Anda di halaman 1dari 14

PERTANYAAN-PERTANYAAN

SEPUTAR PEMBELAJARAN TEMATIK


DENGAN BUKU GRASINDO

DASAR DAN LATAR BELAKANG


1. Mengapa pembelajaran kelas 1-3 SD diubah menjadi
pembelajaran tematik?
 Penerapan pembelajaran tematik untuk kelas 1 – 3 Sekolah Dasar
mengacu kepada Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik
Indonesia Nomor 22 tahun 2006 tentang Standar Isi untuk satuan
Pendidikan Dasar dan Menengah. Lampiran Peraturan Menteri tersebut
Bab II, Bagian B tentang Struktur Kurikulum Pendidikan Umum, butir 1.c.
dinyatakan bahwa pembelajaran kelas 1 – 3 SD dilaksanakan melalui
pendekatan tematik

 Mencermati buku Model Pembelajaran tematik yang diterbitkan oleh BNSP


dapat disimpulkan bahwa ada dua alasan mendasar diterapkan
pembelajaran tematik untuk kelas 1 – 3 SD, yaitu

Pertama: Perkembangan psikologis anak


Anak yang duduk di kelas awal SD adalah anak yang
berada pada rentangan usia dini. Masa usia dini merupakan
masa perkembangan yang sangat penting dan sering
disebut “The Golden Years” bagi kehidupan seseorang.
Piaget (1950) menyatakan bahwa setiap anak memiliki
struktur kognitif yang disebut schemata yaitu sistem konsep
yang ada dalam pikiran sebagai hasil pemahaman terhadap
obyek yang ada dalam lingkungannya. Pemahaman tentang
obyek tersebut berlangsung melalui proses asimilasi
(menghubungkan obyek dengan konsep yang sudah ada
dalam pikirannya) dan akomodasi (proses memanfaatkan
konsep-konsep dalam pikiran untuk menafsirkan objek).
Belajar dimaknai sebagai proses interaksi diri anak dengan
lingkungannya. Anak belajar dari hal-hal yang konkrit yakni
yang dapat dilihat, didengar, dibaui, dan diraba.

Kedua : Pembelajaran bermakna.


Proses belajar tidak sekadar menghafal konsep-konsep atau fakta
belaka, tetapi kegiatan menghubungkan konsep-konsep untuk
menghasilkan pemahaman yang lebih utuh. Hal ini sejalan
dengan falsafah konstruktivisme yang menyatakan bahwa
manusia mengkontruksi pengetahuannya melalui interaksi
dengan obyek, fenomena, pengalaman dan lingkungannya.
Pengetahuan tidak dapat ditransfer begitu saja dari seorang
guru kepada anak.

2. Manakah lebih baik, pembelajaran dengan pola jam


pelajaran atau tematik?
Dengan memperhatikan kedua alasan diberlakukannya
pembelajaran tematik jelaslah bahwa pembelajaran tematik lebih
baik dari pada pelajaran dengan pola mata pelajaran. Selain itu ada
beberapa keuntungan lain dilaksanakan pembelajaran tematik.

Apabila pembelajaran betul-betul dilaksanakan secara tematik,


maka akan diperoleh keuntungan-keuntungan berikut:

a. Pembelajaran menjadi menyenangkan


 Siswa sungguh senang karena pembelajaran
dikelola sesuai dengan perkembangan jiwa anak. Dengan
pembelajaran tematik, khususnya dengan buku Grasindo,
setiap hari siswa diajak bernyanyi, bermain dan
mendengarkan cerita. Dunia anak adalah bermain, menyanyi
dan mendengarkan ceritera. Guru dapat leluasa mengatur
waktu untuk ketiga kegiatan tersebut, sebab kegiatan belajar
tidak dikotak-kotak lagi dengan mata pelajaran. Guru dan
siswa tidak perlu bertanya, “Sekarang mata pelajaran apa?”
 Siswa sungguh senang, karena belajar dengan
bermain dan melakukan kegiatan kreatif.

b. Siswa mudah memusatkan perhatian


Dalam pembelajaran tematik kegiatan berjalan mengalir tanpa
dipenggal-penggal dengan pergantian jam pelajaran. Perhatian
siswa tidak terpecah-pecah. Lainnya halnya dengan
pembelajaran yang disusun berdasarkan jam pelajaran. Setiap
ganti jam pelajaran siswa harus kembali dari awal. Mengingat
kembali materi terakhir pada hari sebelumnya. Seringkali ada
kegiatan yang belum tuntas terpaksa harus diakhiri karena ada
pergantian jam pelajaran. Lebih bermasalah lagi kalau gurunya
juga harus ganti.

c. Penguasaan kompetensi akan lebih kuat dan mendalam.


Dengan perhatian yang lebih terpusat dan kegiatan yang lebih
tuntas, ditambah lagi dengan suasana yang menyenangkan
serta materi sesuai dengan konteksnya, maka dapat diharapkan
penguasaan kompetensi siswa lebih kuat dan mendalam.

d. Hemat waktu
Dalam pembelajaran dengan mata pelajaran sering ditemukan
tumpang tindih. Misalnya Pelajaran Bahasa Indonesia memerlukan
wacana sebagai sumber belajar. Dalam wacana tersebut memuat
materi pelajaran lain. Selain itu ketika siswa menyusun atau
membuat kalimat, mendeskripsikan suatu benda, dan menceritakan
pengalaman sering terkait dengan materi pelajaran lain. Sebaliknya
semua matapelajaran di luar Bahasa Indonesia pun anak harus
menyusun kalimat, mendeskripsikan suatu benda dan sebagainya,
yang sebetulnya hal itu terkait dengan pelajaran bahasa Indonesia.
Dengan pembelajaran tematik tidak perlu dibedakan antara kalimat
pelajaran Bahasa Indonesia atau kalimat pelajaran lainnya. Dengan
demikian jelaslah bahwa pembelajaran tematik sungguh-sungguh
menghemat waktu.

