PENGEMBANGAN MODEL PEMBELAJARAN UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN REFLEKTIF MAHASISWA S1-PGSD PADA MATAKULIAH PENELITIAN TINDAKAN KELAS (Ingridwati

Kurnia / Dosen PGSD Unika Atma Jaya Jakarta) ========================================================
A. PENDAHULUAN Dinamika kehidupan masyarakat di era globalisasi abad 21 menuntut sumber daya manusia yang berkualitas dan profesional, serta memiliki kompetensi di pelbagai bidang kehidupan. Pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya (Sisdiknas, 2003). Dengan demikian, pendidikan yang bermutu diharapkan dapat mempersiapkan dan mengembangkan sumber daya manusia yang dituntut masyarakat pada abad 21. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kenyataan, adanya tuntutan terhadap mutu pendidikan SD yang sampai saat ini masih memprihatinkan; isu permasalahan mutu guru SD berkenaan dengan motivasi, kualifikasi pendidikan, dan kompetensi; mutu LPTK baik dari aspek masukan, proses maupun produk lulusannya. Peraturan pemerintah no.19 tahun 2005 memsyaratkan kualifikasi akademis pendidikan guru SD minimum D-4 atau S-1, dan memiliki kompetensi pedagogik, kepribadian, profesional dan sosial. Berdasarkan itu, maka program S1-PGSD sebagai LPTK yang berkewajiban mempersiapkan guru SD, perlu mengembangkan dan melaksanakan pembelajaran yang dapat membekali mahasiswanya dengan kemampuan-kemampuan agar dapat

melaksanakan tugas sebagai pendidik profesional di SD. Pengembangan model pembelajaran pada pendidikan guru didasari oleh kecenderungan penelitian pendidikan guru (Pintrich, P.R, 1990). yang berupaya mempertemukan model mengajar guru dengan model belajar siswa (social-cognitive perspectives), menekankan guru sebagai pelajar dan peneliti (teacher as learner and reseacher). Kemampuan reflektif diasumsikan dapat membekali mahasiswa program S1PGSD dalam melaksanakan tugas mengajar di SD dengan segala tuntutan dan perubahannya. Asumsi ini didasarkan pada pandangan Ginsberg & Cliff dalam

tulisannya di Handbook of Research on Teacher Education (1990:454-455), Dunkin, MJ
1

& Biddle, B.J (1936) dan LaBoskey (1993) yang mengungkapkan bahwa mengajar merupakan praktek reflektif, dan perlunya calon guru terlebih dulu belajar bagaimana caranya belajar melalui pengalaman, dengan cara merenungkan dan merekonstruksikan struktur kognisinya. Pada standar kompetensi guru kelas (SKGK) SD/MI S1-PGSD, unsur reflektif tersurat pada rumpun kompetensi pedagogik, kepribadian, profesional, dan tersirat pada rumpun kompetensi sosial sebagai dampak pengiring pembelajaran. Kemampuan reflektif memungkinkan mahasiswa sebagai guru SD merefleksikan pengalaman mengajarnya dan mengambil hikmah, sehingga dapat digunakan untuk memperbaiki dan meningkatkan mutu pembelajaran selanjutnya dan pendidikan SD.

Permasalahan Sebelum merumuskan masalah penelitian, perlu diperhatikan fokus pengembangan yaitu model pembelajaran. Pembelajaran terdiri dari komponen-komponen pembelajaran sebagai suatu sistem yang terkait satu dengan lainnya. Komponen dalam pengembangan model pembelajaran untuk meningkatkan kemampuan reflektif mahasiswa S1-PGSD disajikan dalam bagan sebagai berikut .

. Instrumental Input
- Kebijakan pend. Guru (SD) - Program dan kurikulum
- Personil: kaprodi, dosen, TU

Raw Input
Mahasiswa S1-PGSD

Output PROSES PEMBELAJARAN
Kemp. reflektif mhs meningkat

Enviromental Input
Tuntutan masyarakat dan perkembangan Ipteks abad 21 terhadap guru SD

Komponen Pembelajaran sebagai Sistem

2

Proses pembelajaran mahasiswa program S1-PGSD (raw input) menjadi mahasiswa yang sekaligus bekerja sebagai guru SD meningkat kemampuan reflektifnya (output), dipengaruhi oleh sarana/instrumental masukan lingkungan (enviromental input) dan masukan input). Masukan lingkungan yang perlu

(instrumental

dipertimbangkan adalah tuntutan masyarakat dan perkembangan Ipteks abad 21 terhadap guru SD. Masukan sarana/instrumental yang mempengaruhi proses pembelajaran adalah strategi kebijakan pendidikan guru, program dan kurikulum, personil (ketua program studi, dosen, tata usaha), dan sarana prasarana yang menunjang. Dengan memperhatikan latar belakang masalah dan pembelajaran sebagai suatu sistem, maka perumusan masalah dalam penelitian ini adalah model pembelajaran seperti apa yang tepat untuk meningkatkan kemampuan reflektif mahasiswa program S1PGSD. Secara spesifik difokuskan dalam bentuk pertanyaan penelitian sebagai berikut: 1. Bagaimana kondisi pembelajaran/perkuliahan, termasuk faktor pendukung dan penghambat pembelajaran di program S1-PGSD (saat survei awal, September 2004)? 2. Bagaimana model desain pembelajaran yang dapat reflektif mahasiswa program S1-PGSD ? 3. Bagaimana implementasi model pembelajaran tersebut pada mata kuliah Penelitian Tindakan Kelas di program S1-PGSD? 4. Bagaimana dampak penggunaan model pembelajaran tersebut terhadap kemampuan reflektif mahasiswa program S1-PGSD? 5. Apa karakteristik, keunggulan dan keterbatasan dikembangkan? model pembelajaran yang meningkatkan kemampuan

Tujuan Penelitian Secara umum, penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan suatu model pembelajaran yang dapat meningkatkan kemampuan reflektif mahasiswa program S1PGSD pada mata kuliah Penelitian Tindakan Kelas. Secara khusus, bertujuan untuk: 1. Mengidentifikasikan kondisi pembelajaran/perkuliahan program S1-PGSD pada saat survei awal, September 2004. 2. Menemukan model desain pembelajaran yang dapat meningkatkan kemampuan reflektif mahasiswa program S1-PGSD. 3. Mengetahui implementasi model pembelajaran tersebut pada mata kuliah Penelitian Tindakan Kelas.
3

sehingga dapat memperkaya teori mengenai model pembelajaran yang telah ada. Mengidentifikasikan karakteristik. 4 . Mendapatkan data perbedaan kemampuan reflektif mahasiswa sebelum dan sesudah menggunakan model pembelajaran 5. diharapkan dapat menghasilkan prinsipprinsip dalam pembelajaran yang dapat meningkatkan kemampuan reflektif mahasiswa program S1-PGSD. Secara praktis. Mahasiswa program S1-PGSD menjadi lebih dipersiapkan dengan kemampuan reflektif dalam melaksanakan tugas secara profesional dan memiliki kompetensi dalam menghadapi masalah dan meningkatkan mutu pembelajaran di SD. maka penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat secara teoritis maupun praktis.4. Program studi S1-PGSD dalam menyelenggarakan pendidikan persiapan (pre-service) yang mempersiapkan mahasiswanya lebih bermutu dan profesional dalam menjalankan tugasnya sebagai guru SD. 2. Tenaga pengajar (dosen) program S1-PGSD khususnya yang mengampu mata kuliah Penelitian Tindakan Kelas dalam mengembangkan dan mengimple-mentasikan model pembelajaran yang dapat meningkatkan kemampuan reflektif mahasiswanya. 4. Manfaat Penelitian Dengan dihasilkannya model pembelajaran yang dapat meningkatkan kemampuan reflektif mahasiswa program S1-PGSD. khususnya model pembelajaran untuk meningkatkan kemampuan reflektif pada pendidikan guru SD. Secara teoritis. Peneliti lain yang tertarik untuk menambah wawasan dan pengetahuannya dalam mengembangkan model pembelajaran. keunggulan dan keterbatasan model pembelajaran yang dikembangkan. hasil penelitian diharapkan dapat bermanfaat sebagai masukan bagi: 1. 3.

