Anda di halaman 1dari 33

BAB IV PENGELOLAAN BISNIS PERS

A.MANAJEMEN KEUANGAN

Manajemen keuangan media cetak dapat diartikan Sebagai


suatu aktivitas perencanaan, penggunaan, pengendalian, dan
pengawasan kegiatan keuangan yang dilakukan suatu penerbitan
pers. Masing-masing kegiatan itu memiliki peran dan
tanggungjawab yang berbeda. Namun tetap harus dalam satu
kesatuan komando, agar keluar masuk keuangan sesuai dengan
rencana dan budjet perusahaan.
Dalam perusahaan penerbitan pers, pihak yang
bertanggungjawab untuk mendapatkan dana guna kelancaran
jalannya usaha adalah Pimpinan Perusahaan yang dibantu oleh
manajer iklan, manajer sirkulasi, dan manajer bisnis. Manajer
iklan dengan para account executive harus mencari iklan untuk
dipasang di media cetak dimana mereka bekerja. Untuk
mendapatkan iklan banyak cara dilakukan. Pada intinya ada dua
langkah yaitu melalui biro iklan dan langsung kepada
perusahaan pemasang iklan.
Biro iklan berkepentingan untuk memasang iklan
kliennya sesuai dengan target yang hendak dicapai. Biro
iklan akan merekomendasikan kepada media cetak mana
iklan kliennya harus dipasang. Biro iklan yang profesional
sudah memiliki media kit masing-masing media cetak.
Media kit yang dimiliki berisi jumlah tiras media cetak, jenis
media cetak, wilayah peredaran, segmen pasar yang dibidik.
Di era globalisasi, manajemen keuangan media cetak
menjadi penting. Karena keputusan keuangan yang diambil
harus bertujuan untuk meningkatkan modal pemilik
perusahaan. Selain itu, juga ikut meningkatkan pendidikan
bangsa melalui penyajian-penyajian informasi yang akurat
dan lengkap. Bila keputusan yang diambil dalam
manajemen keuangan benar dan tepat, maka kinerja
keuangan perusahaan akan baik.
Sebagai perusahaan yang berorientasi profit,
penerbitan pers harus mampu meraih pendapatan.
Mengenai berapa besar pendapatan yang harus diraih dan
kapan harus dicapai, itu amat tergantung pada hasil
keputusan manajemen direksi. Target untuk meraih
pendapatan bisa dicanangkan sesuai jadwal yang sudah
disepakati bersama oleh semua divisi usaha.

1
Dalam tahap awal untuk terjun ke bisnis pers,
kegiatan yang perlu mendapat perhatian serius adalah
mencari sumber pendanaan untuk modal investasi dan
modal kerja. Karena menyangkut seberapa lama perusahaan
pers itu dapat terus bertahan dan menerbitkan produknya.
Pada tahap awal, sumber pendanaan berasal dari pemilik
saham pendiri yaitu investor. Investor menyediakan modal
dengan berbagai cara seperti modal sendiri, konsorsium,
atau meminjam kredit dari lembaga keuangan.
Fungsi direktur atau manager keuangan diantaranya
adalah mengendalikan segala biaya (controlling costs)
terhadap seluruh biaya kebutuhan operasional perusahaan.
ada tiga biaya yang harus dialokasikan oleh direktur atau
manager keuangan dalam sebuah penerbitan pers;

 Biaya Produksi (production expenses)


Biaya produksi adalah pengeluaran yang dikeluarkan
untuk membiayai percetakan, pembelian kertas, dan biaya
distribusi produk ke agen-agen dan pelanggan. Termasuk
didalamnya biaya retur dan penagihan. Besarnya biaya
produksi amat tergantung pada jumlah tiras yang dicetak,
kualitas kertas yang digunakan, jumlah halaman per
eksemplar, jumlah halaman berwarna, harga kertas pada
saat itu,serta frekuensi penerbitan (harian, mingguan,
bulanan).

 Gaji (salaries)
Komponen gaji yang dikeluarkan sebuah penerbitan pers
terdiri dari gaji pokok, tunjangan jabatan, tunjangan masa
kerja, tunjangan kepangkatan, uang makan, transportasi,
kesehatan, tunjangan istri dan anak, serta bonus pada
akhir tahun.
Besarnya pembayaran gaji setiap bulan tidak tetap.
Terutama pada perusahaan pers yang memiliki tenaga
freelance atau honorer. Tenaga freelance baik untuk
wartawan maupun fotografer adalah karyawan lepas yang
bekerja berdasarkan penugasan dari perusahaan. Dan
honor yang diberikan kepada freelance, berdasarkan banyak
tidaknya pekerjaan yang diselesaikan.

 Biaya lainnya
Komponen biaya lainnya adalah biaya operasional yang
harus dikeluarkan setiap bulan yang terdiri dari biaya
listrik, telepon, pembelian alat tulis kantor, biaya perjalanan
dinas, biaya promosi, biaya pemeliharaan kendaraan

2
operasional, sewa gedung, asuransi karyawan, pembayaran
utang-utang, dan pengadaan serta pemeliharaan komputer.

Memasuki tahun 2000, satu sumber pendanaan


untuk bisnis pers yang bisa digunakan yaitu pasar modal.
Harian Koran Tempo yang diterbitkan PT Karsa Muda
Laksana pada April 2001, merupakan perusahaan pers
pertama di Indonesia yang menggunakan modal awal
penerbitan dari pasar modal. Dana yang dimiliki PT Karsa
Muda Laksana untuk mendirikan Harian Koran Tempo
berasal dari 60% dari hasil penjualan saham PT Tempo Inti
Media Tbk.
PT Tempo Inti Media Tbk adalah perusahaan penerbit
Majalah Berita Mingguan Tempo, melepaskan 21,8% saham
kepada masyarakat lewat Bursa Efek Jakarta. Dari hasil
penjualan saham itu, PT Tempo Inti Media Tbk
mendapatkan dana segar Rp37,5 miliar. Dalam laporan
Prospektus PT Tempo Inti Media Tbk, dana yang diperoleh
dari pasar modal, setelah dikurangi biaya emisi saham, 60%
akan digunakan untuk investasi usaha penerbitan Koran
Tempo melalui penyertaan modal pada PT Karsa Muda
Laksana, 25% untuk pelunasan utang anak perusahaan
melalui penambahan setoran modal ke PT Temprint, dan
15% digunakan untuk penambahan modal kerja perseroan.
Majalah Berita Mingguan Tempo merupakan
penerbitan pertama di Indonesia yang berhasil go publik di
pasar modal Indonesia. Dan Harian Koran Tempo,
merupakan surat kabar pertama di Indonesia yang sumber
permodalan berasal dari masyarakat pasar modal.

A.1. Fungsi Laporan Keuangan


Perusahaan penerbitan pers bertujuan untuk
menghasilkan produk informasi dalam bentuk majalah,
surat kabar, dan tabloid. Dari sisi bisnis, tujuan dari
kegiatan produksi itu adalah untuk dijual ke pasar melalui
saluran distribusi yang dipunyai. Dari hasil penjualan
barang dan jasa itu, perusahaan akan memperoleh
penghasilan [revenue].
Pendapatan perusahaan merupakan perkalian
antara harga jual media cetak dengan jumlah tiras media
cetak yang berhasil dijual ke pasar. Semakin besar jumlah
produk yang laku terjual di pasar, akan semakin besar pula
penghasilan perusahaan. Jumlah pendapatan yang
diperoleh perusahaan, belum mencerminkan apakah

3
perusahaan itu memperoleh laba atau tidak. Karena itu
berkaitan pula dengan jumlah produk yang tidak terjual.
Laba adalah selisih antara penghasilan dengan biaya
[cost]. Secara sederhana, laba ditentukan oleh besar
kecilnya perbedaan antara penghasilan yang diterima
dikurangi dengan biaya yang dikeluarkan. Perbedaan ini
dapat dilihat secara total, dan dapat pula tiap kesatuan
barang dan jasa yang dihasilkan .
Analisis laporan keuangan bagi perusahaan sangat
penting untuk mengetahui keadaan dan perkembangan
kinerja keuangan. Hal itu juga berlaku bagi perusahaaan
pers. Dalam menganalisa laporan keuangan, ada tiga hal
yang selalu dikupas yaitu neraca, laporan rugi laba, dan
perubahan akan modal atau ekuitas perusahaan. Setelah
membaca laporan keuangan perusahaan pers, akan
diketahui sejauh mana perkembangan keuangan
perusahaan pers. Dan masing-masing bagian, setelah
membaca laporan keuangan tersebut dapat melakukan
berbagai aksi, sesuai dengan fungsi jabatannya.

