Anda di halaman 1dari 16

PENDAHULUAN

Di Indonesia, karsinoma nasofaring ( KNF ) merupakan penyakit

keganasan yang paling sering ditemukan di bidang penyakit Teiinga

Hidung Tenggorokan. Dalam urutan 5 besar tumor ganas dengan

frekuensi tertinggi, ia menduduki tempat ke empat setelah kanker mulut

rahim, payudara dan kulit, sedangkan di daerah kepala dan leher

menduduki tempat pertama.

Survei yang dilakukan oleh Departemen Kesehatan pada tahun

1980 secara pathology based mendapatkan angka prevalensi karsinoma

nasofaring 4,7 per 100.000 penduduk atau diperkirakan 7000 - 8000 kasus

per tahun di seluruh Indonesia.

Penanggulangan karsinoma nasofaring sampai saat ini masih

merupakan suatu problem. Hal ini dikarenakan etiologi yang masih

belum pasti, gejala dini yang tidak khas, serta letak nasofaring yang

tersembunyi, sehingga diagnosis sering terlambat.

Pada stadium dini, radioterapi masih merupakan pengobatan

pilihan yang dapat diberikan secara tunggal dan memberikan angka

kesembuhan yang cukup tinggi. Pada stadium lanjut, dipcrlukan terapi

tambahan kemoterapi yang dikombinasikan dengan radioterapi.


ANATOMI NASOFARING

Nasofaring terletak di belakang rongga hidung, di atas Palatum

Molle dan di bawah dasar tengkorak. Bentuknya sebagai kotak yang tidak

rata dan berdinding enam, dengan ukuran melintang 4 cm, tinggi 4 cm

dan antero-posterior 2-3 cm.

Ke anterior berhubungan dengan rongga hidung melalui koana dan

tepi belakang septum nasi, sehingga sumbatan hidung merupakan

gangguan yang sering timbul. Ke arah posterior dinding nasofaring

melengkung ke antero- superior dan terletak di bawah os sfenoid,

sedangkan bagian belakang nasofaring berbatasan dengan ruang

retrofaring, fasia pre-vertebral is dan otot-otot dinding faring. Pada

dinding lateral nasofaring terdapat orifisium tuba Eustachius dimana

orifisium ini dibatasi superior dan posterior oleh torus tubarius,

sehingga penyebaran tumor ke lateral akan menyebabkan sumbatan

orifisium tuba Eustachius dan akan mengganggu pendengaran. Ke arah

postero-superior dari torus tubarius terdapat fossa Rosenmuller yang

merupakan lokasi tersering KNF.

Pada atap nasofaring sering terlihat lipatan-lipatan mukosa yang

dibentuk oleh jaringan lunak submukosa, dimana pada usia muda dinding

postero-superior nasofaring umumnya tidak rata. Hal ini disebabkan

karena adanya jaringan adenoid. Di nasofaring terdapat banyak saluran


getah bening yang terutama mengalir ke lateral bermuara di kelenjar

retrofaring Krause (kelenjar Rouviere).

HISTOLOGI NASOFARING

Permukaan nasofaring berbenjol-benjol, karena dibawah epitel

terdapat banyak jaringan limfosid, sehingga berbentuk seperti lipatan

atau kripta. Hubungan antara epitel dengan jaringan limfosid ini sangat

erat, sehingga sering disebut Limfoepitel. 60 persen mukosa nasofaring

dilapisi oleh epitel berlapis gepeng dan 80% dari dinding posteroir

nasofaring dilapisi oleh epitel ini, sedangkan pada dinding lateral dan

depan dilapisi oleh epitel transisional, yang merupakan epitel peralihan

antara epitel berlapis gepeng dan torak bersilia. Epitel berlapis gepeng

ini umumnya dilapisi keratin, kecuali pada Kripta yang dalam. Di pandang

dari sudut embriologi, tempat pertemuan atau peralihan dua macam

epitel adalah tempat yang subur untuk tumbuhnya suatu karsinoma.

EPIDEMIOLOGI

Insidens KNF tertinggi di dunia dijumpai pada penduduk daratan

Cina bagian selatan, khususnya suku Kanton di propinsi Guang Dong

dengan angka rata-rata SO- SO / 100.000 penduduk per tahun. Insidens

KNF juga banyak pada daerah yang banyak dijumpai imigran Cina,

misalnya di Hong Kong, Amerika Serikat, Singapura, Malaysia dan


Indonesia. Sedangkan insidens yang terendah pada bangsa Kaukasian,

Jepang dan India.

