P. 1
beberapa Cerita Wayang

beberapa Cerita Wayang

|Views: 3,778|Likes:
Dipublikasikan oleh Frenky Indra

More info:

Categories:Types, Resumes & CVs
Published by: Frenky Indra on Feb 26, 2011
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/01/2013

pdf

text

original

Sections

CERITA DI PEWAYANGAN

Ajaran Sunan Kalijaga Tentang Cupumanik astagina

Salah satu peninggalan dari nenek moyang kita, yang perlu diuraikan agar menjadi pedoman hidup

menuju masyarakat yang sejahtera adalah Asta-brata. Asta artinya delapan, brata artinya tindakan. Jadi,

Asta-brata dapat diartikan sebagai delapan macam tindakan. Asta-brata ini diambil dari inti sari wasiat

Cupu Manik Asta Gina, atau pegangan hokum bagi para dewa. Konon dengan berpegang pada hokum ini,

para dewa dapat memimpin umat manusia menuju kesejahteraan dan kedamaian.

Kalau setiap orang, terutama para pemimpin, berpegang pada asta-brata, maka masyarakat yang sejahtera

tidak mustahil terwujud di bumi ini. Adapun asta-brata secara mudah dan jelas digambarkan atau

diwujudkan dalam rupa :

1. Wanita: wanita,

2. Garwa; jodoh

3. Wisma : rumah

4. Turangga : kuda tunggangan

5. Curiga : keris, atau senjata

6. Kukila : burung berkutut

7. Waranggana : ronggeng- penari wanita

8. Pradangga : gamelan-bebunyian berirama

Orang atau pemimpin yang utama harus memiliki (mengalami) delapan hal tersebut diatas.Banyak orang

yang salah paham, berusaha mempunyai delapan rupa tersebut dalam wujud sebenarnya. Hal demikian ini

takkan terwujud. Sesungguhnya delapan hal tersebut sekadar kiasan, dan bukan berarti setiap orang harus

memiliki barangnya, tetapi memiliki atau mengalami arti dan wangsitnya.

Wanita, artinya seorang perempuan, yang elok dan cantik, siapapun yang melihat pasti ingin memilikinya.

Maka yang dimaksud dengan wanita ini adalah suatu keindahan, sebuah cita-cita yang tinggi. Agar cita-

cita itu dapat tercapai, maka orang perlu berusaha sekuat tenaga, belajar, tirakat dan sebagainnya,

sebagaimana seorang pemuda yang ingin menggaet dan memiliki gadis cantik.Garwa, artinya jodoh,

suami istri, yang sehati. Garwo sering diartikan sigaraning nyawa, belahan jiwa, jiwa satu dibelah dua

atau dua badan satu nyawa. Jadi garwa mengandung arti bahwa setiap orang harus dapat menyesuaikan

diri, bisa bergaul dengan siapapun, semua orang dianggap sebagai kawan, hidup rukun dan damai,

mencintai sesama, tidak membeda-bedakan orang. Semuanya dianggap sebagai garwa, teman sehidup

semati. Wisma, artinya rumah. Rumah adalah tempat berlindung memiliki ruangan yang luas berpetak-

petak untuk menyimpan aneka macam barang. Semuannya dapat dimasukkan kedalam rumah.

Demikianlah, setiap orang hendaknya bersifat rumah, yakni dapat menerima siapapun dan membutuhkan

perlindungan, sanggup menyimpan dan mengatur segala sesuatu, pun dapat mengeluarkan pikiran dan

bertindak bijaksana dan teratur menurut tempat, waktu dan kedaannya.

Turangga, berarti kuda tunggangan, yang kuat dan bagus. Kuda tunggangan bisa berlari cepat, bisa berlari

pelan, bisa berjalan sambil menari-nari. Sebaliknya kuda tunggangan juga bisa berlari cepat dengan arah

yang tak menentu, bisa terguling kedalam jurang, tergantung orang yang memegang tali kekang.

Demikian halnya diri: badan jasmaniah, panca indra dan nafsu kita merupakan kuda tunggangan.

Sedangkan jiwa adalah pengendaranya. Bila jiwa dapat menguasai, mengatur dan mengekang diri, maka

pergaulan hidup kita akan teratur dengan baik. Sebaliknya, bila jiwa tak dapat menguasai diri, maka hidup

kita akan seperti kuda tunggangan yang liar, berlari kesana kemari dan akhirnya tergelincir.

Curiga, artinya keris, senjata tajam yang dipuja-puja. Maka perlulah tiap orang terutama para pemimpin

memiliki persenjataan hidup yang lengkap, kepandaian, keuletan, ketangkasan dan lain-lain. Begitu pula

pikiran harus tajam, mampu menebak dengan dengan tepat, agar dapat bertindak tepat pula untuk

kebahagiaan masyarakat.

Kukila, artinya burung, burung berkutut yang dipelihara di Jawa, untuk didengarkan suaranya, yang

merdu, enak didengar, menentramkan sanubari. Demikianlah, setiap kata yang keluar dari mulut

hendaknya enak didengar, lemah lembut, menentramkan orang yang mendengarkannya. Setiap kata yang

keluar harus tegas dan bersifat memperbaiki dan membangun, agar siapapun yang mendengar bisa

terpikat dan mengindahkannya. Waranggana, artinya tandak atau ronggen, untuk pandangan waktu

menari. Pada zaman dewa-dewa, ini disebut Lenggot-bawa. Peraturannya seperti ini : seorang warangga

menari di tengah kerumunan orang, bersama seorang lelaki yang ikut menari. Diempat penjuru ada penari

laki-laki yang menari, seakan-akan ikut menggoda si waranggana agar memalingkan mukanya dari yang

lelaki yang tengah menari. Maknah gambaran di atas adalah: dalam usaha meraih cita-cita yang muliah (

waranggana), pasti akan banyak kita jumpai godaan yang mencoba menghalang-halangi pencapaian cita-

cita tersebut.

Aji Narantaka

Beberapa tahun sebelum pecah Baratayuda, tanpa izin dari para Pandawa, Gatotkaca mengajak saudara-

saudaranya, para putra Pandawa, mengadakan latihan perang di Tegal Kurusetra. Latihan perang ini

dianggap sebagai provokasi oleh pihak Kurawa. Prabu Anom Duryudana lalu memerintahkan para putra

Kurawa di bawah pimpinan Dursala, putra Dursasana, untuk membubarkan latihan perang itu.

Di Tegal Kurusetra Dursala menyampaikan perintah Duryudana untuk bubar. Gatotkaca dan saudara-

saudaranya menolak perintah itu. Akibatnya pecah perang di antara mereka. Dalam perang tanding,

Dursala menggunakan Aji Gineng, sehingga Gatotkaca toboh, terluka berat. Para putra Pandawa

mengundurkan diri dari gelanggang, sedangkan Antareja membawa tubuh Gatotkaca ke tempat yang

aman. Antareja lalu mengobati Gatotkaca hingga sembuh. Setelah sembuh Gatotkaca bertekad untuk

membalas kekalahannya. Ia lalu berguru pada Resi Seta. Sang Resi memberinya ilmu sakti bernama Aji

Narantaka. Dalam perjalanan mencari Dursala untuk membalas dendam, Gatotkaca bertemu dengan Dewi

Sumpani. Wanita ini ingin diperistri, tetapi Gatotkaca memberi syarat, jika wanita itu dapat menahan

pukulan dengan Aji Narantaka, Gatotkaca bersedia memperistrinya. Dewi Sumpani ternyata kuat, karena

itu Gatotkaca menerimanya sebagai istri. Setelah bersua dengan Dursala, terjadi lagi perang tanding di

antara mereka. Dursala kalah dan tewas seketika terkena Aji Narantaka.Untuk mengembalikan Negara

Astina kepihak Pandawa, Prabu Duryudana merasa sayang dan tidak rela, untuk itu segala daya upaya

dicari untuk membinasakan keluarga Pandawa agar tidak selalu mengusik-usik negara Astina yang

memang menjadi haknya.

Begawan Dorna lalu mengusulkan agar Dursala muridnya dapat diberi tugas tersebut. Tetapi sebelum

Dursala pergi ke Tegal Kuru Setra untuk membinasakan pihak Pandawa, Dursala harus tanding lebih

dahulu dengan Prabu Baladewa, sebab Prabu Baladewa menyangsikan kemampuan dan kesaktian

R.Dursala. Setelah perang tanding dengan Prabu Baladewa, maka dengan diiringi bala tentara Kurawa

berangkatlah R.Dursala ke Tegal Kuru Setra. Kedatangan R.Dursala di Tegal Kuru Setra menjadikan

keributan dan perkelahian, namun para putra Pandawa dan Pandawa tak satupun mampu menandingi

kesaktian R.Dursala. DenganAji Kumbala Geni pemberian gurunya (Pisaca ), R.Dursala mengalahkan

semua kerabat Pandawa. Kemampuan Aji Gineng bila digunakan dan mengenai seseorang, maka orang

yang terkena aji Gineng akan hancur lebur, dan R,Gatotkaca terkena aji Gineng tidak mampu menahanya

dan gemetar tubuhnya. Dengan sisa-sisa tenaganya R.Gatotkaca melarikan diri untuk menghadap Resi

Seta. Oleh Resi Seta, R.Gatotkaca diberi Aji Narantaka untuk menandingi Aji Gineng milik R.Dursala.

Setelah mendapatkan kesaktian dan aji Narantaka, R.Gatotkaca kembali menemui Dursala. Melihat

kedatangan R.Gatokaca, Dursala lalu menghantamnya dengan aji Gineng namun dapat ditangkis dengan

aji Narantaka milik Gatotkaca. Benturan Aji Gineng milik R.Dursala dan Aji Narantaka milik

R.Gatotkaca menimbulkan suara yang dahsyat. Akhirnya Aji Gineng tidak dapat mengalahkan Aji

Narantaka milik Gatotkaca, akibatnya tubuh R.Dursala hancur lebur terkena hantaman Aji Narantaka.

Dengan kematian R.Dursala, bala tentara Kurawa kucar-kacir dan melarikan diri kembali ke negara

Astina untuk memberi kabar kematian R.Dursala. Gatotkaca dengan memiliki Aji Narantaka, sesumbar

barang siapa wanita yang mampu menahan Aji Narantaka miliknya, ia akan diperistri. Ternyata Dewi

Sampani mampu menahan Aji Narantaka miliknya, maka diperistrilah Dewi Sampani dan berputra Jaya

Sumpena.

Alap-alap Dursilawati

Pada suatu hari Prabu Suyudana kehilangan adiknya putri yakni Dursilawati yang telah bertunangan

dengan Jayadrata. Untuk itu sang Raja mengutus Adipati Karna yang diikuti Kurawa mencari putri itu. Di

perjalanan bertemu dengan Kala Bancuring, Kala Mingkalpa dan Kala Pralemba utusan Prabu Kuranda

Geni dari Tirtakadasar, yang ingin pergi ke Astina dan terjadi perkelahian.

Sementara Arjuna yang diikuti Semar, Gareng, Petruk sedang lewat di tengah hutan tiba-tiba mendengar

tangis wanita yang berada di atas punggung gajah yakni Dursilawati. Tanpa pikir panjang Arjuna segera

memberi pertolongan dengan melepaskan panah angin untuk mengusir gajah itu serta membebaskan sang

Putri, yang selanjutnya akan dibawa ke Astina. Namun diperjalanan Arjuna diserang oleh Kurawa dan

ditangkap, diikat kemudian ditahan di Astina.

Prabu Kurandageni yang mendengar berita bahwa bala tentaranya terbunuh maka ia mengutus emban

Kepetmega untuk menculik Dursilawati. Perjalanan Kepetmega membuahkan hasil sehingga membuat

gusar Prabu Suyudana. Untuk itu ia minta pertolongan Arjuna agar dapat menemukan kembali

Dursilawati. Kali Arjuna sanggup tetapi ia minta Jayadrata mengikutinya dan kedua ksatria itu menuju

Tirtakadasar. Setelah tiba ditempat penyekapan Dewi Dursilawati, Arjuna mengajukan pertanyaan,

apakah Dursilawati bersedia menjadi istri Jayadrata. Setelah mendapat jawaban yang pasti maka

Jayadrata diminta membebaskan sendiri Dursilawati di ruang Prabu Kuranda Geni. Akhirnya Arjuna

dapat membunuh Kuranda Geni dan membebaskannya dan dibawa ke Astina. Maka Suyudana

mengawinkan pasangan itu. Sedangkan gajah yang menculik Dursilawati datang tetapi dapat dibunuh

Bima.

