Anda di halaman 1dari 128

MORALITAS PESERTA DIDIK PADA PENDIDIKAN INKLUSIF (Studi Kasus pada Sekolah Inklusi SD Hj.Isriati Semarang)

(Studi Kasus pada Sekolah Inklusi SD Hj.Isriati Semarang) TESIS Diajukan sebagai Persyaratan untuk Memperoleh Gelar

TESIS

Diajukan sebagai Persyaratan untuk Memperoleh Gelar Magister Studi Islam dalam Konsentrasi Etika/Tasawuf

Oleh :

Siti Barokah NIM. 065112072

PROGRAM MAGISTER INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) WALISONGO

2008

DR. H.Abdul Muhaya, MA. Perum BPI Blok K-17 Ngaliyan Semarang Telpon, 024 – 7625443

NOTA PEMBIMBING

Pembimbing dengan ini menerangkan bahwa Tesis Saudari Siti

Barokah NIM. 065112072 yang berjudul : “MORALITAS PESERTA

DIDIK PADA PENDIDIKAN INKLUSIF” telah siap dan memenuhi

syarat untuk diujikan sebagai tesis pada konsentrasi Etika

Islam/Tasawuf, Program Pascasarjana IAIN Walisongo tahun

akademik 2007/2008

Semarang,

Juli 2008

Pembimbing

DR.H. Abdul Muhaya, M.A. NIP. 150245380

2

DEPARTEMEN iiiiiI
DEPARTEMEN
iiiiiI

DEPARTEMEN AGAMA IAIN WALISONGO PROGRAM PASCASARJANA Jln. Raya Ngaliyan (kampus 3) Semarang 50185. Telp./Fax (024) 7614454. E-mail :

Pascaws @ plasa.com Home Page :

www.pascawalisongo.cjb.com

PENGESAHAN

Tesis berjudul

: MORALITAS PESERTA DIDIK PADA PENDIDIKAN INKLUSIF (Studi Kasus pada Sekolah Inklusi SD Hj.Isriati Semarang)

Ditulis oleh

: Siti Barokah

NIM

: 065112072

Telah dapat diterima sebagai salah satu syarat memperoleh gelar Magister Studi Islam dalam Konsentrasi Etika/Tasawuf

Semarang,

Juli 2008

Direktur

Dr. H. Achmad Gunaryo, M.SocSc NIP. 150247012

3

DEKLARASI

DENGAN PENUH KEJUJURAN DAN TANGGUNG JAWAB,

PENULIS MENYATAKAN BAHWA TESIS INI TIDAK BERISI

MATERI YANG TELAH PERNAH DITULIS OLEH ORANG LAIN

ATAU DITERBITKAN, KECUALI INFORMASI YANG TERDAPAT

DALAM REFERENSI YANG DIJADIKAN SEBAGAI BAHAN

RUJUKAN DALAM PENELITIAN INI.

Semarang,

Juli 2008

Penulis,

Siti Barokah NIM. 065112072

4

Abstraksi

Moralitas Peserta Didik pada Pendidikan Inklusif, merupakan judul yang dipilih dalam penelitian ini untuk mendukung tersedianya fakta dengan mengungkapkan data dan penalaran moralitas peserta didik yang dikemas dengan landasan moral budaya Jawa, yaitu prinsip hormat dan prinsip rukun, yang merupakan moralitas yang memberikan dukungan untuk menjaga harmoni kehidupan demi kelangsungan hidup manusia. Gagasan tersebut dilatar belakangi adanya :

1. Keresahan yang terjadi pada dunia pendidikan tentang moralitas peserta didik yang berada pada degradasi moral, hal tersebut sering disaksikan pada tayangan televisi, mass media dan suguhan-suguhan internet. 2. Pendidikan inklusif sebagai solusi dengan memberikan pelayanan pendidikan untuk semua, menerima keberbedaan dan tidak ada diskriminasi.

Fokus pada penelitian ini mengajukan rumusan masalah untuk mengetahui bagaimana moralitas peserta didik pada SD Hj. Isriati sebagai penyelenggara pendidikan inklusif yang sekaligus mengkombinasikan kurikulum dengan syariah Islam dan apakah ada perbedaan antara peserta didik berkebutuhan khusus dengan peserta didik non berkebutuhan khusus.

Untuk menjawab permasalahan tersebut diatas, menggunakan metode pengumpulan data dengan observasi, wawancara, dan telaah dokumen. Data tersebut diidentivikasi untuk menentukan data yang mewakili untuk selanjutnya dianalisis. Analisis yang dipergunakan untuk menguatkan fakta yang ada adalah SPSS.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa peserta didik pada usia 6 sampai dengan 12 tahun yang sederajad dengan peserta didik Sekolah Dasar yang memiliki kecenderungan untuk menjadi manusia yang bermoral baik terhadap orang tua, guru dan teman sebayanya, pada SD Hj Isriati Semarang sebagai penyelenggara Pendidikan Inklusif menunjukkan hasil yang sangat baik bagi peserta didik berkebutuhan khusus dengan prosentase, 71, 43 %, moralitas peserta didik non berkebutuhan khusus, yang tempat duduknya berdekatan dengan peserta didik berkebutuhan khusus atau normal 1 serta peserta didik yang tempat duduknya berjauhan atau normal 2 menunjukkan peringkat baik dengan prosentase, 52, 63 %, sampai dengan 64, 28 % Fakta tersebut memberikan kontribusi bahwa pendidikan inklusif adalah wadah pelayanan education for future yang sesuai dengan fitrah manusia, yaitu kesucian, tanpa melihat perbedaan.

Kata Kunci : Moralitas Peserta Didik terhadap Orang tua, Moralitas terhadap Guru, serta Moralitas terhadap Teman Sebaya.

5

Kata Pengantar

Dengan memanjatkan sembah sujud dan penuh ketaatan hanya untuk mengabdi kepada Tuhan yang Maha segalanya, kami bersimpuh tak berdaya kecuali mencari ridhoNya, dan shalawat serta salam kami panjatkan kepada junjungan dan tauladan seluruh umat manusia, Muhammad SAW, yang akan kita nantikan syafaatnya di yaumul kiyamah. Amiin.

Penulisan tesis ini, berusaha untuk mengungkapkan data-data dan fakta yang berkaitan dengan moralitas peserta didik pada pendidikan inklusif. Moralitas peserta didik yang akan diteliti dalam tesis ini dikaitkan dengan moralitas budaya Jawa yaitu prinsip hormat dan prinsip rukun. Dalam proses penulisan sampai dengan penyelesaian tesis ini, tidak lepas dari dorongan semangat, dukungan, tegur sapa, masukan, bimbingan dari semua pihak, utamanya yang terkait langsung pada diri penulis, untuk itu perkenankan penulis mengucapkan terima kasih yang tidak terhingga dan dengan iringan do’a, semoga Yang Maha Kuasa, selalu melimpahkan ketetapan Iman, Islam serta kesehatan, sehingga tetap akan terus berbuat kebaikan untuk semua. Ucapan terima kasih, penulis tujukan kepada :

1. Dr.H. Achmad Gunaryo, M.SocSc, selaku rektor program Pascasarjana IAIN Walisongo;

2. Prof. Dr. H. Amin Syukur, M.A., selaku penasehat akademik, dan sekaligus mursyid yang memberi dorongan untuk terus maju dalam mengikuti perkuliahan di Pasca IAIN Walisongo, serta Drs. HM. Darori Amin, M.A., selaku penasehat akademik;

3. DR. H.Abdul Muhaya, M.A., selaku pembimbing yang penuh kesabaran dan kecerdikan, yang telah meluangkan waktu pada proses penulisan tesis ini;

4. Seluruh dosen pada program Pascasarjana IAIN Walisongo yang menorehkan ilmunya dan tersirat pada diri penulis untuk terus

6

semangat menapaki hidup dengan ilmu, amal dan kebijakan, serta seluruh perangkat tenaga administrasi yang tidak mampu disebut namanya satu persatu yang telah membantu terselesainya penulisan tesis ini;

5. Suamiku, Drs. Pudji Tikno, M.M, Putri-putriku, Puti Widya Ekasani SE, Osi Isna Sabela dan putra bungsuku Ikhsan Salasa, yang memberikan dukungan besar berupa dorongan, semangat, serta mampu menimbulkan persaingan dalam berbuat kebaikan, yang insya Allah menuju kepada yang diridhoiNya

6. Teman-teman sejawat di Seksi Kurikulum Subdin Pendidikan Luar Biasa (PLB) Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah, yang pada bulan Juli 2008 ini telah bubar dengan diberlakukannya Susunan Organisasi dan Tenaga Kerja (SOTK) yang baru dan melebur menjadi Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah

7. Dan seluruhnya yang memberikan dukungan, dorongan, semangat ,bimbingan, yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu, semoga semuanya selalu pada kebaikan yang dilandasi dengan akal dan syariah yang mampu menuntunnya ke jalan bimbingan Tuhan. Dan dengan kerendahan hati, dimohon kritik, saran dan masukan dari semua pihak untuk perkembangan Pendidikan Inklusif di masa mendatang, sebagai Pendidikan yang berorientasi pada rasa atau hati sebagai fitrah yang suci untuk menuju sang Illahi.

Semarang,

Juli 2008

Penulis

7

DAFTAR SINGKATAN

ABK

: Anak Berkebutuhan Khusus

ADHD

: Attention Deficit Hyperactivity Disorder

AIDS

: Acquired Immune Deficiency Syndrome

CIBI

: Cerdas Isimewa Bakat istimewa

Dirjen

: Direktorat Jenderal

Dikdasmen

: Pendidikan Dasan dan Menengah

Depdiknas

: Departemen Pendidikan Nasional

HIV

: Human Immunedeviciency Virus

HAM

: Hal Azasi Manusia

LIRP

: Lingkungan Inklusif Ramah terhadap Pembelajaran

MAN

: Madrasah Aliyah Negeri

Pildacil

: Pilihan Dai Kecil

PLB

: Pendidikan Luar Biasa

PUS

: Pendidikan Untuk Semua

PBB

: Persatuan Bangsa-Bangsa

SLB

: Sekolah Luar Biasa

SD

: Sekolah Dasar

SMP

: Sekolah Menengah Pertama

SMA

: Sekolah Manengah Atas

SPSS

: Statistical Products and Solution Services

SOTK

: Susunan Organisasi dan Tata Kerja

Sisdiknas

: Sistim Pendidikan Nasional

SAW

: Sollallahu a’laihi wa Sallaam

UNESCO

: United Nations Educational Scientific and Cultural

UU

Organization : Undang-Undang

8

MOTTO

ﻒﺮﻌﻴﻢﻠﻖﺬﻴﻢﻠﻦﻤ

”Barang siapa yang tidak pernah merasakan, maka ia tidak akan pernah tahu”

(Sufi)

DAFTAR ISI

9

Halaman Judul

i

Halaman Persetujuan

ii

Halaman Pengesahan

iii

Pernyataan Keaslian Karya Tulis Tesis

iv

Abstraksi

v

Kata Pengantar

vi

Daftar Singkatan

viii

Motto

ix

Daftar Isi

x

Daftar Tabel

xiii

Daftar Lampiran

xiv

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

1

B. Rumusan Masalah

8

C. Tujuan

8

D. Signifikansi

8

E. Telaah Pustaka

9

F. Metode Penelitian

12

1. Pendekatan Penelitian

12

2. Metode Pengumpulan Data

12

3. Teknik Analisis Data

13

G. Sistimatika Penulisan

13

II. LANDASAN TEORI

A. Definisi Moral, Etika dan Akhlak

16

B. Perbedaan Moral, Etika dan Akhlak

23

C. Persamaan Moral, Etika dan Akhlak

25

D. Teori Moral, Etika dan Akhlak

26

1. Emotivisme

26

2. Intuisionisme

28

3. Konsekuensialisme

31

10

4.

Deontologi

31

 

5. Etika Hak

33

6. Teori-teori Akhlak

33

E. Strategi Pembentukan Moralitas

34

 

- Mujahadah dan Riyadhah

35

- Kebijakan atau Jalan Tengah

36

- Kepatuhan terhadap Agama

39

-

Kekuatan Ilmu

42

F.

Cakupan Moralitas Peserta Didik

 

1. Moralitas Peserta Didik

43

2. Faktor-faktor Pembentuk Moralitas Peserta Didik

46

III. MORALITAS PESERTA DIDIK PENDIDIKAN INKLUSIF

A. Pengertian dan Konsep Pendidikan Inklusif

52

B. Landasan Kekuatan Pendidikan Inklusif

62

C. Pengertian Anak Berkebutuhan Khusus

64

D. Sekilas Perkembangan SD Hj. Isriati Semarang

67

E. Aplikasi Pendidikan Inklusif pada SD Hj. Isriati Semarang

69

F. Moralitas Peserta Didik SD Hj. Isriati Semarang

 

1. Moralitas Peserta Didik terhadap Orang Tua

84

2. Moralitas Peserta Didik terhadap Guru

85

3. Moralitas Peserta Didik terhadap Teman Sebaya

86

IV. DESKRIPSI DAN ANALISIS DATA

A. Deskripsi Data Penelitian

88

B. Hasil Analisis Data Penelitian

105

V. KESIMPULAN DAN SARAN

11

A. Kesimpulan

107

B. Saran dan Penutup

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN-LAMPIRAN

DAFTAR TABEL

12

108

Tabel 1.1.

: Data Peserta Didik Berkebutuhan Khusus

SD Hj. Isriati Semarang

6

Tabel 2.1.

: Perbedaan Moral, Etika dan Akhlak

24

Tabel 2.2.

: Ciri-ciri Pemikir Heteronomous dan

Otonomous

45

Tabel 3.1.

: Kegiatan Pelayanan Guru Pembimbing

terhadap Peserta Didik Berkebutuhan Khusus

77

Tabel 4.1.

: Deskripsi Subyek Berdasarkan Kelompok

Peserta Didik

89

Tabel 4.2.

: Skor Subyek pada Nilai Rerata, Minimal

dan Maksimal

90

Tabel 4.3.

: Skor Subyek pada Nilai Rerata, Minimal

dan Maksimal untuk ABK

90

Tabel 4.4.

: Kategori Moralitas Peserta Didik Berke-

butuhan Khusus berdasarkan Rerataan Teoritik dan Standar Deviasi

91

Tabel 4.5.

: Kategori Moralitas Peserta Didik Normal 1

berdasarkan Rerataan Teoritik dan Standar Deviasi

92

Tabel 4.6.

: Kategori Moralitas Peserta Didik Normal 2

berdasarkan Rerataan Teoritik dan Standar Deviasi

93

Tabel 4.7.

: Rekapitulasi Hasil Penelitian Kategori

Moralitas Peserta Didik Berkebutuhan Khusus, Normal 1 dan Normal 2

94

Tabel 4.8.

: Kategori Moralitas Peserta Didik Berke-

s-d

butuhan Khusus berdasarkan Rerataan

Teoritik dan Standar Deviasi

95

Tabel 4.16.

: Kategori Moralitas Peserta Didik Berke-

butuhan Khusus berdasarkan Rerataan Teoritik dan Standar Deviasi

104

DAFTAR LAMPIRAN

13

Lampiran 1

: Daftar kuesioner peserta didik

Lampiran 2

: Butir Jawaban Peserta Didik Berkebutuhan Khusus

Lampiran 3

: Butir Jawaban Non Peserta Didik Berkebutuhan

Lampiran 3

Khusus (Normal 1) : Butir Jawaban Non Peserta Didik Berkebutuhan

Lampiran 4

Khusus (Normal 2) : Rekapitulasi Butir Jawaban Peserta Didik

Lampiran 5

: Lampiran-lampiran Hasil Analiysis SPSS

14

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Moralitas peserta didik merupakan persoalan yang aktual dan penting untuk dibicarakan, hal itu disebabkan, pertama, adanya kecendrungan menurunnya moralitas peserta didik terutama di kota kota besar, kedua, peserta didik merupakan generasi muda yang akan memegang estafet kepemimpinan bangsa. Ketiga, peserta didik juga merupakan aset utama bagi kemajuan bangsa dan negara. Peserta didik adalah anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan potensi diri melalui proses pengembangan pembelajaran yang tersedia melalui jalur, jenjang, dan jenis pendidikan tertentu (UU Sisdiknas no. 20 tahun 2003). Dalam proses pengembangan pembelajaran yang dijalani peserta didik diarahkan pada pembentukan manusia dewasa, memiliki tanggung jawab menjalankan kewajiban-kewajibannya. Oleh karena itu, idealnya peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritial keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara (UU Sisdiknas no. 20 tahun 2003). Bagi peserta didik masa sekolah adalah masa untuk belajar menjadi orang dewasa, bukan untuk menjadi remaja yang sukses (Elias, Maurice J.et all, 2003,h.33), berkaitan dengan pendapat tersebut peserta didik yang dalam proses menuju kedewasaannya (pendidikan) disiapkan untuk mampu berperilaku baik, memiliki sopan santun, sehingga memberikan ciri kekhasan sebagai manusia yang bernilai, mampu menunjukkan jati dirinya, bertanggung jawab dengan apa yang menjadi pilihan hatinya. Dengan kata lain, pendidikan tidaklah semata sebagai proses pencerdasan peserta didik, akan tetapi

15

pendidikan juga bertujuan untuk menciptakan peserta didik yang bermoral. Moralitas adalah sopan santun, segala sesuatu yang berhubungan dengan etiket atau adat sopan santun (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1990, Balai Pustaka, cet.Ke III: 2288) Perilaku baik yang dapat disebut moralitas yang sesungguhnya tidak saja sesuai dengan standar sosial melainkan juga dilaksanakan dengan sukarela. Ia muncul bersamaan dari peralihan dari kekuasaan eksternal ke internal dan terdiri atas tingkah laku yang diatur dari dalam, yang disertai tanggung jawab pribadi untuk tindakan masing-masing (Elizabeth B.Hurlock, 1978: 75). Bertingkah laku baik, bagi peserta didik, seharusnya terwujud dalam seluruh pola kehidupan yang berimplikasi pada keluarga, guru, dan teman. Ciri tersebut harus merupakan trade mark yang menjadi jati dirinya untuk dijadikan bekal menuju kedewasaan peserta didik. Secara sosiologis, peserta didik merupakan bagian dari lingkungan dimana mereka hidup, berbuat dan berkarya dengan apa yang dimilikinya dan apa yang didapatkannya termasuk nilai baik buruk yang didapatkan secara turun-temurun Kondisi-kondisi yang masih konsisten dan mampu memberikan kekuatan bagi mereka dan merupakan warisan dari nenek moyang yang tidak pernah luntur oleh perkembangan kehidupan bangsa yang menggeser nilai-nilai kehidupan bangsa ini ialah prinsip rukun 1 dan prinsip hormat 2 . Warisan tersebut merupakan warisan budaya yang luhur, sebagaimana tertuang dalam peribahasa “Rukun agawe santoso, crah agawe bubrah”. Yang artinya pertikaian membuat perceraian, rukun membangun kekuatan (Purwadi, Djoko Dwiyanto, 2006: 257).

1 Rukun adalah kesatuan perasaan antar individu dalam melaksanakan sebuah visi bersama dengan menyingkirkan segala jenis pertengkaran dan pertentangan (Purwadi, 2006:257) 2 Berdasarkan pendapat, bahwa semua hubungan dalam masyarakat teratur secara hirarkis, bahwa keteraturan hirarkis itu bernilai pada dirinya sendiri dan oleh karena itu orang wajib untuk mempertahankannya dan untuk membawa diri sesuai dengannya (H. Geertz dalam Franz Magnis-Suseno, 2001:60).

16

Sikap saling menghargai, saling menghormati, saling mengasihi, saling berempati, saling tolong menolong dan saling bekerja sama, seharusnya dipertahankan atau diuri-uri sebagai filosofi bangsa supaya manusia menjadi manusia yang sehat jasmani, sehat rokhani, sehat sosial maupun sehat spiritualnya, sebagaimana kriteria sehat menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Ironisnya, fenomena yang terjadi dalam dunia pendidikan, mengisyaratkan bahwa telah terjadi degradasi moral, tayangan Televisi, kupasan media cetak, berita di dalam internet marak dengan berita-berita tentang sikap-sikap negatif, seperti tidak menghargai, dan menghormati kepada para guru-guru, bahkan sampai terjadi perkelaian, tawuran, pelecehan, pemerkosaan dan juga pembunuhan yang dilakukan oleh peserta didik di jenjang Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Atas (SMA) di berbagai kota besar di negara ini. Hal ini merupakan indikasi merosotnya moralitas yang mustinya dijunjung tinggi demi terwujudnya manusia yang bermoral. Sehingga yang tercipta sekarang ini adalah sebuah ras yang non manusiawi, dan inilah mesin berbentuk manusia yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan dan kehendak alam yang fitrah (Ary Ginanjar Agustian, 2001: xliii). Untuk membentuk dan mengarahkan peserta didik pada moralitas baik atau berperilaku baik diperlukan kondisi dan situasi yang benar-benar berada dalam keadaan selaras, tenang, tentram, tanpa perselisihan, pertentangan, damai satu sama lain, suka bekerja sama, saling menerima, dalam suasana tenang dan sepakat. Situasi dan kondisi tersebut diatas dianggap sebagai asumsi bahwa jiwa manusia dalam mengambil keputusan sangat dipengaruhi oleh kondisi jiwa dan lingkungan dimana mereka hidup, mereka bersosialisasi, mereka meniru. Menurut Jensen & Kingston (1986), sebagaimana dikutip oleh John W. Santrock, peniruan merupakan suatu bagian yang penting dari proses membujuk peserta didik/anak-

17

anak untuk berperilaku dengan baik kepada orang lain (John W. Santrock, 2002: 49) Dalam perspektif Jawa, pendidikan moral harus diarahkan pada dua kaidah yang paling menentukan dalam pola pergaulan masyarakat. Kaidah yang pertama menegaskan bahwa dalam setiap situasi manusia hendaknya bersikap sedemikian rupa sehingga tidak menimbulkan konflik. Kaidah kedua adalah sikap hormat, kaidah ini menuntut agar manusia dalam cara bicara dan membawa diri selalu menunjukkan sikap hormat terhadap orang lain sesuai dengan derajat kedudukannya (Frans Magnis Suseno, 2001: 38). Dua kaidah tersebut seharusnya dijadikan dasar dalam pendidikan moralitas, khususnya bagi peserta didik, yang berada di SD Hj. Isriati Semarang memiliki latar belakang budaya Jawa. Ary Ginanjar menyatakan bahwa proses pendidikan moralitas itu harus dilakukan secara kronologis. Ary mengungkapkan bahwa dengan menabur gagasan, akan memetik perbuatan, dengan menabur perbuatan akan memetik kebiasaan, dengan menabur kebiasaan akan memetik karakter, dan dengan menabur karakter, akan memetik nasib (Ary Ginanjar, 2003: lviii). Secara psikologis, pendidikan moral sangatlah tepat diberikan pada anak berusia 6 s-d 12 tahun. Menurut Kohlberg 3 , anak pada usia 6 s-d 12 dalam perkembangan moralnya berada pada tingkat tiga, dimana mereka berfokus pada orientasi keserasian interpersonal dan konformitas (Sikap anak baik), dan tingkat empat, mereka juga berada

3 Teori ini berpandangan bahwa penalaran moral, yang merupakan dasar dari perilaku etis, mempunyai enam tahapan perkembangan yang dapat teridentifikasi. Ia mengikuti perkembangan dari keputusan moral seiring penambahan usia yang semula diteliti Piaget, yang menyatakan bahwa logika dan moralitas berkembang melalui tahapan-tahapan konstruktif. Kohlberg memperluas pandangan dasar ini, dengan menentukan bahwa proses perkembangan moral pada prinsipnya berhubungan dengan keadilan dan perkembangannya berlanjut selama kehidupan, walaupun ada dialog yang mempertanyakan implikasi filosofis dari penelitiannya .(http.www //google. Moral).

18

pada orientasi otoritas dan pemeliharaan aturan sosial (Moralitas hukum dan aturan), (http://id.wikipedia.org/wiki/Moral). Pengetahuan yang disampaikan oleh guru-guru dalam proses pembelajaran diharapkan sebagai sesuatu gagasan yang selanjutnya perlu dibarengi dengan perbuatan nyata dengan melihat keberbedaan, memperlakukan sentuhan kasih sayang dan kesabaran, karena tanggung jawab yang dihadapinya untuk segera bertindak begitu saja, sebagaimana Prinsip Pendidikan. Karena itulah pendidikan hendaknya tidak hanya diarahkan pada kecakapan yang bersifat intelektual semata, tetapi harus diarahkan pada penemuan tujuan pendidikan, sebagaimana dirumuskan oleh UNESCO yaitu Learning how to know, Learning how to learn, Learning how to do, Learning how to be, Learning how to live together. Dalam kurikulum yang telah dibakukan disebutkan pentingnya menyeimbangkan tiga ranah yaitu ranah proses berpikir, ranah nilai dan ranah keterampilan 4 . Direktorat Pembinaan Sekolah Luar Biasa, Dirjen Management Dikdasmen Departemen Pendidikan Nasional, merekomendasikan ada 9 jenis anak berkebutuhan khusus atau sering disingkat ABK 5 yang perlu ditangani. Di Jawa Tengah terdapat 155 (seratus lima puluh lima) sekolah penyelenggara inklusif 6 . Pendidikan Inklusif adalah suatu komitmen untuk melibatkan siswa-siswi yang memiliki hambatan dalam setiap tingkat pendidikan mereka yang

4 Benjamin S.Bloom dan kawan-kawannya berpendapat bahwa taksonomi (pengelompokan) tujuan pendidikan harus senantiasa mengacu kepada tiga jenis domain (=daerah binaan atau ranah) yang melekat pada diri peserta didik, yaitu (1) Ranah proses berpikir (coknitive domain), (2) Ranah nilai atau sikap (affektive domain), dan (3) Ranah keterampilan (psychomotor domain) (Anas Sudijono, 2007:

49). 5 Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) adalah anak yang secara signifikan (bermakna) mengalami kelainan atau penyimpangan (phisik, mental-intelektual, social, emosional) dalam proses pertumbuhan atau perkembangannya dibandingkan dengan anak-anak lain seusianya sehingga mereka memerlukan pelayanan pendidikan khusus. 6 Data ini diperoleh dari Seksi Kurikulum, Subdin Pendidikan Luar Biasa Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah. Jalan Pemuda Nomor 134 Semarang.

