Anda di halaman 1dari 3

c    

               


 
 

   
  
  

Masyarakat terutama yang awam hukum, banyak sekali yang menganggap bahwa 
merupakan
bukti kepemilikan atas bidang tanah. Hal ini tidak sepenuhnya salah, sebab memang demikianlah
kenyataannya. Dengan pandangan dan kenyataan seperti ini, pemegang
merasa memiliki hak
atas bidang tanah dan seringkali ͚malas͛ mengurusnya menjadi sertifikat.
Berdasarkan pengalaman pribadi, sebetulnya tidak terlalu sulit untuk meng-Upgrade 
menjadi
sertifikat. Terlebih untuk saat ini dimana Badan Pertanahan Nasional sedang giat-giatnya
mensertifikasi tanah, tentu dengan syarat dan ketentuan berlaku.
Untuk pengurusan sertifikat ini, setidaknya diperlukan waktu rata-rata 9 bulan. Adapun dokumen
yang perlu dilengkapi adalah  
              

    selebihnya dokumen pendukung seperti identitas pemohon (foto copy KTP), Surat
Pernyataan Penguasaan Fisik Bidang Tanah, Surat Keterangan Kepala Desa/Kelurahan, IPEDA (dulu),
PBB, dan dokumen pendukung lainnya. Dan satu lagi adalah Surat Kuasa apabila pengurusan
dikuasakan kepada orang lain (selain pemohon).
Setelah dokumennya lengkap, prosedur dan alur pengurusannya setidaknya dapat digambarkan
sebagai berikut:

°  dokumen-dokumen yang disyaratkan diserahkan ke loket penyerahan berkas di kantor


pertanahan setempat dan kemudian membayar biaya administrasinya. Disini pemohon akan
mendapat Tanda Terima Berkas Permohonan dengan nomor dan tahun surat.
  petugas ukur (2 s.d 3 orang) dari BPN akan melaksanakan pengukuran bidang tanah
bersangkutan dan petugas ini pula yang akan membuatkan peta bidang tanah pada folmulir isian
yang ada di BPN.
 
 setelah pengukuran, maka beberapa bulan kemudian dikeluarkan pengumuman terbuka
oleh BPN. Pengumuman ini disampaikan ke kelurahan untuk diumumkan kepada masyarakat. Jangka
waktu pengumuman ini ditetapkan selama 2 bulan.
   Bila tidak ada pihak yang mengajukan keberatan/sanggahan atas pengumuman tersebut,
maka selanjutnya dikeluarkan Surat Ketetapan Kepala Kantor Pertanahan Setempat.
  selanjutnya masuk proses cetak setifikat (informasi yang penulis dapat sekitar 2 minggu).
Dari prosedur 1 s.d 5 yang telah diuraikan diatas dikerjakan oleh Bagian Sekber BPN.
 bila tidak ada masalah, selanjutnya berkas diserahkan ke Kasi untuk dicek kelengkapan
dokumennya dan diparaf pada beberapa bagian sertifikat yang sudah dicetak.
 bila tidak ada masalah, berkas diserahkan ke sekretaris Kepala Kantor Pertanahan untuk
selanjunya ditandatangani oleh Kepala Kantor Pertanahan.
    , bila sudah ditandatangani Kepala Kantor Pertanahan, selanjutnya sertifikat diregistrasi
terlebih dahulu untuk diberikan nomor dan tahun penerbitannya.
    selanjutnya proses penyerahan sertifikat di loket penyerahan Kantor Pertanahan. Disini
pemohon menyerahkan Tanda Terima Berkas Permohonan Asli, bila dikuasakan kepada orang lain,
maka harus disertai dengan surat kuasa pengambilan setifikat.
Demikianlah cara mengkonversi 
menjadi sertifikat. Uraian ini didasarkan pada amatan dan
pengalaman penulis sendiri di tahun 2007. Semoga informasi ini bermanfaat.
K  

    

 

