Anda di halaman 1dari 21

BAB I

TEORI

Terminologi Sistem Pemerintahan bersinonim dengan Tipe Rezim dan Bentuk Pemerintahan. Perlu
diingat bahwa istilah ini secara langsung berkorelasi dengan bagaimana pemerintahan tersebut
dijalankan, tipe pemerintahan hingga masalah perbedaan bentuk pemerintahan itu dengan konsep
negara. Di bawah ini tidak semua tokoh mendefinisikan apa itu “Sistem Pemerintahan” karena frase
tersebut identik dengan Pemerintahan itu sendiri. 1

No. Tokoh Teori Sumber


1 “Bentuk-bentuk Adolf Grabowsky Grabowsky, Adolf. 1948. Die
pemerintahan melukiskan Politik, Ihre Elemente und Ihre
bekerjanya organ-organ Probleme, Zurich: Pan Verlag.
tertinggi itu sejauh organ- (hal. 178-179)
organ itu mengikuti
ketentuan-ketentuan yang
tetap.”
2 “Hanya ada 2 kemungkinan R.M. Mac Iver Iver, R.M. Mac. 1960. The Web
pembagian bentuk-bentuk of Government, New York:
pemerintahan, yaitu bentuk- Macmillian. (hal. 147)
bentuk Pemerintahan
Oligarkhi dan Demokrasi.”
3 “Ada 2 klasifikasi tradisionil F. Isjwara Isjwara, F. 1966. Pengantar Ilmu
dari bentuk-bentuk Politik, Bandung: Putra A.
pemerintah. Pertama dan Bardin. (hal. 192)
tertua adalah klasifikasi tri-
bagian (tri-partite
classification) dan dwi-
bagian (bi-partite
classification).”
4 “The things which J.W. Garner Garner, J.W. 1928. Political
differentiate one state Science and Government, New
another are not differences York: American Book Company.
of constituent ellements, but (hal. 240)
rather external phenomena
or characteristics. The most
important of this letter are
the forms and character of
their governmental
organizations.” (Hal-hal yang
membedakan satu negara
tidak lain adalah perbedaan
unsur konstituen, tetapi
lebih condong ke fenomena
atau karakteristik eksternal.
Yang paling penting dari
pernyataan tersebut adalah
bentuk dan karakter
organisasi pemerintahan
1
Syafiie, Inu Kencana, Azhari. 2005. Sistem Politik Indonesia, Bandung: Refika aditama.

1
mereka)
5 “Sistem pemerintahan terdiri C.S.T. Kansil C.S.T. Kansil. 1987. Hukum
dari dua suku kata, yaitu Antar Tata Pemerintahan
"sistem" dan (Comparative Government).
"pemerintahan". Kata Jakarta: Erlangga.
"sistem" berarti menunjuk
pada hubungan antara
pelbagai lembaga negara
sedemikian rupa sehingga
merupakan suatu kesatuan
yang bulat dalam
menjalankan mekanisme
kenegaraan.”
6 “Bentuk negara berbeda Inu Kencana Syafiie Syafiie, Inu Kencana, Andi
dengan bentuk Azikin. 2008. Perbandingan
pemerintahan. pemerintahan, Bandung: Refika
Pemerintahan terdiri dari Aditama.
parlementer, presidensial,
campuran dan komunis.
Sedangkan bentuk negara
ialah kerajaan dan republik.”
7 “Government is most David Apter Syafiie, Inu Kencana, Andi
generalized membership unit Azikin. 2008. Perbandingan
processing (a) defined pemerintahan, Bandung: Refika
responsibilities for Aditama.
maintenance of the system
of which it is a part and (b) a
practical monopoly of
coercive power.”
8 “Pemerintahan adalah Thorsen V. Kalijarvi Isjwara, F. 1966. Pengantar Ilmu
pelaksanaan kekuasaan Politik, Bandung: Putra A.
(government is the exercise Bardin. (hal. 200)
of power).”
9 “Bentuk-bentuk Sir John A.R. Marriot Sir John A.R. Marriot. 1927. The
pemerintahan dari negara- Mechanism of the Modern
negara modern dapat State, Oxford. (hal. 19)
digolongkan berdasarkan
konstitusi negara itu.”
10 “Penggolongan bentuk- Cicero Vonk, P.G. 1954. Aristocratie,
bentuk pemerintah dari Democratie, Een Inleiding der
negara-negara atas prinsip- Staten naar de Staatsvormen,
prinsip yang dinamakan Diss Utrecht. (hal. 21)
concilium.”
11 “Kriterium yang Thomas Hobbes Hobbes, Thomas, Leviathan.
membedakan satu (bab XIX, hal. 96-97)
pemerintah dari
pemerintahan lainnya adalah
perbedaan dalam letak
kedaulatan.”
12 “The majority, having......... John locke Locke, John, Two Treaties of
the whole power in making Civil government. (bab x, hal.

2
laws by officers of their own 182-183)
appointing, and then the
form of government is a
perfect democracy; or else
may put the power of
making laws into the hands
of a few select men, and
heirs successors, and then it
is an oligarchy; or else into
the hands of one men and
the it is monarchy.”
13 “Penggolongan bentuk Prof. R. Kranenburg Kranenburg, R, Inleiding in de
pemerintahan dilakukan Vergelijkende
dengan klasifikasi tri-bagian. Staatsrechtswetenschap. (hal. 8-
Dasar ini juga disertai 13)
dengan penggolongan atas
dasar pemisahan
kekuasaan.”
14 “Bentuk-bentuk Wallace. S. Sayre Sayre, Wallace S. 1960.
pemerintahan lazim American Government, New
diklasifikasikan berdasarkan York: Barnes & Noble. (hal. 7-9)
kriteria: pelaksanaan formil
dari kekuasaan, pemencaran
kekuasaan, konstitusi dan
organisasi-organbisasi badan
eksekutif.”
15 “Penggolongan negara- A. Apparodai Apparodai, A, The Substance of
negara atas bentuk Politics. (bab X dan bab XXIII)
pemerintahan dan atas dasar
tujuan serat hakekat (nature)
negara-negara itu sendiri.”

