Anda di halaman 1dari 38

1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Menurut Bintarto (1981) geografi merupakan ilmu yang mempelajari
gejala-gejala di permukaan bumi, baik yang berasal dari proses fisik maupun yang
berkaitan dengan makhluk hidup dan permasalahan-permasalahan yang dapat
terjadi. Geografi memiliki tiga pendekatan yaitu, pendekatan keruangan,
ekologikal dan regional. Selain itu ilmu geografi juga memiliki dua macam objek
yaitu objek material dan objek spasial. Objek material meliputi geosfer, litosfer,
atmosfer, hidrosfer, biosfer, pedosfer,dan antroposfer. Objek fofmal meliputi tiga
pendekatan geografi. Airtanah merupakan salah satu aspek fisik dari objek
material dari geografi.
Air sangat mempengaruhi kehidupan manusia. Tanpa air manusia tidak
dapat hidup. Airtanah merupakan sumberdaya air yang sangat potensial serta
merupakan sumber air untuk memenuhi kebutuhan manusia, baik kebutuhan
rumah tangga, kebutuhan irigasi, maupun untuk kebutuhan industri (Darmanto,
1984).
Airtanah (groundwater) adalah air yang mengisi rongga-rongga batuan
pada zona jenuh air, dengan tekanan hidrostatis sama atau lebih besar daripada
tekanan udara. Sehingga pada zona jenuh air tersebut air mengisi semua celah
batuan (Todd, 1980). Sumber utama airtanah adalah air hujan yang jatuh ke
permukaan bumi, dimana sebagian air hujan akan terinfiltrasi ke dalam tanah.
Dari keseluruhan air tawar yang berada di bumi, lebih dari 97 % terdiri atas
airtanah (Asdak, 1995).
Ketersediaan airtanah di suatu daerah dapat dilihat berdasarkan perlapisan
batuan yang menyusun akuifer. Akuifer adalah suatu formasi batuan dengan
material yang permeabel sehingga dapat menyimpan dan meloloskan air dalam
jumlah yang cukup (Todd, 1980). Perlapisan akuifer tidak dapat dilihat dari
permukaan namun dapat dilakukan dengan pendugaan geofisika. Metode
geofisika merupakan suatu metode yang digunakan untuk mempelajari tentang
bumi yang berada pada permukaan atau di atas permukaan bumi dengan
menggunakan parameter-parameter fisika (Dobrin dan Savit, 1988 dalam Broto
dan Afifah, 2008). Salah satu metode geofisika tersebut adalah geolistrik. Metode
geolistrik memanfaatkan arus listrik yang dihantarkan ke dalam tanah (Santosa
dan Adji, 2004). Berdasarkan hasil geolistrik maka akan diperoleh nilai hambat
jenis (resistivity) dari tiap material yang dialiri oleh arus listrik. Nilai tahanan jenis
batuan dapat diartikan sebagai suatu hambatan dalam satuan ohm-meter (Todd,
1980).
Berdasarkan nilai resistivity batuannya dapat ditentukan material tersebut
dapat menyimpan air atau tidak berdasarkan stratigrafinya. Berdasarkan stratigrafi
dari batuan maka dapat memberikan informasi mengenai susunan akuifer.
Berdasarkan pendugaan geolistrik dengan metode Schlumberger maka akan
diperoleh suatu model hidrostratigrafi. Model hidrostratigrafi akan memuat
karakteristik akuifer yang ada di suatu daerah.
Kecamatan Sedayu, Kabupaten Bantul, Propinsi Daerah Istimewa
Yogyakarta dipilih sebagai daerah penelitian karena memiliki karakteristik proses
geomorfologi yang unik. Kecamatan ini tersusun dari empat proses bentuklahan
utama yaitu proses struktural, denudasional, fluvial, dan fluvio fulkanik
(Handoyoputro, 1999). Berdasarkan Peta Geologi lembar Yogyakarta skala
1:100.000 Tahun 1995 Kecamatan Sedayu terdiri atas Formasi Sentolo, Formasi
Endapan Gunungapi Merapi Muda, dan Aluvium. Proses bentuklahan dan formasi
geologi tersebut akan berpengaruh terhadap karakteristik akuifernya.

1.2 Perumusan Masalah


Kecamatan Sedayu, Kabupaten Bantul, Propinsi Daerah Istimewa
Yogyakarta terdiri atas bentuklahan dari Dataran Fluvio Merapi Muda dan
Perbukitan Formasi Sentolo, dan Daratan Fluvio Merapi Muda merupakan
bentuklahan yang dominan di daerah tersebut. Berdasarkan kondisi tersebut,
dirumuskan permasalahan penelitian sebagai berikut:
1) Bagaimana kondisi hidrostratigrafi dan karakteristik akuifer
di daerah penelitian?
3

2) Bagaimana ketersediaan airtanah di daerah penelitian?


Berdasarkan pemahaman dan kesadaran akan pentingnya informasi
kondisi akuifer, karakteristik akuifer, serta ketersediaan airtanah yang terdapat di
daerah penelitian, dicoba untuk mengetahui hidrostratigrafi dan ketersediaan airtanah
di Kecamatan Sedayu dengan penelitian yang berjudul: “Hidrostratigrafi dan
Ketersediaan Airtanah Bebas di Kecamatan Sedayu, Kabupaten Bantul, Daerah
Istimewa Yogyakarta”

1.3 Tujuan Penelitian


Tujuan yang akan dicapai dalam penelitian ini adalah :
1) Mengetahui kondisi hidrostratigrafi dan karakteristik akuifer di daerah
penelitian.
2) Menganalisis ketersediaan airtanah di daerah penelitian.

1.4 Kegunaan Penelitian


Penelitian yang akan dilakukan ini diharapkan dapat bermanfaat bagi ilmu
pengetahuan. Khususnya pada ilmu pengetahuan geografi lingkungan, tentang model
hidrostratigrafi dan ketersediaan airtanah. Selain itu, hasil penelitian ini dapat
digunakan untuk melakukan penelitian lebih lanjut mengenai airtanah serta dapat
sebagai masukan dan pertimbangan rencana penyusunan pemanfaatan airtanah.
Pertimbangan tersebut dapat diajukan pada instansi pemerintah setempat yang terkait
dalam upaya pengelolaan dan pengembangan sumberdaya airtanah di daerah
penelitian.

1.5. Tinjauan Pustaka


1.5.1 Tinjauan Teoritis
A. Akuifer dan Airtanah
Akuifer berkaitan dengan beberapa parameter. Hal yang berkaitan dengan
parameter akuifer yaitu meliputi airtanah, gerakan airtanah, fluktuasi muka
airtanah, specific yield, tebal akuifer, luas penampang akuifer, peta kontur
airtanah, dan arah aliran airtanah (Purnama, 2000).
Menurut Sosrodarsono dan Takeda (1977) airtanah adalah air yang
bergerak dalam tanah yang terdapat dalam ruang-ruang antara butir-butir tanah
yang membentuk itu dan di dalam retak-retak atau celah-celah dari batuan dari
batuan, dimana sebagian besar dari celah-celah batuan tersebut terisi oleh air dan
sebagian kecilnya terisi oleh udara. Airtanah tidak dijumpai di semua tempat
karena pada tempat satu dengan tempat yang lain memiliki kondisi batuan yang
berbeda sehingga keberadaan airtanah tergantung dari lapisan batuan yang dapat
menyimpan air yaitu akuifer. Akuifer merupakan suatu formasi batuan yang dapat
menyimpan dan melalukan air dalam jumlah yang banyak, seperti misalnya pasir
dan kerikil lepas yang dapat menyimpan dan melalukan air (Seyhan, 1990).
Pergerakan airtanah dapat dilihat berdasarkan gradien hidroliknyanya
sehingga airtanah akan mengalir kearah gradien tersebut. Gradien hidrolik arah
pergerakan airtanah dapat dilihat berdasarkan peta tinggi muka airtanah yang
memuat peta kontur muka airtanah (Sosrodarsono dan Takeda, 1977). Menurut
Lange, Ivanova, dan Lebedeva (1991) airtanah mengalir dengan pergerakan jauh
lebih lambat dibandingkan dengan air permukaan karena airtanah mengalir dalam
rongga-rongga batuan, dimana kecepatan gerakan airtanah rata-rata sebesar 0,5 -
1 m per hari.
Menurut Suyono (2004), berdasarkan kemampuan batuan dalam
menyimpan dan meloloskan air, dikenal adanya empat jenis formasi batuan yaitu:
1) Akuifer (aquifer)
Akuifer adalah lapisan batuan yang dapat menyimpan atau membawa air
serta dapat mengalirkannya dalam jumlah yang cukup berarti. Batuan dari
akuifer ini bersifat permeabel sehingga dapat ditembus oleh air, Contoh dari
akuifer adalah pasir, kerikil, batupasir yang retak-retak dan batu gamping
yang berlubang-lubang, lava yang retak-retak.
2) Akuiklud (aquiclude)
Akuiklud adalah lapisan batuan yang dapat menyimpan air, meskipun dapat
menyimpan air akan tetapi lapisan batuan ini tidak dapat meloloskan air
dalam jumlah yang berarti. Batuan ini bersifat impermeabel. Contohnya yaitu
lempung, serpih, tuf halus, dan lanau.
3) Akuitard (aquitard)
5

