Anda di halaman 1dari 9

Tugas Pengauditan Internal

Audit Internal

Disusun Oleh :

Sukur A31108016
Sheilla Falina Mecca A31108017
Dymitra Liandy A31108899
Lely Utami Sari A31108928

Fakultas Ekonomi
Universitas Hasanuddin
2010
BAB I

Pendahuluan

Perlu tidaknya fungsi audit internal dikukuhkan sebagai bagian/unit organisasi tersendiri,
tergantung kepada tingkat urgensinya bagi organisasi perusahaan yang bersangkutan. Bertambah
besarnya ukuran organisasi perusahaan yang berdampak terhadap melemahnya rentang
pengendalian, bertambahnya volume transaksi, dan semakin besarnya sumber daya yang harus
dikelola, disamping meningkatnya ketergantungan manajemen kepada informasi yang akurat dan
terintegrasi, merupakan faktor-faktor yang mendorong manajemen untuk membentuk bagian audit
internal dalam perusahaannya. Selain itu, faktor lain yang mendorong manajemen/pemilik untuk
memanfaatkan fungsi audit internal adalah adanya tuntutan perundang-undangan.
BAB II
Pembahasan

Sejarah Audit Internal

Amerika Serikat dan sisanya dunia baru saja mengalami depresi ekonomi utama. Sebagai
legislatif tindakan korektif, SEC mengharuskan perusahaan terdaftar dengan memberikan laporan
keuangan disertifikasi oleh auditor independen. Persyaratan ini mendorong perusahaan untuk
membangun departemen audit internal, tujuan utama adalah untuk membantu auditor independen
mereka. Pada saat itu, keuangan auditor eksternal tersebut berfokus pada menyatakan pendapat atas
kewajaran suatu perusahaan keuangan laporan daripada mendeteksi kelemahan pengendalian
internal atau bahkan administrasi kesalahan. Aturan-aturan SEC audit didasarkan pada sampel
terbatas transaksi, bersama dengan ketergantungan lebih besar pada prosedur pengendalian internal.
Pada waktu itu, auditor internal terutama berkaitan dengan pemeriksaan
catatan akuntansi dan keuangan mendeteksi kesalahan dan penyimpangan dan seringkali
sedikit lebih dari bayangan atau asisten untuk auditor independen eksternal. Walter B. Meigs,
menulis tentang status auditor internal selama tahun 1930-an, mengamati bahwa
"auditor internal entah ditugaskan untuk tugas rutin pencarian untuk kesalahan utama dalam
dokumen-dokumen akuntansi, atau mereka tumpangi perwakilan
perusahaan memiliki cabang di lokasi yang tersebar secara luas "1 Awal internal auditor.
sering sedikit lebih dari pembantu ulama yang melakukan akuntansi rutin
rekonsiliasi atau menjabat sebagai personel pendukung ulama. Sisa-sisa definisi ini tua
internal audit lanjutan di beberapa tempat bahkan ke awal 1970-an.

Meskipun suara lain mengatakan sesuatu yang harus dilakukan untuk memperbaiki dan lebih
baik memanfaatkan potensi auditor internal, hal-hal yang benar-benar dimulai setelah Victor
Z. Brink menyelesaikan tesis kuliah tentang perlunya audit internal modern sebelum dia
pergi untuk melayani dalam Perang Dunia II. Setelah perang berakhir, Brink kembali untuk
mengatur dan kepala audit internal untuk Ford Motor, dan tesis kuliah diterbitkan sebagai
sekarang lama-out-edisi-cetak pertama ini Modern Internal Audit.

Perusahaan bisnis tahun 1940-an, ketika audit internal modern baru saja mulai, diperlukan
keterampilan yang sangat berbeda diatur daripada bisnis hari ini. Sebagai contoh, selain dari
beberapa perangkat elektromekanis dan kegiatan di laboratorium penelitian, sistem komputer digital
tidak ada. Usaha tidak perlu bagi programmer komputer sampai komputer mulai menjadi berguna
untuk pencatatan dan fungsi komputasi dan akuntansi lainnya. Demikian pula, perusahaan memiliki
hubungan telepon yang sangat dasar; operator switchboard dialihkan semua panggilan masuk ke
nomor telepon desktop terbatas. Hari ini, kita semua terhubung melalui web, otomatis luas di
seluruh dunia telekomunikasi dan internet.

