Anda di halaman 1dari 31

K e lo m p

ok
V III

TBC (Tuberculosis)
Dimas Panji
Pangestu
I 111 07 003
Taufik Hidayat
I 111 07 017
Indah Yunita
I 111 08 275
Darma
I 411 07 012
Nining Widya Putri
I 411 08 252
Albertus Lado
Meze
I 411 08 265
Andi Syamsuriani
I 411 08 268
Ilham Mustamin
I 411 08 292
Muhammad Faqih
Jawad
 I 211 06 028
Definisi
Tuberkulosis

d a la h p e n y a k i t
a
infeksi yang
s e b a b k a n o le h
di
bakteri
My c o b a c t e r i u m
rc u lo s is a t a u
tube
famili
M y c o b a c te riu m

T B ( se ka ra n g ) dari singkatan TBC ya n g telah


d itin g g a lka n

Mypada
a ternak cobaumumnya
cteriu terserang Mycobacterium b
m
tuberculosis
hanya
pathogen
pa d a
manusia
M. kansasii
M.fortuitum

M. avium complex

M. bovis

M.tuberculosis

M. Chelonae
M. leprae
M. avium complex

M.
tuberculosis
M. bovis
M. genavense

M. xenopi
M. M.
fortuitum simiae
M.
xenopi

M. avium
complex

M.
M. scofulaceum
fallax
M.
flavescens
M. marinum
M.
chelonae
M.
M. tuberculosis
leprae
M. avium
complex
Mycobacteri
um
tuberculosis
Mycobacteri
um
tuberculosis
Mycobacterium
tuberculosis
Mycobacterium
tuberculosis
yco b a cte riu m tu b e rcu lo sis
M yco b a cte riu m b o vis
M yco b a cte riu m b o vis
M yco b a cte riu m b o vis
Gejala klinis utama pada hewan tidak jauh berbeda dengan gejala pada
manusia, seperti :

K e ku ru sa n d a n le m a h , w a la u p u n p e ra w a ta n d a n g izicu ku p b a ik

a n g e ja la d ia re , e n te ritis, u lse ra si ku lit, ( S e slin e e t a l 1 9 7 5 ; R u fia n ti1 9 9 6

b a n g sa b u ru n g d a n a ya m p e te lu r a ka n m e n ye b a b ka n p e n u ru n a n p ro d u ksite lu r

p a d a sa p ip e ra h d a p a t m e n ye b a b ka n p e n u ru n a n p ro d u ksisu su

o n g d a p a t m e n ye b a b ka n d a n p e n u ru n a n ku a lita s ka rka s. G e ja la d e n g a n d ia re , m e
Pemeriksaan fisik lengkap dengan memperhatikan perubahan
fisik seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, seperti :

a.kekurangan nafsu makan,


Pemeriksan fisik
b.lemah,
c. letih,
d.lesu,
e.kurus meskipun diberikan gizi
yang berkualitas,
f. batuk-batuk berdahak lebih
dari dua minggu terkadang
disertai darah,
g.sesak nafas,
h.muntah-muntah,
i. pembengkakan pada
persendian.
ng cukup spesifik pada unggas biasanya akan mengakibatkan penurunan produksi telu

pada sapi perah terjadi


produksi susu

pada sapi potong terjadi penurunan kualitas karkas

akukan pada kulit. Ulserasi kulit menandakan adanya infeksi pada tulang (Anonimus
Pemeriksaan laboratorium (Pemeriksaan patologis
organ post mortum/Makroskopis)

• Terjadi lesi pada limfonodus thoraks


dan parenkim paru-paru,
• selaput lendir rongga pleura &
peritoneum,
• kelenjar susu,
• perikardium,
• ginjal, dan jaringan otot yang
merupakan perluasan dari
mikobakteria pada tulang.
• Pada saat paru secara ekstensif
terlibat, biasanya akan terjadi
batuk setiap saat.
• Ketika terjadi perlukaan bagian
dalam, limpa, dan hati akan
mengalami pembesaran.
• Pada kasus lebih lanjut, limfonodus
membengkak dan ada beberapa
yang pecah dan mengalir pada
permukaan.
• Perubahan patologis lainnya adalah
Pembedahan bangkai setelah kematian
menunjukkan tanda-tanda klinis seperti
berikut:

– Banyak terbentuk benjolan di


beberapa bagian saluran
pernapasan, terutama bagian
mesenterium dan bronki.
– Pada sapi yang sudah rmengidap
penyakit ini selama bertahun-tahun,
benjolan bahkan bisa menyerang
seluruh organ dalarn tubuhnya.

