You are on page 1of 12

IPS “ KEBUDAYAAN DAERAH ACEH “ XI TKJ

1

DISUSUN OLEH :

IPS “ KEBUDAYAAN DAERAH ACEH “ XI TKJ
1

XI TKJ 1

PETA KONSEP
SEJARAH MASUKNYA ISLAM DI ACEH
Lahirnya agama Islam yang dibawa oleh Rasulullah SAW, pada abad ke-7 M, menimbulkan suatu tenaga penggerak yang luar biasa, yang pernah dialami oleh umat manusia.Pendapat lama sepakat bahwa Islam masuk ke Indonesia abad ke-13 M dan pendapat baru menyatakan bahwa Islam masuk pertama kali ke Indonesia pada abad ke-7 M.Namun yang pasti, hampir semua ahli sejarah menyatakan bahwa daerah Indonesia yang mula-mula dimasuki Islam adalah daerah Aceh. Datangnya Islam ke Indonesia dilakukan secara damai, dapat dilihat melalui jalur perdagangan, dakwah, perkawinan, ajaran tasawuf dan tarekat, serta jalur kesenian dan pendidikan, yang semuanya mendukung proses cepatnya Islam masuk dan berkembang di Indonesia. Kegiatan pendidikan Islam di Aceh lahir, tumbuh dan berkembang bersamaan dengan berkembangnya Islam di Aceh. Konversi massal masyarakat kepada Islam pada masa perdagangan disebabkan oleh Islam merupakan agama yang siap pakai, asosiasi Islam dengan kejayaan, kejayaan militer Islam, mengajarkan tulisan dan hapalan, kepandaian dalam penyembuhan dan pengajaran tentang moral.

AGAMA SUKU ACEH
 Agama Yang Berlaku Di Aceh Sejak Maret 2001 telah diberlakukan hukum syariat Islam di Aceh. Hukum yang salah satunya berlaku yaitu, hukum cambuk bagi kasus peenjudi. kondisi Aceh dalam kehidupan sehari – hari dalam penerapan tentang Syariat Islam yang berlaku diantaranya : Hampir sebagian besar wanita Aceh ketika di tempat umum ataupun berkendaraan selalu menggunakan jilbab atau minimal kerudung dan biasanya menggunakan baju lengan panjang. Jarang sekali terlihat pria yang menggunakan celana pendek (celana hawaii) di tempat umum, Minuman beralkohol Sangat sulit untuk ditemukan di daerah aceh walaupun kadar alkoholnya kecil. Itu dikarenakan Aceh adalah salah satu provinsi yang mempunyai tiang agama ( islam ) yang sangat kokoh. Beberapa tempat rekreasi untuk umum seperti pantai Ujong Bate ditutup pintu masuknya bahkan dipalang dengan sebuah pagar kawat sehingga tidak ada orang yang dapat menikmati keindahan pantai tersebut. Mungkin pantai Ujong Bate ditutup karena sering dijadikan ajang berbuat mesum.

IPS “ KEBUDAYAAN DAERAH ACEH “ XI TKJ
1
KELUARGA BATIH
Sistem kelompok keluarga masyarakat aceh umumnya menganut sistim keluarga batih. Rumah tangga terdiri atas keluarga kecil, yaitu ayah, ibu, dan anak-anak yang belum kawin. Apabila anak sudah kawin, ia akan mendirikan rumah tangga sendiri sebagai keluarga batih pula. Seseorang yang baru kawin tidak berapa lama menetap bersama-sama dalam keluarga batih orang tua atau mertuanya.

HUKUM ADAT SUKU ACEH
Hukum yang Berlaku Di aceh yaitu hukum yang didasari oleh syariat islam dimana hendaknya jangan bertentangan dengan hukum Islam. Islam tidak pernah memberatkan atau mempersulit penganutnya. Hukum adat di Aceh selalu berpedoman kepada alquran dan assunnah. Hal ini juga sesuai dengan qanun NAD nomor 7 tahun 2000 bab II pasal 2. Dalam hukum adat semua jenis pelanggaran memiliki jenjang penyelesaian yang selalu dipakai dan ditaati masyarakat. Hukum dalam adat Aceh tidak langsung diberikan begitu saja meskipun dalam hukum adat juga mengenal istilah denda. Dalam hukum adat yang berlaku di Aceh jenis penyelesaian masalah dan sanksi dapat dilakukan dengan 3 langkah yaitu: • Dengan menasihati pelanggar terlebih dahulu. • Tahap kedua teguran, lalu pernyataan maaf oleh yang bersalah di hadapan orang banyak (biasanya di meunasah/ mesjid), • kemudian baru dijatuhkan denda. Artinya, denda sekian rupiah pun tidak langsung dijatuhkan kepada pelanggar. Jenjang penyelesaian ini berlaku pada siapa pun, juga perangkat adat sekalipun.