Akuitard adalah lapisan atau formasi batuan yang dapat menyimpan air tetapi
hanya dapat meloloskan air dalam jumlah terbatas. Contohnya yaitu pasir
lempungan, batupasir lempungan, lempung pasiran, juga tampak pada
rembesan atau kebocoran.
4) Akuifug (aquifuge)
Akuifug adalah lapisan atau formasi batuan yang tidak dapat menyimpan
maupun meloloskan air. Sifat batuan ini adalah impermeabel sehingga tidak
dapat ditembus oleh air. Contohnya adalah granit dan batuan yang kompak
dan padat.
Berdasarkan muka airtanahnya akuifer dibedakan menjadi dua yaitu
akuifer bebas (unconfined aquifer) dan akuifer tertekan (confined aquifer).
Akuifer bebas adalah akuifer yang terbentuk apabila tinggi muka airtanah (water
table) menjadi batas atas yang terletak pada lapisan tanah jenuh. Akuifer tertekan
atau biasa disebut dengan akuifer artesis. Akuifer artesis adalah akuifer yang
terbentuk apabila airtanah dibatasi oleh lapisan kedap air di bagian atas dan dan
mempunyai tekanan lebih besar dibandingkan dengan tekanan udara. Ilustrasi
mengenai akuifer bebas dan akuifer tertekan dapat dilihat pada Gambar 1.1.
Gambar tersebut juga menunjukan apabila dilakukan pengeboran sumur sampai
menembus akuifer tertekan, maka air akan memancar ke permukaan tanah.
(Asdak, 1995). Akuifer bebas biasanya memiliki kedalaman airtanah yang
dangkal yaitu kurang dari 40 meter. Tinggi permukaan aitanah dan kemiringannya
bervariasi, sedangkan fluktuasi muka airtanah berhubungan erat dengan volume
air dalam akuifer, sehingga apabila terjadi penurunan atau penambahan volume
airtanah maka akan terjadi fluktuasi. Pada akuifer bebas dapat ditemukan adanya
akuifer menggantung (perched aquifer), akuifer menggantung ini terjadi akibat
terpisahnya airtanah dari tubuh airtanah utama oleh suatu formasi batuan yang
kedap air (lapisan impermeabel) seperti pada batuan-bartuan endapan (Kodoatie,
1996).
Gambar 1.1. Akuifer bebas dan akuifer tertekan ( Soetrisno, 1999).

B. Hidrostratigrafi Akuifer
Menurut Katili (1959) stratigrafi adalah susunan pengendapan lapisan
sepanjang waktu. Batuan beku akan terpengaruh oleh kondisi lingkungan fisik
seperti iklim, selanjutnya batuan beku menjadi lapuk dan hancur dan sebagian
dapat larut dalam air. Prosesnya terdiri dari pelapukan, pengikisan, pengangkutan
dan pengendapan. Selama proses tersebut bahan yang lebih kasar dan lebih berat
akan diendapkan lebih dekat dengan tempat asalnya dibandingkan dengan bahan
yang lebih halus dan ringan. Perlapisan batuan dapat disebabkan oleh beberapa
sebab, yaitu:
1) Perubahan-perubahan dalam keadaan iklim (curah hujan akan
mempengaruhi proses pengendapan, pengikisan, pengangkutan dan
pengendapan batuan).
2) Perubahan dalam daya angkut air (berhubungan dengan curah hujan, arus
pasang, dan aliran angin), yang berpengaruh terhadap persebaran antara
endapan kasar dan yang lebih halus.
3) Perubahan tinggi muka airlaut. Jika tinggi muka airlaut naik, maka
keadaan seimbang tidak akan terjadi, sehingga pengendapan akan terjadi
lagi.
4) Pengaruh-pengaruh unsur-unsur kimia. Garam-garam dan suspensi koloid
akan menyebabkan perlapisan.
5) Gerak naik (pengangkatan) di daerah yang terdapat erosi. Pengangkatan
akan mempengaruhi pengikisan (erosi), daya angkut sungai-sungai yang
7

mengikis dan sifat batuan yang diendapkan.


6) Perlapisan karena jasad organik (Katili, 1959).
Cara yang digunakan untuk mengetahui perlapisan batuan yaitu dengan
metode geofisika. Salah satu dari metode geofisika yang digunakan untuk
mengetahui perlapisan batuan secara vertikal yang tidak dapat dilihat dari
permukaan bumi adalah geolistrik. Metode ini memanfaatkan sifat konduktivitas
listrik yang dimiliki oleh batuan sehingga berdasdarkan nilai hambat jenis yang
dimiliki oleh batuan maka dapat diketahui perbedaan lapisan batuannya (Zohdy,
1989 dalam Santosa dan Adji, 2006). Survei geolistrik adalah suatu metode
geofisika yang dapat digunakan untuk menduga kondisi di bawah permukaan pada
suatu wilayah. Dasar analisisnya yaitu dengan menginterpretasi nilai resistivity
(tanahan jenis) tiap perlapisan batuan setelah dengan alat geolistrik dialirkan arus
listrik menembus perlapisan bumi sampai pada kedalaman yang diinginkan.
Pengukuran akan dilakukan dengan konfigurasi schlumberger. Konfigurasi
Schlumberger menggunakan 4 elektroda, masing-masing 2 elektroda arus dan 2
elektroda potensial (Zubaidah dan Kanata 2008). Pola aliran arus pada pendugaan
geolistrik dapat dilihat pada Gambar 1.2. Pendugaan geolistrik konfigurasi
Schlumberger ini dilakukan untuk mengetahui lapisan-lapisan batuan kearah
vertikal. Kedalaman pendugaan mempunyai korelasi positif dengan jarak rentang
elektrodanya, sehingga semakin panjang rentangan elektrodanya maka akan
semakin dalam (secara vertikal) hasil perlapisan batuan yang akan diperoleh
(Santosa, 2008).
Berdasarkan perolehan nilai resistivity dari perlapisan batuan pada
pendugaan geolistrik maka akan dapat dibuat model hidrostratigrafi. Model
hidrostratigrafi adalah suatu model yang dibuat untuk menggambarkan stratum
atau susunan geologis penyusun akuifer yang di dalamnya berisi informasi tentang
parameter dan karakteristik akuifer (Santosa, 2001). Karakteristik akuifer tersebut
diantaranya jenis material, tebal akuifer, kesarangan (porositas), hasil jenis
(specific yield), dan hydraulic conductivity atau sering disebut juga permeabilitas
(kelolosan) (Todd, 1980).
Gambar 1.2 Pola Aliran Arus Pada Elektroda Arus dan Elektroda Potensial

(Bahri, 2005 dalam Zubaidah dan Kanata, 2008)

Menurut Santosa dan Adji (2006) terdapat beberapa faktor yang


mempengaruhi nilai tahanan jenis batuan atau formasi batuan, yaitu:
1) Kandungan elektrolit air dalam pori-pori batuan. Suatu batuan akan
memiliki nilai tahanan jenis yang kecil apabila mampu menghantarkan
arus listrik, demikian pula sebaliknya.
2) Prosentase kandungan air pada pori-pori batuan. Kandungan air akan
memperkecil nilai tahanan jenis, hal tersebut karena arus listrik akan
mudah dihantarkan pada media air. Pada perlapisan batuan yang
menyimpan air, nilai tahanan jenisnya akan lebih kecil dibandingkan
dengan formasi batuan yang tidak jenuh air.
3) Keadaan penyebaran air dalam batuan. Semakin besar pori-pori ataupun
ruang antar butir batuan, maka nilai tahanan jenis akan semakin besar.

