Anda di halaman 1dari 40

2

Pedosfer

Proses Terbentuknya Tanah

Klasifikasi Tanah

Persebaran Tanah

Jenis Tanah di Indonesia

Degradasi lahan
Menganalisis proses pembentukan tanah di Indobesia

Disusun :
Resti Widya Astuti
Sudbudia Sudarmawati Mursalim
 Tanah dalam bahasa Inggris disebut soil. Menurut
Dokuchaev tanah adalah suatu benda fisis yang
berdimensi tiga terdiri dari panjang, lebar, dan dalam
yang merupakan bagian paling atas dari kulit bumi.
 Lahan dalam bahasa Inggris disebut land. Lahan
merupakan lingkungan fisis dan biotik yang berkaitan
dengan daya dukungnya terhadap perikehidupan dan
kesejahteraan hidup manusia.

>>Lahan lebih luas daripada tanah.

Pengertian Tanah dan Lahan


Komposisi Tanah

Tanah tersusun atas lima komponen, yaitu:


1. Partikel mineral berupa bahan anorganik
2. Bahan organik
3. Air
4. Udara
5. Jasad Renik.
1. Warna tanah
Faktor yang mempengaruhi antara lain: kadar kelembaban
tanah dan bahan-bahan yang terkandung di dalam tanah.
2. Ukuran partikel tanah
a. Kerikil
b. Pasir
c. Debu
d. Lemping (Clay)
3. Tekstur tanah
Menunjukkan sifat halus/kasarnya butiran tanah.
4. Struktur tanah
a. Remah
b. Keping
c. Gumpal
d. Hubus gumpal
e. Prismatik
f. Bertiang
Perubahan struktur tanah dipengaruhi perubahan tekstur
akibat:
 Kelembaban dan pertukaran udara
 Pengambilan/penambahan unsur hara
 Mekanisme pertumbuhan akar tanaman
 Pengaruh kegiatan organisme dalam tanah
Ada beberapa faktor penting yang memengaruhi proses pembentukan
tanah. Faktor-faktor tersebut dapat dirumuskan sebagai berikut :

T = f (i, o, b, t, w) s = f (cl, o, r, p, t)

