P. 1
beberapa Cerita Wayang

beberapa Cerita Wayang

|Views: 3,778|Likes:
Dipublikasikan oleh Frenky Indra

More info:

Categories:Types, Resumes & CVs
Published by: Frenky Indra on Feb 26, 2011
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/01/2013

pdf

text

original

Raja Pandhudewanata berwawancara dengan Resi Bisma, Yamawidura, Patih Kuruncana, Puntadewa,

Sena dan Permadi. Sang raja minta petunjuk dan nasihat kepada Resi Bisma, bahwa Madrim ingin naik

Lembu Andini kendaraan Batara Guru. Resi Bisma memberi saran agar raja minta nasihat kepada

Bagawan Abyasa di Saptaarga, di pertapaan Wukir Retawu. Raja Pandhudewanata menerima saran Resi

Bisma, Patih Kuruncana diperintahkan mempersiapkan perajurit. Setelah selesai perundingan, raja masuk

ke Gupitmandragini menemui dua isteri raja memberi tahu tentang hasil pertemuan, dan rencana

kepergian raja ke Saptaarga. Yamawidura mengumumkan perintah dan rencana kepergian raja kepada

para perajurit. Para perajurit diperintah supaya menghormat keberangkatan raja. Sebagian perajurit

dipersiapkan untuk mengawal kepergian raja ke Wukir Retawu. Raja bersama perajurit berangkat ke

Saptaarga, dipimpin oleh Yamawidura. Bogadata raja negara Turilaya berunding dengan Gandapati,

Kartipeya, Patih Hanggadenta, Gendhingcaluring, Togog dan Sarawita. Mereka membicarakan amanat

Arya Dhestharastra yang disampaikan oleh Kartipeya, tentang perang Baratayuda. Mereka menginginkan

urungnya perang itu. Mereka mengambil putusan untuk menyerang negara Ngastina, membunuh raja

Pandhudewanata beserta anak-anaknya. Patih Hanggadenta ditugaskan menyerang negara Ngastina.

Gendhingcaluring ditugaskan menjaga tapal batas, dan siapa saja yang akan membantu Ngastina supaya

dihancurkannya. Raja Bogadata dan Kartipeya akan pergi ke Ngastina secara sembunyi-sembunyi.

Gandapati ditugaskan menjaga keamanan negara Turilaya. Setelah siap, mereka berangkat menjalankan

tugasnya masing-masing. Perajurit Turilaya bertemu dengan perajurit Ngastina, terjadilah pertempuran.

Pertempuran padam setelah mereka menghentikan perang. Masing-masing menyimpang jalan mencari

selamat.

Resi Darmana dan anaknya yang bernama Endang Darmi berbicara dengan para cantrik di padepokan

Hargasana. Sang Resi membicarakan surat lamaran Brahmana Kamindana. Endang Darmi menurut

kehendak ayahnya. Brahmana Kamindana datang, menagih kesanggupan dan jawaban Resi Darmana

tentang lamarannya. Brahmana Kamindana amat kasar tutur katanya, Resi Darmana marah, terjadilah

perkelahian. Para cantrik tidak mampu mengeroyok Brahmana Kamindana. Mula-mula Brahmana

Kamindana kalah, kemudian menggunakan pusaka saktinya berupa tombak pendek. Resi Darmana

ditangkap akan dibunuhnya. Sebelum terbunuh, Resi Darmana mengutuk, Brahmana Kamindana

dikatakan seperti rusa. Bersamaan dengan jatuhnya pusaka Brahmana Kamindana ke dada Resi Darmana,

Brahmana Kamindana berubah menjadi rusa dan Resi Darmana meninggal dunia.

Setelah mendengar kematian ayahnya, Endang Darmi pergi meninggalkan padepokan. Brahmana

Kamindana mengejarnya, tetapi ia tidak dapat menangkapnya. Dikatakan oleh sang brahmana, Endang

Darmi lari cepat seperti rusa. Seketika Endang Darmi berubah menjadi rusa betina. Rusa Kamindana

berhasil menangkap rusa Darmi, mereka masuk ke hutan. Raja Pandhudewanata bersama Semar, Gareng,

Petruk dan Bagong menghadap Begawan Abyasa di Saptaarga. Raja menyampaikan maksud

kedatangannya. Bagawan Abyasa memberi petunjuk dan nasihat, bahwa permintaan Madrim itu kelewat

batas, dan besar bahayanya. Bagawan Abyasa menyerahkan kepada sikap Pandhudewanata sendiri.