Setiap material batuan memiliki nilai tahanan jenis (resistivity) yang


berbeda-beda. Seperti batu pasir (sandstone) memiliki nilai resistivity sebesar 200
- 8.000 ohm-meter. Pasir memiliki nilai resistivity sebesar 1 - 1.000 ohm-meter.
Lempung memiliki nilai resistivitas 1 - 100 ohm-meter. Airtanah memiliki nilai
resistivitas 0,5 - 300 ohm-meter. Air asin memiliki nilai resistivitas 0,2 ohm-
meter. Kerikil kering memiliki nilai resistivitas 600 - 10.000 ohm-meter. Aluvium
9

memiliki nilai resistivitas 10 - 800 ohm-meter. Dan kerikil memiliki nilai


resistivitas sebesar 100 - 600 ohm-meter. Nilai resistivitas material berdasarkan
Telford dapat dilihat pada Tabel 1.1.

Tabel 1.1. Nilai resistivitas sebagian material-material bumi


Material Resistivity (Ohm-meter)
Air (Udara) 0
Sandstone (batu Pasir) 200 – 8.000
Sand (Pasir) 1 – 1.000
Clay (Lempung) 1 – 100
Groundwater (Airtanah) 0,5 – 300
Sea Water (Air Asin) 0,2
Dry Gravel (Kerikil Kering) 600 – 10.000
Alluvium (Aluvium) 10 – 800
Gravel (Kerikil) 100 – 600
Sumber : Telford, 1990 dalam Zubaidah dan Kanata 2008

Batuan beku dan metamorfik seperti granit, basalt, slate, marbel, dan
kuarsit memiliki nilai resistivity berbeda. Granit memiliki nilai resistivity sebesar
5 x 103 - 106 ohm-meter, basalt memiliki nilai resistivity sebesar 103 - 106 ohm-
meter, slate memiliki nilai resistivity sebesar 6 x 102 - 4 x 107 ohm-meter, marbel
memiliki nilai resistivity sebesar 102 - 2.5 x 108 ohm-meter, dan kuarsit memiliki
nilai resistivity sebesar 102 - 2 x 108 ohm-meter. Perbedaan nilai resistivitas batuan
dapat dilihat pada Tabel 1.2.
Tabel 1.2. Nilai Kisaran tahanan Jenis pada Beberapa Kondisi Batuan
Material batuan Nilai Resistivity (Ohm-meter)
Batuan Beku dan Metamorfik
- Granit 5 x 103 - 106
- Basalt 103 - 106
- Slate 6 x 102 - 4 x 107
- Marbel 102 - 2,5 x 108
- Kuarsit 102 - 2 x 108

Batuan Sedimen
- Batu pasir 8 - 4 x 103
- Serpih 20 - 2 x 103
- Batu gamping 50 - 4 x 102

Tanah dan Air 1 - 100


- Lempung 10 - 800
- Aluvium 10 - 100
- Airtawar 0,2
- Air laut

Kandungan Kimia 9,074 x 10-8


- Iron 0,708
- 0.01 M Potasium Chloride 0,843
- 0.01 M Sodium Chloride 6,13
- 0.01 M Acetic Acid 6,998 x 106
- Xylene
Sumber : Loke, 2000

C. Ketersediaan Airtanah Bebas


Hal-hal yang mempengaruhi ketersediaan airtanah, diantaranya yaitu besar
kecilnya curah hujan, banyak sedikitnya vegetasi, kemiringan lereng serta derajat
porositas dan permeabilitas batuan penyusunnya. Selain oleh faktor-faktor alami,
besar kecilnya ketersediaan airtanah juga sangat tergantung dari aktivitas manusia
dalam memenuhi kebutuhan hidupnya yang memerlukan air (Purnama,
Kurniawan dan Sudaryatno, 2006). Besarnya airtanah yang dapat disimpan dalam
suatu akuifer dapat diketahui berdasarkan karakteristik akuifernya, yang meliputi
tebal akuifer, kesarangan (porositas), hasil jenis (specific yield), dan hydraulic
conductivity atau sering disebut juga permeabilitas (kelolosan) (Todd, 1980).
11

: Hasil jenis (specific yield) atau kesarangan efektif adalah rasio antara air yang
ortasi bagus, porositas besar
ak bagus, porositas kecil dapat dipompa dengan volume tanah atau batuan (Adji, 2008).
imen bagus, terisi oleh endapan yang porus, secara keseluruhan porositas bagus
Porositas
imen bagus tetapi porositas berkurang tanah
karena atau mineral
deposit batuan yang
yang lebih besar pada
tidak porus tidakpori-pori
selalu sebanding dengan
nggi karena proses solusional
arena rekahan permeabilitas yang lebih baik. Pada material lempung, meskipun memiliki
porositas yang sangat besar akan tetapi memiliki permeabilitas yang sangat sangat
kecil karena ruang-ruang antar butirnya sangat kecil. Porositas adalah kadar ruang
antara butir-butir tanah atau batuan yang membentuk lapisan-lapisan
(Sosrodarsono dan Takeda, 1977). Untuk mengetahui bagaimana perbandingan
antara ukuran butir dengan kecepatan aliran dapat dilihat pada Tabel 1.3.
Menurut Todd (1980) berdasarkan proses terbentuknya porositas
dibedakan menjadi dua tipe yaitu porositas primer dan sekunder. Porositas primer
terbentuk berdasarkan bentuk asli dari proses geologi yang membentuk batuan,
seperti pada batuan beku dan batuan sedimen. Sedangkan porositas sekunder
merupakan porositas yang terbentuk setelah batuan terbentuk, seperti rekahan
pada batuan dan proses solusional. Porositas pada batuan dapat dilihat pada
Gambar 1.3.
Gambar 1.3. Porositas pada Batuan (Todd, 1980).

Menurut Lange, Ivanova, dan Lebedeva (1991) permeabilitas merupakan


kemampuan lapisan tanah atau batuan untuk menyerap air. Jika pori-pori dan
lubang yang terdapat dalam batuan saling berhubungan, dan apabila terdapat
kemiringan atau hydrostatic head, air dapat bergerak dalam lapisan tanah dan batu
dari suatu pori atau lubang lainnya sehingga airtanah akan mengalir.

Tabel 1.3. Kecepatan Airtanah


Karakteristik tanah Ukuran Butir Kecepatan rata-rata aliran
dalam akuifer (mm) (m/hari)
Gradien hidrolik Gradien hidrolik
1% 100%
Silt, pasir halus 0,005 – 0,25 0,02 2,0
Pasir sedang 0,25 – 0,5 0,35 35,0

Pasir kasar, kerikil 0,5 – 2,0 1,92 192,0


halus
Kerikil 2,0 – 10,0 9,09 909,0

Kecepatan 18,5 33,33 3.333,0


maksimum dalam (ukuran butir
kerilil efektif)
Sumber : Sosrodarsono dan Takeda, 1977

Menurut Santosa dan Adji (2006) keterdapatan airtanah sangat berkaitan


dengan karakteristik akuifer penyusunnya. Untuk mengetahui keterdapatan
airtanah disuatu wilayah perlu diketahui terlebih dahulu arah aliran airtanahnya
(flownet). yang menuju ke cekungan airtanah (groundwater basin). Pada daerah
tersebut ketersediaan airtanahnya tinggi, walaupun terkadang muka airtanah
(water table) lebih dalam dibandingkan dengan daerah sekitarnya. Sehingga
merupakan suatu ledokan yang tersusun atas material aluvium atau koluvium dan
berasosiasi dengan daerah genangan air.

