Anda di halaman 1dari 19

PEMIKIRAN KARL MARX

‘‘AGAMA SEBAGAI ALIENASI MASYARAKAT INDUSTRI’’


SUATU APRESIASI DAN KRITIK

Sukron Kamil, MA

endahuluan
Sejak kemunculannya di Eropa Barat, khususnya Inggris (1750-
1850), industrialisasi bukan saja telah membawa manfaat seperti
pemenuhan kebutuhan teknis dengan cara memudahkan manusia, tetapi
juga membawa problem (efek sampingan negatif) bagi masa depan
manusia. Industrialisasi ternyata menuntut pengorbanan biaya material,
mental, kultural dan moral. Rusaknya lingkungan sebagai akibat dari
eksploitasi alam yang berlebihan; urbanisasi yang melahirkan
pengangguran, kemiskinan dan kriminalitas; sakit mental semisal stres dan
kekerasan, penyalahgunaan obat terlarang, sekularisme1 yang melahirkan
dekadensi moral, dan penjajahan yang telah berlangsung di muka bumi ini,
diyakini sebagai sesuatu yang tak terelakkan dari proses industrialisasi
tersebut (Karim, 1994).
Salah satu problem yang ditimbulkan akibat industrialisasi yang tidak
kalah seriusnya adalah alienasi manusia dari diri dan lingkungannya.
Alienasi, seperti yang dikatakan Erich Fromm merupakan salah satu dari
jenis penyakit kejiwaan masyarakat industri dimana seseorang tidak lagi
merasa dirinya sebagai miliknya sendiri, sebagai pusat dunianya sendiri,
melainkan telah terenggut oleh suatu mekanisme di luar dirinya yang tak
mampu dikendalikannya lagi. Pendek kata, orang yang dilanda alienasi akan
merasakan suatu kebingungan, keterasingan, dan kesepian karena merasa
apa yang dilakukannya bukan atas dasar kesadaran atau pilihan bebasnya,
tetapi didesak oleh kekuatan luar yang tidak dikehendaki bahkan tidak

Jurnal Universitas Paramadina, Vol. 1 No. 2, Januari 2002: 116-133


Sukron Kamil
Pemikiran Karl Marx “Agama sebagai Alienasi Masyarakat Industri”

ketakutan sehingga tidak lagi bisa beristirahat dengan tenang, bersikap putus
asa, dan menganggap hidup ini tidak lagi bermakna. Puncaknya, seperti
yang bisa kita saksikan di negara-negara skandinavia, ia akan melakukan
bunuh diri (Varma, 1987).
Jadi, karena merupakan sesuatu yang inheren dalam proses
industrialisasi, maka telaah terhadap alienasi pun telah muncul sejak dini.
Diantaranya bahkan mengkritisinya secara tajam untuk pertama kali,
adalah Karl Marx. Ia mengkaitkan alienasi dengan bangunan infra struktur
atau pondasi sosial --yang menurut Marx adalah ekonomi-- dan dengan
bangunan supra struktur yang berdiri di atas infra struktur tersebut --yang
menurut Marx diantaranya adalah agama. Sebagai sistem kepercayaan yang
dibangun di atas basis ekonomi yang melahirkan alienasi, maka agama ikut
berperan besar dalam proses peng-alienasi-an rakyat (kaum proletar yang
mayoritas) sebagai akibat dari dominasi kaum borjuis (kaum pemilik modal).
Mereka hanya mendapat upah ala kadarnya dan harus bekerja keras dalam
waktu yang panjang tanpa mendapat jaminan kesejahteraan dan kesehatan.
Mereka menjadi miskin dan tidak lagi bebas memilih pekerjaan. Agama,
dalam hal ini, di satu sisi telah mengabdi kepada kepentingan masyarakat
elit pemilik modal dan di pihak lain telah memalingkan masyarakat
mayoritas (kelas buruh) dari persoalan-persoalan yang melingkupinya
dengan doktrin adanya harapan hidup yang lebih bahagia kelak di alam
akhirat.
Sebagaimana halnya Freud yang melihat agama lewat analisa
individual neurotik dan Durkheim lewat analisa sosialnya, Marx pun melalui
analisa ekonomi dan politiknya melihat agama dari sudut pandang
pendekatan fungsional. Pendekatan tersebut telah berhasil melihat agama
dalam kaitannya dengan masyarakat industri, yaitu suatu masyarakat yang
jauh berbeda dengan masyarakat ketika agama itu lahir. Namun demikian,
jelas Daniel L. Pals telah membawa Marx pada kesimpulan reduksionis. Ini
diketahuinya sama sekali. Orang yang teralienasi akan juga merasa dihantui

1
Mesti dibedakan dengan sekularitas dan sekularisasi. Yang dimaksud di sini adalah
ideologi yang melihat semuanya serba sekular dan menolak hal-hal transenden (ilahiah)

117
Jurnal Universitas Paramadina, Vol. 1 No. 2, Januari 2002: 116-133

berbeda dengan Mercia Eliade, yang menjelaskan agama lewat term-term


agama sendiri sehingga bersifat menyeluruh (Pals, 1996).