3. Apakah yang dimaksud pembelajaran tematik?


Pembelajaran tematik adalah pembelajaran terpadu yang
mengggunakan tema untuk mengaitkan beberapa mata pelajaran.
Batasan waktu dan cakupan materi kegiatan siswa di sekolah
didasarkan pada tema yang dikembangkan, bukan didasarkan pada
jadwal mata pelajaran.

4. Bagaimanakah sesungguhnya yang paling baik pelaksanaan


pembelajaran tematik?
Ada beberapa kemungkinan model pembelajaran tematik. Menurut
pengalaman kami, yang sudah melaksanakan sejak tahun 2004
degan beberapa model pembelajaran tematik, maka pembelajkaran
tematik yang paling baik adalah sebagai berikut:
 Polanya mengikuti pola yang dikeluarkan oleh
BNSP, yaitu ada kegiatan pembuka, inti dan penutup.
 Sesuai dengan tujuannya, maka kegiatan
pembuka dan penutup lebih banyak dalam bentuk nyanyian,
permaian, mendengarkan cerita, pesan moral dan kegiatan
sejenis lainnya. Terhadap kegiatan-kegiatan tersebut tidak dapat
ditanyakan mata pelajaran apa. Dengan demikian tidak dapat
dibuat jadwal mata pelajaran.
 Memperhatikan hal tersebut dan juga untuk
menghindari terjadinya tumpang tindih, maka dalam
pembelajaran tematik tidak perlu ada jadwal mata pelajaran.
 Fakta bahwa dalam satu kegiatan siswa belajar
berbagai kompetensi dari berbagai mata pelajaran. Maka yang
paling ideal dalam pembelajaran tematik tidak ada jadwal
metapelajaran.

5. Bagaimanakah jika pembelajaran tematik menggunakan


Jadwal Mata pelajaran?
Menjawab pertanyaan ini perlu ditanyakan balik: Mengapa dalam
pembelajaran harus dengan jadwal? Pencapaian kompetensi sesuai
dengan tuntutan Standar Isi 2006 merupakan tujuan siswa belajar.
Maka yang harus menjadi prioritas adalah bagaimana kompetensi
tersebut dapat tercapai. Tidak terlalu penting bagi anak untuk
mengetahui mata pelajaran apa yang sedang dipelajari. Apalagi
siswa sungguh ditempatkan sebagai subyek belajar, maka
kepentingan siswa harus lebih diprioritaskan, termasuk
memperhatikan karakteristik perkembangan jiwa dan cara siswa
belajar.
Keuntungan penggunaan jadwal mata pelajaran adalah:
- Siswa dan orangtua akan mudah menyiapkan buku catatan
- Sekolah yang menggunakan sistem guru mata pelajaran akan
mudah mengatur pembagian tugas guru.
Kerugian penggunaan jadwal mata pelajaran untuk pembelajaran
tematik:
- Guru kurang leluasa mengatur waktu
- Kegiatan pembuka dan penutup kemungkinan besar akan
dihilangkan, karena tidak dapat secara tegas dapat
dimasukkan pada mata pelajaran tertentu.
- Pembelajaran dapat menjadi ”kurang tematis”, karena aliran
temanya terpenggal oleh pergantian jam
- Terjadinya tumpang tindih dan pengulangan materi dan
kegiatan
- Semuanya kerugian itu akan berdampak pada kurang
perhatian dan minat siswa terhadap pembelajaran.

Yang utama dalam pembelajaran tematik adalah ”siswa belajar atau


melakukan kegiatan apa” bukan ”siswa belajar mata pelajaran apa”

KARAKTERISTIK BUKU TEMATIK GRASINDO

• POLA PEMBELAJARAN
1. Bagaimanakah pola pembelajaran berdasarkan buku Tematik
Grasindo?
Pola pembelajaran buku tematik Grasindo mengacu kepada model
yang diberikan oleh Pusat Kurikulum Departemen Pendidikan
nasional, yaitu kegiatan pembukaabn, kegiatan inti, dan kegiatan
penutup dengan penjelasan sebagai berikut:
1. Kegiatan Pembukaan
Kegiatan ini dilakukan terutama untuk menciptakan suasana awal
pembelajaran dan mendorong siswa memusatkan perhatian
untuk mengikuti pembelajaran. Kegiatan pembukaan dapat
berfungsi sebagai apersepsi, atau untuk mencapai kompetensi
tertentu, khususnya mata pelajaran Seni Budaya dan
keterampilan, serta Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan.
Kegiatan pembukaan antara lain: menyanyi, bermain, melakukan
dialog, mendengarkan cerita, bercerita, dan mengamati gambar.