19

memungkinkan (Denis, Enrica, 2006, hal. 44). Pendidikan Inklusi di

Jawa Tengah tersebar di 24 (dua puluh empat) Kabupaten/Kota, terdiri

dari 138 (seratus tiga puluh delapan) Sekolah Dasar (SD), 14 (empat

belas) Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan 2 (dua) Sekolah

Menengah Atas (SMA), serta 1 Madrasah Aliyah Negeri (MAN).

Anak Berkebutuhan Khusus pada umumnya sudah inheren pada

sekolah reguler. Salah satu sekolah inklusi adalah SD Isriati

Semarang, dijadikan sebagai obyek dalam penelitian ini dengan

pertimbangan bahwa (1) Memiliki keberagaman peserta didik

berkebutuhan khusus, ada 57 (lima puluh tujuh) anak, meliputi jenis

kebutuhan gangguan pendengaran 1 (satu) anak, lambat belajar (slow

learner) 40 (empat puluh) anak, berkesulitan belajar/gangguan

pemusatan perhatian (hyper aktif ringan ada 2 (dua) anak dan hyper

aktif berat ada 2 (dua) anak), Tunalaras/gangguan emosi 9 (lima)

anak, gangguan belajar 1 (satu) anak dan Authis ada 1 (satu) anak, (2)

Menerapkan pendidikan Islami, dengan menambah kurikulum agama

Islam sebagai bekal penanaman akhlak.Untuk lebih jelasnya bisa

melihat tabel dibawah ini.

Tabel 1.1.

Data Peserta Didik Berkebutuhan Khusus SD Hj. Isriati Semarang Tahun Pelajaran 2007/2008

 

Kelas

Jenis Anak Berkebutuhan Khusus

Jumlah

I

I

1. Gangguan pendengaran

1

I

s-d VI

2. Lambat belajar

40

 

3. Berkesulitan belajar

I,III,IV

- Gangguan pemusatan perhatian

2

I, III

- hyper aktif berat

2

III

- hyper aktif ringan

2

I,II, III, V

4. Tuna Laras

9

III

5. Authis

1

 

Jumlah

57

20

Fokus dalam penelitian ini akan mendiskripsikan perilaku

peserta didik, dengan mejadikan peserta didik berkebutuhan khusus

sebagai operan condition, mereka yang tampak dalam kondisi fisik,

gerak fisik maupun memiliki perilaku yang berbeda, sehingga bisa

menimbulkan perhatian bagi teman sebayanya, peserta didik

berkebutuhan khusus tersebut memiliki jenis kebutuhan sebagai

berikut :

1. Tunagrahita/lambat belajar/slow learner, yang memiliki ciri-ciri: 1) Penampilan fisik tidak seimbang, misalnya kepala terlalu kecil atau besar, 2) Tidak dapat mengurus diri sendiri sesuai usia, 3) Perkembangan bicara atau bahasa terlambat, 4) Tidak ada atau kurang sekali perhatiannya terhadap lingkungan seperti pandangan kosong, 5) Koordinasi gerakan kurang (gerakan sering tidak terkendali), 6) Sering keluar ludah atau cairan dari mulut (ngiler). 2. Tunalaras (Dysruptive) atau Gannguan Emosi dan perilaku, memiliki ciri-ciri sebagai berikut: 1).Cenderung membangkang, 2) Mudah terangsang emosinya, emosional, dan mudah marah, 3) Sering melakukan tindakan agresif, merusak, mengganggu, 4) Sering bertindak melanggar norma sosial, norma susila atau hukum (Buku II : Pedoman Penyelenggaraan Pendidikan Terpadu /Inklusi ,2004) . 3. Authis, memiliki ciri-ciri: a) Komunikasi: Kemampuan berbahasa mengalami keterlambatan atau sama sekali tidak dapat berbicara. Menggunakan kata kata tanpa menghubungkannya dengan arti yang lazim digunakan. Berkomunikasi dengan menggunakan bahasa tubuh dan hanya dapat berkomunikasi dalam waktu singkat, b). Bersosialisasi atau berteman lebih banyak menghabiskan waktunya sendiri daripada dengan orang lain. Tidak tertarik untuk berteman. Tidak bereaksi terhadap isyarat isyarat dalam bersosialisasi atau berteman seperti misalnya tidak menatap mata lawan bicaranya atau tersenyum, c) Kelainan penginderaan sensitif terhadap cahaya, pendengaran, sentuhan, penciuman dan rasa (lidah) dari mulai ringan sampai berat, d) Bermain tidak spontan/reflek dan tidak dapat berimajinasi dalam bermain. Tidak dapat meniru tindakan temannya dan tidak dapat memulai permainan yang bersifat pura pura, e) Perilaku dapat menjadi sangat hiperaktif atau sangat pasif (pendiam). Marah tanpa alasan yang masuk akal. Amat sangat menaruh perhatian pada satu benda, ide, aktifitas ataupun orang. Tidak dapat menunjukkan akal sehatnya. Dapat sangat agresif ke orang lain atau dirinya sendiri. Seringkali sulit mengubah rutinitas sehari-hari (http.www.google.ciri-ciri authis).

21

B. Rumusan Masalah

Dari latar belakang masalah diatas, maka fokus penelitian ini dirumuskan sebagai berikut :

1.

Bagaimana moralitas baik peserta didik pada sekolah inklusi

2.

SD Hj. Isriati Semarang. Apakah ada perbedaan moralitas peserta didik antara peserta didik berkebutuhan khusus dengan non berkebutuhan khusus pada pendidikan inklusif SD Hj. Israti Semarang.

C. Tujuan Penelitian

a. Untuk mengetahui moralitas baik peserta didik pada SD Hj. Isriati Semarang. b. Untuk mengetahui perbedaan moralitas baik peserta didik antara peserta didik berkebutuhan khusus 7 dengan non berkebutuhan khusus pada pendidikan inklusif SD Hj. Isriati Semarang.

D. Signifikansi

Berdasarkan uraian latar belakang, rumusan masalah dan tujuan dari penelitian ini, diharapkan memiliki nilai manfaat secara praktis.

Manfaat Praktis

1. Dengan diketahui moralitas baik peserta didik berkebutuhan

khusus maupun normal yang belajar bersama-sama mengikuti proses pembelajaran pada SD Hj. Isriati Semarang sebagai penyelenggara Pendidikan Inklusif, maka akan bisa diambil manfaat dari pembelajaran hidup bersama (learning to live together).

7 Anak yang dalam proses pertumbuhan/perkembangan secara signifikan (bermakna) mengalami kelainan/penyimpangan pada (phisik, mental-intelektual, social, emosional) dibandingkan dengan anak-anak lain seusianya, sehingga perleu memperoleh pelayanan Pendidikan Inklusif.

22

2. Dengan diketahui perbedaan moralitas peserta didik berkebutuhan khusus dengan non berkebutuhan khusus pada SD Hj. Isriati Semarang sebagai penyelenggara Pendidikan Inklusif, maka secara umum suguhan-suguhan teman-teman (anak berkebutuhan khusus) memberikan sentuhan batiniah sehingga memberikan manfaat pada semua (orang tua, guru dan teman sebaya).

E. Telaah Pustaka

Pendidikan Inklusif disosialisasikan oleh Direktorat Pembinaan Sekolah Luar Biasa Dirjen Manajemen Dikdasmen Depdiknas di Jakarta pada tahun 2003-2004, merupakan program pelayanan pendidikan yang diharapkan mampu mengakses pendidikan untuk semua (educational for all), tanpa diskriminasi dan menerima keberbedaan. Program Pendidikan Inklusif merupakan program pendidikan yang terus disosialisasikan dan diupayakan keberadaannya dengan memberikan sarana prasarana dan beasiswa. Ada beberapa penelitian yang telah dilakukan diantaranya sebagai berikut :

1. Pengembangan Program Bimbingan Sosial untuk Siswa Sekolah Dasar yang melaksanakan program Inklusi (Studi Kasus di SD Lab. UPI Kampus Cibiru dan SD Sains Al Biruni), (Pudji Asri, 2005), dengan hasil penelitian menunjukkan bahwa :

(a) Profil perkembangan sosial yang berkaitan dengan hubungan sosial, karakteristik kelompok, perkembangan etika pada anak berkebutuhan khusus tidak berbeda dengan anak pada umumnya hanya mengalami hambatan yang disebabkan kelainannya, besarnya peranan keluarga dan lingkungan sekolah dalam pembentukan perilaku sosial mereka;

23

(b) Program dan pelaksanaan layanan bimbingan konseling

termasuk bimbingan sosial sudah ada tetapi dalam realisasinya belum optimal; (c) Jenis layanan bimbingan sosial yang diberikan ada yang mengikut sertakan anak berkebutuhan khusus dalam semua kegiatan sekolah, dan ada yang mengikut sertakan orangtua dalam program kegiatan tersebut;

(d) Kendala yang dihadapi guru adalah ketidak pahamannya tentang anak berkebutuhan khusus, tidak adanya panduan untuk melaksanakan pendidikan inklusi, kurangnya tenaga profesional dan sarana prasarana untuk menunjang kelancaran program pendidikannya.

Rekomendasi kepada Sekolah untuk mengembangkan sistem “sekolah yang ramah”, meningkatkan kepedulian dan layanan pendidikan dengan kerja team yang solid antara pengajar, orang tua, tenaga ahli, masyarakat dan pemerintah. Dari kesimpulan penelitian dikemukakan terkait dengan hubungan sosial peserta didik yang berkebutuhan khusus, tidak ada perbedaan dalam profil perkembangan sosial yang berkaitan dengan hubungan sosial, karakteristik kelompok, perkembangan etika pada anak berkebutuhan khusus tidak berbeda dengan anak pada umumnya hanya mengalami hambatan yang disebabkan kelainannya, besarnya peranan keluarga dan lingkungan sekolah dalam pembentukan perilaku sosial mereka. 2. Hasil Jurnal Studi Islam mengemukakan bahwa Sekolah Syariah dan Pendidikan Inklusi, yang ditulis sebgaimana ditulis sebagai berikut ”Through comparative analysis, the study finds five same characteristics of Islamic education and inclusive education: (a) education as a right/duty; (b) education for all; (c) the principle of non-segregation; (d) the holistic view of the pupil;

24

(e) handicap seen in relation to external factors, especially school environment. (Santoso, Muhammad Abdul Fattah , 2005. Pemikiran tersebut sangat mendukung berkembangnya Pendidikan Inklusif, hasil analisis perbandingan tersebut menemukan lima karakteristik dari Pendidikan Islam dan Pendidikan Inklusi, a) pendidikan sebagai suatu kewajiban, b) pendidikan untuk semua, c) prinsip dari tidak adanya pemisahan, d) suatu pandangan utuh dari peserta didik, dan e) mengerti rintangan dalam hubungan dalam faktor-faktor eksternal, khususnya lingkungan sekolah. 3. Dalam penelitian ini penulis berusaha memberikan kontribusi dalam bentuk penyajian fakta dengan mendiskripsikan moralitas peserta didik berkebutuhan khusus dan normal yang belajar bersama-sama pada sekolah penyelenggara Pendidikan Inklusif yang diharapkan memberikan makna dalam kehidupan, dengan asumsi bahwa setiap manusia pada dasarnya memiliki fitrah kesucian 8 , sehingga manusia tidak terhalang oleh kondisi- kondisi fisik semata namun lebih kepada segi batiniah yang mempunyai kekuatan yang tidak terhingga untuk mengantarkan manusia pada posisi tertingginya, yaitu keutamaan atau kebahagiaannya dalam melaksanakan kewajiban untuk berbuat baik demi kemaslakhatan dirinya, lingkungan dan masa depannya dengan memperhatikan dan mengedepankan nilai moralitas yang dimilikinya, yaitu menjaga kerukunan dan tetap hormat sesuai dengan derajat kedudukannya.

8 Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan (keburukan) dan ketaqwaannya (kebaikan) (SQ Asy Syams (Matahari), 91: 8).

25

F. Metode Penelitian

Penelitian ini membidik moralitas perilaku peserta didik berkebutuhan khusus dan peserta didik normal yang belajar bersama-sama dalam satu pembelajaran yang dilakukan dalam kelas inklusif, dimana pembelajaran yang dilakukan oleh pendidik (guru) diharapkan mampu mengakomodir keberagaman peserta didik yang berbeda dalam kondisi fisik, intelegensi, sosial maupun emosionalnya.

Pendekatan Penelitian

Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan sosiologis yang berpijak pada kebijakan lokal (local wisdom), mengingat SD Hj. Isriati Semarang adalah sekolah di Jawa Tengah, maka pendekatan yang digunakan terfokus pada moralitas budaya Jawa.

Metode Pengumpulan data

1. Pengamatan (Observasi), adalah kegiatan yang akan dilaksanakan dengan memusatkan perhatian terhadap obyek yang menjadi sasaran penelitian (Arikunto,1985: 127). Pengamatan dilakukan terhadap a) Perilaku peserta didik berkebutuhan khusus yaitu mereka yang mengalami ganngguan kesulitan belajar (Hyper aktif ringan dan Hyper aktif berat), tuna laras (Dysruptive) (Gannguan Emosi dan perilaku) dan authis, 2) Peserta didik normal yang belajar bersama-sama dengan peserta didik berkebutuhan khusus, 3) Pembelajaran guru di kelas inklusif, dengan harapan diperoleh data yang berkaitan dengan perilaku peserta didik.

2. Wawancara (interview) adalah sebuah dialog yang dilakukan untuk memperoleh informasi dari terwawancara (Arikunto,1985:126). Wawancara dalam penelitian yang telah

26

dilakukan untuk mengungkapkan sejarah perkembangan penyelenggaran pendidikan inklusif, digunakan untuk memperoleh data tentang jumlah anak berkebutuhan khusus (ABK), jenis anak berkebutuhan khusus dan perilaku peserta didik normal terhadap peserta didik berkebutuhan khusus, serta data-data lain yang mendukung untuk memperjelas analisis penelitian ini.

3. Telaah Dokumen adalah teknik penggalian data yang terdapat dalam bentuk dokumen seperti buku, peraturan-peraturan, catatan dan lainnya (Arikunto,1985: 131). Teknik ini digunakan untuk memperoleh data tentang keadaan lingkungan, sejarah penyelenggaran Pendidikan Inklusif, pembelajaran dan perhatian guru pembimbing yang fokus terhadap peserta didik berkebutuhan khusus.

Teknik Analisis Data

Deskripsi kualitatif dengan menggunakan bantuan program SPSS 9 . Selanjutnya hasil tersebut diuji dengan teknik triangulasi; yaitu menguji data yang peneliti peroleh dari satu informan dengan informan yang lainnya. Sikap moralitas yang akan dilihat yaitu: Pertama sikap hormat terhadap orang tua, guru dan teman sebaya dan kedua sikap rukun terhadap orang tua, guru dan teman sebaya.

G. Sistimatika Penulisan

Dalam menguraikan kronologi berpikir penulis untuk mencari kebenaran dalam penulisan tesis ini, maka diuraikan pada bab-bab sebagai berikut :

data,

melakukan perhitungan statistic baik untuk statistic parametrik maupun non

parametrik dengan basis windows (Imam Ghozali, 2001: 15)

9

SPSS

adalah

suatu

software

yang

berfungsi

untuk

menganalisis

27

BAB I, Pendahuluan yang mengungkapkan fenomena kehidupan peserta didik dalam tayangan televisi, berita mass media serta dalam internet menunjukkan warna yang suram, untuk itu penulis berasumsi bahwa situasi tersebut lebih disebabkan oleh situasi yang tidak mendukung berkembangnya moralitas baik yang telah tertanam pada diri individu dalam pelayanan pendidikan yang diberlakukan di Indonesia, yang diungkap dalam latar belakang masalah, untuk itu perlu diungkapkan permasalahan tentang bagaimana moralitas peserta didik pada pendidikan inklusi yang mampu mengakomodir semua keberbedaan peserta didik, untuk mencari jawaban permasalahan tersebut informasi data dan fakta dengan menggunakan observasi, wawancara, telaah dokumen serta intrumen pertanyaan kepada peserta didik pada SD Hj. Isriati Semarang sebagai tempat researh ini dilakukan, kemudian untuk penguatan, apakah fakta tersebut telah mendukung berlangsungnya pelayanan pendidikan yang seharusnya diberlakukan.

BAB II, berisi tentang landasan-landasan konsep dan teori sebagai penguat, teori tersebut antara lain, teori tentang moralitas, etika dan akhlak yang membicarakan kajian tentang baik dan buruk perbuatan manusia, serta prinsip moralitas budaya bangsa Indonesia yaitu prinsip rukun dan prinsip hormat.

BAB III, pada bab ini dikupas pelayanan pendidikan dalam bentuk Pendidikan Inklusif perlu diungkap sebagai wadah bahwa moralitas perlu ditanamkan dan dibiasakan pada peserta didik dengan learning to live together pada jenjang sekolah dasar yang merupakan tahap awal peserta didik dalam berpikir, bertindak dan merasakan perkembangan moralnya, SD Hj. Isriati Semarang, dipilih dalam penelitian ini karena memiliki beraneka ragam peserta didik dalam jenis berkebutuhan khusus.

28

BAB IV, analisis deskripsi dengan menggunakan SPSS, untuk menjawab permasalahan terungkap dalam bab ini dengan mengungkapkan fakta moralitas peserta didik berkebutuhan khusus, moralitas peserta didik non berkebutuhan khusus atau normal 1 serta peserta didik non berkebutuhan khusus atau normal 2, dengan indikator sikap hormat dan sikap rukun peserta didik terhadap orang tua, terhadap guru serta terhadap teman sebaya.

BAB V, berisi tentang kesimpulan, saran dan penutup dari penelitian. Kesimpulan merupakan jawaban dari problem penelitian yang telah ditulis pada rumusan masalah. Disamping itu pada bab ini juga berisi saran yang ditujukan kepada pembaca baik dari kalangan peneliti maupun dari pengambil kebijakan atau birokrat dan penutup.

29

BAB II LANDASAN TEORI

A. Definisi Moral, Etika dan Akhlak

Moral

Moral, konon diambil dari bahasa Latin mos (jamak, mores) yang berarti kebiasaan, adat. Sementara moralitas secara lughowi juga berasal dari kata mos bahasa Latin (jamak, mores) yang berarti kebiasaan, adat istiadat. Kata ’bermoral’ mengacu pada bagaimana suatu masyarakat yang berbudaya berperilaku, dan kata moralitas juga merupakan kata sifat latin moralis mempunyai arti yang pada dasarnya sama dengan moral hanya ada nada lebih abstrak. Kata moral dan moralitas memiliki arti yang sama, maka dalam pengertian disini lebih ditekankan pada penggunaan moralitas, karena sifatnya yang abstrak. Moralitas adalah sifat moral atau keseluruhan asas dan nilai yang berkenaan dengan baik dan buruk (K.Berten, 2007: 7). Senada dengan pengertian tersebut, W.Poespoprodjo mendefinisikan moralitas sebagai ”kualitas dalam perbuatan manusia yang menunjukkan bahwa perbuatan itu benar atau salah, baik atau buruk. Moralitas mencakup tentang baik buruknya perbuatan manusia (W.Poespoprojo, 1998: 18). Baron, dkk mengatakan, sebagaimana dikutip oleh Asri Budiningsih, bahwa moral adalah hal-hal yang berhubungan dengan larangan dan tindakan yang membicarakan salah atau benar (Asri Budinningsih, 2004: 24). Moralitas seringkali dipahami sebagai suatu sikap moral atau keseluruhan asas dan nilai yang berkenaan dengan baik dan buruk (K.Berten, 2007: 7). Pengertian tentang baik dan buruk merupakan sesuatu yang umum, yang terdapat dimana-mana. Dengan kata lain, moralitas merupakan suatu fenomena manusiawi yang universal (K.Berten, 2007: 12). Keharusan moral didasarkan pada kenyataan

30

bahwa manusia mengatur tingkah lakunya menurut kaidah-kaidah atau norma-norma (K.Berten, 2007: 14) Moral adalah suatu aturan atau tata cara hidup yang bersifat normatif yang sudah ikut serta bersama kita seiring dengan umur yang kita jalani (Amin Abdulah: 167), sehingga titik tekan ”moral” adalah aturan-aturan normatif yang perlu ditanamkan dan dilestarikan secara sengaja baik oleh keluarga, lembaga pendidikan, lembaga pengajian atau komunitas-komunitas yang bersinggungan dengan masyarakat. Immanuel Kant, seorang pemuka madzab filsafat baru, yang disebut filsafat kritis (critical philosophy), karena karyanya ini memberikan Kant reputasi internasional, mengatakan bahwa moralitas adalah hal keyakinan dan sikap batin dan bukan hal sekedar penyesuaian dengan aturan dari luar, entah itu aturan hukum negara, agama atau adat-istiadat (Frans Magnis-Suseno,1992). Menurut Kant, moralitas meliputi melaksanakan panggilan kewajiban, dan tidak ada kewajiban moral yang tidak sanggup dikerjakan. Tetapi demikian dengan perasaan dan simpati bisa datang dan pergi terlepas dari kehendak manusia, dan ia tidak dapat disatukan dengan peraturan H B Acton, 2003: 22) Seseorang dapat mengandalkan tatanan normatif itu. Seseorang boleh “ikut-ikutan” dengan pandangan serta tatanan moral masyarakat. Akan tetapi hanya tidak berseberangan dengan suara hatinya. Apabila kesadaran moral subjek meragukan tatanan moral sosial itu, maka seseorang tersebut harus secara otonom mencari apa yang sebenarnya menjadi kewajibannya, seseorang tidak boleh mengikuti apa yang diharapkan oleh lingkungannya (Fran Magnis Suseno, 1992). Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, menjelaskan bahwa moralitas adalah sopan santun, segala sesuatu yang berhubungan dengan etiket atau adat sopan santun. Namun dalam Ensiklopedi Indonesia, dijelaskan bahwa Moralitas memiliki makna: 1) Pola-pola kaidah tingkah-laku, budi bahasa yang dipandang baik dan luhur

31

dalam suatu lingkungan atau masyarakat tertentu. Secara terperinci dapat dibedakan dalam (a) asas atau sifat moral, kebajikan; (b) sistem atau ilmu pengetahuan tentang moral; (c) ajaran, makna atau kesimpulan tentang moral; (d) peri keadaan yang sesuai dengan nilai dan azas akhlak yang baik. 2) Drama: Bentuk Drama yang berkembang di Eropa dalam abad pertengahan, kira-kira abad ke 14- 16, dimaksud untuk menunjukkan kepada penonton tentang perjuangan abadi antara baik dan buruk dalam jiwa manusia. Tokoh- tokoh lakon merupakan personifikasi kebajikan dan kejahatan. Drama moralitas tumbuh terlepas dari drama misteri keagamaan, dan merupakan langkah penting dalam penduniawian drama (Kamus Bahasa Indonesia 1990: 2288-2289). Moral yang diartikan juga sebagai akhlak adalah indikasi seseorang yang paling sempurna imannya yaitu yang paling baik akhlaknya. Yang lemah lembut dan tidak pernah menyakiti orang. Seorang manusia tidak akan mencapai hakikat iman sebelum ia mencintai orang lain, seperti ia mencintai dirinya (Sabda Rasulllullah dalam Jalaluddin Rakhmat, 2003: 146-147). Dengan demikian moralitas dapat disimpulkan sebagai kualitas perbuatan atau tingkah laku manusia yang berhubungan dengan salah atau benar, baik atau buruk yang diyakininya sebagai suatu aturan- aturan normatif atau kaidah-kaidah dan berlaku dalam suatu komunitas masyarakat tertentu yang dilakukan karena adanya suatu keharusan atau kewajiban. Manusia diajak untuk membatinkan dirinya kepada baik dan luhur. Dan tingkah laku manusia senantiasa tampil sebagai akumulasi ekspresi 10 aktualisasi potensi batin dan responsi 11 pengaruh lingkungan (Baharuddin, 2004: 393).

10 Ekspresi berarti bahwa tingkah laku menjadi media (sarana) untuk mengekpresikan kondisi psikis. 11 Responsi berarti tingkah laku muncul sebagai respon (tanggapan) terhadap stimulus lingkungan. Tingkah laku manusia senantiasa menampilkan dua sisi ekspresi dan responsi. Perbedaan antara satu tingkah laku dengan tingkah laku lainnya terletak pada prosentase masing-masing sisi.

