P. 1
Laporan_trwIV10

Laporan_trwIV10

|Views: 620|Likes:
Dipublikasikan oleh Gede Juliarsa
LAPORAN PERKEMBANGAN PELAKSANAAN
TUGAS DAN WEWENANG BANK INDONESIA DI
BIDANG MONETER, PERBANKAN, DAN
SISTEM PEMBAYARAN

Penyampaian Laporan Perkembangan Pelaksanaan Tugas dan
Wewenang Bank Indonesia kepada Dewan Perwakilan Rakyat (DPR)
dan Pemerintah pada setiap triwulan merupakan pemenuhan amanat
yang digariskan dalam Undang-Undang No.23 Tahun 1999 tentang
Bank Indonesia sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-
Undang No.6 Tahun 2009. Penyampaian laporan tersebut pada
hakikatnya merupakan salah satu wujud dari akuntabilitas dan
transparansi atas pelaksanaan tugas dan wewenang Bank Indonesia.
Laporan triwulan kali ini merupakan laporan triwulan keempat di
tahun 2010 yang mengevaluasi pelaksanaan tugas dan wewenang
Bank Indonesia selama periode Oktober – Desember 2010 terutama
dalam pencapaian sasaran inflasi dan sasaran moneter lainnya yang
telah ditetapkan pada awal tahun 2010...
LAPORAN PERKEMBANGAN PELAKSANAAN
TUGAS DAN WEWENANG BANK INDONESIA DI
BIDANG MONETER, PERBANKAN, DAN
SISTEM PEMBAYARAN

Penyampaian Laporan Perkembangan Pelaksanaan Tugas dan
Wewenang Bank Indonesia kepada Dewan Perwakilan Rakyat (DPR)
dan Pemerintah pada setiap triwulan merupakan pemenuhan amanat
yang digariskan dalam Undang-Undang No.23 Tahun 1999 tentang
Bank Indonesia sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-
Undang No.6 Tahun 2009. Penyampaian laporan tersebut pada
hakikatnya merupakan salah satu wujud dari akuntabilitas dan
transparansi atas pelaksanaan tugas dan wewenang Bank Indonesia.
Laporan triwulan kali ini merupakan laporan triwulan keempat di
tahun 2010 yang mengevaluasi pelaksanaan tugas dan wewenang
Bank Indonesia selama periode Oktober – Desember 2010 terutama
dalam pencapaian sasaran inflasi dan sasaran moneter lainnya yang
telah ditetapkan pada awal tahun 2010...

More info:

Published by: Gede Juliarsa on Feb 24, 2011
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/14/2013

pdf

text

original

LAPORAN PERKEMBANGAN PELAKSANAAN TUGAS DAN WEWENANG BANK INDONESIA DI BIDANG MONETER, PERBANKAN, DAN SISTEM PEMBAYARAN

Triwulan IV – 2010

...Penyampaian Laporan Perkembangan Pelaksanaan Tugas dan Wewenang Bank Indonesia kepada Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan Pemerintah pada setiap triwulan merupakan pemenuhan amanat yang digariskan dalam Undang-Undang No.23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia sebagaimana telah diubah terakhir dengan UndangUndang No.6 Tahun 2009. Penyampaian laporan tersebut pada hakikatnya merupakan salah satu wujud dari akuntabilitas dan transparansi atas pelaksanaan tugas dan wewenang Bank Indonesia. Laporan triwulan kali ini merupakan laporan triwulan keempat di tahun 2010 yang mengevaluasi pelaksanaan tugas dan wewenang Bank Indonesia selama periode Oktober – Desember 2010 terutama dalam pencapaian sasaran inflasi dan sasaran moneter lainnya yang telah ditetapkan pada awal tahun 2010...

⎜ KATA PENGANTAR ⎟

KATA PENGANTAR
Seiring dengan pemulihan ekonomi global, perekonomian Indonesia pada triwulan keempat tahun 2010 mengalami akselerasi pertumbuhan ekonomi. Membaiknya perekonomian nasional didukung oleh permintaan domestik yang kuat, terutama konsumsi dan investasi. Pada triwulan IV-2010 pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan tumbuh sebesar 6,1% (yoy) dan untuk keseluruhan tahun mencapai sekitar 6,0%, jauh lebih tinggi daripada pertumbuhan tahun 2009 sebesar 4,5%. Selain meningkatnya pertumbuhan ekonomi, perkembangan lain yang menyertai dinamika perekonomian Indonesia adalah berlanjutnya aliran masuk modal asing dan tekanan inflasi yang mulai merambat naik. Sementara itu Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) pada triwulan IV-2010 tetap mencatat surplus cukup besar sebagai akibat masih besarnya aliran modal asing terutama investasi portofolio dan penanaman modal asing (PMA). Dengan perkembangan tersebut, posisi cadangan devisa di akhir triwulan IV-2010 mencapai USD96,2 miliar atau setara dengan 7,1 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri (ULN) Pemerintah. Akumulasi cadangan devisa tersebut meningkat signifikan dibandingkan posisi akhir tahun 2009 sebesar USD66,1 miliar. Di sisi stabilitas harga, inflasi pada tahun 2010 mengalami kenaikan sehingga mencapai 6,96%, atau mengalami deviasi dari target sasaran inflasi yang ditetapkan Pemerintah sebesar 5+1%. Deviasi realisasi inflasi terutama akibat faktor non fundamental yaitu melonjaknya inflasi volatile foods (kelompok barang yang harganya bergejolak dan umumnya terdiri dari bahan makanan). Kenaikan inflasi volatile foods akibat pengaruh anomali cuaca yang mengganggu pasokan dan distribusi serta perkembangan harga pangan global. Dapat dikemukakan bahwa fenomena kenaikan inflasi volatile foods yang cukup tajam juga dialami oleh beberapa negara di kawasan. Bank Indonesia merespon perkembangan tersebut dengan mempertahankan BI Rate pada level 6,50%. Bersamaan dengan itu, kedepan Bank Indonesia tetap mewaspadai meningkatnya tekanan inflasi seiring dengan kemungkinan masih terjadinya gangguan pasokan bahan makanan dan penyesuaian harga-harga komoditas yang ditetapkan Pemerintah (administered prices). Berkenaan dengan itu, Bank Indonesia mengoptimalkan berbagai instrumen kebijakan yang tersedia melalui bauran kebijakan moneter dan macroprudential policy secara seimbang dan terukur sebagaimana kebijakan yang dilakukan pada bulan Juni dan Desember 2010. Sementara itu, stabilitas sistem keuangan masih terjaga seiring meningkatnya fungsi intermediasi perbankan yang diimbangi dengan likuiditas yang memadai. Rasio kecukupan modal (CAR) masih berada pada level yang tinggi sedangkan rasio kredit bermasalah (NPL) masih berada dalam batas aman. Sejauh ini krisis utang yang terjadi di Eropa belum memberikan dampak negatif terhadap kinerja perbankan nasional karena eksposur perbankan nasional terhadap perbankan di negara-negara Eropa masih relatif kecil.

i

⎜ KATA PENGANTAR ⎟

Perkembangan ekonomi domestik diperkirakan terus membaik didukung oleh kondisi ekonomi global dan stabilitas makro yang terjaga. Ekonomi domestik pada tahun 2011 diperkirakan mengalami akselerasi dengan pertumbuhan mencapai kisaran 6,0%-6,5%. Sementara itu investasi diperkirakan juga akan meningkat didorong oleh kuatnya permintaan domestik, potensi kenaikan peringkat (rating) Indonesia menjadi investment grade dan perbaikan birokrasi Pemerintah. Sementara itu laju inflasi pada tahun 2011 diperkirakan mencapai 5±1%. Prospek pertumbuhan ekonomi dan inflasi ke depan memiliki beberapa risiko yang patut dicermati. Dari sisi eksternal, risiko tersebut antara lain ketidakpastian pemulihan ekonomi global, kenaikan harga komoditas internasional dan derasnya aliran modal asing. Dari sisi domestik, faktor risiko antara lain meningkatnya ekses likuiditas di sektor keuangan, kemungkinan gangguan produksi dan distribusi bahan kebutuhan pokok serta kemungkinan terjadinya kenaikan harga komoditas yang dikendalikan Pemerintah (administered prices). Berbagai risiko tersebut menyebabkan respon kebijakan makroekonomi dan moneter menjadi lebih kompleks. Untuk itu, kebijakan yang akan ditempuh Bank Indonesia tetap diarahkan untuk menjaga stabilitas moneter dan sistem keuangan serta mendorong peran perbankan melalui program konsolidasi dan intermediasi. Demikian gambaran singkat materi laporan pelaksanaan tugas dan wewenang Bank Indonesia selama triwulan IV-2010.

Jakarta, 21 Januari 2011 GUBERNUR BANK INDONESIA

Darmin Nasution

ii

⎜ DAFTAR ISI ⎟

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ........................................................................................................... i DAFTAR ISI ........................................................................................................................ iii DAFTAR TABEL ................................................................................................................. vii DAFTAR GRAFIK ............................................................................................................... ix BAB 1. TINJAUAN UMUM................................................................................................. 1 BAB 2. PERKEMBANGAN MAKROEKONOMI TERKINI .................................................... 7 1. Pertumbuhan Ekonomi .................................................................................... 1.1. Pertumbuhan Ekonomi Menurut Penggunaan ........................................... 1.2. Pertumbuhan Ekonomi Menurut Lapangan Usaha ..................................... 2. Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) ................................................................. 2.1. Transaksi Berjalan ..................................................................................... 2.2. Transaksi Modal dan Finansial ................................................................... 2.3. Cadangan Devisa ...................................................................................... 7 8 12 14 14 14 15

BAB 3. PERKEMBANGAN DAN KEBIJAKAN MONETER .................................................. 17 1. Kebijakan Moneter dan Pasar Keuangan .......................................................... 1.1. Perkembangan Suku Bunga ...................................................................... 1.2. Perkembangan Uang Beredar.................................................................... 1.3. Perkembangan Pasar Keuangan ................................................................ 2. Nilai Tukar Rupiah............................................................................................ 3. Perkembangan Inflasi....................................................................................... 3.1. Inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) ......................................................... 3.2. Desagregasi Inflasi .................................................................................... 4. Strategi Kebijakan............................................................................................ Boks : Akuntabilitas Pencapaian Sasaran Inflasi Tahun 2010 ................................... 17 17 18 19 20 22 22 23 25 28

BAB 4. PERKEMBANGAN DAN EVALUASI KEBIJAKAN PERBANKAN ............................ 33 1. Pengaturan dan Pengawasan Perbankan .......................................................... 1.1. Penyempurnaan Ketentuan Perbankan...................................................... 1.2. Perkembangan Persiapan Penyempurnaan Sistem Pengawasan Bank dan Implementasi Basel II................................................................................. 1.3. Implementasi Arsitektur Perbankan Indonesia (API).................................... 2. Perkembangan Kinerja Perbankan .................................................................... 2.1. Gambaran Umum Perbankan Indonesia..................................................... 2.2. Perkembangan Kredit................................................................................ 2.3. Perkembangan Sumber Dana .................................................................... 2.4. Likuiditas .................................................................................................. 2.5. Profitabilitas.............................................................................................. 2.6. Permodalan .............................................................................................. 3. Perkembangan Perbankan Syariah ................................................................... 4. Perkembangan Bank Perkreditan Rakyat........................................................... 4.1. Kelembagaan ........................................................................................... 33 33 34 35 36 36 37 38 39 40 41 42 44 44

iii

⎜ DAFTAR ISI ⎟

4.2. Kinerja Industri BPR................................................................................... 44 5. Perkembangan Investigasi dan Mediasi Perbankan ........................................... 45 BAB 5. PERKEMBANGAN DAN EVALUASI KEBIJAKAN SISTEM PEMBAYARAN ............ 47 1. Perkembangan dan Evaluasi Kebijakan Pengedaran Uang................................. 47 1.1. Kondisi Umum Pengedaran Uang.............................................................. 47 1.2. Perkembangan Uang Kartal Yang Diedarkan di Masyarakat dan Perbankan (UYD) ....................................................................................................... 48 1.3. Transaksi Uang Kartal Melalui Bank Indonesia dan Pemusnahan Uang ....... 49 1.4. Temuan Uang Palsu .................................................................................. 49 1.5. Evaluasi Kebijakan Pengedaran Uang ........................................................ 49 1.5.1. Ketersediaan Uang Rupiah yang Berkualitas dan Terpercaya............ 50 1.5.1.1. Kecukupan Uang Kartal Siap Edar Menghadapi Natal dan Tahun Baru ....................................................................... 50 1.5.1.2. Upaya Penanggulangan Peredaran Uang Palsu ................... 50 1.5.2. Pengedaran Uang yang Aman, Handal, dan Efisien ......................... 50 1.5.2.1. Realisasi Distribusi Uang ..................................................... 50 1.5.2.2. Strategi Pengiriman Uang Mengadapi Natal dan Tahun Baru 51 1.5.3. Layanan Kas Prima dan Efektif ........................................................ 51 1.5.3.1. Strategi Layanan Penukaran Uang Pecahan Kecil Menjelang Natal dan Tahun Baru ..................................................................... 51 1.5.3.2. Efisiensi Waktu Layanan Kas............................................... 51 1.6. Arah Kebijakan ......................................................................................... 52 2. Perkembangan dan Evaluasi Kebijakan Sistem Pembayaran Non Tunai.............. 52 2.1. Perkembangan Sistem Pembayaran ........................................................... 52 2.1.1. Perkembangan Transaksi BI-RTGS ................................................... 53 2.1.2. Perkembangan Transaksi BI-SSSS .................................................... 53 2.1.3. Perkembangan Kliring..................................................................... 54 2.1.4. Perkembangan Alat Pembayaran Menggunakan Kartu (APMK) dan Uang Elektronik.............................................................................. 54 2.2. Kebijakan dan Isu Terkini .......................................................................... 55 2.2.1. Standarisasi Kartu ATM dan Kartu Debet ........................................ 55 2.2.2. Penyusunan Standar Uang Elektronik .............................................. 55 2.2.3. Pembentukan Self Regulatory Organization (SRO) Sistem Pembayaran ................................................................................... 55 2.2.4. Pembentukan National Payment Gateway (NPG) ............................. 56 2.2.5. Pengembangan Sistem BI-RTGS dan BI-SSS Generasi II .................... 56 2.2.6. Pengembangan Sistem Kliring Bank Indonesia................................. 56 2.3. Arah Kebijakan Sistem Pembayaran........................................................... 56 BAB 6. PROSPEK EKONOMI DAN ARAH KEBIJAKAN MENDATANG .............................. 1. Prospek Perekonomian Internasional ................................................................ 2. Prospek Pertumbuhan Ekonomi ....................................................................... 2.1. Prospek Pertumbuhan Ekonomi Menurut Penggunaan .............................. 2.2. Prospek Pertumbuhan Ekonomi Menurut Lapangan Usaha ........................ 3. Perkiraan Inflasi ............................................................................................... 4. Faktor Risiko .................................................................................................... 5. Respon dan Arah Kebijakan Kedepan............................................................... 59 59 60 60 63 66 66 67

iv

⎜ DAFTAR ISI ⎟

LAMPIRAN 1. EVALUASI KEBIJAKAN MANAJEMEN INTERN .......................................... 1. Governance ..................................................................................................... 1.1. Perencanaan Strategis dan Manajemen Kinerja.......................................... 1.2. Audit Intern .............................................................................................. 1.3. Manajemen Keuangan Intern .................................................................... 2. Bidang Organisasi dan Sumber Daya Manusia (SDM) ........................................ 2.1. Kebijakan Organisasi dan Sumber Daya Manusia ....................................... 2.2. Program Pengelolaan Organisasi dan Sumber Daya Manusia ..................... 3. Bidang Hukum................................................................................................. 4. Bidang Teknologi Informasi.............................................................................. 5. Bank Indonesia Social Responsibility (BSR) & Partisipasi Edukasi Publik (PEP) ...... 5.1. Bank Indonesia Social Responsibility (BSR) ................................................. 5.2. Partisipasi Edukasi Publik (PEP) .................................................................. LAMPIRAN 2. PRODUK HUKUM BANK INDONESIA SELAMA TRIWULAN III-2010 ........ 1. Peraturan Bank Indonesia................................................................................. 2. Peraturan Dewan Gubernur ............................................................................. 3. Surat Edaran Ekstern Bank Indonesia................................................................ 4. Surat Edaran Intern Bank Indonesia ..................................................................

69 69 69 70 71 72 72 73 74 76 77 77 77 79 79 79 79 80

DAFTAR ISTILAH ............................................................................................................... 83 DAFTAR SINGKATAN........................................................................................................ 87

v

⎜ DAFTAR ISI ⎟

Halaman ini sengaja dikosongkan.

vi

⎜ DAFTAR TABEL ⎟

DAFTAR TABEL
1.1. Indikator Ekonomi Makro & Perbankan................................................................................. 6 2.1. Pertumbuhan PDB Menurut Penggunaan.............................................................................. 8 2.2. Pertumbuhan PDB Menurut Lapangan Usaha ....................................................................... 12 3.1. Perkembangan Suku Bunga Perbankan................................................................................. 18 3.2. Perbandingan Asumsi dan Realisasi Inflasi Tahun 2010 ......................................................... 30 4.1. Indikator Utama Perbankan .................................................................................................. 4.2. Profitabilitas Industri Perbankan ............................................................................................ 4.3. Indikator Utama BPR............................................................................................................. 4.4. Pelaksanaan Fungsi Investigasi Perbankan............................................................................. 4.5. Rincian Penanganan Kasus Perbankan .................................................................................. 4.6. Permohonan Mediasi 2010 ................................................................................................... 5.1. Perkembangan Indikator Pengedaran Uang 2010 ................................................................. 5.2. Perkembangan Transaksi BI-RTGS ......................................................................................... 5.3. Perkembangan Transaksi BI-SSSS .......................................................................................... 5.4. Perkembangan Transaksi Kliring............................................................................................ 5.5. Perkembangan Transaksi APMK............................................................................................ 37 41 45 46 46 46 48 53 54 54 55

6.1. Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Menurut Penggunaan......................................................... 62 6.2. Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Menurut Lapangan Usaha................................................... 65

vii

⎜ DAFTAR TABEL ⎟

Halaman ini sengaja dikosongkan.

viii

⎜ DAFTAR GRAFIK ⎟

DAFTAR GRAFIK
2.1. Perkembangan PDB.................................................................................................... 2.2. Pertumbuhan Penjualan Kendaraan Bermotor............................................................. 2.3. Indeks Penjualan Eceran Beberapa Kelompok Komoditas ............................................ 2.4. Impor Mesin untuk Kegiatan Produksi ........................................................................ 2.5. Impor Mesin untuk Kegiatan Telekomunikasi.............................................................. 2.6. PMTB Bangunan ........................................................................................................ 2.7. Realisasi PMA dan PMDN (BKPM) ............................................................................... 2.8. Nilai Investasi (SKDU-BI).............................................................................................. 2.9. Indeks Tendensi Bisnis – BPS (Perkiraan)...................................................................... 2.10. Total Ekspor, Ekspor Migas dan Non Migas (Nilai Riil).................................................. 2.11. Ekspor NonMigas : SDA dan Non SDA (Volume) ......................................................... 2.12. Impor Non Migas Menurut Kelompok Barang............................................................. 2.13. Total Impor, Impor Migas dan NonMigas (Nilai Riil) ..................................................... 2.14. Indikator Penuntun Sektor Industri Pengolahan........................................................... 2.15. Indikator Penuntun Sektor Perdagangan..................................................................... 3.1. Pertumbuhan Uang Beredar ....................................................................................... 3.2. IHSG dan BI Rate........................................................................................................ 3.3. Nilai dan Volume Perdagangan IHSG .......................................................................... 3.4. Yield SUN dan CDS .................................................................................................... 3.5. Yield SBN dan Volume Perdagangan Harian................................................................ 3.6. Pergerakan Nilai Tukar Rupiah .................................................................................... 3.7. Volatilitas Nilai Tukar Rupiah ...................................................................................... 3.8. Indikator Persepsi Risiko Indonesia.............................................................................. 3.9. Premi Swap Berbagai Tenor........................................................................................ 3.10. UIP (Uncovered Interest Parity).................................................................................... 3.11. Perkembangan Inflasi IHK........................................................................................... 3.12. Inflasi Kelompok Volatile Food.................................................................................... 3.13. Inflasi Kelompok Inti................................................................................................... 3.14. Ekspektasi Inflasi Konsumen (SK) ................................................................................ 3.15. Inflasi Inti Ekspektasi .................................................................................................. 3.16. Pertumbuhan Kapasitas Produksi................................................................................ 4.1. Pedoman Pelaksanaan Internal Capital Adequacy Assessment Process (ICAAP) ............ 4.2. Pertumbuhan Kredit Jenis Penggunaan....................................................................... 4.3. Perkembangan NPL Perbankan ................................................................................... 4.4. Perkembangan DPK per Komponen............................................................................ 4.5. Perkembangan Alat Likuid per Kelompok ................................................................... 4.6. Pangsa Alat Likuid per Kelompok Bank Berdasarkan Total Aset ................................... 4.7. Rasio Alat Likuid terhadap NCD.................................................................................. 4.8. L/R Perbankan (bulanan)............................................................................................. 4.9. Perkembangan NII (bulanan)....................................................................................... 4.10. Proyeksi dan Realisasi CAR ......................................................................................... 4.11. Perkembangan Aset, Kredit dan DPK.......................................................................... 8 9 9 9 9 10 10 10 10 11 11 11 11 13 13 19 19 19 20 20 21 21 21 21 22 22 23 23 24 24 24 34 38 38 39 39 40 40 41 41 42 44

ix

⎜ DAFTAR GRAFIK ⎟

5.1. Perkembangan UYD Harian Selama Triwulan IV Tahun 2008 – 2010........................... 48

x

⎜ TINJAUAN UMUM ⎟

BAB 1 TINJAUAN UMUM
Pemulihan ekonomi global yang berlanjut turut mempengaruhi kinerja perekonomian nasional pada triwulan IV-2010. Pertumbuhan ekonomi global terlihat terus meningkat, meskipun masih terdapat risiko terkait krisis di Irlandia. Pemulihan ekonomi global tersebut diikuti oleh meningkatnya tekanan inflasi, terutama di negara-negara berkembang akibat kuatnya pertumbuhan ekonomi. Sementara itu, inflasi di negara maju seperti di Jepang mulai menyentuh level positif, sedangkan Amerika Serikat masih menghadapi ancaman deflasi seiring dengan tren pergerakan inflasi inti yang terus menurun. Berlanjutnya pemulihan ekonomi global tersebut turut memicu sentimen positif di pasar keuangan global, meskipun pada sisi lain juga mendorong peningkatan harga komoditas di pasar internasional. Terhadap berbagai perkembangan ini, bank sentral negara-negara maju merespon dengan kecenderungan mempertahankan suku bunga kebijakan pada level yang rendah. Sementara itu, bank sentral negara-negara emerging markets mulai melakukan pengetatan dengan meningkatkan suku bunga kebijakannya disertai pengelolaan capital inflows dan beberapa kebijakan makroprudensial. Pemulihan ekonomi global yang masih berlanjut kemudian berkontribusi positif pada pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan IV-2010 yang mengalami peningkatan dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Pertumbuhan ekonomi pada satu sisi tetap ditopang oleh kuatnya permintaan domestik terutama konsumsi rumah tangga dan investasi. Faktor yang mempengaruhi kuatnya konsumsi rumah tangga yakni daya beli masyarakat yang masih kuat, pembiayaan yang masih tinggi baik oleh bank maupun nonbank dan tingkat keyakinan konsumen. Peningkatan investasi didorong oleh persepsi investor yang tetap positif, dukungan pembiayaan yang meningkat, serta dampak positif penerapan berbagai kebijakan Pemerintah yang mendukung investasi. Pada sisi lain, pertumbuhan ekonomi juga didukung oleh kinerja ekspor yang tetap tinggi, meskipun mulai terindikasi melambat. Kinerja ekspor terutama didorong dengan pemulihan ekonomi global yang terus berlangsung terutama di negara-negara emerging markets, serta peningkatan harga komoditas global. Sementara itu, pertumbuhan impor juga masih tinggi sejalan dengan pengaruh kegiatan ekonomi domestik yang meningkat dan apresiasi nilai tukar rupiah. Dengan perkembangan tersebut, perekonomian pada triwulan IV-2010 diprakirakan akan tumbuh sebesar 6,1%. Secara keseluruhan tahun 2010, pertumbuhan ekonomi diprakirakan mencapai sekitar 6%, jauh lebih tinggi daripada pertumbuhan ekonomi tahun 2009 sebesar 4,5%. Kinerja Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) pada triwulan IV-2010 masih tetap solid, didukung oleh kondisi eksternal yang tetap kondusif. Transaksi berjalan masih mencatat surplus, meskipun lebih rendah dari triwulan sebelumnya. Surplus transaksi berjalan ditopang oleh kinerja ekspor yang masih cukup tinggi seiring berlanjutnya pemulihan ekonomi global serta meningkatnya harga komoditas. Sementara itu, transaksi modal dan finansial juga mencatat surplus, didorong oleh masih besarnya aliran masuk modal asing, terutama dalam bentuk Penanaman Modal Asing (PMA) dan investasi portofolio ke Indonesia. Berlanjutnya

1

⎜ TINJAUAN UMUM ⎟

aliran modal asing ini tidak terlepas dari pengaruh iklim investasi yang baik, perkembangan ekonomi yang kondusif serta persepsi investor yang terjaga positif. Kinerja NPI pada triwulan IV-2010 yang masih solid tersebut mendorong posisi cadangan devisa pada akhir 2010 mencapai 96,2 miliar dolar AS atau setara dengan 7,1 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri Pemerintah. Kinerja NPI yang masih baik tersebut kemudian berkontribusi pada nilai tukar rupiah yang masih mengalami apresiasi pada triwulan IV-2010. Pada akhir tahun 2010, rupiah ditutup pada level Rp9.010 per dolar AS atau secara point to point di tahun 2010 mencatat apresiasi (menguat) sebesar 4,4%. Secara triwulanan, nilai tukar rupiah pada triwulan IV-2010 secara rata-rata menguat 0,35% ke level Rp8.966,3 per dolar AS dibandingkan dengan triwulan III-2010. Penguatan nilai tukar Rupiah tersebut diikuti juga oleh tingkat volatilitas tahunan yang turun menjadi 0,4% dari sebelumnya 0,9%. Nilai tukar rupiah yang terapresiasi pada tahun 2010 sejauh ini masih menyebabkan daya saing produk-produk Indonesia cukup kompetitif di pasar internasional. Dari perkembangan inflasi, perekonomian domestik pada triwulan IV-2010 mulai ditandai oleh inflasi yang merambat naik. Tekanan inflasi tersebut terutama disebabkan oleh kenaikan inflasi dari kelompok bahan pangan (volatile foods) yang pada Desember 2010 mencapai 17,74% (yoy). Tingginya inflasi dari kelompok volatile foods terkait dengan anomali (gangguan) cuaca dan perkembangan harga pangan global. Anomali cuaca yang berkelanjutan berdampak terhadap penurunan produksi sehingga kenaikan harga beberapa komoditas bahan pangan tetap terus berlangsung. Meningkatnya harga pangan global juga turut mempengaruhi tingginya harga pangan di dalam negeri. Sementara itu, inflasi kelompok administered prices pada akhir tahun 2010 relatif moderat yang tercatat 5,40% (yoy). Tekanan inflasi inti juga masih terkendali pada tingkat yang cukup rendah 4,28% (yoy). Inflasi inti yang masih terkendali dipengaruhi oleh nilai tukar rupiah yang menguat, ekspektasi inflasi masyarakat yang terjaga dan sisi penawaran yang masih memadai dalam merespon kenaikan permintaan. Dengan pengaruh inflasi volatile food yang cukup dominan tersebut maka inflasi IHK pada tahun 2010 tercatat sebesar 6,96% (yoy) atau berada di atas sasaran inflasi yang ditetapkan oleh Pemerintah sebesar 5±1%. Berbagai perkembangan di sektor riil tersebut masih dibarengi oleh transmisi kebijakan moneter dan kondisi pasar keuangan domestik yang membaik. Suku bunga perbankan masih menurun dan diikuti oleh pertumbuhan kredit yang yang meningkat. Perkembangan uang beredar dalam tren meningkat dan secara umum masih terkendali sejalan dengan peningkatan kegiatan ekonomi. Transmisi kebijakan moneter juga terjadi melalui jalur harga aset tercermin dari peningkatan signifikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Kinerja pasar keuangan juga membaik dimana yield Surat Berharga Negara (SBN) terus menurun. Bersamaan dengan kondisi tersebut, nilai tukar rupiah masih mencatat apresiasi didorong pengaruh aliran masuk modal asing, serta dibarengi oleh volatilitas yang rendah. Stabilitas sistem keuangan yang tetap terjaga dicerminkan oleh kondisi sektor perbankan yang tetap kuat dengan cadangan (cushion) yang memadai dalam menghadapi berbagai risiko. Hal itu antara lain tercermin dari tingginya rasio kecukupan modal (CAR/Capital Adequacy Ratio) perbankan yang per November 2010 mencapai 16,3%. Rasio CAR menurun tipis dari triwulan sebelumnya 16,4% seiring dengan implementasi perhitungan

2

⎜ TINJAUAN UMUM ⎟

ATMR risiko operasional, namun CAR perbankan tersebut masih jauh di atas angka minimum yang dipersyaratkan. Fungsi intermediasi perbankan juga berjalan dengan baik, sebagaimana tampak pada peningkatan pertumbuhan kredit yang mencapai 22,8% (yoy) sampai dengan akhir Desember 2010. Pertumbuhan kredit tersebut tetap diimbangi dengan kualitas kredit yang relatif terkendali yang ditunjukkan pada rasio non-performing loan (NPL) gross yang tetap stabil pada kisaran 3%. Dari sisi pendanaan, setelah sempat tumbuh melambat, pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) perbankan meningkat pada triwulan IV-2010. Meskipun demikian, pertumbuhan DPK ini masih lebih rendah daripada pertumbuhan kredit, yaitu mencapai sebesar 12,1% (yoy). Sementara itu, risiko likuiditas bank tetap terkendali. Di tengah pertumbuhan kredit yang cenderung lebih cepat daripada pertumbuhan DPK, jumlah alat likuid bank justru meningkat. Sejauh ini, krisis utang yang terjadi di Eropa tidak memberikan dampak negatif terhadap kinerja perbankan nasional. Hal ini mengingat relatif kecilnya eksposur perbankan nasional terhadap perbankan di negara-negara Eropa. Kinerja sistem pembayaran selama triwulan IV-2010 tetap terjaga. Di bidang pengedaran uang, kebutuhan uang kartal pada awal triwulan IV-2010 menunjukkan penurunan, sebelum kembali meningkat sesuai dengan pola musiman pada akhir triwulan menjelang hari raya Natal dan Tahun Baru. Akibatnya, jumlah rata-rata uang kartal yang diedarkan (UYD) pada triwulan IV-2010 meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya. Sementara itu, penyelenggaraan sistem pembayaran, baik pada sistem kliring maupun Bank Indonesia-Real Time Gross Settlement (BI-RTGS) tetap terjaga kehandalannya. Pelaksanaan transfer dana tidak mengalami gangguan signifikan yang berpengaruh pada stabilitas sistem keuangan. Secara volume, aktivitas transaksi pembayaran menunjukkan peningkatan terutama terkait dengan masa-masa hari raya Natal dan akhir tahun. Meningkatnya aktivitas transaksi pembayaran terjadi pada transaksi retail melalui sistem kliring, Alat Pembayaran Menggunakan Kartu (APMK) dan uang elektronik, maupun pada sistem BI-RTGS. Sejalan dengan peningkatan volume, terdapat peningkatan nilai transaksi yang terutama terjadi pada transaksi nilai besar melalui sistem BI-RTGS. Peningkatan ini terutama terkait dengan transaksi pengelolaan moneter yang meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya. Di tengah berbagai capaian ekonomi pada tahun 2010 ini cukup menjanjikan tersebut, tantangan bagi Bank Indonesia ke depan dalam pengelolaan kebijakan moneter dan perbankan masih tetap tidak ringan. Di bidang moneter, pengelolaan kebijakan moneter menghadapi tantangan dalam mengelola ekses likuiditas, di tengah derasnya aliran masuk modal asing, terbatasnya daya serap perekonomian dan tekanan inflasi yang mulai meningkat. Sementara di bidang perbankan, tantangan yang dihadapi dari sisi eksternal berupa liberalisasi sektor keuangan di kawasan ASEAN dan reformasi keuangan global. Dari sisi domestik, masih diperlukan upaya untuk peningkatan efisiensi perbankan, penguatan tata kelola bank, peningkatan peran pembiayaan UMKM dan perbankan syariah, serta perluasan akses masyarakat kecil terhadap jasa keuangan (financial inclusion). Menghadapi berbagai tantangan tersebut, Bank Indonesia akan memberikan respon melalui kombinasi berbagai kebijakan dan instrumen yang tersedia secara tepat. Bauran kebijakan moneter dan makroprudensial (policy mix) yang mengombinasikan berbagai instrumen antara lain telah diumumkan dalam paket kebijakan pada tanggal 16 Juni 2010 yang lalu. Sebagai langkah penguatan lanjutan maka pada akhir triwulan IV-2010, selain

3

⎜ TINJAUAN UMUM ⎟

mempertahankan BI Rate pada level 6,5%, Bank Indonesia juga mengeluarkan kebijakan lanjutan di bidang moneter dan perbankan. Kebijakan ini bertujuan untuk memperkuat stabilitas moneter dan sistem keuangan guna mendukung pertumbuhan ekonomi secara berkelanjutan, dan pada saat bersamaan memperkuat ketahanan dalam menghadapi kemungkinan terjadinya gejolak perekonomian. Kebijakan ini mencakup 5 (lima) aspek penting, yaitu kebijakan penguatan stabilitas moneter, kebijakan mendorong intermediasi perbankan, kebijakan meningkatkan ketahanan perbankan, penguatan kebijakan makroprudensial, dan penguatan fungsi pengawasan perbankan. Bank Indonesia juga memberikan perhatian khusus bagi beberapa daerah yang mengalami bencana dengan memberikan perlakuan khusus bagi kredit di daerah bencana. Kebijakan ini diharapkan dapat mendukung pemulihan kondisi perekonomian di daerahdaerah yang terkena bencana, yakni letusan Gunung Merapi, bencana banjir bandang di Wasior, dan bencana tsunami di kepulauan Mentawai. Di bidang sistem pembayaran, kebijakan Bank Indonesia selama triwulan IV-2010 tetap ditujukan untuk mengoptimalkan pelayanan sistem pembayaran yang dapat mendukung seluruh aspek perekonomian. Pada instrumen pembayaran tunai, strategi kebijakan difokuskan pada upaya untuk memenuhi permintaan uang kartal masyarakat, baik dalam jumlah maupun pecahan yang tepat, terutama menjelang Natal dan Tahun Baru. Selain itu, Bank Indonesia juga meningkatkan layanan kas, mengotimalkan pengiriman uang ke seluruh wilayah Kantor Bank Indonsia serta menanggulangi penyebaran uang palsu. Pada instrumen pembayaran nontunai, kebijakan diarahkan untuk menciptakan efisiensi sistem pembayaran, dan meningkatkan kehandalan serta kemampuan mitigasi risiko sistem pembayaran sebagai saluran utama transmisi kebijakan moneter. Sebagai upaya peningkatan kehandalan sistem pembayaran, Bank Indonesia melanjutkan pengembangan BI-RTGS dan Bank Indonesia Scripless Securities Settlement System (BI-SSSS) Generasi II, serta penyempurnaan Sistem Kliring Bank Indonesia (SKNBI). Selain itu, dalam upaya untuk meningkatkan efisiensi sistem pembayaran yang diselenggarakan di luar Bank Indonesia, Bank Indonesia terus memfasilitasi pelaku industri sistem pembayaran untuk saling interoperable sehingga dapat memperluas jangkauan pelayanan kepada masyarakat dan meminimalkan biaya investasi infrastruktur pengembangan sistem secara nasional. Sementara upaya peningkatan keamanan dilakukan dengan mendorong pelaku industri kartu ATM/kartu debet untuk menggunakan teknologi chip untuk mencegah terjadinya fraud pada kartu ATM dan kartu debet. Ke depan, dengan dukungan berbagai pihak dan konsistensi kebijakan yang akan ditempuh Pemerintah dan Bank Indonesia, prospek ekonomi domestik diperkirakan akan terus membaik didukung oleh pertumbuhan ekonomi dunia yang tinggi, disertai kondisi stabilitas makroekonomi yang tetap terjaga. Pertumbuhan ekonomi domestik pada tahun 2011 diperkirakan terakselerasi dan dapat mencapai kisaran 6,0%-6,5% dan pada tahun 2012 diperkirakan mencapai kisaran 6,1%-6,6%. Pertumbuhan tersebut didukung oleh konsumsi rumah tangga yang tetap kuat, investasi yang membaik, serta kinerja ekspor yang masih solid. Konsumsi rumah tangga diprakirakan masih tetap tumbuh tinggi sejalan dengan meningkatnya pendapatan dari upah, hasil ekspor, dan dukungan pembiayaan kredit dari perbankan. Sementara peningkatan investasi didorong oleh berbagai faktor positif seperti potensi pencapaian investment grade serta perbaikan iklim investasi dan birokrasi. Adapun

4

⎜ TINJAUAN UMUM ⎟

kinerja ekspor tetap solid seiring dengan masih kuatnya pertumbuhan di negara mitra dagang, terutama di kawasan Asia. Di sisi harga, tekanan inflasi 2011 bersumber dari sisi eksternal maupun domestik. Dari sisi eksternal, sumber tekanan inflasi diperkirakan berasal dari inflasi mitra dagang yang meningkat seiring membaiknya perekonomian global. Di sisi domestik, tekanan inflasi diperkirakan bersumber dari peningkatan permintaan sejalan dengan perekonomian domestik yang membaik. Sementara itu, gangguan produksi dan distribusi diharapkan dapat diminimalisir pada tahun 2011. Selanjutnya, tekanan inflasi tersebut dapat dikendalikan sehingga dapat menurun pada tahun 2012. Konsistensi kebijakan moneter diperkirakan dapat membawa ekspektasi inflasi masyarakat untuk cenderung menurun. Sementara produksi dan distribusi pangan tetap memadai. Demikian pula Pemerintah diperkirakan dapat memperbaiki permasalahan struktural sehingga faktor-faktor pendorong tekanan inflasi lainnya dapat ditekan. Dengan berbagai upaya tersebut, inflasi diperkirakan dapat diarahkan pada kisaran sasarannya, yaitu 5%±1% pada tahun 2011 dan 4,5%±1% pada tahun 2012. Prospek pertumbuhan ekonomi dan inflasi ke depan memiliki beberapa risiko yang patut dicermati. Risiko tersebut antara lain masih tingginya ketidakpastian pemulihan ekonomi global, kenaikan harga komoditas internasional, dan derasnya aliran modal asing masuk yang memicu currency war. Dari sisi domestik, risiko antara lain terkait dengan meningkatnya ekses likuiditas di sektor keuangan dan kemungkinan gangguan produksi serta distribusi bahan kebutuhan pokok. Berbagai risiko tersebut menyebabkan respon kebijakan makroekonomi dan moneter menjadi semakin kompleks. Untuk itu, kebijakan yang akan ditempuh Bank Indonesia tetap diarahkan untuk menjaga stabilitas moneter, sistem keuangan dan mendorong peran perbankan untuk mendukung perekonomian nasional. Secara operasional, Bank Indonesia memutuskan untuk mempertahankan BI Rate pada level 6,5% pada tanggal 5 Januari 2011. Selain itu, Bank Indonesia juga senantiasa melakukan penguatan koordinasi kebijakan dengan Pemerintah. Koordinasi kebijakan tersebut khususnya untuk pengendalian inflasi, pengelolaan capital inflows ke arah penanaman dana yang lebih panjang serta memperkuat respon sisi penawaran khususnya mendorong investasi pada infrastruktur dan peningkatan kapasitas produksi.