2. Kegiatan Inti
Kegiatan ini bertujuan untuk mencapai kompetensi dasar yang
ditetapkan Standar isi tahun 2006 khususnya untuk mata
pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan, Bahasa Indonesia,
Matematika, Ilmu Pengetahuan Alam, dan Ilmu Pengetahuan
Sosial. Setiap kegiatan dapat dipergunakan untuk mencapai
kompetensi beberapa mata pelajaran sekaligus, sehingga tidak
disebutkan mata pelajarannya. Sedangkan pencapaian
kompetensi mata pelajaran lainnya, khususnya Pendidikan
jasmani, olah raga dan kesehatan dan Kesehatan, serta Seni
Budaya dan Ketrampilan (SBK) dilakukan melalui kegiatan
pembukaan atau kegiatan penutup.

3. Kegiatan Penutup
Kegiatan penutup dimaksudkan untuk penenangan, sehingga
sebagian besar kegiatannya adalah mendengarkan ceritera,
menyanyikan lagu, dan bermain (kegiatan jasmani). Walaupun
dimaksudkan sebagai penenangan, namun juga dapat digunakan
untuk mencapai kompetensi tertentu, khususnya mata pelajaran
Seni Budaya dan keterampilan, serta Pendidikan Jasmani,
Olahraga, dan pengembangan nilai-nilai.

Dengan pola tersebut maka pembelajaran tematik dengan buku


Grasindo tidak menggunakan jadwal mata pelajaran.

2. Apakah dengan buku yang sudah disusun “matang” tersebut


tidak membatasi kreativitas guru?
Satuan kegiatan harian yang meliputi kegiatan pembukaan,
kegiatan inti, dan kegiatan penutup dimaksudkan agar
pembelajaran sungguh-sungguh tematik. Sebuah proses
pembelajaran yang mengalir. Dengan model tersebut memang akan
menimbulkan kesan kaku dan membatasi. Tetapi hal ini tidak berarti
guru menjadi terbatas ruang geraknya untuk berkreasi. Masih ada
banyak peluang berkreasi, misalnya:
- Mengganti sumber belajar dalam buku yang dalam bentuk
gambar menjadi benda konkrit.
- Mendeskripsikan gambar dalam buku yang semakin sesuai
dengan konteks anak.
- Menambah contoh yang ada dalam buku
- Mengganti ceritera yang lebih sesuai
Jika guru dapat melaksanakan berbagai kreativitas tersebut
pembelajaran sungguh-sunguh menyenangkan dan kontekstual.

• TEMA
1. Apa saja tema-tema buku Tematik Grasindo?
Tema dan alokasi waktu setiap kelasnya adalah sebagai berikut:
NO WAKTU KELAS 1 KELAS 2 KELAS 3
1. 4 minggu Diri Sendiri Lingkungan Rumah Lingkungan
2 4 minggu Keluarga Lingkungan Sekolah Menyayangi Makhluk
Hidup
3. 4 Minggu Lingkungan Pengalaman Pengalaman
4. 5 minggu Kebersihan dan Hewan dan tumbuhan Kegiatan sehari-hari
kesehatan
5. 5 minggu Pengalaman Acara keluarga Tekhnologi
6. 4 minggu Eenergi Kegiatan sehari-hari Hidup hemat
7. 4 minggu Tempat Umum Tempat Umum Peristiwa Alam
8. 4 minggu Peristiwa Peristiwa Peduli Lingkungan
Jumlah alokasi waktu = 34 minggu
2. Apakah memang benar kita dapat membatasi, bahkan
menyeragamkan alokasi waktu setiap tema?
Pembelajaran tematik adalah suatu strategi pembelajaran,
sedangkan tema adalah alat yang digunakan. Tema bukan materi
pembelajaran. Tema juga bukan tujuan pembelajaran. Tujuan
pembelajarannya tetap kompetensi sebagaimana ditetapkan dalam
Standar Isi 2006. Dengan demikian acuan utamanya adalah
kompetensi yang mau dicapai. Seluas dan sedalam apa tema mau
dieksplorasi tergantung dari tujuan pembelajaran yang mau dicapai.
Maka guru dapat menentukan keluasan dan kedalaman suatu tema.
Oleh karena itu guru juga dapat menentukan alokasi waktu setiap
tema. Gurulah yang mengatur tema, bukan tema yang mengatur
guru

3. Bagaimanakah kalau dinas pendidikan mengarahkan


menggunakan tema tertentu?
Kita harus mendengarkan dan menghargai pengarahan dari dinas
pendidikan.
Apabila tema-tema yang diarahkan tidak sesuai dengan tema-tema
yang terdapat dalam buku Grasindo, maka kita dapat menyikapi
sebagai berikut:
- Tunjukkan bahwa dalam buku Grasindo memuat seluruh tema
yang dimaksudkan oleh dinas. Hanya saja tema-tema tersebut
tidak menjadi judul buku.
- Pembelajaran menjadi tematis bukan hanya terletak pada nama
atau judul tema. Tetapi pada proses pembelajaran.
- Dalam situasi tertentu, maka kita harus dapat meyakinkan bahwa
seluruh kompetensi yang dituntut oleh Standar Isi 2006 semua
terpenuhi. Dengan KTSP maka penentuan tema merupakan
kewenangan sekolah.

• SATUAN BUKU
1. Bagaimanakah satuan buku tematik Grasindo?
Sesuai dengan langkah-langkah penyusunan buku, maka satuan
buku tematik dibuat sebagai berikut:
- Satu buku berisi pembelajaran tematik satu tema. Judul buku
disesuaikan dengan tema, sehingga banyaknya buku sama
dengan banyaknya tema. Satu buku dipergunakan untuk 4
minggu, kecuali untuk tema ke empat (D) dan ke lima (E).
- Satu buku terdiri dari 4 sub tema, kecuali buku D dan E. Setiap
sub tema disertai dengan jaringan sub tema, sehingga pemakai
buku dapat mengetahui mata pelajaran dan indikator yang
dilaksanakan pada minggu tersebut. Jaringan sub tema tersebut
dapat dipergunakan untuk membuat jadwal pelajaran mingguan.
- Satu sub tema terdiri dari 5 satuan kegiatan pembelajaran. Setiap
satuan kegiatan pembelajaran dilaksanakan untuk satu hari
kegiatan pembelajaran dengan alokasi waktu 5 x 35 menit.