32

Etika

Kata etika seringkali dipakai bersamanan dengan kata moral, ketika seseorang berbicara tentang etika, tak lepas pula dengan kajian yang membicarakan baik atau buruk, benar atau salah. Untuk memahami pengertian dan istilah etika berikut uraiannya. Etika 12 adalah cabang filsafat yang juga disebut sebagai filsafat moral yang mempersoalkan baik dan buruk (Purwadi, Joko Dwiyanto, 2006:14). Beretika mengacu pada bagaimana seharusnya manusia berperilaku. Etika memberikan nasehat-nasehat mengenai perilaku, biasanya dalam bentuk ungkapan, mutiara-kata, peribahasa, dan sebagainya yang menyiratkan, tetapi tidak menyatakan dengan tegas, tujuan yang baik dan didambakan yang moga-moga akan dicapai dengan menuruti nasehat itu, dan akibat-akibat jelek yang akan menimpa jika petuah itu dilanggar (Jujun S.Suriasumantri, 2006: 24). K.Berten mendefnisikan etika sebagai ilmu yang membahas tentang moralitas atau tentang manusia sejauh berkaitan dengan moralitas (K. Berten, 2007: 15), dalam mempelajari dan membahas moralitas, etika menggunakan tiga pendekatan yang oleh Berten diterangkan sebagai etika deskriptif yang melukiskan tingkah laku moral, etika normatif yang membicarakan moral dan adanya diskusi- diskusi yang membahas tentang moral, dan metaetika, dalam pendekatan ini telah memberikan penilaian atau rekomendasi tentang moral, apakah perbuatan manusia itu baik atau buruk, sebagai suatu penegasan yang seakan memberikan klaim pada status moral.

12 Etika berasal dari kata Yunani yang artinya ’watak’. Sedangkan moral berasal dari bahasa Latin mos yang merupakan bentuk tunggal, bentuk jamaknya mores yang artinya ’kebiasaan’. Istilah etika atau morel dan dalam bahasa Indonesia dapat diartikan kesusilaan. Obyek formal etika adalah kebaikan dan keburukan atau bermoral dan tidak bermoral dari tingkah laku tersebut. Obyek material etika adalah tingkah laku atau perbuatan manusia. Perbuatan yang dilakukan secara sadar dan bebas. Dengan demikian, perbuatan yang dilakukan secara tidak sadar dan tidak bebas tidak dapat dikenai penilaian moral.

33

Rekomendasi perbuatan baik atau buruk oleh para filosof masih menjadi pokok pembicaraan dalam dunia filsafat, ada dua golongan dalam menjawab persoalan ini (Ahmad Amin,1975: 84), yaitu :

1. Golongan pertama, berpendapat bahwa tiap-tiap manusia mempunyai instinc yang dapat memperbedakan antara yang hak dan yang batal, baik dan buruk, berakhlak dan tidak. Kekuatan ini kadang berbeda sedikit karena perbedaan masa dan milliu, tetapi tetap berakar pada manusia. Maka tiap-tiap manusia mempunyai semacam ilham 13 yang dapat mengenal sesuatu akan baik dan buruknya. 2. Golongan kedua berpendapat bahwa, pengertian manusia tentang baik dan buruk akan sama dengan pengertian manusia tentang sesuatu yang lainnya, ialah tergantung pada pengalaman. Dan bisa tumbuh sebab kemajuan zaman, kecerdasan berpikir dan beberapa pengalaman 14

Pengertian baik menurut etik adalah sesuatu yang berharga untuk satu tujuan, sebaliknya yang tidak berharga, tidak berguna untuk tujuan, apabila yang merugikan, atau yang meyebabkan tidak tercapai tujuan adalah buruk (Rahmat Djatnika,1996: 34), sehingga persoalan baik akan terus menjadi bahan kajian yang sangat menarik untuk terus ditelusuri dan diusahakan untuk ditemukan jawabannya. Tokoh muslim yang membahas tentang etika, di abad pertengahan yaitu Ibn Miskawaih, yang banyak berbicara tentang jiwa dan etika (Azyumardi Azra, 1996: 83), memberikan kontribusi yang

13 Ilham ini didapat manusia ketika manusia melihat sesuatu, oleh karena manusia dapat merasa bahwa itu baik atau buruk, meskipun manusia tidak belajar ilmu pengetahuan atau menerima pendapat orang lain.Kekuatan ini bukan buah dari milliu, zama atau pendidikan, tetapi adalah instinc, bagian dari tabiat manusia yang diberikan Tuhan untuk dapat membedakan antara baik dan buruk. 14 Golongan dua ini berpendapat bahwa manusia tidak mempunyai instinc untuk mengetahui baik dan buruk, tetapi pengalamanlah yang dapat memberikan hukum baik pada sebagian perbuatan dan hukum buruk pada bagian yang lainnya. Dan yang membuat perubahan berpikir perorangan dan bangsa dalam memberikan ukum pada sesuatu adalah karena luas dan lingkaran pengetahuannya serta banyak pengalamannya

34

besar, yang bisa dijadikan sebagai pijakan untuk memahami tentang etika. Miskawaih memahami etika sebagai keadaan jiwa yang mendalam yang menyebabkan munculnya perbuatan-perbuatan tanpa pertimbangan yang mendalam. Miskawaih memulai pembahasan etikanya dengan menganalisis kebahagiaan dan mengidentifikasi kebaikan tertinggi guna menyimpulkan kebahagiaan manusia selaku manusia. Kebahagiaan haruslah menjadi tujuan tertinggi dengan sendirinya, karena berhubungan dengan akal, yang merupakan hal yang paling mulia pada diri manusia (Ibn Miskawaih, 1913: 10). Pendapat tersebut senada dengan pendapat Aristoteles sebagaimana dikutip oleh Jalaluddin Rakhmat, mengatakan bahwa hidup yang baik adalah hidup yang bahagiya. Jadi baik adalah bahagiya. Hidup yang bahagiya adalah hidup yang sempurna karena memiliki semua hal yang baik (kesehatan, kekayaan, persahabatan, pengetahuan, kebajikan atau kemuliaan. Hal-hal yang baik itu komponen kebahagiaan, semua dicari untuk bahagiya (Jalaluddin Rakhmat, 2004: 41).

Akhlak

Menurut etimologi akhlaq berasal dari bahasa Arab dan merupakan kata jama’ dari kata al-Khalqu yang berarti ciptaan, dan al- khuluqu yang mengandung beberapa arti, diantaranya : tabiat, yaitu sifat dalam diri yang terbentuk oleh manusia tanpa dikehendaki dan tanpa diupayakan; adat, yaitu sifat dalam diri yang diupayakan manusia melalui latihan, yakni berdasarkan keinginannya; watak, yaitu cakupannya meliputi hal-hal yang menjadi tabiat dan hal-hal yang diupayakan hingga menjadi adat (Endang Saifuddin Anshari, 1993:

25).

Al Ghozali (wafat sekitar tahun 1111 M) mendefinisikan (ta’rif) akhlaq sebagai keadaan yang tertanam dalam jiwa, dengan keadaan jiwa tersebut mampu menimbulkan tindakan-tindakan dengan

35

mudah dengan tanpa membutuhkan pemikiran dan penelitian terlebih dahulu, jika ungkapan itu memunculkan tindakan baik dan terpuji secara akal dan syara’ maka disebut akhlak baik, namun sebaliknya jika memunculkan tindakan tercela maka disebut akhlak tercela (Al Ghozali, Jilid III: 52). Akhlak bukanlah merupakan ”perbuatan” baik ataupun ”pebuatan” buruk, juga bukan ”kekuatan” baik ataupun ”kekuatan” buruk, juga bukan merupakan ”pembeda” antara baik dan buruk, akan tetapi akhlak itu merupakan”hal” keadaan atau kondisi, dimana jiwa mempunyai potensi yang bisa memunculkan daripadanya menahan atau memberi. Jadi akhlaq itu adalah ibarat dari ”keadaan jiwa dan bentuknya yang batiniah”(Zaki Mubarok,1924: 152). Akhlak adalah situasi permanen dalam jiwa yang melahirkan bentuk-bentuk polalaku tanpa melalui dorongan dari luar dan tanpa pengetahuan. Tokoh muslim seangkatan dengan Al-Ghazali, Raghib al Isfahani (wafat sekitar tahun 1108 M) dengan pemikiran akhlak tentang konsep Nilai (khair). Ada tiga bentuk khair, yaitu khair li dhatihi, khair li ghairihi, dan khair li dhatihi, khair li ghairihi. Namun pada akhirnya konsep tersebut diklasifikasikan hanya menjadi dua, yaitu : khair muthlaq (hakiki) dan khair muqayyad (kondisional). Baik hakiki (khair muthlaq) adalah perbuatan baik yang dipilih karena perbuatan itu sendiri dan setiap orang yang berakal menginginkan perbuatan tersebut. Khair muthlaq ini tidak terikat ruang dan waktu. Indikasi khair adalah memiliki manfaat, indah, dan lezat. Oleh karena itu apapun tyang membawa manfaat dan memotivasi untuk meraih kebaikan akhirat (khair ukhrawi) dan kebahagiaan hakiki (sa’adah haqiqiyah) disebut juga khair dan sa’adah. Akan tetapi sebaliknya, perbuatan seperti aniaya, tercela dan merugikan diri ataupun orang lain, disebut sebagai tidak baik (sharr) Baik kondisional (Khair muqayyad)adalah suatu perbuatan yang selain memiliki sifat-sifat baik hakiki, didalamnya juga terdapat

36

sifat-sifat khair sharr. Untuk menjustivikasi apakah sesuatu itu baik, ditentukan dari sejauh mana sifat-sifat baik itu mampu memberikan kontribusi pada sesuatu yang dinilai baik tersebut. Apabila baik yang terdapat pada sesuatu itu mampu memberikan lebih dibandingkan dengan sifat-sifat yang tidak baik, maka obyek tersebut dinilai khair muqayyad. Akhlak atau keadaan batin yang telah tertanam dan inheren di dalam diri manusia, bisa dikatakan sebagai modal pertama dan utama, dan kualitas perbuatan manusia tergantung bagaimana manusia itu cerdas dalam kecenderungannya dan mengkondisikan kecenderungan, apakah manusia cenderung kepada hal-hal yang baik, ataukah sebaliknya. karena apabila manusia memiliki akhlak yang baik, maka akan beruntunglah hidupnya, begitu pula sebaliknya apabila manusia memiliki kecenderungan buruk maka hancurlah hidupnya. Pengertian baik dan buruk menurut al-Quran adalah kenikmatan dan musibah (pendapat mufassir dalm ibn Taimiyyah, 2004: 1). Dan barang siapa mengikuti sunnah dalam perkataan maupun perbuatan maka ia akan berbicara dengan baik dan benar. Dan barang siapa mengikuti hawa nafsu maka ia akan berbicara bohong.

B. Perbedaan Moral, Etika dan Akhlak

Secara terminologi, pengertian moral, etika dan akhlak memiliki definisi dan obyek kajian yang berbeda. Definisi moral lebih menitik beratkan pada perbuatan, tindakan atau tingkah laku manusia. Atau kualitas dari perbuatan, tindakan, tingkah laku, apakah perbuatan itu bisa dikatakan baik atau buruk, benar atau salah. Sedangkan etika memberikan penilaian tentang baik dan buruk, tidak hanya memberikan gambaran tentang perbuatan baik atau buruk manusia, namun juga memberikan penilaian tentang baik atau buruk akan perbuatan atau tindakan yang dipilih oleh manusia sedang akhlak tatanannya lebih menekankan bahwa pada hakikatnya dalam diri

37

manuisia itu telah tertanam suatu keadaan dimana keduanya (baik dan

buruk) bersemayam di dalam tiap-tiap diri manusia atau dalam jiwa.

Untuk lebih jelasnya, perbedaan antara moral, etika dan akhlak

bisa dilihat dalam tabel sebagai berikut :

Tabel 2.1. Perbedaan Moral, Etika dan akhlak

Bahasan

Definisi

Obyek Kajian

1.

Moral

-Membicarakan tentang baik dan buruk, benar dan salah -Ajaran-ajaran tentang kebaikan -Bersifat sobyektif dan relatif - Bersumber dari aga- ma, aturan, tradisi dan idiologi

- Kebiasaan atau adat istiadat

 

- Bagaimana masyarakat tertentu berperilaku

- Nilai perbuatan manusia

- Perbuatan manusia yang merupakan ekspresi, aktualisasi dan responsi dari keadaan jiwanya

- interaksi antar manusia dalam suatu masyarakat tertentu

2. Etika

- Pengetahuan tentang nilai-nilai baik dan buruk

- Orientasi untuk menentu- kan pilihan baik atau buruk

- Menjawab pertanyaan ten-

- Norma-norma yang berlaku dalam masya- rakat tertentu

tang baik dan buruk

- Bagaimana seharusnya ma- nusia, berperilaku dalam

- Ilmu tentang filsafat moral

komunitas masyarakat

- Perilaku baik dan buruk

- Bersumber pada akal sehat

manusia

- Mengkaji filsafat moral

 

- Mengkaji tentang moralitas

- Hal-hal yang sangat praktis dan dekat dengan kehidu- pan sehari-hari

- Mendiskusikan moral, pili- han mana yang baik dan buruk.

- Memberikan penilaian apa- kah perbuatan itu baik atau buruk.

38

   

- Setiap manusia yang ber- nyawa dan berakal.

3. Akhlak

- Internalisasi dan in- heren dalam diri setiap manusia

- Mengkaji moral dan etika (filsafat moral)

- Jiwa manusia (akal, hati

- Bersumber dari sya- riah Islam (al-Quran dan al-Hadist)

dan panca indra serta hubungan ketiganya)

- Cakupannya: adat kebiasa-

- Sikap batin yang telah tertanam pada diri manusia

an, kualitas perbuatan ma- nusia, sikap batin yang harus dilestarikan dengan

- Siratan-siratan hati yang tenang dan pe- nuh ketaatan dan ke- patuhan

latihan dan sungguh-sung- guh.

C. Persamaan Moral, Etika dan Akhlak

Secara etimologi, moral dan etika memiliki arti yang sama,

yaitu adat kebiasaan, hanya saja berbeda dari asalnya. Moral berasal

dari bahasa latin, dan etika berasal dari bahasa Yunani. Dan ahlak

berarti ciptaan, dan berasal dari bahasa Arab.

Kecenderungan manusia pada kebaikan terbukti dari persamaan

konsep-konsep pokok moral pada setiap peradaban dan zaman.

Perbedaan, jika terjadi terletak pada bentuk penerapan, atau pengertian

yang tidak sempurna terhadap konsep-konsep moral (Muhammad

Quraish Shihab, 1998: 255).

Dari uraian tentang moral, etika dan akhlak, penulis

menemukan titik singgung yang ada pada ketiganya, yaitu ketiga

tiganya membicarakan tentang perbuatan baik atau buruk, benar atau

salah atau tindakan manusia. Pada umumnya kalangan awam

cenderung untuk menyamaratakan begitu saja antara moral dan etika,

bahkan tidak sedikit yang mengacaukannya dengan istilah ’toto

kromo’, ’sopan santun’, budi pekerti (dalam ruang lingkup adat

39

istiadat) atau dengan istilah ’akhlak’(dalam ruang agama)(Amin Abdullah, 2004: 167). Dalam kontek pembahasan tesis ini, moralitas yang dimaksud dalam judul adalah moralitas Jawa, yaitu prilaku baik yang didasarkan pada prinsip rukun dan prinsip hormat yang merupakan budaya leluhur yang mampu mengokohkan sendi kehidupan sosial masyarakat Jawa.

D. Teori Moral, Etika dan Akhlak

Penelusuran kebenaran melalui sejarah filsafat memiliki banyak konsep dan teori, begitu juga dengan teori moral, etika dan akhlak, setiap teori yang lahir hampir selalu dilatar belakangi sejarah kehidupan pencetusnya, sehingga menimbulkan teori yang berbeda- beda walaupun mengungkap permasalahan yang sama.

1. Emotivisme

Perihal pokok dalam materi moral, etika adalah ”Baik” yang dianggap sebagai suatu konsep unik unnalyzable. Moral ”baik” menyarankan dalam penggunaan yang berkenaan dengan emosi. Ketika menggunakan kata baik, tidak mewakili apapun, seperti ketika menggunakan kata baik dalam kalimat hukuman, ”Ini adalah baik”, mengacu pada penambahan ”adalah baik” tidak membedakan acuan kepada apapun, hanya sebagai tanda berkenaan dengan emosi yang menyatakan sikap manusia dan barangkali menimbulkan sikap serupa pada orang lain, atau menimbulkan tindakan mereka kepada sesama (W.D. Hudson). Teori emotivism yang dkembangkan oleh C.L.Stevenson, mengedepankan emotivism sebagai teori meta-ethical yang tajam yang menggambarkan antara teori-teori. Argumentasi Stevenson mengatakan kapan saja sutu pertimbangan moral dinyatakan, untuk membedakan dua macam perbedaan antara : a). apa yang dikatakan atau diasumsikan, sebagai kondisi yang berdasar pada fakta

40

pertimbangan, b). evaluasi positif atau negatif yang ditempatkan pada kejadian-kejadian fakta tersebut. Emotivism yang diungkapkan adalah dengan mengambil pertimbangan moral lebih menekankan pada express bukan kepada report-attitudes, sebagai contoh tentang analisa ”Ini adalah baik”, sesuai dengan teorinya, meminta dengan tegas bahwa berkenaan dengan pernyataan ini, aku melakukan juga dan berkenaan dengan ini aku ingin kau melakkannya juga. Ada tiga kemungkinan yang membedakan, yang berkenaan dengan emosi, yaitu :

a. Berkenaan dengan emosi mungkin bergantung kepada diskripsi, yaitu perubahan yang kemudian diikuti dengan seketika, atau sangat segera, dengan berubah dari yang sebelumnya.

b. Ungkapan emosi berkenaan dengan bagaimanapun suatu titik boleh

selalu datang ketika suatu perubahan di dalam suatu diskriptif mengganggu, berkaitan dengan emosi.

c. Arti emosi mungkin berkaitan dengan diskriptif. Emotivisme lahir sebagai teori moralitas yang menonjolkan pengaruh positivisme logis dalam etika, konsep-konsep moral menurut teori Emotivism adalah sesuatu yang unanalysable (W.D.Hudson) tak dapat dianalisa, sebab penganut faham positivisme logic, senantiasa mengehendaki adanya keserbapastian kriteria, sesuatu yang sulit dipenuhi oleh konsep-konsep moral. Dalam menelaah pertimbangan-pertimbangan moral (moral judgement), kaum emotivis hanya berisi apresiasi-apresiasi dan tuntutan-tuntutan. Mereka menyimpulkan bahwa pertimbangan- pertimbangan moral dalam kenyataannya tidak dapat melukiskan apapun dan hanya bersifat emotif belaka, hanya mengenai persetujuan- persetujuan dan ketidak setujuan tentang sesuatu tindakan tertentu (W.D.Hudson).

41

2. Intuisionisme

Intuisi berarti suatu konsep yang menyatakan bahwa salah satu sumber pengetahuan adalah dengan penangkapan kebenaran secara langsung dan segera, (direct and immediate) (James Hasting). Atau dapat pula dikatakan sebagai kekuatan batin yang dapat mengenai sesuatu yang sebaiknya dengan selintas pandang dengan tiada memandang buah dan akibatnya (Ahmad Amin, 1975: 105). Menurut Bergson, intuisi adalah kemampuan manusia untuk meraih kenyataan yang tidak tergantung pada posisi seseorang, dengan perkataan kenyataan, intuisi adalah “a sympathy where by one carries oneself in the interior of object to conside with what is unique and therefore inexpressible in it “(Kolakowski, Bergson, 1985: 24) Sedangkan akal praktis adalah merupakan bagian inti dari akal. Dan dari sinilah akhirnya Kant sampai pada masalah intuisi (Immanuel Kant, 1963:11-12). Dari pembedaan akal tersebut Kant mengurai konsep umum moralitas yang berbasis pada empirikal dan intelektual (ibid). Teori intuisionisme ini juga berusaha memecahkan dilema- dilema etis dengan berpijak pada intuisi, yaitu kemungkinan yang dimiliki seseorang untuk mengetahui secara langsung apakah sesuatu baik atau buruk. Dengan demikian seorang intuisionis mengetahui apa yang baik dan apa yang buruk berdasarkan perasaan moralnya, bukan berdasarkan situasi, kewajiban atau hak. Dengan intuisi kita dapat meramalkan kemungkinan-kemunginan yang terjadi tetapi kita tidak dapat mempertanggungjawabkan keputusan tersebut karena kita tidak dapat menjelaskan proses pengambilan keputusan. Menurut Henry Bergson seorang filosof Perancis. Uraiannya mengatakan bahwa ”Bergson tidak benar-benar mengetahui apa yang terjadi atau bagaimana perasaannya”. Uraian yang Bergson berikan sangatlah lengkap namun demikian tampaknya mungkin juga tidak mengetahui apa yang terjadi, meskipun Bergson dapat menceriterakan

42

kembali banyak diantara apa yang dikatakan mengenai kejadian itu. (Juhaya S.Praja, 2005: 31) Perbedaan tersebut terletak pada ungkapan: pengetahuan mengenai (knowledge about) dan pengetahuan tentang (knowledge of). Pengetahuan mengenai (knowledge about) disebut pengetahuan discursive atau pengetahuan simbolis, dan pengetahuan ini ada perantaranya. Dan Pengetahuan tentang (knowledge of) disebut pengetahuan yang langsung atau pengetahuan intuitif, dan pengetahuan tersebut diperoleh secara langsung bandingkan dengan ma’rifat qolbiyah dalam tasawuf (Ibid : 31). Menurut Bergson, Intuisi ialah suatu sarana untuk mengetahui secara langsung atau seketika (ibid : 32), intuisi tidak mengingkari nilai pengalaman, inderawi yang biasa dan pengetahuan yang disimpulkan darinya. Intuisi dapat menyingkapkan pada kita keadaan yang senyatanya (Ibid : 33). Dengan demikian teori intuitif belum mampu memberikan kejelasan tentang sesuatu yang benar atau sesuatu yang baik, karena masing-masing manusia akan memiliki dan mengungkapkan sesuai dengan apa yang ada dalam masing-masing keadaan hati yang sangat bersifat relatif, sehingga teori etika intuitif meurut penulis tetap akan memberikan peluang untuk menelusuri tentang apa yang disebut baik, benar yang begitu sulit untuk ditangkap oleh akal, indra dan pengalaman, namun akan sangat dibantu dengan menjalankan syariah sesuai dengan kemampuan dan kekuatan yang mampu dijalankan oleh seseorang, sehingga dalam hal syariah kalau seseorang ingin baik maka kerjakanlah begitu saja tanpa ada pertimbangan akal, karena yang ada hanya ketaatan kepada sang Khalik. Namun ketika manusia berhadapan dengan kegiatan sosial peranan akal dijadikan sebagai alat berpikir untuk memberikan pertimbangan, apakah tindakan seseorang bisa diterima oleh orang lain atau lingkungan tersebut. Dalam hal lingkungan sosial peranan akal

43

masih dibutuhkan dan dalam hal agama peranan akal dinomor duakan.

Perbuatan yang dilakukan hanya semata-mata ketaatan dan kepatuhan kepada sang Khaliq sebatas manusia itu mengetahui dan mampu untuk melaksanakan perbuatan tersebut. Pokok Persoalan Etika, sebagai ilmu yang membahas tentang tingkah laku moral, maka pokok persoalan etika adalah perbuatan manusia itu sendiri, namun tidak semua perbuatan manusia menjadi pokok persoalan etika. Berikut ini macam-macam perbuatan manusia :

a. Perbuatan yang dilakukan dengan kehendak atau voluntary actions yakni, perbuatan ini dilakukan dengan penuh kesadaran dan pikiran, inilah perbuatan yang memiliki nilai etis atau dapat dinilai dari sisi baik dan buruk.

b. Perbuatan yang dilakukan dengan tanpa kehendak atau involuntary actions, seperti contoh denyut jantung, darah, bernafas, dan lain

sebagainya. Perbuatan ini dilakukan dengan tanpa kesadaran dan pikiran. Sehingga perbuatan ini tidak memiliki nilai etis atau tidak dapat dinilai dari sisi baik dan buruk, sehingga tidak masuk dalam persoalan etika. c. Perbuatan semu, yakni perbuatan yang berdimensi etik tetapi dilakukan diluar kesadarannya atau hanya kehendaknya. Perbuatan ini menjadi perbuatan etis yang bersyarat. Contoh perbuatan yang dilakukan dalam keadaan tidur, perbuatan ini tidak dapat dinilai baik atau buruk dan tidak dapat dituntut dari segi etika.

d. Perbuatan yang netral, yakni perbuatan dengan ikhtiar akan tetapi

tidak berdimensi etik. Misalnya ketika mengikuti perkuliahan kita bebas memakai pakaian dengan lengan panjang atau pendek, hal ini tidak bisa dinilai baik atau buruk sebab perbuatan itu bebas dari tuntutan etika ( Umar Bakri, 1977: 3-4) Persoalan baru yang muncul saat menerapkan nilai moral ialah konflik yang menimbulkan dilema nurani mana yang baik, benar, yang

44

mana yang tidak baik dan mana yang selayaknya. Disinilah, etika memainkan peranannya, etika berkaitan dengan “apa yang seharusnya” atau terkait dengan apa yang baik dan tidak baik untuk kita lakukan serta apa yang salah dan apa yang benar. (Harlan B. Miller, 1988). Dari pemahaman tersebut, maka etika menjadi acuan atau panduan bagi ilmu dalam realisasi pengembangannya. Thomas Shanon dalam Pengantar Bioetika (1995), untuk mengatasi konflik batin dikemukakan teori-teori etika yang bermaksud untuk menyediakan konsistensi dan koheren dalam mengambil keputusan–keputusan moral (Deontologi dalam www// google).

3. Konsekuensialisme

Teori ini menjawab “apa yang harus kita lakukan”, dengan memandang konsekuensi dari bebagai jawaban. Ini berarti bahwa yang harus dianggap etis adalah konsekuensi yang membawa paling banyak hal yang menguntungkan, melebihi segala hal merugikan, atau yang mengakibatkan kebaikan terbesar bagi jumlah orang terbesar. Manfaat paling besar dari teori ini adalah bahwa teori ini sangat memperhatikan dampak aktual sebuah keputusan tertentu dan memperhatikan bagaimana orang terpengaruh. Kelemahan dari teori ini bahwa lingkungan tidak menyediakan standar untuk mengukur hasilnya.