Karl Marx; Latar Belakang Intelektual dan Pandangannya tentang


Agama sebagai Alienasi Masyarakat

Latar Belakang Intelektual Karl Marx


Karl Marx (1818-1883) lahir di Trier, daerah Rhine di Jerman, pada
tanggal 5 Mei 1818. Ayahnya bernama Heinrich Marx, seorang pengacara
borjuis yang beberapa tahun sebelumnya pindah dari agama Yahudi menjadi
agama Protestan. Pada usia 18 tahun (1837) sesudah mempelajari hukum
selama satu tahun di Universitas Bonn, ia pindah ke Berlin dan belajar
filsafat. Pada masa kuliahnya ia berada di bawah pengaruh Hegel. Lewat
filsafat Hegel, ia bersama kawan liberal radikalnya, mengkritik sistem politik
di Jerman kala itu. Tahun 1841, ia dipromosikan menjadi doktor dalam
bidang filsafat dengan judul disertasi Natural Philosophies of Democritus and
Epicurus (Falsafah Alam Demokritus dan Epikurus). Sebagai seorang yang
berpandangan non kompromis, permohonannya menjadi dosen di
universitas itu ditolak. Ia kemudian menjadi pimpinan redaksi sebuah harian
radikal, Reinshe Zeitung, suatu profesi yang mengantarkannya menjadi
pemikir orisinil dan begitu bersemangat. Bermula dengan menyerang
agama, lantas ia dengan cepat tertarik pada masalah ekonomi. Tahun 1843,
setelah harian yang dipimpinnya dilarang terbit, ia menikah dengan Jenny
Van Westphaen, putri seorang bangsawan, tetangga dan sahabat lama
keluarganya. Tak lama setelah itu pasangan pengantin baru tersebut pindah
ke Paris.
Di Paris, ia tidak hanya berkenalan dengan Friedrich Enggel (1820-
1895) yang kemudian menjadi teman akrab dan penerjemah teori-teorinya,
dan beberapa tokoh Sosialis Prancis. Berawal dari seorang liberal radikal ia
menjadi seorang sosialis. Beberapa tulisan penting berasal dari waktu itu.
Misalnya, On the Jewish Question (1843), Toward the Critique of the Hegel’s
Philosophy of Right: Introduction (1843),

118
Sukron Kamil
Pemikiran Karl Marx “Agama sebagai Alienasi Masyarakat Industri”

Manuscripts (1844), The Holy Family; Or a Critique of all Critique, dan lain-
lain. Tahun 1845, atas permintaan pemerintah Prusia, ia diusir oleh
Pemerintahan Prancis dan pindah ke Brussel, Belgia. Dalam tahun-tahun
tersebut ia mengembangkan teorinya yang definitif. Ia dan Enggel terlibat
dalam bermacam-macam kegiatan kelompok-kelompok sosialis. Kerja
samanya yang nyaris sempurna dengan Enggel melahirkan tulisannya
“Menipesto Komunis” yang terbit bulan Januari 1848. Kelihatannya, apa yang
disebut dengan Revolusi ’48 membuatnya diusir pula dari Belgia dan pindah
ke London, untuk menghabiskan sisa hidupnya.
Di London, tahapan baru dilakukannya. Aksi-aksi praktis dan
revolusioner ditinggalkan dan perhatiannya dipusatkan pada pekerjaan-
pekerjaan teoritis, terutama studi ekonomi. Tahun 1867, karya utamanya
yang memuat kritiknya terhadap kapitalisme diterbitkan (jilid II dan III
diterbitkan Engel sesudah Marx meninggal). Tahun-tahun terakhir hidupnya
amat sepi dan terasing dari kawan-kawannya karena sikap sombong dan
otoriternya. Tahun 1883, dua tahun setelah kematian istrinya, ia meninggal
dunia dan pemakamannya hanya dihadiri oleh 8 orang (Hadiwijono, 1992;
Suseno, 1998 dan Johnson, 1981).
Kendati Marx dilahirkan sejak dimulainya abad ke-19 dan meninggal
sebelum abad itu berakhir sebagaimana yang telah dipaparkan, namun
tulisan dan pikirannya sangat banyak mempengaruhi, bahkan menjadi
fenomena global abad 20, baik di lingkungan politik atau di dunia
cendekiawan. Salah satu sebab mengapa Marx menjadi tokoh begitu
penting pada abad 20, ialah karena; (1) ia mewakili sosok intelektual politisi
yang mencampurkan intelektualisme dengan aktivisme (politik praktis), yang
memandang dunia dengan perasaan dingin dan mencari masa depan yang
lebih bermoral dan lebih bebas bagi manusia (Apter, 1985). Pikirannya yang
ingin membebaskan manusia dari belenggu dominasi menjadi rujukan yang
sampai saat ini masih mempesona terutama bagi kalangan Neo-Marxis dan
sedikit banyak mengilhami kalangan dependencia

Economic and Philosophic

119
Jurnal Universitas Paramadina, Vol. 1 No. 2, Januari 2002: 116-133

Aristoteles sampai Nietszhe, yang puas hanya dengan memahami dunia.