2. Bagaimanakah penggunaan buku tersebut?


Setiap satuan kegiatan harian disusun dengan menggunakan pola
yang sama, yaitu kegiatan pembukaan, kegiatan inti dan kegiatan
penutup

1. Kegiatan Pembukaan
Kegiatan ini dilakukan terutama untuk menciptakan suasana awal
pembelajaran dan mendorong siswa memusatkan perhatian
untuk mengikuti pembelajaran. Kegiatan pembukaan dapat
berfungsi sebagai apersepsi, atau untuk mencapai kompetensi
tertentu, khususnya mata pelajaran Seni Budaya dan
keterampilan, serta Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan.
Kegiatan pembukaan antara lain: menyanyi, bermain, melakukan
dialog, mendengarkan cerita, bercerita, dan mengamati gambar.

2. Kegiatan Inti
Kegiatan ini bertujuan untuk mencapai kompetensi dasar yang
ditetapkan Standar isi tahun 2006 khususnya untuk mata
pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan, Bahasa Indonesia,
Matematika, Ilmu Pengetahuan Alam, dan Ilmu Pengetahuan
Sosial. Setiap kegiatan dapat dipergunakan untuk mencapai
kompetensi beberapa mata pelajaran sekaligus, sehingga tidak
disebutkan mata pelajarannya. Sedangkan pencapaian
kompetensi mata pelajaran lainnya, khususnya Pendidikan
jasmani, olah raga dan kesehatan dan Kesehatan, serta Seni
Budaya dan Ketrampilan (SBK) dilakukan melalui kegiatan
pembukaan atau kegiatan penutup.

3. Kegiatan Penutup
Kegiatan penutup dimaksudkan untuk penenangan, sehingga
sebagian besar kegiatannya adalah mendengarkan ceritera,
menyanyikan lagu, dan bermain (kegiatan jasmani). Walaupun
dimaksudkan sebagai penenangan, namun juga dapat digunakan
untuk mencapai kompetensi tertentu, khususnya mata pelajaran
Seni Budaya dan keterampilan, serta Pendidikan Jasmani,
Olahraga, dan pengembangan nilai-nilai.

• FILOSOFI PEMBELAJARAN KONSTRUKTIVISME


1. Apakah sesungguhnya yang melandasi Penerbit
Grasindo sehingga menerbitkan buku tematik yang
seperti LKS di mana sangat minim paparan materinya?
Filosofi buku pembelajaran tematik Grasindo merupakan perpaduan
antara aliran progresivisme, konstruktivisme, dan humanisme,
sesuai dengan landasan filosofis pembelajaran tematik yang
diterbitkan oleh Pusat Kurikulum Departemen Pendidikan Nasional
tahun 2006.
Aliran progresivisme memandang proses pembelajaran perlu
ditekankan pada pembentukan kreativitas, pemberian sejumlah
kegiatan, suasana yang alamiah, dan memperhatikan pengalaman
siswa.
Keterpaduan ketiga aliran tersebut tampak pada beberapa hal
berikut:

1. Satuan pembelajaran harian terdiri dari serangkaian kegiatan


siswa, bukan kegiatan guru, bukan pula sub pokok bahasan. Hal
ini sesuai dengan pendekatan pembelajaran modern yang lebih
banyak menempatkan siswa sebagai subyek belajar, sedangkan
guru lebih banyak berperan sebagai fasilitator yaitu memberikan
kemudahan-kemudahan kepada siswa untuk melakukan aktivitas
belajar.
2. Rumusan kegiatan menggunakan kata kerja yang mencerminkan
hasil yang diharapkan dan yang dapat diamati hasilnya Dengan
rumusan tersebut guru akan mudah memantau kualitas proses
pembelajaran dan hasilnya.
3. Kegiatannya bersifat konstruktif yang memungkinkan siswa
membangun pengetahuannya sendiri, bukan kegiatan yang
bersifat mentransfer pengetahuan dari guru kepada siswa.
Kegiatannya sangat variatif dan kreatif yang memungkinkan
lahirnya peneliti-peneliti kecil.
4. Uraian pada setiap kegiatan tidak dimaksudkan sebagai materi
pembelajaran yang harus ”dihafal” atau ditirukan siswa,
melainkan sumber belajar yang membuat siswa memperoleh
pengalaman.
Penekanan pembelajaran tematik bukan banyaknya fakta dan
konsep yang diketahui oleh siswa, melainkan tahu cara
mempelajari sesuatu. Siswa belajar tentang bagaimana cara
belajar.

5. Sebagian besar kegiatan siswa dituntut untuk melakukan,


sehingga hasil belajarnya dapat lebih maksimal, sesuai dengan
kerucut pengalaman berikut ini:

(Peter Sheal, 1989)


6. Siswa diberi kesempatan untuk mengekpresikan atau
mengkomunikasikan gagasannya dalam kotak ’Sekarang Aku Tahu’
sehingga siswa dirangsang untuk berpikir secara produktif. Dalam hal
ini peran guru betul-betul sebagai fasilitator, motivator, dan mentor
yang perannya dapat dianalogikan sebagai tukang kebun.