4. Deontologi

Pencetus dari teori Deontologi adalah filosof Jerman Immanuel Kant. Deontologi berasal dari kata Yunani deon yang berarti “kewajiban”. Teori ini menganut bahwa dalam menentukan apakah tindakannya bersifat etis atau tidak, dijawab dengan kewajiban- kewajiban moral. Suatu perbuatan bersifat etis, bila memenuhi kewajiban atau berpegang pada tanggungjawab, jadi yang paling penting adalah kewajiban-kewajiban atau aturan-aturan, karena hanya dengan

45

memperhatikan segi-segi moralitas ini dipastikan tidak akan menyalahkan moral. Manfaat paling besar yang dibawakan oleh etika deontologis adalah kejelasan dan kepastian. Problem terbesar adalah bahwa deontologi tidak peka terhadap konsekuensi-konsekuensi perbuatan. Dengan hanya berfokus pada kewajiban, barangkali orang tidak melihat beberapa aspek penting sebuah problem. Menurut teori ini, perbuatan dikatakan baik apabila dilakukan karena kehendak yang baik. Perbuatan adalah baik jika hanya dilakukan karena kewajiban, dan juga karena wajib dilakukan. Dan suatu perbuatan bersifat moral jika dilakukan semata-mata karena hormat untuk hukum moral. Hukum moral mengandung imperatif kategoris, artinya perintah yang mewajibkan begitu saja tanpa syarat. Tindakan manusia terjadi begitu saja tanpa ada sebab musababnya. Menurut Immanuel Kant, tentang teori moralnya, sebagaimana dijelaskan oleh K. Berten, dapat diuraikan dalam tiga hal yaitu : a) ”Engkau harus begitu saja” (Du sollst). Imperatif kategoris menjiwai semua peraturan etis, misalnya hutang harus dibayar, (senang atau tidak senang), janji harus ditepati, dan lain sebagainya. b) Kalau hukum moral harus dipahami sebagai imperatif kategoris, maka dalam bertindak secara moral, kehendak harus otonom (menentukan dirinya sendiri) dan bukan heteronom (ditentukan oleh faktor dari luar seperti kecenderungan atau emosi). Dan c) Dengan menemukan otonomi kehendak maka manusia akan menemukan kebebasan dalam bertindak, manusia itu bebas dalam mentaati hukum moral. Orang yang bertindak karena kewajiban, berarti melakukan apa yang dianggapnya masuk akal. Apa yang masuk akal bukan semata- mata apa yang memajukan kepentingan orang itu sendiri, tetapi apa yang akan membawa tindakannya kedalam keharmonisan dengan

46

tindakan-tindakan yang dilakukan orang lain sepanjang tindakan- tindakan itu masuk akal juga (HB Acton, 2003: 84-85)

5. Etika Hak.

Teori ini memandang dengan menentukan hak dan tuntutan moral yang ada didalamnya, selanjutnya dilema-dilema ini dipecahkan dengan hirarkhi hak. Yang penting dalam hal ini adalah tuntutan moral seseorang yaitu haknya ditanggapi dengan sungguh- sungguh. Teori hak ini pantas dihargai terutama karena tekanannya pada nilai moral seorang manusia dan tuntutan moralnya dalam suatu situasi konflik etis. Selain itu teori ini juga menjelaskan bagaimana konflik hak antar individu. Teori ini menempatkan hak individu dalam pusat perhatian yang menerangkan bagaimana memecahklan konflik hak yang bisa timbul.

6. Teori-Teori Akhlak

Ada anggapan yang mengatakan bahwa akhlak itu tidak bisa dirubah, anggapan ini dijawab oleh al-Ghazali dengan mengatakan bahwa jika tingkah laku itu tidak dapat dirubah tentu tidak berguna lagi perintah-perintah untuk memberikan wasiat, pesan, nasihat dan pendidikan yang ada dalam agama. Akhlak yang didefinisikan sebagai keadaan yang telah tertanam dalam jiwa manusia (watak), apakah bisa dirubah atau dibentuk kepada kecenderungan baik. Al-Ghazali mengatakan bahwa betapa akhlak itu sebenarnya dapat menerima perubahan dengan memberikan tamsil pada binatang. Bahwa binatang yang mempunyai watak buas, rakus dan pembunuh, sebagaimana harimau, ternyata dalam pertunjukan sirkus ternyata dapat menjadi binatang yang terdidik, dapat menahan diri, kuda yang mempunyai watak melawan juga bisa menjadi penurut dan tunduk. Ini membuktikan bahwa sebenarnya

47

akhlak yang diidentikkan dengan watak itu sebenarnya dapat menerima perubahan atau dapat diformat. Namun al-Ghazali juga menjelaskan dan mengakui bahwa tidak semua bentuk pada manusia menerima perubahan. Al-Ghazali menjelaskan bahwa eksistensi alam ini terklasifikasi dalam dua kategori. Pertama, sesuatu yang tidak termasuk dalam bingkai ikhtiar manusia yaitu ciptaan Allah yang sudah diformat sempurna dalam standar kemakhlukannya, sehingga tidak perlu lagi menerima kesempurnaan atau perubahan, seperti susunan tata surya dan juga susunan tubuh manusia. Kedua, sesuatu yang eksistensinya diformat dalam kekurangan sehingga masih harus disempurnakan lewat wilayah ikhtiar manusia. Demikian halnya dengan akhlak, secara garis besar al-Ghazali memberikan penjelasan bahwa akhlakpun sama dengan eksistensi alam, yaitu ada yang sudah diformat sempurna seperti akhlak para nabi yang secara alamiah mempunyai kesempurnaan akal dan polalaku yang baik, keseimbangan nafsu dan amarah, bahkan secara otomatis sudah tunduk pada akal dan syara’, dan ada yang diformat menerima perubahan. Dan dalam form yang menerima perubahan inilah, manusia mempunyai andil yang besar untuk melakukan perubahan menuju kepada perbaikan. Lalu dengan cara apa manusia melakukan perubahan tersebut. Memang tidak bisa dipungkiri bahwa kenyataan yang dijumpai pada watak manusia sangatlah berbeda-beda ada manusia yang sangat baik sekali, baik, buruk dan jahat sekali. Penulis merasa yakin dan sependapat dengan mengungkap kembali apa yang telah di sampaikan al-Ghazali, untuk itu pemikirannya dalam usaha memperbaiki akhlak.

E. Strategi Pembentukan Moralitas

Pendidikan moral sudah sangat lama dipermasalahkan, dimulai dari pernyataan Meno yang terkenal itu kepada Socrates sebagai

48

berikut: Socrates, apakah moral itu bisa diajarkan, atau hanya bisa dicapai melalui praktik kehidupan sehari-hari? Seandainya melalui pengajaran dan praktik tidak bisa dicapai, apakah moral bisa dicapai secara alamiah atau dengan cara lain? (Nurul Zuriah, 2007: 20-21). Pernyataan Meno diatas sampai sekarang masih terus diperdebatkan, terutama dikalangan ahli psikologi dan filsafat moral dalam Beck, ed, 1987 (Ibid: 21). Kalau moral dipahami sebagai suatu adat kebiasaan yang hanya terjadi pada masyarakat tertentu, maka manusia akan sulit untuk berpegang pada satu aturan saja, manusia akan terus berjalan menurut keadaan dimana mereka hidup dan begitu banyak adat kebiasaan-adat kebiasaan yang harus dipatuhi dan harus dihormati, namun sangat penting untuk terus diupayakan supaya adat kebiasaan yang baik atau moralitas perlu ditanamkan pada diri manusia supaya menjadi manusia yang bermoral, dengan cara memberikan latihan yang terus menerus dan dengan hati yang bersungguh-sungguh, yang akhirnya akan tertanam kebiasaan baik tersebut.

Mujahadah dan Riyadhah.

Al-Ghazali tidak memberikan definisi maupun teknik satu persatu tentang mujahadah dan riyadhah. Nampaknya al-Ghazali memberikan isyarat bahwa keduanya merupakan satu kesatuan utuh yang dilaksanakan secara bersamaan. Adapun yang dimaksud dengan kedua kata itu sebagai kata kunci pembuka tabir akhlak bahwa akhlak itu dapat diformat dengan mendorong hati dan jiwa, memberikan beban sebagai suatu kewajiban, dan membiasakan secara kontinew untuk melakukan suatu aktivitas, sehingga aktifitas itu tidak terasa menjadi beban dan kewajiban yang pada gilirannya terciptalah suatu akhlak yang merupakan watak dan tabiat, hal ini berarti berlaku pula pada kecenderungan kepada akhlak baik atau positif) maupun akhlak buruk atau negatif.

49

Tidak bisa dipungkiri bahwa kenyataan sering dijumpai bahwa watak manusia sangatlah berbeda-beda ada manusia yang sangat baik sekali, baik, buruk dan jahat sekali, dan sifat-sifat kemarahan dan kesyahwatan akan terus menyertahi manusia selama hidupnya, sehingga tidak mungkin sifat-sifat itu dihilangkan dari dirinya. Tetapi yang diinginkan adalah supaya manusia mampu mengendalikan dan membimbing dengan jalan melatih dan bersungguh-sungguh. Dan menempatkan sifat-sifat itu dalam kedudukan sedang atau pertengahan, yakni antara sifat melampaui batas dan sifat menyia- nyiakan. Sehingga tetap masih dikendalikan oleh akal pikiran yang sehat (Al-Ghazali,1983: 510).

Kebijakan atau jalan Tengah

Sementara filosofis muslim lainnya yang berbicara tentang bahasan etika, Ibn Miskawaih, mencoba berpikir bagaimana caranya agar manusia mampu melatih jiwa sehingga mampu mencapai kebahagiaan yang sempurna. Bagi Miskawaih, jiwa dipandang sebagai sesuatu yang berbeda dengan badan. Jiwa membedakan manusia kepada makhluk lain. Jiwa tidak hanya merupakan sistem aksiden karena dalam dirinya sendiri memiliki kekuatan untuk membedakan antara aksiden dengan esensial dan tidak dibatasi pada kesadaran akan hal-hal yang aksidensi oleh indra (Sayyed Hossein Nasr,2003: 312) . Kebijakan 15 , ia mengembangkan seperangkat aspek kebajikan yang berkaitan dengan kebijaksanaan, keberhasilan, kebahagiaan, keadilan, dan kesolekhan, yang menguraikan tentang perkembangan moral yang hendak dicapai. Ia mencoba mengkombinasikan

15 Kebijakan menurut Ibn Miskawaih merupakan bagian dalam jiwa yang memiliki posisi tengah yang disebut juga dengan al hikmah. Posisi ini berada diantara kehinaan yaitu bodoh (al saft) dan dungu (al balh). Kebodohan menggunakan wilayah berpikir pada sesuatu yang tidak baik, sedangkan dungu adalah sengaja menyingkirkan wilayah berpikir. Adapun yang menjadi posisi tengahnya adalah kepandaian. Salah satu ujung yang mengapit posisi tengah adalah kondisi mental yang berlebihan sedang yang satunya dalam kondisi kurang (Ibn

Miskawaih,1923:23).

50

pembagian kebijakan versi Plato dan pemahaman Aristoteles, dimana keduanya diperlakukan sebagai satu kesatuan yang utuh (Ibn Miskawaih,1913: 24) Ibn Miskawaih membicarakan etika sebagai kebijakan,

menurutnya kebijakan merupakan bagian dalam jiwa yang memiliki posisi tengah yang disebut juga dengan al hikmah. Posisi ini berada diantara kehinaan yaitu bodoh (al saft) dan dungu (al balh). Kebodohan menggunakan wilayah berpikir pada sesuatu yang tidak baik, sedangkan dungu adalah sengaja menyingkirkan wilayah berpikir. Adapun yang menjadi posisi tengahnya adalah kepandaian. Salah satu ujung yang mengapit posisi tengah adalah kondisi mental yang berlebihan sedang yang satunya dalam kondisi kurang (Ibn Miskawaih,1923: 23). Ibn Miskawaih, menyebutkan kekuatan jiwa (al quwwatun nafsiyah) sebagaimana dikatakan Platinus, keutamaan- keutamaan dan keburukan-keburukannya yang berkaitan dengannya. Adapun yang berkaitan dengan keutamaan, pembagiannya menjadi empat bagian, yaitu : kearifan, sederhana, keberanian,dan keadilan.

1. Kearifan, merupakan keutamaan dari jiwa berpikir yang mengetahui, terletak pada mengetahui yang ada, atau mengetahuai yang ilahiah dan manusiawi;

2. Sederhana, merupakan keutamaan dari bagian hawa nafsu. Keutamaan ini tampak pada diri manuisa ketika manusia tersebut mengarahkan hawa nafsu menurut penilaian baik dan buruknya, sehingga manusia tidak tersesat oleh hawa nafsunya dan manusia bebas dari hamba hawa nafsu;

3. Keberanian, keberanian jiwa amarah yang muncul pada diri seseorang ketika jiwa ini tunduk dan patuh terhadap jiwa berpikir serta menggunakan penilaian baik dalam menghadapi hal-hal yang membahayakan;

4. Keadilan, juga merupakan kebajikan jiwa, yang timbul akibat menyatunya tiga kebajikan yang tersebut diatas, ketiganya

51

bertindak selaras (tidak kontradiksi) (Ibn Miskawaih, 1994:

45)

Jiwa, Menurut Ibn Miskawaih, Jiwa manusia dibagi menjadi tiga fakultas jiwa. P ertama , fakultas berpikir (al-quwwah al-natiqah) ia merupakan jiwa tertinggi untuk berpikir dan menangkap fakta. Organ tubuh yang digunakan adalah otak. Kedua, fakultas amarah (al- quwwah al-qadabiyah), yakni jiwa keberanian untuk menghadapi resiko, ambisi pada kekuasaan, kedudukan dan kehormatan. Organ tubuh yang digunakan adalah hati. Ketiga , fakultas nafsu sahwat (al- quwwah al-syahwiyyah), yakni dorongan nafsu makan, keinginan terhadap kelezatan, minuman, seksual, dan segala macam inderawi. (Suparman Syukur,2004: 327), merupakan substansi yang independen yang mengembalikan badan dan ia bersifat kekal. Esensi jiwa tidak akan mati dan terlibat dalam gerak abadi serta sirkulasi (keatas menuju akal dan akal aktif, dan kebawah menuju ke materi) dan kebahagiaan akan tumbuh melalui yang pertama (akal aktif) dan kemalangan akan tumbuh melalui yang kedua (materi). Raghib al-Isfahani, menjelaskan secara psikologis, munculnya perilaku seseorang melalui tahapan-tahapan sebagai berikut : lintasan pikiran (saanih), ide (khaitir), dari keduanya muncul kehendak (iraadah), kemudian cita-cita (hazm), sampai akhirnya muncul termanivestasi dalam perbuatan (’amal) (Amril M, 2002: 32). Menurut Raghib, benih perbuatan moral dimulai pada tahap ide (khaitir), oleh karena itu pada tahap ini sebaiknya seseorang dituntut untuk melakukan pengujian-pengujian terhadap ide yang dimilikinya, sehingga pada tahap ini bisa dikontrol atau dimanag dengan baik sebelum samapai pada kehendak. Menurut Elizabeth B.Hurlock (1978) perilaku yang dapat disebut Moralitas yang sesungguhnya tidak saja sesuai dengan standar sosial melainkan juga dilaksanakan dengan sukarela. Ia muncul bersamaan dari peralihan kekuasaan eksternal ke internal dan terdiri

52

atas tingkah laku yang diatur dari dalam, yang disertai tanggung jawab pribadi untuk tindakan masing-masing. Tindakan sukarela yang disertahi dengan tanggung jawab pribadi untuk tindakan masing-masing tidaklah bisa dipaksakan atau diajarkan, tindakan ini menyangkut sikap batin yang telah dipola dengan kebiasaan-kebiasaan yang telah ditanamkan oleh lingkungannya. Sehingga untuk membentuk moralitas peserta didik dengan pembiasaan perlunya diberikan latihan-latihan yang sungguh- sungguh (Imam Gazali). Gagasan yang ditimbulkan dari hasil pemikirian yang cerdas pentingnya selalu diekpresikan dalam kehidupan nyata dalam bentuk penyampaikan informasi-informasi atau tulisan-tulisan yang membutuhkan tindak lanjut. Dengan sarana pendidikan, peserta didik memperoleh informasi-informasi yang baik yang akan dijadikan sebagai sesuatu yang akan tertananm didalam hatinya. Dengan informasi yang baik peserta didik terus akan mengakumulasi dengan jalan melakukan atau bertindak sesuai dengan arahan dan bimbingan dari pendidik dan orang-orang yang menanamkan kebaikan tersebut pada perkembangan hidupnya selama peserta didik megalami perkembangan moral dalam usia sekolah dasar (7-12 tahun).

Kepatuhan terhadap Agama

Menurut Raghib al-Isfahani, bahwa landasan kemuliaan agama adalah kesucian jiwa yang dicapai melalui pendidikan, kesederhanaan, kesabaran, dan keadilan. Kesempurnaan bisa dicapai melalui kebijaksanaan dengan jalan melaksanakan perintah-perintah agama, kedermawanan melalui kesederhanaan, keberanian melalui kesabaran, dan kebenaran berbuat diperoleh melalui keadilan (Suparman Syukur 2004: 199). Karena hidup selanjutnya bukan untuk mencari, namun pentingnya diisi dengan perbuatan-perbuatan yang baik sehingga

53

dengan isian perbuatan-perbuatan yang baik tersebut mampu menunjukkan hidupnya untuk menuju kepada tujuan akhir hakikinya yaitu mencapai kebahagiannya untuk menuju Tuhan. Sebagaimana diungkapkan Muhammad Noor Syam bahwa khusus dalam tingkah laku manusia, manusia sebagai subyek telah memiliki potensi-potensi kebaikan sesuai dengan kodratnya, disamping kecenderungan dan dorongan-dorongan ke arah yang tidak baik (Jalaludin, abdullah Idi, 2007: 116), lihat pula QS Asy Syams: 8, yang artinya ”Pada dasarnya Allah telah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan (keburukan) dan ketaqwaannya (kebaikan)”. Tugas manusialah untuk melatih, terutama para pendidik dan orang tua, dengan demikian, peserta didik yang mendapat pengajaran dan pembelajaran di sekolah, pentingnya tugas guru untuk melatih dan memberikan bantuan pada peserta didik untuk mengembangkan potensi-potensi yang ada pada peserta didik (Zuharini dalam Jalaludin, abdullah Idi, 2007: 118). Peranan guru dan perancang pembelajaran dalam mengembangkan strategi pembelajaran moral mestinya harus lebih banyak memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengambil peran moral, baik di dalam lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, lingkungan teman sebaya dan lingkungan masyarakarat yang lebih luas. Kesempatan untuk mengambil peran sosial nampaknya meberikan kontribusi yang signifikan dalam perkembangan moral. Penelitian Holstein dalam Kohlberg &Turriel, memperlihatkan bahwa anak-anak yang maju dalam perkembangan moral, memiliki orang tua yang juga maju dalam penalaran moral. Orang tua yang berusaha mengenal pandangan anak, dan yang mendorong terjadinya dialog, mempunyai anak yang secara moral lebih matang.(C.Asri Budiningsih, 2004: 84) Pendapat senada juga dikemukakan oleh Kolhberg (Cremers, 1995) disamping di dalam keluarga, pengambilan peran dalam

54

kelompok keluarga, pengambilan peran dalam kelompok sebaya, di sekolah dan di masyarakat yang lebih luas, akan meningkatkan perkembangan moralnya (Ibid). Pada diri peserta didik telah tertanam potensi utama yang terus dilatih dengan stimulus-stimulus yang positif sebagaimana menurut tokoh muslim yang dikenal dengan hujat al- Islam, Al Ghozali menawarkan suatu konsep, yang bukan saja bersifat lahiriah namun lebih bersifat batiniah, yaitu akhlaq sebagaimana Sabda Rasulullah SAW, bahwa Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya. Yang lemah lembut dan tidak pernah menyakiti orang (Jalaluddin Rakhmat, 2003: 146-147). Dan karena akhlaklah yang akan membawa dia kepada jalan keselamatan (Jalaluddin Rakhmat, 2003: 145). Al-Ghazali memberikan pemahaman untuk penelusuran yang sering menyertahi akhlak dengan empat opsi, yaitu pola laku positif atau negatif, kemampuan untuk mengakses keduanya, pengetahuan tentang keduanya, serta situasi jiwa dalam kecenderungannya terhadap salah satunya. Lebih lanjut dijelaskan bahwa akhlak bukanlah bentuk polalaku, kemampuan untuk membentuk polalaku, maupun pengetahuan tentang polalaku. Polalaku itu tidak disebut akhlak manakala tidak menetap dalam jiwa karena akhlak tidak bersifat temporer. Sebagai contoh seseorang yang memberikan infak karena sesuatu karena sebab-sebab tertentu, seseorang yang marah, karena merasa didzalimi, dan setelah seseorang itu tahu atau sadar, dimana didalam hatinya masih ada guratan-guratan yang diketahuinya, sehingga hal semcam ini belum dikatakan seorang yang berakhlak, karena tindakannya disebabkan adanya dorongan-dorongan dan pertimbangan-pertimbangan dari luar dirinya. Ada empat rukun yang harus dipenuhi, agar diketahui kesemprunaan suatu akhlak, yaitu 1) kekuatan ilmu, 2) kekuatan marah, 3) kekuatan nafsu syahwat dan 4) kekuatan berlaku adil.

55

Keempat rukun ini harus merupakan satu kesatuan utuh. Sebagaimana bentuk lahir, wajah misalnya, tidak bisa dikatakan sempurna keindahannya manakala hanya berfokus pada keindahaan kedua matanya saja, sementara apresiasi hidung diabaikan, demikian juga dengan keempat rukun tersebut.

Kekuatan Ilmu

Kekuatan ilmu adalah kemampuan membedakan antara yang baik dan buruk (positif atau negatif), manakala signal kemampuan ini kuat maka akan melahirkan hikmah atau kebijaksanaan. Selanjutnya kemampuan ini akan lebih bermakna manakala disertahi dengan kemampuan mengekang dan melepaskan dorongan amarah menurut batas yang dibutuhkan oleh hikmah itu sendiri dan kekuatan nafsu syahwat berada dibawah isyaratnya. Sementara kekuatan keadilan bertindak sebagai penyeimbang yang meletakkan kekuatan-kekuatan garis lurus dengan batasan-batasan masing-masing. Kekuatan marah yang sempurna adalah manakala berada dalam garis lurus batasannya, dan ia akan melahirkan syaja’ah (keberanian), dan manakala ia melampaui batasan tersebut maka yang lahir adalah sikap tahawwur (berani tanpa pengetahuan), dan manakala lemah tidak sampai pada batas yang ditentukan maka lahirlah sikap penakut, lemah melaksanakan apa yang seharusnya dilaksanakan. Dari beberapa uraian tersebut, al-Ghazali memberikan penekanan bahwa pokok-pokok akhlak dan dasar-dasarnya ada empat yaitu hikmah 16 , keberanian 17 , menjaga keharmonisan diri atau

16 Hikmah adalah situasi jiwa yang dapat dipergunakan untuk mengatur marah dan nafsu syahwat dan mendorongnya menurut kehendak pengetahuan. Pemakaian dan pengendaliannya diatur oleh kehendak pengetahuan. 17 Keberanian adalah suatu keadaan jiwa yang merupakan sifat kemarahan, tetapi yang dituntun dengan sifat akal pikiran untuk terus maju atau mengekangnya

56

kelapangan dada 18 dan keadilan 19 . Dan dari keempat sendi-sendi pokok tersebut, timbulnya semua akhlak yang baik dan terpuji.

E. Cakupan Moralitas Peserta Didik

1. Moralitas Peserta Didik Perkembangan Moral (moral development) berkaitan dengan aturan 20 dan konvensi tentang apa yang seharusnya dilakukan oleh manusia dalam interaksinya dengan orang lain (John W.Santrock, 2002: 287), yang diungkapkan dalam bentuk 1) Berpikir, 2) Bertindak dan 3 ) Perasaan (Ibid). Peneliti Perkembangan Moral, Pieget memicu tentang adanya pemikiran isu-isu moral, dalam observasi dan wawancara yang ekstensip terhadap anak-anak berusia 4–12 tahun. Piaget mengamati anak-anak tersebut bermain kelereng sambil berusaha mempelajari bagaimana anak-anak tersebut menggunakan dan memikirkan aturan- aturan permainan. Piaget juga bertanya kepada anak-anak tentang aturan-aturan etis, seperti mencuri, berbohong, hukuman dan keadilan (Ibid).

Kesimpulan yang diperoleh Piaget menyebutkan bahwa ada dua cara yang jelas-jelas berbeda dalam berpikir tentang moralitas, tergantung pada kedewasaan perkembangan mereka, kedua cara tersebut adalah :

18 Kelapangan dada ialah mendidik kekuatan syahwat atau kemauan dengan didikan yang bersendikan akal pikiran serta syariat agama. 19 Keadilan ialah suatu kekuatan dalam jiwa yang dapat membimbing kemarahan dan syahwat itu dan membawanya kearah yang sesuai dengan hikmah dan kebijaksanaan. Ada kalanya dibiarkan dan adakalanya dikekang dan semua ini dengan mengingat keadaan dan suasana yang sedang dihadapinya (Ihya Ulumuddin Imam al-Ghazali,1983:506-507). 20 Dalam mempelajari aturan-aturan ini para pakar perkembangan anak menguji tiga bidang yang berbeda, pertama bagaimana anak-anak berpikir atau bernalar tentang aturan-aturan untuk perilaku etis, kedua, bagaimana anak-anak sesungguhnya berperilaku dalam keadaan moral dan ketiga bagaimana anak-anak merasakan moral itu.