5

⎜ TINJAUAN UMUM ⎟

Tabel 1.1 Indikator Ekonomi Makro & Perbankan
Indikator IHK (%) Triwulanan (quarter to quarter ) Tahunan (year on year ) P DB (% pertumbuhan, tahunan) a) Konsumsi Total Pemben tukan Modal Tetap Domestik Bruto Ekspor S ektor Eksternal Ekspor non migas, fob (%, yoy) Impor non migas, c&f (%, yoy) Transaksi berjalan (juta USD) Posisi utang LN (miliar USD) S uku bunga (%) BI Rate PUAB (overnight ) Deposito 1 bulan (weighted average) Kredit modal kerja Kredit investasi K urs (Rp/USD), nominal a khir periode Kurs rata-rata Indikator Perbankan DPK (triliun Rp) K redit (triliun RP ) – termasuk cha nneling ROA (%) NPL Gross (% ) LDR (Kredit/DPK) (%) CAR (%) a) Sumber : BPS
b) c) * ** 1) 2) 3) c) b) b) a)

2009 Trw I 0,36 7,92 4,5 7,3 3,5 - 18,7
* * * *

2010 Trw III 2,07 2,83 4,2 5,4 3,2
* * * *

Trw II -0,15 3,65 4,1 6,3 2,4
* * * *

Trw IV 0,49 2,78 5,4 5,9 4,2 3,7
* * * *

Trw I 0,99 3,43 5,7 2,5 7,8 20,0
** ** ** **

Trw II 1,41 5,05 6,2 3,1 7,9 14,5
** ** ** **

Trw III 2,79 5,8 5,8 4,9 8,9 11,3
** ** ** **

Trw IV 1,59 6,96 6,1 4,8 9,3 9,2
1) 1) 1) 1)

-15,5

-7,8

-22,2 -28,8 2.507

* * *

-14,8 -27,0 2.480

* * *

-11,1 -24,3 2.146

* * *

17,5 -8,4

* * *

38,9 42,8

** **

27,6 35,9

** **

27,0 33,7

** **

na na na 198,2
2)

b)

3.610

2.007 180,8

1.804 183,3

1.308 194,3

151,0

153,7

168,0

172,9

7,75 8,04 9,42 14,99 14,05 11.555 11.578

7,00 6,96 8,52 14,52 13,78 10.208 10.578

6,50 6,30 7,43 14,17 13,20 9.645 9.973

6,50 6,28 6,87 13,69 12,96 9.4 25 9.4 59

6,50 6,17 6,77 13,54 12,72 9.090 9.254

6,50 6,19 6,79 13,17 12,7 9.060 9.110

6,50 6,19 6,23 13,06 12,41 8.925 8.998

6,50 5,58 6,78 12,96 12,35
3) 3) 3)

9.010 8.966

1.786,2 1.342,1 2,8 4,5 75,1 17,4

1.824,3 1.368,9 2,7 4,5 75,0 17,0

1.857,3 1.399,9 2,6 4,3 75,4 17,7

1.973,0 1.470,8 2,6 3,8 74 ,5 17 ,4

1.982,2 1.485,9 3,0 3,8 75,0 19,1

2.096,0 1.615,8 2,9 3,3 77,1 17,4

2.144,1 1.689,1 2,8 3,3 78,8 16,4

2.212,2 1.736,1 2,8 3,4 78,5 16,3

3) 3) 3) 3) 3) 3)

Angka sementara Angka sanga t sementara Angka Prakiraan Data s.d Oktober 2010 Data s.d November 2010

Sumber: BOP Rata-rata tertimbang akhir periode

6

⎜ PERKEMBANGAN MAKROEKONOMI TERKINI ⎟

BAB 2 PERKEMBANGAN MAKROEKONOMI TERKINI
Pertumbuhan ekonomi pada triwulan IV-2010 diperkirakan meningkat dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Pertumbuhan ekonomi triwulan IV-2010 diperkirakan sebesar 6,1% (yoy) atau lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya 5,8%. Kinerja positif ini ditopang oleh kuatnya permintaan domestik terutama konsumsi rumah tangga dan investasi. Selain itu, meningkatnya optimisme terhadap proses pemulihan ekonomi global turut mendukung perbaikan kinerja perekonomian domestik melalui kinerja ekspor yang diperkirakan masih akan tumbuh tinggi. Dengan perkembangan sampai dengan triwulan IV2010 maka pertumbuhan ekonomi Indonesia untuk tahun 2010 diprakirakan mencapai 6,0% (yoy).

1.

Pertumbuhan Ekonomi

Pertumbuhan ekonomi pada triwulan IV-2010 diperkirakan mencapai 6,1% (yoy) atau lebih tinggi dibandingkan dengan triwulan III-2010 sebesar 5,8% (yoy). Dari sisi penggunaan, sumber pertumbuhan triwulan IV-2010 terutama berasal dari peningkatan investasi, khususnya investasi bukan bangunan. Dari sisi lapangan usaha, pertumbuhan ekonomi ditopang oleh sektor Perdagangan Hotel dan Restoran (PHR), Pengangkutan dan Komunikasi, serta Industri. Geliat di sektor PHR tidak terlepas dari kegiatan domestik. Peningkatan di sektor pengangkutan dan transportasi ditopang oleh tingginya penggunaan jasa telekomunikasi dan meningkatnya angkutan penumpang dan kargo. Di sektor industri, beberapa indikator seperti penjualan mobil dan motor, konsumsi listrik industri yang meningkat dan peningkatan kredit di sektor ini menunjukkan adanya peningkatan kinerja yang masih cukup tinggi di sektor industri. Dengan perkembangan sampai triwulan IV-2010 ini maka pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2010 diprakirakan mencapai 6,0%, atau meningkat dari pencapaian tahun sebelumnya sebesar 4,5%. Kinerja investasi dan ekspor yang ditopang oleh menguatnya peran konsumsi rumah tangga menjadi kontributor utama pertumbuhan ekonomi 2010. Membaiknya kondisi perekonomian domestik dan global mendorong peningkatan ekspor dan pertumbuhan investasi. Sementara kinerja konsumsi rumah tangga yang kuat didukung oleh daya beli konsumen yang memadai, peningkatan pembiayaan dari lembaga keuangan, serta meningkatnya optimisme konsumen. Di sisi permintaan eksternal, secara keseluruhan tahun ekspor mengalami kenaikan, meski pada semester II-2010 pertumbuhannya melambat sejalan dengan perkembangan ekonomi negara tujuan utama ekspor. Di sisi impor, merespon peningkatan permintaan domestik dan tingginya ekspor, kinerja impor tahun 2010 tumbuh lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya dan diperkirakan melebihi pertumbuhan ekspor.

7

⎜ PERKEMBANGAN MAKROEKONOMI TERKINI ⎟

% y-o-y 8.0 7.0 6.0 5.0 4.0 3.0 2.0 1.0 0.0 I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV* 6.1

2007

2008

2009

2010

Grafik 2.1 Perkembangan PDB

1.1.

Pertumbuhan Ekonomi Menurut Penggunaan

Kinerja pertumbuhan ekonomi pada triwulan IV-2010 dari sisi penggunaan ditopang oleh konsumsi rumah tangga dan investasi. Di sisi lain, kinerja ekspor dan impor pada triwulan laporan diperkirakan tumbuh melambat antara lain disebabkan sempat menurunnya produksi minyak akibat gangguan produksi pada beberapa perusahaan minyak.
Tabel 2.1 Pertumbuhan PDB Menurut Penggunaan
%YoY, Tahun Dasar 2000 Indikator Total Konsumsi Konsumsi Swasta Konsumsi Pemerintah Pembentukan Modal Tetap Domestik Bruto Ekspor Barang dan Jasa Impor Barang dan Jasa PDB = Angka Proyeksi 2008 I 5.5 5.7 3.6 13.9 13.6 18.0 6.2 II 5.5 5.5 5.3 12.2 12.4 16.1 6.3 III 6.3 5.3 14.1 12.3 10.6 11.1 6.2 IV 6.4 4.8 16.4 9.4 2.0 -3.7 5.3 2008 5.9 5.3 10.4 11.9 9.5 10.0 6.0 2009 I 7.3 6.0 19.2 3.5 -18.7 -24.4 4.5 II 6.3 4.8 17.0 2.4 -15.5 -21.0 4.1 III 5.4 4.7 10.3 3.2 -7.8 -14.7 4.2 IV 5.9 4.0 17.0 4.2 3.7 1.6 5.4 2009 6.2 4.9 15.7 3.3 -9.7 -15.0 4.5 2010 I 2.5 3.9 -8.8 7.8 20.0 22.6 5.7 II 3.1 5.0 -8.9 7.9 14.5 18.4 6.2 III 4.9 5.2 3.0 8.9 11.3 11.0 5.8 IV 4.8 5.2 2.7 9.3 9.2 10.7 6.1 2010 3.9 4.8 -2.3 8.5 13.4 15.2 6.0

Pertumbuhan konsumsi rumah tangga sampai dengan triwulan IV- 2010 masih dalam tren yang meningkat, ditopang oleh masih kuatnya daya beli masyarakat, peningkatan pembiayaan dari lembaga keuangan, penguatan nilai tukar Rupiah, dan optimisnya keyakinan konsumen akan kondisi perekonomian. Sebagian besar pertumbuhan konsumsi rumah tangga disumbang konsumsi non makanan. Hal ini terindikasi dari meningkatnya penjualan kendaraan bermotor (Grafik 2.2) dan penjualan eceran beberapa kelompok komoditas hingga November 2010 (Grafik 2.3). Perkembangan subsektor perdagangan, hotel dan restoran yang terus meningkat sejak awal tahun juga mendukung tendensi konsumsi rumah tangga yang meningkat pada triwulan IV- 2010. Berlanjutnya tren pertumbuhan konsumsi rumah tangga pada triwulan IV-2010 juga didukung oleh sisi pembiayaan. Pembiayaan konsumsi rumah tangga yang terus meningkat terutama tercermin dari penyaluran kredit konsumsi oleh perbankan yang masih memadai. Pertumbuhan nilai transaksi kartu kredit dan kartu debit juga menunjukkan arah yang positif hingga memasuki triwulan IV-2010.

8

⎜ PERKEMBANGAN MAKROEKONOMI TERKINI ⎟

(%,yoy)

110% 90% 70% 50% 30% 10% ‐10% ‐30% ‐50%

140

% yoy

% yoy

50 40 30 20 10 0

PY_Mobil

120 100 80

PY_Motor

60 40 20 0

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 2008
Sumber : CEIC

‐20 ‐40

1

2

3

4

5

6

7

8

9 10 11 12 1

2

3

4

5

6

7

8

9 10 11* ‐10 ‐20

2009

2010

Makanan & Tembakau
Sumber : DSM

2009 Pakaian & Perlengkapannya

2010 Perlengkapan rumah tangga

INDEKS TOTAL (rhs)

Grafik 2.2 Pertumbuhan Penjualan Kendaraan Bermotor

Grafik 2.3 Indeks Penjualan Eceran Beberapa Kelompok Komoditas

Pertumbuhan investasi pada triwulan IV-2010 diperkirakan juga masih meningkat. Membaiknya kinerja investasi didukung oleh meningkatnya realisasi Penanaman Modal Asing (PMA) dan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN), iklim investasi yang membaik, dan meningkatnya pembiayaan baik yang berasal dari dalam dan luar negeri serta dari lembaga keuangan maupun nonkeuangan. Peningkatan kegiatan investasi juga didukung oleh tren penurunan suku bunga kredit investasi riil yang mempengaruhi kenaikan kredit investasi riil dan leasing riil. Selain itu, persepsi pasar yang membaik terhadap kondisi investasi, menguatnya nilai tukar Rupiah yang mendorong relatif rendahnya harga barang impor serta penerapan berbagai kebijakan di dalam negeri juga mendukung peningkatan kegiatan investasi. Kenaikan investasi pada triwulan IV-2010 terindikasi diarahkan untuk menambah kapasitas produksi. Indikasi ini tergambar pada pertumbuhan investasi mesin yang terus meningkat yang tercemin pada peningkatan impr mesin baik untuk kegiatan produksi maupun sektor telekomunikasi dan transportasi (Grafik 2.4 dan 2.5). Sementara itu, pertumbuhan investasi bangunan masih tetap tinggi (Grafik 2.6) yang antara lain tergambar pada konsumsi semen yang meningkat sebesar 6,8% pada periode Januari-November 2010.
% yoy % yoy
% yoy % yoy

200

500 400

2,000

150

1,500 300

100
200 1,000

50
100 500

0
0 0 ‐100 ‐200 ‐500 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 2008 71 ‐ POWER GENERATING MACH. & EQP 78 ‐ ROAD VEHICLES 2009 2010 76 ‐ TELECOMMUNICATION & REP. APP 79 ‐ OTHER TRANSPORT EQUIPMENT (rhs)

‐50

‐100 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 2008 72 ‐ MACH.SPECIAL FOR PARTIC.INDS 75 ‐ OFFICE MACH.& AUT.DATA PROC. 2009 73 ‐ METALWORKING MACHINERY 77 ‐ ELECTRICAL MACH., APPARATUS 2010 74 ‐ GENERAL INDUSTRIAL MACH.&EQP

Grafik 2.4 Impor Mesin untuk Kegiatan Produksi

Grafik 2.5 Impor Mesin untuk Kegiatan Telekomunikasi

9

⎜ PERKEMBANGAN MAKROEKONOMI TERKINI ⎟

% yoy

% yoy

800 700 600 500 400 300 200 100

30 25 20 15 10 5 0 ‐5

yoy,nom

yoy,nom

0 ‐100 I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV ‐10 ‐200 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010
yoy Bangunan (rhs) M Manuf. of non‐metallic mineral products s/d Okt Kons. Listrik Bisnis  (rhs) M Manuf.  of glass and glass products  s/d Okt Konsumsi Semen s/d Nov (rhs)

70% 60% 50% 40% 30% 20% 10% 0% ‐10% ‐20% ‐30% ‐40% I II III IV I II III IV I II III IV I II 2010 PMDN (rhs) III

500% 400% 300% 200% 100% 0% ‐100% ‐200%

‐15

2007 PMTB  PMA 

2008

2009 Total PMA dan PMDN 

Grafik 2.6 PMTB Bangunan

Grafik 2.7 Realisasi PMA dan PMDN (BKPM)

Perkiraan membaiknya investasi pada triwulan IV-2010 juga didukung oleh beberapa indikator dan hasil survei. Realisasi investasi baru dan investasi perusahaan yang sudah mendapat ijin usaha (PMA dan PMDN) menunjukkan adanya peningkatan dari realisasi investasi PMA (Grafik 2.7). Hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha Bank Indonesia (SKDU-BI) juga menunjukkan rencana investasi perusahaan pada semester II-2010 yang masih tinggi (Grafik 2.8). Berdasakan hasil survei, sebagian besar investasi diperuntukkan bagi investasi baru dan penggantian dalam bentuk mesin dan bangunan. Hal ini sejalan dengan hasil Survei Indeks Tendensi Bisnis BPS yang menunjukkan kondisi bisnis pada triwulan IV-2010 masih kondusif, meskipun sedikit lebih pesimis jika dibandingkan dengan triwulan sebelumnya (Grafik 2.9).
55.0 50.0 45.0 40.0 35.0 30.0 25.0 20.0 15.0 10.0 Smt I 2007 Smt II Smt I 2008 Smt II Smt I 2009 Smt II Smt I 2010 Smt II 28.54 28.09 39.03 33.58 41.06 43.95
%

Nilai Investasi (SB)
45.92

50.65

Indeks 130 120 110 100 90 80

Indeks
115 110 105 100 95 90 85

I

II

III

IV

I

II

III

IV

I

II

III

IV*

2008

2009

2010
Pendapatan Usaha Jumlah Jam Kerja

ITB (rhs) Penggunaan Kapasitas Produksi

Grafik 2.8 Nilai Investasi (SKDU-BI)

Grafik 2.9 Indeks Tendensi Bisnis - BPS (Perkiraan)

Kinerja investasi yang meningkat tidak terlepas dari pengaruh persepsi positif mengenai prospek makroekonomi Indonesia. Pada satu sisi hal ini terkait dengan perkembangan peringkat utang sovereign Indonesia yang terus membaik. Pada sisi lain, sentimen positif juga berasal dari kenaikan peringkat daya saing Indonesia dari posisi ke-54 (2009) menjadi posisi ke-44 (2010) berdasarkan survei Global Competitiveness Index, September 2010. Hasil survei tersebut juga sejalan dengan survei yang dilakukan oleh UK Trade and Investment, yang menaikkan peringkat Indonesia sebagai negara tujuan investasi selain negara-negara Brazil, Rusia, India dan China (BRIC) dari posisi ke-6 menjadi posisi ke-2. Pertumbuhan ekspor pada triwulan IV-2010 cenderung mulai melambat. Perkembangan ekspor yang mulai melambat ini antara lain dipengaruhi oleh menurunnya produksi minyak dan melambatnya harga komoditas industri dan pertanian. Meskipun melambat pada triwulan terakhir 2010 ini, kinerja ekspor untuk keseluruhan tahun 2010

10

⎜ PERKEMBANGAN MAKROEKONOMI TERKINI ⎟

masih mencatat pertumbuhan yang cukup tinggi. Pencapaian ini didukung oleh pertumbuhan ekonomi negara mitra dagang yang secara umum masih positif dan harga komoditas yang cenderung naik. Ekspor tahun 2010 diprakirakan akan tumbuh 13,4%, atau merupakan pertumbuhan tertinggi dalam 10 tahun terakhir (kecuali tahun 2005). Peningkatan ekspor tahun 2010 terjadi baik pada komoditas migas maupun nonmigas (Grafik 2.10). Peningkatan ekspor migas terutama ditopang oleh ekspor gas, sementara peningkatan ekspor nonmigas terutama ditopang oleh komoditas berbasis sumber daya alam (SDA) seperti batubara, nikel, alumunium, tembakau, dan karet (Grafik 2.11).
% yoy % yoy

% yoy, vol

% yoy, vol

80% 60% 40% 20% 0% ‐20% ‐40% ‐60% 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 2008 Total 2009 Non‐Oil & Gas Oil & Gas (rhs) 2010

100% 80% 60% 40% 20% 0% ‐20% ‐40%

120% 100% 80% 60% 40% 20% 0% ‐20% 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 ‐40% ‐60% 2008 Total (rhs) 2009 Non SDA 2010 SDA

100% 80% 60% 40% 20% 0% ‐20% ‐40%

Grafik 2.10 Total Ekspor, Ekspor Migas dan Non Migas (Nilai Riil)

Grafik 2.11 Ekspor NonMigas : SDA dan Non SDA (Volume)

Impor di triwulan IV-2010 juga melambat dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Perlambatan ini antara lain dipengaruhi oleh perlambatan ekspor, meskipun pada sisi lain kinerja investasi membaik dan permintaan domestik masih relatif kuat. Pertumbuhan impor riil pada awal triwulan IV- 2010 tercatat sekitar 21% (yoy), atau melambat dibandingkan dengan pertumbuhan triwulan sebelumnya sebesar 30% (yoy). Kendati melambat pada triwulan IV2010 ini, perkembangan impor untuk seluruh tahun 2010 mengalami pertumbuhan yang tinggi. Peningkatan impor pada tahun 2010 ini dpengaruhi oleh kuatnya permintaan domestik dan eksternal serta dampak menguatnya nilai tukar Rupiah sehingga menyebabkan harga barang impor relatif lebih rendah. Peningkatan impor pada tahun 2010 ini terjadi baik di sektor migas maupun nonmigas.
% yoy, vol % yoy, vol
% yoy % yoy

200% 150% 100% 50%

90% 70% 50% 30% 10%

120% 100% 80% 60% 40% 20% 0% ‐20%

150% 100% 50% 0% ‐50% ‐100% 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 2008 Total 2009 Non‐Oil & Gas Oil & Gas (rhs) 2010

0% 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 ‐50% 2008 ‐100% Import Non Oil and Gas (rhs) Consumption Goods Raw Materials & Auxiliary Goods Capital Goods 2009 2010

‐10% ‐30% ‐50%

‐40% ‐60%

Grafik 2.12 Impor NonMigas Menurut Kelompok Barang

Grafik 2.13 Total Impor, Impor Migas dan NonMigas (Nilai Riil)

11

⎜ PERKEMBANGAN MAKROEKONOMI TERKINI ⎟

1.2.

Pertumbuhan Ekonomi Menurut Lapangan Usaha

Peningkatan pertumbuhan ekonomi pada triwulan IV-2010 juga tergambar di capaian ekonomi secara sektoral. Kinerja sektor industri pengolahan cukup baik terutama didorong oleh peningkatan aktivitas di sub-sektor makanan dan minuman, sub-sektor kimia serta subsektor alat angkut. Sektor penting lain yang memegang peran utama perkembangan ekonomi yaitu sektor perdagangan, hotel dan restoran (PHR), serta sektor pangangkutan dan komunikasi. Kedua sektor tersebut, dalam perkembangannya menunjukkan peran yang semakin kuat dalam dinamika perekonomian Indonesia.
Tabel 2.2 Pertumbuhan PDB Menurut Lapangan Usaha
Item Pertanian Pertambangan dan Penggalian Industri Pengolahan Listrik, Gas, dan Air Bersih Bangunan Perdagangan, Hotel, dan Restoran Pengangkutan dan Komunikasi Keuangan, Persewaan, dan Jasa Jasa-Jasa PDB = Angka Proyeksi 2007 3.4 2.0 4.7 10.3 8.6 8.4 14.0 8.0 6.6 6.3 2008 I 6.4 -1.6 4.3 12.3 8.2 6.7 18.1 8.3 5.5 6.2 II 4.8 -0.4 4.2 11.8 8.3 7.7 16.6 8.7 6.5 6.3 III 3.2 2.3 4.3 10.4 7.8 7.6 15.6 8.6 7.0 6.2 IV 5.1 2.4 1.8 9.3 5.9 5.5 16.1 7.4 5.9 5.3 2008 4.8 0.7 3.7 10.9 7.5 6.9 16.6 8.2 6.2 6.0 2009 I 5.9 2.6 1.5 11.2 6.2 0.6 16.8 6.3 6.7 4.5 II 2.9 3.4 1.5 15.3 6.1 0.0 17.0 5.3 7.2 4.1 III 3.3 6.2 1.3 14.5 7.7 -0.2 16.4 4.9 6.0 4.2 IV 4.6 5.2 4.2 14.0 8.0 4.2 12.2 3.8 5.7 5.4 2009 4.1 4.4 2.1 13.8 7.1 1.1 15.5 5.0 6.4 4.5 I 3.0 3.1 3.7 8.2 7.1 9.4 11.9 5.3 4.6 5.7 %YoY, Tahun Dasar 2000 2010 2010 II III IV 3.1 4.0 4.4 4.7 6.9 9.7 12.9 6.0 5.3 6.2 1.8 2.8 4.1 3.2 6.4 8.8 13.3 6.3 6.4 5.8 1.7 3.8 4.0 3.5 6.5 8.6 13.6 6.7 6.5 6.1 2.4 3.4 4.0 4.8 6.7 9.1 13.0 6.1 5.7 6.0

Pertumbuhan sektor industri pengolahan pada triwulan IV-2010 diperkirakan masih stabil sekitar 4%. Sumber pertumbuhan sektor tersebut terutama berasal dari subsektor industri nonmigas yaitu subsektor makanan dan minuman, subsektor kimia, dan subsektor alat angkut. Membaiknya kinerja subsektor makanan dan minuman serta subsektor kimia tercermin dari perkembangan indeks produksinya. Sementara itu, peningkatan kinerja subsektor alat angkut diindikasikan dengan tingginya pertumbuhan penjualan mobil dan motor yang pada November 2010 masing-masing tercatat sebesar 19,5% (yoy) dan 33,8% (yoy). Perkiraan sektor ini didukung oleh indikator penuntun sektor industri pengolahan yang masih menunjukkan ekspansi (Grafik 2.14). Peningkatan sektor ini didukung indikator lainnya yaitu Indeks Produksi dari Survei Produksi Bank Indonesia yang juga sedikit membaik pada Oktober 2010. Di sisi penggunaan input produksi, pertumbuhan konsumsi listrik sektor industri pada November 2010 yang membaik diharapkan berkontribusi pada peningkatan sektor industri pengolahan. Selain itu kredit perbankan yang disalurkan pada sektor industri pengolahan yang masih tumbuh stabil hingga Oktober 2010 juga berperan dalam mendukung sektor ini dari sisi pembiayaan.

12

⎜ PERKEMBANGAN MAKROEKONOMI TERKINI ⎟

Indikator Penuntun PDB Sektor Industri 102.0 101.5 101.0 100.5 100.0 99.5 99.0 98.5 98.0 97.5 97.0 II 2002 IV II 2003 IV II 2004 IV II 2005 PDBIndustri IV II 2006 IV II 2007 CLI (rhs) IV II 2008 IV II 2009 IV II 2010 IV
Composite indicators: CPI, IPI Motor Trailers Semi Trailers, IPI Wearing Apparel, Nilai Tukar, Volume Impor Beverages and Tobacco WPI Impor

Indikator Penuntun PDB Perdagangan

101.5 101.0 100.5 100.0

101.5 101.0 100.5 100.0

99.5 99.0 98.5 98.0 97.5

99.5 99.0 98.5 98.0 II 2002 IV II 2003 IV II 2004 IV II 2005 gPDBPerdag IV II 2006 IV II 2007 CLI IV II 2008 IV II 2009 IV II 2010 IV
Composite Indicators : CPI, Hotel Occupancy Jakarta, IPI Machinery Equipments, IPI Paper Products, IPI Rubber Plastic Products, Exhange Rate, Visitors Arrival at 13 Main Gates

Grafik 2.14 Indikator Penuntun Sektor Industri Pengolahan

Grafik 2.15 Indikator Penuntun Sektor Perdagangan

Kinerja sektor perdagangan, hotel, dan restoran (PHR) pada triwulan IV-2010 diperkirakan masih tumbuh tinggi. Kondisi ini ditunjukkan oleh indikator penuntun sektor perdagangan yang masih mengalami ekspansi (Grafik 2.15). Sementara itu, perkembangan subsektor hotel dan restoran menunjukkan perbaikan sebagaimana terindikasi pada meningkatnya tingkat hunian hotel serta kunjungan wisatawan mancanegara sampai dengan Oktober 2010. Pertumbuhan sektor perdagangan juga didukung oleh perkembangan di sisi pembiayaan dari perbankan yang masih menunjukkan pertumbuhan yang relatif stabil pada Oktober 2010. Kinerja sektor pertanian pada triwulan IV-2010 diperkirakan akan tumbuh melambat dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Perlambatan ini terutama karena menurunnya kinerja subsektor tanaman bahan pangan (tabama). Berdasarkan Angka Ramalan (ARAM) III BPS 2010, pertumbuhan produksi padi secara keseluruhan akan mengalami perlambatan. Menurunnya produktivitas dan luas lahan, gangguan anomali cuaca yang berdampak pada meluasnya banjir serta serangan hama menyebabkan penurunan kinerja subsektor tersebut. Selain subsektor tabama, gangguan anomali cuaca juga berpengaruh terhadap melambatnya pertumbuhan subsektor perkebunan sebagaimana terlihat pada perkembangan ekspornya. Perlambatan sektor pertanian yang lebih dalam tertahan dengan imbangan kinerja subsektor perikanan yang masih cukup baik. Dari sisi pembiayaan, kredit perbankan yang disalurkan ke sektor pertanian tumbuh stabil hingga Oktober 2010. Sektor pertambangan pada triwulan IV-2010 diperkirakan tumbuh membaik. Membaiknya kinerja lifting minyak mentah hingga November 2010 menopang perbaikan pertumbuhan pada sektor pertambangan. Sementara kinerja pertambangan nonmigas cenderung stabil. Di sisi pembiayaan, kredit perbankan yang disalurkan ke sektor pertambangan tumbuh relatif stabil hingga pertengahan triwulan IV-2010. Sektor pengangkutan dan komunikasi pada triwulan IV-2010 diperkirakan tumbuh membaik. Dari sisi subsektor pengangkutan, potensi membaiknya pertumbuhan terlihat dari pertumbuhan pengangkutan udara yang meningkat sampai dengan Oktober 2010. Pertumbuhan angkutan kargo kereta api dan angkutan kargo domestik dari lima pelabuhan utama, serta impor alat transportasi juga menunjukkan peningkatan pada bulan yang sama. Sementara dari sisi subsektor komunikasi berpotensi membaik sebagaimana terindikasi dari pertumbuhan jumlah pelanggan telepon seluler yang meningkat. Indikasi membaiknya

13

⎜ PERKEMBANGAN MAKROEKONOMI TERKINI ⎟

pertumbuhan subsektor komunikasi juga didorong oleh pertumbuhan layanan data yang meningkat seiring dengan gencarnya promosi operator seluler yang menawarkan paket internet dengan tarif yang terjangkau. Di sisi pembiayaan, pertumbuhan kredit perbankan yang disalurkan ke sektor ini menunjukkan perkembangan yang relatif stabil. Kinerja sektor bangunan pada triwulan IV-2010 diperkirakan masih tumbuh membaik. Hal ini tercermin dari masih tingginya pertumbuhan penjualan semen. Selain itu, perbaikan tersebut juga terlihat dari dimulainya proyek rekonstruksi pada daerah yang mengalami bencana seperti proyek rekonstruksi tahap II atas bangunan yang terkena gempa Padang. Dari sisi pembiayaaan, kredit perbankan yang disalurkan ke sektor ini tumbuh stabil sampai dengan Oktober 2010.

2.

Neraca Pembayaran Indonesia (NPI)

NPI pada triwulan IV-2010 masih tetap solid akibat kinerja sektor eksternal yang tetap terjaga. Berlanjutnya pemulihan ekonomi global serta terus meningkatnya harga komoditas masih menopang surplus transaksi berjalan. Sementara itu, iklim investasi, perkembangan ekonomi yang kondusif, serta persepsi investor yang terjaga positif berkontribusi positif pada surplus transaksi modal dan finansial yang lebih baik.

2.1.

Transaksi Berjalan

Transaksi berjalan pada triwulan IV-2010 diperkirakan masih mencatat surplus meski lebih rendah dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Surplus tersebut ditopang oleh kinerja ekspor yang masih cukup tinggi sejalan dengan masih berlanjutnya proses pemulihan ekonomi global dan meningkatnya harga komoditas. Selain itu, aliran dana remitansi tenaga kerja turut menyumbang surplus transaksi berjalan. Kinerja ekspor pada triwulan IV-2010 masih tumbuh tinggi meski melambat jika dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Pada November 2010, ekspor nonmigas mencatat pertumbuhan yang cukup pesat yaitu sebesar 55,6% (yoy) didorong oleh kenaikan harga komoditas. Pesatnya pertumbuhan ekspor terjadi pada komoditas Sumber Daya Alam (SDA) sektor pertambangan yang mencatat kenaikan cukup tinggi. Sementara itu, akselerasi kegiatan ekonomi domestik menjelang akhir tahun juga mendorong kenaikan impor. Nilai impor nonmigas mencatat peningkatan dan tumbuh sebesar 50% (yoy). Peningkatan impor terjadi pada seluruh kelompok barang, dengan pertumbuhan impor tertinggi dialami oleh kelompok barang konsumsi.

2.2.

Transaksi Modal dan Finansial

Transaksi modal dan finansial diperkirakan masih akan mencatat surplus yang semakin besar. Perkiraan surplus tersebut dikontribusi oleh kelompok investasi lainnya dan kelompok investasi langsung. Pada kelompok investasi lainnya terutama disebabkan oleh penarikan dana oleh sektor swasta baik bank maupun korporasi atas penempatan dana pada instrumen currency dan deposit di pasar keuangan internasional. Sementara itu, di kelompok investasi langsung juga mencatat perkembangan yang positif sejalan dengan membaiknya iklim investasi dan solidnya perekonomian domestik. Adapun aliran dana pada kelompok investasi portofolio diperkirakan lebih rendah dari triwulan sebelumnya. Aliran dana pada kelompok investasi portofolio yang lebih rendah ini merupakan dampak ketidakpastian kondisi ekonomi

14

⎜ PERKEMBANGAN MAKROEKONOMI TERKINI ⎟

global sehingga sempat menekan aliran masuk dana asing ke Indonesia dalam bentuk portofolio. Beberapa faktor yang meningkatkan ketidakpastian ekonomi global tersebut diantaranya masih berlanjutnya krisis fiskal yang melanda negara-negara Eropa, eskalasi konflik Korea, serta faktor membaiknya indikator ekonomi Amerika Serikat.