Penderita karsinoma nasofaring lebih sering dijumpai pada pria

dibanding pada wanita dengan rasio 2-3 : 1. Penyakit ini ditemukan

terutama pada usia yang masih produktif ( 30-60 tahun ), dengan usia

terbanyak adalah 40-50 tahun.

ETIOLOGI

Kaitan antara virus Epstein-Barr dan konsumsi ikan asin dikatakan

sebagai penyebab utama timbulnya penyakit ini. Virus tersebut dapat

masuk ke dalam tubuh dan tetap tinggal di sana tanpa menyebabkan

suatu kelainan dalam jangka waktu yang lama. Penyakit ini dapat terjadi

bila ada interaksi multifaktor. Adapun faktor- faktor yang dapat

menyebabkan terjadinya KNF sbb.

1. Zat Nitrosamin. Didalam ikan asin terdapat nitrosamin yang ternyata

merupakan mediator penting. Nitrosamin juga ditemukan dalam

ikan / makanan yang diawetkan di Greenland . juga pada " Quadid "

yaitu daging kambing yang dikeringkan di Tunisia, dan sayuran

yang difermentasi (asinan) serta taoco di Cina.

2. Keadaan sosial ekonomi yang rendah. Lingkungan dan kebiasaan hidup.

Dikatakan bahwa udara yang penuh asap di rumah-rumah yang

kurang baik ventilasinya di Cina, Indonesia dan Kenya,


meningkatnya jumlah kasus KNF. Di Hongkong, pembakaran dupa

rumah-rumah juga dianggap berperan dalam menimbulkan KNF.

3. Sering kontak dengan zat karsinogen. Yaitu yang dapat menyebabkan

kanker, antara lain Bcnzopyrene, Benzoathracene (sejenis

Hidrokarbon dalam arang batubara), gas kimia, asap industri, asap

kayu dan beberapa ekstrak tumbuhan- tumbuhan.

4. Ras dan keturunan. Ras kulit putih sering terkena penyakit ini. Di Asia

terbanyak adalah bangsa Cina, baik yang negara asalnya maupun

yang perantauan. Ras melayu yaitu Malaysia dan Indonesia

termasuk yang agak banyak kena.

5. Radang Kronis di daerah nasofaring. Dianggap dengan adanya

peradangan, mukosa nasofaring menjadi lebih rentan terhadapa

karsinogen lingkungan.

6. Profil HLA

HISTOPATOLOGI

Klasifikasi gambaran histopatologi yang direkomendasikan oleh

WHO sebelum tahun 1991, dibagi atas 3 tipe, yaitu :

1. Karsinoma sel skuamosa berkeratinisasi (Keratinizing Squamous

Cell Carcinoma). Tipe ini dapat dibagi lagi menjadi diferensiasi baik,

sedang dan buruk.


2. Karsinoma non-keratinisasi (Non-keratinizing carcinoma). Pada tipe

ini dijumpai adanya diferensiasi, tetapi ada tidak diferensiasi sel

skuamos tanpa jembatan intersel. Pada umumnya batas sel cukup

jelas

3. Karsinoma tidak berdiferensiasi (Undifferntiated Carcinoma). Pada

tipe ini sel tumor secara individu memperlihatkan inti yang

vesikuler, berbentuk oval atau bulat dengan nucleoli yang jelas.

Pada umumnya batas sel tidak terlihat dengan jelas.

Tipe tanpa diferensiasi dan tanpa keratinisasi mempunyai sifat yang

sama, yaitu bersifat radiosensitive. Sedangkan jenis dengan

keratinisasi tidak begitu radiosensitive.

Klasifikasi gambaran histopatologi terbaru yang direkomendasikan

oleh WHO pada tahun 1991, hanya dibagi atas 2 tipe, yaitu:

1. Karsinoma sel skuamosa berkeratinisasi (keratinizing squamous

cell carcinoma)

2. Karsinoma non-keratinisasi (Non-keratinizing Carcinoma)

GEJALA DINI
Penting untuk mengetahui gejala dini karsinoma nasofaring dimana

tumor masih terbatas di nasofaring, yaitu:

Gejala Telinga:

1. Kataralis/sumbatan tuba eustachius

Pasien mengeluh rasa penuh di telinga, rasa dengung kadang-kadang

disertai dengan gangguan pendengaran. Gejala ini merupakan gejala

yang sangat dini.