Sukmadinata (2004) mengemukakan mengenai dasar pemilihan pembelajaran (pendekatan. pelatihan. dan kemampuan reflektif (berfikir dan sikap reflektif).B. 5 . (learning how to learn). pembelajaran terpadu. dan pembelajaran kooperatif. yaitu: tujuan pembelajaran. model pembelajaran kompetensi. dan pembelajaran pembelajaran bagaimana caranya belajar berfikir (teaching for thinking). macam model pembelajaran. Sebelum membahas proses pengembangan suatu model pembelajaran. learning to do. pembelajaran berbasis pengalaman. dan kelompok perilaku (Joice & Weil. lapangan. kajian teori ditekankan pada pengembangan model pembelajaran dan kemampuan reflektif. kelompok personal. Terdapat beberapa model mengajar/pembelajaran antara lain model pemrosesan informasi. Pengembangan Model Pembelajaran Menurut Oliva (1992:413). kompetensi. philosophers. belajar sepanjang hayat pada pelajar orang dewasa. kemampuan siswa dan guru. pembelajaran kontekstual. berisi serangkaian langkah strategi yang dilakukan guru maupun siswa. jarak jauh. Namun pada makalah ini. perlu dibahas mengenai pengertian dan prinsip pembelajaran. Dalam pengembangan model pembelajaran. konsep pembelajaran abad 21 yang didasarkan pada empat pilar yaitu learning to know. dan konsep dasar PTK. (Sukmadinata. kelompok sosial. dan metode untuk mengevaluasi kemajuan belajar siswa. Selain itu juga dikaji mengenai strategi kebijakan dan kompetensi guru SD). pembelajaran mencari dan bermakna. Hal ini berarti setiap model mengajar atau pembelajaran harus mengandung suatu rasional yang didasarkan pada teori. learning to be. KAJIAN TEORI Kajian teori yang mendasari dan relevan dengan penelitian ini mengenai pengembangan model pembelajaran (konsep dasar pembelajaran. dan learning to live together. Proses sistematik dalam mengembangkan pembelajaran pada umumnya disajikan dalam bentuk model pembelajaran. performansi. 2004). and others who question how individual learn”. didukung dengan sistem penunjang atau fasilitas pembelajaran. dll. internship. pengembangan model pembelajaran). model pendidikan guru berbasis akademik. pengajaran mikro. 1986). “models of teaching are strategies based on theories (and often the research) of educators. model ataupun prosedur dan metode pembelajaran) karakteristik mata pelajaran. psychologist.

Helen L. Dalam artikel jurnal Teaching and Teacher Education (vol. mengembangkan ide untuk memecahkan masalah dengan cara mengumpulkan data yang dibutuhkan. dan proses interaktif yang kompleks. kemudian merancang/desain dan implementasi proses pembelajaran (process). mengajukan beberapa kemungkinan alternatif solusi pemecahan masalah. (3) suggestion of posible solution.PGSD sebagai pelajar orang dewasa dan guru SD yang memiliki pengalaman mengajar). membatasi dan merumuskan masalah. (3) wholeheartedness atau kesungguhan dalam bertindak dan melaksanakan tugas. serta siswa.Pengembangan model pembelajaran untuk meningkatkan kemampuan reflektif mahasiswa S1-PGSD didasarkan pada pembelajaran sebagai sistem. yang mempertimbangkan komponena raw input (mahasiswa S1. dan inklusif. sebagai refleksi mengenai apa yang diketahui.no. Kemampuan berfikir reflektif terdiri atas lima komponen yaitu: (1) recognize or felt difficulty/problem. proses interaktif. melakukan tes untuk menguji solusi pemecahan masalah dan menggunakannya sebagai bahan pertimbangan membuat kesimpulan. Kemampuan Reflektif Kemampuan reflektif sebagai hasil atau output dari pembelajaran yang dikembangkan pada penelitian ini. didasarkan pada konsep reflektif dari John Dewey berkenaan dengan kemampuan berfikir reflektif dan bersikap reflektif.12. (2) location and definition of the problem. sebagai sikap moral dan komitmen profesional berkenaan dengan dampak pembelajaran pada siswa saja. enviiromental input (tuntutan lingkungan masyarakat dan perkembangan ipteks terhadap guru dan mahasiswa S1PGSD). (5) test and formation of conclusion. merasakan dan mengidentifikasikan masalah. sehingga dihasilakan lulusan yang memiliki kemampuan reflektif (output). (4) rational elaboration of an idea. guru dan orang lainnya. dengan cara pembelajaran langsung guru.1. siswa dan guru. dalam pembelajaran ada tiga pola dasar yaitu pola berfokus pada guru. Sikap reflektif yang tidak dapat dilepaskan dari kemampuan berfikir reflektif. instrumental input (kebijakan pendidikan guru). dikembangkan berdasarkan konsep awal dari Dewey yang telah diperluas dan diaplikasikan oleh beberapa praktisi di bidang pendidikan guru. (2) responsibility atau tanggung jawab. 6 . Harrington cs mengemukakan dan mengembangkan tiga komponen sikap reflektif yaitu: (1) openmindedness atau keterbukaan. Januari 1996). siswa.

PP No. model pembelajaran reflektif dikembangkan berdasarkan konsep Zeichner dan Liston (1996) berkenaan dengan konsep “critical reflection” yang terdiri dari tiga tahap/tingkat reflektif yaitu (1) technical level. membangun suatu pengetahuan atau konsep. Ditjen Dikti mengembangkan minimal dua jenis program S1-PGSD yaitu pendidikan pra-jabatan guru terintegrasi. dan Undang-undang no 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen. Selain kedua kajian teori utamaa tersebut. 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. refleksi dilakukan berdasarkan pertimbangan kritis. (2) contextual level. 7 . (3) critical level. Konstruktivisme dalam pembelajaran pada hakekatnya merupakan suatu pendekatan dalam pembelajaran yang didasarkan pada pengalaman (experience is the only basis for knowledge and wisdom). guru berperan sebagai fasilitator/mediator dan motivator yang menstimuli siswa untuk belajar sesuatu yang bermakna melalui pemahaman (insight). refleksi dilakukan pada efisiensi aplikasi pengetahuan dalam bentuk cara atau teknik dalam mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan.Model pembelajaran untuk meningkatkan kemampuan reflektif dikembangkan berdasarkan pendekatan filosofis konstruktivisme dan psikologi kognitif. refleksi dilakukan untuk menemukan keterkaitan antara situasi problematik dengan tindakan yang dilakukan melalui aplikasi teori sesuai dengan konteksnya. disajikan pula secara singkat tentang strategi kebijakan pendidikan guru SD didasarkan pada fakta bahwa kondisi objektif jumlah dan sebaran guru SD di Indonesia sangat kompleks dengan latar belakang pendidikan dan sosial budaya yang beragam. dan program sertifikasi bagi guru SD yang sudah berkualifikasi S1 agar dapat menguasai kompetensi profesional guru kelas SD melalui uji kompetensi. mensyaratkan kualifikasi pendidikan minimal guru SD ditetapkan sekurangnya sarjana (S1) atau D4. yang kemudian direorganisasi dan direkonstruksikan. Materi pelajaran harus memungkinkan siswa belajar bagaimana caranya belajar (learning how to learn) dalam bentuk studi kasus atau masalah yang perlu dan bermanfaat untuk dicari jalan ke luarnya (problem solving learning) melalui proses inkuiri diskoveri. Hal ini membawa implikasi besar dalam pengadaan guru SD. Proses pembelajaran berpusat pada siswa dan keaktifan siswa. Dalam penelitian ini. dan nilai-nilai moral/etis. dan telah mendapat sertifikat pendidik sebagai guru SD melalui pendidikan profesi. Penilaian dilakukan selama dan akhir proses pembelajaran untuk mengetahui sejauh mana siswa.

Selanjutnya secara lebih spesifik.Kompetensi guru seperti yang dikemukan pada PP No.19 tahun 2005 meliputi empat kompetensi yaitu: kompetensi pedagogik. kompetensi kepribadian (mengkaji strategi berfikir reflektif dalam memecahkan permasalahan yang dihadapi). Kemampuan menyelenggarakan pembelajaran yang mendidik Meliputi kemampuan merencanakan dan melaksanakan pembelajaran. serta latar belakang peserta didik sebagai landasan bagi guru atau calon guru agar mampu mengembangkan potensi peserta didik secara optimal. Juga secara implisit termasuk 8 . kompetensi kepribadian. kompetensi profesional. dan fisik. Berkaitan dengan penelitian ini. melaksanakan dan menilai proses dan hasil pembelajaran). Standar kompetensi guru ini diperlukan sebagai landasan dan pedoman uji kompetensi. 4. sosial. 3. kemampuan reflektif termasuk dalam rumpun kompetensi pedagogik (merancang. kemampuan mengases (menilai) proses dan hasil pembelajaran. maka kemampuan reflektif merupakan salah satu bentuk kompetensi yang perlu dikuasai oleh guru SD dalam menjalankan tugas secara profesional menghadapi perkembangan ilmu pengetahuan teknologi yang demikan pesat di era globalisasi abad 21. Dalam Standar Kompetensi Guru Kelas SD/MI lulusan S1-PGSD (Depdiknas. 2005). dan kompetensi sosial. serta kemampuan memilih dan mengemas bidang ilmu tersebut menjadi bahan ajar sesuai dengan konteks kurikulum dan kebutuhan pesera didi (pedagogical content knowledge). Kemampuan menguasai bidang studi Meliputi penguasaan substansi dan metodologi bidang ilmu (disciplinary content knowledge) yang bersangkutan. standar kompetensi guru kelas (SKGK) kompetensi yaitu: 1. Mengembangkan kemampuan profesional secara berkelanjutan Menekankan kemampuan guru dalam memanfaatkan setiap peluang untuk belajar meningkatkan profesionalitas sehingga pembelajaran yang dikelolanya selalu SD/MI lulusan S1 PGSD ( 2006) terdiri atas empat rumpun mengedepankan kemaslahatan peserta didik. Kemampuan memahami peserta didik secara mendalam Meliputi pemahaman secara mendalam tentang karakteristik intelektual. emosional. serta kemampuan menindaklanjuti hasil asesmen untuk perbaikan pembelajaran secara berkelanjutan. kompetensi profesional (mampu menilai dan memperbaiki pembel-ajaran melalui penelitian tindakan kelas). 2.

