Anda di halaman 1dari 17

MAKALAH GEOMORFOLOGI INDONESIA

PULAU SUMATERA

DI SUSUN OLEH
NAMA KELOMPOK:
1.M.Nizar.Azizi (2009 133 250)
2.Erty Jayanti (2009 133 247)
3.Helva Sucresvianah (2009 133 248)
4.Leni Hastini (2009 133 249)
5.Laila Romalia (2009 133 251)
6.Lilik Sugiarti (2009133 252)

KELAS :3G
DOSEN PEMBIMBING :GIYANTO S.pd
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILNU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS PGRI PALEMBANG
2010
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kehadirat Allah SWT,karena atas berkat,rahmat,ridho dan


hidayatnya saya dapat menyelesaikan makalah ini.Makalah ini merupakan tugas
yang sangat berharga bagi saya.Makalah ini mengenai “keadaan geomorfologi
pulau sumatera”dalam hal ini membahas tentang berbagai bentuk lahan di
sumatera dan geomorfologi.Saya menyadari bahwa dalam penulisan dan
penyusunan makalah ini banyak kekurangan.Maka,dari itu saya mengharapkan
kritik dan saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan makalah ini.

Saya juga mengucapkan terima kasih kepada pihak yang telah membantu
kami dalam penulisan dan penyusunan makalah ini.Mudah-mudahan makalah ini
dapat bermanfaat untuk kita semua. Terima kasih

Palembang, Oktober 2010

Penulis

ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .............................................................................. ii


DAFTAR ISI ............................................................................................. iii

BAB I PENDAHULUAN ......................................................................... 1


A. Latar Belakang ..................................................................................... 1
B. Rumusan Masalah ................................................................................ 2
C. Tujuan ................................................................................................. 2

BAB II PEMBAHASAN .......................................................................... 3


A. Kondisi Fisiografis Sumatera .......................................................... 3
1. Keadaan Geologis .............................................................. 3
2. Kondisi Hidrologi ............................................................... 6
3. Kondisi Geomorfologis ...................................................... 7

BAB III KESIMPULAN .......................................................................... 11


DAFTAR PUSTAKA ............................................................................... 13

iii
iv
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Sumatera (juga dieja Sumatra) yang terletak di Indonesia, adalah pulau


keenam terbesar di dunia, dengan luas 443.065,8 km2. Penduduk pulau ini sekitar
42.409.510 jiwa (2000). Pulau ini dikenal pula dengan nama lain yaitu Pulau
Percha, Andalas, atau Suwarnadwipa (bahasa Sanskerta, berarti "pulau emas").
Kemudian pada Prasasti Padang Roco tahun 1286 dipahatkan swarnnabhūmi dan
bhūmi mālayu untuk menyebut pulau ini. Selanjutnya dalam naskah
Negarakertagama dari abad ke-14 juga kembali menyebut "Bumi Malayu"
(Melayu) untuk pulau ini.
Asal nama Sumatera berawal dari keberadaaan Kerajaan Samudera (terletak
di pesisir timur Aceh). Diawali dengan kunjungan Ibnu Batutah, petualang asal
Maroko ke negeri tersebut di tahun 1345, dia melafalkan kata Samudera menjadi
Samatrah, dan kemudian menjadi Sumatra atau Sumatera, selanjutnya nama ini
tercantum dalam peta-peta abad ke-16 buatan Portugis, untuk dirujuk pada pulau
ini, sehingga kemudian dikenal meluas sampai sekarang.
Pulau Sumatera terletak di bagian barat gugusan Kepulauan Nusantara. Di
sebelah utara berbatasan dengan Teluk Benggala, di timur dengan Selat Malaka,
di sebelah selatan dengan Selat Sunda, dan di sebelah barat dengan Samudera
Hindia. Di sebelah timur pulau, banyak dijumpai rawa yang dialiri oleh sungai-
sungai besar, antara lain; Asahan (Sumatera Utara), Kampar, Siak dan Sungai
Indragiri (Riau), Batang Hari (Sumatera Barat, Jambi), Ketahun (Bengkulu),
Musi, Ogan, Lematang, Komering (Sumatera Selatan), dan Way Sekampung
(Lampung).
Di bagian barat pulau, terbentang Pegunungan Barisan yang membujur dari
utara hingga selatan. Hanya sedikit wilayah dari pulau ini yang cocok digunakan
untuk pertanian padi. Sepanjang bukit barisan terdapat gunung-gunung berapi

