Anda di halaman 1dari 22

Ini versi lengkapnya sampai pertemuan terakhir…

PENGANTAR HUKUM INDONESIA


Tidak ada satu negara pun di dunia ini yang tidak mempunyai hukum. Setiap bangsa
mempunyai hukumnya sendiri yang berada di suatu tata hukum.

Aturan-aturan hukum yang berlaku terdiri dari ketentuan-ketentuan atau aturan-aturan


hukum yang saling berhubungan. Aturan-aturan hukum tersebut merupakan suatu susunan atau
tata sehingga disebut tata hukum dan menentukan.

Tata hukum adalah susunan hukum yang terdiri dari berbagai aturan-aturan dan ketentuan-
ketentuan hukum yang tertata atau tersusun sedemikian rupa sehingga orang mudah
menemukannya bila diperlukan untuk menyelesaikan peristiwa-peristiwa hukum yang timbul atau
terjadi dalam masyarakat.

Aturan-aturan yang ditata sedemikian rupa tadi saling menentukan satu sama lain. Tata
hukum yang berlaku di suatu masyarakat karena disahkan oleh penguasa masyarakat tersebut atau
pemerintah negara tersebut.

Tata hukum yang sah dan berlaku pada waktu tertentu di wilayah atau negara tertentu
disebut hukum positif (ius constitutum). Sedangkan masyarakat yang menaati aturan yang sudah
dibuat oleh pemerintahnya disebut masyarakat hukum. Masyarakat harus patuh karena aturan-
aturan itu timbul dalam masyarakat itu sendiri sehingga masyarakat harus mematuhinya.

Tiap-tiap tata hukum mempunyai strukturnya sendiri: hidup, berkembang (dinamis) dan
berubah sesuai dengan perkembangan kebutuhan masyarakat, sehingga dikatakan bahwa tata
hukum itu berstruktur terbuka.

Tujuan mempelajari tata hukum adalah ingin mengetahui, memahami seluruh aturan hukum
yang sedang berlaku di negara tersebut dan ia akan mempelajari hukum positif negara tersebut.

Ilmu pengetahuan yang mempelajari hukum yang sedang berlaku di suatu negara disebut ilmu
pengetahuan hukum positif.

Untuk memelihara ketertiban hukum dalam masyarakat, kita mempelajari aturan-aturan


hukum tersebut lebih dalam lagi. Tata hukum suatu negara adalah peraturan-peraturan yang dibuat
dan disahkan oleh penguasa negara tersebut. Hal ini merupakan prinsip atau ketentuan umum.

Tata hukum Indonesia berstruktur terbuka karena bersifat dinamis karena mengikuti
perkebangan kebutuhan masyarakat. Dengan kata lain perkembangan kebutuhan masyarakat selalu
diikuti dengan perkembangan aturan-aturan hukum. Karena itu hukum itu bertujuan untuk
mengatur dan melindungi kepentingan hidup masyarakat, agar tercapai suatu masyarakat yang
tertib.

Tata hukum Indonesia baru ada setelah lahirnya negara Indonesia (sejak 17 Agustus 1945).
Pernyataan yang ada dalam teks proklamasi, pembukaan UUD 1945 alinea II dan IV menyatakan
bahwa negara Indonesia adalah negara yang adil dan berdaulat serta menetapkan bahwa tata
hukum Indonesia yang tertinggi di dalam UUD 1945. UUD 1945 hanya memuat aturan dasar atau
pokok saja. Ketentuan lebih lanjut dijabarkan dalam peraturan perundangan yang lain yang berlaku
di Indonesia.

Sebagai negara yang baru merdeka epemerintah Indonesia belum mampu untuk membuat
aturan-aturan hukum yang akan mengatur tata kehidupan di Indonesia sendiri. Karena seluruh
tenaga dan pikiran telah dicurahkan untuk merebut kemerdekaan. Padahal suatu negara akan
membawa akibat yang sangat fatal tanpa ada landasan hukumnya. Jalan keluarnya, pemimpin
Indonesia waktu itu mencantumkan pasal II aturan peralihan UUD 1945 (semua aturan-aturan
hukum yang sudah ada dinyatakan tetap berlaku sampai diganti dengan UUD yang baru (UUD
1945)). Aturan tersebut dibuat tujuannya semata-mata untuk menghindari kekosongan hukum.
Karena itulah peraturan perundang-undangan di Indonesia dikatakan beraneka warna (karena ada
peraturan perundangan yang dibuat Indonesia sendiri, ada pula yang dibuaat oleh pemerintah
Hindia Belanda dan Jepang yang masih berlaku sampai sekarang di Indonesia (sesuai dengan pasal II
aturan peralihan UUD 1945)).

UUD kita juga pernah mengalami perubahan:

1. UUD 1945 → pasal II Aturan Peralihan

2. Konstitusi RIS 1949 → pasal 192 Ketentuan Peralihan

3. UUD S 1950 → pasal 142 Ketentuan Peralihan

4. UUD 1945 (tahun 1959) → pasal II Aturan Peralihan

5. UUD 1945 (baru atau setelah amandemen) → pasal I Aturan Peralihan

Keadaan Tata Hukum Indonesia

Sebagian besar aturan-aturan hukum yang berlaku di Indonesia sampai sekarang ini telah
dikodifikasikan. Dasar hukum kodifikasi pasal 131 ayat 1 IS (isinya sebuah perintah bahwa hukum
perdata, hukum pidana, hukum dagang, hukum acara perdata, hukum acara pidana harus
dikodifikasi) dan dilakukan berdasarkan asas konkordansi (persamaan, keselarasan), sesuai pasalo
131 ayat 2.

Asas konkordansi adalah aturan hukum yang berlaku bagi orang-orang Belanda di Indonesia
harus disamakan dengan aturan hukum yang berlaku di Belanda.

 Hukum Pidana (termasuk Hukum Acara Pidana)

Selain sudah dikodifikasi juga sudah unifikasi artinya aturan-aturan hukum pidana itu
berlaku untuk seluruh penduduk Indonesia (mulai berlaku 1 Januari 1918).

 Hukum Perdata, Hukum Acara Perdata, Hukum Dagang

Belum unifikasi, sifatnya masih pluralisme (beraneka atau banyak aturan hukum yang
berlaku), tetapi sudah dikodifikasi.
Contoh:

 Untuk orang eropa, berlaku hukum perdata eropa (Belanda)


 Untuk orang timur asing, sama dengan aturan-aturan hukum orang eropa kecuali
hukum kekeluargaannya.
 Untuk orang bumiputra, berlaku hukum adat masing-masing.
HUKUM TATA NEGARA
Hukum tata negara adalah ketentuan-ketentuan yang mengatur mengenai organisasi negara
pada umumnya, yaitu ketentuan-ketentuan yang mengatur mengenai susunan negara, tugas negara,
wewenang negara, hubungan kekuatan alat-alat kelengkapan negara satu dengan yang lain. Objek
dari hukum tata negara adalah negara.

