Anda di halaman 1dari 10

1

Kedai Jamu Ilmiah, Peluang Bisnis Pendamping Program Saintifikasi Jamu

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Jamu merupakan suatu sediaan obat tradisional yang diwariskan oleh


nenek moyang baik secara lisan maupun tertulis. Dalam Kamus Besar Bahasa
Indonesia jamu diartikan sebagai obat yang dibuat dari akar-akaran, daun-daunan,
dan sebagainya bahan obat-obatan tradisional. Obat tradisional sendiri merupakan
bahan atau ramuan bahan yang berupa bahan tumbuhan, bahan hewan, bahan
mineral, sediaan sarian (galenik) atau campuran dari bahan tersebut, yang secara
turun-temurun telah digunakan untuk pengobatan berdasarkan pengalaman.
Sediaan obat tradisional bernama jamu ini dipercaya telah dipakai sejak jaman
karajaan Hindu-Budha di nusantara. Penggunaan herbal sebagai obat terpahat
dalam relief Candi Borobudur, Prambanan, Panataran, dan Tegalwangi. Pewarisan
jamu sebagian besar dilakukan secara lisan, namun demikian, pada beberapa
kerajaan juga memiliki naskah-naskah kuno berisi formula dari jamu. Hal ini
terbukti dengan adanya Lontar Usada dari Bali dan Lontarak Pabbura dari
Sulawesi Selatan. Kedua naskah kuno ini telah ada pada rentang antara 991-1016
Masehi.
Penggunaan jamu akhir-akhir ini marak kembali. Hal ini dipicu oleh
anggapan bahwa herbal itu aman. Maraknya penggunaan jamu di masyarakat
umum belum diikuti dengan produksi jamu secara baik dan benar oleh pengusaha
jamu. Hal ini mengakibatkan banyaknya konsumen yang dirugikan karena
mengkonsumsi produk jamu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan keamanan
dan khasiatnya. Dengan demikian, proses standardisasi jamu yang dapat
dipertanggungjawabkan keamanan dan khasiatnya sangat diperlukan.
Sediaan obat bahan alam sebenarnya bukan hanya jamu. Oleh BPOM
sediaan bahan alam dibagi menjadi tiga kelompok. Kelompok pertama yaitu jamu,
sediaan obat bahan alam yang berkhasiat secara empiris namun belum mengalami
standardisasi dan pengujian baik praklinik maupun klinik. Kelompok kedua yaitu
obat herbal terstandar, sediaan obat bahan alam yang telah dibuktikan keamanan
dan khasiatnya secara ilmiah dengan uji praklinik dan bahan bakunya telah di
2