D. Bentuklahan
Ketersediaan airtanah sangat dipengaruhi oleh kondisi fisik seperti
geologi, geomorfologi, tanah, topografi, vegetasi dan lain-lain, disamping
ditentukan oleh kondisi klimatologi khususnya curah hujan. Ketersediaan
13

airtanah, sifat dan distribusi air di suatu wilayah akan mengikuti daur hidrologi,
yaitu gambaran proses perjalanan air, air di alam mengadakan sirkulasi dan
transportasi. Lintasan ini memasuki 3 komponen sistem bumi yaitu atmosfer,
hidrosfer, dan litosfer, bahkan mempengaruhi dan dipengaruhi biosfer dan
perjalanan air tersebut akan terus berlangsung (Martopo, 2000).
Bentuklahan merupakan suatu objek dari geomorfologi. Geomorfologi
sendiri merupakan ilmu yang mempelajari bentuklahan baik yang berada di atas
permukaan atau yang berada di atas permukaan laut, berdasarkan genesa dan
bagaimana perkembangannya serta kaitannya dengan konsep kelingkungan dan
material penyusunnya (Verstapen, 1977). Bentuklahan (landform) adalah
bentukan pada permukaan bumi yang terbentuk oleh proses-proses geomorfologis.
Proses-proses geomorfologis tersebut menyangkut semua perubahan fisis maupun
khemis yang terjadi di permukaan bumi, oleh tenaga-tenaga geomorfologis yaitu
tenaga yang ditimbulkan oleh tenaga-tenaga endogen (Sunardi, 1985).
Menurut Zuidam (1983) dalam Riesdiyanto (2009) terdapat empat aspek
utama dalam geomorfologi. Keempat aspek tersebut yaitu, morfologi,
morfogenesa, morfokronologi, dan morfoasosiasi. Morfologi merupakan aspek
geomorfologi mengenai kondisi bentuklahan. Morfologi meliputi morfografi yaitu
bentuklahan berdasarkan reliefnya secara umum seperti dataran, perbukitan, dan
pegunungan, serta morfometri yaitu aspek yang menyatakan deskripsi dari
bentuklahan seperti morfometri lereng (kecuraman). Morfogenesa merupakan
aspek geomorfologi mengenai proses yang menyebabkan terjadinya bentuklahan
dan proses yang menyebabkan terjadinya oerubahan pada bentuklahan. Aspek
morfogenesa meliputi morfokronologi dan morfoasosiasi (morfoaransemen).
Morfokronologi merupakan aspek geomorfologi yang mendeskripsikan mengenai
evolusi atau perkembangan dari bentuklahan serta mengetahui hubungan antara
umur relatif dan absolute pada suatu bentuklahan dengan proses pembentuknya.
Morfoasosiasi (morfoaransemen) merupakan aspek geomorfologi yang
menjelaskan tentang hubungan antara bentuklahan satu dengan yang lainnya
dalam konteks keruangan serta memberikan gambaran mengenai asal mula
terjadinya bentuklahan dan struktur perlapisan bawah permukaannya. Secara
umum pada daerah penelitian terdapat tiga proses bentuklahan utama yaitu
bentuklahan struktural, denidasional, dan fluvial.
Bentuklahan asal proses struktural adalah bentuklahan yang berhubungan
dengan perlapisan batuan sedimen yang berbeda ketahananya terhadap erosi
(Handoyoputro, 1999). Bentuk-bentuk struktural dipengaruhi oleh proses-proses
eksogen dari berbagai tipe. Selanjutnya apabila bentuk-bentuk strukturalnya tidak
dapat bertahan lebih lama maka akan membentuk bentuklahan denudasional
(Sunardi, 1985).
Menurut Haryono (2003) bentuklahan denudasional biasanya terdapat
pada daerah yang sangat luas terutama pada daerah-daerah berbatuan lunak
dengan kondisi iklim basah. Bentuklahan asal proses denudasional adalah
bentuklahan yang prosesnya akan menurunkan bagian permukaan bumi yang
positif hingga mencapai bentuk permukaan bumi yang hampir menjadi dataran
nyaris. Proses bentuklahan denudasi meliputi dua proses utama yaitu pelapukan
dan perpindahan material yang berasal dari lereng atas ke lereng bawah yang
diakibatkan oleh proses erosi dan gerak massa batuan.
Bentuklahan asal proses fluvial adalah semua bentuklahan yang terjadi
akibat adanya proses aliran air baik yang terkonsentrasi berupa aliran sungai,
maupun yang tidak terkonsentrasi seperti pada aliran permukaan (Widiyanto dan
Hadmoko, 2003). Akibat adanya aliran air tersebut maka terjadi proses erosi,
transportasi, dan sedimentasi. Bentuklahan terakhir yaitu bentuklahan fluvio-
volkanik. Bentuklahan fluvio-volkanik merupakan bentuklahan yang berasal dari
proses volkanik dengan volkan-volkan aktif pada daerah tropis dengan curah
hujan yang tinggi (Sunardi, 1985).
Kondisi geomorfologis akan menentukan struktur dan ukuran batuan hasil
proses sedimentasi yang akan membentuk stratigrafi akuifer tertentu yang akan
menentukan keterdapatan dan karaktwristik airtanahnya. Sehingga terdapat
pengaruh kuat antara genesis dan bentuklahan terhadap proses pembentukan
akuifer (hidrostratigrafi) pada suatu daerah (Santosa, 2009).
Karakteristik dan agihan airtanah dapat dipelajari berdasarkan formasi dan
stratigrafi batuan. Atas dasar formasi dan stratigrafi batuan, maka dapat diketahui
15

variasi litologi penyusun pada masing-masing stratigrafi, struktur dan arah


perlapisan batuan (Todd, 1980 dan Sutikno, 1992 dalam Santosa, 2009).
Aspek-aspek penting penyusun bentuklahan akan berpengaruh terhadap
karakteristik airtanah, dimana relief yang titunjukan oleh permukaan bumi yang
dikontrol oleh struktur di bawahnya akan berpengaruh terhadap tipe dan ketebalan
akuifer, serta arah pergerakan airtanahnya khususnya airtanah bebas
(Sutikno,1992).
Menurut Santosa (2009), genesis dan dinamika bentuklahan akan
berpengaruh terhadap pembentukan akuifer, dinamika dan perubahan karakteristik
airtanah ditunjukan oleh hidrostratigrafi. genesis menunjukan sejarah
pembentukan bentanglahan di suatu daerah karena tenaga endogen yang bersifat
konstruksional. Dinamika bentuklahan dalam waktu yang sangat lama akan
berpengaruh terhadap proses pembentukan akuifer yang ditentukan berdasarkan
hidrostratigrafi.

1.5.2 Penelitian Sebelumnya


Beberapa penelitian terdahulu yang berkaitan dengan penulis yang dapat
dipakai sebagai pembanding dengan rencana penelitian, dapat disajikan dalam
Tabel 1.4.
Tabel 1.4. Penelitian Sebelumnya
Tujuan Penelitian Metode Penelitian Hasil Penelitian
1. Sucahya, 1999. Judul : Hidrostratigrafi dan Sebaran Akuifer di Kabupaten Rembang Jawa
Tengah
- M - Penentuan - Model hidrostratigrafi yang
e sumur dibuat menggunakan hasil
m dilakukan analisakedalaman sumur,
p secara acak litilogi regional, dan
el dari barat ke hidrogeokimia airtanah yang
aj timur dilihat menunjukan dataran alluvial
a berdasarkan pantai terdapat beberapa
ri garis kelompok akuifer yaitu :
h pantainya. akuifer bebas pada kedalaman
i - Analisa 20 m, dan kelompok akuifer
d stratistik yang tertekan pada kedalaman di
r digunakan bawah 100 m.
o adalah analisa - Airtanah bebas kebanyakan
st distribusiGauss disadab melalui sumur gali
r /Normal. dan sumur pantek dangkal.
at Sehingga data - Airtanah yang baik untuk
i keadaan dikonsumsi, kecuali pada
g lapisan batuan daerah Rembang kota,
r yang Kaliori, dan Lasem.
a mengandung
fi airtanah dapat
d diketahui.
a
n
s
e
b
a
r
a
n
a
k
u
if
e
r
d
i
d
a
e
r
a
h
p
e
n
el
it
ia
n
- m
e
m
b
u
at
p
et
a
k
et
e
r
d
a
p
at
a
n
17

