Anda di halaman 1dari 11

BANJIR KANAL TIMUR

SALAH SATU PENGELOLAAN INFRASTRUKTUR


DALAM MENYIKAPI BENCANA ALAM
(Isman widodo*)

* alumni FT. Sipil Universitas Sebelas Maret


Project Manager Banjir Kanal Timur Paket - 29
BANJIR KANAL TIMUR
SALAH SATU PENGELOLAAN INFRASTRUKTUR
DALAM MENYIKAPI BENCANA ALAM
(Isman widodo*)

1. Pengantar Umum

Anugerah dan bencana adalah kehendakNya


Kita mesti tabah menjalani
Hanya cambuk kecil agar kita sadar
Adalah Dia di atas segalanya..

Adalah Dia di atas segalanya..

Anak menjerit-jerit, asap panas membakar


Lahar dan badai menyapu bersih
Ini bukan hukuman, hanya satu isyarat
Bahwa kita mesti banyak berbenah

(Untuk Kita Renungkan – Ebiet G. Ade)

Beberapa bait lagu diatas memang patut kita renungkan, dan memang kita mesti
banyak berbenah.

Banyak hal yang mesti dilakukan dalam menyikapi bencana alam, mengingat
beberapa kurun waktu belakangan ini Indonesia banyak sekali ditimpa bencana
alam, Tsunami di Aceh (26 Desember 2004), Gempa Yogya (27 Mei 2006),
Gempa Sumatera Barat (30 September 2009), Banjir Jakarta yang sudah menjadi
langganan sejak dari jaman penjajahan Belanda hingga tahun-tahun 2010 ini,
bahkan WALHI mencatat kejadian Bencana Alam tahun 2007 sebanyak 205 kali,
dan terjadi peningkatan di tahun 2008 sebanyak 359 kali (sumber :
http://www.antaranews.com).

Banjir di Jakarta sebenarnya bukan terjadi pada dekade belakangan ini. Dalam
sejarahnya, ketika Jakarta masih disebut Batavia, kota ini sudah pernah dilanda
banjir. Antara lain, pada tahun 1621, 1654, 1873 dan pada tahun 1918 pada masa
pemerintahan kolonial Belanda.

Pada dekade terakhir ini, banjir besar terjadi pada tahun 1979, 1996, 1999, 2002
dan 2007.

Sebenarnya upaya penanggulangan banjir di Jakarta umurnya hampir setua


dengan usia kota ini. Pada zaman pemerintahan kolonial Balanda, frekuensi banjir
datang setiap 20 tahun sekali, kemudian menjadi setiap 10 tahun, dan kini menjadi
setiap 5 tahun. Ini tak lepas dari dampak perubahan iklim global dan penataan
lingkungan Jakarta dan daerah penyangga (Soekardjo Hardjosoewirjo, Menuju
Jakarta 2020 – dikutip dari buku Banjir Kanal Timur Karya Anak Bangsa, Robert
Adhi Ksp).

Banjir Kanal Timur adalah sebuah tindakan besar dalam menyikapi bencana alam
banjir khususnya di Daerah Khusus Ibukota Jakarta.

Pembangunan BKT bertujuan melindungi kawasan Jakarta Timur dan Jakarta


Utara seluas 270 km2 dari luapan Sungai Cipinang, Sunter, Buaran, Jati Kramat
dan Cakung untuk menampung banjir 25 tahunan.

BKT juga akan melayani sistem drainase seluas 207 km2 (area tangkapan air) dan
melindungi 13 kawasan rawan genangan, sehingga pembangunannya diharapkan
dapat mengendalikan banjir di wilayah Jakarta Timur dan Jakarta Utara, selain
dapat digunakan sebagai sarana konservasi air dan transportasi air.

UTAR
JAKA
RTA

A
AR K
T
JA

A
M
TI
UR

(dokumen BBWSCC)
2. Banjir Kanal Timur Salah Satu Solusi

Banjir Kanal Timur adalah sebuah pilihan dari sebuah proses panjang perjalanan
sejarah penanggulangan banjir yang melanda sejak masih disebut Batavia pada
jaman kolonial Belanda hingga kini menjadi Jakarta pada jaman Reformasi.