BAB 2

3
PENJELASAN TEMA

 “Bentuk-bentuk pemerintahan melukiskan bekerjanya organ-organ tertinggi itu


sejauh organ-organ itu mengikuti ketentuan-ketentuan yang tetap.” Adolf
Grabowsky

Jika bentuk-bentuk pemerintahan dibedakan dari bentuk-bentuk negara, maka hal itu dilakukan
sebagai berikut: bentuk-bentuk negara “melukiskan dasar-dasar Negara, susunan dan tertib suatu
negara berhubung dengan organ tertinggi dalam negara itu dan kedudukan masing-masing organ itu
dalam negara”. Begitu pula dengan bentuk pemerintahan yang diurai oleg Grabowsky diatas.
Grabowsky mengambil analogi penjelasan diatas dengan perumpamaan: bentuk negara Inggris ialah
kerajaan parlementer dan bentuk pemerintahannya ialah sistem kabinet. 2

 “Hanya ada 2 kemungkinan pembagian bentuk-bentuk pemerintahan, yaitu bentuk-


bentuk Pemerintahan Oligarkhi dan Demokrasi.” R.M. Mac Iver

Mac Iver menyatakan, bahwa jumlah orang yang banyak atau seluruh rakyat dalam kenyataannya
tidak memerintah; pemerintahan senantiasa berada dalam tangan golongan kecil. Pertanyaan utama
yang harus dijawab ialah mengenai hubungan antara golongan kecil yang berkuasa itu dengan
golongan besar yang dikuasai. Apabila dalam suatu negara golongan kecil itu tidak bertanggung
jawab terhadap rakyat, maka bentuk pemerintahan negara itu adalah oligarkhis dan apabila
golongan kecil yang memerintah itu bertanggung jawab terhadap rakyat, maka bentuk
pemerintahan negara itu adalah demokrasi.

Mac Iver mengadakan suatu konspektus bentuk-bentuk pemerintahan berdasarkan empat kriteria,
yakni dasar konstitusionil, dasar ekonomis, dasar persekutuan dan dasar struktur kedaulatan dalam
negara.

 “Ada 2 klasifikasi tradisionil dari bentuk-bentuk pemerintah. Pertama dan tertua


adalah klasifikasi tri-bagian (tri-partite classification) dan dwi-bagian (bi-partite
classification).” F. Isjwara

Dari penyelidikan yang empiris itu atas konstitusi-konstitusi polis yang pernah ada dan yang masih
ada di Yunani-purba, Aristoteles kemudian mengadakan klasifikasi bentuk-bentuk pemerintahan
atas dasar dua kriteria: secara kuantitatif, yaitu berdasarkan jumlah orang-orang yang memegang
kekuasaan di dalam suatu negara dan secara kualitataif yaitu berdasarkan pelaksanaan
kesejahteraan umum oleh penguasa-penguasa negara itu. Berdasarkan kedua kriteria itu Aristoteles
kemudian mengklasifikasikan bentuk-bentuk pemerintah ke dalam tiga bentuk pemerintahan yang
baik dan tiga pemerintahan yang buruk. Yang baik adalah Monarchi, Aristokrasi dan Polity.
Sedangkan bentuk yang buruk yang merupakan kemerosostan dari pada bentuk-bentuk

2
Isjwara, F. 1966. Pengantar Ilmu Politik, Bandung: Putra A. Bardin. Hal 190.

4
pemerintahan yang baik itu, yaitu tirani sebagai bentuk merosot dari Monarkhi, Oligarkhi sebagai
bentuk merosot dari aristokrasi dan demokrasi sebagai bentuk merosot dari Polity tadi.

Monarkhi (berasal dari kata yunani “monos” yang berarti satu dan “archein” yang berarti
menguasai, memerintah), atau kerajaan adalah bentuk pemerintahan dalam mana seluruh
kekuasaan dipegang oleh seorang yang berusaha mewujudkan kesejahteraan umum.

Tirani ialah bentuk pemerintahan di mana kekuasaan juga terpusat pada satu orang, tetapi
yang berusaha mewujudkan kepentingan dirinya sendiri dan tidak mengindahkan kesejahteraan
umum.

Aristokrasi (berasal dari kata-kata yunani “Aristoi”: kaum bangsawan atau cendikiawan dan
“katein” : kekuasaan), ialah bentuk pemerintahan dalam mana kekuasaan negara berpusat pada
beberapa orang yang berikhtiar mewujudkan kesejahteraan umum. Bentuk ini disebut Aristokrasi
karena orang-orang yang berkuasa adalah orang-orang yang paling baik dan yang senantiasa
berusaha mewujudkan kesejahteraan umum. Bentuk merosostnya ialah Oligarkhi (dialihkan dari
“oligoi”: beberapa dan “archein”) yakni pemerintahan beberapa orang yang mengutamakan
kepentingan golongannya sendiri.

Polity ialah bentuk pemerintahan dalam mana seluruh warga negara turut serta dalam
mengatur negara dengan maksud mewujudkan kesejahteraan umum. Polity ini ditafsirkan oleh
Garner Gilchrist sebagai bentuk pemerintahan yang menyerupai bentuk pemerintahan demokrasi
konstitusional dewasa ini, MacIver menafsirkannya sebagai bentuk pemerintahan di mana golongan
menengah yang memegang kekuasaan pemerintahan. 3

Demokrasi (berasal dari kata “demos”: rakyat dan “kratein”) yang ekstrim adalah bentuk
merosot dari pada “Policy”. Aristoteles menganggap demokrasi sebagai bentuk merosot, karena
berdasarkan pengalamannya sendiri, pemguasa-penguasa di negara kota yang demokratis dari
jamannya, seperti Athena misalnya, adalah teramat korupnya.

Banyaknya Subjek Bentuk Ideal Bentuk kemerosotan


Pemerintahan seorang Monarkhi Tirani
Beberapa orang Aristokrasi Oligarkhi
Semua warga negara Polity Demokrasi/ Mobokrasi

 “The things which differentiate one state another are not differences of constituent
ellements, but rather external phenomena or characteristics. The most important of
this letter are the forms and character of their governmental organizations.” (Hal-hal
yang membedakan satu negara tidak lain adalah perbedaan unsur konstituen, tetapi
lebih condong ke fenomena atau karakteristik eksternal. Yang paling penting dari
pernyataan tersebut adalah bentuk dan karakter organisasi pemerintahan mereka).
J.W. Garner
3
Iver, R.M. Mac. 1960. The Web of Government, New York: Macmillian.

5
Menurut Garner selanjutnya, ilmu politik dan praktek kenegaraan tidak berhasil menjelaskan secara
ilmiah masalah bentuk-bentuk negara, karena dalam pembahasan mengenai bentuk-bentuk negara
senantiasa terdapat kesalahpahaman itu.4 Gilchrist yang juga tidak melihat perbedaan dalam
bentuk-bentuk negara mengatakan, bahwa apa yang dinamakan kegaduhan dalam peristilahan
tentang bentuk-bentuk negara sesungguhnya dimaksudkan bentuk-bentuk pemerintahan, karena
negara semuanya sama. Menurut Gilchrist memang benar bahwa negara-negara dapat diklasifir
berdasarkan perbedaan dalam penduduk atau luas wilayahnya umpamanya, tetapi perbedaan
seperti itu tidak akan bermanfaat.5

 “Sistem pemerintahan terdiri dari dua suku kata, yaitu "sistem" dan
"pemerintahan". Kata "sistem" berarti menunjuk pada hubungan antara pelbagai
lembaga negara sedemikian rupa sehingga merupakan suatu kesatuan yang bulat
dalam menjalankan mekanisme kenegaraan.” C.S.T. Kansil

Dalam praktik penyelenggaraan suatu negara jika kita tinjau dari segi pembagian kekuasaan negara
bahwa organisasi pemerintahan negara itu bersusun, bertingkat dan terdiri atas berbagai macam
alat perlengkapan (organ) yang berbeda satu sama lain berdasar tugas dan fungsi masing-masing
(pembagian secara horizontal) maupun dalam satu bagian dibagi menjadi organ yang lebih tinggi dan
rendah (pembagian secara vertikal).

