Anda di halaman 1dari 17

PENANGANAN KELEMAHAN

KONSTRUKSI BAJA KOMPOSIT


TERHADAP PANAS TINGGI (KEBAKARAN)

TUGAS SKBB 3
Kelompok:
Budi Setyo Widodo (13334,
Wendi Sunarya ( )
Antonius Dewantara (1333 )
David Ben Gurion ( )
Wibisono ( )

UNIVERSITAS ATMAJAYA YOGYAKARTA


FAKULTAS TEKNIK ARSITEKTUR
2011

1
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Dalam kurun lima dasawarsa terakhir, penggunaan material baja menadi tren mode yang cukup
signifikan. Baja dapat digunakan untuk konstruksi atap, konstruksi struktur bangunan, konstruksi
jembatan, atau bahkan rangka pagar, rangka kanopi, juga bahan perkerasan dinding, perabot dan
perkerasan lantai. Teknologi baja sudah berkembang demikian pesatnya. Apalagi, isu-isu populer
tentang green architecture (sustainable architecture) turut melambungkan keunggulan material baja.
Dalam dunia konstruksi, material baja dipilih karena memiliki banyak keunggulan. Antara lain,
bobot rangka atap yang ringan dibandingkan material kayu atau beton bertulang sehingga beban yang
harus ditanggung oleh struktur di bawahnya lebih rendah. Baja memiliki sifat tidak membesarkan api
(non-combustible), anti rayap, pemasangannya relatif cepat dibanding rangka kayu, dan nyaris tidak
memiliki nilai muai dan susut (tidak berubah karena panas dan dingin). Berkaitan dengan beban gempa,
angin, dan beban-beban dinamis lainnya, baja mampu berdeformasi (melengkung) denga besar tanpa
langsung runtuh oleh karena materialnya yang sangat dektail (tidak getas). Selain itu, material baja pun
memiliki nilai rasio perbandingan kekuatan terhadap berat yang paling tinggi diantara material
konstruksi lain saat ini. Sehingga, memungkinkan dirancang struktur yang sangat ramping, ringan
bahkan tinggi dan bentang yang ekstrim sekalipun.
Meski demikian, peristiwa runtuhnya gedung World Trade Center (WTC) di New York,
Amerika, cukup membuat berbagai pihak berpikir ulang tentang penggunaan material baja ini. Dua
pesawat yang dibajak oleh teroris ditabrakkan secara berurutan menuju gedung tersebut pada ketinggian
lantai 100. Ledakan yang ditimbulkan oleh tabrakan tersebut mengakibatkan kerusakan fatal hingga
runtuhnya WTC dalam waktu singkat, hanya selang satu hari. Laporan Standard Nasional dan Teknologi
Amerika menyalahkan faktor kurangnya integritas struktur material baja pada runtuhnya gedung
tersebut. Pada suhu yang tinggi, bahan baja menjadi lembek dan meleleh sehingga kemampuan daya
dukungnya menjadi berkurang sangat signifikan.

B. Rumusan Masalah
Dibandingkan dengan beton bertulang, baja memiliki kekuatan tarik yang luar biasa. Maka,
struktur sebuah bangunan dapat dibuat lebih ramping dan ekspresif (bentuk-bentuk kreatif non
konvensional). Namun, sayangnya, kekuatan tekan dari baja kalah telak jika dibandingkan dengan beton
bertulang. Apalagi daya tahannya terhadap api. Maka, jika menggunakan Baja (jenis Baja Komposit
untuk konstruksi bangunan_sebagai kolom), perlu penanganan yang khusus.
Maka, pertanyaan yang coba dibahas oleh tulisan ini adalah bagaimana karakteristik daya tahan
jenis baja komposit sebagai komponen struktur bangunan sekaligus bagaimana cara-cara penanganannya
sehingga aman sebagaimana fungsinya.

C. Tujuan Penulisan
Selain sebagai tugas Kuliah SKBB 3, tulisan ini ditujukan untuk semakin mempelajari
karakteristik daya tahan jenis baja komposit sebagai komponen struktur bangunan sekaligus bagaimana
cara-cara penanganannya sehingga aman sebagaimana fungsinya. Penggunaan baja yang sangat
multifungsi memerlukan pengertian yang cukup baik guna menghindari keraguan orang akan
penggunaan baja khususnya sebagai komponen strukur bangunan.
2
D. Metode penulisan
Metode pembahasan yang dilakukan guna mencapai tujuan penulisan condong dilakukan melalui
studi pustaka. Berbagai literatur dasar tentang prinsip baja, artikel dan tulisan mengenai jenis-jenis dan
kekuatan baja, khususnya baja komposit dan inovasi yang dilakukan, merupakan ragam pustaka yang
menjadi sumber acuan penulisan. Selain itu, guna menunjang studi pustaka, metode percobaan
sederhana, dan wawancara pada pihak ahli terkait juga dilakukan.