Antaboga

Adalah tokoh wayang cerita Mahabarata, Sanghyang Antaboga atau Sang Hyang Nagasesa atau Sang

Hyang Anantaboga atau Sang Hyang Basuki adalah dewa penguasa dasar bumi. Dewa itu beristana di

Kahyangan Saptapratala, atau lapisan ke tujuh dasar bumi. Dari istrinya yang bernama Dewi Supreti, ia

mempunyai dua anak yaitu Dewi Nagagini dan Naga Tatmala. Dalam pewayangan disebutkan, walaupun

terletak di dasar bumi, keadaan di Saptapratala tidak jauh berbeda dengan di kahyangan lainnya.

Sang Hyang Antaboga adalah putra Anantanaga. Ibunya bernama Dewi Wasu, putri Anantaswara.

Walaupun dalam keadaan biasa Sang Hyang Antaboga serupa dengan ujud manusia, tetapi dalam keadaan

triwikrama, tubuhnya berubah menjadi ular naga besar. Selain itu, setiap 1000 tahun sekali Sang Hyang

Antaboga berganti kulit (mrungsungi). Dalam pewayangan, dalang menceritakan bahwa Sang Hyang

Antaboga memiliki Aji Kawastrawam, yang membuatnya dapat menjelma menjadi apa saja sesuai dengan

yang dikehendakinya. Antara lain ia pernah menjelma menjadi garangan putih (semacam musang hutan

atau cerpelai) yang menyelamatkan Pandawa dan Kunti dari amukan api pada peristiwa Bale Sigala-gala.

Putrinya, Dewi Nagagini menikah dengan Bima, orang kedua dalam keluarga Pandawa. Cucunya yang

lahir dari Dewi Nagagini bernama Antareja atau Anantaraja.Sang Hyang Antaboga mempunyai

kemampuan menghidupkan orang mati yang kematiannya belum digariskan, karena ia memiliki air suci

Tirta Amerta. Air sakti itu kemudian diberikan kepada cucunya Antareja dan pernah dimanfaatkan untuk

menghidupkan Dewi Wara Subadra yang mati karena dibunuh Burisrawa dalam lakon Subadra Larung.

Sang Hyang Antaboga pernah dimintai tolong Batara Guru menangkap Bambang Nagatatmala, anaknya

sendiri. Waktu itu Nagatatmala kepergok sedang berkasih-kasihan dengan Dewi Mumpuni, istri Batara

Yamadipati. Namun para dewa gagal menangkapnya karena kalah sakti. Karena Nagatatmala memang

bersalah walau itu anaknya, Sang Hyang Antaboga terpaksa menangkapnya. Namun Dewa Ular itu tidak

menyangka Batara Guru akan menjatuhkan hukuman mati pada anaknya dengan memasukkannya ke

Kawah Candradimuka. Untunglah Dewi Supreti istrinya, kemudian menghidupkan kembali Bambang

Nagatatmala dengan Tirta Amerta. Batara Guru juga pernah mengambil kulit yang tersisa sewaktu Sang

Hyang Antaboga mrungsungi dan menciptanya menjadi makhluk ganas yang mengerikan. Batara Guru

menamakan makhluk ganas itu Candrabirawa.

Sang Hyang Antaboga, ketika masih muda disebut Nagasesa. Walaupun ia cucu Sang Hyang Wenang,

ujudnya tetap seekor naga, karena ayahnya yang bernama Antawisesa juga seekor naga. Ibu Nagasesa

bernama Dewi Sayati, putri Sang Hyang Wenang. Suatu ketika para dewa berusaha mendapatkan Tirta

Amerta yang membuat mereka bisa menghidupkan orang mati. Guna memperoleh Tirta Amerta para

dewa harus membor dasar samudra. Mereka mencabut Gunung Mandira dari tempatnya dibawa ke

samudra, dibalikkan sehingga puncaknya berada di bawah, lalu memutarnya untuk melubangi dasar

samudra itu. Namun setelah berhasil memutarnya, para dewa tidak sanggup mencabut kembali gunung

itu. Padahal jika gunung itu tidak bisa dicabut, mustahil Tirta Amerta dapat diambil. Pada saat para dewa

sedang bingung itulah Nagasesa datang membantu. Dengan cara melingkarkan badannya yang panjang ke

gunung itu dan membetotnya ke atas, Nagasesa berhasil menjebol Gunung Mandira, dan kemudian

menempatkannya di tempat semula. Dengan demikian para dewa dapat mengambil Tirta Amerta yang

mereka inginkan. Itu pula sebabnya, Nagasesa yang kelak lebih dikenal dengan nama Sang Hyang

Antaboga juga memiliki Tirta Amerta. Ada pendapat lain yang mengatakan bahwa untuk mendapatkan

Tirta Amerta, para dewa bukan membor samudra, melainkan mengaduk-aduknya. Ini didasarkan atas arti

kata ngebur dalam bahasa Jawa, yang artinya mengaduk-aduk, mengacau, membuat air samudra itu

menjadi µkacau¶. Jasa Nagasesa yang kedua adalah ketika ia menyerahkan Cupu Linggamanik kepada

Bathara Guru. Para dewa memang sangat menginginkan cupu mustika itu. Waktu itu Nagasesa sedang

bertapa di Guwaringrong dengan mulut terbuka. Tiba-tiba melesatlah seberkas cahaya terang memasuki

mulutnya. Nagasesa langsung mengatupkan mulutnya, dan saat itulah muncul Bathara Guru. Dewa itu

menanyakan kemana perginya cahaya berkilauan yang memasuki Guwaringrong. Nagasesa menjawab,

cahaya mustika itu ada pada dirinya dan akan diserahkan kepada Bathara Guru, bilamana pemuka dewa

itu mau memeliharanya baik-baik. Bathara Guru menyanggupinya, sehingga ia mendapatkan Cupu

Linggamanik yang semula berujud cahaya itu.

Cupu Linggamanik sangat penting bagi para dewa, karena benda itu mempunyai khasiat dapat membawa

ketentraman di kahyangan. Itulah sebabnya semua dewa di kahyangan merasa berhutang budi pada

kebaikan hati Nagasesa. Karena jasa-jasanya itu para dewa lalu menghadiahi Nagasesa kedudukan yang

sederajat dengan para dewa dan berhak atas gelar Bathara atau Sang Hyang. Sejak itu ia bergelar Sang

Hyang Antaboga. Para dewa juga memberinya hak sebagai penguasa alam bawah tanah. Tidak hanya itu,

oleh para dewa Nagasesa juga diberi Aji Kawastram* yang membuatnya sanggup mengubah ujud dirinya

menjadi manusia atau makhluk apa pun yang dikehendakinya. Sebagian orang menyebutnya Aji

Kemayan. spertinya sebutan itu kurang pas, karena Kemayan yang berasal dari kata µmaya¶ adalah aji

untuk membuat pemilik ilmu itu menjadi tidak terlihat oleh mata biasa. Kata µmaya¶ artinya tak terlihat.

Jadi yang benar adalah Aji Kawastram. Untuk membangun ikatan keluarga, para dewa juga

menghadiahkan seorang bidadari bernama Dewi Supreti sebagai istrinya. Perlu diketahui, cucu Sang

Hyang Antaboga, yakni Antareja hanya terdapat dalam pewayangan di Indonesia. Dalam Kitab

Mahabarata, Antareja tidak pernah ada, karena tokoh itu memang asli ciptaan nenek moyang orang

Indonesia.

Sang Hyang Antaboga pernah berbuat khilaf ketika dalam sebuah lakon carangan terbujuk hasutan Prabu

Boma Narakasura cucunya, untuk meminta Wahyu Senapati pada Bathara Guru. Bersama dengan

menantunya, Prabu Kresna yang suami Dewi Pertiwi, Antaboga berangkat ke kahyangan. Ternyata

Bathara Guru tidak bersedia memberikan wahyu itu pada Boma, karena menurut pendapatnya Gatotkaca

lebih pantas dan lebih berhak. Selisih pendapat yang hampir memanas ini karena Sang Hyang Antaboga

hendak bersikeras, tetapi akhirnya silang pendapat itu dapat diredakan oleh Bathara Narada. Wahyu

Senapati tetap diperuntukkan bagi Gatotkaca.

Gathotkaca Nikah

Tersebutlah rencana pernikahan antara gatotkaca dan pergiwa putri harjuna sudah menyebar ke mana

mana. persiapan di yodipati tempat werkudoro ayah bima sudah sangat lengkap. rencananya pesta akan

dilakukan di 3 tempat yaitu madukoro, yodipati dan pringgondani. kabar tersebar ke hastina, tempat

kediaman para wangsa kurawa. disana pertemuan agung di gelar. hadir sesepuh kurawa prabu duryodana,

patih sengkuni, danyang drona. mereka membahas tentang cara agar pandawa bisa dilenyapkan. danyang

drona memberi usul memecah belah pandawa dengan mengawinkan lasmana dengan pergiwa mendahului

gatotkaca. dengan harapan werkudoro akan marah dan membunuh adiknya arjuna. rencana lengkap di

persiapkan. Rombongan pelamar dan manten hastinapura pun berangkat. lengkap dengan pasukan dan

segala macam jenis umbul umbul kebesaran dan simbol pernikahan. sesampainya di madukoro danyang

drona yang berbicara dan merayu arjuna. maka dengan segala tipu muslihat liciknya ahirnya arjuna tidak

mampu menolak. lamaran hastinapura diterima. lesmana segera bersanding dengan pergiwa. kemudian

utusan ke yodipati dikirim untuk mengirimkan kabar bahwa lamaran gatotkaca ditolak. sedangkan para

rombongan penganten hastina dipersilahkan menginap di madukoro. Di yodipati punakawan datang

membawa kabar penolakan lamaran. werkudoro yang tadinya tampak segar tiba tiba langsung diam dan

tiduran di halaman kadipaten. dan dia berkata jangan diganggu. sementara gatotkaca tampak sangat

kecewa. tapi dihibur oleh para punakawan. dan petruk berjanji akan berusaha mempertemukan cinta

mereka berdua kembali. maka berangkatlah gatotkaca ke madukoro. menyelinap bersama petruk ke

kaputren madukoro tempat pergiwa tinggal. Petruk bertugas menjaga diluar. sementara gatotkaca masuk

ke

dalam

menemui

pergiwa.

pergiwa

menyambut

gatotkaca.

gatotkaca: apakah benar berita bahwa adi pergiwa akan menilah dengan kakang lesmana?

pergiwa:

benar

berita

itu

kakang

gatotkaca

gatotkaca:

apakah

adi

pergiwa

menerima

lamaran

dari

kakang

lesmana?

pergiwa: tentu saja kakang gatotkaca, saya menerima dan siap melayani kakang lesmana sebagai suami.

gatotkaca: kalo begitu aku ikut bahagia, sebagai hadiah terimalah jantungku (gatotkaca menyabut keris),

kemudian

gatotokaca

ditomplok

oleh

pergiwa,

dipeluk

erat.

pergiwa mengaku bahwa dia cuma menguji kecintaan gatotkaca. dan menyatakan bahwa dia menerima

lamaran karena tidak enak dengan ayahnya. akhirnya gatotkaca dan pergiwa pun masuk kamar. Diluar

lesmana datang menyambangi pergiwa calon istrinya. dihadang petruk. dan terjadi perkelahian. lesmana

mengetahui gatotkaca di dalam segera memamanggil para kurawa menyerang istana kaputren. gatotkaca

mengalahkan semua pasukan kurawa termasuk danyang drona. Danyang drona marah dan mengadu pada

harjuna bahwa gatotkaca telah berbuat tak senonoh dengan pergiwa. arjuna marah dan segera menghadapi

arjuna. arjuna mengeluarkan beberapa pusakanya sementara gatotkaca takjim tak melawan sama sekali.