 “Bentuk negara berbeda dengan bentuk pemerintahan. Pemerintahan terdiri dari


parlementer, presidensial, campuran dan komunis. Sedangkan bentuk negara ialah
kerajaan dan republik.” Inu Kencana Syafiie

Inu mengambil contoh bentuk negara yang dipimpin oleh seorang raja (kaisar) atau ratu (maharani)
yang diwariskan secara turun temurun. Jadi apabila seorang raja tidak terlalu mengenal pengaturan
politik pemerintahan negara, maka jalannya roda pemerintahan diserahkan kepada perdana menteri
yang mengepalai kabinet. Dengan demikian kepala negara yang dipimpin oleh raja, berbeda dengan
kepala pemerintahan dipegang langsung oleh satu orang bila mampu. Untuk tidak hilangnya
kewibawaan ratu atau raja maka pelantikan kepala pemerintahan, sudah barang tentu dengan restu
raja.

a. Sistem Pemerintahan Kabinet Presidensial

Kabinet presidensial yaitu kabinet yang menteri-menterinya bertanggung jawab kepada presiden.
Agar para menteri tidak berlindung di bawah kekuasaan presiden apabila melakukan kesalahan,
maka antara badan legislatif (parlemen) dan bagdan eksekutif (presiden dan menterinya) harus
saling mengawasi secara ketat (checking power with power).

S.L Witman dan J.J. Wuest mengemukakan empat ciri kabinet presidensial yaitu sebagai berikut:

1. It’s based upon diffusion of power principle.

4
Garner, J.W. 1928. Political Science and Government, New York: American Book Company. Hal 241
5
Gilchrist, R.N. 1957. Principle of Political Science, Orient Longmans. Hal 238

6
2. There’s mutual responsibility between the executive dan legislature, or he must resign
together with the rest of the cabinet when his policies are not longer accepted by the
majority of the membership legislature.
3. Mutual responsibility between the executive and cabinet.
4. Executive (Prime Minister, Premier or Chancellor) is choosen by the titular head of state
(monarch of president).6

Dengan demikian menurut sistem pemerintahan presidensial adalah sebagai berikut:

1. Hal tersebut berdasarkan atas prinsip-prinsip pemisahan kekuasaan.


2. Eksekutif tidak mempunyai kekuasaan untuk membubarkan parlemen dan juga tidak
perlu berhenti sewaktu kehilangan dukungan dari mayoritas anggota parlemen.
3. Dalam hal ini tidak ada tanggung jawab yang beralasan antara presiden dan kabinetnya,
karena pada akhirnya seluruh tanggung jawab sama sekali tertuju pada presiden
(sebagai kepala pemerintahan).
4. Presiden langsung dipilih langsung oleh para pemilih.

b. Sistem Pemerintahan kabinet Parlementer

Kabinet parlementer yaitu kabinet yang para menterinya bertanggung jawab kepada parlemen. Hal
ini karena parlemen yang memilih menteri-menteri yang tepat begitu juga dengan perdana
menterinya sendiri. Anggota parlemen dapat menjatuhkan setiap kesalahan dari masing-masing
menteri.

Menurut S.L Witman dan J.J. Wuest ada empat cara berkenaan dengan pemerintahan
kabinet parlementer yaitu sebagai berikut.

1. It’s based upon diffusion of power principle.


2. There’s mutual responsibility between the executive dan legislature, or he must resign
together with the rest of the cabinet when his policies are not longer accepted by the
majority of the membership legislature.
3. Mutual responsibility between the executive and cabinet.
4. Executive (Prime Minister, Premier or Chancellor) is choosen by the titular head of state
(monarch of president).7

Dengan demikian menurut sistem pemerintahan parlementer adalah sebagai berikut:

1. Hal tersebut berdasarkan atas prinsip-prinsip pembagian kekuasaan.


2. Di mana terjadi tanggung jawab balas-balasan antara eksekutif dan legislatif, oleh karena
itu pihak eksekutif boleh membubarkan parlemen (legislatif) atau sebaliknya eksekutif
sendiri yang harus meletakkan jabatan bersama-sama kabinetnya yaitu diwaktu
kebijaksanaan pemerintah tidak dapat lagi diterima oleh kebanyakan suara para anggota
sidang yang ada dalam parlemen (legislatif) tersebut.
3. Dalam hal ini juga terjadi pertanggung jawaban bersama (timbal balik) antara PM dan
kabinetnya.
6
Syafiie, Inu Kencana, Azhari. 2002. Sistem Politik Indonesia. Bandung: Refika Aditama. Hal. 23
7
ibid. Hal. 24

7
4. Pihak eksekutif (baik PM maupun perdana menteri secara perorangan) terpilih sebagai
kepala pemerintahan dan pemegang masing-masing departemen negara, sesuai dengan
dukungan suara mayoritas parlemen.

c. Sistem Pemerintahan Kabinet Campuran

Kabinet campuran yaitu kabinet yang presidennya tidak hendak kehilangan kekuasaan ketika
anggota parlemen memberikan mosi tidak percaya kepada pemerintah. Oleh karena itu yang jatuh
hanya perdana menterinya, tetapi presiden tidak dapat dijatukan oleh parlemen.

Dalam sistem ini diusahakan hal-hal yang terbaik dari sitem pemerintahan presidensial dan
sistem pemerintahan parlementer, karena sistem ini terbentuk dari pengkajian sejarah perjalanan
beberapa negara.

Sistem pemerintahan campuran biasanya selain memiliki presiden ataupun raja sebagai
kepala negara, juga memiliki kepala pemerintahan yaitu perdana menteri.

Bila presiden tidak diberi posisi dominan menurut konstitusi, maka presiden tidak lebih dari
sekedar lambang, dan kabinet akan semakin goyah kedudukannya. Untuk itu di Perancis yang pernah
tirani dan pernah pula demokratis liberal mengubah konstitusi negaranya sedemikian rupa sehingga
presiden tidak dapat dijatuhkan oleh parlemen bahkan presiden dapat membubarkan parlemen.

Di Republik Islam Iran sesudah menggulingkan Shah Iran Reza Pahlevi, maka Imam
Ayatullah Rohullah Khomeini yang lama belajar dari pengalaman beliau selama di Prancis ketika
pengasingannya, mencoba demokratisasi Islam dengan kabinet (baik perdana menteri maupun
presiden sekalipun) dapat dijatuhkan oleh parlemen, tetapi beliau sendiri sebagai imam berada
posisi kepala negara.