Menurut Logemann, negara adalah suatu organisasi yang bertujuan mengatur serta
menyelenggarakan suatu masyarakat.

Menurut Mac Iver, negara adalah suatu organisasi politik yang ada di dalam masyarakat.

Menurut Prof. Oppenheim, hukum tata negara mengatur negara dalam keadaan diam. Hukum
tata negara tidak mengatur cara kerja alat-alat perlengkapan negara di dalam menjalankan tugas-
tugasnya.

Menurut Van Vollenhoven, hukum tata negara adalah hukum yang mengatur tentang bentuk
negara, bentuk pemerintahan, wilkayah negaram alat-alat perlengkapana negara, dan rakyat negara.

Proklamasi kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945 merupakan sumber hukum bagi


pembentukan negara Indonesial. Proklamasi memiliki arti yang penting bagi bangsa Indonesia,
antara lain karena:

1. Mendorong lahirnya NKRI

2. Proklamasi merupakan puncak perjuangan kemerdekaan Indonesia

3. Proklamasi menandai mulanya sejarah permerintahan NKRI

Bentuk negara ada dua, yaitu Kesatuan dan Serikat. Sedangkan bentuk pemerintahan terdiri
dari Republik dan Monarkhi (Kerajaan).

Dasar-dasar pemerintahan suatu negara pada umumnya termuat di dalam konstitusi atau
undang-undang dasar negara yang bersangkutan.

Sejarah pemerintahan Indonesia lebih tepatnya dimulai sejak berlakunya UUD 1945 (18
Agustus 1945). Dengan terpilihnya presiden dan wakil presiden (tanggal 18 Agustus 1945) secara
formal terbentuklah negara Indonesia, karena semua syarat formalnya telah terpenuhi. Syarat-syarat
tersebut antara lain:

1. Adanya rakyat negara (bangsa Indonesia)

2. Adanya wilayah negara (tanah air Indonesia yang dulu dinamakan Hindia Belanda)

3. Adanya pemerintahan (dimulai sejak ditetapkannya presiden dan wakil presiden)

4. Adanya tujuan negara (baru ada sejak ditetapkannya UUD 1945 alinea ke-II (mewujudkan
masyarakat yang adil dan makmur), untuk mewujudkan visi negara caranya ada di alinea ke-IV
(yang merupakan misi negara)).

Pokok-pokok Hukum Tata Negara Indonesia


1. Sistem Pemerintahan NKRI

Menurut UUD 1945 (sebelum amandemen), sistem pemerintahan NKRI (termuat atau
dijelaskan di dalam penjelasan UUD 1945) berdasarkan 7 asas atau 7 kunci pokok:

1. Indonesia adalah negara yang berdasarkan hukum (rechstaat) tidak berdasarkan


kekuasaan hukum semata (maachstaat)

2. Sistem konstitusional, yang berarti bahwa negara Indonesia berdasarkan konstitusi atau
hukum dasar, tidak bersifat absolut.

3. Kekuasaan negara yang tertinggi di tangan MPR, artinya kedaulatan rakyat dipegang
oleh suatu badan yang disebut MPR (penjelmaan kedaulatan rakyat).

MPR mempunyai kewenangan:

a. menetapkan atau merubah UUD

b. menetapkan Garis-garis Besar Haluan Negara (suatu pedoman atau perintah bagi
presiden dalam melaksanakan tugasnya)

c. mengangkat presiden dan wakil presiden (Preseden harus tunduk dan


bertanggung jawab kepada MPR, disebut juga mandataris MPR)

4. Presiden adalah penyelenggara pemerintahan tertinggi di bawah MPR.

5. Presiden tidak bertanggung jawab kepada DPR (karena kedudukan presiden sejajar
dengan kedudukan DPR).

6. Menteri-menteri negara adalah pembantu presiden (menteri negara diangkat dan


diberhentikan presiden, oleh karena itu menteri bertanggung jawab kepada presiden,
bukan bertanggung jawab kepada DPR).

7. Kekuasaan kepala negara tidak tak terbatas.

Sistem pemerintahan NKRI menurut UUD setelah amandemen

1. Indonesia adalah negara hukum (pasal 1 ayat (3)).

2. Kedaulatan berada di tangan rakyat dan dilaksanakan menurut UUD 1945 (pasal 1 ayat
(2)).

Kekuasaan tertinggi bukan lagi dipegang oleh MPR. Jadi presiden bukan lagi
mandataris MPR. Karena presiden dipilih langsung oleh rakyat (pasal 6A yat (1)). Tapi
MPR sebagai pemegang dan pelakasana kedaulatan rakyat (Tap MPR No. XI Tahun
2003).

3. Presiden memegang kekuasaan pemerintahan (pasal 4 ayat (1)).


Presiden dan wakil presiden memegang jabatan selama 5 tahun dan dapat dipilih
kembali dalam jabatan yang sama, hanya untuk satu kali masa jabatan (pasal 7). Hal ini
menunjukkan masa jabatan presiden terbatas.

4. Presiden tidak bertanggung jawab kepada DPR maupun MPR (pasal 7B ayat (1), pasal 6,
dan pasal 7C).

5. Menteri-menteri sebagai pembantu presiden (pasal 17 ayat (1) dan (2)).

2. Alat Perlengkapan Negara

Menurut UUD 1945 lama (sebelum amandemen)

r
s
e
P
L
m
e
i
d
a g
b a
P
M
B
P
D
P
M
g
n
T
ti
r
e
i
n
e
r
a
g
e
N A
K
R
A
R
i
g

Menurut UUD 1945 baru (setelah amandemen)

r
s
e
P
y
k
a
Rd
i
/
t
Y
K
M
A
P
D
P
M
n
e
D
UK
R
D
R
5
4

Landasan hukum dari HTN:

1. Landasan idiil, Pancasila

2. Landasan konstitusi, UUD 1945

3. Landasan operasional, renstra dan peraturan perundangan yang lain.


HUKUM ADMINISTRASI NEGARA / HUKUM TATA USAHA NEGARA
Menurut Prof. Prajudi, tidak ada perbedaan prinsip antara hukum administrasi negara dan
hukum tata negara. Perbedaannya hanya terletak pada fokus pembahasannya, Di dalam hukum
administrasi negara fokus pembahasannya ada pada administrasi negara, sedangkan hukum tata
negara berfokus pada

Administrasi disini merupakan cara bagaimana pemerintah menjalankan hubungan


pemerintahannya (surat menyurat).