Pandhu ingin menuruti keinginan Madrim, lalu minta diri bersama para panakawan. Bagawan Abyasa

mengawal dari kejauhan, menuju ke Ngastina. Di tengah perjalanan Pandhu dan para panakawan bertemu

dengan perajurit raksasa dari Turilaya. Terjadilah pertempuran. Perajurit yang dipimpin Gendhingcaluring

kalah, Togog dan Sarawita kembali ke Turilaya. Pandhu meneruskan perjalanan ke Suralaya.

Bathara Narada dan Bathara Srita, Bathara Yama, Bathara Aswi, Bathara Aswin dan Lembu Andini

menghadap Bathara Guru. Bathara Guru bertanya kepada Bathara Aswi dan Bathara Aswin, sebab apa

mereka berdua turun ke Ngastina. Mereka menjawab, bahwa mereka datang atas panggilan Madrim isteri

Raja Pandhu, yang ingin mempunyai anak. Bathara Guru menyuruh agar mereka berdua turun ke

Ngastina, untuk bertanggungjawab atas kelahiran bayi yang akan datang. Bathara Aswi dan Bathara

Aswin berangkat ke Ngastina. Sepeninggalnya Bathara Aswi dan Bathara Aswin, raja Pandhu datang,

menghadap Bathara Guru, minta pinjaman Lembu Andini. Bathara Guru marah, sebab raja Pandhu pernah

mendirikan taman larangan dewa yang disebut Taman Kadilengleng, yang mirip dengan taman

Tinjomaya. Pandhu minta maaf, tetapi Bathara Guru bertambah marah, karena ia hanya menuruti

keinginan perempuan isterinya. Pandhu minta maaf dan menyampaikan beberapa sanggahan dengan

berbagai pertanyaan. Apakah ia bersalah karena menuruti permintaan isteri? Makhluk yang mengajukan

permohonan kepada Dewa itu bersalah? Apakah salah bila raja minta perlindungan kepada raja semua

raja? Apakah sudah benar raja Tribuana menolak permintaan raja kecil? Bukankah raja besar wajib

mengabulkan permintaan raja kecil dan melindunginya? Akhirnya Bathara Guru mengabulkan permintaan

Pandhu dengan syarat, Pandhu tidak akan berbuat salah lagi. Bila berbuat salah Pandhu akan dicabut

nyawanya. Pandhu sanggup menerima hukuman bila ia bersalah, lalu mohon diri. Para panakawan dan

Lembu Andini mengikutinya.

Sepeninggal Pandhu dari Suralaya, Bathara Guru mengutus Bathara Narada supaya turun ke Ngastina.

Nyawa Pandhu harus dicabut sesudah mengendarai Lembu Andini. Bathara Yama diberi tugas untuk

mengikuti Bathara Narada. Mereka berdua berangkat ke Ngastina. Pandhu mengikuti jalannya Lembu

Andini masuk ke hutan Kandhawa. Di tengah hutan Pandhu melihat sepasang Rusa yang sedang memadu

kasih. Ia iri melihatnya. Rusa jantan dipanah, berubah menjadi Brahmana Kamindana. Brahmana

Kamindana mengutuk, pandhu akan mati bila memadu kasih dengan isterinya. Rusa betina juga

dipanahnya, lalu kembali menjadi Endang Darmi. Endang Darmi mengutuk, isteri Pandhu akan mati

setelah melahirkan bayi kandungannya. Brahmana Kamindana dan Endang Darmi musnah dari

pandangan Pandhu. Pandhu kembali ke negara Ngastina. Bagawan Abyasa dihadap oleh Resi Bisma,

Yamawidura, Patih Kuruncana dan Sena, mereka memperbincangkan kepergian Pandhu ke Suralaya.

Pandhu dan panakawan datang bersama Lembu Andini. Pandhu melapor segala usahanya, kemudian

masuk ke istana menemui Dewi Kunthi dan Dewi Madrim. Setelah memberi tahu tentang hasil yang

diperoleh, Pandhu dan Dewi Madrim naik Lembu Andini. Mereka melayang-layang di angkasa, di atas

negara Ngastina. Di atas angkasa Pandhu dan Madrim berwawan asmara, kemudian turun ke bumi

Ngastina. Lembu Andini kembali ke Suralaya. Pandhu masuk istana, bercerita kepada Begawan Abyasa,

Resi Bisma, Yamawidura, Patih Kuruncana, Sena dan Arjuna. Mereka asyik mendengarkan cerita Pandhu

di istana. Bathara Narada dan Bathara Yama menjalankan tugas mereka, nyawa Pandhu dicabutnya.