A.2.Bagi investor, pemilik perusahaan, dan pemegang


saham
 Dapat menentukan apakah perusahaan itu dapat
dilanjutkan kelangsungan bisnisnya atau tidak.
 Dapat menentukan besar gaji, bonus, dan tunjangan kepada
direksi dan karyawan
 Dapat menentukan apakah perlu menyuntikkan modal baru
atau tidak
 Dapat menentukan apakah perusahaan ini dijual kepihak
lain atau tidak

A.3.Bagi Direksi dan Manajer

 Untuk menyusun rencana kerja bisnis tahunan


 Untuk menyusun pengembangan bisnis
 Untuk menentukan apakah perlu penambahan karyawan
atau tidak
 Untuk menentukan apakah perlu melakukan investasi atau
tidak
 Untuk menentukan apakah perlu melakukan pinjaman baru
ke bank atau tidak
 Untuk menentukan standardisasi akomodasi, transportasi,
uang saku bagi karyawan/wartawan yang bertugas ke luar
kota atau keluar negeri

4
 Untuk menentukan budjeting anggaran masing-masing
bagian usaha

A.4.Bagi kreditur

 Dapat menentukan apakah akan memberikan pinjaman


atau tidak kepada perusahaan pers
 Dapat menentukan apakah pinjaman akan diperbesar atau
dihentikan
 Memudahkan kreditur melakukan restrukturisasi
 Menentukan apakah kreditur perlu menempatkan
perwakilan di perusahaan tersebut

TABEL V
 CONTOH NERACA PERUSAHAAN PERS

PT Media Sucahya Pers


Neraca
Per 31 Desember 2002
(dalam ribuan rupiah)

2001
AKTIVA
Aktiva Lancar
Kas dan setara kas Rp 19.000
Piutang
-Usaha Rp1.200.000
-Afiliasi Rp1.150.000
-Lain-lain Rp 180.000
Persediaan Rp 20.000
Uang Muka Rp 200.000
Rp2.769.000
Aktiva Tetap
Harga Perolehan
-Peralatan Rp1.000.000
-Kendaraan Rp 20.000
Akumulasi Penyusutan Rp ( 500.000)
Rp 520.000
Aktiva lain-lain
Biaya Pra-operasi-bersih Rp 300.000
Jaminan Rp -
Aktiva Sewa Guna Rp -
Usaha-bersih

5
Rp 300.000
Total aktiva Rp 3.589.000

KEWAJIBAN DAN EKUITAS


Kewajiban Lancar
Utang Bank Jangka Rp 200.000
pendek
Utang:
-Usaha Rp 2.000.000
-Afiliasi Rp 500.000
-Lain-lain Rp 20.000
Biaya masih harus Rp 1.000.000
dibayar
Utang Pajak Rp 1.000.000
Uang Muka Rp -
Utang Jangka Panjang Rp -
Rp 4.520.000
Kewajiban Jangka Panjang
Utang afiliasi Rp 1.000.000
Utang Sewa Guna Usaha Rp 1.000.000
Rp 2.000.000
Ekuitas
Modal disetor Rp 8.000.000
Agio Saham Rp 60.000
Laba Ditahan (defisit) Rp 100.000
Laba (Rugi) tahun Rp 3.000.000
berjalan
Rp 11.160.000
Total kewajiban dan ekuitas Rp6.520.000+Rp11.160.00
0=Rp17.680.000

 TABEL VI
 CONTOH LAPORAN LABA-RUGI

PT MEDIA SUCAHYA PERS


LAPORAN LABA-RUGI
31 DESEMBER 2002
(DALAM RIBUAN RUPIAH)

PENJUALAN BERSIH Rp10.000.000


BIAYA PRODUKSI

6
-Pembelian kertas Rp1.100.000
-Ongkos Cetak Rp 700.000
-Pracetak Rp 100.000
-Redaksi Rp1.300.000
Jumlah biaya produksi Rp 3.200.000
LABA (RUGI) KOTOR Rp10.000.000-
Rp3.200.000=
Rp6.800.000
BIAYA OPERASI:
Biaya Penjualan:
-Sirkulasi Rp 500.000
-Iklan dan Promosi Rp 200.000
Biaya Umum dan Administrasi Rp1.200.000
Rp1.900.000
LABA (RUGI) OPERASI Rp6.800.000-
Rp1.900.000=
Rp4.900.000
PENDAPATAN (BEBAN) NON
OPERASI
Laba (rugi) penjualan aktiva Rp 200.000
Pendapatan lain-lain Rp300.000
Beban lain-lain Rp -
Rp 500.000

LABA (RUGI) SEBELUM PAJAK Rp 5.400.000

B. PETA IKLAN NASIONAL

Salah satu sumber penting pendapatan media cetak adalah


iklan baik berbentuk display, iklan baris, pariwara, atau
advertorial. Tanpa memperoleh iklan, sebuah penerbitan sulit
untuk mengembangkan diri. Setelah iklan dimuat, penerbit akan
menagih kepada biro advertising atau perusahaan pemasang
iklan. Karena itu, pengelolaan media cetak yang sehat adalah yang
mampu meraih iklan sebanyak-banyaknya atau porsi iklan
mencapai 30%-40% dari total halaman yang tersedia.
Majalah Asiaweek merupakan salah satu contoh pengelolaan
media cetak yang gagal meraih pendapatan dari iklan, dan
memilih untuk tidak terbit. Time Inc pada November 2001
memutuskan untuk menghentikan penerbitan majalah Asiaweek
dan Family Life, sehubungan dengan menurunnya iklan di kedua
majalah tersebut. Padahal dari segi sirkulasi, majalah mingguan
Asiaweek yang terbit pada tahun 1975 sudah memiliki tiras

7
120.000 setiap terbit. Meski jumlah penjualan majalah Asiaweek
sudah cukup tinggi, tapi manajemen Time Inc. menilai prospek
masa depan majalah tersebut tidak bagus. Komposisi pendapatan
yang hanya mengandalkan penjualan sirkulasi, tidak akan
memperkuat posisi keuangan majalah. Karena itu, begitu
pendapatan iklan majalah Asiaweek menurun, Time Inc. memilih
untuk menghentikan penerbitan.
Produk iklan terbagi dalam berbagai kategori seperti
consumer good, farmasi (obat-obatan, vitamin, supplement),
otomotif, bahan bangunan, fashion, aksesoris, makanan,
minuman, produk keuangan (bank, asuransi, dana pensiun),
restoran, kosmetika. Bagi media cetak yang bersifat umum,
seperti harian Kompas, Media Indonesia, Koran Tempo, Majalah
Tempo, Majalah Gatra dapat menggaet seluruh kategori produk
iklan. Sehingga peluang untuk mendapatkan iklan lebih banyak
dan lebih besar.
Tapi bagi media cetak yang memiliki segmen pembaca
tertentu, potensi pemasang iklan akan dikaitkan dengan jenis
majalah tersebut. Bagi media cetak wanita seperti majalah
Femina, Gadis, Kartini, Tabloid Nova pemasang iklannya adalah
fashion wanita, aksesoris wanita, kosmetika, dan berbagai produk
yang berhubungan dengan wanita. Begitu juga bagi media cetak
otomotif seperti tabloid otomotif, tabloid Otosport, Majalah F-1,
pemasang iklannya adalah produsen otomotif, komponen dan
suku cadang kendaraan, serta aksesoris kendaraan.
Melihat hal itu, maka para account eksekutif media cetak
harus lebih dulu menyadari siapa segmen pasar yang akan
dibidik. Setelah itu, barulah disesuaikan dengan jenis iklan media
cetak tersebut. Adanya keselarasan antara jenis media cetak dan
jenis produk iklan, memudahkan para account eksekutif dalam
menjalankan pekerjaan untuk meraih iklan.
Melihat betapa besarnya peran pemasukan dari iklan terhadap
pendapatan sebuah media cetak, maka kapabilitas dan talenta
manajer iklan amat penting dalam memenuhi terket iklan. Karena
itu, John Warton dalam Managing Magazine Publising (1992)
menulis tugas seorang manager iklan adalah:

 Membantu memformulasikan kebijakan redaksi


 Membantu memformulasikan kebijakan penjualan majalah
dan iklan
 Mengimplementasikan kebijakan iklan
 Membantu mempersiapkan materi promosi untuk iklan
 Turut merekrut, memberikan pelatihan dan contoh
kedisiplinan bagi staf penjualan
 Menentukan target iklan

8
 Memonitor staf iklan
 Menjaga hubungan dngan klien-klien yang berpotensi
untuk memasang iklan
 Terus menginformasikan kepada redaksi apa saja keinginan
dan kebutuhan pemasang iklan
 Memelihara area penjualan

Untuk memudahkan pemasang iklan dalam memasang


iklan di media cetak, manager iklan harus menyiapkan seluruh
produk iklan yang dibuat secara rinci dan detil. Adapun hal-hal
yang harus dipersiapkan manajer iklan berkaitan dengan
penempatan pemasangan iklan untuk memuaskan konsumen
adalah:

 Bentuk iklan: pariwara, iklan mini, iklan keluarga, berita


duka cita, iklan display, sponsor rubrik, sponsor kuping,
iklan kolom, iklan khusus, Iklan centre spread
 Ukuran iklan: 1 halaman, ½ halaman, ¼ halaman, 1/3
halaman, Y kolom x y mmk (milimeter kolom)
 Harga iklan FC (full colour) dan BW (black and White)
 Disebutkan apakah harga iklan sudah termasuk 10% PPN
atau belum
 Keterangan bahwa Iklan Centre Spread (minimal 18 kolom x
120 mmk) ada tambahan biaya 20%
 Penjelasan bahsa iklan pariwara belum termasuk biaya
penulisan dan proses kreatif
 Permintaan halaman khusus untuk iklan FC dikenakan
biaya tambahan 10-30%
 Materi iklan dipersiapkan oleh biro iklan pemasang iklan
 Membuat batas waktu tenggat (dead line) penyerahan materi
iklan untuk dimua
 Membuat batas waktu tenggat (dead line) pembatalan iklan.
Misalnya tenggat untuk iklan FC 5 hari sebelum pemuatan
dan iklan BW 3 hari sebelum pemuatan.
 Membuat biaya pembatalan iklan yang telah melewati batas
waktu (dead line) misalnya dikenakan 25% dari gross
 Membuat peraturan biaya pembatalan pemasangan iklan
sehari sebelum tanggal pemuatan. Karena halaman untuk
iklan tersebut sudah dipersiapkan, maka biaya pembatalan
sehari sebelum tanggal pemuatan adalah 100%.
 Penerbit tidak bertanggungjawab bila ada tuntutan hukum
atau finansial terhadap iklan yang dimuat. Seluruh
tanggungjawab akibat pemasangan iklan tersebut, berada di
pemasang iklan.