57

1) Heteronomous morality yaitu tahap perkembangan moral yang terjadi pada anak-anak berusia 4-7 tahun. Keadilan dan aturan- aturan dibayangkan sebagai sifat-sifat dunia yang tidak boleh berubah. 2) Autonomous morality yaitu tahap perkembangan moral yang terjadi pada anak-anak yang lebih tua (kira–kira usia 10 dan lebih), pada fase ini anak-anak menjadi sadar bahwa aturan-aturan dan hukum-hukum diciptakan oleh manusia dan di dalam menilai suatu tindakan, seseorang harus mempertimbangkan maksud- maksud pelaku dan juga akibat-akibatnya. Dan anak-anak usia 7- 10 tahun berada di dalam suatu transisi diantara dua tahap yang menunjukkan beberapa ciri dari keduanya.

Dijelaskan lebih lanjut bahwa pemikir heteronomous dalam menilai kebenaran atau kebaikan perilaku dengan mempertimbangkan akibat-akibat dari perilaku itu, bukan maksud-maksud dari pelaku. Sebagaimana dicontohkan bahwa memecahkan dua belas gelas secara tidak sengaja lebih buruk daripada memecahkan satu gelas secara sengaja ketika mencoba mencuri sepotong kue. Bagi pemikir otonomous, yang benar adalah sebaliknya, maksud pelaku dianggap sebagai yang terpenting. Pemikir heteronomous juga yakin bahwa aturan tidak boleh diubah dan digugurkan oleh smua otoritas yang berkuasa. Mereka menolak ketika diajukan aturan-aturan baru harus diperkenalkan. Mereka bersikeras bahwa aturan-aturan harus selalu sama dan tidak boleh diubah. Untuk melihat perbedaan pemikir heteronomous dan pemikir otonomous, lebih jelasnya bisa dilihat dalam tabel sebagai berikut :

58

Tabel 2.2. Ciri-ciri Pemikir Heteronomous dan Otonomous

No

Pemikir Heteronomous

Pemikir Otonomous

1.

- Dilakukan anak berusia 4- 10 tahun

- Dilakukan anak diatas usia 10 tahun

2.

- Mempertimbanggkan aki- bat-akibat dari perilaku .

- Mempertimbangkan maksud- maksud dari pelaku

3.

- Aturan bersifat kaku, tidak boleh diubah

- Aturan bersifat fleksibel, bisa dibuat kesepakatan

4.

- Menolak aturan-aturan yang baru diperkenalkan

- Menerima perubahan, tidak bersifat kaku

5.

- Tunduk pada aturan-aturan sosial yang telah dibuat

- Tunduk pada perubahan aturan denga kesepakatan

6.

- Yakin akan adanya keadilan yang immanen (immanent justice) 21

- Hukuman tidak serta merta diberlakukan begitu saja

7.

- Merasa khawatir setelah melakukan pelanggaran.

- Hukuman hanya terjadi pada seseorang yang relevan menyaksikan kesala-han dan bahwa hukuman juga tidak terelakan

Piaget berpendapat bahwa, seraya berkembang anak-anak juga

menjadi lebih canggih, dalam berpikir tentang persoalan-persoalan

sosial khususnya tentang kemungkinan-kemungkinan dan kondisi-

kondisi kerja sama. Pieget yakin bahwa pemahaman sosial ini terjadi

melalui relasi-relasi teman sebaya (Dalam kelompok teman sebaya,

dimana semua anggota memiliki kekuasaan dan status yang sama,

rencana-rencana dirundingkan dan dikoordinasikan, dan ketidak

setujuan diungkapkan dan pada akhirnya disepakati) yang saling

memberi dan menerima (Ibid.: 288)

Sekolah dan relasi dengan para guru merupakan aspek-aspek

kehidupan anak yang semakin tersetruktur. Pemahaman diri anak

berkembang, dan perubahan-perubahan dalam gender dan

adalah

hukuman akan dikenakan segera.

21

Immanent

justice

konsep

bahwa

59

apabila

suatu

aturan

dilanggar,

perkembangan moral menandai perkembangan selama tahun-tahun sekolah dasar setingkat anak usia 7-12 tahun (John W. Santrock, 2002:

342).

Islam mulai menerapkan pemberlakuan syariah bagi anak-anak usia baligh (7-12), pada usia tersebut anak-anak telah diwajiban untuk melakukan syariah seperti shalat, merupakan ibadah pertama yang dimintai pertanggungan jawab di hadapan Tuhannya. Dengan demikian anak pada usia tersebut telah dianggap mampu bertanggung jawab akan kewajibannya. Sebagaimana penelitian akan perkembangan moral yang dilakukan oleh Kohlberg, yang menyatakan bahwa perkembangan moral manusia ada dalam tahapan-tahapan yang sejalan dengan pertumbuhan dan perkembangan intelektualnya. Menurut penulis pada dasarnya manusia termasuk peserta didik telah memiliki potensi moral (baik dan buruk) yang telah tertanam didalam batinnya (diri), baik buruk akan tumbuh dan berkembang sangat dipengaruhi oleh stimulus-stimulus dan tauladan-tauladan yang melingkupinya. Permasalahannya bagaimana mengkondisikan dan mengarahkan peserta didik pada kecenderungan akal aktif (potensi batiniah baik), atau peserta didik dengan moralitas baik.

2. Faktor-faktor Pembentuk Moralitas Peserta Didik

Pendidikan formal yang dilaksanakan dalam dunia persekolahan, hampir memakan waktu kurang lebih 16 tahun (sekolah dasar enam tahun, sekolah menengah pertama tiga tahun, sekolah menengah atas tiga tahun dan perguruan tinggi kurang lebih empat tahun) waktu yang cukup untuk membentuk moralitas peserta didik Adat kebiasaan yang terbentuk merupakan suatu perbuatan yang dilakukan dengan berulang-ulang, perbuatan tersebut akan menjadi kebiasaan, karena dua faktor, pertama adanya kesukaan hati kepada suatu pekerjaan, dan kedua menerima kesukaan itu dengan melahirkan suatu perbuatan (Ahmad Amin,1975: 21).

60

Dan sifat urat syaraf itu menerima suatu perubahan, jisim atau benda termasuk manusia disebut menerima perubahan, bila dapat dirubah menurut bentuk-bentuk baru, dan bila dapat dirubah, maka akan tetap dalam perubahan itu, kertas yang dilipat terasa pertama kali sedikit menerima penolakan, maka apabila terus diupayakan dan dipaksakan maka lambat laun akan dapat berubah dalam bentukan itu (Ibid: 22). Dalam bentukan yang dikehendaki sebagaimana peserta didik yang dikehendaki dalam pembentukan moralitas yang dijunjung tinggi maka akan memiliki moralitas yang baik dan kebiasaaan moralitas yang baik yang telah terbentuk akan mepunyai dua sifat, pertama memberikan kemudahan pada perbuatan itu karena telah menjadi kebiasaan dan kedua menghemat waktu dan perhatian, karena manusia itu hampir menjadi segolongan adat kebiasaan yang berjalan di permukaan bumi dan nilainya akan bergantung kepada kebiasaannya (ibdi: 32) Butler mengemukakan bahwa sejumlah peserta didik untuk setiap angkatan termasuk pada usia 6-12 tahun haruslah dididik untuk mengetahui dan mengagumi kitab suci. Sedang Dernihkevich menghendaki agar kurikulum berisikan moralitas yang tinggi (Jalaludin, abdullah Idi, 2007: 109). Dan tugas utama pendidikan adalah mempersiapkan peserta didik kearah kematangan akal dengan memberikan pengetahuan. Sedangkan tugas utama guru/pendidik adalah memberikan pendidikan dan pengajaran (pengetahuan) kepada peserta didik. (Ibid : 115). Peserta didik mempunyai bermacam-macam kebutuhan, pemenuhan kebutuhan ini merupakan syarat yang penting bagi perkembangan pribadi yang sehat dan utuh. Kebutuhan tersebut antara lain Kebutuhan rasa kasih sayang, kebutuhan rasa aman, rasa harga diri, kebebasan, sukses dan ingin tahu. (Khoiron Rosyadi, 2004: 195). Kebutuhan dasar peserta didik tersebut merupakan haknya yang musti

61

diberikan oleh keluarga, pendidik pada saat pembelajaran dan pembentukan masa perkembangannya, sehingga masa-masa yang sangat menentukan tersebut benar-benar memperoleh porsi yang akan mengantarkan dan sekaligus sebagai basic landasan dasar pada masa- masa pengisian hidup berikutnya. Perkembangan anak pada khususnya sangat tergantung pada lingkungan dimana mereka hidup, dan peserta didik yang hidup bersama keluarga, bersama-sama dengan teman sebayanya dan lingkungan sekolah hampir kurang lebih 6 (enam) jam sehari, tentu sedikit banyak akan memberikan pengaruh terhadap penanaman moral mereka terutama cara-cara temannya berpikir, temannya bertindak dalam menyikapi atau merespon suatu sikap atau tindakan, temannya berkata, kondisi temannya, cara temannya berpakaian, temannya bersikap, karena pada dasarnya manusia hidup itu banyak meniru (Akhmad Abdullah, 1975) Seorang pendidik atau guru mempunyai peranan yang sangat strategis dan besar dalam memberikan, menkondisikan, membuat situasi pembelajaran menjadi berarti, John Dewey sebagaimana dikutip Wasty Soemanto, ingin mengubah hambatan dalam demokrasi pendidikan dengan jalan :

1. Memberi kesempatan pada murid/peserta didik untuk belajar perorangan

2. memberi kesempatan murid untuk belajar melalui pengalaman

3. Memberi motivasi, dan bukan perintah. Ini berarti akan memberikan tujuan yang dapat menjelaskan ke arah kegiatan belajar yang merupakan kebutuhan pokok peserta didik

4. Mengikut sertakan murid di dalam setiap aspek kegiatan belajar yang merupakan kebutuhan poko peserta didik

5. menyadarkan murid bahwa hidup itu dinamis. Oleh karena itu, murid harus dihadapkan dengan dunia yang selalu berubah

62

dengan kemerdekaan beraktifitas, dengan orientasi kehidupan masa kini (Jalaluddin & Abdullah Idi, 2007: 93)

Dan apa yang berguna bagi manusia sebesar-besarnya apabila manusia itu mendapat ahli pendidik yang baik dan bahaya akan menimpanya, apabila manusia mendapat pendidik yang buruk, sebagaimana difirmankan dalam al-Quran, bahwa manusia lahir dalam keadaan fitrah, keluarga dan lingkunganlah yang akan membentuknya menjadi manusia yang ingkar dan tidak berguna. Koordinasi antar guru agar semua bekerja sama membina moralitas siswa dalam setiap mata pelajaran masing-masing. Misalnya, guru mata pelajaran sejarah menyisipkan pesan moral dengan memberi tugas, "Carilah apa hikmah yang dapat diambil dalam kehidupan kita sehari-hari tentang peristiwa Sumpah Pemuda 1928". Guru mata pelajaran bahasa Inggris: "Buatlah kata-kata mutiara yang dapat dipraktikkan dan merupakan nasehat kebaikan yang ditulis dalam bentuk bahasa Inggris", dan tentunya semua mata pelajaran, bisa diformat dalam bentuk–bentuk petuah dan nasehat akan kebaikan. Dengan tetap mengutamakan mutu dari disiplin ilmu yang disampaikan, hendaknya pesan-pesan moral diberikan dalam semua mata pelajaran, tidak terlalu sering agar tidak jenuh, dan tidak terlalu jarang agar tidak diabaikan. Maka dalam setiap even pendidikan, lingkungan sekolah khususnya perangkat guru pentingnya membiasakan dengan membentuk kebiasaan yang baik sebagaimana diungkapkan bahwa dengan menabur gagasan, maka akan memetik perbuatan, dengan menabur perbuatan akan memetik kebiasaan, dengan memetik kebiasaan akan terbentuklah karakter atau sifat baik, dan sentralnya adalah nasib (Ary Ginanjar, 2005: xliii) Robert J. Havinghurst mengemukakan, bahwa peserta didik pada masa usia 6-12 tahun harus melaksanakan tugas perkembangan, sebagai berikut:

63

1. Mempelajari kecakapan-kecakapan jasmaniah yang dibutuhkan untuk permainan sehari-hari;

2. Membentuk sikap yang baik terhadap diri sendiri sebagai suatu makhluk yang tumbuh;

3. Belajar bergaul dengan teman sebaya;

4. Mempelajari peranan sosial laki-laki atau perempuan;

5. Memperkembangkan kecakapan dasar dalam menulis; membaca dan berhitung;

6. Memperkembangkan pengertian yang perlu unuk kehidupan sehari-hari;

7. Memperkembangkan kata hati, kesusilaan dan ukuran-ukuran nilai;

8. Memperkembangkan sikap terhadap lembaga dan kelompok sosial (Khoiron Rosyadi, 2004: 194). Untuk menguatkan dan meninggikan pendidikan moral,

terutama akhlaknya, maka ada beberapa hal yang perlu diperhatikan yaitu :

1. Meluaskan lingkungan pikiran, artinya terus berusaha untuk belajar dengan semangat;

2. Berkawan dengan orang-orang terpilih, bukan berarti menolak berkawan dengan orang awam namun lebih membekali diri dengan lingkungan yang berpikir baik dan bijak. Karena pada dasarnya manusia hidup suka mencontoh;

3. Membaca dan menyelidiki perjuangan para pahlawan dan yang berpikiran luar biasa;

4. Supaya manusia memaksakan dirinya melakukan perbuatan baik bagi umum, berbuat baik adalah kewajiban manusia, karena kualitas antara lain terletak pada perbuatan baiknya;

5. Apa yang telah disampaikan di dalam kebiasaan tentang menekan jiwa melakukan perbuatan yang tidak ada maksud kecuali menundukkan jiwa. Dan menderma dengan perbuatan-

64

perbuatan setiap haridengan maksud membiasakan jiwa agar taat, memelihara kekuatan penolaksehingga diterima ajakan baik dan ditolak ajakan buruk (Ahmad Amin,1975: 63-66).

Bahwa pendidikan moral peserta didik pentingnya didasari dengan kekuatan nilai yang dimulai dengan ketenangan hati nurani yang suci maka keberhasilan pendidikan moral yang dibiasakan dan dipaksakan pada awalnya akan menampakkan hasilnya. Hasilnya adalah peserta didik yang bermoral yang mampu mengaktualisasikan dirinya dengan perbuatan-perbuatan yang tidak saja baik namun lehih kepada perbuatan-perbutan mulia, yang dilakukan tidak karena ingin keuntungan, ingin di puji, ingin dihormati namun perbuatan yang dilandasi dengan syariah namun juga seringkali menggunakan akal pikirnya. Akal, syariah dan dorongan hati yang suci akan terbentuk manusia digital, manusia baru yang sesuai dengan tatanan transenden (manusia yang memiliki rukh).

Pendidikan Inklusif sebagai wadah dan model pelayanan yang mampu membentuk serta mengembangkan moral peserta didik, karena peserta didik dilatih sekaligus dihadapkan pada kehidupan yang nyata (Learn to live together), mereka hidup tidak ada batasan antara yang pandai dan yang kurang pandai, yang beruntung secara fisik maupun yang kurang beruntung (anak berkebutuhan khusus), mereka yang berasal dari keturunan kaya atau miskin, rumpun atau etnis, manusia yang termarginalkan, dan lain sebagainya. Pendidikan inklusif adalah pendidikan untuk semua (education for all), pendidikan masa depan (education for future), dan pendidikan islami (Islamic education).

65

BAB III

MORALITAS PESERTA DIDIK PENDIDIKAN INKLUSIF

A. Pengertian dan konsep Pendidikan Inklusif.

Setiap gagasan yang muncul, selalu dilatarbelakangi adanya sejarah kehidupan atau fenomena di dalam masyarakat, sebgaimana halnya pendidikan inklusif yang memberikan pelayanan pada semua, diawali dengan adanya manusia yang hanya dipandang dengan sebelah mata, mereka hanya dipandang hanya dari segi fisik yang nyata atau kasat mata, padahal pada dasarnya manusia itu memiliki akal pikir, kemampuan, dan kondisi batin yang sulit untuk didiskripsikan. Manusia yang diabaikan, tidak diperhatikan, tidak dihargai yang akhirnya memberi kekuatan untuk mengungkapkan tekanan dan keadaan dirinya atau kelompoknya kepermukaan yang selanjutnya baru mendapatkan perhatian umum, diawali tidak dianggapnya orang-orang disability, yang sebetulnya mereka hanya secara fisik tampak tidak mampu, namun secara non fisik atau batiniah memiliki kekuatan yang luar biasa. Disinilah seringkali manusia banyak kelirunya ketika memandang sesuatu hanya dari segi lahiriah saja. Anggapan keliru tersebut memunculkan penanganan dan pelayanan yang keliru pula. Sebagaimana pemberian pelayanan yang seharusnya diberikan kepada kelompok disabel, memunculkan berbagai model pelayanan pendidikan. Model yang telah diperkenalkan sejak abad XX yaitu model mainstreaming, menurut Berry, mainstreaming menekankan tiga unsur yang mempunyai ciri-ciri: suatu rangkaian jenis-jenis layanan pendidikan bagi siswa-siswa yang memiliki hambatan, pengurangan jumlah anak-anak yang ’ditarik keluar’ dari kelas-kelas reguler, dan

66

penambahan ketetapan-ketetapan bagi layanan pendidikan di dalam kelas-kelas reguler ketimbang diluar kelas-kelas tersebut (J.David Smith,2006: 42). Berry mengatakan bahwa embrio bagi kelahiran istilah mainstreaming yang telah dikembangkan dimana-mana dengan istilah least restrictive environment, pada artikel Dunn tahun 1968 berjudul ”Special Education for for the Mildly Retardet: is Much of it Justifiable?” dalam artikel tersebut Dunn meminta para pendidik khusus agar mempertimbangkan dengan seksama dengan adanya hal-hal yang menunjukkan adanya kemajuan akademik yang lebih besar pada anak-anak yang memiliki hambatan, yang ditempatkan dikelas-kelas reguler daripada di kelas-kelas khusus. Menurut Dunn (1968) tekanan untuk meneruskan dan memperluas program (kelas-kelas khusus) menjadi hal yang tidak diinginkan bagi kebanyakan anak-anak yang dipandang akan memerlukannya (Ibid: 42). Dia juga menekankan labeling kepada anak-anak untuk ditempatkan di kelas khusus membuat stigma yang sangat destruktif bagi konsep diri mereka. Juga pemindahan anak dari kelas reguler ke kelas khusus mungkin memberikan pengaruh yang signifikan pada perasaan rendah diri dan problem penerimaan diri ( Ibid). Keadaan ini berlaku pula pada situasi sekarang, bahkan di Jawa Tengah dimana penempatan peserta didik pada sekolah luar biasa (sekolah khusus) akan bisa menimbulkan traumatik bagi peserta didik itu dan juga orang tua. Dikatakan lebih lanjut oleh Lilly (1970), setelah publikasi artikel ini muncul berbagai seruan untuk mengaktifkan pemikiran Dunn pada kebijakan-kebijakan dan praktik-praktik pendidikan suatu ”zero reject model” yang menganjurkan bahwa tidak seorang anak pun dengan keterbelakangan mental ’ditolak’ dari kelas reguler dan ditempatkan di kelas khusus (Ibid: 43)

67

Berkenaan dengan promosi tersebut diatas, kebijakan yang diambil oleh Council for Exception Children Policies Comission, (1973) selanjutnya menetapkan bahwa semua siswa yang ”memiliki hambatan” sebaiknya menghabiskan waktu secukupnya saja di luar kelas reguler, hanya sebanyak yang diperlukan untuk mengontrol variabel-variabel pengajaran mereka (Ibid: 43). Oleh Will (1986), sekretaris dari badan tersebut membuat istilah dalam REI (Reguler Education Initiative) menegaskan dengan menyatukan pendidikan khusus dan reguler, satu ’tanggung jawab bersama’ akan tercipta sehingga akan melayani anak-anak tanpa stigma label-label diagnostik atau kelas-kelas yang terpisah (Ibid: 43) Dijelaskan oleh Heller dan Schilit (1987), yang harus diperhatikan bahwa sangat penting untuk diketahui kalau pendidikan khusus tidak bisa mencari solusi-solusi institusional bagi masalah-masalah individu tanpa mengubah situasi dan kondisi dalam institusi tersebut. Menurut Mc Laughlian dan Warren ( 1992), lembaga bisa diubah secara mendasar hanya sekolahlah yang harus diubah secara mendasar”. Intinya pendidikan khusus bisa diubah secara mendasar, hanya jika institusi sekolah umum diubah, hal ini ditemukan berulang-ulang dalam literatur-literatur mengenai perubahan pendidikan khusus yang telah ditulis dalam tahun terakhir (Ibid : 44}. Istilah inklusi yang dianggap istilah baru untuk mendiskripsikan penyatuan bagi anak-anak berkelainan (penyandang hambatan/cacat) ke dalam program-program sekolah (dan juga diartikan sebagai menyatukan anak-anak berkelainan (penyandang hambatan/cacat) dengan cara-cara yang realistis dan komprehensif dalam kehidupan pendidikan yang menyeluruh( Ibid

:45).

Perhatian yang besar terhadap semua peserta didik tanpa melihat perbedaan, utamanya kondisi fisik atau melihat hambatan

68

faktual adalah suatu komitmen untuk melibatkan siswa-siswa atau peserta didik yang memiliki hambatan dalam setiap tingkat pendidikan mereka yang memungkinkan (Ibid: 46), hal ini sejalan dengan ajaran Islam dalam Al-Quran, bahwa manusia pada dasarnya sama, kecuali ketaqwaannya, sebagaimana tersurat dalam surat al-Hujarat (49): 13 yang artinya ”Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.” Dalam buku J. Smith menggunakan istilah optimal inclusion sebagai filosofi yang dipilihnya dengan pengertian untuk mendorong pendidik agar berusaha menemukan jenis dan tingkat inklusi yang memuaskan tiap individu siswa/peserta didik. Tujuan utamanya, secara faktual adalah membantu pembaca menjadi pendidik profesional yang dapat melihat sebagai yang utama dan pertama kali dalam setiap keadaan, sedangkan cara atau hambatan yang dimilikinya itu hanyalah satu karakter dari individualitasnya (Ibid). Pemikiran tersebut dilatar belakangi bila hambatan dipandang sebagai sesuatu yang sekunder bagi semua individu siswa, pikiran itu mungkin berubah sekaligus merefleksikan keterbukaan dan penerimaan yang lebih besar bagi seseorang serta optimisme yang lebih besar dalam memperlakukan para penyandang hambatan dengan lebih santun. (Ibid: 46) Pendidikan inklusif merupakan perkembangan pelayanan pendidikan terkini dari model pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus, dimana prinsip mendasar dari pendidikan inklusif, selama memungkinkan, semua anak atau peserta didik seyogyanya belajar

69

bersama-sama tanpa memandang kesulitan ataupun perbedaan yang mungkin ada pada mereka.” (pernyataan Salamanca,1994) Inklusi itu masa depan, milik ras manusia, hak asasi manusia, pengupayaan agar bisa hidup berdampingan satu sama lain, bukanlah sesuatu hal yang harus dilakukan kepada seseorang atau untuk seseorang, dilakukan bersama bagi satu sama lain, bukanlah sesuatu yang kita lakukan sedikit saja ( Marsha Forest, 2005: 19). Pendidikan inklusi mempunyai pengertian yang beragam. Stainback dan Stainback (1990) mengemukakan bahwa sekolah inklusi adalah sekolah yang menampung semua siswa di kelas yang sama. Sekolah ini menyediakan program pendidikan yang layak, menantang, tetapi sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan setiap siswa, maupun bantuan dan dukungan yang dapat diberikan oleh para guru agar anak-anak berhasil. Lebih dari itu, sekolah inklusi juga merupakan tempat setiap anak dapat diterima, menjadi bagian dari kelas tersebut, dan saling membantu dengan guru dan teman sebayanya, maupun anggota masyarakat lain agar kebutuhan individualnya dapat terpenuhi. Menurut Heller, Holtzman&Messick (1982), mengatakan bahwa layanan ini merekomendasikan agar pendidikan khusus secara segregatif hanya diberikan terbatas berdasarkan hasil identifikasi yang tepat. Beberapa pakar bahkan mengemukakan bahwa sangat sulit untuk melakukan identifikasi dan penempatan anak berkelainan secara tepat, karena karakteristik mereka yang sangat heterogen. Beberapa peneliti kemudian melakukan metaanalisis (analisis lanjut) atas hasil banyak penelitian sejenis. Hasil analisis yang dilakukan oleh Carlberg dan Kavale (1980) terhadap 50 buah penelitian, Wang dan Baker (1985/1986) terhadap 11 buah penelitian, dan Baker (1994) terhadap 13 buah penelitian menunjukkan bahwa pendidikan inklusif berdampak positif, baik

70

terhadap perkembangan akademik maupun sosial anak berkelainan dan teman sebayanya ( www.google.Pendidikan Inclusive). Dalam J. Smith menggunakan istilah optimal inclusion sebagai filosofi yang dipilihnya dengan pengertian untuk mendorong pendidik agar berusaha menemukan jenis dan tingkat inklusi yang memuaskan tiap individu siswa/peserta didik. Tujuan utamanya, secara faktual adalah membantu pembaca menjadi pendidik profesional yang dapat melihat sebagai yang utama dan pertama kali dalam setiap keadaan, sedangkan cara atau hambatan yang dimilikinya itu hanyalah satu karakter dari individualitasnya (Ibid). Pemikiran tersebut dilatar belakangi bila hambatan dipandang sebagai sesuatu yang sekunder bagi semua individu siswa, pikiran itu mungkin berubah sekaligus merefleksikan keterbukaan dan penerimaan yang lebih besar bagi seseorang serta optimisme yang lebih besar dalam memperlakukan para penyandang hambatan dengan lebih santun. (Ibid: 46) Pelayanan pendidikan yang selama ini diberlakukan seakan membentuk kotak-kotak pelayanan pendidikan, yang secara psikhologis sangat merugikan peserta didik dalam bersosialisasi, yang mustinya dalam peletakan dasar dalam pembelajaran ini harus diberikan dengan suguhan-suguhan menyeluruh tentang kehidupan nyata, bahwa disekeliling kehidupannya ada kehidupan yang berbeda dari dirinya, namun kenyataan yang sering ditemukan dalam dunia pendidikan hanyalah keterbatasan-keterbatan yang tidak mampu memberikan sumbangan yang bermakna bagi perkembangan peserta didik khususnya perkembangan moralnya dalam menuju kedewasaannya, karena dalam masa pembelajaran, peserta didik/remaja sekolah adalah masa untuk belajar menjadi orang dewasa, bukan untuk menjadi remaja yang sukses (Elias, Maurice J.et all, 2003: 33)

71

Pengkotak-kotakan pemberian pelayanan pendidikan, yang

selama ini dipraktekkan dalam dunia pendidikan, utamanya praktek

pembatasan-pembatasan bagi peserta didik yang berkelainan (tuna

netra, tunadaksa, dll) menarik perhatian internasional dan nasional

sehingga menumbuhkan ide bagi lembaga-lembaga yang komitmen

terhadap dunia pendidikan dan hak asasi manusia.