Pandhu meninggal dunia, orang seistana gempar kesedihan. Bathara Aswi dan Bathara Aswin menjelma

kepada bayi yang dikandung oleh Dewi Madrim. Setelah Dewi Madrim tahu bahwa raja Pandhu telah

meninggal, ia bunuh diri, sebuah patrem dimasukkan ke dalam perutnya. Dua bayi lahir melalui luka

perut Dewi Madrim. Bathara Narada dan Bathara Yama datang, menemui Abyasa, minta agar bayi itu

diberi nama Nakula dan Sadewa. Kemudian mereka berdua mengangkat jenasah Pandhu dan Madrim

dibawa ke Tepetloka. Begawan Abyasa meminta agar Kunthi mengasuh dua bayi itu seperti anaknya

sendiri. Kunthi menerima kedua bayi dengan senang hati.

Raja Bogadata, Kartipeya dan perajurit Turilaya bersiap-siap menggempur negara Ngastina. Bagawan

Abyasa berunding dengan Resi Bisma. Yamawidura, Sena, Patih Kuruncana dan Arjuna. Mereka

membicarakan kekacauan negara dan serangan musuh. Bogadata dan perajurit telah menyerang. Patih

Kuruncana ditugaskan untuk menyiapkan perajurit. Sena, Arjuna dan Yamawidura ikut berperang.

Bogadata dipanah oleh Arjuna, Kartipeya kena panah Yamawidura, Hanggadenta mati oleh Patih

Kuruncana, para perajurit Turilaya musnah oleh amukan Sena. Perang pun selesai. Bagawan Abyasa, Resi

Bisma, Yamawidura dan Patih Kuruncana berunding, mereka akan menobatkan Dhestharasta sebagai

pemegang pemerintahan sampai para Pandhawa dewasa. Mereka mengadakan pesta penobatan.

Perkawinan Nakula

Prabu Duryodana duduk di atas singhasana, dihadap oleh Pendeta Druna, Adipati Karna dan para

Korawa. Raja membicarakan permintaan Dursasana. Dursasana jatuh cinta kepada Dyah Suyati, putri raja

Ngawuawu Langit. Dyah Suyati disayembarakan. Barangsiapa yang dapat mengalahkan Endrakerata,

boleh memperistri Dyah Suyati. Raja menugaskan Adipati Karna dan Jayadrata untuk mengusahakan

menang

sayembara.

Setelah

mereka

berunding,

raja

masuk

ke

istana.

Kedatangan Prabu Duryodana disongsong oleh permaisuri, Lesmanawati dan para abdi. Raja bercerita

tentang rencana perkawinan Dursasana dan sayembara. Kemudian raja bersamadi.

Adipati Karna dihadap oleh Patih Sakuni, Jayadrata, Kartamarma, Citraksa dan Citraksi. Mereka bersiap-

siap ke negara Ngawuawu Langit. Setelah siap mereka berangkat. Prabu Bajrawijaya raja Selabentara

bermimpi, bertemu Dyah Suyati. Raja ingin melamarnya. Patih Kala Wisaya mengusulkan agar Kala

Kekaya, Barajamingkalpa dan Kala Minangsraya pergi ke Ngawuawu Langit, untuk menyampaikan surat

lamaran. Mereka segera berangkat, diikuti barisan perajurit raksasa. Perjalanan mereka bertemu dengan

barisan perajurit Ngastina. Terjadilah pertempuran, tetapi perajurit Selabentar meninggalkan medan

perang, menyimpang jalan.

Nakula menghadap Bagawan Abyasa di Wukir Retawu. Ia meminta doa restu untuk mengikuti sayembara

di negara Ngawuawu Langit. Sang Bagawan banyak memberi nasihat, kemudian Nakula disuruh

berangkat. Nakula berangkat, Semar, Gareng dan Petruk menyertainya. Di tengah perjalanan Nakula

bertemu dngan barisan dari Selabentar. Terjadilah perkelahian seru. Perajurit raksasa musnah. Nakula

meneruskan perjalanan. Prabu Kridhakerata raja Ngawuawu Langit duduk di atas singhasana, dihadap

oleh Jayakerata dan patih Keratabahu. Raja cemas atas sayembara yang diinginkan oleh Endrakerata.