arjuna makin marah mengira diremehkan. petruk sangat kuatir melihat keadaan ini. apalagi arjuna

mengeluarkan cemeti kyai pamuk yg dihantamkan ke tubuh gatotkaca berulang ulang. Petruk lari ke

yodipati. dan membangunkan werkudoro. tapi dibangunkan berulang ulang tak bangun. petruk ingat kisah

kumbokarno yg bisa bangun ketika bulu kakinya dicabut. lalu bulu kaki werkudoro dicabut. dan

werkudoro bangun. diceritakan anaknya sedang dihajar arjuna. werkudoro tenang saja sambil bilang, ah

itu tugas arjuna sebagai paman untuk mengajari gatotkaca tentang kebenaran. petruk jadi bingung, lalu dia

bilang gatotkaca bisa mati, werkudoro bilang biar saja, tidak masalah. Petruk tidak hilang akal

menghadapi ketenangan werkudoro. dia bilang kalo harjuna mengumpat umpat dan menjelekan

werkudoro ketika menyiksa gatotkaca. langsung werkudoro sangking marahnya segera berlari ke

madukoro. petruk ditabrak sampai terjengkang. sampai madukoro werkudoro mengamuk dan menghajar

arjuna sejadi jadinya. gantian arjuna yang harus lari ke rombongan ngamarta yang baru datang. Untung

dilerai kresna dan puntadewa. ahirnya dijelaskan mengapa petruk melakukan kebohongan, semua demi

gatotkaca. dan ahirnya werkudoro berdamai dengan arjuna. dan arjuna menyadari kesalahanya. pergiwa

ditanya apakah bersedia menikah dengan gatotkaca. pergiwa menerima. ahirnya gatotkaca pun menikah

dengan pergiwa. rombongan hastina dihajar werkudoro dan balik dengan tangan hampa ke hastinapura.

catatan: versi diatas adalah versi pernikahan gatotkaca tanpa menyertakan adegan antasena cari bapa.

dalam versi lain diceritakan saat gatotkaca di kaputren muncul antasena yg mencari werkudoro ayahnya.

petruk mengaku jadi werkudoro. dan ahirnya antasena membantu petruk sehingga semua jagoan hastina

kalah. bahkan werkudoro dilawan dan kalah. akhirnya antredja yg menyadarkan adiknya itu bahwa yg

sebenarnya werkudoro itu yg mana. akhirnya dengan gatotkaca nikah dan antasena sujud kepada

werkudoro ayahnya.

Alap-alap Larasati.

Kyai Antagopa yang bertempat tinggal di Widarakandang wilayah Mandura mempunyai anak Rarasati,

serta mempunyai anak angkat Bratajaya dan Narayana. Rarasati telah dewasa dan cantik maka banyak

pria yang melamar. Agar ia mendapatkan suami yang terhormat maka kakaknya, yakni Udawa

mengadakan sayembara perang tanding, ia sendiri jagonya. Banyak para raja dan pangeran yang melamar

termasuk Jayapitana putra mahkota dari Astina yang telah mendapat restu Drestarastra. Ia datang ke

Widarakandang bersama Sengkuni, Dursasana, Jayadrata mencoba memasuki sayembara perang tetapi

Suyudana kalah. Sementara Arjuna diberitahu oleh Abiyasa bahwa Dewi Rarasati itu diperuntukan

kepadanya, oleh karena itu ia diperintah untuk segera datang di Kademangan Wirakandang. Semar

memberikan nasehat agar Rarasati dilarikan tetapi Arjuna menolak dan memutuskan akan mengikuti

sayembara perang.

Setelah tiba di Widarakandang sebenarnya ia merupakan tamu yang ditungu-tunggu, tetapi Arjuna tetap

akan mengadakan perang tanding. Narayana mentertawakan dan mengatakan bahwa sayembara itu hanya

tipu muslihat Udawa agar supaya Dewi Rarasati tidak diambil orang lain, karena menurut dewa, Rarasati

telah ditentukan sebagai istri Permadi. Arjuna tidak senang mendengar keterangan itu dan ia tetap ingin

perang tanding. Sekarang perang tanding dimulai dan akhirnya Udawa kalah dan Udawa me-nyerahkan

Rarasati kepada Arjuna.

Antarejo takon sopo bapa

Di kerajaan Astina Prabu Nagabagendo, Begawan Durna menghadap Prabu Duryudana, oleh Begawan

Durna dikatakan bahwa anak muridnya yang bernama Nagabagendo bersedia menjadi duta untuk

membinasakan Pandawa. Setelah semua mufakat, berangkatlah Begawan Durna diiringi Prabu

Nagabagendo menuju negeri Amarta, namun diperjalanan bertemu dengan R. Sentyaki dan R. Udawa

kesatria dari Dwarawati. Setelah mengetahui bahwa Prabu Nagabagendo akan menjadi perusuh dan

membahayakan keluarga Pandawa, kedua satria tersebut lalu berperang dengan Prabu Nagabagendo dam

kedua satria digertak Prabu Nagabagendo, R. Udawa jatuh dilapangan negeri Amarta dan R. Sentyaki

jatuh di negeri Amarta. Begitu R. Sentyaki mendapat dirinya berada di negeri Amarta, segera melaporkan

akan mara bahaya yang akan menimpa pihak Pandawa, belum selesai melaporkan kejadian yang dialami

pihak Pandawa, datang Prabu Nagabagendo untuk merebut kekuasaan Amarta, maka terjadilah

peperangan dan pihak Pandawa tak ada yang dapat mengalahkan kesaktian Prabu Nagabagendo.

Akhirnya berdasarkan saran Prabu Kresna, bahwa yang dapat mengalahkan Prabu Nagabagendo adalah

kesatria yang berkulit sisik seperti ular, maka R. Angkawijaya ditugaskan untuk mencari satria yang

dimaksud. Sementara itu di sumur Jalatunda, R. Pudak Kencana menghadap kakeknya, Sang Hyang

Hanantaboga untuk diberitahu siapa sebenarnya ayahnya dan dimana berada. Oleh Sang Hyang

Hanantaboga diberitahu bahwa ayahndanya ada di negeri Amarta bersemayam di Kasatrian Jodipati.

Dengan diiringi kakeknya, R. Pudak Kencana pergi menuju kasatrian Jodipati dan di tengah jalan

bertemulah ia dengan R. Angkawijaya yang sedang mencari jago untuk melawan Prabu Nagabagendo.

Sesampainya di negeri Amarta, R. Pudak Kencana bertemu dengan R. Werkudara, namun R. Werkudara

akan mengakui sebagai anaknya bila mampu membinasakan Prabu Nagabagendo. Akhirnya R. Pudak

Kencana berperang melawan Prabu Nagabagendo dan binasa, oleh kakeknya R. Pudak Kencana dapat

dihidupkan kembali dengan air kehidupan yang disebut Tirta Kamandanu serta R. Pudak Kencana diberi

kesaktian Ajian Upas Onto. Dengan kesaktian Upas Onto, R. Pudak Kencana dapat membinasakan Prabu

Nagabagendo dan bala tentara Kurawa dapat dikalahkan oleh Pandawa beserta putra-putranya. Dengan

kematian Prabu Nagabagendo negeri Amarta menjadi aman, tentram dan damai serta R.Pudak Kencana

menjadi bagian keluarga besar Pandawa dan beralih nama R.Antareja.

Antasena Rabi

Prabu Duryudana, Prabu Baladewa, patih Sangkuni dan R.Tirtanata sedang bersidang di Balairung istana

Astina untuk membahas pelaksanaan perkimpoian putra mahkota negeri Astina R. Suryakusuma dengan

Dewi Janaka yang telah dipersuntingkan dan dipertunangkan dengan R. Antasena putra R. Werkudara.

Prabu Duryudana percaya dengan kelihaian Pendeta Durna bahwa pertunangan Dewi Janakawati dengan

R. Antasena dapat digagalkan yang akhirnya Dewi Janakawati akan dipersandingkan dengan R.

Suryakusuma. Prabu Kresna sedang bingung atas permintaan putranya Samba untuk dikimpoikan dengan

Janakawati, mengingat Dewi Janakawati telah dipertunangkan dengan R. Antasena putra Werkudara.

Prabu Dasa Kumara raja negeri Krenda Bumi juga tergila-gila dengan Dewi Janakawati dan ingin

memperistri, maka dengan diikuti adiknya Prabu Dewa Pratala beserta bala tentaranya pergilah Prabu

Dasa Kumara menuju Kasatrian Madukara.

R. Janaka menghadapi banyaknya pelamar yang ingin mempersunting putrinya Dewi Janakawati,

akhirnya diadakan sayembara bertanding, dengan ketentuan siapa yang kalah dipersilahkan pulang

kenegeri asalnya, dan barang siapa berbuat curang dinyatakan pihak yang kalah. Maka R. Samba, R.

Suryakusuma, Prabu Dasa Kumara dan R. Antasena saling berhadapan mengadu kesaktian. Yang

akhirnya R. Antasena memenangkan sayembara untuk memiliki Dewi Janakawati. Melihat R. Antasena

yang tidak berhias dan bersehaja, Dewi Janakawati tidak mau dipersandingkan, akhirnya R. Janaka

dengan senjata Kyai Pamuk menhajar R. Antasena dan keanehan terjadi bahwa R. Antasena tidak binasa

dan luka terkena senjata R. Janaka justru sebaliknya menjadi kesatria yang tampan, gagah dan perkasa

sehingga Dewi Janakawati bersedia dipersandingnya perkimpoian Dewi Janakawati dengan R. Antasena,

Prabu Dewa Pratala mengamuk di kesatrian Madukara sebab kakandanya Prabu Dasa Kumara telah

ditolak lamarannya memperistri Dewi Janakawati tetapi hal ini bisa ditangani oleh putra Pendawa. Prabu

Dewa Pratala yang mengamuk dapat dikalahkan R. Antasena dan melarikan diri sambil menculik Dewi

Pergiwati istri Gatotkaca yang akhirnya terjadilah saling kejar mengejar diangkasa dan Prabu Dewa

Pratala dapat dibinasakan R. Gatotkaca. Dengan binasanya Prabu Dewa Pratala negeri Amarta menjadi

tenang dan R.Suryakusuma beserta pengiringnya kembali ke negeri Astina, Prabu Kresna dan R.Samba

juga kembali ke negeri Dwarawati.

Karna Tanding

Raden Arjuna, satria panengah Pandawa telah berganti busana bagai seorang Raja, mengenakan busana

keprabon. Karena keahlian Prabu Kresna dalam ndandani sang adik ipar Arjuna pada kali ini jika diamati

tidak ada bedanya dengan kakak tertuanya Adipati Karno. Saking miripnya, Arjuna dan Karno ibarat

saudara kembar. Meskipun mereka hanya saudara seibu lain Bapak keduanya bagai pinang dibelah dua.

Bahkan karena begitu miripnya, Dewa Kahyangan Bathara Narada pun tidak mampu membedakan mana

Arjuna yang mana Basukarno kala itu. Kedua senopati perang telah bersiap di kereta perang masing ±

masing. Basukarno dikusiri oleh mertuanya Prabu Salya. Basukarno tahu bahwa Prabu Salya tidak dengan

sepenuh hatinya dalam mengendalikan kereta perangnya. Prabu Salya, juga tidak sepenuh hatinya dalam

mendukung Kurawa dalam perang ini. Hati dan jiwanya berpihak kepada Pandawa meskipun jasadnya di

pihak Kurawa. Karena putri ± putrinya istri Duryudono dan Karno, maka dengan keterpaksaan yang

dipaksakan Prabu Salya memihak Kurawa pada perang besar ini. Meskipun demikian, berulang kali

sebelum perang terjadi Prabu Salya membujuk Duryudono agar perang ini dibatalkan. Bahkan dengan

memberikan Kerajaan Mandaraka kepada Duryudono pun, Prabu Salya merelakan asal perang ini tidak

terjadi. Namun tekat dan kemauan Duryodono tidak dapat dibelokkan barang sejengkal pun. Tekad

Duryudono yang keras dan kaku ini juga karena dukungan Adipati Karno yang menghendaki agar perang

tetap dilaksanakan. Adipati Karno, berkepentingan dengan kelanjutan perang ini demi mendapatkan

media balas budi kepada Duryudono dan kurawa yang telah mengangkat derajatnya dan memberikan

kedudukan yang terhormat sebagai Adipati Awangga yang masih bawahan Hastina Pura. Maka latar

belakang ini pula yang menambah kebencian Salya kepada menantunya, Adipati Karno.

