Anda di halaman 1dari 11

PROBLEMATIKA SEX BEBAS

DIKALANGAN REMAJA

MAKALAH
Disusun untuk memenuhi salah satu tugas matakuliah
Perkembanmgan Peserta Didik yang dibimbing oleh Bapak Adi Atmoko

Oleh:
Rini Oktaviana M
108211410546

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS SASTRA
JURUSAN SASTRA INDONESIA
PROGRAM STUDI BAHASA, SASTRA, INDONESIA, DAN DAERAH
Mei 2009

A. DESKRIPSI FAKTA

1
Dewasa ini tidak dapat dipungkiri bahwa alat transportasi yang paling
banyak digunakan oleh masyarakat Indonesia. Hal itu membuat sepeada motor
bukan barang mewah lagi, namun menjadi alat transportasi yang merakyat.
Seiring dengan fakta diatas, tindakan kriminal pun juga semakin meningkat.
Apalagi kalau bukan tindak kriminal pencurian sepeda motor.
Para orang tua di Kota Batu pada khususnya dan orang tua pada umumnya
harus was was dengan perubahan tingkah laku anak-anak mereka. Pergaulan yang
kerasa dan menyimpang ternyata mampu membuta lima pelajar SMP dan SMA di
Kota Batu melakukan kejahan terencana yakni mencuri motor di pondok
pesantren Hidayatullah, Desa Sumberejo, Kecamatan Batu.
Kelimanya adalah HP, 17 tahun, siswa kelas I SMA, SK, 15 tahun, siswa
kelas III SMP, NR, 13 tahun, siswa kelas I SMP, VW dan NH, 14 tahun, siswa
kelas III SMP di Kota Batu. Kelaima warga Sumberejo ini mengaku aksi mencuri
motor milik Miftahul Ma'ayis, 45 tahun, pengelola ponpes, yang mereka lakuakan
karena kesetiaan kawan.
Menurut keterangan mereka, kejadian berawal saat SK dan HP, mengeluh
dimarahi ibunya karena menjual ponsel pemberian orang tuanya seharga Rp.
700.000 sementara uangnya kini tinggal Rp. 500.000 karena sudah dibuat
berfoya-foya dengan teman-temannya. Dan ibunya mengancam akan mengadu
pada ayahnya jika tidak segera dikembalikan. Disisi lain HP juga membutuhkan
uang karena memecahkan lampu belakangan motor orang.
Kesulitan itu disampaikan SK kepada ketiga temannya. Karena rasa
kesetiakawanan rela membantu mencarikan uang. Caranya dengan mencuri motor
yang biasanya terparkir di ponpes dekat rumah mereka.
Akhirnya, pada Selasa 3 maret 2009 sekira poukul 19.30 WIB, mereka
melihat ada motoh yang terparkir dalam gelap. Kontan mereka langsung menyikat
sepeda motor tersebut. Dua hari kemudian mereka ditangkap oleh Polres Batu
dirumah mereka masiang-masing.

