Anda di halaman 1dari 19

c c

   



c    
   
  


  
 !"#$  

Public relations banyak dipraktikkan di berbagai organisasi dalam rangka

menunjang manajemen untuk mencapai tujuannya secara efektif dan efisien.

Pelaksanaan public relations bertitik berat pada keterampilan membina hubungan

antar manusia di dalam dan di luar organisasi untuk mencegah timbulnya masalah.

›  
berasal dari dua buah kata, yaitu ›  dan  
Dalam

bahasa Indonesia kata ›  berarti publik (masyarakat) dan kata  
berarti

hubungan-hubungan. Jadi, ›   


berarti hubungan-hubungan dengan

publik yang mempunyai minat dan kepentingan bersama (Abdurrahman, 1968;2).

Istilah ›   


  (PRO) (di Indonesia lebih dikenal dengan

HUMAS atau hubungan masyarakat) baru dikenal pada abad ke-20, sebagai sebuah

kegiatan Humas sudah ada jauh sebelumnya. Bahkan para ahli PRO menyatakan

bahwa ›   


(Humas) sudah ada sejak manusia masih primitif. Humas

terlahir sebagai dampak dari perkembangan dan kemajuan masyarakat diberbagai

bidang seperti ekonomi, politik, sosial, budaya, dan sebagainya.

Di Indonesia istilah Humas sudah sangat membudaya dan dipergunakan

secara luas diberbagai perusahaan dan instansi, baik di pemerintah maupun swasta.

Oleh karena itu apabila kita berbicara tentang humas di Indonsia sesungguhnya kita

sedang membicarakan ›  


.
Selain pengertian public relations, untuk lebih jelasnya adapun definisi

public relations yang telah diungkapkan oleh beberapa pakar, diantaranya adalah :

D Definisi J.C. Seidel, Public Relations Director, Division of Housing, State of

New York berbunyi : ³Public Relations is the continuing process by which

management endeavors to obtain goodwill and understanding of its customers, its

employees and the public at large, inwardly through self analysis and correction.

Outwardly through all means of expression´ (Public Relations adalah proses yang

kontinu dari usaha-usaha manajemen untuk memperoleh goodwill dan pengertian

dari para pelanggannya, pegawainya, dan publik umumnya; kedalam dengan

mengadakan analisis dan perbaikan-perbaikan terhadap diri sendiri; keluar dengan

mengadakan pernyataan-pernyataan). (Abdurrachman, 2001:24)

D Definisi W. Emerson Reck, Public Relations Director, Colgate University

berbunyi : ³Public relations is the conitued process of keying policies, services, and

actions to the best interest of those individual and groups whose confidence and

goodwill an individual or institution covets, and secondly, it is interpretation of these

policies, services, and actions to assure complete understanding and appreciation.

(Public Relations adalah kelanjutan dari proses penetapan kebijaksanaan, penentuan

pelayanan-pelayanan dan sikap yang disesuaikan dengan kepentingan orang-orang

atau golongan agar orang atau lembaga itu memperoleh kepercayaan dan goodwill

dari mereka. Kedua, pelaksanaan kebijaksanaan, pelayanan, dan sikap adalah untuk

menjamin adanya pengertian dan penghargaan yang sebaik-baiknya).

(Abdurrachman, 2001:25)

D Definisi Howard Bonham, Vice Chairman, American National Red Cross

menyatakan : ³Public Relations is the art of bringing about better public


understanding which breeds greater public confidence for any individual or

organization´ (Public Relations adalah suatu seni untuk menciptakan pengertian

publik -sekelompok orang yang memiliki tujuan dan kepentingan yang sama- yang

lebih baik, yang dapat memperdalam kepercayaan publik terhadap seseorang atau

sesuatu organisasi/badan). (Abdurrachman, 2001:25)

D Menurut M.O. Palapah dan Atang Syamsudin, Public Relations adalah suatu

bentuk spesialisasi komunikasi yang bertujuan memajukan saling pengertian dan

kerjasama antara publik-publik berkepentingan guna mencapai keuntungan dan

kepuasan bersama.