Di Indonesia karena bagaimanapun menteri-menteri tidak bertanggung jawab kepada


parlemen, tetapi ketika presiden harus menyampaikan pertanggungjawabnya kepada MPR sebagai
lembaga konstitusi, perlu disadari juga bahwa MPR terdiri dari DPR itu sendiri yang ditambah dengan
utusan daerah dan utusan golongan (setelah era reformasi ditambah dengan dewan perwakilan
daerah), maka risikonya adalah bahwa negara ini memiliki sistem pemerintahan campuran.

Hanya sayang ketika era pemerintahan Soeharto demokratisasi sistem pemerintahan


campuran ini ditiranikan dengan cara meletakkan orang-orangnya di lembaga konstitutif MPR yaitu
utusan golongan diangkat dari para menteri. Sedangkan untuk utusan daerah diangkat para
gubernur yang notabenenya anak buah beliau sebagai jenderal besar, kemudian para rektor yang
juga beliau sendiri yang memberikan pengangkatan rektornya, itupun masih dilengkapi dengan
sistem pemilihan umum yang proporsional yang membolehkan para wakil rakyat diambil dari orang-
orang pusat yang diletakkan di daerah seperti istri menteri, para menteri, para anak menteri, dan
kekuatan Partai Golkar lainnya.

d. Sistem Pemerintahan Kabinet Komunis

Kabinet komunis yaitu kabinet yang baik kepala pemerintahan, maupun kepala negara
dijabat secra ex officio oleh pimpinan partai komunis, mulai dari tingkat pusat sampai pada

8
pemerintahan daerah, karena partai komunis yang ada di daerah sekaligus menjadi kepala daerah
dan kepala wilayah.

Bila dibandingkan antara kekuatan partai zaman ketika Uni Sovyet masih berdiri dengan
ketika zaman kuatnya Partai Golkar di Indonesia pada era orde baru, maka terlihat bahwa setiap
camat senantiasa menjadi Ketua Dewan Pembina Golkar tingkat kecamatan, setiap bupati menjadi
Ketua Dewan Pembina Golkar Tingkat Dewan Pimpinan Daerah Tingkat II (kabupaten), setiap
gubernur menjadi Ketua Dewan Pembina Golkar Tingkat Dewan Pimpinan Daerah Tingkat I
(provinsi). Itulah sebabnya Golkar setelah reformasi resmi berubah wajah menjadi Partai Golkar
yang kemudian kembali memenangkan pemilihan legislatif pada 2004 tetapi mengalami kekalahan
dan perpecahan pada pemilihan presiden 2004.

 “Government is most generalized membership unit processing (a) defined


responsibilities for maintenance of the system of which it is a part and (b) a practical
monopoly of coercive power.” David Apter

Maksudnya pemerintahan merupakan satuan anggota yang paling umum yang memiliki (a) tanggung
jawab tertentu untuk mempertahankan sistem yang mencakupnya dan (b) monopoli praktis
mengenai kekuasaan paksaan.

 “Pemerintahan adalah pelaksanaan kekuasaan (government is the exercise of


power).” Thorsen V. Kalijarvi

Kalijarvi menggunakan penggolongan antara bentuk-bentuk pemerintahan yang utama dan bentuk-
bentuk pemerintahan yang sekunder. Bentuk-bentuk pemerintahan yang sekunder merupakan
bentuk kelanjutan daripada bentuk-bentuk utama atau bentuk-bentuk dasar dan diklasifir menurut
jenis orang yang menyelenggarakan kekuasaan. Umpamanya, negara yang diperintahkan oleh kaum
paderi, bentuk pemerintahannya disebut timokrasi dan negara yang diperintah oleh orang-orang
kaya disebut plutokrasi. Negara yang diperintahkan oleh golongan menengah disebut negara
borjuasi dan yang diperintah oleh kelas buruh disebut negara proletariat. Penggolongan utama atau
dasar itu diadakan berdasarkan tiga kriteria, yaitu pertama, atas jumlah orang yang menjalankan
kekuasaan, kedua, atas letak kekuasaan dan ketiga, atas tanggung jawab yang timbul karena
pelaksanaan kekuasaan itu.

(1) Kriterium jumlah orang yang menjalankan kekuasaan

a. Kerajaan

b. Aristokrasi

c. Demokrasi

(2) Kriterium letak kekuasaan tertinggi

9
Berdasarkan letak kekuasaan tertinggi, pemerintahan-pemerintahan dapat digolongkan ke dalam
pemerintahan negara kesatuan atau negara-negara dengan sentralisasi kekuasaan dan
pemerintahan negara-negara yang bersistem federal atau desentralisasi kekuasaan.

(3) Kriterium letak tanggung jawab

Pada umumnya dikatakan bahwa pemerintah suatu negara mempunyai dua fungsi utama, yakni
membentuk hukum dan menjalankan hukum. Berdasarkan kriterium ini, pemerintah juga dapat
digolongkan ke dalam tipe pemerintahan kabinet (Cabinet Government) dan pemerintahan
presidensiil (Presidential Government).

 “Bentuk-bentuk pemerintahan dari negara-negara modern dapat digolongkan


berdasarkan konstitusi negara itu.” Sir John A.R. Marriot

Kriterium ini menyebabkan penggolongan bentuk-bentuk pemerintahan dari Marriot menjadi


penggolongan konstitusi-konstitusi. Berdasarkan kriterium konstitusional ini Marriot menggolongkan
bentuk-bentuk pemerintahan dari negara-negara modern ke dalam:

1. Bentuk-bentuk pemerintahan yang sederhana atau uniter dan bentuk-bentuk pemerintahan


yang komposit atau federal;
2. Sifat konstitusi yang kaku atau lemas (rigid atau fleksibel);
3. Bentuk pemerintahan parlementer atau presidensil.

Marriot mengambil menjadi negara-negara yang representatif untuk penggolongannya itu ialah
negara-negara Inggris, Perancis, spanyol, Italia, Belgia, Jepang , Chile, AS, Kanada, Australia, Swiss,
Brazil, Meksiko dan Argentina.

 “Penggolongan bentuk-bentuk pemerintah dari negara-negara atas prinsip-prinsip


yang dinamakan concilium.” Cicero

Penggolongannya adalah sebagai berikut: apabila “concilium” itu dipegang oleh seseorang, maka
bentuk pemerintah itu ialah kerajaan; apabila dipegang oleh beberapa orang, didapati aristokrasi
dan apabila dipegang oleh seluruh rakyat, maka bentuk pemerintahan itu ialah demokrasi. Juga
Cicero menerima adanya bentuk-bentuk merosot dari bentuk2 pemerintahan yang baik itu.
“Dominus” (despot) ialah bentuk merosot dari kerajaan dan “facto”, turba et confusio” ialah bentuk-
bentuk merosot yang dihasilkan oleh aristokrasi dan demokrasi.