Bagi Marx seorang filosof bukan saja harus memahami, tetapi juga yang
lebih penting adalah mengubah dunia. Oleh karena itu, oleh para
pengikutnya, Marx disebut telah melakukan terobosan (break-through) (Rais,
1991).
Pandangan Marx tentang Agama sebagai Alienasi Masyarakat Industri
Hasil pengamatannya terhadap masyarakat ketika ia hidup, Marx
berkesimpulan bahwa mereka mengalami alienasi (keterasingan) dari diri
dan lingkungannya. Dalam analisanya, pertama-tama ia membagi
masyarakat ke dalam dua kelas; kelas borjuis (kelas pengusaha/menengah)
sebagai majikan dan kelas proletar sebagai buruh. Menurutnya kedua-
duanya mengalami keterasingan. Kelas borjuis terasing oleh karena
posisinya yang harus menghamba kepada modal, dalam arti bahwa harta
(uang) telah menguasai eksistensinya. Ia harus bekerja keras tetapi harus
hidup sederhana dan hemat dalam menggunakan uang. Kenikmatan baginya
harus merupakan bagian dari produksi yang harus diperhitungkan secara
ekonomis. Kecuali itu, ia juga dihantui kekhawatiran akan bangkrut karena
kerasnya persaingan di antara kelas borjuis (pemilik modal) dan juga hukum
ekonomi kapitalis yang mengandaikan para pemilik modal yang kuatlah
yang akan mampu bertahan terus. Dirinya, dengan demikian, tidak lagi
menjadi pusat hidupnya tetapi objek dari kekuatan luar yang memaksanya.
Namun demikian keterasingan yang dirasakan kelas proletar (kaum
buruh) jauh lebih berat dari kelas borjuis, kalau bukan sesuatu yang tidak
bisa dibandingkan. Jika kelas borjuis, yang berjumlah segelintir saja, lewat
industri yang dikuasainya lebih banyak menikmati hidup, maka kelas proletar
yang mayoritas lebih banyak menderita karena dominasi mereka.
Dalam pandangan Marx, kelas proletar yang melakukan pekerjaan-
pekerjaan kasar dan berat hanya menikmati kekayaan paling sedikit dari apa
yang dirasakan kelas borjuis, mengalami keterasingan: Pertama dari dirinya
dengan
sendiri karena ia telah menjadi objek orang lain. Dirinya telah teologi
menjadi
pembebasannya;
komoditas yang dibeli(2). Ia borjuis
kelas berbedadi dengan
pasaranpara filosof Baginya,
proletariat. sebelumnya,
untukdari

120
Sukron Kamil
Pemikiran Karl Marx “Agama sebagai Alienasi Masyarakat Industri”

bisa bertahan hidup hanya ada satu pilihan, yaitu bekerja pada pabrik-pabrik
kelas borjuis dengan jam kerja yang panjang tetapi upah yang rendah,
padahal keadaan dalam pabrik membahayakan diri dan kesehatan mereka.
Ia terasing dari minatnya, dari kebebasannya dalam memilih, dari
kebahagiannya, dan dari perasaan harga dirinya. Hidupnya tertekan oleh
dominasi kelas borjuis. Situasi itu seperti yang dikatakan Engel, penafsir
pikiran-pikiran Marx: “Cara bagaimana massa luas kaum miskin
diperlakukan masyarakat modern benar-benar keji. Mereka bergerombol
datang ke kota-kota besar, dimana mereka menghirup udara yang lebih
kotor ketimbang di desa. Mereka dirumahkan di distrik-distrik kotor yang
paling buruk aliran udaranya, kehilangan sarana kebersihan, dan kekurangan
air. Tiada akhirnya penderitaan yang menumpuk di atas kepala mereka.
Orang-orang dipadatkan bersama dalam tempat yang luar biasa sempitnya.
Mereka dihalau seperti binatang-binatang buas dan tidak pernah mempunyai
kesempatan untuk menikmati kehidupan yang tenang”.
Kedua, terasing dari rumpun (species)-nya sebagai manusia yang
bebas berkreasi, suatu hal yang membedakan manusia dengan hewan.
Kegiatan produktif buruh-buruh upahan ditentukan oleh hanya suatu
kebutuhan untuk dapat mempertahankan hidupnya, tidak lebih dari itu.
Pekerjaan yang tadinya sebagai medan pelaksanaan kreatifitas manusia,
bagi kaum buruh hanya untuk memenuhi keinginan majikannya. Mereka
harus menyesuaikan diri dengan dunia benda-benda yang membatasi
kreatifitasnya. Mereka hanyalah mengetahui ketundukan pada disiplin pabrik
jika mereka ingin selamat. Bekerja tidak lagi menjadi alat tetapi tujuan.
Ketiga, terasing dari hasil produksinya. Kelas buruh memproduksi
suatu benda, setelah itu benda tersebut tidak lagi ia kuasai, bahkan
melawannya. Ia harus membelinya di pasaran terlebih dahulu jika ia ingin
menguasainya, padahal uang yang diperoleh dari bekerja begitu minim.
Akhirnya, benda itu pun tidak bisa ia miliki sebagai layaknya orang yang
memproduksi.

121
Jurnal Universitas Paramadina, Vol. 1 No. 2, Januari 2002: 116-133

Keempat, terasing dari sesama buruh karena mereka harus


bersaing berebutan tempat kerja. Celakanya lagi, peningkatan efisiensi
melalui teknologi yang lebih baik ditambah jumlah buruh yang terus
melimpah mengakibatkan jumlah buruh yang dipekerjakan semakin sedikit
sementara harga tawar tenaga mereka pun semakin melemah. Akibatnya
pengangguran dan penurunan gaji pun menjadi mungkin (Rodee, 1988 ;
Gidden, 1982).
Berangkat dari analisisnya tentang keterasingan yang ia susun
dalam tulisan-tulisan awalnya, Marx selanjutnya berhasil melahirkan teorinya
yang terkenal “Materialisme Historis”. Teori ini menjelaskan pandangannya
tentang dua hal: (1) faktor ekonomilah yang menentukan perilaku manusia,
dan (2) bahwa komunisme merupakan muara terakhir perjalanan sejarah
manusia (Pals, 1996).