1
yang hingga saat ini masih aktif, seperti Merapi (Sumatera Barat), Bukit Kaba
(Bengkulu), dan Kerinci (Jambi). Pulau Sumatra juga banyak memiliki danau
besar, di antaranya Laut Tawar (Aceh), Danau Toba (Sumatera Utara), Danau
Singkarak, Danau Maninjau, Danau Diatas, dan Danau Dibawah (Sumatera
Barat), dan Danau Ranau (Lampung dan Sumatera Selatan).
Secara umum, pulau Sumatera didiami oleh bangsa Melayu, yang terbagi ke
dalam beberapa suku. Suku-suku besar ialah Aceh, Batak, Melayu, Minangkabau,
Ogan, Komering, dan Lampung. Di wilayah pesisir timur Sumatera dan di
beberapa kota-kota besar seperti Medan, Palembang, dan Pekanbaru, banyak
bermukim etnis Tionghoa. Penduduk pulau Sumatera hanya terkonsentrasi di
wilayah Sumatera Timur dan dataran tinggi Minangkabau. Mata pencaharian
penduduk Sumatera sebagian besar sebagai petani, nelayan, dan pedagang.
Penduduk Sumatera mayoritas beragama Islam dan sebagian kecil
merupakan penganut Protestan, terutama di wilayah Tapanuli, Sumatera Utara. Di
wilayah perkotaan, seperti Medan, Pekanbaru, dan Palembang, dijumpai beberapa
orang penganut Buddha.

B.Rumusan Masalah
Rumusan dalam makalah ini adalah:
Bagaimana keadaan fisiografis sumatera yang meliputi kondisi geologis,
hidrologi, dan geomorfologis

C.Tujuan
Tujuan penulisan makalah ini adalah
Untuk mengetahui keadaan fisiografis sumatera yang meliputi kondisi
geologis, hidrologi, dan geomorfologis

2
BAB II
PEMBAHASAN

A.Kondisi fisiografis sumatera


1.Keadaan Geologis
Di Sumatra Selatan: khususnya bagian tengah cekungan yang paling tebal
endapannya yaitu Palembang Selatan dan Tengah, tektonik sekunder epidermal
Compressive Settling menghasilkan antiklinoria:
1. Antiklinoria Muara Enim-Baturaja-Tebingtinggi
2. Antiklinoria talang akar-Pendopo
3. Antiklinoria Palembang
Dibukir Pendopo dan Pegunungan Duabelas pelipat ini menyebabkan
batuan pratersier nampak di permukaan bumi.Secara fisiografis Cekungan
Sumatra Selatan merupakan cekungan Tersier berarah barat laut-tenggara, yang
dibatasi Sesar Semangko dan Bukit Barisan di sebelah barat daya, Paparan Sunda
di sebelah timur laut, ketinggian Lampung di sebelah tenggara yang memisahkan
cekungan tersebut dengan Cekungan Sunda, serta Pegunungan Dua Belas dan
Pegunungan Tiga Puluh di sebelah barat laut yang memisahkan Cekungan
Sumatra Selatan dengan Cekungan Sumatra Tengah.
Blake (1989) menyebutkan bahwa daerah Cekungan Sumatra Selatan
merupakan cekungan busur belakang berumur Tersier yang terbentuk sebagai
akibat adanya interaksi antara Paparan Sunda (sebagai bagian dari lempeng
kontinen Asia) dan lempeng Samudera India. Daerah cekungan ini meliputi
daerah seluas 330 x 510 km2, dimana sebelah barat daya dibatasi oleh singkapan
Pra-Tersier Bukit Barisan, di sebelah timur oleh Paparan Sunda (Sunda Shield),
sebelah barat dibatasi oleh Pegunungan Tiga puluh dan ke arah tenggara dibatasi
oleh Tinggian Lampung.
Menurut Salim et al. (1995), Cekungan Sumatra Selatan terbentuk selama
Awal Tersier (Eosen-Oligosen) ketika rangkaian (seri) graben berkembang

