P. 1
Pengurusan girik

Pengurusan girik

|Views: 1,046|Likes:
Dipublikasikan oleh Dhani Pradana
pengurusan girik,http://tamsasolusi.blogspot.com/
pengurusan girik,http://tamsasolusi.blogspot.com/

More info:

Published by: Dhani Pradana on Feb 17, 2011
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/05/2013

pdf

text

original

Waspadalah!

Girik bukanlah bukti kepemilikan atas bidang tanah yang sah, segera konversi girik anda menjadi sertifikat sekarang juga. Masyarakat terutama yang awam hukum, banyak sekali yang menganggap bahwa girik merupakan bukti kepemilikan atas bidang tanah. Hal ini tidak sepenuhnya salah, sebab memang demikianlah kenyataannya. Dengan pandangan dan kenyataan seperti ini, pemeganggirik merasa memiliki hak atas bidang tanah dan seringkali malas mengurusnya menjadi sertifikat. Berdasarkan pengalaman pribadi, sebetulnya tidak terlalu sulit untuk meng-Upgrade girik menjadi sertifikat. Terlebih untuk saat ini dimana Badan Pertanahan Nasional sedang giat-giatnya mensertifikasi tanah, tentu dengan syarat dan ketentuan berlaku. Untuk pengurusan sertifikat ini, setidaknya diperlukan waktu rata-rata 9 bulan. Adapun dokumen yang perlu dilengkapi adalah Asli Girik, Asli Akta Jual-Beli (dua dokumen ini diusahain tidak bermasalah), selebihnya dokumen pendukung seperti identitas pemohon (foto copy KTP), Surat Pernyataan Penguasaan Fisik Bidang Tanah, Surat Keterangan Kepala Desa/Kelurahan, IPEDA (dulu), PBB, dan dokumen pendukung lainnya. Dan satu lagi adalah Surat Kuasa apabila pengurusan dikuasakan kepada orang lain (selain pemohon). Setelah dokumennya lengkap, prosedur dan alur pengurusannya setidaknya dapat digambarkan sebagai berikut: Pertama, dokumen-dokumen yang disyaratkan diserahkan ke loket penyerahan berkas di kantor pertanahan setempat dan kemudian membayar biaya administrasinya. Disini pemohon akan mendapat Tanda Terima Berkas Permohonan dengan nomor dan tahun surat. Kedua, petugas ukur (2 s.d 3 orang) dari BPN akan melaksanakan pengukuran bidang tanah bersangkutan dan petugas ini pula yang akan membuatkan peta bidang tanah pada folmulir isian yang ada di BPN. Ketiga, setelah pengukuran, maka beberapa bulan kemudian dikeluarkan pengumuman terbuka oleh BPN. Pengumuman ini disampaikan ke kelurahan untuk diumumkan kepada masyarakat. Jangka waktu pengumuman ini ditetapkan selama 2 bulan. Keempat, Bila tidak ada pihak yang mengajukan keberatan/sanggahan atas pengumuman tersebut, maka selanjutnya dikeluarkan Surat Ketetapan Kepala Kantor Pertanahan Setempat. Kelima, selanjutnya masuk proses cetak setifikat (informasi yang penulis dapat sekitar 2 minggu). Dari prosedur 1 s.d 5 yang telah diuraikan diatas dikerjakan oleh Bagian Sekber BPN. Keenam, bila tidak ada masalah, selanjutnya berkas diserahkan ke Kasi untuk dicek kelengkapan dokumennya dan diparaf pada beberapa bagian sertifikat yang sudah dicetak. Ketujuh, bila tidak ada masalah, berkas diserahkan ke sekretaris Kepala Kantor Pertanahan untuk selanjunya ditandatangani oleh Kepala Kantor Pertanahan. Kedelapan, bila sudah ditandatangani Kepala Kantor Pertanahan, selanjutnya sertifikat diregistrasi terlebih dahulu untuk diberikan nomor dan tahun penerbitannya. Kesembilan, selanjutnya proses penyerahan sertifikat di loket penyerahan Kantor Pertanahan. Disini pemohon menyerahkan Tanda Terima Berkas Permohonan Asli, bila dikuasakan kepada orang lain, maka harus disertai dengan surat kuasa pengambilan setifikat.