10 %

Pe ran
20 %

30 %
2. Apakah filosofi konstruktivisme itu?
Aliran konstruktivisme memandang bahwa pengetahuan adalah
hasil konstruksi atau bentukan manusia. Manusia mengkonstruksi
pengetahuannya melalui interaksi dengan obyek, fenomena,
pengalaman dan lingkungannya. Pengetahuan tidak dapat
ditransfer begitu saja dari seorang guru kepada siswa, tetapi harus

50 %
diinterprestasikan sendiri oleh masing-masing siswa. Pengetahuan
bukan sesuatu yang sudah jadi, melainkan suatu proses yang
berkembang terus menerus.

3. Apakah konstruktivisme sesuai dengan tuntutan Standar Isi


2006?
Dengan menggunakan istilah Standar Kompetensi dan
Kompetensi Dasar maka Standar Isi 2006 adalah berbasis
kompetensi, bukan berbasis materi. Perbedaan dasar antara
kurikulum berbasis materi dengan berbasis kompetensi terletak
pada tujuan yang mau dicapai. Dalam kurikulum berbasis
kompetensi penekannya pada sejumlah kemampuan, bukan hanya
penguasaan materi. Contoh: dalam kurikulum berbasis kompetensi
siswa tidak hanya dituntut dapat menyebutkan ciri-ciri binatang
menyusui, tetapi siswa dapat menentukan ciri-ciri binatang
menyusui. Ciri-ciri binatang menyusui tidak diajarkan oleh guru,
tetapi guru menyiapkan sejumlah kegiatan dan sumber belajar yang
membuat siswa dapat menentukan sendiri ciri-ciri binatang
menyusui. Siswa ”mengkonstruksikan” sendiri ciri-ciri binatang
menyusui. Jelaslah bahwa filosofi yang mendasari Standar Isi 2006
adalah konstruktivisme.

4. Di mana letak konstruktivismenya dalam buku Tematik


Grasindo?
Konstruktivisme dalam buku tematik Grasindo tampak dalam
beberapa hal berikut:
 Banyaknya gambar pada buku tematik Grasindo. Gambar
tersebut tidak dimaksudkan sebagai ilustrasi, tetapi sebagai
sumber belajar. Idealnya siswa belajar dari benda konkrit,
namun menyadari keterbatasan untuk menghadirkan benda
konkrit ke dalam ruang kelas, maka dipakai alternatif ke dua,
yaitu dengan menyediakan gambar.
 Buku tematik Grasindo tidak beriisi paparan materi, tetapi
langkah-langkah kegiatan yang konstruktif. Dengan
menggunakan buku tersebut, maka dalam pembelajaran tidak
terjadi penghafalan materi.
 Satuan buku berupa tema. Tema bukan hanya sekedar judul
buku, tetapi ada kesatuan utuh dari awal sampai akhir, sehingga
buku tersebut betul-betul tematis, sehingga memudahkan siswa
mengkostruksikan pengetahuannya.
 Sumber belajar yang dipergunakan sangat relevan dengan
kehidupan siswa setiap harinya. Selain bersifat konstruktivisme
buku tersebut juga sangat kontekstual.

5. Bagaimanakah sikap guru yang sesuai dengan filosofi


konstruktivme?
 Guru sebaiknya dapat mendeskripsikan gambar yang tersedia
disesuaikan dengan kondisi lingkungan siswa, sehingga
pembelajaran menjadi semakin kontekstual.
 Guru terbuka terhadap seluruh jawaban siswa. Dalam proses
pembelajaran guru tidak boleh menyalahkan jawaban siswa.
Setiap jawaban siswa harus dipahami sebagai jawaban siswa
yang paling masuk akal bagi siswa saat itu. Guru dapat
membimbing anak dengan menunjukkan cara berpikir yang
benar, sehingga siswa dapat menemukan kesalahannya sendiri.
 Guru tidak boleh cepat membantu siswa, apakagi siswa sedang
menunjukkan kesungguhannya dengan kemampuannya untuk
memecahkan permasalahan.
 Pada setiap akhir kegiatan guru dapat membimbing siswa untuk
bersama-sama merumuskan hasil pembelajarannya. Harus
diupayakan rumusan hasil pembelajaran adalah hasil proses
pembelajaran, sehingga sejalan dengan proses konstruksi pada
siswa.
• LIVING VALUES
1. Apakah Buku tematik Grasindo ada muatan Living Values (LV)?
Dengan mendasarkan diri pada filosofi konstruktivisme jelaslah
bahwa buku tematik Grasindo sarat dengan Living Value. LV
sesungguhnya bukan terletak pada nilai apa yang diajarkan, tetapi
lebih-lebih pada sikap guru yang memungkinkan siswa tumbuh
berkembang sesuai dengan talenta yang dimilikinya. Untuk dapat
berkembang semua anak membutuhkan rasa AMAN, BERNILAI,
DIHARGAI, DIPAHAMI, DAN DICINTAI. Kebutuhan dasar setiap
manusia hanya terpenuhi dalam pembelajaran dengan filosofi
konstruktivisme.
Syumber belajar yang disediakan dalam buku tersebut siswa juga
dimungkinkan untuk mengembangkan berbagai nilai.