 “Kriterium yang membedakan satu pemerintah dari pemerintahan lainnya adalah


perbedaan dalam letak kedaulatan.” Thomas Hobbes

Apabila kedaulatan terletak pada satu orang, bentuk pemerintahan itu ialah kerajaan, apabila pada
semua warga negara, maka didapati demokrasi dan apabila beberapa orang yang berdaulat maka
didapati bentuk pemerintahan yang aristokratis.

10
 “The majority, having......... the whole power in making laws by officers of their own
appointing, and then the form of government is a perfect democracy; or else may
put the power of making laws into the hands of a few select men, and heirs
successors, and then it is an oligarchy; or else into the hands of one men and the it is
monarchy.” John Locke

John locke juga mengemukakan teori bentuk-bentuk pemerintahan yang berpangkal pada tri-bagian
dari aristoteles. Locke membedakan bentuk-bentuk pemerintahan atas kriterium “wewenang
membuat hukum”, jadi perbedaan yang didasarkan atas letak kekuasaan legislatif. Berdasarkan
kriterium tersebut, Locke membedakan 3 jenis bentuk-bentuk pemerintah, yaitu demokrasi,
oligarkhi dan monarkhi.

 “Penggolongan bentuk pemerintahan dilakukan dengan klasifikasi tri-bagian. Dasar


ini juga disertai dengan penggolongan atas dasar pemisahan kekuasaan.” Prof. R.
Kranenburg

Prof. Kranenburg mengadakan penggolongan bentuk-bentuk negara dengan menggunakan klasifikasi


3 bagian dari aristoteles sebagai dasar, yakni suatu penggolongan yang didasarkan atas jumlah orang
yang merupakan organ tertinggi dalam suatu negara. Dasar ini disertai dengan penggolongan atas
dasar pemisahan kekuasaan dalam negara. Kranenburg menggunakan sebagai prinsip
penggolongannya jumlah orang yang meriupakan organ pimpinan dalam negara. Atas dasar prinsip
kuantitatif ini bentuk-bentuk negara kemudian digolongkan ke dalam monarki, olgarkhi dan republik.

 “Bentuk-bentuk pemerintahan lazim diklasifikasikan berdasarkan kriteria:


pelaksanaan formil dari kekuasaan, pemencaran kekuasaan, konstitusi dan
organisasi-organisasi badan eksekutif.” Wallace. S. Sayre

Merupakan klasifikasi yang umum ditemukan di negara-negara modern di mana hal tersebut identik
dengan pembagian kekuasan atau trias politika; eksekutif, legislatif dan yudikatif.

 “Penggolongan negara-negara atas bentuk pemerintahan dan atas dasar tujuan


serat hakekat (nature) negara-negara itu sendiri.” A. Apparodai

Bentuk negara adalah merupakan batas antara peninjauan secara sosiologis dan peninjauan secara
yuridis mengenai negara. Peninjauan secara sosiologis jika negara dilihat secara keseluruhan
(ganzhit) tanpa melihat isinya, sedangkan secara yuridis jika negara\peninjauan hanya dilihat dari
isinya atau strukturnya.

BAB III

KASUS (SISTEM PEMERINTAHAN DI INDONESIA)

11
Pada tanggal 17 Agustus 1945 Indonesia merdeka, setelah dijajah oleh Belanda, Portugis,
Inggris dan Jepang. Pembacaan proklamasi disampaikan oleh Ir. Soekarno dan Drs. Mohammad
Hatta yang kemudian besok harinya masing-masing diangkat secara aklamasi sebagai presiden dan
wakil presiden negara baru ini. Selain itu ketika sedang dalam keadaan darurat Indonesia juga
pernah dipimpin oleh Mr. Syafrudin Prawira Negara dari Bukittinggi karena penjajah yang kembali
mengadakan agresi menduduki Jakarta dan Yogyakarta. Secara lengkap yang menjadi presiden dan
wakil presiden secara resmi di negara ini adalah sebagaiman tabel ini berikut.

Presiden Republik Indonesia

No Nama Tanggal Memerintah


1 DR. Ir. H. Soekarno 18 Agustus 1945 - 12 Maret 1966
2 Jenderal (Purn) TNI H. M. Soeharto 12 Maret 1966 - 21 Mei 1998
3 Prof. DR. Ing. BJ. Habibie 21 Mei 1998 - 23 Oktober 1999
4 K.H. Abdurrahman Wahid 23 Oktober 1999 - 22 Juli 2001
5 Dr (HC). Hj. Megawati Soekarno Putri 23 juli 2001 - 20 Oktober 2004
6 Jenderal. DR. Susilo Bambang Yudhoyono, MA 20 Oktober 2004 - 20 Oktober 2009
20 Oktober 2009 - Incumbent

Wakil Presiden Republik Indonesia

No Nama Tanggal Memerintah


1 DR. H. Mohd. Hatta 1945 - 1956
2 Sri Sultan hamengkubuwono IX 1973 - 1974
3 H. Adam malik 1978 - 1983
4 Jenderal (Purn) TNI Umar Wirahadikusumah 1983 - 1988
5 Letjen (Purn) TNI H. Sudharmono, SH 1988 - 1993
6 Jenderal (Purn) TNI Try Sutrisno 1993 - 1998
7 Prof. DR. Ing. BJ. Habibie 1998 - 1999
8 Dr (HC). Hj. Megawati Soekarno Putri 1999 - 2001
9 Dr (HC) H. Hamzah Haz 2001 - 2004
10 Drs. H. Muhammad Jusuf Kalla 2004 - 2009
11 Boediono 2009 - Incumbent

Pada waktu perpindahan kekuasaan dari Ir. Soekarno kepada Mayjen. Soeharto terjadi
pembunuhan para jenderal yang oleh PKI dituduh sebagai kapitalisme. Dengan membesarkan
tuduhan tersebut, Soeharto lalu menyingkirkan Ir. Soekarno dan memimpin Republik Indonesia
selama 32 tahun. Pemilihan umum dibuat sedemikian rupa demokratis dan dimenangkan terus-
menerus serta kepemimpinan selamanya di tangan Soeharto, karena pidato
pertanggungjawabannya yang tidak pernah ditolak. Strateginya adalah dengan melantik utusan
daerah dari para gubernur, para panglima daerah militer, dan para rektor universitas negeri yang
notabene adalah diangkat Soeharto sendiri, kendati utusan daerah dan utusan golongan yang

12
jumlahnya separuh anggota MPR tersebut yang akan melantik dan mengawasi pemerintahan
Soeharto.

2. Majelis Permusyawaratan Rakyat

Selain di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), lembaga konstitusi juga ditemukan di
Republik Prancis dan Republik Islam Iran. Di Indonesia yang membedakan lembaga ini dengan
lembaga legislatif adalah karena lembaga ini adalah gabungan dari DPR (legislatif) dan BPD (Badan
Perwakilan Daerah).