2. Radang telinga tengah sampai pecahnya gendang telinga.

Keadaan ini merupakan kelainan lanjut yang terjadi akibat

penyumbatan muara tuba, dimana rongga telinga tengah akan terisi

cairan. Cairan yang diproduksi makin lama makin banyak, sehingga

akhirnya terjadi kebocoran gendang telinga dengan akibat gangguan

pendengaran.

Gejala hidung:

1. Mimisan

Dinding tumor biasanya raouh sehingga oleh rangsangan dan

sentuhan dapat terjadi pendarahan hidung atau mimisan.

Keluarnya darah ini biasanya berulang-ulang, jumlahnya sedikit

dan seringkali bercampur dengan ingus, sehingga berwarna

merah jambu.

2. Sumbatan hidung
Sumbatan hidung yang menetap terjadi akibat pertumbuhan

tumor ke dalam rongga hidung dan menutupi koana. Gejala

menyerupai pilek kronis, kadang-kadang disertai dengan

gangguan penciuman dan adanya ingus kental.

Gejala mata dan saraf: diplopia dan gerakan bola mata terbatas

GEJALA LANJUT

1. Limfadenopati servikal

Tidak semua benjolan leher menandakan penyakit ini. Yang khas jika

timbulnya di daerah samping leher, 3-5 cm dibawah daun telingan

dan tidak nyeri. Benjolan ini merupakan pembesaran kelenjar limfe,

sebagai pertahanan pertama sebelum sel tumor ke bagian tubuh

yang lebih jauh. Selanjutnya sel-sel kanker dapat berkembang terus,

menembus kelenjar dan mengenai otot dibawahnya. Kelenjarnya

menjadi lekar pada otot dan sulit digerakkan. Keadaan ini

merupakan gejala yang lebih lanjut lagi. Pembesaran kelenjar limfe

leher merupakan gejala utama yang mendorong pasien datang ke

dokter.

2. Gejala akibat perluasan tumor ke jaringan sekitar

Tumor dapat meluas ke jaringan sekitar. Perluasan ke atas kea rah

rongga tengkorak dan ke belakang melalui sela-sela otot dapat


mengenai saraf otak dan menyebabkan gejala akibat kelumpuhan

otak saraf yang sering ditemukan adalah penglihatan ganda, rasa

baal di daerah wajah sampai akhirnya timbul kelumpuhan lidah,

bahu, leher dan gangguan pendengaran serta gangguan penciuman.

Keluhan lainnya dapat berupa sakit kepala hebat akibat penekanan

tumor ke selaput otak, rahang tidak dapat dibuka akibat kekakuan

otot-otot rahang yang terkena tumor. Biasanya kelumpuhan hanya

mengenai salah satu sisi tubuh saja (unilateral) tetapi pada

beberapa kasus pernah ditemukan mengenai kedua sisi tubuh.

3. Gejala akibat metastasis jauh

Sel-sel kanker dapat ikut mengalir bersama aliran limfe atau darah,

mengenai organ tubuh yang letaknya jauh dari nasofaring. Yang

sering adalah pada tulang, hati dan paru. Jika ini terjadi,

menandakan suatu stadium dengan prognosis sangat buruk.

STADIUM

Untuk penetuan stadium dipakai sistim TNM menurut UICC (1992)

T= Tumor primer

T0- Tidak tampak tumor.

T1- Tumor terbatas pada satu lokalisasi saja (lateral/posterosuperior/atap dan


lain-lain).

T2 Tumor teradapt pada dua lokalisasi atau lebih tetapi masih terbatas di dalam
rongga nasofaring
T3 Tumor telah keluar dari rongga nasofaring (ke rongga hidung atau orofaring)

T4 Tumor telah keluar dari nasofaring dan telah merusak tulang tengkorak atau
mengenai saraf-saraf otak.

Tx Tumor tidak jelas besarnya karena pemeriksaan tidak lengkap.

N Pembesaran kelenjar getah bening regional

N0 Tidak ada pembesaran

N1 Terdapat pembesaran tetapi homolateral dan masih dapat digerakkan

N2 Terdapat pembesaran kontralateral / bilateral dan masih dapat digerakkan

N3 Terdapat pembesran, baik homolateral, kontralateral maupun bilateral yang


sudah melekat pada jaringan sekitar.

