P. 1
Wilayah Potensial Wisaya Pesisir Kalimantan Barat

Wilayah Potensial Wisaya Pesisir Kalimantan Barat

|Views: 1,157|Likes:
Dipublikasikan oleh Arum Nawang Wulan

More info:

Published by: Arum Nawang Wulan on Feb 19, 2011
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/19/2014

pdf

text

original

WILAYAH POTENSIAL WISATA PESISIR KALIMANTAN BARAT

TUGAS PRAKTIKUM SIG SEMESTER 5

DISUSUN OLEH: ARUM NAWANG WULAN 0806453812

DEPARTEMEN GEOGRAFI FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS INDONESIA 2010

DAFTAR ISI
DAFTAR ISI ..............................................................................................................................ii DAFTAR TABEL.................................................................................................................... iii DAFTAR PETA....................................................................................................................... iii BAB I PENDAHULUAN .......................................................................................................... 1 1. 1. Latar Belakang .............................................................................................................. 1 1. 2. Rumusan Masalah ......................................................................................................... 1 BAB II TINJAUAN PUSTAKA ............................................................................................... 3 BAB III METODOLOGI PENELITIAN ................................................................................ 11 3. 1. Variabel Penelitian ...................................................................................................... 11 3. 2. Pengumpulan Data dan Bahan .................................................................................... 12 3. 3. Pengolahan Data dan Bahan ........................................................................................ 12 3. 4. Analisis Data ............................................................................................................... 13 3. 5. Bagan Alur Kerja Penelitian ....................................................................................... 13 3. 6. Model Builder ............................................................................................................. 14 3. 7. Querry ......................................................................................................................... 14 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ................................................................................. 15 4. 1. Variabel Penelitian ...................................................................................................... 15 4.1. 1. Administrasi ....................................................................................................... 15 4.1. 2. Penggunaan Tanah.............................................................................................. 16 4.1. 3. Hutan Konservasi ............................................................................................... 17 4.1. 4. Ketinggian ........................................................................................................... 19 4.1. 5. Curah Hujan......................................................................................................... 21 4.1. 6. Wilayah Kesesuaian ............................................................................................ 22 BAB V KESIMPULAN ........................................................................................................... 24 DAFTAR PUSTAKA .............................................................................................................. 31

A rum Nawang Wulan, Geografi Uni vers itas Indones ia 2 010

Page ii

DAFTAR TABEL
Tabel 1. Matriks Kesesuaian Wilayah Wisata Pesisir … . ………………. . ……………… 10 Tabel 2. Bentuk Data yang Diperoleh ………………… . ………………. . ……………… 12 Tabel 3. Kawasan Hutan Konservasi (Suaka/Wisata) Provinsi Kalimantan Barat…;……… 17 Tabel 4. Wilayah Ketingian Kalimantan Barat ………………… . ………………. . ………21

DAFTAR GAMBAR
Gambar 1. Model Builder Kesesuaian Wisata Pesisir ………………… . ………………… 14

DAFTAR PETA
Peta 1. Administrasi Provinsi Kalimantan Barat………. . ………………. . ……………… 15 Peta 2. Penggunaan Tanah (Landuse) Provinsi Kalimantan Barat………. . ………………. 16 Peta 3. Hutan KonservasiProvinsi Kalimantan Barat…. . . . …………. . ……………….… 18 Peta 4. Wilayah Ketinggian Provinsi Kalimantan Barat………. . …. …. . ……………...… 19 Peta 5. Curah Hujan Provinsi Kalimantan Barat………. . ……………. . ………………… 21 Peta 6. Wisata Pesisir Provinsi Kalimantan Barat………. . ……………………………. .. . 22

DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran peta 1. Administrasi Provinsi Kalimantan Barat………. . ………………. .……. 25 Lampiran peta 2. Penggunaan Tanah (Landuse) Provinsi Kalimantan Barat.. ……………. 26 Lampiran peta 3. Hutan KonservasiProvinsi Kalimantan Barat…. . . . .. ……………….… 27 Lampiran peta 4. Wilayah Ketinggian Provinsi Kalimantan Barat.... …. . ……………...… 28 Lampiran peta 5. Curah Hujan Provinsi Kalimantan Barat…...………. . ………………… 29 Lampiran peta 6. Wisata Pesisir Provinsi Kalimantan Barat………. . …………………... . 30

A rum Nawang Wulan, Geografi Uni vers itas Indones ia 2 010

Page iii

BAB I
PENDAHULUAN

1. 1. Latar Belakang Kalimanan Barat adalah sebuah provinsi di Indonesia yang terletak di Pulau Kalimantan, dan beribukotakan Pontianak. Luas wilayah Provinsi Kalimantan Barat adalah 146. 807 km² (7,53% luas Indonesia). Merupakan provinsi terluas keempat Sebagian kecil dari Wilayah

setelah Papua, Kalimantan Timur dan Kalimantan Tengah.

Kalimantan Barat merupakan perairan laut, akan tetapi Kalimantan Barat memiliki puluhan pulau besar dan kecil (sebagian tidak berpenghuni) yang tersebar sepanjang Selat Karimata dan Laut Natuna yang berbatasan dengan wilayah Provinsi Kepulauan Riau serta memiliki Danau Sentarum yang terletak di Kabupaten Kapuas Hulu. Perairan di Kalimantan Barat memiliki potensi wisata yang cukup tinggi untuk dikembangkan, seperti di Kepulauan Natuna, pesisir di Kabupaten Sambas dan Kabupaten Ketapang, serta keberadaan Danau Sentarum. Dari semua lokasi tersebut, masing-masing memiliki lahan konservasi yang mempunyai potensi alam yang menjadi ciri khas tersendiri. Oleh karena itu, ciri khas dan keunikan tersebut lah yang mampu menjadi daya tarik wisata perairan di Kalimantan Barat.

1. 2. Rumusan Masalah Pada umumnya, perkembangan perekonomian suatu wilayah dapat diketahui melalui perkembangan PDRB dan sumbangan setiap sektor terhadap nilai PDRB tersebut. Model pengembangan wilayah wisata perairan Kalimantan Barat disusun berdasarkan karakteristik ekosistem dan segala hal yang berkaitan. Dalam penyusunan model yang sesuai dengan kemampuan wilayah, diterapkan prinsip-prinsip dan aspek-aspek yang harus dilaksanakan dalam pengembangan potensi wisata perairan agar kelestarian lansekap tetap terjaga sebagai sebuah ekosistem yang unik dengan menggunakan dukungan informasi spasial digital. Dari perumusan masalah diatas, maka muncul pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut: 1. Apa persyaratan yang harus dipenuhi oleh suatu wilayah agar dapat tergolong ke dalam wilayah pariwisata yang baik? 2. Potensi alam apa saja yang dapat menjadi objek wisata dalam wisata perairan di Kalimantan Barat?