2.3.

Cadangan Devisa

Dengan perkembangan yang terjadi pada transaksi berjalan serta transaksi modal dan finansial tersebut di atas, posisi cadangan devisa sampai dengan akhir triwulan IV-2010 mencapai 96,2 miliar dolar AS atau setara dengan 7,1 bulan impor dan pembayaran Utang Luar Negeri Pemerintah.

15

⎜ PERKEMBANGAN MAKROEKONOMI TERKINI ⎟

Halaman ini sengaja dikosongkan.

16

⎜ PERKEMBANGAN DAN KEBIJAKAN MONETER ⎟

BAB 3 PERKEMBANGAN DAN KEBIJAKAN MONETER
Perkembangan kondisi moneter pada triwulan IV-2010 masih stabil dan dibarengi oleh transmisi kebijakan moneter yang membaik. Suku bunga perbankan masih menurun dan diikuti oleh pertumbuhan kredit yang yang meningkat. Transmisi kebijakan moneter juga terjadi melalui jalur harga aset tercermin dari peningkatan signifikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Kinerja pasar keuangan juga membaik dimana yield Surat Berharga Negara (SBN) terus menurun. Bersamaan dengan kondisi tersebut, nilai tukar rupiah masih mencatat apresiasi didorong pengaruh aliran masuk modal asing, serta dibarengi oleh volatilitas yang rendah. Di tengah kondisi moneter yang cukup stabil tersebut, perekonomian domestik pada triwulan IV-2010 mulai ditandai oleh tekanan inflasi yang merambat naik. Tekanan inflasi tersebut terutama disebabkan oleh kenaikan inflasi dari kelompok bahan pangan (volatile food) yang pada Desember 2010 mencapai 17,74% (yoy). Sementara itu, inflasi kelompok administered prices pada akhir tahun 2010 relatif moderat yang tercatat 5,40% (yoy). Tekanan inflasi inti juga masih terkendali pada tingkat yang cukup rendah yaitu 1,04% (qtq) atau 4,28% (yoy). Dengan pengaruh inflasi volatile food yang cukup dominan tersebut maka inflasi IHK pada tahun 2010 tercatat sebesar 6,96% (yoy) atau berada di atas sasaran inflasi yang ditetapkan oleh Pemerintah sebesar 5±1%. Arus modal asing yang cukup besar di tengah masih berlimpahnya likuiditas domestik, serta tekanan inflasi yang mulai meningkat memberikan tantangan bagi kebijakan moneter. Merespon tantangan tersebut, Bank Indonesia telah menempuh kebijakan yang tidak hanya terfokus pada satu instrumen kebijakan tetapi mengombinasikan berbagai instrumen yang tersedia secara tepat. Bauran kebijakan moneter dan makroprudensial (policy mix) yang mengombinasikan berbagai instrumen antara lain telah diumumkan dalam paket kebijakan pada tanggal 16 Juni 2010 yang lalu. Di akhir tahun 2010, Bank Indonesia mengeluarkan kebijakan lanjutan di bidang moneter dan perbankan yang bertujuan untuk memperkuat stabilitas moneter dan sistem keuangan guna mendukung pertumbuhan ekonomi secara berkelanjutan, dan pada saat bersamaan memperkuat ketahanan dalam menghadapi kemungkinan terjadinya gejolak perekonomian.

1.
1.1.

Kondisi Moneter dan Pasar Keuangan
Perkembangan Suku Bunga

Suku bunga Pasar Uang Antar Bank (PUAB) pada triwulan IV-2010 terus menurun mendekati floor rate disebabkan oleh likuiditas jangka pendek perbankan yang melimpah. Sepanjang Desember 2010 rata-rata suku bunga PUAB overnight (O/N) mencapai 5,57%, lebih rendah dari rata-rata bulan sebelumnya sebesar 5,60%. Persepsi risiko di PUAB O/N relatif terjaga sebagaimana terindikasi dari rata-rata spread suku bunga tertinggi dan terendah yang menurun pada Desember menjadi 12bps. Secara keseluruhan tahun, rata-rata spread suku

17

⎜ PERKEMBANGAN DAN KEBIJAKAN MONETER ⎟

bunga PUAB O/N tertinggi dan terendah di tahun 2010 menurun menjadi 24bps dari rata-rata tahun sebelumnya sebesar 43bps. Suku bunga PUAB O/N yang terus menurun juga diiringi dengan penurunan suku bunga PUAB bertenor lebih panjang. Rata-rata suku bunga PUAB bertenor lebih panjang dari O/N selama tahun 2010 berada pada kisaran 6,10% – 6,55%. Penurunan suku bunga PUAB ini kembali diikuti penurunan di suku bunga perbankan. Sampai dengan November 2010, rata-rata suku bunga deposito 1 bulan menurun sebesar 3bps dibandingkan dengan bulan sebelumnya menjadi 6.78% (Tabel 3.1). Apabila dibandingkan dengan akhir tahun 2009, suku bunga deposito mengalami penurunan sebesar 9bps dari 6.87% menjadi 6,78%. Suku bunga kredit juga mengalami penurunan di bulan November 2010. Suku bunga Kredit Modal Kerja (KMK), Kredit Investasi (KI) dan Kredit Konsumsi (KK) pada November 2010 masing-masing tercatat sebesar 12,96%, 12,35% dan 14,53%. Dibandingkan dengan akhir tahun 2009, secara keseluruhan tahun 2010 suku bunga untuk seluruh jenis kredit mengalami penurunan.
Tabel 3.1 Perkembangan Suku Bunga Perbankan
Suku Bunga (%) Nov BI Rate Penjaminan Deposito Dep 1 bulan (Weighted Average ) Base Lending Rate Kredit Modal Kerja (KMK) Kredit Investasi (KI) Kredit Konsumsi (KK) 6,50 7,00 7,16 12,94 13,96 13,03 16,47 2009 Des 6,50 7,00 6,87 12,83 13,69 12,96 16,42 Jan 6.50 7.00 7.09 12.65 13.75 13.24 16.32 Feb 6.50 7.00 6.93 12.66 13.68 13.21 16.36 Mar 6.50 7.00 6.77 12.58 13.54 12.72 15.42 Apr 6.50 7.00 6.89 12.62 13.42 12.62 15.34 Mei 6.50 7.00 6.76 12.58 13.26 12.59 15.23 2010 Jun 6.50 7.00 6.79 12.50 13.17 12.70 14.99 Jul 6.50 7.00 6.79 12.39 13.21 12.60 14.92 Agt 6.50 7.00 6.75 12.38 13.19 12.40 14.83 Sep 6.50 7.00 6.72 12.21 13.00 12.41 14.75 Okt 6.50 7.00 6.81 12.07 13.01 12.38 14.65 Nov 6.50 7.00 6.78 11.98 12.96 12.35 14.53

1.2.

Perkembangan Uang Beredar

Perkembangan uang beredar dalam tren meningkat dan secara umum masih terkendali sejalan dengan peningkatan kegiatan ekonomi. Pada Desember 2010, pertumbuhan base money mencapai 28,9% (yoy), meningkat secara signifikan dibandingkan dengan bulan sebelumnya sebesar 11,8% (yoy). Peningkatan base money ini terutama disebabkan oleh pengaruh kebijakan kenaikan Giro Wajib Minimum (GWM) Primer dari 5% menjadi 8%. Peningkatan base money juga dipengaruhi oleh pertumbuhan uang kartal yang juga meningkat menjadi 18,3% (yoy) sejalan dengan dampak meningkatnya kegiatan perekonomian. Perkembangan uang beredar yang terkendali di tengah peningkatan kegiatan ekonomi juga tergambar pada pertumbuhan M1 dan M2. Peningkatan pertumbuhan M1 masih cukup moderat dimana pada November 2010 tercatat sebesar 14,7% (yoy) dibandingkan dengan bulan sebelumnya (14,0%, yoy) (Grafik 3.1). Sementara itu, pertumbuhan M2 pada November 2010 juga meningkat menjadi 16,9% (yoy) sejalan dengan dampak intermediasi perbankan yang juga terus membaik.

18

⎜ PERKEMBANGAN DAN KEBIJAKAN MONETER ⎟

Y-o-Y % 28 24 20 16 12 8 4 0

%

16.9

14.7

M1

M2

1 3 5 7 9 11 1 3 5 7 9 11 1 3 5 7 9 11 1 3 5 7 9 11 1 3 5 7 9 11 123 5 7 9 11 2005 2006 2007 2008 2009 2010

Grafik 3.1. Pertumbuhan Uang Beredar

1.3.

Perkembangan Pasar Keuangan

Pasar modal juga masih meningkat didorong oleh persepsi positif terhadap prospek perekonomian domestik. Meskipun sempat mengalami tekanan pada Desember 2010, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih dalam tren menguat dimana IHSG sampai dengan akhir Desember 2010 ditutup pada level 3703,5 atau menguat sebesar 4,9% secara bulanan atau 46,1% (ytd). Perjalanan tahun 2010 juga ditandai oleh pencapaian level all time high di level 3786,1 pada 12 Desember 2010 (Grafik 3.2). Peningkatan IHSG pada tahun 2010 menjadikan Bursa Efek Indonesia (BEI) sebagai bursa dengan pertumbuhan harga tertinggi di antara negara kawasan. Perkembangan IHSG ini tidak terlepas dari pengaruh masih berlanjutnya aliran modal asing masuk ke pasar saham. Pihak asing yang sempat membukukan jual neto sebesar Rp 2,5 triliun pada Oktober dan November 2010, kembali masuk dalam jumlah yang relatif sama pada Desember 2010. Dengan perkembangan pada triwulan IV-2010 ini maka pada tahun 2010 tercatat beli neto asing di pasar saham sebesar Rp19,2 triliun atau naik dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang hanya sebesar Rp13,9 triliun. Aktivitas tersebut turut mendorong perkembangan likuiditas di pasar saham. Volume perdagangan selama tahun 2010 tercatat sebesar Rp4,9 triliun per hari atau naik 25,6% jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang hanya sebesar Rp3,9 triliun per hari (Grafik 3.3).

Grafik 3.2 IHSG dan BI Rate

Grafik 3.3 Nilai dan Volume Perdagangan IHSG

19

⎜ PERKEMBANGAN DAN KEBIJAKAN MONETER ⎟

Kinerja pasar surat Berharga Negara (SBN) juga masih menunjukkan tren meningkat seperti tercemin pas yield SBN yang masih dalam tren menurun. Perkembangan yield jangka pendek, menengah dan panjang masing-masing turun sebesar 175bps, 217bps, dan 153bps sehingga secara umum yield SBN turun 189bps dan ditutup pada level 7,39% (Grafik 3.4). Penurunan yield tersebut menunjukkan SBN masih sangat diminati oleh investor asing karena memiliki yield yang cukup menarik dengan didukung kondisi fundamental perekonomian domestik yang cukup kuat serta kondisi fiskal yang sehat. Meskipun sudah menurun sangat besar, yield SBN Indonesia relatif menarik bila dibandingkan dengan negara kawasan, seperti Thailand, Malaysia dan Philipina. Penurunan yield SBN juga didorong oleh semakin bertambahnya investor yang menanamkan dananya pada jenis instrumen ini, terutama sejak diterapkannya kebijakan minimum one month holding period SBI pada Juni 2010. Jumlah investor yang meningkat terindikasi pada kelompok investor kecil yang cenderung aktif melakukan transaksi trading, sementara perilaku kelompok investor besar relatif tidak banyak berubah yakni masih cenderung melakukan investasi hold to maturity. Perkembangan peningkatan investor ini kemudian berkontribusi pada peningkatan volume perdagangan harian SBN (Grafik 3.5).
% Rp,T per Hari

 18  16  14  12  10  8  6  4

Volume Perdagangan (Rata‐Rata) ‐ RHS Yield (Rata‐Rata)

 10,0  9,0  8,0  7,0  6,0  5,0  4,0  3,0  2,0  1,0  ‐

1 2 3 4 5 6 7 8 91011121 2 3 4 5 6 7 8 91011121 2 3 4 5 6 7 8 9101112 2008 2009 2010

Grafik 3.4 Yield SUN dan CDS

Grafik 3.5 Yield SBN dan Volume Perdagangan Harian

2.

Nilai Tukar Rupiah

Nilai tukar Rupiah selama triwulan IV-2010 masih dalam tren apresiasi dan diikuti oleh volatilitas yang terjaga. Koreksi atas rupiah sempat terjadi terkait krisis fiskal di Irlandia pada November 2010 dan juga pada akhir tahun 2010 akibat meningkatnya permintaan valas. Pada akhir tahun, rupiah ditutup pada level Rp9.010 per dolar AS atau secara point to point di tahun 2010 mencatat apresiasi (menguat) sebesar 4,4%. Secara triwulanan, nilai tukar Rupiah pada triwulan IV-2010 secara rata-rata menguat 0,35% ke level Rp8.966,3 per dolar AS dibandingkan dengan triwulan III-2010 dan diikuti oleh volatilitas yang tetap rendah (Grafik 3.6 dan Grafik 3.7). Dari perkembangan ini, selama tahun 2010 rata-rata mencapai Rp9.081 per dolar AS.

20

⎜ PERKEMBANGAN DAN KEBIJAKAN MONETER ⎟

12500 12000

Rp/USD Kurs Harian 11581 Rata‐rata Bulanan Rata‐rata Triwulanan

%

12  10  8 

Vol harian  Rata2 Volatilitas Kurs Harian (Rp/USD) ‐ rhs

IDR/USD

12400 11900 11400 10900

11500 11000 10500 10000 9500 9000 8500
May‐08 May‐09

10913 10527 9973

6  10400 4 
9254
8,998 

9459 9259 9221

9900 9400 8900
Aug‐08 Aug‐09 Aug‐10 Apr‐08 Jun‐08 Apr‐09 Jun‐09 Apr‐10 Feb‐08 Dec‐08 Feb‐09 Dec‐09 Feb‐10 Jun‐10 Dec‐10 Oct‐08 Oct‐09 Oct‐10


8,966 

9,110 
May‐10 Nov‐09 Jul‐10 Sep‐09 Mar‐09 Mar‐10 Sep‐10 Jul‐09 Jan‐09 Jan‐10


Mar‐08 Nov‐08 Nov‐10 Jul‐08 Sep‐08 Jan‐08

Grafik 3.6 Pergerakan Nilai Tukar Rupiah

Grafik 3.7 Volatilitas Nilai Tukar Rupiah

Tren apresiasi rupiah ini masih tidak terlepas oleh pengaruh aliran masuk modal asing sejalan dengan kinerja positif ekonomi domestik berupa ekspansi ekonomi domestik dan surplus neraca pembayaran. Selain itu, meningkatnya cadangan devisa mampu menjaga perspektif positif investor terhadap kemampuan pembiayaan eksternal Indonesia. Capaian positif ini kemudian menurunkan persepsi risiko berinvestasi di Indonesia seperti ditunjukkan beberapa indikator. Indikator Credit Default Swap (CDS) Indonesia bergerak di kisaran 132bps, membaik dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang berada di kisaran 137bps (Grafik 3.8). Searah dengan pergerakan CDS, indikator risiko lainnya yaitu yield spread antara Government Bond Indonesia dan US T-Note juga mengalami penurunan. Sementara itu, premi swap yang merupakan salah satu indikator ekspektasi arah pergerakan Rupiah, tetap bergerak stabil untuk semua tenor (1, 3, 6 dan 12 bulan) (Grafik 3.9).
% 8.5 7.0 5.5 4.0 2.5
Sumber: Bloomberg

Risk Worsen

Risk Worsen

bps 850

24%

Yield Spread CDS Ind (RHS) EMBIG Spread (RHS)

19%

700 550 400 250
4% 14%

Premi 1 M Premi 6 M

Premi 3 M Premi 12 M

9%
Sumber : Reuters (diolah)

1.0
Jan‐10 May‐09 May‐10 Jan‐09 Jul‐09 Mar‐10 Jul‐10 Mar‐09 Nov‐09 Nov‐10 Sep‐09 Sep‐10

100

Grafik 3.8 Indikator Persepsi Risiko Indonesia

Faktor lainnya yang mendorong masuknya modal asing sehingga mendorong penguatan rupiah ialah imbal hasil investasi rupiah yang masih menarik. Indikator imbal hasil Rupiah yang tercermin dari selisih suku bunga dalam negeri dan luar negeri (UIP – Uncovered Interest Parity) tetap berada dalam level tinggi di kawasan regional Asia (Grafik 3.10). Jika memperhitungkan premi risiko yang semakin membaik, maka daya tarik investasi dalam Rupiah semakin tinggi. Hal itu tercermin dari tren indikator CIP (Covered Interest Parity) yang terus meningkat selama tahun 2010.

21

Oct‐08 Nov‐08 Dec‐08 Jan‐09 Feb‐09 Mar‐09 Apr‐09 May‐09 Jun‐09 Jul‐09 Aug‐09 Sep‐09 Oct‐09 Nov‐09 Dec‐09 Jan‐10 Feb‐10 Mar‐10 Apr‐10 May‐10 Jun‐10 Jul‐10 Aug‐10 Sep‐10 Oct‐10 Nov‐10 Dec‐10

Grafik 3.9 Premi Swap Berbagai Tenor

⎜ PERKEMBANGAN DAN KEBIJAKAN MONETER ⎟

% 11.0 9.0 7.0 5.0 3.0 1.0 ‐1.0 ‐3.0
Jan‐05 May‐05 Oct‐05 Oct‐06 Oct‐07 Oct‐08 Oct‐09 Feb‐06 Feb‐07 Feb‐08 Feb‐09 Feb‐10 Oct‐10
17.74 6.96
6

Indonesia

Filipina Korea

Malaysia
Jun‐06 Jun‐07 Jun‐08 Jun‐09 Jun‐10

Grafik 3.10 UIP (Uncovered Interest Parity)

3.
3.1.

Perkembangan Inflasi
Inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK)

Perekonomian domestik pada triwulan IV-2010 mulai ditandai oleh meningkatnya tekanan inflasi IHK. Peningkatan tekanan inflasi IHK terutama disebabkan oleh kenaikan inflasi dari kelompok bahan pangan (volatile food). Kenaikan inflasi volatile food ini didorong oleh kenaikan harga beberapa komoditas bahan pangan akibat berlanjutnya gangguan cuaca. Sementara itu, inflasi inti selama triwulan IV-2010 terkendali pada tingkat yang cukup rendah didukung oleh penguatan nilai tukar rupiah, relatif terjaganya ekspektasi inflasi masyarakat, dan sisi penawaran yang masih memadai dalam merespon kenaikan permintaan. Di kelompok administered prices, tidak adanya kebijakan strategis Pemerintah pasca kenaikan Tarif Dasar Listrik (TDL) pada bulan Juli 2010, menyebabkan inflasi kelompok administered price pada akhir tahun 2010 relatif moderat. Secara keseluruhan, pengaruh inflasi volatile food yang cukup dominan tersebut menyebabkan inflasi IHK pada tahun 2010 tercatat sebesar 6,96% (yoy) (Grafik 3.11) atau berada di atas sasaran inflasi yang ditetapkan oleh Pemerintah sebesar 5±1% (Boks: Akuntabilitas Pencapaian Sasaran Inflasi Tahun 2010).
24%, yoy
CPI Core Volatile Food

18

Administered Prices

12

5.40 4.28

-7

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12

-1

2007

2008

2009

2010

Grafik 3.11 Perkembangan Inflasi IHK

22

⎜ PERKEMBANGAN DAN KEBIJAKAN MONETER ⎟

3.2.

Disagregasi Inflasi

Kenaikan inflasi volatile food yang cukup signifikan terjadi terutama menjelang akhir tahun. Tingginya tekanan inflasi tersebut didorong oleh gejolak harga pada komoditas bawang merah, cabe merah, beras dan minyak goreng akibat penurunan produksi dan tekanan kenaikan harga komoditas internasional. Kondisi cuaca yang tidak normal juga menyebabkan menurunnya pasokan beberapa komoditas bumbu seperti cabe merah dan cabe rawit sehingga mengakibatkan lonjakan harga komoditas tersebut. Selain itu, kenaikan harga Crude Palm Oil (CPO) di pasar dunia pada triwulan IV-2010 mendorong kenaikan harga minyak goreng domestik dan menjadi salah satu penyumbang inflasi tertinggi sepanjang triwulan laporan. Dengan perkembangan tersebut, inflasi tahunan kelompok volatile food pada triwulan IV-2010 mencapai level yang tinggi yaitu 17,74% (yoy). Secara triwulanan, laju inflasi volatile food triwulan IV-2010 sebesar 4,02% (qtq), atau menurun dibandingkan dengan triwulan III-2010 sebesar 6,22% (qtq) yang juga cukup tinggi terkait faktor musiman hari raya (Grafik 3.12).
25.00 20.00 15.00 10.00 5.00 0.00 1 ‐5.00 2007 2008 2009 2010 2007 2008 2009 2010 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4

Inflasi Volatile Food (qtq, %) Inflasi Volatile Food (yoy, %)

10.00 8.00 6.00 4.00 2.00 0.00 1 2 3 4 1 2 3

Inflasi Kelompok Inti (qtq, %)‐RHS Inflasi Kelompok Inti (yoy, %)

3.5 3 2.5 2 1.5 1 0.5 0

4

1

2

3

4

1

2

3

4

Grafik 3.12 Inflasi Kelompok Volatile Food

Grafik 3.13 Inflasi Kelompok Inti

Tekanan inflasi administered prices relatif moderat. Respon Pemerintah menunda kenaikan harga beberapa komoditas strategis seperti Bahan Bakar Minyak (BBM) dan gas elpiji berpengaruh positif terhadap kondisi inflasi administered ini. Sementara itu, perkembangan harga minyak dunia yang cenderung meningkat, sejauh ini masih dapat dimitigasi oleh apresiasi rupiah. Selain itu, sepanjang triwulan IV-2010 Pemerintah juga tidak mengeluarkan kebijakan terkait harga BBM nonsubsidi. Komoditas administered prices yang memberikan sumbangan inflasi terbesar pada triwulan IV-2010 adalah kelompok rokok. Dengan perkembangan tersebut, inflasi administered prices pada triwulan IV-2010 mencapai 5,40% (yoy). Secara triwulanan, inflasi administered prices triwulan IV-2010 sebesar 0,5% (qtq) jauh menurun dibanding triwulan sebelumnya yang mencapai 3,55% (qtq). Tingginya tekanan inflasi administered prices triwulan III-2010 karena faktor kenaikan TDL dan biaya jasa Surat Tanda Nomor Kendaraan Bermotor (STNK) dan Surat Izin Mengemudi (SIM). Inflasi inti masih cukup terkendali. inflasi inti triwulan IV-2010 menurun dibandingkan dengan triwulan sebelumnya, yaitu dari 1,64% (qtq) menjadi 1,04% (qtq) sehingga secara keseluruhan inflasi inti tahun 2010 mencapai 4,28% (Grafik 3.13). Perkembangan ini antara lain dipengaruhi oleh dampak positif penguatan rupiah, meskipun tekanan yang bersumber dari harga komoditas di pasar internasional dan inflasi mitra dagang mulai meningkat. Selain

23

⎜ PERKEMBANGAN DAN KEBIJAKAN MONETER ⎟

itu, penguatan nilai tukar rupiah secara umum juga dapat memitigasi dampak eksternal terhadap perkembangan harga di dalam negeri. Inflasi inti yang masih terkendali juga ditopang terjaganya ekspektasi inflasi masyarakat. Meskipun sempat meningkat saat hari raya, ekspektasi inflasi pada triwulan IV2010 terlihat kembali membaik. Kembali normalnya permintaan masyarakat paska hari raya yang diikuti koreksi harga beberapa bahan pangan berkontribusi pada perbaikan ekspektasi inflasi masyarakat (Grafik 3.14). Selain itu, perbaikan ekspektasi inflasi juga dipengaruhi oleh rendahnya inflasi inti dalam beberapa tahun terakhir. Hal ini ditunjukkan oleh penurunan inflasi inti jasa, yang secara umum merepresentasikan ekspektasi inflasi masyarakat (Grafik 3.15).
190 185 180 175 170 165 160 155 150 145 140 1 4 7 10 1 4 7 10 1 4 7 10 1 4 7 10 1 4 7 10 2006 2007 2008 2009 2010 20.0 18.0 16.0 14.0 12.0 10.0 8.0 6.0 4.0 2.0 0.0 7.50 6.50 5.50 4.50 3.50 2.50 1.50 Ekspektasi Harga Konsumen 3 bln yad Ekspektasi Harga Konsumen 6 bln yad Inflasi IHK (%, yoy)‐RHS 0.50
Apr‐09 Sep‐09 Feb‐10 Jun‐08 Jul‐10 Nov‐08 Dec‐10 Jan‐08

Core Ekspektasi (jasa berupa upah exc.pendidikan dan  perumahan)

Grafik 3.14 Ekspektasi Inflasi Konsumen (SK)

Grafik 3.15 Inflasi Inti Ekspektasi

Faktor terakhir yang berperan mendorong inflasi inti yang terkendali ialah masih respon sisi penawaran yang masih memadai menopang kenaikan permintaan. Pada satu sisi, kondisi permintaan masyarakat menunjukkan peningkatan yang berlanjut, sebagaimana tercermin dari penjualan riil berbagai macam kelompok barang (kecuali bahan konstruksi). Namun pada sisi lain, penguatan permintaan tersebut belum memicu tekanan yang berarti pada inflasi, karena respon penawaran yang masih cukup memadai, meskipun ke depan tekanan sisi permintaan perlu diwaspadai mengingat level kapasitas utilisasi saat ini telah mendekati titik tertinggi historisnya (Grafik 3.16).
%
100

Kapasitas Produksi Terpakai Industri Pengolahan Indeks Produksi Sektor Industri Pengolahan, RHS
130 120

90

110 100

80 90 70 80 70 60
12345678911123456789111234567891112345678911123456789111234567891112345678911 10 12 10 12 10 12 10 12 10 12 10 12 10 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010

60

Grafik 3.16 Pertumbuhan Kapasitas Produksi

24

⎜ PERKEMBANGAN DAN KEBIJAKAN MONETER ⎟

4.

Strategi Kebijakan

Strategi kebijakan yang ditempuh Bank Indonesia diarahkan untuk menghadapi tantangan yang tidak ringan dan bersifat multidimensi. Kondisi tersebut harus dihadapi di tengah ketidakpastian ekonomi global dan derasnya aliran modal asing. Untuk mendukung tetap terjaganya stabilitas makroekonomi dan tercapainya pertumbuhan ekonomi yang berkesinambungan, Bank Indonesia mengedepankan pengelolaan kebijakan moneter dan perbankan secara berhati-hati yang dijalankan secara konsisten. Langkah tersebut diwujudkan dalam bentuk bauran kebijakan moneter dan makroprudensial yang diarahkan untuk menjaga stabilitas eksternal dan stabilitas internal domestik perekonomian. Dalam implementasinya, bauran kebijakan moneter dan makroprudensial tersebut diwujudkan dalam 5 (lima) kebijakan, yaitu (1) kebijakan BI Rate diarahkan untuk pencapaian sasaran inflasi, namun tetap kondusif bagi pertumbuhan ekonomi dan stabilitas sistem keuangan; (2) kebijakan nilai tukar yang fleksibel melalui intervensi valas untuk menjaga rupiah tidak fluktuatif dan konsisten dengan perkembangan makroekonomi; (3) Kebijakan memperkuat ketahanan perekonomian menghadapi pembalikan modal asing (self insurance); (4) kebijakan makroprudensial terhadap aliran modal masuk yang berjangka pendek dan spekulatif, yang antara lain dilakukan dengan kebijakan one month holding period (OMHP) terhadap SBI; dan (5) kebijakan makroprudensial untuk pengelolaan likuiditas domestik dilakukan antara lain dengan menaikkan GWM dan menerbitkan Term Deposit Rupiah. Dalam kerangka bauran kebijakan tersebut, selain mempertahankan BI Rate pada level 6,5% sepanjang tahun 2010, pada tanggal 16 Juni 2010, Bank Indonesia memperkuat efektivitas transmisi kebijakan moneter dan penguatan stabilitas makroekonomi dengan beberapa kebijakan yakni: (i). Pelebaran koridor suku bunga PUAB O/N; (ii). Penerapan one month minimum holding period SBI; (iii). Penambahan instrumen moneter non-securities dalam bentuk term deposit; (iv). Penyempurnaan ketentuan mengenai Posisi Devisa Netto (PDN); (v). Penerbitan SBI berjangka waktu 9 dan 12 bulan; (vi). Penerapan mekanisme triparty repurchase (repo) Surat Berharga Negara (SBN) yang akan diimplementasikan pada tahun 2011. Selanjutnya dengan mempertimbangkan prospek dan tantangan perekonomian di masa mendatang, pada tanggal 29 Desember 2010, Bank Indonesia kembali mengeluarkan paket kebijakan yang mencakup 5 (lima) aspek penting yaitu:

A. Kebijakan Penguatan Stabilitas Moneter
Bank Indonesia akan mengarahkan kebijakan suku bunga BI Rate konsisten terhadap pencapaian sasaran inflasi yang telah ditetapkan, yaitu 5%±1% dan 4,5%±1% pada tahun 2011 dan 2012, dengan mewaspadai risiko tekanan inflasi yang akan meningkat ke depan. Kebijakan tersebut akan diperkuat dengan beberapa kebijakan yang merupakan kelanjutan dan penguatan dari bauran kebijakan moneter dan makroprudensial yang telah ditempuh sepanjang tahun 2010, dan sekaligus sebagai normalisasi atas beberapa kebijakan pada saat krisis 2008. Kebijakan antara lain mencakup: 1. Penerapan kembali batasan posisi Saldo Harian Pinjaman Luar Negeri (PLN) Bank Jangka Pendek.

25

⎜ PERKEMBANGAN DAN KEBIJAKAN MONETER ⎟

2. Pencabutan Ketentuan Penyediaan Pasokan Valuta Asing bagi Perusahaan Domestik.

B. Kebijakan Mendorong Peran Intermediasi Perbankan,
Kebijakan ini ditujukan untuk mendorong intermediasi perbankan secara lebih efisien dan transparan, sekaligus membuka akses masyarakat kecil terhadap jasa keuangan (financial inclusion). Kebijakan mencakup : 1. Penerapan standar operasi administrasi sekuritisasi kredit pemilikan rumah 2. Pemberlakuan kewajiban mengumumkan suku bunga dasar kredit secara luas ke masyarakat. 3. Perhitungan Aset Tertimbang Menurut Risiko (ATMR) bagi Bank Umum yang lebih rendah untuk Kredit Ritel, usaha Mikro dan usaha Kecil. 4. Perizinan, Pengaturan dan Pengawasan Biro Kredit Swasta. Selain kebijakan di atas, Bank Indonesia juga meluncurkan beberapa program inisiatif dalam rangka mendorong intermediasi perbankan sebagai berikut : 1. Program Bank Pembangunan Daerah sebagai motor pertumbuhan ekonomi daerah (BPD Regional Champion). 2. Program Perluasan Akses Kepada Lembaga Keuangan (Financial Inclusion)

C. Kebijakan meningkatkan ketahanan perbankan,
Kebijakan ini bertujuan agar bank tetap kuat dan sehat menghadapi persaingan melalui pengelolaan yang transparan dan mengacu pada good governance. Kebijakan mencakup : 1. Penyempurnaan ketentuan Uji Kemampuan dan Kepatutan (Fit and Proper Test) 2. Peningkatan Fungsi Kepatuhan Bank Umum. 3. Perhitungan Aset Tertimbang Menurut Risiko (ATMR) Bank Umum untuk Risiko Kredit dengan menggunakan Pendekatan Standar. 4. Penerapan Manajemen Risiko pada Bank yang Melakukan Aktivitas Kerjasama Pemasaran dengan Perusahaan Asuransi (Bancassurance). 5. Pengaturan Penilaian Kualitas Aktiva Bagi Bank Umum Syariah dan Unit Usaha Syariah serta Kualitas Aktiva Bagi Bank Pembiayaan Rakyat Syariah. 6. Penyempurnaan Pengaturan Restrukturisasi Pembiayaan pada Bank Umum Syariah dan Unit Usaha Syariah. 7. Penyempurnaan Batas Maksimum Pembiayaan Dana (BMPD) BPR Syariah 8. Perubahan Ijin Usaha Bank Umum menjadi Ijin Usaha Bank Perkreditan Rakyat (BPR). 9. Upaya mendorong terwujudnya BPR yang berdaya saing tinggi dan menerapkan good corporate governance.

26

⎜ PERKEMBANGAN DAN KEBIJAKAN MONETER ⎟

D. Penguatan Kebijakan Makroprudensial
Kebijakan ini ditujukan untuk lebih memperkuat stabilitas moneter dan stabilitas sistem keuangan melalui pelaksanaan macroprudential surveillance oleh Bank Indonesia. Kebijakan mencakup : 1. Penyempurnaan Ketentuan dan Penggunaan Informasi Rencana Bisnis Bank 2. Menaikkan Rasio GWM Valas. 3. Mengembalikan Peraturan Fasilitas Pendanaan Jangka Pendek (FPJP) kepada kondisi normal.

E. Penguatan Fungsi Pengawasan
Penguatan fungsi pengawasan selalu menjadi prioritas Bank Indonesia. Kebijakan ini ditujukan untuk meningkatkan efektivitas pelaksanaan pengawasan bank khususnya kualitas early warning system dan keterkaitannya dengan peran macroprudential supervision. Kebijakan mencakup : 1. Penyempurnaan Sistem Pengawasan Bank berdasarkan risiko. 2. Penetapan Status dan Tindak Lanjut Pengawasan Bank (Exit Policy). 3. Penyempurnaan penilaian Tingkat Kesehatan Bank berdasarkan risiko. Selain berbagai kebijakan untuk memperkuat stabilitas moneter dan sistem keuangan yang terangkum dalam 5 aspek di atas, Bank Indonesia juga memberikan perhatian khusus bagi beberapa daerah yang mengalami bencana dalam bentuk Pemberian Perlakuan Khusus bagi Kredit di Daerah Bencana. Kebijakan ini diharapkan dapat mendukung pemulihan kondisi perekonomian di daerah-daerah yang terkena bencana, yakni letusan gunung Merapi, bencana banjir bandang di Wasior, dan bencana tsunami di kepulauan Mentawai.