D Menurut Tony Greener, Public Relations adalah presentasi positif suatu

organisasi kepada keseluruhan publiknya. (Greener, 1993:3)

D Menurut Cutlip, Center, dan Broom; ³Public Relations is management

function that identifies, establishs, and maintains mutually beneficial relationships

between an organization and the various publics on whom its success of failure

depends´ (Public Relations adalah fungsi manajemen yang membangun dan

mempertahankan hubungan yang baik dan bermanfaat antara organisasi dengan

publik yang mempengaruhi kesuksesan atau kegagalan organisasi tersebut). (Cutlip,

Center, Broom, 2006:1)

Jadi, berdasarkan definisi-definisi tadi terdapatlah di dalam public relations

itu suatu kegiatan untuk menanamkan dan memperoleh pengertian, goodwill,

kepercayaan, penghargaan pada dan dari publik sesuatu badan khususnya dan

masyarakat umumnya. Dalam public relations terdapat suatu usaha untuk

mewujudkan hubungan yang harmonis antara sesuatu badan/lembaga dengan

publiknya, usaha untuk memberikan atau menanamkan kesan yang menyenangkan,


sehingga akan timbul opini publik yang menguntungkan bagi kelangsungan hidup

badan/lembaga itu. Selain itu, definisi public relations menurut Cutlip, Center, dan

Broom menempatkan public relations sebagai sebuah fungsi manajemen, yang

berarti bahwa manajemen di semua organisasi harus memperhatikan public

relations. Definisi ini juga mengidentifikasikan pembentukan dan pemeliharaan

hubungan baik yang saling menguntungkan antara organisasi dengan publik sebagai

basis moral dan etis dari profesi public relations.

Hal ini dapat dilaksanakan oleh public relations dengan menunjukkan hal-hal

yang positif tentang apa yang telah dilaksanakan dan direncanakan. Memberikan

keterangan-keterangan/penjelasan-penjelasan kepada publik dengan jujur, sehingga

publik merasa ÿ 


 dan diikutsertakan dalam usaha-usaha badan/lembaga

tersebut. Selain daripada itu, sikap yang simpatik, yang ramah, dan kata-kata yang

sopan, yang menunjukkan perhatian terhadap ³public welfare´, perhatian terhadap

kritik-kritik dan saran-saran publik dengan bijaksana akan dapat memberikan

kepuasan pada usaha-usaha public relations tadi.

º%!#&   

 Bertrand R. Canfield dalam bukunya ›   


 ›    

›
 mengemukakan tiga fungsi public relations, yakni :

a. Mengabdi kepada kepentingan umum (it should serve in the public¶s

interest).

b. Memelihara komunikasi yang baik (maintain good communication).

c. Menitikberatkan moral dan tingkah laku yang baik (and stress good morals

and manners). (Effendy, 1993:137).


oungsi public relations juga adalah memelihara hubungan baik atau

hubungan harmonis antara lembaga/perusahaan dengan publik-publiknya, baik

publik internal (publik di dalam lembaga/perusahaan) maupun publik eksternal

(publik di luar lembaga/perusahaan).

Banyak yang memuji peran fungsi public relations dalam membuat

organisasi bersikap responsif terhadap kepentingan publik dan kontribusinya kepada

sistem informasi publik yang amat penting bagi masyarakat demokratis dan

kelangsungan hidup organisasional. Public relations mendapat pujian karena bisa

membantu membangun dan mempertahankan hubungan antara publik dengan

manajemen organisasional yang memperhatikan tanggung jawab sosial

kepemimpinan yang bermoral. Public relations juga membantu lembaga/perusahaan

untuk mengantisipasi dan merespons persepsi dan opini publik, merespons nilai dan

gaya hidup yang baru, merespons pergeseran di antara elektorat dan di dalam

lembaga legislatif, dan merespons perubahan-perubahan lain di lingkungan. (Cutlip,

Center, Broom, 2006:29).