E. Sistematika Penulisan

I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
B. Rumusan Masalah
C. Tujuan Penulisan
D. Metode Pembahasan
E. Sistematika Penulisan

II. LANDASAN TEORI


A. Baja Secara Umum
B. Jenis-Jenis Baja
C. Fungsi Baja
D. Baja Sebagai Fungsi Struktur Bangunan

III. KETAHANAN BAJA KOMPOSIT TERHADAP PANAS


SEBAGAI KOMPONEN STRUKTUR BANGUNAN
A. Karakteristik Baja Komposit Sebagai Komponen Struktur Rangka Bangunan
B. Alternatif Penanggulangan Pengaruh Panas Pada Baja Komposit

IV. KESIMPULAN

V. DAFTAR PUSTAKA

3
BAB II
KAJIAN TEORI

A. Baja Secara Umum1

Penggunaan logam sebagai bahan struktural diawali dengan besi tuang untuk bentang
lengkungan (arch) sepanjang 100 ft (30 m) yang dibangun di Inggris pada tahun 1777 – 1779. Dalam
kurun waktu 1780 – 1820,. Dibangun lagi sejumlah jembatan dari besi tuang, kebanyakan berbentuk
lengkungan dengan balok – balok utama dari potongan – potongan besi tuang indivudual yang
membentuk batang – batang atau kerangka (truss) konstruksi. Besi tuang juga digunakan sebagai rantai
penghubung pada jembatan – jembatan suspensi sampai sekitar tahun 1840.
Setelah tahun 1840, besi tempa mulai mengganti besi tuang dengan contoh pertamanya yang
penting adalah Brittania Bridge diatas selat Menai di Wales yang dibangun pada 1846 – 1850. Jembatan
ini menggunakan gelagar –gelagar tubular yang membentang sepanjang 230 – 460 – 460 – 230 ft (70 –
140 – 140 – 70 m) dari pelat dan profil siku besi tempa.
Proses canai (rolling) dari berbagai profil mulai berkembang pada saat besi tuang dan besi tempa
telah semakin banyak digunakan. Batang – batang mulai dicanai pada skala industrial sekitar tahun
1780. Perencanaan rel dimulai sekitar 1820 dan diperluas sampai pada bentuk – I menjelang tahun 1870-
an.
Perkembangan proses Bessemer (1855) dan pengenalan alur dasar pada konverter Bessemer
(1870) serta tungku siemens-martin semakin memperluas penggunaan produk – produk besi sebagai
bahan bangunan. Sejak tahun 1890, baja telah mengganti kedudukan besi tempa sebagai bahan
bangunan logam yang terutama. Dewasa ini (1990-an), baja telah memiliki tegangan leleh dari24 000
sampai dengan 100 000 pounds per square inch, psi (165 sampai 690 MPa), dan telah tersedia untuk
berbagai keperluan struktural.

B. Jenis-Jenis Baja

Baja adalah logam paduan dengan besi sebagai unsur dasar dan karbon sebagai unsur paduan
utamanya. Kandungan karbon dalam baja berkisar antara 0.2% hingga 2.1% berat sesuai grade-nya.
Fungsi karbon dalam baja adalah sebagai unsur pengeras dengan mencegah dislokasi bergeser pada kisi
kristal (crystal lattice) atom besi. Unsur paduan lain yang biasa ditambahkan selain karbon adalah
mangan (manganese), krom (chromium), vanadium, dan tungsten. Dengan memvariasikan kandungan
karbon dan unsur paduan lainnya, berbagai jenis kualitas baja bisa didapatkan. Penambahan kandungan
karbon pada baja dapat meningkatkan kekerasan (hardness) dan kekuatan tariknya (tensile strength),
namun di sisi lain membuatnya menjadi getas (brittle) serta menurunkan keuletannya (ductility).
Semua jenis – jenis baja sedikit banyak dapat ditempa dan dapat disepuh, sedangkan untuk baja
lunak pada tegangan yang jauh dibawah kekuatan tarik atau batas patah TB, yaitu apa yang dinamakan
batas lumer atau tegangan lumer Tv, terjadi suatu keadaan yang aneh, dimana perubahan bentuk berjalan
terus beberapa waktu, dengan tidak memperbesar beban yang ada.

1
Sejarah Struktur Baja, http://rathocivil02.wordpress.com/
Steel, www.wikipedia.org
Baja, www.wikipedia.org

4
Sifat – sifat baja bergantung sekali kepada kadar zat arang, semakin bertambah kadar ini,
semakin naik tegangan patah dan regangan menurut prosen, yang terjadi pada sebuah batang percobaan
yang dibebani dengan tarikan, yaitu regangan patah menjadi lebih kecil.
Persentase yang sangat kecil dari unsur – unsur lainnya, dapat mempengaruhi sifat – sifat baja
dengan kuat sekali, secar baik atau jelek. Guna membedakannya, jenis – jenis baja diberi nomor yang
sesuai dengan tegangan patah yang dijamin dan yang terendah pada percobaan tarik yang normal, tetapi
untuk setiap jenis baja juga ditentukan suatu TBmaks.