Meningkatnya kompleksitas bisnis modern dan perusahaan-perusahaan lainnya telah


menciptakan kebutuhan uditor internal untuk menjadi spesialis dalam berbagai usaha menguasai.
Kita juga bisa lebih memahami sifat internal audit hari ini jika kita tahu sesuatu tentang perubahan
kondisi di masa lalu dan perbedaan kebutuhan perubahan tersebut dibuat. Apa bentuk yang paling
sederhana atau paling primitif dari audit internal dan bagaimana melakukannya menjadi ada?
Bagaimana audit internal menanggapi kebutuhan yang berubah?

Pada tingkat yang paling primitif, penilaian-diri atau fungsi audit internal
ada apabila salah satu orang duduk kembali dan sesuatu survei yang ia dilakukan. Pada saat itu,
individu meminta dia-sendiri seberapa baik tugas tertentu telah telah dicapai dan, mungkin,
bagaimana mungkin akan dilakukan dengan lebih baik jika hal itu harus dilakukan
lagi. Jika orang kedua terlibat dalam kegiatan ini, fungsi penilaian akan diperluas untuk mencakup
evaluasi partisipasi orang kedua dalam berusaha. Dalam usaha kecil, pemilik atau manajer akan
melakukan review ini untuk batas tertentu untuk semua karyawan perusahaan. Dalam semua situasi
ini, penilaian atau fungsi audit internal sedang dilakukan secara langsung sebagai bagian dari
manajemen dasar peran. Namun, karena operasi perusahaan menjadi lebih produktif dan kompleks,
tidak lagi memungkinkan bagi pemilik atau manajer top untuk memiliki cukup kontak dengan
semua operasi untuk memuaskan mengkaji efektivitas perusahaan
kinerja, tanggung jawab harus didelegasikan.

Profesi Internal Audit terus berkembang dengan kemajuan ilmu manajemen setelah Perang
Dunia II. Hal ini konseptual mirip dalam banyak cara untuk audit keuangan oleh kantor akuntan
publik, jaminan kualitas dan kepatuhan kegiatan perbankan. Banyak teori yang mendasari audit
internal adalah berasal dari konsultan manajemen dan profesi akuntansi publik. Dengan pelaksanaan
di Amerika Serikat dari Sarbanes Oaxley Act tahun 2002, profesi pertumbuhan dipercepat, sebagai
auditor internal banyak memiliki keahlian yang dibutuhkan untuk membantu perusahaan memenuhi
persyaratan hukum.
Pengertian Auditor Internal/ Internal Auditing

Internal Auditor ialah orang atau badan yang melaksanakan aktivitas internal auditing.
Dimana Audit Internal merupakan suatu aktivitas independen dalam memberikan jasa konsultasi
dan penjaminan (keyakinan) secara objektif yang dirancang untuk memberikan nilai tambah dan
perbaikan operasi suatu organisasi, dengan maksud untuk membantu organisasi mencapai tujuannya
dengan cara menggunakan pendekatan yang sistematis dan terarah (sesuai disiplin ilmu) dalam
mengevaluasi dan memperbaiki efektivitas pengelolaan risiko, pengendalian, dan proses tata kelola
(governance processes). Oleh sebab itu Internal Auditor senatiasa berusaha untuk menyempurnakan
dan melengkapi setiap kegiatan dengan penilaian langsung atas setiap bentuk pengawasan untuk
dapat mengikuti perkembangan dunia usaha yang semakin kompleks. Dengan demikian Internal
Auditing muncul sebagai suatu kegiatan khusus dari bidang akuntansi yang luas yang
memanfaatkan metode dan teknik dasar dari penilaian.

Dengan demikian pemeriksa Intern (Internal Auditor) harus memahami sifat dan luasnya
pelaksanaan kegiatan pada setiap jajaran organisasi, dan juga diarahkan untuk menilai operasi
sebagai tujuan utama. Hal ini berarti titik berat pemeriksaan yang diutamakan adalah pemeriksaan
manajemen. Pemeriksaan ini dapat dilakukan dengan memahami kebijaksanaan manajemen
(direksi), ketetapan rapat umum pemegang saham, peraturan pemerintah dan peraturan lainnya yang
berkaitan.