Sedangkan untuk mengkaji tujuan public relations, berikut akan dikutip

beberapa pendapat ahli, antara lain :

O Charles S. Steinberg, tujuan public relations adalah menciptakan opini publik

yang 
 (menyenangkan) tentang kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh

badan/lembaga yang bersangkutan.

O orank Jefkins, tujuan public relations adalah meningkatkan 


 image/citra

yang baik dan mengurangi atau mengikis habis sama sekali 
 (tidak

menyenagkan) image/citra yang buruk terhadap organisasi tersebut.


O Dimock Marshall Cs, tujuan public relations adalah secara positif : berusaha

untuk mendapatkan dan menambah penilaian dan goodwill (itikad baik) suatu

organisasi atau badan. Secara defensif : berusaha untuk membela diri terhadap

pendapat masyarakat yang bernada negatif, bilamana diserang, dan serangan itu

kurang wajar, padahal organisasi atau badan kita tidak salah. (hal ini bisa terjadi

akibat kesalahpahaman). Dengan demikian tindakan ini adalah salah satu aspek

penjagaan atau pertahanan.

Dari berbagai pendapat di atas, maka dapat dirumuskan tentang tujuan public

relations secara umum/universal yang pada prinsipnya tujuan public relations adalah

: untuk menciptakan, memelihara, dan meningkatkan citra yang baik dari organisasi

kepada publik yang disesuaikan dengan kondisi-kondisi daripada publik yang

bersangkutan, dan memperbaikinya jika citra itu menurun/rusak.

Dengan demikian ada empat hal yang prinsip dari tujuan public relations,

yakni :

a. Menciptakan citra yang baik

b. Memelihara citra yang baik

c. Meningkatkan citra yang baik

d. Memperbaiki citra jika citra organisasi kita menurun/rusak

Dari serangkaian tujuan di atas pada umumnya public relations menekankan

tujuan pada aspek citra, untuk menjelaskan hal tersebut, berikut akan dikaji tentang

pengertian citra. ´Citra´ dalam bahasa Inggris dikenal dengan istilah ´Image´, image

dalam bahasa komunikasi adalah : ´The Picture In Ourhead´ yaitu suatu gambaran

yang ada pada kepala kita. Jadi, citra adalah gambaran yang ada pada pikiran
seseorang atau bisa disebut juga pendapat atau persepsi yang timbul dari pikiran

seseorang.

Untuk membentuk citra yang positif/favorable dari publik terhadap

lembaga/perusahaan/organisasi itu sangat sulit, oleh karena itu, jika suatu organisasi

ingin mendapatkan 


 , harus mempunyai suatu badan yang

menggarapnya yaitu Public Relations (dengan cara

menyebarluaskan/mempromosikan organisasi kita melalui mass media, misal : TV,

SK, Radio, oilm, dan sebagainya).

"#'("&

ºº  !" "#'("&

oilosofi dan spirit tentang produktivitas sudah ada sejak awal peradaban

manusia karena makna produktivitas adalah keinginan (  ÿ) dan upaya (
 )

untuk selalu meningkatkan kualitas kehidupan dan penghidupan disegala bidang

(Sedermayanti, 1996:142).

Pandangan yang lebih mengandung arti filosofi itu memberi arti dan spirit

yang cukup mendalam dan memungkinkan setiap orang yang memahaminya

memandang kerja, baik secara individual maupun kelompok dalam suatu organisasi

sebagai suatu keutamaan dalam hal mengutamakan bekerja dengan mengacu kepada

unsur efisiensi dan efektivitas yang merupakan penjabaran secara teknis dari konsep

produktivitas.
Menurut Dewan Produktivitas Nasional Indonesia 1983, dikatakan bahwa

produktivitas mengandung pengertian sikap mental (  


  ) yang selalu

mempunyai pandangan :´Mutu kehidupan hari ini harus lebih baik dari kemarin, dan

hari esok lebih baik dari hari ini´. Secara umum produktivitas mengandung

pengertian perbandingan terbalik antara hasil yang dicapai (


  dengan

keseluruhan sumber daya yang digunakan (  ). (Sedermayanti,2009: 197).