Lembaga dunia maupun nasional yang komitment terhadap

pendidikan, khususnya pelayanan itu harus diberikan dalam bentuk

inklusif. lembaga-lembga tersebut menaruh perhatian lebih dan

konsisten memberikan landasan-landasan untuk penanganan,

perkembangan serta penggarapan bagi pendidikan inklusif sebagai

suatu pelayanan pendidikan masa depan (education for future),

lembaga Internasional dan Nasional tersebut antara lain adalah :

Deklarasi Dunia tentang Pendidikan untuk Semua (PUS) pada tahun 1990,

Pernyataan Salamanca dan Kerangka Aksi mengenai Pendidikan Berkebutuhan Khusus tahun 1994,

Kerangka Dakar, Pendidikan Untuk Semua (PUS) tahun 2000,

Deklarasi Bangkok tentang Pendidikan tahun 2004, para Menteri dan para Pejabat Tinggi Kementerian dari 10 negara Asia Tenggara, bertemu dalam forum kementerian tanggal 26 Mei di Bangkok, Thailand. Untuk mendiskusikan isu ”peningkatan akses terhadap, dan kualitas dari, pendidikan melalui lingkungan belajar yang ramah anak”. Indonesia diwakili oleh Bapak Indra Jati Sidi, Ph.D yang menjabat Dirjen Dikdasmen.

Rekomendasi Simposium Internasional tentang Inklusi dan Penghapusan Hambantan untuk Belajar, Patisipasi dan Perkembangan tahun 2005,

-

Inklusi

-

Sekolah ramah Anak

Peraturan Standar tentang Persamaan Kesempatan bagi Para Penyandang Cacat tahun 1993,

Undang-Undang tentang Penyandang Cacat tahun 1997,

Deklarasi Bandung

dengan Tema Indonesia menuju Inklusi

tahun 2004,

Konggres Internasional ke-8 tentang mengikutsertakan anak penyandang kecacatan ke dalam masyarakat, menuju

72

kewarganegaraan yang penuh pada tahuan 2004 (Kompendium,

2006).

Lembaga-lembaga nasional maupun internasional tersebut

memberikan kekuatan dan dukungan yang besar demi

terselenggaranya pendidikan inklusif bagi semua penyelenggara

inklusi untuk lebih inten dan konsisten dalam meningkatkan

pelayanan pendidikan untuk semua tanpa melihat,

mempermasalahkan perbedaan yang ada dalam diri peserta didik,

utamanya bagi peserta didik berkelainan (secara fisik) dan peserta

didik berkebutuhan khusus (kognitif). Realitasnya secara inheren,

pelayanan bagi peserta didik berkebutuhan khusus yang memiliki

kelambanan belajar (slow learner) dan peserta didik yang memiliki

kecerdasan diatas rata-rata (cerdas istimewa), telah dilaksanakan

oleh sekolah-sekolah reguler pada umumnya.

Sebagaimana tertulis dalam Undang Undang Dasar 1945 pasal

31 ayat 1 dan Undang-Undang Nomor 2 tahun 1989 tentang Sistem

Pendidikan Nasional bab III ayat 5 menyatakan ”bahwa setiap

warganegara mempunyai kesempatan yang sama untuk memperoleh

pendidikan”. Hal ini menunjukkan bahwa semua anak (peserta

didik) termasuk normal dan anak berkebutuhan khusus berhak

untuk memperoleh kesempatan dan perlakuan yang sama dalam

pendidikan,

Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003

tentang Sistem Pendidikan Nasional memberikan warna lain dalam

penyediaan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus. Pada

penjelasan pasal 15 tentang pendidikan khusus disebutkan bahwa

”pendidikan khusus merupakan pendidikan untuk peserta didik

yang berkelainan atau peserta didik yang memiliki kecerdasan luar

biasa yang diselenggarakan secara inklusif atau berupa satuan

pendidikan khusus pada tingkat pendidikan dasar dan menengah”.

Pasal inilah yang memungkinkan terobosan bentuk pelayanan

73

pendidikan bagi anak berkelainan berupa penyelenggaraan

pendidikan inklusif.

Sebagai bentuk kepedulian pada program Inklusif, Pemerintah

melalui Deklarasi Bandung dengan Tema Indonesia menuju

Pendidikan Inklusif tahun 2004, pada salah satu pernyataan yang

disepakati menyebutkan yaitu untuk ”Menyusun Rencana Aksi

(Action Plan) dan pendanaannya untuk pemenuhan aksesibilitas

fisik dan non fisik, layanan pendidikan yang berkualitas, kesehatan,

rekreasi, kesejahteraan bagi semua anak berkelainan dan anak

berkebutuhan khusus lainnya”.

Tindak lanjut dari pernyataan tersebut, tersurat dalam buku

panduan (tookit) edisi Indonesia terdiri dari buku 1 sampai 6 yang

menyebutkan bahwa pendidikan inklusif sebagai upaya untuk

menyikapi keberagaman atau keberbedaan, dengan metode-metode,

antara lain dalam :

Menjadikan Lingkungan Inklusif, Ramah terhadap Pembelajaran (LIRP);atau keberbedaan, dengan metode-metode, antara lain dalam : Bekerja Sama dengan Keluarga dan Masyarakat untuk

Bekerja Sama dengan Keluarga dan Masyarakat untuk Menciptakan LIRP;Lingkungan Inklusif, Ramah terhadap Pembelajaran (LIRP); Mengajak Semua Anak Bersekolah dan Belajar; Menciptakan

Mengajak Semua Anak Bersekolah dan Belajar;Sama dengan Keluarga dan Masyarakat untuk Menciptakan LIRP; Menciptakan Kelas Inklusif, Ramah terhadap Peserta Didik;

Menciptakan Kelas Inklusif, Ramah terhadap Peserta Didik;LIRP; Mengajak Semua Anak Bersekolah dan Belajar; Mengelola Kelas Inklusif dengan Pembelajaran yang Ramah

Mengelola Kelas Inklusif dengan Pembelajaran yang RamahMenciptakan Kelas Inklusif, Ramah terhadap Peserta Didik; Menciptakan LIRP yang sehat dan Aman. Suatu lingkungan yang

Menciptakan LIRP yang sehat dan Aman.Mengelola Kelas Inklusif dengan Pembelajaran yang Ramah Suatu lingkungan yang inklusif, dan ramah terhadap

Suatu lingkungan yang inklusif, dan ramah terhadap

pembelajaran (LIRP) adalah lingkungan yang menerima, merawat

dan mendidik semua anak tanpa memandang jenis kelamin, fisik,

intelektual, sosial, emosional, linguistik atau karakteristik lainnya.

Mereka bisa saja anak-anak yang cacat atau berbakat, anak jalanan

atau pekerja, anak dari orang-orang desa atau nomadik, anak dari

minoritas budayanya atau etnisnya, linguistiknya, anak-anak yang

terjangkit HIV/AIDS, atau anak-anak dari area atau kelompok yang

lemah dan termarginalisasi lainnya (Kompendium,2006: 37).

Pendidikan inklusif itu wajib mengingat bahwa anak itu

74

berbeda, (dalam kemampuan, kelompok etnis, usia, latar belakang, gender, emosi, sosial dan lain sebagainya), semua anak bisa belajar, sehingga sistimlah yang harus dirubah untuk menyesuaikan dengan kondisi anak. Masalah akan selalu timbul ketika suatu pendidikan menampung semua bentuk kondisi dimana lingkungan tersebut menerima, merawat dan mendidik semua anak tanpa memandang perbedaan jenis kelamin (gender), fisik, intelektual, sosial, emosional, linguistik atau karakteristik lainnya. Mereka bisa saja anak-anak yang cacat atau berbakat, anak jalanan atau pekerja, anak dari orang-orang desa atau nomadik, anak dari minoritas budayanya atau etnisnya, linguistiknya, anak-anak yang terjangkit HIV/AIDS, atau anak-anak dari area atau kelompok yang lemah dan termarginal lainnya Pada kenyataannya intelegensi peserta didik ada pada tingkatan-tingkatan sebagaimana tampak pada kurve sebagai berikut

KURVA INTELEGENSI ANAK

Normal Super normal Sub normal IQ 90-120 IQ < 90 IQ > 120
Normal
Super normal
Sub normal
IQ 90-120
IQ <
90
IQ > 120

:

ATAU Super normal IQ > 120 Normal IQ 90-120 Sub normal IQ < 90
ATAU
Super normal
IQ > 120
Normal
IQ 90-120
Sub normal
IQ < 90

75

Sehingga pelayanan pendidikan yang diberikan dan diberlakukan harus bisa dan mampu mengakomodir semua tingkatan intelegensi yang inheren pada setiap peserta didik yang ada dalam kehidupan. Pendidikan Inklusif sebagai wadah yang mampu memberikan dan mengakomodir semua itu. Melalui pendidikan inklusif, peserta didik berkelainan dan berkebutuhan khusus dididik atau diajar bersama-sama dengan peserta didik lainnya (normal) untuk mengoptimalkan potensi yang dimilikinya. Hal ini dilandasi oleh kenyataan bahwa di dalam masyarakat terdapat anak normal dan anak berkebutuhan khusus yang tidak dapat dipisahkan sebagai suatu komunitas. Oleh karena itu, peserta didik berkebutuhan khusus perlu diberi kesempatan dan peluang yang sama dengan peserta didik normal untuk mendapatkan pelayanan pendidikan di sekolah-sekolah reguler terdekat. Pendidikan inklusif diharapkan mampu memecahkan persoalan dalam pelayanan dan penanganan pendidikan bagi peserta didik berkebutuhan khusus selama ini, manusia sisa-sisa, termarginalkan segera akan disingkirkan atau tidak diperdengarkan lagi karena komitmen semua pihak melaksanakan pendidikan untuk semua dan pelayanan pendidikan yang kecenderungannya diberikan bagi seluruh warga negara, tidak terkecuali bagi mereka yang memiliki kelainan fisik, emosional, mental, intelektual, dan/atau sosial dan warga negara yang berusia 7 s/d 15 tahun wajib untuk mengikuti pendidikan dasar.

B. Landasan Kekuatan Pendidikan Inklusif Pendidikan inklusif memiliki kekuatan yang luar biasa karena memiliki landasan yang berakar dari budaya bangsa Indonesia, yaitu landasan filosofis utama, penerapan pendidikan inklusif di Indonesia adalah Pancasila yang merupakan lima pilar sekaligus cita-cita yang didirikan atas fondasi yang lebih mendasar lagi, yang

76

disebut Bhineka Tunggal Ika (Mulyono Abdulrahman, 2003). Sistem pendidikan harus memungkinkan terjadinya pergaulan dan interaksi antar siswa yang beragam, sehingga mendorong sikap silih asah, silih asih, dan silih asuh dengan semangat toleransi seperti halnya yang dijumpai atau dicita-citkan dalam kehidupan sehari- hari. Landasan yuridis internasional, seperti tersebut diatas lembaga dunia dan Undang-undang penguat yang menyuarakan supaya gaung pendidikan inklusif dapat diakses keseluruh antero dunia, sebagai ungkapan kembali bahwa Deklarasi PBB tentang HAM tahun 1948, Deklarasi Salamanca menekankan bahwa selama memungkinkan, semua anak seyogyanya belajar bersama-sama tanpa memandang kesulitan ataupun perbedaan yang mungkin ada pada mereka. Sebagai bagian dari umat manusia yang mempunyai tata pergaulan internasional, Indonesia tidak dapat begitu saja mengabaikan deklarasi UNESCO tersebut di atas.

Landasan pedagogis, Undang Undang Nomor 20 Tahun 2003, menyebutkan bahwa tujuan pendidikan nasional adalah berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warganegara yang demokratis dan bertanggungjawab. Jadi, melalui pendidikanlah, semua peserta didik tanpa kecuali termasuk peserta didik berkelainan dibentuk menjadi warganegara yang demokratis dan bertanggungjawab, yaitu individu yang mampu menghargai perbedaan dan berpartisipasi dalam masyarakat, karena seperti pelangi akan tampak keindahannya ketika warna itu beraneka.

Landasan empiris, perjalanan sejarah pembentukan pelayanan pendidikan inklusif dan penelitian tentang inklusi yang telah banyak dilakukan di negara-negara barat sejak 1952-an, diawali

77

dengan pengungkapan ceritera pengalaman hidup seorang laki-laki negro dengan tulisannya dalam judul Novelnya ”Invisble Man”, namun penelitian yang berskala besar dipelopori oleh the National Academy of Sciences (Amerika Serikat) pada tahun 1980, hasilnya menunjukkan bahwa klasifikasi dan penempatan anak berkelainan atau anak berkebutuhan khusus di sekolah, kelas atau tempat khusus tidak efektif dan diskriminatif.

Landasan spiritual yang berlandaskan firman Tuhan, sebagaimana tertulis dalam Al-Quran, QS Az-Zuhruf, 43: 32, yang intinya bahwa dalam kehidupan di dunia, Tuhan mewajibkan kepada hambaNya untuk menaburkan rakhmat kepada semua, tanpa melihat perbedaan kondisi fisik maupun psikhis seseorang, sebagaimana kondisi peserta didik yang cacat. Taburan rakhmat kepada semua juga diperkuat QS An-Nisa, 4: 9, yang mengisyaratkan kepada manusia bahwa ketakutan dan kekhawatiran manusia akan kehidupan anak-anak atau peserta didik yang dalam kondisi lemah merupakan pekerjaan yang sia-sia karena kesejahteraan anak-anak tersebut akan dijamin oleh Tuhan dengan kekuasaanNya. Dan Tuhan mempertegas pula dalam firmannya sebagaimana tersurat dalam QS Al An-Aam, 6: 160, yang menjelaskan bahwa barang siapa membawa amal yang baik maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya; dan barang siapa membawa perbutan yang jahat maka dia tidak diberi pembalasan malainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan).

C. Pengertian Anak Berkebutuhan Khusus

Pengertian Anak kebutuhan khusus (ABK) adalah anak yang secara signifikan (bermakna) mengalami kelainan atau penyimpangan (phisik, mental-intelektual, social, emosional) dalam proses pertumbuhan atau perkembangannya dibandingkan

78

dengan anak-anak lain seusianya sehingga mereka memerlukan

pelayanan pendidikan khusus.

Dengan demikian, meskipun seorang anak mengalami kelainan

atau penyimpangan tertentu, tetapi kelainan atau penyimpangan

tersebut tidak signifikan sehingga mereka tidak memerlukan

pelayanan pendidikan khusus, anak tersebut bukan termasuk anak

dengan kebutuhan khusus.

Ada 9 (sembilan) jenis anak kebutuhan khusus, untuk keperluan

pendidikan inklusi, karena berdasarkan berbagai studi, hanya ada

sembilan jenis kelainan yang paling sering dijumpai di sekolah-

sekolah reguler. Jika masih dijumpai di sekolah, diluar 9 jenis

kebuthan khusus tersebut, maka guru dapat bekerjasama dengan

pihak yang relevan untuk menanganinya, yaitu lembaga-lembaga

terapi penanganan anak-anak seperti anak autis, anak korban

narkoba, anak yang memiliki penyakit kronis, dan lain-lain.

Secara singkat kesembilan jenis kebutuhan khusus tersebut,

masing-masing dijelaskan sebagai berikut :

1. Tunanetra/anak yang mengalami gangguan penglihatan, adalah anak yang mengalami gangguan daya penglihatannya, berupa kebutaan menyeluruh atau sebagian, dan walaupun telah diberi pertolongan dengan alat-alat bantu khusus masih tetap memerlukan pelayanan pendidikan khusus.

2. Tunarungu/anak yang mengalami gangguan pendengaran, adalah anak yang kehilangan seluruh atau sebagian daya pendengarannya sehingga tidak atau kurang mampu berkomunikasi secara verbal dan walaupun telah diberikan pertolongan dengan alat bantu dengar masih tetap memerlukan pelayanan pendidikan khusus.

3. Tunadaksa/mengalami kelainan angota tubuh/gerakan, adalah anak yang mengalami kelainan atau cacat yang menetap pada alat gerak (tulang, sendi, otot) sedemikian rupa sehingga memerlukan pelayanan pendidikan khusus.

4. Berbakat/memiliki kemampuan dan kecerdasan luar biasa, adalah anak yang memiliki potensi kecerdasan (inteligensi), kreativitas, dan tanggungjawab terhadap tugas (task commitment) di atas anak-anak seusianya (anak normal), sehingga untuk mewujudkan potensinya menjadi prestasi nyata, memerlukan pelayanan pendidikan khusus.

79

5. Tunagrahita atau retardasi mental adalah anak yang secara nyata mengalami hambatan dan keterbelakangan perkembangan mental jauh di bawah rata-rata sedemikian rupa sehingga mengalami kesulitan dalam tugas-tugas akademik, komunikasi maupun sosial, dan karenanya memerlukan layanan pendidikan khusus.

6. Lamban belajar (slow learner), adalah anak yang memiliki potensi intelektual sedikit di bawah normal tetapi belum termasuk tunagrahita. Dalam beberapa hal mengalami hambatan atau keterlambatan berpikir, merespon rangsangan dan adaptasi sosial, tetapi masih jauh lebih baik dibanding dengan yang tunagrahita, lebih lamban dibanding dengan yang normal, mereka butuh waktu yang lebih lama dan berulang- ulang untuk dapat menyelesaikan tugas-tugas akademik

maupun non akademik, dan karenanya memerlukan pelayanan pendidikan khusus.

7. Anak yang mengalami kesulitan belajar spesifik, adalah anak yang secara nyata mengalami kesulitan dalam tugas-tugas akademik khusus (terutama dalam hal kemampuan membaca, menulis dan berhitung atau matematika), diduga disebabkan karena faktor disfungsi neugologis, bukan disebabkan karena factor inteligensi (inteligensinya normal bahkan ada yang di atas normal), sehingga memerlukan pelayanan pendidikan khusus. Anak berkesulitan belajar spesifik dapat berupa kesulitan belajar membaca (disleksia), kesulitan belajar menulis (disgrafia), atau kesulitan belajar berhitung (diskalkulia), sedangkan mata pelajaran lain mereka tidak mengalami kesulitan yang signifikan (berarti)

8. Anak yang mengalami gangguan komunikasi, adalah anak yang mengalami kelainan suara, artikulasi (pengucapan), atau kelancaran bicara, yang mengakibatkan terjadi penyimpangan bentuk bahasa, isi bahasa, atau fungsi bahasa, sehingga memerlukan pelayanan pendidikan khusus. Anak yang mengalami gangguan komunikasi ini tidak selalu disebabkan karena faktor ketunarunguan.

9. Tunalaras/anak yang mengalami gangguan emosi dan perilaku. Tunalaras adalah anak yang mengalami kesulitan dalam penyesuaian diri dan bertingkah laku tidak sesuai dengan norma-norma yang berlaku dalam lingkungan kelompok usia maupun masyarakat pada umumnya, sehingga merugikan dirinya maupun orang lain, dan karenanya memerlukan pelayanan pendidikan khusus demi kesejahteraan dirinya maupun lingkungannya (Pedoman Penyelenggaraan Pendidikan Terpadu/Inklusi, 2004).

80

Peserta didik yang memiliki kelainan seperti tersebut diatas direkomendasikan seyogyanya belajar bersama-sama dengan peserta didik normal dalam kelas reguler, dengan demikian mereka berada bersama-sama dalam kelas yang sama, memperoleh kesempatan yang sama tanpa membedakan atau tanpa ada diskriminasi. Pendidikan inklusif memberikan wadah bagi kebersamaan mereka, untuk memperoleh kesempatan mengembangkan potensi diri yang dimiliki masing-masing peserta didik.

D. Sekilas Perkembangan SD Hj. Isriati Semarang.

Data yang diperoleh menyebutkan bahwa SD Hj. Isriati Baiturrahman Semarang merupakan salah satu sekolah swasta yang bernuansa Islam dari sekian banyak SD yang bernuansa Islami di Semarang, ibu kota Jawa Tengah. Secara de fakto SD Hj. Isriati berdiri dan menjalankan operasionalnya pada tanggal 16 Juli 1985, namun secara de jure, ijin operasional sementara, dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah, nomor 1179/I03/I.87, baru dikeluarkan pada 23 Juli 1987. Dan pada tanggal 6 Juni 1991 mendapatkan Surat Keputusan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Provinsi Jawa Tengah, nomor : 421.2/Swt/09237/1991. Nama Hj. Isriati, diambil dari nama almarhumah Hajjah Isriati istri H. Moenadi, mantan Gubernur Jawa Tengah periode tahun 1970-1975. Karena gagasan beliau untuk mendirikan lembaga pendidikan Islam di lingkungan Masjid Raya Baiturrahman Semarang. SD Hj. Isriati Baiturrahman terletak di kawasan straategis Simpang Lima, pusat Kota Semarang, tepatnya di Jalan Pandanaran 126 Semarang, Kelurahan Pekunden, Kecamatan Semarang Tengah, Kota Semarang, Provinsi Jawa Tengah. Bangunan sekolah seluas 3.200 meter persegi ini, seakan berdiri

81

megah di atas tanah seluas 11.765 meter persegi, satu komplek dengan TK Hj. Isriati Baiturrahman dan Masjid Raya Baiturrahman, di sebelah barat Lapangan Pancasila Simpang Lima Semarang. Sejak berdiri pada tahun 1985 sampai dengan sekarang SD Hj. Isriati Baiturrahman telah mengalami tiga periode kepemimpinan. Periode pertama, pada tahun 1985 – 1987, disebut sebagai periode

keperintisan. Pada periode ini SD Hj. Isriati Baiturrahman di bawah

kepemimpinan Siti Nizam Maria Ulfah, S.Pd

orang guru dan pengurus Yayasan merintis berdirinya SD Hj. Isriati

Baiturrahman dengan siswa sebanyak 12 anak pada tahun pertama dan 30 anak pada tahun ke dua.

Periode kedua, pada tahun 1987 – 2000, periode ini disebut sebagai periode pencarian jati diri. Pada periode ini SD Hj. Isriati

di bawah kepemimpinan Hj. Dra. Sri Tantowiyah, M.Pd

bersama para guru mengembangkan pendidikan di SD Hj. Isriati sekaligus mencari dan membentuk jati diri SD Hj. Isriati Baiturrahman. Selama 13 tahun inilah SD Hj. Isriati memantapkan diri sebagai sekolah Islam dan menunjukkan perkembangan yang sangat pesat, baik dari sisi kuantitas siswanya maupun kualitasnya. Periode ketiga, pada tahun 2000 – 2008. Periode ini disebut sebagai periode pengembangan mutu. Pada periode ini SD Hj. Isriati di bawah kepemimpinan Sunoto. Pada masa ini SD Hj. Isriati memfokuskan pada peningkatan mutu dan kinerja sekolah melalui peningkatan mutu sumber daya manusia, peningkatan mutu kegiatan belajar mengajar, dan sarana prasarana. Alhamdulillah lima tahun terakhir ini program tersebut telah terwujud. Perjalanan terus berlangsung dalam sejarah peletakan dasar pada tunas-tunas bangsa lewat pendidikan merupakan tugas mulia yang harus mendapatkan dukungan dari semua pihak dengan karya nyata sangat diharapkan demi terwujudnya masyarakat kota

Beliau

Beliau bersama lima

82

Semarang yang utuh dan sehat untuk menyongsong era globalisasi dunia yang tak kenal batas. Untuk itu kolaborasi pendidikan sebagai proses belajar hidup guna mengatasi keburukan dan mengembangkan kebaikan (Abdul Munir Mulkhan, 2002:46) dengan sentuhan agama dan praktek nyata sangatlah tepat dan dibutuhkan. Karena saleh, cerdas, dan sukses hidup bagi manusia adalah persoalan yang bisa dipahami dan dievaluasi, bukan takdir sebagai suatu hak prerogative Allah (Ibid). Sesuai dengan peraturan Pemerintah yang menyebutkan fungsi Pendidikan agama adalah membentuk manusia Indonesia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta berakhlak mulia dan mampu menjaga kedamaian dan kerukunan hubungan inter dan antarumat beragama (Peraturan Pemerintah RI ,2007,bab.II: 2). Pendidikan agama bertujuan untuk berkembangnya kemampuan peserta didik dalam memahami, menghayati, dan mengamalkan nilai-nilai agama yang meyerasikan penguasaannya dalam ilmu pengetahuan dan seni (ibid). Berbagai lomba telah diikutinya, lomba mata pelajaran, pidato Bahasa Inggris, Sains, Sempoa, Vokal, Baca Puisi, Menggambar, Pilihan Dai kecil (Pildacil), kegiatan tersebut diikutinya mulai dari tingkat kecamatan, tingkat kota, wilayah Jawa Tengah dan tingkat Provinsi Jawa Tengah. Semua kegiatan tersebut memperoleh prestasi yang tidak mengecewakan, selalu mendapatkan juara.