M Metastase jauh

M0 Tidak ada metastasis jauh

M1 Terdapat metastasis jauh

STADIUM

Stadium I :

T1 dan N0 dan M0

Stadium II :

T2 dan N0 dan M0

Stadium III :

T1/T2/T3 dan N1 dan M0

atau T3 dan N0 dan M0


Stadium IV :

T4 dan N0/N1 dan M0

atau T1/T2/T3/T4 dan N2/N3 dan M0

atau T1/T2/T3/T4 dan N0/N1/N2/N3 dan M1(10)

DIAGNOSA

Persoalan diagnostic sudah dapat dipecahkan dengan pemeriksaan CT-Scan

daerah kepala dan leher, sehingga pada tumor primer yang tersembunyi pun tidak akan

terlalu sulit ditemukan.(6) Pemeriksaan foto tengkorak potongan anteroposterior, lateral

dan waters menunjukan massa jaringan lunak di daerah nasofaring. Foto dasar

tengkorak memperlihatkan destruksi atau erosi tulang di daerah fossa serebri media.

Pemeriksaan darah tepi, fungsi hati, ginjal, dll dilakukan untuk mendeteksi metastasis.

(5)
 Pemeriksaan serologi IgA anti EA dan IgA anti VCA untuk infeksi virus E-B telah

menunjukkan kemajuan dalam mendeteksi karsinoma nasofaring. Tetapi pemeriksaan

ini hanya digunakan untuk menentukan prognosis pengobatan.

Diagnosis pasti ditegakkan dengan melakukan biopsy nasofaring. Biopsi dapat

dilakukan dengan dua cara yaitu dari hidung atau dari mulut. Biopsi dari hidung

dilakukan tanpa melihat jelas tumornya (blind biopsy). Cunam biopsi dimasukkan

melalui rongga hidung menelusuri konka media ke nasofaring kemudian cunam

diarahkan ke lateral dan dilakukan biopsy. Biopsi melalui mulut dengan memakai

bantuan kateter nelaton yang dimasukkan melalui hidung dan ujung kateter yang

berada didalam mulut ditarik keluar dan diklem bersam-sama ujung kateter yang di
hidung. Demikian juga dengan kateter dari hidung disebelahnya, sehingga palatum mole

tertarik keatas. Kemudian dengan kaca laring dilihat daerah nasofaring. Biopsi

dilakukan dengan melihat tumor melalui kaca tersebut atau memakai nasofaringoskop

yang dimasukkan melalui mulut, massa tumor akan terlihat lebih jelas. Biopsi tumor

nasofaring umumnya dilakuan dengan anestsi topical dengan Xylocain 10%. Bila

dengan cara ini masih belum didapatkan hasil yang memuaskan maka dilakukan

pengerokan dengan kuret daerah lateral nasofaring dalam narcosis. (6)

Penatalaksanaan

Radioterapi masih merupakan pengobatan utama dan ditekankan pada

penggunaan megavoltage dan pengaturan dengan computer. Pengobatan tambahan

yang diberikan dapat berupa diseksi leher, pemberian tetrasiklin, faktor transfer,

interferon, kemoterapi, seroterapi, vaksin dan anti virus. Semua pengobatan tambahan

ini masih dalam pengembangan, sedangkan kemoterapi masih tetap terbaik sebagai

terpai adjuvant (tambahan). Bebagai macam kombinasi diebangkan, yang trbaik sampai

saat ini adalah kombinasi dengan Cis-platinum sebagai inti. Pemberian adjuvant

kemoterapi Cis-platinum, bleomycin dan 5-fluorouracil saat ini sedang dikembangkan

dengan hasil sementara yang cukup memuaskan. Demikian pula telah dilakukan

penelitian pemberian kemoterapi praradiasi dengan epirubicin dan cis-platinum,

meskipun ada efek samping yang cukup berat, tetapi memberikan harapan kesembuhan

yang lebih baik. Kombinasi kemoterapi dengan mitomycin C dan 5-fluorouracil oral
setiap hari sebelum diberikan radiasi yang bersifat radiosensitizer memperlihatkan

hasil yang memberi harapan akan kesembuhan total pasien karsinoma nasofaring.

Pengobatan pembedahan diseksi leher radikal dilakukan terhadap benjolan di leher

yang tidak menghilang pada penyinaran (residu) atau timbul kembali setelah

penyinaran selesai, tetapi dengan syarat tumor induknya sudah hilang yang dibuktikan

dengan pemeriksaan radiologi dan serologi. Operasi tumor induk sisa (residu) atau

kambuh (residif) diindikasikan, tetapi sering timbul komplikasi yang berat akibat

operasi.