a. Ekonomi sebagai Penentu Perilaku manusia


Untuk mencegah kesalahpahaman, perlu diperhatikan bahwa yang
dimaksud Marx dengan materialisme di atas bukan berarti cara pandang
yang melihat realitas seluruhnya bersifat material saja. Tetapi yang ia
maksud adalah paradigma yang melihat bahwa hubungan atau cara produksi
(mode of production) mendasari kehidupan manusia. Kesadaran dan
perkembangan masyarakat, menurut Marx lewat paradigma ini, dibentuk
oleh faktor produksi (material), bukan selainnya. Ia memandang kehidupan
masyarakat sebagai dua unsur yang berhubungan searah. Ekonomi sebagai
basis masyarakat menentukan segalanya, baik agama, moralitas, hukum,
filsafat, politik, ilmu pengetahuan, atau berbagai bentuk kesadaran manusia
lainnya. Jadi, ekonomi sebagai infra struktur sedangkan agama dan lain-lain
sebagai supra struktur yang berdiri di atas ekonomi yang harus
menyesuaikan dengan tuntutan-tuntutan dan prasyarat-prasyarat sistem
ekonomi yang berlaku. Sebagai supra struktur semuanya itu hanyalah
ungkapan basis (infra struktur) belaka. Jika basisnya berubah, maka

122
Sukron Kamil
Pemikiran Karl Marx “Agama sebagai Alienasi Masyarakat Industri”

feodalisme telah hancur, maka bangunan atasnya pun hancur. Marx, dalam
hal ini, begitu mementingkan bidang ekonomi (Setiawan dkk., 1990).
Berdasarkan pandangan Marx sumber keterasingan masyarakat
adalah sistem ekonomi yang berlaku yang mendorong dan mensahkan
adanya penghisapan manusia. Sebab itu, ia mengkritik habis-habisan sistem
ekonomi kapitalisme yang berlaku saat itu dan juga sekarang. Kapitalisme,
sebagaimana yang dirumuskan Werner Sombart dan diperkuat Wallerstein,
adalah sistem ekonomi yang dikuasai dan diwarnai peranan modal, yang di
dalam pandangan ekonominya didominasi oleh tiga gagasan, yaitu: usaha
untuk memperoleh dan memiliki, persaingan, dan rasionalitas (nilai efisiensi
kerja). Dalam sistem ini akumulasi modal (keuntungan) yang tanpa akhir
telah menjadi tujuan dan menguasai hukum ekonomi. Dari sinilah, sistem ini
mensyaratkan faktor individualisme yang menuntut kebebasan yang leluasa
dan dengan free fight competition-nya menempatkan negara hanya sebagai
“penjaga malam” saja (dilarang ikut campur) (Azhar, 1996; Rahardjo, 1991).
Mengingat individualisme begitu inhern dalam sistem ekonomi ini, maka
dalam prakteknya menimbulkan eksploitasi masyarakat oleh sekelompok
kecil. Sehingga faktor sosial dikesampingkan. Manusia menjadi tercabut dari
akar sosialnya.
Menurut Marx, mengingat agama sebagai bangunan atas yang harus
mengabdi kepada ekonomi sebagai basis, maka agama - paling tidak ketika
ia hidup saat penguasa gereja tengah berkolusi dengan kalangan politisi dan
pengusaha - ikut membantu terpeliharanya situasi eksploitatif tersebut.
Agama bukan hanya sebagai ekspresi ekonomi, tetapi juga secara khas
memberi dukungan moral atas kepincangan sosial. Ada dua fungsi yang
dimiliki agama dalam konteks ini; Pertama bagi elit agamawan (gereja), ia
menjadi alat justifikasi transendental bagi berlangsungnya status Quo atau
hak-hak istimewa mereka. Sebab itu, sistem ekonomi kapitalistik yang
eksploitatif ini, jelas Marx, tidak mendapat protes apa pun. Kedua

