Anda di halaman 1dari 4

GUGATAN

Dalam perkara gugatan terdapat suatu sengketa, suatu konflik yang harus diselesaikan
dan diputus oleh pengadilan. Dalam suatu gugatan ada seorang atau lebih yang merasa
bahwa haknya atau hak mereka telah dilanggar, akan tetapi orang yang “dirasa”
melanggar haknya atau hak mereka itu, tidak mau secara sukarela melakukan sesuatu
yang diminta itu. Untuk penentuan siapa yang benar dan berhak, diperlukan adanya suatu
putusan hakim.

Perihal gugat
Menurut pasal 118 H.I.R gugat harus diajukan dengan surat permintaan, yang
ditandatangani oleh penggugat atau wakilnya. Surat permintaan ini dalam praktek disebut
surat gugat atau surat gugatan. Namun adakalanya gugatan dilakukan secara lisan
mengingat apabila si penggugat adalah buta huruf (pasal 120 H.I.R)
Surat gugat harus ditanda tanganni oleh penggugat dan wakilnya( seseorang yang
dengan sengaja diberi kuasa dengan surat kuasa khusus untuk membuat, dan
menandatangani surat gugat). Oleh karena surat gugat ditanda tanganni oleh surat kuasa
berdasarkan surat kuasa itu, maka tanggal surat gugat harus lebih muda daripada tanggal
surat kuasa.
Setelah ditandantangani, penggugat mendaftarkan surat gugatnya, yang harus
memenuhi peraturan bea materai(ps. 121 ayat 4 HIR, 145 ayat 4 Rbg), sisertai dengan
salinannya kepada kepaniteraan pengadilan Negeri yang bersangkutan. Salinan gugatan
dimaksudkan untuk disampaikan kepada tergugat bersama dengan surat pangglan dari
pengadilan negeri (pasal 121 ayat 2 HIR, 145 ayat 2 Rbg). Pada waktu memasukkan
gugatan penggugat harus pula membayar beaya perkara yang meliputi beaya kantor
kepaniteraan, biaya panggilan dan pemberitahuan kepada para pihak. Tetapi untuk orang
yang tidak mampu membayar biaya tersebut dimungkinkan untuk beracara secara Cuma-
Cuma dengan mengajukan permohonan izin kepada ketua pengadilan Negeri, yang harus
disertai dengan surat keterangan tidak mampu dari camat yang membawahkan pemohon.
Dan permohonan itu harus dijawab pada hari sidang pertama.
Terkait dengan gugatan lisan, penggugat datang pada panitera pengadilan negeri
yang nantinya akan mencatat segala sesuatu yang dikemukakan oleh penggugat.
Kemudian catatan tersebut diserahkan kepada salah seorang hakim yang meneliti serta
menanyakan kepada penggugat dan selanjutnya menandatanganinya.