1 Tahun 1621, Terjadi banjir besar di Batavia, pada masa itu sudah
1654, 1878 dibentuk badan khusus yang mengurusi banjir, yaitu
Burgelijke Openhare Werken (BOW), cikal bakal
Departemen Pekerjaan Umum.
2 Bulan Februari Menurut catatan banjir di Batavia kali ini adalah
Tahun 1918 banjir terbesar dari kejadian banjir pada tahun-tahun
sebelumnya, saat itu dilaporkan selama 40 hari hujan
turun terus menerus dan mengakibatkan Batavia
Lumpuh Total.
Pada tahun itu Belanda membangun Bendungan Hilir,
Jago dan Mudik.
3 Tahun 1920 Prof. Dr. Herman van Breen sebagai ketua Tim
Penyusun Rencana Pencegahan Banjir membuat
konsep penanggulangan bajir di Batavia.
4 Tahun 1922 Pemerintah Kolonial Belanda membangun Banjir
Kanal Barat dari Pintu Air Manggarai sampai Muara
Angke.
5 9 Januari 1932 Banjir menghanyutkan sejumlah rumah dikawasan
Jalan Sabang dan Thamrin.
6 6 Januari 1996 Banjir Jakarta akibat limpahan air dari luar daerah
Daerah Khusus Ibukota Jakarta.
7 10 Februari 1996 Banjir Jakarta akibat gabungan banjir lokal dan
limpahan dari luar daerah Jakarta.
8 29 Januari 2002 Banjir merendam wilayah Jakarta, 40.000 jiwa
mengungsi dan dua orang tewas.
9 4 Februari 2002 Banjir merendam 25 % wilayah Jakarta, serta
lumpuhnya kota, dan menyebabkan kerugian sampai
9,2 triliun rupiah.
10 2 Februari 2007 Banjir besar terjadi di Jakarta, menggenangi 60 %
wilayah Jakarta, 400.000 jiwa mengungsi 1.379 gardu
induk terendam, 420.000 pelanggan listrik terganggu.
Menurut kajian Bappenas dan UNDP banjir ini
menewaskan 53 orang dan menyebabkan kerugian
sebesar 8,8 triliun rupiah, dan merupakan banjir
terbesar dan terparah sepanjang sejarah banjir di
Jakarta.
(dirangkum dari buku BKT Karya Anak Bangsa – Robert Adhi Ksp)
Sejarah panjang banjir di Jakarta sudah barang tentu masih banyak yang tidak
bisa disebutkan dalam daftar diatas dan memberikan kerugian yang sangat besar
dari setiap kejadiannya.
Banjir besar Februari 2007 menimbulkan kerugian materi yang luar biasa besar.
Saya diajak (Wakil Presiden) Pak Jusuf Kalla untuk meninjau lokasi. Kami
mengadakan rapat di Bandara Halim Perdana Kusuma. Saat itu diputuskan
bahwa peristiwa banjir seperti ini tidak boleh dibiarkan dan harus ada solusi
yaitu membangun Banjir Kanal Timur (Djoko Kirmanto, Mentri Pekerjaan
Umum - dikutip dari buku Banjir Kanal Timur Karya Anak Bangsa, Robert Adhi
Ksp).

Tidak semudah membalikkan telapak tangan dalam proses pelaksanaan


pembangunan Banjir Kanal Timur ini, hal yang harus dihadapi adalah masalah
sosial yang sangat besar, terutama adalah masalah pembebasan lahan yang
dilewati jalur Banjir Kanal Timur belum seluruhnya tuntas.

Usaha yang dilakukan Kepala BBWSCC Pitoyo Subandrio sangat besar dalam
penyelesaian masalah BKT. Sebab yang dikedepankan bukan hanya aturan
hukum, tetapi juga pendekatan kemanusiaan. Warga pelan-pelan diajak bicara,
tidak langsung main gusur sampai akhirnya mereka mau menyerahkan tanah
secara baik-baik.

