Anda di halaman 1dari 21

BAB III

GAYA SENTRAL

II.1 Gaya Sentral dan Energi Potensial

Gaya sentral adalah gaya yang bekerja pada sebuah partikel yang selalu
mengarah pada satu titk yang dinamakan pusat (asal) dari gaya. Jadi aksi gaya sentral
pada partikel yang berjarak r dari pusat gaya dapat dinyataka sebagai:

   
F ( r ) = F (r ) r

(III.1.1)


dimana r adalah vector satuan ke arah radial. Dari bentuk gaya ini, mempunyai implikasi
bahwa momentum sudut partikel adalah kekal atau tidak berubah. Dengan kata lain, jika
  
gaya sentral adalah isotropik yakni F (r ) = F ( r )r , maka gaya sentral adalah gaya
konservatif., sehingga energi mekanik partikel adalah kekal. Jadi kita akan sampai pada
kesimpulan bahwa untuk gaya sentral, momentum sudut dan energi akan kekal (konstan)
Hukum kekekalan ini adalah hasil dari sifat simetri radial dalam kasus ini. Selanjutnya

 r
vector satuan dapat ditulis sebagai r = , sehingga persamaan di atas dapat dituli
r
sebagai:

r
F = F (r ) (III.1.2)
r
Komponen-komponenya

    F (r )   
F = i Fx + j Fy + k Fz =
r
(i x + jy + kz ) diperoleh

x y z (III.1.3)
Fx = F ( r ) , Fy = F ( r ) , Fz = F ( r )
r r r

1
Dapat ditegaskan bahwa gaya sentral adalah gaya yang bergantung posisi dan
konservatif. Dengan demikian, kita mendapatkan fungsi energi potensial V(r) pada
sebuah gaya sentral, hanya mungkin jika curl dari gaya lenyap, yaitu:

  
∇× F =curl F =0

(III.1.4)

Persamaan (III.14) dapat ditulis sebagai:

    ∂F ∂F   ∂F ∂F   ∂F ∂F 
∇ × F = i  z − y  + j  x − z  + k  y − x  = 0
 ∂y ∂z   ∂z ∂x   ∂x ∂y 

(III.1.5)

Dengan menggunakan persamaan (III.1.3), komponen-komponen pada persamaan


(III.1.5) akan diperoleh:

∂Fz ∂ z  ∂  F ( r )  ∂r ∂r ∂  F ( r ) 
=  F (r )  = z   =z   (III.1.6a)
∂y ∂y  r  ∂r  r  ∂y ∂y ∂r  r 

dan hal yang sama

∂Fy ∂r ∂  F (r ) 
=y   (III.1.6b)
∂z ∂z ∂r  r 

Substitusikan persamaan (III.1.6) ke dalam persamaan (III.1.5) dan menggunakan

∂r y ∂r z
hubungan r = ( x + y + z ) 2 ,
1
 2 2 2
= , = , maka komponen kearah x akan
∂y r ∂z r
menghasilkan:
 ∂r ∂r  ∂  F ( r ) 
( ∇× F ) x =
 z ∂y − y ∂z 
 ∂r  r  = 0 (III.1.7)
   

2
Sama halnya dengan komponen-komponen lainnya (y,z) akan lenyap. Dengan demikian
persamaan (III.1.4) terpenuhi, yang mempunyai implikasi bahwa gaya sentral adalah
gaya konservatif, dan diasosiakan dengan sebuah fungsi energi potensial V(r) sedemikian
bahwa:
 
F ( r ) = −grad V ( r ) = −∇V ( r ) (III.1.8)

Dalam koordinat bola, operator gradient ∇ adalah:

 ∂ 1 ∂  1 ∂
∇= r +θˆ +φ
∂r r ∂θ r sin θ ∂φ

Dan kebalikan persamaan (III.1.8) yang tiada lain adalah energi potensial dalam bentuk
integral, yakni:
r
V (r ) = −∫ F (r )dr (III.1.8)
rs

II.2 Gerak Gaya Sentral Sebagai Benda Sistem Satu Badan

Sistem yang terdiri atas beberapa titik massa yang paling sederhana adalah system
dua badan , namun masih cukup umum untuk memperoleh gambaran mengenai dinamika
system banyak titik massa. Yang menarik bagi system dua badan ini ialah dapatnya
direduksi menjadi system satu badan .