 
Pembuat 
palsu dibekuk di Bogor. Tapi ratusan 
palsu telanjur beredar. HATI-HATI membeli
tanah berstatus 
. Bayangkan di wilayah Bogor, Jawa Barat saja, setidaknya beredar seratus lima
puluh 
palsu. Jumlah itu diduga masih bisa membengkak lagi. "Masih banyak komplotan lain
yang bergerak dalam usaha ini," kata KaDolres Bogor, Letnan Kolonel J.D. Sitorus. Pada akhir Maret
lalu, polisi menangkap Bay Suwandi alias Obay, 41 tahun, yang diduga pembuat 
palsu itu. Di
rumahnya, di Desa Laladon, Ciomas, Bogor, polisi menemukan barang bukti dua stempel palsu
bertuliskan "Salinan/Baru" dan Kantor PBB (Pajak Bumi dan Bangunan) Bogor, serta 500 lembar
surat 
fotokopian. Tak hanya Obay. Sampai pekan ini polisi memeriksa Kepala Desa (Kades)
Citeko, Kecamatan Cisarua, Syafril Kades Cidokom, Kecamatan Sindang Barang, Wirta dan Kades
Cogrek, Kecamatan Parung, Emin. "Masih ada enam orang kawan tersangka yang kami cari," kata
Sitorus. Mereka diduga bertindak sebagai calo penghubung antara Obay dan calon pembeli atau
para kepala desa yang terlibat. Terbongkarnya pemalsuan 
itu berawal dari kedatangan seorang
warga Jakarta ke kantor PBB Bogor. Ia bermaksud mengurus sertifikat tanahnya seluas 300 meter
persegi di Desa Cogrek, yang dibelinya dengan harga Rp 15 juta. Kebetulan tanah itu berstatus 
.
Kepala PBB Bogor, Said Usman Husrah, yang meneliti surat
itu, menemukan tanda tangannya
dan stempel kantornya dipalsukan. "Saya tidak tahu bahwa
itu palsu. Padahal, 
itu
diuruskan oleh kades," kata warga Jakarta tersebut. Pengalaman serupa juga dialami warga Desa
Citeko. Ia, yang tak mau repot-repot mengurus giriknya, menyerahkan langsung urusan itu kepada
Kades Citeko, Syafril dengan membayar Rp 10 ribu. Tapi, begitu menyodorkan giriknya ke kantor PBB
di Bogor, awal Februari lalu, ia kontan lemas. 
itu dipastikan palsu. "Siapa sangka itu 
palsu,"
kata warga yang juga tak mau disebut namanya. Karena kejadian-kejadian itu, Said membentuk tim
kecil untuk menyusuri 
"bolong" -- begitu istilahnya. Begitu tim merasa yakin banyak 
palsu
beredar, pihak kantor PBB Bogor melapor ke polisi. Beberapa hari kemudian, Obay ditangkap. Bekas
sopir kantor Ipeda (kini kantor PBB) itu mengaku terus terang perbuatannya. Ia mengaku menekuni
obyek ini sejak Agustus tahun lalu hingga Februari lalu, dan sudah menghasilkan 150 
palsu.
"Bisnis" 
palsu itu, katanya, dilakukannya demi perut keempat anaknya. Untuk
sebuah 
palsu, Obay mengaku hanya mendapat Rp 3-Rp 5 ribu. "Saya bekerja hanya berdasar
pesanan," katanya. Para pemesan itu, menurut Obay, adalah Syafril, Wirta, dan Emin. Pada awalnya,
cerita Obay, ia menyanggupi order "kumuh" itu lantaran di rumahnya tersimpan blangko bekas yang
diperolehnya ketika ia bekerja di kantor Ipeda pada 1984-1988. "Dulu, blangko yang sudah
kedaluwarsa langsung dibuang ke sampah atau disimpan seenaknya," kata Obay. Blangko-blangko
bekas itu pun dipungutinya. Nah, ketika datang pesanan, Obay memanfaatkannya. Data
dalam 
bekas itu di-tipp-ex dengan cairan kimia tertentu, lalu difotokopi. Setelah itu, Obay
