Anda di halaman 1dari 8

Judul Studi :

ANALISIS SISTEM PENGHITUNGAN PDB YANG BERWAWASAN


LINGKUNGAN

Nama Unit Pelaksana :


Direktorat Kelautan dan Perikanan
Email: ningsih@bappenas.go.id

Abstrak

Kajian ini bertujuan pertama memperoleh informasi yang lengkap mengenai potensi
dan
produktivitas sumber daya alam dan lingkungan hidup ke dalam pehitungan pendapat
an nasional
melalui inventarisasi dan evaluasi, serta penguatan sistem informasi. Kedua meny
usun sebuah
pedoman taktis dan model tentang pengenalan konsep dan cara perhitungan neraca s
umber daya
dan PDB yang berwawasan lingkungan. Ketiga melihat makna dan implikasinya akan
pentingnya memperhitungkan keseimbangan antara pembangunan ekonomi dengan kelest
arian
fungsi lingkungan hidup dalam pembangunan yang berkelanjutan.
Hasil Kajian ini menemukan bahwa keraguan akan menghasilkan PDB Hijau yang
efektif (ketidakpastian kemampuan NSDA). Dalam kenyataan PDB Hijau juga tidak me
ngikutkan
efek general equilibrium, artinya tidak diikuti dengan kebijakan dan usaha dalam
menginternalisasikan lingkungan ke ekonomi oleh sektor produksi. Dalam kenyataan
PDB Hijau
juga tidak mengikutkan efek general equilibrium, artinya tidak diikuti dengan ke
bijakan dan
usaha dalam menginternalisasikan lingkungan ke ekonomi oleh sektor produksi. Ole
h karena itu,
PDB Hijau masih belum bisa dimanfaatkan sebagai pengganti dari penggunaan PDB
Konvensional yang digunakan sebagai salah satu indikator utama dalam kinerja pem
bangunan
dan perekonomian nasional. Dengan berbagai keterbatasan yang ada, PDB Hijau mini
mal dapat
digunakan sebagai satelit (alat pembanding, pengawas dan pengontrol) bagi PDB Ko
nvensional,
dimana besarnya nilai yang ditunjukkan oleh PDB Konvensional merupakan bukan nil
ai yang
sebenarnya apabila memasukkan unsur SDA dan lingkungan dalam perhitungannya. Man
faat
yang tak kalah pentingnya sebagai salah satu manfaat tersirat dalam PDB Hijau- ad
alah
memberi kesadaran pada semua pihak akan pentingnya internalisasi lingkungan ke d
alam
ekonomi, terutama pemerintah -sebagai pemegang otoritas political will- dituntut
untuk sungguh-
sungguh berkomitmen dalam pembangunan SDA dan lingkungan yang berkelanjutan dan
berkeadilan.

I. Latar Belakang

Dalam Propenas 2001-2005 dicanangkan bahwa dalam rangka menerapkan konsep


pembangunan yang berkelanjutan, pelaksanaan pembangunan ekonomi harus didasarkan
pada daya
dukung sumber daya alam, lingkungan hidup, dan karakter sosial. Untuk itu, penge
lolaan pelestarian
sumber daya alam harus didasarkan pada prinsip-prinsip desentralisasi, pengelola
an secara holistik,
keseimbangan, kehati-hatian dini, serta melestarikan kapasitas terbarukan dan ke
adilan antar-generasi.
Untuk melaksanakan strategi kebijakan tersebut, telah dicanangkan program pemban
gunan
pengembangan dan peningkatan akses informasi sumber daya alam dan lingkungan hid
up. Program
ini bertujuan untuk memperoleh dan menyebarluaskan informasi yang lengkap mengen
ai potensi dan
produktivitas sumber daya alam dan lingkungan hidup melalui inventarisasi dan ev
aluasi, serta
penguatan sistem informasi. Sasaran yang ingin dicapai adalah tersedia dan terak
sesnya informasi
sumber daya alam dan lingkungan hidup baik berupa infrastruktur data spasial, ni
lai dan neraca
sumber daya alam dan lingkungan hidup oleh masyarakat luas di setiap daerah. Keg
iatan yang sesuai
dengan sasaran program pembangunan ini antara lain adalah inventarisasi dan eval
uasi potensi
sumber daya alam dan lingkungan hidup serta pengkajian neraca sumber daya alam d
an penyusunan
PDB Hijau (Green GDP) secara bertahap.

Pengembangan penghitungan PDB yang berwawasan lingkungan (PDB Hijau) memberi


harapan akan adanya suatu kerangka pikiran yang bisa mengkombinasikan antara kep
entingan
ekonomi dan kelestarian fungsi lingkungan hidup. Sudah sejak lama, penghitungan
produksi nasional
dilakukan secara konvensional dan kurang memperhatikan aspek eksploitasi sumber
daya alam
beserta aspek dampak dari kerusakan lingkungan hidup. Sementara itu, terjadi di
banyak negara,
kebijakan tentang pelestarian lingkungan hidup seolah dibuat oleh dan hanya untu
k kalangan yang
berkepentingan dengan lingkungan hidup saja dengan mengabaikan hubungannya denga
n lembaga-
lembaga sosial dan ekonomi lainnya.