27

⎜ PERKEMBANGAN DAN KEBIJAKAN MONETER ⎟

Boks : Akuntabilitas Pencapaian Sasaran Inflasi Tahun 2010
Sasaran inflasi 2010 ditetapkan Pemerintah sebesar 5%±1%. Sasaran inflasi 2010 yang menjadi acuan pelaksanaan kebijakan Bank Indonesia tersebut ditetapkan berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan (KMK) RI No.1/KMK.011/2008 tanggal 3 Januari 2008 tentang Sasaran Inflasi Tahun 2008, 2009 dan 2010, sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) RI No.143/PMK.011/2010, tanggal 24 Agustus 2010 tentang Sasaran Inflasi Tahun 2010, 2011 dan 2012. Dalam PMK tersebut, sasaran inflasi untuk tiga tahun ke depan ditetapkan dengan tren menurun yakni sebesar 5% untuk 2010 dan 2011, dan 4,5% untuk tahun 2012, masing-masing dengan batas toleransi (point with deviation) sebesar ±1% dari angka inflasi tersebut. Penetapan sasaran inflasi 2010 didasari beberapa asumsi pokok (Tabel). Beberapa asumsi penting yang mendasari penetapan sasaran inflasi 2010 adalah nilai tukar rupiah yang relatif stabil pada kisaran Rp10.000 per dolar AS, harga minyak dunia pada kisaran $78 per barel, pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar 5,2%. Selain itu, gangguan pasokan bahan makanan diasumsikan minimal sehingga perkiraan inflasi kelompok volatile food berada pada tingkat yang normal yakni sekitar 8%. Dalam perkembangannya, kondisi aktual yang terjadi selama tahun 2010 jauh berbeda dengan yang diasumsikan. Variabel yang relatif sama dengan asumsi hanya tercatat pada harga minyak dunia yang secara rata-rata sebesar $81,2 per barel. Sementara itu, asumsi lainnya mencatat deviasi cukup besar, seperti nilai tukar rupiah yang mencatat apresiasi akibat derasnya inflows menjadi Rp9,080 per dolar AS, PDB yang mencatat pertumbuhan lebih tinggi menjadi sekitar 6%, dan inflasi volatile food yang tercatat sangat tinggi 17,74% (yoy), atau dua kali lebih tinggi dari asumsi. Perkembangan beberapa variabel yang cukup jauh berbeda dibandingkan dengan dengan asumsi yang digunakan, terutama pada inflasi volatile food, berkontribusi besar pada realisasi inflasi IHK tahun 2010 yang mencapai 6,96% atau berada di atas sasaran inflasi yang ditetapkan oleh pemerintah sebesar 5%±1%. Peran inflasi volatile food yang cukup dominan ini berbeda dengan inflasi pada kelompok administered dan inflasi inti. Tekanan inflasi yang bersumber dari kelompok barang yang harganya dikendalikan pemerintah (administered prices) terlihat masih moderat, sedangkan inflasi inti yang mencerminkan pengaruh interaksi permintaan dan penawaran agregat masih terkendali pada tingkat yang cukup rendah. Tingginya inflasi kelompok volatile food banyak dipengaruhi oleh gejolak harga bahan pangan yang rentan terhadap gangguan iklim. Anomali iklim La Nina (curah hujan tinggi) menyebabkan sejumlah komoditas pangan domestik seperti beras, aneka bumbu dan aneka sayur mengalami gangguan pasokan yang pada gilirannya mendorong kenaikan harga yang sangat tinggi. Kenaikan inflasi volatile food yang cukup tajam tersebut juga dialami oleh beberapa negara di kawasan. Selain itu, kenaikan harga pangan global yang cukup signifikan di semester II-2010 sebagaimana terjadi pada komoditas CPO, gandum, dan jagung turut mendorong tekanan inflasi pangan domestik, meskipun pengaruhnya diminimalkan oleh apresiasi nilai tukar rupiah. Secara keseluruhan, inflasi kelompok volatile food mencapai 17,74% (yoy) atau memberikan sumbangan inflasi IHK sebesar 3,13%. Inflasi kelompok

28

⎜ PERKEMBANGAN DAN KEBIJAKAN MONETER ⎟

volatile food tersebut jauh lebih tinggi dari rata-ratanya dalam sepuluh tahun terakhir yang mencapai sekitar 9% (yoy). Kebijakan administered prices pada komoditas strategis berupa kenaikan Tarif Dasar Listrik (TDL) memberikan dampak moderat pada tekanan inflasi tahun 2010. Kebijakan pemerintah terkait kenaikan TDL kelompok rumah tangga (golongan > 900 kVA) dan bisnis telah diantisipasi dunia usaha sehingga dampak kenaikan TDL ke inflasi cukup moderat yaitu memberikan sumbangan langsung ke inflasi sebesar 0,38% dan tidak memberikan secondround effect pada ekspektasi inflasi secara signifikan. Sumber tekanan inflasi yang cukup besar pada kelompok administered prices di 2010 berasal dari kebijakan pemerintah untuk menaikkan jasa pembuatan Surat Tanda Nomor Kendaraan Bermotor (STNK) dan Surat Izin Mengemudi (SIM) yang cukup besar masing-masing sekitar 75% (yoy) dan 48% (yoy), sehingga memberikan sumbangan ke inflasi IHK sebesar 0,24%. Untuk keseluruhan tahun 2010, tekanan inflasi kelompok administered prices mencapai 5,40% (yoy), atau memberikan sumbangan inflasi 0,99%. Angka realisasi inflasi kelompok administered price tersebut cukup rendah mengingat rata-ratanya dalam sepuluh tahun terakhir mencapai sekitar 13%. Sejalan dengan perkembangan inflasi administered, inflasi inti masih lebih rendah dibandingkan dengan perkiraan di awal tahun. Kondisi ini mencerminkan bahwa keseimbangan makroekonomi dapat dijaga dengan cukup baik sehingga akselerasi di sisi sisi permintaan dapat dikendalikan sesuai dengan kemampuan di sisi suplai serta terjaganya ekspektasi inflasi. Selain itu, faktor penting yang turut mendukung terkendalinya tekanan inflasi inti antara lain penguatan nilai tukar rupiah disertai volatilitas yang menurun. Nilai tukar rupiah di 2010 secara point to point mengalami apresiasi sebesar 4,4%,. Apresiasi Rupiah tersebut meminimalkan dampak kenaikan harga komoditas global (imported inflation) dan menjaga ekspektasi inflasi pelaku ekonomi. Dengan perkembangan tersebut, di akhir 2010 inflasi inti tercatat 4,28% (yoy) atau memberikan sumbangan inflasi IHK sebesar 2,8%. Angka realisasi inflasi inti tersebut sudah cukup rendah dibandingkan rata-ratanya dalam sepuluh tahun terakhir yang mencapai sekitar 7,5%.

29

⎜ PERKEMBANGAN DAN KEBIJAKAN MONETER ⎟

Tabel 3.2 Perbandingan Asumsi dan Realisasi Inflasi Tahun 2010
INDIKATOR Asumsi Nilai Tukar Rupiah (Rp/USD) Harga Minyak Minas (USD/barel) PDB (%, yoy) Inflasi IHK (%, yoy) • Inflasi Inti (%, yoy) • Inflasi Volatile Food (%, yoy) • Inflasi Administered Prices (%, yoy) Fundamental • Nilai Tukar • Ekspektasi Inflasi • Output Gap Non-fundamental • Volatile food • • • • Asumsi/Perkiraaan Saat Penetapan Sasaran Realisasi *) 10,024 9,080 78.1 812 5.2 6.0**) 5.70 6.96 5.60 4.28 7.90 17.74 4.30 5.40 Menguat tipis dari th 2009 Tren membaik Relatif meningkat Menguat signifikan Tren membaik Relatif meningkat

Proyeksi

Faktor yg Mempengaruhi

Normal (±8%, yoy), sesuai Tinggi (±15%, yoy), anomali prognosa pasokan cukup iklim dan pasokan bbrp dan distribusi lancar komoditas tidak cukup Moderat (TDL) Moderat (TDL & STNK) • Administered Price *) Asumsi didasarkan pada awal tahun 2010 ketik a usulan sas aran akan dis ampaikan k epada pemerintah (Februari 2010) **) Perkiraan terkini

Respon Kebijakan untuk Menjaga Stabilitas Makroekonomi
Berbagai kebijakan telah ditempuh Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas makroekonomi, termasuk pengendalian inflasi agar sesuai dengan target. Selama 2010 Bank Indonesia menempuh kebijakan yang diarahkan untuk menjaga stabilitas makroekonomi, di tengah ketidakpastian ekonomi global dan derasnya aliran masuk modal asing. Menghadapi tantangan kebijakan yang kompleks dan multidimensi tersebut, Bank Indonesia telah mengambil langkah-langkah dalam bentuk bauran kebijakan (policy mix). Bank Indonesia juga terus berkoordinasi dengan Pemerintah untuk mengendalikan tekanan inflasi. Selain melalui pengelolaan permintaan agregat sebagaimana ditempuh Bank Indonesia, langkah-langkah untuk mendorong peningkatan di sisi suplai terus dilakukan dengan dukungan dari Pemerintah baik ditingkat pusat maupun dengan Pemerintah daerah. Di tingkat pusat, koordinasi kebijakan antara Bank Indonesia dan Pemerintah antara lain tercermin pada rapat koordinasi yang semakin intensif dilakukan setelah pelaksanaan Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia bulanan, untuk membahas berbagai langkah penting yang perlu dilakukan dalam menjaga stabilitas makroekonomi sebagai prasyarat pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Koordinasi tersebut juga dilakukan didalam forum Tim Koordinasi Pemantauan dan Pengendalian Inflasi (TPI). Di tingkat daerah, langkah penguatan koordinasi tersebut juga dilakukan dengan membentuk Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) yang hingga akhir tahun 2010 telah terbentuk di 51 Kota. Pemerintah sendiri telah menempuh berbagai langkah untuk mengendalikan tekanan inflasi. Berbagai upaya yang ditempuh Pemerintah untuk meredam gejolak harga bahan pangan akibat gangguan pasokan, antara lain melalui impor beberapa komoditas pangan, penambahan alokasi Beras Miskin (RASKIN) dan operasi pasar (OP). Selain itu, kebijakan mengatur besaran dan waktu penyesuaian harga komoditas strategis juga berperan positif dalam pengendalian inflasi. Untuk meredam gejolak harga beras, Pemerintah telah mengeluarkan ketentuan yang memungkinkan Perum BULOG untuk melakukan OP lebih

30

⎜ PERKEMBANGAN DAN KEBIJAKAN MONETER ⎟

intensif jika kenaikan harga beras melampaui 10%. Selain itu, Pemerintah juga menyalurkan RASKIN sebanyak 2 kali di bulan Agustus dalam rangka membantu menstabilkan harga beras, sehingga total penyaluran RASKIN selama 2010 menjadi 13 kali dari rencana semula 12 kali. Sebagai langkah pengamanan stok beras, pemerintah memberikan ijin impor beras kepada BULOG di triwulan terakhir 2010. Melengkapi kebijakan tersebut, pemerintah memanfaatkan instrumen kebijakan fiskal seperti pengaturan bea masuk atau keluar sejumlah komoditi seperti CPO, gula dan beras untuk menjamin kecukupan pasokan domestik. Ke depan, berbagai langkah yang telah ditempuh tersebut diharapkan semakin intensif dilakukan terutama untuk memperkuat respon sisi suplai ditengah kecenderungan meningkatnya aktivitas ekonomi, sehingga tidak menimbulkan tekanan inflasi yang berlebihan. Dalam konteks ini, kerjasama dengan pemerintah melalui Tim Pengendalian Inflasi di tingkat pusat (TPI) maupun daerah (TPID) perlu terus diperkuat dengan mempertajam program-program untuk meningkatkan sisi pasokan dan perbaikan distribusi terutama komoditas pangan yang bersifat strategis. Berbagai upaya dan langkah tersebut di atas diyakini akan membawa inflasi pada sasarannya yaitu 5%±1% pada tahun 2011 dan 4,5%±1% pada tahun 2012.

31

⎜ PERKEMBANGAN DAN KEBIJAKAN MONETER ⎟

Halaman ini sengaja dikosongkan.

32

⎜ PERKEMBANGAN DAN EVALUASI KEBIJAKAN PERBANKAN ⎟

BAB 4 PERKEMBANGAN DAN EVALUASI KEBIJAKAN PERBANKAN
Di tengah peningkatan tekanan inflasi dan derasnya capital inflows asing ke pasar keuangan dalam negeri, kinerja sektor keuangan sampai dengan triwulan IV-2010 relatif stabil. Perbankan, sebagai pemegang pangsa terbesar pasar keuangan dalam negeri, masih mencatat mencatat kinerja yang cukup menggembirakan. Fungsi intermediasi perbankan terus membaik dengan angka pertumbuhan yang mampu mendekati target sesuai Rencana Bisnis Bank (RBB) 2010. Sementara itu, hasil stress test mengindikasikan bahwa permodalan bank masih cukup tahan terhadap berbagai risiko, terutama risiko kredit, risiko pasar, dan risiko likuiditas. Tekanan ekonomi global menyusul krisis di beberapa negara Eropa yang terjadi pada tahun 2010 yang lalu, sejauh ini belum memberikan dampak negatif terhadap stabilitas sistem keuangan, khususnya perbankan. Guna menyikapi potensi adanya tekanan inflasi ke depan, tingginya capital inflows, besarnya ekses likuiditas perbankan, serta dengan mempertimbangkan tantangan baik eksternal maupun internal kedepan, Bank Indonesia telah mengeluarkan berbagai kebijakan baik dibidang moneter maupun perbankan. Adapun prioritas kebijakan yang dikeluarkan meliputi beberapa aspek penting, yang meliputi kebijakan penguatan stabilitas moneter, kebijakan mendorong peran intermediasi perbankan, kebijakan meningkatkan ketahanan perbankan, penguatan kebijakan makroprudensial, dan penguatan fungsi pengawasan.

1.
1.1.

Pengaturan dan Pengawasan Perbankan
Penyempurnaan Ketentuan Perbankan

Dalam upaya meningkatkan fungsi Bank Indonesia dalam pengaturan dan pengawasan perbankan, selama tahun 2010 telah dilakukan penyempurnaan beberapa ketentuan yang meliputi penyederhanaan ketentuan Uji Kemampuan dan Kepatutan (Fit and Proper Test), penyempurnaan batasan waktu Penetapan dan Tindak Lanjut Pengawasan Bank (Exit Policy), penyempurnaan Penilaian Tingkat Kesehatan Bank dengan pendekatan berdasarkan risiko, serta penyempurnaan peraturan mengenai Rencana Bisnis Bank (RBB). Disamping itu, munculnya potensi risiko akibat terjadinya bencana alam di beberapa wilayah Indonesia, mendorong Bank Indonesia mengatur lebih lanjut mengenai perlakukan khusus terhadap kredit bank di wilayah tersebut. Sejalan dengan hal tersebut, dalam rangka merespon kondisi perekonomian dalam dan luar negeri serta mendukung stabilitas moneter dan sektor keuangan, dilakukan upaya untuk mengendalikan tekanan inflasi dan ekses likuiditas yang relatif tinggi melalui penyempurnaan ketentuan Giro Wajib Minimum (GWM). Selama tahun 2010, dilakukan penyempurnaan terhadap ketentuan GWM baik Rupiah maupun valas yang meliputi peningkatan GWM primer Rupiah yang diimplementasikan pada November 2010, perhitungan

33

⎜ PERKEMBANGAN DAN EVALUASI KEBIJAKAN PERBANKAN ⎟

GWM Loan to Deposit Ratio (LDR) bagi GWM Rupiah yang akan diimplementasikan pada Maret 2011, serta peningkatan GWM valas yang akan dilakukan secara bertahap pada tahun 2011.

1.2.

Perkembangan Persiapan Penyempurnaan Sistem Pengawasan Bank dan Implementasi Basel II

Selama tahun 2010, Bank Indonesia melaksanakan berbagai program kerja yang bertujuan membantu mempersiapkan diri dalam penerapan Basel II, baik di internal Bank Indonesia maupun di perbankan. Program kerja tersebut diimplementasikan dalam 3 (tiga) pilar, yaitu Pilar 1 - Perhitungan Kebutuhan Minimum, Pilar 2 - Proses Review oleh Pengawas bank, serta Pilar 3 - Disiplin Pasar.

Pilar 1 – Perhitungan Kebutuhan Minimum
Pada bulan November 2010, telah disepakati pokok-pokok pengaturan Aset Tertimbang Menurut Risiko (ATMR) risiko kredit dengan pendekatan standar (standardised approach). Secara mendasar, penetapan bobot risiko aset bank didasarkan pada hasil peringkat yang diterbitkan oleh lembaga pemeringkat yang diakui. Pengaturan ATMR risiko kredit berdasarkan Pendekatan Standar tersebut diharapkan dapat diberlakukan mulai Januari 2012. Sementara itu, perhitungan kebutuhan modal minimum melalui perhitungan risiko operasional telah dimulai dengan pendekatan indikator dasar yang diterapkan akan secara bertahap mulai 1 Januari 2011. Berdasarkan pemantauan, implementasi perhitungan ATMR risiko operasional sejauh ini telah menurunkan Kewajiban Penyediaan Modal Minimum (KPMM) bank hinga sekitar 1,5%.

Pilar 2 – Proses Review Pengawas Bank
Sampai dengan triwulan IV-2010, telah dilakukan penyempurnaan kerangka Risk Based Supervision (RBS) yang lebih menekankan pada pertimbangan pengawas bank dalam melakukan penilaian terhadap profil risiko dan penetapan peringkat bank, sebagai tambahan atas regulatory CAR. Prinsipnya, bank harus menyediakan modal yang lebih besar apabila kegiatan yang dilakukan lebih berisiko. Penyempurnaan kerangka RBS tersebut menghasilkan pedoman pelaksanaan Internal Capital Adequacy Assessment Process (ICAAP) sebagai berikut:
1
Upstream: Definition of risk strategy Risk selfassessment

2

Quantification and aggregation of risk

Definition of: • Risk policy principles • Risk appetite • Corner stones of the limit system • etc. 7 6
Quality assurance and ICAAP Operational process review process

3

Internal capital and risk bearing capacity calculation

Risk monitoring and reporting

4 5

Capital allocation and limit system

Grafik 4.1 Pedoman Pelaksanaan Internal Capital Adequacy Assessment Process (ICAAP)

34

⎜ PERKEMBANGAN DAN EVALUASI KEBIJAKAN PERBANKAN ⎟

Pilar 3 – Disiplin Pasar
Dalam rangka melengkapi perhitungan kecukupan modal perbankan dan pengawasan, kerangka Basel II juga menekankan peran publik untuk melakukan pengawasan terhadap bank melalui transparansi. Sehubungan dengan hal tersebut, Bank Indonesia telah menerbitkan Consultative Paper Pengungkapan Pilar 3 – Disiplin Pasar yang telah disampaikan kepada perbankan dan publikasi melalui website Bank Indonesia.

1.3.

Implementasi Arsitektur Perbankan Indonesia (API)

Dalam rangka menjawab beberapa tantangan ke depan untuk mewujudkan sistem perbankan yang sehat, kuat dan efisien guna mendukung pertumbuhan ekonomi nasional serta mempersiapkan diri untuk menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) tahun 2015, Bank Indonesia saat ini tengah mengkaji penajaman arah kebijakan perbankan dalam kerangka API secara rinci. Penajaman arah kebijakan tersebut akan menjadi pedoman kebijakan perbankan nasional bagi bank umum dan Bank Perkreditan Rakyat (BPR) yang diwujudkan dalam kerangka Pilar API. Dalam konteks Penguatan Struktur Perbankan Nasional (Pilar 1), Bank Indonesia telah mengeluarkan kebijakan modal inti minimum bank sebesar Rp.100 miliar, Hasil pemantauan terhadap pemenuhan kebijakan tersebut per tanggal 31 Desember 2010 menunjukkan bahwa seluruh bank umum telah memenuhi memenuhi ketentuan tersebut, baik melalui penyetoran modal oleh pemegang saham atau akuisisi oleh investor. Masih dalam kerangka pilar, dengan mempertimbangkan pentingnya perkembangan ekonomi daerah, dalam periode laporan Kelompok Kerja Bank Pembangunan Daerah (BPD) yang terdiri dari unsur Bank Indonesia, Asosiasi Bank Pembangunan Daerah (ASBANDA), dan BPD seluruh Indonesia secara berkesinambungan mengupayakan program untuk memperkuat daya saing dan kelembagaan BPD. Tujuannya adalah menjadikan BPD sebagai Regional Champion di daerahnya. Terkait dengan program tersebut, pada tanggal 21 Desember 2010 telah dilakukan penandatanganan komitmen bersama oleh seluruh Direktur Utama BPD, yang didukung oleh seluruh Gubernur dan Komisaris Utama BPD seluruh Indonesia. Penguatan struktur perbankan perlu diikuti oleh Dalam rangka meningkatkan kualitas manajemen dan operasional perbankan (Pilar 4). Sampai dengan triwulan IV-2010, tercatat 88.525 peserta telah mengikuti uji sertifikasi manajemen risiko level 1-5 dengan tingkat kelulusan rata-rata sekitar 76,29%. Dalam kerangka Peningkatan Perlindungan Nasabah (Pilar 6), sebagai tindak lanjut pencanangan Gerakan Indonesia Menabung melalui produk unggulan “Tabunganku”, Bank Indonesia bersama dengan pokja edukasi perbankan dan industri perbankan telah mengkoodinasikan program sosialisasi TabunganKu tahap II. Program ini mengambil tema Gerakan Siswa Menabung (GSM) yang difokuskan untuk menjangkau nasabah pelajar Sekolah Dasar sampai Sekolah Lanjutan Tingkat Atas. Selanjutnya, Bank Indonesia juga telah menyusun program strategi nasional Keuangan Inklusif (Financial Inclusion) sebagai wujud kepedulian terhadap 32% masyarakat Indonesia yang masih belum memiliki akses dan tersentuh jasa yang paling dasar dari sektor keuangan. Keuangan inklusif adalah suatu kegiatan menyeluruh yang bertujuan untuk meniadakan

35

⎜ PERKEMBANGAN DAN EVALUASI KEBIJAKAN PERBANKAN ⎟

segala bentuk hambatan baik yang bersifat harga maupun non harga, terhadap akses masyarakat dalam menggunakan dan/atau memanfaatkan layanan jasa keuangan. Kebijakan keuangan inklusif juga telah menjadi salah satu agenda penting dalam dunia internasional demi meningkatkan keikutsertaan seluruh lapisan masayarakat dalam pembangunan. Dengan terbukanya akses masyarakat terhadap jasa keuangan, berarti membuka kesempatan kepada masyarakat luas untuk turut berpastisipasi dalam pertumbuhan, meningkatkan distribusi pendapatan, dan mengurangi angka kemiskinan.

2.
2.1.

Perkembangan Kinerja Perbankan1
Gambaran Umum Perbankan Indonesia

Kinerja perbankan sampai dengan akhir tahun 2010 terjaga dengan cukup baik. Peningkatan fungsi intermediasi di penghujung tahun mampu diimbangi dengan relatif terjaganya kondisi permodalan dan likuiditas bank. Selama triwulan IV-2010, total aset perbankan meningkat hingga 3,6% atau sebesar Rp98,2 trilliun, seiring tren kenaikan kredit di penghujung tahun. Dengan demikian, sampai dengan akhir tahun 2010 kredit berhasil 2 tumbuh sebesar 22,8% . Pertumbuhan tersebut cukup tinggi meskipun masih sedikit lebih rendah dari target dalam RBB sebesar 23,3%. Di sisi lain, Dana Pihak Ketiga (DPK) sebagai sumber dana utama bank, secara ytd tumbuh lebih rendah dibandingkan dengan kredit, yaitu 12,1% atau sebesar Rp239,2 triliun. Perkembangan ini mengindikasikan terdapat sumbersumber pendanaan selain DPK. Positifnya perkembangan intermediasi perbankan 2010 dibarengi dengan pencapaian profitabilitas yang membaik. Sampai dengan November 2010, perbankan berhasil membukukan laba bersih 19,4% lebih tinggi dari pencapaian selama tahun 2009 yang lalu. Sumber utama laba bersih bank masih dihasilkan dari kegiatan operasional, yaitu pendapatan bunga. Net Interest Income (NII) selama 2010 secara rata-rata mencapai Rp12,4 triliun per bulan, membaik dibandingkan dengan tahun sebelumnya, yaitu Rp10,7 triliun per bulan. Sementara itu dari sisi permodalan, meskipun Capital Adequacy Ratio (CAR) bank selama 2010 cenderung turun seiring implementasi perhitungan ATMR risiko operasional, namun CAR perbankan sebesar 16,3% masih cukup jauh di atas angka minimum yang disyaratkan yaitu 8%. Secara individual, rasio permodalan semua bank berada di atas rasio kewajiban penyediaan modal minimum.

1

2

Menggunakan data LBU posisi sementara November 2010, kecuali dinyatakan lain. Angka sementara berdasarkan Laporan Harian Bank Umum (LHBU)

36

⎜ PERKEMBANGAN DAN EVALUASI KEBIJAKAN PERBANKAN ⎟

Tabel 4.1 Indikator Utama Perbankan3
Indikator Utama Total Aset (T Rp) DPK (T Rp) - Giro - Tabungan - Deposito Aktiva Produktif (T Rp) - Kredit (T Rp) * - S B I (T Rp) - FASBI (T Rp) - SSB + Tagihan Lainnya - Antar Bank Aktiva - Penyertaan Kredit Tanpa Chan (T Rp) NII bulanan (T Rp) NII Akum.thn buku (T Rp) CAR (%) NPLs + Chan (T Rp) NPLs Tanpa Chan (T Rp) PPAP (T Rp) NPLs Gross (%) NPLs Gross Tanpa Chan (%) NPLs net (%) NPLs Net Tanpa Chan (%) ROA (%) BOPO (%) LDR (%)* Jumlah Bank Des-06 1.693,5 1.287,0 338,0 333,9 615,1 1.556,2 832,9 179,0 38,6 342,9 156,8 5,9 792,2 7,7 83,1 20,5 58,1 48,1 39,2 7,0 6,1 3,6 2,5 2,6 86,4 64,7 130 Des-07 1.986,5 1.510,7 405,5 438,5 666,7 1.792,0 1.045,7 203,9 46,8 350,2 139,8 5,6 1.002,0 8,9 96,4 19,3 48,6 40,8 41,3 4,6 4,1 1,9 1,2 2,8 78,8 69,2 130 Des-08 2.310,6 1.753,3 430,0 498,6 824,7 2.170,9 1.353,6 166,5 71,9 358,5 213,8 6,6 1.307,7 10,8 113,1 16,2 50,9 41,9 47,5 3,8 3,2 1,5 0,8 2,3 84,1 77,2 124 Des-09 2.534,1 1.973,0 465,9 605,4 901,7 2.385,1 1.470,8 212,1 84,4 346,2 261,5 10,0 1.437,9 11,9 129,3 17,4 55,8 47,5 60,2 3,8 3,3 0,9 0,3 2,6 81,6 74,5 121 Mar-10
6)

Jun-10
6)

Sep-10
8)

Okt-10
6) 8)

Nop-10
6) 8)

(+/-) (%) Des'09 - Nov'10
8)

(+/-) (%) Okt'10 - Nov'10 59,9 38,3 14,2 14,5 9,6 (4,8) 30,3 (4,7) (39,7) 22,2 (12,9) (0,0) 30,8 0,2 13,1 (0,1) (1,3) (2,0) (2,1) (0,1) (0,2) 0,0 0,0 (0,1) (0,3) 0,0 2,1 1,8 2,8 2,2 0,9 (0,2) 1,8 (3,2) (18,2) 6,9 (5,3) (0,3) 1,8 1,4 10,6

(+/-) (%) Nov'09 - Nov'10 416,5 315,3 47,6 119,7 148,0 340,1 305,2 (56,9) 127,8 (6,6) (30,8) 1,3 308,8 2,0 19,2 (0,7) (2,7) (1,2) 3,1 (0,9) (0,8) (0,4) (0,2) 0,2 (2,3) 3,0 17,1 16,6 10,2 21,6 16,9 14,8 21,3 (28,5) 252,8 (1,9) (11,7) 13,4 22,1 18,2 16,4

3

3 3

2.563,7 1.982,2 471,1 576,2 934,9 2.416,4 1.485,9 221,5 82,5 350,6 264,9 11,0 1.456,0 12,0 36,1 19,1 56,3 48,9 60,0 3,8 3,4 1,0 0,5 3,0 83,6 75,0 121

2.678,3 2.096,0 522,2 610,8 963,1 2.528,5 1.615,8 224,3 97,0 327,1 252,9 11,4 1.586,5 12,7 73,1 17,4 54,0 47,3 60,9 3,3 3,0 0,8 0,4 2,9 84,8 77,1 121

7)

7)

2.758,1 2.144,1 504,2 653,6 986,2 2.591,3 1.689,1 176,3 132,2 326,4 256,2 11,1 1.659,0 12,5 110,6 16,4 55,9 49,2 64,5 3,3 3,0 0,7 0,29 2,8 78,9 78,8 122

7)

7)

2.796,4 2.173,9 497,8 659,7 1.016,4 2.647,9 1.705,8 147,3 218,1 320,7 244,7 11,3 1.675,6 12,9 123,5 16,4 60,9 54,2 66,0 3,6 3,2 0,9 0,50 2,9 79,8 78,5 122

7)

7)

2.856,3 2.212,2 511,9 674,3 1.026,0 2.643,1 1.736,1 142,6 178,4 342,9 231,8 11,3 1.706,4 13,1 136,6 16,3 59,5 52,2 63,9 3,4 3,1 1,0 0,51 2,8 79,4 78,5 122

7)

7)

322,2 239,2 46,0 68,8 124,3 258,0 265,3 (69,5) 94,0 (3,3) (29,7) 1,3 268,5 1,2 7,3 (1,1) 3,7 4,7 3,8 (0,4) (0,2) 0,0 0,2 0,2 (2,1) 3,9

12,7 12,1 9,9 11,4 13,8 10,8 18,0 (32,8) 111,3 (0,9) (11,4) 12,7 18,7 10,1 5,7

*) termasuk chanelling

2.2.

Perkembangan Kredit

4

Menjelang akhir tahun, fungsi intermediasi perbankan terus menunjukkan kinerja yang positif. Sampai dengan November 2010, total kredit perbankan mencapai Rp1.706,4 triliun atau naik Rp47,4 triliun (2,9%) dalam triwulan terakhir. Dengan pertumbuhan tersebut, maka secara ytd (s.d November 2010) kredit berhasil mencatatkan peningkatan sebesar 18,7%. Sementara berdasarkan pemantauan pada data LHBU, pertumbuhan kredit secara yoy sampai dengan tanggal 31 Desember 2010 adalah sebesar 22,8%, hanya sedikit dibawah target pertumbuhan sesuai RBB 2010 sebesar 23,3%. Salah satu faktor yang turut mempengaruhi angka pertumbuhan kredit 2010 adalah penguatan nilai tukar Rupiah terhadap USD sepanjang tahun sehingga mempengaruhi pertumbuhan kredit valas. Selama 2010, kredit berdenominasi valas bertambah sebesar USD6,6 miliar atau tumbuh sebesar 19,4% (ytd). Berdasarkan jenis penggunaan, Kredit Modal Kerja (KMK) memberikan sumbangan yang terbesar terhadap kenaikan kredit selama tahun 2010. Secara ytd, KMK berhasil tumbuh hingga 21,4% (Rp150,1 triliun), sementara jenis kredit lainnya, yaitu Kredit Investasi (KI) dan Kredit Konsumsi (KK), masing-masing sebesar 19,3% (Rp32,1 triliun) dan 30,7% (Rp86,2 triliun).

3 4

Angka sementara Tidak termasuk chanelling.

37

⎜ PERKEMBANGAN DAN EVALUASI KEBIJAKAN PERBANKAN ⎟

Pertumbuhan Kredit Per Jenis Penggunaan(%)
40% 30% 20% 10%
2.7% 28.4% 21.4% 16.4% 10.8% 37.4%

Rp T
70  60 

%
10  9  8 

2008

2009
29.9%

2010*

50  40  30  20  10  0 

7  6  5  4  3  2  1  0  2006 2007 2008 2009 2010

19.0% 19.7%

0% KMK KI KK

NPLs Net (%) NPLs Gross (%)

NPL Nominal  (Rp T) NPLs Gross + Channeling(%)

PPAP (Rp T) NPLs Net + Channeling(%)

Grafik 4.2 Pertumbuhan Kredit Jenis Penggunaan

Grafik 4.3 Perkembangan NPL Perbankan

Kualitas kredit perbankan selama triwulan IV-2010 relatif terkendali. Peningkatan Non Performing Loan (NPL) nominal sekitar Rp3 triliun selama triwulan terakhir, tidak mengakibatkan rasio NPL perbankan melonjak signifikan. Per November 2010, rasio NPL gross adalah sebesar 3,1%, atau hanya mengalami peningkatan tipis dibandingkan dengan akhir triwulan sebelumnya (3,0%). Apabila memperhitungkan kredit chanelling, rasio NPL gross perbankan adalah sebesar 3,4%, atau meningkat 10 bpsdibandingkan dengan triwulan sebelumnya (3,5%). Secara individual, terdapat beberapa bank dengan rasio NPL yang relatif tinggi mencapai kisaran 15%. Namun guna mengantisipasi risiko, bank-bank tersebut telah membentuk Penyisihan Penghapusan Aktiva Produktif (PPAP) kredit yang cukup besar sehingga rasio NPL net berada di bawah 5%.

2.3.

Perkembangan Sumber Dana

Setelah sempat tumbuh melambat, penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) selama triwulan IV-2010 mengalami peningkatan sebesar 3,2% atau Rp68,2 triliun. Dengan pertumbuhan tersebut, secara ytd DPK meningkat sebesar Rp239,2 triliun atau 12,1% hingga mencapai Rp2.212,2 triliun pada akhir November 2010. Meskipun relatif tinggi, angka pertumbuhan ini masih lebih rendah dibandingkan dengan kenaikan kredit, sementara disisi lain, jumlah alat likuid bank justru meningkat. Perkembangan tersebut mengindikasikan adanya peningkatan peran sumber pembiayaan selain DPK. Per November 2010, pendanaan bank masih didominasi oleh DPK dengan pangsa yang relatif stabil dibandingkan dengan triwulan sebelumnya, yaitu 91,1%. Namun, terlihat adanya pergeseran diantara sumber pendanaan yang lain, yaitu Pinjaman yang Diterima yang turun dari 1,4% menjadi 1,3% dan Surat Berharga yang Diterbitkan naik dari 0,6% menjadi 0,7%. Dengan demikian, peningkatan pendanaan selain DPK diindikasikan berasal dari kenaikan Surat Berharga yang Diterbitkan.

38

⎜ PERKEMBANGAN DAN EVALUASI KEBIJAKAN PERBANKAN ⎟

Rp T

Perkembangan DPK per Komponen

Rp T

1.200 900 600 300 0 Okt'09 Jan'10 Apr'10 Jul'10 Okt'10

2.300 2.000 1.700 1.400 1.100 800

Giro 

Tabungan

Deposito

DPK (kn)

Grafik 4.4 Perkembangan DPK per Komponen

2.4.

Likuiditas

Risiko likuiditas bank sampai dengan akhir triwulan IV-2010 cukup terkendali. Di tengah pertumbuhan kredit yang cenderung lebih cepat dibandingkan DPK, jumlah alat likuid bank justru meningkat. Peningkatan tersebut antara lain dipengaruhi oleh tingginya ekspansi dana Pemerintah menjelang akhir tahun, serta indikasi bank mengalihkan jumlah penempatannya pada bank lain menjadi alat likuid dalam bentuk kas, penempatan di Bank Indonesia, dan surat berharga yang dimiliki sebagai upaya antisipasi terhadap ketentuan kenaikan GWM primer yang diberlakukan mulai 1 November 2010. Berdasarkan pengamatan sampai dengan akhir November, peningkatan kewajiban GWM tersebut tidak berdampak negatif terhadap kondisi likuiditas bank. Pada November 2010, jumlah alat likuid bank mencapai Rp73,2 triliun atau dalam triwulan terakhir mengalami peningkatan sebesar 10,3%. Dengan demikian, selama 2010 (s.d November), jumlah alat likuid bank telah meningkat sebesar Rp68,9 triliun (9,7%), khususnya dalam bentuk primary dan secondary reserves yang terkait dengan adanya kebutuhan bank untuk memenuhi peningkatan GWM. Dalam sebulan terakhir, terlihat adanya shifting dari secondary reserves ke primary reserves.
Rp T 600  500  750  400  300  200  650  100  0  600  700 
5

Perkembangan Alat Likuid per Komponen

Rp T 800 

Dec‐09
Primary R eserves

Mar‐10

Jun‐10

Sep‐10
Tertiary Reserves ALAT LIKUID (kn)

Secondary Reserves

Gambar 4.5 Perkembangan Alat Likuid per Komponen

5

Alat likuid bank meliputi primary reserves yang terdiri dari kas dan giro bank pada BI; secondary reserves yang terdiri dari SBI, penempatan lainnya pada BI, dan SUN (Trading dan AFS); dan tertiary reserves yang terdiri dari SUN HTM.