ADAT ISTIADAT SUKU ACEH
Aceh adalah salah satu provinsi di Indonesia yang sangat menjunjung tinggi adat istiadat dalam masyarakatnya. Hal ini terlihat dengan masih berfungsinya institusi-institusi adat di tingkat gampông atau mukim. Meskipun Undang-undang no 5 tahun 1975 berusaha menghilangkan fungsi mukim, keberadaan Imum Mukim ( Ureueng Aceh ) di Aceh masih tetap diakui dan berjalan. Institusi di tingkat gampông atau mukim merupakan lembaga pemerintahan, yang berperan untuk menyelesaikan masalah yang ada secara adat yang berlaku dalam masyarakatnya. Pengelolaan sumber daya alam pun di atur oleh lembaga adat yang sudah terbentuk. Lembaga-lembaga adat dimaksud antara lain : ➢ Panglima Uteun, ➢ Panglima Laot, ➢ Keujruen Blang, ➢ Haria Pekan, ➢ Petua Sineubok. Bahwa Semua lembaga lembaga adat berfungsi dan berperan sebagai wahana partisipasi masyarakat dalam penyelenggaraan pemerintahan Aceh di bidang keamanan, ketenteraman, kerukunan, dan ketertiban masyarakat. Lahirnya UU no.11 tahun 2006 memperlihatkan pemerintah Indonesia telah mulai berpihak kepada rakyat Aceh. Disana mulai diakui keberadaan mukim dan gampông serta lembaga adat lainnya. Jika lembaga adat ini diberikan wewenang sesuai undang-undang dan peraturan yang berlaku dalam masyarakat, niscaya sumber daya alam di gampông tersebut lestari dan terjaga.

IPS “ KEBUDAYAAN DAERAH ACEH “ XI TKJ
1
Namun, Lembaga-lembaga adat itu sekarang terkesan hilang dalam masyarakat Aceh, karena derasnya arus globalisasi dan westernisasi yang mencoba merubah peradaban masyarakat Aceh. Sedangkan, jika lembaga-lembaga adat tersebut dihidupkan pada suatu gampông, kampung tersebut akan tetap kokoh seperti jayanya masa-masa kesultanan Aceh karena hukum adat selalu pro rakyat  Upacara Agama Upacara Adat Membangun Rumah Upacara adat adalah sejenis kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat secara turun-temurun yang telah menjadi kebiasaan mereka. Upacara adat dalam mendirikan rumoh Aceh banyak dipengaruhi oleh kebudayaan Hindu dan Islam. Sebab di samping diadakannya do’a-do’a sesuai menurut ajaran Islam, dalam upacara tersebut juga terlihat adanya unsur-unsur kepercayaan terhadap roh-roh gaib dan benda-benda yang dianggap keramat. Upacara adat dalam mendirikan rumoh Aceh dilaksanakan secara tiga tahap, yaitu : ✔ Pertama dilaksanakan pada saat pengambilan bahan-bahan rumah dari hutan. ✔ Tahap kedua ketika hendak mendirikan rumah dan ✔ Tahap yang ketiga dilaksanakan upacara adat ketika rumah adat telah siap untuk dihuni/ditempati.

TARIAN – TARIAN SUKU ACEH
Seni tari Aceh mempunyai keistimewaan & keunikan tersendiri. Ciri-ciri Tari Aceh antara lain :  Pada mulanya hanya dilakukan dalam upacara-upacara tertentu yang bersifat ritual bukan tontonan  Kombinasi yang serasi antara tari, musik, dan sastra  Ditarikan secara berkelompok dengan arena yang terbatas  Pengulangan gerakan dalam pola gerak yang sederhana  Waktu penyajian relatif panjang. Provinsi Aceh yang memiliki setidaknya 10 suku bangsa, memiliki kekayaan tari-tarian yang sangat banyak dan juga sangat mengagumkan. Beberapa tarian yang terkenal di tingkat nasional dan bahkan dunia merupakan tarian yang berasal dari Aceh, seperti Tari Rateb Meuseukat dan Tari Saman.