Menurut Oppenheim, hukum administrasi negara adalah peraturan-peraturan mengenai


negara dan alat-alat perlengkapan negara di lihat dalam gerakannya. Hukum tata negara mengatur
negara dalam keadaan diam.

Menurut Van Vollenhoven, hukum tata negara merupakan hukum tentang distribusi
kekuasaan negara. Sedangkan hukum administrasi negara merupakan hukum mengenai pelaksanaan
dari kewenangan-kewenangan tersebut.

Menurut Abdul Jamali, hukum administrasi negara adalah aturan-aturan hukum yang
mengatur administrasi yaitu hubungan antara warga negara dengan pemerintahnnya yang
menyebabkan negara tersebut berfungsi.

Menurut Prof. Kusumadi, hukum administrasi negara adalah keseluruhan aturan hukum yang
mengatur bagaimana negara sebagai penguasa menjalankan usaha-usahanya untuk memenuhi
tugas-tugasnya.

Sumber Hukum Formal Hukum Administrasi Negara (menurut Utretch)

1. Undang-undang
2. Praktek administrasi negara
3. Yurisprudensi
4. Doktrin

Menurut Prof. Prins, hukum administrasi negara merupakan perpanjangan dari hukum tata
negara.

Asas yang berlaku dalam Hukum Administrasi Negara

1. Asas legalitas: setiap kegiatan administrasi negara harus berdasarkan hukum.

2. Asas tidak boleh menyalahgunakan kekuasaan (Asas De Tournement).

3. Asas tidak boleh mengambil atau menyerobot wewenang badan administrasi negara yang lain
(Asas Exes de Pouvoir); karena jika terjadi sesuatu akan sulit untuk menentukan siapa yang
harus bertanggung jawab.

4. Asas kesamaan hak bagi setiap warga negara (Asas Non Diskriminasi).
5. Asas kebebasan (Asas Freies Ermessen); badan-badan administrasi negara diberi kebebasan
dalam hal menyelesaikan masalah-masalah yang menyangkut kepentingan umum bangsa dan
negara.
HUKUM PERDATA
Hukum perdata biasa disebut sebagai hukum yang berisi aturan-aturan yang mengatur
hubungan hukum antara orang yang satu dengan yang lainnya dalam masyarakat dengan
menitikberatkan pada kepentingan perseorangam.

Di dalam perkembangannya hukum perdata juga mengatur hubungan hukum antara


pemerintah/ negara dengan anggota masyarakat/ warga negaranya.

Sejarah hukum perdata di Indonesia

1. Hukum perdata yang terhimpun atau terkodifikasi dalam Kitab Undang-Undang Hukum
Perdata (KUHP) yang berlaku di Indonesia sampai saat ini berasal dari KUHP Belanda.

2. Diberlakukan berdasarkan asas konkordansi, artinya orang-orang Belanda yang ada di


Indonesia diberlakukan ketentuan-ketentuan hukum perdata seperti yang berlaku di Belanda
(memberlakukan hukum negara penjajah di negara jajahannya).

Menurut pasal 163 IS pemerintah Hindia Belanda membagi penduduk Indonesia


menjadi 3 golongan:

1. Golongan eropa

2. Golongan timur asing; orang Cina, Arab, dan selain orang eropa dan bumiputra

3. Golongan bumiputra (penduduk asli)

Menurut pasal 131 IS pemerintah Hindia Belanda memberlakukan hukum yang berbeda
bagi setiap golongan:

1. Golongan eropa: hukum pedata Belanda

2. Golongan timur asing: sama dengan aturan-aturan hukum orang eropa kecuali hukum
kekeluargaan

3. Golongan bumiputra: hukum adat masing-masing (hukum perdata adat)

Dulunya hukum perdata Belanda hanya diberlakukan bagi orang Belanda yang ada di
Indonesia.

Hukum perdata Belanda berasal dari hukum perdata Perancis.

Hukum perdata Perancis berasal dari hukum perdata Romawi.


e
a
r
P
B
l n
C
o
e
d
P
m
u
k
o
e
H
C
d
D
/
i
w
p
o
R
N
C
a
l
c
r
e
m
(
m
k
u
h
l
a
n
e
n
e

s
i
c
d
a
o
s
m
k
u
h
C
(
p
r
J i
r
s

p
n
a
d
i
s
l
v
i
e
)
t
a
g
n
C
p
d
r )
Indonesia

Dasar hukum mengapa hukum Belanda sampai sekarang masih berlaku di Indonesia:

1. UUD 1945 → pasal II Aturan Peralihan

2. Konstitusi RIS 1949 → pasal 192 Ketentuan Peralihan

3. UUD S 1950 → pasal 142 Ketentuan Peralihan

4. UUD 1945 (tahun 1959) → pasal II Aturan Peralihan

5. UUD 1945 (baru atau setelah amandemen) → pasal I Aturan Peralihan

Keadaan hukum perdata di Indonesia masih bersifat pluralistik (banyak macamnya), karena
adanya politik Hindia Belanda terhadap hukum di Indonesia. Faktor-faktornya antara lain:

1. Faktor etnis

Bangsa Indonesia terdiri dari berbagai suku bangsa yang mempunyai hukum adatnya
masing-masing.

2. Faktor yuridis

Aturan-aturan hukum yang dibuat oleh pemerintah Hindia Belanda

1. Pasal 163 IS dan pasal 131 IS

2. Aturan tentang persamaan hak dimana orang-orang bukan eropa disamakan


kedudukannya dengan orang eropa.

3. Aturan-aturan tentang pendudukan diri secara sukarela kepada hukum perdata Hindia
Belanda
 Tunduk untuk sepenuhnya
 Tunduk hanya sebagian
 Tunduk secara diam-diam (tidak melalui proses penetapan hakim)

Saat ini keadaan pluralistik di Indonesia semakain berkurang karena semakin banyak semua
diciptakan peraturan perundang-udangan nasional yang berlaku untuk semua penduduk Indonesia.
Jadi pluralisme dalam lapangan hukum pedata karena belum ada unifikasi hukum di Indonesia.