Di seberang sana, Kresna telah bersiap sebagai kusir Arjuna. Kereta Kerajaan Dwarapati Kyai Jaladara

telah siap menunaikan tugas suci. Delapan Kuda penariknya bukanlah turangga sewajarnya. Kedelapan

kuda itu adalah kuda ± kuda pilihan Dewa Wisnu yang dikirim dari Kahyangan untuk melayani Sri

Kresna. Turangga ± turangga itu telah mengerti kemauan dari tuannya, bahkan jika tanpa menggunakan

isyarat tali kekang pun. Berbagai medan laga telah dilalui dengan kemengan ± demi kemenangan. Bahkan

saat Raden Narayana, Kresna di waktu muda, menaklukkan Kerajaan Dwarawati ketika itu. Atas

permintaan Prabu Kresna, Arjuna menghampiri dan menemui Adipati Karno untuk mengaturkan sembah

dan hormatnya. Dengan menahan tangis sesenggukan Arjuna menghampiri kakak tertuanya ´Kakang

Karno salam hormat saya untuk Kakanda. Kakang, jangan dikira saya mendatangi Kakang ini untuk

mengaturkan tantangan perang. Kakang, dengan segala hormat, marilah Kakang saya iringkan ke

perkemahan Pandawa kita berkumpul dengan saudara pandawa yang lain layaknya saudara Kakang«´

Adipati Karno ´Aduh adikku, Arjuna«Kakang rasakan kok kamu seperti anak kecil yang kehilangan

mainan. Menahan tangis sesenggukkan, karena perbuatan sendiri. Adikku yang bagus rupanya, tinggi

kesaktiannya, mulya budi pekertinya. Sudah berapa kali kalian dan Kakang Prabu Kresna membujuk

Kakang untuk meninggalkan Astina dan bersatu dengan kalian Para Pandawa. Aduh..adikku, jikalau aku

mau mengikuti ajakan dan permintaan itu, Kakang tidak ada bedanya dengan burung dalam sangkar emas.

Kelihatannya enak, kelihatannya mulia, kelihatannya nyaman. Tapi adikku, kalau begitu, sejatinya

Kakang ini adalah seorang pengecut, seseorang yang tidak dapat memegang omongan dan amanah yang

telah diniatinya sendiri. Adikku«bukan dengan menyenangkan jasad dan jasmani Kakang jikalau kalian

berkehendak membantu Kakang mencari kebahagiaan sejati. Adikku..Arjuna, jalan sebenarnya untuk

mendapatkan kebahagiaan sejatiku adalah dengan mengantarkan kematianku di tangan kalian, sebagai

satria sejati yang memegang komitmen dan amanah yang Kakang menjadi tanggung jawab Kakang. Oleh

karena itu Adikku, ayo kita mulai perang tanding ini layaknya senopati perang yang menunaikan tugas

dan tanggung jawab yang sejati. Ayo yayi, perlihatkan keprigelanmu, sampai sejauh mana keprawiranmu,

keluarkan semua kesaktinmu. Antarkan kakangmu ini memenuhi darma kesatriaannya. Lalu sesudah itu,

mohon kanlah pamit Kakang kepada ibunda Dewi Kunti. Mohonkan maaf kepadanya, dari bayi sampai

tua seperti ini belum pernah sekalipun mampu membuatnya mukti bahagia meskipun hanya sejengkal

saja.´ ´Aduh Kakang Karno yang hamba sayangi, adinda mohon maaf atas segala kesalahan. Silakan

Kakang kita mulai perang tanding ini´

Setelah saling hormat antara keduanya, perang tanding kedua senopati perang yang mewakili kepentingan

berbeda namun demi prinsip yang sama secara substansi itu dimulai. Keduanya mengerahkan segala

kemampuan perang darat yang dimiliki. Sekian lama adu jurus kanuragan ini berlangsung. Saling

menerjang, saling menghindar dan berkelebat ibarat burung Nasar yang menyasar mangsanya di daratan.

Bagi siapa yang melihat, keduanya sama ± sama prigel, keduanya sama ± sama tangkas dan keduanya

sama ± sama sakti. Kelebat mereka demikian cepat seperti kilat. Ribuan prajurit kedua pihak

menghentikan pertempuran demi melihat hebatnya adegan perang kedua satria bersaudara ini. Namun

bagi mereka yang melihat, kabur sama sekali tidak mampu membedakan yang mana Arjuna dan yang

mana Karno. Keduanya mirip, keduanya menggunakan busana yang sama. Perawakan dan pakulitannya

sama. Hanya desis suara masing ± masing yang sesekali terucap yang membedakan keduanya.

Perkelahian tangan kosong ini telah berlangsung sampai matahari sampai di tengah kubah langit. Tidak

ada yang kalah tidak ada yang unggul sampai sejauh ini. Keduanya menyerang dengan sama baik,

keduanya menghindar dengan sama sempurna. Keduanya menghunus keris masing ± masing. Pertarungan

tangan kosong dilanjutkan dengan pertarungan dengan senjata keris. Karno memulai dengan menerjang

mengarahkan keris ke ulu hati Arjuna. Secepat kilat arjuna menghindar melompat vertikal layaknya

belalang menghindar dari sergapan burung pemangsa, Keris Adipati Karno menerjang sasaran hampa,

berkelebat berkilat diterpa sinar panas matahari tengah hari. Sejurus kemudian posisi mereka saling

bertukar, Arjuna kini menyerang, leher Karno menjadi incaran. Demikian cepat tusukan ini menerobos

udara panas menerjang leher Adipati Karno. Namun Adipati Karno tidak kalah cepat dalam berkelit,

digesernya leher dan kepalanya menyamping kiri. Tidak hanya menghindar yang dilakukan,

penyeranganpun dapat dilakukannya. Sambil menyempingkan badan dan kepalanya ke kiri, tangan

kirinya mengirimkan pukulan ke dan mengenai bahu kanan Arjuna. Sedikit terhuyung Arjuna saat

mendaratkan kakinya di tanah, meskipun tidak sampai membuatnya roboh. Adipati Karno tersenyum

kecil, melihat adiknnya terhuyung. Kini keduanya saling menerjang dengan keris terhunus di tangan.

Masing ± masing mencari sasaran yang mematikan sekaligus menghindar dari sergapan lawan. Adu

ketangkasan keris ini berlangsung sampai matahari condong ke barat, hampir mencapai paraduannya di

akhir hari. Tidak ada yang cedera dan mampu mencedarai, tidak ada yang kalah dan mampu

mengalahkan.

Keduanya memutuskan perang tanding dilanjutkan dari atas kereta. Arjuna sekali melompat sudah sampai

pada kereta Jaladara. Demikian juga Karno, sekali langkah dalam sekejap sudah bersiap di kereta

perangnya. Di kereta perang Karno, Karno meminta nasehat sang mertua ´Rama Prabu, saya tidak dapat

mengalahkan Arjuna saat perang di daratan Rama´ ´Karno, aku ini hanyalah Kusir, tanggung jawabku

hanyalah mengendalikan kuda. Asal kudanya tidak bertingkah tugasku selesai.´ ´Iya benar Romo, namun

putra paduka ini mohon pengayoman Rama Prabu Salya´ ´E lah, apa kamu lupa kondangnya Raja

Awangga itu kalau perang menerapkan kesaktian aji Naraca Bala´ ´Terimakasih Rama´

Adipati Karna menyiapkan anak panah dengan ajian Naraca Bala, begitu dilepaskan dari busurnya

terjadilah hujan panah yang mengerikan. Kyai Naraca Bala yang telah ditumpangkan pada anak panah

menyebabkan anak panah terlepas dan menjadi hujan ribuan anak panah di udara. Anak panah itu

berkilatan seperti kilat menjelang hujan turun di musim pancaroba. Tidak cukup itu, ribuan anak panah itu

juga mengandung racun mematikan. Jangankan menghujam ke tubuh, hanya menyenggol kulit pun dapat

mengakibatkan kemaitan. Tidak heran para prajurit lari tunggang langgang menyelamatkan diri dari hujan

anak panah itu. Pun demikian ratusan prajurit menemui ajal tanpa mampu menyelematkan diri. Namun di

sisi lain, Arjuna adalah satria kinasih Dewata dengan kesaktian tanpa tanding. Meski terkena ratusan anak

panah Naraca Bala, tiada gores sedikitpun kulit sang Panengah Pandawa. Baginya ratusan anak panak

yang menghujam ke tubuhnya tiada beda dirasakan layaknya digiit semut hitam. Penasaran Adipati Karno

melihat kesaktiannya tidak berarti apa ± apa bagi Arjuna, maka dihunusnya Anak Panak Kunta Drewasa

pemberian Dewa Surya. Jagad sudah mendengar bagaimana kesaktian anak panah ini, jangankan tubuh

manusia gunung pun akan hancur lebur jika terkena anak panah ini. Secepat kilat anak panah Kunta

Drewasa sudah terpasangkan di busurnya. Seperti halnya Arjuna, keahlian Karno dalam memanah tiada

tanding di dunia ini. Jangankan sasaran diam, nyamuk yang terbang pun dapat dipanah dengan tepat oleh

Sang Adipati. Prabu Salya, hatta melihat anak panah sudah siap dilepaskan dan dapat dipastikan tidak

akan bergeser seujung rambutpun dari sasaran leher Arjuna, timbul rasa dengki dan serik nya kepada

Karno. Prabu Salya tidak rela anak ± anaknya Pandawa kalah dalam perang ini. Maka disentaknya kendali

kerata perang bebarengan dengan dilepaskannya Kunta Drewasa, akibatnya kureta perang mbandang

tidak terkendali. Tangan Karno pun goyah, dan lepasnya anak panah meleset dari sasaran. Di sisi lain,

Kresna adalah kusir bukan sembarang Kusir. Penghlihatannya sangat presisi, dia tahu apa yang akan

dilepaskan oleh Karno. Dia tahu kesaktian dan apa yang akan terjadi kepada Arjuna jika Kunta Drewasa

tepat mengenai sasarannya. Maka dihentaknya kereta kuda dengan kaki dan kesaktannya. Roda kereta

amblas dua jengkal menghujam bumi. Anak panah Kunta Drewasa terlepas, namun meleset dari leher dan

mengenai gelung rambut Arjuna. Jebolnya gelung rambut Arjuna disertai dengan lepasnya topong

keprabon yang dikenakannya.

Malu Arjuna karena gelung rambutnya ambrol dan topongnya terlepas. Dia juga was ± was jangan ±

jangan ini pertanda kekalahannya dalam perang tanding ini. Namun Kresna sekali lagi, bukan hanya

pengatur strategi dan penasehat perang bagi Pandawa. Dia juga adalah pamong dan guru spiritual para

Satria Pandawa. Dihiburnya Arjuna bahwa ini hanyalah risiko perang. Disambungnyanya rambut Arjuna

dengan rambutnya sendiri. Digantikannya topong harjuna dengan yang lebih bagus.

´Arjuna«,kelihatannya ini sudah sampai waktunya Adi Prabu Karno menyelesaikan darma baktinya.

Semoga Tuhan menerima bakti dan darmanya adikku. Siapkanlah anak panah pasopati yang busurnya

berupa bulan tanggal muda itu. Kiranya itu yang akan menjadi sarana menghantarkan Kakangmu Karno

menuju kebahagiaan sejatinya´ ´Sendiko dawuh Kakanga Prabu, mohon do¶a restu Kakang Prabu´

Arjuna menghunus Panah Kyai Pasopati yang anak panahnya berbentuk bulan sabit. Ketajaman bulan

sabit ini tidak ada makhuk jagad yang meragukannya. Galih kayu jati terbaik di jagad pun akan teriris

layaknya kue lapis diterjang pisau cukur. Arjuna adalah satria dengan tingkat keahlilan memanah

mendekati sempurna. Ibaratnya, Arjuna mampu memanah sasaran dengan membelakangi sasaran itu. Dia

membidik bukan dengan mata lahirnya namun dengan mata batinnya. Oleh karena itu, meski matanya

ditutup rapat dengan kain hitam berlipat ± lipat, dia akan mampu mengenai sasaran dengan tepat.