Batasan Ruang Lingkup


Audit internal adalah suatu penilaian yang sistematis dan objektif oleh auditor internal
terhadap berbagai operasi dan pengendalian pada suatu organisasi untuk menentukan apakah
(1) informasi keuangan dan operasi (non keuangan) akurat dan reliabel
(2) risiko usaha dapat diidentifikasi dan diminimalisasi
(3) regulasi ekternal serta kebijakan dan prosedur internal dipatuhi
(4) kriteria operasi yang memuaskan dapat dicapai
(5) sumber daya digunakan secara ekonomis dan efisien dan
(6) tujuan organisasi dapat dicapai secara efektif.
Perbedaan Antara Audit Internal Dengan Audit Eksternal
Perbedaan pokok antara Auditor Internal dengan Auditor Eksternal dapat gambarkan sebagai
berikut :

Auditor Internal Auditor Eksternal


Subjek adalah pegawai organisasi yang Subjek adalah pihak luar yang independen
bersangkutan atau dapat pula pihak luar (Akuntan Publik).
dalam hubungan kerja outsourcing.
Melayani kebutuhan manajemen, oleh Melayani kebutuhan pihak ketiga yang
karena itu fungsi audit internal memerlukan informasi keuangan yang
merupakan bagian dari organisasi yang reliabel.
bersangkutan.
Fokus ke masa depan untuk membantu Fokus kepada akurasi dan dapat dipahaminya
manajemen mencapai sasaran dan tujuan kejadian historis seperti yang diekspresikan
organisasi secara efektif dan efisien. dalam laporan keuangan
Berkepentingan secara langsung dalam Berkepentingan secara insidental dalam
pencegahan fraud dalam berbagai bentuk pencegahan/pendeteksian fraud secara umum,
atau tingkat aktivitas yang direview. tetapi berkepentingan secara langsung bila
terdapat pengaruh yang bersifat material pada
laporan keuangan.
Independen terhadap aktivitas yang Independen terhadap manajemen/klien baik
diaudit, tetapi siap merespon kebutuhan dalam penampilan maupun sikap mental.
dan keinginan manajemen.
Review atas aktivitas dilakukan secara Review atas catatan/dokumen yang
terus menerus (kontinyu). mendukung laporan keuangan secara periodik
(umumnya setiap satu tahun sekali).

Fungsi Dan Tujuan Audit Internal


Tujuan tugas pengauditan internal pada dasarnya membantu anggota manajemen dalam
meringankan tanggung jawabnya dengan aktivitas penelaahan, pengkajian, penilaian dan analisa
informasi aktivitas organisasi perusahaan. Dengan hasil pengauditannya memberikan kesimpul-an
dan rekomendasi kepada manajer yang berkepentingan dengan menyedia-kan suatu landasan untuk
tindakan perbaikan yang harus dilakukannya. Tujuan tugas pengauditan internal mencakup dalam
peningkatan berbagai jenis pengendalian yang ada dalam organisasi perusahaan lebih efektif dengan
manfaat dan beban secara layak.

Di seluruh dunia pengauditan internal dilaksanakan dalam berbagai lingkungan dan di dalam
organisasi dengan berbagai variasi dalam hal maksud tujuan, ukuran dan struktur. Tentunya juga
hubungan dan kebiasaan di dalam berbagai negara berbeda antara satu dengan yang lainnya Dalam
hal ini praktik pengauditan internal dari satu organisasi ke organisasi lainnya terdapat perbedaan
yang dipengaruhi oleh lingkungan organisasi itu sendiri dimana unit organisasi pengauditan internal
itu berada. Oleh karena itu tujuan pengauditan internal dalam setiap organisasi perusahaan satu
sarna lain akan berbeda dan akan disesuaikan dengan kepentingannya masing-masing.