9
 Prosedur pembayaran iklan: tunai, cek, giro.

B.1.Anggaran Belanja Iklan


Belanja iklan yang dikeluarkan produsen setiap tahun di
Indonesia terus bertambah, kecuali pada tahun 1998. Saat itu,
krisis ekonomi mulai melanda Indonesia, yang menyebabkan
banyak perusahaan-perusahaan mengetatkan atau
menghilangkan biaya promosi. Tapi tahun 1999, belanja iklan
mulai naik kembali meski tidak sebaik tahun-tahun sebelumnya.
Produsen memandang, tahun 1999 ekonomi sudah mulai
membaik dari tahun sebelumnya. Karena itu, banyak produsen
yang mulai menambah biaya promosi untuk memperkenalkan
produknya ke masyarakat. Produsen khawatir bila tidak
melakukan promosi sama sekali, konsumen malah akan
meninggalkannya. Dan akan beralih ke produk lain. Maka dengan
pertimbangan adanya kekhawatiran konsumen akan berpindah ke
produk lain, produsen pun kembali memasang iklan.
Pada tahun 1996, total belanja iklan nasional sebesar
Rp4,140 triliun dan tahun 1997 naik menjadi Rp5.094 triliun.
Pada tahun 1998, belanja iklan turun menjadi Rp3,757 triliun.
Selanjutnya belanja iklan mulai membaik, seiring dengan mulai
pulihnya ekonomi nasional. Pada tahun 1999, belanja iklan
mencapai Rp5,612 triliun dan tahun tahun 2000 naik menjadi
Rp6,927 triliun. Sedangkan tahun 2001 belanja iklan naik
menjadi Rp9,7 triliun.
Belanja iklan yang dikeluarkan para produsen dialokasikan
untuk surat kabar, majalah, tabloid, televisi, radio, bioskop, dan
media luar ruang. Televisi merupakan media massa yang
memperoleh iklan terbesar. Setelah itu baru diikuti surat kabar,
majalah, media luar ruang, radio, dan tabloid.
Surat kabar pada tahun 1997 meraih belanja iklan Rp1,540
triliun (30,2%) dan tahun 1998 turun menjadi Rp956 miliar
(25,4%). Pada tahun 1999 perolehan surat kabar dalam meraih
belanja iklan naik kembali menjadi Rp1,415triliun (25,2%). Dan
tahun 2000 kembali naik menjadi Rp1,803 triliun (26%) dan
tahun 2001 Rp2,7 triliun.
Majalah pada tahun 1997 meraih belanja iklan Rp235
miliar(4,6%) dan tahun 1998 turun menjadi Rp133 miliar (3,5%).
Pada tahun 1999, iklan yang dipasang pada majalah mengalami
kenaikan menjadi Rp194 miliar (3,5%). Dan tahun 2000 kembali
naik menjadi Rp266 miliar (3,8%) dan tahun 2001 menjadi Rp
592 miliar.
Tabloid pada tahun 1997 meraih belanja iklan Rp76
miliar(1,5%), dan tahun 1998 turun menjadi Rp58 miliar (1,5%).
Pada tahun 1998 produsen yang memasang iklan di tabloid naik

10
menjadi Rp98 miliar (1,7%) dan tahun 2000 naik lagi menjadi
Rp133 miliar (1,9%).

Melihat peta belanja iklan nasional, porsi terbesar diterima


surat kabar. Setelah itu majalah dan tabloid. Besarnya belanja
iklan yang cukup besar pada surat kabar itu, diperebutkan oleh
banyak pemain yaitu 299 buah surat kabar nasional dan daerah.
Ada beberapa hal yang menyebabkan belanja iklan lebih banyak
disalurkan ke surat kabar:

1. Surat kabar lebih fleksibel dalam menentukan jadwal


pemasangan iklan dibanding majalah atau tabloid. Pemasang
iklan dapat menyesuaikan waktu pemasangan iklan dengan
acara-acara khusus yang sudah mereka agendakan
sebelumnya. Misalnya , pemasangan iklan bersamaan dengan
peluncuran produk terbaru. Atau pemasangan iklan bertepatan
dengan hari ulang tahun perusahaan atau saat perusahaan
menerima penghargaan khusus. Contoh HUT perusahaan jatuh
pada hari Sabtu, tanggal 5 Januari 2002, maka pada
perusahaan itu dapat memasang iklan pada edisi penerbitan
waktu tersebut.
Majalah atau tabloid memiliki jadwal terbit berkala
mingguan, dua mingguan, atau bulanan. Kondisi ini membuat
perusahaan sulit menyesuaikan waktu pemasangan iklan
denga agenda acara tertentu. Karena jadwal terbit majalah atau
tabloid tidak bersamaan dengan waktu pemasangan iklan yang
diinginkan produsen.

2. Surat kabar memiliki halaman yang lebih luas dibanding


majalah atau tabloid. Karakteristik jumlah halaman yang luas
ini membuat produsen dapat memasang iklan sesuai budjet
keuangan yang dimiliki. Bila produsen merasa perlu untuk
mempromosikan produk secara gencar, maka akan
mengiklankan produk seluas halaman surat kabar. Sebaliknya,
bila perusahaan memiliki dana promosi terbatas, maka hanya
akan memasang iklan dengan halaman yang kecil atau
memasang iklan baris yang biayanya lebih murah.

3. Harga jual suratkabar lebih murah dibanding harga jual


majalah dan tabloid. Harga rata-rata surat kabar adalah
Rp1.500-Rp2.500 per eksemplar, harga rata-rata majalah
Rp10.000-Rp15.000 per eksemplar, dan harga rata-rata tabloid
Rp2.500-Rp5.000 per eksemplar. Harga surat kabar yang jauh
lebih murah, membuat sebagian besar mayoritas masyarakat
mampu membeli surat kabar dibanding majalah atau tabloid.

11
4. Jenis produk iklan yang ditawarkan surat kabar lebih
bervariasi dan banyak ragamnya. Sehingga produsen mudah
menyesuaikan nilai iklan dengan anggaran promosi yang
tersedia. Bila dana promosi cukup besar, produsen akan
memasang iklan di halaman yang lebih luas dan frekuensinya
lebih sering. Sebaliknya, bila produsen hanya memiliki
anggaran promosi sedikit, akan memasang iklan dengan
jumlah halaman yang kecil. Adapun jenis-jenis space iklan
yang ditawarkan surat kabar adalah: iklan baris, iklan display,
pariwara, iklan paket hemat, iklan keluarga, iklan duka cita.

Manfaat Iklan Mini atau iklan baris adalah:


 Dapat mengiklankan produk secara serial atau bersambung
selama frekuensi waktu tertentu yang diperlukan sesuai
anggaran yang tersedia.
 Iklan mini/baris bisa dipasang menurut kelompok produk
barang/jasa yang dipasarkan. Sehingga pembaca langsung
bisa mencari iklan produk yang sesuai kebutuhan mereka
 Iklan mini/barais dapat mempromosikan barang atau jasa
yang memiliki pasaran terbatas seperti kursus membuat
kue, les privat, komputer bekas, handphone bekas, dan
perumahan sederhana/murah.
 Iklan baris/iklan mini memungkinkan produsen yang
memiliki aneka macam produk mengiklankan masing-
masing produknya sesuai kategori iklan.
 Iklan baris/iklan mini memudahkan produsen yang
memiliki produk dengan beragam kegunaan, dengan
mengiklankan satu manfaat produk per hari. Bila produk
tersebut memiliki 5 kegunaan, bila masing-masing
kegunaan ditampilkan setiap hari, maka masa beriklan
adalah 5 hari.
 Iklan mini/iklan baris dapat berfungsi sebagai pembuka
jalan bagi tim salesman untuk mengunjungi calon pembeli
atau klien dengan membawa potongan iklan tersebut.

Para pemasang iklan di surat kabar memiliki latar belakang


yang beragam dengan kepentingan yang berbeda pula. Jenis
pemasang iklan itu adalah perusahaan, yayasan, individu,
lembaga kursus, pengacara, broker, bengkel dll. ibarat kapal
laut, surat kabar itu seperti kapal induk, yang mampu
mengangkut berbagai peralatan perang dengan jumlah awak
kapal yang begitu banyak. Bagi perusahaan, memasang iklan
untuk melakukan promosi produk , membuka lowongan
pekerjaan, dan memberikan pengumuman. Bagi individu,

12
memasang iklan untuk menjual rumah, mencari pekerjaan,
mencari partner kerja, jual beli komputer, jual beli telepon,

5. Persebaran surat kabar jauh lebih luas dan merata ke seluruh


pelosok tanah air dibanding majalah atau surat kabar.
Sirkulasi surat kabar mampu menjangkau tempat setingkat
kelurahan, desa, atau perkampungan. Masyarakat di tingkat
desa, kelurahan, atau perkampungan masih memiliki daya beli
untuk mendapatkan surat kabar, karena harganya lebih
murah. Hukum ekonomi pun berlaku, dimana ada permintaan
sebuah produk, pedagang akan mengirim produk ke wilayah
tersebut.