2. Nilai-nilai apa yang dikembangkan dalam Buku Tematik


Grasindo?
Selain memungkinkan siswa terpenuhi kebutuhan dasarnya, yaitu
rasa aman, bernilai, dihargai, dipahami, dan dicintai; buku tematik
Grasindo juga kaya dengan pengembangan nilai. Pengembangan
nilai tersebut tampak pada: wacana, soal latihan, cerita, nyanyian,
maupun secara khusus pada pesan moral.
Nilai yang cukup ditekankan dalam buku tersebut adalah:
kerjasama, tanggungjawab, peduli terhadap sesama, peduli
terhadap alam sekitar (kebersihan, kesehatan, kelestarian alam),
kerukunan, memaafkan, rendah hati, jujur, hormat pada orangtua
dan guru dan lain-lain.

KOMPETENSI SISWA
1. Apakah buku Tematik Grasindo sesuai dengan tuntutan
Standar Isi 2006?
Kompetensi buku tematik yang diterbitkan oleh PT Grasindo
mengacu kepada Standar Isi dan Kompetensi 2006. Untuk dapat
memastikan buku tematik mengacu kepada Standar Isi 2006 dapat
dirunut dari langkah-langkah penyusunan buku.
Langkah-langkah penyusunan buku tematik:
1. Merumuskan indikator semua kompetensi dasar Standar Isi 2006.
2. Membuat pemetaan kompetensi dasar
Cara pembuatan pemetaan kompetensi dasar sebagai berikut:
Pertama: Memilih tema yang akan digunakan dan sekaligus
menentukan alokasi waktunya.
Kedua : Mendistribusikan seluruh indikator ke dalam tema-tema.
Semua indikator dibagi sampai habis ke dalam
semua tema.
Tujuan dari pemetaan kompetensi dasar adalah untuk
memperoleh gambaran secara menyeluruh dan utuh standar
kompetensi, kompetensi dasar dan indikator dari berbagai mata
pelajaran yang dipadukan dalam tema yang dipilih.
Mengingat dalam pemetaan kompetensi dasar sudah ditentukan
alokasi waktunya, termasuk waktu pelaksanaan, maka pemetaan
kompetensi dasar dapat berlaku sekaligus sebagai program
semester.

3. Membuat jaringan tema


Indikator setiap mata pelajaran dikelompokkan menurut
temanya. Kelompok indikator tersebut dihubungkan dengan tema
dengan membuat garis penghubung sehingga membentuk
jaringan. Dengan jaringan tema ini akan terlihat kaitan antara
tema, kompetensi dasar, dan indikator dari setiap mata
pelajaran.
4. Membuat jaringan sub tema
Mengingat satu tema dilaksanakan untuk 4-5 minggu, maka
jaringan tema dikembangkan lagi ke dalam jaringan sub tema.
Jaringan sub tema ini beriisi mata pelajaran, indikator dan judul
sub tema untuk satu minggu.

5. Penyusunan Silabus
Hasil seluruh proses yang telah dilakukan pada tahap-tahap
sebelumnya dijadikan dasar dalam penyusunan silabus. Setiap
sub tema dibuatkan satu silabus. Komponen silabus terdiri dari
mata pelajaran, kompetensi dasar, indikator, kegiatan belajar,
penilaian dan sumber belajar.

6. Penyusunan satuan kegiatan harian


Penyusunan satuan kegiatan harian dimulai dengan membuat
skenario atau alur cerita pada suatu tema agar proses
pembelajaran sungguh tematis.

2. Apakah siswa tidak mengalami kesulitan mengikuti


pembelajaran di kelas berikutnya, karena dalam buku
Tematik Grasindo tidak disebut mata pelajarannya?
 Apabila kelas berikutnya mengacu kepada Standar Isi 2006, tidak
ada masalah bagi siswa untuk mengikuti kelas berikutnya, karena
acuan buku tematik juga Standar Isi 2006.
 Mengapa hal ini mesti ditanyakan? Apakah karena buku tematik
memberi kesan ringan?

3. Apakah yang diperoleh siswa dengan buku Tematik


Grasindo, karena dalam buku Tematik Grasindo kurang
paparan materinya?
 Ingat kembali mengenai filosofi konstruktivisme dan tuntutan
Standar Isi 2006.
 Ingat pula perbedaan antara Kurikulum Berbasis Kompetensi
dengan Kurikulum Berbasis Materi
Dua hal itulah yang menyebabkan buku tematik Grasindo kurang
paparan materinya, melainkan kaya akan kegiatan kreatif yang
membuat siswa dapat membangun pengetahuan sekaligus
kompetensinya. Dalam buku tersebut tidak ada uraian mengenai
ciri-ciri makluk hidup, tetapi ada kegiatan yang membuat siswa
dapat menentukan sendiri ciri-ciri makluk hidup. Siswa benar-benar
untuk hidup, bukan hidup untuk belajar.

4. Mengapa buku Tematik Grasindo seperti LKS?


Buku tematik Grasindo memang seperti LKS, dalam arti Lembar
Kegiatan Siswa, karena pada dasarnya siswa adalah subyek belajar.
Belajar sesuai dengan filosofi konstruktuvisme dan menurut
berbagai aliran modern tentang belajar selalu dimaknai kegiatan
aktif siswa. Belajar berarti melakukan kegiatan. Siswa belajar
dengan melakukan. Guru bukan lagi sebagai pengajar. Guru adalah
motivator, fasilitator, dan mentor. Bukupun bukan berisi bahan
pelajaran, tetapi sebagai sumber belajar. Buku yang membuat siswa
belajar. Oleh karena itu buku tematik Grasindo seperti LKS.
Dengan buku tersebut guru akan dipermudah untuk menjadi
falitator siswa belajar.