bangunan atasnya pun berubah. Misalnya, karena sistem ekonomi

123
Jurnal Universitas Paramadina, Vol. 1 No. 2, Januari 2002: 116-133

fisik dan kesulitan material dalam hidup. Tambahan pula cita-cita agama
sebenarnya telah mengalihkan prioritas-prioritas alamiah/tuntutan-tuntutan
normal dengan mengatakan bahwa penderitaan dan kesulitan mempunyai
nilai rohani positif kalau ditanggung dengan sabar, bahkan mungkin
memperbesar kesempatan bagi individu untuk memperoleh pahala di alam
baka. Kekayaan material, status duniawi, dan kekuasaan dilihat dalam
kesadaran agama sebagai ilusi, fana, dan sangat berbahaya bagi
kesejahteraan rohani individu serta pahalanya bagi kehidupannya kelak.
Maka kemudian kemiskinan diubah menjadi kebajikan dan kekayaan
menjadi kemiskinan rohani. Selain itu, kata Marx lebih lanjut, dalam
persepektif agama, penderitaan hidup dianggap sebagai takdir yang harus
diterima. Jadi, sikap nrimo, pasrah, dan pasif pun merupakan sikap bijak
yang dianjurkan agama.
Karenanya, agama, sindirnya secara sarkastik, pada dasarnya
merupakan ekspresi penderitaan sosial. Agama adalah keluh kesah warga
masyarakat yang tertindas. Agama adalah suatu sentimen dunia yang tak
berperikemanusiaan. Ia adalah “candu masyarakat” yang hanya memberi
penenang sementara, semu dan tidak mampu membongkar dan
menghilangkan kondisi-kondisi yang menimbulkan penderitaan.
Agama telah merampas kekayaan yang berharga dari manusia lalu
menyerahkannya kepada Tuhan. Agama merupakan refleksi keterasingan
manusia semata. Kaitannya dengan persoalan-persoalan sosial, agama
merupakan doktrin yang mengajarkan sikap pengecut dalam mengahadapi
realitas hidup, kerendahan diri, kehinaan, ketundukan, kepedihan, dan rasa
putus asa. Dari sini, Marx kemudian menjauhi agama dan memusuhinya.
Agama adalah suatu yang destruktif yang harus dihapuskan.
Sepeti halnya Feurbach, filosof sebelumnya yang menyerang
agama, bagi Marx, Tuhan itu tidak ada (Good-Bye to God). Tuhan ada
karena diciptakan oleh pikiran (fantasi) manusia yang keliru. Selanjutnya, ia ,
punpenekanannya
terjebak padapada
relativitas
dunia sepenuhnya. Baginya
transenden (non pengetahuan
material) absolut
dan harapan akan
hidup setelah mati membantu mengalihkan perhatian orang dari penderitaan

124
Sukron Kamil
Pemikiran Karl Marx “Agama sebagai Alienasi Masyarakat Industri”

keadaan material atau tercapainya tujuan (Pols, 1996 ; Johnson, 1994 ;


Hidayat, 1994 ; Sheed, 1995).
Seperti halnya agama, negara pun diperlakukan Marx sebagai
institusi sosial yang mengabdi pada kepentingan sistem ekonomi kapitalistik.
Sebagai produk kapitalistik, negara merupakan alat kelas atas untuk
menjamin kedudukannya dan untuk itu dilakukanlah seperlunya penindasan
kepada kelas bawah. Negara tidak mungkin mewakili kepentingan seluruh
masyarakat. Negara dikuasai oleh dan berpihak kepada kelas atas. Dalam
konteks ini, ia juga memandang demokrasi liberal sebagai sarana yang
didukung oleh penghisapan terhadap kaum buruh (Suseno, 1988; Apter,
1985).
Hal yang sama ia tujukan pada institusi pendidikan dan hiburan.
Institusi pendidikan, tulis Marx, hanyalah sebagai suatu pelayanan terhadap
keperluan-keperluan ekonomi, dengan memberikan indoktrinasi kepada
individu-individu tentang norma-norma dan nilai-nilai yang mendukung
status quo dan dengan melatih mereka menduduki posisi-posisi pekerjaan
dalam sistem ekonomi kapitalisme tersebut. Berbagai bentuk industri
hiburan ia lihat juga sebagai suatu usaha untuk mengalihkan atau
menenangkan orang (Johnson, 1994).

b. Komunisme Merupakan Muara Terakhir Perjalanan Sejarah Manusia

Dengan mengikuti teori dialektika Heraklitus dan terutama Hegel, ia


berkesimpulan di dunia ini tidak ada yang tetap, tetapi berubah (panta rei).
Gagasan (tesis) yang tumbuh senantiasa menimbulkan antitesis, lalu
melalui pertemuan secara kualitatif dan kuantitatif antara tesis dan antitesis
melahirkan sintesis. Dialektika idealis Hegel ini ia ubah menjadi dialektika
materialis. Secara deterministik, menurutnya, proses perubahan sejarah
bergerak dari mulai komunisme primitif (zaman pra sejarah) ke zaman
perbudakan, kemudian feodalisme, lantas kapitalisme, selanjutnya sejarah
mesti mengalami sosialisme dan akhirnya komunisme. Dalam proses
atau standar moral tidak ada. Yang menjadi ukuran benar salah adalah
perubahan itu selalu ditandai oleh dua kelas yang saling berhadap

125
Jurnal Universitas Paramadina, Vol. 1 No. 2, Januari 2002: 116-133

antara kelas penindas dan yang ditindas. Pada masa kapitalisme, saat ia
hidup tetapi juga sekarang, dua kelas yang saling bertentangan itu adalah
antara kelas pemilik modal dan kelas buruh. Jika kelas pemilik modal
menuntut keuntungan, maka kelas buruh menuntut upah yang layak dan
keadilan. Polarisasi di antara mereka akan terus semakin berkembang dan
memuncak. Sementara kaum kapitalis (borjuis) menggunakan alat
kekuasaan untuk menindas dan menguasai proletariat, kaum buruh yang
mayoritas semakin sadar akan kondisi yang tidak manusiawi yang
melingkupinya. Jaringan komunikasi dan terpusatnya mereka di daerah-
daerah industri kota menghasilkan kebersamaan di antara mereka dan pada
akhirnya akan mengakibatkan meletusnya revolusi sosial. Kaum buruh
(proletar), dalam hal ini, mewakili aspirasi seluruh umat manusia.
Dengan demikian, hemat Marx, dalam masyarakat kapitalis mapan2
seperti itu, revolusi menuju sosialisme selanjutnya komunisme menjadi
niscaya dan absah3. Jadi, meskipun di dalam revolusi terdapat kekerasan,
namun ia merupakan satu-satunya jalan ke arah tersebut. Baginya
“kekerasan adalah bidan dari setiap masyarakat lama yang sedang hamil
tua dengan masyarakat baru”. Tanpa revolusi, keterasingan yang bersumber
dari adanya kepemilikan pribadi tidak akan hilang di muka bumi. Begitu pula
sosialisme yang akan mengantarkan ke masa “surga” komunisme pun tidak
juga akan datang.
Pasca revolusi (zaman sosialisme) kelas-kelas memang masih ada,
tetapi perbedaannya tidak terlalu tajam karena ada suatu kediktatoran yang
disebut kediktatoran proletariat (dictatorship of proletariat). Dalam
kediktatoran ini, para diktator secara kolektif menguasai negara --dengan
mengatasnamakan kaum proletar-- untuk mengikis habis sisa-sisa kelas
penindas. Pada fase transisi ini, negara masih dibutuhkan untuk memastikan
kaum kapitalis tidak dapat bangkit lagi. Sesudah sisa kapitalis melebur