2002:14) dan Mills (2000:6) disimpulkan penelitian tindakan kelas merupakan suatu penelitian yang bersifat reflektif. pelaksanaan PTK tidak menuntut waktu yang berlebihan dari guru sehingga dapat mengganggu proses pembelajaran. Dengan meningkatnya kemampuan reflektif. sehingga dapat digunakan untuk memperbaiki dan meningkatkan mutu dalam melaksanakan tugas sebagai guru secara profesional. metodologi yang digunakan harus cukup reliabel sehingga dapat dipertanggungjawabkan.1993). Berdasarkan beberapa definisi PTK (McNiff dalam Sukidin.kompetensi sosial sebagai dampak pengiring melakukan refleksi dengan bantuan teman secara kolaboratif atas pembelajaran yang dilaksanakannya. Salah satu model PTK yang dikembangkan di Indonesia adalah modifikasi model sistem spiral refleksi diri dari Kemmis dan Taggart yang terdiri dari: 1. 9 . dilakukan oleh guru untuk meningkatkan kemampuan rasional dari tindakan yang dilakukannya itu. dan dalam pelaksanaan guru mengikuti prosedur etika penelitian. 1990:454-455) ataupun refleksi belajar (Dunkin & Biddle. (LaBoskey. Dengan adanya unsur kemampuan reflektif pada keempat rumpun kompetensi guru kelas SD/MI lulusan S1-PGSD. masalah PTK merupakan hal yang cukup merisaukan guru untuk diatasi melalui tindakan perbaikan sebagai bentuk tanggung jawab profesional. dan perlunya calon guru terlebih dulu belajar dari pengalaman. Demikian pula kajian teori berkenaan dengan matakuliah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) membahas mengenai konsep dasar PTK dan proposal PTK. Adapun prinsip PTK antara lain: PTK tidak berdampak mengganggu komitmen guru sebagai pengajar. 1974: 21-24). maka dapat disimpulkan kemampuan reflektif merupakan salah satu kemampuan esensial dalam pembinaan kompetensi dan profesional guru. Pengamatan (observation): deskripsi kegiatan dengan menggunakan teknik tertentu 4. mahasiswa S1 sebagai guru SD dapat mengembangkan diri pribadi dan karir profesionalnya. Hal ini dikarenakan pada hakekatnya mengajar merupakan praktek reflektif (Ginsburg and Clift. Kemampuan reflektif memungkinkan guru SD merefleksikan pengalaman mengajarnya dan mengambil hikmah atau belajar dari pengalaman. Refleksi (reflection): evaluasi proses dan hasil sebagai masukan bagi siklus selanjutnya. Kegiatan (action): implementasi strategi yang direncanakan 3. Rencana (plan): analisis masalah dan strategi perencanaan 2. serta untuk memperbaiki atau meningkatkan kondisi praktek pembelajaran di kelasnya.

kontribusi penelitian. metode penelitian. tujuan penelitian. 10 . sertta lampiran yang diperlukan dan relevan. Selanjutnya kajian teori dan data mengenai strategi kebijakan pendidikan guru (SD) dan penelitian tindakan kelas melatarbelakangi secara kontekstual di mana model pembelajaran untuk meningkatkan kemampuan reflektif tersebut dikembangkan. maka dapat disimpulkan bahwa kajian teori utama mengenai pengembangan model pembelajaran dan kemampuan reflektif menjadi dasar dan acuan dalam mengembangkan model pembelajaran dan mengembangkan instrumen kemampuan reflektif (berfikir dan sikap reflektif). pendahuluan. jadwal pelaksanaan. tinjauan pustaka.Selanjutnya. perumusan masalah. proposal PTK sebagai usulan penelitian pada dasarnya memiliki unsur atau komponen sebagai berikut: judul penelitian. Dengan deskripsi kajian teori ini.ang ilmu.

Secara visual dapat dilihat pada gambar berikut. METODE PENELITIAN Metode pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian dan pengembangan (research and development).C. perencanaan dan pengembangan. serta validasi model pembelajaran. 11 . yang terdiri dari tiga langkah yaitu studi pendahuluan.

5. Pengembangan instrumen kemampuan reflektif: diawali dengan penyusunan kisikisi yang memperhatikan tujuan pembelajaran.V V.Negeri Jakarta Atma Jaya Jakarta Jumlah Dsn tdft 2 2 2 2 2 1 10 32 60 61 82 43 23 301 Mhs. diolh 28 46 49 68 26 11 226 Kls PTK 1 2 2 3 2 1 10 1 V 2 4 . Program S1-PGSD Kampus Cibiru Kampus Purwakarta Kampus Serang Kampus Tasikmalaya Univ. ada yang dianalisis secara deskriptif kualitatif. wawancara dengan pimpinanatau ketua program studi. kemudian mengembangkan soal dan pernyataan. dan skala sikap reflektif (40 pernyataan) yang valid dan reliabel.V UjiVld eks-ktr Pemilihan lokasi untuk ujicoba terbatas. S1-PGSD di sana bukan terutama menyiapkan guru kelas SD tetapi guru olahraga SD. observasi pelaksanaan/implementasi pembelajaran dan pengembangan model pembelajaran.V V. 6. serta kesiapan dosen yang menjadi mitra kolaborasi dalam penelitian dan pengembangan ini. dan ujicoba kedua. Lokasi dan subjek penelitian: No 1. 2. kuesioner kepada dosen dan mahasiswa mengenai proses pembelajaran. .Analisis data dsesuaikan dengan data yang dikumpulkan. ujicoba luas dan uji validasi didasarkan pada data jumlah kelas rombongan belajar. akhirnya ditetapkan soal tes berpikir (5 soal). validasi ahli. teknik pengumpulan dan analisis data. Tabel 1. S1-PGSD UPI kampus Sumedang tidak digunakan karena berdasarkan hasil survei awal.V V. tes esei dan skala sikap untuk mengetahui kemampuan berfikir dan sikap reflektif mahasiswa.Pada pembahasan metode penelitian disajikan pula mengenai subjek dan lokasi penelitian. 4. Setelah itu dilakukan ujicoba pertama. indikator. dan ada juga yang dianalisis secara kuantitatif menggunakan statistik non-parametrik (analisis Wilcoxon Signed ranks test dan Mann Whitney test) 12 . Teknik dan alat pengumpulan data: penelusuran dokumen untuk mendapatkan data akurat mengenai kondisi PGSD. 3. serta pengembangan instrumen.4 V Ujicb Ujicb Trbts Luas V V.

pembelajaran di S1-PGSD bermanfaat. kurikulum dan pembelajaran. visi.Data umum: deskripsi mengenai latar belakang. namun tidak semua dosen dapat bekerja secara penuh karena mengajar di tempat lain atau studi lanjut. punya pengalaman mengajar. a. dan hasilnya dapat disimpulkan sebagai berikut. keadaan dosen dan mahasiswa. maupun validasi dalam pengembangan model pembelajaran untuk meningkatkan kemampuan reflektif mahasiswa. wawancara dengan ketua program. Studi Pendahuluan Hasil studi pendahuluan terdiri dari dua bagian yaitu: (1) hasil survei awal sebagai studi lapangan/empiris. Mahasiswa berpendapat. sudah dewasa. dan konsultasi dengan pembimbing.Berdasarkan kondisi pembelajaran. . 13 . Kondisi pembelajaran program S1-PGSD (saat survei awal) Survei awal bertujuan untuk mendeskripsikan kondisi pembelajaran termasuk faktor pendukung dan penghambat di 8 program S1-PGSD yang menjadi lokasi dan populasi dalam penelitian ini. kendala dan upaya meningkatkan mutu pembelajaran.Mahasiswa berasal dari program D2-PGSD. 1.Dosen cukup banyak jumlahnya. maka dipilih mata kuliah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Diakhiri dengan rangkuman mengenai pengembangan model pembelajaran untuk meningkatkan kemampuan reflektif mahasiswa S1-PGSD pada matakuliah PTK dalam bentuk bagan/gambar. . Maha-siswa belum terbiasa menilai kegiatan belajarnya sendiri. misi dan tujuan S1-PGSD. (2) perencana mempersiapkan format pan dan pengembangan model pembelajaran.D. . serta (3) validasi model pembelajaran. dosen. . Dosen berpendapat. serta ditetapkannya kelas ujicoba terbatas dan luas. pembelajaran dan kemampuan reflektif bermanfaat dan dibutuhkan oleh mahasiswa S1-PGSD. khususnya penelusuran dokumen mengenai kurikulum. namun tidak semua dosen membahas hasil ujian atau tugas yang diberikan. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Hasil penelitian berupa deskripsi dan interpretasi dikelompokan berdasarkan tahapan dalam penelitian pengembangan yaitu: (1) hasil studi pendahuluan. dan (2) konsep awal desain model pembelajaran sebagai hasil studi literatur yang dikaitkan dengan hasil survei awal. Dilakukan secara efektif selama bulan September 2004. guru SD.

