Anda di halaman 1dari 8

Sejarah Perkembangan Kurikulum

Memahami sejarah perkembangan kurikulum dari sejak awal berguna untuk


menjelajahi masa-masa aliran yang mempengaruhi perubahan kurikulum.
Perubahan kurikulum khususnya di negara-negara yang sudah maju sering
dipengaruhi oleh dan/atau sebagai perwujudan dari kekuatan masyarakat, dan
perubahan itu biasanya menawarkan suatu pandangan yang lebih luas. Istilah
resminya adalah "innovations and reforms."

Sejarah perkembangan kurikulum secara kronologis telah mengalami enam masa


yang masing-masing mempunyai ciri istimewa, yaitu "academic scientism,
progressive functionalism, developmental conformism, scholarly structuralism,
romantic radicalism, dan privatistic conservatism."
Academic Scientism: 1890-1916
Pada masa ini terdapat dua pengaruh yang nampaknya berkuasa yaitu para ahli dari
kalangan dunia perguruan tinggi yang telah berhasil secara sistematis dan efektif
membuat kurikulum yang didasarkan kepada struktur disiplin keilmuan, dan para
teoritikus pendidikan yang memanfaatkan ilmu pengetahuan dalam penyusunan
kurikulum bagi kepentingan pendidikan. Tokoh-tokoh terkenal pada masa ini
adalah antara lain Charles W. Eliot, Stanley G. Hall, dan Francis W. Parker.

Eliot beranggapan bahwa kurikulum yang terbaik adalah kurikulum yang cocok
bagi anak didik yang akan mempelajarinya. Hall, seorang psikolog terkemuka
aliran Darwinism, meyakini bahwa perubahan sosial terjadi secara evolusi, ia tidak
berubah secara radikal. Oleh karena itu, tugas pokok kurikulum adalah mendukung
perubahan setahap demi setahap dengan cara pembimbingan dan pemberian
kesempatan tumbuh kepada anak didik melalui kegiatan individual atau "child--
centered education." Sedangkan Parker yang oleh Dewey disebut sebagai "the
father of progressive education" nampaknya lebih berpengaruh dan berperanan
daripada Hall terhadap perkembangan pendidikan dan kurikulum. Sumbangan
pemikiran Parker terhadap teori kurikulum sangat jelas dengan gagasan "the child-
centered curriculum", yaitu suatu kurikulum yang disusun atas dasar kebutuhan
anak didik.

Dalam masa ini, pengaruh yang paling kuat dan menarik adalah pandangan aliran
scientific. Pandangan mereka telah mempengaruhi para pemikir pendidikan lainnya
dalam tiga hal pokok. Pertama, pandangan bahwa ilmu pengetahuan menyediakan
dukungan intelektual untuk berpikir rasional. Berbagai masalah dapat diatasi
dengan menerapkan cara berpikir rasional dalam proses ilmiah. Kedua, pandangan
bahwa ilmu pengetahuan menyediakan materi untuk kurikulum. Bahkan Flexner
(1916) telah membuktikan keunggulan ilmu pengetahuan tersebut. Flexner
mengatakan bahwa tujuan utama dari sekolah adalah untuk mempersiapkan anak
didik menguasai dunia nyata, dan persiapan itu akan lebih sempurna apabila
dilengkapi dengan ilmu-ilmu eksakta dan sosial. Selanjutnya, ia mengusulkan agar
dalam kurikulum hendaknya memusatkan perhatian kepada empat bidang utama
yaitu "science, industry, aesthetics, and civics." Terakhir, pandangan bahwa ilmu
pengetahuan menyediakan wahana untuk perbaikan sekolah. Ilmu pengetahuan
menghasilkan pandangan dan dukungan utama tentang sifat kurikulum yang
diinginkan dan tentang apa yang seharusnya dipelajari oleh anak didik.

Progressive Functionalism: 1917-1940


Masa ini ditandai oleh pertemuan dua aliran yang nampaknya berbeda pandangan.
Yang satu adalah para pengikut John Dewey dengan "the child-centered
orientation", dan yang lainnya adalah para ahli kurikulum.