3
sebagai reaksi sistem penunjaman menyudut antara lempeng Samudra India di
bawah lempeng Benua Asia.
Menurut De Coster, 1974 (dalam Salim, 1995), diperkirakan telah terjadi 3
episode orogenesa yang membentuk kerangka struktur daerah Cekungan Sumatra
Selatan yaitu orogenesa Mesozoik Tengah, tektonik Kapur Akhir-Tersier Awal
dan Orogenesa Plio-Plistosen.
Episode pertama, endapan-endapan Paleozoik dan Mesozoik
termetamorfosa, terlipat dan terpatahkan menjadi bongkah struktur dan diintrusi
oleh batolit granit serta telah membentuk pola dasar struktur cekungan. Menurut
Pulunggono, 1992 (dalam Wisnu dan Nazirman, 1997), fase ini membentuk sesar
berarah barat laut-tenggara yang berupa sesar-sesar geser.
Episode kedua pada Kapur Akhir berupa fase ekstensi menghasilkan gerak-
gerak tensional yang membentuk graben dan horst dengan arah umum utara-
selatan. Dikombinasikan dengan hasil orogenesa Mesozoik dan hasil pelapukan
batuan-batuan Pra-Tersier, gerak gerak tensional ini membentuk struktur tua yang
mengontrol pembentukan Formasi Pra-Talang Akar.
Episode ketiga berupa fase kompresi pada Plio-Plistosen yang menyebabkan
pola pengendapan berubah menjadi regresi dan berperan dalam pembentukan
struktur perlipatan dan sesar sehingga membentuk konfigurasi geologi sekarang.
Pada periode tektonik ini juga terjadi pengangkatan Pegunungan Bukit Barisan
yang menghasilkan sesar mendatar Semangko yang berkembang sepanjang
Pegunungan Bukit Barisan. Pergerakan horisontal yang terjadi mulai Plistosen
Awal sampai sekarang mempengaruhi kondisi Cekungan Sumatra Selatan dan
Tengah sehingga sesar-sesar yang baru terbentuk di daerah ini mempunyai
perkembangan hampir sejajar dengan sesar Semangko. Akibat pergerakan
horisontal ini, orogenesa yang terjadi pada Plio-Plistosen menghasilkan lipatan
yang berarah barat laut-tenggara tetapi sesar yang terbentuk berarah timur laut-
barat daya dan barat laut-tenggara. Jenis sesar yang terdapat pada cekungan ini
adalah sesar naik, sesar mendatar dan sesar normal.
Kenampakan struktur yang dominan adalah struktur yang berarah barat laut-
tenggara sebagai hasil orogenesa Plio-Plistosen. Dengan demikian pola struktur