E. Aplikasi Pendidikan Inklusif pada SD Hj. Isriati Semarang

beraneka

kondisi peserta didik yang ditemukan, mereka ada yang tergolong memiliki kecerdasan istimewa dan bakat istimewa (CIBI) dan sebagian mereka ada yang memiliki kecerdasan yang rata-rata dan sebagian ada yang berkebutuihan khusus. Bagi kelompok peserta didik yang berkebutuihan khusus, SD Isriyati menyelengarakan pendidikan inklusif. Pendidikan inklusif

Pada kenyataan dilapangan,

ditemukan bahwa ada

83

adalah pendidikan yang memberikan pelayanan kepada anak-anak biasa (regulars children) dan anak-anak berkebutuhan khusus 22 (special need children). dan mereka dilayani secara inklusif. Di kelas reguler, anak-anak reguler bersama Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) menggunakan kurikulum Berbasis Kompetensi yang dimodifikasi. Kurikulum yang dimodifikasi adalah kurikulum yang mengkombinasikan antara kurikulum yang diberlakukan dengan memperhatikan kondisi peserta didik. Kurikulum yang diberlakukan pada SD Hj. Isriati Baiturrahman menggunakan Kurikulum Nasional (Kurikulum Berbasis Kompetensi) dan Kurikulum Lokal, baik Kurikulum Departemen Pendidikan Nasional maupun Departemen Agama secara terintegrasi. Perbandingan antara Kurikulum Departemen Pendidikan Nasional dan Kurikulum Departemen Agama sekitar 80% : 20. Didalam perjalanan melayani masyarakat, SD Hj. Isriati ingin memberikan pelayanan terbaik kepada semua masyarakat tanpa pandang bulu sesuai amanat yang tertuang dalam Undang–Undang Sistem Pendidikan Nasional tahun 2003 “Bahwa Pendidikan adalah Hak bagi semua warga Negara Indonesia, termasuk anak berkebutuhan khusus”. Berawal dari niat memberikan pelayanan untuk semua, dan bersamaan dengan program Pemerintah yang mensosialisasikan dan mencanangkan Program Inklusif pada tahun 2003, dan dengan unsur ketidak sengajaan tersebut, SD Hj. Isriati menyelenggarakan pendidikan Inklusif, barangkali ada hikmah dibalik jiwa yang besar ada kebesaran Tuhan yang luar biasa, bahwa pada hakikatnya manusia itu sama di hadapan TuhanNya, mereka anak berkebutuhan

22 Anak yang dalam proses pertumbuhan/perkembangan secara signifikan (bermakna) mengalami kelainan/penyimpangan pada (phisik, mental-intelektual, social, emosional) dibandingkan dengan anak-anak lain seusianya, sehingga perlu memperoleh pelayanan Pendidikan Inklusif

84

khusus (ABK) memang tetap harus diberikan porsinya, harus diberikan haknya, harus diberikan tempat yang layak, harus dimanusiakan, harus dilayani, harus dikembangkan potensinya, karena hidup adalah menanam benih kebaikan yang buahnya akan dipetik oleh generasi-generasi sesudahnya.

Pembelajaran di Kelas Inklusif Secara umum pembelajaran dikelas inklusif sama dengan pembelajaran dikelas reguler, namun keberadaan peserta didik yang berkebutuhan khusus atau anak berkebutuhan khusus (ABK) yang ada pada SD Hj. Isriati Semarang, yang meliputi tuna grahita/lambat belajar (slow learner), tuna laras dan autis maka diberlakukan prisip-prinsip khusus sebagai berikut :

1. Penanganan bagi peserta didik yang memiliki kelainan tunagrahita (Slow Learner), yaitu peserta didik yang mengalami lamban dalam belajar, mereka memiliki potensi intelektual sedikit di bawah normal tetapi belum termasuk tunagrahita berat. Dalam beberapa hal mereka mengalami hambatan atau keterlambatan berpikir, merespon rangsangan dan adaptasi sosial, tetapi masih jauh lebih baik dibanding dengan yang tunagrahita berat, lebih lamban dibanding dengan yang normal, mereka butuh waktu yang lebih lama dan berulang-ulang untuk dapat menyelesaikan tugas-tugas akademiknya maupun non akademik, dan karenanya memerlukan pelayanan pendidikan khusus. Dalam melaksanakan pembelajaran, para pendidik menerapkan prinsip kasih sayang yang harus diberlakukan, peserta didik yang memiliki intelegensi lebih lemah dibanding peserta didik sebaya lainnya perlu diberikan perhatian khusus dengan cara sabar. Mereka belajar tidak dengan mudah, harus diberikan pembelajaran yang berulang-ulang, baru bisa maenangkap apa yang diampaikan oleh pendidik. Kasih sayang

85

adalah sifat fitrah manusia, untuk menerapkan kepada peserta didik merupakan kewajiban yang harus dilakukan. Dengan kasih sayang para peserta didik merasakan sentuhan yang bisa dirasakan dari dalam dirinya untuk kemudian sikap kasih sayang bisa berkembang dengan menerapkan pada diri sendiri, para pendidik dan tenaga kependidikan, kepada orang tua dan kepada teman sebayanya. Dengan harapan para peserta didik akan menjadi seorang yang penyayang, seorang penyayang bukan saja menyayangi dirinya sendiri, melainkan menyayangi dirinya dan orang lain (sabda Rasul) Prinsip keperagaan, setiap memberikan pembelajaran kepada peserta didik ini perlu didukung dengan alat peraga, disamping dengan kata-kata yang tidak terlalu cepat, karena mereka perlu dituntun dengan pelan dan menjelaskan dengan telaten. Dengan alat peraga memperjelas pelajaran yang diberikan kepada mereka. Peserta didik dengan kondisi lemah akal pikirnya dalam menerima pembelajaran, biasanya membutuhkan ketelatenan, mereka tidak seera merta mampu untuk menerima pembelajaran dengan instan, mereka peerlu pemberian yang bertahap dan teliti, mereka memang bisa digolongkan peserta didik yang lambat, sehingga segala sesuatunya tidak bisa cepat bahkan untuk memperjelas pembelajaran yang diberikan oleh para pendidik memerlukan alat peraga, alat peraga bisa beraneka macamnya Prinsip habilitasi dan rehabilitasi adalah usaha untuk mengembalikan peserta didik pada kondisi yang proporsional sesuai dengan keadaan kemampuannya. 2. Penanganan peserta didik tunalaras/anak yang mengalami gangguan emosi dan perilaku, dimana mereka mengalami kesulitan dalam penyesuaian diri dan bertingkah laku yang tidak sesuai dengan norma-norma yang berlaku dalam

86

lingkungan kelompok usia maupun masyarakat pada umumnya, sehingga merugikan dirinya maupun orang lain, dan karenanya memerlukan pelayanan pendidikan khusus demi kesejahteraan dirinya maupun lingkungannya. Beberapa prinsip yang diterapkan untuk ABK tunalaras seperti Prinsip kebutuhan dan keaktifan, prinsip kebebasan yang terarah, prinsip penggunaan waktu luang, prinsip kekeluargaan dan kepatuhan, prinsp setia kawan dan idola serta perlindungan, prinsip minat dan kemampuan, prinsip emosional, sosial dan perilaku, prinsip disiplin, prinsip kasih sayang

Prinsip-prinsp yang diterapkan untuk ABK tuna laras sebetulnya juga merupakan kebutuhan peserta didik pada umumnya, namun pada ABK tuna laras tampak sekali kehidupan yang sarat dengan emosional dan kecenderungaan berbuat menggannggu teman-teman sebayanya sehingga penerapan prnsip- prinsip tersebut bertujuan unuk mengarahkan kepada kenormalan supaya situasi pembelajaran tidak terganngu dengan hadirnya anak berkebutuhan khusus tuna laras dan peserta didik bisa melaksanakan pembelajaran dengan tenang dan tidak gaduh.

3. Penanganan bagi peserta didik authis sebetulnya menggunakan prinsip-prinsp yang hampir sama dengan prinsip yang diterapkan pada ABK tunalaras, ABK ini hampir memiliki kecenderungan yang mirip dengan ABK tunalaras hanya koncentrasi pada autis seakan tidak mampu untuk konsentrasi pada satu pelajaran, mereka lebih asyik dengan dunia sendiri, kalau ABK autis maunya yang ini, maka mereka tidak mau dibelokkan untuk memilih yang lainnnya, mereka asyik dengan dunia imajinasinya sendiri.

87

Prinsip-prinsip yang diterapkan adalah prinsip kebutuhan dan keaktipan, prinsip keperagaan, prinsip kebebasan yang terarah, prinsip penggunaan waktu luang, prinsip kekeluargaan dan kepatuhan, prinsip minat dan kemampuan prinsip setia kawan dan idola serta perlindungan, prinsip emosional, sosial dan perilaku, prinsip kasih sayang. Peniruan adalah suatu bagian yang penting dari proses membujuk anak-anak untuk berperilaku dengan baik kepada orang lain (John W. Santrock, 2002:49). Ketika seorang pendidik memperlakukan dengan baik kepada ABK yang memang membutuhkan perhatian yang hkusus dan sentuhan hati maka saat inilah untuk membentuk moralitas mereka dimana saat-saat perkembangan moral berada pada posisi meniru dan taat pada guru/pendidik.

Proses Pendidikan Inklusif pada SD Hj. Isriati Semarang

Ada beberapa model pembelajaran yang diterapkan pada SD Hj. Isriati terkait dengan pelayanan pada peserta didik dengan pelayanan pendidikan inklusi. Model-model pelayanan yang diberikan tersebut antara lain :

1. Pembelajaran dengan membangkitkan Motivasi dan Kepercayaan Peserta Didik. Dalam pelaksanaan pembelajaran ada beberapa kegiatan yang musti dilakukan, yaitu menyajikan bahan ajar/materi pembelajaran, mengimplementasikan metode pembelajaran, sumber dan alat pembelajaran, membangkitkan motivasi dan kepercayaan diri peserta didik, mengelola waktu, ruang, bahan dan perlengkapan pengajaran, melakukan evaluasi, melakukan analisa, dan melakukan tindak lanjut (follow up). Namun dari ketujuh kegiatan tersebut, bagaimana guru mampu untuk membangkitkan motivasi dan kepercayaan diri pada peserta didik, karena dengan kegiatan tersebut penanaman moral

88

dengan kebaikan-kebaikan akan menimbulkan kesan yang dalam bagi perkemabangan peserta didik pada masa-masa perkembangan berikutnya. Pendidik atau para guru pada SD Hj. Isriati Semarang melakukan berbagai hal, dengan memenuhi bahasa kasih sayang. Ada

lima hal yang diterapkannya :

a. Kata-kata pendukung, berupa kata-kata pujian dengan tulus, kata- kata pujian dsb;

b. Saat-saat berkesan, dengan menyampaikan cerita-cerita pengalaman yang pernah dialami oleh peserta didik dengan pengalaman-pengalaman yang positif yang menarik bagi peserta didik;

c. Menerima hadiah-hadiah, yaitu dengan memberikan hadiah- hadiah bagi peserta didik yang telah berhasil melakukan pekerjaan dengan baik atau telah membantu temannya dengan baik pula;

d. Pelayanan, seorang guru harus memberikan pelayanan yang

terkait dengan peningkatan, supaya peserta didik merasa ada perhatian dan penuh dengan kasih sayang;

e. Sentuhan fisik, hal tersebut perlu dilakukan supaya ada kedekatan antara peserta didik dengan pendidik, misalnya dengan menepuk- nepuk bahunya atau mengelus kepalanya. Kelima hal tersebut pentingnya dilakukan sebagai bentuk pendidikan yang bisa dibarengi dengan perbuatan yang perlu diberikan sebagai suatu contoh yang harus dlihat oleh peserta didik untuk selanjutnya akan ditiru dalam perbuatan nyatanya pada saat peserta didik bergaul dan bersosialisasi dengan lingkungan. Disamping menerapkan prinsip pelayanan pembelajaran tersebut diatas para pendidik dan tenaga kependidikan dilngkungan SD Hj. Isriatai menerapkan pemebelajaran- pembelajaran yang bersifat keagamaan, dengan adanya penerapan Kurikulum Islami, sebagai konsekwensi dan

89

komitmen sejak awal, bahwa SD Hj. Isriati merupakan sekolah yang menggunakan kombinasi kurikulum nasional dan kurkulum Departemen agama. Penerapan tersebut berupa penerapan perbuatan sebagai ketaatan kepada Tuhan seperti, perbuatan-perbuatan yang dibiasakan yaitu :

1. Awal pembelajaran diawali dengan berdoa bersama diaula yang dikemas sebagai apel bersama, yang diikuti oleh semua pesera didik dari kelas I sampai dengan kelas VI, do’a yang

dibaca adalah 1) membaca dua kalimah syahadat, suatu persaksian atau janji yang harus ditanamkan dalam diri setiap peserta didik sebagai suatu kebiasaan 2) membaca surat al-Fatikhah dan 3) do’a belajar. Ketiga bacaan tersebut dibaca oleh peserta didik yang telah dilatih serta didampingi oleh bapak guru pembimbing. Doa tersebut dibacakan dan diucapkan dalam tiga bahasa, bahasa Arab, bahasa Indonesia dan bahasa Inggris;

2. Mengaji, membaca Al-Quran, serta belajar seni baca al- Quran;

3. Mewajibkan peserta didik untuk menjalankan shalat wajib dhuhur dengan dimasukkan kedalam kurikulum;

4. Memperkenalkan hadis-hadis rasul yang pendek-pendek misalnya man jadda wa jadda (barang siapa bersungguh maka akan memperoleh hasil). Hadis pendek tersebut difigura sebagai hiasan dinding yang bisa dibaca setiap saat;

5. Memakai kerudung sebagai penutup aurot bagi wanita, dan memakai celana panjang bagi laki-laki, dll. mengaji, melakukan shalat berjamaah dlsb. Disamping pembiasaan tersebut diatas, diberikan

pelayanan yang intensif yang dilakukan oleh guru pembimbing khusus, berikut kegiatan Guru Pembimbing terhadap peserta

90

didik berkebutuhan khusus, yang disajikan dalam tabel untuk

memberi kemudahan kepada pembaca, peserta didik yang nama-

namanya disebutkan dengan jelas dibawah ini ditulis dengan

persetujuan kepala sekolah, guru pembimbing serta orang tua.

Dari hasil identifikasi terhadap peserta didik yang

mengalami hambatan dalam belajar dan perilaku yang tidak

semestinya sebagai peserta didik yang seharusnya patuh serta

taat dan berperilaku baik atau bermoral, ditemukan ada beberapa

peserta didik yang menonjol dan membutuhkan pelayanan yang

ekstra. Pelayanan kepada peserta didik yang mengalami kelainan

yang dilakukan oleh guru pembimbing, sebagai berikut :

Tabel 3.1.

Kegiatan Pelayanan yang diberikan oleh Guru Pembimbing terhadap para peserta didik berkebutuhan khusus

No

 

Hari/Tgl

Peserta

Kelas

Kegiatan

 

Didik

1.

8

Des’05

Nadia

I D

Selama satu semester belum adanya kemajuan yang berarti. Konsul dengan ortu (Ibu) tentang perilaku sehari- hari, pengasuhan dan komunikasi

 

Menerima kedatangan ortu

6

Mei’06

Nia dan menjelaskan duduk persoalannya

3

Agust’08

Mau mengerjakan soal dengan penekanan atau pengulangan perintah

24 Okt’07

Full out di BK dengan bimbingan guru BK

Pertemuan dengan ortu Nadia, membahas hasil pemeriksaan psikologis dan rekomendasi untuk berseko-

 

91

       

lah di sekolah khusus (SLB)

2.

13

Des’05

Alif

1

C

Setiap pagi menjelang masuk kekelas, pasti nangis dan mogok. Konsul dengan ortu (ayah) Alif saat usia 3-5 th sering step (sakit), punya sifat kecil hati (tak percaya diri), emosi tinggi

10

Juni’06

 

Menerima kedatangan ortu dijelaskan bahwa Alif agak sukar menerima pelajaran, karena kemampuan menulis dan membaca yang belum sempurna

3

Agust’7

Mau mengerjakan soal dengan penekanan/ pengulangan perintah.

24

Sept’07

Berkonsultasi dengan ortu, terkait dengan hasil psikotes

22

Sept’07

Full out di BK, sambil menunggu pendamping buat Alif

24

Okt’07

Alif ikut tes, ortu melaksanakan drill di rumah dan belajar dg terapi secara intensif

8

Des’07

Full out di ruang BK, dengan bimbingan guru BK

Alih tangan kasus untuk menetukan terapi alternatif bagi alif.

3.

16-31

M.

3

C

Pemberian pendampingan kepadanya, ABK dengan kelainan ADHD, sambil menunggu datangnya shadow

Juli’07

Naufal

 

Athala

4.

2

Agust’07

Fairus

2

C

Menunjukkan sikap mengganggu teman, rame,

92

       

cari perhatian

7

Agust’07

Pendekatan terhadap Fais tentang latar belakang keluarga dan peristiwa pemicu perilakunya, bisa disebabkan situasi keluarga

5.

15

Agus’07

Dita

5

C

Dita mempunyai emosi yang sulit untuk dikontrol, marah meledak tanpa pandang bulu, juga marah kepada wali kelas

6.

5

Okto’07

Hendra

4

C

Sering sekali marah (emosi mudah terpancing) sehingga teman suka jengkel

30

Okt’07

 

Marah-marah dengan Lutfi sampai merusak kacamata lutfi, karena mau meminjam kacamata tidak boleh sama lutfi

6 Nov’07

Hendra mulai dapat mengendalikan diri

7.

7 Nov’07

Henky

2

D

Orang tua sharing tentang perkembangan Henky, rencana akan diberikan shadow (pendamping)

14

Nov’07

 

Pendampingan oleh terapis untuk memaksimalkan potensi yang ada

Bahwa peserta didik berkebutuhan khusus, sangatlah

membutuhkan perhatian, kesabaran, ketabahan serta keintensifan

dalam memberikan pelayanan kepadanya, apa yang dilakukan oleh

pendidik akan merupakan contoh tauladan yang seharusnya

dilakukan kepada peserta didik seluruhnya, karena manusia pada

93

dasarnya memiliki rokh kesucian yang amat sangat dekat dengan keselarasan kebaikan dan manusia yang bermoral dan bermartabat. Dengan demikian pendidikan yang dilakukan dalam pendidikan inklusif membantu tumbuh kembangkan pendidikan yang memiliki rokh kehidupan manusia yang hakiki, yaitu manusia yang pada hatinya telah terdapat cahaya nur illahi yang memang harus dilatih terus menerus, supaya cahaya tersebut tidak padam.

F. Moralitias Peserta Didik pada SD HJ. Isriatai Semarang

Memperhatikan pembelajaran yang dilaksanakan SD HJ. Isriati dengan menerapkan pendidikan inklusi sangat relevan dengan penelitian yang dilakukan oleh Piaget tentang perkembangan pemikiran atau penalaran moral pada anak-anak usia 4 s/ 7 tahun, usia 7 s/d 10 dan pada usia diatas 10 tahun, mereka memiliki pemikiran tentang moral dengan ciri-ciri, bagi anak anak berusia 4- 10 tahun, selalu mempertimbanggkan akibat-akibat dari perilaku, aturan yang disepakatinya bersifat kaku, tidak boleh diubah, mereka juga menolak aturan-aturan yang baru diperkenalkan, mereka hanya tunduk pada aturan-aturan sosial yang telah dibuat, yakin akan adanya keadilan yang immanen (immanent justice), dan biasanya mereka merasa khawatir setelah melakukan pelanggaran. Aturan atau norma-norma yang diberlakukan di sekolah akan selalu dipatuhi oleh peserta didik tersebut. Bagi peserta didik atau anak- anak yang berusia diatas usia 10 tahun, mereka mempertimbangkan maksud-maksud dari pelaku, mereka juga menganggap bahwa aturan-aturan bersifat fleksibel, bisa dibuat kesepakatan dan bisa berubah, mereka lebih fleksibel, mau menerima perubahan, tidak bersifat kaku, mereka tunduk pada perubahan aturan dengan kesepakatan, mereka menganggap bahwa hukuman tidak serta merta diberlakukan begitu saja dan hukuman

94

hanya terjadi pada seseorang yang relevan menyaksikan kesalahan dan bahwa hukuman juga tidak terelakan. Usia peserta didik pada jenjang sekolah dasar (sekitar usia 7 s/d 15 tahun), sebagaimana peserta didik pada SD Hj.Isriati Semarang, pada usia tersebut peserta didik memiliki oriantasi penalaran moral pada tingkat kepatuhan terhadap aturan–aturan atau norma-norma yang berlaku, belum memiliki pola pikir sendiri, pendapat sendiri, mereka memiliki kecenderungan berpikir yang tidak neko-neko, masih murni, masih lugu, masih kaku, kalau aturannya berbunyi melarang mereka mereka akan mematuhinya sesuai dengan aturan tersebut, mereka belum banyak mendapat pengaruh dari luar dirinya. Lingkungan keluarga (orang tua, kakek neneknya, saudara- saudaranya dan juga anggota keluarga yang lainnya). Lingkungan sekolah dan sekaligus lingkungan teman sebayanya yang baru dikenalnya dan akan diketahuinya ketika mereka berbaur dan bersama-sama bersekolah selama proses pendidikan di Sekolah. Lingkungan sekolah yang baru dimasukinya memberikan konsekwensi pada dirinya untuk mematuhi aturan-aturan yang diterapkan dan memmiliki hukum wajib dengan ketentuan apabila peraturan-peraturan tersebut dilanggar mereka akan mendapatkan sangsi, teguran bahkan hukuman sehingga mereka berusaha untuk menjadi peserta didik yang baik dengan mentaati aturan-aturan yang diberlakukan di sekolah tersebut serta mematuhi perintah- perintah guru/para pendidik serta tenaga kependidikan yang ada di sekolah tersebut yang akhirnya membentuk peserta didik menjadi anak yang baik, peseta didik yang bermoral, moralitasnya baik. Keaneka ragaman teman sebaya, karena mereka berasal dari berbagai keadaan, berbagai kondisi dan berbagai latar belakang, hal itupun akan memberikan sesuatu yang baru kepada peserta didik, sesuatu pemikiran yang baru diketahuinya ketika mereka bersekolah

95

atau bersosialisasi dengan teman-temannya. Teman-teman yang dalam keberbedaan fisik dan emosional termasuk teman-temannya yang memiliki kebutuhan khusus (ABK), keberbedaan ini akan mempengaruhi pemikiran yang memberikan warna dalam pemikiran selanjutnya, atau ungkapan perasaannya atau emosinya. Emosi negatif dalam bentuk kejengkelan, ketidak sabaran atau yang lainnya itu akan timbul, misalnya ada temannya yang nakal, ada temannya yang kurang pandai dalam mata pelajaran, atau ada temannya yang terlalu aktip dalam geraknya atau acuh (autis). Dan juga emosi dalam bentuk positif misalnya merasa kasihan melihat temannya yang kurang beruntung, tidak mempunyai anggota tubuh yang lengkap tidak bisa melihat dengan baik (tuna daksa, tuna netra, tuna grahita). Keadaan ini tentu merupakan keadaan-keadaan yang diketahui dan dikenalnya ketika mereka bersekolah. Menurut Tomkins (lih.Morgan,dkk.,1984) mengemukakan bahwa emosi itu menimbulkan energi untuk motivasi. Disamping itu Tomkins juga mengemukakan pendapat bahwa adanya 9 macam innate emotions, berdasarkan atas tipe gerak dan ekspresi yang nampak pada seseorang. Tiga bersifat positif, yaitu 1) interest atau excitement, 2) enjoyment atau joy, 3) surprise atau startie. Yang enam bersifat negatif, yaitu: 1) distress atau anguish, 2) fear atau terror, 3) shame atau humilitation, 4) contemp, 5) disgust, 6) anger atau rage. Dengan demikian adanya suguhan-suguhan teman sebaya yang memiliki keberbedaan dengan dirinya akan merangsang emosinya untuk bertindak atau bersikap. Dan sikap atau tindakan tersebut bisa berbentuk negatif atau positif. Kecenderungannya untuk bersikap positif mempunyai harapan yang membahagiakan kepada semua lingkungan yang dekat dengan peserta didik, mereka akan merasa bahagya dan puas ketika menyaksikan peserta didik terus bissa melakukan perbuatan baik karena dorongan kondisi yang memang telah disiapkan oleh

96

lingkungan sekolah. Sekolah yang menerapkan kurikulum islami akan lebih membentuk kebiasaan-kebiasasan baik ini akan tumbuh tanpa dengan disadarinya yatu dengan intuitif. Dimana kebenaran intuitif tumbuh dengan sendirinya tanpa ada dorongan baik dari dirinya sendiri maupun dari luar dirinya. Bahkan kadang-kadang tidak diketahuinya mengapa peserta didik berbuat baik dengan tiba- tiba.