Sekarang anak panah telah siap di busurnya. Ditariknya tali busur, dikerahkan segala konsentrasinya,

dibidiknya leher Sang Kakak, Adipati Karno. Dalam konsentrasi yang dalam ini, sebentar ± sebentar dia

menarik napas. Sebentar ± sebentar menata hati dan pikirannya. Saat ini yang dituju anak panah adalah

leher Adipati Karno. Saudara sekandung lain bapak. Bagaimanapun, susunan tulang, urat, darah dan leher

itu dari benih yang sama dengan lehernya. Darah yang mengalir pada Karno adalah dari sumber yang

sama dengan darahnya. Putih tulang leher itu dari jenis yang sama dengan putih tulangnya. Urat leher itu,

tiada beda dengan bibit pada urat lehernya. Namun, tugas adalah tugas. Darma adalah darma yang harus

dilaksanakan dengan sepenuh hati. Dibulatkan tekatnya, dimantapkan hatinya bahwa bukan karena ingin

menang dan ingin mengalahkan dia melakukan ini. Ditetapkannya hatinya, inilah cara yang dikehandaki

sang Kakak untuk membuatnya bahagia. Dalam hati dia berdoa kepada Tuhan Yang Maha tunggal, agar

kiranya mengampuni kesalahannya ini.

Di seberang sana, Adipati Karno tahu apa yang akan dilakukan adiknya. Dia sudah dapat mengira apa

yang akan terjadi padanya. Kesaktian dan ketajaman pasopati, sudah tidak perlu diragukan lagi. Kulit dan

dagingnya tidak akan mampu melawannya. Namun, tidak ada rasa takut dan khawatir yang terlihat pada

ronanya menghadapi akhir hidupnya ini. Yang adalah senyum kebahagiaan, karena adik yang dicintainya

yang akan mengantarkannya menemuai kebahagian sejati. Sebaliknya bukan rona takut dan pucat

terpancar pada wajahnya, namun senyum manis dan bersinar wajah yang terlihat. Semakin kentara

indahnya wajah sang Adipati Karno. Sang Kusir, Prabu Salya melihat apa yang akan dilakukan Arjuna.

Ketakutan dan khawatir nampak pada wajah dan sikapnya. Anak panah dilepaskan dari busurnya oleh

Arjuna. ´Ssseeeettttttt´, begitu suaranya tenang setenang Karno dalam menerimanya. Lepasnya panah

seperti kilatan petir dari kereta Jaladara. Secepat dia mampu, Prabu Salya melompat dari kereta

mengindari bahaya. Anak panah tepat mengenai leher Adipati Karno, putus seketika. Kepala

menggelinding ke tanah, badanya menyampir di kereta. Adipati Karno telah sampai pada garis akhir

kesatraiannya. Dia telah mendapatkan apa yang diharapkannya. Kematian yang terhormat dalam

menegakkan darma bakti satria. Basukarno adalah satria sejatinya satria. Duka menyelimuti Kurusestra

dari pihak Pandawa. Lagi mereka kehilangan saudara yang dicintainya. Meskipun Karno di pihak musuh,

sejatinya dia adalah saudara kandung mereka. Tidak terkira bagaimana pedih dan perih yang dirasakan

Dewi Kunti. Semenjak lahir, anak sulungnya itu telah dibuangnya ke Sungai Gangga. Jangankan

memelihara dan membesarkan, menyusui dan membelai bayinyapun tidak pernah dirasakannya. Belasan

tahun dia tidak pernah mendengar kabar lagi mengenai anaknya. Setelah sekian belas tahun tidak ada

khabar berita, begitu berjumpa anaknya telah memihak musuh Pandawa, anak ± anaknya yang lain.

Sekarang saat perang ini terjadi, putra bungsunya telah menjadi bangkai di tangan Arjuna anaknya yang

lain.

Arjuna bertapa di gunung Indrakila

Bajra adalah tempat liburan yang menyenangkan. Selain bisa bermain bebas di sawah, tiap malam selalu

ada acara bercerita dari Ratu Kompyang. Perlu diketahui, kita ini dari keluarga Brahmana. Karena itulah

nama papa IBM atau Ida Bagus Made Jaya Martha. Ratu Kompyang adalah pedanda atau pemimpin

upacara agama Hindu. Ratu kompyang orangnya pendiam, jarang bicara, setiap hari rajin membaca dan

menulis di buku atau kadang-kadang di daun lontar. Banyak sisia ± atau orang-orang yang datang minta

di selesaikan upacaranya. Biasanya mereka di terima di Bale Bertiang Sembilan yang ada di tengah-

tengah halaman rumah. Semuanya duduk bersila di lantai balai-balai tersebut, berdialog kebanyakan

masalah budaya dan agama. Terkadang-kadang papa disuruh bantuin membersihkan lontar menggunakan

buah kemiri dibakar lalu ditumbuk. Minyaknya di oleskan ke permukaan daun lontar, sehingga torehan di

atas daun lontar menjadi jelas dan juga lontar menjadi lemas tidak mudah patah.Akibat hobi

membersihkan lontar waktu kecil, maka papa tertarik mengerjakan skripsi sarjana S1 waktu di Teknik

Informatika ITB dengan judul Teks Editor Berhuruf Bali.

Pada malam hari, acara menarik lain dengan Ratu Kompyang adalah bercerita. Acara ini berlangsung

sampai kami mengantuk. Ceritanya macem-macem dan berganti-ganti setiap malam. Kebanyakan

ceritanya dari Mahabrata atau Ramayana. Tapi ada satu cerita yang diceritakan berulang kali, dan

menurut saya paling seru dan paling banyak di minati. Yaitu Arjuan Bertapa di Gunung Indrakila. Alkisah

sang arjuna di suruh bertapa di puncak gunung Indrakila. Dia bertapa untuk mendapatkan anugrah dari

Hyang Widhi, agar dapat digunakan untuk mengarungi bahtera kehidupan. Dalam perjalanan, di kaki

gunung indrakila, arjuna di hadang oleh babi hutan. Babi hutan itu menyeruduk arjuna, menanduk,

menyepak sehingga kewalahan. Kemana arjuna lari tetap dikejar. Akhirnya Sang Arjuna melompat agak

jauh, memasang anak panah pada gendawanya, dan membidik tepat ke perut babi itu. Ceeep «. babi itu

tewas seketika. Setelah mengalahkan babi, Arjuna melanjutkan perjalanan mendaki gunung itu. Dalam

pendakian, setelah menyeberang sungai nan jernih dan indah, tiba-tiba Arjuan dikejutkan oleh ular

berkepala dua yang menghadang perjalanannya. Singkat cerita, dia diserang, dipatuk di lilit. Ekor ular di

pegang Arjuna, kepalanya mematuk dia. Kepala yang satu di pegang, kepala lain menubruk dari belakang.

Arjuna kerepotan, kembali dia melompat menjauh, sambil merapal mantra memasang dua anak panah

sekaligus pada busurnya. Anak panah melesat, langsung menembus dua kepala yang dimiliki oleh si ular.

Ular lemas tergeletak tak berdaya. Ular telah dikalahkan, arjuna beristirahat lalu mandi di tengah telaga

nan jernih. Sehabis mandi dia tersentak melihat Goa di tepi telaga. Lalu dia melewati goa itu, yang

ternyata rumah seorang raksasa sakti mandraguna. Sang raksasa bangun mencium bau adanya manusia.

Dan dia marah, karena Arjuna telah berani mandi di telaga miliknya. Arjunapun marah mendengar kata-

kata kasar dari raksasa lalu menantangnya untuk berkelahi. Sang Raksasa wajahnya merah, rambutnya

gimbal, mata melotot dan taringnya tajam. Mereka sama saktinya. Masalahnya adalah, ketika raksasa itu

dipukul oleh arjuna, bukannya tambah loyo, bahkan tambah kuat. Di panah tidak mempan. Di pukul pake

batang kayu, malah tambah kuat dan garang. Arjuna kehilangan akal. Lalu dia melompat ke belakang,

lalu dia duduk mencakupkan tangan, hening, memusatkan pikiran dan pasrah pada kehendak Sang

Pencipta. Anehnya raksasa itu makin kecil, kecil, kecil akhirnya hilang.

Perjalanan dilanjutkan sampai ke puncak gunung Indrakila. Di sanalah Arjuna bertapa dengan khusus,

memohon berkah dari Hyang Manon. Di tengah upaya tapanya, datanglah goodaan bidadari supraba yang

diutus oleh Bhatara Guru. Arjuna tak tergoda, akhirnya Sang Hyang Siwa berkenan datang ke hadapan

Arjuna dan memberikan panah yang disebut Panah Pasopati. Panah Pasopati itu adalah senjata ampuh

arjuna, ketika menjadi panglima saat perang Bharatayudha. Tancep Kayon. Cucu-cucu pada bubar. Cerita

ini sangat membekas di hati papa. Dan ketika sudah besar papa renungkan cerita itu, ternyata ada makna

yang dalam di balik cerita seru tadi. Inilah interpretasi papa : Babi adalah lambang keserakahan. Serakah

adalah sifat umum manusia. Manusia yang berhati serakah, diberi seluruh kekayaan bumipun tidak

merasa puas. Ingat film James Bond ± World is not enough. Karena itulah, bekal untuk mengarungi

kehidupan adalah kemampuan kita untuk mengendalikan atau bahkan mematikan keserakahan itu.

Berikutnya adalah ular berkepala dua, yang jadi simbul dengki iri hati. Makanya orang yang licik itu,

terkadang disebut ular berkepala dua. Dalam melaksanakan hidup, kita terkadang memiliki rasa iri hati

yang semuanya itu berasal dari pikiran kita. Atau juga kita terkadang menghadapi orang dengki iri hati.

Orang iri ini sangat berbahaya, mulutnya manis, tapi bisa nikam dari belakang. Karena itulah, pikiran iri

hati harus di-´bunuh´ dan orang dengkipun harus ³dibunuh´ pikiran dengkinya. Setelah masalah iri hati,

berikutnya raksasa yang menjadi simbol amarah. Raksasa berwajah merah rambut gimbal taring tajam

adalah lambang kemarahan. Kemarahan kalau dilawan dengan marah, bagaikan api disiram bensin.

Kemarahan akan padam dengan sendirinya jika dilawan dengan hening, mundur selangkah lalu pasrah.

Yang terakhir, godaan di puncak gunung adalah nafsu birahi. Begitu banyak orang yang sedang berada di

puncak kekuasaannya, tergelincir karena nafsu birahi. Berat sekali cobaan yang dihadapi oleh Arjuna

untuk mendapatkan panah pasopati. Cerita anak-anak yang seru itu, ternyata mengandung banyak arti

yang bisa memberikan saya penyuluh hidup bertahun-tahun kemudian. Kini Ratu Kompyang sudah

meninggal, namun cerita Arjuna Bertapa di Gunung Indrakila, menjadi kenangan indah yang tak

terlupakan. Papa berharap, semoga papa bisa seperti Ratu Kompyang, bercerita lucu dan seru, namun

tidak meninggalkan nilai-nilai moral yang bisa digunakan sebagai pegangan hidup.

Arjuna Papa

Di istana Astina, dihadapan patih Sakuni, prabu Suyudana berkata, ³Pamanda patih Sakuni, sesudahnya

adinda Arjuna mati diracun, iba rasa hatiku, sekarang kuperintahkan, kepada ratu sabrang prabu

Jayasutikna hendaknya dapat memusnahkan para Pandawa, jika terlaksana, akan kupenuhi permintaannya

meminang ananda Dewi Lesmanawati´, berangkatlah patih Sakuni, resi Durna, dan para Kurawa untuk

menyampaikan pesan prabu Suyudana. Hyang Baruna beserta puterinya retna Suyakti, iba rasa hatinya

melihat Arjuna terapung-apung disamudera, berkatalah, ³Wahai, raden Arjuna, kusembuhkan raden dari

perbuatan para Kurawa yang meracuni raden, baiklah raden segera berangkat ke Sigrangga. Adapun

putramu Abimanyu dan Irawan, telah berada di Astina´, sembuhlah raden Arjuna dari keracunannya,

sambil mengucapkan terimaksih, berangkatlah Arjuna ke gua Srigangga.