Sistematika Hukum Perdata di Indonesia

1. Sistematika menurut Undang-undang / menurut KUHP

KUHP dibagi menjadi 4 buku:

 Buku I : tentang orang (v. Persoonen)


Buku ini tidak hanya mengatur tentang orang atau manusia sebagai subjek hukum
tetapi juga mengatur mengenai hukum kekeluargaan. Karena hukum kekeluargaan
mempunhyai pengaruh terhadap kecakapan atau status seseorang.
Hukum keluarga adalah aturan-aturan hukum yang timbul di dalam pergaulan
hidup kekeluargaan.
Buku ini mengatur apa subjek hukum itu, siapa subjek hukum, bagaimana
kecakapan hukum subjek hukum, nama, domisili, dan catatan sipil seseorang.
Kekuasaan orang tua adalah kekuasaan yang dijalankan pada pribadi anak dan
harta benda anak (kewajiban alimentasi). Anak-anak yang berada di bawah kekuasaan
orang tua adalah anak-anak yang belum dewasa (berusia 21 tahun) atau belum
menikah.
 Buku II : tentang benda (v. Zaken)
Selain mengatur tentang hukum benda juga mengatur tentang waris. Hukum
waris di atur di buku II tentang benda karena perwarisan merupakan salah satu cara
untuk memperoleh hak atas suatu benda.
 Buku III : tentang perikatan (v. Verbintenissen)
Perikatan adalah aturan-aturan yang mengatur hubungan hukum antara dua
pihak dalam lapangan harta kekayaan dimana pihak yang satu berhak atas suatu
prestasi dan pihak yang lain berkewajiban untuk memenuhi atau melaksanakan.
 Buku IV : tentang pembuktian dan kadaluarsa
Mengatur tentang alat-alat bukti di dalam lapangan hukum perdata dan akibat-
akibat dari kadaluarsa terhadap hubungan-hubungan hukum. Menurut pasal 1865
KUHP, barang siapa yang menyatakan mempunyai hak atau menyatakan sesuatu yang
berbeda dari yang dinyatakan oleh pihak lain maka dia harus membuktikan adanya
haknya atau kewenangan keperdataanya. Sehingga dalam pasal 1687 KUHP
ditentukanlah alat bukti yang dapat digunakan:
1. alat bukti tulisan atau dokumen
2. kesaksian
3. persangkaan atau dugaan
4. pengakuan
5. sumpah
Kadaluarsa membawa 2 akibat bagi hubungan hukum seseorang:
1. menimbulkan atau memberikan hak seseorang
2. menghapuskan kewajiban seseorang

2. Sistematika menurut Doktrin

Ada karena sistematika menurut undang-undang diprotes oleh ahli hukum Belanda:

1. hukum kekeluargaan tidak tepat dimasukkan ke buku ke-I, karena hukum kekeluargaan
seharusnya mengatur hubungan perseorangan.

2. hukum waris tidak tepat dimasukkan ke buku ke-II, karena hukum waris lebih erat
kaitnnya dengan hukum keluarga.

3. buku IV sangat tidak tepat dijadikan sistematika hukum perdata. Karena alat bukti
merupakan hukum formil atau acara sehingga harus dimasukkan dalam hukum acara
perdata.

Sedangkan menurut pemerintah hukum formil dibagi menjadi 2:

1. bagian materiil, meliputi alat-alat bukti

2. bagian formil.

Jadi tidak ada masalah jika dijadikan sistematika KUHP.

Oleh karena itu para ahli hukum membuat sistematika sendiri:

1. Hukum Perorangan

Mengatur orang sebagai subjek hukum, kecakapan seseorang, nama, domisili.

2. Hukum Kekeluargaan (Familie Raachts)

Diatur mengenai perkawinan, perceraian, hubungan anak-orang tua, perwalian.

3. Hukum Harta Kekayaan

Aturan-aturan hukum yang dapat mengatue hubungan-hubungan hukum yang


dapat dinilai dengan uang.

4. Hukum Waris

Mengatur siapa saja ahli waris, berapa bagian masing-masingnya, dsb.

Di dalam KUHP terdapaqt peraturan-peraturan yang bersifat memaksa (dwingen recht), dan
ada yang bersifat mengatur atau melengkapi (aanfullen recht).

Bersifat memaksa artinya ketentuan-ketentuan itu tidak boleh ditinggalkan atau diabaikan,
harus dipenuhi (terdapat dfi buku II tentang benda, sehingga buku II KUHP menganut sistem
tertutup (tidak boleh dikurangi, tidak boleh ditambah)).
Bersifat mengatur artinya aturan-aturan itu fungsinya hanya sebagai pedoman, boleh dipakai,
boleh tidak, boleh ditambah, boleh dikurangi (terdapat di buku III tentang perikatan, sehingga
disebut menganut sistem terbuka) asal tidak melanggar perjanjian dan kesusilaan.

Status KUHP Sekarang sebagai Hukum Objektif

1. Berdasarkan surat edaran MA (SEMA No, 3 Tahun 1963) kedudukan KUHP (termasuk KUHD)
tidak lagi merupakan WETBOEK (kitab undang-undang) tetapi hanya sebagai RECHTBOEK
(kitab hukum atau kitab yang berisi aturan-aturan hukum) atau sebagai pedoman, artinya
hakim pengadilan dapat menganggap suatu pasal di dalam KUHP tidak berlaku lagi jika
dianggapnya pasal tersebut bertentangan atau tidak sesuai lagi dengan keadaan zaman dan
kemerdekaan sekarang ini,.

Secara yuridis formil kedudukan KUHP tetap sebagai undang-undang, karena belum ada
undang-undang yang mencabutnya. Jadi kedudukan KUHP sekarang sebagai pedoman hakim
dalam melaksanakan tugas-tugasnya.

2. KUHP sekarang bukan lagi sebagai KUHP yang utuh sebagaimana awalnya karena ada bagian-
bagian di dalam KUHP yang sudah dinyatakan tidak berlaku lagi baik karena sudah ada
peraturan perundang-undangan yang baru (nasional). Selain itu ditambah adanya pasal-pasal
yang tidak berlaku lagi menurut keputusan hakim.
HUKUM DAGANG
Hukum dagang adalah aturan-aturan yang mengatur hubungan-hubungan hukum antara
orang-orang dan badan-badan hukum satu dengan yang lainnya di dalam lapangan perniagaan atau
perdagangan. Oleh karena itu hukum dagang disebut juga hukum perdata khusus (karena prinsipnya
sama, tetapi lapangannya berbeda).

Perdagangan adalah suatu pekerjaan membeli dan menjual barang dengan maksud untuk
mencari keuntungan.