Adipati Karna datang menyampaikan maksudnya, ia ingin mengikuti sayembara. Endrakerata telah siap di

gelanggang adu kesaktian. Pertama-tama Jayadrata yang melawan, tetapi kalah. Selanjutnya yang

melawan Kartamarma dan Adipati Karna, tetapi semua tidak mampu mengalahkan Endrakerata. Korawa

kembali ke Ngastina dengan tangan hampa. Yudisthira menerima kehadiran Kresna di Ngamarta.

Yudisthira bertanya tentang kepergian Nakula. Kresna memberi tahu, bahwa Nakula sedang mengikuti

sayembara. Yudisthira, Bima dan Arjuna diminta bantuannya. Nakula telah tiba di Ngawuawu Langit,

menghadap raja Kridhakerata. Nakula menyampaikan maksud kedatangannya, ia ingin mengikuti

sayembara. Jayakerata dan Patih Keratabasa mengawal Nakula ke arena sayembara. Endrakerata telah

diberi tahu, kemudian datang di gelanggang adu kesaktian. Endarakerata sungguh sakti. Sekali dipanah

mati, kemudian hidup kembali. Semar mendekat Nakula, dan memberitahu caranya menghadapi kesaktian

Endrakerata. Setelah diberi tahu oleh Semar, Nakula segera memanah untuk yang kesekian kalinya.

Endrakerata kena panah, seketika musnah. Nakula menang dalam sayembara, lalu dipersilakan masuk

istana.

Togog dan Sarawita datang menghadap raja Bajrawijaya, melapor tentang kematian para raksasa dan

pemimpin perajuritnya. Raja marah lalu mempersiapkan perajurit, hendak menggempur kerajaan

Ngawuawu Langit. Prabu Kridhakerata menerima kehadiran Nakula yang dikawal oleh Jayakerata. Raja

minta agar permaisuri mempersiapkan perkawinan Dyah Suyati dan Nakula. Kresna bersama Yudisthira,

Bima, Arjuna dan Sadewa tiba di istana Ngawuawu Langit, menghadap raja Kredhakerata. Sang raja

bercerita tentang Nakula yang menang sayembara dan akan dikawinkan dengan putri raja bernama Dyah

Suyati. Kresna dan Yudisthira menyetujuinya. Mereka bersiap-siap mengadakan upacara perkawinan.

Perajurit rakasa dari Selabentar datang, dipimpin oleh prabu Brajawijaya. Kresna menugaskan Bima dan

Arjuna untuk menyongsong kedatangan musuh. Prabu Bajrawijaya mati oleh Bima, sedangkan perajurit

raksasa musnah disapu oleh panah Arjuna. Nakula dan Dyah Suyati dipersandingkan di pelaminan, para

Pandhawa menghadirinya. Pesta perkawinan dilaksanakan dengan meriah.

Perkawinan Sadewa

Prabu Kresna raja Dwarawati duduk di atas singhasana, dihadap oleh Samba, Setyaki, Setyaka dan Patih

Udawa. Kresna memberi tahu, bahwa Yudisthira akan mengawinkan Sadewa dengan Retna Dewarsini.

Raja menugaskan Patih Udawa dan Setyaki untuk menyerahkan pesumbang ke Ngamarta. Patih Udawa

dan Setyaki minta diri. Kresna masuk ke istana, Jembawati, Rukmini dan Setyaboma menyongsong

kedatangan raja. Kresna berpamitan kepada isteri, akan pergi ke Ngamarta. Kresna pergi bersemadi.

Patih Udawa dan Setyaki mengumpulkan perajurit untuk mengawal utusan pergi ke Ngamarta. Setelah

siap mereka berangkat. Prabu Singamurti raja Trancang Gribig duduk di atas singhasana dihadap oleh

Patih Kala Waraha dan Inang Saparni. Raja bercerita tentang mimpinya. Sang Raja bertemu dengan Retna

Dewarsini, putri raja Banyuwangi. Raja menunjuk utusan untuk menyampaikan surat lamaran. Patih Kala

Waraha mempersiapkan perajurit raksasa, lalu berangkat ke Banyuwangi.