TABEL VII
BELANJA IKLAN MENURUT TIPE MEDIA (RP Miliar)

Media 1997 1998 1999 2000 2001


Nilai % Nilai % Nilai % Nilai % Nilai
Surat kabar 1.540 30,2 956 25,4 1.415 25,2 1.803 26 2.775

Majalah 235 4,6 133 3,5 194 3,5 266 3,8 592
Tabloid 76 1,5 58 1,5 98 1,7 133 1,9 Di majalah
Radio 206 4 136 3,6 187 3,3 215 3,1 341
Televisi 2.678 52,6 2.213 58,9 3.449 61,5 4.201 60,1 5.821
Bioskop 9 0,2 * * * * * *
Outdoor 350 6,9 261 6,9 269 4,8 309 4,5 188

Total 5.094 100 3.757 100 5.612 100 6.927 100 9.717

Sumber: AC Nielsen
• Data tak ada

TABEL VIII
PERBANDINGAN TARIF IKLAN MAJALAH NASIONAL

TARIF IKLAN INSIDE PAGE FULL COLOR (RP.000, GROSS,


EXC. PPN)
No Media 1998 1999 2000
1 Tempo 13.200 14.000 18.000
2 Gatra 13.000 13.000 14.000
3 Gamma - 13.000 13.000

13
4 Forum 9.750 11.900 11.900
5 Panji - 8.500 10.500
6 Femina 11.900 13.000 14.900
7 Matra 10.000 11.000 12.500
9 Swasembada 9.500 10.500 11.000

Sumber: Prospektus PT Tempo Inti Media Tbk

TABEL IX
PERBANDINGAN TARIF IKLAN SURAT KABAR TAHUN 2002
(Rp/mmk)

JENIS IKLAN KOMPAS BISNIS MEDIA INDONESIA


INDONESIA
BW FC BW FC BW FC
Display - - 21.000 32.000 21.000 23.000
Berita keluarga 26.000 - 14.000 25.000 12.500 -
Iklan Baris 36.000 45.000 21.000 - 14.000 -
Iklan Kolom 27.000 - 17.000 - 12.000 -
Laporan Keuangan - - 12.000 21.500 14.000 29.00
Advertorial 30.000 48.000 - - 21.000 29.000
Iklan kreatif 45.000 50.000 26.000 40.000 31.000 34.000
Centrespread - 55.000 25.000 38.000 31.000 43.000
Halaman 1 150.000 250.000 42.000 64.000 58.000 83.000
Sponsor rubrik 60.000 - - - - -

*Harga belum termasuk PPN


*Sumber: Diolah dari pengumuman harga iklan Kompas, Media
Indonesia, Bisnis Indonesia tahun 2002

14
C.PERS DAN PASAR MODAL

C.1.Media Cetak sebagai wahana penyampai informasi


Bapepam mewajibkan perusahaan yang sudah go publik
( emiten) menyampaikan informasi-informasi yang benar dan
akurat kepada masyarakat. Penyembunyian informasi, manipulasi
informasi, penyebaran kebohongan informasi merupakan hal-hal
yang tidak diperbolehkan dalam pasar modal. Karena itu akan
mempengaruhi pergerakan harga saham.
Untuk menghindari masalah-masalah itu, berbagai kegiatan
emiten mulai dari diversifikasi usaha, penandatangan kontrak-
kontrak baru, penandatanganan suatu kerjasama, charity
program, perubahan manajemen, laporan keuangan, rencana
RUPS, Hasil RUPS disampaikan kepada Bapepam dan
dikomunikasikan melalui pers. Bentuk penyampaian informasi
dan berita itu berbagai cara seperti membuat press release dan
dikirimkan kepada media cetak, mengadakan konferensi pers,
mengundang wartawan pada acara yang bersangkutan, atau
mengundang wartawan melakukan kunjungan kerja ke pabrik.
Penyampaian informasi melalui salah satu acara tersebut,
membuat informasi yang ingin disampaikan melalui media cetak
sesuai yang diinginkan emiten. Sehingga para pelaku di pasar
modal, dapat mengetahui informasi yang sebenarnya melalui
media cetak yang menulis berita tersebut.

C.2.Pers sebagai alat penegakan peraturan pasar modal


Bapepam (Badan Pengawas Pasar Modal) dalam
menegakkan asas transparansi dan accoutabilitas emiten
(perusahaan yang go publik), menjadikan media cetak sebagai
salah satu bagian dari Bapepam untuk mengawasi emiten. Bentuk
pengawasan itu adalah adanya kewajiban bagi emiten untuk
menginformasikan melalui media cetak mengenai laporan
keuangan, pengumuman rencana Rapat Umum Pemegang Saham,
prospektus, dan pengumuman hasil RUPS.
Untuk menjalankan peraturan Bapepam tersebut, emiten
harus menggunakan media cetak untuk menyampaikan
pengumuman-pengumuman tersebut kepada masyarakat dalam
bentuk pemasangan iklan. Bentuk pemberitahuan dalam bentuk
iklan itu luasnya tergantung pada jenis pengumuman. Untuk
iklan prospektus antara 1/5 halaman-4 halaman. Iklan
pengumuman RUPS, Iklan pengumuman hasil RUPS, iklan
laporan keuangan luasnya ¼ halaman-1 halaman surat kabar.
Fungsi media cetak dalam hal ini adalah menegakkan
peraturan pasar modal. Karena pengumuman yang harus

15
disampaikan melalui media cetak, merupakan salah satu sistem
dari peraturan pasar modal Indonesia. Bila hal itu tidak
dilakukan oleh emiten, Bapepam dapat memberikan sanksi
kepada emiten yang dianggap telah melanggar peraturan.
Hubungan yang terjadi antara media cetak dan pasar modal
Indonesia tidak hanya bersifat profesional antar dua lembaga.
Dimana media cetak menyampaikan informasi-informasi mengenai
aktivitas pasar modal Indonesia, dan pelaku pasar modal
Indonesia menyampaikan informasi-informasi yang terjadi di
lantai bursa Indonesia. Tapi juga media cetak dijadikan salah satu
wahana bagi Bapepam untuk menegakkan peraturan yang harus
ditaati para pelaku pasar bursa Indonesia.

C.3.Pasar Modal Target Penjualan Iklan


Media cetak menjadikan pemain dan pihak-pihak yang
terkait di pasar modal sebagai target untuk mencari iklan. Pasar
modal merupakan pasar yang cukup potensial sebagai objek
sumber pendapatan baik untuk penjualan produk atau
mendapatkan iklan. Pihak-pihak yang dapat dijaring untuk
memasang iklan dan membeli produk adalah Bapepam, emiten,
sekuritas, pialang, dan perusahaan pendukung aktivitas pasar
modal.
Perusahaan pendukung adalah pihak yang tidak terlibat
langsung dalam transaksi jual beli saham, tapi ikut mendukung
dalam setiap terjadinya transaksi. Perusahaan yang dimaksud
adalah penyedia informasi: internet, kantor berita: Teknologi
Informasi: komputer, jaringan

C.4.Media Cetak sebagai sumber data dan informasi pasar


modal
Para pelaku di pasar modal seperti investor, pialang, analis
sebelum memutuskan suatu transaksi jual dan beli akan melihat
data dan informasi saham yang akan ditransaksikannya. Data
atau informasi yang dibutuhkan adalah yang bersifat kuantitatif
atau dalam bentuk tabel, grafik, dan data primer. Data kuantitatif
yang dibutuhkan seperti harga saham emiten, suku bunga
perbankan, suku bunga obligasi, Indek Harga Saham Gabungan,
profil emiten. Data atau informasi yang dimaksudkan tersebut,
disajikan oleh media cetak secara rutin setiap hari sebanyak 1-3
halaman surat kabar. Halaman yang menyajikan data dan
informasi kuantitatif itulah yang digunakan para investor untuk
melakukan aksi jual atau beli terhadap suatu saham.

C.5.Media Cetak sebagai second opinion untuk mengambil


keputusan

16
Para pemain di pasar modal, membutuhkan berbagai
masukan untuk mengambil suatu keputusan sell atau buy
terhadap satu saham. Salah satu bahan masukan yang
dibutuhkan adalah analisa dan pandangan para pengamat pasar
uang, perbankan, dan ekonomi yang dimuat di surat kabar,
majalah, atau tabloid. Pandangan yang ditulis oleh media cetak
terhadap perkembangan ekonomi, politik, dan pasar modal
bersumber dari data dan analisa yang telah dimiliki. Selain itu,
latar belakang pendidikan dan pengalaman para nara sumber
yang dijadikan sumber berita penulisan, membuat nilai tulisan
menjadi berbobot dan memiliki tingkat akurasi yang cukup tinggi.
Sehingga analisa para pengamat tersebut, hampir mendekati
kenyataan yang terjadi di pasar modal.
Beranjak dari itulah, maka para investor di pasar modal
akan menjadikan pandangan para pengamat itu sebagai salah
satu rujukan untuk mengambil keputusan. Namun tentu saja,
analisa yang ditulis di surat kabar hanya dijadikan sebagai second
opinion atau hanya sekadar menguatkan bahwa analisa yang
diambil oleh para penasehat keuangan hampir sama dengan yang
ditulis para pengamat di media cetak. Sehingga bila rekomendasi
yang diberikan para penasehat investasi di pasar modal sama
dengan rekomendasi yang dikeluarkan pengamat di media cetak,
investor tidak akan ragu-ragu lagi dalam mengambil keputusan
saat menjual, menahan, atau membeli suatu saham atau obligasi.
Sebaliknya bila rekomendasi yang dikeluarkan para
penasehat investasi tidak sama dengan rekomendasi yang ditulis
para pengamat di media cetak, investor akan bertindak lebih hati-
hati dalam melakukan eksekusi suatu transaksi.