Kedai Jamu Ilmiah, Peluang Bisnis Pendamping Program Saintifikasi Jamu

standarisasi. Kelompok ketiga adalah fitofarmaka yaitu sediaan obat bahan alam
yang telah dibuktikan keamanan dan khasiatnya secara ilmiah dengan uji praklinik
dan uji klinik, bahan baku dan produk jadinya telah di standarisasi. Dari ketiga
kelompok sediaan obat herbal tersebut hanya fitofarmaka saja yang dapat
disetarakan dengan obat-obat modern/konvensional. Meskipun demikian, proses
pendaftaran fitofarmaka sangatlah sulit dan mahal. Hal ini disebabkan oleh proses
uji klinik yang dilakukan. Ironisnya pembiayaan yang mahal belum tentu diikuti
dengan permintaan pasar yang tinggi. Tentu saja ini membuat para industri obat
herbal maupun farmasi kurang begitu bersemangat dalam mengembangkan
fitofarmaka. Berangkat dari keadaan ini maka dicanangkan program saintifikasi
jamu melalui proses standardisasi bahan baku, penelitian praklinik, dan observasi
klinik. Program ini diresmikan oleh Menkes dr. Endang Rahayu Sedyaningsih,
MPH, Dr. PH pada tanggal 6 Januari 2010.
Saintifikasi Jamu adalah upaya dan proses pembuktian ilmiah jamu
melalui penelitian berbasis pelayanan kesehatan. Tujuannya adalah untuk
memberikan landasan ilmiah (evidence based) penggunaan jamu secara empiris
melalui penelitian berbasis pelayanan kesehatan. Program ini juga untuk
meningkatkan penyediaan jamu yang aman, memiliki khasiat nyata yang teruji
secara ilmiah, dan dimanfaatkan secara luas baik untuk pengobatan sendiri
maupun dalam fasilitas pelayanan kesehatan.
Program saintifikasi jamu oleh pemerintah saat ini diarahkan pada sektor
formal. Program yang dilakukan berupa observasi klinik yang dilakukan di rumah
sakit, klinik herbal, dan balai penelitian seperti balai litbang tanaman obat dan
obat tradisional di Tawangmangu. Usaha-usaha tersebut dirasa kurang mencakup
pada ranah distributor jamu di masyarakat sehingga masih saja banyak beredar
jamu yang tidak aman atau tidak rasional penggunaannya. Berdasarkan fenomena
tersebut maka digagas suatu program pembuatan “kedai jamu ilmiah”.
Istilah kedai dipakai pada gagasan program ini semata-mata untuk tujuan
pencitraan di masyarakat. Bila dipakai istilah kafe atau resto, pencitraan di mata
masyarakat adalah tempat terjajakannya makanan dengan harga yang tak
terjangkau bagi masyarakat kelas menengah ke bawah. Istilah kedai akan
3

Kedai Jamu Ilmiah, Peluang Bisnis Pendamping Program Saintifikasi Jamu

terdengar lebih ramah bagi telinga masyarakat karena terdengar lebih umum
dibanding dengan kafe atau resto. Dengan demikian, pemakaian istilah kedai akan
memberikan citra bahwa hal yang diperjualbelikan akan lebih terjangkau di
masyarakat.

Tujuan dan Manfaat

Tujuan dari program ini adalah :


o Turut memberikan andil dalam mempercepat proses santifikasi jamu di
Indonesia.
o Menjembatani proses saintifikasi jamu oleh instansi kesehatan dengan
masyarakat.
o Memberikan pengetahuan kepada masyarakat bahwa jamu merupakan
pengobatan alternatif yang dapat dipertanggungjawabkan keilmuannya.
o Menengahi kesenjangan antara pengobatan ilmiah dengan pengobatan
tradisional yang dianggap kurang ilmiah.
Manfaat dari program ini adalah :
o Terbukanya suatu pengetahuan mengenai penggunaan jamu yang ilmiah
dan rasional di masyarakat.
o Membantu program pemerintah dalam menyukseskan saintifikasi jamu.

GAGASAN

Problematika yang Terjadi

Penggunaan obat herbal atau jamu di Indonesia masih kurang dianggap


penting oleh kalangan medis terutama dokter. Ini disebabkan karena jamu
tradisional masih sangat minim penelitian yang mendukung penggunaannya
secara ilmiah. Tentu saja ini menyangkut dengan legalitas suatu kebijakan
pemberian obat. Hal ini tentu saja sangat memprihatinkan karena kekayaan
budaya dan alam Indonesia tidak dimanfaatkan potensinya dengan baik oleh
warga negaranya sendiri. Lain halnya dengan di Cina dimana Traditional Chinese
Medicine yang dapat disejajarkan dengan pengobatan modern. Begitu juga dengan
4