Dapat dikatakan bahwa kinerja sebagai suatu hasil atau output dari suatu

proses pelaksanaan tugas akan berpengaruh terhadap produktivitas/kerja. Semakin

baik kinerja seorang pegawai, berarti pegawai tersebut juga semakin produktif atau

produktivitas kerjanya semakin meningkat.

Kemudian Arouf (1986:20) berpendapat produktivitas adalah rasio antara

efektivitas menghasilkan keluaran dan efesiensi pemggunaan sumber masukan.

Produktivitas memiliki dua dimensi yakni efektivitas dan efisiensi. Dimensi

efektivitas berkaitan dengan pencapaian kerja yang maksimal artinya pencapaian

target yang berkaitan dengan kualitas, kuantitas dan waktu. Sedangkan dimensi

efesiensi merujuk kepada upaya membandingkan masukan dengan realisasi

penggunaannya atau bagaimana pekerjaan dilaksanakan.

Produktivitas dalam Kohler¶s Dictionary for Accountants (1983)

didefinisikan sebagai hasil yang didapat dari setiap proses produksi dengan

menggunakan satu atau lebih faktor produksi. Produktivitas biasanya dihitung

sebagai indeks, rasio


 (keluaran) dibidang   (masukan). Produktivitas

dapat dinyatakan dalam ukuran fisik (  


   ) dan ukuran financial

(  
   ) (Moelyono, 1993:3).
Muchdarsyah Sinungan (2000:16) dalam bukunya ‰›
       

  mengelompokkan pengertian produktivitas sebagai berikut:

a. Rumusan tradisional bagi keseluruhan produktivitas tidak lain ialah r 


dari
pada apa yang dihasilkan (output) terhadap keseluruhan peralatan produksi yang
diperguanakan (input).
b. ›
    pada dasarnya adalah suatu sikap mental yang selalu mempunyai
pandanagn bahwa mutu kehidupan hari ini lebih baik dari pada kemarin, dan
hari esok lebih baik dari hari ini.
c. Produktivitas merupakan interaksi terpadu secara serasi dari tiga factor esensial,
yakni : investasi termasuk penggunaan pengetahuan dan teknologi serta riset,
manajemen, dan tenaga kerja.

Berdasarkan pengertian di atas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa

produktivitas pada prinsipnya mencakup dua konsep dua dasar, yaitu daya guna

(efesiensi) dan hasil guna (efektivitas). Daya guna menggambarkan tingkat sumber

manusia, dana dan alam yang diperlukan untuk mengusahakan hasil tertentu.

Sedangkan hasil guna adalah akibat kualitas dan hasil yang diusahakan.

Sejauhmana seorang pegawai dapat mencapai hasil yang memuaskan dalam

bekerja tergantung dari kemampuan dan kecakapannya. Setiap jenis pekerjaan

menurut pengetahuan, kecakapan dan keterampilan tertentu agar pekerjaan tersebut

dapat dilaksanakan dengan baik. Pengetahuan, kecakapan dan keterampilan yang

dimiliki oleh seseorang menentukan kesiapan untuk melakukan suatu pekerjaan

tergantung dari pendidikan yang telah diterima maupun pelatihan yang telah didapat.

Pada umumnya seorang pegawai akan mengalami kepuasan kerja apabila

mempunyai kebebasan dalam menentukan pekerjaan yang ingin dilakukan dengan

cara yang di inginkannya. Demikian pula peran serta dan keterlibatan diri tanpa

paksaan, akan meningkatkan motivasi kerja. Kesesuaian antara kebutuhan individual


dan kebutuhan organisasai merupakan factor yang penting untuk menunjang

produktivitas kerja.

Banyak faktor yang mempengaruhi produktivitas kerja baik yang

berhubungan dengan tenaga kerja maupun yan berhubungan dengan lingkungan

suatu lembaga dan kebijakan pemerintah secara keseluruhan. Peran pegawai sebagai

faktor yang menentukan produktivitas kerja semakin kuat oleh adanya kemajuan

teknologi yang mempermudah dan mempercepat cara kerja yang akan dilakukan

oleh para pegawai.