Klasifikasi Baja2
1. Baja Karbon
Baja Karbon dibagi menjadi empat kategori berdasarkan persentase karbonnya : Karbon rendah
(kurang dari 0,15%); Karbon lunak (0,15 – 0,29%); Karbon sedang (0.3 – 0.59%); dan karbon tingi
(0,6 – 1,7%). Baja Karbon struktural termasuk dalam kategori karbon lunak. Baja Karbon struktur
menunjukan titik leleh dfinit, peningkatan perentase karbon akan menigkatkan kekerasannya namun
mengurangi kekenyalannya, sehingga lebih sulit dilas.

2. Baja Perpaduan Rendah Berkekuatan Tinggi


Kategori ini meliputi baja – baja yang memiliki tegangan leleh dari 40 – 70 ksi (275 – 480 MPa),
yang menunjukan titik leleh yang jelas, sama dengan yang terjadi pada baja karbon. Penambahan
sejumlah elemen paduan terhadap baja seperti krom, kolubium, tembaga, mangan, molibden, nikel,
fosfor, vanadium atau zirkonium, akan memperbaiki sifat – sifat mekanisnya. Bila Karbon
mendapatkan kekuatan dengan penambahan kandungan karbonnya, elemen – elemen paduan
menciptakan tambahan kekuatan lebih dengan mikrostruktur yang halus ketimbang mikrostruktur
yang kasar yang diperoleh selama proses pendinginan baja. Baja paduan rendah berkkuatan tinggi
digunakan dalam kondisi seperti tempaan atau kondisi normal yakni kondisi dimana tidak
digunakan perlakuan panas.

3. Baja Paduan
Baja paduan rendah dapat didinginkan dan disepuh supaya dapat mencapai kekuatan leleh sebesar
80 – 110 ksi (550 – 760 MPa). Kekuatan leleh biasanya didefinisikan sebagai tegangan pada
regangan offset 0,2%, karena baja ini tidak menunjukan titik leleh yang jelas. Dengan prosedur
yang tepat baja ini dapat dilas, dan biasanya tidak membutuhkan tambahan perlakuan panas setelah
pengelasan dilakukan. Untuk beberapa keperluan khusus, kadangkala dibutuhkan pengendoran
tegangan. Beberapa baja karbon, seperti baja tekanan fluida tertentu, dapat didinginkan dan disepuh
supaya dapat memberikan kekuatan leleh sekitar 80 ksi (550 MPa), namun kebanyakan baja dengan
kekuatan sedemikian merupakan baja paduan rendah. Baja paduan rendah ini pada umumnya
memiliki karbon sekitar 0,2% supaya dapat membatasi kekerasan mikrostruktur btiran kasar
(martensit) yang mungkin terbentuk selama perlakuan panas atau pengelasan, sehingga dapat
mengurangi bahaya retakan.
Perlakuan panas terdiri dari pendinginan (pendinginan secara cepat dengan air atau minyak paling
tidk 16500F (9000C) sampai sekitar 300 – 4000F); kemudian penyepuhan dengan pemanasan
kembali sampai paling tidak sekitar 11500F (6200C) dan kemudian dibiarkan mendingin.
Penyepuhan, meskipun mengurangi sedikit kekuatan dan kekerasan dari bahan yang telah
didinginkan, namun dapat meningkatkan kekenyalan dan keuletan. Pengurangan dalam kekuatan
2
Sejarah Struktur Baja, http://rathocivil02.wordpress.com/

5
dan kekerasan dengan peningkatan temperatur sedikit dilawan oleh munculnya pengerasan
sekunder yang terjadi akibat penyerapan kolubium, titanium atau vanadium karbida. Penyerapan ini
dimulai pada temperatur sekitar 9500F (5100C) dan menjadi makin cepat sampai sekitar 12500F
(6800C). Penyepuhan pada atau sekitar 12500F untuk mendapatkan penyerapan maksimum dari
karbida mungkin akan mengakibatkan masuknya elemen tersebut ke dalam zona transformasi dan
hasilnya mikrostruktur menjadi lebih lemah yang mungkin dapat diperoleh tanpa pendinginan dan
penyepuhan.
Secara ringkas, pendinginan menghasilkan martensit, suatu mikrostruktur getas yang sangat keras
dan kuat; pemanasan kembali akan sedikit mengurangi kekuatan dan kekerasan, namun akan
meningkatkan keuletan dan kekenyalan.