(2) tahap reflektif kontekstual.Personil (kaprodi. Konsep Awal Model Pembelajaran Konsep awal model pembelajaran tersebut dapat diterapkan dalam konteks pembelajaran yang nyata.Program dan kurikulum. penilaian pembelajaran. sarana dan fasilitas. (3) tahap reflektif kritikal. Tahap Reflektiff Teknikal Tahap Reflektif Kontekstual Tahap Reflektif Kritikal Output Kemampuan reflektif mahasiswa meningkat Enviromental Input Tuntutan masy dan perkembangan Ipteks abac 21 - Gambar 2. yang terdiri dari tujuan. (1) komponen pembelajaran sebagai system. pokok materi. dosen. dan (3) kondisi pembelajaran hasil survei awal. Instrumental Input . apabila dijabarkan lebih lanjut melalui penyusunan desain pembelajaran (SAP). Adapun konsep awal model pembelajaran disajikan dalam gambar berikut ini. . mengaitkan materi yang dipelajari dengan materi lain atau pengalaman. Implementasi pembelajaran difokuskan pada tiga tahap pembelajaran yakni: (1) tahap reflektif teknikal. Evaluasi proses pembelajaran dan hasil belajar kemampuan reflektif. serta tindak lanjut untuk perbaikan pembelajaran selanjutnya. Konsep awal model pembelajaran Konsep awal model pembelajaran dikembangkan berdasarkan.Strategi kebijakan pendidikan guru SD . menggunakan berbagai teknik/metode untuk memahami materi yang dipelajari. tata usaha) Raw Input Mahasiswa S1-PGSD - PROSES PEMBELAJARAN 1.b. (2) kajian teori mengenai kemampuan berfikir dan sikap reflektif. 14 . menganalisis secara kritis materi/masalah yang didiskusikan. prosedur. sumber dan media. serta evaluasi pembelajaran. 3. 2.

824>1. Temuan hasil ujicoba lebih luas melalui 4 putaran pembelajaran dirangkum sebagai berikut. Ujicoba terbatas dilakukan melalui empat putaran pembelajaran. tapi gain cenderung meningkat (8. Dapat diterapkan pada pembelajaran reguler ataupun paket Instrumen kemampuan berfikir dan sikap reflektif disempurnakan. Hasilnya dirangkum sebagai berikut.00<0.72) Peningkatan kemampuan berpikir reflektif (z=3. Pentingnya menciptakan interaksi dan suasana kondusif dalam pembelajaran Prosedur pembelajaran: 3 jadi 5 tahap (ditambah tahap persiapan dan pemantapan) Metode: mahasiswa diberi kesempatan refleksi diri dan berbagi pengalaman Rata-rata hasil belajar tiap putaran tidak selalu meningkat. mendiskusikan dengan dosen pengampu matakuliah tersebut. Setelah mendapat ijin. Secara prinsip.64 & 0.21→10. Model pembelajaran siap validasi (terlampir pada rangkuman pengembangan model pembelajaran_ 15 . Ujicoba lebih luas bertujuan untuk mengetahui keefektifan model pembelajaran yang dikembangkan apabila diimplementasikan di tempat lain dengan kondisi yang berbeda. Perencanaan dan Pengembangan Model Pembelajaran Perencanaan dan pengembangan model pembelajaran melalui ujicoba terbatas dilakukan di program S1-PGSD Cibiru.2.50 →8.04→7. dan pengukuran hasil belajar dan kemampuan reflektif menunjukkan peningkatan yang berarti. Penting menggali dan memanfaatkan pengalaman mahasiswa Pada kelas kecil (11-16 mhs) pembelajaran lebih efektif. Lembar evaluasi desain (SAP) sudah tidak digunakan.05) Revisi dan penyempurnaan instrumen kemampuan reflektif Model Hipotetik Pembelajaran (terlampir pada rangkuman model pembelajaran) Perencanaan dan pengembangan model pembelajaran melalui ujicoba lebih luas yang dilakukan di S1-PGSD Tasikmalaya dan S1-PGSD Atma Jaya Jakarta. dan mendapat masukan untuk penyempuranaan model sehingga siap divalidasi melalui eksperimentasi. menyusun jadwal dan rencana pembelajaran. desain model tidak mengalami perubahan.00<0.64 & 0. mempelajari silabus dan sumber pustaka matakuliah PTK.819>1.05). sikap reflektif (z = 3. lembar observasi sebagai panduan mendeskripsikan implementasi.

23 8. Nilai rata-rata hasil belajar dan pengukuran kemampuan reflektif mahasiswa S1-PGSD kelompok eksperimen dan kelompok kontrol pada mata kuliah Penelitian Tindakan Kelas. Pada kelompok eksperimen.60 55.41 176.00 61.00 195.00 69.76 4.04 2.50 65.87 64.3.89 52.83 71.62 60.96 836.69 56.05 58.04 3.00 62.50 188.37 204.00 6.77 69.83 64.N.69 6.00 183.22 243.28 72.02 57.89 64.33 63. Validasi Model Pembelajaran Validasi model pembelajaran dilakukan melalui eksperimen di S1-PGSD UPI kampus Purwakarta.32 59.88 59.. Putaran 1 penekanan pada tahap reflektif teknikal.50 15.18 5.50 63.00 6.67 65. S1-PGSD Purwakarta Ptr.65 8.06 10.17 46. Tasikmalaya. Tabel 2.74 60.46 735. Putaran 2.81 69.70 8.20 4.63 10. Hasil validasi membuktikan ada peningkatan gain hasil belajar.80 35.00 179.04 4.27 70.67 59.96 26.83 216.80 60. Rata2 1 2 3 Jml.16 245.35 62.06 69. Eksperimen Pre Pos Gain 65.60 59.43 52.00 65.79 68.29 205.93 6.67 68. 1 2 3 Jml Rata2 1 2 3 Jml.86 12.50 194.50 187.42 105.60 58.22 69.31 5.83 11.88 21.65 66.29 7.96 782.63 17.33 70.43 3.31 260.00 61.19 16 .14 68.80 4.00 67.60 2.64 62.65 278.10 15.50 5.48 69. dan perbedaan yang signifikan (lebih besar pada kelompok eksperimen dibandingkan kelompok control (melaksanakan pembelajaran seperti biasa). implementasi model pembelajaran siap validasi melalui tiga putaran pembelajaran.12 4.76 68.86 Serang Tasikmalaya U.02 4.20 3.45 62.26 15.05 67.81 70.42 58.40 62.89 32.05 6. tahap reflektif kontekstual.67 75.20 67.77 12.72 60. Kontrol Pre Pos 62.33 8.28 61.44 Kel.79 61.47 208. Putaran 3 tahap reflektif kritikal.96 179.94 8.81 71.80 60.82 69.38 62.10 6.88 69.83 68.96 200. Serang.12 182.69 25. disajikan dalam bentuk tabel berikut ini.33 65.81 60.Jakarta Jumlah seluruhnya Jumlah rata-rata Rata-rata 730. Rata2 Kel. Nilai rata-rata hasil belajar mahasiswa S1-PGSD kelompok eksperimen dan kelompok kontrol.00 Gain -2. dan Universitas Negeri Jakarta.00 3.12 59.50 67.00 3.50 204.44 62. Rata2 1 2 3 Jml.44 68.00 6.00 62.40 170.

001 3 23 1 27 -3.262 0.109 0 85 9 94 -8. Serang Ranks: Negative Ranks Positive Ranks Ties Total Z Asymp.Sig.Jakarta Ranks: Negative Ranks Positive Ranks Ties Total Z Asymp.Tabel 3.016 0 23 3 26 -4.969 0.286 0.378 0.437 0.866 8 17 1 26 -2.Neg.000 15 68 11 94 -6. Unv.440 0.006 14 10 1 25 -0.320 5 12 5 22 -2.000 0 16 0 16 -3.416 0. Kontrol Berpikir Sikap 6 12 7 25 -0.Sig.000 3 10 3 16 -1.000 11 56 16 83 -5.Sig.000 0 25 2 27 -4.387 0.551 0.995 0.502 0. Tasikmalaya Ranks: Negative Ranks Positive Ranks Ties Total Z Asymp.029 0.015 2 7 1 10 -1.207 Kel.Sig. Hasil pengukuran kemampuan reflektif (berpikir dan sikap reflektif) mahasiswa program S1-PGSD kelompok eksperimen dan kelompok kontrol Wilcoxon Signed Ranks Test Ranks: Negative Ranks Positive Ranks Ties Total Z Asymp. Eksperimen Berpikir Sikap 0 18 3 21 -3. S1-PGSD Purwakarta Keseluruhan Ranks: Negative Ranks Positive Ranks Ties Total Z Asymp. Kel.724 0.168 0.109 0.000 3 15 3 21 -3.285 0.775 10 10 2 22 -0.000 34 44 5 83 -2.000 6 20 4 30 -3.751 0.Sig.653 0.000 0 26 4 30 -4.035 17 .000 0 9 1 10 -2.602 0.053 0.