Sejarah hukukm dagang yang berlaku di Indonesia sekarang ini sebagai hukum objektif sama
dengan hukum perdata, karena adanya asas konkordansi.

Sumber Hukum Hukum Dagang

1. Hukum tertulis yang sudah dikodifikasi (KUHD dan KUHPerdata)

2. Hukum tertulis yang belum dikodifikasi (aturan-aturan hukum yang ada di luar KUHD dan
KUHPerdata : aturan perundang-undangan khusus yang mengatur mengenai perdagangan
(Contoh: undang-undang kepailitan, undang-undang koperasi, dsb.)

Sistematika KUHD

 Buku I (tentang pedagangan pada umumnya)


Terdiri dari 10 bab. Di dalamnya diatur mengenai pembukuan, macam-macam
persekutuan dagang, usaha pengangkutan barang, cek, wesel, asuransi, dsb.
 Buku II (tentang hak-hak dan kewajiban-kewajiban yang timbul dari pelayaran)
Terdiri dari 13 bab. Di dalamnya diatur mengenai kapal dan muatannya, perjanjian kerja
laut, ABK, resiko tabrakan kapal, dsb. Alasan dibuatnya buku tersendiri yang mengatur tentang
-hak dan kewajiban-kewajiban yang timbul dari pelayaran adalah karena dulu perdagangan
dilakukan melalui laut.

Hubungan Hukum Dagang dengan Hukum Perdata

Hubungan antara KUHD dan KUHP sangat erat, bisa dibuktikan pemberlakuannya satu paket
(awalnya di Belanda KUHD dan KUHP dihimpun dalam satu kitab (KUHP), kemudian terjadi
pemisahan karena perdagangan sangat pesat perkembangannya, KUHP (BW), KUHD(BWK)).
Diperkuat dengan pasal 1 KUHD yang mengatakan bahwa KUHP dapat juga berlaku dalam hal-hal
yang diatur dalam KUHD sepanjang KUHD tidak mengaturnya secara khusus.

 Menurut Prof. Subekti, kedudukan KUHP dan KUHD adalah sebagai hukum khusus (KUHD)
terhadap hukum umum (KUHP).
 Menurut Prof. Sudirman, KUHD merupakan lex spesialis terhadap KUHP sebagai lex generalis.
 Menurut Mankan, hukum dagang adalah tambahan hukum perdata yaitu mengatur hal-hal
khusus (hanya soal perdagangan saja).
 Menurut Prof. Tirtaamidjaja, hukum dagang adalah hukum perdata yang istimewa.
 Menurut Prof. Sutardono, pasal 1 KUHD memelihara kesatuan antara hukum perdata dengan
hukum dagang.
PENGANTAR HUKUM PIDANA
Hukum pidana (secara umum) adalah hukum yang mengatur tentang pelanggaran-
pelanggaran dan kejahatan-kejahatan terhadap kepentingan umum, perbuatannya diancam dengan
hukuman yang berupa penderitaan.

Pelanggaran adalah tindakan-tindakan atau perbuatan-perbuatan mengenai perbuatan yang


kecil atau tingan sehingga diancam dengan hukuman yang juga ringan.

Kejahatan adalah perbuatan-perbuatan mengenai perbuatan yang berat sehingga diancam


dengan hukuman yang juga berat. Contoh: pencurian, pembunuhan.

Kepentingan umum adalah kepentingan badan dan peraturan-peraturan perundang-undangan


negara seperti perbuatan-perbuatan terhadap negara, perlengkapan-perlengkapan negara, pejabat-
pejabat negara, pegawai negeri, undang-undang, PP, dsb.

Kepentingan umum adalah kepentingan hukum setiap manusia, seperti perbuatan-perbuatan


terhadap jiwa manusia, raga manusia (penganiayaan), kemerdekaan seseorang (penculikan,
penyekapan), kehormatan seseorang (penghinaan), harta benda seseorang (pencurian).

Aturan-aturan hukum pidana tidak hanya ada pada kitab undang-undang hukum pidanan
tetapi ada pada peraturan UU lain diluar KUHPidana yang sanksinya adalah sanksi pidana.

Keistimewaan hukum pidana adalah terletak pada sifatnya yang keras oleh karena itu
dikeluarkan ultimatum reminum : tidakan terakhir dari negara supaya orang mau matuhi kecuali
yang ada di dalam KUH Pidana.

Menurut pasal 10 KUH pidana, hukuman pidana terdiri dari :

1. Pidana pokok/utama
a. Pidana mati
b. Pidana penjara (seumur hidup maupun selama waktu tertentu)
c. Pidana kurungan (dibawah satu tahun)
d. Pidana denda
2. Pidana tambahan
a. Pencabutan hak-hak tertentu, misalnya dijatuhi pidana penjara selama 16 tahun dan
dicabut haknya sebagai PNS
b. Perampasa/penyitaan barang-barang tertentu, misalnya seluruh harta benda yang
diduga berasal dari korupsi disita

Hukuman tambahan tidak bisa dijatuhkan sendiri (harus ada hukuman pokoknya)

Sejarah HUKUM PIDANA

Berasal dari wetboek/WB. Mulai berlaku 1 Januari 1918 berlaku untuk semua golongan
penduduk Indonesia, merupakan hukum yang sudah unifikasi. Berbeda dengan hukum perdata yang
masih pluralisasi.
KUHP yang sekarang berlaku sebagai hukum objektif. Sekarang isi dan jiwanya sudah
disesuaikan dengan keperluan dan keadaan nasional Negara Indonesia. Penyesuaian isi dan jiwa
didasarkan oleh UU No. 1 1946.

Sistematika KUH Pidana, terdiri dari tiga buku :

 Buku 1
 Tentang aturan umum, dimuat asas-asas dan pengertian hukum yang berlaku umum.
Artinya disamping berlaku bagi KUHP sendiri juga berlaku bagi semua hukum pidana
diluar KUHP.
 Terdiri dari beberapa bab/titel. Setiap bab terdiri dari psal-pasal. Setiap pasal terdiri
dari ayat-ayat. Terdiri dari 9 bab.
 Buku 2, tentang kejahatan. Terdiri dari 3 bab. Setiap bab terdiri dari pasal-pasal dan ayat-ayat.
 Buku 3, tentang pelanggaran. Terdiri dari 9 bab.

Hukum pidana objektif dan hukum pidana subjektif

Hk. Pidana Objektif : semua peraturan-peraturan yang memuat perintah-perintah/larangan-


larangan yang disertai dengan ancaman hukuman bagi setiap pelanggarnya.