Keterangan : Keterangan :
T = Tanah s = soil
f = faktor f = factor
i = iklim cl = climate
o = organisme o = organism
b = bahan induk r = relief
t = topografi p = parent material
w = waktu t = time
Iklim
Climate
Dua unsur utama iklim yang memengaruhi proses
pembentukan tanah:
1.Suhu atau temperatur
Suhu akan berpengaruh terhadap proses pelapukan bahan
induk. Apabila suhu tinggi, maka proses pelapukan akan
berlangsung cepat sehingga pembentukan tanah akan cepat pula.
2.Curah hujan
Curah hujan akan berpengaruh terhadap kekuatan erosi dan
pencucian tanah, sedangkan pencucian tanah yang cepat
menyebabkan tanah menjadi asam (pH tanah menjadi rendah).
Organisme
Organism
Meliputi vegetasi, jasad renik, atau mikroorganisme.
Organisme sangat berpengaruh terhadap proses
pembentukan tanah dalam hal :
1.Membuat proses pelapukan, baik pelapukan organik
maupun pelapukan kimiawi.
2.Membantu proses pembentukan humus.
3.Vegetasi hutan dapat membentuk tanah.
4.Kandungan unsur-unsur kimia pada tanaman berpengaruh
terhadap sifat-sifat tanah.
Bahan Induk
Parent Material
Terdiri dari batuan vulkanik, batuan beku, batuan sedimen
(endapan), dan batuan metamorf.
Batuan induk itu akan hancur menjadi bahan induk,
kemudian akan mengalami pelapukan menjadi tanah. Tanah
yang terdapat di permukaan bumi sebagian memperlihatkan
sifat (terutama sifat kimia) yang sama dengan bahan
induknya.
Topografi
Relief
Keadaan relief suatu daerah akan memengaruhi:
1. Tebal atau tipisnya lapisan tanah
Daerah yang memiliki topografi miring dan berbukit lapisan
memiliki tanah yang lebih tipis karena tererosi, sedangkan
daerah yang datar, lapisan tanahnya tebal karena terjadi
sedimentasi.
2. Sistem drainase atau pengaliran
3. Daerah yang drainasenya buruk, seperti tergenang
menyebabkan tanahnya menjadi asam.
Waktu
Time
Karena proses pembentukan tanah yang terus berjalan, maka
induk tanah berubah berturut-turut menjadi :
1. Tanah muda, ditandai oleh proses pembentukan tanah yang
masih tampak pencampuran antar abahan organik dan bahan
mineral atau masih tampak struktur bahan induknya.
2. Tanah dewasa, ditandai oleh proses yang lebih lanjut sehingga
tanah muda dapat berubah menjadi tanah dewasa, yaitu dengan
proses pembentukan horison B.
3. Tanah tua, proses pembentukan tanah berlangsung lebih lanjut
sehingga terjadi proses perubahan-perubahan yang nyata pada
horizon-horoson A dan B. Akibatnya terbentuk horizon A1, A2,
A3, B1, B2, B3.
Profil Tanah
Profil tanah adalah susunan tanah berdasarkan lapisan-lapisan tertentu yang
menunjukkan tingkat kepadatan, ketebalan, warna, dan tekstur yang berbeda-
beda. Lapisan-lapisan tanah tersebut dinamakan horizon. Sebuah horizon
tanah merupakan penampang melintang dari permukaan tanah hingga ke
bahan induk tanah.
Horizon O
1. : lapisan permukaan, terdapat banyak akar tanaman dan
jasad renik tanah. Lapisan ini berwarna gelap dan kaya akan humus.
Horizon A
2. : zona eluviasi yang masih mempunyai banyak humus.
Lapisan ini warnanya keabu-abuan dan lebih pucat.
Horizon B
3. : zona akumulasi yang sedikit sekali lapisan humusnya,
tempat diendapkannya sebagian mineral yang hanyut dari horizon A.
4. Horizon C : zona terjadinya pelapukan bahan induk tanah.
5. Horizon R : zona bahan induk tanah (padas asli).
Proses Pembentukan Tanah

1. Additions : penambahan air (hujan, irigasi), nitrogen dari


bakteri pengikat N, energi dari sinar matahari, dsb.
2. Losses : dihasilkan dari kemikalia yang larut dalam air,
adanya erosi, pemanenan atau penggembalaan, denitrifikasi,
dll.
3. Transformation : terjadi karena banyak reaksi kimia dan
biologi pada proses dekomposisi bahan organik, pembentukan
material tidak larut dari material yang larut.
4. Translocation : terjadi karena adanya gerakan air maupun
organisme di dalam tanah misalnya clay beregrak ke lapisan
yang lebih dalam atau gerakan garam terlarut ke permukaan
karena evaporasi.
Proses Perkembangan Tanah
Proses perkembangan tanah adalah berkembangnya fase pembentukan tanah
setelah masa pelapukan batuan dan atau dekomposisi bahan organik.
1.Fase pembentukan horizon-horizon utama tanah
Pada fase ini peranan semua faktor pembentuk tanah menjadi sangat
penting.
a.Tahap Pembentukan Horizon C
Tahap pembentukan Horizon C yaitu tahap pelapukan batuan menjadi
tanah mineral, sebagai akibat dari efek komponen iklim terhadap batuan.
b.Tahap pembentukan Horizon O dan atau Pertumbuhan Vegetasi
Pada tahap ini terjadi pertumbuhan vegetasi di ats horozon C kemudian
mati atau melepas sisa-sisa bagian tanaman yang mati, tertimbun di permukaan
atau kemudian terdekomposisi menjadi humus atau tetap berupa seresah. Timbunan
ini membentuk horizon O (organik) atau H (histik).
c. Tahap Pembentukan Horizon A
Horizon A terbentuk dari hasil percampuran antara tanah mineral dengan
bahan organik yang dapat dilakukan oleh organisme tanah (dekomposisi dan
mineralisasi serta metabolisme), manusia (pengolahan tanah dan
pemupukan), dan proses alam lainya.
d. Tahap Pembentukan Horizon B
Horizon B adalah sub horizon tanah yang terbentuk dari adanya pencucian
(elluviasi) koloid liat dan atau koloid organik pada horizon A hingga
terbentuk horizon Albik (E) kemudian ditimbun pada horizon yang ada
dibawahnya (illuviasi).