4
yang terjadi dapat dibedakan atas pola tua yang berarah utara-selatan dan barat
laut-tenggara serta pola muda yang berarah barat laut-tenggara yang sejajar
dengan Pulau Sumatra.
Sumatera memang di kenal Pulau yang paling rawan gempa bumi.
Pergerakan patahan Sumatera ini merupakan manifestasi dari pergerakan lempeng
Australia yang menyusup ke dalam lempeng Eurasia dimana sebagian besar
energi dari pergerakan lempeng-lempeng tersebut dipindahkan ke pergerakan
patahan Sumatera. Pemindahan energi dari lempeng yang bertumbukan tersebut
dimaksudkan untuk mengakomodasikan tumbukan bersudut (oblique convergent)
dari lempeng Australia dan lempeng Eurasia.
Akibat tumbukan bersudut dari lempeng Indo-Australia dan lempeng
Eurasia akan terdapat suatu bentuk permukaan di ujung pertemuan lempeng
berupa kerucut terpancung yang membentuk suatu rangkaian pegunungan bawah
laut. Terekamnya suatu penemuan gunung di bawah laut sepanjang batas Palung
Sumatera hingga Trench Jawa disebabkan akumulasi tekanan kuat dari lempeng
Indo-Australia yang menimbulkan fenomena kegempaan terbesar di Sumatera
diabad 21 dalam kurun 10 tahun ini yaitu gempa Bengkulu di tahun 2000, gempa
Simeulue 2002, gempa Aceh-Nikobar tercatat gempa dahsyat terbesar dunia di
tahun 2004, lalu gempa Nias-Simeulue 2006, gempa Bengkulu tahun 2007, gempa
Sumatera Barat-Bengkulu 2007 dan Gempa Sumatera Barat 2009.
Rangkaian gempa itu telah mengubah posisi letak koordinat wilayah beberapa
pulau-pulau di sepanjang Pantai Barat Sumatera karena ada perubahan
batimetri/topografi kelautan oleh pengangkatan kerak batuan yang muncul seperti
tudung, ketinggian gunung baru ini bisa mencapai ratusan meter.
Zona patahan didaratan Sumatera bersentuhan dengan jalur magmatik,
pembentukan gunung yang menyebabkan perubahan kondisi geologi kekuatan
material batuan menjadi retak-retak. Memicu suatu perubahan lapisan kerak bumi
pada batuan oleh efek persentuhan dinding magma lebih cepat, penjalaran energi
seismik akan menggetarkan lebih cepat penguraian dari keretakan kekuatan
batuan dan memudahkan gelombang seismik melewati beragam lapisan
diskontinuitas batuan yang tidak homogen di bawah bumi Pulau Sumatera dengan

5
gerak tidak beraturan di daerah ruas-ruas patahan yang telah terbentuk
sebelumnya sehingga memungkinkan akan ada perubahan topografi geologi
bawah permukaan.

2.Kondisi Hidrologi
Sumatra mempunyai bentuk memanjang, dari Kota Raja sampai Bagian
utara sampai Tanjung Cina di bagian selatan sepanjang 1650 km dan sepanjang
pantai banyak teluk-teluknya. Gambaran secara umum keeadaan fisiografi pulau
itu agak sederhana. Fisiografinya dibentuk oleh rangkaian Pegunungan Barisan di
sepanjang sisi baratnya, yang memisahkan pantai barat dan pantai timur.
Lerengnya mengarah ke Samudera Indonesia dan pada umumnya curam. Hal ini
mengakibatkan jalur pantai barat kebanyakan bergunung-gunung kecuali dua
ambang dataran rendah di Sumatera Utara (Melaboh dan Singkel atau Singkil)
yang lebarnya ±20 km. Sisi timur dari pantai Sumatra ini terdiri dari lapisan
tersier yang sangat luas serta berbukit-bukit dan berupa tanah rendah aluvial. Jalur
rendah terdapat di bagian timur. Pada bagian ini banyak mengandung biji intan
tersebar di Aceh yang lebarnya 30 km. Semakin ke arah selatan semakin melebar
dan bertambah hingga 150-200 km yang terdapat di Sumatra Tengah dan Sumatra
Selatan.
Kondisi atau jenis tanah yang terdapat di Sumatra antara lain alluvial
Hidromorfik Kuning, Organosol, Podsolik Merah Kuning, Podsolik Coklat,
Latosol, Litosol, Andosol, dan ada beberapa jenis tanah lainnya yang juga tersebar
di seluruh pulau Sumatra. Sumatra berada pada iklim tropis basah, dengan kondisi
tersebut menyebabkan curah hujan yang banyak. Sehingga hidrologi di sana atau
keadaan akuifer di Sumatra mudah ditemukan hampir disemua wilayah Sumatra.
Pengembangan potensi wilayah di Pulau ini dapat dilakukan diberbagai
bidang antara lain bidang pertanian, perkebunan, kehutanan, perikanan,
pertambangan, pariwisata, dan lain-lain. Hal ini dapat dikembangkan dengan baik
karena didukung dengan kondisi fisik wilayah Sumatera. Potensi iklim, terutama
curah hujan yang tinggi dan penyebarannya yang cukup merata sepanjang tahun,
serta kondisi tanahnya yang yang bervariasi sehingga menjadikan lahan di Pulau