D.LANGKAH PERS MENJUAL SAHAM


Manajemen keuangan media cetak sejak awal harus sudah
dipersiapkan untuk meningkatkan nilai perusahaan. Agar pada
saat perusahaan itu dijual, nilainya cukup tinggi. Perlunya
persiapan itu, karena sumber pendanaan lewat pasar modal
sudah terbuka lebar. Dan siapapun kini memungkinkan menjual
sahamnya di pasar modal. Apalagi kini persyaratan untuk go
publik tidak terlalu sulit lagi. Bahkan bagi perusahaan yang masih
rugi, sudah dapat go publik.

Persyaratan dan prosedur pencatatan saham berdasarkan


Nomor I-B:

A.Persyaratan Pencatatan Awal Papan Utama


 1.Pernyataan pendaftaran yang diajukan ke Bapepam sudah
efektif

17
 2.Masa berdiri perusahaan minimal 3 tahun
 3.Masa operasi perusahaan tiga tahun berturut-turut dalam
core business yang sama
 4.Laporan Keuangan audita selama tiga tahun
 5.Opini atas Laporan Keuangan Audit WTP (Wajar Tanpa
Pengecualian) dua tahun
 6.Aset perusahaan minimal Rp300 miliar
 7.Laba usaha minimal dua tahun
 8.Laba sebelum pajak minimal Rp20 miliar pada tahun terakhir
 9.Kumulatif laba sebelum pajak minimal Rp30 miliar untuk
dua tahun terakhir
 10.Arus kas operasional harus positif
 11.Kontribusi pendapatan/penjualan dari bidang usaha utama
terhadap total pendapatan/penjualan minimal 60% dari total
pendapatan/penjualan
 12.Saham yang dimiliki oleh pemegang saham bukan
pengendali minimal 100 juta saham atau 35% dari modal
disetor
 13.Jumlah pemegang saham minimal 1.000 pemegang saham
 14.Harga penawaran atau harga pasar bagi perusahaan
tercatat di bursa lain minimal 100 kali satuan fraksi harga
(fraksi harga sama dengan 1% dari harga sama dengan Rp5)

II. Persyaratan Pencatatan Awal Papan Pengembangan


 1.Pernyataan pendaftaran yang diajukan ke Bapepam Efektif
 2.Masa berdiri perusahaan 12 bulan
 3.Masa beroperasi minimal 6 bulan penuh berturut-turut pada
core business yang sama
 4.Laporan Keuangan Auditan minimal untuk jangka waktu 12
bulan
 5.Opini atas Laporan Keuangan Auditan WTP (wajar tanpa
pengecualian) minimal satu tahun atau sekurang-kurangnya
12 bulan
 6.Aset perusahaan minimal Rp10 miliar
 7.Laba usaha boleh rugi. Kerugian mempunyai kecenderungan
menurun secara sifnifikan dari waktu ke waktu
 8.Saham yang dimiliki oleh pemegang saham bukan pengendali
minimal 50 juta saham atau 35% dari modal disetor
 9.Jumlah pemegang saham 500 pemegang saham
 10. Harga penawaran atau harga pasar bagi perusahaan
tercatat di bursa lain minimal 20 x satuan fraksi harga (fraksi
harga =5% dari harga=Rp5)
 11.Perjanjian penjaminan emisi full commitment

18
(Persyaratan Prosedur Pencatatan Saham, Jakarta Stock
Exchange, 25 Oktober 2000)

Melihat peraturan tersebut, tidak mudah bagi penerbitan


pers untuk meraih dana dari pasar modal. Karena persyaratan
yang dibuat otoritas pasar modal, mensyaratkan perusahaan pers
tersebut harus dikelola secara profesional. Perusahaan pers
tersebut harus mempunyai sistem organisasi yang rapih,
wartawan yang berkualitas dan menegakkan etika profesi,
didukung tim pemasaran yang tangguh, memiliki tim penjualan
yang tangguh, dan manajemen pengelolaan keuangan yang
mengikuti standar-standar baku akuntansi.
Untuk menjual saham di pasar utama, persyaratannya
adalah perusahaan pers harus berdiri paling lama tiga tahun dan
harus sudah mampu mencetak laba dua tahun berturut-turut.
Mengacu pada peraturan itu, maka penerbitan media cetak harus
sudah meraih untung, dua tahun sebelum melakukan go publik.
Dan peraihan untung itu harus dipertahankan secara terus
menerus setiap tahun. Laba sebelum pajak pada tahun terakhir
harus mencapai Rp20 miliar. Bila dihitung per bulan, maka
perusahaan media cetak harus meraih laba sebelum pajak
mencapai minimal Rp1,666 miliar (Rp20 miliar:12 bulan).
Persyaratan lain perusahaan untuk go publik adalah harus
mempunyai aset minimal Rp300 miliar. Bagi perusahaan pers,
persyaratan pada point ini cukup berat. Karena perusahaan pers
merupakan perusahaan jasa yang bergerak dalam bidang
penyediaan informasi. Maka aset yang dimiliki adalah komputer,
kendaraan roda empat, alat tulis kantor, komputer scanner,
macintosh, kamera, dan SDM. Sedangkan gedung untuk kantor
dan tempat percetakan, dapat menyewa pada pihak ketiga. Jadi
melihat aset penerbitan pers, dengan tidak memasukkan nilai
gedung dan percetakan, nilai aset tersebut tidak akan mencapai
Rp300 miliar.
Misalnya sebuah perusahaan pers memiliki 100 karyawan,
kebutuhan komputer 70% atau 70 orang. Dengan menghitung
harga komputer Rp4 juta, aset untuk komputer hanya Rp280 juta.
Kendaraan yang dimiliki 30 unit, dengan harga Rp100 juta per
unit menjadi Rp3 miliar. Maka aset perusahaan pers itu paling
besar di bawah Rp10 miliar. Kecuali bila perusahaan media cetak
itu memiliki aset lain seperti tanah, gedung perkantoran, pabrik
kertas, mesin percetakan. Maka bila aset tersebut dimiliki,
perusahaan pers dapat memiliki aset mencapai Rp300 miliar.
Sebagai gambaran saja, aset PT Tempo Inti Media Tbk
perusahaan penerbit majalah berita mingguan Tempo pada tahun
2000 sebesar Rp76 miliar. Padahal Majalah Tempo merupakan

19
salah satu penerbitan pers terbesar di Indonesia. Melihat
gambaran itu, agak sulit bagi penerbitan pers untuk go publik
pada papan utama. Kecuali bila dilakukan penerbitan pers yang
cukup berpengalaman seperti Grup Kompas Gramedia. Grup
Kompas Gramedia tidak hanya berbisnis menerbitkan media
cetak, tapi juga sudah masuk ke hotel, mesin percetakan,
penerbitan buku, lembaga pendidikan, dan internet.

Go Publik di Papan Kedua


Peluang untuk meningkatkan modal adalah masuk ke
papan pengembang. Persyaratan untuk masuk ke papan kedua,
relatif lebih ringan dibanding harus masuk ke papan utama. Dari
segi aset, perusahaan hanya diharuskan memiliki kekayaaan
minimal Rp10 miliar. Aset sejumlah itu, tidaklah terlalu sukar
untuk dipenuhi. Aset sejumlah itu dapat dipenuhi bila
perusahaan pers memiliki kekayaan sebagai berikut:
 1.Kendaraan roda empat 30 kendaraan a.Rp130.000.000
Rp3.6.000.000.000,-
 2.Sepeda motor 20 buah a.Rp12.000.000=Rp240.000.000
 3.Komputer 50 unit a.Rp4 juta=Rp200.000.000
 4.Macintosh 6 unit a.Rp10 juta=Rp60.000.000
 5.Persediaan kertas Rp1 miliar
 6.Kamera 10 unit a.Rp30 juta=p300.000.000
 7.Meja dan Kursi 100 unit a.Rp5.000.000=Rp500.000.000
 8.Gedung =Rp5 miliar
Total aset yang dimiliki Rp11,2 miliar atau telah memenuhi
persyaratan dari segi aset perusahaan yang besarnya minimal
Rp10 miliar
Persyaratan lainnya, Laba Usaha boleh mengalami kerugian.
Kerugian mempunyai kecenderungan menurun secara sifnifikan
dari waktu ke waktu. Jadi bukannya kerugian terus membesar
setiap waktu. Ada tiga penyebab kerugian yaitu pendapatan
perusahaan yang terus menurun, pendapatan tetap tapi biaya
operasional yang terus naik, dan kenaikan pendapatan lebih kecil
dibanding kenaikan biaya operasional perusahaan. Untuk
menghadapi tiga masalah itu, maka manajemen perusahaan
harus mengambil langkah-langkah sebagai berikut.