Para pendukung "the child-centered curriculum atau juga sering disebut dengan
"progressive education" memulai menyusun kurikulum dengan menentukan
terlebih dahulu minat anak didik, dan selanjutnya materi yang dipilih dikaitkan
dengan minat tersebut. "The child-centered curriculum" pada hakekatnya adalah
kurikulum yang didasarkan kepada minat, kebutuhan, kemampuan untuk belajar,
dan pengalaman anak didik untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

Para ahli kurikulum atau "functionalism" sebaliknya mengatakan bahwa kurikulum


harus berasal dari analisis tentang fungsi dan kegiatan penting dari kehidupan
orang dewasa. Sebagai contoh pembuatan kurikulum yang dilakukan oleh para
"functionalsm" adalah "Curriculum Construction" yang disusun oleh Charters
(1923). Ia mengusulkan tujuh tahapan proses untuk mengembangkan kurikulum
sebagai berikut:
1) Determine the major objectives by studying the life of man in its social
setting. Such major objectives as citizenship and morality were suggested.
2) Analyze those objectives into ideals and activities, continuing the analysis of
the level of working units. The ideals should be identified by the faculty; the
activities should be derived from objectives studies of the activities of men in
society. This series of discrete and highly detailed steps.
3) Arrange these and ideals and activities in their order of importance.
4) Place in a higher order in this list those ideals and activities which are high
in value for children but low in value for adults, such as the activity of games
and the ideal of obedience.
5) Determine the number of most important items which can be handled in the
time provided for schooling, deducting those which are better learned outside
of school.
6) Collect the best practices of the race in handling those ideals and activities.
7) Arrange the resulting materials in the appro priate instructional order, being
sensitive to the psychological nature of children.

Lebih jelasnya tujuh usulan Charters seperti tersebut di atas yaitu:


(1) menentukan sasaran pokok dengan mempelajari kehidupan manusia dalam
lingkungan masyarakatnya. Sasaran pokok semacam itu disarankan yang
berkaitan dengan kewarganegaraan dan moralitas;
(2) menguraikan sasaran-sasaran tersebut ke dalam tujuan-tujuan dan kegiatan-
kegiatan yang dilanjutkan dengan analisis pada tingkat unit-unit kerja.
Tujuan-tujuan hendaknya dirumuskan oleh ahlinya dan kegiatan-kegiatan
hendaknya bersumber dari penelaahan terhadap kegiatan manusia dalam
masyarakat. Rangkaian ini merupakan langkah-langkah yang sangat terinci
dan memiliki ciri-ciri tersendiri;
(3) menyusun semua hal tersebut berdasarkan urutan kepentingannya;
(4) menempatkan tujuan dan kegiatan yang bernilai tinggi bagi anak-anak tetapi
bernilai rendah bagi orang dewasa, misalnya kegiatan bermain dan ketaatan;
(5) menentukan sejumlah item yang paling penting yang dapat dikerjakan dalam
waktu yang tersedia untuk kegiatan pendidikan di sekolah dengan
mengurangi jumlah item yang dapat dipelajari di luar lingkungan sekolah;
(6) mengumpulkan berbagai keterangan tentang praktik pelaksanaan kurikulum
yang terbaik dalam pencapaian tujuan dan kegiatan; dan
(7) menyusun bahan pelajaran dalam rencana pengajaran yang sesuai dengan
sifat psikologis anak.

Pada akhir usulannya, Charters membuat lebih jelas pandangan functionalism


dengan mengatakan: "School projects cannot be selected haphazard. They are
controlled by two factors: on the one hand they must parallel life activities, and on
the other hand they must include the items of the subjects in their proper
proportions".

Menurut pandangan Charters di atas, rancangan yang berhubungan dengan sekolah


tidak dapat dipilih secara serampangan atau sembrono karena hal tersebut dikontrol
oleh dua faktor yaitu disatu pihak harus selaras dengan kegiatan hidup, dan dipihak
lainnya harus mencakup sejumlah mata pelajaran dalam proporsi yang tepat.
Dua figur tokoh yang pandangannya mengenai kurikulum saling berlawanan arah
yaitu: John Dewey dan Franklin Bobbit. Kedua tokoh tersebut mempunyai
pengaruh kuat pada zamannya. John Dewey menguji keyakinannya yang satu sama
lainnya bertalian erat :
(1) keyakinannya tentang hubungan sekolah dan masyarakat;
(2) keyakinannya tentang teori "the child-centered curriculum", dan
(3) pelaksanaan teori tersebut dalam Laboratory School di Universitas Chicago.

