Anda di halaman 1dari 2

Kata orang, hanya manusia yang dapat tertawa. Apakah benar begitu?

sebuah penelitian
di kalangan siswa sekolah menengah di AS (New Scientist 1961) memerlihatkan bahwa orang
tak selalu tertawa karena lucu atau gembira. Mereka tertawa atas perang bantal di asrama, teman
gadis yang menyibak bajunya, jatuh ketika bermain ski, anjing masuk ke kelas pada jam
pelajaran, salah ucap dalam suatu perdebatan, diejek karena gendut, seorang teman mencoba
menari perut.
Ternyata bukan hanya banyak yang tidak karena gembira ataupun lucu. Orang bisa
tertawa sekadar bagian dari komunikasi sosial atau sekedar penimbul kegaduhan. Tertawa juga
dapat dipakai untuk menutupi gejolak seksual atau sadisme. Karena itu Arthur Koestler dalam
The Act of Creation beranggapan bahwa tertawa harus dilihat sebagai sebuah fenomena model
mekanisme pelatuk. Saat semenit dapat menjadi penumpah sejumlah besar energi dari tekanan
saputan terhadap sadisme, gejolak seks, takut, atau pun kejemuan.
Penelitian ini juga membuktikan bahwa tertawa karena mengejek ternyata lebih
menonjol daripada tertawa karena dagelan yang bijak. Manusia lebih banyak menertawakan
daripada tertawa. Karena itu, jelas sekali terkandung adanya unsur agresi (menyerang) dalam
tertawa itu sendiri. Mungkin menarik bahwa seorang peneliti yang secara iseng membalik-balik
halaman Kitab Suci Perjanjian Lama juga membuktikan hal yang sama. Dari 29 runtutan Kitab
tersebut, terdapat soal tertawa, hanya dua yang dikaitkan dengan rasa gembira. Sementara 13
lebih berhubungan dengan mengejek dan mencemooh.
Memang Agresif
Bukan cuma itu. Para ahli sampai pada suatu kesimpulan bahwa kelenjar yang
menvebabkan orang tertawa sesungguhnva serupa dengan yang merangsang bentuk agresi lain
seperti marah, menyerang, atau bahkan membunuh. Tetesan dari kelenjar adrenalin ini
sesungguhnya bagian purba dari manusia, yang berhubungan dengan sistem syaraf dan pengatur
emosi, dan membuat rasa was-was, agresif maupun defensif.
Pada masanya, kelenjar ini memunyai fungsi yang cukup vital bagi manusia, seperti
kehidupan para hewan liar sekarang. Tetapi perlahan-lahan keamanan, kesenangan, dan
kedamaian semakin mewarnai kehidupan manusia. Barang kali ini rnerupakan sebuah bukti
bahwa evolusi biologis manusia sesungguhnya tertinggal dibanding evolusi mentalnya. Dan ini
berakibat pada tersisanya rangsang agresif-defensif pada manusia, yang untungnya, bentuknya
yang berlebihan mendapatkan penyalurannya melalui tertawa dan menangis. Keduanya (tertawa
dan menangis) menandai refleksi emosi berganda kita. Tertawa sebagai saluran emosi agresif
yang tak diterima akal, sementara menangis sebagai saluran emosi partisipatif yang diterima
akal.
Mungkin karena itulah hanya manusia yang dapat tertawa dalam arti yang sebenarnya.
Sebab tertawa ternyata menuntut dua macam syarat. Pertama, keberadaan hidup yang relatif
aman sehingga energi-energi yang berlebihan perlu mendapat saluran baru. Kedua, sebuah
tingkat evolusi lanjut yang memberi otonomi lebih banyak terhadap penalaran sehingga tak
semata mengikuti rangsang emosi. Hanya pada tingkat inilah emosi-emosi berlebihan itu dapat
ditekan sedemikian rupa sehingga dengan kesadarannya, manusia dapat mengambil jarak
dengan dirinya sendiri dan mengatakan: "sungguh bodoh saya."
Berdasarkan faktor ini, tingkat suatu kehidupan yang berada di bawah manusia
tampaknya tak memunyai kemungkinan untuk tertawa dan tak memerlukan tertawa itu sendiri.
Karenanya, tertawa lalu dapat dianggap sebagai lonceng penyimpangan manusia dari sekadar
mengikuti rel-rel instingnya (nalurinya). Tertawa menjadi pertanda pemberontakannya terhadap
kesatuarahan desakan biologisnya, sebuah penolakan untuk tak sekadar manusia-kebiasaan.
Tertawa juga menjadi lambang tingkat peradaban manusia, menjadi lambang pembudayaan.