Di tengah perjalanan perajurit raksasa bertemu dengan barisan dari Dwarawati, perajurit raksasa

menyimpang jalan. Bathara Guru dihadap oleh Bathara Narada, Bathara Endra, Bathara Brama, Bathara

Panyarikan Bathara Yamadipati, dan Bathara Patuk. Mereka menerima kedatangan Bathara Kamajaya

dan Arjuna. Arjuna menyampaikan permohonan Yudisthira, minta diijinkan meminjam empatpuluh

bidadari untuk mengawal pengantin. Bathara Guru mengijinkan, kelak para bidadari akan datang bersama

Bathara Narada. Arjuna minta diri, meninggalkan kahyangan. Para panakawan mengikutinya. Arjuna dan

panakawan berjumpa dengan perajurit raksasa dari Trancang Gribig. Terjadilah perkelahian, perajurit

raksasa musnah. Togog lari kembali ke negara Trancang Gribig.

Prabu Salya raja Mandraka dihadap oleh permaisuri, Rukmarata dan Patih Tuhayata. Raja berkata, ingin

menghadiri perkawinan Sadewa di Ngamarta. Mereka bersiap-siap, lalu berangkat menuju

Ngamarta.Prabu Duryodana berkata kepada para warga Korawa, bahwa raja akan pergi ke Banyuwangi.

Raja dan permaisuri pergi bersama, para Korawa mengawalnya. Sadewa menghadap Bagawan Abyasa di

Wukir Retawu, minta restu atas perkawinannya. Sang bagawan merestuinya. Sadewa disuruh berangkat

terlebih dahulu, sang bagawan akan menyusulnya. Togog menghadap Prabu Singamurti di istana

Trancang Gribig. Memberitahu tentang kemusnahan para perajurit raksasa. Raja marah, lalu minta

dipersiapkan perajurit raksasa untuk menyerang Banyuwangi, merebut Retna Dewarsini. Setelah siap

mereka berangkat ke Banyuwangi. Yudhisthira menerima kehadiran Bagawan Abyasa, Kresna,

Duryodana, Salya, Baladewa, Drupada, Seta dan Untara. Mereka akan bersama-sama pergi ke

Banyuwangi. Arjuna datang dan melapor tentang ijin yang dikabulkan oleh Bathara Guru. Bathara

Kamajaya, Dewi Ratih, dan Dewi Rarasati datang beserta empat puluh bidadari dan perlengkapan upacara

perkawinan. Sadewa naik kereta bersama Bathara Kamajaya, diikuti kereta para raja, kereta para Bidadari

dan pengawal lainnya. Mereka menuju ke Banyuwangi. Bathara Endra, Bathara Brama, Bathara Bayu dan

beberapa dewa berunding akan pergi ke Banyuwangi. Setelah siap mereka berangkat bersama.

Badhwangan Nala telah duduk bersama Patih Nirbita. Bathara Endra dan beberapa dewa menanti

kedatangan calon pengantin.

Rombongan calon pengantin datang di istana Banyuwangi. Bathara Kamajaya menggandeng Sadewa.

Mereka yang hadir bersiap-siap mempertemukan kedua pengantin. Dewi Ratih dan Dewi Rarasati

menjemput Retna Dewarsini, kemudian dipersandingkan dengan Sadewa. Bathara Narada menjadi

pengacara perkawinan. Setelah upacara perkawinan selesai, para dewa kembali ke kahyangan. Para

bidadari mengikutinya. Perajurit raksasa Trancang Gribig datang menyerang Banyuwangi. Sang

Badhangwang Nala menyerahkan kebijaksanaan kepada Kresna. Kresna menugaskan Bima, Arjuna dan

Sadewa. Sadewa berhasil menaklukkan raja Singamurti. Bima dan Arjuna memusnahkan semua perajurit

raksasa. Para raja yang masih tinggal di Banyuwangi mengadakan pesta bersama.

Pandawa Apus

Prabu Duryodana duduk di atas singhasana, dihadap oleh pendeta Durna, Patih Sakuni, Dursasana,

Kartamarma, Durmagati, Citraksa dan Citraksi. Duryodana ingin membinasakan Pandhawa dengan tipu

muslihat. Pandhawa akan dijamu makanan yang mematikan. Duryodana telah mengundang Pandhawa.