A rum Nawang Wulan, Geografi Uni vers itas Indones ia 2 010

Page 1

3. Dimanakah wilayah terbaik yang akan menjadi wilayah wisata perairan di Kalimantan Barat?

*Variabel yang dibutuhkan: 1. Peta Administrasi berupa informasi-informasi mengenai batas-batas administrasi kecamatan, jaringan sungai, dan jaringan jalan. 2. Peta Tutupan Vegetasi yang berisi persebaran penggunaan lahan 3. Peta Hutan Konservasi yang berisi informasi kehidupan air yang terdapat di Kalimantan Barat. 4. Peta Wilayah Ketinggian berupa informasi beda ketinggian. 5. Peta Curah Hujan berupa pola jumlah curah hujan dalam satu tahun di Kalimantan Barat.

A rum Nawang Wulan, Geografi Uni vers itas Indones ia 2 010

Page 2

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Kawasan pesisir merupakan kawasan yang unik karena kawasan tersebut terdiri dari komponen daratan dan lautan. Komponen daratannya berubah-ubah tergantung dari pasang surut demikian juga komponen lautannya. Pada saat ini kita membatasi pada komponen daratannya (landscape) yang unik bukan komponen lautannya (seascape). Namun demikian, pembahasan lanskap kawasan wisata pesisir tidak berarti mengabaikan kondisi (ekosistem) lautannya karena keterkaitan ekosistem yang ada di pesisir. Menurut Rachman (1984)

lanskap (landscape) adalah wajah dan karakter lahan atau tapak bagian dari muka bumi ini dengan segala kehidupan dan apa saja yang ada di dalamnya, baik bersifat alami ataupun buatan manusia beserta makhluk hidup lainnya, sejauh mata memandang, sejauh indera dapat menangkap dan sejauh imajinasi dapat membayangkan. Wajah, karakter lahan serta

kehidupan pesisir sangat unik. Oleh karena keunikan tersebut, lanskap kawasan pesisir sangat cocok dikembangkan untuk obyek wisata. Objek wisata adalah tempat yang paling disukai untuk mencari hiburan bersama keluarga, kerabat dan teman-teman serta lainnya. Di samping objeknya, kiranya jenis pariwisata perlu pula dibicarakan di sini demi menyusun statistik dan data- data penelitian dan peninjauan yang lebih akurat di bidang ini. Kiranya tiap orang telah memaklumi bahwasanya

pembangunan ekonomi modern dewasa ini tanpa penelitian dan peninjauan yang sistematik akan menemui kegagalan yang mengakibatkan kerugian serta pemborosan yang tidak sedikit. Justru karenanya pembangunan industri pariwisata di Indonesia juga harus didasarkan atas prinsip-prinsip ini. Ini berarti jenis-jenis pariwisata kita harus ketahui dan perhitungkan supaya baginya dapat diberikan pengertian dan tempat wajar dalam pembangunan industri ini sesuai dengan falsafah ambeg paramarta serta situasi dan kondisi yang ada. Dengan kata lain, yang paling penting kita dahulukan dan yang kurang penting kemudian. Jenis-jenis wisata yang telah dikenal dewasa ini, antara lain: 1. Wisata Budaya Dimaksudkan dengan perjalanan yang dilakukan atas dasar keinginan untuk memperluas pandangan hidup seseorang dengan jalan mengadakan kunjungan atau peninjauan ke tempat lain atau luar negeri, mempelajari keadaan rakyat, kebiasaan dan adat istiadat mereka, cara hidup mereka, budaya dan seni mereka. Sering perjalanan serupa ini disatukan dengan kegiatan-kegiatan budaya, seperti eksposisi seni atau

A rum Nawang Wulan, Geografi Uni vers itas Indones ia 2 010

Page 3

kegiatan yang bermotif kesejarahan dan sebagainya. Jenis wisata budaya ini adalah jenis yang paling populer bagi Tanah Air kita. Bukti-bukti telah menunjukan bahwa jenis inilah yang paling banyak utama bagi wisatawan luar negeri yang datang ke negeri ini di mana mereka ingin mengetahui kebudayaan kita, kesenian kita dan segala sesuatu yang dihubungkan dengan adat istiadat dan kehidupan seni budaya kita.

2. Wisata Kesehatan Hal ini dimaksudkan dengan perjalanan seorang wisatawan dengan tujuan untuk menukar keadaan dan lingkungan tempat sehari-hari di mana ia tinggal demi kepentingan beristirahat baginya dalam arti jasmani dan rokhani dengan mengunjungi tempat peristirahatan seperti mata air panas mengandung mineral yang dapat menyembuhkan, tempat yang mempunyai iklim udara menyehatkan atau tempat-tempat yang menyediakan fasilitas-fasilitas kesehatan lainnya.

3. Wisata Olahraga Ini dimaksudkan dengan wisatawan-wisatawan yang melakukan perjalanan dengan tujuan berolahraga atau memang sengaja bermaksud mengambil bagian aktif dalam pesta olahraga di suatu tempat atau negara seperti Asian Games, Olympiade, Thomas Cup, Uber Cup dan lain-lain. Macam cabang olahraga yang termasuk dalam jenis wisata olahraga atau games misalnya berburu, memancing, berenang, dan berbagai cabang olahraga dakam air atau di atas pegunungan.

4. Wisata Komersial Dalam jenis ini termasuk perjalanan untuk mengunjungi pameran-pameran dan pecan raya yang bersifat komersial, seperti pameran industri, pameran dagang dan sebagainya. Pada mulanya banyak orang yang berpendapat bahwa hal ini tidaklah dapat digolongkan ke dalam dunia kepariwisataan dengan alasan bahwa perjalanan serupa ini, yaitu ke pameran atau ke pekan raya yang bersifat komersial hanya dilakukan oleh orang-orang yang khusus mempunyai tujuan tertentu untuk urusan bisnis mereka belaka dalam pecan raya tersebut. Tetapi pada kenyataannya pada dewasa ini di mana pameran-pameran atau pekan raya semacam ini diadakan, banyak sekali dikunjungi oleh orang-orang kebanyakan ingin melihat-lihat yang membutuhkan fasilitas sarana angkutan serta sewa akomodasi dengan reduksi khusus yang menarik. Dan tidak jarang pameran atau pekan raya ini dimeriahkan dengan berbagai macam atraksi dan pertunjukan kesenian. A rum Nawang Wulan, Geografi Uni vers itas Indones ia 2 010 Page 4

Karenanya, wisata komersial ini lalu menjadi kenyataam yang sangat menarik dan menyebabkan kaum pengusaha angkutan dan akomodasi membuat rencana-rencana istimewa untuk keperluan tersebut.

5. Wisata Industri Yang ada erat hubungannya dengan wisata komersial adalah apa yang dinamakan wisata industri. Perjalanan yang dilakukan oleh rombongan pelajar atau mahasiswa, atau orang-orang awam ke suatu kompleks atau daerah perindustrian di mana terdapat pabrikpabrik stsu bengkel-bengkel besar dengan maksud dan tujuan untuk mengadakan peninjauan atau penelitian termasuk dalam golongan wisata industri ini. Hal ini banyak dilakukan di negeri-negeri yang telah maju perindustriannya di mana masyarakat berkesempatan mengadakan kunjungan ke daerah-daerah atau kompleks-kompleks pabrik industri berbagai industri berbagai jenis barang yang dihasilkan secara masal di negeri itu.