Kedai Jamu Ilmiah, Peluang Bisnis Pendamping Program Saintifikasi Jamu

di India yang terdapat Ayurvedic Herbal Medicine yang mulai disejajarkan dengan
ilmu pengobatan modern. Dengan demikian penggunaan jamu oleh praktisi medis
harus segera diberikan payung hukum agar tidak menyalahi aturan yang berlaku.
Dengan demikian, penggunaan obat herbal tradisional haruslah rasional, ilmiah,
dan telah terbukti khasiat dan keamanannya. Oleh karena itu untuk mendukung
dan menggalakkan proses pengilmiahan jamu, dicetuskanlah program saintifikasi
jamu oleh Menkes dr. Endang Rahayu Sedyaningsih, MPH, Dr. PH
Program saintifikasi jamu saat ini hanya diarahkan pada sektor formal.
Maksud dari sektor formal adalah program saintifikasi jamu hanya dilakukan
dengan serangkaian penelitian berupa observasi klinik dan pengembangan
formula-formula baru. Peredaran jamu yang kurang dapat dipertanggungjawabkan
kualitasnya masih merebak luas. Hal ini menunjukkan adanya kesenjangan antara
observasi klinik yang dilakukan dengan kebutuhan di masyarakat.
Selain penggunaan jamu berbahaya yang merebak, penggunaan jamu di
masyarakat masih kurang dapat dipertanggungjawabkan keilmuannya. Produk-
produk yang beredar di masyarakat sebagian besar belum disertai oleh penelitian
yang mendukung. Sebagian besar produk yang beredar hanya didasari dengan
penggunaan secara empiris. Jamu-jamu seperti ini mungkin berkhasiat tetapi tidak
optimum. Hal ini pula yang menjadikan praktisi medis belum tertarik dalam
menggunakan ramuan-ramuan asli Indonesia.

Solusi yang Ditawarkan

Keadaan di masyarakat membutuhkan solusi pasti dengan segera. Hal


yang perlu dilakukan adalah dengan menjembatani kesenjangan antara Depkes
yang melakukan program saintifikasi jamu dengan konsumen jamu. Solusi
sederhana yang dapat dilakukan untuk menjembatani kesenjangan adalah dengan
membuka suatu badan usaha yang menyediakan jamu ilmiah di masyarakat luas.
Penggunaan kata ilmiah berarti bahwa setiap produk yang disediakan memiliki
dasar ilmu yang sesuai. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata ilmiah
diartikan dengan secara ilmu pengetahuan, sedang kata mengilmiahkan diartikan
5

Kedai Jamu Ilmiah, Peluang Bisnis Pendamping Program Saintifikasi Jamu

menjadikan ilmiah atau bersifat ilmu; mengilmukan. Sedangkan badan usaha yang
dibidik akan mengarah pada kedai. Kedai sendiri dalam Kamus Besar Bahasa
Indonesia diartikan sebagai rumah tempat berjual barang-barang, makanan dan
sebagainya; toko warung, lepau.
Badan usaha berupa kedai ini haruslah dapat diwujudkan nyata. Program
yang dilakukan haruslah cukup realistis mengingat permasalahan jamu di
Indonesia sangat nyata. Begitu pun dengan peresepan jamu oleh dokter sangatlah
sulit dilakukan karena keterbatasan apotek yang memungkinkan hal tersebut.
Padahal dengan adanya program saintifikasi jamu peresepan jamu oleh dokter
telah ada payung hukumnya asalkan dengan maksud penelititian berbasis
pelayanan. Hal ini tentunya sangat kontras keadaan masyarakat yang sangat
membutuhkannya. Dengan demikian, adanya program kedai jamu ilmiah akan
sangat membantu penyediaan jamu-jamu yang telah mengalami pembuktian
secara klinik oleh pelaku saintifikasi jamu. Pada suatu saat nanti kedai jamu ini
dapat dikembangkan menjadi apotek herbal bila telah memiliki payung hukum
yang kuat. Namun demikian, saat ini yang dikembangkan adalah kedai terlebih
dahulu mengingat alasan kemudahan administratif. Selain itu kata kedai akan
memberikan suasana yang lebih ringan dan lebih informal dibandingkan kata
apotek jamu ilmiah atau apotek herbal. Hal ini sesuai dengan prinsip marketing
yaitu hal terpenting merupakan pembentukan citra positif di mata masyarakat.
Apabila dianalisis dengan metode SWOT maka kedai jamu ilmiah
memiliki Strength yaitu adanya program saintifikasi jamu yang merupakan
rangkaian pembuktian khasiat dan pengilmiahan jamu melalui pelayanan. Dengan
demikian, formula-formula yang telah terbukti keamanan dan khasiatnya dapat
dibeli oleh pihak kedai jamu ilmiah untuk diproduksi secara massal. Weakness
dari kedai jamu ilmiah adalah telah banyak kompetitor bisnis berupa warung jamu
dan kafe jamu. Namun demikian, untuk mengatasi kelemahan ini maka kedai
jamu yang ditawarkan haruslah memiliki keunggulan tersendiri. Dalam hal ini
keunggulan yang akan ditampilkan adalah bahwa produk-produk yang disediakan
kedai jamu ilmiah nantinya hanyalah hasil penelitian oleh badan-badan penelitian
maupun oleh institusi pendidikan. Opportunity dari kedai jamu yang ditawarkan
6