ai
rt
a
n
a
h
y
a
n
g
b
ai
k
u
n
t
u
k
d
i
k
o
n
s
u
m
si
d
i
d
a
e
r
a
h
p
e
n
el
it
ia
n
.
2. Yuhdiyanto, 2007. Judul : Ketersediaan Airtanah Bebas untuk Kebutuhan Domestik dan Irigasi
di Dataran Kaki Volkan Merapi Muda dan Lereng kaki Perbukitan Baturagung Kecamatan
Imogiri, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta
- Menganali - Metode - Ketersediaan airtanah
sis Schlum 242.025893 m3/
karakterist berger tahun.
ik akuifer analisa - Kebutuhan irigasi
- Menghitu model sebesar 445.465,66
ng hidrost m3/ tahun,
ketersedia ratigraf sedangkan kebutuhan
an i domestik sebesar
airtanah resistiv 6.628451,76 m3/
dan hasil ity tahun.
aman penyus
penurapan un
airtanah batuan
- Menganali akuifer
sis .
kebutuhan - Metode
airtanah anlisis
untuk kuantit
kebutuhan atif
domestik “spesifi
dan irigasi c
yield”
- Metode
model
2
dimens
i “three
point
proble
m”
dalam
pembu
atan
flownet
s.
Muhdiya, 2008. Judul : Stratigrafi Akuifer di Antara Sungai Progo dan Sungai Kayangan,
Kabupaten Kulon Progo, dengan Menggunakan Metode Geolistrik.
- Mengetahui - Penentuan - Daerah penelitian memiliki
stratigrafi akuifer lokasi sumur stratigrafi akuifer yang secara
pada daerah dilakukan umum tersusun atas material
penelitian, secara dengan cara alluvium seperti lempung,
vertical dan systematic pasir, dan sedikit kerikil.
horizontal sampling, - Daerah penelitian memiliki
- Mengetahui melalui ketebalan akuifer antara 80-
distribusi airtanah pembuatan grid 100 meter, dengan nilai
yang baik pada pada peta resistivity potensial airtanah
daerah penelitian daerah sekitr 9-13 Ω m
berdasarkan penelitian. - Daerah penelitian yang
kondisi akuifernya. - Penentuan titik memiliki airtanah dengan
pendugaan potensi yang baik terdapat
geolistrik pada Desa Kembang bagian
dilakukan Barat, Utara dan Timur, Desa
dengan metode Jatisarono bagian tengah, dan
purposive Desa Wijimulyo secara
sampling, keseluruhan.
berdasarkan
pertimbangan-
pertimbangan
tertentu.
- Penentuan
responden
dilakukan
dengan metode
purposive
19

sampling.
Santosa dan Adji, 2006. Judul : Survey Geolistrik untuk Penentuan Lokasi Sumur Produksi di
Kelurahan Bener Kecamatan Tegalrejo Yogyakarta
- Memperoleh - Survei data - terdapat satu sistem akuifer
informasi tentang primer dengan bebas di wilayah kajian, yang
sistem dan cara systematic merupakan bagian dari Sistem
karakteristik maupun Akuifer Merapi, berupa
akuifer di wilayah purposive akuifer produktif dengan
kajian sampling, kandungan airtanah tawar dan
- Mengetahui potensi antara lain pada penyebaran luas, dijumpai
relatif airtanahnya kegiatan rata-rata mulai kedalaman 15
sebagai sumber air pengukuran meter hingga >100 meter.
bersih di wilayah sifat fisik - Di wilayah kajian, sistem
kajian airtanah, akuifer tersusun atas 3 sistem
plotting posisi perlapisan, yaitu lapisan tanah
titik atas atau tanah olahan dengan
pengukuran, pori-pori berisi lengas tanah
dan pendugaan (soil moisture), lapisan kedua
geolistrik menunjukan variasi venomena
- Survei data antara daerah yang jauh dari
sekunder sungai dengan yang dekat
tentang sungai, lapisan ketiga berupa
penelitian- lapisan yang jenuh airtanah
penelitian (saturated zone) dengan
terdahulu, serta produktivitas tinggi.
uraian keadaan - Kondisi akuifer di wilayah
wilayahpada kajian memiliki beberapa
berbagai karakteristik yaitu, material
instansi terkait penyusun akuifer barupa
seperti : material piroklastik, nilai
PDAM, Dinas rerata permeabilitas (K)
Pertambangan, sebesar 8,5 meter/hari, beda
Badan kemiringan muka airtanah (I)
Pengendalian yang dihuitung berdasarkan
Dampak kerapatan kontur sejauh 50
Lingkungan, meter yaitu sebesar 0,302. luas
dan sebagainya. penampang akuifer efektif (A)
sebesar 2500 m2, dan debit
aliran airtanahnya sebesar
6417,5 m3/hari.
- Kualitas airtanah pada sumur-
sumur penduduk di lokasi
rencana sumur produksi baik.
Santosa dan Adji, 2006. Judul : Penyidikan Potensi Airtanah Cekungan Airtanah Sleman -
Yogyakarta di Kabupaten Bantul
- Memperoleh - Pengukuran dan - Secara fisiografis, wilayah
informasi pengumpulan kajian dapat dikelompokan
mengenai data primer dalam 7 satuan geomorfologi
karakteristik dilakukan utama, yaitu : dataran Kaki
akuifer dan potensi secara Gunungapi Merapi Muda,
airtanah di daerah systematic Dataran Fluvio Gunungapi
penelitian sampling Merapi Muda, dataran
- Sebagai acuan atau maupun Fluviomarin, Kompleks
pedoman bagi purposive Beting Gisik dan Gumuk
pengelolaan dan sampling, yaitu Pasir, Perbukitan Struktural
optimalisasi dengan Baturagung, Perbukitan Karst
pengambilan mempertimbang Wonosari, dan Perbukitan
airtanah melalui kan variasi dan Struktural Sentolo.
penatagunaan luasan area - Berdasarkan hidrostratigrafi
airtanah yang satuan pada Graben Bantul
berasaskan pada geomorfologi, didominasi oleh tipe akuifer
kemanfaatan, geologi, dan bebas (unconfined aquifer)
kesinambungan, karakteristik dengan ketebalan mencapai
dan pelestarian airtanah di 150 meter.
airtanah. wilayah kajian. - Wilayah kajian dapat
dikelompokan dalam 3 sub
sistem akuifer yang lebih
spesifik, yaitu : sub Sistem
Akuifer Fluvio Volkan, sub
Sistem Akuifer Kompleks
Beting Gisik dan Gumuk
Pasir, dan sub Sistem Akuifer
Lembah antar Perbukitan.

1.6 Kerangka Teori


Ketersediaan airtanah bebas dipengaruhi oleh faktor lingkungan fisik
seperti iklim, geologi, geomorfologi, hidrologi, vegetasi dan penggunaan lahan.
Faktor iklim terutama curah hujan akan mempengaruhi pengisian airtanah sebagai
sumber utama. Faktor geologi dan geomorfologi akan berpengaruh pada material
batuan penyusun akuifer. Faktor hidrologi khususnya air permukaan juga akan
mempengaruhi asupan airtanah. Faktor vegatasi dan penggunaan lahan akan
berpengaruh pada air hujan yang jatuh ke permukaan tanah, sebagian akan
terinfiltrasi ke dalam tanah, terintersepsi pada vegetasi dan sebagian lagi akan
menjadi aliran permukaan (overland flow). Faktor lingkungan fisik yang
mempengaruhi ketersediaan airtanah yang akan dikaji dalam penelitian ini yaitu
faktor geologis terutama formasi batuan dan faktor geomorfologis terutama
bentuklahan. Daerah penelitian memiliki formasi batuan berupa Formasi Sentolo,
Endapan Gunungapi Merapi Muda dan Aluvium. Bentuklahan yang terdapat di
daerah penelitian yaitu asal proses fluvial, struktural, denudasional, dan fluvio-
vulkanik. Berdasarkan perbedaan formasi geologis dan bentuklahannya
diharapkan dapat diketahui bagaimana karakteristik akuifernya. Faktor geologi
dan geomorfologi akan berpengaruh terhadap airtanah pada daerah penelitian.
Setiap material batuan memiliki nilai tahanan jenis atau resistivity yang
berbeda, sehingga dapat diketahui bagaimana kenampakan stratigrafi batuannya.
21