Menurut balai pengembangan produktivitas daerah ada 6 faktor utama yang

menentukan produktivitas pegawai yaitu:

a. Sikap kerja, seperti: kesedian untuk bekerja secara bergiliran    ÿ

dapat menerima tambahan tugas dan bekerja dalam suatu tim.
b. Tingkat keterampilan, yang ditentukan oleh pendidikan, latihan dalam
manajemen dan supervisi serta keterampilan dalam bekerja.
c. Hubungan antara pegawai dan pimpinan organisasi: untuk meningkatkan
produktivitas melalui lingkaran pengawasan bermutu (Ë   


)
d. Manajemen produktivitas, yaitu: manajemen yang efesien mengenai
sumber daya manusia dansistem kerja untuk mencapai peningkatan
produktivitas.
e. Efesiensi tenaga kerja, seperti: perencanaan tenaga kerja dalam tambahan
tugas.
f. Kewiraswastaan yang tercermin dalam pengambilan resiko, kreativitas
dalam berusaha dan berada pada jalur yang benar dalam berusaha
(Moelyono, 1993;25)

oaktor tersebut besar artinya bagi penciptaan suasana kerja yang ergonomis

untuk menunjang tercapainya efesiensi yang berarti di dalam proses yang telah

memenuhi batasan standar produktivitas kerja. Pencapaian produktivitas kerja yang

sekaligus mansyaratkan perlunya dilakukan standar kerja antara lain:

1. Standarisasi cara/prosedur kerja


2. Standarisasi peralatan kerja
3. Standarisasi lingkungan kerja
4. Standarisasi tenaga kerja
5. Standarisasi pemakaian material
6. Standarisasi kinerja 
 

Apabila tenaga yang dikeluarkan waktu yang dihabiskan dan pikiran yang

dicurahkan oleh seorang pegawai untuk mengatur segenap yang dicurahkan oleh

seorang pegawai untuk mengatur segenap yang dicurahkan oleh seorang pegawai

untuk mengatur segenap sarana dan sumber daya tersebut, masing-masing dapat

ditunjukan kepada sarana yang produktif, maka diharapkan volume atau jumlah

produk yang dihasilkan akan meningkat. Dengan tata kerja yang sesuai, kondisi

lingkungan kerja yang tentram, aman dan menyenangkan maka akan dapat dicapai

produktivitas kerja yang tinggi.

Perusahaan/lembaga merupakan salah satu tempat di mana pegawai akan

memperoleh pengalaman kerja dan kesempatan meningkatkan keterampilan.

Tanggung jawab peningkatan keterampilan melalui pengalaman dan kesempatan

akan tergantung dari pimpinan lembaganya. Dengan demikian dapat disimpulkan

bahwa faktor manajemen sangat berperan dalam meningkatkan produktivitas kerja

baik secara langsung yaitu melalui perbaikan organisasi dan tata prosedur untuk

memperkecil pemborosan, maupun secara tidak langsung yaitu melalui penciptaan

jaminan kesempatan bagi pegawai untuk berkembang, penyediaan fasilitas latihan

dan penghasilan yang mencukupi serta pemberian jaminan sosial bagi pegawai

supaya mendapatkan kehidupan yang layak bagi keluarganya.

ºº %'")$'" #'! "#'('"&


Ada banyak faktor yang dapat mempengaruhi produktivitas baik disorot

melalui dimensi makro ataupun dari segiorganissai (mikro). Secara makro factor-

faktor yang dapat mempengaruhi produktivitas tersebut bisa berupa :

a. Status social ekonomi


b. Kualitas fisik
c. Kualitas non fisik
d. Teknostruktur
e. Peraturan birokrasi dan
f. Gaya kepemimpinan

Menurut Kopelman (1986) dalam Moelyono, (1993:27) faktor-faktor yang

mempengaruhi produktivitas kerja dari dimensi makro yang diduga berpengaruh

secara signifikan terhadap penurunan tingkat pertumbuhan produktivitas adalah: a)

berkurangnya intensitas modal, b) berkurangnya pembiayaan untuk kegiatan riset

dan pengembangan, c) perubahan komposisi angkatan kerja dan perekonomian, d)

perubahan dalam nilai dan sikap sosial.

