Nama Nim/ BP Kode seksi

:MELYANDA AGUSTIN CHAIRINA :83695/ 2007 :63027

ILMU SOSIAL BUDAYA DASAR

Cicak versus Buaya: Peti Mati Bagi Peradilan Indonesia
Indonesia kini menjadi semakin tekenal di mata dunia. Dengan prestasi yang luar biasa, menjadi negara terkorup di dunia. Semakin hebat saja negara ini ketika institusi pemangsa koruptor itu sedang terancam akan dimusnahkan. Penguasa- penguasa negara ini disinyalir mendalangi rencana ini. Inikah dampak dari degrasi nilai kemanusiaan bahkan nilai moral di negri ini? Betapa bobroknya hukum di bumi pertiwi ini. Telah matikah keadilan?

I.

Kronologi Kasus Cicak vs Buaya Bagian dari Drama Pemusnahan KPK? Istilah cicak versus buaya telah menjadi topik yang sangat hangat ditengah rakyat

Indonesia saat ini sejak konflik antara KPK, Kejaksaan, dan Kapolri mencuat. Ketidakharmonisan yang terjadi diantara institusi- institusi penyelenggara hukum di tanah air tercinta ini telah berlangsung sejak lama. Perseteruan itu ibarat pamer wewenang antara penguasa-penguasa hukum di bumi pertiwi ini. Kekisruhan tersebut telah melahirkan sebuah skenario pemusnahan KPK. KPK telah menujukkan eksistensinya dengan mengganngu pesta korupsi para koruptor kelas kakap. Hal inilah yang membuat para koruptor-koruptor itu alergi dan anti KPK. Lalu benarkah kapolri dan kejaksaan menyutradarai drama pemusnahan KPK ini? Benar atau tidaknya dugaan tersebut masih membutuhkan penyelidikan yang lebih mendalam. Drama cicak versus buaya bermula pada saat tanggal 4 Mei 2009, ketua KPK yang tengah menjabat, Antasari Azhar ditangkap kepolisian atas dugaan sebagai aktor intelektual

Komjen Susno Duaji mengaku teleponnya disadap oleh pihak penegak hukum lainnya. Nasrudin Zulkarnaen. Antasari diduga memiliki affair dengan Rani Juliani. Mungkin itulah yang sekiranya dilakukan SBY pada saat memimpin rapat koordinasi pemberantasan korupsi pada tanggal 13 Juli 2009. Anggoro yang pada saat itu memiliki status cekal olek KPK mengaku telah memberikan uang milyaran rupiah atas permintaan sejumlah pimpinan KPK. saat ini cicak kecil itu telah tumbuh menjadi buaya putih atas dukungan rakyat. Pada tanggal 6 Juli 2009. istri siri Nasrudin Zulkarnaen. yakni cinta segitiga.dari pembunuhan direktur PT Putra Rajawali Banjaran. Antasari melapor kekepolisian terkait dugaan suap yang diterima sejumlah petinggi KPK. Skenario pembunuhan ini tak kalah serunya dari sinetron-sinetron yang sedang naik daun. Betapa apiknya skenario tersebut. Kontan pandangan masyarakat terhadap sang ketua KPK bahkan insitusi tersebut ternodai. Kabareskrim Mabes Polri. Namun pada kenyataannya. Pelaporan tersebut tentu masih erat kaitannya dengan testimoni Anggoro di Singapura. Testimoni ini ditulis berdasarkan hasil pertemuannya dengan Anggoro Widjojo di Singapura. Pada tanggal 16 2009. Pada akhirnya terjadilah eksekusi mati terhadap nasrudin Zulkarnaen.orang cerdas yang katanya mengerti akan hukum itu? Tidak mungkin orang yang sedang tersudut oleh KPK akan memuji insitusi tersebut. Kenapa polisi langsung menindaklanjuti kabar tersebut? Pada tanggal 30 juni 2009. Apakah etis dua institusi yang samasama bertanggung jawab dalam penegakkan hukum ini mengumbar ketidakharmonisan mereka di depan publik? Presiden seharusnya dapat menjadi pendingin dari konflik yang kian membakar emosi tersebut. Ditambah lagi Nasrudin dianggap tengah melakukan pemerasan terhadap Antasari Azhar. Hal ini bertepatan dengan pengusutan KPK terhadap salah satu petinggi polri itu terkait kasus Bank Century. Dengan lancangnya Susno menyebut KPK sebagai cicak yang melawan buaya (Polri). Tapi hal ini tidak mampu mendinginkan masalah tersebut yang sudah diibaratkan bara api di ranah hukum Indonesia. Apakah keterangan dari seseorang yang tengah dicekal olek KPK tersebut dapat dipercaya? Kenapa tak terpikirkan indikasi kebohongan dalam pernyataan tersebut oleh orang. Hal ini menyebabkan hubungan antara KPK dan Kapolri memanas. Saling tuding dimedia massa pun tak terelakkan. Antasari menulis sebuah testimoni tentang adanya penyuapan di tubuh KPK. .