Pada masa orde baru tambahan DPR untuk menjadi MPR diambil dari utusan daerah dan
utusan golongan, utusan daerah diangkat dari kepala daerah, para panglima daerah, dan para rektor
universitas negeri daerah, sehingga risikonya adalah Soeharto terpilih dari pemilu ke pemilu serta
pidato pertanggungjawaban beliau selalu diterima sebanyak apapun beliau bersalah dan mengorupsi
negeri ini. Sekarang DPD yang tanpa mewakili partai politik dipilih bersama partai politik, sehingga
DPD berfungsi identik dengan keberadaan sebator di negara-negara yang memakainya.

MPR kini tidak lagi menjadi lembaga tertinggi negara, karena tidak lagi meminta
pertanggungjawaban semua lembaga tinggi negara, fungsi tertinggi hanya untuk pembentukan dan
penetapan konstitusi saja. Sedangkan memilih presiden dan wakil presiden RI kini diserahkan kepada
rakyat. Itulah sebabnya perubahan konstitusi (amandemen) menjadi perubahan mendasar negara
Indonesia mendatang.

Keberadaan TNI Polri yang dulu dipersiapkan untuk menjaga keutuhan NKRI yaitu dengan
mempertahankan UUD 1945 dan Pancasila diberikan jatah pada kedua lembaga (konstitutif dan
legislatif ini semasa orde baru) tetapi kini tidak lagi diberikan jatah baik dalam DPR maupun MPR
hanya sebagai balance ndibuatkan UU TNI POLRI yang memperbolehkan secara aktif pada jabatan
pemerintahan, sedangkan untuk lembaga legislatif dan kostitutif TNI-POLRI harus terlebih dahulu
memensiunkan diri.
DPR Fraksi Partai Demokrat (F-PD) 148
MPR 2009-20148
560 anggota Fraksi Partai Golongan Karya (F-PG) 107

Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (F-PDIP)


MPR 94

688 anggota DPD Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (F-PKS) 57

Fraksi Partai Amanat Nasional (F-PAN) 46


128 Orang
Fraksi Partai Persatuan Pembangunan (F-PPP) 37
dari 32 Provinsi
Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (F-PKB) 28
Anggota DPD Periode 2009-2014
Fraksi Partai Gerakan Indonesia Raya (F-Gerindra) 26

Fraksi
Nanggroe Aceh Darussalam :: Abdurrahman BTM, Bachrum PartaiAhmad
Manyak, Hati Nurani Rakyat
Farhan (F-Hanura)
Hamid, dan A 17
Khalid.
8
http://id.wikipedia.org/wiki/Dewan_Perwakilan_Rakyat
Diakses pada tanggal 16 Januari 2010

13
Sumatra Utara :: Rudolf M Pardede, Parlindungan Purba, Rahmat Shah, dan Darmayanti Lubis.

Sumatra Barat :: Irman Gusman, Emma Yohanna, Riza Falepi, dan Alirman Sori.

Riau :: Abdul Gafar Usman, Intsiawati Ayus, Maimanah Umar, dan Mohammad Gazali.

Sumatra Selatan :: Percha Leanpuri, Aidil Fitrisyah, Asmawati, dan Abdul Aziz.

Bangka Belitung :: Tellie Gozelie, Noorhari Astuti, Rosman Djohan, dan Bahar Buasan.

Bengkulu :: Sultan Bakhtiar Najamudin, Eni Khairani, Bambang Soeroso, dan Mahyudin Shobri.

Jambi :: Elviana, M Syukur, Juniwati T Masjchun Sofwan, dan Hasbi Anshory.

Kepulauan Riau :: Aida Nasution Ismeth, Zulbahri, Djasarmen Purba, dan Hardi Selamat Hood.

Lampung :: Anang Prihantoro, Ahman Jajuli, Aryodia Febriansya, dan Iswandi.

DKI Jakarta :: Dani Anwar, A.M. Fatwa, Djan Faridz, dan Pardi.

Jawa Barat :: Ginandjar Kartasasmita, Ella M Giri Komala, Sofyan Yahya, dan Amang Syafrudin.

Banten :: Andika Hazrumy, Abdurachman, Abdi Sumaithi, dan Ahmad Subadri.

Jawa Tengah :: Sulistiyo, Ayu Koes Indriyah, Denty Eka Widi Pratiwi, dan Poppy Susanti Dharsono.

DI Yogyakarta:: Gusti Kanjeng Ratu Hemas, Cholid Mahmud, A Hafidh Asrom, dan Muhammad Afnan
Hadikusumo.

Jawa Timur :: Istibsjaroh, Wasis Siswoyo, Abd Sudarsono, dan Supartono.

Bali :: I GN Kesuma Kelakan, I Nengah Wiratha, I Wayan Sudirta, dan I Kadek Arimbawa.

Nusa Tenggara Barat :: Farouk Muhammad, L.L. Abdul Muhyi Abidin, Baiq Diyah Ratu Ganefi, dan
Lalu Supardan.

Nusa Tenggara Timur :: Abraham Liyanto, Emanuel Babu Eha, Carolina Nubatonis-Kondo, dan Sarah
Lery Mboeik

Kalimantan Tengah :: Permana Sari, Hamdhani, Said Akhmad Fawzy Zain Bahsin, dan Rugas Binti.

Kalimantan Barat :: Maria Goreti, Sri Kadarwati, Hairiah, dan Erma Suryani Ranik.

Kalimantan Selatan :: Gusti Farid Hasan Aman, Adhariani, Habib Hamid Abdullah, dan Mohammad
Sofwat Hadi.

14
Kalimantan Timur :: Awang Ferdian Hidayat, Luther Kombong, Muslihuddin Abdurrasyid, dan
Bambang Susilo.

Sulawesi Utara :: Aryanthi Baramuli Putri, Marhany Victor Poly Pua, Ferry FX Tinggogoy, dan Alvius
Lomban.

Gorontalo :: Hana Hasanah Fadel Muhammad, Rahmiyati Jahja, Elnino M Husein Mohi, dan Budi
Doku.

Sulawesi Tengah :: Nurmawaty Dewi Bantilan, Sudarto, Ahmad Syaifullah Malonda, dan Shaleh
Muhamad Aldjufri.

Sulawesi Barat :: Muh. Asri, Muhammad Syibli Sahabuddin, Iskandar Muda Baharuddin, dan
Mulyana Isham.

Sulawesi Selatan :: Abd. Azis Qahhar Mudzakkar, Muh Aksa Mahmud, Bahar Ngitung, dan Litha
Brent.

Sulawesi Tenggara :: La Ode Ida, Abd. Jabbar Toba, Abidin Mustafa, dan Hoesein Effendy.

Maluku Utara :: Matheus Stefi Pasimanjeku, Kemala Motik Gafur, Mudaffar Sjah, dan Abdurachman
Lahabato.