A.Merestrukturisasi organisasi manajemen dan personalia


 Mempercepat laporan berita dari lapangan
 Memperpendek mata rantai setiap pekerjaan, sehingga
mempercepat pekerjaan.
 Jabatan yang kurang strategis dapat dirangkap oleh satu
orang.
 Merumahkan karyawan yang berstatus kontrak karyawan

20
 Mengurangi biaya perjalanan keluar kota yang tidak penting
 Menggunakan pesawat kelas ekonomi dibanding harus kelas
bisnis atau eksekutif
 Tidak perlu menginap di hotel berbintang empat atau lima. Bila
perlu menginap di hotel berbintang 2 atau menginap di kantor
biro daerah

B.Merestrukturisasi keuangan
 Memperlambat pembayaran kewajiban-kewajiban kepada
pemasok, percetakan, tagihan telepon, tagihan listrik. Untuk
tagihan telepon dan listrik bisa dibayarkan pada saat batas
terakhir masa pembayaran. Batas terakhir pembayaran telepon
tanggal 10 bulan berjalan dan pembayaran listrik tanggal 20
bulan berjalan. Pembayaran kedua kewajiban itu pada batas
waktu, memberi kesempatan dana itu dapat diputar untuk
keperluan lain yang lebih mendesak.
 Mempercepat penagihan piutang pihak lain seperti biro iklan,
agen, atau pemasang iklan. Percepatan pelunasan itu membuat
penerimaan perusahaan bertambah. Dan lebih memudahkan
perusahaanuntuk membuat berbagai perencanaan.
 Melakukan negosiasi ulang kepada kreditur untuk
meringankan suku bunga kredit atau memperpanjang masa
jatuh tempo
 Melakukan penempatan dana yang menghasilkan pendapatan
lebih tinggi
 Menyerahkan pekerjaan kepada pihak lain bila jenis pekerjaan
itu tidak efesien
 Menggunakan kendaraan operasional dengan bahan bakar
solar yang harganya lebih murah dibanding bensin
 Menjual produk-produk hasil barter kepada pihak lain dengan
harga normal

E.PERS DAN DUNIA USAHA

Hubungan media cetak dan dunia usaha, pada awalnya


adalah media cetak dijadikan tempat untuk mengiklankan dan
mempromosikan berbagai produk baik produk baru maupun
produk lama. Iklan tersebut dapat berupa display, pariwara,
advertorial, dan iklan baris. Media cetak juga dijadikan wahana
untuk menyampaikan berbagai informasi yang menyangkut
kondisi terakhir suatu perusahaan seperti pergantian jajaran
direksi, prestasi keuangan, peluncuran produk baru,atau rencana
pengembangan organisasi untuk masa mendatang.

21
Tugas para jurnalis di media cetak diantaranya mendorong
para pelaku dunia usaha agar terus meningkatkan prestasi dan
kinerja perusahaan. Dengan cara media cetak menjadi pihak yang
melakukan penilaian terhadap kinerja dunia usaha dalam bentuk
membuat peringkat (rangking) dan memberikan penghargaan
(award). Untuk membuat program rangking atau pemberian
award, pengelola media cetak dapat melakukan dengan sumber
daya sendiri atau melakukan kerjasama dengan pihak lain seperti
lembaga riset atau peneliti. Lembaga tersebut pada dasarnya
memiliki konsep, metode, strategi, dan SDM dalam pengumpulan,
pengolahan, serta perumusan data sehngga hasil akhirnya
berupa rangking atau hasil penelitiannya dapat
dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
Untuk memudahkan pekerjaan dalam pembuatan rangking
atau pemberian penghargaan, media cetak harus melakukannya
dalam satu sektor misalnya rating bank, rating perusahaan
tekstil, atau rating orang terkaya.
Untuk meningkatkan pendapatan, media cetak harus
memiliki pembaca yang sesuai dengan segmen pasar secara
profesional yang disebut komunitas. Komunitas pembaca media
cetak tersebut, harus dibentuk dan ditingkatkan. Sehingga setiap
produk atau kegiatan yang dibuat media cetak, selalu diikuti.
Pada akhirnya, terbentuknya komunitas pembaca akan
meningkatkan pendapatan baik dari perolehan iklan atau
penjualan produk.
Komunitas media cetak yang dibentuk, harus sesuai dengan
segmen pasar atau jenis media cetak tersebut. Penyesuaian antara
jenis media cetak dan latar belakang komunitas pembaca,
ditujukan agar kepentingan keduabelah pihak dapat
diakomodasikan dalam berbagai program. Bagi media cetak,
komunitas pembaca merupakan pangsa pasar yang berpotensi
untuk meningkatkan pendapatan. Sedangkan bagi pembaca,
komunitas tersebut dapat dijadikan sarana peningkatan
kemampuan dan ketrampilan, meningkatkan sosialisasi terhadap
rekan satu profesi, serta menambah pengetahuan dengan cara
mengikuti acara-acara yang dilakukan media cetak.
Komunitas majalah politik adalah para politikus yang
berada di DPR/MPR, partai politik, dosen politik, mahasiswa, dan
pengamat politik. Komunitas majalah properti adalah pihak yang
berkepentingan secara langsung atau tidak dengan masalah
properti: rumah, perkantoran, pusat belanja, kawasan industri,
hotel,dan apartemen. Komunitas majalah bisnis adalah para staf,
karyawan, manajer, direksi, pimpinan puncak berbagai
perusahaan yang bergerak dalam berbagai bidang seperti
manufaktur, jasa, transportasi.

22
Majalah di berbagai negara melakukan dua cara dalam
membina komunitasnya.

C.1.Melakukan rangking perusahaan

Tujuan media cetak melakukan rating atau peringkat


adalah untuk mengetahui sejauh mana peta kekuatan masing-
masing perusahaan di masing-masing bidang. Serta bagaimana
prestasi yang dilakukan oleh setiap perusahaan, dari tahun ke
tahun. Karena setiap tahun, media cetak tersebut membuat
rangking sesuai kinerja pada tahun tersebut.
Hampir seluruh media cetak di berbagai negara
melakukan rangking. Majalah Asia Week yang terbit di Hong
Kong setiap tahun selalu membuat rangking 1000 perusahaan
terbesar di Asia, 1.000 bank terbesar di Asia.
Di Indonesia beberapa majalah banyak yang melakukan
rangking. Majalah Info Bank membuat rangking Bank Nasional
Terbesar di Indonesia dan Rangking Perusahaan Asuransi
Terbesar di Indonesia. Majalah Prospektif membuat rangking
perusahaan sekuritas terbesar di Indonesia.

C.2.Memberikan Award
Penghargaan atau Award yang diberikan oleh suatu
media cetak kepada dunia bisnis, bertujuan untuk
meningkatkan kualitas hubungan yang terjadi antara pers dan
dunia usaha. Dengan memberikan penghargaan, media cetak
memberikan satu wawasan baru terhadap jenis penghargaan
yang diberikan.
Berbeda dengan Rangking yang penghitungannya
berdasarkan kuantitas. Sedangkan tolok ukur pemberian
award lebih bersifat kualitas, yaitu pengukuran dengan
menggunakan seberapa banyak manfaat yang diterima
responden dalam membeli atau menggunakan produk
tersebut.
The Asian Wall Street Journal dan majalah Far Eastern
Economic Review pada tahun 2001 memberikan penghargaan
berupa The Best Employers dengan bekerja sama perusahan
konsultan manajemen Hewitt Associations. The Best Employers
Award yang diberikan The Asian Wall Street Journal
melibatkan 355 perusahaan di Asia yang terdiri dari 26 sektor
industri dan 92.000 karyawan. Perusahaan di Indonesia yang
berhasil mendapatkan award ini adalah PTElegant Textile
Industry dan PT Indofood Sukses Makmur Tbk.

23
Majalah Swa Sembada bekerja sama dengan perusahaan
riset dan pemasaran Frontier pada tahun 2001 memberikan
berupa ICSAA (Indonesian Customer Satisfaction Award).
Penghargaan yang diberikan kepada puluhan perusahaan di
Indonesia dinilai dari seberapa besar perusahaan tersebut
memberikan pelayanan yang baik dan memuaskan konsumen.
Frontier sebagai pelaksana melakukan riset kepada konsumen
dengan metode penelitian yang mereka gunakan.

Keuntungan yang diperoleh perusahaan media cetak dalam


membuat rangking dan pemberian award
 Meningkatkan hubungan dengan perusahaan yang
berpotensi sebagai pemasang iklan. Acara tersebut
membuat tim marketing media cetak mengenal langsung
siapa pengambil keputusan di perusahaan tersebut dalam
memasang iklan. Umumnya, mendapatkan iklan jauh lebih
mudah bila account eksekutif sudah mengenal jajaran
manager atau direksi, daripada belum kenal sama sekali.
 Meningkatkan pendapatan divisi bisnis, karena pada saat
pemberian atau pengumuman para penerima penghargaan
atau award, media cetak akan melakukan sebuah acara
resepsi di hotel. Untuk acara tersebut, dana yang
dibutuhkan berasal dari sponsor atau perusahaan yang
akan menerima penghargaan atau award.
 Meningkatkan jumlah pelanggan, karena perusahaan
penerima penghargaan atau award akan membeli media
cetak yang melaksanaan pemberiaan award tersebut.
Peluang ini, oleh bagian sirkulasi harus ditangkap dengan
baik. Misalnya dengan mengharuskan perusahaan penerima
award berlangganan selama setahun atau lebih.
 Memperkaya data base perusahaan di Indonesia. Karena
untuk memberikan penghargaan atau award, perusahaan
tersebut harus menyerahkan data-data keuangan,SDM,
pemasaran, dan sistem teknologi yang digunakan.
 Membantu salah satu tugas bagian redaksi. Karena acara
pemberian penghargaan atau award dapat ditulis baik
untuk rubrik laporan utama atau rubrik bisnis. Bila ditulis
dalam laporan utama, halaman yang disediakan antara 4-15
halaman. Itu berarti, tim redaksi sudah mendapatkan
bahan tulisan tanpa bersusah payah lagi mencari berbagai
data dan informasi. Karena sudah diperoleh dari panitia
pemberi penghargaan atau award.