18 .

19 .

bahas tugas sebelumnya. menetapkan kriteria dan indikator 5. appesepsi.Refleksi diri dan mengemukakan masalah yang akan diteliti 4. Tahap Pemantapan .Menjelaskan tujuan.Konsep dasar & penyu sunan proposal PTK .Pengalaman mgj mhs EVALUASI .Motivasi melakukan refleksi pembelajaran (reflective in/on/for teaching) Gambar 3. alternatif penyebab dan solusi .Diskusi pertanyaan/permasalahan. materi. kegiatan.Menggunakan berbagai teknik (metode/media/contoh) agar mahasiswa memahami konsep dasar PTK dan penyusunan proposal PTK. 3.Hasil belajar &kemam puan reflektif PROSEDUR 1. 2.Menciptakan hubungan baik agar mahasiswa berani dan mau meng ungkapkan pendapat dan pengalaman mengajar di SD .Menganalisis kelaikan tindakan. Tahap Persiapan . Tahap Reflektif Kontekstual .Proses pembelajaran .Sharing dan diskusi pengalaman/permasalahan mengajar di SD .Mengaitkan materi yang dipelajari dengan pengetahuan/pengalaman mhs . Desain Akhir Model Pembelajaran 20 .Mengerjakan tugas/soal evaluasi dengan tanggung jawab dan kesungguhan . Tahap Reflektif Kritikal . Tahap Reflektif Teknikal .Merangkum materi yang dipelajari. refleksi diri mengambil manfaat/hikmah .TUJUAN Meningkatkan kemampuan reflektif nahasiswa MATERI .

sharing dan diskusi pengalaman/ permasalahan mengajar di SD. Prosedur pembelajaran: tahap persiapan. serta pengukuran kemampuan berpikir dan sikap reflektif. melakukan refleksi diri mengambil manfaat/hikmah. dan pengalaman mahasiswa mengajar di SD. pedoman proposal PTK/skripsi. Tahap reflektif kritikal: mendiskusikan pertanyaan/permasalahan. Materi: sesuai dengan pokok-pokok materi pada silabus (konsep dasar/teori PTK dan penyusunan proposal PTK). Tahap reflektif teknikal: menggunakan bebagai teknik (metode/media/contoh) agar mahasiswa memahami konsep materi yang dipelajari. serta pengukuran kemampuan berpikir dan sikap reflektif. Model Akhir Pembelajaran 21 . 3. Tujuan: meningkatkan kemampuan reflektif mahasiswa S1-PGSD 2. menjelaskan tujuan dan pokok materi. Sumber: buku PTK. Gambar 4. Evaluasi: proses pembelajaran dan hasil belajar. dan pemantapan. reflektif kritikal. Evaluasi dan Tindak Lanjut Pembelajaran 1. 3. reflektif teknikal. dan menetapkan kriteria dan indikator. dan evaluasi hasil belajar. berkaitan dengan pengalamanan mahasiswa. bertanggungjawab dan sungguh-sungguh mengerjakan tugas atau pertanyaan/soal evaluasi. bahas tugas sebelumnya. Tahap reflektif kontekstual: mengaitkan materi yang dipelajari dengan pengalaman mahasiswa.. apersepsi. Tindak lanjut pembelajaran: untuk perbaikan pembelajaran selanjutnya. Tahap pemantapan: merangkum materi yang dipelajari. pengalaman mahasiswa mengajar di SD. 5. Implementasi Pembelajaran 1. alternatif penyebab dan solusi. Evaluasi: evaluasi proses pembelajaran. reflek-tif kontekstual. termotivasi untuk senantiasa belajar dan melakukan refleksi mengajar di SD (refletive in/on/for teaching). 4. pustaka relevan dengan masalah. Tahap persiapan: menciptakan hubungan baik agar mahasiswa berani mengemukakan pendapat/pengalaman. serta menganalisis kelaikan tindakan. dan melalui refleksi diri setiap ma-hasiswa mengemukakan masalah yang akan diteliti dengan PTK 4. 2. 2.MODEL AKHIR PEMBELAJARAN Mata Kuliah Penelitian Tindakan Kelas Desain Pembelajaran 1.

dan kompetensi profesional (mampu menilai dan memperbaiki pembelajaran melalui penelitian tindakan kelas). Model pembelajaran untuk meningkatkan kemampuan reflektif. Reigelluth (1983:20). 2004). materi atau pokok bahasan serta sumber belajar. Termasuk kelompok model pemrosesan informasi (Joyce & Weil. Desain terdiri atas: tujuan. Meningkatkan kemampuan reflektif mahasiswa yang menjadi tujuan pengembangan model ini. model pendidikan guru berbasis pengalaman/lapangan (Hamalik. dan tahap pemantapan). serta (3) faktor pendukung dan penghambat pengembangan model pembelajaran. 1. 1986). pendekatan kompetensi. kompetensi kepribadian (kemampuan menilai kenerja sendiri dengan mengkaji strategi berfikir reflektif dalam memecahkan masalah yang dihadapi). prosedur pembelajaran (tahap persiapan. dan Sukmadinata (2004:243).Pembahasan pengembangan model pembelajaran untuk meningkatkan kemampuan reflektif mahasiswa program S1-PGSD pada mata kuliah Penelitian Tindakan Kelas merupakan pembahasan hasil temuan penelitian dibandingkan dengan kajian teori yang relevan. dilandasi filosofis konstruktivisme dan psikologi kognitif. perencanaan dan pengembangan. mencari dan bermakna (Sukmadinata. Hakekat Model Pembelajaran Model pembelajaran yang dikembangkan merupakan suatu strategi atau desain yang didasarkan pada teori dan penelitian. implementasi dan evaluasi serta tindak lanjut pembelajaran. 2005) termasuk kompetensi pedagogik (kemampuan menilai proses dan hasil pembelajaran). Hal ini sesuai dengan pendapat Oliva (1992:413). terdiri dari beberapa komponen yang berinterfungsi sehingga dapat digunakan sebagai pedoman berkenaan dengan proses kegiatan untuk mencapai tujuan pembelajaran yaitu meningkatkan kemampuan reflektif mahasiswa. tahap reflektif teknikal-kontekstual-kritikal. pembelajaran. dan evaluasi pembelajaran serta tindak lanjutnya. 2002). serta validasi model pembelajaran didasarkan pada pembelajaran sebagai sistem yang terdiri dari input-proses-output. berdasarkan SKGK SD/MI lulusan S1-PGSD (Depdik-nas. berkenaan dengan desain. Pengembangan model pembelajaran dilakukan melalui tahap studi pendahuluan. 22 . (2) model Pembahasan berkenaan dengan: (1) hakekat model pembelajaran (desain-implementasi-evaluasi). kontekstual dan berbasis pengalaman.

dan kompetensi profesional (mampu menilai dan memperbaiki pembelajaran melalui penelitian tindakan kelas). reflektif teknikal. terdiri dari: tujuan. 2005) termasuk kompetensi pedagogik (kemampuan menilai proses dan hasil pembelajaran). guru SD. serta personil khususnya kemampuan dosen). Peningkatan kemampuan reflektif mahasiswa yang menjadi tujuan pengembangan model ini sesuai dengan SKGK SD/MI lulusan S1-PGSD (Depdiknas. serta masukan instrumental (strategi kebijakan pendidikan guru SD dan pembelajaran. Prosedur reflektif dalam critical . yaitu dengan memperhatikan karakteristik mahasiswa (lulusan D-2. materi dan sumber. dan variabel pengajaran di kelas (Dunklin & Biddle. tidak hanya mengembangkan kemampuan berpikir reflektif. Model Pembelajaran a. Instrumen pengukuran kemampuan berpikir dan sikap reflektif dikembangkan dari konsep reflective thinking pembelajaran dikembangkan berdasar-kan tiga tingkat reflection (Zeichner dan Liston. dewasa. program dan kurikulum pendidikan guru. 1999). sarana dan fasilitas pembelajaran. 1949). dan pemantapan. prosedur. dan evaluasi pembelajaran (Tyler. Apabila dibandingkan dengan model pembelajaran reflektif (Poblete. penilaian pembelajaran. kompetensi kepribadian (kemampuan menilai kenerja sendiri dengan mengkaji strategi berpikir reflektif dalam memecahkan masalah yang dihadapi). prosedur pembelajaran terdiri dari tahap persiapan.1974:38).2. Desain Pembelajaran Konsep pengembangan model pembelajaran untuk meningkatkan kemampuan reflektif ini didasarkan pada konsep teoretis mengenai komponen pendidikan sebagai sistem (input–proses–output) yang dikemukakan oleh Sukmadinata (2003:9). punya pengalaman mengajar). tuntutan masyarakat dan perkembangan ipteks abad 21 (guru harus profesional dan kompeten). 1993). reflektif kritikal. responsibility. reflektif kontekstual. wholeheartedness). tetapi juga mengembangkan sikap reflektif mahasiswa (openmindedness. maka model pembelajaran yang dikembangkan merupakan proses inkuiri dalam mengatasi masalah pembel-ajaran mahasiswa sebagai guru SD. 23 (Dewey. Dikembangkan sesuai dengan kondisi yang ada. sistem pembelajaran (Abdulhak. 1996). Desain model pembelajaran untuk meningkatkan kemampuan reflektif. 2000:23).