empat orang petinggi KPK diperiksa atas laporan Antasari. Tim yang popular dengan sebutan tim 8 ini bertanggungjawab untuk melakukan verifikasi atas kasus ini dari awal. . Bibit S. Parade Cicak vs Buaya Konkritisasi Degradasi Nilai Kemanusiaan Ranah hukum di negri ini memang telah dikuasai oleh orang.orang yang telah teruji kepintarannya. Parade itu tidak mampu menjawab siapa yang telah melakukan penyalahgunaan wewenang. Teramat pintar sehingga dengan teramat mudahnya mengobok. sebagi tampuk tertinggi dari pimpinan di negri ini pun membentuk sebuah tim pencari fakta. Masyarakat seolah disajikan parade keanehan hukum di negri ini. Hanya sekedar menganti-ganti nama. Presiden SBY. Apa yang terjadi saat ini adalah wujud dari kebobrokan dari hukum di Indonesia.obok ranah hukum negri ini.Tanggal 11 September 2009.Chandra. suap-menyuap. Tapi apa konkritisasi dari penegakkan hukum terhadap sang mafia hukum itu? Belum ada tindakan nyata. Hal ini berkaitan dengan penetapan Bibit.Chandra sebagai tersangka. penyalahgunaan wewenang. Hal ini semakin dikuatkan dengan rekaman pembicaraan Anggodo Widjojo dengan beberapa pihak terkait skenario rekayasa kasus Bibit. Hasil kerja tim ini yang sangat luar biasa mampu memunculkan adanya dugaan rekayasa terhadap kasus ini. dan siapa pula yang telah menjadi korban dari kesewenangwenangan itu? Si cicak kah? Atau si buaya? Ibarat benabg kusut yang semakin hari semakin kusut. Hamzah ditetapkan sebgai tersangka. Para mafia kasus pun merajalela. bahkan saling menjatuhkan pun sudah seperti sebuah kebudayaan yang mengakar di negara ini. KPK pun balik melaporkan Susno Duaji dengan tuduhan yang sama. yakni berkenaan dengan penyalahgunaan wewenang dan tentunya kasus suap. Anehnya para penegak hukum pun sebenarnya telah lama mengetahui keberadaan mereka. Seperti membalas atas apa yang telah mereka dapatkan. Rianto dan Chandra M. konflik antara penanggungjawab ranah hukum ini tidak kunjung menemukan titik temu. Konflik antra cicak vs buaya pun memanas. Sogok-menyongok. Apakah pergantian nama merupakan sebuah solusi? Memang telah teramat kusut ranah hukum di bumi pertiwi ini. Nah siapakah sang sutradara dari skenario yang sangat apik ini? Apakah ini bagian dari rencana pemusnahan KPK? Bagaimana nasib cicak ini hingga klimaks dari cerita ini? II.