B. KAJIAN PUSTAKA

1. PENGERTIAN PERKEMBANGAN

Secara sederhana Seifert dan Hoffnung mendefinisikan perkembangan

2
sebagai “long term change in a persons growth, feeling, patterns of thinking,
social relationships, and motor skills”. Sementara itu Chaplin mengartikan
perkembangan sebagai perubahan yang berkesinambungan dan progresif dalam
organisme, mulai dari lahir sampai mati. Menurut Reni Akbar Hawadi,
perkembangan secara luas menunjuk pada keseluruhan proses perubahan dari
potensi yang dimiliki individu dan tampil dalam kualitas kemampuan, sifat dan
ciri-ciri yang baru.
Menurut F.J. Monks, pengertian perkembangan menunjuk pada suatu
proses kearah yang lebih sempurna dan tidak dapat diulang kembali.
Perkembangan menunjuk kepada sifat yang tetap dan tidak dapat diputar kembali.
Perkembangan juga dapat diartikan sebagai proses yang kekal dan tetap yang
menuju kearah suatu organisasi pada tingkat integrasi yang lebih tinggi,
beradasarkan pertumbuhan, pematanagn dan belajar.
Santrock menjelaskan pengertian perkembangan sebagai berikut :
”development is the pattern of change that begin at conception and continous
throught the life span. Most development involves growth, although it includes
decay (as in death and dying). The pattern of movement is complex because it is
product of several processes-biological, cognitive, and socio motional.”
Kesimpulan umum yang dapat ditarik dari berbagai definisi diatas adalah
bahwa perkembangan tidak terbatas pada pengertian pertumbuhan yang
sermakain membesar, melainkan didalamnya juga terkandung serangkaian
perubahan yang berlangsung secara terus menerus dan bersifat tetap dari fungsi-
fungsi jasmaniah dan rohaniah yang dimiliki individu menuju ketahap
kematangan melaui proses pertumbuhan, pematangan dan belajar.

2. PENGERTIAN PENCURIAN

Pengertian pencurian menurut hukum beserta unsur - unsurnya


dirumuskan dalam pasal 362 KUHP, adalah berupa rumusan pencurian dalam
bentuk pokoknya yang berbunyi : "Barang siapa mengambil suatu benda yang
seluruhnya atau sebagian milik orang lain, dengan maksud untuk dimiliki secara

3
melawan hukum, diancam karena pencurian, dengan pidana penjara paling lama 5
tahun atau denda paling banyak Rp. 900,00".
Untuk lebih jelasnya, apabila dirinci rumusan itu terdiri dari unsur - unsur
ojektif (perbuatan mengambil, objeknya suatu benda, dan unsur keadaan yang
menyertai/melekat pada benda, yaitu benda tersebut sebagian atau seluruhnya
milik orang lain) dan unsur - unsur subjektif (adanya maksud, yang ditujukan
untuk memiliki, dan dengan melawan hukum).

C. PEMBAHASAN

Tahapan perkembangan moral adalah ukuran dari tinggi rendahnya moral


seseorang berdasarkan perkembangan penalaran moralnya seperti yang
diungkapkan oleh Lawrence Kohlberg. Tahapan tersebut dibuat saat ia belajar
psikologi di University of Chicago berdasarkan teori yang ia buat setelah
terinspirasi hasil kerja Jean Piaget dan kekagumannya akan reaksi anak-anak
terhadap dilema moral (Crain, 1985:0-13). Ia menulis disertasi doktornya pada
tahun 1958 yang menjadi awal dari apa yang sekarang disebut tahapan-tahapan
perkembangan moral dari Kohlberg.
Teori ini berpandangan bahwa penalaran moral, yang merupakan dasar
dari perilaku etis, mempunyai enam tahapan perkembangan yang dapat
teridentifikasi. Ia mengikuti perkembangan dari keputusan moral seiring
penambahan usia yang semula diteliti Piaget, yang menyatakan bahwa logika dan
moralitas berkembang melalui tahapan-tahapan konstruktif. Kohlberg
memperluas pandangan dasar ini, dengan menentukan bahwa proses
perkembangan moral pada prinsipnya berhubungan dengan keadilan dan
perkembangannya berlanjut selama kehidupan, walaupun ada dialog yang
mempertanyakan implikasi filosofis dari penelitiannya.
Keenam tahapan perkembangan moral dari Kolhlberg dikelompokkan ke
dalam tiga tingkatan: pra-konvensional, konvensional, dan pasca-konvensional.
Mengikuti persyaratan yang dikemukakan Piaget untuk suatu Teori
perkembangan kognitif, adalah sangat jarang terjadi kemunduran dalam tahapan-
tahapan ini. Walaupun demikian, tidak ada suatu fungsi yang berada dalam
tahapan tertinggi sepanjang waktu. Juga tidak dimungkinkan untuk melompati

4
suatu tahapan; setiap tahap memiliki perspektif yang baru dan diperlukan, dan
lebih komprehensif, beragam, dan terintegrasi dibanding tahap sebelumnya.