6
Sumatra memiliki potensial untuk produksi pertanian, perkebunan, kehutanan.
Dan dengan memiliki sumber daya air yang besar, baik potensi air di permukaan
seperti sungai, waduk maupun perairan laut sehingga baik untuk pengembangan
produksi perikanan. Selain itu Pulau Sumatra memiliki obyek wisata yang tidak
kalah menarik dengan daerah lain, baik wisata alam, wisata budaya, maupun
wisata sejarah sehmgga wilayah ini juga penting untuk pengembangan di sektor
pariwisata.

3.Kondisi geomorfologis
Gambaran secara umum keadaan fisiografi pulau itu agak sederhana.
Fisiografinya dibentuk oleh rangkaian Pegunungan Barisan di sepanjang sisi
baratnya, yang memisahkan pantai barat dan pantai timur. Lerengnya mengarah
ke Samudera Indonesia dan pada umumnya curam. Hal ini mengakibatkan jalur
pantai barat kebanyakan bergunung-gunung kecuali dua ambang dataran rendah di
Sumatera Utara (Melaboh dan Singkel/Singkil) yang lebarnya ±20 km. Sisi timur
dari pantai Sumatra ini terdiri dari lapisan tersier yang sangat luas serta berbukit-
bukit dan berupa tanah rendah aluvial.
Jalur rendah terdapat di bagian timur. Pada bagian ini banyak mengandung
biji intan tersebar di Aceh yang lebarnya 30 km. Semakin ke arah selatan semakin
melebar dan bertambah hingga 150-200 km yang terdapat di Sumatra Tengah dan
Sumatra Selatan.
1. Rangkaian Bukit Barisan.
Elemen orografis yang utama adalah Bukit Barisan yang panjangnya 1650
km dan lebarnya ±100 km (puncak tertingginya ialah Gunung Kerinci dan
Gunung Indrapura 3800 m). Bukit Barisan merupakan rangkaian sejumlah
pegunungan yang sejajar atau colisses yang setelah cabang lainnya ke luar dari
arah pokok barat laut tenggara, dikatakan bahwa arahnya lebih ke arah timur barat
dan merosot (menurun) ke arah tanah rendah di bagian timur. Di antara Sungai
Wampu dan Barumun merupakan Pegunungan Barisan yang bercorak empat
persegi panjang (sumbu barat laut tenggara 275 km panjangnya dan 150 km
lebarnya). Puncak ini disebut Batak Tumor. Pada bagian puncak yang mempunyai

7
ketinggian 2000 m (sibutan 2457 m) terdapat kawah besar Toba yang panjangnya
31 km, serta luasnya 2269 km2, sedangkan Danau Toba panjangnya 87 km dan
luasnya 1776,5 km2 (termasuk Pulau Samosir).
Sistem Barisan di Sumatra Tengah terdiri dari beberapa pegunungan blok.
Bagian yang paling sempit pada peralihan Batak Tumor (75 m) yang kemudian
melebar menjadi 175 m pada irisan penampang bukit Padang. Perbukitan yang
tertinggi terletak di bagian barat daya dengan ketinggian lebih dari 2000 m,
kemudian berangsur-angsur semakin rendah ke arah dataran rendah Sumatra
Timur (Lisun-Kuantan-Lalo 1000 m dan Suligi Lipat Kain ketinggiannya lebih
dari 500 m).
TOBLER (1971) membedakan elemen-elemen tektonis dan morfologi
Sumatra sebagai berikut:
a. Dataran alluvial terbentang di pantai timur.
b. Tanah endapan/ Foreland tersier (peneplain) dengan Pegunungan Tiga Puluh
c. Depresi sub Barisan
d. Barisan depan / fore barisandengan masa lipatan berlebihan (over thrust
masses)
e. Scheifer Barisan dengan lipatan yang hebat dan batuan metamorf.
f. Barisan tinggi/ High Barisan dengan vulkan- vulkan muda.
g. Dataran alluvial terbentang di pantai barat.
Berdasarkan kajian perkembangan geologi, Pulau Sumatra dibedakan
menjadi: Basin Tersier di Sumatra Timur (a-c) disebut zone I, rangkaian
pegunungan berbongkah di sebelah utara Umbilin disebut zone II, Fore barisan
merupakan zone III, The Schiefer Barisan (e) tergolong zone IV kecuali zone
Schiefer Barisan di sebelah utara Padang, dan High Barisan (f) termasuk zone V.
Zone II dan III termasuk unsur luar terletak di sisi timur dari Bukit Barisan.
Lengkung geantiklin di Bukit Barisan terangkat pada zaman Pleistosen
merupakan zone IV dan V.
Elemen-elemen tektonis dan morfologi Sumatra (Verstappen)
Dataran pantai barat (pantai abrasi), merupakan daerah yang sempit, bahaya