Pula telah berkumpul, Sri Kresna dengan prabu Yudistira, Nakula, Sadewa dan Werkudara, kesemuanya

akan menuju ke istana Astina, tak lain akan mencari Arjuna, demikian pula Gatutkaca, Anantasena,

kesemuanya telah berangkat untuk mencari pamandanya Arjuna. Dewi Banowati terperanjat hatinya

melihat raden Arjuna sudah ada di kamarnya, setellah berbincang-bincang, masuklah raden Abimanyu

dan Irawan, dengan isyarat darii ayahandanya, diseyogyakan menuju ke ruangan lain, lajulah raden

Abimanyu ke gupit Mandragini, dan bertemulah dengan puteri ratu sabrang, Dewi Sutiknawati. Para

inang pengasuh dari puteri tersebut, sangat terheran-heran melihat tindak-tanduk sang puteri Dewi

Sutiknawati dan raden Abimanyu, takut jika dipersalahkan oleh prabu Jayasutikna, lajulah para inang

untuk melapor. Sri Suyudana, prabu Jayasutikna dan para Kurawa lengkap di istana sedang mereka

berbincang-bincang, masuklah inang Dewi Sutiknawati, melaporkan, bahwasanya di gupit Mandragini

terdapat pencuri, tak ada lain, mencuri asmara Dewi Sutiknawati. Marahlah Suyudana, demikian pula

Jayasutikna, majulah mereka dengan maksud akan menangkap si pencuri, ikut serta pula para Kurawa

dibelakangnya. Perang terjadi sangat ramai, Prabu Jayasutikna akhirnya mati terbunuh oleh raden Arjuna,

Suyudana akhirnya meminta maaf, Pandawa bersedia pula memaafkannya. Prabu Duryudana, Druna dan

Patih Sengkuni membuat kesepakatan akan mengundang Pandawa ke Astina untuk jamuan makan.

Namun dibalik itu sebenarnya Pandawa akan diracuni agar mati semua. Pandawa datang di Astina

memenuhi undangan serta tidak menduga akan adanya akal busuk yang dirancang Sengkuni. Para Kurawa

gembira akan kedatangan Pandawa dan setelah menyantap makanan para Pandawa jatuh ke tanah dan

mati.

Suyudana memerintahkan agar jenazah Bima dibuang ke sumur Jalatunda, lalu jenazah Arjuna dilempar

ke tengah samudera, sedangkan jenazah Yudistira, Nakula, dan Sadewa dimasukkan ke Gua Sigrangga.

Jenazah Arjuna yang terapung-apung di lautan terlihat oleh Sang Hyang Baruna dan putrinya yakni

Suyakti (istri Arjuna) pada waktu Arjuna membunuh raja raksasa Kala Roga dari Kerajaan Guadasar.

Sebagai balas jasa maka Arjuna dihidupkan kembali oleh Sang Hyang Baruna dan diperintah untuk pergi

ke Gua Sigrangga. Arjuna segera menuju ke Gua Sigrangga dan di sana bertemu dengan Dewi Suparti

istri Sang Hyang Antaboga yang sedang menunggui jenazah Yudistira, Nakula, dan Sadewa. Arjuna

meminta agar saudara-saudaranya dihidupkan kembali dan permohonan itu dikabulkan. Tidak lama Bima

juga datang di tempat itu setelah dihidupkan kembali oleh Hyang Antaboga pada waktu ia berada di

sumur Jalatunda.

Kala Benda Gugur

Kala bendana adalah anak terahir dr prabu tremboko yaitu penguasa pringgondani yang gugur di tangan

prabu pandu dewanata dari hastinapura. kala bendana juga adik dari arimbi istri dari bima yang

melahirkan gatotkaca. bentuk kala bendana adalah raksasa cilik atau cebol. dimana memiliki kelebihan

dan keutamaan tidak bisa berbohong dan cenderung membela kebenaran. pada kisah pemberontakan

brajadenta, kala bendana menjadi temens etia gatotkaca dan brajamusti. dimana kala bendana sendiri

datang bersama brajamusti untuk mengingatkan bahwa tindakan saudaranya itu merebut tahta

pringgondani

dari

keponakanya

gatotkaca

adalah

tidak

syah.

Kala bendana dikisahkan memiliki akhir hidup yang tragis. saat itu negeri plangkawati sedang dilanda

kesedihan karena sang pangeran abimanyu penguasa kesatrian plangkawati menghilang. istrinya siti

sundari putri dari dwarawati merasa sangat sedih. saat itu yang menemani adalah gatotkaca dan kala

bendana. merasa ditangisi setiap hari oleh siti sundari sambil curhat soal hilangnya abimanyu membuat

kala bendana sangat sedih dan pamit mencariw arta atau kabar. maka berjalanlah kala bendana mencari

kabar dimana angkawijaya atau abimanyu berada. Di negeri mastsyapati ternyata abimanyu baru aja

menikah dengan utari yang kalo diurut umurnya jauh lebih tua dan bisa disebut neneknya. tetapi karena

dewi utari jago spiritual maka disebutkan sang dewi awet muda. dan menurut hyang bhatara kresna

sendiri, wiji mahkota para raja hanya bisa disemai di rahim dewi utari. ketika sedang berkasih kasih

datanglah kala bendana. sampe disana karena kala bendana tak bisa berbohong dia hampir saja

membocorkan bahwa abimanyu sudah punya istri. tapi oleh abimanyu kala bendana diusir dengan ditusuk

keris, sampe ahirnya kala bendana pun lari pulang ke plangkawati. Saat itulah utari curiga dan berkata

pada abimanyu. jika abimanyu sudah punya garwa pun akan diterima sebagai saudara oleh utari. tapi

dasar abimanyu malah ebrbohong bahkan bersumpah akan mati dikeroyok perawan 1000 jika bohong,

tapi kepleset lidahnya jadi bersumpah akan mati dikeroyok panah seribu. dan jagad nyakseni, jagad

mendengar itulah karma abimanyu. mati dalam perang bharata yudha dengan keadaan dikeroyok panah

1000 sampe tak ada sisa di tubuhnya yang tak kemasukan panah. hati hatilah dalam bersumpah!! jangan

lalai terutama dalam keadaan bergembira.

kala bendana pulang ke plangkawati. disana gatotkaca menemani siti sundari. siti sundari bergembira

menyambut kala bendana dan menanyakan bagaimana kabar abimanyu. kala bendana aka mengucap tapi

di halang halangi oleh gatotkaca dengan kasar. tapi kala bendana yang tak bisa berbohong merasa bahwa

kebenaran harus diungkapkan apapun resikonya. ketika kala bendana mengucap abimanyu ada di negera

matsyapati langsung gatotkaca karena kesalnya mengayunkan tanganya ke kepala kala bendana. tak

dinyana tak diduga, kepala pamanya itu langsung hancur berantakan. tak sadar gatotkaca sudah

melakukan pembunuhan kejam kepada pamanya sendiri. Saat itu kala bendana badanya moksa, hilang

mayatnya bersama rohnya. terdengar suara ³anaku gatotkaca, aku sebenarnya sudah masuk sorga. tapi aku

ga rela jika aku masuk sendirian. karena cintaku padamu maka aku akan tunggu engkau gugur di perang

bharatayudha. dan kita akan masuk ke sorga bersama´. gatotkaca sangat menyesal dengan kejadian ini.

dan pada perang bharata yudha, kala bendana membawa konta yang dilontarkan oleh adipati karna untuk

masuk menembus tubuh gatotkaca. inilah pembalasan karma gatotkaca terhadap pembunuhan pamanya

kala

bendana.dan

ahirnya

paman

anak

ini

masuk

sorga

bersamaan.

djogonegoro

wrote

on

Jan

16

ndilalah, abimanyu kliru mengucap, krn grogi selingkuhnya.. sehingga dlm baratayuda dia mati terpanah

1000 panah.. bukankah kisah sdh tertulis sbl terjadi.. bahkan sbl lahirpun sdh ada kisahnya.. apakah kalau

tidak sumpah, panah 1000 batal tertancap.. Begitu pula gatotkaca, ndilalah sayang banget kpd abimanyu,

berupaya menutupi kebohongan adiknya.. dia pukul pamannya.. mati.. dan papamnya µmenjemput

gatotkaca sat baratyuda.. dan itu disebut adil.. sing nandur bakal ngundhuh..

Bima dan Dewaruci (Serat Dewa Ruci)

Kisah Bima mencari tirta pawitra dalam cerita Dewaruci secara filosofis melambangkan bagaimana

manusia harus menjalani perjalanan batin guna menemukan identitas dirinya atau pencarian sangkan

paraning dumadi µasal dan tujuan hidup manusia¶ atau manunggaling kawula Gusti. Dalam kisah ini

termuat amanat ajaran konsepsi manusia, konsepsi Tuhan, dan amanat bagaimana manusia kembali

menuju Tuhannya. Konsepsi manusia disebutkan bahwa ia berasal dari Tuhan dan akan kembali kepada-

Nya. Konsepsi Tuhan disebutkan bahwa Ia Yang Awal dan Yang Akhir, Hidup dan Yang Menghidupkan,

Mahatahu, dan Mahabesar. Ia tan kena kinaya ngapa µtidak dapat dikatakan dengan apa pun¶. Jalan

menuju Tuhan yang ditempuh oleh Bima dalam menuju manusia sempurna disebutkan melalui empat

tahap, yaitu: syariat, tarekat, hakikat, dan makrifat (Jawa sembah raga, sembah cipta, sembah jiwa, dan

sembah rasa).

PENDAHULUAN

Kisah tokoh utama Bima dalam menuju manusia sempurna dalam teks wayang Dewaruci secara filosofis

melambangkan bagaimana manusia harus mengalami perjalanan batin untuk menemukan identitas

dirinya. Peursen (1976:68) menamakan proses ini sebagai ³identifikasi diri´, sedangkan Frans Dahler dan

Julius Chandra menyebutnya dengan proses ³individuasi´ (1984:128). Proses pencarian untuk

menemukan identitas diri ini sesuai dengan hadis nabi yang berbunyi Man µarafa nafsahu faqad rabbahu.

µBarang siapa mengenal dirinya niscaya dia akan mengenal Tuhannya¶. Hal ini dalam cerita Dewaruci

tersurat pada pupuh V Dhandhanggula bait 49: Telas wulangnya Sang Dewaruci, Wrekudara ing tyas

datan kewran, wus wruh mring gamane dhewe, ǦHabis wejangan Sang Dewruci. Wrekudara dalam hati

tidak ragu sudah tahu terhadap jalan dirinya « Bagian-bagian cerita Dewaruci yang secara filosofis

berkaitan dengan tahap syariat adalah sebagai berikut.

Nilai Filosofis Bima Taat kepada Guru

Tokoh Bima dalam cerita Dewaruci diamanatkan bahwa sebagai murid ia demikian taat. Sewaktu ia

dicegah oleh saudara-saudaranya agar tidak menjalankan perintah gurunya, Pendeta Durna, ia tidak

menghiraukan. Ia segera pergi meninggalkan saudara-saudaranya di kerajaan guna mencari tirta pawitra.

Taat menjalankan perintah guru secara filosofis adalah sebagai realisasi salah satu tahap syariat.

Nilai Filosofis Bima Hormat kepada Guru

Selain taat tokoh Bima juga sangat hormat kepada gurunya. Ia selalu bersembah bakti kepada gurunya.

Dalam berkomunikasi dengan kedua gurunya, Pendeta Durna dan Dewaruci, ia selalu menggunakan

ragam Krama. Pernyataan rasa hormat dengan bersembah bakti dan penggunaaan ragam Krama kepada

gurunya ini secara filosofis merupakan realisasi sebagian laku syariat.

Nilai Filosofis Perjalanan Bima yang Berkaitan dengan Tarekat

Tarekat (Jawa laku budi, sembah cipta) adalah tahap perjalanan menuju manusia sempurna yang lebih

maju. Dalam tahap ini kesadaran hakikat tingkah laku dan amalan-amalan badaniah pada tahap pertama

diinsyafi lebih dalam dan ditingkatkan (Mulder, 1983:24). Amalan yang dilakukan pada tahap ini lebih

banyak menyangkut hubungan dengan Tuhan daripada hubungan manusia dengan manusia dan hubungan

manusia dengan lingkungan alam sekitarnya. Pada tingkatan ini penempuh hidup menuju manusia

sempurna akan menyesali terhadap segala dosa yang dilakukan, melepaskan segala pekerjaan yang

maksiat, dan bertobat. Kepada gurunya ia berserah diri sebagai mayat dan menyimpan ajarannya terhadap

orang lain. Dalam melakukan salat, tidak hanya salat wajib saja yang dilakukan. Ia menambah lebih

banyak salat sunat, lebih banyak berdoa, berdikir, dan menetapkan ingatannya hanya kepada Tuhan.