1. Tingkat Pra-Konvensional

Tingkat pra-konvensional dari penalaran moral umumnya ada pada anak-


anak, walaupun orang dewasa juga dapat menunjukkan penalaran dalam tahap ini.
Seseorang yang berada dalam tingkat pra-konvensional menilai moralitas dari
suatu tindakan berdasarkan konsekuensinya langsung. Tingkat pra-konvensional
terdiri dari dua tahapan tahap pertama yaitu tahap punishment dan tahap kedua
yaitu tahap instrument.

Dalam tahap punisment, individu-individu memfokuskan diri pada


konsekuensi langsung dari tindakan mereka yang dirasakan sendiri. Sebagai
contoh, suatu tindakan dianggap salah secara moral bila orang yang
melakukannya dihukum. Semakin keras hukuman diberikan dianggap semakin
salah tindakan itu. Sebagai tambahan, ia tidak tahu bahwa sudut pandang orang
lain berbeda dari sudut pandang dirinya. Tahapan ini bisa dilihat sebagai sejenis
otoriterisme.

Tahap instrument menempati posisi apa untungnya buat saya, perilaku


yang benar didefinisikan dengan apa yang paling diminatinya. Penalaran tahap
dua kurang menunjukkan perhatian pada kebutuhan orang lain, hanya sampai
tahap bila kebutuhan itu juga berpengaruh terhadap kebutuhannya sendiri, seperti
“kamu betulkan kerudungku, akubetulkan kerudungmu.”. Dalam tahap dua
perhatian kepada orang lain tidak didasari oleh loyalitas atau faktor yang berifat
intrinsik. Kekurangan perspektif tentang masyarakat dalam tingkat pra-
konvensional, berbeda dengan kontrak sosial (tahap lima), sebab semua tindakan
dilakukan untuk melayani kebutuhan diri sendiri saja. Bagi mereka dari tahap dua,
perpektif dunia dilihat sebagai sesuatu yang bersifat relatif secara moral.

2. Tingkat Konvensional

5
Tingkat konvensional umumnya ada pada seorang remaja atau orang
dewasa. Orang di tahapan ini menilai moralitas dari suatu tindakan dengan
membandingkannya dengan pandangan dan harapan masyarakat. Tingkat
konvensional terdiri dari tahap ketiga yaitu tahap interpersonal concordance dan
keempat yaitu tahap law and order orientation.

Dalam tahap interpersonal concordance, seseorang memasuki


masyarakat dan memiliki peran sosial. Individu mau menerima persetujuan atau
ketidaksetujuan dari orang-orang lain karena hal tersebut merefleksikan
persetujuan masyarakat terhadap peran yang dimilikinya. Mereka mencoba
menjadi seorang anak baik untuk memenuhi harapan tersebut, karena telah
mengetahui ada gunanya melakukan hal tersebut. Penalaran tahap tiga menilai
moralitas dari suatu tindakan dengan mengevaluasi konsekuensinya dalam bentuk
hubungan interpersonal, yang mulai menyertakan hal seperti rasa hormat, rasa
terimakasih, dan golden rule. Keinginan untuk mematuhi aturan dan otoritas ada
hanya untuk membantu peran sosial yang stereotip ini. Maksud dari suatu
tindakan memainkan peran yang lebih signifikan dalam penalaran di tahap ini;
'mereka bermaksud baik…'.
Dalam tahap law and order orientation, adalah penting untuk mematuhi
hukum, keputusan, dan konvensi sosial karena berguna dalam memelihara fungsi
dari masyarakat. Penalaran moral dalam tahap empat lebih dari sekedar kebutuhan
akan penerimaan individual seperti dalam tahap tiga; kebutuhan masyarakat harus
melebihi kebutuhan pribadi. Idealisme utama sering menentukan apa yang benar
dan apa yang salah, seperti dalam kasus fundamentalisme. Bila seseorang bisa
melanggar hukum, mungkin orang lain juga akan begitu - sehingga ada kewajiban
atau tugas untuk mematuhi hukum dan aturan. Bila seseorang melanggar hukum,
maka secara ia salah secara moral, sehingga celaan menjadi faktor yang signifikan
dalam tahap ini karena memisahkan yang buruk dari yang baik.