Misalkan gaya antara dua benda


disebabkan oleh sebuah potensial
interaksi U yang hanya bergantug
kepada vektor relatf antara kedua
benda.

3
Energi potensial hanya ditentukan oleh akibat interaksi antara massa m1 dan massa m2 ,

dan oleh karena itu sehingga hanya bergantung pada vector letak r yang
menghubungkan antara kedua titk massa dan kecepatan bila energi potensial itu
 
bergantung pada kecepatan, dan bukan bergantung pada vector letak r1 dan r2 .
Dengan demikian, untuk energi potensial system dua badan tidak perlu lagi
ditransformasikan.

Selanjutnya vector letak ttik pusat massa bila diterapkan untuk system dua badan
ditentukan oleh:

 ∑mi ri m1r1 +m2 r2


R= =
∑mi m1 +m2

(III.2.1)
   
Perlu diketahi bahwa sekalipun vector letak r ditentukan olek vektor r =r2 −r1 ,
 
namun R tidak bergantng pada r . Dinyatakan dalam vector R dan r , vector letak
 
r1 dan r2 akan segera dapat dituliskan sebagai:

     
R ( m1 +m2 ) =m1 ( r2 −r ) +m2 r2 =( m1 +m2 ) r2 −m1r
 
  m1r   m r
1
r2 =R + ; r2 =R+
( m1 +m2 ) ( m1 +m2 )
   (III.2.2)
  m2 r 
− m r

r1 =R − ; r1 =R 2

( m1 +m2 ) ( m1 +m2 )

Dari persamaan (III.2.2 ), maka kita dapat menyatakan energi kinetic sebagai:

 
T = 12 m1r12 + 12 m2 r22
  2
  2
 m r
   m r 
T = 2 m1  R −
1  2  + 2 m2  R +

1

 1 

 ( m1 + m 2 )   ( m1 + m 2 ) 
1 m1m2 r2 2
1 m2 m1 r 2 2 (III.2.3a)
= 12 ( m1 + m2 ) R 2 + +
2 (m1 + m2 ) 2
2 (m1 + m2 ) 2
1 m1m2
T = 12 (m1 + m2 ) R 2 + r 2
2 (m1 + m2 )

4
atau
2
1 
T = MR + 2 µ r
2 1
(III.2.3b)
2

dimana telah diambil M =m1 +m2 sebagai massa total system,

m1m2
µ= sebagai massa tereduksi system yakni system dua badan. Berdasarkan
(m1 +m2 )
uraian ini, Lagrangian system akan dapat dinyatakan sebagai:


L =T −U ( r , r , r ...)
(III.2.4)
L = 12 MR 2 + 12 µr 2 −U ( r , r ) ;

karena R sebagai titik pusat massa tidak pernah berubah terhadap waktu maka ,

d  ) =0 sehingga momentum sistem kekal dan karena


(( m1 +m2 ) R  =
R 0 , maka
dt
suku pertama dari L konstan sehingga titk polar dari benda memberikan kontribusi pada
massa gerak. Oleh karena itu, suku tadi diabaikan sehingga secara efektif L berbentuk:

L = 12 µ r 2 − U (r , r ) (III.2.5)

m1m2
yang tiada lain menyajikan gerak sebuah partikel bermassa µ = massa
( m1 +m2 )
tereduksi dalam potensial U (r , r
) . Jadi L merupakan fungsi Lagrange bagi sebuah
partikel. Bisa disimpulkan bahwa persoalan dua benda adalah ekuivalen dengan
persoalan satu benda.