Hk. Pidana Objektif terdiri atas:

 Hukum pidana materiil, yaitu peraturan-peraturan/merumuskan tentang perbuatan-


perbuatan apa yang dapat dihukum, siapa yang dapat dihukum, hukuman apa yang dapat
diterapkan. Hukum pidana materiil mengatur tentang syarat-syarat seseorang untuk dapat
dihukum. HP Materiil terbagi menjadi :
o H.P.M. Khusus : hanya berlaku untuk orang-orang tertentu/tindak pidana
tertentu/perbuatan tertentu.
o H. P. M. Umum : hukum materiil yang tercakup dalam KUHP merupakan hukum
pidana umum (berlaku bagi siapa saja).

Menurut POMPE, hukum pidana khusus memuat ketentuan-ketentuan dan asas-asas


yang berbeda, yang menyimpang, berlawanan dari asas-asas yang tercantum dalam
hukum pidana umum. Misalnya : hukum pidana militer, hukum pidana subversif, hukum
pidana ekonomi, dan hukum pidana korupsi.

 Hukum pidana formil (hukum acara pidana), yaitu aturan-aturan hukum yang mengatur
bagaimana cara melaksanakan/mempertahankan dan menegakkan hukum pidana materiil.
Hukum acara pidana diatur dalam HIR diperbaharui menjadi RIB lalu menjadi KUHAP.

Hk. Pidana Subyetif : adalah hak negara/alat-alat negara untuk menghukum seseorang
berdasarkan hukum pidana objektif karena tidak dibenarkan orang untuk bertindak sendiri/main
hakim sendiri, sehingga harus menyerahkan si pelaku kepada alat negara. Huku pidana obyektif pada
hakikatnya membatasi hak negara tidak boleh menghukum seseorang apabila hukum objektifnya
belum ada.

Asas berlakunya hukum pidana berkaitan dengan tempat., diatur dalam pasal 2 s.d. pasal 9
KUHP. Ada beberapa asas :
1. Asas territorial/asas daerah
Undang-Undang Hukum Pidana Indonesia berlaku terhadap siapapun juga yang
melakukan tindak pidana di dalam wilayah negara Indonesia. Titik beratnya ada pada dimana
tindak pidana itu dilakukan.
Yang termasuk wilayah kekuasaan hukum pidana itu selain daerah daratan, lautan,
udara yang ada diatasnya, juga kapal-kapal yang memakai bendera Indonesia. Tidak berlaku
bagi orang-orang yang mempunyai hak eksteritorial seperti kepala negara asing yang sedang
berkunjung, wakil organisasi internasional, kedutaan besar, orang-orang yang mempunyai
kekebalan hukum seperti anggota parlemen. Pengertian kekebalan hukum ini yaitu orang
tersebut akan diproses oleh hukum yang ada di negaranya, tidak diproses oleh hukum yang
ada di Indonesia (dimana orang tersebut melakukan kejahatan).
2. Asas nasional aktif/asas persoonalite

Ada pada pasal 5 dan 6 KUH Pidana. Aturan-aturan hukum pidana Indonesia berlaku
juga terhadap warga negara Indonesia yang melakukan tidak pidana di luar negeri.
Ketentuan yang ada di Indonesia mengikuti warga negaranya dimanapun dia berada.

3. Asas nasional pasif


Ada pada pasal 4 dan 8 KUH Pidana. Berdasarkan kepentingan hukum negara yang
dilanggar. Oleh karena itu asas ini juga disebut asas perlindungan, melindungi kepentingan
hukum suatu negara. Berdasarkan asas ini UU Hukum Pidana Indonesia dapat melakukan
penuntutan terhadap siapapun yang melakukan tindak pidana di luar negeri (untuk orang
asing)/perbuatan itu merugikan kepentingan hukum negara Indonesia.
Perbuatan yang merugikan kepentingan negara, misalnya memalsukan mata uang,
materai, lambang negara. Siapapun yang melakukannya walaupun diluar negeri maka dia
dapat dihukum di Indonesia, diadili sesuai hukum yang berlaku di Indonesia.
4. Asas universal
Menentukan bahwa Undang-Undang Hukum Pidana Indonesia dapat diberlakukan
pada tindak pidana/perbuatan jahat yang dapat merugikan keselamatan dunia internasional.
Perbuatan tersebut terjadi di daerah tak bertuan, misalnya lautan bebas (ex. Selat malaka),
daerah yang setelah diukur 12 mil dari pantai surut. Kesimpulannya, ketentuan Undang-
Undang Hukum pidana Indonesia mempunyai kekuasaan yang luas baik di dalam maupun di
luar negeri.

Untuk dapat menuntut orang-orng yang melakukan tindak pidana di luar negeri, terlebih
dahulu tentu si pelaku diserahkan ke negara yang bersangkutan (mis. Indonesia). Penyerahan pelaku
tindak pidana ini dapat dilakukan apabila sudah ada perjanjian ekstradisi (penyerahan) antara negara
Indonesia dengan negara yang bersangkutan. Baru setelah itu pemerintah Indonesia mengirimkan
surat penyerahan pelaku ke Indonesia. Perjanjian ekstradisi dilakukan melalui hubungan/saluran
diplomatic melalui duta besar dari dua negara.

HUKUM PUBLIK INTERNASIONAL/HUKUM INTERNASIONAL

(termasuk lapangan hukum publik)

Yaitu aturan-aturan hukum yang mengtur tentang hubungan-hubungan antara negara yang
satu dengan negara yang lain dalam kepentingan di dunia internasional.
Sumber-sumber yang digunakan oleh Mahkamah Internasional di dalam memutuskan
masalah-masalah hubungan internasional :

1. Traktat (mengikat pihak-pihak yang manandatanganinya)


2. Kebiasaan internasional, misalnya Indonesia menempatkan seorang duta besar sebagai wakil
negara “A”.

Siapa yang menjadi subjek dalam hukum internasional? Yaitu organisasi/badan yang ikut serta
di dalam pergaulan internasional, yang mempunyai hak dan kewajiban.
Yang menjadi subjek hukum internasional :
1. Gabungan negara (Uni Emirat Arab, Uni Soviet)
2. Negara yang berdaulat (yang merdeka)
3. Organisasi internasional (PBB, ASEAN)
4. Vatikan (pusat negara katolik)
Dengan cara menempatkan/membentuk perwakilan suatu negara di tempat lain perwakilan
diplomatik (duta besar/tetap/sementara/khusus/berkuasa penuh)
Konsulat (konsul jenderal/wakil dari suatu negara di negara lain) dalam rangka menjalin
hubungan internasional.