C. Fungsi Baja
Baja adalah logam paduan dengan besi sebagai unsur dasar dan karbon sebagai unsur paduan
utamanya. Kandungan karbon dalam baja berkisar antara 0.2% hingga 2.1% berat sesuai grade-nya.
Fungsi karbon dalam baja adalah sebagai unsur pengeras dengan mencegah dislokasi bergeser pada kisi
kristal (crystal lattice) atom besi. Unsur paduan lain yang biasa ditambahkan selain karbon adalah
mangan (manganese), krom (chromium), vanadium, dan tungsten. Dengan memvariasikan kandungan
karbon dan unsur paduan lainnya, berbagai jenis kualitas baja bisa didapatkan. Penambahan kandungan
karbon pada baja dapat meningkatkan kekerasan (hardness) dan kekuatan tariknya (tensile strength),
namun di sisi lain membuatnya menjadi getas (brittle) serta menurunkan keuletannya (ductility)3.
Sehingga, pada dasarnya, fungsi baja memiliki keserupaan dengan fungsi bahan atau material
besi (fe). Dalam kehidupan sehari-hari, besi digunakan untuk macam-macam fungsi, misalnya untuk
membuat berbagai macam barang yang membutuhkan daya tahan tinggi dan lama (kendaraan, mesin,
perkakas rumah tangga, dsb). Dalam dunia konstruksi, baja biasa dipakai sebaga bahan konstruksi jalan,
rel kereta api, dan banyak infrastruktur bangunan. Ketahanan (daktilitas) baja yang lebih tinggi dari besi
karena dicampur karbon dan bahan-bahan lainnya mengakibatkan baja mampu memenuhi fungsinya
sebagai komponen struktur bangunan.

D. Baja Sebagai Fungsi Struktur Bangunan

Struktur dapat dibagi menjadi tiga kategori umum4 :

a) Struktur Rangka (framed structure), dimana elemen – elemennya kemungkinan terdiri dari batang –
batang tarik, balok, dan batang – batang yang mendapatkan beban lentur kombinasi dan beban aksial.
Kebanyakan konstruksi bangunan tipikal termasuk dalam kategori ini. Bangunan berlantai banyak
biasanya terdiri dari balok dan kolom, baik yang terhubungkan secara rigid atau hanya terhubung
sederhana dengan penopang diagonal untuk menjaga stabilitas. Meskipun suatu bangunan berlantai
banyak bersifat tiga dimensional, namun biasanya bangunan tersebut didesain sedemikian rupa
sehingga lebih kaku pada salah satu arah ketimbang arah lainnya. Dengan demikian, bangunan
tersebut dapat diperlakukan sebagai serangkaian rangka (frame) bidang. Meskipun demikian, bila
perangkaan sedemikian rupa sehingga perilaku batang – batangnya pada salah satu bidang cukup

3
Steel, www.wikipedia.org
Baja, www.wikipedia.org
4
Fungsi dan Manfaat Konstruksi Baja, www.harrysaragih.wordpress.com

6
mempengaruhi perilaku pada bidang lainnya, rangka tersebut harus diperlakukan sebagai rangka
ruang tiga dimensi.
Bangunan – bangunan industrial dan bangunan – bangunan satu lantai tertentu, seperti gereja,
sekolah, dan gelanggang, pada umumnya menggunakan struktur rangka baik secara keseluruhan
maupun hanya sebagian saja. Khususnya, sistem atap yang mungkin terdiri dari serangkaian kerangka
datar, kerangka ruang, sebuah kubah atau mungkin pula bagian dari suatu rangka datar atau rangka
kaku satu lantai dengan pelana. Jembatan pun kebanyakan merupakan struktur rangka, seperti balok
dan gelagar pelat atau kerangka yang biasanya menerus.

b) Struktur Tipe Cangkang (shell type structure), dimana tegangan aksial lebih dominan.
Dalam tipe struktur ini, selain melayani fungi bangunan, kubah juga bertindak sebagai penahan
beban. Salah satu tipe yang umum dimana tegangan utamanya berupa tarikan adalah bejana yang
digunakan untuk menyimpan cairan (baik untuk temperatur tinggi maupun rendah), diantaranya yang
paling terkenal adalah tanki air. Bejana penyimpanan, tanki dan badan kapal merupakan contoh –
contoh lainnya. Pada banyak struktur dengan tipe cangkang, dapat digunakan pula suatu struktur
rangka yang dikombinasikan dengan cangkang.
Pada dinding – dinding dan atap datar, sementara berfungsi bersama dengan sebuah kerangka kerja,
elemen – elemen “kulit”nya dapat bersifat tekan. Conto pada badan pesawat terbang. Struktur tipe
cangkang biasanya didesain oleh seorang spesialis.

c) Struktur Tipe Suspensi (suspension type structure), dimana tarikan aksial lebih mendominasi sistem
pendukung utamanya.
Pada struktur dengan tipe suspensi, kabel tarik merupakan elemen – elemen utama. Biasanya
subsistem dari struktur ini terdiri dari struktur kerangka, seperti misalnya rangka pengaku pada
jembatan gantung. Karena elemen tarik ini terbukti paling efisien dalam menahan beban, struktur
dengan konsep ini semakin banyak dipergunakan.
Telah dibangun pula banyak struktur khusus dengan berbagai kombinasi dari tipe rangka, cangkang,
dan suspensi. Meskipun demikian, seorang desainer spesialis dalam tipe struktur cangkang ini pun
pada dasarnya harus juga memahami desain dan perilaku struktur rangka.