Salah satu yang selalu diungkapkan adalah “BKT tembus laut”. Kalimat ini selalu
terngiang-ngiang di telinga orang-orang yang terlibat dalam proyek ini. “Tak ada
yang tak mungkin bagi Tuhan kalau manusia berusaha” kata yang selalu diulang-
ulang.

Opitimisme Pitoyo Subandrio terbukti sudah, Desember 2009, Banjir Kanal


Timur tembus laut.
Banjir Kanal Timur tidak menghilangkan banjir di Jakarta, akan tetapi
mengurangi risiko banjir dan menyelamatkan dua juta warga Jakarta Timur dan
sebagian Jakarta Utara dari ancaman banjir rutin, namun demikian BKT adalah
sebuah pilihan besar, yang diiukti dengan semangat dan langkah-langkah besar,
sehingga menghasilkan sebuah karya yang monumental menjadi kebanggaan
bangsa indonesia dan sudah sepantasnya mendapatkan penghargaan MURI untuk
Pembangunan Kanal Terpanjang di Perkotaan Indonesia Dengan Area Terluas
dan untuk Pelaksanaan Pembangunan Dua Menara Dengan Tiang Baja Terbesar
dan Tertinggi Produksi dalam Negeri untuk Jaringan Sutet 500 KV Cawang-
Bekasi.

3. Masalah Pembebasan Lahan menjadi Primadona.

Pada saat penyusunan buku Banjir Kanal Timur Karya Anak Bangsa, penulis
buku menyampaikan pertanyaan : “Faktor-faktor apa yang sulit dalam
pelaksanaan pekerjaan Banjir Kanal Timur?”. Saya menjelaskan bahwa pada
dasarnya pekerjaan di BKT secara teknis tidak ada yang sulit, karena pekerjaan
utamanya adalah pekerjaan galian dan timbunan tanah, pekerjaan pemancangan
sheet pile, dan pekerjaan struktur jembatan maupun bangunan air yang pada
dasarnya adalah pekerjaan beton bertulang, begitu juga dengan pekerjaan relokasi
dan penggantian utilitas yang terpotong jalur BKT.

Hampir secara umum semua paket menyampaikan bahwa permasalahan utamanya


adalah pembebasan lahan. Berikut ini beberapa ungkapan yang menunjukkan
betapa masalah pembebasan lahan menjadi primadona.

Fathor Rachman, Project Manager BKT Paket 22 :


“Pada awal pelaksanaan Paket 22, lahan yang belum bebas dan masih
bermasalah sekitar 30 persen. Pekerjaan di lapangan hanya bisa dilaksanakan
pada titik-titik yang sudah dibebaskan”

“Tanah yang dibebaskan memiliki sertifikat kepemilikan ganda. Akibatnya dana


pembebasan tanah harus dikosinyasi di Pengadilan Negeri Jakarta Utara”

“Persoalan pembebasan lahan cenderung berlarut-larut sehingga berdampak


pada pencapaian target penyelesaian proyek ini. Dibutuhkan langkah-langkah
kreatif.”

Bambang Budiyanto, Project Manager BKT Paket 23 :


“Pembebasan lahan merupakan momok utama bagi semua kontraktor yang
mengerjakan paket BKT. Urusan pembebasan lahan dikerjakan pihak yang
berbeda dengan pemilik pekerjaan. Idealnya antara pihak yang membebaskan
tanah dan penanggung jawab pelaksana pekerjaan BKT ada pada satu instansi
agar koordinasi mudah dilakukan”

Adi Susilo, Project Manager Paket 24 :


“Lahan milik Kumar Singh dan Tresna Hidayat yang membujur sepanjang
penampang basah berstatus sengketa, sehingga kalau lahan ini tidak segera
dibebaskan maka saluran BKT akan tertahan / terpotong disini.”