3. Tingkat Pasca-Konvensional

Tingkatan pasca konvensional, juga dikenal sebagai tingkat berprinsip,


terdiri dari tahap lima dan enam dari perkembangan moral. Kenyataan bahwa

6
individu-individu adalah entitas yang terpisah dari masyarakat kini menjadi
semakin jelas. Perspektif seseorang harus dilihat sebelum perspektif masyarakat.
Akibat ‘hakekat diri mendahului orang lain’ ini membuat tingkatan pasca-
konvensional sering tertukar dengan perilaku pra-konvensional.

Dalam tahap lima yaitu tahap the social-contract, individu-individu


dipandang sebagai memiliki pendapat-pendapat dan nilai-nilai yang berbeda, dan
adalah penting bahwa mereka dihormati dan dihargai tanpa memihak.
Permasalahan yang tidak dianggap sebagai relatif seperti kehidupan dan pilihan
jangan sampai ditahan atau dihambat. Kenyataannya, tidak ada pilihan yang pasti
benar atau absolut – “memang anda siapa membuat keputusan kalau yang lain
tidak”? Sejalan dengan itu, hukum dilihat sebagai kontrak sosial dan bukannya
keputusan kaku. Aturan-aturan yang tidak mengakibatkan kesejahteraan sosial
harus diubah bila perlu demi terpenuhinya kebaikan terbanyak untuk sebanyak-
banyaknya orang. Hal tersebut diperoleh melalui keputusan mayoritas, dan
kompromi. Dalam hal ini, pemerintahan yang demokratis tampak berlandaskan
pada penalaran tahap lima.

Dalam tahap enam yaitu tahap the orientation of universal ethicat,


penalaran moral berdasar pada penalaran abstrak menggunakan prinsip etika
universal. Hukum hanya valid bila berdasar pada keadilan, dan komitmen
terhadap keadilan juga menyertakan keharusan untuk tidak mematuhi hukum
yang tidak adil. Hak tidak perlu sebagai kontrak sosial dan tidak penting untuk
tindakan moral deontis. Keputusan dihasilkan secara kategoris dalam cara yang
absolut dan bukannya secara hipotetis secara kondisional. Hal ini bisa dilakukan
dengan membayangkan apa yang akan dilakukan seseorang saat menjadi orang
lain, yang juga memikirkan apa yang dilakukan bila berpikiran sama (lihat veil of
ignorance dari John Rawls). Tindakan yang diambil adalah hasil konsensus.
Dengan cara ini, tindakan tidak pernah menjadi cara tapi selalu menjadi hasil;
seseorang bertindak karena hal itu benar, dan bukan karena ada maksud pribadi,
sesuai harapan, legal, atau sudah disetujui sebelumnya. Walau Kohlberg yakin
bahwa tahapan ini ada, ia merasa kesulitan untuk menemukan seseorang yang
menggunakannya secara konsisten. Tampaknya orang sukar, kalaupun ada, yang

7
bisa mencapai tahap enam dari model Kohlberg ini.