Stratigrafi merupakan suatu pengendapan batuan sepanjang waktu, sehingga dapat


diketahui bagaimana material di daerah tersebut apakah mampu menyimpan air
atau tidak. Stratigrafi tersebut dapat dilihat berdasarkan model hidrostratigrafi.
Model hidrostratigrafi sendiri dibuat untuk menggambarkan stratum atau susunan
geologis dari batuan penyusun akuifer yang terdapat informasi mengenai
karakteristik airtanah seperti, jenis material batuan, tebal akuifer, porositas,
hydraulic conductivity (permeabilitas), dan specific yield. Skema kerangka
pemikiran dapat dilihat pada Gambar 1.4.
Gambar 1.4. Diagram Alir Kerangka Pemikiran

BAB II
METODE PENELITIAN

2.1 Bahan dan Alat Penelitian


Bahan dan alat yang akan digunakan dalam penelitian ini meliputi :
1) Peta Geologi Lembar Yogyakarta skala 1 : 100.000 terbitan Pusat
Penelitian dan Pengembangan Geologi tahun 1995
2) Peta Rupa Bumi Indonesia (RBI) digital Lembar Wates dan Yogyakarta
tahun 1999 skala 1 : 25.000
3) PODES Daerah Istimewa Yogyakarta tahun 2008
4) Data bor terdekat di sekitar daerah penelitian
5) Global Posisioning System (GPS) untuk menentukan titik posisi
pengukuran
23

6) Seperangkat peralatan geolistrik untuk mengetahui tahanan jenis


perlapisan batuan
7) Pita ukur untuk mengukur jarak di lapangan
8) Seperangkat alat uji pompa untuk pumping test
9) Screen bor untuk uji lobang bor
10) Seperangkat computer analisis data (Microsoft office, IP2win Ver. 2.1
software, Arc View 3.3 software).

2.2 Cara Penelitian


2.2.1. Pemilihan Daerah Penelitian
Penelitian dilakukan di Kecamatan Sedayu, Kabupaten Bantul, Propinsi
Daerah Istimewa Yogyakarta. Daerah tersebut dipilih karena sebagian besar
daerahnya merupakan Dataran Fluvio Volkanik Merapi Muda, dan terdapat
Perbukitan Sentolo didekatnya. Sehingga diharapkan dapat diketahui bagaimana
perbedaan karakteristik akuifernya berdasarkan model hidrostratigrafi yang akan
dikaji.

2.2.2. Data yang Dikumpulkan


A. Data Primer
Data primer yang dikumpulkann melalui penelitian langsung di lapangan.
Data yang akan dikumpulkan meliputi :
1) Data resistivity atau nilai tahanan jenis batuan. Data ini diperoleh
berdasarkan metode geolistrik dengan aturan Schlumberger. Data
ini akan digunakan untuk mengetahui perlapisan batuan penyusun
akuifer serta mengetahui tebal akuifernya.
2) Data kedalaman muka airtanah. Data ini diambil dari nilai
ketinggian muka airtanah pada sumur. Data yang akan diukur
meliputi : data TMA, kedalaman sumur, fluktuasi TMA.
3) Nilai residual drawdown. Data ini diperoleh berdasarkan uji pompa
untuk mendapatkan nilai K (permeabilitas) dengan metode slug
test.
B. Data Sekunder
Data sekunder merupakan data yang diperoleh bukan berdasarkan
pengukuran langsung di lapangan melainkan diperoleh dari instansi-instansi
tertentu yang terkait dengan objek yang akan diteliti. Data sekunder yang
dibutuhkan meliputi :
1) Data curah hujan
2) Data topografi
3) Data geologi
4) Data bor yang digunakan untuk analisis stratigrafi batuan.

2.2.3 Cara Pengumpulan Data


Penelitian ini menggunakan metode survei. Peneliti melakukan observasi
langsung di lapangan untuk mendapatkan data yang diperlukan seperti data
perlapisan batuan yang diperoleh berdasarkan pendugaan geolistrik, data fluktuasi
muka airtanah yang diperoleh dari pengukuran kedalaman muka airtanah, dan data
daya hantar listrik. Pengukuran yang akan dilakukan dalam penelitian ini yaitu,
penentuan lokasi pengukuran kedalaman muka airtanah bebas, penentuan titik
pendugaan geolistrik, dan penentuan sumur untuk uji pompa (pumping test).
A. Penentuan Lokasi Pengukuran Kedalaman Muka Airtanah Bebas
Pengukuran kedalaman muka airtanah bebas yang dilakukan di daerah
penelitian akan dilakukan menggunakan metode systematic sampling. Caranya
yaitu dengan membuat grid pada peta daerah penelitian, kemudian dari satu grid
tersebut dibagi menjadi empat grid yang lebih kecil dengan jarak dilapangan
setiap jarak 250 meter dilakukan pengukuran kedalaman muka airtanahnya. Hal
tersebut dilakukan karena daerah penelitian relatif datar dan seragam. Pengukuran
kedalaman muka airtanah bebas ini dilakukan untuk memperoleh data tinggi muka
airtanah bebas. Tinggi muka airtanah bebas diperoleh dari hasil selisih tinggi
permukaan tanah (elevasi) dengan kedalaman muka airtanah bebas. Data tinggi
muka airtanah ini selanjutnya akan digunakan dalam pembutan flownets.
Flownets tersebut merupakan suatu peta yang berisikan kontur airtanah serta
25

aliran airtanah pada kondisi akuifer yang homogen dan isotropik. Flownets ini
akan bermanfaat untuk mengetahui bagaimana arah aliran airtanahnya.

B. Penentuan Titik Pendugaan Geolistrik


Penentuan titik pendugaan geolistrik di daerah penelitian akan dilakukan
dengan metode systematic sampling. Dimana pada metode ini penentuan titik
pendugaan geolistrik dilakukan berdasarkan arah aliran airtanah yang dapat dilihat
berdasarkan hasil peta pola aliran airtanah bebasnya. Pertimbangan dalam
menentukan lokasi pendugaan geolistrik dilapangan antara lain :
1) Permukaan lahan relatif datar dan terdapat lahan terbuka yang cukup luas
atau memanjang, dan memungkinkan untuk bentangan kabel-kabel
elektroda sejauh mungkin (untuk pendugaan 100-150 meter, maka
diperlukan lahan terbuka dengan jarak 200-300 meter)
2) Bentangan kabel-kabel elektroda seharusnya tegak lurus dengan arah
aliran airtanah, atau apabila kondisi permukaan datar dan seragam, maka
dapat dilakukan dengan arah yang fleksibel, karena kondisi airtanah relatif
lebih homogen
3) Tidak dianjurkan dilakukan di atas lahan yang basah atau tergenang air,
karena hasil pendugaan akan kacau dan tidak representatif, karena air
merupakan penghantar listrik yang baik
4) Tidak boleh dilakukan di bawah kabel arus tegangan tinggi (SUTET)
5) Tidak terpengaruh oleh medan listrik atau medan magnet apapun dengan
lokasi yang dekat
6) Tidak boleh dilakukan di atas lahan bekas penimbunan bahan-bahan
bangunan, sampah, atau bahan-bahan laiinya, dan
7) Tidak boleh melintas di atas sungai, jalan raya, rel kereta api, lapangan
udara, atau sistem transportasi lainnya (Santosa dan Adji, 2006).
Pendugaan geolistrik ini dilakukan dengan metode Schlumberger. Metode
ini digunakan untuk mengetahui kedalaman dan ketebalan lapisan batuan kearah
vertikal. Prinsip geolistrik ini dengan menancapkan 2 buah elektroda yaitu 2 buah
elektroda potensial (tembaga) dan dua buah elektroda arus (besi) yang
ditancapkan ke dalam tanah dengan jarak elektroda sama pada satu garis lurus.
Jarak rentangan elektrodanya disesuaikan dengan kedalaman pengukuran yang
diinginkan sehingga memperoleh nilai resistivitas. Resistivitas ditentukan dari
nilai hambat jenis yang diperoleh dari pengukuran beda potensial antara elektroda
yang ditempatkan di dalam bawah permukaan (Broto dan Afifah, 2008).
Pengukuran suatu beda potensial antara dua elektroda dapat dilihat pada Gambar
2.1.

Gambar 2.1. Susunan Elektroda pada pendugaan geolistrik (Todd, 1980)

Jarak rentangan elektroda akan berbanding lurus dengan kedalaman


pendugaan lapisan batuannya, sehingga semakin jauh atau panjang rentangan
maka akan semakin dalam pendugaan perlapisan batuannya. Gambar 2.2
menjelaskan bahwa kedalaman yang akan dicapai akan sebanding dengan jarak
elektroda arus terhadap titik pusat pengukuran (1/2 L).