6. Wisata Politik Jenis ini meliputi perjalanan yang dilakukan untuk mengunjungi atau mengambil bagian dengan aktif dalam peristiwa kegiatan politik , hadir dalam peristiwa-pertistiwa penting seperti konferensi, musyawarah, kongres atau konvensi politik yang selalu disertai dengan darmawisata termasuk dalam jenis ini. Sebab pada dewasa ini peristiwaperistiwa politik seperti tersebut di atas selalu disertai dengan kegiatan dunia kepariwisataan.

7. Wisata Konvensi Yang dekat dengan wisata jenis politik adalah apa yang dinamakan wisata konvensi. Berbagai negara dewasa ini membangun wisata konvensi ini dengan menyediakan fasilitas bangunan dengan ruangan-ruangan tempat bersidang bagi para peserta suatu konferensi, musyawarah, konfensi atau pertemuan lainnya baik yang bersifat nasional maupun internasional.

8. Wisata Sosial Ke dalam jenis ini termasuk pula wisata remaja. Yang dimaksudkan dengan jenis wisata ini adalah pengorganisasian suatu perjalanan murah serta mudah untuk memberi kesempatan kepada golongan masyrakat ekonomi lemah untuk mengadakan perjalanan. Organisasi ini berusaha untuk membantu mereka yang mempunyai kemampuan terbatas A rum Nawang Wulan, Geografi Uni vers itas Indones ia 2 010 Page 5

dari segi finansialnya untuk mempergunakan kesempatan libur atau cuti mereka dengan mengadakan perjalanan yang dapat menambah pengalaman serta pengetahuan mereka, dan sekaligus juga dapat memperbaiki kesehatan jasmaniah dan mental mereka.

9. Wisata Pertanian Sebagai halnya wisata industri, wisata pertanian ini adalah pengorganisasian perjalanan yang dilakukan ke proyek-proeyek pertanian, perkebunan, lading pembibitan dan sebagainya dimana wisatawan rombongan dapat mengadakan kunjungan dan peninjauan untuk tujuan studi maupun melihat-lihat keliling sambil menikmati segarnya tanaman beraneka warna dan suburnya pembibitan berbagai jenis sayur- mayor dan palwija di sekitar perkebunan yang dikunjungi. Tidak jarang pula pusat-pusat pertanian seperti ini menyediakan pramuwisata guna menjelaskan segala sesuatunya kepada wisatawan rombongan yang datang berkunjung.

10. Wisata Maritim (Marina) atau Bahari Jenis wisata ini banyak dikaitkan dengan kegiatan olahraga di air, lebih-lebih di danau, bengawan, pantai, teluk atau laut seperti memancing, berlayar, menyelam sambil melakukan pemotretan, kompetisi berselancar, balapan mendayung, berkeliling melihatlihat taman laut dengan pemandangan indah di bawah permukaan air serta berbagai rekreasi perairan yang banyak dilakukan di daerah-daerah atau negara-negara maritime.

11. Wisata Cagar Alam Untuk jenis wisata ini biasanya banyak diselenggarakan oleh agen atau biro perjalanan yang mengkhususkan usaha-usaha dengan jalan mengatur wisata ke tempat atau daerah cagar alam, taman lindung, hutan daerah pegunungan, dan sebagainya yang kelestariannya dilindungi oleh undang-undang. Wisata cagar alam ini banyak dilakukan oleh para penggemar dan pecinta alam dalam kaitannya dengan kegemaran memotret binatang atau marga satwa serta pepohonan kembang beraneka warna yang memang mendapat perlindungan dari pemerintah dan masyarakat. Wisata ini banyak dikaitkan dengan kegemaran dan keidahan alam, kesegaran hawa udara di pegunungan, keajaiban hidup binatang dan marga satwa yang langka serta tumbuh-tumbuhan yang jarang terdapat di tempat-tempat lain.

A rum Nawang Wulan, Geografi Uni vers itas Indones ia 2 010

Page 6

12. Wisata Buru Jenis ini banyak dilakukan di negeri-negeri yang memang memiliki daerah atau hutan tempat berburu yang dibenarkan oleh pemerintah dan digalakkan oleh berbagai agen atau biro perjalanan wisata. Wisata buru ini diatur dalam bentuk safari buru ke daerah atau hutan yang telah ditetapkan oleh pemerintah negara yang bersangkutan.

13. Wisata Pilgrim Jenis wisata ini sedikit banyak dikaitkan dengan agama, sejarah, adat istiadat dan kepercayaan umta atau kelompok dalam masyarakat. Wisata pilgrim banyak dilakukan oleh perorangan atau rombongan ke tempat-tempat suci, ke makam-makam orang besar atau pemimpin yang diagungkan, ke bukit atau gunung yang dianggap keramat, tempat pemakaman tokoh atau pemimpin sebagai manusia ajaib penuh legenda. Wisata pilgrim ini banyak dihubungkan dengan niat atau hasrat sang wisatawan untuk memperoleh restu, kekuatan bathin, keteguhan iman dan tidak jarang pula untuk tujuan memperoleh berkah dan kekayaan melimpah. Perwilayahan dalam dunia kepariwisataan adalah pembagian wilayah-wilayah pariwisata yang dapat dipandang memiliki potensi, selanjutnya dapat dijadikan tujuan yang pasti. Dalam pengertian ilmiahnya wilayah ini disebut daerah tujuan wisata yang batasannya adalah sebagau berikut: “Yang dimaksudkan dengan wilayah pariwisata adalah tempat atau daerah yang karena atraksinya, situasinya dalam hubungan lalu-lintas dan fasilitas-fasilitas kepariwisataannya menyebabkan tempat atau daerah tersebut menjadi objek kebutuhan wisatawan”. Bila kita pelajari dengan teliti definisi tersebut di atas, dapat kiranya disimpulkan bahwa ada tiga kebutuhan utama yang harus dipenuhi oleh suatu daerah untuk menjadi tujuan wisata, antara lain: (1) Memiliki atraksi atau objek menarik (2) Mudah dicapai dengan alat-alat kendaraan (3) Menyediakan tempat untuk tinggal sementara Adapun atraksi atau objek menarik yang dimaksudkan adalah sesuatu mungkin dihubungkan dengan keindahan alam, kebudayaan, perkembangan ekonomi, politik, lalu-lintas, kegiatan olahraga dan sebagainya, tergantung kepada „kekayaan‟ suatu daerah dalam soal pemilihan atraksi atau objek ini. Wilayah pariwisata paling ideal dan dapat menjamin maksud serta tujuan industri pariwisata kita sesuai dengan fungsinya adalah daerah tujuan wisata yang benar-benar dapat A rum Nawang Wulan, Geografi Uni vers itas Indones ia 2 010 Page 7