Adapun fungsi Internal Auditing secara menyeluruh mengenai pelaksanaan kerja Internal
Auditing dalam mencapai tujuannya adalah:
1. Membahas dan menilai kebaikan dan ketepatan pelaksanaan pengendalian
akuntansi, keuangan serta operasi.
2. Meyakinkan apakah pelaksanaan sesuai dengan kebijaksanaan, rencana dan prosedur yang
ditetapkan.
3. Menyakinkan apakah kekayaan perusahaan/organisasi dipertanggungjawabkan dengan baik
dan dijaga dengan aman terhadap segala kemungkinan resiko kerugian.
4. Menyakinkan tingkat kepercayaan akuntansi dan cara lainnya yang dikembangkan dalam
organisasi.
5. Menilai kualitas pelaksanaan tugas dan tanggung jawab yang telah dibebankan.

Tjukria (1999:102) menyebutkan bahwa ada beberapa peran yang dapat dibawakan oleh
auditor intern adalah sebagai berikut :
a) Peran sebagai pemecah masalah Temuan audit pada hakikatnya adalah masalah. Auditor
intern harus mampu menggunakan metode pemecahan masalah (problem solving) yang
rasional.
b) Temuan yang ada dari pelaksanaan audit bisa menjurus pada timbulnya konflik bila seorang
auditor kurang mampu menyelesaikannya dengan auditee. Dalam praktiknya konflik ini
bisa dilalui dengan jalan :
1) Dihindari. Auditor yang suka menghindari konflik cenderung mereka reaksi
emosional dengan mencari cara yang lebih aman minta dipindahkan atau bahkan
keluar dari pekerjannya.
2) Dibekukan. Membekukan konflik adalah taktik untuk menangguhkan tindakan.
3) Dikonfrontasikan.Masalah atau temuan bisa langsung dikonfrontasikan dengan
auditee.

Konfrontasi bisa dilakukan dengan dua jalan yaitu :


(a) Dengan memakai kekerasan, misalnya dengan kekuasaan direktur utama auditee dipaksa
melaksanakan rekomendasi audit.
(b) Dengan memakai strategi negoisasi, dengan strategi ini kedua pihak bisa menang.
(c) Peran pewawancara. Komunikasi yang akan dilakukan oleh auditor seringkali berbentuk
wawancara. Tujuannya adalah mencari fakta dan bukan opini.
(d) Peran “negosiator” dan “komunikator”. Kedua peran ini juga dijumpai pada saat melakukan
auditing. Mungkin peran komunikator akan lebih menonjol dibanding dengan negosiator.
Sebagai komunikator, posisi auditor agak berbeda meskipun komunikasi bukan hal yang baru
bagi auditor mewujudkan komunikasi yang efektif bukanlah hal yang mudah.

Dengan demikian, keempat peran diatas perlu dipahami karena bisa jadi auditor membutuhkan
langkah-langkah khusus ketika berhadapan dengan manajemen. Selain itu, auditor harus
mengembangkan hubungan antar manusia yang baik. Dalam hal ini, peran kepribadian auditor
menjadi sangat menentukan.
BAB III
Kesimpulan

Tugas-tugas pengauditan internal dalam pelaksanaannya memerlukan auditor internal yang


berfungsi mendorong meningkatkan peranan para manajer atau para pejabat lainnya dalam
organisasi perusahaan daiam tugas dan tanggung jawab pengendalian agar lebih efektif dan
mengukur serta menilai berbagai jenis pengendalian dengan tujuan untuk meningkatkan jenis
pengendalian yang ada agar lebih efektif.

Dalam hal ini peranan pengauditan internal untuk membantu dan mendorong dalam
meningkatkan peranan manajemen untuk mengendali-kan aktivitas yang menjadi tanggung
jawabnya, terutama dalam fungsinya untuk melakukan penilaian terhadap para manajer. Dalam
kaitan ini pengauditan internal berperan membantu para manajer dengan menyampaikan informasi
kepada para manajer bersangkutan sebagai landasan untuk tindakan perbaikan yang harus
dilakukannya.

Pengauditan internal dilaksanakan oleh para auditor internal, hasil pengauditannya akan
memberikan kesimpulan dan rekomendasi disampaikan kepada para manajer bersangkutan dengan
menyediakan suatu landasan untuk tindakan perbaikan yang harus dilakukannya yang berkaitan
dengan pengendalian aktivitas organisasi perusahaan untuk menjamin pencapaian hasil yang
diinginkan agar lebih efektif, baik itu berupa target sasaran jangka pendek, maupun target tujuan
jangka panjang.