Dapat ditinjau dari yang lebih makro, Aft (1983) menyoroti  


    yang tekanannya kepada : a) tingkat keefesiensi dari hasil pekerjaan

yang senyatanya, yang biasanya direfleksikan oleh rasio luaran disbanding masuk,

b) tingkat efisiensi fisik yaitu ukuran dari suatu pekerjaan fisik (Moelyono,

1993:27).

Tujuan dari kedua tingkat efesiensi ini dimaksudkan sebagai indikasi dimana

para pekerja dapat bekerja dengan lebih cepat karena keterampilan atau keahlian dan

bukan kerena dia bekerja lebih keras. Disamping itu, faktor-faktor yang

mempengaruhi produktivitas juga tidak lepas dari keterkaitannya dengan persoalan

kesehatan, keselamatan dan kesenangan kerja. oaktor-faktor seperti ini biasanya

disebut sebagai factor yang bersifat manusiwi atau 




º* #'" "#'("&

Indikator produktivitas dikembangkan dan dimodifikasi dari pemikirannya

yang disampaikan oleg Gilmore (1974), Erich oromm (1975) tentang individu yang

produktif, yaitu: 1) tindakannya konstruktif, 2) percaya pada diri sendiri, 3)

bertanggung jawab, 4) memiliki rasa cinta, 5) mempunyai pandangan kedepan, 6)

mampu mengatasi persoalan dan dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan yang

berubah-rubah.

Produktivitas merupakan hal yang sangat penting bagi para karyawan yang

ada pada lembaga organissai/perusahaan. Dengan adanya produktivitas kerja

diharapkan pekerjaan akan terlaksana secara efesien dan efektif, sehingga ini semua

akhirnya sangat diperlukan dalam pencapaian tujuan yang sudah ditetapkan. Untuk

mengukur produktivitas kerja diperlukan suatu indikator sebagai berikut:

  ""&

Istilah kinerja berasal dari kata þ


 
  atau   
 

(pretasi kerja atau prestasi sesungguhnya yang dicapai oleh seseorang).

Pengertian prestasi kerja adalah hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang

dicapai oleh seorang pegawai dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggung

jawab yang diberikan kepadanya (Mangkunegara, 2001:67).

Menurut Byars dan Rue (1984), mengartikan prestasi sebagai tingkat

kecakapan sesorang pada tugas-tugas yang mencakup pada pekerjaannya selama

kurun waktu tertentu. Pengertian tersebut menunjukan pada bobot kemapuan

individu di dalam memenuhi ketentuan-ketentuan yang ada di dalam pekerjaannya.

Pada umumnya, prestasi kerja diberi batasan sebagai kesuksesan seseorang

di dalam melaksanakan suatu pekerjaan. Lawler dan Porter (1967) menyatakan


bahwa þ
 
  adalah ³    
   yang diperoleh

seseorang dari perbuatan-perbuatannya. Tingkat sejauhmana keberhasilan seseorang

di dalam melakukan tugas pekerjaannya dinamakan 


 
  oleh

Vroom (dalam As¶ad, 2001).

Agus Dharma dalam bukunya ! þ  ›   "þ mengatakan

bahwa ³Prestasi kerja adalah sesuatu yang dikerjakan atau produk/jasa yang

dihasilkan atau diberikan oleh seseorang atau sekelompok orang´.