memberikan atraksi beraneka ragam, baik yang dimiliki alam sekitar sebagai objek tak bergerak maupun yang merupakan manifestasi budaya tinggi khas bersifat daerah atau nasional sebagai objek bergerak, serta dapat memperlihatkan kegiatan kehidupan rakyat di sekitarnya, tambahan pula memiliki situasi hubungan lalu-lintas baik yang dilengkapi dengan fasilitas-fasilitas kepariwisataan lainnya. Di Tanah Air kita penanganan pembangunan wilayah pariwisata untuk dijadikan daerah tujuan wisata akhir-akhir ini telah nampak menunjukkan adanya kemajuan. Dalam hubungan ini, pemerintah Indonesia dalam pelaksanaan kebijaksanaannya di bidang pariwisata melandaskan pembangunan daerah tujuan wisata ini atas dasar pokok-pokok pikiran: 1. Tersedianya prasarana, sarana dan fasilitas-fasilitas lainnya, serta besarnya potensi kepariwisataan di daerah yang bersangkutan, dalam hal ini Kalimantan Barat, 2. Asas pemerataan pembangunan, sehingga pengembangan pariwisata dapat

dilaksanakan serempak tanpa mengabaikan potensi sumber-sumber yang dimiliki tiaptiap daerah. Menurut Kay and Alder(1999), skope perencanaan regional meliputi daerah pesisir dari beberapa pemerintah lokal (kecamatan). Skala 1:100. 000 hingga 1:25. 000 dan panjang pantai sebesar 100 – 1000 km. Sifat dan isinya mencakup pola tata guna lahan skala besar, desain zona-zona pengembangan, jaringan transport, titik-titik rekreasi dan daerah konservasi utama (taman nasional). Contoh isi perencanaan pesisir regional diperlihatkan pada Kotak 1. Periode peninjauan rencana regional ini adalah 10 tahun. Menurut Gunn (1994), ada lima langkah kunci dalam proses pengembangan suatu rencana wisata regional. Pertama, penentuan tujuan yang dapat memberikan penyelesaian batasan-batasan / isu-isu, identifikasi zona tujuan dengan potensi terbesar, serta tujuan dan strategi pelaksanaan. Tujuan seharusnya dinyatakan dalam dokumen maupun forum publik. Kedua, penelitian yang memanfaatkan data sekunder, misal: laporan, peta-peta dan pustaka yang ada. Team perencana dapat memanfaatkan dari kegiatan workshop di wilayah perencanaan atau semacamnya. Dua faktor yang dipelajari, yaitu faktor-faktor fisik dan faktor-faktor program. Faktor fisik perlu dipelajari karena (1) penting untuk penentuan zona tujuan potensial, (2) identifikasi konsep, proyek dan penyelesaian isu, (3) penempatan wilayah dalam konteks geografi dan kompetitif yang tepat, (4) pembuatan obyek-obyek wisata yang baru maupun yang diperbaiki, serta (5) penilaian sumberdaya yang mengidentifikasi ancaman yang ada terhadap lingkungan dan petunjuk untuk batasan perluasan mendatang. Sedangkan faktor A rum Nawang Wulan, Geografi Uni vers itas Indones ia 2 010 Page 8

program dipelajari untuk mendapatkan informasi dasar pada kesenangan/kemauan pasar dan karakteristik lain untuk menentukan persediaan yang dikembangkan saat ini. Ketiga, sintesis dan Kesimpulan yang bertujuan untuk memberikan arti dari penemuan-penemuan pada tahap penelitian. Kesimpulan dapat ditarik dari data program maupun fisik. Keempat, konsep merupakan langkah kreativitas dan penemuan ide. Alat utama untuk pengembangan konsep adalah penemuan zona tujuan dengan potensi terbesar. Daerah lokal akan beruntung dari penilaian regional ini karena (1) pemetaan sumberdaya alam maupun budaya, (2) pembobotan dan agregasi peta dengan komputer, (3) interpretasi zona dengan kualitas dan kuantitas faktor sumberdaya. Kelima, rekomendasi pada skala regional harus digeneralisasi namun tidak harus lemah. Semua aktor dalam semua bagian wilayah akan melihat usaha-usaha yang dapat dibantu untuk keberhasilan semua. Pengalaman Gunn (1994) menunjukkan bahwa rekomendasi regional dipusatkan utamanya pada kesempatan untuk pengembangan obyek wisata, seperti yang dilakukan dalam pemilihan sembilan zona tujuan (destination zone) di Upper Peninsula. Identifikasi zona didasarkan pada kriteria berikut : 1. Sekumpulan obyek wisata, termasuk yang telah ada maupun yang baru, semua didasarkan pada aset sumberdaya yang ada. 2. Paling tidak ada satu pusat servis masyarakat, syukur lebih. 3. Hubungan dengan jalan darat, jalan laut, jalan udara diantara dan dengan semua sistem sirkulasi regional. 4. Suatu kesatuan subregional yang didapatkan dari pengaruh masyarakat, basis sumber daya alam dan manusia, serta suatu kesatuan tema obyek wisata. Dalam perencanaan regional lanskap kawasan wisata pesisir harus selaras dengan tata ruang yang telah dibuat pada tingkat regional kawasan tersebut. Penataan ruang pesisir akan mencakup penetapan peruntukan lahan yang terbagi menjadi tiga (Bappeda NTB dan PKSPL, 2000) , yaitu: (1) zona preservasi (2) zona konservasi, dan (3) zona pemanfaatan. Zona preservasi bertujuan sebagai penyangga antara zona pemanfaatan yang intensif dengan zona konservasi. Dengan adanya zona preservasi, dampak yang dihasilkan oleh aktivitas di zona pemanfaatan tidak sampai mengganggu keseimbangan ekologis di zona konservasi. A rum Nawang Wulan, Geografi Uni vers itas Indones ia 2 010 Page 9

Kemudian dilakukan penempatan kegiatan secara tepat dalam zona pemanfaatan dan akhirnya disusun desain /tata letak suatu kegiatan secara berkelanjutan, termasuk di dalamnya perencanaan lanskap kawasan wisata pesisir. Umumnya isu-isu yang terkait dengan perencanaan regional adalah jaringan transport, pengembangan kota, pengembangan wisata, pengembangan pelabuhan maupun industri, alokasi sumberdaya, dan perencanaan dalam penentuan daerah konservasi. Penanganan isu perencanaan regional tersebut dapat memanfaatkan kehebatan SIG karena SIG dapat dipakai untuk analisis spasial maupun temporal. Tabel 1. Matriks Kesesuaian Wisata Pesisir
No. 1 2 Variabel Jarak Perairan dari Daratan Penggunaan Lahan Sangat Sesuai (SS) 100 m - Pemukiman - Lahan Terbuka - Hutan Tingkat Kesesuaian Sesuai (S) 200 m - Perairan Darat Tidak Sesuai (TS) 500 m Hutan Tanam Industri Pertanian Perkebunan Industri TN Bukit Baka TW Bukit Kelam CA G. Nyiut & Penrisen CA G. Raya Pasi CA Mandor TN Belitung Karibun TN Danau Sentarum "X" 201-400 mdpl 401-600 mdpl 500 m 3001-3500 mm/thn 3501-4000 mm/thn 4001-4500 mm/thn