Demikianlah cara mengkonversi Girik menjadi sertifikat. Uraian ini didasarkan pada amatan dan pengalaman penulis sendiri di tahun 2007. Semoga informasi ini bermanfaat.
Source : http://budiyana.wordpress.com/

Melacak girik-girik bolong Pembuat girik palsu dibekuk di Bogor. Tapi ratusan girik palsu telanjur beredar. HATI-HATI membeli tanah berstatus girik. Bayangkan di wilayah Bogor, Jawa Barat saja, setidaknya beredar seratus lima puluh girik palsu. Jumlah itu diduga masih bisa membengkak lagi. "Masih banyak komplotan lain yang bergerak dalam usaha ini," kata KaDolres Bogor, Letnan Kolonel J.D. Sitorus. Pada akhir Maret lalu, polisi menangkap Bay Suwandi alias Obay, 41 tahun, yang diduga pembuat girik palsu itu. Di rumahnya, di Desa Laladon, Ciomas, Bogor, polisi menemukan barang bukti dua stempel palsu bertuliskan "Salinan/Baru" dan Kantor PBB (Pajak Bumi dan Bangunan) Bogor, serta 500 lembar surat girik fotokopian. Tak hanya Obay. Sampai pekan ini polisi memeriksa Kepala Desa (Kades) Citeko, Kecamatan Cisarua, Syafril Kades Cidokom, Kecamatan Sindang Barang, Wirta dan Kades Cogrek, Kecamatan Parung, Emin. "Masih ada enam orang kawan tersangka yang kami cari," kata Sitorus. Mereka diduga bertindak sebagai calo penghubung antara Obay dan calon pembeli atau para kepala desa yang terlibat. Terbongkarnya pemalsuan girik itu berawal dari kedatangan seorang warga Jakarta ke kantor PBB Bogor. Ia bermaksud mengurus sertifikat tanahnya seluas 300 meter persegi di Desa Cogrek, yang dibelinya dengan harga Rp 15 juta. Kebetulan tanah itu berstatus girik. Kepala PBB Bogor, Said Usman Husrah, yang meneliti suratgirik itu, menemukan tanda tangannya dan stempel kantornya dipalsukan. "Saya tidak tahu bahwagirik itu palsu. Padahal, girik itu diuruskan oleh kades," kata warga Jakarta tersebut. Pengalaman serupa juga dialami warga Desa Citeko. Ia, yang tak mau repot-repot mengurus giriknya, menyerahkan langsung urusan itu kepada Kades Citeko, Syafril dengan membayar Rp 10 ribu. Tapi, begitu menyodorkan giriknya ke kantor PBB di Bogor, awal Februari lalu, ia kontan lemas. Girik itu dipastikan palsu. "Siapa sangka itu girik palsu," kata warga yang juga tak mau disebut namanya. Karena kejadian-kejadian itu, Said membentuk tim kecil untuk menyusuri girik "bolong" -- begitu istilahnya. Begitu tim merasa yakin banyak girik palsu beredar, pihak kantor PBB Bogor melapor ke polisi. Beberapa hari kemudian, Obay ditangkap. Bekas sopir kantor Ipeda (kini kantor PBB) itu mengaku terus terang perbuatannya. Ia mengaku menekuni obyek ini sejak Agustus tahun lalu hingga Februari lalu, dan sudah menghasilkan 150 girik palsu. "Bisnis" girik palsu itu, katanya, dilakukannya demi perut keempat anaknya. Untuk sebuah girik palsu, Obay mengaku hanya mendapat Rp 3-Rp 5 ribu. "Saya bekerja hanya berdasar pesanan," katanya. Para pemesan itu, menurut Obay, adalah Syafril, Wirta, dan Emin. Pada awalnya, cerita Obay, ia menyanggupi order "kumuh" itu lantaran di rumahnya tersimpan blangko bekas yang diperolehnya ketika ia bekerja di kantor Ipeda pada 1984-1988. "Dulu, blangko yang sudah kedaluwarsa langsung dibuang ke sampah atau disimpan seenaknya," kata Obay. Blangko -blangko bekas itu pun dipungutinya. Nah, ketika datang pesanan, Obay memanfaatkannya. Data dalam girik bekas itu di-tipp-ex dengan cairan kimia tertentu, lalu difotokopi. Setelah itu, Obay tinggal mengisi data tanah si pemilik asli berikut batas-batasnya. Data ini tentu sengaja dicocokkan dengan daftar pada Letter C (daftar girik desa) di desa masing-masing berdasar petunjuk kepala desa setempat. Jadi, girik palsu tersebut beredar tanpa diketahui pemilik tanah yang sebenarnya. Kemudian, setelah pengisian data rampung, agar mulus, Obay membubuhkan cap stempel Kantor PBB dan tanda "Salinan/Baru". Soal tanda tangan Kepala PBB Bogor bukan urusan yang rumit. "Kalau ada contohnya, pasti saya bisa menirunya," kata Obay bangga. Sejauh mana keterlibatan tiga kades