24
Keuntungan bagi perusahaan penerima penghargaan atau
award
 Membuktikan kepada masyarakat bahwa kinerja keuangan
dan kualitas produk yang dijalankan perusahaan tersebut
cukup baik dan bagus. Sehingga berhasil mendapat
penghargaan atau award dari pihak independen yaitu pers.
 Meningkatkan hubungan perusahaan tersebut dengan pers
dalam rangka strategi corporate public relations. Hubungan
yang baik ini akan membuat pemberitaan yang dilakukan
media cetak tersebut melalui proses yang profesional dan
sesuai etika jurnalistik. Hubungan yang baik ini, tidak
menjamin media cetak tersebut hanya menulis berita-berita
baik seluruh aktivitas perusahaan. Tapi bila perusahaan
tersebut mengambil kebijakan yang kurang populer seperti
melakukan PHK, tidak mengasuransikan karyawan, serta
pembayaran gaji yang terlambat,tetap ditulis tapi dengan
cara para wartawan media cetak tersebut akan melakukan
konfirmasi atau re-check kepada perusahaan tersebut
mengenai pemberitaan tersebut. Dengan begitu, berita yang
ditulis tidak menjadi satu pihak, tapi balance atau
seimbang. Syarat salah satu tulisan yang profesional, adalah
dengan membuat berita dari kedua belah pihak.
 Penghargaan Award dijadikan momen untuk melakukan
promosi melalui media cetak dan elektronika. Unsur yang
diutamakan dari promosi tersebut adalah keberhasilan
perusahaan dalam menerima Award dari media cetak yang
prestisius. Disamping itu, promosi tersebut harus
mengungkapkan bahwa perusahaan telah mampu
mengalahkan para pesaing.

Contoh iklan Toyota Kijang yang telah berhasil mendapatkan


ICSA2001:

Terima kasih Anda telah memilih Kijang sebagai Best Customer


Satisfaction 2001. Predikat ini semakin memicu kualitas kami.
Terima kasih atas kepercayaan Anda. Segala upaya kamiuntuk
menjadikan Kijang terbaik di kelasnya, kini terjawab sudah.
Kijang Anda meraih Best Customer Satisfaction 2001.
Membuktikan bahwa faktor kualitas performa, kenyamanan,
hingga purna jual Kijang merupakan yang terbaik. Satu
predikat yang kian memacu kami untuk senantiasa
meningkatkan kualitas Kijang demi memberikan yang
terbaik.sehingga tak salah lagi bila Kijang merupakan
keputusan terbaik setiap keluarga (Iklan Kompas, 28
September 2001)

25
E.PENATAAN SIRKULASI DAN DISTRIBUSI

Manajemen sirkulasi media cetak adalah proses pengiriman,


penyebaran, dan pemasaran produk oleh penerbit dari percetakan
hingga tiba ke tangan konsumen secara tepat waktu. Untuk
mendistribusikan produk tersebut, penerbit membentuk bagian
sirkulasi yang dilengkapi dengan armada kanvaser berupa
kendaraan boks. Penyebaran produk harus dilakukan serempak
saat itu juga. Sehingga seluruh agen menerima produk pada saat
yang bersamaan. Misalnya suratkabar pagi hari, harus sudah
diterima seluruh agen pada subuh dini hari. Meski lokasi agen
berada pada lokasi yang berbeda-beda dan berjauhan.
Untuk itu, manager sirkulasi harus mengatur sedemikian
rupa agar para awak distribusi mengirim surat kabar ke agen-
agen tepat waktu. Salah satu caranya adalah dengan
mengelompokkan agen-agen yang berdekatan dalam satu wilayah
titik pengiriman. Rute perjalanan pengiriman dimulai pada agen
yang terdekat dari percetakan, dan berlanjut ke agen terdekat
berikutnya. Sehingga dalam sekali jalan, bagian sirkulasi langsung
mengirim surat kabar lebih dari satu agen.
Masa penjualan media cetak amat dibatasi waktu.
Berbeda dengan produk non-media cetak, yang memiliki masa
edar bulanan dan tahunan. Media cetak hanya memiliki waktu
edar harian, mingguan, dua mingguan, atau bulanan. Untuk
suratkabar harian pagi masa edar efektifnya mulai pukul 05.00
WIB sampai dengan pukul 12.00 WIB. Sedangkan masa edar
normal mulai pukul 05.00 WIB-24.00 WIB. Sempitnya masa edar
efektif bagi surat kabar harian pagi, karena memasuki jam 12.00
WIB telah beredar harian siang dan sore. Harian siang dan sore
menyajikan informasi-informasi dan berita hingga pukul 11.00
WIB-13.00 WIB pada hari tersebut. Masa edar efektif harian sore
mulai pukul 12.00 WIB sampai dengan pukul 18.00 WIB.
Sedangkan masa edar normalnya adalah mulai pukul 12.00 WIB-
24.00 WIB. Beberapa harian siang dan sore adalah Suara
Pembaruan, Terbit, Sinar Harapan, Berita Buana di Jakarta dan
Surabaya Post di Surabaya. Dapat disimpulkan produk harian
atau surat kabar memiliki masa jual yang sangat sempit yaitu
hanya dalam hitungan jam.
Majalah, suratkabar, dan tabloid mingguan memiliki masa
edar selama tujuh hari. Setelah lewat masa edar, produk
memasuki masa kadaluarsa. Berita yang disajikan sudah tidak up
to date dan tidak sesuai dengan kondisi saat itu. Maka pada
minggu berikutnya, penerbit akan mengeluarkan edisi terbaru
untuk tujuh hari kedepan. Begitu juga untuk majalah dan tabloid

26
dua mingguan atau bulanan, memiliki masa edar sesuai masa
jadwal terbitnya.
Media cetak yang tidak dapat dijual pada masa edar efektif
dan masa edar normal, tak lagi memiliki nilai jual yang tinggi.
Bahkan hanya dapat dijual sebagai komoditas kertas bekas. Ada
beberapa langkah untuk menyiasati produk media cetak yang
sudah kadaluarsa yaitu menjual dalam bentuk kliping. Media
cetak tersebut menjual kliping dalam bentuk bundel. Harga jual
bundel kliping, tak jauh beda dengan harga yang masih baru. Tapi
penjualan bundel kliping ini, amat terbatas. Tidak dapat dijadikan
sumber pendapatan yang pasti. Dan media cetak yang dapat dijual
dalam bentuk bundel hanyalah majalah dan tabloid. Sedangkan
media cetak harian sulit untuk dijual dalam bentuk bundel.
Keterbatasan masa penjualan itu, membuat tingkat risiko
bisnis media cetak begitu tinggi. Bila tidak terjual pada masa edar,
maka produk itu tidak dapat dijual dengan harga normal. Secara
keuangan, perusahaan itu mengalami kerugian. Karena biaya
produksi tidak tertutupi oleh biaya penjualan produk.

Tugas yang diemban manajer sirkulasi, cukup berat. Karena itu,


sebelum merumuskan kebijakan sirkulasi sebaiknya melihat
beberapa faktor (Warton, 1992):

 Profil target pembaca


 Jumlah pembaca yang dituju
 Dimana lokasi pembaca yang dituju
 Target sirkulasi berdasarkan tipe pembaca
 Cara majalah akan dijual, eceran atau pelanggan
 Harga jual eceran dan harga jual pelanggan
 Pengaturan jalur distribusi
 Kebijakan retur atau pengembalian majalah
 Kebijakan bagi calon pembeli untuk berlangganan tetap

Dengan merumuskan persoalan-persoalan tersebut, dapat diyakini


seorang manager sirkulasi akan dapat memasarkan produknya
dengan benar. Dan hasil penjualan, akan sesuai dengan target
yang diharapkan jajaran managemen penerbit.

Program yang dijalankan bagian sirkulasi

E.1.Mensuport agen
Untuk menjual media cetak ke pasar, jalur pertama yang
dilakukan adalah meminta para agen agar menjual produk
tersebut melalui pengecer dan tukang lapak yang masuk dalam
jaringan agen tersebut. Hubungan yang terjadi antara

27
perusahaan penerbit dan agen adalah hubungan bisnis, dimana
kedua belah pihak akan mendapatkan keuntungan. Sebagai suatu
bisnis, agen yang menjual produk media cetak akan mendapat
komisi dari perusahaan penerbitan yang besarnya antara 25%-
40% dari harga jual atau harga cover. Komisi tersebut, tidak
seluruhnya diterima agen. Karena agen harus menyerahkan
penjualan media cetak kepada para pengecer atau tukang lapak.
Pada tahap ini,akan terjadi pembagian komisi dimana agen hanya
menerima 5%-10% dan pengecer akan menerima 10%-25% dari
harga penjualan.
Komisi yang diterima agen per item produk jauh lebih kecil
dibanding para pengecer. Tapi bila dijumlahkan seluruh komisi
yang diterima, agen tetap jauh lebih besar dibanding pengecer.
Karena volume penjualan agen jauh lebih banyak. Sedangkan
pengecer meski mendapat komisi cukup besar dari satuan produk,
tapi volume penjualan produk lebih sedikit dibanding agen.
Bila harga sebuah majalah dijual Rp10.000 per eksemplar,
agen akan mendapat komisi sebesar 30% atau Rp3.000 per
eksemplar. Komisi itu dibagi dengan pengecer dengan komposisi
agen 5% dan pengecer 25%. Pembagian komisi seperti itu
membuat agen menerima komisi Rp500 dan pengecer Rp2.500.

Bentuk-bentuk kerjasama Penerbit, agen, dan pengecer

1. Pertemuan agen & Sub agen

 Sebelum produk di luncurkan ke pasar, penerbit harus terlebih


dahulu mengadakan pertemuan atau silaturahmi dengan para
agen dan pengecer. Dalam pertemuan itu, penerbit harus
menjelaskan seluruh kebijakan manajemen yaitu:
 Misi dan visi penerbit
 Kebijakan redaksional
 Kebijakan iklan
 Kebijakan distribusi
 Bentuk kerjasama dengan agen dan pengecer
 keuntungan yang diperoleh agen bila melakukan kerjasama
dengan penerbit

Contoh surat kebijakan harga


Perihal : Kebijakan Harga

Kepada Yth,
Mitra Usaha
Mingguan Berita Ekonomi Indonesia
Di tempat

28
Perihal : Harga setor agen

Bapak/Ibu yang terhormat,

Pertama-tama kami sampaikan terimakasih atas kesediaan


Bapak/Ibu dalam menjalin kerjasama untuk memasarkan
Mingguan Berita Ekonomi Indonesia .