III.3 Persamaan Gerak Dalam Medan Potensial Sentral

Setelah pada uraian di atas dimana system dua badan direduksikan menjadi satu
badan, maka dalam hal pusat massa tak bergerak (yaitu bila satu titik massa kecil

5
bergerak terhadap massa besar), system dapat dipandang sebagai hanya satu titik materi
yang bergerak terhadap suatu titk. Persamaan gerak oleh gaya sentral dari system massa
tereduksi µ dapat diperoleh dengan meninjau persamaan (III.1.1) di atas, adalah:


µr = F (r )r (III.3.1)
Dengan mengganti percepatan massa tereduksi µ ke arah radial r dengan percepatan
untuk system koordinat polar a, maka akan diperoleh persamaan gerak dalam koordiant
polar sebagai:

µ (r − rθ 2 ) r + µ (rθ + 2rθ )θ = F ( r ) r
 
(III.3.2)

atau setelah dipisahkan dengan komponen-komponenya, maka:

µ (r − rθ 2 ) = F (r ) (III.3.3a)


(rθ + 2rθ ) = 0 (III.3.3b)

Untuk mendapatkan persamaan gerak oleh gaya sentral di atas, maka selain
dengan hokum Newton dapat pula diperoleh dengan metode persamaan Euler-Lagrange
dengan merumuskan fungsi keadaan system yang disebut fungsi Lagrange. Suatu system
yang bergerak terhadap satu titik dimana potensial interaksi dimisalkan hanya bergantung

pada jarak relatif r saja yang menghubungkan antara kedua benda, maka fungsi
Lagrange adalah :

L = 12 µ (r 2 + θ 2 r 2 ) − V (r ) (III.3.4)

Gaya sentral menghasilkan



gerak dalam bidang
⊥ L saja. Pilih L sebagai arah sumbu polar
(x,z). Gunakan koordinat polar dalang bidang
(x,y), Jadi penambahan ( rθ ) 2 dimaksudkan
disamping gerak translasi, juga berotasi.

Gambar 3.2

6
Dengan menggunakan persamaan geraka Euler-Lagrange dengan variabel θ , yakni:

d  ∂L  ∂L
 − =0 (III.3.5)
dt  ∂θ  ∂θ

maka tampak bahwa variasi terhadap θ


 menghasilkan momentum sudut, yakni:

∂L
Πθ = =µr 2θ

∂θ 
(III.3.6a)
d
( µr 2θ ) =0
dt
sehingga
∂L
Πθ = =µr 2θ
 =konstan
∂θ

(III.3.6b)

  
Besar momentum sudut system L =r ×p ⇒ L =r p sin θ=µr 2θ
 , yang berarti
persamaan (II.3.6b) tiada lain adalah momentum sudut. Jadi besar dari momentum
sudut adalah konstan. Karena system merupakan system tertutup, L tetap dank arena itu
persamaan gerak Lagrange:
d ∂L d
= L =0 (III.3.7)

dt ∂θ dt

Secara geometris kekekalan momentum sudut dapat ditafsirkan bila kita meninjau faktor:

d 1 2
( µr θ ) = 0
dt 2
1
Karena r ( rd θ ) merupakan luasan yang disapu oleh jari-jari r setelah menempu sudut
2

7
dA 1 2  dA L
per satuan waktu, maka = 2 r θ sehingga = =tetap . Dengan demikian,
dt dt 2µ

sebagai konsekuensi hokum kekekalan momentum sudut, maka luasan yang disapu jari-
jari yang menghubungkan antara dua massa yang berinteraksi secara sentra persatuan
waktu ternyata haruslah tetap, yang dinyatakan dalam persamaan matematis, yakni:

1  = L =tetap
r 2θ (III.3.7)
2

Pernyataan ini tiada lain dari pada hukum Kepler kedua

Atau dapat pula diperlihatkan dengan analisa dari hokum Newton berikut :

   d   dL
τ =r ×F = (r × p ) = (III.3.8)
dt dt
 
karena ν ×mν =0 .