refleksi dilakukan berdasarkan pertimbangan kritis dan etis berkenaan dengan materi/permasalahan yang dipelajari. 24 . sehingga mahasiswa menjadi aktif dan berani bertanya/berdiskusi berkenaan dengan materi yang dipelajarinya. Kemampuan reflektif tidak hanya dapat dikembangkan pada ketiga tahap reflektif saja. Pada tahap relfektif kritikal. refleksi dilakukan dengan menggunakan berbagai teknik/cara agar mahasiswa memahami materi yang dipelajari. apersepsi) dan tahap pemantapan (refleksi diri. Implementasi Pembelajaran Implementasi pembelajaran merupakan penerapan desain dalam pelaksanaan proses pembelajaran. 2004). dan semua kegiatan mengajar/pembelajaran adalah praktek reflektif (Ginsburg & Cliff. Hal ini sesuai dengan pendapat Raths (1986) mengenai pembelajaran berpikir (teaching for thinking) bahwa salah satu tugas guru adalah menciptakan iklim kondusif untuk berpikir. refleksi dilakukan dengan menemukan keterkaitan antara situasi problematik dengan tindakan yang dilakukan. 1990). tetapi juga pada tahap persiapan (interaksi kondusif. Pengalaman sebagai dasar pembelajaran hanya bermakna kalau dilakukan refleksi sehingga orang dapat belajar dari pengalamannya (Stones. sesuai dengan pendekatan model pembelajaran yang banyak digunakan yaitu discovery and meaningful learning. experiential learning (Sukmadinata. diantaranya: Pentingnya menciptakan interaksi personal yang baik. contextual teaching and learning). Pada tahap reflektif kontekstual. dan kritikal sesuai dengan tingkatan reflektif yang dikemukakan Zeichner dan Liston (1996). Ketika diimplementasikan. Pentingnya upaya menggali dan memanfaatkan pengalaman mengajar mahasiswa karena membuat pembelajaran menjadi relevan dan bermakna sehingga dapat mengajar lebih baik/bermutu. ditemukan beberapa hal yang mengakibatkan desain pembelajaran yang telah direncanakan semula mengalami revisi dan penyempurnaan. difokuskan pada prosedur pembelajaran yang terdiri dari tahap reflektif teknikal. motivasi untuk mengerjakan tugas/soal evaluasi).b. Hal ini dikarenakan pada hakekatnya belajar merupakan refleksi pengalaman yang berkembang lebih baik (Dewey. Pada tahap reflektif teknikal.. 1994). 1984). 1933). kontekstual. belajar melalui pengalaman banyak terjadi dalam pembelajaran orang dewasa (Kolb.

- Materi pembelajaran selain berpedoman pada silabus mata kuliah Penelitian Tindakan Kelas. Evaluasi hasil belajar berkenaan dengan pencapaian tujuan pembelajaran yang ditetapkan pada setiap putaran pembel-ajaran. kemudian didiskusikan secara kolaboratif. tidak harus bentuk atau metode pembel-ajaran reflektif (Hall. dan diantaranya dilakukan validasi ahli untuk mendapatkan validitas dan reliabilitas instrumen. 1933). Hasilnya ternyata nilai rata-rata ujicoba (putaran 1-4 dan 5-8). karena setiap mahasiswa mempunyai kesempatan lebih banyak dalam berpartisipasi aktif dalam belajar. hasilnya dideskripsi-kan secara kualitatif dan digunakan sebagai masukan dan tindak lanjut bagi pembelajaran berikutnya. Hal ini 25 . main product revision. dan operational product revision yang bertujuan mengoptimalkan model pembelajaran yang dikembangkan. maupun validasi (putaran 1-3) berfluktuasi. Kegiatan ini sesuai dengan prosedur penyusunan instrumen penelitian (Arikunto. tetapi metode mengajar biasa dapat digunakan asal mahasiswa diberi kesempatan untuk melakukan self and shared analysis/ reflection - Pembelajaran lebih efektif pada kelas yang jumlah mahasiswanya sedikit (<20 orang) daripada kelas besar. Pengukuran kemampuan berpikir maupun sikap reflektif menggunakan tes esei dan skala sikap reflektif dari konsep reflective thinking (Dewey. Hal ini sesuai dengan langkah ke 4-7 penelitian pengembangan (Borg and Gall. - Metode pembelajaran. karena tingkat kesukaran materi setiap pokok bahasan yang dipelajari tidak sama. Dirjen Dikti. c. hasilnya menunjukkan adanya pengaruh yang signifikan. diberikan dalam bentuk menjawab pertanyaan atau tugas yang relevan. berarti pembelajaran yang dikembangkan cukup efektif untuk meningkatkan hasil belajar mahasiswa. juga digali dari pengalaman mahasiswa mengajar di SD. main field testing. dikembangkan melalui uji coba instrumen (dua kali). Evaluasi Pembelajaran Evaluasi proses pembelajaran dilakukan melalui observasi. Kemudian dianalisis dengan statistik non-parametrik (Wilcoxon Signed Ranks Test dan MannWhitney Test). 1993) yaitu preliminary field testing. Hal ini sesuai dengan prinsip individualitas dan aktivitas serta Student Centered Learning di PT (Depdiknas. 2005).1993). namun bila dicermati ternyata gain antara pre dan pos tes tiap putaran cenderung meningkat. 1996).

Mahasiswa program S1-PGSD berasal dari lulusan program D2-PGSD. d. bekerja sebagai guru SD. dan sebagian sudah berkeluarga. Karakteristik mata kuliah PTK (Depdikbud. Dosen mata kuliah PTK mengajar dalam bentuk team teaching. 3. Hal ini sangat membantu peneliti maupun mahasiswa dalam mengimplemen-tasikan model pembelajaran yang dilakukan secara siklikal dan kolaboratif. c. Kondisi mahasiswa ini dapat menjadi faktor pendukung karena mahasiswa memiliki pengalaman mengajar 26 . sehingga perubahan perencanaan dan implementasi model pembelajaran dapat lebih mudah. (penelitian dan pengembangan). b. akan tetapi ada beberapa dosen yang memiliki persepsi dan cara serta gaya mengajar yang kadang agak sedikit sulit menerapkan secara konsisten tahapan model pembelajaran yang direncanakan. tetapi cukup merepotkan dan melelahkan karena tidak dapat melakukan observasi pembelajaran secara optimal. sehingga proses diskusi secara kolaborasi mendapat lebih banyak masukkan dan pandangan. tetapi menjadi faktor penghambat kalau tidak cermat karena ada unsur penelitian (materi mata kuliah PTK) di dalam penelitian.. tetapi menjadi faktor penghambat karena tidak mempunyai cukup wakt membuat desain (SAP) secara rinci dan tertulis. memberi-kan laporan observasi implementasi pembelajaran. Faktor Pendukung – Penghambat a. dan didiskusikan secara singkat sebelum implementasi putaran pembelajaran selanjutnya. dan melakukan koreksi hasil belajar dan tes esei berpikir reflektif.berarti terdapat perbedaan yang bermakna setelah menggunakan model pembelajaran. sehingga masukkan dilakukan secara individual kemudian dirangkum oleh peneliti dalam penyusunan desain/SAP putaran selanjut-nya. Walaupun peneliti mendapatkan wawasan yang lebih luas. Lokasi dan subjek penelitian yang tersebar di beberapa tempat/kota. tetapi tim dosen kadang sulit untuk bertemu/berdiskusi secara lengkap. Dosen pengampu mata kuliah PTK hampir semuanya ketua program S1-PGSD. 1996) yang tujuan dan materinya sejalan dengan kemampuan reflektif yang akan ditingkatkan melalui pengembangan model pembelajaran. Dosen telah berpengalaman melakukan dan membimbing mahasiswa menyusun skripsi dengan PTK.