39

⎜ PERKEMBANGAN DAN EVALUASI KEBIJAKAN PERBANKAN ⎟

Meskipun secara umum kondisi likuiditas perbankan relatif memadai, kepemilikan alat likuid bank masih tetap didominasi oleh kelompok bank tertentu. Sebagian besar (87,9%) dari keseluruhan jumlah alat likuid bank, dimiliki oleh bank besar yang mendominasi 87,2% total aset perbankan. Berdasarkan jenis alat likuidnya, terdapat indikasi bahwa semakin kecil bank, semakin kecil pula kecenderungan bank untuk memelihara alat likuid dalam bentuk tertiary reserves. Sebaliknya, secondary reserves merupakan alat likuid yang paling diminati oleh hampir semua bank. Meningkatnya jumlah alat likuid bank mendorong kemampuan bank untuk mangantisipasi kebutuhan jangka pendek semakin membaik. Hal tersebut tercermin dari 6 peningkatan rasio alat likuid terhadap non core deposit (NCD) dari 164,8% (September 2010) menjadi 176,8% (November 2010). Meskipun masih dalam batas aman, pemantauan likuiditas yang intensif, khususnya bagi bank dengan alat likuid terbatas masih tetap diperlukan mengingat hingga November 2010 masih terdapat bank dengan rasio alat likuid di bawah 100%. Di samping itu, sebagai dampak implementasi GWM LDR dan kenaikan GWM valas sampai dengan 8% di tahun 2011 mendatang, diperkirakan masih terdapat potensi penurunan jumlah alat likuid.
Pangsa Alat Likuid per Kelompok Bank  berdasarkan Total Aset
3,71% 0,50% 7,89%

Rp T

Rasio Alat Likuid thd NCD
260% 220%
176,84%

87,90%

<Rp1 T >Rp1 T ‐ Rp5 T >Rp5 T ‐ Rp15 T >Rp15 T

900  800  700  600  500  400  300  200  Dec‐09 Mar‐10
NCD 

180% 140% 100%

158,4%

Jun‐10

Sep‐10
Rasio Alat Likuid thd NCD

Alat Likuid

Grafik 4.6 Pangsa Alat Likuid per Kelompok Bank berdasarkan Total Aset

Grafik 4.7 Rasio Alat Likuid terhadap NCD

2.5.

Profitabilitas

Kinerja profitabilitas perbankan selama triwulan IV-2010 cenderung meningkat. Dalam triwulan terakhir, perbankan berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp10,6 triliun. Dengan demikian, sampai dengan November 2010 total laba bersih perbankan mencapai Rp53,99 triliun, atau 19,4% lebih tinggi dibandingkan dengan pencapaian selama tahun 2009.

6

NCD terdiri dari: 30% giro + 30% tabungan + 10% deposito s.d 3 bulan.

40

⎜ PERKEMBANGAN DAN EVALUASI KEBIJAKAN PERBANKAN ⎟

Tabel 4.2 Profitabilitas
Rp T L/R Operasional L/R Non Operasional L/R sblm Pajak L/R stlh Pajak L/R Berjalan s.d Nov'09 36,58 19,75 56,33 41,39 Des'09 39,87 21,91 61,78 45,22 L/R Berjalan s.d Nov'10 45,61 24,87 70,48 53,99

Sumber laba bank tetap didominasi oleh laba operasional, khususnya dari pendapatan bunga yang secara bulanan terus menunjukkan peningkatan, khususnya sejak Maret 2010. Perkembangan ini tidak terlepas dari pertumbuhan kredit yang cukup positif di tahun 2010. Sampai dengan November 2010, Net Interest Income (NII) perbankan secara rata-rata berhasil mencapai Rp12,4 triliun per bulan. Angka ini meningkat bila dibandingkan dengan rata-rata tahun sebelumnya yang hanya Rp10,7 triliun. Selain pertumbuhan kredit, spread suku bunga yang cenderung melebar ditengah stabilnya angka BI rate, menjadi salah satu faktor yang turut mempengaruhi peningkatan NII perbankan. Sementara itu, indikator profitabilitas lainnya, yaitu Return on Asset (ROA) mengalami sedikit peningkatan menjadi 2,8% dibandingkan dengan posisi akhir tahun 2009 sebesar 2,6%, meskipun tercatat sejumlah bank yang mengalami kerugian sehingga beberapa bank memiliki ROA di bawah rata-rata industri..
Rp T

L/R Perbankan (Bulanan)
L/R Non Operasional L/R Operasional L/R Bank (sblm Pajak)

Rp T

Perkembangan NII (bulanan)

Rp T

10  8  6  4  2  ‐ (2)

25 20 15

14 13 12

10 5 0 11 10

Jan‐10

Mar‐10

Mei‐10

Jul‐10 Beban Bunga

Sep‐10

Nop‐10

Jan'10

Apr'10

Jul'10

Okt'10

Pend. Bunga

NII (kn)

Grafik 4.8 L/R Perbankan (bulanan)

Grafik 4.9 Perkembangan NII (bulanan)

2.6.

Permodalan

Kondisi permodalan bank sampai dengan akhir triwulan IV-2010 relatif terkendali meskipun terindikasi turun sesuai dengan yang telah diproyeksikan pada RBB 2010. Selain karena faktor penyaluran kredit 2010 yang ditargetkan lebih tinggi dibandingkan dengan tahun 2009 yang lalu, mulai diperhitungkannya ATMR risiko operasional juga turut menurunkan permodalan bank. Per November 2010, Capital Adequacy Ratio (CAR) perbankan mencapai 16,3% atau mengalami sedikit penurunan dibandingkan dengan posisi akhir triwulan sebelumnya yang mencapai 16,4% dan akhir tahun 2009 yang mencapai 17,4%. Namun demikian, kecenderungan penurunan CAR perbankan ini tidak sampai mengakibatkan terdapatnya bank dengan rasio permodalan di bawah level minimum yang diprasyaratkan. Posisi November 2010, CAR individual bank berada di atas rasio kewajiban penyediaan modal minimum.

41

⎜ PERKEMBANGAN DAN EVALUASI KEBIJAKAN PERBANKAN ⎟

Hasil stress test menunjukkan bahwa angka CAR tersebut masih cukup mampu untuk mengantisipasi tekanan ke depan, terutama yang bersumber dari volatilitas nilai tukar, pergerakan suku bunga dan pergerakan harga Surat Utang Negara (SUN). Sementara itu, hasil stress test untuk melihat dampak krisis ekonomi yang terjadi pada beberapa negara mengindikasikan bahwa dampak terhadap penurunan CAR perbankan relatif terbatas apabila diasumsikan perbankan mengalami kerugian sejumlah total eksposur bank atas portofolio yang bersumber dari negara Portugal, Ireland, Italy, Greek and Spain (PIIGS), negara kawasan Eropa, Amerika Serikat dan Inggris,
Proyeksi dan Realisasi CAR
17.50% 17.00% 16.50% 16.00% 15.50% 15.00%

Des

2009 CAR RBB

Des

2010

Okt

Des

2011

CAR realisasi

Grafik 4.10 Proyeksi dan Realisasi CAR

3.

Perkembangan Perbankan Syariah

Gejolak krisis Eropa yang sempat terjadi pada tahun 2010 tidak berpengaruh signifikan terhadap kondisi perbankan syariah nasional. Relatif rendahnya tingkat integrasi antara perbankan syariah dengan sistem keuangan global, serta minimnya eksposur valas perbankan syariah, menjadi faktor yang menyebabkan terhindarnya perbankan syariah dari pengaruh langsung gejolak perekonomian global. Total aset perbankan syariah telah mencapai Rp90,4 triliun atau tumbuh sebesar 46,67% (yoy) pada November 2010 atau meningkat dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya sebesar 16,72%. Secara rata-rata total aset perbankan syariah tumbuh di atas 33% per tahun. Tingkat pertumbuhan yang tinggi tersebut diperkirakan akan terus berlanjut hingga beberapa tahun ke depan seiring dengan semakin bertambahnya jumlah bank syariah di Indonesia. Dari sisi kelembagaan, jumlah bank syariah saat ini telah mencapai 11 Bank Umum Syariah (BUS), 23 Unit Usaha Syariah (UUS), dan 149 Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS). Jaringan operasional perbankan syariah juga mengalami penyebaran yang cukup signifikan, dari 1.258 kantor pada akhir 2009 menjadi 1.693 kantor pada akhir November 2010. Secara geografis, penyebaran jaringan kantor perbankan syariah saat ini telah menjangkau masyarakat di lebih dari 89 kabupaten/kota di 33 propinsi. Dalam periode yang sama jumlah rekening nasabah bank syariah nasional juga meningkat, dari 4,8 juta menjadi 6,2 juta rekening.

42

⎜ PERKEMBANGAN DAN EVALUASI KEBIJAKAN PERBANKAN ⎟

Memasuki triwulan IV-2010 kinerja penghimpunan dana perbankan syariah yang sempat melambat sejak awal tahun, mulai mengalami perkembangan sehingga mampu tumbuh sebesar 43,75% (yoy), meningkat dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 38,95% (yoy). Tingginya pertumbuhan DPK tersebut didorong oleh semakin kompetitifnya imbal bagi hasil yang ditawarkan perbankan syariah. Diantara produk penghimpunan dana yang ditawarkan, Deposit iB merupakan produk yang paling diminati. Sampai dengan November 2010 porsi dana masyarakat yang ditempatkan dalam Deposito iB mencapai 57,97% atau meningkat dibandingkan periode yang sama tahun 2009, yang mencapai 56,50%. Sedangkan porsi Tabungan Wadiah iB dan Giro Wadiah iB masing-masing mengalami sedikit penurunan dari 31,49% menjadi 30,12% dan 12,01% menjadi 11,90%. Perkembangan positif juga terlihat pada kegiatan penyaluran dana perbankan syariah dalam bentuk pembiayaan, yang mengalami peningkatan signifikan dengan laju pertumbuhan sebesar 43,72% (yoy) atau lebih tinggi dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 24,86% (yoy). Peningkatan tersebut mengindikasikan membaiknya kinerja sektor riil mengingat kegiatan pembiayaan yang diberikan (PYD) perbankan syariah sebagian besar disalurkan ke sektor riil. Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) sebagai sektor yang lekat dengan perbankan syariah tetap menjadi prioritas penyaluran dana perbankan syariah, tercermin pada alokasi pembiayaan, baik modal kerja maupun investasi, ke sektor tersebut yang mencapai Rp52,01 triliun dengan porsi 78,86% dari total PYD BUS dan UUS. Positifnya kinerja pembiayaan perbankan syariah ini diikuti dengan penurunnya angka pembiayaan bermasalah, yang tercermin dari rasio Non Performing Financing (NPF) yang mengalami penurunan hingga menjadi 3,99% pada November 2010. Kondisi ini memperlihatkan bahwa bank syariah semakin berhati-hati dalam menyalurkan pembiayaan dan semakin membaik dalam melakukan pengelolaan risiko. Membaiknya kinerja perbankan syariah mampu meningkatkan profitabilitas bank tercermin pada peningkatan angka ROA dari 1,48% pada akhir Novembar2009 menjadi 1,68% pada November 2010. Sementara itu, peningkatan pembiayaan yang diikuti dengan penurunan rasio NPF, mampu menurunkan biaya operasional hingga menurunkan rasio Biaya Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO) dari 83,08% menjadi 77,70%. Dari sisi pendapatan, upaya bank syariah menjaga profitabilitas terlihat dari tumbuhnya pendapatan operasional yang cukup tinggi, yaitu sebesar 33,56% (yoy), dari Rp5,96 triliun menjadi Rp7,96 triliun pada November 2010. Pendapatan dari penyaluran dana, khususnya dalam bentuk piutang murabahah tetap masih menjadi sumber utama, namun upaya diversifikasi pendapatan yang dilakukan secara intensif tercermin dari fee based income yang tumbuh sebesar 18,4% (yoy). Sementara itu, arah kebijakan pengembangan perbankan syariah ke depan difokuskan pada tujuh butir arah kebijakan berikut: (i) Optimalisasi insentif fiskal bagi Industri perbankan syariah; (ii) Peningkatan Kualitas Pengawasan dan Sumber Daya Manusia Perbankan Syariah; (iii) Peningkatan Kualitas Sistem Pengawasan; (iv) Penguatan Permodalan; (v) Pengembangan Human Capital Perbankan Syariah 2011; (vi) Strategi Kompetisi Untuk Meningkatkan Kapasitas dan Kualitas Layanan; serta (vii) Edukasi Publik Secara Inovatif dan Terintegrasi. Citra baru yang lebih universal dan inklusif dari industri perbankan syariah, yang kini populer dikenal sebagai iB (ai-Bi), telah berhasil menempatkan bank syariah sebagai alternatif sistem perbankan yang

43

⎜ PERKEMBANGAN DAN EVALUASI KEBIJAKAN PERBANKAN ⎟

dapat dinikmati oleh semua kalangan masyarakat tanpa terkecuali. Dengan melihat perkembangan tersebut, maka program sosialisasi iB Campaign pada 2011 akan tetap mengedepankan PDB (positioning, differentiation, branding) dari industri perbankan syariah sebagai “Lebih Dari Sekedar Bank” (Beyond Banking), melalui komunikasi yang inklusif dan terfokus tentang kelebihan bank syariah dalam hal fitur (functional benefits), keberagaman produk, dan kekayaan variasi skema keuangan yang dimilikinya.

4.
4.1.

Perkembangan Bank Perkreditan Rakyat 7
Kelembagaan

Jumlah BPR konvensional posisi akhir Oktober 2010 mengalami penurunan sebanyak 37 BPR dari posisi yang sama tahun sebelumnya hingga mencapai 1.707 BPR dengan jaringan kantor cabang sebanyak 1.059. Penurunan tersebut disebabkan terjadinya merger 31 BPR menjadi 5 BPR hasil merger, pencabutan izin usaha 8 BPR selama Januari sampai dengan Oktober 2010 dan pendirian 4 BPR baru. Dari sisi badan hukum, BPR dengan badan hukum Perseroan Terbatas mengalami peningkatan sebesar 0,87% dari bulan Oktober 2009, yaitu semula 1.373 (78,73%) menjadi 1.385 (81,13%). BPR berbentuk badan hukum Perusahaan Daerah (PD) mengalami penurunan sebanyak 45 BPR hingga menjadi 288, dan BPR dengan badan hukum Koperasi mengalami penurunan sebanyak 4 BPR hingga menjadi 34 Koperasi. Perubahan jumlah tersebut terjadi akibat proses konsolidasi dan perubahan bentuk badan hukum BPR.

4.2.

Kinerja Industri BPR

Secara umum, industri BPR menunjukkan kinerja yang cenderung meningkat, tercermin dari peningkatan volume usaha BPR posisi Oktober 2010 yang mencapai Rp44,17 triliun atau meningkat sebesar 23,03% dibandingkan dengan posisi yang sama tahun sebelumnya. Dalam periode yang sama, penyaluran kredit BPR mengalami peningkatan sebesar 20,58% hingga menjadi Rp33,28 triliun. Keberpihakan BPR kepada (UMKM) ditunjukkan dengan tetap tingginya porsi kredit mikro dan kecil sebesar 50,10% dari total kredit. Sementara itu, dalam periode yang sama penghimpunan dana BPR juga mengalami peningkatan sebesar 23,08% atau dari Rp24,54 triliun menjadi Rp30,06 triliun.

Grafik 4.11 Perkembangan Aset, Kerdit dan DPK
7

Berdasarkan data statitik BPR konvensional per Oktober 2010

44

⎜ PERKEMBANGAN DAN EVALUASI KEBIJAKAN PERBANKAN ⎟

Relatif tingginya angka peningkatan kredit BPR diikuti dengan sedikit peningkatan rasio Loan to Deposit Ratio (LDR) BPR, yaitu dari 81,94% menjadi 82,06%. Peningkatan LDR yang disertai dengan penurunan rasio kualitas Aktiva Produktif (KAP) dan NPL (baik gross maupun net), mengindikasikan cukup baiknya kualitas penyaluran kredit BPR. Di sisi lain, sejalan dengan kenaikan kredit terjadi penurunan angka cash ratio BPR dari 15,28% menjadi 15,24%. Sementara itu dari sisi profitabilitas, kinerja BPR terus membaik seiring peningkatan ROA dan penurunan BOPO.
Tabel 4.3 Indikator Utama BPR
Rasio Des '08 Okt '09 Des '09 Okt' 10 Okt'09 Des'08 0,35 -0,61 0,09 -1,13 0,53 3,64 -0,88 -2,25 -1,98 Okt'10 Des'09 5,72 2,45 -2,32 -0,19 0,12 1,64 -0,7 -0,11 0,08 Okt'10 Okt'09 6,2 0,12 -0,04 -0,7 0,07 0,41 -0,83 -0,84 -0,38

CAR LDR CR KAP ROA ROE BOPO NPL Gross NPL Net

23,34 82,55 15,19 6,44 2,61 22,67 82,83 9,88 6,41

23,69 81,94 15,28 5,31 3,14 26,31 81,95 7,63 4,43

24,17 79,61 17,56 4,80 3,09 25,08 81,82 6,90 3,97

29,89 82,06 15,24 4,61 3,21 26,72 81,12 6,79 4,05

Kondisi permodalan BPR relatif stabil dan diindikasikan oleh CAR yang semula 23,69% pada Oktober 2009 menjadi 29,89% pada Oktober 2010. Peningkatan tersebut dipicu oleh adanya kewajiban pemenuhan modal disetor minimum 100% pada akhir tahun 2010. Namun demikian, sampai dengan akhir Oktober 2010 masih terdapat 218 BPR (12,77%) yang belum memenuhi persyaratan modal tersebut. Terkait dengan perkembangan suku bunga kredit BPR, meskipun masih relatif tinggi pada kisaran 20,69% (untuk kredit dengan plafon besar) sampai dengan 38,85% (untuk kredit sektor pertanian), rata-rata suku bunga kredit BPR mengalami penurunan sebesar 0,73%, yaitu dari 32,42% menjadi 31,19%. Penurunan suku bunga kredit BPR tersebut seiring dengan penurunan suku bunga simpanan, yang tercermin pada suku bunga deposito dan suku bunga tabungan yang mengalami penurunan masing-masing sebesar 0,73% dan 0,61% dari posisi yang sama di tahun sebelumnya hingga menjadi 10,23% dan 5,77%.

5.

Perkembangan Investigasi dan Mediasi Perbankan

Selama tahun 2010, pemeriksaan khusus dan investigasi telah dilakukan terhadap 11 Bank Umum dan 20 BPR. Di samping itu, telah dilakukan koordinasi dengan instansi terkait dalam penanganan kasus penghimpunan dana illegal di 2 (dua) lembaga non bank dengan rincian sebagai berikut :

45

⎜ PERKEMBANGAN DAN EVALUASI KEBIJAKAN PERBANKAN ⎟

Tabel 4.4 Pelaksanaan Fungsi Investigasi Perbankan
PENANGANAN PEMERIKSAAN KHUSUS INVESTIGASI TOTAL BANK UMUM BANK KASUS 3 3 8 23 11 26 BPR BANK KASUS 5 7 15 27 20 34 NON BANK KANTOR KASUS 2 2 2 2 TOTAL BANK & BUKAN BANK 8 25 33 KASUS 10 52 62

Sejak tahun 1999, Direktorat Investigasi dan Mediasi Perbankan telah menangani 1.030 kasus pada 525 bank dan bukan bank terkait laporan dugaan tindak pidana perbankan, dengan rincian sebagai berikut :
Tabel 4.5 Rincian Penanganan Kasus Perbankan
BANK UMUM KASUS BANK 439 251 436 240 5 191 3 248 104 4 140 3 BPR KASUS BANK 587 270 584 362 26 196 3 268 162 12 94 2 BUKAN BANK KASUS BANK 4 4 4 4 0 0 0 4 4 0 0 0 KASUS 1030 1024 606 31 387 6 TOTAL BANK & BUKAN BANK 525 520 270 16 234 5

PENANGANAN JUMLAH YANG MASUK JUMLAH KASUS YANG SELESAI JUMLAH YANG DILAPORKAN KEPADA PENYIDIK JUMLAH YANG DIREKOMENDASIKAN KEPADA KBI JUMLAH YANG TIDAK DAPAT DITINDAKLANJUTI * DALAM PROSES

* Sebab tidak dapat tindak lanjuti adalah tidak mengandung unsur pidana, sudah ditangani oleh penegak hukum, merupakan kewenangan instansi lain atau daluwars/memenuhi kriteria batal demi hukum.

Selama tahun 2010. kegiatan sosialisasi dan semiloka penanganan tipibank dilakukan di KBI Semarang, Surabaya, Bandung, Medan, Makassar, Denpasar, Manado, Yogyakarta, Palangkaraya dan Cirebon, dengan tujuan memperkuat pelaksanaan Surat Keputusan Bersama di Tingkat Daerah dan memberikan pemahaman mengenai penanganan kasus tindak pidana perbankan, Sementara itu, permohonanan mediasi oleh masyarakat kepada Bank Indonesia menunjukkan trend yang meningkat, tercermin dari permohonan pada posisi November 2010 yang mengalami peningkatan sebesar 10,3%, dari 214 pada posisi bulan sebelumnya hingga menjadi 236 permohonan. Pengaduan nasabah paling tinggi masih pada produk sistem pembayaran dengan presentase 53% dari seluruh pengaduan. Trend pengaduan pada produk tersebut mengalami peningkatan sebesar 5,9%, dari 118 permohonan pada periode bulan sebelumnya hingga menjadi 125 permohonan.
Tabel 4.6 Permohonan Mediasi 2010
Jenis Produk Penghimpunan Dana Penyaluran Dana Sistem Pembayaran Produk Kerjasama Produk Lainnya Diluar permasalahan produk perbankan Total Total yang dimediasi 29 76 125 1 3 2 236

46

⎜ PERKEMBANGAN DAN EVALUASI KEBIJAKAN SISTEM PEMBAYARAN ⎟

BAB 5 PERKEMBANGAN DAN EVALUASI KEBIJAKAN SISTEM PEMBAYARAN
Sesuai misi Bank Indonesia di bidang pengedaran uang, telah dilakukan berbagai upaya dan langkah strategis guna menjamin ketersediaan uang kartal dalam jumlah nominal yang cukup, jenis pecahan yang sesuai, tepat waktu dan dalam kondisi yang layak edar yang cenderung meningkat menjelang hari libur keagamaan dan pergantian tahun. Beberapa isu yang mengemuka pada triwulan IV-2010 antara lain pemenuhan kebutuhan uang dan pemantauan kecukupan kas Bank Indonesia, kualitas uang yang beredar, pemalsuan uang, serta layanan kas di wilayah perbatasan dan daerah terpencil. Dengan mempertimbangkan perkembangan tersebut, strategi kebijakan difokuskan pada upaya memenuhi kebutuhan uang kartal, meningkatkan layanan kas, mengoptimalkan pengiriman uang ke seluruh wilayah Bank Indonesia, serta menanggulangi penyebaran uang palsu. Dengan keberadaan persediaan kas siap edar yang sangat memadai, permintaan masyarakat dan perbankan terhadap kebutuhan uang kartal dalam kondisi fit for circulation terutama menjelang hari libur keagamaan dan pergantian tahun dapat dipenuhi dengan baik. Disisi sistem pembayaran non tunai, sebagaimana triwulan sebelumnya, kebijakan sistem pembayaran tetap difokuskan pada upaya menciptakan efisiensi sistem pembayaran, meningkatkan kehandalan dan kemampuan mitigasi risiko sistem pembayaran sebagai saluran utama transmisi kebijakan moneter dalam rangka memelihara stabilitas moneter dan stabilitas sistem keuangan. Dalam kaitan ini, Bank Indonesia terus mendorong pelaku pada industri sistem pembayaran untuk menggunakan standar instrumen yang aman dan dapat digunakan oleh seluruh infrastruktur yang ada.

1.
1.1.

Perkembangan dan Evaluasi Kebijakan Pengedaran Uang
Kondisi Umum Pengedaran Uang

Jumlah uang kartal yang beredar (UYD) di masyarakat dan perbankan akhir triwulan IV-2010 sebesar Rp318,6 triliun atau meningkat sebesar 14,2% dari posisi yang sama tahun sebelumnya dengan rata-rata UYD harian mengalami kenaikan dari triwulan sebelumnya, yaitu dari sebesar Rp287,9 triliun hingga menjadi sebesar Rp290,6 triliun. Sementara itu persediaan kas Bank Indonesia masih berada pada kisaran aman, yaitu sebesar Rp122,9 triliun atau masih dapat memenuhi kebutuhan 6 (enam) bulan rata-rata jumlah aliran uang kartal yang keluar dari Bank Indonesia ke masyarakat dan perbankan (outflow). Jumlah (outflow) tersebut mengalami penurunan sebesar 13,9% dari triwulan sebelumnya, yaitu dari Rp90,2 triliun menjadi triliun Rp79,1 triliun. Demikian pula pada triwulan IV-2010, aliran uang yang masuk dari perbankan dan masyarakat ke Bank Indonesia (inflow) mengalami penurunan sebesar 32,0%, dari Rp72,0 triliun menjadi Rp54,6 triliun.

47

⎜ PERKEMBANGAN DAN EVALUASI KEBIJAKAN SISTEM PEMBAYARAN ⎟

Penurunan outflow dan inflow dimaksud dipengaruhi oleh faktor musiman paska berakhirnya Idul Fitri yang terjadi pada triwulan III-2010.
Tabel 5.1 Perkembangan Indikator Pengedaran Uang 2010
Triliun Rp
2010 INDIKATOR UK UYD POSISI KAS INFLOW *) OUTFLOW *) NET FLOW*) 266.2 151.0 54.5 79.0 (24.5) Tw-II UL 3.2 0.6 0.0 0.1 (0.1) Total 269.4 151.6 54.6 79.1 (24.6) UK 285.4 133.6 72.0 90.0 (17.9) Tw-III UL 3.4 0.7 0.0 0.2 (0.2) Total 288.8 134.3 72.0 90.2 (18.1) UK 315.1 121.9 54.5 79.0 (24.5) Tw-IV UL 3.5 1.0 0.0 0.1 (0.1) Total 318.6 122.9 54.6 79.1 (24.6)

* data triwulan IV menggunakan angka sementara

1.2.

Perkembangan Uang Kartal Yang Beredar di Masyarakat dan Perbankan (UYD)

Jumlah UYD per akhir triwulan IV-2010 sebesar Rp318,6 triliun, terdiri dari Rp267,8 triliun atau 84,0% yang berada di masyarakat dan Rp50,8 triliun atau 16,0% di perbankan. Pada triwulan IV-2010, jumlah UYD tertinggi dicapai pada tanggal 31 Desember 2010 dan UYD terendah sebesar Rp276,4 triliun terjadi pada tanggal 27 Oktober 2010. Trend UYD pada triwulan IV-2010 relatif sama dengan triwulan yang sama tahun sebelumnya (Grafik 1), dengan kecenderungan yang meningkat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Sebagian besar UYD merupakan uang kertas yang mencapai 98,9% dari total UYD. Sedangkan berdasarkan pecahannya, UYD masih didominasi oleh pecahan besar (Rp20.000 ke atas), yang mencapai Rp293,0 triliun atau 92,0% dari total UYD dan uang pecahan kecil (Rp10.000 ke bawah) sebesar Rp25,6 triliun atau 8,0%. Pangsa Uang Pecahan Kecil (UPK) tersebut mengalami penurunan dari posisi akhir triwulan sebelumnya yang mencapai hingga 9,0%.

Grafik 5.1 Perkembangan UYD Harian Selama Triwulan IV Tahun 2008 – 2010

48

⎜ PERKEMBANGAN DAN EVALUASI KEBIJAKAN SISTEM PEMBAYARAN ⎟

1.3.

Transaksi Uang Kartal Melalui Bank Indonesia dan Pemusnahan Uang

Penurunan jumlah outflow uang kartal selama triwulan IV-2010 sebesar 13,9% dan penurunan jumlah inflow sebesar 32,0% dari triwulan sebelumnya sejalan dengan pola musiman paska Idul Fitri yang berlangsung pada triwulan III-2010. Berdasarkan wilayahnya, sebagian besar outflow uang kartal pada triwulan IV-2010 terjadi di wilayah Kantor Pusat yang mencapai 24,9%. Sedangkan di wilayah Kantor Koordinator Bank Indonesia (KKBI) terjadi di KKBI Padang, KKBI Banjarmasin, dan KKBI Makassar masing-masing mencapai 13%; 12,5%; dan 12,5% dari total outflow. Untuk inflow uang kartal, sebagian besar inflow uang kartal terjadi di wilayah Kantor Pusat yang mencapai 24,1%, sedangkan di wilayah KKBI terjadi di KKBI Surabaya dan KKBI Semarang masing-masing mencapai 11,0% dan 9,6% dari total inflow. Sebagai upaya untuk menjaga uang kartal dalam kondisi layak edar, Bank Indonesia melakukan pemusnahan terhadap uang tidak layak edar. Jumlah uang kertas yang dimusnahkan pada triwulan IV-2010 meningkat menjadi 53,7% dibandingkan dengan triwulan sebelumnya dengan rasio pemusnahan uang terhadap inflow meningkat dari 45,2% menjadi 73,1%. Kenaikan pemusnahan uang tersebut dipengaruhi penerapan kebijakan peningkatan soil level (tingkat kelusuhan) tertentu pada sarana pengolahan uang dalam rangka menjaga tingkat kesegaran uang layak edar sehubungan dengan clean money policy. Berdasarkan bilyet pecahan, uang kertas yang paling banyak dimusnahkan pada triwulan IV-2010 adalah pecahan Rp50.000 dan Rp1.000, masing-masing sebesar 23,9%, dan 20,9% dari total bilyet uang yang dimusnahkan. Adapun secara nominal, pecahan uang yang paling banyak dimusnahkan adalah pecahan Rp50.000 dan Rp100.000, masing-masing sebesar 46,5%, dan 39,6%.

1.4.

Temuan Uang Palsu

Jumlah temuan uang palsu yang dilaporkan ke Bank Indonesia sejak triwulan I s.d triwulan IV-2010 (sampai dengan November) menunjukkan peningkatan sebesar 102,6% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Peningkatan temuan uang palsu tersebut terutama disebabkan kenaikan kasus pengungkapan uang palsu oleh Kepolisian. Berdasarkan pecahan, uang kertas yang banyak dipalsukan adalah pecahan Rp100.000 dan Rp50.000, masing-masing sebesar 65,3% dan 24,8% dari total temuan uang palsu. Meskipun terdapat peningkatan kasus temuan uang palsu, namun rasio temuan uang palsu terhadap uang kertas yang diedarkan hingga akhir November 2010 relatif masih sangat rendah yaitu berjumlah sekitar 15 lembar temuan uang palsu dari setiap satu juta lembar uang kertas yang diedarkan. Temuan uang palsu tertinggi terdapat di wilayah kerja KKBI Semarang, Kantor Pusat, dan KKBI Bandung atau masing-masing sebesar 39,2%, 23,3%, dan 13,0% dari total temuan uang palsu.

1.5.

Evaluasi Kebijakan Pengedaran Uang

Sebagai lembaga yang berwenang mengeluarkan, mengedarkan, mencabut, menarik dan memusnahkan uang, Bank Indonesia senantiasa berupaya memenuhi kebutuhan uang kartal di masyarakat dalam jumlah nominal yang cukup, jenis pecahan yang sesuai, tepat waktu dan dalam kondisi yang layak edar. Terkait dengan kewenangan tersebut, kebijakan

49

⎜ PERKEMBANGAN DAN EVALUASI KEBIJAKAN SISTEM PEMBAYARAN ⎟

Bank Indonesia pada triwulan IV-2010 masih tetap mengacu pada tiga pilar utama yaitu ketersediaan uang Rupiah yang berkualitas dan terpercaya; pengedaran uang yang aman, handal, dan efisien; serta layanan kas prima dan efektif, sebagai berikut:

1.5.1. Ketersediaan Uang Rupiah yang Berkualitas dan Terpercaya 1.5.1.1. Kecukupan Uang Kartal Siap Edar Menghadapi Natal dan Tahun Baru
Dalam menghadapi hari raya keagamaan dan pergantian tahun, selama Desember 2010 Bank Indonesia memperkirakan bahwa jumlah penarikan uang kartal oleh perbankan dan masyarakat akan meningkat menjadi 1,8 kali rata-rata outflow bulanan atau sekitar Rp36,9 triliun. Untuk memenuhi kebutuhan dimaksud, Bank Indonesia melakukan strategi penambahan jumlah uang hasil cetak sempurna sebesar Rp20,5 triliun guna memenuhi dengan kecukupan uang kartal layak edar. Realisasi penarikan uang kartal selama bulan Desember mencapai Rp39,2 triliun atau melebihi proyeksi hingga 106,4%. Dengan dukungan tingkat persediaan kas siap edar yang memadai serta komposisi jenis pecahan yang sesuai dan terencana, seluruh permintaan uang kartal baik dapat dipenuhi dengan baik dan lancar dalam jumlah nominal dan jenis pecahan yang dibutuhkan meskipun realisasi penarikan uang kartal melampui perkiraan sebelumnya.

1.5.1.2. Upaya Penanggulangan Peredaran Uang Palsu
Kenaikan jumlah temuan uang palsu pada triwulan IV-2010 (sampai November) terutama disebabkan pengungkapan kasus pemalsuan uang oleh Kepolisian berdasarkan hasil laporan dari masyarakat dan pemahaman yang cukup baik terhadap ciri-ciri keaslian uang Rupiah serta peran aktif dan kesadaran masyarakat untuk membantu penanggulangan pemalsuan uang. Sehubungan dengan hal tersebut, Bank Indonesia akan terus berupaya meningkatkan sosialisasi dan edukasi mengenai keaslian uang Rupiah secara terus menerus. Sesuai dengan kesepakatan dengan beberapa instansi terkait pelatihan Training of Trainer (ToT) mengenai ciri-ciri keaslian uang Rupiah yang sudah dilakukan pada triwulan III2010, pada triwulan IV-2010 Bank Indonesia terus melanjutkan kesepakatan tersebut dengan instansi lainnya, yaitu PT. Kejar dan Bank Index Selindo. Adapun kegiatan lainnya, seperti sosialisasi terhadap ciri-ciri asli uang Rupiah secara langsung dilakukan melalui kegiatan pameran, kerjasama dengan perbankan dan instansi terkait, serta melalui kebudayaan daerah setempat seperti pertunjukan wayang di wilayah Kediri, Jombang, Garut, Solo, dan Yogyakarta. Sosialisasi ciri-ciri keaslian uang Rupiah juga dilakukan melalui kampanye yang intensif melalui iklan layanan masyarakat seperti media cetak, media elektronik (radio dan televisi) dan sarana transportasi.

1.5.2. Pengedaran Uang yang Aman, Handal, dan Efisien 1.5.2.1. Realisasi Pengiriman Uang
Dalam rangka memenuhi kebutuhan uang di berbagai daerah di Indonesia, Kantor Pusat Bank Indonesia melakukan kegiatan pengiriman uang ke wilayah Kantor Bank Indonesia (KBI). Realisasi pengiriman uang sampai akhir tahun 2010 tercatat sebesar Rp146,7 triliun atau

50

⎜ PERKEMBANGAN DAN EVALUASI KEBIJAKAN SISTEM PEMBAYARAN ⎟

mencapai 97,4% dari total rencana kebutuhan uang, sedangkan realisasi retur sebesar Rp1,6 triliun atau 80,5% dari rencana.

1.5.2.2. Strategi Pengiriman Uang Menghadapi Natal dan Tahun Baru 2010
Untuk mengantisipasi kegiatan pengiriman uang menghadapi Natal dan Tahun Baru yang cenderung meningkat, pada awal triwulan IV-2010 Bank Indonesia melakukan evaluasi terhadap rencana kebutuhan uang yang merupakan dasar pertimbangan pengiriman uang ke seluruh wilayah kerja KBI. Berdasarkan evaluasi tersebut, diperkirakan bahwa rencana kebutuhan uang pada akhir tahun 2010 akan mencapai Rp45,2 triliun, sedangkan rencana kebutuhan uang retur dari KBI ke Kantor Pusat Bank Indonesia (KPBI) mencapai Rp680 miliar. Rencana kebutuhan uang tersebut lebih rendah dari perhitungan awal yaitu sebesar Rp54,7 triliun. Hal tersebut diakibatkan adanya tambahan posisi kas siap edar dengan adanya kebijakan diskresi paska Idul Fitri terkait pelebaran tenggang waktu dropshot yang diberlakukan sampai dengan akhir Desember 2010. Adapun strategi pengiriman uang yang ditempuh Bank Indonesia untuk memenuhi kebutuhan uang adalah dengan melakukan pengiriman ke seluruh unit kerja kas di KPBI dan KBI. Pengiriman tersebut dilakukan dengan meningkatkan frekuensi dan kuantitas pengiriman uang dari KPBI serta menyusun action plan pengiriman uang, khususnya terkait pengaturan/penjadwalan pengiriman uang dari KPBI ke seluruh unit kerja kas. Dengan memperhatikan berbagai perkembangan perekonomian serta kegiatan yang terjadi sepanjang tahun 2010, Bank Indonesia melakukan penyesuaian terhadap Rencana Kebutuhan Uang (RKU) tahun 2011. Berdasarkan hasil RKU yang dilaksanakan pada awal triwulan IV-2010, jumlah kebutuhan uang tahun 2011 diperkirakan akan meningkat sebesar 6,7% dari RKU tahun 2010.