Dari keterangan-keterangan tersebut di atas maka dapat ditarik kesimpulan

bahwa untuk mencapai suatu kinerja (prestasi kerja) yan optimal, maka setiap

pegawai harus memiliki motif berprestasi dalam diri sendiri selain itu tentunya

situasi lingkungan kerjapun turut menunjang seperti dilakukannya penilaian

mengenai produktivitas kerja yang dapat memberikan motivasi terhadap pegawai

sehingga dapat memberikan citra yang baik terhadap instansi.

 +"&

Kata disiplin (termonologis) berasal dari kata Latin: disciplina yang berarti

 þ    dan sebagainya. lazimnya kata    menunjukan suatu

ide hukuman tetapi itu bukan artinya (arti disiplin) yang sebenarnya. Disiplin berasal

dari kata latin    yang berarti latihan atau pendidikan kesopanan dan

kerohanian serta pengembangan tabiat (Moekijat: 139).

Kemudian Keith Davis mengemukakan bahwa ³     

 

  

 # 
   ´. Berdasarkan pendapat Keith Davis,

disiplin kerja dapat diartikan sebagai pelaksana manajemen untuk memperteguh

pedoman-pedoman organisasi (Mangkunegara, 2001:129).


Dalam buku ³Organisasi Perilaku Struktur dan Proses´ Gibson, Wancevich,

dan Donnelly (1987:188) mengatakan bahwa ³Disiplin ( ) adalah suatu

bentuk hukuman disiplin berbeda dengan hukuman (   ), tetapi pelaksana

disiplin tidak selalu memandang disiplin sebagai suatu yang tidak disukai ³.

³  adalah sikap mental yang tercermin dalam perbuatan atau tingkah
laku perorangan, kelompok atau masyarakat berupa kepatuhan atau ketaatan
terhadap peraturan dan ketentuan yang ditetapkan baik oleh pemerintah/
etika, norma, dan kaidah yang berlaku dalam masyarakat untuk tujuan
tertentu´ (Sedermayanti, 2009:222).

Disiplin erat hubungannya dengan kesadaran, sebab disiplin timbul dari

kesadaran. Timbulnya proses kesadaran dapat memerlukan waktu lama dan agak

sulit dilaksanakan tetapi disiplin dapat ditumbuhkan dalam waktu yang sangat

singkat dan pada awalnya dapat dipaksakan dengan suatu aturan. Di tempat kerja

terdapat berbagai aturan yang menentukan adanya disiplin pegawai dengan berbagai

sanksinya. Pada dasarnya dalam disiplin terdapat dua faktor penting yaitu faktor

waktu dan faktor kegiatan atau pelaksana kerja. Usaha untuk menciptakan adanya

disiplin yang baik pada organisasi antara lain dilakukan melalui penyebaran tugas

dan wewenang yang jelas, tata cara atau tata kerja (prosedur) yang sederhana tetapi

memadai yang dapat diketahui dan dipahami oleh tiap pegawai sehingga mengetahui

dengan tepat dimana dan bagaimana posisi pegawai sehingga pekerjaaan dapat

dilaksanakan dengan efesien.

 ,,+#,'"&

Setiap orang harus mempunyai kemampuan dalam bekerja, secara

psikologis kemampuan ( ) pegawai terdiri dari kemampuan potensi (IQ) dan

kemampuan reality (
ÿ  ), artinya pegawai yang memiliki IQ di atas
rata dengan pendidikan yang memadai maka ia akan lebih mudah mencapai kinerja

yang diharapkan.

Mempunyai kemampuan untuk melaksanakan tugas. Kemampuan seorang

pegawai sangat bergabtung pada keterampilan yang dimiliki serta profesionalisme

mereka dalam bekerja. Yang dimaksud dengan kemampuan itu sendiri dimana

kemampuan berasal dari kata dasar mampu yang dalam hubungannya dengan

tugas/pekerjaan berarti dapat (kata sifat/keadaan) melakukan tugas/pekerjaan

sehingga menghasilkan barang dan jasa sesuai dengan yang diharapkan. Agar

pencapaian tujuan perusahaan dapat efektif (


      ) maka

penempatan karyawan harus sesuai dengan kemampuannya (Moenir, 2002;166).