Cara penularan da
Patogenesis n

Menurut sari (2004), TBC dapat menular melalui beberapa


cara yaitu :

• inhalasi,
• ingesti,
• kontak
langsung,
• peralatan
yang
terkontam
inasi, dan
• infeksi
silang.
Inhalasi

Penularan terjadi karena adanya


aerosol yang dikeluarkan
melalui batuk oleh penderita
atau material tinja kering yang
terhirup oleh manusia dan
hewan.
Ingesti

Manusia dan hewan dapat tertular


penyakit TBC dari air susu yang
terinfeksi, pakan atau air yang
terkontaminasi oleh discharge, urin
atau feses yang terinfeksi.
Peralatan yang
terkontaminasi

Peralatan yang terkontaminasi juga


dapat menularkan penyakit TBC
seperti jarum, thermometer rektal,
jaring yang terkontaminasi,
peralatan makan, masker pembius,
serta alat-alat lainnya (Sari 2004).
Kontak
langsung

Penularan TBC dapat juga terjadi


melalui gigitan hewan yang sakit
terhadap hewan yang sehat.
Kuman yang terdapat pada air liur
masuk ke dalam tubuh hewan yang
tergigit melalui jaringan (Sari
2004).
Infeksi
silang
• Tuberkulosis dapat ditularkan dari manusia atau
sapi kepada kelinci dengan rangkaian tanpa
akhir. Selain itu juga tikus putih dapat
menjadi carrier penyakit (Sari 2004).
• Setelah mikroorganisme berada dalam tubuh
sesuai dengan cara masuknya, selanjutnya
bakteri tersebut akan disebarkan keseluruh
tubuh. Menurut Yuniarti (2005), terdapat
empat macam jalur penyebaran TBC yang
terdiri dari:
1. Penyebaran secara langsung,
2. Melalui sistem kardiovaskular dan aliran darah,
3. Melalui sistem limfatik,
4. Melalui bronchus dan saluran gastrointestinal.

Pencegah
• Vaksin BGC
an
• Bisafety dan Biosecurity
• Perbaikan gizi dan Fasilitas kandang
• Kandang harus bersih
• Tangan harus selalu dicuci,
• Contoh serum dari orang-orang yang bekerja di kandang terutama
dengan primata harus dikumpulkan.
• Pegawai wajib melaksanakan prosedur kesehatan pribadi baik di
dalam maupun di luar tempat kerja.
• Pegawai yang terkena flu atau batuk tidak boleh bekerja di sekitar
hewan sampai mereka semb
• uh
• Para pegawai harus mengambil tindakan untuk mencegah gigitan
orangutan.
• Para pekerja tidak boleh menggunakan peralatan dan
perlengkapan hewan untuk kepentingan pribadi
• Hewan pengerat dan serangga harus dikontrol untuk mencegah
penyebaran penyakit baik dari dalam ke luar atau dari luar ke
dalam.
Pengobatan

Obat primer :

• INH (Isoniazid),
• Rifampisin,
• Etambutol,
• Streptomisisn,
• Pirazinamid.
P e n g ob
at
an

Obat sekunder :

E xio n a
mPaira
d a m in o sa lisila t
( PAS )
siklo se r
in
A m ika s
in
K a p re o m i
sin
ka n a m i
sin
Adapun dosis untuk pengobatan TBC jangka pendek selama 6
atau 9 bulan dalam anonimus (2007) yaitu:

• 2HR/7H2R2 : INH +
Rifampisin, setiap hari
selama 2 bulan pertama,
kemudian INH +
Rifampisin setiap hari atau
2 akli seminggu selama 7
bulan (ditambahkan
Etambutol bila diduga ada
resistensi terhadap INH)
• 2HRZ/4H2R2 : INH +
Rifampisin + Pirazinamid,
setiap hari selama 2 bulan
pertama, kemudian INH +
Rifampisin setiap hari atau
2 akli seminggu selama 4
bulan (ditambahkan
Etambutol bila diduga ada
resistensi terhadap INH).
Terima Kasih...