HUKUM ACARA/FORMIL

Adalah peraturan-peraturan hukum yang mengatur tentang cara-cara


melaksanakan/memelihara dan mempertahankan/menegakkan hukum materiil. Bagaimana
mengajukan perkara ke pengadilan, cara-cara hakim memproses perkara tersebut dan
memutuskannya.
Di Indonesia ada dua macam hukum acara :
1. Acara perdata, yaitu aturan-aturan hukum yang mengatur cara-cara memelihara/cara-
cara menegakkan/mempertahankan hukum perdata materiil.
Hukum perdata materiil : semua aturan yang teradapat di KUH Perdata, segala
keperdataan diluar KUH Perdata.
Perkara perdata : perkara mengenai perselisihan antara kepentingan perorangan.
Perkara pidana : perkara tentang pelanggaran kejahatan terhadap kepentingan
umum dan diancam dengan hukuman yang bersifat penderitaan.
2. Acara pidana, yaitu aturan-aturan hukum yang mengatur cara-cara
memelihara/menegakkan hukum pidana materiil.

Asas-asas hukum acara (baik acara perdata maupun pidana)

1. Tidak bertindak main hakim sendiri baik dalam perkara perdata apalagi perkara
pidana. Tetap harus menggunakan jalur pengadilan.
2. Hukum acara harus tertulisn dan dikodifikasi supaya ada kepastian hukum.
3. Kekuasaan pengadilan harus bebas dari pengaruh badan-badan yang lain. Harus
independen (mandiri) supaya dapat memutuskan perkara secara adil.
4. Semua keputusan pengadilan (perdata/pidana) harus berdasarkan hukum, tidak boleh
menghukum orang jika tidak ada aturan hukumnya.
5. Sidang pengadilan harus terbuka untuk umum kecuali ditentukan lain oleh
hukum/hukum yang menyatakan siding harus tertutup. Namun keputusan pengadilan
harus dilakukan secara terbuka (siding tertutup misalnya asusila dan perceraian).

HUKUM ACARA PERDATA

Dasar hukum acara perdata

1. Reglemen (undang-undang) hukum acara perdata untuk golongan eropa di jawa dan Madura.
2. Reglemen Indonesia yang diperbaharui (RIB) yaitu hukum acara untuk golongan Indonesia di
jawa dan Madura.
Semua sudah dijadikan satu menjadi KUHAP yang sudah berlaku/diunifikasi di seluruh
Indonesia.

Proses acara perdata (pelaksanaan acara perdata)


Karena mengatur hubungan antara orang dengan orang, semua diserrahkan pada
kehendak perorangan, menitikberatkan pada kepentingan seseorang.
1. Pihak yang dirugikan mengajukan gugatan ke pengadilan negeri. Pihak ini disebut
penggugat/agar orang yang dituduh merugikannya mengganti kerugian.
2. Gugatan ini dapat diajukan secara tertulis diatas kertas bermaterai atau secara lisan,
disampaikan kepada ketua/panitera pengadilan negeri. Setiap pengajuan harus
membayar biaya administrasi.
3. Berdasarkan surat gugatan tadi maka hakim akan memanggil dua pihak tersebut, baik
penggugat maupun tergugat untuk datang ke pengadilan. Hakim menentukan
waktunya (hari, tanggal, dan jam). Penggugat dan tergugat dapat diwakili oleh
pembela/pengacara.
4. Setelah datang ke pengadilan maka tindakan hakim yang pertama adalah
mengusahakan perdamaian antara keduanya. Bila tidak tercapai penyelesaian secara
damai, maka hakim akan melanjutkan proses peradilan sesuai gugatan
5. Apabila pemeriksaan sudah dirasa cukup maka hakim akan sampai pada tahap
terakhir yaitu menjatuhkan keputusan. Bisa berarti gugatan diterima (penggugat
menang) atau gugatan ditolak (tergugat menang). Pihak yang kalah diharuskan
membayar ongkos persidangan.

Keputusan hakim dalam perkara perdata dapat berupa :

1. Keputusan deklaratoir, yaitu keputusan hakim yang menguatkan seseorang.


2. Keputusan konstitutif, yaitu keputusan yang menghasilkan hukum baru, misalnya
penggugat mengajukan gugatan bahwa tergugat tidak memenuhi kewajibannya
dalam perjanjian sewa menyewa, namun jika gugatan itu tidak tepat hakim akan
membetulkan gugatan tersebut.
3. Keputusan kondemnatoir, yaitu keputusan yang menetapkan hukuman terhadap
salah satu pihak.

Di dalam acara perdata proses pemeriksaannya dapat berupa :

1. Alat bukti tulisan


Paling tinggi nilainya. Biasa berupa akte/berupa tulisan biasa. Akte adalah tulisan yang
sengaja dibuat untuk dijadikan alat bukti. Ada dua macam akte :
a. Akte otentik, yaitu akte yang dibuat oleh/dihadapan pejabat yang berwenang
untuk membuat akte.
b. Akte bawah tangan, yaitu akte yang dibuat bukan oleh pihak yang berwenang,
tapi sengaja dibuat oleh pihak ayng baersangkutan, tapi ada saksinya.

Tulisan biasa, ex : sobekan karcis kereta, yang dibuat hanya untuk dicatat.

2. Saksi
Minimal berumur 15 tahun untuk memberi kesaksian. Kesaksian yang diberikan yaitu
segala sesuatu yang dilihat, didengar, dan dirasakan sendiri. Saksi yang mengalami
kejadian itu sendiri disebut saksi korban.
3. Persangkaan : kesimpulan yang ditarik dari hal-hal yang sudah jelas.
Pengakuan : keterangan yang dikeluarkan oleh pelaku/pelapor.
4. Bukti
5. Sumpah
Dilakukan jika bukti lain belum memenuhi. Sumpah dibagi menjadi dua, yaitu :
1. Sumpah penentu (decisoire)/pemutus, yaitu sumpah atas permintaan salah
satu pihak yang berperkara (digugat/penggugat)
Tujuannya :
1. Unutk memutus suatu perkara bila kekurangan bukti-bukti
2. Untuk menyelesaikan suatu proses perkara

Bunyi sumpahnya ditentukan oleh hakim. Jida sumpah tersebut


terbukti palsu maka akan diproses ke pengadilan pidana.