3

Daya Tarik Wisata (Hutan Konservasi) - TL. Kepulauan Natuna

- CA Muara Kandangan - TN Gunung Palung

4 5 6

Wilayah Ketinggian Jaringan Jalan Curah Hujan

- 0-50 mdpl - 51-100 mdpl 100 m - 2000-2500 mm/thn

- 101-200 mdpl 250 m - 2501-3000 mm/thn

-

Syarat sebuah wilayah dapat dikatakan berpotensi untuk menjadi wilayah wisata pesisir yang baik adalah: memiliki kehidupan air yang dapat “dijual” seperti halnya kehidupan air di Kepulauan Natuna yang memiliki keunikan tersendiri, berada di ketinggian 0-50 mdpl, dan merupakan kawasan konservasi yang menyuguhkan atraksi wisata dengan ciri tersendiri.

A rum Nawang Wulan, Geografi Uni vers itas Indones ia 2 010

Page 10

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

3.1. Variabel Penelitian Untuk menganalisis tentang karakteristik wilayah potensial wisata pesisir di Kalimantan Barat, penelitian ini menggunakan variable jarak laut dari daratan, penggunaan lahan, adanya hutan konservasi sebagai daya tarik wisata, wilayah ketinggian, jaringan jalan, serta curah hujan dalam setahun dengan asumsi bahwa keenam variabel tersebut merupakan beberapa hal yang berpengaruh besar terhadap kesesuaian wilayah wisata pesisir. Beberapa variabel yang berpengaruh diantaranya : 1. Jarak dari Pantai (Jarak_1): 1. 100 m (SS) 2. 200 m (S) 3. 500 m (TS) 2. Penggunaan Lahan (landuse): 1. Pemukiman, lahan terbuka, hutan. (SS) 2. Perairan darat. (S) 3. Hutan tanam industri, pertanian, perkebunan, industri. (TS) 3. Hutan Konservasi (HK): 1. TL. Kepulauan Natuna (SS) 2. CA. Muara Kendawang, TN. Gunung Palung (S) 3. TN. Bukit Baka, TW. Bukit Kelam, CA. G. Nyiut & Penrisen, CA. G. Raya Pasi, CA. Mandor, TN. Belitung Karibun, TN. Danau Sentarum. (TS) 4. Wilayah Ketinggian (ketinggian): 1. 0-100 mdpl (SS) 2. 101-200 mdpl (S) 3. 201-600 mdpl. (TS) 5. Jaringan Jalan (Jarak): 1. 100 m (SS) 2. 250 m (S) 3. 500 m (TS)

A rum Nawang Wulan, Geografi Uni vers itas Indones ia 2 010

Page 11

6. Curah Hujan (CH_mm_thn): 1. 2000-2500 mm/thn (SS) 2. 2501-3000 mm/thn (S) 3. >3000 mm/thn (TS)

3.2. Pengumpulan Data dan Bahan Pengumpulan datanya bersifat data sekunder yang diambil dari Badan Pusat Statistik (BPS) dan beberapa literatur baik literatur digital maupun buku bacaan. Data yang digunakan :  Data peta : 6. Peta Administrasi berupa informasi-informasi mengenai batas-batas

administrasi kecamatan, jaringan sungai, dan jaringan jalan. 7. Peta Tutupan Vegetasi yang berisi persebaran penggunaan lahan 8. Peta Hutan Konservasi yang berisi informasi kehidupan air yang terdapat di Kalimantan Barat. 9. Peta Wilayah Ketinggian berupa informasi beda ketinggian. 10. Peta Curah Hujan berupa pola jumlah curah hujan dalam satu tahun di Kalimantan Barat. Tabel 2. Bentuk data yang diperoleh Bentuk No. 1 2 3 4 5 Data Sekunder Peta Rupa Bumi Indonesia Peta Hutan Konservasi Peta Curah Hujan Peta Wilayah Ketinggian Peta Landuse Tabulasi Spasial v v v v v Sumber Perolehan Bakosurtanal Lab SIG Lab SIG Lab SIG Lab SIG

3.3. Pengolahan Data dan Peta Pengolahan data dan peta menggunakan perangkat lunak Arc GIS 9. 3.

3. 4. Analisis Data Analisis wilayah potensial wisata pesisir didasarkan atas potensi alam dan karakteristik lahan (land characteristic) dalam hubungannya dengan kebutuhan fisik

A rum Nawang Wulan, Geografi Uni vers itas Indones ia 2 010

Page 12

wilayah pesisir yang cocok untuk dijadikan wilayah wisata. Analisis tersebut dengan menggunakan metode overlay/super impose.

3. 5. Bagan Alur Kerja Penelitian :

Wilayah Potensial Wisata Pesisir di Kalimantan Barat

Peta RBI (Jar. Jalan)

Peta Landuse

Peta CH

Peta Ketinggian

Peta Landuse

Peta Batas Pantai

Overlay

Overlay

Overlay

Peta Gabungan

Syarat Kesesuaian Clipping Ketiga Jenis Kesesuaian Derah Tujuan Wisata Pesisir Wilayah Potensial Wisata Pesisir Bagan 1. Alur Kerja Penelitian

A rum Nawang Wulan, Geografi Uni vers itas Indones ia 2 010

Page 13

3.6. Model Builder

Gambar 1. Model Builder Potensial Wisata pesisir

3.7. Query 1. SS: "Jarak_1" = '100' AND "landuse" = 'Permukiman' OR "landuse" = 'Lahan Terbuka' OR "landuse" = 'Hutan' AND "Jenis_Huta" = 'TL. Kepulauan Karimata' AND "Ketinggian" = '0 - 50' AND "Ketinggian" = '51 - 100' OR "Jarak" = '100' AND "CH_mm_thn" = '2000-2500' 2. S: "Jarak_1" = '200' AND "landuse" = 'Perairan Darat' AND "Jenis_Huta" = 'CA. Muara Kendawangan' OR "Jenis_Huta" = 'TN. Gunung Palung' AND "Ketinggian" = '101 - 200' AND "Jarak" = '250' AND "CH_mm_thn" = '2501-3000' 3. TS: "Jarak_1" = '500' AND "landuse" = 'Hutan Tanam Industri' OR "landuse" = 'Pertanian' OR "landuse" = 'Perkebunan' OR "landuse" = 'Industri' AND "Jenis_Huta" = 'TN. Bukit Baka' OR "Jenis_Huta" = 'TW. Bukit Kelam' OR "Jenis_Huta" = 'CA. G. Nyiut & Penrisen' OR "Jenis_Huta" = 'CA. G. Raya Pasi' OR "Jenis_Huta" = 'CA. Mandor' OR "Jenis_Huta" = 'TN. Belitung Keribun' OR "Jenis_Huta" = 'TN. Danau Sentarum' OR "Jenis_Huta" = 'x' AND "Ketinggian" = '201 - 400' OR "Ketinggian" = '401 - 600' AND "Jarak" = '500' AND "CH_mm_thn" = '3001-3500' OR "CH_mm_thn" = '3501-4000' OR "CH_mm_thn" = '4001-4500'

A rum Nawang Wulan, Geografi Uni vers itas Indones ia 2 010

Page 14

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Variabel Penelitian Dslam menentukan lokasi pariwisata yang baik, ada lebih dari dua variabel yang dibutuhkan. Dalam penelitian ini, penulis mengambil beberapa variabel penelitian, antara lain berupa jangkauan pesisir dari garis pantai, jangkauan jalan, penggunaan tanah, hutan konservasi, wilayah ketinggian, serta curah hujan di Provinsi Kalimantan Barat. Berikut akan diberikan penjelasannya.