Indikator yang selama ini digunakan mengukur keberhasilan pembangunan lebih dite
kankan
pada besaran pendapatan per kepita penduduk. Salah satu indikator umum yang lazi
m digunakan
adalah angka PDB per jumlah penduduk. Namun apabila dilihat dari sudut pandang k
onsep
pembangunan yang berkelanjutan, hal itu dinilai masih belum mencukupi. Indikator
ini nampaknya
lebih tepat apabila digunakan untuk mengukur perkembangan ekonomi jangka pendek
dan
menengah. Apabila ukuran tersebut dipakai untuk mengukur perekembangan ekonomi j
angka
panjang, cakupan komponen perhitungan PDB tersebut harus diperluas dengan memper
hitungkan
adanya tingkat penipisan (deplisi) sumber daya alam dan degradasi lingkungan. De
ngan demikian,
gambaran riil akan cost dari pembangunan ekonomi akan bisa terwakili.

Usaha untuk menyelaraskan pembangunan ekonomi dengan disertai upaya pelestarian


lingkungan hidup melalui pendekatan pembangunan berkelanjutan merupakan salah sa
tu fokus
pembangunan nasional dewasa ini. Melalui pembangunan berkelanjutan, diharapkan p
embangunan
ekonomi dan pelestarian lingkungan hidup dapat berjalan secara harmonis dan terp
adu. Oleh karena
itu, penerapan konsep pembangunan berkelanjutan melalui analisis sistem perhitun
gan PDB yang
berwawasan lingkungan sangat dibutuhkan dalam penelitian ini.
2. Maksud dan Tujuan Penelitian

Sejalan dengan arahan kebijakan yang tercakup dalam Propenas 2001-2005, maka dir
asa
penting penelitian ini untuk melakukan analisis sistem penghitungan PDB yang ber
wawasan
lingkungan. Penelitian ini dimaksudkan melihat biaya sosial yang harus ditanggun
g dan
diperhitungkan dalam PDB berkaitan dengan upaya pengelolaan sumber daya alam. Se
dangkan tujuan
penelitian ini antara lain mencakup:

.. Memperoleh informasi yang lengkap mengenai potensi dan produktivitas sumber d


aya alam
dan lingkungan hidup ke dalam pehitungan pendapatan nasional melalui inventarisa
si dan
evaluasi, serta penguatan sistem informasi.
.. Menyusun sebuah pedoman taktis dan model tentang pengenalan konsep dan cara
perhitungan neraca sumber daya dan PDB yang berwawasan lingkungan.
.. Melihat makna dan implikasinya akan pentingnya memperhitungkan keseimbangan a
ntara
pembangunan ekonomi dengan kelestarian fungsi lingkungan hidup dalam pembangunan
yang berkelanjutan.
3. Kegunaan Penelitian

Hasil dari kajian ini diharapkan dapat digunakan untuk berbagai kepentingan, ant
ara lain:

.. Sebagai alat monitor, pengawasan, dan pengendalian terhadap kecenderungan bia


ya dan
manfaat atas penngelolaan SDA yang harus diperhitungkan dalam neraca pendapatan
nasional.
.. Sebagai masukan bagi para pengambil kebijakan maupun perencana untuk mengkaji
pentingnya fungsi lingkungan hidup dalam pembangunan SDA yang berkelanjutan sesu
ai
arah dan strategi kebijaksanaan pengelolaan SDA.
.. Sebagai alat untuk mengantisipasi permasalahan yang kemungkinan timbul dalam
memantapkan pelaksanaan pembangunan yang berkelanjutan dimasa mendatang.

4. Ruang Lingkup Penelitian

Sesuai dengan maksud dan tujuan penelitian sebagaimana dimaksud diuraikan di tas
, maka
penelitian ini menitikberatkan pada analisis stock dan flow PDB yang terkait den
gan kegiatan
pengelolaan dan pemanfaatan SDA. Analisis ini menekankan pada ukuran dan analisi
s tingkat
konservasi dan eksplorasi, serta tingkat biaya penyusutan yang harus dicantumkan
dalam perhitungan
PDB. Data dan informasi yang dimaksudkan mencakup data SDA, seperti kehutanan, p
erikanan,
ketersediaan lahan pertanian, pertambangan, dan sumber daya air. Selanjutnya, da
ta dan informasi
yang digunakan untuk penelitian ini bersumber data sekunder terbitan BPS dan kaj
ian kepustakaan.
Perhitungan Pendapatan Domestik Bruto (PDB) yang berwawasan lingkungan atau PDB
Hijau yang merupakan salah satu target Propenas 2000-2004 dalam program pengelol
aan sumber
daya alam secara berkelanjutan dan berkeadilan ternyata masih mengalami berrbaga
i kendala.