Keterangan : I Ampere meter P Elektroda potensial


V Volt meter L Jarak elektroda arus
27

C Elektroda arus a Jarak elektroda potensial


Gambar 2.2. Konfigurasi Metode Schlumberger (Todd, 1980)

C. Penentuan Lokasi Sumur untuk Uji Pompa (Pumping Test)


Penentuan sampel sumur untuk uji pompa (pumping test) pada daerah
penelotian dilakukan dengan metode proporsional sampling. Dimana penentuan
lokasi sumur untuk uji pompa dilakukan secara proporsional agar lokasinya dapat
merata sehingga sampel yang diambil harus dapat mewakili seluruh wilayah
kajian secara representatif. Uji pompa (pumping test) dilakukan untuk mengukur
nilai permeabilitas akuifer. Uji pompa (pumping test) yang akan dilakukan
menggunakan metode Shallow Dug Well Recovery Test (Slug Test). Slug test
tersebut merupakan analisis uji pompa dengan menggunakan data residual
drawdown. Sumur yang akan diukur harus disesuaikan dengan persyaratan
metode slug test. Pemilihan sumur dilapangan harus disesuaikan dengan
parameter-parameter yang disyaratkan metode Slug Test, yaitu (a) diameter sumur
lebih dari 50 cm; (b) tidak seluruh dinding sumur kedap air; dan (c) debit
pemompaan besar (Fetter, 1988). Jika sumur tidak memenuhi persyaratan
tersebut, maka uji pompa tidak dapan dilakukan. Data residual drawdown
diperoleh berdasarkan hasil uji pompa yang didapat dari pemompaan pada satu
sumur yang telah dipilih. Data tersebut merupakan kenaikan TMA setelah
dipompa. Data lain yang dibutuhkan yaitu data ketebalan zona jenuh dari muka air
sampai bagian kedap air (meter),ketinggian dinding sumur yang lulus air (meter),
jari-jari sumur bagian kedap air (meter), dan jari-jari sumur bagian lulus air
(meter).

2.2.4 Cara Analisis Data


A. Hidrostratigrafi dan Karakteristik Akuifer
1) Analisis geolistrik untuk mengetahui bagaimana stratigrafi atau perlapisan
batuan penyusun akuifer secara vertikal.
Analisis ini dilakukan pada data hasil pendugaan geolistrik. Data hasil
pendugaan geolistrik akan diolah menggunakan komputer dengan software
IP2Win, sehingga diperoleh model hidrostratigrafi. Model hidrostratigrafi
(hydrostratigraphy model) adalah suatu model yang dibuat untuk menggambarkan
stratum atau susunan geologis penyusun akuifer, sehingga dapat diketahui
informasi mengenai parameter akuifer (Todd, 1980). Berdasarkan hasil analisis
hidrostratigrafi maka akan diperoleh gambaran perlapisan akuifer berdasarkan
nilai resistivitas material penyusun akuifernya, dan dapat diketahui bagaimana
kedalaman atau ketebalan dari tiap lapisannya.
2) Analisis Data Bor
Analisis data bor ini dilakukan untuk membandingkan antara data hasil
perlapisan batuan yang diperoleh berdasarkan pendugaan geolistrik dengan data
bor yang telah ada sebelumnya. Data bor daerah penelitian diperoleh berdasarkan
data sekunder yang berasal dari Proyek Penyediaan Air Baku (P2AB).
3) Analisis Karakteristik Akuifer
Karakteristik akuifer tersebut diantaranya yaitu tebal akuifer, specific
yield, permeabilitas, serta mengetahui ketersediaan airtanah yang diketahui
melalui nilai debit dinamis (Darcy’s Law).

a) Tebal akuifer
Tebal akuifer diperoleh berdasarkan hasil analisis data resistivitas
(tahanan jenis) pada pendugaan geolistrik. Rumus yang digunakan untuk
menghitung nilai tahanan jenis (ρ ) berdasarkan metode Schlumberger yaitu
:
ρ a = (∆ V / I ) . C

dengan :
ρ a = tahan jenis bahan (ohm-meter)

∆V = rata-rata beda nilai tegangan potensial (volt)


I = arus yang dialirkan (ampere)
C = konstanta Schlumberger
29

L = jarak elektroda arus (meter)


a = jarak antar elektroda potensial (meter)
A = luas permukaan (meter persegi)
( Todd, 1980).
b) Kedalaman Muka Airtanah
Kedalaman muka airtanah dilakukan dengan pertimbangan semakin
dalam muka airtanah di suatu daerah, maka akan semakin sulit untuk
menemukan airtanah bebas di daerah tersebut. Penilaian kedalaman muka
airtanah disajikan pada Tabel 2.1.

Tabel 2.1. Kedalaman Muka Airtanah


No. Kedalaman Muka Kategori
Airtanah
1. < 2,5 m Airtanah dangkal
2. 2,6 - 7 m Airtanah sedang
3. 7,1 - 15 m Airtanah dalam
4. > 15 m Airtanah sangat
dalam
Sumber : Santosa dan Adji, 2006.

c) Fluktuasi Muka Airtanah


Nilai fluktuasi muka airtanah dapat digunakan untuk mengetahui
apakah di suatu daerah mengalami kesulitan dalam memperoleh airtanah
bebas. Semakin dalam fluktuasi muka airtanah di suatu daerah maka akan
semakin sulit diperoleh airtanah bebas di daerah tersebut. Pengkelasan
fluktuasi muka airtanah dapat dilihat pada Tabel 2.2.

Tabel 2.2. Fluktuasi Muka Airtanah

No. Fluktuasi Muka Kategori


Airtanah
1. < 2 meter Fluktuasi rendah
2. 2,1-5,0 meter Fluktuasi sedang
3. 5,1-10 meter Fluktuasi tinggi
4. > 10,1 meter Fluktuasi sangat
tinggi
Sumber : Santosa dan Adji, 2006

B. Ketersediaan Airtanah Bebas


1) Analisis Pola Aliran Airtanah
Analisis pola aliran airtanah dapat diketahui berdasarkan arah gerakan
airtanahnya. Arah gerakan airtanah dapat diketahui melalui model 2-D (dua
dimensi) sistem aliran airtanah untuk mengetahui peta kontur airtanah dan arah
aliran airtanahnya. Peta kontur airtanah dan peta arah aliran airtanah diperoleh
berdasarkan pengukuran tinggi muka airtanah. Pembuatan peta arah aliran
airtanah dilakukan dengan metode three point problem, yaitu dengan cara
membuat garis yang tegak lurus terhadap garis kontur air tanah. Sebelum
membuat peta arah aliran airtanah terlebih dahulu dibuat kontur airtanah, caranya
yaitu dengan mengukur kedalaman muka airtanah. Kemudian dilakukan
pengeplotan data tinggi muka airtanah ke dalam peta dasar. Tinggi muka airtanah
diperoleh dari hasil selisih tinggi permukaan tanah dengan kedalaman muka
airtanah. Pengukuran dilakukan pada beberapa sumur dengan kedalaman yang
berbeda, sehingga akan didapat kontur air tanah dengan sistem interpolasi. Setelah
diperoleh peta kontur airtanah selanjutnya dibuat arah aliran airtanahnya. Arah
aliran airtanah memotong tegak lurus (90°) kontur airtanah. Hal tersebut terjadi
pada kondisi akuifer yang homogen dan isotropis, karena adanya gaya potensial
gravitasi dan arah aliran airtanah mengalir dari muka airtanah tinggi menuju muka
airtanah yang lebih rendah. Kontur airtanah dan arah aliran airtanah diilustrasikan
pada Gambar 2.3.
Kemiringan = (100/75) / 1000 = 0,025

31

Gambar 2.3. Penentuan arah aliran airtanah dengan menggunakan metode Three Point
Problems (Todd, 1980)

2) Kemiringan Airtanah (hydraulic gradient)


Airtanah mengalir dari hydraulic head tinggi ke rendah. Kemiringan
airtanah merupakan rasio dari beda tinggi muka airtanah dan jarak datar antara
kedua titik tinggi muka airtanah. Kemiringan airtanah diilustrasikan pada Gambar
2.4.