Selanjutnya untuk system berinteraksi dengan gaya sentral F =− f ( r )rˆ maka :

     
τ =r ×F =rˆr ×(−rˆ) f (r ) =−r (rˆ ×rˆ) f (r ) =0
(III.3.9)


dL   
karena rˆ ×rˆ =0 , sehingga τ = =0 berarti L =r ×mν=konstan, besarnya
dt

L =mr ν sin θ atau


adalah: L
=rν sin θ = kons tan
m

(III.3.10)
dA
Dan juga diperoleh : =rν sin θ ; adalah luasan yang disapu
dt
persatuan waktu
sehingga :
dA L
= =rν sin θ =konstan (III.3.11)
dt m

8
Tampak bahwa Hukum Kepler II yang membicarakan luasan yang disapu oleh garis
hubung planet dengan matahari pada asasnya hanyalah merupakan konsekuensi hokum
kekekalan momentum sudut.

Berikutnya, persamaan gerak yang menyangkut r, dari fungsi Lagrange


persamaan (III.3.4), yakni:

L = 12 µ (r 2 + θ 2 r 2 ) − V (r ) (III.3.12)

d  ∂L  ∂L
 − =0
dt  ∂r  ∂r
d  2 +∂V ( r ) =0
( µr ) −µrθ
dt ∂r
(III.3.13)
 = L =konstan, sehingga :
 atau θ
Dengan menggunakan L =µr 2θ
µr 2
2
 L  ∂V ( r )
µr −µr 
  + ∂r =0

 µr
2

(III.3.14)
atau
L2 ∂V ( r )
µr = − ;
µr 3
∂r
(III.3.15)
∂V ( r )
dengan Fradial =−
∂r
Pindahkan semua suku ke ruas kiri, kemudian kalikan dengan r :

d 1 L2 ∂V ( r )
( 2 µr 2 ) − 3 r + r =0
dt µr ∂r
(III.3.16)
d 1 L2 

2 µr
 2
+ +V ( r ) 
=0
dt  2 µr 2

Jadi,
L2
1
µr 2 + +V ( r ) =E (kekal) (III.3.17)
2
2 µr 2

9
Diperoleh suku pertama adalah kontribusi radial untuk energi kinetic dan suku kedua
adalah kontribusi momentum sudut untuk energi potesail.

Selanjutnya integral lain:

2 L2  2 L2 
r 2 = E − −V ( r )  ⇒ r
 = E − −V (r ) 
µ 2 µr 2
 µ 2 µr 2

t r
dr
t −to = ∫ dt = ∫
to ro 2 L2 
E − −V (r )
µ 2 µr 2

(III.3.18)

Pernyataan ini adalah tetapan integrasi persamaan gerak dalam medan potensial sentral.
Apabial V(r) diketahui maka integral dapat dihitung hingga ditemukan persamaan
lintasan system terhadap waktu, secara formal fungsi t = t(r) dapat diubah menjadi
r = r(r).

Akhirnya, dari integrasi dt, bentuk integral lain yaitu terhadap peubah sudut
dengan meninjau :

t
L L dt
θ = = 2 ⇒ θ −θo = ∫
dt µr to
µr (t ) 2

Sebetulnya yang hendak diturunkan dalam gaya sentral ini adalah persamaan orbit yakni
hubungan r = r( θ) atau θ = θ(r). Sehingga dalam hal ini, waktu sebenarnya
merupakan parameter dan lebih menguntungkan jika dinyatakan dalam sudut karena
keliling daripada suatu lingkaran adalah 2π, maka :

10
L L dr
dθ = dt = 2
µr 2
µr 2 L2 
E − −V (r ) 
µ 2 µr 2

(III.3.18)
atau
L dr
θ −θo =∫
µ L2  (III.3.19)
µr 2 E − −V ( r ) 
2 2 µr 2

Bentuk integral terakhir ini dapat diselesaikan untuk bentuk potensial sebagai berikut :
V ( r ) =−kr n +1
dengan n = 1, -2 dan lain-lain asal n ≠ -1.