2. Fase pembentukan horizon-horizon penciri tanah


Pada fase ini terjadi perkembangan horizon utama tanah yang berkorelasi atau
sejalan dengan proses pedogenesis tanah sebagai akibat terus bekerjanya
faktor pembentuk tanah yang bersifat sebagai faktor pengubah sifat jenis
tanah.
a. Pembentukan horizon penciri pada permukaan tanah.
b. Pembentukan horizon penciri pada subhorizon ( horizon bawah permukaan).
Penghambat Perkembangan Profil
Tanah
Berbagai kondisi yang menghambat perkembangan profil tanah :
1. curah hujan rendah (pelapukan rendah, material terlarut yang tercuci
sedikit)
2. kelembaban relatif rendah (pertumbuhan mikroorganisme seperti alga,
fungi, lichenes rendah)
3. bahan induk mengandung sodium karbonat atau lime yang tinggi (material
tanah rendah mobilitasnya)
4. bahan induk mengandung kuarsa yang tinggi dengan kandungan debu dan
clay rendah (pelapukan lambat, gerakan koloid rendah)
5. kandungan clay tinggi (aerasi jelek, pergerakan air lambat)
6. bahan induk resisten misal quartzite (pelapukan lambat)
7. kelerengan tinggi (erosi menyebabkan hilangnya lapisan top soil;
pengambilan air tanah rendah)
8. tingginya air tanah (pencucian rendah, laju pelapukan rendah)
9. suhu dingin (semua proses pelapukan dan aktivitas mikrobia lambat)
10. akumulasi material secara konstan (material baru menyebabkan
perkembangan tanah menjadi baru)
11. erosi air dan angin yang berat (tereksposnya material baru )
12. Pencampuran oleh binatang dan manusia (pengolahan tanah, penggalian)
akan meminimalisir pergerakan koloid ke bagian tanah lebih dalam
13. Adanya subtansi racun bagi tanaman, misal garam yang
berlebihan,heavy metal, herbisida yang berlebihan
SESI PERTANYAAN
Mengklasifikasikan jenis tanah berdasarkan kesuburannya

Disusun :
Deynanti Primalaila
Dini Aprilia Norvyani
Klasifikasi tanah adalah suatu cara pengelompokan tanah berdasarkan
sifat dan ciri tanah yang sama atau hampir sama, kemudian diberi nama
agar mudah dikenal, diingat, dipahami dan dibedakan dengan tanah-
tanah lainnya. Setiap jenis tanah memiliki sifat dan ciri tertentu dan
berbeda dengan jenis tanah lainnya. Setiap jenis tanah memiliki sifat,
ciri, potensi kesesuaian tanaman dan kendala tertentu untuk pertanian
sehingga memerlukan teknologi pengelolaan tanah yang spesifik untuk
dapat berproduksi optimal. Berdasarkan bahan pembentukannya, tanah
dibedakan atas tanah organik dan tanah mineral. Sistem ini dibangun
berdasarkan morfo-genesis tanah (sifat morfologi dan proses
pembentukan tanah dari asal bahan induk tanah).
Spodosols adalah tanah bertipe debu keabu-abuan horizon permukaan atas.
Spodosols terjadi pada daerah humid di boreal (dingin) dan berlokasi di
tropic. Jenis tanah ini telah mengalami perkembangan profil, susunan
horizon terdiri dari horizon albic (A2) dan spodic (B2H) yang jelas, tekstur
lempung hingga pasir, struktur gumpal, konsistensi lekat, kandungan pasir
kuarsanya tinggi, sangat masam, kesuburan rendah, kapasitas pertukaran
kation sangat rendah, peka terhadap erosi, batuan induk batuan pasir
dengan kandungan kuarsanya tinggi, batuan lempung dan tuff vulkan
masam.
Zona spodosols terjadi dalam wilayah dengan kondisi iklim yang tidak
berubah-ubah dari sebagian besar lahan yang diolah.
Andisols berasal dari kata ando yang berarti tanah hitam, adalah tanah
yang berwarna gelap khususnya pada lapisan atas. Umumnya dibentuk
dari endapan vulkanik dan oleh karena itu mereka pada umumnya
ditemukan di dataran tinggi di sekitar gunung api. Total luas sekitar
5.39 juta ha atau 2.9% dari lahan yang ada di Indonesia.
Ultisols