Sedangkan dalam pandangan Bobbit, kurikulum adalah perangkat apa saja yang
dapat digunakan untuk mengolah bahan mentah (the chlid) menjadi hasil akhir (the
model of adult).

Development Conformism: 1941-1956


Periode berikutnya adalah zamannya "developmental conformism". Periode ini
ditandai oleh adanya peningkatan perhatian terhadap implikasi pendidikan anak
dan perkembangan anak remaja. Archambaust (1964) mengatakan bahwa John
Dewey telah sekian lama mengamati tingkat pertumbuhan anak dan remaja secara
jelas: "... the aim of education is growth or development, both intellectual and
moral. Ethical and psychological principles can aid the school in the greatest of all
constructions; the building of a free and powerful character. Only knowledge of
the order and connection of the stages in psychological development can insure
this. Educations is the work of supplying the conditions which will enable the
psychological functions to mature in the freest and fullest manner".

Tujuan pendidikan menurut Dewey adalah pertumbuhan atau perkembangan, baik


intelektual maupun moral. Prinsip-prinsip etika dan psikologi dapat membantu
sekolah dalam pengembangan dan pembentukan karakter yang bebas dan penuh
kekuatan. Hanya ilmu pengetahuan yang tersusun dan terkait dengan tingkat
perkembangan psikologi yang dapat menjamin hal itu. Pendidikan adalah kegiatan
pemenuhan kondisi yang akan memungkinkan fungsi-fungsi psikologi ke tingkat
kematangan dalam sikap.

Dua teoritikus kurikulum yang nampaknya penting dalam periode ini adalah Ralph
Tyler dan Hollis Caswell. Tyler (1950) merumuskan pertanyaan-pertanyaan dasar
yang harus dijawab dalam pengembangan kurikulum. Pertanyaan pertama, "What
educational purposes should the school seek to attain?" (tujuan-tujuan pendidikan
apa yang seharusnya dicapai oleh sekolah?). Menurut Tyler, tujuan-tujuan
pendidikan dapat diidentifikasi dengan cara menelaah tiga sumber yaitu: (1)
peserta didik itu sendiri; (2) kehidupan masa sekarang di luar lingkungan sekolah;
dan (3) pertimbangan para ahli disiplin keilmuan. Tyler menyadari bahwa dengan
analisis yang menyeluruh terhadap ketiga sumber tersebut akan menghasilkan
aneka tujuan, beberapa diantaranya mungkin saling bertentangan. Oleh karena itu,
para ahli kurikulum perlu memilih tujuan-tujuan dengan menggunakan dua
"screens" yaitu: filsafat pendidikan dan psikologi belajar. Tyler menyarankan
bahwa tujuan hendaknya dirumuskan dalam bentuk dua dimensi yaitu: (1)
komponen tingkah laku yang mengidentifikasi pentingnya tingkah laku belajar,
misalnya perkembangan cara berpikir efektif, dan (2) komponen materi yang
diambil dari disiplin keilmuan.
Pertanyaan kedua, "How can learning experiences be selected which are likely to
be useful in attaining these experiences?" (bagaimana pengalaman belajar dapat
dipilih yang mungkin berguna dalam pencapaian pengalaman tersebut?). Tyler
mengemukakan beberapa prinsip umum yang dijadikan pedoman oleh para
perencana kurikulum dalam memilih tujuan. Pertama, pilihlah pengalaman yang
memberikan kesempatan anak didik untuk dapat mempraktekkan jenis tingkah laku
seperti ditetapkan oleh tujuan. Kedua, pengalaman yang dipilih hendaknya sesuai
dengan kemungkinan kemampuan anak didik. Ketiga, anak didik hendaknya dapat
memperoleh kepuasan setelah mempraktekkan jenis tingkah laku yang ditetapkan.
Terakhir, perlu disadari bahwa pengalaman belajar yang sama yang diberikan
kepada seluruh anak didik akan menghasilkan hasil yang berbeda.