Kedai Jamu Ilmiah, Peluang Bisnis Pendamping Program Saintifikasi Jamu

adalah tercetus bersamaan dengan adanya program saintifikasi jamu. Dengan


demikian peluang untuk lebih berkembang akan lebih mudah karena saat ini tentu
saja Depkes tengah mencari contoh jamu-jamu yang sesuai dengan program
saintifikasi jamu. Threat dari kedai ini adalah belum terbentuknya kontrak-
kontrak kerja sama dengan pihak-pihak peneliti sediaan herbal. Dengan demikian
perlu segera dibuat kontrak-kontrak dengan institusi terkait.

Keterkaitan Problem dengan Solusi

Keberadaan penjual jamu saat ini kembali marak. Penjualan jamu saat ini
banyak dilakukan melalui warung-warung jamu, bakul jamu gendong, kafe,
bahkan resto. Jamu yang dijual di warung jamu, kebanyakan berupa jamu
instan/kemasan. Jamu-jamu instan terkadang sering ditambahkan bahan kimia
obat untuk mendapatkan khasiat yang lebih cepat sehingga masyarakat terkadang
was-was untuk menggunakannya.
Jamu yang diperjualbelikan oleh penjual jamu gendong berupa perasan
atau ekstrak segar dengan penyari berupa air. Selain itu, untuk memberikan rasa
nikmat pada jamu, sering pula ditambahkan gula sebagai pemanis. Keberadaan air
dan gula tentu saja akan menjadi medium pertumbuhan yang baik bagi bakteri.
Dengan demikian, produk yang dijajakan penjual jamu gendong tidak dapat
bertahan lama karena harus segera dikonsumsi setelah produksi. Lain halnya
dengan produk yang diperjualbelikan di kafe herbal atau resto. Umumnya produk
yang dijual telah memiliki standar kualitas tertentu berupa khasiat, rasa, estetika,
bahkan suasana dari kafe itu sendiri. Hal ini terkadang menjadikan produk yang
diperjualbelikan tak terjangkau bagi masyarakat menengah ke bawah karena harga
yang dipatok sangat tinggi. Keberadaan kedai jamu akan mengkombinasikan
nilai-nilai positif dari penyedia jamu seperti yang telah dipaparkan. Kombinasi
tersebut yaitu produk yang diperjualbelikan akan berupa produk yang berkhasiat,
tahan lama, dan memiliki rasa yang dapat diterima oleh masyarakat.
Produk yang dijual di kedai jamu ilmiah merupakan hasil observasi klinik
program saintifikasi jamu. Adanya kedai jamu ilmiah akan membantu
memasarkan produk-produk hasil riset tersebut. Dengan demikan, pemakaian
7