7
BAB III
KETAHANAN BAJA KOMPOSIT TERHADAP PANAS
SEBAGAI KOMPONEN STRUKTUR BANGUNAN

A. Karakteristik Baja Komposit Sebagai Komponen Struktur Rangka Bangunan5


Pada struktur baja terdapat 2 macam batang tekan, yaitu:
1. Batang yang merupakan bagian dari suatu rangka batang. Batang ini dibebani gaya tekan aksial
searah panjang batangnya. Umumnya pada suatu rangka batang maka batang-batang tepi atas
merupakan batang tekan.
2. Kolom merupakan batang tekan tegak yang bekerja untuk menahan balok-balok loteng, balok
lantai dan rangka atap, dan selanjutnya menyalurkan beban tersebut ke pondasi.
Batang-batang lurus yang mengalami tekanan akibat bekerjanya gaya-gaya aksial dikenal dengan
sebutan kolom. Untuk kolom-kolom yang pendek ukurannya, kekuatannya ditentukan berdasarkan
kekuatan leleh dari bahannya. Untuk kolom-kolom yang panjang kekuatannya ditentukan faktor tekuk
elastis yang terjadi, sedangkan untuk kolom-kolom yang ukurannya sedang, kekuatannya ditentukan
oleh faktor tekuk plastis yang terjadi. Sebuah kolom yang sempurna yaitu kolom yang dibuat dari bahan
yang bersifat isotropis, bebas dari tegangan-tegangan sampingan, dibebani pada pusatnya serta
mempunyai bentuk yang lurus, akan mengalami perpendekan yang seragarn akibat terjadinya regangan
tekan yang seragam pada penampangnya. Kalau beban yang bekerja pada kolom ditambah besarnya
secara berangsur-angsur, maka akan mengakibatkan kolom mengalami lenturan lateral dan kemudian
mengalami keruntuhan akibat terjadinya lenturan tersebut. Beban yang mengakibatkan terjadinya
lenturan lateral pada kolom disebut beban kritis dan merupakan beban maksimum yang masih dapat
ditahan oleh kolom dengan aman.

Keruntuhan batang tekan dapat terjadi dalam 2 kategori, yaitu

1. Keruntuhan yang diakibatkan terlampauinya tegangan leleh. Hal ini umumnya terjadi pada batang
tekan yang pendek

2. Keruntuhan yang diakibatkan terjadinya


tekuk. Hal ini terjadi pada batang tekan yang
langsing

Kelangsingan batang tekan6, tergantung


dari jari-jari kelembaman dan panjang tekuk.
Jari-jari kelembaman umumnya terdapat 2
harga dan yang menentukan adalah yang
harga terbesar. Panjang tekuk juga
tergantung pada keadaan ujungnya, apakah
sendi, jepit, bebas dan sebagainya.

5
Jenis Baja Struktural, www.gurumuda.com

8
Menurut SNI 03–1729–2002, untuk batang-batang yang direncanakan terhadap tekan, angka
perbandingan kelangsingan ë =Lk/r dibatasi sebesar 200 mm. Untuk batang-batang yang direncanakan
terhadap tarik, angka perbandingan kelangsingan L/r dibatasi sebesar 300 mm untuk batang sekunder
dan 240 mm untuk batang primer. Ketentuan di atas tidak berlaku untuk batang bulat dalam tarik.
Batang-batang yang ditentukan oleh gaya tarik, namun dapat berubah menjadi tekan yang tidak dominan
pada kombinasi pembebanan yang lain, tidak perlu memenuhi batas kelangsingan batang tekan.

Panjang tekuk

Nilai faktor panjang tekuk (kc) bergantung pada kekangan rotasi dan translasi pada ujung-ujung
komponen struktur. Untuk komponen struktur takbergoyang, kekangan translasi ujungnya dianggap tak-
hingga, sedangkan untuk komponen struktur bergoyang, kekangan translasi ujungnya dianggap nol.
Nilai faktor panjang tekuk (kc) yang
digunakan untuk komponen struktur
dengan ujung-ujung ideal.

Baja sebagai elemen komposit7

Kerangka baja yang menyangga konstruksi


plat beton bertulang yang dicor di tempat pada
awalnya direncanakan dengan anggapan
bahwa plat beton dan baja bekerja secara
terpisah dalam menahan beban. Pengaruh
komposit dari baja dan beton yang bekerja
sama tidak diperhitungkan.