Maluku :: Anna Latuconsina, Jhon Pieris, Jacob Jack Ospara, dan Etha Aisyah Hentihu.

Papua :: Tonny Tesar, Helina Murib, Paulus Yohanes Sumino, dan Ferdinanda W. Ibo Yatipay.

Papua Barat :: Ishak Mandacan, Sofia Maipauw, . Mervin Sadipun Komber, dan Wahidin Ismail. 9

MPR periode 1999-2004 yang dipimpin Amien Rais sebagai lokomotif reformasi telah
berhasil membuat perubahan besar dengan mengamandemen UUD 1945, sehingga akhirnya DPA

9
http://mediacenter.kpu.go.id/berita/514-penetapan-nama-calon-anggota-dpd.html
Diakses pada tanggal 16 Januari 2010

15
yang tampak tidak efektif terpaksa dilikuidasi walaupun lembaga tinggi negara, sedangkan lembaga
tinggi negara yang lain dibentuk yaitu Mahkamah Konstitusi.

Jadi reformasi mahasiswa yang menjatuhkan pemerintahan Soegarto dan perlahan-lahan


menumbangkan pemerintahan Orde Baru, mengubah negeri ini hampir secara keseluruhan.
Buktinya UUD 1945 yang semula oleh MPR RI Orde Baru ciptaan Soeharto, dinyatakan sebagai tidak
berkehendak mengubahnya, kini setelah reformasi dirombak total. Amandemen tersebut telah
empat kali disahkan perubahannya yaitu sebagai berikut:

1. Perubahan pertama disahkan pada tanggal 19 Oktober 1999, meliputi perubahan


pasal 5, 7 , 9, 13, 14, 15, 17, 20 dan 21.
2. Perubahan kedua disahkan pada tanggal 18 Agustus 2000, meliputi perubahan pasal
18, 19, 20, 22, 25, 26, 27 dan 28.
3. Perubahan ketiga disahkan pada tanggal 10 November 2001, meliputi perubahan
pasal 3, 6, 7, 8, 11, 17, 22, 23, 24.
4. Perubahan keempat disahkan pada tanggal 10 Agustus 2002, meliputi perubahan
pasal 2, 8, 16, 23, 24, 31, 32, 33 dan 34.

Jadi yang tidak diubah adalah pasal 1, 4, 10, 12, 29, 35 terutama pasal 29 yang dianggap akan
menimbulkan kerawanan.10

3. Dewan Perwakilan Rakyat

Lembaga ini disebut parlemen karena kata parle berarti bicara, artinya mereka harus
menyuarakan hati nurani rakyat. Artinya setelah mengartikulasikan dan mengagregasikan
kepentingan rakyat, mereka harus membicarakan dalam sidang parlemen kepada pemerintah yang
berkuasa. Oleh karena itu DPR dibentuk di pusat untuk mengkritisi pemerintah pusat, dibentuk di
daerah untuk mengkritisi pemerintah daerah baik provinsi maupun kabupaten sesuai dengan
tingkatannya.

Jadi pemerintah eksekutif mempunyai peranan mengurus, sedangkan legislatif mempunyai


fungsi mengatur. Dengan begitu baik di daerah yang belum memiliki lemabaga legislatif pada tingkat
di bawah provinsi disebut pembantu gubernur (dulu residen) dan pada tingkat di bawah kabupaten
disebut pembantu bupati (dulu kewedanan) sedangkan untuk tingkat kota disebut kotaadministratif.
Itulah sebabnya pada setiap pemilihan umum selain DPD kita mendapati tiga tingkat yang harus
dipilih.

Dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya, DPR mempunyai hak sebagai berikut: 11

 Interpelasi
 Angket
 Menyatakan Pendapat

Hak-hak anggota DPR RI adalah sebagai berikut:

10
Syafiie, Inu Kencana, Andi Azikin. 2008. Perbandingan Pemerintahan.Bandung: Refika Aditama. Hal. 136
11
http://www.dpr.go.id/id/tentang-dpr/hak-dan-kewajiban
Diakses pada tanggal 16 Januari 2010

16
 Mengajukan rancangan undang-undang
 Mengajukan pertanyaan
 Menyampaikan usul dan pendapat
 Memilih dan dipilih
 Membela diri
 Imunitas
 Protokoler
 Keuangan dan administratif

Kewajiban-kewajiban anggota DPR RI adalah sebagai berikut:

 Mengamalkan Pancasila
 Melaksanakan Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945 dan mentaati
segala peraturan perundang-undangan
 Melaksanakan kehidupan demokrasi dalam penyelenggaraan pemerintah
 Mempertahankan dan memelihara kerukunan nasional dan keutuhan negara kesatuan
Republik Indonesia
 Memperhatikan upaya peningkatan kesejahteraan rakyat
 Menyerap,menghimpun,menampung,dan menindaklanjuti aspirasi masyarakat
 Mendahulukan kepentingan negara di atas kepentingan pribadi,kelompok dan golongan
 Memberikan pertanggungjawaban secara moral dan politis kepada pemilih dan daerah
pemilihannya
 Mentaati kode etik dan Peraturan Tata tertib DPR
 Menjaga etika dan norma dalam hubungan kerja dengan lembaga yang terkait

Sebagaimana telah dijelaskan di muka bahwa anggota DPR sudah pasti adalah juga anggota DPR
(ex officio). Kemudian dalam rangka memperlancar tugasnya DPR mempunyai alat kelengkapan yaitu
sebagai berikut:

1. Pimpinan DPR
2. Fraksi - fraksi
3. Komisi - komisi
4. Badan Musyawarah
5. Badan Urusan Rumah Tangga
6. Badan Kerja sama antarparlemen
7. Panitia Khusus (Pansus)

Pimpinan DPR terdiri dari Ketua dan beberapa Wakil Ketua yang dipilih anggota DPR itu sendiri
dengan cara pemilihan yang diatur dalam peraturan tata tertib DPR yang dibuat DPR sendiri. Setiap
anggota DPR harus tergabung ke dalam salah satu fraksi yang dibentuk oleh DPR. Fraksi dibentuk
untuk bertugas meningkatkan kemampuan yang tercermin dalam setiap kegiatan DPR, fraksi
berbeda dengan komisi.

Fraksi adalah pengelompokan anggota DPR yang terdiri ari kekuatan sosial politik dan
mencerminkan susuna golongan dalam masyarakat. Tugas fraksi adalah menentukan dan mengatur
sepenuhnya segala sesuatu yang menyangkut urusan masing-masing fraksi, serta meningkatkan
kemampuan efektivitas, dan efisiensi kerja para anggota dalam melaksanakan tugasnya. Jadi fraksi

17
orang-orang dalam satu fraksi pasti satu partai,kalaupun berbeda partai karena berkoalissi tetapi
masih satu ideologi dan satu paham.