JADWAL
1. Bagaimanakah jadwal kegiatan pembelajaran di sekolah, jika
mengunakan buku Tematik Grasindo?
Untuk pembelajaran tematik pihak sekolah cukup memberikan
jadwal kapan siswa masuk, istirahat dan pulang. Tidak perlu ada
jadwal mata pelajaran. Sama persis dengan Taman Kanak-kanak.
2. Bagaimanakah dengan mata pelajaran yang tidak
dilaksanakan secara tematik?
Sekolah yang menggunakan pola 5 hari sekolah dapat
menambahkan kegiatan pembelajaran sesuai dengan mata
pelajarannya, jika perlu menghilangkan kegiatan penutup. Namun
mengingat satuan kegiatan harian buku ini dirancang untuk waktu
5 x 35 menit, sementara kegiatan pembelajaran sekolah dengan
pola 5 hari belajar pasti lebih dari 5 x 35 menit, maka tidak perlu
menghilangkan kegiatan penutup. Pelajaran non tematik dapat
ditambahkan sebelum kegiatan penutup dan dapat menggunakan
jadwal yang permanen.

3. Bagaimanakah sekolah yang menggunakan pola 6 hari


sekolah?
Mengingat buku tematik ini tidak mencakup mata pelajaran
Pendidikan Agama dan muatan lokal, maka sekolah dapat
melaksanakan mata pelajaran Pendidikan Agama dan muatan
lokal pada hari tersendiri, dan sebaiknya tetap ada kegiatan
pembuka dan penutup. Untuk sekolah yang paralel sebaiknya
pelaksanaan mata pelajaran yang non tematik dilaksanakan
pada hari yang berbeda, agar kegiatan pembuka dan penutup
pembelajaran tematik yang sering memerlukan tempat terbuka
tidak mengalami masalah.

4. Apakah sekolah dapat menggunakan jadwal mata


pelajaran ?
Pada bagian depan telah di bahas.
Menjawab pertanyaan ini perlu ditanyakan balik: Mengapa dalam
pembelajaran harus dengan jadwal? Pencapaian kompetensi sesuai
dengan tuntutan Standar Isi 2006 merupakan tujuan siswa belajar.
Maka yang harus menjadi prioritas adalah bagaimana kompetensi
tersebut dapat tercapai. Tidak terlalu penting bagi anak untuk
mengetahui mata pelajaran apa yang sedang dipelajari. Apalagi
siswa sungguh ditempatkan sebagai subyek belajar, maka
kepentingan siswa harus lebih diprioritaskan, termasuk
memperhatikan karakteristik perkembangan jiwa dan cara siswa
belajar.
Keuntungan penggunaan jadwal mata pelajaran adalah:
- Siswa dan orangtua akan mudah menyiapkan buku catatan
- Sekolah yang menggunakan sistem guru mata pelajaran akan
mudah mengatur pembagian tugas guru.
Kerugian penggunaan jadwal mata pelajaran untuk pembelajaran
tematik:
- Guru kurang leluasa mengatur waktu
- Kegiatan pembuka dan penutup kemungkinan besar akan
dihilangkan, karena tidak dapat secara tegas dapat
dimasukkan pada mata pelajaran tertentu.
- Pembelajaran dapat menjadi ”kurang tematis”, karena aliran
temanya terpenggal oleh pergantian jam
- Terjadinya tumpang tindih dan pengulangan materi dan
kegiatan
- Semuanya kerugian itu akan berdampak pada kurang
perhatian dan minat siswa terhadap pembelajaran.

Yang utama dalam pembelajaran tematik adalah ”siswa belajar atau


melakukan kegiatan apa” bukan ”siswa belajar mata pelajaran apa”

5. Bagaimanakah dengan waktu istirahat?


Sekali lagi, yang perlu dibuat jadwal adalah jadwal masuk, istirahat
dan pulang. Maka waktu istirahat mengikuti jadwal. Tidak terikat
pada kegiatan.
PENGATURAN WAKTU
1. Bagaimanakah pengaturan waktu pembelajaran menurut
buku tematik Grasindo?
 Waktu effektif belajar setiap sekolah rata-rata 38 – 40 minggu
per tahun atau 19-20 mingu per semester.
 Buku Grasindo dialokasikan 17 minggu per semester atau 34
minggu dalam satu tahun.
 Guru masih memiliki sisa waktu effektif 2 – 3 minggu per
semester. Waktu itu dapat dipergunakan ulangan dan
pengayaan

PENILAIAN
1. Bagaimanakah pelaksanaan penilaian, apakah berdasarkan
tema atau mata pelajaran?
 Penilaian pembelajaran tematik tetap menurut mata
pelajarannya, dan sebaiknya disesuaikan dengan temanya.
Namun apabila suatu mata pelajaran tertentu cakupan
materinya masih sedikit dapat dilakukan penilaian setelah
dua tema atau lebih.

2. Kapan pelaksanaan Ulangan Harian? Apakah nanti tidak


menggeser pola buku?
Waktu ulangan harian dapat diadakan pada hari biasa atau hari
khusus.
 Ulangan pada hari biasa.
Ulangan harian dapat diadakan pada hari biasa dengan cara
menghilangkan kegiatan penutup. Kegiatan penutup yang
dapat dihilangkan adalah mendengarkan dongeng dan
bernyanyi.
 Ulangan pada hari tertentu
Ulangan har tertentu dengan memanfaatkan waktu cadangan.
Dalam satu hari itu dapat diadakan ulangan harian beberapa
mata pelajaran. Sebaiknya kegiatan hari ulangan itu tetap
ada kegiatan pembuka dan penutup, baik daalam bentuk
nyanyian maupun mendengarkan dongeng.