Lalu oleh pribadi yang bagaimanakah yang akan memimpin lembaga seperti KPK? Jauh di luar koridor karir mereka. Degrasi nilai kemanusiaan pun secara nyata terlihat dari konflik ini. mereka terancam tidak bisa lagi memimpin KPK. menjadi sorotan atas kesalahan yang tidak mereka lalukan tentunya menjadi beban yang tidak ringan bagi keduanya. ataupun jika memang tidak ada rekayasa terhadap semua ini maka harus segera ada klarifikasi terhadap kesimpangsiuran ini. Betapa sulitnya situasi yang harus dihadapi keluarga saat kepala keluarga dan panutan bagi anggota keluarga dicap bersalah atas kesalahan yang tidak pernah mereka lakukan. Sang sutradara skenario apik pemusnahan KPK memang pantas dicap tidak memiliki nilai kemanusiaan. Tiga lembaga hukum Indonesia. Hal ini semakin tak terbantahkan ketika rekaman suara Anggodo dengan beberapa pihak seolah semakin menegaskan dugaan itu.Pada kenyataannya tidak hanya mafia kasus yang merusak harmonisasi hukum di Indonesia. Seharusnya dugaan rekayasa terhadap kasus cicak vs buaya yang kini berkembang menjadi kriminalisasi KPK segera diungkapkan. Dibidang karir. Tapi apa yang telah diungkapkan oleh tim 8 yang tentunya terdiri dari orang-orang yang expert dibidang hukum dan politik. Jika benar apa yang disangkakan selama ini. Betapa bobroknya sisi kemanusiaan sang sutradara dari parade yang rumit ini. Kenapa keadilan belum memperlihatkan taringnya? Lalu kapankah korupsi di negri ini dapat berakhir? . KPK. Sebagai individu. Dengan tidak berperasaan. dan kejaksaan juga bertanggung jawab terhadap kekisruhan ini. keluarga dari korban ini pun telah menjadi korban dari kesewenang-wenangan pelaku hukum di Indonesia. maka Bibit-Chandra telah menjadi korban dari ketidakmanusiawian ranah hukum ini. tapi status tersangka yang disandang oleh Bibit-Chandra tetap menjadi beban mental oleh keluarga mereka. Walaupun mendapat dukungan dari berbagai pihak. telah menemukan adanya indikasi rekayasa terkait skenario pemusnhan KPK. kapolri. director ini telah mengorbankan banyak pihak.

Ironisnya fenomena yang terjadi sekarang. Degradasi nilai moral telah menjadi faktor utama dari kisruh yang semakin alot ini. tanggung . Mencaricari kesalahan pihak lain yang sebenarnya tidak salah adalah penggambaran moral yang buruk. Moral para petinggi itu telah dimangsa oleh uang dan kekuasaan. Bahkan mereka yang hanya berorientasi kepada kepentingan pribadi atau gologan tertentu akan dengan mudahnya melupakan sumpah jabatan mereka. Anggoro Widjojo yang diduga telah melarikan miliaran uang nasabah bank Century juga masih bebas melenggok di luar sana. Ditambah lagi kejaksaan yang ngotot untuk tetap melanjutkan kasus Bibit-Chandra padahal sudah jelas kalau barang bukti yang mereka miliki tidak mencukupi. Nilai Moral Tergadaikan Dalam Drama Cicak vs Buaya Sejak drama cicak vs buaya menjadi sorotan publik pantaslah moral para petinggi instansi-instansi hukum di negara ini dipertanyakan. atau air mata keluarga melihat kepala keluarga mereka diperlakukan sebagai tersangka atas apa yang tidak mereka lakukan mencerminkan bobroknya moral para aparat hukum yang sebenarnya bertanggung jawab atas moral bangsa melalui penegakkan hukum. Saat nyawa seorang manusia dikorbankan demi meluruskan keinginan beberapa pihak. Hal ini tercermin jelas saat polri tidak melakukan penahanan terhadap Anggodo Widjojo yang telah jelas-jelas telah melakukan tindakan pidana yang terungkap dari rekaman yang diputar di MK. Apalagi ditambah kelakuan Susno Duaji yang mengorbankan Bibit-Chandra pada saat Susno menjadi target KPK terkait dengan disebutnya nama Susno Duaji dalam kasus bank Century. Apa karena orang yang pantas menjadi target itu adalah orang yang bermandikan uang? Rakyat sekarang sudah pintar. Kesaksian Wiliardi Wizard yang mengaku dipaksa menjerat Antasari guna menjalankan skenario pemusnahan KPK menunjukkan telah terjadi penurunan moral ditubuh polri. Mereka yang kurang beriman. yakni KPK. Nilai moral polri semakin disorot ketika tak mampu tegas terhadap koruptor tetapi terlihat garang terhadap pemangsa koruptor. dan bermoral memang tidak pantas meguasai ketiga lembaga hukum tersebut. dan mampu menilai sendiri betapa buruknya dampak degradasi nilai moral yang terjadi di ranah hukum baangsa ini. Mereka seperti telah dininabobokkan oleh uang dari para mafia hukum dan koruptor-koruptor. Sedangkan kasus Anggoro tidak tersentuh oleh mereka sama sekali.III.

Butuh usaha yang keras dari elite negara ini untuk menghidupkan kembali hukum dan keadilan yang telah mati. berkemanusiaan. Bangsa ini telah lelah dengan kebobrokan yang selam ini seolah menjadi menu tetap yang selalu disajikan kepada rakyat.jawab moral terhadap bangsa. Rakyat menginginkan kebenaran yang tidak lagi diselimuti oleh kebohongan. dan bermoral. . Rakyat butuh pemimpin yang beriman.