6
Jenis Baja Struktural, www.gurumuda.com

9
Pengabaian ini didasarkan pada alasan bahwa lekatan (bond) antara lantai atau plat beton dan bagian
atas balok baja tidak dapat diandalkan. Namun, dengan berkembangnya teknik pengelasan, permakaian
alat penyambung geser (shear connector) mekanis menjadi praktis untuk menahan gaya geser horisontal
yang timbul ketika batang terlentur. Karena tegangan dalam plat lebar yang bertumpu pada balok baja
tidak seragam sepanjang lebar plat, rumus lentur yang biasa (f = Mc/I) tidak berlaku. Sama seperti pada
penampang T yang seluruhnya terbuat dari beton bertulang, plat yang lebar diubah menjadi plat dengan
lebar ekuivalen agar rumus lentur dapat diterapkan untuk memperoleh kapasitas momen yang tepat.
Faktor yang penting pada aksi komposit ialah lekatan antara beton dan baja harus tetap ada. Ketika para
perencana mulai meletakkan plat beton pada puncak balok baja penyanggah, para peneliti mulai
mempelajari kelakuan alat penyambung geser mekanis. Alat penyambung geser menghasilkan interaksi
yang diperlukan untuk aksi komposit antara balok baja profil I dan plat beton, yang sebelumnya hanya
dihasilkan oleh lekatan untuk balok yang ditanam seluruhnya dalam beton.

Aksi komposit
7
Penggunaan Konstruksi Baja, www.gurumuda.com

10
Aksi komposit timbul bila dua batang struktural pemikul beban seperti konstruksi lantai beton dan balok
baja penyangga disambung secara integral dan melendut secara satu kesatuan. Contoh penampang
lintang komposit yang umum diperlihatkan pada Gambar 6.56. Besarnya aksi komposit yang timbul
bergantung pada penataan yang dibuat untuk menjamin regangan linear tunggal dari atas plat beton
sampai muka bawah penampang baja.

Untuk memahami konsep kelakuan komposit, pertama tinjaulah balok yang tidak komposit dalam
Gambar 6.56(a). Pada keadaan ini, jika gesekan antara plat dan balok diabaikan, balok dan plat masing-
masing memikul suatu bagian beban secara terpisah. Bila plat mengalami deformasi akibat beban
vertikal, permukaan bawahnya akan tertarik dan memanjang; sedang permukaan atas balok tertekan dan
memendek. Jadi, diskontinuitas akan terjadi pada bidang kontak. Karena gesekan diabaikan, maka hanya
gaya dalam vertikal yang bekerja antara plat dan balok.

Keuntungan dan kerugian

Keuntungan utama dari perencanaan komposit ialah:


1. Penghematan berat baja
2. Penampang balok baja dapat lebih rendah
3. Kekakuan lantai meningkat
4. Panjang bentang untuk batang tertentu dapat lebih besar
5. Kapasitas pemikul beban meningkat
Penghematan berat baja sebesar 20 sampai 30% seringkali dapat diperoleh dengan memanfaatkan
semua keuntungan dari sistem komposit. Pengurangan berat pada balok baja ini biasanya
memungkinkan pemakaian penampang yang lebih rendah dan juga lebih ringan. Keuntungan ini bisa
banyak mengurangi tinggi bangunan bertingkat banyak sehingga diperoleh penghematan bahan
bangunan yang lain seperti dinding luar dan tangga.
Kekakuan lantai komposit jauh lebih besar dari kekakuan lantai beton yang balok penyanggahnya
bekerja secara terpisah. Biasanya plat beton bekerja sebagai plat satu arah yang membentang antara
balok-balok baja penyangga. Dalam perencanaan komposit, aksi plat beton dalam arah sejajar balok
dimanfaatkan dan digabungkan dengan balok baja penyanggah. Akibatnya, momen inersia konstruksi
lantai dalam arah balok baja meningkat dengan banyak. Kekakuan yang meningkat ini banyak
mengurangi lendutan beban hidup dan jika penunjang (shoring) diberikan selama pembangunan,
lendutan akibat beban mati juga akan berkurang.

11
Pada aksi komposit penuh, kekuatan batas penampang jauh melampaui jumlah dari kekuatan plat dan
balok secara terpisah sehingga timbul kapasitas cadangan yang tinggi. Keuntungan keseluruhan dari
permakaian konstruksi komposit bila ditinjau dari segi biaya bangunan total nampaknya baik dan terus
meningkat. Pengembangan kombinasi sistem lantai yang baru terus menerus dilakukan, dan pemakaian
baja berkekuatan tinggi serta balok campuran dapat diharapkan memberi keuntungan yang lebih banyak.
Juga, sistem dinding komposit dan kolom komposit mulai dipakai pada gedung-gedung.
Walaupun konstruksi komposit tidak memiliki kerugian utama, konstruksi ini memiliki beberapa
batasan yang sebaiknya disadari, yakni pengaruh kontinuitas dan lendutan jangka panjang

Lendutan jangka panjang dapat menjadi


masalah jika aksi penampang komposit
menahan sebagian besar beban hidup
atau jika beban hidup terus bekerja
dalam waktu yang lama. Namun,
masalah ini dapat dikurangi dengan
memakai lebar plat efektif yang
diredusir atau dengan memperbesar
rasio modulus elastisitas n.