Kedai Jamu Ilmiah, Peluang Bisnis Pendamping Program Saintifikasi Jamu

jamu tersebut akan lebih luas dan produk itu sendiri akan lebih mudah ditemui.
Dengan nilai tambah berupa produk hasil riset oleh lembaga kesehatan,
diharapkan selain bersifat sosial, kedai ini juga akan memiliki potensi bisnis yang
cerah. Masyarakat tentunya akan lebih tertarik dengan produk-produk yang telah
teruji secara ilmiah daripada produk-produk kemasan yang belum diketahui
keamanan dan khasiatnya. Untuk mendapatkan kepercayaan dari masyarakat akan
lebih baik bila kedai jamu ini mendapatkan sertifikasi oleh pihak peneliti dalam
hal ini klinik-klinik dan rumah sakit tertunjuk.
Kedai jamu ilmiah akan menyediakan jamu yang lebih bertanggung jawab
baik kualitas maupun kuantitasnya. Mutu jamu ditentukan oleh sederatan
persyaratan pokok, yaitu komposisi yang benar, tidak mengalami perubahan
fisika-kimia, dan tidak tercemar bahan asing. Dari segi kualitas, kedai jamu akan
menyediakan jamu yang dapat dipertanggungjawabkan kandungan dari
ramuannya. Misal pada kemasan atau brosur dituliskan ekstrak Sonchus arvensis,
maka dalam jamu harus memiliki kandungan ekstrak tersebut. Dari segi kuantitas,
kedai jamu akan menyediakan jamu yang besar kandungan yang sesuai dengan
yang dituliskan. Misal dituliskan kandungan ekstrak Curcuma longa sebanyak
10% maka dalam jamu kandungan ekstrak haruslah sebanyak 10%. Dengan
memastikan bahwa baik kualitas maupun kuantitas bahan benar, diharapkan
penggunaan jamu akan dapat dipercaya oleh masyarakat secara luas. Demikianlah
program kedai jamu yang ditawarkan diharapkan dapat turut menyediakan jamu
yang berkualitas di masyarakat.
Produk yang disediakan berupa jamu godog/rajangan, jamu cacah, jamu
serbuk, dan jamu ekstrak. Jamu godog merupakan jamu dalam bentuk simplisia
kering utuh. Keunggulan dari jamu godog ini adalah produk yang diminum
merupakan produk segar karena langsung diminum setelah dimasak.
Kelemahannya adalah jamu ini repot dalam penggunaannya yaitu konsumen harus
mau melakukan penggodogan atau perebusan sendiri sebelum mengkonsumsi.
Jamu cacah merupakan jamu yang mirip dengan jamu godog namun memiliki
ukuran yang lebih kecil karena telah melalui pengecilan ukuran. Penggunaannya
sama dengan penggunaan jamu godog. Jamu serbuk merupakan jamu dengan
8

Kedai Jamu Ilmiah, Peluang Bisnis Pendamping Program Saintifikasi Jamu

simplisia yang telah diserbuk. Dengan demikian proses penarikan zat aktif dari sel
akan lebih mudah. Oleh karena itu penggunaan jamu serbuk ini relatif lebih
mudah bila dibandingkan dengan jamu godog dan cacah. Ini karena penggunaan
jamu serbuk tinggal diseduh tidak lagi direbus. Selain itu penggunaan cairan
penyari tidak menggunakan air mendidih sehingga zat aktif tanaman lebih terjaga
dan potensi rusak karena suhu lebih rendah. Jamu ekstrak merupakan jamu
dengan bahan berupa hasil sarian sehingga tidak lagi memiliki ampas.
Penggunaan jauh lebih mudah karena jamu ekstrak dapat dimodifikasi menjadi
sediaan tablet, kapsul, larutan, maupun sediaan-sediaan obat modern lainnya.
Alasan penyediaan kesemua macam jamu ini karena menuruti permintaan
konsumen. Bila konsumen menghendaki jamu ekstrak maka yang jamu itu akan
diberikan pada konsumen pemintanya. Sebenarnya hal ini merupakan masalah
selera saja, namun dalam bisnis masalah selera merupakan masalah yang tidak
dapat diremehkan.

Pihak yang Berpotensi Dilibatkan

Proses pembukaan kedai jamu ini nantinya akan sangat membutuhkan


bantuan dari pihak-pihak lain. Pihak yang dapat dilibatkan dalam pengerjaan
program kedai jamu ilmiah antara lain klinik-klinik yang melakukan observasi
dan melakukan pengembangan formula jamu. Selain itu dapat pula dalam
pengerjaannya melibatkan institusi pendidikan yang dapat membantu dalam
melakukan penelitian mengenai formula yang tepat. Pihak lain yang dapat
dilibatkan yaitu (Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan
Obat Tradisional) B2P2TOOT yang melakukan pula observasi klinik melalui
klinik herbalnnya dan dapat pula nantinya bekerja sama dalam penyediaan bahan
baku. Dengan demikian, pengembangan kedai jamu ini akan sulit bila tidak ada
dukungan dari pihak-pihak yang melakukan observasi klinik berbasis pelayanan
dan melakukan formulasi jamu.