Perawatan paliatif

Perhatian pertama harus diberikan pada pasien dengan pengobatan radiasi.

Mulut rasa kering disebakan oleh keusakan kelenjar liur mayor maupun minor sewaktu

penyinaran. Tidak banyak yang dilakukan selain menasihatkan pasien untuk makan

dengan banyak kuah, membawa minuman kemanapun pergi dan mencoba memakan

dan mengunyah bahan yang rasa asam sehingga merangsang keluarnya air liur.

Gangguan lain adalah mukositis rongga mulut karena jamur, rasa kaku di daerah leher

karena fibrosis jaringan akibat penyinaran, sakit kepala, kehilangan nafsu makan dan

kadang-kadang muntah atau rasa mual.

Kesulitan yang timbul pada perawatan pasien pasca pengobatan lengkap dimana

tumor tetap ada (residu) akan kambuh kembali (residif). Dapat pula timbul metastasis

jauh pasca pengobatan seperti ke tulang, paru, hati, otak. Pada kedua keadaan tersebut
diatastidak banyak tindakan medis yang dapat diberikan selain pengobatan simtomatis

untuk meningkatkan kualitas hidup pasien. Paisen akhirnya meninggal dalam keadaan

umum yang buruk , perdarahan dari hidung dan nasofaring yang tidak dapat dihentikan

dan terganggunya fungsi alat-lata vital akibat metastasis tumor. (6)

Prognosis

Secara keseluruhan, angka bertahan hidup 5 tahun adalah 45 %. Prognosis

diperburuk oleh beberapa faktor, seperti :

- Stadium yang lebih lanjut.

- Usia lebih dari 40 tahun

- Laki-laki dari pada perempuan

- Ras Cina dari pada ras kulit putih

- Adanya pembesaran kelenjar leher

- Adanya kelumpuhan saraf otak adanya kerusakan tulang tengkorak

- Adanya metastasis jauh(11)

Komplikasi

Gejala metastasis jauh, karena 95% lebih sel kanker nasofaring berdiferensiasi

buruk, dengan derajat keganasan tinggi, waktu diagnosis ditegakkan, 4,2% kasus sudah

menderita metastasis jauh, Dari kasus wafat setelah radioterapi, angka metastasis jauh

45,5%. Lokasi metastasis paling sering ke tulang, paru hati. Metastasis tulang paling

sering ke pelvis, vertebra, costa, dan keempat ekstremitas. (12)


Daftar Pustaka

1. Ballenger J. Jacob., 1994. Penyakit Telinga Hidung Tenggorok Kepala dan Leher, ed.13,

jilid 1, Binarupa Aksara, Jakarta. pp; 371-396

2. www.crab.org

3. Eugene B. Kern. Et al. 1993. Penyakit Telinga Hidung dan Tenggorok, EGC, Jakarta.

pp;371- 373

4. Kurniawan A. N., 1994. Nasopharynx dan Pharynx dalam Kumpulan kuliah Patologi,

FKUI, 1994,Jakarta.pp;151-152

5. Mansjoer, Arif., et al (eds), 1999. Kapita Selekta Kedokteran ed.III, jilid 1, FKUI, Media

Aesculapius, Jakarta. pp; 371-396

6. Roezin A., dan Syafril A., 1990. Karsinoma Nasofaring dalam Buku ajar ilmu kesehatan

telinga, hidung, tenggorok, kepala, leher, ed 5, FKUI, Jakara. pp ; 146-159

7. www.utmb.edu

8. Desen Wan, dkk. 2008. Onkologi Klinik ed.II. Balai Penerbit FKUI. Jakarta. pp; 267-268

9. Soepardi EA, Iskandar N. Dalam : Karsinoma Nasofaring. Buku Ajar THT. Edisi Kelima.

Balai Penerbit FKUI. Jakarta, 2000 : 146-150

10. Desen Wan, dkk. 2008. Onkologi Klinik ed.II. Balai Penerbit FKUI. Jakarta. pp; 274-

275
11. Rasad U, Dalam : Nasopharyngeal Carcinoma. Medical Progress. July Vol 23 no 7

1996 ;16

12. Desen Wan, dkk. 2008. Onkologi Klinik ed.II. Balai Penerbit FKUI. Jakarta. pp; 272