Gambar 2.4 Kemiringan Airtanah

3) Permeabilitas
Nilai permeabilitas atau hydraulic conductivity diperoleh berdasarkan uji
pompa. Uji pompa yang digunakan yaitu dengan metode Shallow Dug Well
Recovery Test (Slug Test). Metode tersebut merupakan uji pemompaan dengan
melakukan tes analisis menggunakan data residual drawdown untuk menentukan
hydraulic conductivity akuifer (K), dimana K = T/b (b adalah tebal akuifer).
Nilai permeabilitas (K) dengan metode slug test dapat dihitung
dengan rumus :

dengan

-1

dimana :

K = permeabilitas akuifer (m / hari)

t = waktu setelah pemompaan dihentikan (hari)

A+B = Nilai A dan B diperoleh berdasarkan hubungan antara grafik A


dan B dengan d/rw, untuk lebih jelas dapat dilihat pada Gambar
2.5.
b = ketebalan air pada sumur, dari dasar sumur sampai muka airtanah
(m)

d = ketinggian dinding sumur porus (lulus air), diukur dari dasar sumur
(m)
rc = jari-jari sumur pada bagian yang kedap air (m)
rw = jari-jari pada bagian yang porus (lulus air) (m)
Re = jari-jari lingkaran pengaruh, dalam metode ini head loss ho dlam
sistem aliran airtanah dapat dihilangkan
So = jarak vertikal antara muka freatik pada kondisi awal pemompaan
dengan muka freatik setelah pemompaan (m)
33

St = jarak vertikal antara muka freatik pada kondisi awal pemompaan


dengan muka freatik pada waktu t (detik) setelah dihentikan (m) (Adji
dan Purnama, 2008).

Nilai A dan B diperoleh berdasarkan Grafik Hubungan antara d/rw dengan


nilai A dan B yang disajikan pada Gambar 2.5. Nilai A dan B diperoleh dengan
cara menarik garis pada sumbu-x yang merupakan fungsi dari pembagian antara
ketinggian dinding sumur yang lulus air dengan jari-jari sumur bagian lulus air
(d/rw) sampai memotong garis A dan B.
Nilai (1/t) ln (So/St) diperoleh berdasarkan Grafik Hubungan antara So
dengan t yang dapat dilihat pada Gambar 2.6. Hasil pembacaan St setiap waktu t
diplot kedalam kertas semilog, dengan t sebagai sumbu x (dalam menit) dan St
sebagai sumbu y (dalam meter). Hasilnya berupa kurva yang kemudian diperoleh
nilai tx dengan cara menarik garis lurus dari deretan titik-titik yang relatif lurus
sampai memotong sumbu x. Nilai (1/t) ln (So/St) dihitung dengan menetapkan
nilai t sembarang (t<tx), hingga memotong kurva. Dari kurva tersebut kemudian
ditarik garis horizontal memotong sumbu y, sehingga didapatkan nilai St.

Gambar 2.5. Grafik Hubungan antara d/rw dengan nilai A dan B

(Bouwer, 1978)
Gambar 2.6. Grafik untuk Menentukan Nilai t dan St (Bouwer, 1978)

Nilai permeabilitas berdasarkan hasil uji pompa akan digunakan untuk


mengetahui besar atau kecilnya suatu akuifer dapat melalukan air dalam satuan
jarak per waktu. Pada akuifer dengan karakteristik yang baik akan memiliki nilai
permeabilitas tinggi, hal tersebut karena airtanah mudah bergerak. Perhitungan
nilai permeabilitas diklasifikasikan pada tabel 2.3. Serta klasifikasi nilai K
(permeabilitas) dalam berbagai jenis batuan menurut Morris dan Johnson (1967,
dalam Todd, 1980) disajikan dalam Tabel 2.4.

Tabel 2.3. Klasifikasi Permeabilitas Akuifer


No. Permeabilitas Akuifer (m/hari) Klas
1. < 0,5 Lambat
2. 0,5 - 10 Sedang
3. > 10 Cepat
Sumber : Santosan dan Adji, 2006 dalam Utami, 2008
35

Tabel 2.4. Klasifikasi Nilai Permeabilitas Berbagai Jenis Batuan


Material Permeabilitas (m/hari)
Kerikil kasar 150
Kerikil sedang 270
Kerikil halus 450
Pasir kasar 45
Pasir sedang 12
Pasir halus 2,5
Debu 0,008
Lempung 0,0002
Batupasir halus 0,2
Batupasir sedang 3,1
Batugamping 0,94
Gambut 5,7
Sekis 0,2
Batusabak 0,00008
Tuff 0,2
Basalt 0,01
Gabro lapuk 0,2
Granit lapuk 0,4
Sumber : Todd, 1980

4) Ketersediaan Airtanah
Ketersediaan airtanah diperoleh berdasarkan nilai debit statis dan hasil
aman. Perhitungan debit statis dihitung dengan rumus:
H = Da x A x Sy
dimana :
H = Debit statis (m3)
Da = Ketebalan akuifer (m)
A = Luas permukaan akuifer (m2) (Adji dan Purnama, 2008).
Perlunya diketahui cadangan airtanah yang aman untuk diambil (diturap).
Cadangan airtanah tersebut dapat diketahui berdasarkan nilai hasil amannya. Hal
tersebut dikarenakan pengambilan airtanah yang berlebihan akan mengakibatkan
kekritisan airtanah. Hasil aman dapat dihitung dengan rumus:
Ha = A x F x Sy
dimana :
Ha = Hasil aman penurapan airtanah (m3/tahun)
F = Fluktuasi tahunan (m)
A = Luas penampang akuifer (m2)

Sy = Persentase airtanah yang dapat lepas (%) (Adji dan Purnama,


2008).
Setiap material batuan memiliki nilai specific yield yang berbeda-beda.
Hal tersebut diakibatkan oleh perbandingan air yang dapat dipompa dengan
volume tanah atau batuan. Specific yield merupakan perbandingan antara jumlah
air yang dapat dilepas batuan terhadap volume batuan keseluruhan (Fetter, 1988).
Nilai Specific yield atau kesarangan efektif dapat diketahui berdasarkan Tabel 2.5.

Tabel 2.5. Nilai specific yield dari beberapa jenis mineral


Material Spesific yield (Sy)
%
Kerikil kasar 23
Kerikil sedang 24
Kerikil Halus 25
Pasir kasar 27
Pasir sedang 28
Pasir halus 23
Debu 8
Lempung 3
Batupasir halus 21
Batupasir sedang 27
Batugamping 14
Gumuk pasir 38
Gambut 26
Sekis 26
37

Batudebu 12
Tuff 21
Sumber : Todd, 1980

2.3 Tahapan Penelitian


Penelitian akan dilakukan dalam empat tahapan. Tahapan tersebut
diantaranya yaitu tahap persiapan, tahap pelaksanaan, tahap pengolahan dan
analisis data, dan tahap penyelesaian. Keempat tahapan tersebut meliputi kegiatan:
1) Tahap persiapan, meliputi kegiatan :
a) Studi kepustakaan yang berkaitan dengan penelitian yang akan
dilakukan, serta pengumpulan data sekunder.
b) Menyusun kerangka kerja, kerangka pemikiran dan peta dasar, serta
penentuan jenis dan sumber data sesuai dengan penelitian yang akan
dilakukan.
2) Tahap pelaksanaan, meliputi kegiatan :
a) Melakukan observasi lapangan, menentukan titik-titik
pengukuran berdasarkan perbedaan kenampakan
bentuklahan pada saat observasi lapangan.
b) Melakukan pendugaan geolistrik
c) Pengukuran uji lobang bor (invers auger hole)
d) Pengukuran tinggi muka airtanah
e) Pembuatan peta aliran airtanah.
3) Tahap pengolahan dan analisis data, meliputi kegiatan :
a) Analisis deskriptif, seperti analisis model 2 dimensi Three
Point Problems
b) Alisis model hidrostratigrafi
c) Analisis kuantitatif meliputi, tebal akuifer, specific yield,
hydraulic conductivity, dan ketersediaan airtanah.
4) Tahap penyelesaian, meliputi kegiatan :
a) Pembuatan peta-peta tematik
b) Penyusunan skripsi. Secara terstruktur, tahap penelitian disajikan
dalam bentuk diagram alir penelitian pada Gambar 2.7.