8
terkena erosi dan abrasi, pantainya berpasir dan tidak cocok untuk dijadikan
sebagai permukiman.
 Landas Bengkulu. Merupakan kawasan lahan rusak di sebelah barat bukit
barisan dan banyak tererosi, serta memiliki lereng yang terjal.
 Deretan pegunungan vulkan muda. Daerahnya sempit dan erosinya tinggi.
 Depresi sub barisan (lembah bongkah semangka). Tidak cocok sebagi
tempat hidup karena sangat sempit.
 Daerah Basalt Sukadana Lampung. Irigasnya sangat sulit karena tidak
terdapat simpanan air.Landaian sebelah timur. Cocok bila dijadikan
sebagai tempat hidup karena tanahnya datar. Dimanfaatkan sebagai daerah
transmigrasi. Daerah ini berkembang menjadi daerah transmigrasi terluas
di Sumatera.
 Dataran aluvial pantai timur. Merupakan daerah Rawa Payau.

2. Zone Semangka
Zone ini merupakan suatu corak permukaan yang mencerminkan
karakteristik dari Geantiklin Barisan sepanjang pulau itu secara keseluruhan, yang
dinamakan jalur depresi- menengah pada puncak yang disebut Semangko Rift
Zone. Zone Semangko ini terbentang mulai dari teluk semangko di Sumatera
Selatan dan berkembang lebih jauh ke arah Trog lembah Aceh dengan Kota Raja
sebagai ujung utaranya. Di beberapa jalur ini terisi dan tertutup oleh vulkan-
vulkan muda.

3. Arah Struktur Pokok


Secara umum arah struktur pokok dari Pulau Sumatra adalah:
 Sisi barat Geantiklin Barisan terbentang di sebelah barat jalur Semangko
berada pada setengah Pulau Sumatera di sebelah selatan Padang tepatnya. Sisi
baratnya terbentuk oleh blok kerang yang panjang dan miring ke Samudera
Hindia, dan disebut Block Bengkulu.
 Gawir sesar sepanjang jalur semangko memisahkan pantai barat dan timur.
Disebut juga Bukit Barisan Sensu stricto atau barisan tinggi.

9
 Ujung selatan bukit barisan adalah daerah Lampung. Di antara Padang dan
Padang Sidempuan struktur geantiklinal Bukit Barisan tidak menentu.
Geantiklinal block pegunungan yang memanjang di sisi timur, sama dengan
daerah di sisi barat sungai subsekuen dan cabang-cabangnya.
 Batak Tumor yang merupakan lanjutan dari Bukit Barisan yang berupa kubah
geantiklinal besar yang terpotong oleh jalur Semangko.
 Bukit Barisan di daerah Aceh adalah bagian teruwet pecah menjadi sejumlah
pegunungan Block, yaitublock leuser dan pegunungan barat. Kedudukannya
searah sisi barat seperti Block Bengkulu.
 Di sebelah barat bukit Barisan terbentang palung antara sistem pegunungan
Sunda yang membentuk cekungan laut antara Sumatera dan rangkaian pulau-
pulau di baratnya.