Untuk mencapai tujuan perusahaan dengan lebih efektif pihak perusahaan

harus dapat menempatkan karyawannya sesuai dengan kemampuannya masing-

masing. Hal tersebut didukung oleh pernyataan Sedermayanti, ia mengatakan,

³penempatan pegawai harus sesuai dengan kemampuannya dan keterampilannya

sehingga gairak kerja dan kedisiplinannya akan lebih baik serta efektif dalam

menunjang terwujudnya tujuan organisasi´ (Sedermayanti,2001: 16).

Kemampuan dalam bekerja terdiri dari pengetahuan dan kecakapan. menurut

factor yang mempengaruhi produktivitas dari sumber Sutermaiser dalam

Sedermayanti, (2001 :83), menyatakan ³pengetahuan (


ÿ) yang dilator

belakangioleh pendidikan (  


), pengalaman ($ ), dan pelatihan

(   ). Kecakapan ( ) dilatorbelakangi oleh kemampuan untuk belajar

(  ) dan kepribadian (


 ).

*  %'")$'"!,+!"- "#'("&
Produktivitas tenaga kerja dipengaruhi oleh beberapa faktor baik yang

berhubungan dengan tenaga kerja itu sendiri maupun faktor lain, seperti tingkat

pendidikan, keterampilan, disiplin, sikap dan etika kerja, motiviasi, gizi dan

kesehatan, tingkat penghasilan, jaminan social, lingkungan kerja, iklim kerja,

teknologi, sarana produksi, manajemen, dan prestasi (Ravianto,1991).

Menurut Simanjuntak (1993), ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi

produktivitas kerja karyawan, yaitu:

1. ›  

Latihan kerja dimaksudkan untuk melengkapi keryawan dengan keterampilan

dan cara-cara yang tepat untuk menggunakan peralatan kerja. Untuk itu latihan

kerja diperlukan bukan saja sebagai pelengkap akan tetapi sekaligus untuk

memberikan dasar-dasar pengetahuan. Karena dengan latihan berarti para

karyawan belajar untuk mengerkan sesuatu dengan benar-benar dan tepat, serta

dapat memperkecil atau meninggalkan keslahan-kesalahan yang pernah

dilakukan. Stoner (1991) mengemukakan bahwa peningkatan produktivitas

bukan pada pemuktakhiran peralatan akan tetapi pada pengembangan karyawan

yang paling utama. Peningkatan produktivitas justru dihasilkan oleh perbaikan

pelatihn dan pengetahuan kerja, kesehatan dan alokasi tugas.

2. !     ÿ 

Keadaan mental dan fisik keryawan merupakan hal yang sangat penting untuk

menjadi perhatian bagi organisasi sebab keadaan fisik dan mental karyawan

mempunyai hubungan yang sangat erat dengan produktivitas kerja karyawan. 

3. Ñ        ÿ 


Ñ   t    
  i
it  il



 i i  Bi   t t       j 

 ii
t t
l   t t j i
 lijli jli

t l    i
t
 
ti it
 l  
j  

 i
iji

i l

 i
 

t   t


  tii i   i


 l l    
i  i 


    ti
t 
i
j

ë  › › 
 
 

 t l  i i
 t t 
t
t 
ti it 
  lj t l 

i lt t 
  l

 
 
 ti
t i

ti
t      
ti it  t ji l  jl
  
t 

t t t  
 ii  it  tl ti  i
 i i 

  t i t j  lii


 
j  ili
i 
t
t

l   
     

i
 t    


ti iti
t 
ti it ti 
 it
  i i

 il lii 


  t i 
 t
    
ti l 

i
 l
i  

  i   t  t    l 


 
ti it 

i


 l  i   :  it l  



ti it ttl  
 il   
ti it ttl   t

l Ñi : !"l  i i


t: 

 
 
ti it ttl  t l il

  
 t


ti/iil i    t   t   
 ii i
 t l i 
dahulu output yang dihasilkan dan input yang digunakan lalu kemudian

dibandingkan antara ouput dan input.