1.5.3. Layanan Kas Prima dan Efektif 1.5.3.1. Strategi Layanan Penukaran Uang Pecahan Kecil Menjelang Natal dan Tahun Baru 2010
Layanan kas menjelang Natal dan Tahun Baru tidak berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Bank Indonesia tidak menerapkan strategi khusus layanan kas uang pecahan kecil sebagaimana menghadapi Ramadhan dan Idul Fitri mengingat kegiatan penukaran uang kartal dan kebutuhan uang pecahan kecil menjelang Natal dan Tahun Baru relatif tidak berbeda dengan periode normal. Selain itu, jarak yang relatif pendek antara periode Ramadhan dan periode Natal serta Tahun Baru menjadi salah satu faktor yang menyebabkan tidak adanya lonjakan permintaan penukaran uang kartal dan uang pecahan kecil. Menghadapi Natal dan Tahun Baru, kebijakan yang diterapkan oleh Bank Indonesia hanya terbatas pada upaya melanjutkan dukungan kepada 10 (sepuluh) bank yang ikut serta dalam pilot project kegiatan penukaran uang pecahan kecil dalam bentuk peningkatan plafon penukaran uang pecahan kecil bagi bank peserta pilot project.

1.5.3.2. Efisiensi Waktu Layanan Kas
Sebagai upaya untuk memberikan layanan kas prima kepada stakeholders guna memperlancar pemenuhan kebutuhan uang kartal di masyarakat, Bank Indonesia terus

51

⎜ PERKEMBANGAN DAN EVALUASI KEBIJAKAN SISTEM PEMBAYARAN ⎟

meningkatkan efisiensi waktu layanan kas kepada perbankan melalui penerapan ISO 9001:2008 layanan kas. Rata-rata waktu layanan setoran dan bayaran bank di Kantor Pusat pada triwulan IV-2010 masing-masing mencapai 17 menit 02 detik dan 19 menit 07 detik atau masih lebih cepat dari target waktu yang dipersyaratkan oleh ISO 9001:2008 layanan kas, yaitu 20 menit.

1.6.

Arah Kebijakan

Terkait dengan kinerja dan perkembangan pengedaran uang serta evaluasi yang telah dilakukan sepanjang tahun 2010, arah kebijakan di bidang pengedaran uang yang akan ditempuh Bank Indonesia pada tahun mendatang adalah: 1. Meningkatkan kualitas uang yang beredar di masyarakat dan pemenuhan permintaan uang sesuai dengan jenis pecahan yang dibutuhkan oleh masyarakat/perbankan. Strategi yang akan ditempuh antara lain dengan mengoptimalkan fungsi elemen pada desain uang kertas (UK) pecahan besar (Rp20.000 ke atas) dengan mempertimbangkan bahwa pecahan tersebut merupakan target utama upaya pemalsuan uang; penetapan standarisasi uang layak edar disertai dengan pemantauan kualitas uang kepada perbankan/masyarakat; serta terus menerus meningkatkan efektivitas upaya penanggulangan pemalsuan uang. 2. Peningkatan efektivitas operasional kas di BI dan perbankan, dilakukan dengan menyempurnakan sistem dan prosedur layanan kas kepada perbankan yang bersifat “customer oriented”. 3. Pengembangan Layanan Kas Bank Indonesia dengan mengikutsertakan peran perbankan dan instansi terkait, antara lain dengan meningkatkan layanan kas melalui kegiatan kas keliling dan kas titipan di daerah terpencil wilayah Kantor Bank Indonesia. Dalam kegiatan layanan kas tersebut, untuk meningkatkan pemahaman terhadap uang Rupiah, juga akan dilakukan sosialisasi ciri-ciri keaslian uang Rupiah dan cara memperlakukan uang Rupiah. Selain itu, untuk kelancaran dan keamanan distribusi uang Rupiah ke wilayah tersebut, Bank Indonesia akan melakukan kerja sama dengan instansi terkait antara lain dengan aparat pertahanan dan keamanan (TNI AL/TNI AD/Polri).

2.
2.1.

Perkembangan dan Evaluasi Kebijakan Sistem Pembayaran Non Tunai
Perkembangan Sistem Pembayaran

Penyelenggaraan sistem pembayaran non tunai selama triwulan IV-2010 secara umum berjalan dengan baik. Penyelenggaraan Sistem Kliring Nasional Bank Indonesia (SKNBI) maupun Bank Indonesia Real Time Gross Settlement (BI-RTGS) tetap dapat dijaga kehandalannya sehingga pelaksanaan transfer dana tidak mengalami gangguan yang berpengaruh pada stabilitas sistem keuangan. Demikian pula halnya dengan sistem yang dioperasikan oleh pihak di luar Bank Indonesia yang dapat berjalan dengan baik sehingga tidak mengganggu stabilitas sistem keuangan. Transaksi pembayaran melalui Sistem Kliring Nasional Bank Indonesia (SKNBI), sistem pemroses Alat Pembayaran Menggunakan Kartu (APMK) dan uang elektronik serta beberapa

52

⎜ PERKEMBANGAN DAN EVALUASI KEBIJAKAN SISTEM PEMBAYARAN ⎟

transaksi masyarakat melalui Sistem Bank Indonesia Real Time Gross Settlement (BI-RTGS) menunjukkan peningkatan. Aktivitas transaksi pembayaran secara volume menunjukkan peningkatan terkait dengan aktivitas pembayaran menjelang Natal dan akhir tahun 2010 hingga mencapai 556,5 juta transaksi atau meningkat 0,74% dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Sejalan dengan peningkatan volume, secara nominal mencapai Rp17,81 ribu triliun atau meningkat 37,31% dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Peningkatan nilai ini terutama terjadi pada transaksi nilai besar yang dilakukan melalui sistem BI-RTGS, khususnya transaksi pengelolaan moneter dan transaksi Pemerintah.

2.1.1. Perkembangan Transaksi BI-RTGS
Sepanjang triwulan IV-2010, transaksi pembayaran yang diproses melalui BI-RTGS mencapai Rp16,76 ribu triliun dengan volume 3,95 juta transaksi atau mengalami peningkatan 39,59% dari sisi nilai transaksi dan 10,65% dari sisi volume transaksi dibanding posisi triwulan sebelumnya. Secara keseluruhan, aktivitas transaksi pada BI-RTGS mengkonfirmasi meningkatnya pertumbuhan ekonomi domestik dibanding triwulan sebelumnya. Meningkatnya konsumsi rumah tangga karena membaiknya daya beli masyarakat dan tingginya aktivitas transaksi selama periode hari raya keagamaan dan menjelang pergantian tahun tercermin dari tingginya transfer dana oleh masyarakat melalui BI-RTGS sehingga berdampak pada meningkatnya volume transaksi dibanding triwulan lalu.
Tabel 5.2 Perkembangan Transaksi BI-RTGS
Nilai Periode (Rp Ribu trilliun) 2009 Tw I Tw II Tw III Tw IV 2010 Tw I Tw II Tw III Tw IV 10,3 10,9 10,5 11,2 12,4 13,0 12,0 16.8 Rata-rata Harian (Rp trilliun) 174,8 173,4 174,7 179,8 202,6 210,1 193,7 266.1 2,5 2,8 2,9 3,2 3,1 3,4 3,6 4.0 Volume (juta) Rata-Rata Harian (ribu) 42,1 44,8 48,7 50,7 50,8 54,4 57,6 62.7

2.1.2. Perkembangan Transaksi BI-SSSS
Selama triwulan IV-2010, setelmen surat berharga dan Operasi Pasar Terbuka (OPT) melalui Bank Indonesia-Scripless Securities Settlement System (BI-SSSS) mencapai Rp4.707,6 triliun dengan volume 26.592 transaksi atau mengalami penurunan mengalami peningkatan 79% dari sisi nominal dan mengalami penurunan 4,7% dari sisi volume transaksi. Peningkatan nominal transaksi yang diikuti dengan penurunan volume transaksi tersebut terutama disebabkan tingginya transaksi jual beli surat berharga menjelang akhir tahun dalam nominal besar dalam masing-masing transaksinya.

53

⎜ PERKEMBANGAN DAN EVALUASI KEBIJAKAN SISTEM PEMBAYARAN ⎟

Tabel 5.3 Perkembangan Transaksi BI-SSSS
Nilai Periode (Rp Ribu trilliun) Tw III Tw IV 2,6 4.7 Rata-rata Harian (Rp trilliun) 42,4 75.9 27.895 26.592 449 428 Volume Rata-Rata Harian

2.1.3. Perkembangan Kliring
Aktivitas transfer dana melalui sistem kliring pada triwulan IV-2010 mengalami peningkatan hingga mencapai Rp472,9 triliun dengan volume 24,6 juta transaksi atau meningkat 6,62% dari sisi nilai transaksi dan 6,27% dari sisi volume transaksi dibanding triwulan sebelumnya. Sejalan dengan aktivitas transaksi masyarakat melalui BI-RTGS, di peningkatan transaksi melalui kliring juga merupakan dampak dari tingginya aktivitas ekonomi masyarakat baik karena peningkatan konsumsi maupun meningkatnya kebutuhan transaksi selama periode hari raya keagamaan dan pergantian tahun.
Tabel 5.4 Perkembangan Transaksi Kliring
Periode 2009 Tw I Tw II Tw III Tw IV 2010 Tw I Tw II Tw III Tw IV Nilai (Rp trilliun) 375,4 393,6 361,8 420,7 406,3 424,9 443,5 472.9 Rata-rata Harian (Rp trilliun) 6,3 6,3 6,9 6,8 6,7 6,8 7,2 7.5 Volume (juta) 20,1 21,3 21,7 21,6 21,0 22,3 23,1 24.6 Rata-Rata Harian (ribu) 340,6 343,4 414,4 347,4 343,9 359,5 372,9 390.0

2.1.4. Perkembangan Alat Pembayaran Menggunakan Kartu (APMK) dan Uang Elektronik
Perkembangan transaksi APMK dan uang elektronik pada triwulan IV-2010 mencapai Rp571,7 triliun dengan volume 527,1 juta transaksi atau mengalami peningkatan dari sisi nilai dan volume transaksi masing-masing sebesar 1,95% dan 0,27% dibanding periode triwulan sebelumnya. Sejalan dengan aktivitas transaksi masyarakat melalui BI-RTGS dan sistem kliring, peningkatan transaksi pada APMK dan uang elektronik juga di sebabkan oleh peningkatan aktivitas transaksi selama periode hari raya keagamaan dan menjelang pergantian tahun.

54

⎜ PERKEMBANGAN DAN EVALUASI KEBIJAKAN SISTEM PEMBAYARAN ⎟

Table 5.5 Perkembangan Transaksi APMK
  Periode   2009 Tw I Tw II Tw III Tw IV 2010 Tw I Tw II Tw III Tw IV*) Kartu Kredit Volume (Juta) 42,6 45,2 47,3 48,4 47,2 49,0 51,3 50.2 Nilai (Rp Triliun) 29,6 33,5 35,8 38,2 37,3 39,3 42,0 42.8 Jenis Kartu Kartu ATM dan ATM+Debit Volume (Juta) 351,2 370,2 410,9 425,2 417,8 451,0 467,9 469,8 Nilai (Rp Triliun) 453,1 444,5 448,7 465,8 455,0 481,6 518,6 528,8   E-money Volume (Juta) 5,1 4,5 4,9 6,0 5,9 6,4 6,5 7,1 Nilai (Rp Triliun) 0,1 0,1 0,2 0,2 0,2 0.2 0.2 0.2 Volume (Juta) 398,9 419,9 463,1 479,6 470,9 506,4 525,7 527.9 Total Nilai (Rp Triliun) 482,8 478,1 484,7 504,2 492,5 521,1 560,8 571.7  

*) Data sementara

2.2.

Kebijakan dan Isu Terkini

2.2.1. Standarisasi Kartu ATM dan Kartu Debet
Pada triwulan laporan telah dilakukan kompilasi terhadap rencana kerja dan anggaran yang disampaikan oleh penerbit dan acquirer kartu ATM/Debet terkait pelaksanaan implementasi standar kartu ATM/Debet. Hasil kompilasi rencana kerja dan anggaran tersebut akan digunakan sebagai salah satu bahan pertimbangan Bank Indonesia dalam menetapkan batas waktu implementasi standar kartu ATM/Debet berbasis chip oleh seluruh penerbit dan acquirer. Selanjutnya, Bank Indonesia telah melaksanakan pertemuan dengan Badan Standarisasi Nasional (BSN) untuk memfasilitasi pendaftaran National Standard Indonesian Chip Card Specification (NSICCS) sebagai standar teknis chip kartu ATM/Debet yang akan diberlakukan di Indonesia.

2.2.2. Penyusunan Standar Uang Elektronik
Untuk mendukung komitmen dalam penyusunan standar uang elektronik, pada triwulan IV-2010 telah dilakukan persiapan pertemuan dengan perwakilan otoritas sektor transportasi, perwakilan penerbit dan calon penerbit uang elektronik serta forum switching. Pertemuan tersebut bertujuan untuk mengelaborasi kemungkinan bentuk desain standar dalam rangka interoperabilitas uang elektronik guna mendukung penyusunan desain standar uang elektronik. Selain itu, secara paralel telah dilakukan persiapan penyusunan konsep business requirement model standar uang elektronik yang melibatkan industri terkait.

2.2.3. Pembentukan Self Regulatory Organization (SRO) Sistem Pembayaran
Sebagai tindak lanjut peresmian Asosiasi Sistem Pembayaran Indonesia (ASPI) pada tanggal 11 November 2010, Bank Indonesia memberikan informasi mengenai tata cara pendaftaran keanggotaan ASPI kepada seluruh penyelenggara Sistem Pembayaran untuk memfasilitasi pendaftaran keanggotaan ASPI. Melalui pemberian informasi tersebut diharapkan seluruh penyelenggara telah terdaftar sebagai anggota ASPI pada Januari 2011. Selain itu, dalam rangka penyusunan rencana program kerja ASPI, Bank Indonesia telah

55

⎜ PERKEMBANGAN DAN EVALUASI KEBIJAKAN SISTEM PEMBAYARAN ⎟

melakukan pertemuan dengan ASPI untuk membahas penyiapan infrastruktur organisasi, antara lain Anggara Dasar/Anggaran Rumah Tangga dan Standard Operating Procedure ASPI. Adapun rencana stategis dan operasional ASPI tahun 2011 akan disesuaikan dengan prioritas program kerja Bank Indonesia secara pararel. Adapun rencana strategis dan operasional yang akan disesuaikan antara lain mengenai standardisasi uang elektronik, pembentukan National Payment Gateway, perluasan jangkauan dan penetrasi kepada unbankable customers melalui financial inclusion, penyelarasan peran bank dan lembaga selain bank dalam industri Kegiatan Usaha Pengiriman Uang (KUPU) serta standardisasi infrastruktur/platform direct debit.

2.2.4. Pembentukan National Payment Gateway (NPG)
Sebagai tindak lanjut langkah awal pengembangan National Payment Gateway (NPG), yaitu pengembangan interkoneksi sistem yang digunakan oleh penyelenggara switching, pada triwulan IV-2010 Bank Indonesia telah membentuk Focus Group Discussion (FGD) untuk membahas alternatif interkoneksi antar penyelenggara switching. FGD tersebut beranggotakan Bank Indonesia dan perwakilan dari industri terkait, yaitu Bank Central Asia, Bank Mandiri, Forum Switching, dan PT. Telkom.

2.2.5. Pengembangan Sistem BI-RTGS dan BI-SSSS Generasi II
Pada triwulan laporan kegiatan yang dilakukan dalam rangka pengembangan Sistem BI-RTGS dan BI-SSSS Generasi II adalah proses pengadaan aplikasi Sistem BI-RTGS dan BI-SSSS Generasi II. Selanjutnya dalam rangka pengadaan jaringan komunikasi, telah dilakukan pembicaraan dengan SWIFT dan sedang dilakukan pembentukan SWIFT User Group.

2.2.6. Pengembangan Sistem Kliring Bank Indonesia
Guna mendukung pengembangan SKNBI terkait dengan pembukuan hasil kliring yang close to real time, Bank Indonesia telah melakukan sosialisasi untuk pengembangan tersebut yang mencakup perubahan aplikasi dan konsep perubahan ketentuan SKNBI. Selain itu, pada triwulan IV-2010 juga telah dilakukan legal review atas perubahan ketentuan SKNBI yang selanjutnya akan diikuti dengan proses finalisasi dan penerbitan ketentuan dimaksud.

2.3.

Arah Kebijakan Sistem Pembayaran

Pada triwulan IV-2010, kebijakan sistem pembayaran non tunai masih tetap difokuskan pada peningkatan efisiensi dan kehandalan sistem pembayaran dengan kegiatan sebagai berikut: 1. Melanjutkan upaya fasilitasi untuk mendorong terciptanya efisiensi sistem pembayaran nasional melalui interoperability khususnya untuk pembayaran retail seperti APMK dan uang elektronik. 2. Melanjutkan upaya mendorong terciptanya National Payment Gateway. 3. Melanjutkan upaya fasilitasi untuk mendorong terciptanya SRO Sistem Pembayaran. 4. Melanjutkan kegiatan pengembangan sistem pembayaran untuk meningkatkan kapasitas dan efisiensi sehingga dapat mengakomodasi trend peningkatan transaksi ekonomi,

56

⎜ PERKEMBANGAN DAN EVALUASI KEBIJAKAN SISTEM PEMBAYARAN ⎟

kebutuhan transaksi maupun ragam produk keuangan melalui pengembangan Sistem RTGS Generasi II. 5. Melaksanakan uji coba disaster recovery planning secara berkala pada sistem pembayaran yang diselenggarakan oleh Bank Indonesia (RTGS dan SKNBI) yang melibatkan seluruh peserta sistem pembayaran untuk melihat kehandalan dan kesiapan seluruh pelaku sistem pembayaran. 6. Melanjutkan pengembangan Sistem Kliring Bank Indonesia untuk mempercepat penyelesaian setelmen pada kliring transfer kredit.

57

⎜ PERKEMBANGAN DAN EVALUASI KEBIJAKAN SISTEM PEMBAYARAN ⎟

Halaman ini sengaja dikosongkan.

58

⎜ PROSPEK EKONOMI DAN ARAH KEBIJAKAN MENDATANG ⎟

BAB 6 PROSPEK EKONOMI DAN ARAH KEBIJAKAN MENDATANG
Prospek ekonomi Indonesia diperkirakan terus membaik dengan stabilitas makroekonomi yang tetap terjaga. Pada tahun 2011, diperkirakan perekonomian tumbuh mencapai 6,0%-6,5% didorong oleh meningkatnya permintaan domestik dan tetap kuatnya kondisi eksternal. Selain itu, kegiatan perekonomian diperkirakan diikuti dengan upaya perbaikan secara struktural untuk menopang pertumbuhan yang berkualitas. Perbaikan tersebut diperkirakan berlanjut pada tahun 2012 sehingga pertumbuhan ekonomi dapat mencapai 6,1%-6,6%. Di sisi harga, tekanan inflasi pada tahun 2011 diperkirakan meningkat, bersumber dari sisi eksternal maupun domestik, seperti akibat kenaikan harga komoditas internasional dan kecenderungan peningkatan permintaan domestik. Menghadapi kondisi tersebut, Bank Indonesia akan memperkuat penerapan bauran kebijakan moneter dan makroprudensial yang telah ditempuh selama tahun 2010, agar inflasi tahun 2011 dan 2012 tetap dapat diarahkan pada kisaran sasarannya, yaitu masing-masing 5%±1% dan 4,5%±1%.

1.

Prospek Perekonomian Internasional

Pertumbuhan ekonomi dunia pada tahun 2011 diperkirakan tetap tinggi setelah mengalami pemulihan pada tahun 2010. Pada tahun 2010 perekonomian global diperkirakan tumbuh sebesar 4,8% setelah mengalami krisis pada tahun 2009. Di tengah-tengah proses pemulihan tersebut, sejumlah negara-negara maju terutama di kawasan Eropa melakukan program penghematan fiskal untuk mengurangi potensi defisit lebih dalam. Hal tersebut menyebabkan pertumbuhan ekonomi negara maju pada tahun 2011 diperkirakan mencapai 2,2%, sedikit melambat dari tahun 2010 sebesar 2,7%. Sementara itu, mulai dilakukannya pengetatan kebijakan moneter di negara-negara berkembang menyebabkan pertumbuhan ekonomi kawasan tersebut juga diperkirakan sedikit mengalami perlambatan pada tahun 2011. Namun, pengetatan tersebut diperkirakan tidak menyebabkan perlambatan yang signifikan sehingga negara berkembang diperkirakan masih tumbuh cukup tinggi yakni mencapai 6,4% pada tahun 2011. Secara keseluruhan, berdasarkan publikasi International Monetary Fund (IMF) dalam World Economic Outlook edisi Oktober 2010, pertumbuhan ekonomi dunia pada tahun 2011 dapat tumbuh mencapai 4,2%. Pertumbuhan ekonomi dunia yang cukup tinggi pada tahun 2011 akan disertai dengan peningkatan kegiatan perdagangan antar negara, yang mencakup berbagai komoditas, baik primer maupun manufaktur. Dengan demikian, volume perdagangan dunia pada tahun 2011 diperkirakan cukup tinggi. IMF dalam publikasi yang sama memprakirakan volume perdagangan dunia tumbuh mencapai 7,0%.

59

⎜ PROSPEK EKONOMI DAN ARAH KEBIJAKAN MENDATANG ⎟

2.

Prospek Pertumbuhan Ekonomi

Perekonomian Indonesia ke depan diperkirakan tetap membaik disertai dengan kondisi stabilitas makroekonomi yang tetap terjaga. Perbaikan pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan terjadi seiring dengan meningkatnya permintaan domestik dan kondisi eksternal yang tetap kuat. Pertumbuhan ekonomi diperkirakan mengalami akselerasi mencapai 6,0%-6,5% pada tahun 2011 serta 6,1%-6,6% pada tahun 2012. Peran investasi dalam pertumbuhan ekonomi diperkirakan semakin meningkat, didorong oleh berbagai faktor positif seperti potensi pencapaian peringkat (rating) investment grade serta perbaikan iklim investasi dan birokrasi. Sementara itu, konsumsi rumah tangga diperkirakan masih tetap tumbuh tinggi sejalan dengan meningkatnya pendapatan dari upah, hasil ekspor, dan dukungan pembiayaan kredit dari perbankan. Dari sisi eksternal, ekspor diperkirakan tumbuh kuat merespon peningkatan permintaan dari negara-negara partner dagang. Berdasarkan lapangan usaha, peningkatan pertumbuhan ekonomi ke depan terutama didukung oleh sektor industri; sektor perdagangan, hotel dan restoran; dan sektor pengangkutan dan komunikasi.

2.1.

Prospek Pertumbuhan Ekonomi Menurut Penggunaan

Konsumsi rumah tangga diperkirakan tumbuh kuat pada kisaran 4,8%-5,3% pada tahun 2011 dan meningkat menjadi 4,9%-5,4% pada tahun 2012 (Tabel 6.1). Kuatnya pertumbuhan konsumsi rumah tangga tersebut didorong oleh berbagai faktor positif, terutama berupa peningkatan pendapatan masyarakat. Pendapatan masyarakat yang meningkat berasal dari kenaikan Upah Minimum Provinsi (UMP), perbaikan pendapatan aparat negara, dan kenaikan gaji karyawan perusahaan. Besaran kenaikan UMP tersebut berbedabeda, sesuai dengan tingkat inflasi dan Kebutuhan Hidup Layak (KHL) provinsi-provinsi tersebut. Secara umum, besaran kenaikan UMP 2011 lebih tinggi dibandingkan dengan kenaikan UMP 2010. Selain UMP, peningkatan konsumsi rumah tangga juga didorong perbaikan pendapatan aparat negara yang terdiri dari PNS, TNI, Polri, serta pensiunan. Dalam anggaran belanja negara di APBN 2011, Pemerintah menetapkan kenaikan gaji pokok aparat negara dan pensiunan pada tahun 2011 sebesar 10%, lebih tinggi dibanding kenaikan pada tahun 2010 sebesar 5%. Selain itu, gaji ke-13 tetap akan dibagikan sebagaimana tahun-tahun sebelumnya guna mempertahankan daya beli rumah tangga aparat negara. Meningkatnya konsumsi rumah tangga juga berasal dari pendapatan penjualan hasil ekspor. Berdasarkan perkembangan beberapa tahun terakhir, kinerja ekspor memiliki pengaruh yang cukup signifikan terhadap perilaku konsumsi rumah tangga. Kinerja ekspor yang memiliki prospek tumbuh cukup tinggi pada tahun 2011 dan 2012 akan meningkatkan pendapatan masyarakat dan berkontribusi pada kuatnya pertumbuhan konsumsi rumah tangga. Faktor lain yang memberikan kontribusi terhadap konsumsi rumah tangga yaitu pembiayaan dari perbankan, terutama dalam bentuk kredit konsumsi. Konsumsi Pemerintah pada tahun 2011 diperkirakan tumbuh mencapai 10,3%10,8%, dan pada tahun 2012 tumbuh 1,5%-2,0%. Konsumsi Pemerintah pada tahun 2011 yang cukup tinggi terutama diperkirakan berasal dari belanja Pemerintah Pusat, yaitu untuk

60

⎜ PROSPEK EKONOMI DAN ARAH KEBIJAKAN MENDATANG ⎟

Kementerian/Lembaga (K/L). Hal tersebut sejalan dengan program Pemerintah untuk melakukan perbaikan penyerapan anggaran K/L seiring dengan dimulainya pelaksanaan revisi Keputusan Presiden (Keppres) terkait pengadaan barang dan jasa serta revisi Peraturan Menteri Keuangan (PMK) terkait anggaran dan pembayaran kepada pihak ketiga. Sumber konsumsi Pemerintah diperkirakan juga berasal dari komponen belanja pegawai untuk perbaikan kesejahteraan aparatur negara dan pensiunan. Selanjutnya untuk tahun 2012, konsumsi Pemerintah diperkirakan melambat seiring dengan defisit fiskal yang lebih rendah karena upaya Pemerintah untuk menetapkan kebijakan fiskal yang berhati-hati. Kondisi fiskal yang berhati-hati tersebut diharapkan mampu meningkatkan stabilitas makroekonomi secara umum, yang pada akhirnya akan berdampak positif bagi iklim investasi ke depan. Kondisi perekonomian yang positif menjadi faktor utama yang akan mengundang investasi, sehingga investasi diperkirakan tumbuh 10,4%-10,9% pada tahun 2011 dan meningkat menjadi 12,1%-12,6% pada tahun 2012. Prospek investasi yang cerah tersebut didorong oleh berbagai faktor, antara lain kuatnya permintaan domestik dan eksternal, stabilitas makroekonomi yang diperkirakan tetap terjaga, potensi kenaikan rating Indonesia mencapai investment grade pada tahun 2011, iklim investasi yang membaik, serta perbaikan birokrasi di Pemerintahan. Prospek peningkatan investasi juga sejalan dengan perkiraan Consensus Forecasts pada bulan November 2010, yang menyebutkan bahwa investasi langsung dari luar negeri (Foreign Direct Investment/FDI) ke Indonesia pada tahun 2010 dapat mencapai 9,3 miliar dolar AS, atau sekitar 1,2% dari PDB. Jumlah tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan estimasi aliran FDI pada tahun 2010 sebesar 9,0 miliar dolar AS. Dibandingkan dengan kawasan regional lainnya di Asia, Indonesia berpotensi menjadi negara tujuan utama aliran FDI setelah China, India, dan Singapura. Perbaikan iklim investasi di Indonesia juga disertai dengan perbaikan untuk melakukan usaha di Indonesia. Hasil survei World Bank dan International Finance Corporation (IFC) dalam publikasinya yang bertajuk Doing Business 2011 menunjukkan bahwa indikator kemudahan berbisnis di Indonesia mencatat peningkatan untuk beberapa hal: memulai bisnis, izin pembangunan, pendaftaran properti, serta ekspor. Namun secara relatif, jika dibandingkan dengan 183 negara yang disurvei dalam Doing Business 2011, Indonesia mengalami penurunan peringkat untuk tahun 2011 menjadi peringkat 121, dari peringkat 115 pada tahun sebelumnya. Penurunan peringkat tersebut terjadi karena reformasi kemudahan berbisnis di negara lain yang tercatat lebih baik dibandingkan dengan reformasi di Indonesia. Ke depan, Indonesia perlu melanjutkan berbagai perbaikan untuk mendorong kemudahan berbisnis sehingga dapat mengundang aliran investasi yang lebih tinggi. Seiring dengan volume perdagangan dunia yang diperkirakan tumbuh tinggi, ekspor barang dan jasa diperkirakan tumbuh sekitar 7,1%-7,6% pada tahun 2011 dan 7,9%-8,4% pada tahun 2012. Komoditas ekspor Indonesia secara historis sangat terkait erat dengan aktivitas perdagangan dunia. Pada tahun 2011-2012, pertumbuhan ekonomi dunia yang diperkirakan berkisar 4% akan disertai dengan kegiatan perdagangan yang tumbuh sekitar 7%. Di tengah kondisi perdagangan dunia yang tumbuh kuat tersebut, kinerja ekspor Indonesia diperkirakan dapat merespons dengan positif.

61

⎜ PROSPEK EKONOMI DAN ARAH KEBIJAKAN MENDATANG ⎟

Berdasarkan negara tujuannya, ekspor Indonesia ke negara berkembang cenderung meningkat. Misalnya, pangsa ekspor nonmigas ke China pada tahun 2010 tercatat sekitar 10%, lebih tinggi dibandingkan dengan pangsa pada tahun 2005 sekitar 6%. Sebaliknya, pangsa ekspor nonmigas ke Amerika Serikat pada tahun 2010 sekitar 11%, menurun dibandingkan dengan pangsa pada tahun 2005 sekitar 14%. Kecenderungan ini diperkirakan terus berlanjut pada tahun-tahun mendatang, dan menjadi faktor pendorong kuatnya potensi pertumbuhan ekspor. Hal tersebut terlihat dari volume perdagangan dunia di negara-negara berkembang yang pada tahun 2011 diperkirakan tumbuh sekitar 9,5%, lebih tinggi dibandingkan dengan volume perdagangan dunia di negara-negara maju sekitar 5,6%. Selain faktor permintaan, kinerja ekspor Indonesia juga akan tumbuh kuat dengan dorongan dari tren kenaikan harga komoditas. Harga komoditas pada tahun 2011 dan 2012 yang diperkirakan tumbuh positif akan memberi insentif bagi eksportir, terutama untuk melakukan ekspor komoditas berbasis sumber daya alam. Dalam beberapa tahun terakhir, jumlah ekspor komoditas berbasis sumber daya alam/SDA (komoditas pertanian, pertambangan, dan kelapa sawit) menunjukkan tren peningkatan. Kuatnya permintaan domestik dan tingginya pertumbuhan ekspor akan mendorong impor barang dan jasa untuk tumbuh sekitar 9%-10% pada tahun 2011-2012. Peningkatan kinerja ekspor akan mendorong permintaan terhadap barang input untuk produksi lebih lanjut. Barang input tersebut dapat berasal dari dalam negeri maupun dari luar negeri yang dipenuhi dalam bentuk impor. Dengan demikian, kinerja ekspor yang tumbuh kuat akan menyebabkan tren yang sama dengan pertumbuhan impor. Kuatnya ekspor juga akan menghasilkan efek pendapatan (income effect) bagi sektor rumah tangga. Dalam kondisi demikian, rumah tangga di Indonesia akan cenderung meningkatkan konsumsi barang tahan lama yang antara lain dipenuhi dalam bentuk impor barang konsumsi. Hal ini menjadi faktor berikutnya bagi potensi peningkatan impor pada tahun 2011-2012. Hal yang sama terjadi pada impor barang modal, seiring dengan prospek investasi yang diperkirakan membaik. Investasi yang dilakukan untuk menambah kapasitas produksi akan mendorong impor mesin-mesin. Sementara itu, investasi dalam bentuk pembangunan infrastruktur akan menyebabkan impor alat berat dan alat angkut mengalami peningkatan. Secara umum, potensi peningkatan impor dapat terjadi seiring dengan perbaikan proses ekonomi yang terus berlangsung.
Tabel 6.1 Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Menurut Penggunaan
%Y-o-Y, Tahun Dasar 2000

Komponen
Konsumsi Rumah Tangga Konsumsi Pemerintah Pembentukan Modal Tetap Domestik Bruto Ekspor Barang dan Jasa Impor Barang dan Jasa PDB * Proyeksi Bank Indonesia

2009
4.9 15.7 3.3 -9.7 -15.0 4.5

2010 I
3.9 (-8.8) 7.8 20.0 22.6 5.7

II
5.0 (-8.9) 7.9 14.5 18.4 6.2

III
5.2 3.0 8.9 11.3 11.0 5.8

IV*
5.2 2.7 9.3 9.2 10.7 6.1

2010*
4.8 (-2.3) 8.5 13.4 15.2 6.0

2011*
4.8 - 5.3 10.3 - 10.8 10.4 - 10.9 7.1 - 7.6 9.3 - 9.8 6.0 - 6.5

2012*
4.9 - 5.4 1.5 - 2.0 12.1 - 12.6 7.9 - 8.4 9.4 - 9.9 6.1 - 6.6

62

⎜ PROSPEK EKONOMI DAN ARAH KEBIJAKAN MENDATANG ⎟

2.2.

Prospek Pertumbuhan Ekonomi Menurut Lapangan Usaha

Dari sisi lapangan usaha, peningkatan pertumbuhan terutama didukung oleh sektor industri; sektor perdagangan, hotel dan restoran (PHR); serta sektor pengangkutan dan komunikasi. Kontribusi ketiga sektor tersebut terhadap pertumbuhan ekonomi diperkirakan mencapai lebih dari 60% pada tahun 2010-2012. Sektor PHR serta sektor pengangkutan dan komunikasi merupakan dua sektor yang diperkirakan tumbuh relatif tinggi pada periode 20102012, seiring dengan kuatnya permintaan domestik dan membaiknya kondisi perekonomian. Pertumbuhan ekonomi pada periode 2010-2012 diperkirakan masih akan tetap didominasi oleh nontraded sector. Sektor industri pengolahan diperkirakan tumbuh 4,0%-4,5% pada tahun 2011, dan meningkat mencapai 4,1%-4,6% pada tahun 2012. Sektor industri pengolahan telah menunjukkan peningkatan kinerja yang cukup tinggi sejak triwulan IV-2009, seiring dengan membaiknya kondisi ekonomi baik domestik maupun eksternal. Optimisme membaiknya kinerja sektor industri pengolahan tercermin dari Indeks Produksi Industri (IPI) yang menunjukkan tren meningkat. Selain itu, impor bahan baku yang cenderung meningkat akhirakhir ini mengindikasikan adanya peningkatan kegiatan di sektor industri pengolahan, terutama industri yang memiliki kandungan impor dalam struktur inputnya. Pengadaan impor bahan baku semakin murah, seiring dengan tren penguatan Rupiah yang masih berlanjut. Sementara itu pemulihan kondisi ekonomi domestik dan global yang terus berlangsung memberikan optimisme akan meningkatnya permintaan baik dari dalam negeri, maupun luar negeri. Menguatnya permintaan tersebut tercermin dari pertumbuhan ekspor dan konsumsi masyarakat yang masih tumbuh cukup tinggi. Kondisi ini sangat kondusif bagi berkembangnya sektor industri pengolahan. Sektor PHR diperkirakan memiliki kinerja yang prospektif dan tumbuh tinggi sekitar 9,2%-9,7% pada tahun 2011-2012. Perkembangan kinerja sektor PHR sangat dipengaruhi oleh aktivitas kegiatan ekonomi masyarakat dan perkembangan daya beli masyarakat. Hasil Survei Konsumen-Bank Indonesia menunjukkan bahwa ekspektasi penghasilan masyarakat berada pada level optimis dengan indeks di atas 100. Kondisi tersebut mengindikasikan kuatnya daya beli masyarakat di masa yang akan datang. Indikator lain yaitu indeks perdagangan eceran berada di atas level 100 dengan tren meningkat mencerminkan optimisme dalam kegiatan perdagangan dan perkembangan prospek ekonomi Indonesia ke depan. Berbagai perkembangan tersebut memberikan indikasi akan meningkatnya kegiatan di sektor PHR. Faktor lain yang mendukung perkembangan sektor PHR yaitu kenyataan bahwa Indonesia merupakan pasar yang potensial. Besarnya potensi pasar Indonesia, selain didukung oleh kuatnya konsumsi masyarakat, juga didukung oleh besarnya pasar, baik dari sisi luas area maupun dari sisi jumlah penduduk. Sementara itu, rencana pembangunan hotel di beberapa daerah di tanah air mulai tahun 2011 menunjukkan adanya prospek ke depan yang positif pada subsektor ini. Lebih lanjut, rencana penambahan armada beberapa maskapai penerbangan dan pembukaan rute penerbangan baru baik domestik maupun luar negeri memperkuat ekspektasi cerahnya prospek ke depan subsektor hotel dan restoran Indonesia. Jumlah wisatawan mancanegara diperkirakan semakin meningkat, didukung oleh stabilnya kondisi politik dan keamanan di Indonesia.