Tak lama kemudian Pandhawa datang, Duryodana menyambutnya. Mereka dijamu besar-besaran, para

Pandhawa diracun, akhirnya para Pandhawa meninggal dunia. Para Korawa senang, mereka mengira,

bahwa musuh telah lenyap. Sakuni minta agar Bima dimasukkan ke dalam sumur Jalatundha, Arjuna

dibuang ke gua Sigrangga.

Setelah membuang jenasah para Pandhawa, Duryodana masuk ke istana menemui permaisuri dan

Gendari, ibunya. Raja memberi tahu tentang kematian para Pandhawa. Patih Sakuni dan para Korawa

membuang jenasah para Pandhawa. Anantasena dan Gathotkaca yang berada di Randhugumbala ingin

pergi ke Ngastina. Mereka bersiap-siap lalu berangkat.

Perjalanan mereka berdua bertemu dengan perajurit Ngastina. Mereka berselisih, dan terjadilah

perkelahian. Para Korawa kalah, Adipati Karna datang membantunya, Anantasena dan Gathotkaca

melarikan diri. Jenasah Arjuna dipungut oleh Hyang Baruna, lalu dihidupkan kembali. Arjuna dikawinkan

dengan Dyah Suyakti, kemudian disuruh pergi ke gua Sigrangga. Perjalanan Arjuna dihadang oleh

raksasa bernama Kala Sabawa bersama isterinya. Arjuna akan mereka makan, maka terjadilah

perkelahian. Raksasa dipanah, mereka kembali ke wujud asal, berubah menjadi dewa Kamajaya dan dewi

Ratih. Arjuna datang menghormat, lalu minta diri, meneruskan perjalannya. Jenasah Bima dibawa oleh

Nagagini kehadapan Hyang Antaboga. Bima dihidupkan kembali, lalu Bima bercerita asal mula

kematiannya. Kemudian Bima disuruh pergi ke gua Sigrangga.

Yudhisthira, Nakula dan Sadewa telah dihidupkan kembali oleh Dyah Suparti. Arjuna dan Bima datang di

gua Sigrangga menghadap Dyah Suparti. Dyah Suparti menyuruh agar mereka berlima kembali ke

negara, sebab kerajaan Ngamarta dikuasai oleh Adipati Karna. Bagawan Abyasa pergi ke negara

Ngamarta, atas ilham dari dewa ia disuruh melerai permusuhan Pandhawa dan Korawa Yudhisthira,

Bima, Arjuna, Nakula dan Sadewa bertemu dengan Anantasena dan Gathotkaca. Mereka bersama-sama

menuju ke Ngamarta. Adipati Karna yang berkuasa di Ngamarta, berunding dengan Patih Sakuni,

Dursasana, Kartamarma, Durmagati, Citraksa dan Citraksi. Mereka ingin memboyong Drupadi ke

Ngastina. Gathotkaca dan Anantasena akan masuk ke istana Ngamarta. Para Korawa meghalang-

halanginya. Terjadilah perkelahian, Korawa tidak mampu melawan mereka berdua. Adipati Karna datang

menolongnya, Gathotkaca dipanah, terpental jauh. Anantasena dilempar panah Wijayadanu, terlempar

jauh pula Gathotkaca dan Anantasena jatuh dihadapan Yudhistira. Yudhistira dan Arjuna marah, lalu

hendak menyerang kerajaan Ngamarta. Adipati Karna berhadapan dengan Arjuna. Terjadilah perkelahian

dahsyat. Bagawan Abyasa datang melerai, Arjuna dibawa lari ke Wukir Retawu. Anantasena dibawa ke

tempat Hyang Anantaboga, kemudian disembuhkannya. Para Pandhawa mengungsi ke Wukir Retawu.

Bagawan Abyasa memberi wejangan kepada mereka tentang kesabaran dan perang Baratayuda. Perajurit

Ngastina datang menyerang Wukir Retawu. Bagawan Abyasa menugaskan Bima dan Arjuna untuk

melawan serangan para Korawa. Adipati Karna memimpin perajurit Korawa. Perajurit Korawa

diceraiberaikan oleh Bima. Arjuna berhadapan dengan Adipati Karna. Masing-masing membawa panah

sakti. Arjuna melepaskan panah angin, Adipati Karna terbawa arus angin, kembali ke Ngastina bersama

perajurit Korawa. Perang pun selesai. Para Pandhawa mengadakan pesta di pertapaan Wukir Retawu.

Pandawa Papa

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->