2
Marx mensyaratkan lahirnya revolusi diadahului oleh masa di mana kapitalisme telah
mengalami kemapanan, walaupun pada kenyataan sejarah, komunisme justru lahir di negara

-hadapan

126
Sukron Kamil
Pemikiran Karl Marx “Agama sebagai Alienasi Masyarakat Industri”

dengan kaum buruh, masyarakat seluruhnya hanya terdiri dari buruh saja,
tidak ada kelas berbeda lagi. Semuanya sama rata sama rasa. Tidak ada
kepemilikan individu, tidak ada pula pembagian kerja. Tidak ada kelas
penindas dan tertindas. Setiap orang akan dapat mengembangkan bakatnya
secara utuh. Zaman komunisme seperti itu, bagaikan surga yang dibangun
di atas dunia. Pagi berburu, siang memancing ikan, sore hari memelihara
ternak, sesudah makan mengkritik, mencari hiburan dan seterusnya. Pasca
revolusi manusia serba senang, tidak punya masalah lagi. Agama pun tidak
lagi dibutuhkan karena kapitalisme sebagai basisnya telah hancur
(Budiharjo, 1995; Dainrendorf, 1986).

Apresiasi dan Kritik Terhadap Pemikiran Marx


Satu hal yang telah disumbangkan Marx dalam dunia pemikiran,
terutama kaitan antara agama dan sosial, adalah deskripsinya tentang
masyarakat industri (modern). Marx adalah orang pertama yang berusaha
memahami psikologi masyarakat industri secara tajam dan kritis, khususnya
bila dihubungkan dengan sisi kemanusian. Tanpanya mungkin kita akan
mendapatkan kesulitan memahami masyarakat industri (modern). Karena
itu, hampir semua pemerhati sosial dan para politisi dunia, termasuk di dunia
Islam, sampai saat ini tidak melewatkan, paling tidak mengenal, teori-teori
sosial Marx –- termasuk di dalamnya persoalan keagamaan -- yang
dihubungkan dengan ekonomi dan politik. Menurut Pabotinggi (1986),
setidaknya ada tiga hal sumbangan Marx dalam konteks ini; menempatkan
materialisme dalam pemahaman intelektual (epistemologis) -- bukan
sebagai pandangan hidup -- yang mempersaksikan besarnya peranan dunia
benda dalam menentukan kehidupan manusia; serangan sekaligus
peringatannya terhadap bahaya kapitalisme yang melegitimasi adanya
akumulasi produksi yang memproletarkan; dan terakhir dukungannya

-negara
yang baru memulai
3
masa kapitalisme, bahkan ada juga yang masih agraris.
Pendukung pemikiran Marx yang tidak setuju dengan dengan jalan revolusi tetapi
parlementer yang dipelopori oleh Edwar Bernstein (1850-

127
Jurnal Universitas Paramadina, Vol. 1 No. 2, Januari 2002: 116-133

terhadap strategi materialis (penguasaan sumberdaya) sebagai jalan yang


mendesak untuk juga ditempuh jika ingin memiliki daya tahan yang kuat.
Begitu pula sumbangan Marx yang tidak kalah berharganya bagi
perkembangan dunia pemikiran kegamaan adalah kritiknya yang tajam
terhadap fenomena keberagamaan, terutama pesan yang bisa kita ambil
bahwa terdapat kemungkinan tercorengnya agama oleh perilaku elit-elit
agamawan yang bertindak mengatasnamakan Tuhan/ agama.
Pemikiran Marx telah menjadi fenomena global, terutama ketika Uni
Soviet yang menganut komunisme sedang jaya-jayanya menjadi adikuasa
dunia bersama Amerika Serikat. Ia bahkan sampai saat ini masih tetap
hidup, meskipun tidak seluruhnya, terutama di Cina dan Kuba, di kalangan
Neo-Marxis, dan sebagian pemikirannya pada kalangan dependensia di
Amerika Latin dengan teologi pembebasannya.
Namun demikian, banyak kritik yang dialamatkan pada teori sosial
Marx. Kritik pertama yang muncul adalah bahwa analisa sosial Marx diracuni
oleh reduksionisme. Marx telah mereduksi keanekaan ungkapan sosial
manusia pada bidang ekonomi. Faktor negara/politik dan cara manusia
berfikir yang mempengaruhi cara manusia berproduksi, suatu pengaruh yang
sebenarnya timbal balik, terlewatkan dalam analisa Marx. Faktor kekuasaan
-- yang merupakan fenomena yang tidak akan hilang -- tidak terbaca oleh
Marx. Bahkan ia sama sekali tidak menangkap apa yang dialami negara-
negara modern saat ini yang berkembang dari hanya sebagai “penjaga
malam” dalam kancah kebebasan transaksi sosial rakyatnya menjadi
penyelenggara kehidupan masyarakat dalam hampir segala segi. Mulai dari
pendidikan, lalu lintas, jaminan sosial, penanaman modal hingga pencarian
pekerjaan. Begitu juga Marx tidak memperhitungkan dimensi kemungkinan
reformasi dalam sistem kapitalisme, sebagaimana yang bisa kita saksikan
dewasa ini, yakni dengan menghilangkan dampak negatif dari mekanisme

1932) disebut revisionis.