Selanjutnya dengan kebiasaan yang baik yang telah ditanamkan oleh sekolah yang menerapkan kurikulum islami disamping kurikulum nasional, peserta didik akan memiliki akhlak yang baik pula, karena pada dasarnya akhlak yang baik itu harus dibentuk dikondisikan, diberi stimulus, adanya figur yang tetap konsisten bisa dijadikan pegangan oleh peserta didik, bisa dijadikan refernsi oleh mereka menjadi manusia yang baik, bahagia dan memiliki kepuasan diri, yang dientik dengan manusia yang berakhlakul karimah (Imam Ghazali) Secara umum, ketika masuk dalam lingkungan SD Hj. Isriati Semarang, yang lokasinya persis berdampingan dengan masjid Baiturrakhman Semarang yang sangat megah tersebut, bertemu dengan banyak peserta didik yang lalu lalang dengan ceria seakan menggambarkan kebahagian yang tercermin dari dalam hati, tingkah laku yang nampak mencerminkan kehidupan rokhani yang sehat. Implementasi moralitas peserta didik didiskripsikan pada uraian berikut.

Dalam kontek ini, maka moralitas yang diharapkan sesuai dengan kondisi peserta didik yang ada di Jawa Tengah, karena SD HJ Isriati, berlokasi di Semarang Jawa Tengah, yaitu moralitas yang bertumpu pada prinsip rukun dan prinsip hormat. Peserta didik dalam berpikir, bertindak dan merasakan selalu dalam keselarasan dan keharmonisan dengan lingkungan sosialnya. Lingkungan sosial pertama-tama yang ditemukan oleh peserta didik adalah lingkungan

97

keluarga, moralitas pertama yang akan dilihat bagaimana peserta didik berusaha untuk menyelaraskan hubungan dan menjaga keharmonisan antara dirinya dengan kedua orang tuanya. Lingkungan sosial kedua, ketika peserta didik dalam perkembangan hidup mulai memasuki dunia sekolah, maka peserta didik bertemu dan bersosialisasi dengan guru yang merupakan peletak kebaikan dan merupakan model yang ditemukan peserta didik, sehingga perkembangan moral berikutnya adalah moralitas peserta didik terhadap guru. Kemudian di sekolah disamping bertemu dan bersosialisasi dengan guru-gurunya, mereka juga bersosialisasi dengan teman-teman sebayanya. Untuk mengetahui sikap moralnya, dibawah ini diuraikan beberapa pertanyaan untuk mengungkap sikap hormat maupun sikap rukun baik terhadap orang tua, guru maupun teman sebayanya.

1. Moralitas Peserta Didik terhadap Orang Tua

Penalaran atau pemikiran, tindakan dan perasaan moral yang dipilih dalam kecenderungannya yang berlandaskan dengan sikap hormat adalah dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan, antara lain : 1) Jika saya akan bepergian atau pergi ke sekolah, saya memberi salam dan mohon ijin kepada orang tua, 2). Jika orang tua sedang berbicara, saya tidak menyela pembicaraannya, 3) Kalau saya berbicara dengan orang tua dengan lembut, tidak kasar dan tidak sembrono, 4) Kalau disuruh orang tua, saya mengerjakan dengan ringan dan tidak terpaksa, 5) Saya ingin menghormatinya, saya merasa rikuh pekewuh, malu, apabila saya melanggar nasehat- nasehat dan perintah-perintahnya, dan 6) Dimanapun saya berada, saya ingat dan berusaha untuk menjaga nama baiknya, (dengan berbuat baik, tidak melanggar aturan, tidak nakal, dan lain sebagainya)

98

Penalaran atau pemikiran, tindakan dan perasaan moral yang dipilih dalam kecenderungannya yang berlandaskan dengan sikap rukun adalah dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan, antara lain : 1) Jika sedang ada persoalan dirumah, di sekolah dengan guru maupun dengan teman, saya berusaha untuk bermusyawarah, mengutarakan kepada orang tua, 2) Jika terjadi perselisihan, saya memilih untuk mengalah, karena mengalah itu perbuatan mulia dan disayangi Tuhan, 3) Jika bepergian, saya menggandeng dan mengiringi orang tua, 4) Kalau akan bepergian dan bertemu orang tua, saya mencium tangannya, 5) Saya merasa kesepian atau sedih apabila ditinggal pergi orang tua lebih dari tiga hari, dan 6) Apabila dinasehati, diperintah orang tua, saya menurut, dan melaksanakan perintahnya

2. Moralitas Peserta Didik terhadap Guru

Dalam sikap Hormat, beberapa pertanyaan antara lain :

1) Jika sedang diajar oleh bapak/ibu guru, saya mendengarkan dengan penuh perhatian, 2) Jika ada pelajaran yang kurang atau tidak jelas, saya akan bertanya dan akan memohon untuk diterangkan kembali pada bagian yang belum saya ketahui, 3) Saya segera menghadap dan melaksanakan perintah bapak/ibu guru apabila dipanggil atau diperintah, 4) Saya menundukan kepala, membungkukkan badan, dan memberi salam ketika bertemu bapak/ibu guru dimana saja, 5) Saya akan mematuhi aturan-aturan yang dibuat dan diberlakukan di sekolah, walaupun kadang-kadang berat dengan aturan tersebut, dan 6) Saya merasa bersalah apabila melanggar aturan-aturan sekolah tersebut Dalam sikap Rukun, diajukan untuk menjawab beberapa pertanyaan, antara lain : 1) Saya berusaha menjaga kewajiban sebagai peserta didik yang baik mematuhi ucapan-ucapan bapak/ibu guru, 2) Saya melihat kebaikan-kebaikan dan

99

tauladan-tauladan yang diajarkan dan dicontohkan oleh bapak- ibu guru, 3) Saya peduli dengan jerih payah, perbuatan baik dan mulia bapak/ibu guru dengan memberikan ilmu dan mengajar saya, 4) Saya bertindak segera apabila bapak/ibu guru menyuruh saya melakukan suatu pekerjaan, 5) Saya merasa bapak/ibu guru seperti malaikat dalam memberikan ilmu pada semua peserta didik, karena tidak mengharapkan balasan, dan 6) Saya merasa kehilangan apabila ada bapak/ibu guru yang sedang menderita sakit, dan saya mendo’akannya biar cepat sembuh dan sabar menerimaa cobaan hidup.

3. Moralitas peserta Didik terhadap Teman Sebaya

Sikap Hormat terhadap teman sebaya akan diungkap dengan mengajukan beberapa pertanyaan antara lain, 1) Kalau saya bermusyawarah dan berdiskusi dengan teman, saya berusaha tidak menyinggung perasaannya, 2) Saya tidak membicarakan kejelekan-kejelekan teman kepada teman yang lainnya, 3) Saya segera akan menolong dan bekerja sama dengan teman apabila teman saya membutuhkan pertolongan, 4) Saya akan segera menjenguk teman yang sakit di Rumah sakit apabila sudah tiga hari tidak masuk sekolah, 5) Saya berdosa apabila saya mengejek teman yang miskin, kurang pandai, teman yang nakal, karena saya tidak ingin menjadi seperti dia, dan 6) Saya merasa perasaan teman sama dengan saya, sehingga kalau ada teman yang sedang kesusahan, saya bersimpati kepadanya Sikap Rukun terhadap teman sebaya akan menjawab beberapa pertanyaan sebagai berikut, antara lain : 1) Saya bermain dan berteman dengan siapa saja, tidak memandang apakah teman itu pandai atau tidak pandai, normal atau cacat, kaya atau miskin, anaknya orang biasa atau anaknya pejabat, dlsb, 2) Saya mengajak belajar, bermain bersama, membentuk

100

kelompok belajar, supaya teman-teman yang lainnya bersedia bergabung, 3) Saya menjalin hubungan dengan teman, dengan cara menelpon, pergi atau bersilaturrokhim kerumahnya, 4) Saya membantu teman-teman, dengan berbuat semampu saya, memberi berupa materi maupun bukan materi, 5) Saya mengagumi teman yang baik hati, suka menolong teman lainnya, suka membantu dan tidak suka berkelahi, menmbulkan masalah, serta 6) Saya sedih apabila melihat teman-teman berkelahi, tidak akur dengan teman lain dan berbuat tidak sopan. Dari beberapa pertanyaan tersebut, dikategorikan dalam 4 kategori, kategori pertama, apabila peserta didik menjawab dengan memilih jawaban selalu, maka moralitas peserta didik bisa dinilai dengan sangat baik, kategori kedua, apabila peserta didik menjawab dengan memilih jawaban sering kali, maka moralitas peserta didik bisa dinilai dengan baik, kategori ketiga apabila peserta didik menjawab dengan memilih jawabaan kadang-kadang, maka moralitas peserta didik bisa dinilai dengan cukup, dan kategori keempat, apabila peserta didik menjawab dengan memilih jawaban tidak pernah, maka moralitas peserta didik dinilai tidak baik.

101

BAB IV DESKRIPSI DAN ANALISIS DATA

A. Deskripsi Data Penelitian

Data yang telah terkumpul dianalisis secara kuantitatif menggunakan metode statistik. Variabel peserta didik terlebih dulu dipaparkan dengan statistik deskriptif yaitu statistik yang berfungsi untuk mendeskripsikan atau memberi gambaran terhadap objek yang diteliti melalui data responden sebagaimana adanya, tanpa melakukan analisis dan membuat kesimpulan yang berlaku untuk umum (Sugiyono, 2002: 21). Statistik deskriptif juga memberikan gambaran atau deskripsi suatu data yang dilihat dari nilai rata-rata (mean), standart deviasi, varian, maksimum, minimum (Ghozali, 2001: 19). Adapun deskripsi data yang dilakukan terhadap subyek penelitian menghasilkan data di bawah ini.

1. Pengelompokan Subyek Berdasarkan Kelompok Peserta Didik

Seluruh subyek yang menjadi sampel penelitian berjumlah 40 (empat puluh) peserta didik. Mereka adalah peserta didik yang memiliki ciri dengan jenis berkebutuhan khusus berjumlah 7 (tujuh) peserta didik, subyek kedua adalah peserta didik non berkebutuhan khusus atau normal 1, yaitu peserta didik yang tempat duduknya berdekatan dengan peserta didik berkebutuhan khusus, berjumlah 19 (sembilan belas) peserta didik, dan peserta didik non berkebutuhan khusus atau normal 2, yang tempat duduknya berjauhan dengan peserta didik berkebutuhan khusus, mereka berjumlah 14 (empat belas) peserta didik, data tersebut bisa dilihat dalam tabel di bawah ini.

102

Tabel 4.1.

Deskripsi Subyek Berdasarkan Kelompok Peserta Didik

No

Kelompok Peserta Didik

Total

1.

Berkebutuhan khusus

7

2

Normal 1

19

3

Normal 2

14

 

Jumlah

40

Pengelompokan tersebut untuk mengetahui moralitas peserta didik berkebutuhan khusus, moralitas peserta didik normal 1, dan untuk mengetahui peserta didik normal 2. Dengan demikian akan diketahui perbedaan moralitas peserta didik berkebutuhan khusus dengan moralitas peserta didik normal 1 serta peserta didik normal 2.

1.1.Moralitas Peserta Didik Dari hasil penelitian ini didapatkan bahwa Moralitas peserta didik berkebutuhan khusus mimiliki skor yang bergerak antara 63 sampai dengan 143, peserta didik normal 1 memiliki skor yang bergerak antara 88 sampai dengan 140 serta peserta didik normal 2 memiiki skor yang bergerak antara 71 sampai dengan 144. Data selengkapnya dapat dilihat dari tabel di bawah ini.

103

Tabel 4.2.

Skor Subyek Pada Nilai Rerata, Minimal dan Maksimal

No

Peserta Didik

Responden

Rerata

Skor

Skor

(N)

Minimal

Maksimal

1.

ABK

7

113

63

143

2.

Normal 1

19

112

88

140

3.

Normal 2

14

118

71

144

Sementara itu nilai rerata masing-masing subyek adalah peserta

didik berkebutuhan khusus (ABK) sebesar 113, rerata peserta didik

normal 1 sebesar 112 dan rerata peserta didik normal 2 sebesar 118.

1.1.1. Peserta Didik Berkebutuhan Khusus (ABK)

Dari hasil penelitian ini didapatkan bahwa Moralitas peserta

didik berkebutuhan khusus memiliki skor yang bergerak antara 63

sampai dengan 143 dengan rerataan sebagaimana ditampakkan dalam

tabel di bawah ini.

Tabel 4.3.

Skor Subyek Pada Nilai Rerata, Minimal dan Maksimal

No

Variabel

Responden

Rerata

Skor

Skor

(N)

Minimal

Maksimal

1.

Moralitas

5

39

114

143

Baik sekali

2.

Moralitas

1

38

85

113

Baik

3.

Moralitas

1

36

56

84

Sedang

104

Sementara itu pengelompokan Peserta Didik berdasarkan

Kategori Moralitas Peserta Didik Berkebutuhan Khusus didasarkan

dalam tiga kategori moralitas peserta didik yaitu sangat baik, baik, dan

sedang. Perhitungan ini didasarkan pada perhitungan skor rata-rata

yang harus diperoleh subyek dengan membandingkan rerata teoritik

dan standart deviasi teoritik dari skala yang dimaksud (Azwar, 1993).

Rerata teoritik yang digunakan dalam penelitian ini adalah 113

dan deviasi standarnya adalah 29. Dengan demikian dapat diketahui

bahwa subyek penelitian berada pada tingkat moralitas baik sekali (71,

42 %), baik (14,29 %) dan sedang (14, 29 %) yang secara lengkap

dapat dilihat dalam tabel di bawah ini.

Tabel 4.4.

Kategori Moralitas Peserta Didik Berkebutuhan khusus Berdasarkan Rerataan Teoritik dan Standar Deviasi

 

Kategori

Rentang

Jumlah

Persentase

No

Skor

 

Moralitas

Baik

114- 143

 

5 71, 42 %

1.

sekali

2.

Moralitas Baik

85- 113

 

1 14, 29 %

3.

Moralitas Sedang

56- 84

 

1 14, 29 %

1.1.2. Peserta Didik Normal 1

Pengelompokan Subyek Berdasarkan Peserta Didik Normal 1

yang tempat duduknya berdekatan dengan peserta didik berkebutuhan

Khusus. Gambaran Moralitas peserta didik dikategorikan dalam empat

jawaban yang ada, dalam item pertanyaan merupakan data kualitatif

untuk kemudian ditranformasikan ke dalam bentuk kuantitatif dengan

pernyataan moralitas baik sekali yang diberi skor 4, baik diberi skor 3,

sedang diberi skor 2 dan kurang baik diberi skor 1.

105

Dari hasil penelitian ini didapatkan hasil bahwa Moralitas

peserta didik normal 1 mimiliki skor yang bergerak antara 88 sampai

dengan 140. Perhitungan ini didasarkan pada perhitungan skor rata-

rata yang harus diperoleh subyek dengan membandingkan rerata

teoritik dan deviasi standar teoritik dari skala yang dimaksud (Azwar,

1993). Rerataan teoritik yang digunakan dalam penelitian ini adalah

112 dan deviasi standarnya adalah 14. Dengan demikian dapat

diketahui bahwa subyek penelitian berada pada tingkat moralitas baik

sekali (10,52 %), baik (42, 11 %), sedang (26,32 %) serta kurang baik

(21,05) yang secara lengkap dapat dilihat dari tabel di bawah ini.

Tabel 4.5.

Kategori Moralitas Peserta Didik Berdasarkan Rerataan Teoritik dan Standar Deviasi

No

 

Rentang

Jumlah

Persentase

Kategori

Skor

1.

Moralitas

Baik

128

- 140

2

10, 52 %

sekali

 

2.

Moralitas Baik

113

- 127

8

42, 11 %

3.

Moralitas Sedang

98 - 112

5

26, 32

%

4.

Moralitas Kurang Bak

83

- 97

4

21, 05 %

1.1.3. Peserta Didik Normal 2

Dari hasil penelitian ini didapatkan bahwa Moralitas peserta

didik normal 2 memiliki skor yang bergerak antara 88 sampai dengan

140. Pengelompokan subyek dilakukan dalam empat kategori

moralitas peserta didik, yaitu baik sekali, baik, sedang dan tidak baik.

Perhitungan ini didasarkan pada perhitungan skor rata-rata

yang harus diperoleh subyek dengan membandingkan rerata teoritik

dan deviasi standar teoritik dari skala yang dimaksud (Azwar, 1993).

106

Rerataan teoritik yang digunakan dalam penelitian ini adalah

144 dan deviasi standarnya adalah 19. Dengan demikian dapat

diketahui bahwa subyek penelitian berada pada tingkat moralitas baik

sekali (7, 14 %), baik (57,14 % ) sedang (14, 29 %) dan kurang baik

(21, 43 %) yang secara lengkap dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Tabel 4.6.

Kategori Moralitas Peserta Didik Berdasarkan Rerataan Teoritik dan Standar Deviasi

   

Rentang

   

No

Kategori

Skor

Jumlah

Persentase

1.

Moralitas

Baik

139

- 158

1

7, 14 %

sekali

 

2.

Moralitas Baik

119

- 138

8

57, 14 %

3.

Moralitas Sedang

99 - 118

2

14, 29

%

4.

Moralitas

Kurang

79 - 98

3

21, 43 %

Bak

Dari hasil data deskripsi penelitian dapat disimpulkan bahwa

hasil perolehan tingkat moralitas peserta didik berkebutuhan khusus

bergerak dari rerataan skor 114 sampai dengan 143 dengan prosentase

71, 40 % memperoleh tingkat moralitas Baik sekali, peserta didik

normal 1 bergerak dari rerataan skor 113 sampai dengan 127 dengan

prosentase 42, 11 % memperoleh tingkat moralitas Baik, dan untuk

peserta didik normal 2 bergerak dari rerataan skor 119 sampai dengan

138 dengan prosentase 57, 14 % memperoleh tingkat moralitas Baik,

yang secara lengkap dapat dilihat pada tabel dibawah ini :

107

Tabel 4.7.

Rekapitulasi Hasil Penelitian Kategori Moralitas Peserta Didik Berkebutuhan Khusus, Normal 1 dan Normal 2.

   

Rerata

     

No

Kategori

Skor

Jumlah

Persentase

Keterangan

1.

ABK

113

5

71, 42 %

Baik sekali

2.

Normal 1

112

11

52, 63 %

Baik

3.

Normal 2

118

9

64, 28 %

Baik

Dari hasil di atas dapat disimpulkan bahwa moralitas ABK

memiliki kriteria baik sekali pada posentase 71, 43%, moralitas

peserta didik normal 1 memiliki kriteria baik pada prosentase 57, 90

% dan moraltas peserta didik normal 2 memiliki kriteria baik pada

prosentase 64, 23 %.

Apabila dicermati lebih mendalam, didapatkan pemahaman

bahwa hasil penelitian ini memiliki relefansi yang sangat positif antara

pengembangan strategi pembelajaran dengan moralitas peserta didik.

Semakin tinggi moralitas peserta didik, maka dapat dipastikan bahwa

strategi pembelajarannya juga semakin baik. Hal ini sangat sesuai

dengan penyataan yang diungkapkan oleh Budiningsih (2004) yang

menyatakan bahwa guru dan perancang pembelajaran dalam

mengembangkan strategi pembelajaran moral dengan lebih banyak

memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengambil peran

moral, baik di dalam lingkungan keluarga, lingkungan sekolah,

lingkungan teman sebaya dan lingkungan masyarakarat yang lebih

luas. Kesempatan untuk mengambil peran sosial nampaknya

meberikan kontribusi yang signifikan dalam perkembangan moral

(Budiningsih, 2004: 84).

108

Hasil Penelitian

1. Peserta Didik Berkebutuhan Khusus

1.1 Moralitas Peserta Didik terhadap Orang Tua

Berdasarkan hasil data penelitian terhadap peserta didik

berkebutuhan khusus, menunjukkan moralitas yang sangat baik. Untuk

melihat lebih detail bahwa moralitas sangat baik tersebut ditunjukkan

dalam hubungannya dengan orang tua.

Pengelompokan subyek didasarkan dalam empat kategori

moralitas peserta didik yaitu sangat baik, baik, sedang dan kurang

baik. Perhitungan ini didasarkan pada perhitungan skor rata-rata yang

harus diperoleh subyek dengan membandingkan rerata teoritik dan

standart deviasi teoritik dari skala yang dimaksud (Azwar, 1993).

Rerata teoritik yang digunakan dalam penelitian ini adalah 39

dan deviasi standarnya adalah 8. Dengan demikian dapat diketahui

bahwa subyek penelitian berada pada tingkat moralitas baik sekali (57,

14 %), baik (28,57 %) dan sedang (14, 29 %) yang secara lengkap

dapat dilihat dalam tabel di bawah ini.

Tabel 4.8.

Kategori Moralitas Peserta Didik Berdasarkan Rerataan Teoritik dan Standar Deviasi

 

Kategori

Rentang

Jumlah

Persentase

Keterangan

No

Skor

1.

Moralitas Baik

40

- 49

4

57, 14 %

 

sekali

 

2.

Moralitas Baik

31

- 39

2

28, 57 %

Sangat

 

Baik

3.

Moralitas

22

- 30

1

14, 29

%

Sedang

   

Dari data di atas dapat disimpulkan bahwa peserta didik

berkebutuhan khusus (ABK) terhadap orang tua memiliki moralitas

109

yang sangat baik, hal ini didasarkan dari pencapaian nilai prosentase

yang lebih dari prosentase rata-rata yang dihasilkan yaitu sebesar 57,

14 %.

1.2. Moralitas Peserta Didik terhadap Guru

Berdasarkan hasil data penelitian terhadap peserta didik

berkebutuhan khusus, menunjukkan moralitas yang sangat baik. Untuk

melihat lebih detail bahwa moralitas sangat baik tersebut ditunjukkan

dalam hubungannya terhadap guru.

Pengelompokan subyek didasarkan dalam empat kategori

moralitas peserta didik yaitu sangat baik, baik, sedang dan kurang

baik. Perhitungan ini didasarkan pada perhitungan skor rata-rata yang

harus diperoleh subyek dengan membandingkan rerata teoritik dan

standart deviasi teoritik dari skala yang dimaksud (Azwar, 1993).

Rerata teoritik yang digunakan dalam penelitian ini adalah 39

dan deviasi standarnya adalah 8. Dengan demikian dapat diketahui

bahwa subyek penelitian berada pada tingkat moralitas baik sekali (57,

14 %), baik (28, 57 %) dan sedang (14, 29 %) yang secara lengkap

dapat dilihat dalam tabel di bawah ini.

Tabel 4.9.

Kategori Moralitas Peserta Didik Berdasarkan Rerataan Teoritik dan Standar Deviasi

 

Kategori

Rentang

Jumlah

Persentase

Keterangan

No

Skor

 

Moralitas

       

1.

Baik

39

- 49

4

57, 14 %

sekali

 

2.

Moralitas

28

- 38

2

28, 57 %

Sangat

Baik

 

Baik

3.

Moralitas

17

- 27

1

14, 29

%

Sedang

   

110

Dari data di atas dapat disimpulkan bahwa moralitas peserta didik berkebutuhan khusus (ABK) terhadap Guru memiliki moralitas yang sangat baik, hal ini didasarkan dari pencapaian nilai prosentase

yang lebih dari prosentase rata-rata yang dihasilkan yaitu sebesar 57,

14 %.

1.3. Moralitas Peserta Didik terhadap Teman Sebaya

Berdasarkan hasil data penelitian moralitas terhadap peserta didik berkebutuhan khusus terhadap teman sebaya, menunjukkan moralitas yang sangat baik. Untuk melihat lebih detail bahwa moralitas sangat baik tersebut ditunjukkan dalam hubungannya terhadap teman sebaya. Pengelompokan subyek didasarkan dalam empat kategori moralitas peserta didik yaitu sangat baik, baik, sedang dan kurang baik. Perhitungan ini didasarkan pada perhitungan skor rata-rata yang harus diperoleh subyek dengan membandingkan rerata teoritik dan standart deviasi teoritik dari skala yang dimaksud (Azwar, 1993).

Rerata teoritik yang digunakan dalam penelitian ini adalah 38 dan deviasi standarnya adalah 10. Dengan demikian dapat diketahui bahwa subyek penelitian berada pada tingkat moralitas baik sekali (57,

14 %), baik (28, 57 %) dan sedang (14, 29 %) yang secara lengkap

dapat dilihat dalam tabel di bawah ini.

111

Tabel 4.10.

Kategori Moralitas Peserta Didik Berdasarkan Rerataan Teoritik dan Standar Deviasi

 

Kategori

Rentang

Jumlah

Persentase

Keterangan

No

Skor

 

Moralitas

       

1.

Baik

37

- 47

4

57, 14 %

sekali

 

2.

Moralitas

25

- 36

2

28, 57 %

Sangat

Baik

 

Baik

3.

Moralitas

13

- 24

1

14, 29

%

Sedang

   

Dari data di atas dapat disimpulkan bahwa peserta didik

berkebutuhan khusus (ABK) terhadap teman sebaya memiliki

moralitas yang sangat baik, hal ini didasarkan dari pencapaian nilai

prosentase yang lebih dari prosentase rata-rata yang dihasilkan yaitu

sebesar 57, 14 %.

2. Peserta Didik Normal 1