Dalam menjalankan puasa, tidak hanya puasa wajib yang dilakukan. Ia lebih banyak mengurangi makan,

lebih banyak berjaga malam, lebih banyak diam, hidup menyendiri dalam persepian, dan melakukan

khalwat. Ia berpakaian sederhana dan hidup mengembara sebagai fakir.

Bagian-bagian cerita Dewaruci yang menyatakan sebagian tahap tarekat di antaranya terdapat pada pupuh

II Pangkur bait 29-30. Diamanatkan dalam teks ini bahwa Bima kepada gurunya berserah diri sebagai

mayat. Sehabis berperang melawan Raksasa Rukmuka dan Rukmakala di Gunung Candramuka Hutan

Tikbrasara, Bima kembali kepada Pendeta Durna. Air suci tidak didapat. Ia menanyakan di mana tempat

tirta pawitra yang sesungguhnya. Pendeta Durna menjawab, ³Tempatnya berada di tengah samudra´.

Mendengar jawaban itu Bima tidak putus asa dan tidak gentar. Ia menjawab, ³Jangankan di tengah

samudra, di atas surga atau di dasar bumi sampai lapis tujuh pun ia tidak akan takut menjalankan perintah

Sang Pendeta´. Ia segera berangkat ke tengah samudra. Semua kerabat Pandawa menangis mencegah

tetapi tidak dihiraukan. Keadaan Bima yeng berserah diri jiwa raga secara penuh kepada guru ini secara

filosofis merupakan realisasi sebagian tahap laku tarekat.

Nilai Filosofis Perjalanan Bima yang Berkaitan dengan Hakikat

Hakikat (Jawa laku manah, sembah jiwa) adalah tahap perjalanan yang sempurna. Pencapaian tahap ini

diperoleh dengan mengenal Tuhan lewat dirinya, di antaranya dengan salat, berdoa, berdikir, atau

menyebut nama Tuhan secara terus-menerus (bdk. Zahri, 1984:88). Amalan yang dilakukan pada tahap

ini semata-mata menyangkut hubungan manusia dengan Tuhan. Hidupnya yang lahir ditinggalkan dan

melaksanakan hidupnya yang batin (Muder, 1983:24). Dengan cara demikian maka tirai yang merintangi

hamba dengan Tuhan akan tersingkap. Tirai yang memisahkan hamba dengan Tuhan adalah hawa nafsu

kebendaan. Setelah tirai tersingkap, hamba akan merasakan bahwa diri hamba dan alam itu tidak ada,

yang ada hanyalah ³Yang Ada´, Yang Awal tidak ada permulaan dan Yang Akhir tidak berkesudahan.

Dalam keadaan demikian, hamba menjadi betul-betul dekat dengan Tuhan. Hamba dapat mengenal Tuhan

dan melihat-Nya dengan mata hatinya. Rohani mencapai kesempurnaan. Jasmani takluk kepada rohani.

Karena jasmani takluk kepada rohani maka tidak ada rasa sakit, tidak ada susah, tidak ada miskin, dan

juga maut tidak ada. Nyaman sakit, senang susah, kaya miskin, semua ini merupakan wujud ciptaan

Tuhan yang berasal dari Tuhan. Segala sesuatu milik Tuhan dan akan kembali kepada-Nya, manusia

hanya mendaku saja. Maut merupakan perpindahan rohani dari sangkar kecil kepada kebebasan yang

luas, mencari Tuhan, kekasihnya. Mati atau maut adalah alamat cinta yang sejati (Aceh, 1987:67). Tahap

ini biasa disebut keadaan mati dalam hidup dan hidup dalam kematian. Saat tercapainya tingkatan hakikat

terjadi dalam suasana yang terang benderng gemerlapan dalam rasa lupa-lupa ingat, antara sadar dan tidak

sadar. Dalam keadaan seperti ini muncul Nyala Sejati atau Nur Ilahi (Mulyono, 1978:126).

Sebagian tahap hakikat yang dilakukan atau dialami oleh tokoh Bima, di antaranya ialah: mengenal

Tuhan lewat dirinya, mengalami dan melihat dalam suasana alam kosong, dan melihat berbagai macam

cahaya (pancamaya, empat warna cahaya, sinar tunggal berwarna delapan, dan benda bagaikan boneka

gading yang bersinar).

Nilai Filosofis Bima Mulai Melihat Dirinya

Setelah Bima menjalankan banyak laku maka hatinya menjadi bersih. Dengan hati yang bersih ini ia

kemudian dapat melihat Tuhannya lewat dirinya. Penglihatan atas diri Bima ini dilambangkan dengan

masuknya tokoh utama ini ke dalam badan Dewaruci. Bima masuk ke dalam badan Dewaruci melalui

³telinga kiri´. Menurut hadis, di antaranya Al-Buchari, telinga mengandung unsur Ketuhanan. Bisikan

Ilahi, wahyu, dan ilham pada umumnya diterima melalui ³telinga kanan´. Dari telinga ini terus ke hati

sanubari. Secara filosofis dalam masyarakat Jawa, ³kiri´ berarti µburuk, jelek, jahat, tidak jujur¶, dan

³kanan´ berarti µbaik (dalam arti yang luas)¶. Masuk melalui ³telinga kiri´ berarti bahwa sebelum

mencapai kesempurnaan Bima hatinya belum bersih (bdk. Seno-Sastroamidjojo, 1967:45-46). Setelah

Bima masuk dalam badan Dewaruci, ia kemudian melihat berhadapan dengan dewa kerdil yang bentuk

dan rupanya sama dengan Bima sewaktu kecil. Dewa kerdil yang bentuk dan rupanya sama dengan Bima

waktu muda itu adalah Dewaruci; penjelmaan Yang Mahakuasa sendiri (bdk. Magnis-Suseno, 1984:115).

Bima berhadapan dengan Dewaruci yang juga merupakan dirinya dalam bentuk dewa kerdil. Kisah Bima

masuk dalam badan Dewaruci ini secara filosofis melambangkan bahwa Bima mulai berusaha untuk

mengenali dirinya sendiri. Dengan memandang Tuhannya di alam kehidupan yang kekal, Bima telah

mulai memperoleh kebahagiaan (bdk. Mulyono, 1982:133). Pengenlan diri lewat simbol yang demikian

secara filosofis sebagai realisasi bahwa Bima telah mencapai tahap hakikat.

Nilai Filosofis Bima Mengalami dan Melihat dalam Suasasa Alam Kosong

Bima setelah masuk dalam badan dewaruci melihat dan merasakan bahwa dirinya

tidak melihat apa-apa. Yang ia lihat hanyalah kekosongan pandangan yang jauh tidak terhingga. Ke mana

pun ia berjalan yang ia lihat hanya angkasa kosong, dan samudra yang luas yang tidak bertepi. Keadaan

yang tidak bersisi, tiada lagi kanan kiri, tiada lagi muka belakang, tiada lagi atas bawah, pada ruang yang

tidak terbatas dan bertepi menyiratkan bahwa Bima telah memperoleh perasaan batiniahnya. Dia telah

lenyap sama sekali dari dirinya, dalam keadaan kebakaan Allah semata. Segalanya telah hancur lebur

kecuali wujud yang mutlak. Dalam keadaan seperti ini manusia menjadi fana ke dalam Tuhan (Simuh,

1983:312). Segala yang Ilahi dan yang alami walaupun kecil jasmaninya telah terhimpun menjadi satu,

manunggal (Daudy, 1983:188). Zat Tuhan telah berada pada diri hambabnya (Simuh, 1983:311), Bima

telah

sampai

pada

tataran

hakikat.

Disebutkan bahwa Bima karena merasakan tidak melihat apa-apa, ia sangat bingung. Tiba-tiba ia melihat

dengan

jelas

Dewaruci bersinar kelihatan cahayanya. Lalu ia melihat dan merasakan arah mata angin, utara, selatan,

timur, barat, atas dan bawah, serta melihat matahari. Keadaan mengetahui arah mata angin ini

menyiratkan bahwa ia telah kembali dalam keadaan sadar. Sebelumnya ia dalam keadaan tidak sadar

karena tidak merasakan dan tidak melihat arah mata angin. Merasakan dalam keadaan sadar dan tidak

sadar dalam rasa lupa-lupa ingat menyiratkan bahwa Bima secara filosofis telah sampai pada tataran

hakikat. Setelah mengalami suasana alam kosong antara sadar dan tidak sadar, ia melihat berbagai macam

cahaya. Cahaya yang dilihatnya itu ialah: pancamaya, sinar tunggal berwarna delapan, empat warna

cahaya, dan benda bagaikan boneka gading yang bersinar. Hal melihat berbagai macam cahaya seperti itu

secara filosofis melambangkan bahwa Bima telah sampai pada tataran hakikat. Ia telah menemukan

Tuhannya

Nilai Filosofis Bima Melihat Pancamaya

Tokoh utama Bima disebutkan melihat pancamaya. Pancamaya adalah cahaya yang melambangkan hati

yang sejati, inti badan. Ia menuntun kepada sifat utama. Itulah sesungguhnya sifat. Oleh Dewaruci, Bima

disuruh memperlihatkan dan merenungkan cahaya itu dalam hati, agar supaya ia tidak tersesat hidupnya.

Hal-hal yang menyesatkan hidup dilambangkan dengan tiga macam warna cahaya, yaitu: merah, hitam,

dan kuning.

Nilai Filosofis Bima Melihat Empat Warna Cahaya

Bima disebutkan melihat empat warna cahaya, yaitu: hitam, merah, kuning, dan putih. Isi dunia sarat

dengan tiga warna yang pertama. Ketiga warna yang pertama itu pengurung laku, penghalang cipta karsa

menuju keselamatan, musuhnya dengan bertapa. Barang siapa tidak terjerat oleh ketiga hal itu, ia akan

selamat, bisa manunggal, akan bertemu dengan Tuhannya. Oleh karena itu, perangai terhadap masing-

masing

warna

itu

hendaklah

perlu

diketahui.

Yang hitam lebih perkasa, perbuatannya marah, mengumbar hawa nafsu, menghalangi dan menutup

kepada hal yang tidak baik. Yang merah menunjukkan nafsu yang tidak baik, iri hati dan dengki keluar

dari sini. Hal ini menutup (membuat buntu) kepada hati yang selalu ingat dan waspada. Yang kuning

pekerjaannya menghalangi kepada semua cipta yang mengarah menuju kebaikan dan keselamatan. Oleh

Sri Mulyono (1982:39) nafsu yang muncul dari warna hitam disebut aluamah, yang dari warna merah

disebut amarah, dan yang muncul dari warna kuning disebut sufiah. Nafsu aluamah amarah, dan sufiah

merupakan

selubung

atau

penghalang

untuk

bertemu

dengan

Tuhannya.

Hanya yang putih yang nyata. Hati tenang tidak macam-macam, hanya satu yaitu menuju keutamaan dan

keselamatan. Namun, yang putih ini hanya sendiri, tiada berteman sehingga selalu kalah. Jika bisa

menguasai yang tiga hal, yaitu yang merah, hitam, dan kuning, manunggalnya hamba dengan Tuhan

terjadi dengan sendirinya; sempurna hidupnya.

Nilai Filosofis Bima Melihat Sinar Tunggal Berwarna Delapan

Bima dalam badan Dewaruci selain melihat pancamaya melihat urub siji wolu kang warni µsinar tunggal

berwarna delapan¶. Disebutkan bahwa sinar tunggal berwarna delapan adalah ³Sesungguhnya Warna´,

itulah Yang Tunggal. Seluiruh warna juga berada pada Bima. Demikian pula seluruh isi bumi tergambar

pada badan Bima. Dunia kecil, mikrokosmos, dan dunia besar, makrokosmos, isinya tidak ada bedanya.

Jika warna-warna yang ada di dunia itu hilang, maka seluruh warna akan menjadi tidak ada, kosong,

terkumpul kembali kepada warna yang sejati, Yang Tunggal.