itu memang belum jelas. Kades Syafril, 50 tahun, misalnya, membantah memesan girik palsu Obay. "Saya tidak terlibat girik palsu," katanya kepada TEMPO. Tapi, ia mengaku memiliki 15 blangko girik kosong dari Obay, sebagai jaminan atas utang Obay kepadanya Rp 300 ribu. "Jadi, saya tidak memesan, apalagi menjual girik palsu," katanya. Syafril mengaku kenal lama dengan Obay. Selain itu, penampilan Obay, katanya, meyakinkan dan selalu necis serta bermobil. Sebab itu, ia tak keberatan ketika Obay meminjam uang Rp 300 ribu selama sebulan untuk membeli TV. Ternyata, janji Obay akan melunasi utang itu selama sebulan tinggal janji, malah Obay membawakan 15 buah girik palsu untuk Syafril. "Saya justru memberi andil bagi tertangkapnya Obay," kata Syafril. Sementara itu, pihak polisi mengusut kebenaran keterangan para tersangka. "Masih banyak pihak yang dimintai keterangan ihwal kasusini," kata Kapolwil Bogor, Kolonel Pamudji. Kapolda Jawa Barat, Mayor Jenderal Banurusman, yang kebetulan sedang mengadakan inspeksi ke wilayah Bogor, menambahkan bahwa kasus girik palsu ini, "Bakal menyangkut banyak pihak, dan harus dituntaskan." Tak lupa Banurusman mengingatkan agar masyarakat hati-hati membeli tanah, khususnya yang berstatus girik. "Masalah tanah memang rawan," kata Kapolda. Selain kasus di atas, masih banyak kasus bisa muncul dari jual beli tanah berstatus girik. Sebagian besar surat girik yang beredar sekarang dikeluarkan etelah tahun 1960-an, misalnya, tak lagi berarti tanda hak milik tanah secara adat. Si pemegang girik tak lebih dari pembayar atau memiliki kewajiban membayar PBB atas tanah atau bangunan yang dikuasainya. Banyak pemegang girik itu biasanya penggarap tanah negara atau perkebunan menjual girik semacam itu kepada orang-orang yang tak tahu tentang status girik. Celakanya, dalam banyak kasus jual beli itu disetujui oleh aparat pemda setempat. Selain itu, ada pula modusgirik aspal. Dalam kasus ini, pemilik girik asli pura-pura kehilangan surat tanahnya. Berdasarkan itu kepala desa membuat surat tanda kehilangan untuk mendapatgirik baru dari kantor Ipeda. Girikbaru, yang sebenarnya aspal itu, kemudian diperjualbelikan, sementara girik asli dijual pula kepada orang lain. Akibatnya, pada suatu ketika untuk sebidang tanah ditemukan duagirik yang dipegang orang berlainan. Yang lebih repot, jika pemilik girik asli tak kunjung mengurus sertifikat tanahnya, sementara pemegang girik aspal mengurus dan mendapat sertifikat hak milik atas tanah itu. "Kalau sudah begini, urusan menjadi runyam," kata sumber TEMPO di BPN Pusat. WY dan Achmad Novian (Biro Bandung) sumber: Tempo Online

http://tamsasolusi.blogspot.com

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->