2. Sumpah suplatoire, yaitu sumpah yang diperintahkan oleh hakim karena


jabatannya untuk melengkapi bukti-bukti yang sudah ada (bukti sudah ada
namun hakim masih ragu).

HUKUM ACARA PIDANA

Sumber hukumnya dikatakan sama dengan hukum acara perdata. HIR diperbaharui menjadi
RIB. Berbeda-beda untuk bumi putera dan orang eropa, awalnya pluralism lalu unifikasi.

Proses pelaksanaan acara pidana :

1. Pemeriksaan pendahuluan
Tindakan-tindakan pengusutan dan penyelidikan apakah suatu sangkaan/dugaan itu benar-
benar beralasan atau tidak dan dapat dibuktikan kebenarannya. Yang aktif adalah polisi
sebagai penyidik.
Di dalam pemeriksaan pendahuluan kegiatan yang dilakukan :
a. Pengusutan/mencari/menyelidiki suatu tindak pidana yang terjadi. Meninjaunya
secara yuridis/perbuatan apa yang dilanggar?/mencari alat bukti, keterangan, dan
saksi. Menitikberatkannya untuk meyakini bahwa tindak pidana tersebut memang
terjadi. Setelah pengusutan dilakukan oleh polisi, polisi membuat berita acara lalu
disampaikan ke kejaksaan. Jaksa akan mengkaji ulang apa proses pengusutan
lengkap atau belum.
b. Penuntutan
Dilakukan oleh JPU, polisi penyidik mengajukan perkara ke pengadilan negeri.
Artinya berkas perkara akan dipelajari oleh hakim. Jika sudah cukup maka hakim
akan menentukan tanggal persidangan dan memanggil jaksa untuk memanggil
terdakwa. Yang menuntut adalah jaksa (bukan korban) atas nama negara.
Penyelidikan : dilakukan paling awal, untuk menentukan adanya tindak pidana atau
tidak.
Penyidikan : dilakukan lebih lanjut setelah penyelidikan.
2. Pemeriksaan di dalam sidang pengadilan.
Untuk meneliti dan memeriksa apakah tindak pidana tersebut benar terjadi, bukti-buktinya
sama atau tidak, sah atau tidak, pasal yang dilanggar sesuai atau tidak, dengan mendasar
dari KUHP. Pemeriksaan dilakukan secara terbuka, siapa saja boleh menyaksikannya.
Setelah pemeriksaan perkara dianggap cukup, penuntut umum/jaksa membacakan
tuntutannya (requisitor).
Keputusan vonis hakim tersebut yaitu :
1. Pembebasan dari segala tuduhan, dijatuhkan oleh hakim karena kurang cukup bukti.
2. Pembebasan dari segala tuntutan
Disini perkara dapat dibuktikan tapi perbuatannya bukan merupakan tindak pidana.
3. Pelaksanaan hukuman
Dilaksanakan oleh JPU, jika terpidana melarikan diri maka yang bertanggung jawab
adalah JPU.

Pemeriksaan dalam sidang pengadilan bersifat akusator. Terdakwa dan penuntut/jaksa


mempunyai kedudukan yang sederajat. Hak terdakwa sama (dapat memperoleh
pembelaan). Tetapi pada pemeriksaan pendahuluan kedudukan tersangka dibawah
penuntut/tidak punya hak untuk dapat pembela/dibela.

3. Menjatuhkan hukuman.
Terdakwa sudah terbukti melanggar hukum. Jaksa yang akan membawa terpidana
kepenjara.

Beberapa asas khusus untuk acara pidana :

a. Asas kesamaan, yaitu asas persamaan hukum yang tidak membeda-bedakan derajat, jenis
kelamin, dll.
b. Asas perintah tertulis, yaitu setiap perintah penyelidikan maupun penangkapan harus
tertulis.
c. Asas pemeriksaan keadilan yang terbuka untuk umum kecuali ditentukan lain.
d. Asas untuk memperoleh bantuan hukum seluas-luasnya. Bagi yang tidak mampu membayar
pembela maka akan disediakan oleh negara.
e. Asas hadirnya terdakwa
Dalam perkara pidana, hakim baru akan menjalankan persidangan kalau terdakwa hadir.
Jaksa harus menghadirkan terdakwa di pengadilan.
f. Asas praduga tak bersalah/presunction of innocent
Seseorang harus dianggap tidak bersalah sebelum dibuktikan sebaliknya.
g. Asas memberikan ganti rugi dan rehabilitasi atas salah tangkap, salah tahan, dan salah
tuntut.
h. Asas wajib diberi tahu dakwaan dan dasar-dasar hukumnya.

Antara hukum acara pidana dan hukum acara perdata ada beberapa perbedaan

1. Perbedaan mengadili
HA Perdata tata cara mengadili perkara perdata di muka pengadilan perdata oleh hakim
perdata.
HA Pidana sebaliknya
2. Perbedaan pelaksanaan
HA Perdata, inisiatif datang dari pihak yang merasa dirugikan
HA Pidana, inisiatif datang dari penuntut umum/jaksa
Korban dari kejahatan berkedudukan sebagai saksi (saksi korban)
3. Perbedaan penuntutan
HA Perdata yang menuntut adalah pihak yang dirugikan, berhadapan dengan yang digugat
tidak ada JPU.
HA Pidana jaksa yang menjadi penuntut terhadap terdakwa, mewakili negara.
4. Dalam HA Perdata, sumpah merupakan alat bukti
Dalam HA Pidana, sumpah bukan merupakan alat bukti
5. Perbedaan macam hukuman
Dalam HA Perdata, tergugat yang kesalahannya sudah terbukti dihukum dengan hukuman
denda/ganti rugi/kurungan sebagai pengganti denda.
Dalam HA Pidana, hukumannya berupa pidana mati, penjara, kurungan, denda, pencabutan
hak-hak tertentu/bersifat penderitaan.
6. Perbedaan dalam penarikan kembali suatu perkara
Dalam perkara perdata, sebelum ada keputusan hakim pihak-pihak yang berperkara
dapat/boleh menarik kembali perkaranya.
Dalam perkara pidana tidak bisa ditarik kembali karena penuntut umumnya adalah jaksa dan
perkara tersebut telah melanggar kepentingan umum.
7. Perbedaan dalam dasar keputusan hakim
Perdata :keputusan hakim cukup pada kebenaran formal saja.
Pidana :putusan hakim harus berdasar kepada kebenaran materiil, artinya
kebenaran sesuai keyakinan/sesuai dengan perasaan keadilan hakim
tersendiri, tidak boleh hanya berdasarkan kebenaran formal.

Anda mungkin juga menyukai