Mingguan Berita Ekonomi Indonesia terbit setiap Kamis, sebagai


bahan referensi dalam mengambil keputusan bagi profesional,
eksekutif, serta pelaku bisnis dan para pialang saham. Untuk itu
Mingguan Berita Ekonomi Indonesia sangat baik dipasarkan
melalui keagenan Bapak/Ibu.

Adapun kebijakan harga untuk keagenan Bapak/Ibu adalah sbb:


1. Harga Konsumen : Rp. 5000/ eks
2. Harga Langganan : Rp. 3.550/eks (disc 15 %)
3. Harge setor Agen : Rp. 3000/ eks
4. Harga sub Agen/ pengecer: Rp. 3.400/eks

Demikianlah pemberitahuan ini atas kesediaan dan kerjasamanya,


Kami ucapkan terimakasih. Semoga usaha kita selalu sukses.
Amin.

Hormat Kami.
Jakarta, 12 Oktober 2000

Harmen
Manager Sirkulasi

E.2.Mensupport Pengecer
Semakin pesatnya persaingan di pasar dalam menjual
produk, perlu dibuat program agar agen dan pengecer
memprioritaskan penjualan media cetak. Bentuk prioritas yang
diinginkan adalah menampilkan produk pada tempat yang paling
depan, atau lebih dulu menyodorkan kepada konsumen produk
kita, dibanding produk pesaing.Untuk mencapai langkah itu,
maka perusahaan media cetak tidak hanya mengandalkan
kekuatan agen. Tapi juga memotivasi pengecer untuk ikut
membantu penjualan produk. Untuk mendorong motivasi para
pengecer, tentu harus dibuatkan berbagai program hadiah
langsung.

29
Program Foto Pengecer
Bagi pengecer yang memasang produk di jajaran paling
depan akan difoto. Hasil foto tersebut akan dimuat pada media
cetak edisi berikutnya. Dan pengecer itu akan diberikan hadiah.
Tujuannya adalah dengan pengecer memasang produk di depan
sehingga mudah terlihat oleh umum. Dan pada akhirnya produk
tersebut dibeli oleh konsumen.
Agar tujuan program ini dapat diterima ke pengecer secara
merata, maka perusahaan harus memberitahukan atau
mengumumkan rencana itu secara massal seperti mencetak
brosur yang isinya merupakan pemberitahuan program tersebut.
Namun sebelum program itu dijalankan, penerbit harus
menghitung biaya yang terdiri dari biaya pembuatan brosur, film
untuk memotret pengecer, dan hadiah yang diberikan. Hadiah
yang diberikan berupa uang tunai Rp50.000-Rp100.000 per
pengecer.

Teknis Pelaksanaan Pemberitahuan


 Menyebarkan brosur kepada agen di wilayah masing-masing
atau memberikan langsung ke pengecer.
 Setiap tenaga sirkulasi nantinya akan mengambil pada setiap
pengecer yang membawa atau mendisplay di depan.
 Pengambilan foto ini akan bergilir setiap minggu per wilayah.
 Pengambilan foto tersebut setiap edisi minimal 4 pengecer ( 1
pengecer/ wilayah)
 Setiap pengecer yang mendapat hadiah datang langsung ke
kantor media cetak untuk mengambil hadiah.

Jenis hadiah untuk agen dan pengecer


 kaos
 payung
 topi
 rompi
 spanduk meja
 tiket gratis pusat hiburan: Ancol, TMII
 Uang tunai

E.3.Mensupport Pelanggan
Pelanggan merupakan salah satu target program yang harus
digarap untuk meningkatkan tiras media cetak. Di Jepang dan
beberapa negara maju, 80-90% penjualan produk disumbang dari
pelanggan. Jumlah pelanggan yang terdata di bagian sirkulasi
memudahkan perencanaan bagian produksi untuk mencetak
seberapa banyak media cetak. Dan bagi bagian keuangan,

30
memudahkan untuk mengatur cash flow, karena pembayaran
pelanggan menjadi pemasukan yang tetap setiap bulan.

Jenis-Jenis Langganan

1.Langganan langsung :
Langganan langsung adalah pelanggan digarap oleh tim
marketing atau sirkulasi media cetak. Pengiriman produk dan
tagihan akan dilakukan oleh agen langganan.

2. Langganan via agen :


Langganan ini dilakukan oleh agen yang beroperasi di wilayah
tersebut. Agen berkepentingan untuk mencari pelanggan, untuk
memperbesar pendapatan. Langkah-langkah yang ditempuh agen
untuk mencari pelanggan :

 Memberikan nomor contoh secara gratis ke rumah-rumah


 Melalui brosur langganan ,yang disisipkan pada media lain.
 Permintaan melalui telephone.
 Memberi cap atau nama agen tersebut pada koran yang
dibagikan

3.Langganan kolektif .
Pelanggan kolektif adalah pelanggan yang dilakukan secara
bersama-sama dalam satu lingkungan, instansi, atau organisasi.
Tim marketing atau sirkulasi, menawarkan produk kepada bagian
umum atau bagian hubungan masyarakat satu instansi. Bila
instansi tersebut bersedia berlangganan, maka produk media
cetak yang dibeli setiap edisi cukup banyak atau minimal di atas 3
eksemplar.
Pelaksanaan untuk menggarap pelanggan kolektif,
dilakukan oleh tenaga khusus yang bidang pekerjaanya adalah
mencari pelanggan kolektif. Hal ini ditempuh agar pekerjaannya
menjadi fokus. Sasaran instansi untuk langganan kolektif adalah
departemen, BUMN, dan perusahaan swasta.
Bagi pelanggan suatu instansi –BUMN akan diberikan
discount khusus untuk pelanggan tersebut dengan berbagai
bentuk kopensasi yang saling menguntungkan antara lain diskon,
memberikan iklan display atau pariwara gratis, dan memberikan
hadiah-hadiah seperti kalender, payung, pulpen.

Langkah Menangani Langganan Kolektif


 Membagikan koran gratis diperkantoran & Sentra bisnis
 Memberitahukan kepada Agen yang menggarap daerah tersebut
 Membagikan brosur langganan

31
 Pendataan Instansi ( Perkantoran ) per kelompok wilayah
 Mencari tahu siapa atau bagian apa di instansi tersebut yang
menangani langganan media cetak
 Mengadakan presentasi produk.
 Mengatur waktu pengiriman produk

Jenis hadiah buat pelanggan


 Payung
 Jam Meja
 Jam dinding
 T-Shirt
 Agenda Harian
 kalender
 gratis langganan produk lain satu grup
 bolpen

E.4.Program Promosi Sirkulasi


Program promosi sangat diperlukan untuk memperkenalkan
produk kepada masyarakat. Beberapa program promosi ini:
 Spanduk rentang
 Spanduk meja
 Barter iklan media
 Billbort Mobil Box
 Compliment pelanggan

Evaluasi Kerja Sirkulasi


1
1.Evaluasi agen
2 Evaluasi agen harus dilakukan untuk mengetahui sejauh
mana permasalahan yang ada di lapangan. Dengan mengetahui
permasalahan, bagian sirkulasi dapat mengembangkan tiras.
Beberapa hal yang dilakukan untuk mengevaluasi agen:
3
 Tertib retur & pembayaran agen
 Tingkat penjualan agen
 Luas daerah pemasaran agen
 insentif dari perusahaan

2 Evaluasi outlet
Outlet adalah tempat yang dapat dilakukan untuk menjual
produk seperti toko buku, supermarket, atau toko-toko yang
penjualannya tidak melalui agen. Evaluasi outlet ini perlu
dilakukan untuk mengefisienkan mekanisme kerja distribusi.
Outlet yang memiliki lokasi strategis dan mempunyai volume

32
penjualan yang tinggi harus mendapat prioritas pengiriman
pertama.

3 Evaluasi pelanggan
Evaluasi pelanggan sangat perlu dilaksanakan, untuk melihat
sejauh mana pelayanan pelanggan yang telah berjalan selama ini
antara lain:

 Apakah pengiriman produk tepat waktu


 Apakah produk tiba di pelanggan dalam kondisi bagus
 Apakah penyajian berita sesuai dengan keinginan pelanggan
 Bagaimana sistem pembayaran selama ini.
 Sejauh mana hubungan emosional antara penerbit dan
pelanggan

4 Maping agen
Membuat maping agen ini berguna sekali sejauh mana
jangkauan pemasaran agen tersebut. Untuk menjaga supaya tidak
terjadi bentrokan sesama agen dalam satu wilayah baik agen,
maupun Sub agen.

5.Evaluasi Distribusi
Evaluasi distribusi ini harus dilakukan untuk menjaga sejauh
mana kendala yang terjadi dalam melaksanakan pengiriman dan
penarikan retur. Dengan melakukan evaluasi pada bidang
distribusi akan diketahui:
 Sejauh mana efektivitas pengiriman dari percetakan ke agen
dan outlet
 Apakah tenaga distribusi mencukupi
 Sejauh mana penarikan retur
 Apakah pengiriman pada malam hari cukup aman bagi
karyawan
 Apakah sistem retur dengan posisi 3:1 berjalan
 Apakah kontrol silang antara bagian retur, keuangan, dan
pergudangan berjalan

33