Dua Teori
Dalam sebuah kerangka balik, mungkin hal ini dapat menerangkan sekaligus dua teori
yang paling populer mengapa orang tertawa akibat suatu humor, yakni agresi dan pelepasan.
Secara umum, pola dasar dalam segala humor adalah asosiasi berganda (bisosiatif).
Yakni merasa sebuah situasi atau suatu peristiwa dalam dua konteks yang berbeda. Dalam hal
ini, gelombang pikiran seperti berpindah rel dari satu "matrik" ke "matrik" lain yang diatur
dalam kerangka logika atau aturan permainan berbeda.
John Wilkis dikenal sebagai tokoh kaum miskin. Pada suatu hari, seorang penghasut
mengatakan kepadanya, "Tampaknya banyak pengikut fanatik Anda sudah ganti baju sekarang."
Wilkis lalu menjawab, "Tak mungkin. Tak seorang pun di antara mereka yang punya baju untuk
ditulari.
Dalam humor ini, jelas terlihat bahwa "baju" pada sebutan pertama memiliki makna
metaforis, sementara "baju" pada sebutan kedua bermakna harfiah. Yang terjadi bukanlah
sekadar memindahkan arus pemikiran dari kerangka logis yang satu kepada yang lain,
melainkan juga bahwa penyimpangan itu masuk akal. Karena itu, dalam sebuah humor bukan
sekadar terjadi penyimpangan, melainkan penabrakan dua buah aturan permainan.
Bedanya dengan sebuah tragedi dalam kesenian, dalam sebuah humor (komedi)
ketegangan memang dibangun, tetapi tak mencapai klimas yang diduga. Lalu dengan sebuah
pembalikan logis tak terduga, bangunan ini seperti diledakkan sehingga emosi dramatik ini
memuncak secara mendadak dengan energi yang sangat besar, tetapi terus menghilang.
Sementara dalam sebuah tragedi, bangunan ketegangan terus dikembangkan sampai klimaks,
lalu mencapai katarsis dan gejolak emosinya mengambang perlahan.
Tetapi sesungguhnya kerangka ini saja belum dapat menerangkan sepenuhnya mengapa
orang tertawa. Terutama pada humor-humor kasar. Sebagai misal, bentuk peniruan cacat orang
atau karakteristik etnis tertentu, atau bahkan peniruan kemalangan seseorang yang terpeleset
karena menginjak kulit pisang.
Secara sepintas, memang terasa suasana jiwa dalam berbagai jenis humor tampaknya
berbeda-beda. Seperti lelucon porno tentunya seksual,
peniruan tampaknya agresif, lelucon kamar mandi pada anak-anak tampak skatologis, komunia
satiris tampak penuh kemarahan. Memang harus diakui, semakin canggih suatu humor, semakin
subtil mereka menutupi kerangka logis di baliknya dan semakin kaya akan keragaman emosi
yang dilibatkannya. Tetapi betapapun, semua bentuk humor jika kita amati, ia menampilkan
gejolak agresi dan aprehensi. Dia sekaligus merupakan kecenderungan agresif-defensif tapi
sekaligus juga sebuah pernyataan diri sendiri. Mereka yang tertawa atas lelucon John Wilkis
dalam contoh tadi, sekaligus diledakkan oleh tabrakan antara logika baju metaforis dan makna
harfiah, tersalur agresinya atas bentuk-bentuk "sok pahlawan" macam Wilkis atau pun "sok
berpolitik", padahal untuk berpakaian saja sulit, serta penyataan diri lebih sadar dari mereka
semua.
Kenyataan adanya gejolak agresi berlebihan pada manusia yang tersalur melalui humor,
maka humor sebagai bagian menyeluruh kegiatan tertawa memang merupakan sebuah
pelepasan. Sebab itu, seperti yang dikatakan oleh psikolog sosial, Sartono Mukadis, humor
dapat dianggap sebagai barometer gejolak sosial, di samping sebagai pelepasan gejolak agar tak
menjadi agresi yang lebih bersifat fisik.
Mungkin dalam pengertian inilah, pernyataan klise bahwa tertawa itu sehat dapat
menemukan maknanya kembali. Dia membuat kita mampu mengambil jarak dengan kenyataan,
dan sesungguhnya dari pergumulan diri sendiri, walaupun mungkin hanya sejenak. Tertawa itu
penting karena dapat mendewasakan kita menghadapi berbagai kenyataan hidup. (k5487)
Diambil dari:
Judul buku: Kalam Hidup, Oktober 1997
Halaman: 32 -- 34