Dedi Rosadi, Project Manager Paket 25 :


“Banyak lahan yang belum dibebaskan dan ini tersebar secara sporadis/acak.
Kondisi ini menyulitkan pembangunan saluran BKT. Kondisi galian menjadi
terpotong-potong dan tidak sistematis”

Kuntung Endra, Wakil Project Manager Paket 26 :


“Persoalan pembebasan tanah tak bisa diselesaikan dengan pendekatan
kekerasan. Dibutuhkan pendekatan agama. Masyarakat ternyata mendengarkan
apa kata ustad daripada omongan pemerintah.”

Moedi Utomo, Project Manager Paket 27 :


“Pada September dan Oktober 2009, lahan Perum Perumnas sudah dikonsinyasi.
Namun pembongkaran masih sangat alot. Kami sudah melakukan sosialisai di
kantor kelurahan dalam acara buka bersama. Tapi, beberapa warga tidak
menepati waktu membongkar rumah mereka”

Andang Susanto, Project Manager Paket 28 :


“Masalah tanah lain yang menguras tenaga adalah kasus tanah W. Napitupulu.
Sampai pekan pertama bulan Nopember 2009, masih ada lahan paket 28 yang
belum dibebaskan. Ini disebabkan karena masih ada perbedaan soal luas tanah
yang akan dibayar sehingga dua kali rencana pembebasan selalu gagal.”

Isman widodo, Project Manager Paket 29 :


“Status tanah tersebut adalah fasilitas umum (menurut dari data panitia
pembebasan tanah) namun pada saat pelaksanaan pembebasan lahan muncul
klaim-klaim kepemilikan tanah”

Ungkapan-ungkapan diatas barulah sebagian kecil dari banyak lagi permasalahan


pembabasan tanah yang ada pada pelaksanaan pekerjaan Banjr Kanal Timur,
selain masih lagi harus menghadapi persoalan lain yang merupakan efek dari
pembebasan tanah yang belum tuntas dan kondisi letaknya yang acak, yang
kesemuanya berujung pada bertambahnya biaya pelaksanaan, sementara didalam
kontrak diatur bahwa keterlambatan yang disebabkan oleh mundurnya
pembebasan, Kontraktor tidak memiliki hak untuk melakukan klaim-klaim biaya
atas keterlambatan tersebut.

4. Persoalan Teknis, bukan masalah.

Banjir Kanal Timur secara teknis adalah kanal dengan panjang 23,5 km dengan
lebar bervariasi 60-80-100 meter, struktur perkuatan kanal dengan menggunakan
sheet pile beton, jembatan sebanyak 26 buah pada awal perencanaannya, serta
struktur bangunan-bangunan air termasuk pintu-pintu airnya dan jalan inspeksi di
kanan maupun di kiri sepanjang kanal, dan juga galian tanah dengan volume
jutaan meter kubik. Selain itu juga banyaknya utilitas yang perlu direlokasi dan
diganti karena terpotong oleh jalur kanal tersebut. Biaya konstruksi yang
diperlukan sebesar Rp. 2,4 T (APBN) dan biaya Pembebasan sebesar Rp. 2,5 T
(APBD).

Kanal sepanjang 23,5 km dibagi dalam delapan paket, dengan panjang masing
masing paket bervariasi, begitu juga bervariasi untuk persoalan-persoalan
teknisnya.