KENAIKAN KELAS
1. Bagaimanakah kriteria kenaikan kelas 1 – 3?
Pada prinsip umum penilaian butir ke dua dinyatakan bahwa
kemampuan siswa dalam membaca, menulis dan berhitung
merupakan prasyarat dalam kenaikan kelas.
Sesuai dengan prinsip umum tersebut maka kriteria kenaikan kelas
1 – 3 SD ditambah satu lagi, yaitu nilai bahasa Indonesia dan
Matematika minimal sama dengan KKM. sedangkan kriteria lainnya
sama dengan kriteria kenaikan kelas 4 – 6 SD.
Dimungkinkan pula siswa dapat naik kelas apabila nilai bahasa
Indonesia dan Matematika sudah mencapai KKM, meskipun ada 1
atau 2 kriteria lain tidak terpenuhi.

PENDAMPINGAN ORANGTUA
1. Bagaimanakah orangtua dapat mendampingi belajar
anaknya di rumah?
 Apabila ada PR pendampingan orangtua sudah memadai bila
mendampingi dalam mengerjakan PR dan mempersiapkan
perlengkapan belajar untuk hari berikutnya. Berilah
kesempatan kepada anak untuk bermain, karena dunia anak
memang dunia bermain.
 Apabila tidak ada PR orangtua dapat meminta kepada
anaknya untuk mengulangi lagi kegiatan-kegiatan yang pada
hari sebelumnya atau mencoba kegiatan hari berikutnya.
Tekankan orangtua tidak perlu berpikir tentang nama mata
pelajarannya.

2. Bagaimanakah orangtua dapat membantu mempersiapkan


anaknya ke sekolah?
 Pihak sekolah mestinya membuatkan agenda harian siswa
 Dalam agenda tersebut siswa menuliskan nama mata
pelajaran dan kegiatannya.
 Dalam agenda tersebut juga dituliskan PR atau tugas.

3. Bagaimaakah menyikapi keluhan orangtua bahwa


pembelajaran tematik terkesan ringan, kurang berbobot?
 Tidak ada cara lain kecuali perlunya sosialisasi
pembelajaran tematik kepada orangtua. Sosialisasi bukan
hanya untuk menyikapi keluhan orangtua.

4. Apa saja yang harus disosialisasikan kepada orangtua?


Beberapa hal ang dapat menjadi materi sosialisasi kepada orangtua:
 Ciri-ciri dan cara belajar anak
 Belajar tidak sama dengan menghafalkan pelajaran.
Siswa belajar tentang cara belajar untuk hidup.
 Penekanan kelas 1-3 adalah kemampuan bahasa dan
matematika serta cara belajar. Maka kenaikan kelaspun
mata pelajaran Bhs Indonesia dan Matematika menjadi
kriteria utama.
 Walaupun tidak disusun berdasarkan mata pelajaran,
tetapi isi buku memuat seluruh tuntutan Standar Isi. Bila
perlu sampaikan proses persiapan pembelajaran tematik.
Apakah semua guru memahami proses mempersiapkan
pembelajaran tematik?
 Apabila kelas IV mengikuti Standar Isi 2006, maka tidak
ada alasan siswa tidak dapat mengikuti pembelajaran di
kelas IV.
 Materi ujian akhir diambil dari kelas IV-VI.
 Pembelajaran yang menyenangkan

KESULITAN TEKNIS
1. Bagaimana caranya menghadapi situasi kekurangan materi.
Semua tugas sudah dikerjakan oleh siswa, sementara waktu
masih cukup banyak?
Ada beberapa kemungkinan yang dapat dilakukan guru:
 Guru jangan terburu-buru meminta siswa mengerjakan kegiatan
yang ada dalam buku. Deskripsikan dulu gambar, cerita, tugas
sehingga siswa masuk dalam konteksnya.
 Penguasaan kompetensi siswa akan diperkuat ketika dia
“mengatakan” baik ketika ditanya (guru/siswa) atau bercerita.
 Pencermatan hasil pekerjaan siswa bukan terletak pada betul
atau salah, tetapi jalan pikirnya.
 Guru dapat mengembangkan dengan kegiatan sejenis yang
sesuai dengan konteks
 Guru dapat mengembangkan cerita atau pesan moral sesuai
dengan kebutuhan setempat.

2. Bagaimana caranya menghadapi situasi kekurangan waktu?


Waktu pembelajaran tidak cukup untuk megerjaan semua
kegiatan yang ada pada buku? Apakah hal ini tidak akan
berakibat pada bergesernya waktu pembelajaran, sehingga
pola pembelajaran yang direncanaka dalam buku tidak
dapat dilaksanakan?
Guru dapat melakukan beberapa alternatif dengan skala prioritas
sebagai berikut:
 Meniadakan kegiatan penutup: dongeng dan pesan
moral.
 Mengurangi jumlah latihan pada setiap kegiatan.
Misalnya: siswa diminta mengerjakan 5 latihan dari 10 latihan
yang ada.
 Kegiatan tertentu dijadikan PR pada hari sebelumnya.
 Kegiatan tertentu dijadikan PR pada hari berikutnya

Anda mungkin juga menyukai