5. Analisa/ Hasil Pembahasan


Kendala utama terjadi karena adanya perbedaan konseptual, pendekatan dan metode
perhitungan (valuasi) antara PDB Konvensional dan Neraca Sumber Daya Alam (NSDA)
yang
menyebabkan terjadi kerancuan dalam penggabungannya menjadi PDB Hijau. PDB Konve
nsional
disusun berdasarkan nilai tambah sektor produksi yang benar-benar dikonsumsi ole
h masyarakat,
sedangkan NSDA disusun berdasarkan perubahan kandungan dan kekayaan SDA yang bel
um tentu
SDA tersebut benar-benar dapat dimanfaatkan atau diambil gunanya sehingga perhit
ungannya
menjadi overvalue.

Sistem perhitungan NSDA sendiri masih mengalami kerancuan dan memberikan hasil y
ang
kurang valid dan akurat. Hal tersebut dikarenakan ada masalah dalam kesinergian
antara data neraca
fisik dan moneter-nya, di mana data neraca fisik ternyata tidak dapat secara lan
gsung menunjukkan
ciri data neraca moneternya, misal: data neraca fisiknya turun (perubahan neto-n
ya negatif) tetapi data
neraca moneternya naik (perubahan neto-nya positif) dan begitu juga sebaliknya.
Ketidaksinergian
tersebut disebabkan oleh adanya asumsi homogenity (semua dianggap sama) dalam ne
raca fisiknya
dan penerapan nilai unit rent yang berbeda-beda dalam neraca moneternya. Masalah
tersebut
menyebabkan perhitungan kerusakan SDA dan lingkungan yang nilai sebenarnya cukup
besar dan
harus mendapatkan perhatian yang serius menjadi kelihatan kecil proporsinya terh
adap total SDA
yang ada dan hasilnya cenderung diacuhkan karena masih tidak terlalu besar nilai
nya.

Metode valuasi dalam NSDA, baik dalam neraca fisik maupun neraca moneter, masih
menggunakan berbagai proxi dan belum ada keseragaman antar berbagai unsur SDA. H
al tersebut
dapat menyebabkan hasil valuasi menjadi under dan overvalue. Valuasi NSDA suatu
wilayah yang
ketersediaan akan data SDA dan lingkungan-nya terbatas menyebabkan untuk perhitu
ngan NSDA
wilayah tersebut menggunakan metode benefit transfer (menggunakan data dan karak
teristik wilayah
lain yang cukup data-nya untuk wilayah sendiri) juga mengakibatkan hasil yang ku
rang valid dan
akurat. Perhitungan NSDA juga baru sebatas perhitungan nilai perubahan neto (dep
lesi) SDA dan
belum sampai pada perhitungan nilai degradasi SDA dan lingkungan sehingga baru m
enghasilkan
nilai PDB yang Semi Hijau.

6. Kesimpulan dan Rekomendasi

Berbagai permasalahan di atas menyebabkan terjadinya stigma buruk bagi perhitung


an PDB
Hijau sendiri, yaitu keraguan akan menghasilkan PDB Hijau yang efektif dan dapat
memberikan
gambaran yang cukup akurat akan realita sesungguhnya (ketidakpastian kemampuan N
SDA). Dalam
kenyataan PDB Hijau juga tidak mengikutkan efek general equilibrium, artinya tid
ak diikuti dengan
kebijakan dan usaha dalam menginternalisasikan lingkungan ke ekonomi oleh sektor
produksi. Oleh
karena itu, PDB Hijau masih belum bisa dimanfaatkan sebagai pengganti dari pengg
unaan PDB
Konvensional yang digunakan sebagai salah satu indikator utama dalam kinerja pem
bangunan dan
perekonomian nasional.

Dengan berbagai keterbatasan yang ada, PDB Hijau minimal dapat digunakan sebagai
satelit
(alat pembanding, pengawas dan pengontrol) bagi PDB Konvensional, dimana besarny
a nilai yang
ditunjukkan oleh PDB Konvensional merupakan bukan nilai yang sebenarnya apabila
memasukkan
unsur SDA dan lingkungan dalam perhitungannya. Manfaat yang tak kalah pentingnya
sebagai salah
satu manfaat tersirat dalam PDB Hijau- adalah memberi kesadaran pada semua pihak
akan
pentingnya internalisasi lingkungan ke dalam ekonomi, terutama pemerintah -sebag
ai pemegang
otoritas political will- dituntut untuk sungguh-sungguh berkomitmen dalam pemban
gunan SDA dan
lingkungan yang berkelanjutan dan berkeadilan.