IPS “ KEBUDAYAAN DAERAH ACEH “ XI TKJ
1
 Tari Ratéb Meuseukat

Tari ini diciptakan gerak dan gayanya oleh anak Teungku Abdurrahim alias Habib Seunagan (Nagan Raya), sedangkan syair atau ratéb-nya diciptakan oleh Teungku Chik di Kala, seorang ulama di Seunagan, yang hidup pada abad ke XIX. Isi dan kandungan syairnya terdiri dari sanjungan dan puji-pujian kepada Allah dan sanjungan kepada Nabi, dimainkan oleh sejumlah perempuan dengan pakaian adat Aceh. Tari ini banyak berkembang di Meudang Ara Rumoh Baro di kabupaten Aceh Barat Daya. Pada mulanya Ratéb Meuseukat dimainkan sesudah selesai mengaji pelajaran agama malam hari, dan juga hal ini tidak terlepas sebagai media dakwah. Permainannya dilakukan dalam posisi duduk dan berdiri. Pada akhirnya juga permainan Ratéb Meuseukat itu dipertunjukkan juga pada upacara agama dan hari-hari besar, upacara perkawinan dan lain-lainnya yang tidak bertentangan dengan agama.  Tari Saman

Tari Saman adalah sebuah tarian yang biasa ditampilkan untuk merayakan peristiwaperistiwa penting dalam adat. Syair dalam tarian Saman mempergunakan bahasa Arab dan bahasa Gayo. Selain itu biasanya tarian ini juga ditampilkan untuk merayakan kelahiran Nabi Muhammad SAW. Tari saman merupakan salah satu media untuk pencapaian pesan (dakwah). Tarian ini mencerminkan pendidikan, keagamaan, sopan santun, kepahlawanan, kekompakan dan kebersamaan. Lagu dan syair pengungkapannya secara bersama dan kontinu, pemainnya terdiri dari priapria yang masih muda-muda dengan memakai pakaian adat. Penyajian tarian tersebut dapat juga dipentaskan, dipertandingkan antara group tamu dengan grup sepangkalan (dua grup). Penilaian

IPS “ KEBUDAYAAN DAERAH ACEH “ XI TKJ
1
ditititk beratkan pada kemampuan masing-masing grup dalam mengikuti gerak, tari dan lagu (syair) yang disajikan oleh pihak lawan.

RUMAH ADAT SUKU ACEH
Rumah aceh (Rumah Tradisional Melayu Aceh ) Kepercayaan individu atau masyarakat dan kondisi alam di mana individu atau masyarakat hidup mempunyai pengaruh signifikan terhadap bentuk arsitektur bangunan, rumah, yang dibuat. Pintu utama Rumoh Aceh tingginya selalu lebih rendah dari ketinggian orang dewasa. Biasanya ketinggian pintu ini hanya berukuran 120-150 cm sehingga setiap orang yang masuk ke Rumoh Aceh harus menunduk. Namun, begitu masuk, kita akan merasakan ruang yang sangat lapang karena di dalam rumah tak ada perabot berupa kursi atau meja. Semua orang duduk bersila di atas tikar ngom (dari bahan sejenis ilalang yang tumbuh di rawa) yang dilapisi tikar pandan. Rumoh Aceh bukan sekadar tempat hunian, tetapi merupakan ekspresi keyakinan terhadap Tuhan dan adaptasi terhadap alam. Oleh karena itu, melalui Rumoh Aceh kita dapat melihat budaya, pola hidup, dan nilai-nilai yang diyakini oleh masyarakat Aceh. Adaptasi masyarakat Aceh terhadap lingkungannya dapat dilihat dari bentuk Rumoh Aceh yang berbentuk panggung, tiang penyangganya ang terbuat dari kayu pilihan, dindingnya dari papan, dan atapnya dari rumbia. Pemanfaatan alam juga dapat dilihat ketika mereka hendak menggabungkan bagian-bagian rumah, mereka tidak menggunakan paku tetapi menggunakan pasak atau tali pengikat dari rotan. Walaupun hanya terbuat dari kayu, beratap daun rumbia, dan tidak menggunakan paku, Rumoh Aceh bisa bertahan hingga 200 tahun. Pengaruh keyakinan masyarakat Aceh terhadap arsitektur bangunan rumahnya dapat dilihat pada orientasi rumah yang selalu berbentuk memanjang dari timur ke barat, yaitu bagian depan menghadap ke timur dan sisi dalam atau belakang yang sakral berada di barat. Arah Barat mencerminkan upaya masyarakat Aceh untuk membangun garis imajiner dengan Ka‘bah yang berada di Mekkah. Selain itu, pengaruh keyakinan dapat juga dilihat pada penggunaan tiang-tiang penyangganya yang selalu berjumlah genap, jumlah ruangannya yang selalu ganjil, dan anak tangganya yang berjumlah ganjil.