Paket 22 Paket 22 dibagian paling hilir yang bersentuhan dengan muara laut
Jawa , sepanjang 5,4 km yang meliputi wilayah Kelurahan Marunda
dan Rorotan di Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara, dikerjakan oleh
kontraktor nasional PT. Waskita Karya.
Paket 23 Paket 23 adalah proyek BKT sepanjang 2,287 km dikerjakan oleh
kontraktor PT. Jaya Konstruksi MP, Tbk. Lokasinya di Kelurahan
Rorotan, Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara.
Paket 24 Proyek BKT Paket 24 dikerjakan kontraktor PT. Wijaya Karya
(Persero) Tbk atau WIKA. Wlayah kerja paket ini berlokasi di
Kelurahan Rorotan, Jakarta Utara dan Kelurahan Ujung Menteng dan
Pulo Gebang Jakarta Timur.
Paket 25 Proyek BKT Paket 25 sepanjang 1,6 km ini dikerjakan oleh
kontraktor RSEA Engineering Corp-PT. Sarang Tehnik JO,
membentang dari Rawa Bebek ke Pulogebang, melintasi Jalan Tol
Cakung Cilincing. Kontraktor BUMN Taiwan ini satu-satunya
kontraktor asing yang terlibat dalam proyek BKT.
Paket 26 Proyek BKT Paket 26 sepanjang 2,34 km dikerjakan kontraktor
nasional PT. Hutama Karya – Bumi Karsa KSO, membentang dari
Pulogebang, Pondok Kopi hingga Duren Sawit.
Paket 27 Proyek BKT Paket 27 dikerjakan kontraktor nasional PT PP atau
Pembangunan Perumahan (Persero), meliputi wilayah di lima
kelurahan di Kecamatan Duren Sawit, Jakarta Timur, yaitu Kelurahan
Duren Sawit, Pondok Kelapa, Malaka Sari, Malaka Jaya dan
Kelurahan Pondok Kopi.
Paket 28 Proyek BKT Paket 28 sepanjang 2,4 km dikerjakan kontraktor
nasional PT SAC Nusantara – PT. Basuki Rahmanta Putra Joint
Operation, membentang diwilayah Kelurahan Pondok Bambu dan
Kelurahan Duren Sawit, Kecamatan Duren Sawit di Jakarta Timur.
Paket 29 Proyek BKT Paket 29 adalah lokasi paling hulu yang langsung
memotong aliran dari sungai Cipinang, sepanjang hampir 1,5 km
dikerjakan kontraktor nasional PT. Adhi Karya (Persero) Tbk,
membentang dari wilayah Cipinang Besar Selatan, Cipinang Muara di
Kecamatan Jatinegara dan Kelurahan Pondok Bambu di Kecamatan
Duren Sawit, Jakata Timur.

Dari kondisi permasalahan yang ada, salah satu kunci sukses BKT dan dapat
berhasil tembus adalah karena dilaksanakan secara serentak, tentunya hal ini
sangat erat kaitannya dengan kebutuhan dana yang begitu besar. Bisa
dibayangkan apabila pelaksanaan secara sepotong-sepotong.

Pada awalnya alokasi anggaran hanya diberikan Rp. 60 miliar setiap tahun. Kalau
hal ini yang terjadi, “sampai lebaran kucing, BKT baru bisa selesai,” kata Pitoyo
Subandrio, Kepala Balai Besar Wilayah Ciliwung Cisadane, yang juga ditunjuk
sebagai orang yang paling bertanggung jawab dalam proyek BKT sejak 2005.
(Banjir Kanal Timur Karya Anak Bangsa – Robert Adhi Ksp).

Berbagai studi dan upaya telah dilakukan dalam mencari solusi persoalan banjir di
DKI. Pada hakikatnya secara teknis persoalan banjir DKI dapat diatasi, namun
akan membutuhkan dana yang tidak sedikit serta berbagai persoalan sosial cukup
pelik yang dapat menjadi penghalang utama upaya-upaya tersebut. (Djoko
Kirmanto, Mentri Pekerjaan Umum - dikutip dari buku Banjir Kanal Timur
Karya Anak Bangsa, Robert Adhi Ksp).

5. Membangun Mudah, bagaimana Memelihara?.

Soal perawatan BKT, ini akan dilakukan bersama antara Pemprov DKI Jakarta
dengan pemerintah pusat. Ini aset bersama. Lahan dibebaskan dengan dana APBD
DKI sehingga merupakan aset Pemprov DKI Jakarta, sedangkan konstruksi BKT
dibangun dengan dana APBN. Jadi format pengelolaan dan perawatan BKT harus
kerja sama operasi antara Pemprov DKI dan pemerintah pusat, dalam hal ini
Departemen Pekerjaan Umum dalam bentuk Badan Pengelola. (Fauzi Bowo,
Gubernur DKI Jakarta, Banjir Kanal Timur Karya Anak Bangsa – Robert Adhi
Ksp).