Daftar gunung di Sumatra

• Gunung Dempo (3159 m) • Gunung Sekincau (1718 m)


• Gunung Kerinci (3.805 m) • Gunung Seulawah Agam (1.726
• Gunung Leuser (3172 m) m)
• Gunung Marapi (2,891.3 m) • Gunung Sibayak (2.212 m)
• Gunung Perkison (2300 m) • Gunung Singgalang (2.877 m)
• Gunung Pesagi • Gunung Talamau (2,912 m)
• Gunung Tandikat (2438 m)
• Gunung Rajabasa (1281 m)
• Gunung Tanggamus (1162 m)

10
BAB III

KESIMPULAN

Sumatera memang di kenal Pulau yang paling rawan gempa bumi.


Pergerakan patahan Sumatera ini merupakan manifestasi dari pergerakan lempeng
Australia yang menyusup ke dalam lempeng Eurasia dimana sebagian besar
energi dari pergerakan lempeng-lempeng tersebut dipindahkan ke pergerakan
patahan Sumatera. Pemindahan energi dari lempeng yang bertumbukan tersebut
dimaksudkan untuk mengakomodasikan tumbukan bersudut (oblique convergent)
dari lempeng Australia dan lempeng Eurasia.
Sumatra mempunyai bentuk memanjang, dari Kota Raja sampai Bagian
utara sampai Tanjung Cina di bagian selatan sepanjang 1650 km dan sepanjang
pantai banyak teluk-teluknya. Gambaran secara umum keeadaan fisiografi pulau
itu agak sederhana. Fisiografinya dibentuk oleh rangkaian Pegunungan Barisan di
sepanjang sisi baratnya, yang memisahkan pantai barat dan pantai timur.
Lerengnya mengarah ke Samudera Indonesia dan pada umumnya curam. Hal ini
mengakibatkan jalur pantai barat kebanyakan bergunung-gunung kecuali dua
ambang dataran rendah di Sumatera Utara (Melaboh dan Singkel atau Singkil)
yang lebarnya ±20 km. Sisi timur dari pantai Sumatra ini terdiri dari lapisan
tersier yang sangat luas serta berbukit-bukit dan berupa tanah rendah aluvial. Jalur
rendah terdapat di bagian timur. Pada bagian ini banyak mengandung biji intan
tersebar di Aceh yang lebarnya 30 km. Semakin ke arah selatan semakin melebar
dan bertambah hingga 150-200 km yang terdapat di Sumatra Tengah dan Sumatra
Selatan.
Kondisi atau jenis tanah yang terdapat di Sumatra antara lain alluvial
Hidromorfik Kuning, Organosol, Podsolik Merah Kuning, Podsolik Coklat,
Latosol, Litosol, Andosol, dan ada beberapa jenis tanah lainnya yang juga tersebar
di seluruh pulau Sumatra. Sumatra berada pada iklim tropis basah, dengan kondisi
tersebut menyebabkan curah hujan yang banyak. Sehingga hidrologi di sana atau
keadaan akuifer di Sumatra mudah ditemukan hampir disemua wilayah Sumatra.

11
Elemen-elemen tektonis dan morfologi Sumatra (Verstappen)
 Dataran pantai barat (pantai abrasi), merupakan daerah yang sempit,
bahaya terkena erosi dan abrasi, pantainya berpasir dan tidak cocok untuk
dijadikan sebagai permukiman.
 Landas Bengkulu. Merupakan kawasan lahan rusak di sebelah barat bukit
barisan dan banyak tererosi, serta memiliki lereng yang terjal.
 Deretan pegunungan vulkan muda. Daerahnya sempit dan erosinya tinggi.
 Depresi sub barisan (lembah bongkah semangka). Tidak cocok sebagi
tempat hidup karena sangat sempit.

12
DAFTAR PUSTAKA

www.wikipedia.phpfiles/geomorfologi/go/id. Diakses 29 Oktober 2010 pukul


21.35 WIB

13