IPS “ KEBUDAYAAN DAERAH ACEH “ XI TKJ
1

PAKAIAN ADAT DAN SENJATA SUKU ACEH
aneuk-jamee aceh-barat

pakaian-adat-gayo leng

IPS “ KEBUDAYAAN DAERAH ACEH “ XI TKJ
1
 Baju Adat Aceh. Pengantin laki-laki (linto baro) maupun pengantin perempuan (dara baro), keduanya samasama menggunakan baju, celana panjang dan sarung songket. Bahan dasar pakaian pengantin ini dahulu ditenun dengan benang sutera. Pada masa sekarang bahan pakaian banyak yang terbuat dari kain katun, nilon, planel dan sebagainya. Bagi pengantin laki-laki baju dan celana berwarna hitam, sedangkan pengantin perempuan baju berwarna merah atau kuning dengan celana panjang hitam.

IPS “ KEBUDAYAAN DAERAH ACEH “ XI TKJ
1
SENJATA ADAT ACEH
Rencong (Bahasa Aceh: reuncong) adalah senjata tajam belati tradisional Aceh, di pulau Sumatera Indonesia bentuknya menyerupai huruf "L". Rencong termasuk dalam kategori belati yang berbeda dengan pisau atau pedang. Rencong memiliki kemiripan rupa dengan keris. Panjang mata pisau rencong dapat bervariasi dari 10 cm sampai 50 cm. Matau pisau tersebut dapat berlengkung seperti keris, namun dalam banyak rencong, dapat juga lurus seperti pedang. Rencong dimasukkan ke dalam sarung belati yang terbuat dari kayu, gading, tanduk, atau kadang-kadang logam perak atau emas. Dalam pembawaan, rencong diselipkan di antara sabuk di depan perut pemakai. Rencong memiliki tingkatan; untuk raja atau sultan biasanya sarungnya terbuat dari gading dan mata pisaunya dari emas dan berukirkan sekutip ayat suci dari Alquran agama Islam. Sedangkan rencong-rencong lainnya biasanya terbuat dari tanduk kerbau ataupun kayu sebagai sarungnya, dan kuningan atau besi putih sebagai belatinya.

BAHASA SUKU ACEH
Bahasa Aceh adalah bagian dari rumpun bahasa Austronesia.Bahasa ini dituturkan di Aceh, mayoritas sebagian besa wilayah di pesisir ujung utara Sumatera Rumpun bahasa Austronesia . Secara harafiah, Austronesia berarti "Kepulauan Selatan" sedangkan untuk bahasa Latin austrālis yang mempunyai arti "selatan" dan bahasa Yunani nêsos yang berarti "pulau". Austronesia mengacu pada wilayah geografis yang penduduknya menuturkan bahasa-bahasa Austronesia. Wilayah tersebut yaitu Pulau Formosa, Kepulauan Nusantara (termasuk Filipina), Mikronesia, Melanesia, Polinesia, dan Pulau Madagaskar. yang sangat luas penyebarannya di dunia. Dari Taiwan dan Hawai di ujung utara sampai Selandia Baru (Aotearoa) di ujung selatan dan dari Madagaskar di ujung barat sampai Pulau Paskah (Rapanui) di ujung timur.

MAKANAN KHAS ACEH

IPS “ KEBUDAYAAN DAERAH ACEH “ XI TKJ
1

MINUMAN KHAS ACEH

IPS “ KEBUDAYAAN DAERAH ACEH “ XI TKJ
1

KOPI KHAS ACEH

IPS “ KEBUDAYAAN DAERAH ACEH “ XI TKJ
1