III.4 Orbit Medan Gaya Sentral Dan Potensial Efektif


Untuk menurunkaan gerak partikel dibawah aksi sebuah gaya sentral, kita telah
perlihatkan bahwa geraknya masih terbatas pada dua dimensi. Selanjutnya dengan
menggunakan kekekalan momentum sudut dan energi, kita telah mereduksi gerak dua
dimensi menjadi gerak satu dimensi. Tinjau kekekalan energi total, sesuai dengan
persamaan (III.3.17), adalah:
L2
E = 12 µr 2 + +V ( r )
2 µr 2 (III.4.1)
= Trad +Vsen +V ( r )

dimana Trad dan Vsent adalah adalah masing-masing menyatakan energi kinetic ke arah
radial dan gerak ke arah sudut. Dua suku terakhir digabung bersama sebagai energi
potensial efektif, maka:

E = 12 µ r 2 + Veff (r )
dengan
(III.4.2)
L2
Veff = Vsen(r ) + V (r ) = + V (r )
2µ r 2

Sekarang tinjaulah kasus sebuah partikel bergerak didalam ruang yang berada dibawah
gaya berbanding terbalik kuadrat yang dapat ditulis sebagai:

11
k
F (r ) = (III.4.3)
r2

dV
dengan k adalah konstan. Jika gaya F ( r ) =− , maka energi potensialnya adalah:
dr

r r
k
V ( r ) =− ∫ F (r ) dr =−
rs = ∞ rs

=∞ r
2
dr

k
(III.4.4a) V (r ) = ;
r
rs =∞ ⇒ V (∞) =0 (III.4.4b)

Selanjutnya energi potensial efektif diberikan oleh :

k L2
Veff = + (III.4.5)
r 2 2 µr 2

dengan suku pertama adalah sumbangan gaya radial (F(r)) dan suku kedua adalah
sumbangan gaya sentripetal. Seperti halnya gerak 1-D dalam potensial, jika kita
ungkapkan  dalam
θ bentuk momentum sudut, persamaan gerak dalam arah radial dapat
ditulis sebagai :
L2
µr =F ( r ) + (III.4.6)
µr 3

L2
dengan =gaya sentripugal.
µr 3
Untuk gerak1-dimensi, potensial efektif dapat diperoleh sebagai berikut:

12
 L2 
Veff =− ∫F ( r ) + 3 dr
 µr 
2
L k L2
Veff =V ( r ) + = +
2 µr 2 r 2 µr 2

(III.4.7)
dimana k < 0 untuk gaya tarik-menarik
k > 0 untuk gaya tolak-menolak

Terdapat dua kasus penting yang bersangkutan dengan ini, yaitu:


• Gaya gravitasi yang selalu tarik-menarik dengan konstanta k =−Gm 1m2
dengan G = 6,67 x 10-11 Nm2/kg2
1
• Gaya coulomb dengan k =4πε q1q2 ; εo = 8,85 x 10-12 C2/Nm2
o

Gambar.3.3

Titik r1 pada gambar (3.3) adalah titik terdekat ke potensial (perhelion)

13
Untuk k > 0 dan L ≠ 0 gerak partikel (orbit) unbounded jika E > 0. Dari grafik, energi
potensial efektif minimum berada pada syarat titik kesetimbangan, yakni :

dV eff ( r )
=0
dr
dV eff ( r ) d k L2  k L2
=  +
 r 2 µr 2 
 =− −
dr dr  r = ro ro2 µro3

(III.4.8)

L2
dengan ro =− ; sedangkan nilai potensial Veff di r = ro diperoleh:
µk

k L2 k L2
Veff (ro ) = + = +
ro 2 µro2 ( − L µk ) 2 µ(− L µk ) 2
2 2

µk 2
Veff (ro ) = −
2 L2
(III.4.9)
dengan:
Etotal = stasioner karena r adalah konstan
E = Veff min hanya ada ro yang memenuhi, orbitnya lingkaran