4.1.1 Administrasi

Peta 1. Wilayah Administrasi Kalimantan Barat

Data yang penulis butuhkan dari peta wilayah administrasi ini adalah data jaringan jalan dan garis pantai. Dari jaringan jalan tersebut, penulis membuat jangkauan jalan (buffer) dengan jarak 100, 250, dan 500 m dari garis jaringan jalan tersebut. Semakin jauh dari jalan, maka wilayah wisata dikatakan semakin tidak berkompeten untuk dikembangkan ataupun dirintis. Oleh sebab itu, jarak sebesar 100 m lah yang terbaik dalam hal ini.

A rum Nawang Wulan, Geografi Uni vers itas Indones ia 2 010

Page 15

Data kedua yang diolah dari peta ini adalah data garis pantai. Dari garis pantai inilah, penulis membuat jangkauan pesisir. Jarak yang diambil oleh penulis adalah 100, 200, dan 500 meter dari garis pantai tersebut. Seperti halnya jaringan jalan, semakin jauh jarak jangkauan pesisir, maka wilayah pariwisata tersebut tidak sesuai untuk dikembangkan. Untuk menentukan wilayah yang sangat sesuai untuk dikembangkan menjadi wilayah wisata pesisi, data utama yang dipergunakan adalah jangkauan pesisir ini.

4.1.2 Penggunaan Tanah Wilayah Provinsi Kalimantan Barat merupakan wilayah yang didominasi oleh banyaknya hutan yang berada di hampir seluruh wilayah provinsi ini. Pada peta penggunaan lahan yang ditampilkan dapat terlihat wilayah Provinsi Kalimantan Barat didominasi oleh warna hijau yang berarti bahwa wilayah tersebut ditutupi oleh hutan. Persebaran hutan ini berada di wilayah timur hingga ke wilayah tenggara Provinsi Kalimantan Barat. Kabupaten Kapuas Hulu memiliki luas hutan terbesar dibandingkan dengan kabupaten lain di Kalimantan Barat.

Peta 2. Penggunaan Tanah Kalimantan Barat

Penutupan lahan kedua di Provinsi Kalimantan Barat adalah berupa padang. Wilayah yang ditutupi oleh padang berada di wilayah Kalimantan Barat bagian tengah dan sedikit di

A rum Nawang Wulan, Geografi Uni vers itas Indones ia 2 010

Page 16

selatan. Ada tiga kabupaten dengan wilayah yang sebagian besar ditutupi oleh padang yaitu wilayah Kabupaten Sintang, Kabupaten Sekadau, Kabupaten Sanggau, Kabupaten Landak, dan Kabupaten Bengkayang. Sementara di wilayah Kabupaten Melawi tutupan lahan berupa padang berada di peringkat kedua setelah hutan. Penutupan lahan ketiga di Provinsi Kalimantan Barat adalah berupa rawa. Wilayah yang ditutupi oleh rawa berada di wilayah bagian barat terutama di bagian sepanjang pantai. Sebagian besar wilayah yang ditutupi oleh rawa berada di wilayah Kabupaten Pontianak dan Kabupaten Ketapang. Di wilayah Kabupaten Kapuas Hulu juga terdapat penutupan lahan rawa di bagian tengah. Sementara untuk wilayah dengan tutupan lahan berupa semak sebagian besar berada di wilayah Kabupaten Ketapang terutama di bagian selatan. Untuk penutupan wilayah yang lain seperti permukiman, pertambangan dan sawah terletak tersebar di setiap kabupaten. Khusus untuk penutupan lahan berupa sawah banyak terletak di wilayah Kalimantan Barat bagian timur dan barat laut. Sementara wilayah dengan tutupan lahan berupa hutan mangrove berada di wilayah pesisir pantai timur, terutama di Kabupaten Pontianak. Penggunaan tanah yang sangat sesuai untuk dikembangkan menjadi wilayah wisata pesisir adalah wilayah dengan penggunaan tanah dengan pemukiman, hutan, dan lahan terbuka. Selain itu, perairan darat pun dapat menjadi wilayah yang sesuai untuk dikembangkan.

4.1.3 Hutan Konservasi Tabel 1. Kawasan Hutan Konservasi (Suaka/Wisata) Provinsi Kalimantan Barat
No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Kabupaten Sambas Pontianak Ketapang Ketapang Ketapang Sintang Sintang Kapuas Hulu Kapuas Hulu Unit Konservasi CA. G. Nyiut & Penrisen CA. Mandor TN. Gunung Palung TL. Kepulauan Karimata CA. Muara Kendawangan Tn. Bukit Baka TW. Bukit Kelam TN. Danau Sentarum TN. Belitung Keribun CA. G. Raya Pasi Jumlah Luas Potensi 124,500.00 Bekantan, Orang Utan, Pelanduk dan Owa. 3,080.00 Perwakilan tipe ekosistem hutan kerangas, Anggrek, Beruang Madu. 90,000.00 Perwakilan tipe ekosistem pantai, bakau, rawa, dan pegunungan. 77,000.00 Ikan Hias, Lumba-lumba, Ikan Duyung. 150,000.00 Hutan Mangrove, Hutan Cemara Pantai, Jelutung, Bekantan, Orang Utan. 27,500.00 Bekantan (Nasalia lavartus ), Orang Utan (Pongo pygmaeus ). 520.00 Burung Walet dan Monyet. 79,500.00 Ekosistem Danau Air Tawar, Rangkong, Bangau Tongtong, Ikan Air Tawar. 800,000.00 Anggrek, Orang Utan, Beruang Madu, Macan Dahan. 3,700.00 Anggrek, Merabu, Muncak, Bangau, Kijang. 1,355,800.00

10 Kota Singkawang

Sumber: Subdin Perlindungan Hutan

Berdasarkan tabel, dapat dilihat bahwa hutan konservasi terluas terdapat di kabupaten Kapuas Hulu, di kabupaten ini terdapat dua buah hutan konservasi. Hutan konservasi yang pertama adalah Taman Nasional Belitung Keribun yang terdapat di timur kabupaten ini. A rum Nawang Wulan, Geografi Uni vers itas Indones ia 2 010 Page 17

Disini merupakan wilayah perlindungan dari anggrek, orang utan, beruang madu, dan macan dahan. Hutan konservasi yang kedua adalah Taman Nasional Danau Sentarum, di wilayah ini terdapat perlindungan terhadap ekosistem danau air tawar yang hidup di sekitar Danau Sentarum.