Pertanyaan ketiga, "How can learning experiences be organized for effective


instruction?" (bagaimana pengalaman belajar dapat diorganisasikan untuk
pengajaran yang efektif?). Dalam penetapan tentang organisasi kegiatan atau
pengalaman belajar, Tyler menyarankan para pengembang kurikulum hendaknya
mempertimbangkan tiga kriteria sebagai berikut: "continuity, sequences, and
integration". "Continuity" mengacu kepada pengulangan kegiatan belajar secara
vertikal. Maksudnya adalah organisasi pengalaman belajar harus dapat
mengembangkan dan memberikan kesempatan secara terus-menerus kepada anak
didik dalam mempraktekkan kegiatan tersebut; "sequences" adalah pengalaman
belajar harus dapat diurutkan secara lengkap mulai dari awal hingga akhir
pencapaian tujuan dan mulai dari yang paling mudah sampai dengan yang paling
sulit atau sukar; dan "integration" adalah hubungan secara horizontal diantara
urutan pengalaman belajar untuk menjamin keseimbangan tingkah laku yang
diinginkan.

Pertanyaan terakhir, "How can the effectiveness of learning experiences be


evaluated?" (bagaimana keefektifan pengalaman belajar dapat dinilai?). Tyler
menyarankan agar dapat mengembangkan penilian dengan alat uji yang "valid and
reliable" dan yang didasarkan kepada kurikulum serta hasilnya digunakan untuk
menyempurnakan kurikulum. Bentuk penilaian seperti disarankan oleh Tyler akan
dibahas dalam bab yang membahas tentang penilaian kurikulum.

Tokoh kedua, Caswell (1935) pertama memandang pentingnya pengembangan staf


perencana kurikulum sebagai kebutuhan dasar dalam menyusun suatu kurikulum.
Kedua, guru-guru hendaknya dilibatkan dalam pengembangan kurikulum.
Terakhir, pengembangan perangkat yang berguna bagi pengorganisasian kurikulum
dengan menggabungkan tiga serangkai: "child interests, social meaning, and
subject matter". Caswell mulai menyusun kurikulum dengan menelaah berbagai
aspek yang diketahuinya tentang perkembangan anak guna mengidentifikasi bakat
dan minat penting dari anak. kemudian ia beralih kepada masyarakat untuk
mengidentifikasi fungsi dan aspek kehidupan masyarakat yang sesuai dengan
perkembangan anak. Akhirnya, ia menelaah pentingnya materi pelajaran, dalam hal
ini ia menghubungkan fungsi dan aspek kehidupan sosial yang sekiranya tepat
untuk materi pelajaran.
Scholarly Structuralism: 1957-1967
Informasi yang diperoleh dalam periode ini tidak begitu banyak. Kejadian yang
paling menarik bahkan menggemparkan dunia terutama pihak Amerika Serikat
adalah peluncuran satelit ruang angkasa pertama Sputnik kepunyaan Uni Soviet.
Amerika Serikat sangat terpukul dengan peristiwa ini dan untuk mengejar
ketinggalannya, Pemerintah Federal Amerika Serikat telah menyediakan dana
besar-besaran untuk peningkatan program pelajaran ilmu-ilmu eksakta seperti ilmu
fisika dan matematika di sekolah-sekolah.

Salah satu teoritikus kurikulum yang tercatat dalam periode ini adalah Jerome
Bruner. Bruner seorang psikolog dari Universitas Harvard memimpin suatu
konferensi yang dihadiri oleh para ahli science, matematika, dan psikologi atas
prakarsa "the National Academy of Sciences" selang setahun setelah peluncuran
satelit Uni Soviet. Tujuan utama dari konferensi adalah perbaikan program
pelajaran science dan matematika dalam kurikulum pendidikan dasar dan
menengah di Amerika Serikat. Laporan akhir konferensi ditulis oleh Bruner (1960)
dengan judul "The Process of Education", sebuah buku yang berisi usaha-usaha
ambisius untuk peningkatan pendidikan. Dalam buku ini Bruner secara
meyakinkan memberikan dasar yang meliputi banyak hal yang dapat digunakan
oleh para pengikut scholarly structuralism. Pertama, kurikulum sekolah harus
mengutamakan kemudahan "the transfer of learning". Berhubung waktu sekolah
amat terbatas, guru harus mencari alat yang efisien untuk hal tersebut. "The
transfer of learning" akan dapat dicapai dengan baik apabila kurikulum secara
eksplisit direncanakan untuk memungkinkan anak didik memahami struktur ilmu
pengetahuan. Mengenai hal ini lebih lanjut Bruner mengatakan bahwa kontinuitas
belajar dihasilkan oleh penguasaan struktur ilmu pengetahuan, lebih fundamental
atau mendasar gagasan yang ia pelajari akan lebih besar dan luas penggunaannya
terhadap masalah-masalah baru.