Komisi adalah pengelompokan anggota DPR yang terdiri dari satu bidang keahlian dan tugas
yang ditetapkan sendiri oleh DPR dengan surat keputusan. Tugas komisi meliputi bidang perundang-
undangan, anggaran, dan pengawasan. Untuk melaksanakan tugasnya komisi dapat melakukan
dengar pendapat, rapat kerja, mengajukan pertanyaan, dan kunjungan kerja. Bahkan jika diperlukan
dapat memanggil aparat pemerintah atau masyarakat umum, baik atas permintaan komisi atau
pihak lain.

Badan musyawarah bertugas menetapkan acarA-acara DPR dalam satu tahun atau masa
persidangan , memberikan pertimbangan kepada pimpinan, menetapkan pokok-pokok
kebijaksanaan DPR sendiri, dan tugas lain yang diserahkan.

Pimpinan DPR bertugas memimpin rapat untuk menyimpulkan persoalan yang dibicarakan,
menenukan kebijakan anggaran belanja, serta menyususn rencana kerja DPR, yaitu dengan
membagikan pekerjaan antara ketua dan wakil ketua dengan mengumumkan secara terbuka dalam
rapat paripurna.

Tabel Komisi DPR12

No Komisi Bidang yang dibahas


1 I Bidang Hankam
2 II Bidang Hukum dan Luar Negeri
3 III Bidang Pertanian
4 IV Bidang Transportasi
5 V Bidang Perdagangan
6 VI Bidang Agama dan SDM
7 VII Bidang Kependudukan
8 VII Bidang IPTEK
9 IX Bidang Keuangan

4. Mahkamah Konstitusi

Sejarah berdirinya MK diawali dengan Perubahan Ketiga UUD 1945 dalam Pasal 24 ayat (2),
Pasal 24C, dan Pasal 7B yang disahkan pada 9 November 2001. Setelah disahkannya Perubahan
Ketiga UUD 1945, maka dalam rangka menunggu pembentukan Mahkamah Konstitusi, MPR
menetapkan Mahkamah Agung menjalankan fungsi MK untuk sementara sebagaimana diatur dalam
Pasal III Aturan Peralihan UUD 1945 hasil Perubahan Keempat.

DPR dan Pemerintah kemudian membuat Rancangan Undang-Undang tentang Mahkamah


Konstitusi. Setelah melalui pembahasan mendalam, DPR dan Pemerintah menyetujui secara
bersama Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi pada 13
Agustus 2003 dan disahkan oleh Presiden pada hari itu. Dua hari kemudian, pada tanggal 15

12
Syafiie, Inu Kencana, Andi Azikin. 2008. Perbandingan Pemerintahan.Bandung: Refika Aditama. Hal. 140

18
Agustus 2003, Presiden mengambil sumpah jabatan para hakim konstitusi di Istana Negara
pada tanggal 16 Agustus 2003.

Menurut Undang-Undang Dasar 1945, kewajiban dan wewenang MK adalah:

 Berwenang mengadili pada tingkat pertama dan terakhir yang putusannya bersifat final
untuk menguji Undang-Undang terhadap Undang-Undang Dasar, memutus sengketa
kewenangan lembaga negara yang kewenangannya diberikan oleh UUD 1945, memutus
pembubaran partai politik, dan memutus perselisihan tentang hasil Pemilihan Umum
 Wajib memberi putusan atas pendapat Dewan Perwakilan Rakyat mengenai dugaan
pelanggaran oleh Presiden dan/atau Wakil Presiden menurut UUD 1945.

MK mempunyai 9 orang anggota hakim yang ditetapkan oleh presiden. Untuk calon anggota
hakim konstitusi, presiden mengusulkan 3 orang, Mahkamah Agung 3 orang, dan disusul oleh Dewan
Perwakilan Rakyat sebanyak 3 orang.

UUD 1945

MPR

UD UG

BPK DPR PRESIDEN DPA MA

STRUKTUR NKRI MENURUT DPR GR 1966

MPR RI

BPK DPR PRESIDEN MA

STRUKTUR NKRI MENURUT TAP MPR 1999


RAKYAT

19
LEGISLATIF EKSEKUTIF YUDIKATIF

DPR DPD MPR PRESIDEN WAPRES MA MK KY

STRUKTUR NKRI PASCA REFORMASI

BAB IV

20
KESIMPULAN

a. Sistem pemerintahan secara luas


Secara luas berarti sistem pemerintahan itu menjaga kestabilan masyarakat, menjaga
tingkah laku kaum mayoritas maupun minoritas, menjaga fondasi pemerintahan, menjaga kekuatan
politik, pertahanan, ekonomi, keamanan sehingga menjadi sistem pemerintahan yang kontinu dan
demokrasi dimana seharusnya masyarakat bisa ikut turut andil dalam pembangunan sistem
pemerintahan tersebut.Hingga saat ini hanya sedikit negara yang bisa mempraktikkan sistem
pemerintahan itu secara menyeluruh.

b. Sistem pemerintahan secara sempit


Secara sempit,Sistem pemerintahan hanya sebagai sarana kelompok untuk menjalankan
roda pemerintahan guna menjaga kestabilan negara dalam waktu relatif lama dan mencegah adanya
perilaku reaksioner maupun radikal dari rakyatnya itu sendiri.

Dalam perkembangannya sejak proklamasi 17 Agustus 1945 sampai dengan penghujung


abad ke-20, rakyat Indonesia telah mengalami berbagai peristiwa yang mengancam persatuannya.
Untuk itulah pemahaman yang mendalam dan komitmen yang kuat dan konsisten terhadap prinsip
dan semangat kebangsaan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara yang
berdasarkan pada Pancasila dan Konstitusi Negara Indonesia perlu ditanamkan kepada seluruh
komponen bangsa Indonesia, khususnya generasi muda sebagai penerus bangsa.

Indonesia di masa depan diharapkan tidak akan mengulang lagi sistem pemerintahan
otoriter yang membungkam hak-hak warga negara untuk menjalankan prinsip demokrasi dalam
kehidupan masyarakat, bangsa, dan negara. Kehidupan yang demokratis di dalam kehidupan sehari-
hari di lingkungan keluarga, sekolah, masyarakat, pemerintahan, dan organisasi-organisasi non-
pemerintahan perlu dikenal, dimulai, diinternalisasi, dan diterapkan demi kejayaan bangsa dan
negara Indonesia.

Demokrasi dalam suatu negara hanya akan tumbuh subur apabila dijaga oleh warga negara
yang demokratis. Warga negara yang demokratis bukan hanya dapat menikmati hak kebebasan
individu, tetapi juga harus memikul tanggung jawab secara bersama-sama dengan orang lain untuk
membentuk masa depan yang cerah.

Sesungguhnya, kehidupan yang demokratis adalah cita-cita yang dicerminkan dan


diamanatkan oleh para pendiri bangsa dan negara ketika mereka pertama kali membahas dan
merumuskan Pancasila dan UUD 1945.

21

Anda mungkin juga menyukai