Pihak-pihak yang berperkara


Dalam suatu sengketa perdata , terdapat sekurang-kurangnya dua pihak yaitu
pihak penggugat yang mengajukan gugatan dan pihak tergugat. Dan biasanya orang yang
langsung berkepentingan sendirilah yang aktif bertindak sebagai pihak di muka
pengadilan, baik sebagai penggugat maupun sebagai tergugat. Mereka ini merupakan
pihak materiil, karena mereka mempunyai kepentingan langsung di dalam perkara yang
bersangkutan dan sekaligus sebagai pihak formil, karena merekalah yang beracara di
muka pengadilan.
Pada dasarnya setiap orang boleh berperkara di pengadilan. Akan tetapi terdapat
pengecualian bagi orang yang belum dewasa atau orang yang sakit ingatan. Mereka tidak
boleh berperkara sendiri, melainkan harus diwakili oleh orang tuanya atau walinya, dan
bagi yang sakit ingatan oleh pengampunya.
Selanjutnya terhadap orang yang telah meninggal dunia dapat pula dilakukan
gugatan yang ditujukankepada seluruh ahli warisnya sekaligus. Tentang hal ini ada
putusan mahkamah agung yang menentukan bahwa gugatan terhadap almarhum tergugat
asal dianggap diteruskan terhadap para ahli warisnya, bilamana pihak penggugat tidak
menaruh keberatan terhadap kemauan para ahli waris almarhum untuk meneruskan
perkara dari almarhum tergugat asal. Jadi kedudukan sebagai pihak dapat diwariskan.
Kecuali orang, yang dapat menjadi pihak dalam perkara di muka pengadilan
adalah badan hukum yang bertindak melalui pengurus atau wakilnya. Nama pengurus
dari badan hukum dapat bertindak sebagai pihak materiil maupun formil. Hal ini tidak
berarti bahwa kalu gugatan itu ditujukan kepada seseorang sebagai pengurus atau wakil
suatu badan hukum, gugatannya lalu batal atau tidak dapat diterima. Untuk mewakili
suatu badan huku seseorang pengurus tidak memerlukan kuasa khusus.
Selain itu, jika gugatannya ditujukan pada negara, gugatan harus diajukan
terhadap pemerintah republik indonesia, mewakili negara Republik Indonesia, dalam
perkara ini dianggap bertempat tinggal pada departemen misalnya departemen dalam
negeri. Biasanya yang mewakili negara dalam negeri adalah kepala bagian hukum dari
Departemen yang bersangkutan dengan membawa surat kuasa khusus dari menteri.
Terhadap orang-orang yang mendapat pengecualian dalam berperkara di
pengadilan, dalam mengajukan gugat harus memperhatikan benar-benar bahwa yang
diberi kuasa menurut hukum harus benar-benar orang atau orang-orang yang dapat
mewakili yang bersangkutan dalam perkara tersebut. Seorang wakil yang mewakili salah
satu pihak yang berperkara harus merupakan wakil yang sah, dalam hal-hal yang
diperlukan , wakil tersebut mempunyai surat kuasa yang menyebut nomor perkara,
pengadilan yang mana dan dimana, perihal apa dan untuk apa surat kuasa khusus tersebut
diberikan.
Dalam hal pihak tergugat hendak mengajukan gugat balik, surat kuasanya harus
sudah memuat dengan secara tegas-tegas mengenai gugat balik yang ditujukan terhadap
penggugat atau salah satu penggugat dalam hal mana penggugatnya ternyata lebih dari
satu.
Surat kuasa khusus dapat dibuat dibawah tangan atau secra otentik dihadapan
notaris. Surat kuasa dapat dilimpahkan apabila pemberian surat kuasanya disertai hak
untuk melimpahkan. Dalam praktek surat kuasa yang dapat dilimpahkan pada bagian
akhirnya memuat kalimat “surat kuasa ini diberikan dengan hak substitusi”. Artinya
apabila surat kuasa yang bersangkutan telah dilimpahkan kepada pihak lain orang tekah
ditunjukoleh yang diberi kuasa, maka untuk selanjutnya penerima kuasa semula tidak lagi
berhak menghadap di muka persdangan dan menandatangani surat-surat
konklusi/kesimpulan dalam perjkara yang bersangkutan.
Namun, apabila dalam surat kuasa tidak dimuat kalimat “surat kuasa ini diberikan
dengan hak substitusi dan pada kenyataannya disubstitusikan kepada orng lain maka
pelimpahan tersebut tidak sah (pasal 1797 alinea 1 B.W)
Pemberian kuasa dapat juga dilakukan secra lisan di muka persidangan. Apabila
pemberian kuasa tersebut bermaksud pula untuk dapat dilimpahkan atau untuk
mengajukan gugat balasan, pula apabila pemberian kuasa meliputi juga pemberian kuasa
untuk, seandainya diperlukan mengajukan gugat balasan, permohonan banding atau
kasasi maka hal tersebut harus secara tegas dikatakan sewaktu pemberian kuasa lisan
tersebut. Dan hal ini harus dimuat dalam berita acara pemeriksaan sidang.