Ultisols berasal dari kata ultimus yang artinya selesai, merupakan tanah-
tanah yang berwarna kuning merah dan telah mengalami pencucian yang
sudah lanjut. Dikenal luas sebagai podsolik merah kuning. Tanah-tanah
ini mendominasi lahan kering yang ada di Sumatera, Kalimantan dan
Jawa. Ultisols merupakan tanah penting yang ada di Indonesia, dengan
luas 48,3 juta ha atau sekitar 29,7% dari total tanah di Indonesia dan
sekitar 56% dari total tanah kering yang ada di Indonesia. Penyebaran
Ultisols di Indonesia meliputi daerah sepanjang sungai-sungai besar yang
terdapat di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Irian Jaya serta di daerah
lembah dan dataran tinggi.
Mollisols (mollis-halus) adalah tanah-tanah mineral yang mempunyai
morfologi serupa dengan tanah-tanah praire. Lapisan atasnya tebal (10-
40 cm), dan berwarna gelap atau abu gelap, kaya bahan organik dan
basa-basa dan pH nya netral. Umumnya dibentuk dari bahan batuan
kapur dan proses pembentukannya sangat dipengaruhi oleh iklim. Luas
tanah ini sekitar 9.91 juta ha atau 5.3% dari total daratan Indonesia.
Oxisols (oxide, oksida) adalah tanah-tanah yang telah mengalami
pencucian yang intensif dan miskin hara, tinggi kandungan AL dan Fe.
Seperti halnya Ultisols, mereka mendominasi lahan kering dengan
intensitas curah hujan yang tinggi. Jenis tanah ini biasanya berusia tua
dan kebanyakan dapat ditemukan di Sumatera Selatan, Papua,
Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Jambi, dan Lampung.
Entisols (recent- holosin, berarti tanah mineral yang masih
muda). Dibentuk dari sedimen vulkanik, batuan kapur dan
metamorfik. Aluvial, Regosol dan Litosol termasuk dalam
jenis ini. Di Indonesia, tanah Entisols kebanyakan dapat
ditemukan di Papua, Kalimantan Tengah, Sumatera Selatan,
dan Nusa Tenggara Timur.
Histosols
Histosols (histos, jaringan tanaman, solum, tanah). Terbentuk
dari pembusukan jaringan tanaman sehingga mengandung
banyak bahan organik. Histosols dikenal juga dengan tanah
gambut. Contoh jenis tanah ini adalah tanah organosols. Di
Indonesia, tanah Histosols kebanyakan ditemukan di Riau,
Papua, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, dan Sumatra
Selatan.
Inceptisols (inceptum- mulai mengembang) adalah tanah-tanah mineral
yang secara berangsur memperlihatkan horizon pedogenik. Tanah
mineral yang usianya masih muda. Contoh jenis tanah ini adalah tanah
latosol, alluvial, brown forest, solonsak, dan humic gley. Di Indonesia,
tanah Inceptisols kebanyakan dapat ditemukan di Papua, Kalimantan
Timur, Kalimantan Tengah, dan Maluku.
Vertisols

Vertisols (verto, reversed) adalah tanah mineral dengan warna abu


kehitaman, mengandung lempung 30%, terdapat di daerah beriklim
kering dan memiliki batuan induk kaya akan kation. Di Indonesia,
tanah vertisols kebanyakan dapat ditemukan di Nusa Tenggara
Timur, Nusa Tenggara Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, dan
Sulawesi Selatan.
SESI PERTANYAAN