63

⎜ PROSPEK EKONOMI DAN ARAH KEBIJAKAN MENDATANG ⎟

Sektor pengangkutan dan komunikasi diperkirakan masih akan tumbuh cukup tinggi di kisaran 12,1%-12,6% pada tahun 2011 dan 10,8%-11,3% pada tahun 2012. Subsektor komunikasi diperkirakan tetap menjadi motor pertumbuhan utama sektor pengangkutan dan komunikasi. Investasi dan pembaruan teknologi yang terus menerus dilakukan dari tahun ke tahun dalam rangka perbaikan layanan kepada masyarakat serta masih luasnya pasar yang belum tersentuh memungkinkan subsektor ini mampu tumbuh cukup tinggi. Saat ini perkembangan internet, terutama di kota-kota besar kian marak, terutama terkait dengan pemanfaatan layanan data. Kondisi ini diperkirakan masih akan berlanjut untuk beberapa tahun ke depan. Kondisi ekonomi domestik yang terus membaik serta aktivitas berbagai sektor ekonomi yang semakin meningkat menjadi pendukung meningkatnya kinerja subsektor pengangkutan. Kondisi ekonomi yang membaik, aktivitas berbagai sektor ekonomi yang meningkat, serta daya beli masyarakat yang cukup kuat merupakan faktor-faktor yang akan mendorong kegiatan terkait dengan distribusi barang dan frekuensi perjalanan masyarakat. Meningkatnya angkutan kargo dan penumpang angkutan udara menjadi indikator optimisme subsektor pengangkutan ini. Kegiatan perdagangan yang meningkat akan mendorong kegiatan bongkar muat barang. Sementara itu meningkatnya aktivitas ekonomi akan meningkatkan aktivitas perjalanan dunia usaha. Kondisi ini telah direspons oleh pelaku usaha di bidang penerbangan melalui penambahan armada angkut dan pembukaan rute baru. Sektor pertanian diperkirakan tumbuh 2,7%-3,2% pada tahun 2011 dan meningkat menjadi 3,1%-3,6% pada tahun 2012. Perkembangan sektor pertanian masih akan diwarnai fenomena anomali cuaca yang diperkirakan dapat mempengaruhi produksi dan produktivitas sektor pertanian. Tingginya curah hujan di sepanjang tahun 2010 di berbagai sentra bahan pangan menyebabkan rendahnya produksi bahan pangan. Pertumbuhan produksi tanaman pangan seperti padi, jagung dan kedelai juga menunjukkan perlambatan yang cukup signifikan. Hal itu tercermin dari Angka Ramalan III 2010 yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS). Selain dari tanaman bahan pangan, melambatnya sektor pertanian juga disumbang oleh melambatnya pertumbuhan subsektor perkebunan. Perlambatan produksi perkebunan antara lain terjadi pada perkebunan karet dan kakao yang disebabkan oleh tingginya curah hujan. Sejauh ini berbagai upaya yang direncanakan Pemerintah dalam menghadapi anomali cuaca masih menghadapi kendala. Penyediaan infrastruktur pertanian seperti perbaikan irigasi dan pembangunan bendungan belum seluruhnya terlaksana. Demikian pula terkait penyediaan bibit unggul berbagai jenis tanaman yang tahan terhadap hama dan cuaca. Terkait dengan upaya menjaga ketahanan pangan nasional, Pemerintah akan mendorong pengembangan bahan pangan nasional yang lebih terarah pada tahun 2011. Dalam RAPBN 2011, Pemerintah mengalokasikan Rp122 triliun untuk pembangunan proyek infrastruktur. Proyek pembangunan infrastruktur tahun 2011 antara lain diarahkan untuk mendukung ketahanan pangan nasional. Pemerintah berencana untuk memperbaiki layanan irigasi dan rawa seluas 3,45 juta hektar melalui peningkatan dan rehabilitasi jaringan irigasi masing-masing 56 ribu hektar dan 161 ribu hektar. Dengan proyek infrastruktur Pemerintah tersebut diharapkan dapat meningkatkan produksi pangan nasional. Upaya lain dari Pemerintah untuk meningkatkan produksi bahan pangan nasional yaitu mengupayakan

64

⎜ PROSPEK EKONOMI DAN ARAH KEBIJAKAN MENDATANG ⎟

penyediaan 1 juta hektar lahan olahan baru untuk mendorong peningkatan hasil bahan pangan di luar Jawa dan Sumatera. Pengembangan perkebunan ke depan juga akan lebih terfokus, terutama pada komoditas-komoditas yang berpotensi meningkatkan kinerja sektor pertanian. Fokus pembangunan perkebunan 2011 mencakup beberapa kegiatan revitalisasi perkebunan seperti peningkatan produktivitas, perluasan lahan, peremajaan dan rehabilitasi. Untuk program revitalisasi terutama ditujukan untuk tanaman sawit, karet dan kakao. Terkait rencana Pemerintah melakukan substitusi 3% bahan bakar fosil pada tahun 2014, Pemerintah merencanakan akan mengembangkan bahan tanaman bio-energi yaitu kelapa sawit, kelapa, jarak pagar dan kemiri sunan; tanaman kakao. Lebih lanjut, Pemerintah juga akan mendorong perkembangan tanaman tebu dalam rangka persiapan swasembada gula tahun 2014. Sementara itu, untuk mempertahankan pangsa pasar internasional serta penetrasi pasar baru produk-produk perkebunan Indonesia, Pemerintah akan mendorong pengembangan kelapa sawit, karet, kakao, kopi, kelapa, jambu mete, lada, tembakau, teh dan nilam. Realisasi pembangunan berbagai proyek infrastruktur diperkirakan meningkat sehingga sektor bangunan berpotensi tumbuh 7,5%-8,0% pada tahun 2011 serta 7,8%8,3% pada tahun 2012. Selain proyek yang memang dijadwalkan akan dibangun tahun 2011, berbagai proyek yang tertunda pembangunannya pada tahun 2010, akan dilaksanakan di tahun 2011. Dalam APBN 2011 Pemerintah mengalokasikan anggaran untuk infrastruktur sebesar Rp122 triliun. Namun demikian dana sebesar itu diperkirakan tidak cukup untuk membiayai semua proyek yang akan dilaksanakan di tahun 2011. Untuk itu Pemerintah membuka secara luas peluang partisipasi swasta dalam pembangunan infrastruktur. Selain proyek-proyek infrastruktur, meningkatnya kegiatan di sektor bangunan juga didukung oleh pembangunan properti. Dengan kemampuan daya beli masyarakat yang masih kuat, bisnis properti ikut terdorong. Maraknya pembangunan proyek infrastruktur dan proyek properti direspons oleh produsen semen dengan meningkatkan target pertumbuhan penjualan di tahun 2011 sebesar 10% dibandingkan dengan tahun 2010. Pertumbuhan penjualan semen sebesar 10% tersebut lebih tinggi dari rata-rata pertumbuhan konsumsi semen selama ini yang berkisar 5%-7% per tahun.
Tabel 6.2 Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Menurut Lapangan Usaha
%Y-o-Y, Tahun Dasar 2000

Sektor
Pertanian Pertambangan & Penggalian Industri Pengolahan Listrik, Gas & Air Bersih Bangunan Perdagangan, Hotel & Restoran Pengangkutan & Komunikasi Keuangan, Persewaan & Jasa Jasa-jasa PDB * Proyeksi Bank Indonesia

2009
4.1 4.4 2.1 13.8 7.1 1.1 15.5 5.0 6.4 4.5

2010 I
3.0 3.1 3.7 8.2 7.1 9.4 11.9 5.3 4.6 5.7

II
3.1 4.0 4.4 4.7 6.9 9.7 12.9 6.0 5.3 6.2

III
1.8 2.8 4.1 3.2 6.4 8.8 13.3 6.3 6.4 5.8

IV*
1.7 3.8 4.0 3.5 6.5 8.6 13.6 6.7 6.5 6.1

2010*
2.4 3.4 4.0 4.8 6.7 9.1 13.0 6.1 5.7 6.0

2011*
2.7 - 3.2 3.2 - 3.7 4.0 - 4.5 6.4 - 6.9 7.5 - 8.0 9.2 - 9.7 12.1 - 12.6 6.1 - 6.6 5.9 - 6.4 6.0 - 6.5

2012*
3.1 - 3.6 3.4 - 3.9 4.1 - 4.6 7.4 - 7.9 7.8 - 8.3 9.2 - 9.7 10.8 - 11.3 6.1 - 6.6 6.0 - 6.5 6.1 - 6.6

65

⎜ PROSPEK EKONOMI DAN ARAH KEBIJAKAN MENDATANG ⎟

3.

Perkiraan Inflasi

Tekanan inflasi pada tahun 2011 diperkirakan cukup tinggi, bersumber dari sisi eksternal maupun domestik. Dari sisi eksternal, sumber tekanan inflasi terutama berasal dari inflasi mitra dagang yang meningkat seiring dengan perkiraan membaiknya perekonomian global. Di sisi domestik, sumber tekanan inflasi diperkirakan antara lain berasal dari peningkatan permintaan sejalan dengan perkiraan perekonomian domestik yang membaik. Sementara itu, gangguan produksi dan distribusi sebagaimana yang terjadi pada 2010 diperkirakan dapat diminimalisir di 2011 apabila Pemerintah dapat memperbaiki infrastruktur pertanian dan meningkatkan keterhubungan antar wilayah. Kondisi ini diharapkan dapat meningkatkan produksi dan kelancaran distribusi khususnya bahan pangan strategis. Perkembangan ini diperkirakan dapat menurunkan inflasi kelompok volatile food di 2011 mendekati rata-rata inflasi dalam sepuluh tahun terakhir yakni dalam kisaran 8%-9%. Tekanan inflasi diperkirakan dapat dikendalikan sehingga dapat menurun pada tahun 2012. Dalam periode waktu yang lebih panjang, konsistensi kebijakan moneter diperkirakan dapat membawa ekspektasi inflasi masyarakat untuk cenderung menurun. Di sisi lain, produksi dan distribusi bahan pangan diperkirakan tetap memadai sehingga inflasi volatile food diperkirakan relatif stabil. Selain itu, berbagai kebijakan Pemerintah diperkirakan dapat memperbaiki permasalahan struktural sehingga faktor-faktor pendorong tekanan inflasi lainnya dapat ditekan.

4.

Faktor Risiko

Pada tahun 2011 dan 2012 terdapat sejumlah faktor risiko terhadap perkiraan pertumbuhan ekonomi dan inflasi. Faktor risiko tersebut dapat mendorong pertumbuhan PDB dan inflasi menjadi tidak sesuai dengan prakiraan. Faktor risiko yang mempengaruhi PDB antara lain terkait perkembangan harga minyak dunia dan harga komoditas global yang berfluktuasi terlalu tinggi dapat mempengaruhi kinerja ekspor Indonesia. Sementara itu, masih adanya faktor ketidakpastian pemulihan krisis di negara maju juga dapat memengaruhi permintaan terhadap komoditas ekspor. Faktor risiko terkait perkiraan inflasi tahun 2011 dan 2012 dapat bersumber dari sisi domestik maupun eksternal. Dari sisi domestik, risiko bersumber dari kemungkinan terjadinya kenaikan harga administered sehubungan dengan masih besarnya selisih harga jual dengan harga keekonomian sejumlah komoditas yang harganya diatur oleh Pemerintah seperti Tarif Dasar Listrik (TDL), bahan bakar minyak (BBM), serta gas/LPG. Berdasarkan RAPBN 2011, di tahun 2011 tidak terdapat rencana kenaikan TDL maupun BBM bersubsidi. Walaupun demikian, dengan adanya penurunan alokasi subsidi untuk listrik serta pesatnya pertumbuhan konsumsi BBM bersubsidi, dan kencenderungan kenaikan harga minyak dunia menyebabkan risiko ke atas untuk kelompok administered prices. Selain itu, terdapat faktor risiko lainnya berupa kecenderungan peningkatan permintaan yang lebih cepat dari penawaran sehingga dapat menimbulkan tekanan terhadap harga. Faktor penting lainnya terkait dengan risiko inflasi adalah terjadinya gangguan pasokan dan distribusi bahan pangan strategis akibat berlanjutnya anomali iklim sebagaimana yang terjadi di 2010. Dari sisi eksternal, selain harga minyak dunia, faktor risiko yang berpotensi mendorong inflasi menjadi lebih tinggi terkait

66

⎜ PROSPEK EKONOMI DAN ARAH KEBIJAKAN MENDATANG ⎟

dengan kecenderungan peningkatan harga komoditas global yang lebih tinggi dari perkiraan. Di tahun 2012, faktor risiko terkait inflasi terutama bersumber dari kemungkinan penyesuaian harga administered prices seperti LPG. Selain itu, anomali iklim diperkirakan juga masih menjadi faktor risiko terbentuknya inflasi yang lebih tinggi akibat gangguan pasokan bahan makanan.

5.

Respon dan Arah Kebijakan Kedepan

Bank Indonesia pada 5 Januari 2011 memutuskan untuk mempertahankan BI Rate pada level 6,5%. Namun Bank Indonesia mewaspadai risiko tekanan inflasi yang cenderung meningkat ke depan. Menghadapi kondisi tersebut, Bank Indonesia akan memperkuat bauran kebijakan moneter dan makroprudensial yang telah ditempuh tahun 2010 dengan mengoptimalkan semua instrumen secara seimbang dan terukur. Terkait dengan hal ini, berbagai kebijakan yang telah ditempuh selama ini baik dalam pengendalian likuiditas maupun dalam pengelolaan capital inflows akan terus dievaluasi dan, apabila diperlukan, disesuaikan guna mendukung efektivitas kebijakan moneter. Berbagai langkah tersebut di atas perlu diperkuat dengan upaya untuk meningkatkan koordinasi kebijakan dengan Pemerintah sebagaimana telah ditempuh selama ini melalui Tim Pengendalian Inflasi baik di tingkat pusat (TPI) maupun daerah (TPID). Melalui berbagai langkah koordinasi tersebut ekspektasi inflasi dapat dijaga pada tingkat yang rendah sejalan dengan terjadinya peningkatan produksi dan efisiensi distribusi, serta ketersediaan bahan pokok di tingkat nasional dan daerah dalam jumlah yang memadai. Bank Indonesia berharap dan percaya bahwa Pemerintah akan menangani hal ini dengan sebaik-baiknya. Berbagai upaya dan langkah tersebut di atas diyakini akan membawa inflasi pada sasarannya yaitu 5%±1% pada tahun 2011 dan 4,5%±1% pada tahun 2012.

67

⎜ PROSPEK EKONOMI DAN ARAH KEBIJAKAN MENDATANG ⎟

Halaman ini sengaja dikosongkan.

68

⎜ EVALUASI KEBIJAKAN MANAJEMEN INTERN ⎟

LAMPIRAN 1 EVALUASI KEBIJAKAN MANAJEMEN INTERN
Kebijakan manajemen intern Bank Indonesia diarahkan untuk mendukung pelaksanaan tugas pokok Bank Indonesia sesuai prinsip-prinsip tata kelola organisasi. Melalui fungsi governance, organisasi dan sumber daya manusia, hukum, teknologi informasi, dan corporate social responsibility (CSR), Bank Indonesia telah menyempurnakan kegiatan manajemen intern. Hal itu sebagai respon perkembangan situasi, ekspektasi stakeholders, serta inisiatif proaktif Bank Indonesia untuk mencapai kinerja yang lebih baik.

1.
1.1.

Governance
Perencanaan Strategis dan Manajemen Kinerja

Pada Triwulan IV-2010, seluruh satuan kerja (Satker) Bank Indonesia terus melanjutkan pelaksanaan strategi Bank Indonesia tahun 2010 guna mencapai target akhir tahun 2010. Berbagai program kerja di sektor moneter, perbankan, sistem pembayaran, dan pengedaran uang, maupun manajemen intern telah dilaksanakan dengan mempertimbangkan perkembangan lingkungan dan isu strategis terkini sehingga dapat memberikan kontribusi positif bagi terjaganya kestabilan moneter serta kestabilan sistem keuangan dan sistem perbankan. Sebagai salah satu bentuk akutabilitas, telah dilakukan pula survei kepada stakeholders eksternal Bank Indonesia yang bertujuan untuk mengetahui tingkat kepuasan dan keyakinan stakeholders terhadap pelaksanaan tugas Bank Indonesia selama tahun 2010. Selain itu, telah dilakukan pula survei internal untuk mengevaluasi kualitas pelaksanaan tugas satker, antara lain dalam hal penyediaan data statistik, analisis dan kajian, pelayanan penyediaan logistik, serta dukungan dan penyediaan fasilitas teknologi informasi. Selain untuk mengetahui pencapaian pelaksanaan tugas tahun 2010, hasil survei tersebut dan analisanya juga akan menjadi masukan dalam rangka perbaikan pelaksanaan tugas Bank Indonesia ke depan. Berdasarkan hasil survei dan pelaksanaan tugas masing-masing Satker sampai dengan akhir triwulan IV-2010 tersebut selanjutnya akan dilakukan evaluasi atas pencapaian kinerja Satker dan Bank Indonesia oleh anggota Dewan Gubernur pada awal tahun 2011. Sementara itu, sesuai siklus Sistem Perencanaan Strategis, Anggaran dan Manajemen Kinerja (SPAMK) Bank Indonesia dan sebagaimana diamanatkan dalam UU Bank Indonesia, Bank Indonesia telah menyampaikan Rencana Anggaran Tahunan Bank Indonesia (RATBI) 2011 kepada DPR. RATBI tersebut disusun berdasarkan program kerja dan anggaran masingmasing Satker yang merupakan penjabaran dari Peta Strategi (Strategy Map) Bank Indonesia tahun 2011 hasil Forum Strategis (Forstra) Bank Indonesia bulan Agustus 2010 lalu. Secara umum, DPR telah menyetujui angka referensi Pengeluaran Anggaran Operasional Tahunan Bank Indonesia Tahun 2011 tersebut.

69

⎜ EVALUASI KEBIJAKAN MANAJEMEN INTERN ⎟

Dalam rangka memperkuat keselarasan antara Strategi Bank Indonesia tahun 2011 dengan Strategy Map dan program kerja Satker (vertical alignment) dan untuk memperkuat keselarasan program kerja antar Satker terkait (horizontal alignment), telah dilakukan pula penyempurnaan proses operasionalisasi strategi Bank Indonesia melalui pembahasan antar Satker di lingkungan sektor yang sama dengan Satker yang menangani perencanaan strategis dan keuangan intern. Selain itu, dalam rangka penguatan pelaksanaan governance Bank Indonesia, pada triwulan IV-2010 telah dilakukan penyempurnaan ketentuan SPAMK terutama terkait proses perumusan strategi dan siklus serta proses penyusunan anggaran.

1.2.

Audit Intern

Kebijakan di bidang audit intern diarahkan pada pemenuhan standar audit intern yang dikeluarkan oleh The Institute of Internal Auditors (IIA). Audit intern diarahkan untuk dapat memberikan opini dan rekomendasi terhadap proses tata kelola organisasi (governance), proses manajemen risiko (risk management) dan proses pengendalian intern (internal control) di Bank Indonesia melalui pelaksanaan kegiatan audit (assurance) dan pemberian jasa konsultansi (consulting). Hingga akhir triwulan IV-2010 telah dilaksanakan audit umum dan teknologi informasi terhadap 59 obyek audit, sehingga seluruh rencana audit tahun 2010 telah dilaksanakan. Ruang lingkup audit mencakup kegiatan dan sistem aplikasi di sektor moneter, perbankan, sistem pembayaran, dan manajemen intern. Rekomendasi yang diberikan sebanyak 1.833 butir, dimana sejumlah 1.755 butir (95,74%) diantaranya telah ditindaklanjuti dan 78 butir lainnya (4,26%) sedang dalam proses penyelesaian oleh Satuan Kerja terkait. Sementara itu, kegiatan konsultansi dilakukan melalui pemberian konsultansi kepada Satuan Kerja terkait dengan aspek pengendalian intern. Sampai dengan triwulan IV-2010, telah dilakukan 88 kali pemberian konsultansi atas permintaan Satuan Kerja yang mencakup sektor moneter, perbankan, sistem pembayaran, dan manajemen intern. Selanjutnya terkait fasilitasi pelaksanaan audit yang dilakukan oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) di Bank Indonesia, hingga akhir triwulan IV-2010, dari total temuan hasil audit BPK – RI terhadap Laporan Keuangan Tahunan Bank Indonesia (LKT-BI) sejak tahun 1999 sampai dengan tahun 2009 yang berjumlah 1.165 temuan, sebanyak 1.018 temuan (87,38%) diantaranya telah selesai ditindaklanjuti, dan 147 temuan lainnya (12,62%) masih dalam proses penyelesaian. Berkenaan dengan upaya peningkatan pengetahuan dan keterampilan dalam rangka pemenuhan gap kompetensi pegawai, sampai triwulan IV-2010 telah dilaksanakan pelatihan untuk pemenuhan baik gap kompetensi teknis, kompetensi perilaku, maupun pengetahuan organisasi. Kebijakan pengembangan audit intern Bank Indonesia pada tahun 2010 diletakkan dalam kerangka blueprint pengembangan audit intern 2010-2014 dengan sasaran akhir rencana kerja tersebut adalah terwujudnya organisasi audit intern Bank Indonesia dengan mekanisme kerja, kompetensi pegawai, struktur organisasi dan infrastruktur yang menjamin pemenuhan standar profesi audit intern terkini dan ekspektasi stakeholder. Dalam rangka

70

⎜ EVALUASI KEBIJAKAN MANAJEMEN INTERN ⎟

tercapainya sasaran akhir dimaksud, Bank Indonesia melaksanakan program kerja pengembangan kebijakan dan prosedur kerja (termasuk pengembangan otomasi mekanisme kerja) yang hingga akhir triwulan IV-2010 telah memasuki tahap penyusunan metodologi BP mapping, risk profile dan penyusunan user requirement. Sedangkan pengembangan Audit Management Software (AMS) telah memasuki tahap pembahasan user requirement aplikasi dan penyusunan user requirement siklus audit. Selain itu audit intern Bank Indonesia juga melakukan program kerja pengembangan sistem pengelolaan kompetensi auditor intern (PKAI) yang sampai dengan akhir triwulan IV2010 telah memasuki tahap penyempurnaan perangkat PKAI atas dasar hasil review Uraian Tugas Pokok dan Persayaratan Jabatan (UTPPJ) dan penyempurnaan proses PKAI.

1.3.

Manajemen Keuangan Intern

Dalam periode triwulan IV – 2010, pelaksanaan kebijakan manajemen keuangan intern tetap diarahkan dengan strategi untuk menjaga sustainabilitas keuangan BI dalam kerangka mendukung pencapaian Sasaran Strategis BI yaitu terpeliharanya Kestabilan Moneter dan Stabilitas Sistem Keuangan. Fokus dari pelaksanaan manajemen keuangan intern adalah pada upaya-upaya untuk meningkatkan governance serta meningkatkan efektivitas dan efisiensi penggunaan anggaran, sebagai berikut: 1. Pada bulan Desember 2010, BI telah menyampaikan RATBI 2011 kepada DPR dan telah mendapatkan persetujuan dengan beberapa catatan yang masih memerlukan pembahasan lebih lanjut dan diagendakan akan dilaksanakan pada awal Januari 2011. 2. Sampai dengan triwulan IV - 2010 (berdasarkan data sementara Laporan Surplus/Defisit sampai dengan 31 Desember 2010), keuangan BI mengalami defisit sebesar Rp28,96 Triliun (sebelum pajak), dengan total penerimaan sebesar Rp4,91 Triliun dan total pengeluaran sebesar Rp33,87 Triliun. Defisit tersebut akan dibiayai dari permodalan BI yang pada posisi Desember 2009 masih sebesar Rp.69,46 triliun. 3. Sebagai respon atas kondisi masih derasnya arus modal asing yang meningkat ke negaranegara emerging market, termasuk Indonesia, BI melakukan berbagai kebijakan dalam upaya untuk menjaga stabilitas nilai rupiah. Dampak dari kebijakan tersebut adalah timbulnya biaya yang cukup besar yang harus ditangggung oleh BI. Hal ini tercermin dari masih tingginya biaya OPT dari total pengeluaran BI hingga bulan Desember 2010 (sebesar Rp24,16 Triliun atau 71,3% dari total pengeluaran BI). Namun demikian, dalam pelaksanaannya kedepan BI akan terus mencari alternatif instrumen kebijakan yang sama bahkan lebih efektif, yang sekaligus dapat mengurangi beban anggaran Bank Indonesia. 4. Terkait hubungan keuangan Pemerintah dengan Bank Indonesia dalam rangka pembahasan Asset Liabilities Management (ALM), Pemerintah dan BI sepakat untuk merevisi SKB tahun 2003, yang meliputi: a. Penghapusan klausul pemenuhan rasio modal minimal 3% dari kewajiban moneter, dan kembali ke Undang-Undang BI yaitu modal minimal sebesar Rp2 Triliun.

71

⎜ EVALUASI KEBIJAKAN MANAJEMEN INTERN ⎟

b. Restrukturisasi Obligasi Negara seri SRBI-01/MK/2003 (SRBI) dari semula self liquidating bond (dimana angsuran pokok SRBI dibayarkan Pemerintah bila Pemerintah menerima surplus BI yang menjadi bagian Pemerintah) menjadi amortized bond (dimana pembayaran angsuran pokok dan bunga bersumber dari APBN dan dibayarkan dengan jadwal setiap 6 bulan), dan jangka waktu pelunasan diperpanjang 10 tahun dari tahun 2033 sampai dengan 2043. Selain itu, apabila terdapat surplus BI yang menjadi bagian Pemerintah, maka akan digunakan untuk mempercepat pelunasan SRBI dimaksud. c. BI dan Pemerintah telah sepakat untuk melanjutkan proses pembahasan menyangkut restrukturisasi SUP (SU-002, SU-004, dan SU-007) dalam bentuk konversi SUP nontradable menjadi tradable. Apabila telah dicapai kesepakatan sebagaimana tersebut di atas antara BI dan Pemerintah serta mendapatkan persetujuan DPR, maka diharapkan sustainabilitas keuangan BI dan Pemerintah dalam jangka panjang akan terperlihara, serta dicapai komposisi asset dan kewajiban dalam neraca keuangan BI yang lebih sehat. 5. Sebagai pelaksanaan dari UU No. 1 tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara, sejak 1 Januari 2009, Menkeu dan GBI BI telah sepakat untuk memberikan remunerasi atas rekening Pemerintah yang ditempatkan di BI, sebagai salah satu tahapan implementasi TSA secara penuh. Sampai Triwulan IV-2010 (s.d. Desember 2010), besarnya remunerasi yang telah dibayarkan kepada Pemerintah adalah sebesar Rp2,43 Triliun.

2.

Bidang Organisasi dan Sumber Daya Manusia (SDM)

Dalam rangka mewujudkan organisasi berkinerja tinggi melalui budaya berbasis kinerja, Bank Indonesia tetap melanjutkan upaya peningkatan kesiapan organisasi (organizational readiness), kesiapan sumber daya manusia (human capital readiness) dan kesiapan informasi (information readiness). Untuk meningkatkan kesiapan organisasi tersebut, aspek yang dikembangkan adalah kepemimpinan, keselarasan bisnis proses, struktur organisasi serta nilai strategis. Kesiapan sumber daya manusia diperkuat dengan program-program peningkatan kompetensi dan implementasi talent management. Sedangkan, kesiapan informasi didukung oleh sistem informasi dan manajemen sumber daya manusia (Simasdam) dan knowledge management. Tingkat kesiapan organisasi, sumber daya manusia dan informasi merupakan prasyarat bagi keberhasilan pelaksanaan tugas Bank Indonesia. Dalam pelaksanaannya, Bank Indonesia membangun organisasi yang memiliki keselarasan sumber daya manusia, proses kerja dan teknologi sehingga mampu memenuhi tuntutan pelaksanaan tugas dari stakeholders.

2.1.

Kebijakan Organisasi dan Sumber Daya Manusia

a. Pada Triwulan IV-2010, Bank Indonesia melakukan penyelarasan organisasi Direktorat Keuangan Intern (DKI) dengan strategi Bank Indonesia. Penyelarasan dilakukan dengan menyempurnakan organisasi DKI berupa refocusing penanganan pajak dan data non pajak, serta penyesuaian tugas pokok terkait peran sebagai chief financial officer (CFO). Terdapat 3 (tiga) hal penting yang menjadi latar belakang penyempurnaan organisasi DKI, yaitu (1) Penetapan Bank Indonesia sebagai wajib pajak badan sesuai UU No.36 Tahun

72

⎜ EVALUASI KEBIJAKAN MANAJEMEN INTERN ⎟

2008; (2) Pemenuhan terhadap tuntutan stakeholders eksternal (BPK, DPR, BSBI) (3) Hasil evaluasi atas organisasi. b. Penyempurnaan organisasi Kantor Bank Indonesia tetap dilanjutkan, terutama dalam pemenuhan fungsi 4 (empat) Kantor Bank Indonesia yang dibuka sejak tahun 2008 yaitu KBI Tegal, KBI Pematang Siantar, KBI Serang dan KBI Gorontalo. KBI Tegal dan KBI Pematang Siantar telah berfungsi secara penuh, sedangkan untuk KBI Serang dan KBI Gorontalo telah dilakukan pemenuhan fungsi Pengawasan Bank namun belum memiliki fungsi sistem pembayaran. c. Di bidang manajemen sumber daya manusia, Bank Indonesia melanjutkan pengembangan sistem dalam kerangka talent management, yaitu Sistem Pemetaan Sumber Daya Manusia (SDM), Sistem Pengembangan SDM dan Sistem Pemeliharaan SDM. 1) Sistem Pemetaan SDM Bank Indonesia telah menyusun draft ketentuan Sistem Pemetaan SDM yang mengacu kepada praktek terbaik (best practice) di beberapa lembaga dan melakukan penyesuaian dengan praktek di Bank Indonesia. Ketentuan pemetaan SDM telah melalui proses quality assurance untuk menjamin kesesuaian dengan kebutuhan Bank Indonesia dalam rangka mendukung tercapainya budaya berbasis kinerja. 2) Sistem Pengembangan SDM Penyempurnaan Sistem Pengembangan SDM tetap dilakukan sehingga pengembangan SDM dapat dilakukan secara terpadu. Pengembangan SDM dilakukan terencana sesuai dengan kebutuhan pegawai dan organisasi. Tools pengembangan SDM saat ini lebih bervariasi, antara lain melalui mentoring, coaching, pembekalan kepemimpinan dan penugasan. Proses pengembangan SDM saat ini dapat lebih efisien, karena dibantu oleh aplikasi Sistem Pengelolaan Pembelajaran (Learning Management System). 3) Sistem Pemeliharaan SDM Kebijakan remunerasi di Bank Indonesia pada tahun 2010 difokuskan pada sistem kompensasi yang berorientasi pada peningkatan kompetensi dan kinerja, serta kontribusi secara optimal sesuai dengan nilai jabatannya dengan tetap memperhatikan efektivitas penggunaan anggaran. Secara umum, kebijakan yang mempengaruhi anggaran pengelolaan SDM tahun 2010 adalah penghargaan terhadap pencapaian kinerja individu (merit increase), promosi pegawai, dan rencana penerimaan pegawai baru dalam rangka pemenuhan kebutuhan pegawai sesuai dengan strategi Bank Indonesia.

2.2.

Program Pengelolaan Organisasi dan Sumber Daya Manusia

a. Pada Triwulan IV-2010, kegiatan internalisasi nilai strategis Bank Indonesia dilakukan melalui pelaksanaan program penguatan leadership dan komunikasi dalam mewujudkan organisasi berbasis kinerja diantaranya : penerbitan lembar berita newsletter, e-news, melakukan komunikasi dengan Mitra Perubahan, Pimpinan dan Pegawai yang merupakan

73

⎜ EVALUASI KEBIJAKAN MANAJEMEN INTERN ⎟

sarana penyampaian informasi dan mengkomunikasikan budaya kerja dan Manajemen Sumber Daya Manusia (MSDM) kepada pegawai. b. Pemenuhan Kebutuhan SDM Satuan Kerja Pada bulan Desember 2010, Bank Indonesia memulai proses pemenuhan SDM pada berbagai level jabatan. Bank Indonesia juga melakukan kaderisasi SDM pada jabatan Pengelola Portofolio-Cadangan Devisa. Untuk itu, akan dilakukan proses rekrutmen tenaga Pengelola Portofolio sebanyak 17 orang. Dalam rangka tindak lanjut promosi berikutnya akan dilakukan pemenuhan SDM untuk jabatan setingkat Staf dan setingkat Pegawai Tata Usaha (PTU). Jumlah lowongan tersebut akan mempertimbangkan rencana rekrutmen pada jabatan setingkat Staf dan PTU berdasarkan perencanaan tahun 2010. c. Pengembangan Kompetensi SDM 1) Pengembangan kompetensi SDM tetap dilakukan secara berkelanjutan. Selama tahun 2010, program pengembangan SDM secara In House Training (IHT) telah dilaksanakan sebanyak 125 kelas yang diikuti oleh 4.034 pegawai baik pegawai Kantor Pusat dan pegawai Kantor Bank Indonesia. Program IHT tersebut mencakup diantaranya Sertifikasi Perbankan, Sertifikasi Moneter serta program Non-Sertifikasi lainnya. 2) Bank Indonesia juga melaksanakan program pengembangan mutu keterampilan pegawai di dalam dan luar negeri, serta program magang (attachment) di institusi dalam dan luar negeri. 3) Bank Indonesia melaksanakan seminar internasional pada tanggal 9-10 Desember 2010 yaitu Seminar on Financial System Stability yang dilanjutkan dengan Back to Back High Level Deputy Governor Meeting dengan jumlah peserta sebanyak 85 peserta dari 16 negara. 4) Untuk program tugas belajar S2/S3 saat ini tercatat 19 pegawai sedang melaksanakan program S3 dan 56 pegawai pada program S2.

3.