Setelah BKT beroperasi, kami harapkan agar sanitasi tetap dijaga. Masyarakat
tidak bisa membuang limbah apa saja ke saluran BKT ini. Dimasa depan, BKT
dapat menjadi long storage bagi keperluan air minum bagi masyarakat Jakarta.
Kita bisa mencontoh Singapura, karena itu, saluran BKT harus bersih dan jangan
ada sampah. Kalau akan menjadi sumber air minum, BKT harus bersih agar
proses penjernihannya tidak mahal (Ir. Iwan Nusyirwan Diar, Dipl. H. E – Dirjen
SDA, Banjir Kanal Timur Karya Anak Bangsa – Robert Adhi Ksp).

Saya termasuk orang yang merintis pendirian Balai Besar Wilayah Sungai. Dulu
sebelumnya, struktur lembaga ini struktur proyek yang sifatnya temporer, dan
memfokuskan diri hanya untuk membangun. Tapi kalau sekarang BBWSCC juga
mendapat tugas mengelola. Artinya, Jika UU No. 7/2004 tentang pengelolaan
sumberdaya air dilaksanakan secara konsekuen, ada tiga aspek yang harus
diperhatikan yaitu konservasi, pendayagunaan, pengendalian daya rusak antara
lain banjir, yang melibatkan masyarakat. (Ir. Siswoko, Dipl. H.E – Mantan Dirjen
SDA, Banjir Kanal Timur Karya Anak Bangsa – Robert Adhi Ksp).

Pola pikir yang berorientasi proyek harus diubah menjadi pengelola, pemelihara
dan pelayanan masyarakat yang berada diwilayah Sungai Ciliwung Cisadane.
Kami harur membina, mensosialisaikan segala rencana kegaiatn sampai dengan
operasi pemeliharaan bahkan implementasi UU Nomor 7 tahun 2004 kepada
instansi terkait dan masyarakat. (Ir. Pitoyo Subandrio, Dipl. H.E. – Kepala Balai
Besar Wilayah Sungai Ciliwung-Cisadane, Banjir Kanal Timur Karya Anak
Bangsa – Robert Adhi Ksp).

Memang memelihara tidaklah mudah, tidaklah cukup diatur dengan undang-


undang dan sebuah badan pengelola. Karena yang terpenting adalah keterlibatan
semua unsur mulai yang paling atas sebagai pengambil kebijakan sampai pada
masyarakat pengguna dan pelaku yang langsung berhadapan dengan kenyataan di
lapangan. Usaha untuk mensosialisasikan sudah sangatlah banyak dilakukan,
tinggal lagi kesadaran kita semua untuk selalu menjaganya.
KOMPAS/WINDORO ADI

Tumpukan sampah di Kanal Banjir Timur di Kebon Nanas, Cipinang Besar


Selatan, Jakarta Timur, membentuk delta, Selasa (6/4). Kiriman sampah berasal
dari Kali Cipinang. Hingga kini, di lokasi pertemuan antara Kali Cipinang dan
hulu kanal di Kebon Nanas belum memiliki pintu penyaring

6. Kesimpulan.

Sesuai dengan judul seminar Pengelolaan Infrastruktur dalam Menyikapi Bencana


Alam, maka dapatlah disimpulkan Banjir Kanal Timur adalah satu dari banyak
contoh bentuk pengelolaan tersebut. Harapan kedepan adalah bahwa di semua
daerah mulai dari pimpinan daerah sebagai pengambil kebijakan, perguruan tinggi
sebagai sumber inspirasi, para praktisi dan masyarakat sebagai pelaku dapat
bergerak bersama, mugi-mugi sing sami-sami sa'yeg sa'eko Proyo ambangun
Raharjaning Projo kanggo nggayuh luhuring janma.

Beri Nilai