Peta 3. Potensi Hutan Konservasi Kalimantan Barat

Di Kalimantan Barat terdapat wilayah konservasi mamalia di perbatasan antata Kab. Sintang dan Kab. Melawi, yakni di Taman Nasional Bukit Baka seluas 27.500 ha yang melindungi bekantan dan orang utan. Selain wilayah konservasi mamalia, Kalimantan Barat juga memiliki wilayah konservasi di bidang perikanan yang terdapat di Taman Laut Kepulauan Karimata. Disini terdapat wilayah konservasi dari ikan hias, lumba-lumba dan ikan duyung. Keterangan : * CA : Cagar Alam * TL : Taman Laut * TN : Taman Nasional * TW : Taman Wisata

Wilayah yang sangat sesuai untuk menjadi wilayah wisata pesisir adalah wilayah yang memiliki kawasan konservasi yang bersentuhan langsung dengan garis pantai dan memiliki daya tarik wisata yang menjadi cirri khas masing-masing tempat.

A rum Nawang Wulan, Geografi Uni vers itas Indones ia 2 010

Page 18

4.1.4 Wilayah Ketinggian

Peta 4. Wilayah Ketinggian Kalimantan Barat

Sebagian besar wilayah Provinsi Kalimantan Barat merupakan dataran rendah dengan luas sekitar 146. 807 km2 atau 7,53 persen dari luas Indonesia atau 1,13 kali luas pulau Jawa. Wilayah ini membentang lurus dari Utara ke Selatan sepanjang lebih dari 600 km dan sekitar 850 km dari Barat ke Timur. Wilayah ketinggian yang ada di Provinsi Kalimantan Barat ini sendiri dibagi ke dalam 5 kelas wilayah ketinggian, yaitu : 1. Kelas Wilayah Ketinggian 0 – 50 mdpl, mendominasi Provinsi Kalimantan Barat di bagian barat dengan topografi yang relatif datar. Kelas wilayah 0 – 50 mdpl ini pun terdapat pada setiap kabupaten dan kota yang ada di Provinsi Kalimantan Barat bagian barat. Hanya saja untuk Kab. Melawai, kelas wilayah ketinggian ini terletak di sebelah utara dan pada Kab. Ketapang didominasi di sebelah selatan. Sedangkan pada Kabupaten dan Kota

Pontianak, serta Kota Singkawang seluruh wilayah ketinggiannya berada pada kelas wilayah ketinggian ini. 2. Kelas wilayah ketinggian 51 – 100 mdpl, mendominasi di bagian timur Provinsi

Kalimantan Barat yang tersebar dari utara Kab. Kapuas Hulu menuju bagian timur Kab. Sintang dan dilanjutkan pada selatan Kab. Melawai, kemudian berakhir pada bagian timur Kab. Ketapang. Sehingga bentuk medannya relatif datar bergelombang pada setiap

A rum Nawang Wulan, Geografi Uni vers itas Indones ia 2 010

Page 20

kabupaten tersebut. Kelas ketinggian wilayah ini juga tersebar tidak merata pada kabupaten/ kota yang ada kecuali pada Kabupaten dan Kota Pontianak serta Kota Singkawang. 3. Kelas Wilayah Ketinggian 101 – 200 mdpl, tersebar tidak merata pada Provinsi Kelas wilayah ketinggian 101 – 200 mdpl hanya dimiliki oleh 8

Kalimantan Barat.

kabupaten yang ada di provinsi ini. Kelas wilayah ketinggian ini tersebar dengan didominasi pada bagian utara, timur dan selatan Kab. Kapuas Hulu, sebelah timur Kab. Sintang, sebelah selatan dan barat Kab. Melawai, sebelah Timur Kab. Ketapang dan Kab. Bengkayang, dan berada di sebelah utara Kab. Sambas dan Kab. Landak. 4. Kelas Wilayah Ketinggian 201 – 400 mdpl, tersebar tidak merata pada tujuh kabupaten yang ada di Provinsi Kalimantan Barat. Pada Kab. Kapuas Hulu, Kab. Sintang dan Kab. Landak dan Kab. Sambas kelas wilayah ketinggian ini lebih mendominasi di sebelah utara. Sedangkan pada Kab. Melawai dan Kab. Sekadau terletak dominan menyebar pada bagain selatan kabupaten ini. Hal ini berbeda dengan Kab. Bengkayang yang dominan tersebar pada bagian timur dan pada perbatasan Kab. Ketapang dengan Kab. Melawai dan Kab. Sintang di utaranya. 5. Kelas Wilayah Ketinggian 401 – 600 mdpl, tersebar tidak merata pada tiga kabupaten yang ada di Provinsi Kalimantan Barat dengan topografi yang bergunung-gunung. Pada Kab. Kapuas Hulu dominan tersebar pada bagain utara, sedangkan pada Kab. Sintang dan Kab. Bengkayang terletak di sebelah timur wilayah kabupaten ini. Ketinggian yang sangat sesuai untuk menjadi kawasan wilayah wisata pesisir adalah dengan wilayah ketinggian 0-100 meter dari permukaan laut. Semakin tinggi wilayah, maka semakin tidak sesuai wilayah tersebut untuk dijadikan wilayah wisata pesisir.
Tabel 4. Wilayah Ketinggian Kalimantan Barat

Ketinggian (mdpl) 0 - 50 50 - 100 100 - 200 200 - 400 400 - 600 Total

Luas (km2) 98464 37297 9875 1373 162 147171

Persentase )%) 66.90 25.34 6.70 0.93 0.11 100

A rum Nawang Wulan, Geografi Uni vers itas Indones ia 2 010

Page 21

4.1.5 Curah Hujan

Peta 5. Curah Hujan Kalimantan Barat

Wilayah Kalimantan barat terletak di garis lintang 0 (garis khatulistiwa) sehingga curah hujan yang terjadi cukup tinggi dalam setahun,kategorinya di tandai dengan gradasi warna dari warna muda ke warna tua,kategorinya sebagai berikut: 1. Wilayah daerah dengan curah hujan 2000-2500 mm/tahun: (Warna putih) banyak terdapat di bagian selatan dari Kalimantan Barat,wilayah cakupannya termasuk kabupaten Ketapang,lalu sebagian wilayah dari kabupaten Sekadu dan kabupaten Sanggau. 2. Wilayah daerah dengan curah hujan 2500-3000 mm/tahun: (Warna biru muda) banyak terdapat di sebagian wilayah di barat dan timur Kalimantan barat. Wilayah cakupannnya termasuk kabupaten Sambas dan Bengkayang. 3. Wilayah daerah dengan curah hujan 3000-3500 mm/tahun: (Warna biru) merupakan bagian yang mendominasi dari Kalimantan barat,terdapat di bagian tengah Kalimantan barat. Wilayah cakupannya termasuk kabupaten Landak dan senagian besar dari kabupaten Bengkayang dan Sanggau.