Bidang Hukum

Dalam triwulan IV-2010, Bank Indonesia telah mengeluarkan beberapa peraturan di bidang moneter, perbankan, sistem pembayaran maupun manajemen intern baik yang bersifat ekstern maupun yang bersifat intern, sebanyak 51 peraturan. Dalam rangka melaksanakan tugas secara efektif di bidang moneter, sistem pembayaran, dan perbankan, Bank Indonesia membutuhkan dukungan perangkat peraturan perundang-undangan. Oleh karena itu, Bank Indonesia senantiasa berpartisipasi secara aktif dalam penyusunan RUU dan RPP yang berkaitan dengan pelaksanaan tugas Bank Indonesia, baik sebagai nara sumber maupun sebagai anggota tim penyusun. Peran aktif tersebut diwujudkan melalui keanggotaan aktif Bank Indonesia dalam tim pembahas dan tim penyusun RUU/RPP. Untuk dapat memberikan masukan yang komprehensif, Bank Indonesia senantiasa melakukan kajian hukum yang mendalam terhadap setiap materi RUU dan RPP yang dibahas. Guna mempersiapkan masukan bagi penyusunan RUU, Bank Indonesia melakukan pembahasan internal untuk mendapat pembahasan dari berbagai sudut pandang. Selain itu,

74

⎜ EVALUASI KEBIJAKAN MANAJEMEN INTERN ⎟

juga dilakukan harmonisasi dengan peraturan perundang-undangan yang lain, sehingga materi RUU dimaksud sejalan dengan ketentuan yang telah ada. Bank Indonesia juga melakukan pengkajian yang mendalam tentang pelaksanaan Pasal 34 UU BI serta pembahasan intensif dengan Satuan Kerja terkait. Pengkajian dan pembahasan dimaksud dilakukan untuk mempersiapkan hal-hal yang perlu diantisipasi oleh Bank Indonesia ketika Pemerintah dan DPR melaksanakan amanat Pasal 34 UU BI dimaksud. Berkaitan dengan pelaksanaan Pasal 34 UU BI, Pemerintah dan DPR telah membahas draft RUU OJK, namun terjadi deadlock, karena tidak terdapat kesamaan pandangan. Dalam rangka koordinasi dan harmonisasi, Bank Indonesia juga ikut serta dalam pembahasan antar departemen terkait RUU Transfer Dana, RUU Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang (yang sudah disahkan menjadi UU No. 8 Tahun 2010), RUU Keprotokolan (yang sudah disahkan menjadi UU No. 9 Tahun 2010 tentang Keprotokolan), RUU Akuntan Publik, RUU Amandemen UU ITE, serta RUU Tindak Pidana Transaksi Elektronik (RUU Tipiti) dan RUU Pencegahan Pendanaan Kegiatan Terorisme. Namun, Bank Indonesia tidak dilibatkan Pemerintah dalam penyusunan tanggapan atas draft RUU Mata Uang yang menjadi inisiatif DPR RI. Selain terlibat aktif dalam penyusunan dan pembahasan RUU, Bank Indonesia juga berperan aktif dalam penyusunan Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP), antara lain RPP tentang Tata Cara Pengadaan Pinjaman Luar Negeri dan Penerimaan Hibah, RPP Wakaf Benda Bergerak dan Tidak Bergerak, RPP Penggabungan, Peleburan, Pengambilalihan dan Pemisahan PT, RPP Penyelenggaraan Transaksi Elektronik, RPP Penyelenggaraan dan Informasi Transaksi Elektronik, RPP Pemberian Data dan Informasi Terkait Perpajakan, RPP Penyelenggaraan Koordinasi dan Pengendalian Pemberdayaan UMKM, RPP Penertiban Tanah Terlantar, RPP Larangan Penggabungan atau Peleburan Badan Usaha dan Pengambilalihan Saham Perusahaan yang dapat mengakibatkan terjadinya Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat, RPP Usaha Perorangan dan Badan Usaha di Luar Badan Hukum, dan RPP Perlindungan Data Strategis. Disamping itu dalam rangka mendapatkan kajian terkait kewenangan Bank Indonesia dalam rangka amandemen UU Bank Indonesia, Bank Indonesia juga mengadakan kerjasama penelitian dengan Fakultas Hukum Udayana. Penelitian yang dilakukan berkaitan dengan kewenangan pengaturan dan pengawasan Pedagang Valuta Asing Bukan Bank. Sementara itu, untuk mendukung pengembangan dan pembangunan hukum nasional, Bank Indonesia secara berkala melakukan sosialisasi. Hal ini dilakukan baik melalui diskusi terbatas maupun pemberian kuliah umum di perguruan tinggi maupun di instansi Kepolisian, Kehakiman, dan Kejaksaan. Selain itu, Bank Indonesia secara berkala menerbitkan Buletin Hukum Perbankan dan Kebanksentralan yang didistribusikan antara lain kepada perguruan tinggi, perbankan, lembaga penelitian, lembaga eksekutif/yudikatif/legislatif, dan kantor hukum. Bank Indonesia bersama kementrian terkait juga ikut serta dalam sidang the United Nations Commission on International Trade Law (UNCITRAL), khususnya dalam working group security interest, insolvency law, dan arbitration. Hasil dari sidang-sidang dimaksud menjadi masukan berharga dalam pengembangan dan pembangunan sistem hukum nasional.

75

⎜ EVALUASI KEBIJAKAN MANAJEMEN INTERN ⎟

Pada forum internasional, dalam kaitannya dengan perdagangan sektor jasa termasuk sub sektor jasa perbankan, Bank Indonesia turut aktif dalam pembahasan dengan instansi terkait baik dalam forum nasional maupun menghadiri sidang terkait WTO, ASEAN, APEC, serta kerjasama regional. Peran serta Bank Indonesia dalam forum internasional dimaksud adalah terkait dengan aspek hukum dalam pembahasan legal text maupun dalam penyusunan Schedules of Specific Commitments (SoC) sub sektor perbankan, sehingga dapat mengamankan kepentingan Indonesia khususnya di sub sektor jasa perbankan dan sektor jasa pada umumnya.

4.

Bidang Teknologi Informasi

Sampai dengan triwulan IV-2010, terkait dengan pelaksanaan kebijakan dan perkembangan di bidang Teknologi Informasi sesuai dengan arah strategy map Teknologi Informasi Bank Indonesia tahun 2010 adalah sebagai berikut: a. Memastikan terjaganya tingkat ketersediaan layanan Teknologi Informasi untuk mendukung aplikasi kritikal. Pada triwulan IV-2010, tingkat ketersediaan/availability perangkat (aplikasi, jaringan dan sistem) untuk layanan Teknologi Informasi pada aplikasi kritikal mencapai 100%. b. Melanjutkan tahapan pengembangan BI-RTGS dan BI-SSSS generasi II yang telah masuk dalam tahap Pelaksanaan Pengadaan Konsultan (Penetapan peserta yang lulus tahap administrasi dan teknis). c. Memastikan penyelesaian tahapan penyempurnaan sistem pengawasan Bank dan implementasi Basel II. Penyempurnaan sistem pengawasan Bank sesuai dengan Basel II ini lebih dikenal sebagai program kerja pengembangan Sistem Informasi Perbankan (SIP) Bank Indonesia. Sampai dengan triwulan IV - 2010, penyempurnaan SIP telah masuk dalam tahap Design System dan Proses Pengembangan (Coding) tahap pertama. d. Memastikan pelaksanaan ujicoba dan pelatihan pemulihan Teknologi Informasi terhadap aplikasi kritikal Bank Indonesia telah berjalan dengan baik. Sampai dengan triwulan IV 2010, telah dilakukan 11 (sebelas) kali ujicoba dan pelatihan pemulihan Teknologi Informasi, 2 (dua) kali ujicoba dilakukan secara live, 3 (tiga) kali ujicoba dilakukan secara gabungan dan 6 (enam) kali ujicoba dilakukan secara spesifik (tidak gabungan) untuk sistem aplikasi kliring, real time gross settlement, Payment versus Payment dan SWIFT. Untuk ujicoba pemulihan koneksi jaringan telah dilakukan 1 (satu) uji coba Recovery koneksi jaringan PT.Telkom dalam menghadapi kondisi darurat di Kantor Pusat dan Kantor Bank Indonesia. Selain kegiatan-kegiatan di atas, Bank Indonesia juga masih memiliki beberapa program kerja di bidang Teknologi Informasi, baik berupa pengembangan sistem aplikasi, penyusunan ketentuan ataupun berupa pengembangan infrastruktur serta program kerja Teknologi Informasi lainnya.

76

⎜ EVALUASI KEBIJAKAN MANAJEMEN INTERN ⎟

5.

Bank Indonesia Social Responsibility (BSR) & Partisipasi Edukasi Publik (PEP)

Kegiatan Bank Indonesia Social Responsibility (BSR) dan Partisipasi Edukasi Publik (PEP) yang dilaksanakan pada triwulan IV – 2010 dapat kami sampaikan sebagai berikut:

5.1.

Bank Indonesia Social Responsibility (BSR)

Pelaksanaan kegiatan phasing out Kampung Koya Koso, Distrik Abepura-Jayapura masih mengalami penundaan. Memperhatikan hal tersebut, KBI Jayapura bersama Pemerintah Daerah dan Mitra Kampung (wakil masyarakat) terus aktif berkoordinasi dan mengupayakan langkah-langkah nyata agar proses phasing out dapat tetap berlangsung. Hal ini juga menjadi perhatian bagi Pemerintah Daerah Jayapura mengingat ada program-program pemberdayaan yang akan digulirkan baik oleh pemerintah pusat atau swasta di wilayah tersebut. Program Rumah Kreatif Bogor telah memasuki tahap II atau menengah. Pada tahap ini, Bank Indonesia, Pemerintah Desa Cipelang dan Pemerintah Kabupaten serta pihak terkait seperti tokoh masyarakat, tokoh agama, kader PKK, kader Posyandu, Badan Perwakilan Desa, Lembaga Pemberdayaan Masyarakat sampai dengan Kantor Arsip dan Perpustakaan tingkat Kabupaten Bogor hadir dalam lokakarya tersebut. Adapun seremoni dengan Pemerintah desa Cipelang akan diselenggarakan pada Minggu I – Januari 2011. Bencana alam yang terjadi di 3 (tiga) wilayah Indonesia menjadi perhatian khusus dalam pelaksanaan kegiatan BSR insidental triwulan IV – 2010. Dalam tahap tanggap darurat, bantuan diberikan melalui KBI Papua (Wasior), KBI Padang (Mentawai) dan KBI Yogyakarta (Merapi). Selanjutnya dalam rangka rehabilitasi dan rekonstruksi atau pemulihan pasca bencana dan pembangunan kembali maka bantuan pada tahap ini tetap dilakukan dengan memperhatikan kebutuhan masing-masing lokasi wilayah bencana. Beberapa bentuk kegiatan bantuan terhadap korban bencana antara lain program trauma healing dengan Mahadibya Nurcahyo Cakrasana (MNC) untuk korban bencana alam gunung Merapi, penyerahan bantuan korban bencana Mentawai bersama Ikatan Pegawai Bank Indonesia dan Perkumpulan Pensiunan Pegawai Bank Indonesia melalui Konferensi Waligereja Indonesia berkenaan dengan Perayaan Natal 2010. Terkait dengan pengajuan permohonan dari berbagai lembaga tentang bantuan barang bekas layak pakai periode semester II - 2010, maka tahap seleksi administratif dan tahap survei ke lembaga telah dilakukan guna mendukung validitas akan permohonan dan kebutuhan lembaga. Selanjutnya, pada bulan Januari 2011 akan dilaksanakan serah terima kepada lembaga yang bersangkutan.

5.2.

Partisipasi Edukasi Publik (PEP)

Dalam triwulan IV– 2010 beberapa partisipasi Bank Indonesia tetap difokuskan pada kegiatan seminar maupun lokakarya yang mengetengahkan tema yang relevan dengan peran serta tugas pokok dan fungsi Bank Indonesia. Beberapa kegiatan tersebut, dilaksanakan dengan bekerjasama baik dengan lembaga/institusi pendidikan serta lembaga sosial kemasyarakatan yang memfokuskan pada kegiatan terkait kebijakan moneter maupun perekonomian. Beberapa lembaga dimaksud adalah Institute for Development of Economics

77

⎜ EVALUASI KEBIJAKAN MANAJEMEN INTERN ⎟

and Finance Indonesia (INDEF), Freedom Foundation, Universitas Padjadjaran, Perhumas, Ikatan Akuntan Indonesia, dan beberapa lembaga lainya.

78

⎜ PRODUK HUKUM BANK INDONESIA SELAMA TRIWULAN IV-2010 ⎟

LAMPIRAN 2 PRODUK HUKUM BANK INDONESIA SELAMA TRIWULAN IV-2010
1.
No. Urut 1 2

Peraturan Bank Indonesia
Nomor PBI 12/19/PBI/2010 12/20/PBI/2010 Tanggal Perihal

04/10/2010 04/10/2010

Giro Wajib Minimum Bank Umum pada Bank Indonesia dalam Rupiah dan Valuta Asing Penerapan Program Anti Pencucian Uang dan Pencegahan Pendanaan Terorisme bagi Bank Perkreditan Rakyat dan Bank Pembiayaan Rakyat Syariah Rencana Bisnis Bank Pedagang Valuta Asing Uji Kemampuan dan Kepatutan (Fit and Proper Test) Kewajiban Pelaporan Utang Luar Negeri Perubahan Atas Peraturan Bank Indonesia Nomor 11/21/PBI/2009 tentang Pengeluaran dan Pengedaran Uang Kertas Rupiah Pecahan 2.000 (Dua Ribu) Tahun Emisi 2009 Perubahan Ketiga Atas Peraturan Bank Indonesia Nomor 7/40/PBI/2005 tentang Pengeluaran dan Pengedaran Uang Kertas Rupiah Pecahan 10.000 (Sepuluh Ribu) Tahun Emisi 2005

3 4 5 6 7

12/21/PBI/2010 12/22/PBI/2010 12/23/PBI/2010 12/24/PBI/2010 12/25/PBI/2010

19/10/2010 22/12/2010 29/12/2010 29/12/2010 30/12/2010

8

12/26/PBI/2010

30/12/2010

2.
No. Urut

Peraturan Dewan Gubernur
Nomor PDG Tanggal Perihal

1 2 3

12/8/PDG/2010 12/9/PDG/2010 12/10/PDG/2010

30/11/2010 06/12/2010 08/12/2010

Fungsi Hukum di Bank Indonesia Sistem Perencanaan, Anggaran dan Manajemen Kinerja Bank Indonesia Perubahan Atas Peraturan Dewan Gubernur Bank Indonesia Nomor 11/4/PDG/2009 Tentang Manajemen Sumber Daya Manusia Bank Indonesia

3.
No. Urut 1

Surat Edaran Ekstern Bank Indonesia
Nomor SE BI Intern 12/27/DPNP Tanggal Perihal

25/10/2010

Rencana Bisnis Bank Umum

79

⎜ PRODUK HUKUM BANK INDONESIA SELAMA TRIWULAN IV-2010 ⎟

No. Urut 2 3 4

Nomor SE BI Intern 12/28/DASP 12/29/DASP 12/30/DASP

Tanggal

Perihal

10/11/2010 10/11/2010 10/11/2010

Penyelenggaraan Bank Indonesia - Scripless Securities Settlement System Tata Cara Pemberian Fasilitas Likuiditas Intrahari bagi Bank Umum Perubahan Atas SE No.11/32/DPM tanggal 7 Desember 2009 perihal Tata Cara Lelang Surat Utang Negara di Pasar Perdana dan Penatausahaan Surat Utang Negara Tata Cara Lelang dan Penatausahaan Surat Berharga Syariah Negara Rencana Bisnis Bank Umum Syariah dan Unit USaha Syariah Perubahan atas SEBI No.8/31/DPBR tanggal 12 Desember 2006 perihal Bank Perkreditan Rakyat Perubahan atas SE BI No.12/8/DASP tanggal 24 Maret 2010 perihal Sistem Kliring Nasional Bank Indonesia Penerapan Manajemen Risiko pada Bank yang Melakukan Aktivitas Kerjasama Pemasaran dengan Perusahaan Asuransi (Bancassurance) Perubahan Izin Usaha Bank Umum menjadi Izin Usaha Bank Perkreditan Rakyat secara Mandatory dalam rangka Konsolidasi Tata Cara Pelaporan Pinjaman Luar Negeri Perusahaan Bukan Bank serta Format Indikator Keuangan Pedoman Penyusunan Standard Operating Procedure Administrasi Kredit Pemilikan Rumah dalam rangka Sekuritisasi Fasilitas Pendanaan Jangka Pendek bagi Bank Pembiayaan Rakyat Syariah

5 6 7 8 9 10 11 12 13

12/31/DASP 12/32//DPbS 12/33/DKBU 12/34/DASP 12/35/DPNP 12/36/DPNP 12/37/DInt 12/38/DPNP 12/39/DPbS

10/11/2010 18/11/2010 01/12/2010 22/12/2010 23/12/2010 23/12/2010 23/12/2010 31/12/2010 31/12/2010

4.
No. Urut 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11

Surat Edaran Intern Bank Indonesia
Nomor SE BI Intern 12/63/INTERN 12/64/INTERN 12/65/INTERN 12/66/INTERN 12/67/INTERN 12/68/INTERN 12/69/INTERN 12/70/INTERN 12/71/INTERN 12/72/INTERN 12/73/INTERN Tanggal Perihal

28/10/2010 28/10/2010 28/10/2010 28/10/2010 01/11/2010 02/11/2010 08/11/2010 22/11/2010 01/12/2010 01/12/2010 01/12/2010

Pedoman Pelaksanaan Ketentuan Giro Wajib Minimum Bank Umum pada Bank Indonesia dalam Rupiah dan Valuta Asing Organisasi Kantor Bank Indonesia Pematangsiantar Organisasi Kantor Bank Indonesia Gorontalo Organisasi Kantor Bank Indonesia Tegal Pengadaan Jasa Penasehat Hukum Eksternal Pedoman Pengawasan Penerapan Program Anti Pencucian Uang dan Pencegahan Pendanaan Terorisme (APU dan PPT) bagi Bank Umum Perubahan atas SE No.8/84/INTERN tanggal 27 Desember 2006 tentang Pengamanan Teknologi Informasi Bank Indonesia Perubahan SE BI No.11/83/INTERN tanggal 21 Desember 2009 tentang Pedoman dan Mekanisme Kerja Komite Perbankan Syariah Pemeliharaan, Penatausahaan, Pemanfaatan dan Penghapusan Barang dan/atau Jasa dalam Manajemen Logistik Bank Indonesia Perubahan SE No.11/53/INTERN perihal Pengelolaan dan Penghunian Rumah Bank Indonesia Perubahan SE No.12/10/INTERN perihal Perencanaan dan Pengadaan Barang dan/atau Jasa dalam Manajemen Logistik Bank Indonesia (MLBI)

80

⎜ PRODUK HUKUM BANK INDONESIA SELAMA TRIWULAN IV-2010 ⎟

No. Urut 12 13 14 15 16 17

Nomor SE BI Intern 12/74/INTERN 12/75/INTERN 12/76/INTERN 12/77/INTERN 12/78/INTERN 12/79/INTERN

Tanggal

Perihal

14/12/2010 15/12/2010 17/12/2010 21/12/2010 29/12/2010 30/12/2010

Perubahan Keempat atas SEBI No.8/10/INTERN tanggal 14 Februari 2006 tentang Organisasi DPB 1, DPB 2 dan DPB 3 Rumah Istirahat Bank Indonesia Perubahan atas SE BI No.10/72/INTERN tanggal 1 Desember 2008 tentang Pedoman Pelaksanaan Perizinan Bank Perkreditan Rakyat Perubahan Ketiga atas SE BI No.11/24/INTERN tanggal 30 April 2009 tentang Sistem Pemenuhan SDM Bank Indonesia Sistematika Akun Anggaran dan Akun Investasi Bank Indonesia Pedoman Penanganan Perubahan Izin Usaha Bank Umum Menjadi Izin Usaha Bank Perkreditan Rakyat (BPR) Secara Mandatory Dalam Rangka Konsolidasi Perubahan Atas Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 10/44/INTERN tanggal 1 September 2008 tentang Organisasi Kantor Bank Indonesia Serang Pedoman Pengelolaan Risiko Kredit Cadangan Devisa Bank Indonesia Risk Management Guideline Pengelolaan Cadangan Devisa Sistem Anggaran Bank Indonesia Ketentuan Pelaksanaan Bagi Kelembagaan Unit Usaha Syariah Ketentuan Pelaksanaan Perizinan Kelembagaan Bank Pembiayaan Rakyat Syariah Pedoman Pengelolaan Rekening di Bank Indonesia

18

12/81/INTERN

31/12/2010

19 20 21 22 23 24

12/82/INTERN 12/83/INTERN 12/85/INTERN 12/86/INTERN 12/87/INTERN 12/89/INTERN

31/12/2010 31/12/2010 31/12/2010 31/12/2010 31/12/2010 31/12/2010

81

⎜ PRODUK HUKUM BANK INDONESIA SELAMA TRIWULAN IV-2010 ⎟

Halaman ini sengaja dikosongkan.

82

⎜ DAFTAR ISTILAH ⎟

DAFTAR ISTILAH
Administered price BOPO : : Harga barang/jasa yang diatur oleh Pemerintah, misalnya harga bahan bakar minyak dan tarif dasar listrik. Rasio efisiensi bank yang mengukur beban operasional terhadap pendapatan operasional. Semakin tinggi nilai BOPO maka semakin tidak efisien operasi bank. Suku bunga referensi kebijakan moneter dan ditetapkan dalam Rapat Dewan Gubernur setiap bulannya. Bank Indonesia Real-Time Gross Settlement, merupakan sistem transfer dana secara elektronik antar peserta Sistem BI-RTGS dalam mata uang rupiah yang penyelesaiannya dilakukan secara seketika per transaksi secara individual. Bank Indonesia – Scripless Securites Settlement System, merupakan sarana transaksi dengan Bank Indonesia termasuk penatausahaanya dan penatausahaan Surat Berharga secara elektronik dan terhubung langsung antara Peserta, Penyelenggara dan Sistem BI-RTGS. Bank yang ditunjuk untuk melakukan pembayaran terkait transaksi-transaksi keuangan pemerintah. Kondisi pasar yang ditandai oleh transaksi jual beli yang sangat aktif. Petunjuk yang berisi langkah-langkah secara rinci mengenai organisasi, tanggung jawab dan prosedur dalam upaya pencegahan dan pemulihan suatu sistem pembayaran pada saat terjadi gangguan yang disebabkan oleh faktor internal maupun eksternal. Lembaga perantara yang menghubungkan antara bank sentral dengan bank-bank komersil dalam hal pengelolaan fisik uang, antara lain kegiatan pengambilan uang baru dari BI, penyimpanan uang milik bank-bank, pengisian ATM, dll. Pusat penyimpanan persediaan uang layak edar (ULE) bankbank yang tidak terserap oleh bank lainnya dalam suatu wilayah tertentu, dimana uang tersebut merupakan milik Bank Indonesia dan akan diredistribusikan kembali kepada bank-bank baik dalam wilayah yang sama maupun wilayah lainnya. Rasio kecukupan modal bank yang diukur berdasarkan perbandingan antara jumlah modal dengan aktiva tertimbang menurut risiko (ATMR).

BI Rate BI-RTGS

: :

BI-SSSS

:

Bank Persepsi Bullish Business Continuity Planning (BCP)

: : :

Cash centre

:

Cash Pooling

:

Capital Adequacy Ratio (CAR)

:

83

⎜ DAFTAR ISTILAH ⎟

Direct pass-through effect Disaster Recovery Center

: :

Dampak langsung pergerakan dari suatu variabel terhadap variabel lainnya. kemampuan infrastruktur untuk melakukan kembali operasi secepatnya pada saat terjadi gangguan yang signifikan seperti bencana besar yang tidak dapat diduga sebelumnya mekanisme yang mewajibkan peserta kliring menyediakan dana awal (prefund) untuk mengantisipasi adanya potensi kewajiban yang mungkin timbul pada akhir hari. Fasilitas yang diberikan kepada bank untuk menempatkan dananya di Bank Indonesia dalam rupiah. Rasio pembiayaan terhadap dana pihak ketiga yang diterima oleh bank. FDR digunakan untuk bank syariah, sedangkan LDR untuk bank umum. Mekanisme lelang SBI dimana peserta lelang menempatkan penawaran (bid) sejumlah yang diinginkan pada tingkat suku bunga tertentu yang diumumkan terlebih dahulu oleh bank sentral. Tata kelola organisasi yang baik dan sehat. Inflasi yang disebabkan karena adanya perubahan harga di luar negeri dan atas perubahan nilai tukar Kenaikan harga barang yang diukur dari perubahan indeks konsumen, yang mencerminkan perubahan harga barang dan jasa kebutuhan masyarakat luas. Inflasi IHK setelah mengeluarkan komponen volatile foods dan administered prices. Kerangka kerja kebijakan moneter yang secara transparan dan konsisten diarahkan untuk mencapai sasaran inflasi beberapa tahun ke depan yang secara eksplisit ditetapkan dan diumumkan. Indikator Penuntun yang menunjukkan arah variabel acuan ke depan Kerjasama bank umum dan bpr yang dilandasi semangat kemitraan yang bersifat symbiosis mutualistic dengan tetap berorientasi pada aspek bisnis Merupakan kewajiban dari otoritas moneter yang terdiri dari uang kertas dan uang logam yang berada diluar Bank Indonesia, serta simpanan giro bank umum dan sector swasta domestik (penduduk) pada Bank Indonesia Uang beredar dalam arti sempit, yaitu kewajiban sistem moneter yang terdiri dari uang kartal dan uang giral. Uang beredar dalam arti luas, yaitu kewajiban sistem

Failure to settle

:

Fasilitas Simpanan Bank Indonesia (FASBI) Financing to deposit ratio (FDR) atau Loan to deposit ratio (LDR) Fixed rate tender (FRT)

: :

:

Good Governance Imported inflation Inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) Inflasi inti Inflation Targeting Framework

: : :

: :

Leading Indicator Linkage Program

: :

M0/base money

:

M1 M2

: :

84

⎜ DAFTAR ISTILAH ⎟

moneter yang terdiri dari M1 dan uang kuasi (tabungan dan deposito berjangka dalam rupiah dan valas pada bank umum). Money multiplier Neraca Pembayaran Indonesia : : Efek penggandaan uang yang terjadi sebagai dampak dari berfungsinya intermediasi perbankan. Suatu ikhtisar yang meringkas transaksi-transaksi antara penduduk suatu negara dengan penduduk negara lain selama jangka waktu tertentu (biasanya satu tahun). Neraca pembayaran mencakup pembelian dan penjualan barang dan jasa, hibah dari individu dan pemerintah asing, dan transaksi finansial. Umumnya neraca pembayaran terbagi atas neraca transaksi berjalan dan neraca lalu lintas modal dan finansial, dan item-item finansial. Kredit bermasalah yang terdiri dari kredit yang berklasifikasi Kurang Lancar, Diragukan dan Macet. Termin NPL diperuntukkan bagi bank umum, sedangkan NPF untuk bank syariah. Komponen dana pihak ketiga di bank umum yang jatuh tempo sampai dengan tiga bulan. Ukuran mengenai kemampuan perusahaan menghasilkan keuntungan selama periode tertentu dalam

Nonperforming loan (NPL) atau nonperforming financing (NPF) Noncore Deposit (NCD) Profitabilitas Prompt indikator Solvabilitas

:

: : : :

Indikator Dini yang mengkonfirmasi kondisi variabel acuan saat ini Kemampuan perusahaan untuk memenuhi semua kewajibannya. Solvabilitas menunjukkan kemampuan perusahaan untuk melunasi seluruh utang yang ada dengan menggunakan seluruh aset yang dimilikinya. Transaksi penjualan SBI secara bersyarat oleh bank kepada BI dengan persyaratan kewajiban kembali sesuai dengan harga dan jangka waktu yang disepakati Pendekatan pengawasan yang berorientasi ke depan (forward looking) dimana pengawasan/pemeriksaan suatu bank difokuskan pada risiko-risiko yang melekat (inherent risk) pada aktivitas fungsional bank serta sistem pengendalian risiko (risk control system). Sentralisasi Otomasi Sistem Akunting Bank Indonesia (SOSA) adalah aplikasi yang terdiri dari Sistem General Ledger dan Sistem Subsidiary Ledger, yang tersentralisasi dan terintegrasi. Sistem Perencanaan, Anggaran dan Manajemen Kinerja (SPAMK) Bank Indonesia merupakan sistem perumusan, pelaksanaan, dan pemantauan atas pencapaian arah strategis, rencana strategis, dan strategi tahunan, serta

SBI Repo

:

Risk Based Supervision

:

SOSA

:

SPAMK

:

85

⎜ DAFTAR ISTILAH ⎟

kegiatan operasional dan kebijakan Bank Indonesia termasuk anggaran Bank Indonesia dan rencana investasi yang terintegrasi, sistematis, dan berkelanjutan. Tight bias Treasury Single Account : : Kebijakan moneter yang cenderung ketat. Pengelolaan kas yang bertujuan untuk menciptakan efisiensi keuangan negara melalui sentralisasi saldo kas berdasarkan best practices Uang kertas dan uang logam yang dikeluarkan dan diedarkan oleh Bank Indonesia dan digunakan sebagai alat pembayaran yang sah di wilayah Republik Indonesia Istilah ekonomi yang digunakan untuk mendeskripsikan asset yang dapat diuangkan secara cepat. Uang kuasi terdiri dari deposito, tabungan, dan simpanan valas milik swasta domestik Komponen inflasi IHK yang mencakup beberapa bahan makanan yang harganya sangat berfluktuasi. Tingkat bunga yang dihasilkan atas suatu investasi dimana besar bunga tersebut sesuai dengan pasar atau berdasarkan harga pasar investasi yang berlaku.

Uang Kartal

:

Uang Kuasi

:

Volatile foods Yield

: :

86

⎜ DAFTAR SINGKATAN ⎟

DAFTAR SINGKATAN
AANZTNC ACTNC AKTNC APBN APEC API APMK ATBI ATM ATMR Bapepam BBM Becakayu BEJ BI Rate BIK BI-RTGS BI-SIMKO BKPM BKT BMPK BOPO Botasupal BPD BPR BPR/S bps BPS BRI BTN BUMD BUMN BUS BUSN CAR CSA CSR DAU DBH DHN DKI DNT : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : ASEAN-Australia-New Zealand Trade Negotiating Committee The ASEAN-China Trade Negotiating Committee The ASEAN-Korea Trade Negotiating Committee Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Asia-Pacific Economic Cooperation Arsitektur Perbankan Indonesia Alat Pembayaran Menggunakan Kartu Anggaran Tahunan Bank Indonesia Anjungan Tunai Mandiri Aktiva Tertimbang Menurut Risiko Badan Pengawas Pasar Modal Bahan Bakar Minyak Bekasi-Cawang-Kampung Melayu Bursa Efek Jakarta Suku Bunga Acuan Bank Indonesia Biro Informasi Kredit Bank Indonesia - Real Time Gross Settlement Sistem Informasi Manajemen Risiko Bank Indonesia Badan Koordinasi Penanaman Modal Bank dengan Kegiatan Terbatas Batas Maksimum Pemberian Kredit Biaya operasional dibandingkan dengan pendapatan operasional Badan Koordinasi Pemberantasan Uang Palsu Bank Pembangunan Daerah Bank Perkreditan Rakyat Bank Perkreditan Rakyat konvensional/syariah Basis Points Badan Pusat Statistik Bank Rakyat Indonesia Bank Tabungan Negara Badan Usaha Milik Daerah Badan Usaha Milik Negara Bank Usaha Syariah Bank Umum Swasta Nasional Capital Adequacy Ratio Control Self-Assessment Corporate Social Responsibility Dana Alokasi Umum Dana Bagi Hasil Daftar Hitam Nasional Daerah Khusus Ibukota Database Nasabah Terpadu

87

⎜ DAFTAR SINGKATAN ⎟

DPK DPR DRC EDW-Devisa FASBI O/N FDI FKDKP FKSPN GCG HJE HLOS IHK IHSG IHT IIA IKU IRU ISO ITF IUPB JETRO JI-EPA KAP KI KK KKBI KKMB KMK KP KPJU KPK KPRS KPS KYC LDR LKBB LKM LPJK LRPD M1 M2 MKA MKM MoU NCD NII

: : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : :

Dana Pihak Ketiga Dewan Perwakilan Rakyat Disaster Recovery Center Enterprise Data Warehouse Devisa Fasilitas Simpanan Bank Indonesia Overnight Foreign Direct Investment Forum Komunikasi Direktur Kepatuhan Perbankan Forum Komunikasi Sistem Pembayaran Nasional Good Corporate Governance Harga Jual Eceran High Level Organizational Structure Indeks Harga Konsumen Indeks Harga Saham Gabungan In-House Training Institute of Internal Auditor Indikator Kinerja Utama Investor Relations Unit International Standart Organization Inflation Targeting Framework Ijin Usaha Pernjualan Berjenjang Japan External Trade Organisation Japan-Indonesia Economic Partnership Agreement Kualitas Aktiva Produktif Kredit Investasi Kredit Konsumsi Koordinator Kantor Bank Indonesia Konsultan Keuangan Mitra Bank Kredit Modal Kerja Kantor Pusat Komoditas Produk Jenis Usaha Komisi Pemberantasan Korupsi Kredit Kepemilikan Rumah Sederhana Kelompok Pengawas Spesialis Know Your Customer Loan to Deposit Ratio Lembaga Keuangan Bukan Bank Lembaga Keuangan Mikro Lembaga Pengawasan Sektor Jasa Keuangan Lembaga Riset Perbankan Daerah Uang beredar dalam arti sempit Uang beredar dalam arti luas Merger, Konsolidasi dan Akuisisi Mikro, Kecil dan Menengah Memorandum of Understanding Non Core Deposit Net Interest Income

88

⎜ DAFTAR SINGKATAN ⎟

NLLMF NPF NPI NPL OJK PAM PBI PDB PHR PMA PMDN PMTB PPA PPKPB PPKP-KBI PUAB PYD QIA qtq ROA ROE RPP RUU RUU-KMIP RUU-PM SBI Simasdam BI SIUP SIUP3A SIUP-MB SK SKDU SKN SOSA SPAMK STPKD STPUW SUN TDG TDL TI TMF TNI-AL TOR TPK TSA

: : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : :

Neraca Lalu Lintas Modal dan Finansial Non Performing Financing Neraca Pembayaran Indonesia Non Performing Loan Otoritas Jasa Keuangan Perusahaan Air Minum Peraturan Bank Indonesia Produk Domestik Bruto Perdagangan, Hotel dan Restoran Penanaman Modal Asing Penanaman Modal Dalam Negeri Pembentukan Modal Tetap Bruto Penyisihan Penghapusan Aktiva Pedoman Penyusunan Kebijakan Perkreditan Bank Program Pengembangan Kompetensi Pejabat-Kantor Bank Indonesia Pasar Uang Antar Bank Pembiayaan yang Diberikan Qualified Internal Auditor Quarter to Quarter Return on Assets Return on Equity Rancangan Peraturan Pemerintah Rancangan Undang-Undang Rancangan Undang-Undang Kebebasan Memperoleh Informasi Publik Rancangan Undang-Undang Penanaman Modal Sertifikat Bank Indonesia Sistem Sumber Daya Manusia Bank Indonesia Surat Ijin Usaha Perdagangan Surat Ijin Usaha Perwakilan Perusahaan Perdagangan Asing Surat Ijin Usaha Perdagangan - Minuman Beralkohol Surat Keputusan Survei Kegiatan Dunia Usaha Sistem Kliring Nasional Sistem Otomasi Sistem Akunting Sistem Perencanaan, Anggaran, Manajemen dan Kinerja Surat Tanda Pendaftaran Keagenan dan Distributor Surat Ijin Tanda Pendaftaran Usaha Waralaba Surat Utang Negara Tanda Daftar Gudang Tarif Dasar Listrik Teknologi Informasi Transaksi Modal dan Finansial Tentara Nasional Indonesia-Angkatan Laut Term of Reverence Tindak Pidana Korupsi Treasury Single Account

89

⎜ DAFTAR SINGKATAN ⎟

UK UL ULE UMK UMKM UUS UYD WKF WTO yoy ytd

: : : : : : : : : : :

Uang Kertas Uang Logam Uang Layak Edar Usaha Mikro dan Kecil Usaha Mikro, Kecil dan Menengah Unit Usaha Syariah Uang Kartal yang Diedarkan Waktu Kerja Fleksibel World Trade Organization Year on Year Year to Date

90

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->