Alat Penyambung Geser Komposit

Gaya geser horisontal yang timbul


antara plat beton dan balok baja selama
pembebanan harus ditahan agar
penampang komposit bekerja secara
monolit. Walaupun lekatan yang timbul
antara plat beton dan balok baja mungkin cukup besar, Iekatan ini tidak dapat diandahkan untuk
memberi interaksi yang diperlukan. Juga, gaya gesek antara plat beton dan balok baja tidak mampu
mengembangkan interaksi ini. Sebagai gantinya, alat penyambung geser mekanis yang disambung ke
bagian atas balok baja harus diberikan.

Tegangan baja8

Tegangan adalah gaya yang bekerja pada baja per satuan luas penampang baja.
Regangan merupakan respon dari tegangan, regangan yaitu perbandingan antara pertambahan panjang
yang terjadi akibat tegangan dengan panjang baja mula-mula.
Tegangan dasar adalah tegangan leleh yang dibagi dengan faktor keamanan.hal ini dharapkan tegangan
yang terjadi pada struktur tidak akan melampaui tegangan batas elastis,sehingga batang struktur selalu
kembali ke bentuk semula pada saat tidak ada pembebanan.
Tegangan leleh (yield stress) adalah nilai tegangan yang ketika terlampaui, maka material akan
meregang dengan sangat cepat meskipun perubahan tegangannya tidak terlalu besar. Setelah melampaui
yield stress, material akan meregang dengan kecepatan yang jauh lebih cepat dari sebelumnya, sehingga
nyaris 'tanpa perlawanan', sebelum akhirnya putus pada suatu titik yang disebut 'tegangan ultimit'. Dari
8
Pilih Baja atau Beton, http://yanartana.com/

12
hasil pengujian,tegangan leleh dianggap sebagai tegangan yang menimbulkan regangan tetap sebesar
2%.
Pada saat suatu material baja menerima panas dengan temperatur mencapai 700oF (370oC),
tegangan leleh dan kekuatan tariknya akan menurun berbanding lurus dengan kenaikan temperatur yang
diterimanya. Tegangan leleh akan berkurang berkisar 60% sampai dengan 70% ketika temperatur yang
diterima material baja tersebut telah melewati 1000oF (540oC). Elemen baja merupakan suatu material
yang bersifat thermoplastic. Pada saat temperatur mencapai kira-kira sebesar 1300 OF atau lebih titik
leleh baja akan mengalami penurunan secara drastis. Hal ini menyebabkan penurunan kekuatan dari
elemen baja yang akhirnya dapat mengakibatkan keruntuhan struktur.

MACAM TEGANGAN LELEH TEGANGAN DASAR


BAJA
Kg/cm2 MPa Kg/cm2 MPa
Bj 33 2000 200 1333 133,3
Bj 34 2100 210 1400 140
Bj 37 2400 240 1600 160
Bj 41 2500 250 1666 166,6
Bj 44 2800 280 1887 188,7
Bj 50 2900 290 1933 193,3
Bj 52 3600 360 2400 240

B. Cara Penanggulangan Pengaruh Panas


Pada Baja Komposit

Beberapa metode yang telah dikembangkan untuk memberikan perlindungan terhadap mutu dan kualitas
baja terhadap bahaya kebakaran (api) diantaranya adalah :

1. Encasement Methode
Metode ini dilakukan dengan cara membungkus baja tersebut dengan material yang tahan terhadap
api. Beberapa material yang biasa dipakai diantaranya adalah beton, batu bata, dan gypsum board.
untuk melindungi baja dari api, kita bisa melakukan cara-cara berikut.

13
1. Dicor dengan beton 3. Disemprot dengan lapisan
Vermiculite

2. Ditutupi dengan lapisan


vermiculite 4. Dicat dengan lapisan tahan panas

Gypsum board merupakan material yang baik dalam penyerapan panas (Brannigan, 1982).
Gypsum board merupakan salah satu bahan material yang bisa digunakan dalam penggunaan
encasement methode. Keuntungan secara fisik dari gypsum board dibandingkan bahan material
lain diantaranya adalah:
1. Lebih ringan
2. Mudah untuk dikerjakan/dalam pembentukan
3. Ketebalan yang bervariasi, memungkinkan untuk memilih tebal material yang ideal.