mahasiswa juhs kekurangan waktu dan biaya memanfaatkan fasilitas belajar tersebut. hasil belajar. Pengukuran kemampuan reflektif mengalami hambatan saat menjawab dan mengumpulkan hasil tes esei berpikir reflektif (tidak semua mahasiswa mengerjakan tugas dan mengumpul-kan tepat waktu). Jumlah mahasiswa yang melanjutkan dari program D2 ke S1-PGSD tidak terlalu banyak dan tidak mendapat bantuan biaya studi. hasilnya dijadikan masukkan bagi perbaikan putaran pembelajaran selanjutnya. dan mendapat manfaat mempelajari PTK. 27 . kemudian diolah/dianalisis dengan bantuan program SPSS. laboratorium MIPA. dan tidak cukup waktu untuk melaksanakan inter-rater reliability. f.sebagai guru SD sehingga dalam implementasi pembelajaran mahasiswa lebih aktif terlibat. e. Evaluasi hasil belajar dalam bentuk pertanyaan ataupun tugas yang relevan dengan tujuan dan pokok bahasan setiap putaran disusun oleh bersama. komputer namun dalam kenyataannya koleksi buku perpustakaan sudah banyak yang kadulawarsa dan tidak mencukupi. Evaluasi proses pembelajaran tidak dapat dilakukan peneliti secara optimal karena lokasi penelitian yang cukup berjauhan dan waktu pelaksanaannya pun hampir bersamaan. Demikian juga ketika koreksi. Pengumpulan dan analisis data hasil skala sikap reflektif tidak terlalu banyak kendala karena dikerjakan di kelas dan langsung dikumpulkan. sehingga raw material mahasiswa S1-PGSD lebih mampu secara akademis dan termotivasi untuk meningkatkan dirinya. observasi proses pembelajaran dapat terlaksana dan dijadikan masukan pembelajaran selanjutnya. dan pengukuran kemampuan reflektif. Namun dengan bantuan dan kerjasama dari ketua program studi maupun tim dosen PTK. Evaluasi pembelajaran meliputi evaluasi proses pembelajaran. tetapi menjadi penghambat karena keku-rangan waktu untuk belajar dan mengerjakan tugas. walau sudah ada kriteria. tapi dosen mata kuliah sebagai korektor kedua kadang mempunyai persepsi berbeda. didasarkan kontekstual peng-alaman mengajar yang nyata. walaupun di beberapa program S1-PGSD sudah memiliki perpustakaan. Sarana prasarana. Namun menjadi penghambat karena mereka lebih dibekali dengan keterampilan praktis mengajar bukan pada pembekalan konsep teori seperti mahasiswa jalur akademik S1 sehingga mengalami keterbatasan ketika melakukan kajian teoretis atas masalah yang diteliti.

model desain pembelajaran.Model desain pembelajaran terdiri dari: tujuan pembelajaran untuk meningkatkan kemampuan reflektif mahasiswa yaitu mampu memahami konsep materi (reflektif teknikal). hasil belajar mahasiswa menguasai materi yang dipelajari setiap pertemuan. proses pembelajaran yang dilakukan secara kolaboratif dengan mitra peneliti. Hasil Penelitian). reflektif teknikal. berkenaan dengan desain–implementasi- evaluasi dan tindak lanjut secara siklikal melalui 3-4 putaran pembelajaran. prosedur pembelajaran terdiri dari tahap persiapan. - Implementasi model pembelajaran dilakukan secara siklikal melalui beberapa putaran pembelajaran. b. berkenaan dengan permasalahan dan pertanyaan penelitian yaitu mengenai kondisi pembelajaran program S1-PGSD. difokuskan pada prosedur pembelajaran yang terdiri dari: (1) tahap pesiapan: menciptakan hubungan yang baik sehingga mengemukakan pengalaman dan pendapatnya.Model pembelajaran dikembangkan melalui tiga langkah penelitian dan pengembangan (studi pendahuluan. serta evaluasi. implementasi model pembelajaran pada mata kuliah PTK. dan pemantapan. SIMPULAN DAN SARAN 1. dan menganalisis secara kritis materi dan permasalahan yang dipelajari pada pokok bahasan PTK (reflektif kritikal). dan dampak model pembelajaran terhadap peningkatan hasil belajar dan kemampuan reflektif mahasiswa.(2) tahap mahasiswa berani reflektif teknikal: menggunakan berbagai teknik/metode untuk mema-hami materi yang dipelajari. (3) 28 . reflektif kritikal. validasi) pada matakuliah Penelitian Tindakan Kelas. keunggulan dan keterbatasan model pembelajaran Karakteristik model pembelajaran: . serta pengukuran kemampuan reflektif melalui tes kemampuan berfikir reflektif dan skala sikap reflektif yang diberikan pada awal dan akhir (pre dan test). didasarkan pada pendekatan pembelajaran sebagai sistem (input–proses-output) yang terdiri dari beberpa komponen yang berinterfungsi untuk mencapai tujuan. .E. perencanaan dan pengembangan. materi sesuai dengan pokok materi pada silabus dan pengalaman mengajar mahasiswa di SD.Rangkuman temuan hasil penelitian. (Catatan: telah disajikan pada bagian D.Karakteristik. mengaitkannya dalam konteks pengalaman mengajar mahasiswa (reflektif kontekstual). reflektif kontekstual. Simpulan a.

Keterbatasannya tidak semua mahasiswa terbiasa merefleksikan pengalamannya agar dapat mengajar atau mengelola pembelajaran selanjutnya dengan lebih baik. (5) tahap pemantapan: merangkum materi. mengerjakan tugas dan evaluasi hasil belajar.Mampu meningkatkan hasil belajar dan kemampuan reflektif mahasiswa (terbukti dari hasil pengukuran kemampuan reflektif pada tahap ujicoba terbatas. diskusi. motivasi untuk melakukan refleksi pembelajarannya (reflection in/on/for teaching). Tindak lanjut pembelajaran dilakukan berdasarkan hasil evaluasi proses pembelajaran dan evaluasi hasil belajar untuk perbaikan selanjutnya. Keunggulan dan keterbatasan model pembelajaran: . . hasil belajar.tahap reflektif kontekstual: mengaitkan materi dengan pengalaman mengajar mahasiswa. refleksi diri. walaupun peningkatan sikap reflektif tidak terlalu besar dan masih memerlukan waktu agak lama.Prosedur pembelajaran melalui lima tahap pembelajaran) tidak sulit diimplementasikan oleh dosen maupun mahasiswa. Evaluasi hasil belajar dilakukan pada setiap putaran pembelajaran untuk mengetahui pencapaian tujuan pembelajaran setiap pokok bahasan. hasilnya sebagai masukan bagi perbaikan pembelajaran selanjutnya. Berbagai metode mengajar dapat digunan hanya perlu lebih disadari dan ditekankan pada upaya mempersiapkan mahasiswa supaya terlibat aktif melalui sharing pengalaman/ permasalahan. menggali pengalaman mahasiswa. dan skala sikap reflektif.Materi didasarkan pada pokok bahasan silabus PTK dan dikaitkan dengan pengalaman mahasiswa mengajar di SD. melakukan refleksi diri mengambil manfaat/hikmah. sehingga lebih bermakna/bermanfaat membantu mahasiswa mengatasi dan meningkatkan mutu pembelajaran di SD. dan kemampuan reflektif. dan diskusikan secara kolaboratif antara peneliti dengan dosen bersangkutan. ujicoba lebih luas maupun validasi melalui eksperimen). . kesempatan untuk melakukan refleksi diri dan dengan teman. alternatif penyebab dan solusi. Pengukuran kemampuan reflektif dilakukan dengan mengerjakan tes esei berpikir reflektif. 29 . dan menetap-kan kriteria/indikator. (4) tahap reflektif kritikal: mendiskusikan pertanyaan/permasalahan. serta menganalisis kelaikan tindakan. - Evaluasi: evaluasi proses pembelajaran. Evaluasi proses pembelajaran dideskripsikan berdasarkan hasil observasi. sharing.

.Relfeksi pembelajaran dilakukan pada saat terjadi pembelajaran (reflective in teaching)..Berpikir reflektif lebih cepat dilihat hasilnya/peningkatannya daripada sikap reflektif sehingga perlu waktu lebih lama dalam mengembangkan sikap reflektif mahasiswa melalui tugas-tugas yang diberikan sehingga membuka wawasan mahasiswa. pemantapan dapat meningkatkan kemampuan reflektif karena mengkondisikan seseorang berfikir dan bersikap reflektif.Dapat diterapkan pada pembelajaran regular (perkuliahan tatap muka secara rutin dan teratur) maupun paket (perkuliahan tatap muka dipadatkan). . . dapat dibentuk menjadi beberapa kelompok.Interaksi personal yang kondusif dapat mengaktifkan dan melancarkan proses pembelajaran sehingga penting menciptakan hubungan baik dan menggali pengalaman mahasiswa mengajar di SD.Kemampuan reflektif (berfikir dan sikap reflektif) dapat dilakukan selama proses pembelajaran bukan hanya pada tahap reflektif teknikal-kontekstual-kritikal. Kalau kelas dengan jumlah mahasiswa cukup banyak. Sebagai guru kelas SD abad 21 dituntut senantiasa belajar dari buku maupun pengalamannya sehingga dapat mengajar lebih 30 . Implikasi teori: .Interaksi personal. dan untuk mengajar berikutnya (reflection for teaching). tetapi juga pada tahap persiapan dan pemantapan. .Pembelajaran berdasarkan pengalaman membuat pembelajaran menjadi lebih bermakna. dan kesungguhan dalam melaksanakan tugas sebagai guru kelas di SD. menumbuhkan tanggung jawab. melalui self and shared analysis. baik di luar maupun di dalam kelas selama proses pembelajaran berlangsung. dan lebih efektif bila dilaksanakan pada kelas yang jumlah mahasiswanya tidak terlalu banyak. bahkan pada konsultasi dan sharing pengalaman di luar perkuliahan tatap muka di kelas. .Kemampuan reflektif bermanfaat dan membantu mahasiswa dalam memperbaiki dan meningkatkan pembelajaran di SD.Tumbuh sikap reflektif yang memotivasi mahasiswa untuk selalu belajar dan mengembangkan diri semakin profesional. sehingga penting menggali pengalaman mahasiswa dalam merancang dan mengimplementasikan pembelajaran. . karena mahasiswa merefleksikan pengalamannya dan mengambil hikmah dari pengalaman mengajar untuk dapat mengajar lebih baik. sesudah pembelajaran (reflective on teaching). motivasi. .