Kedua, cara yang paling baik dalam mempelajari struktur ilmu pengetahuan adalah
melalui "discovery or inquiry approach" di mana anak didik berfungsi sebagai ahli
ilmu pengetahuan muda, ahli kimia muda, dan lain sebagainya. Mempelajari ilmu
kimia, sebagai contoh, anak harus betul-betul bertindak seperti ahli kimia.
Pendapat Bruner sangat bertentangan dengan pendapat Piaget. Piaget berteori
bahwa cara belajar seseorang akan ditentukan oleh tingkat perkembangan usianya,
sedangkan Bruner berteori bahwa anak yang masih muda sekalipun dapat
mempelajari struktur ilmu pengetahuan sebab kegiatan intelektual pada tingkat usia
manapun pada dasarnya adalah sama. Selanjutnya Bruner mengatakan bahwa
kurikulum yang disusun berdasarkan penggunaan gagasan pikiran yang terbaik
yang akan menghasilkan para ilmuwan.

Dalam tahun-tahun berikutnya Bruner (1973) mengembangkan "the structure-


based curricula" untuk menggantikan kurikulum yang hanya bersangkut paut
dengan masalah-masalah kemasyarakatan. Bagaimanapun juga, untuk periode
sekurang-kurangnya sepuluh tahun ide Bruner tentang "transfer, structure,
discovery, and readiness" telah memainkan peranan penting dalam semua proyek
pengembangan kurikulum yang dibiayai oleh pemerintah federal Amerika Serikat.
Romantic Radicalism: 1968-1974
Periode ini ditandai oleh berbagai eksperimen dalam usaha mengembangkan "the
child-centered schools and programs". Percobaan mengambil tiga bentuk yang
berbeda tetapi hampir berkaitan antara satu dengan yang lainnya, yaitu "alternative
schools, open classrooms, and elective programs".

"Alternative schools" adalah suatu sekolah yang diselenggarakan untuk


menampung anak didik yang karena berbagai alasan tidak dapat mengikuti
pelajaran dengan baik di sekolah biasa. Ciri-ciri pendidikan yang dilakukan dalam
sekolah semacam ini adalah : (1) guru melakukan sendiri segala kegiatan
pendidikan di sekolah tersebut, (2) sekolah tidak memiliki kepala sekolah, (3)
sekolah tidak memiliki kurikulum yang akan digunakan, (4) yang bernama guru
tidak mutlak harus seseorang yang berpredikat guru, tetapi boleh siapa saja yang
mempunyai keahlian untuk membimbing anak tumbuh dewasa, (5) kegiatan belajar
dipilih terutama atas dasar permintaan anak, dan (6) tempat bernaung kegiatan
pendidikan adalah bangunan tempat ibadah atau kantor, sedangkan kegiatan
praktek kelasnya dapat dilakukan misalnya di musium, pusat rekreasi, atau sekitar
kampus universitas.

"Open classrooms" adalah merupakan salah satu usaha pengembangan pendidikan


yang banyak dipengaruhi oleh pengembangan sekolah dasar di Inggris. Ciri utama
sekolah ini adalah mengutamakan pendekatan belajar yang luwes, guru bertindak
sebagai fasilitator untuk membantu anak yang memerlukan bantuan belajar.
Banyak kritik yang dilontarkan terhadap sekolah ini, diantaranya Horwitz (1979)
dalam hasil risetnya antara lain mengemukakan bahwa pendekatan sekolah
tradisional masih lebih bagus daripada "open classrooms".

"Elective programs" adalah program pilihan yang hanya ditawarkan sebagai bagian
dari sekolah menengah. Konsep dasar dari program pilihan relatif sederhana yaitu
anak diwajibkan memilih salah satu dari berbagai program jangka pendek yang
bukan termasuk ke dalam katagori mata pelajaran seperti musik dan olah raga.
Program tersebut, misalnya, adalah "Woman in Literature", "The Romance of
Sport", dan "War and Peace".

Dalam periode eksperimentasi ini tercatat Carl Rogers yang mendukung "free
schools and open classrooms." Buku yang ditulis oleh Rogers (1969), "Freedom to
Learn: A view of what education might become", cukup berpengaruh dikalangan
para pendidik. Yang paling menarik adalah Holt (1964) yang dalam pandangannya,
guru adalah kurikulum ("the teacher is the curriculum"). Dari perspektif Holt,
sekolah tidak memerlukan "scope and squence charts, clearly articulated
objectives, or specified learning activities". Tetapi sebaliknya sekolah memerlukan
guru yang menawan dan imajiner yang dapat merangsang lingkungan belajar dan
yang dapat melibatkan anak didik dalam pengalaman belajar yang berarti bagi
kehidupannya.

Privatistic Conservatism: 1975--


Periode ini ditandai dengan gerakan "School effectiveness and School reform", dan
"The Critical Thinking Movement". Benyamin Bloom dan John Goodlad dengan
caranya masing-masing telah memberikan sumbangan dan pengaruh terhadap
penelitian dan praktek pendidikan.

Bloom adalah seorang psikolog dan profesor pendidikan di Universitas Chicago


yang pertama kali menyebarkan ide tentang klasifikasi tingkah laku, dan dalam
dunia pendidikan dikenal luas dengan nama "Bloom's Taxonomy". Dalam periode
ini Bloom (1976) memelopori pengembangan teori dan riset tentang "mastery
learning" yang cukup memberikan pengaruh besar dalam pembaharuan
pendidikan. Di Indonesia, "mastery learning" dikenal dengan nama belajar tuntas
yang dikembangkan melalui kurikulum Proyek Perintis Sekolah Pembangunan di
sepuluh perguruan tinggi negeri keguruan (IKIP). Banyak para pengikut Bloom
dan para ahli kurikulum yang melaksanakan teori "mastery learning". Secara
umum, pelaksanaan teori "mastery learning" telah membawa hasil yang positif
dalam reformasi sistem pendidikan. Burns (1979) setelah melakukan penelitian
terhadap pelaksanaan belajar tuntas menyimpulkan bahwa hasil yang ditunjukan
adalah bahwa strategi belajar tuntas memiliki pengaruh kuat terhadap belajar anak
apabila dibandingkan dengan metode pengajaran konvensional.

Goodlad adalah figur lain yang telah banyak memberikan sumbangan besar dalam
sejarah kurikulum. Selama lebih dari pada dua puluh lima tahun ia melakukan
berbagai penelitian, mengorganisasir pusat-pusat pembaharuan pendidikan,
mengajar mahasiswa dalam spesialisasi kurikulum dan pengajaran, dan
menerbitkan berbagai buku ilmiah tentang pendidikan dan ratusan artikel yang
diterbitkan oleh berbagai jurnal dan majalah pendidikan. Para pendidik banyak
yang menerima Goodlad sebagai tokoh kurikulum yang memahami kehidupan
sekolah, yang mempunyai pandangan jelas bagaimana seharusnya sekolah, dan
yang memiliki berbagai ide yang teruji dengan baik untuk membantu sekolah
mencapai tujuannya.

Dari semua bukunya, mungkin yang paling berpengaruh dan bermanfaat adalah "A
Place Called School: Prospects for the Future", diterbitkan 1984 beberapa tahun
setelah gerakan reformasi pendidikan di Amerika Serikat diumumkan secara luas.
Yang membuat karya tersebut termashur adalah pekerjaan besarnya dengan
mengadakan penelitian secara sistematis dan mendalam terhadap 1016 kelas,
mewawancarai 1350 guru, 8624 orang tua, dan 17163 murid. Banyak rekomendasi
yang ia kemukakan, diantaranya ia menyatakan perlunya dibangun sejumlah pusat
penelitian dan pengembangan kurikulum dalam berbagai bidang kurikulum sebagai
alat untuk menyempurnakan materi dan penyajiannya. Pusat-pusat penelitian
tersebut menurut Goodlad hendaknya dilengkapi dengan pusat perencanaan
kurikulum yang bertanggung jawab menerjemahkan hasil penelitian ke dalam
pedoman-pedoman kurikulum yang dapat dipakai langsung oleh sekolah.

Anda mungkin juga menyukai