotong terjadi proses pembentukan lapisan absisi yang
mengandung pektinase dan selulase, sehingga lamella tengah larut dan tangkai
daun akan menjadi putus. Hubungan ikatan pembuluh yang terputus akan
tersumbat dengan terbentuknya tilosa dan gabus. Pembentukan lapisan absisi
(abscission layer) ini, kadang-kadang diikuti oleh susunan sel division proximal.
Hubungan antara absisi dengan zat tumbuh auxin, Absisi akan terjadi apabila
jumlah auksin yang ada di daerah proksimal (proximal region) sama atau lebih
dari jumlah auksin yang terdapat di daerah distal (distal region). Tetapi apabila
jumlah auksin yang berada di daerah distal lebih besar dari daerah proximal, maka
tidak akan terjadi absisi atau dengan kata lain proses absisi akan terhambat,
sehingga pada ptiolus yang hanya diolesi oleh IAA dalam lanolin terjadi
pengguguran yang lebih lama karena auksin masih berperan dalam pertumbuhan
sehingga daun belum melakukan proses absisi daun.
Sel tangkai daun tersebut dipacu untuk menghasilkan etilen yang berfungsi
untuk mempercepat pemanjangan sel batang. Etilen dan ABA mendorong
penuaan, sehingga peran ABA pada percobaan ini menyebabkan pengguguran
tangkai daun tetapi kurang efektif dibandingkan dengan etilen. Pada proses
pengguguran tangkai daun dapat disimpulkan bahwa ABA tidak berpengaruh
langsung, tetapi bekerja secara tidak langsung dengan menyebabkan penuaan
premature pada sel organ yang akan gugur. Hal tersebut akan mendorong naiknya
produksi etilen. Etilen akan mengawali proses pengguguran yang sebenarnya bagi
suatu daun, disamping itu tumbuhan akan mempunyai manfaat tersendiri yaitu
pada daun yang telah tua dapat mentransfer unsure hara ke daun yang lebih muda

9
Laporan Fisiologi Tumbuhan
“Pengaruh AIA terhadap Proses Absisi Daun Coleus sp.”

sehingga proses metabolisme pada tumbuhan terus berlangsung. Hal ini juga akan
dilakukan oleh daun-daun berikutnya setelah tua dan sebelum gugur. Oleh karena
itu pada percobaan ini daun yang terletak paling bawah dari suatu tanaman atau
daun paling tua akan segera gugur lebih dahulu daripada daun yang berada
diatasnya.
Gugurnya daun juga disebabkan oleh faktor lingkungan, termasuk panjang
hari dan suhu yang rendah. Tanaman Coleus sp. yang digunakan untuk percobaan
ini diletakkan di luar (di depan ruang kuliah fisiologi tumbuhan) sehingga sangat
memungkinkan adanya pengaruh lingkungan luar yang sangat berpengaruh
terhadap perubahan keseimbangan hormon dalam tubuh tumbuhan. Rangsangan
dari faktor lingkungan ini menyebabkan perubahan keseimbangan antara etilen
dan auksin. Auksin mencegah absisi dan tetap mempertahankan proses
metabolisme daun.
Dari percobaan ini juga didapatkan bahwa ptiolus yang diolesi lanolin
maupun AIA dalam lanolin, gugur secara tidak bersamaan. Ptiolus no.2 dari
bawah lebih lambat gugur daripada ptiolus yang paling bawah. Semakin bawah
letak daun maka semakin cepat proses absisi daun. Hal ini disebabkan karena
daun yang letaknya dekat dengan apikal memiliki kandungan auksin yang lebih
banyak, sehingga akan melakukan proses pertumbuhan bukan proses absisi daun.
Selain itu dengan bertambahnya umur daun jumlah etilen yang dihasilkan juga
akan meningkat dan sel-sel yang mulai menghasilkan etilen akan mendorong
pembentukan lapisan absisi. Selanjutnya etilen merangsang lapisan absisi terpisah
dengan memacu sintesis enzim yang merusak dinding-dinding sel pada lapisan
absisi.

D. Diskusi
Jelaskan mengapa terjadi perbedaan waktu gugur ptiolus daun pada
percobaan?
Perbedaan waktu gugur ptiolus disebabkan karena adanya pengaruh AIA
yang masih terdapat dalam tubuh tumbuhan. AIA merupakan zat tumbuh yang
strukturnya sama dengan auksin yang berfungsi merangsang pertumbuhan dengan
cara mensintesis RNA dan protein, sehingga sel tidak langsung melakukan proses

10
Laporan Fisiologi Tumbuhan
“Pengaruh AIA terhadap Proses Absisi Daun Coleus sp.”

absisi daun tetapi masih mengalami pertumbuhan. Selain itu auksin juga bisa
menghambat proses absisi daun sehingga daun tidak mudah gugur. Namun
dengan bertambahnya umur daun maka jumlah etilen yang dihasilkan semakin
meningkat sehingga mendorong pembentukan absisi daun yang diawali dengan
proses penuaan (senesensi). Sedangkan pada tangkai daun yang diolesi lanolin
saja gugurnya lebih cepat. Hal ini disebabkan lanolin merangsang terbentuknya
etilen. Etilen dapat memacu pengguguran (absisi) pada daun yang diawali dengan
proses penuaan.

11
Laporan Fisiologi Tumbuhan
“Pengaruh AIA terhadap Proses Absisi Daun Coleus sp.”

BAB V
PENUTUP
A. Simpulan

Dari percobaan yang berjudul “Pengaruh AIA terhadap Proses Absisi


Daun Coleus sp.” diperoleh simpulan yaitu pemberian AIA dapat menghambat
proses absisi daun dan proses absisi daun pada ptiolus atas lebih lama dibanding
dengan ptiolus bawah.

B. Saran
Adapun saran yang dapat diberikan yaitu sebaiknya pengamatan dilakukan
perjam sehingga hasil yang diperoleh lebih akurat, karena kemungkinan tangkai
daun yang gugur pada hari yang sama tetapi waktunya yang berbeda.

12
Laporan Fisiologi Tumbuhan
“Pengaruh AIA terhadap Proses Absisi Daun Coleus sp.”

DAFTAR PUSTAKA

A. R. Loveles. 1998. Prinsip-prinsip Biologi Tumbuhan Untuk Daerah Tropik.


Jakarta: Gramedia.
Lakitan, Benyamin. 2001. Dasar-dasar Fisiologi Tumbuhan. Jakarta: PT. Raja
Grafindo Persada.
Rahayu, Yuni Sri; Yuliani dan Lukas S. 2009. Petunjuk Praktikum Fisiologi
Tumbuhan. Surabaya: Laboratorium Fistum- Biologi- UNESA

Salisbury, Frank B. 1995. Fisiologi Tumbuhan. Bandung: ITB Bandung.

Sasmitamihardja, Dradjat, dkk. 1996. Fisiologi Tumbuhan. Bandung :


Departemen Pendidikan & Kebudayaan.

Google.2009.absisi-daun diakses tanggal 15 Mei 2009 pukul 20.20 WIB.

13
Laporan Fisiologi Tumbuhan
“Pengaruh AIA terhadap Proses Absisi Daun Coleus sp.”

14

Anda mungkin juga menyukai