Selanjutnya akan ditinjau persamaan orbit dari sebuah benda yang bergerak di
bawah pengaruh gaya sentral. Dalam hal ini dapat mulai dari persamaan:

F ( r ) =µr −µrθ
2 (III.4.10)

1
dengan menandai bahwa r = , maka:
u
L L
θ = = u2 (III.4.10a)
µr 2
µ

14
dr 1 du 1 du dθ 1 du
r = =− 2 =− 2 =− 2 θ
dt u dt u dθ dt u dθ
1  L 2  du L du
r =− 2  u 
 =−
u  µ  dθ µ dθ

(III.4.10b)

dan
dr L d  du  L dθ d  du  L d 2u
r = =−  = −   =− θ
dt µ dt  dθ  µ dt dθ  dθ  µ dθ 2
(III.4.10c)
L  L2 2  d 2u L2u 2 d 2u
r =−  u  = −
µµ
 dθ 2
 µ2 dθ 2

Subtitusi persamaan (II.4.10) ke dalam persamaan (III.4.10), maka diperoleh:

2
1   L2u 2 d 2u   1  L 2 
F   =µ
 − µ2 dθ 2  −µ u 
  u  
u      µ 
(III.4.11)
1  L2u 2 d 2u L2u 3
F   =− −
u  µ dθ 2 µ

atau
d 2u µ 1 
+u =− 2 2 F   (III.4.12)
dθ 2
Lu u 

1  k
Jika F (r ) =F  = 2 , maka :
u  r

d 2u µ k µ
+ u = − 2 2 2 = − 2 2 ku 2
dθ 2
Lu r Lu
2
d u µk d2y
+u =− 2 ⇒ + y=0 (III.4.13)
dθ 2 L dθ 2
µk
dengan y = u +
L2

Persamaan terakhir ini terdiri atas persamaan osilator harmonik (homogen) dengan
ωo2 =1

15
dan solusi tidak homogen, sehingga solusinya masing-masing adalah :

y =A cos (θ −Φ)

(III.4.14a)

1 µk
u = =− 2 + A cos (θ −Φ)
r L
(III.4.14b)
atau
1 µk
=− 2 (1 +e cos (θ −Φ) )
r L
(III.4.14c)

L2 A
Persamaan terakhir adalah persamaan irisan-irisan kerucut dengan e =− yang
µk
disebut e (eksentrisitas) yaitu perbandingan antara sumbu panjang dengan sumbu pendek.
dan e diperoleh dari syarat awal atau dari kekekalan energi, yaitu:

L2 k
E = µr 2 +
1
− (III.4.15)
2
2 µr r

Karena E ini berlaku untuk semua r, maka kita pilih saja di titik perhelion, yakni r =0 ,
sehingga :
L2 k
E= − (III.4.16)
2 µr r

Selanjutnya tinjau kembali (III.4.14b),yaitu:


;
1 µk III.4.14b)
= − 2 (1+ e cos (θ − Φ ) )
r L

16
 L2 
 
atau  µ k  (III.4.17a)
= (1 + e cos (θ − Φ) )
r

=(1 +e cos (θ −Φ) )
r
(III.4.17b)

L2 L2 A
dengan =µk semi_latius rectum dan e =µk adalah eksentrisitas yaitu

perbandingan sumbu panjang dan sumbu pendek.

Selanjutnya nilai minimum r diperoleh dengan mengambil θ= 0 dan cos θ=


+1dalam persamaan (III.4.17), yakni:
L2  1  1 µk
rmin = 
1 +e 
 atau r = 2 (1 +e )
µk   min L

(III.4.18)

Kalau ini dimasukkan ke dalam persamaan :


L2 k L2 k
E= − = −
2 µrmin rmin µk  µk (1 +e)
2 µ 2 (1 +e) 2
L  L

2 EL 2
Maka e = 1+
µk 2

17
Gambar.3.4

Dari gambar 3.4 untuk Em=V0 potensial

µ k2
− 2 = Vo〈 E 〈 0 ; 0 e〈〈 1 elips
Orbit tertutup

2L
µk 2 e =0
E =Vo =− ; lingkaran
2L2
E =0 ; e=1 parabola
Orbit terbuka
E〉 0 ; e〉 1 hiperbola

Contoh 1:
Sebah partikel bermassa m diamati bergerak dalam orbit spiral diberikan oleh
persamaan r =kθ , dimana k adalah konstan. Carilah bentuk fungsi gayanya.