tinggal mengisi data tanah si pemilik asli berikut batas-batasnya. Data ini tentu sengaja dicocokkan
dengan daftar pada Letter C (daftar 
desa) di desa masing-masing berdasar petunjuk kepala desa
setempat. Jadi, 
palsu tersebut beredar tanpa diketahui pemilik tanah yang sebenarnya.
Kemudian, setelah pengisian data rampung, agar mulus, Obay membubuhkan cap stempel Kantor
PBB dan tanda "Salinan/Baru". Soal tanda tangan Kepala PBB Bogor bukan urusan yang rumit. "Kalau
ada contohnya, pasti saya bisa menirunya," kata Obay bangga. Sejauh mana keterlibatan tiga kades
itu memang belum jelas. Kades Syafril, 50 tahun, misalnya, membantah memesan 
palsu Obay.
"Saya tidak terlibat 
palsu," katanya kepada TEMPO. Tapi, ia mengaku memiliki 15
blangko 
kosong dari Obay, sebagai jaminan atas utang Obay kepadanya Rp 300 ribu. "Jadi, saya
tidak memesan, apalagi menjual 
palsu," katanya. Syafril mengaku kenal lama dengan Obay.
Selain itu, penampilan Obay, katanya, meyakinkan dan selalu necis serta bermobil. Sebab itu, ia tak
keberatan ketika Obay meminjam uang Rp 300 ribu selama sebulan untuk membeli TV. Ternyata,
janji Obay akan melunasi utang itu selama sebulan tinggal janji, malah Obay membawakan 15
buah 
palsu untuk Syafril. "Saya justru memberi andil bagi tertangkapnya Obay," kata Syafril.
Sementara itu, pihak polisi mengusut kebenaran keterangan para tersangka. "Masih banyak pihak
yang dimintai keterangan ihwal  ini," kata Kapolwil Bogor, Kolonel Pamudji. Kapolda Jawa Barat,
Mayor Jenderal Banurusman, yang kebetulan sedang mengadakan inspeksi ke wilayah Bogor,
menambahkan bahwa   
palsu ini, "Bakal menyangkut banyak pihak, dan harus
dituntaskan." Tak lupa Banurusman mengingatkan agar masyarakat hati-hati membeli tanah,
khususnya yang berstatus 
. "Masalah tanah memang rawan," kata Kapolda. Selain   di atas,
masih banyak   bisa muncul dari jual beli tanah berstatus 
. Sebagian besar surat 
yang
beredar sekarang dikeluarkan etelah tahun 1960-an, misalnya, tak lagi berarti tanda hak milik tanah
secara adat. Si pemegang 
tak lebih dari pembayar atau memiliki kewajiban membayar PBB atas
tanah atau bangunan yang dikuasainya. Banyak pemegang 
itu biasanya penggarap tanah negara
atau perkebunan menjual 
semacam itu kepada orang-orang yang tak tahu tentang status 
.
Celakanya, dalam banyak   jual beli itu disetujui oleh aparat pemda setempat. Selain itu, ada
pula modus
aspal. Dalam   ini, pemilik 
asli pura-pura kehilangan surat tanahnya.
Berdasarkan itu kepala desa membuat surat tanda kehilangan untuk mendapat
baru dari kantor
Ipeda. 
baru, yang sebenarnya aspal itu, kemudian diperjualbelikan, sementara 
asli dijual
pula kepada orang lain. Akibatnya, pada suatu ketika untuk sebidang tanah ditemukan dua
yang
dipegang orang berlainan. Yang lebih repot, jika pemilik 
asli tak kunjung mengurus sertifikat
tanahnya, sementara pemegang 
aspal mengurus dan mendapat sertifikat hak milik atas tanah
itu. "Kalau sudah begini, urusan menjadi runyam," kata sumber TEMPO di BPN Pusat. c! 
  " 
    
#$% 

http://tamsasolusi.blogspot.com