128
Sukron Kamil
Pemikiran Karl Marx “Agama sebagai Alienasi Masyarakat Industri”

campuran4. Contoh unsur-unsur sosialisme dalam ekonomi kapitalisme itu


adalah tingginya upah yang diterima buruh, tersalurkan aspirasi mereka dan
elit-elitnya lewat serikat-serikat buruh sehingga mereka pun tidak lagi
merasa perlu melakukan revolusi, adanya pajak pendapatan progresif
(menurut besarnya pendapatan), dan peran aktif pemerintah dalam
mendistribusikan kekayaan (Johnson, 1994).
Karenanya, Marx dinilai telah melakukan miskalkulasi, karena tak
satu pun negara industri kapitalis asli (mapan) mengalami revolusi. Revolusi
sosialis justru semuanya pecah dalam negara-negara yang masih agraris,
atau baru memulai proses indutrialisasi seperti Rusia, Cina, Kuba, dan lain-
lain. Itu pun ternyata kemudian sebagian hancur lebur (semisal Rusia) dan
yang ada pun mencampurnya dengan sistem kapitalisme (Cina). Jadi, tidak
murni seperti yang diinginkan Marx. Pada kenyataan sejarah, revolusi
terbukti bukan satu-satunya jalan, karena pertentangan dua kelas, majikan
dan buruh, bisa dikompromikan. Begitu pula dengan individualitas, yang
dalam komunisme murni ditolak, belakangan ternyata dapat diterima
sebagai pendorong dinamisme oleh negara-negara yang mengikuti
pemikiran Marx. Justru demokrasilah ternyata yang menjembatani
kapitalisme menuju sikap-sikap sosial (manusiawi), bukan revolusi.
Hal yang sama terjadi pada pandangannya tentang agama. Marx
terjebak pula pada reduksionisme. Penilaiannya yang parsial (bukan
berangkat dari konsep agama yang mendalam dan menyeluruh), pemusatan
pengamatannya pada agama Katolik, dan tentu saja analisanya yang
berangkat dari faktor produksi (ekonomi) semata, mengakibatkan ia tidak
menangkap: (1) kemunculan agama sebagai kekuatan yang melakukan
transformasi sosial5, seperti kemunculan agama Kristen sebagai kritik

4
Menurut beberapa pengamat ekonomi, seperti Samuelson, seorang ekonom Amerika
pasar (persaingan)
penerima bebas ini
hadiah Nobel, sekarang dan dengan
sistem caramurni
kapitalisme memasukan unsur-unsur
sudah tidak berlaku lagi di dunia,
sekalipun di Amerika Serikat dan Eropa Barat yang dahulu begitu liberal ( Lihat M. Dawam Rahardjo,
sosialisme, sehingga saat ini tidak lagi murni sistem kapitalis tetapi
op. cit., 12-13)
5
Pendapat Marx tentang agama ini berbeda dengan hasil penelitian Weber terhadap para
penganut agama Protestan yang melihat bahwa ajaran agama yang dianut mempengaruhi tingkat

129
Jurnal Universitas Paramadina, Vol. 1 No. 2, Januari 2002: 116-133

terhadap Pemerintahan Romawi yang lalim dan agama Islam dengan tauhid-
nya, terhadap kesewenang-wenangan Arab Jahiliyah. (2) Analisanya tidak
bisa digunakan pada agama yang tidak memilki doktrin adanya kehidupan
setelah mati. (3) Analisanya menunjukan luputnya kebutuhan transendental
dari perhatian Marx.
Terakhir, usulannya tentang komunisme yang mengandaikan
masyarakat tanpa kelas, tanpa kepemilikan individu, tanpa pembagian kerja,
dan tanpa adanya paksaan, sebagaimana yang telah digambarkan di atas,
merupakan utopia dan kelihatan absurd (Nawawi, 1991 ; Suseno, 1988).

Penutup
Beberapa hal yang bisa kita catat sebagai kesimpulan adalah bahwa
dalam tulisan-tulisannya, Marx menilai alienasi sebagai sesuatu yang
inheren dalam indusrialisasi/modernisasi. Alienasi merupakan ciri sekaligus
sindrom masyarakat modern. Mereka terasing dari diri dan lingkungannya.
Mereka menjadi pasif, tidak berdaya, dan senantiasa berada dalam situasi
yang menjemukan.
Mengingat sumber adanya alienasi itu adalah dominasi kelas borjuis
(pemilik modal), maka jalan keluarnya, tulis Marx, ialah menghapuskan
kelas borjuis tersebut melalui revolusi yang akan membidani lahirnya
zaman sosialisme lantas komunisme, yakni suatu masyarakat sama rata
sama rasa sebagaimana zaman sebelum ada negara. Hal itu berarti
menggantikan sistem ekonomi kapitalisme dengan sosialisme- komunisme.
Menurut Marx, mengingat ekonomi merupakan pondasi atau faktor
penentu segala hal, termasuk di dalamnya agama, maka agama dengan
demikian berada di atas pondasi ekonomi kapitalistik yang eksploitatif yang
melahirkan kepincangan sosial dan keterasingan tersebut. Agama telah
mengabdi pada kepentingan ekonomi itu dengan cara dua hal; pertama
sebagai alat justifikasi teologis bagi berlangsungnya kondisi yang menghisap

pencapaian dalam usaha dan status sosial (Lihat Taufiq Abdullah, “Tesis Weber dan Islam di
Indonesia”, Dalam Agama Etos Kerja dan Perkembangan Ekonomi,