18
Penyelesaian :
Gunakan persamaan diferensial persamaan (III.4.12)
d 2u m 1 
+u =− 2 2 F   (III.4.12)
dθ 2
Lu u 
1 1
Ambillah : u= = (1)
r kθ
du 1 d 2u d  1  2
=− 2 ; = − =
dθ kθ dθ 2 dθ  kθ 2  kθ 3

atau
d 2u 2 k 2
= 3 =2k 2u 2 (2)
dθ 2
r
Subtitusi ini ke dalam persamaan (III.4.12) :
m 1 
2k 2u 2 +u =− 2 2
F  (3)
Lu u 
atau
1  L2u 2 L2
F  =− ( 2k 2u 3 +u ) =− ( 2ku 5 +u 3 )
u  m m

(4)
1
Masukkan kembali u = , maka:
r

L2  1 2k 
F ( r ) =−  + 
m  r3 r5 
(5)
Contoh .2. Hal yang sama dengan soal di atas, jika orbit spiralnya diberikan oleh
r =kθ2 .

Jawab:
Misalkan :
1 1
= kθ 2 ⇒ u= (1)
u kθ 2
du 2
=− 3 ( 2)
dθ kθ

19
d 2u 6
= maka (3)
dθ 2 kθ 4
d 2u m 1
+ u = − 2 2 F  (4)
dθ 2
Lu u
6 m 1
+ u = − 2 2 F  (5)
kθ 4
Lu u

atau
6k 2 m 1
2
+ u = − 2 2 F  ( 6)
kr Lu u
m 1
6ku 2 + u = − 2 2 F   atau
Lu u
2 2
1 Lu
F  = − (6ku2 + u ) (7 )
 
u m
2
1 L
atau F   = − (6ku 4 + u 3 ),
u
  m
Lalumasukkankembaliu, maka :
L2  1 1 
F( r) = −  6k +  (8)
m  r4 r3 

Soal Latihan:
1. Sesuai dengan teori nuklir Yukawa, gaya tarik-menarik antara sebuah neutron dan
proton di dalam inti atom digambarkan sebuah fungsi potensial yang berbentuk:
k exp( −αr )
V (r ) =
r
dimana k dan α adalah konstanta dan k<0.
a. Carialah gaya F(r) dan buatkan plot gambarnya
b .Hitung E dan L jika partikel bergerak dalam lingkaran berjari-jari r0
2. Sebuah partikel bermassa m bergerak di dalam gaya tarik-menarik berbading
terbalik pangkat tiga (kubik) yang diberikan oleh:
a. Bicarakan gerak secara kualitatif dengan metode potensial efektif
b. Carialah E dan L ketika partikel bergerak dalam orbit lingkaran.
Dapatkan perioda waktu orbit.
3. Sebuah benda bermassa m bergerak dalam orbit lingkaran dibawah pengaruh gaya
sentral sedemikian bahwa orbitnya dapat ditulis sebagai r = ro cos θ . Perlihatkan
bahwa gaya sentral adalah berbading pangkat lima jari-jarinya.

20
4. Tinjau sebuah osilator harmonic isotropik yang mempunyai potensial yang
diberikan oleh V(r)=(1/2)kr2 .Hitunglah:
a. Gaya F(r) dan buatlah plot pada V(r) dan F(r)
b. Buatlah plot potensial efektif untuk partikel bermassa m yang bergerak
dengan energi E dan momentum sudut.

21