Gypsum board sering digunakan sebagai pelindung konstruksi dari bahaya api atau
kebakaran. Tingkat ketahanan api yang dapat dicapai oleh gypsum board berasal dari susunan
senyawa-senyawa pembentuk yang terdiri dari kalsium sulfat dan biasa disebut dengan
crystalline. Crystals ini mengandung kurang lebih 50% air, sehingga mengakibatkan gypsum
board sangat efektif digunakan sebagai fire retardant. Pada saat terjadi kenaikan temperatur atau
mengalami kebakaran, maka temperatur gypsum board akan naik secara perlahan. Kenaikan
temperatur yang terjadi akan berhenti dan menjadi stabil apabila temperatur gypsum board telah
mencapai kurang lebih temperatur titik didih air (100oC). Hal ini juga menyebabkan Kandungan
air yang terdapat dalam crystalline akan menguap. Proses penguapan ini biasa disebut dengan
istilah calcination. Beragam ketebalan gypsum board yang berada dipasaran saat ini
memungkinkan para desainer dapat melakukan eksperimen-eksperimen untuk mendapatkan hasil
tingkat ketahan api yang
maksimal. Pada prinsipnya semakin tebal gypsum board yang dipakai maka tingkat ketahanan
api yang dihasilkan semakin tinggi (Schultz, 1952).

2. Direct Application Methode


Pada metode ini, baja dilindungi dengan cara langsung, biasanya dengan cara menyemprot
baja tersebut dengan bahan-bahan kimia. Bahan yang biasa digunakan adalah Asbestos fiber,
yang akan mengembang dan bersifat menahan panas apabila terkena api secara langsung.
14
3. Membrane Fireprooping Methode
Metode ini digunakan dengan cara menutup seluruh bagian langit-langit. Pada metode ini
diperlukan rancangan langit-langit secara khusus agar bisa berfungsi untuk menahan oksigen
yang masuk kedalam ruangan.

Salah satu metode yang telah dikembangkan adalah dengan cara memasukan air kedalam kolom
baja yang berbentuk kotak. Metode ini pertama kali digunakan ada United States Steel Building
di Pittsburgh (Brannigan, 1982).

15
BAB IV
KESIMPULAN

Dibandingkan dengan beton bertulang, baja memiliki kekuatan tarik yang luar biasa.
Maka, struktur sebuah bangunan dapat dibuat lebih ramping dan ekspresif (bentuk-bentuk kreatif
non konvensional). Namun, sayangnya, kekuatan tekan dari baja kalah telak jika dibandingkan
dengan beton bertulang. Apalagi daya tahannya terhadap api. Maka, jika menggunakan Baja
(jenis Baja Komposit untuk konstruksi bangunan_sebagai kolom), perlu penanganan yang
khusus, baik itu penanganan secara intrinsik maupun ekstrinsik.
Penanganan intrinsik melibatkan proses pencampuran unsur baja (fe + C) dengan unsur
lain yang dibutuhkan. Kobalt membuat baja tetap kuat pada suhu tinggi, Krom membuat baja
menjadi lebih keras, tahan gesekan, tahan korosi, dan tahan temperature tinggi, Mangan
membuat baja menjadi keras, tahan aus dan tahan gesekan, Molibden memperbaiki kekerasan
baja, tahan goncangan dan tahan temperature tinggi, Nikel membuat baja tahan korosi, Silikon
pada konsentrasi tinggi membuat baja tahan kondisi asam, pada konsentrasi rendah memperbaiki
sifat megnetik dan sifat listrik baja. Vanadium : memperkuat baja dan meningkatkan ketahanan
baja terhadap panas.
Sedangkan penanganan ekstrinsik melibatkan proses pembungkusan (tambahan) pada sisi
luar baja itu sendiri. Ada tiga cara, yakni Encasement Methode, Direct Application Methode,
Membrane Fireprooping Methode.

16
SUMBER BACAAN

Baja, www.wikipedia.org
Fungsi dan Manfaat Konstruksi Baja, www.harrysaragih.wordpress.com
Jenis Baja Struktural, www.gurumuda.com
Keuntungan Baja Sebagai Material Struktu Bangunan, http://api.co.id/17-keuntungan-baja-
sebagai-material-struktur-bangunan.html
Konstruksi Baja, http://www.ginatrussmandiri.com
Konstruksi Baja, www.sites.google.com/site/kisaranteknik
Pengertian Baja, http://azwaruddin.blogspot.com/2008/02/pengertian-baja.html
Penggunaan Konstruksi Baja, www.gurumuda.com
Pilih Baja atau Beton, http://yanartana.com/
Sejarah Struktur Baja, http://rathocivil02.wordpress.com/
Sifat Baja, http://bongez.wordpress.com/2010/05/19/sifat-baja/
Steel, www.wikipedia.org
Teknik Struktur Bangunn dengan Konstruksi Baja, www.crayonpedia.com

17