Nilai Filosofis Bima Melihat Benda bagaikan Boneka Gading yang Bersinar

Bima dalam badan Dewaruci di samping melihat pancamaya, empat warna cahaya, sinar tunggal

berwarna delapan, ia melihat benda bagaikan boneka hading yang bersinar. Itu adalah Pramana, secara

filosofis melambangkan Roh. Pramana µRoh¶ kedudukannya dibabtasi oleh jasad. Dalam teks

diumpamakan bagaikan lebah tabuhan. Di dalamnya terdapat anak lebah yang menggantung menghadap

ke bawah. Akibatnya mereka tidak tahu terhadap kenyataan yang ada di atasnya (Hadiwijono, 1983:40).

Nilai Filisofis Perjalanan Bima yang Berkaitan dengan Makrifat

Makrifat (Jawa laku rasa, sembah rasa) adalah perjalanan menuju manusia sempurna yang paling tinggi.

Secara harfiah makrifat berarti pengetahuan atau mengetahui sesuatu dengan seyakin-yakinnya (Aceh,

1987:67). Dalam tasawuf, makrifat berarti mengenal langsung atau mengetahui langsung tentang Tuhan

dengan sebenar-benarnya atas wahyu atau petunjuk-Nya (Nicholson, 1975:71), meliputi zat dan sifatnya.

Pencapaian tataran ini diperoleh lewat tataran tarekat, yaitu ditandai dengan mulai tersingkapnya tirai

yang menutup hati yang merintangi manusia dengan Tuhannya. Setelah tirai tersingkap maka manusia

akan merasakan bahwa diri manusia dan alam tidak ada, yang ada hanya Yang Ada. Dalam hal seperti ini

zat Tuhan telah masuk menjadi satu pada manusia. Manusia telah merealisasikan kesatuannya dengan

Yang Ilahi. Keadaan ini tidak dapat diterangkan (Nicholson, 1975:148) (Jawa tan kena kinaya ngapa)

(Mulyono, 1982:47), yang dirasakan hanyalah indah (Zahri, 1984:89). Dalam masyarakat Jawa hal ini

disebut dengan istilah manunggaling kawula Gusti, pamoring kawula Gusti, jumbuhing kawula Gusti,

warangka manjing curiga curiga manjing warangka. Pada titik ini manusia tidak akan diombang-

ambingkan oleh suka duka dunia. Ia akan berseri bagaikan bulan purnama menyinari bumi, membuat

dunia menjadi indah. Di dunia ia menjadi wakil Tuhan (wakiling Gusti), menjalankan kewajiban-

kewajiban-Nya dan memberi inspirasi kepada manusia yang lain (de Jong, 1976:69; Mulder, 1983:25). Ia

mampu mendengar, merasa, dan melihat apa yang tidak dapat dikerjakan oleh manusia yang masih

diselubingi oleh kebendaan, syahwat, dan segala kesibukan dunia yang fana ini (Aceh, 1987:70).

Tindakan diri manusia semata-mata menjadi laku karena Tuhan (Subagya, 1976:85). Keadaan yang

dialami oleh Bima yang mencerminkan bahwa dirinya telah mencapai tahap makrifat, di antaranya ia

merasakan: keadaan dirinya dengan Tuhannya bagaikan air dengan ombak, nikmat dan bermanfaat, segala

yang dimaksud olehnya tercapai, hidup dan mati tidak ada bedanya, serta berseri bagaikan sinar bulan

purnama menyinari bumi.

Nilai Filosofis Hamba (Bima) dengan Tuhan bagaikan Air dengan Ombak

Wujud ³Yang Sesungguhnya´, yang meliputi segala yang ada di dunia, yang hidup tidak ada yang

menghidupi, yang tidak terikat oleh waktu, yaitu Yang Ada telah berada pada Bima, telah menunggal

menjadi satu. Jika telah manunggal penglihatan dan pendengaran Bima menjadi penglihatan dan

pendengaran-Nya (bdk. Nicholson, 1975:100-1001). Badan lahir dan badan batin Suksma telah ada pada

Bima, hamba dengan Tuhan bagaikan api dengan asapnya, bagaikan air dengan ombak, bagaikan minyak

Nilai Filosofis Bima Merasakan Nikmat dan Bermanfaat

Bima setelah manunggal dengan Tuhannya tidak merasakan rasa khawatir, tidak berniat makan dan tidur,

tidak merasakan lapar dan mengantuk, tidak merasakan kesulitan, hanya nikmat yang memberi berkah

karena segala yang dimaksud dapat tercapai. Hal ini menyebabkan Bima ingin manunggal terus. Ia telah

memperoleh kebahagiaan nikmat rahmat yang terkandung pada kejadian dunia dan akhirat. Sinar Ilahi

yang melahirkan kenikmatan jasmani dan kebahagian rohani telah ada pada Bima. Oleh kaum filsafat,

itulah yang disebut surga (Hamka, 1984:139). Keadaan ini secara filosofis melambangkan bahwa Bima

telah mencapai tahap makrifat.

Nilai Filosofis Segala yang Dimaksud oleh Bima Tercapai

Segala yang menjadi niat hatinya terkabul, apa yang dimaksud tercapai, dan apa yang dicipta akan datang,

jika hamba telah bisa manunggal dengan Tuhannya. Segala yang dimaksud oleh Bima telah tercapai.

Keadaan ini secara filosofis melambangkan bahwa Bima telah mencapai tataran makrifat.

Segala yang diniatkan oleh hamba yang tercapai ini kadang-kadang bertentangan dengan hukum alam

sehingga menjadi suatu keajaiban. Keajaiban itu dapat terjadi sewaktu hamba dalam kendali Ilahi

(Nicholson, 1975:132). Ada dua macam keajaiban, yang pertama yang dilakukan oleh para wali disebut

keramat dan yang kedua keajaiban yang dilakukan oleh para nabi disebut mukjizat (Nicholson,

1975:129).

Nilai Filosofis Bima Merasakan Bahwa Hidup dan Mati Tidak Ada Bedanya

Hidup dan mati tidak ada bedanya karena dalam hidup di dunia hendaklah manusia dapat mengendalikan

atau mematikan nafsu yang tidak baik dalam dalam kematian manusia akan kembnali menjadi satu

dengan Tuhannya. Mati merupakan perpindahan rohani dari sangkar kecil menuju kepada kebebasan yang

luas, kembali kepada-Nya. Dalam kematian raga nafsu yang tidak sempurna dan yang menutupi

kesempurnaan akan rusak. Yang tinggal hanyalah Suksma. Ia kemudian bebas merdeka sesuai

kehendaknya kembali manunggal kepada Yang Kekal (Marsono, 1997:799). Keadaan bahwa hidup dan

mati tidak ada bedanya secara filosofis melambangkan bahwa tokoh Bima telah mencapai tahap makrifat.

Nilai Filosofis Hati Bima Terang bagaikan Bunga yang Sedang Mekar

Bima setelah mengetahui, menghayati, dan mengalami manunggal sempurna dengan Tuhannya karena

mendapatkan wejangan dari Dewaruci, ia hatinga terang bagaikan kuncup bunga yang sedang mekar.

Dewaruci kemudian musnah. Bima kembali kepada alam dunia semula. Ia naik ke darat kembali ke

Ngamarta. Keadaan hati yang terang benderang bagaikan kuncup bunga yang sedang mekar secara

filosofis melambangkan bahwa Bima telah mencapai tahap makrifat.

Kesimpulan

Kisah Bima dalam mencari tirta pawitra dalam cerita Dewaruci secara filosofis melambangkan bagaimana

manusia harus menjalani perjalanan batin guna menemukan identitas dirinya atau pencarian sangkan

paraning dumadi µasal dan tujuan hidup manusia¶ atau manunggaling kawula Gusti. Dalam kisah ini

termuat amanat ajaran konsepsi manusia, konsepsi Tuhan, dan bagaimana manusia menuju Tuhannya.

Konsepsi manusia disebutkan bahwa ia berasal dari Tuhan dan akan kembali kepada-Nya. Ia dijadikan

dari air. Ia wajib menuntut ilmu. Dalam menuntut ilmu tugas guru hanya memberi petunjuk. Manusia

tidak memiliki karena segala yang ada adalah milik-Nya. Ia wajib selalu ingat terhadap Tuhannya, awas

dan waspada terhadap segala godaan nafsu yang tidak baik, sebab pada akhirnya manusia akan kembali

kepada-Nya. Konsepsi Tuhan disebutkan bahwa Ia Yang Awal dan Yang Akhir, Hidup dan Yang

Menghidupkan, Mahatahu, dan Mahabesar. Ia tan kena kinaya ngapa µtidak dapat dikatakan dengan apa

pun¶. Kisah perjalanan batin Bima dalam menuju manusia sempurna ini dapat dibagi menjadi empat

tahap, yaitu: syariat, tarekat, hakikat, dan makrifat (Jawa sembah raga, sembah cipta, sembah jiwa, dan

sembah rasa).

Kematian Jayajadra

Ketika dunia pewayangan mengalami peperangan, mereka yang ke medan laga juga menggunakan

berbagai macam senjata. Rupa-rupa senjata digunakannya. Para ksatria menggunakan panah dan keris

sedangkan para sudra menggunakan terampang, badik, tombak, atau golok untuk membacok. Panah

digunakan untuk dilepas pada musuh yang jauh tempatnya, sedangkan keris digunakan untuk peperangan

jarak pendek. Kedua senjata ini terhitung yang paling sempurna. Ada yang berasal dari sesuatu benda

ajaib, misalnya dan taring Betara Kala. Namun, sebaik-baik senjata adalah yang berasal dari pemujaan

tapa-brata dan pembenan para dewa Umumnya, para dewa memberi hadiah panah kepada anak keturunan

Pandawa, karena Pandawa dikenal sebagai ahli pertapa dan pemuja. Dari sanalah mereka memperoleh

senjata panah dengan kesaktian yang beranekaragam. Tak jarang beberapa jenis panah memiliki

kesaktian yang melebihi batas. Misalnya, ada panah yang bisa berganti wujud dan bisa memagut bagaikan

paruh burung Ardadeli. Bahkan, ada panah yang bias menutup teriknya matahari, mengubah terang

benderangnya dunia menjadi gelap gulita. Raja dari segala senjata adalah panah cakra Prabu Kresna. la

dihormati dan ditakuti oleh seluruh benda yang bernama senjata. Segala kesaktian tunduk pada senjata

cakra. Tersebutlah dalam sebuah kisah.

Tatkala Prabu Arjunasastra hendak dipanah dengan senjata cakra, maka raja agung binatoro-sakti

madraguna itu keder, takut hingga bertriwikramalah Sang Prabu, menjadi raksasa titisan Wisnu untuk

menandingi kesaktian cakra. Karena hanya kepada Dewa Wisnu sajalah senjata itu tunduk dan takluk

bagaikan hamba sahaya. Ini menggambarkan bahwa panah bukan sembarang senjata, apalagi barang

mainan. Malah pada saat perang Baratayuda, panah cakra itu digunakan oleh. Prabu Kresna untuk

menghadang sanghyang surya. Ketika panah dilepas ke angkasa, ia melesat menembus langit, menutup

matahari.

Bumi

menjadi

gonjang-ganjing,

siang menjadi muram, tampak seperti malam. Tipu muslihat ini digunakan pada waktu Arjuna bersumpah

akan mati membakar diri, bila hari itu tak berhasil membunuh Jayadrata. Karena sumpah itu, maka

Jayadrata disembunyikan Kurawa agar terhindar dari ancaman Arjuna. Namun, sial bagi Kurawa. Ketika

sinar matahari tampak suram, Jayadrata ingin mengintai matinya Arjuna dari persembunyiannya.

Perbuatan Jayadrata ini diketahui oleh Prabu Kresna. Maka, berkatalah ia kepada Arjuna agar segera

melepas panahnya kepada sang pengintai.Panah dilepas dan terpenggallah kepala Jayadrata. Setelah

peristiwa itu terjadi, Prabu Kresna tak lagi menutupi matahari dengan panah cakranya.

Seluruh alam tampak terang-benderang sebagaimana sediakala. Sorak sorai mewarnai kehidupan bumi.

Kemenangan ada pada pihak Pandawa.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->