130
Sukron Kamil
Pemikiran Karl Marx “Agama sebagai Alienasi Masyarakat Industri”

dan kedua penekanannya pada dunia transendal dan kebahagiaan hidup


setelah mati telah mengalihkan perhatian masyarakat dari penderitan dan
kesulitan hidupnya. Agama dalam hal ini hanya merupakan ekspresi
keterasingan manusia industri belaka.
Meski kelihatannya dibangun di atas konsep yang kuat, tetapi
sesungguhnya tidak demikian. Pandangan Marx tersebut merupakan
pandangan yang reduksionis. Dalam pandangannya luput kenyataan bahwa
kemunculan agama merupakan kekuatan transformatif dan dunia
transendental sebagai kebutuhan manusia. Wallah ’alam Bi al-Shawab.

Jakarta: LP3ES, 1993, h. 1-40)

131
Jurnal Universitas Paramadina, Vol. 1 No. 2, Januari 2002: 116-133

Daftar Pustaka

Abdullah, Taufiq. 1993. “Tesis Weber dan Islam di Indonesia”. Dalam Agama Etos
Kerja dan Perkembangan Ekonomi. Jakarta: LP3ES

Ali, Fachry. 1984. Islam Keprihatinan Universal dan Politik di Indonesia (Sebuah
Bunga Rampai). Jakarta: Pustaka Antar Kota

Apter, David E.. 1985. Pengantar Analisa Politik. Jakarta: LP3ES

Azhar, Muhamad. 1996. Filsafat Politik, Perbandingan antara Islam dan Barat.
Jakarta: Rajawali Pers

Budiardjo, Meriam. 1995. Dasar-Dasar Ilmu Politik. Jakarta: Gramedia

Daihrendorf, Ralf. 1986. Konflik dan Konflik dalam Masyarakat Industri. Terjamahan
Oleh Ali Mandan dari Class and Class Conflict in Industrial Society.
Jakarta: Rajawali Pers

Gidden, Antony. 1986. Kapitalisme dan Teori Sosial Modern. Terjamahan Oleh
Soeheba K. dari Capitalism and Modern Social Theory; an Analisis of
Writing of Marx, Durkheim, and Max Weber. Jakarta: UIP

Hadiwijono, Harun. 1992. Sari Sejarah Filsafat Barat 2. Jakarta: Kanisius

Hidayat, Komarudin. Tanpa Tahun. “Arti Tasawuf untuk Dunia Modern”. Dalam Buku
Panduan Studi Tasawuf Paramadina. Jakarta: Paramadina

----------. 1994. “Tiga Model Hubungan Agama dan demokrasi”. Dalam Elza Peldi
Taher (Ed.) Demokratisasi Politik, Budaya dan Ekonomi. Jakarta:
Paramadina

Johnson, Doyle Paul. 1994. Teori Sosiologi Klasik dan Modern I. Terjamahan oleh
Robert MZL. dari Sosiological Theory Clasical Founder and Contemporery
Perspectives (1981). Jakarta: Gramedia

Karim, M. Rusli. 1994. Agama Modernisasi dan Sekularisasi. Yogya: Tiara Wacana

132
Sukron Kamil
Pemikiran Karl Marx “Agama sebagai Alienasi Masyarakat Industri”

Nawawi, Mohammad Ansori. 1991. “Keruntuhan Komunisme”. Dalam Tempo, 12


Oktober 1991

Pabottinggi, Mochtar. 1986. Islam antara Visi, Tradisi, dan Hegomoni Bukan Muslim.
Jakarta: Yayasan Obor Indonesia

Pals, Daniel L. 1996. Seven Theories of Religion. New York: Oxpord University
Press

Rahardjo, M. Dawam. 1991. Perspektif Deklarasi Mekkah, Menuju Ekonomi Islam.


Bandung: Mizan

Rais. M. Amin. 1991. “Kritik Islam terhadap Marxisme”. Dalam bukunya Cakrawala
Islam; Antara Cita dan Fakta. Bandung: Mizan

Rodee, CC. Dkk.. 1988. Pengantar Ilmu Politik. Tarjamahan oleh Zulkifli H. dari
Introduction to Political Science, Jakarta: Rajawali Pers

Setiawan, dkk.. 1990. Ensiklopedi Nasional Indonesia. Jakarta: Cipta Adi Pustaka.

Sheed, FJ.. 1945. Comunism and Man. London: Sheed & Word

Suseno, Franz Magnis. 1988. Etika Politik, Prinsip-Prinsip Moral Dasar Kenegaraan
Modern. Jakarta: Gramedia

Varma, SP.. 1987. Teori Politik Modern. Tarjamahan Oleh Tohir E. dari Modern
Political Theory, Jakarta: Rajawali Pers

133