Langkah Strategis yang Harus Dilakukan


9

Kedai Jamu Ilmiah, Peluang Bisnis Pendamping Program Saintifikasi Jamu

Program kedai jamu ilmiah ini dapat diwujudkan melalui pembuatan


kontrak kerjasama dengan klinik herbal, dokter, balai penelitian, dan perusahaan
jamu. Kontrak kerjasama tersebut berisi kesepakatan dalam melakukan penelitian
produk-produk herbal baik efek farmakologi, toksikologi, farmakodinamika,
farmakokinetika, dan banyak aspek lain yang mendukung pengilmiahan jamu.
Kontrak kerjasama ini penting dilakukan untuk menghindari pelanggaran terhadap
hal atas kekayaan intelektual bagi si peneliti.
Produk hasil penelitian akan dibeli dari peneliti oleh pengusaha kedai jamu
ilmiah. Meskipun demikian, akan lebih baik bila dari pihak pengusaha nantinya
juga terus mengembangkan produknya sendiri melalui penelitian-penelitian
mandiri. Pada proses produksi jamu, perlu dilakukan standardisasi bahan dan
metode. Perlu adanya suatu Standar Operational Procedure (SOP) yang sesuai
dengan Cara Pembuatan Obat Tradisional yang Baik (CPOTB). Pengolahan
simplisa juga harus benar sesuai dengan prinsip GMP. Hal ini akan berpengaruh
terhadap keberlanjutan produk, kestabilan dan keterjaminan khasiat. Kemudian
perlu dilakukan suatu inovasi-inovasi dalam berusaha agar kedai ini dapat
bersaing dengan kompetitor.
Pemeriksaan mutu produk dalam kedai jamu ilmiah harus secara rutin
dilakukan. Pemeriksaan rutin ini berupa pemeriksaan makroskopik, mikroskopik,
dan metode kimia. Cara makroskopik digunakan untuk mendeteksi kebenaran
simplisia bila dalam bentuk rajangan atau cacah. Cara ini tidak dapat digunakan
untuk mendeteksi kebenaran simplisia dalam bentuk serbuk maupun ekstrak. cara
kedua yaitu pengujian mikroskopik dapat digunakan untuk sediaan jamu serbuk,
namun tidak bisa untuk sediaan ekstrak. Sediaan ekstrak hanya dapat dilakukan
pengujian secara kimia yaitu dengan pereaksi-pereaksi kimia.
Penyediaan bahan diusahakan dari satu sumber saja untuk satu jenis
simplisia. Hal ini untuk menghindari variasi kadar yang terlalu besar. Selain itu
proses penanaman dan pemanenan tanaman harus sesuai dengan prinsip GAP.
Tiap-tiap tanaman memiliki waktu tanam dan panen yang berbeda oleh karena itu
hal tersebut haruslah diperhatikan oleh pihak pengadaan bahan baku. Untuk
memudahkan pengadaan barang pada saatnya nanti akan lebih baik bila dilakukan
10

Kedai Jamu Ilmiah, Peluang Bisnis Pendamping Program Saintifikasi Jamu

oleh petani binaan. Petani yang akan menyetor tanaman obat harus dibina terlebih
dahulu mengenai cara penanaman dan pemanenan yang baik.

KESIMPULAN

Kesimpulan dari karya tulis ini adalah :


• Kedai Jamu Ilmiah dapat digunakan dalam mengatasi permasalahan jamu
di Indonesia mendampingi program saintifikasi jamu.
• Program ini dapat diwujudkan dengan melakukan kontrak kerjasama
dengan balai penelitian, klinik herbal, dokter, dan institusi pendidikan
terkait dalam melakukan formulasi jamu.
• Diharapkan program ini dapat menjadi bahan pijakan bagi perbaikan
masalah jamu di Indonesia, selain itu dapat menyukseskan program
saintifikasi jamu.