Unsur reflektif terdapat di keempat rumpun kompetensi. agar mau melakukan penelitian pada mata kuliah yang sama di lokasi dan subjek berbeda. 31 .profesional dan kompeten serta dapat memperbaiki atau meningkatkan mutu pembelajaran menjadi lebih baik. Mahasiswa S1-PGSD agar dapat memanfaatkan kemampuan reflektif untuk menulis skripsi. Program S1-PGSD agar berupaya meningkatkan kemampuan reflektif melalui penerapan model pembelajaran dengan lima tahapan pada mata kuliah PTK. atau pada jenjang pendidikan berbeda. menyenangkan dan bermutu. Kemampuan berfikir dan sikap reflektif ini menjadi kemampuan yang wajib dimiliki oleh guru SD sebagai agen pembelajaran yang profesional dan kompeten dalam mengembangkan pembelajaran yang inovatif. Sebagai akhir dari penulisan makalah ini. daeraj. sekolah. secara eksplisit pada rumupun kompetensi pedagogik. c. khususnya dalam upaya merealisasikan pencapaian kemampuan atau kompetensi sesuai SKGK-SD/MI. Dengan demikian pembelajaran melalui prosedur tahap persiapan. Pada akhirnya diharapkan dapat berkontribusi mulai pada skala kelas. Dosen PTK agar dapat mengimplementasikan kelima tahap model pembelajaran untuk meningkatkan kemampuan reflektif serta memotivasi diri maupun mahasiswa untuk melakukan refleksi diri dan pembelajaran (reflection in/on/for teaching). dan memodifikasi untuk mata kuliah lainnya. reflektif teknikal – kontekstual – kritikal. dan pemantapan dapat meningkatkan hasil belajar dan kemampuan reflektif mahasiswa. d. dan termotivasi melakukan refleksi secara terus menerus dalam pengembangan karir sebagai guru profesional dan dapat meningkatkan mutu SD. sehingga dapat lebih mempersiapkan mahasiswa menjadi guru SD yang bermutu. 2. Peneliti lain yang tertarik. maka ditegaskan kembali bahwa pembelajaran untuk meningkatkan kemampuan reflektif diperlukan dan perlu dikembangkan oleh program studi S1-PGSD dalam mempersiapkan guru SD yang kompeten dan professional. pada mata kuliah lain di lokasi dan subjek yang sama atau berbeda. bahkan nasional dalam memperbaiki dan meningkatkan mutu pendidikan SD. b. Rekomendasi a. kepribadian.

khususnya pada mata kuliah Penelitian Tindakan Kelas. REFLECTIVE IN / ON / FOR TEACHING IS NEEDED IN TEACHER PROFESSIONAL DEVELOPMENT 32 . Tumbuhnya sikap reflektif yang ditunjang dengan kemampuan berpikir reflektif. belajar mengambil hikmah dari pengalaman melalui self and shared analysis/reflection. sehingga dapat menjadi guru profesional dan kompeten sesuai dengan tuntutan profil guru abad 21. dll. melalui belajar sepanjang hayat.profesional. Kemampuan berpikir dan sikap reflektif dinyatakan dengan selalu berupaya mengembangkan diri dan meningkatkan pembelajaran yang dilakukannya (reflection in / on / for teaching). Kemampuan reflektif dibutuhkan oleh mahasiswa sebagai guru SD dalam mengatasi masalah pembelajaran di kelasnya. atau melakukan perbaikan dan peningkatan mutu pembelajaran di kelas SD. diharapkan mampu membekali mahasiswa S1-PGSD sebagai guru SD dalam mengantisipasi dan mengatasi permasalahan pembelajaran di kelas akibat perkembangan yang pesat. Dengan adanya model pembelajaran untuk meningkatkan kemampuan reflektif mahasiswa program S1-PGSD. dan secara implisist sebagai dampak pengiring pada rumpun kompetensi sosial. memotivasi mahasiswa sebagai guru SD untuk selalu belajar dan memperbaiki dan meningkatkan diri yang diperlukan bagi pengembangan profesional guru.

Inc. Education Research : An Introduction. Harrington. Joice.B. & Gall. (1996). (1992).Vol.R. Pedoman Pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas. London: Collier Macmillan Pub. Depdiknas. & Biddle.1. Jakarta: Rineka Cipta. Conceptualizing Reflection in Teacher Development. P. Borg. 1996. Bandung: Andira.al. Depdiknas. B. Undang-Undang Sisdiknas (Sistem Pendidikan Nasional) 2003 (UU RI No. The Study of Teaching. 1996. & Gater. V.J. Vol. A Restatement of the Relation of Reflective Thinking to the Education Process. (1995). Depdikbud. (1990). (1993). Developing the Curriculum. (2005). The Palmer Press. B. W. Ginsburg. LaBoskey. Lulusan S1 PGSD Jakarta: Dirjen Dikti DP2TK. New York: Harper Collins. Jakarta: Sinar Grafika Depdiknas. Models of Teaching. Teaching and Teacher Education:An International Journal of Research & Studies. Englewood Cliffs. 33 . Teaching and Teacher Education: An International Journal of Research and Studies. Why Reflection in Teacher Education?. (2000).20. H. Calderhead. Hand book of Research on Teacher Education. New York & Sydney: Holet. January. & Clift. M. New York & London: Longman. Jakarta: Dirjen Dikti BP3GSD.F.1. (2003). Written Case Analyes and Critical Reflection. & Weil. (1933). Dunkin. et. Dewey. Standar Kompetensi Guru Kelas SD-MI. I. Chicago: Henry Regne.L. M. Arikunto.12 no. (2002). (1986). How We Think. (1996/1997).K.D.DAFTAR PUSTAKA Abdulhak. (1983). M. Oliva. New Jersey: Prentice Hall Inc. J. Metodologi Pembelajaran Orang Dewasa. Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktek. Rinehart and Winston. Peraturan Pemerintah RI Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. P.J. The Hidden Curriculum of Preservice Teacher Education. Pengembangan Sistem Pendidikan Tenaga Kependidikan Abad ke-21 (SPTK-21). M. S. Jakarta: Depdiknas. J.12 no. (1936). Tahun 2003).

Valli & Linda.88. D. Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen Unesco. & Tann. Tyler.. Statistik Nonparametris untuk Penelitian. (1997). Sukmadinata. Tersedia: http://www.M. Reilgelluth. New Jersey: Lawrence Erlbaum 34 . Pollard. Bandung: Alfabeta.P.P. (1994). P.htm [02/06/04]. (1949). (1995). Michigan: Andrews University. K. Handbook of Research on Teacher Education. (2004). (1987). A Reflective Teaching Model: An Adventist Assesment. Chicago: Follett Pub. Sugiyono.R. Bulletin Reflective Practice in Social Studies. Zeichner.S. R. R. Learning: The Treaure Within. (1982). (1996). New Jersey: Lawrence Erlbaum Associates. [3007-2003]. No. Filsafat Konstruktivisme dalam Pendidikan.aiias. London: Collier Macmillan Pub. & Liston. Reflective Teacher Education: Cases and Critiques. N. Basic Principles of Curriculum and Instruction. Zeichner.W.edu/ict/ vol24/ 24cc_ 257-276. Chicago: The University of Chicago Press. Poblete. A Handbook for Reflective Teaching: Designed for the New and Student Teacher. 14. P.Pintrich. (1999).iloveteaching. Reflective Teaching: An Intro-duction. Learning How to Learn: Applied Theory for Adults. Implications of Psychological Research on Student Learning and College Teaching for Teacher Education. C.Co. Smith. (1990). Instructional Design Theoris and Models. K.(2003). S. Tersedia: http://www. Kurikulum dan Pembelajaran Kompetensi. Bandung: Kesuma Karya. Yogyakarta: Kanisius.P. Reflective Teaching in the Primary School: A Handbook for the Classroom. A. Suparno. (1996). . Undang-undang RI No. Paris: Unesco. & Liston. (1983).M. London: Cassell Education Ltd.com/ mentor/html.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful