Anda di halaman 1dari 7

Makalah Paralel dalam Seminar Nasional dengan tema “Revitalisasi Ilmu Pengetahuan

Sosial dalam Perspektif Global”. UPI - Bandung, 21 November 2007.

REVITALISASI ILMU PENGETAHUAN SOSIAL


DALAM PERSPEKTIF GLOBAL
Momon Sudarma
Abstraksi

Dalam menghadapi tantangan dan isu global, revitaliasi pendidikan IPS perlu
dilakukan
dalam tiga aras, yaitu ontologis, epistemologi dan aksiologinya. Dengan adanya
revitalisasi
dalam aspek tersebut, akan berdampak pada pembangungan karakter keilmuan
dari IPS
itu sendiri. Seiring dengan pemikiran ini, ada enam hal penting yang perlu
diperhatikan
dalam melakukan revitalisasi IPS di Indonesia, yaitu (1) menggeser dari hard-skill
ke soft-
skill, (2)
Kata kunciorientasi pada konteks,
: pembelajaran (3)global
IPS, era orientasi
danpemberdayaan
perubahan dan pembudayaan,
(4)
sosial
pemanfaatan
Pendahuluan multimedia, (5) peran meningkatkan
menekankan kebanggaan
pada aspek terhadap bangsa,
intellectual
sertaDalam
(6) mengawali millennium III capital1. Dalam konteks ini Stewart
orientasi
ada beberapa praksis dan rekayasa
perubahan dasarsosial.
dalam (2002) dan Sangkala (2006) merasa
perilaku masyarakat dunia. Ketika orang yakin bahwa manajemen modal
sudah merasa tidak cocok dengan intelektualmerupakankekayaan
pendekatan refresif atau militerisme, strategis dan sumber keunggulan
upaya untuk menata hubungan perusahaan di masa yang akan datang.
internasionalataukomunikasi Pandangan yang serupa dengan
pembangunanantarNegara masalah ini, dikemukakan pula oleh
dikembangkan dengan menggunakan seorang futuris dari Amerika Serikat.
pendekatan soft-power sebagai bentuk PatriciaAburdene(2006)yang
diplomasidenganNegaralain. menengarai bangkitnya spiritualitme
Pendekatan soft-power ini, bukan hanya dalam konteks pertumbuhan dan
dilakukan oleh Negara besar namun perkembangan ekonomi dunia di abad
banyak dilakukan pula oleh Negara- ini. Bahkan Aburdene menyebutnya
negarakecildalammelakukan sebagai megatren 2010 dalam dunia
komunikasipembangunanatau ekonomi kapitalis2.
komunikasi internasional. Bilapaparantersebut
Pada sisi lain, era kejayaan disederhanakan, dapat dikatakan bahwa
ekonomi yang berbasis sumberdaya
alam atau sumberdaya material sudah
mulai menunjukkan kelemahannya, dan
para pelaku ekonomi dunia mulai
memunculkankesadaran baru. 1
Sangkala.IntellectualCapital
Kalangan manajemen memandang Management : Strategi baru Membangun
bahwafaktorstrategisdalam Daya Saing perusahaan. Jakarta :
meningkatkan daya saing sebuah YAPENSI. 2006. Lihat pula Stewart,
perusahaan, tidak lagi terfokus pada Thomas A. Intelectual Capital : Modal
Intelektual, Kekayaan Baru Organisasi.
masalah sumberdaya alam atau
Penerjemah Reza Gunawan. Yakarta :
sumberdaya material namun lebih Elex Mdia Komputindo. .2002
2
Patricia Aburdene. Megatrends 2010 :
BangkitnyaKesadaranKapitalisme.
Penerjemah Arfan Achyar. Jakarta :
Agromedia Pustaka. 2006

21
Makalah Paralel dalam Seminar Nasional dengan tema “Revitalisasi Ilmu Pengetahuan
Sosial dalam Perspektif Global”. UPI - Bandung, 21 November 2007.

kesadaran tentang peran pemberdayaanyang lainnya tidak berpisah secara


manusia dan atau ilmu kemanusiaan, tegas. Aspek satu dengan aspek yang
khususnya ilmu sosial merupakan satu lainnyaberkembangsaling
hal yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. bersinggunganbahkansaling
Pentingnya pengedepanan soft power mempengaruhi (interchanges).
dalam diplomasi dunia menunjukkan Dinamika
pentingnya komunikasi kemanusiaan, dan variasi interaksi antar faktor itulah
interaksi kemanusiaan dan atau yangkemudianmenyebabkan
hubungan yang humanis antar manusia. perubahan-perubahan dasar era global
Dengan kata lain keterampilan sosial menunjukkan perbedaan nyata dengan
(social skill) sebagaimana era peradaban sebelumnya.
dikembangkan Tanpa harus terjebak pada istilah
dalam ilmu pengetahuan sosial menjadi yang kemudian melahirkan perdebatan
sangat penting untuk dimiliki insan yang complicated, penulis memandang
masa bahwa perubahan sosial ini sudah tentu
depan. Hal ini selaras dengan merupakan kelanjutan sejarah manusia
pentingnyapengembanganmodal masa lalu4. Apapun model perubahan
intelektualatauspiritualisme sosialnya, apapun namanya apakah itu
sebagaimanayangkemukakan evolusi, revolusi atau ekses dari
Aburdene. modernisasiyangdikembangkan
Denganbersandarpada masyarakat di masa lalu, masa kini dan
pemikiran tersebut, hipotesis yang masa depan merupakan bagian dan
diusung dalam wacana ini, yaitu kelanjutan dari sejarah peradaban
pentingnyapemberdayaanatau manusia.
revitalisasi ilmu pengetahuan sosial Dengankatalain,untuk
sebagai bagian dari upaya menata mempertahankan eksistensi sebuah
tatanan dunia yang baru (the new ilmu
world). –termasukIPS—perlu
mempertimbangkanaspek-aspek
perubahan sosial yang terjadi saat ini.
Skenario Revitalisasi IPS Namun demikian, hukum sosial tetap
Dalam konteks global, setidaknya perlu diperhatikan bahwa ”merubah
ada tiga perubahan dasar yang sebuah tatanan sosial hari ini tidak
berkembang di lingkungan masyarakat dapat
modern. Pertama, perubahan dalam dilakukan dengan pendekatan yang
peraturan global (regulation changes) melahirkan kondisi sosial hari ini
yaitu dari monopoli ke era kompetisi terjadi”.
terbuka. Kedua, perubahan semangat Dengan kata lain, dalam menghadapi
pasar (market changes), yaitu dari pasar
yang terproteksi ke pasar bebas atau Nasional Manajemen Perguruan Tinggi.
dari pasar yang berorientasi produk ke Bandung 28 March 2005
4 Maksud yang dianggap sebagai sesuatu
arah pasar yang mengendalikan (driven
yang kompleks tersebut yakni masalah
market). Terakhiryaitu perubahan
definisi, apakah saat ini termasuk modern
dalamteknologi(technological ataupostmodern,ataumalahan
changes)3. Perubahan satu dengan fundamentalisme rasional. Istilah-istilah
ini masih menjadi bahan perbincangan di
kalangan ahli studi budaya dan ilmuwan
social. Untuk sekedar contoh wacana yang
mengulas masalah ini dapat dilihat Yasraf
Amir Piliang. Transpolitika : Dinamika
3
Azril Azahari. “Isu-Isu Strategis, Peluang Politik di Dalam Era Virtual. Yogyakarta
dan Tantangan Perguruan Tinggi di : Jalasutra. 2005
Indonesia”. Makalah pada Seminar

22
Makalah Paralel dalam Seminar Nasional dengan tema “Revitalisasi Ilmu Pengetahuan
Sosial dalam Perspektif Global”. UPI - Bandung, 21 November 2007.

tatanan masyarakat baru tidak dapat melakukan pembelajaran seumur hidup.


dilakukandenganmenggunakan Hanya individu yang memiliki semangat
pendekatan ilmu sosial yang telah kerja keras, mandiri, dan inova-kreatif
melahirkan keadaan masyarakat saat inilah yang akan memiliki peluang eksis
ini. di masa mendatang5.
Untuk menjawab masalah ini, Berdasarkan cermatan tersebut,
upaya yang dapat dibangun oleh maka pembelajaran IPS di masa depan
masyarakat ilmu pengetahuan sosial bukan hanya menekankan pada aspek
saat ini yaitu melakukan pergeseran hard-skill ke-IPS-an melainkan pada
karakter pembelajaran mengenai IPS. aspek soft-skill ke-IPS-an.
Dalam kesempatan ini, ada beberapa Kedua,untuk meningkatkan
karakter dasar pergeseran pembelajaran kepekaan sosial seorang siswa maka
IPS yang dapat dijadikan acuan awal sumber pembelajaran IPS tidak hanya
dalam meningkatkan peran dan fungsi terpaku pada buku text (books text
pembelajaran IPS di era global. oriented). Pembelajaran IPS yang dapat
Pertama, pembelajaran IPS perlu mendorong nilai-nilai soft-skill adalah
digeser dari hard-skill oriented menjadi pembelajaran kontekstual dan praktek.
soft-skill oriented.Dalam beberapa Realitas sosial dan media informasi (baik
waktu lalu para pembelajar IPS lebih media cetak maupun elektronik) perlu
senang dan getol melakukan transfer dijadikan sebagai bagian dari sumber
pengetahuan kepada anak didiknya, belajar.
baik Keterpakuan pada kurikulum atau
di bangku kuliah maupun pendidikan prosedur baku terhadap wacana
dasar-menengah. Tradisi seperti ini sebagaimana yang disajikan oleh buku
dapat disebut sebagai contoh kecil dari teks hanya akan menyebabkan
tradisi hard-skill oriented, yaitu yang lemahnya kreativitas anak didik dan
lebihmenekankanpadaaspek mandulnya soft-skill peserta didik.
pengetahuan atau wawasan keilmuan Selaras dengan pemikiran ini, Heru
dari pengetahuan IPS. Nugroho (2002:vii) mengatakan bahwa
Dibalik itu semua sesungguhnya dalam konteks pembakuan kurikulum
ada kebutuhan yang lebih penting lagi danprosedurakademikhanya
yaitu pemilikan mental dan budaya melahirkan turunnya daya kreativitas
hidup serta bersikap pragmatis dan teknis dari
yangungguldankompetitif. kalangan peserta didik6. Oleh karena itu,
Pembelajaran yang berorientasi pada seorang guru (pembelajar) IPS dituntut
mental dan budaya unggul, seperti jiwa memilikikemampuanuntuk
entrepreneurship,leadership,dan memberdayakan sumber belajar secara
kemandirian merupakan bagian dari maksimal dari sumber-sumber media
pembelajaranmengenaisoft-skill massa atau lingkungan sosial. Seorang
oriented. Pada konteks inilah,
pentingnya
intellectual capital menjadi sangat
penting sebagai sumberdaya
keunggulan
individu atau perusahaan di masa
mendatang. Karena dengan soft-skill
seperti ini, seseorang tidak terpaku pada5 Ibid. Sangkala. 2006. Intellectual Capital
pengetahuan yang dimilikinya atau Management………..
keterampilan yang dipunyainya, namun
6 Heru Nugroho. “Pengilmiahan dan
Ambiguitas Sosiologi” Kata Pengantar
bergantung pada semangat kreatif, dalam Rekonstruksi Sosioloi Humanis
inovasi dan kesungguhan kerja untuk Menuju Praksis. Yogyakarta : Pustaka
Pelajar. Yulia Sugandi. 2002.

23
Makalah Paralel dalam Seminar Nasional dengan tema “Revitalisasi Ilmu Pengetahuan
Sosial dalam Perspektif Global”. UPI - Bandung, 21 November 2007.

tenaga pendidik (guru maupun dosen) proses pembelajaran pada satuan


dituntut memiliki kemampuan dalam pendidikandiselenggarakan
mengemas sumber informasi yang secarainteraktif,inspiratif,
memberdayakan, mencerahkan dan menyenangkan,menantang,
membudayakan peserta didik dan bukan memotivasi peserta didik untuk
memperdaya peserta didik. berpartisipasiaktif,serta
Ketiga, pembelajaran IPS yang memberikan ruang yang cukup
memberdayakan dan membudayakan. bagi prakarsa, kreativitas dan
Dalam konteks teori, pembelajaran yang kemandirian sesuai dengan bakat,
memberdayakan dan membudayakan minat dan perkembangan fisik
adalah pendidikan yang memberikan serta psikologis peserta didik.
rangsangan intelektual dan nilai praksis,
sehingga individu mampu berpartisipasi
dalam masyarakat dan menjadi anggota
Peran dan fungsi ini, dapat
masyarakat. Meminjam pandangan
dikembangkandenganmaksimal,
Karlina Leksono-Supeli (1988: xxvi)
manakala setiap tenaga pendidik atau
karakter pendidikan yang perlu
pembelajar IPS mampu menyadari
dibangun
pentingnyapemberdayaansosial.
yaitu proses pendidikan yang harus
Suburnyamasyarakatdunia
mampumemberikanrangsangan
menggunakan pendekatan partisipasi
intelektual atau kegairahan belajar pada
dan community development
anak didik7. Dalam pandangan dia,
merupakan
proses pembelajaran baik yang
contoh lain penerapan IPS dalam
dilaksanakan dalam kelas maupun luar
kontekspemberdayaandan
kelasseyogyanyamenciptakan
pembudayaan.
lingkungan pembelajaran dan proses
Keempat,pemanfaatan
pembelajaran yang memberdayakan,
multimedia sebagai alat pemberdayaan
menyenangkan dan mendorong anak
omnipotence (anekabakat) individu.
untuk menggali pengetahuan lebih luas.
Dalam metode quantum learning peran
Tuntutan dan kebutuhan untuk
terpenting dari seorang guru bukan
menciptakan lingkungan pembelajaran
dalam peran transfer pengetahuan,
yang menyenangkan ini sejalan dengan
melainkan peran dalam menciptakan
rambu-rambustandarproses
situasipembelajaranyang
pembelajaran menurut Standar Nasional
menyenangkan.9 Dengan terbangunnya
Pendidikan Indonesia. Dalam Peraturan
lingkungan belajar yang menyenangkan,
Pemerintah Republik Indonesia (PPRI)
mulai dari cara berinteraksi, model
Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar
pembelajaaran,metodemengajar
Nasional Pendidikan, pasal 19,
sampai pada alat bantu yang digunakan,
dinyatakan bahwa8 :
sesungguhnya lebih penting dari
sekedar
menjelaskan sebuah pengetahuan yang
harus dihapal oleh anak didik.
HowardGarndermisalnya,
memberikan keterangan bahwa setiap
7
Karlina Leksono-Supeli. “Kata Pengantar”
dalamKeArahPembangunan
Desentralisasi Pengajaran. Edward B.
Fiske. Terjemahan. Jakarta : Grasindo. 9
Howard Gardner. 2002. Kecerdasan
1988. Majemuk: Teaori dalam Pratek. Batam:
8 Lihat Peraturan Pemerintah Republik Interaksara.. lihat pula Dave Meier. The
Indonesia Nomor 19 Tahun 2005 Tentang Accelerated Learning. Bandung : Mizan.
Standar Nasional Pendidikan. 2002. Terjemahan Rahmani Astuti.

24
Makalah Paralel dalam Seminar Nasional dengan tema “Revitalisasi Ilmu Pengetahuan
Sosial dalam Perspektif Global”. UPI - Bandung, 21 November 2007.

manusia itu adalah makhluk yang dasar pendidikan nasional. Dalam


cerdas. Hanya saja kecerdasan individu Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas)
itu memiliki keunikan masing-masing. Pasal 3 dinyatakan bahwa ‘pendidikan
Setiap keunikan individu itu harus nasional berfungsi mengembangkan
didekati dengan model pembelajaran kemampuan dan membentuk watak
yang sesuai. Pembelajaran IPS yang sertaperadabanbangsayang
memberdayakan diantaranya adalah bermartabaratdalamrangka
dengan memanfaatkan multimedia mencerdaskan kehidupan bangsa,
sebagai bagian dari upaya merangsang bertujuan untuk berkembangnya potensi
multipotensi atau potensi indrawi anak peserta didik agar menjadi manusia
untuk meningkatkan hasil belajar. yang
Salah satu keunggulan multimedia beriman dan bertakwa kepada Tuhan
yaitu mampu memberikan rangsangan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat,
terhadap lebih dari satu indrawi. berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan
Karakter seperti itu, merupakan potensi menjadi warga Negara yang demokratis
besar untuk meningkatkan raihan nilai serta bertanggungjawab (cetak miring
akhir pembelajaran. Mahesa Kapadia, dari penulis)’.11
dkk. (2006:135) mengatakan bahwa Kebutuhan untuk membangun
salah satu trik untuk mendongkrak daya rasa bangga dan cinta tanah air ini,
ingatdapatdilakukandengan tertangkappuladarisemangat
membangun suasana dan proses geopolitik-nasionalisme pembangunan
pembelajaran yang dapat merangsang dalam pasal 33 UUD 1945. Dalam
multi-indrawi10. Hemat kata dengan undang-undang tersebut dinyatakan
menggunakan multimedia atau sarana bahwa bumi dan air, dan segala isinya di
teknologiinformasi(information kuasai oleh Negara dan dimanfaatkan
technology) maka otak kanan-otak kiri untuk kesejahteraan masyarakat. Pasal
atau indra pendengaran, penglihatan ini merupakan landasan hukum
serta potensi indrawi yang lainnya pentingnya (1) pendidikan geopolitik
terangsang secara bersamaan. sumberdaya alam Indonesia yang
Kelima, pendidikan IPS harus meliputi wilayah daratan dan lautan, hal
diorientasikan untuk memunculkan rasa ini seiring sejalan dengan pentingnya
bangga (dignity) sebagai bangsa pendidikan wawasan nusantara sebagai
Indonesia. Sikapkritis terhadap satu kesatuan ekonomi bangsa
kebijakan yang tidak berpihak pada Indonesia (2) pendidikan politik
rakyat adalah satu hal penting yang mengenai kedaualatan territorial Negara
tidak Indonesia dan hal ini seiring sejalan
boleh dilupakan masyarakat IPS, bamun dengan pentingnya pendidikan wawasan
pembelajaran mengenai cinta tanah, nusantara sebagai satu kesatuan
patriotisme, tanggungjawab pada wilayah dan terakhir (3) yaitu
bangsa pendidikan
dan negara merupakan tanggungjawab mengenai kedaulatan bangsa Indonesia
guru IPS terhadap bangsa dan dalam mengelola berbagai hal modal
negaranya. Hal ini bukan hanya terkait dasar bangsaIndonesiadalam
dengan semangat pembukaan UUD mewujudkan cita-cita bangsa dan
1945, namun terkait pula dengan tujuan negaranya.

10 11 TimRedaksi Nuansa Aulia. UU RI


MahesaKapadia,dkk.2006.
Mendongkrak Daya Ingat : Untuk Orang No.20 Tahun 2003 tentang Sistem
Yang Mudah Lupa. Bandung : Kapadia. Pendidikan Nasional.

25
Makalah Paralel dalam Seminar Nasional dengan tema “Revitalisasi Ilmu Pengetahuan
Sosial dalam Perspektif Global”. UPI - Bandung, 21 November 2007.

Selama ini, baik peneliti masa kini wajib aqli hukumnya (sudah
maupun siswa belajar mengenai harus) untuk mengutamakan
geografi pendekatan
sumberdaya alam Indonesia baru praksis dan peran rekayasa sosial. IPS
sampai pada pendataan dan penjelasan. harus mengedepankan karakter ilmu
Setelah itu mereka belum mampu partisipatifnya dalam proses penataan
terbangkitkansemangatnyauntuk masyarakat, dan bukan sekedar analisis
menjagakekayaanalamatau atau deskripsi semata.
memanfaatkankekayaanuntuk
kepentingan bangsa dan negara. Penutup
Bahkan Merujuk pada analisis ini,
dalam banyak kasus, mereka yang fenomena lemahnya sense of crises dari
mengetahui mengenai sumberdaya para pejabat, lunturnya nasionalisme,
alam tingginya potensi disintegrasi, semangat
bukan dimanfaatkan untuk peningkatan demokrasi yang bercampur dengan
kesejahteraan rakyat malah dijual ke anarkhis, tingginya kriminalitas dan KKN
pihak asing untuk kepentingan diri dan merupakan ekses nyata pendidikan IPS
kelompok. Sikap yang terakhir tersebut, yang lebih mengarah pada kognitif, dan
jelas-jelas merupakan anomalia dari tidak mengarah pada nilai-nilai soft-skill,
hasil proses pendidikan IPS tentang serta pemberdayaan diri menuju
geopolitik sumberdaya alam dan masyarakatberbudayaunggul.
geopolitik pembangunan Indonesia. Fenomena tersebut merupakan bentuk
Terakhir, pendidikan IPS harus kegagalan pembelajaran IPS dalam
diarahkan untuk menjadi bagian dari membangun kesadaran kemanusiaan,
rekayasa sosial (social enggeneering). kesadaransosial,kesadaran
Bila IPS hanya sekedar analisis atau kebangsaan dan kesadaran kebhinekaan
hanya sekedar deskripsi, kehadiran IPS bangsa Indonesia.
ini akan sangat kurang dirasakan oleh Menghadapi kenyataan ini, guru
masyarakat. Ilmu Ekonomi secara IPS memiliki tanggungjawab moral dan
mandiri, memiliki citra yang lebih baik tanggungjawabakademikuntuk
dibandingkan ilmu sosial lainnya membangun karakter bangsa atau
(misalnya geografi), karena ilmu ini karakter generasi muda yang warga
dirasakan oleh masyarakat dan Negarayangdemokratisserta
pengambil kebijakan dalam konteks bertanggungjawab. Hemat kata, ada
rekayasa sosial. Antropologi sempat tiga
menjadi ilmu yang favorit di masa tingkat karakter pembelajaran IPS di
sebelum Perang Dunia II, atas peran masa global ini. Pertama, secara
Antropologi dalam memahami koloni- ontologipembelajaran IPS adalah
koloni bangsa Eropa di belahan bumi pembelajaranmengenaiproses
yang lainnya. Begitu pula ilmu politik penyadaran,pemberdayaandan
yang banyak digunakan untuk analisis pembudayaan nilai kepada anak didik
dan pemetaan masalah global dan untuk menjadi individu sekaligus warga
hubungan internasional. negara. Kedua, secara epistemologi
Bercermin pada sejarah ilmu pembelajaranIPSharus
sosial tersebut, maka perdagangan mengedepankan pendekatan multikultur
global, komunikasi global dan interaksi dan multiaproach, hal ini terkait dengan
kemanusiaan global, menuntun setiap realitas kebhinekaan masyarakat dan
individu untuk belajar ilmu sosial.
Dengan kata lain, pembelajaran IPS di

26
Makalah Paralel dalam Seminar Nasional dengan tema “Revitalisasi Ilmu Pengetahuan
Sosial dalam Perspektif Global”. UPI - Bandung, 21 November 2007.

keanekaragaman potensi anak didik12.


Terakhir,secaraaksiologis
pembelajaran IPS diarahkan untuk
meningkatkan tanggungjawab peserta
didik sebagai individu, masyarakat
negara dan masyarakat global, atau
dalam istilah formal perundangan di
Indonesia yaitu menjadi warga Negara
yangdemokratisserta
bertanggungjawab.

12
HAR Tilaar. Multikulturalisme :
Tantangan-tantanganGlobalMasa
Depan Dalam Transformasi Pendidikan
Nasional. Jakarta : Grasindo. 2004.

27