A rum Nawang Wulan, Geografi Uni vers itas Indones ia 2 010

Page 22

4. Wilayah daerah dengan curah hujan 3500-4000 mm/tahun: (Warna biru agak tua) bagian ini terdapat di bagian timur laut Kalimantan barat. Wilayah cakupannya adalah sebagian dari kabupaten Kapuas hulu dan Sintang. 5. Wilayah daerah dengan curah hujan 4000-4500 mm/tahun: (Warna biru tua) bagian ini merupakan bagian paling sedikit di kalimantan barat,terdapat di bagian timur laut. Wilayah cakupannya adalah sebgian dari wilayah kabupaten Kapuas Hulu. Data curah hujan digunakan karena selain faktor topografi yang diperhitungkan dalam melakukan perjalanan wisata, faktor iklim pun menjadi pertimbangan. Dalam hal ini, wisatawan cenderung mencari lokasi wisata yang tidak terlalu sering terjadi hujan ataupun wilayah yang kurang mendapatkan curahan air hujan di wilayah tujuan wisata mereka. 20002500 mm/tahun menjadi pertimbangan terbaik dalam mengembangkan wilayah wisata pesisir disini. 4.1.6 Wilayah Kesesuaian

Peta 6. Wilayah Wisata Pesisir Kalimantan Barat

A rum Nawang Wulan, Geografi Uni vers itas Indones ia 2 010

Page 23

Dari hasil penggabungan variabel-variabel yang telah disebutkan sebelumnya, dapat dilihat bahwa ada tiga jenis kesesuaian wilayah wisata pesisir. Antara lain: 1. Sangat sesuai untuk dijadikan wisata pesisir di Kalimantan Barat adalah, wilayah yang mempunya jarak 100 meter dari garis pantai, memilki potensi (daya tarik wisata yang tinggi dengan keberadaan hutan konservasi di wilayah terkait, penggunaan lahan yang mampu untuk dikelola sebagai wisata pesisir, dengan ketinggian kuran dari 100 meter dari permukaan laut, curah hujan yang tidak lebih dari 2500 mm/tahun, wilayah yang dimaksud adalah wilayah di bagian pesisir Kabupaten Ketapang serta di sebelah timur Taman Kepulauan Karimata. 2. Sesuai untuk dijadikan wilayah wisata pesisir, hal ini dapat dilihat dari keberadaan pesisir itu sendiri. Jarak dari garis pantai tidak terlalu berpengaruh, jarak yang digunakan adalah 0-200 meter. Penggunaan lahan tidak telalu berpengaruh, jenis penggunaan apa pun dapat dimasukan kedalam jenis wilayah kesesuaian ini. Wilayah sesuai ini kurang “menjual” karena tidak memiliki cirri khas tersendiri yang dapat menjadi daya tarik wisata itu sendiri. 3. Tidak sesuai untuk dijadikan wisata pesisir, berdasarkan hasi buffering garis pantai, jarak >300 meter dari garis tersebut sudah dapat dikatakan tidak sesuai untuk dikembangkan menjadi wilayah wisata pesisir.

A rum Nawang Wulan, Geografi Uni vers itas Indones ia 2 010

Page 24

BAB V KESIMPULAN
Untuk menjadi lokasi wisata yang baik untuk dikembangkan dibutuhkan persyaratan tertentu. Dalam hal ini wisata pesisir, dibutuhkan jarak jangkauan dari garis pantai yang tidak terlalu jauh, jarak dari jaringan jalan yang tidak jauh dari pusat wisata, penggunaan lahan yang masih dapat diolah, wilayah ketinggian yang kurang dari 100 mdpl, curah hujan yang tidak terlalu ekstrim, serta memiliki daya tarik wisata yang mempunyai cirri tersendiri. Potensi alam yang dapat menjadi daya tarik wisata pesisir di Kalimantan Barat berasal dari hutan konservasi (suaka/wisata) yang terdapat di wilayah ini. Seperti halnya di Taman Laut Kepulauan Karimata yang memiliki daya tarik alam laut bagi mereka yang ingin melakukan wisata bahari. Ikan lumba-lumba, ikan duyung, dan aneka ikan hias akan menyapa para penyelam di taman laut ini. Selain di taman laut, terdapat perwakilan tipe ekosistem pantai, bakau, rawa, dan pegunungan di Taman Nasional Gunung Palung yang dapat menjadi daya tarik wisata bagi mereka yang ingin melakukan wisata alam. Serta terdapat penangkaran bekantan dan orangutan di Cagar Alam Muara Kendawangan. Dapat terlihat dari peta hasil, wilayah yang memiliki kesesuaian tertinggi berada di pesisir Kabupaten Ketapang. Tepatnya di sepanjang garis pantai Cagar Alam Muara Kendawangan dan Taman Nasional Gunung Palung. Serta sebagian wilayah pesisir di Taman Laut Kepulauan Karimata.

A rum Nawang Wulan, Geografi Uni vers itas Indones ia 2 010

Page 25

Lampiran Peta

Lampiran peta 1. Administrasi Provinsi Kalimantan Barat 26

Lampiran peta 2. Penggunaan Tanah Provinsi Kalimantan Barat 27

Lampiran peta 3. Hutan Konservasi Provinsi Kalimantan Barat 28

Lampiran peta 4. Wilayah Ketinggian Provinsi Kalimantan Barat 29

Lampiran peta 5. Hutan Curah Hujan Provinsi Kalimantan Barat 30

Lampiran peta 6. Hutan Konservasi Provinsi Kalimantan Barat

31

Daftar Pustaka
1. Gunn, C. A. Tourism Planning : Basics, Concepts, Cases, Third Edition, UK: Taylor & Francis Ltd. , 1994. 2. Kaelany, HD. Peluang Di Bidang Pariwisata. Jakarta: Mutiara Sumber Widya Penabur Benih Kecerdasan, 1997. 3. Kay R. and J. Alder. . Coastal Planning and Management. USA: E & FN Spon. London, UK and Newyork, 1999 4. Pendit, Nyoman Suwandi. Ilmu Pariwisata Sebuah Pengantar Perdana. Jakarta: PT Pradnya Paramita, 1990.

5. Rachman, Z. Proses Berfikir Lengkap Merencana dan Melaksana dalam Arsitektur
Pertamanan, Makalah diskusi pada Festival Tanaman VI – Himagron. Bogor: Jurusan Budi Daya Pertanian. Faperta – IPB Bogor. 1984. 6. BPS Kalimantan Barat. “Geografi”. Style Sheet. http://kalbar. bps. go. id/KDA07/FILE/bab1/Ulasan%201. htm#petawilayah. 2010) (19 Mei

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->