D. ARGUMENTATIF

Telah kita ketahui bersama bahwa teori perkembangan Kohlberg terdiri


dari enam tahapan yang dilewati seorang anak manakala mereka bergeraik
ketingkat remaja ataupun tingkat kedewasaan. Dari ke enam tahapan
perkembangan tersebut, seorang anak akan bergerak dari satu tingkat kematangan
moral ke tingkat kedua dan baru kemudian ketingkat ketiga. Dari deskripsi fakta
diatsa dapat kita analisis mulai dari tahap pertama pada tingkat pertama dan tahap
keenam pada tingkat ketiga.
Dari fakta diatas dapat diketahui behwa awal mula kejadian tersebut
adalah SK dimarahi ibunya karena menjual Hp dan ibunya meminta uang
penjualan Hp tersebut. Sementara uangnya sudah berkurang. Dan ibunya
mengancam akan mengadukan ke ayahnya jika tidak segera diberikan dalam
keadaan utuh. Dalam keadaan itu SK memutar otak agar ibunya tidak
mengadukan pada ayahnya karena joika hal itu terjadi maka dia akan mendapat
hukuman dari ayahnya. Terlihat bahwa SK mematuhi aturan ibunya (untuk
mengembalikan uang penjualan Hp dengan utuh) agar tidak dihukum oleh
ayahnya. Disinilah peranan tahap pertama yaiut punishment. Tahap dimana
seseorang akan mematuhi aturan karena adanya hukuman.
Pada kasus diatas taap kedua yaitu tahap instrumental-relativist terlihat
jelas. dimana tahap ini tindakan yang benar adalah apa yang paling disepakati dan
mampu memberi kepuasan bagi diri sendiri maupun orang lain. Kali ini diliha
dari sudut pandang kesatuan pelaku(kelima pelaku). Kelima pelaku tersebut
memutuskan unutk mencuri sepeda tetangganya dalam menyelesaikan masalah
SK dan HP. Dalam mengambil keputusan itu mereka tidak memikirkan apakah
keputusan itu benar dan terbaik. Yang terpenting bagi mereka adalah kelima
pelaku tersebut sepakat itulah yang mereka anggap benar.
Rasa kesetiakawanan yang tinggi terhadap SK dan HP membawa
permasalahan besar bagi VW, NH, dan NR. Mereka melakukan itu senmua karena
keinginan unutk membantu permasalahan SK dan HP dan berusaha
menyenangkan hati mereka. Pada saai inilah tahap ketiga yaitu tahap
interpersonal concordance berperan. Dimana pada tahap ini tingakh laku yang

8
bermoral adalah semua tingkah laku yang menyenangkan, membantu atau
tindakan-tindakan yang diakui dan diterima orang lain.
Tahap keempat yaitu tahap law and order orientation. Pada tahap ini
seorang anak akan beruasaha mematuhi aturan dan menjaga ketertiban social.
Bagi kasus SK yang dimaksud aturan adalah ancaman dari ibunya dan ketertiban
social adalah tidak mau membuat suasana dirumah keruh sehingga memicu
amarah ayahnya. Dan pada kasus HP yang dimaksud aturan adalah ancaman dari
orang yang lampu sepedanya dipecahkan oleh HP. Ketertiban yang dimaksud
disini adalah tidak mau masalah ini sampai membesar atau sampai dilaporkan ke
polisi. Karena posisi mereka terpojokkan dan serba salah akhirnya jalan satu-
satunya adalah mencuri motor tetanggannya. Disinilah tahap keempat ini
berperan.
Selain tahap-tahap diatas, tahap kelima yaitu tahap orientation universal
ethical principles, terlihat jelas. saan SK dan HP mencoba unutk memenuhi
kebutuhan mereka(mendapatkan uang). Disitulah mereka ingin memnuhi
kebutuhan atau hak-hak mereka dengan cara apapun. Meskipun mereka tahu hal
itu sangat bertolak belakang dengan masyarakat. Saat itula terlihat adanya konflik
antara hak-hak masyarakat dengan hak-hak individu.
Saat mereka berlima memutuskan untuk mencuri, pastilah mereka tahu
bahwa mencuri adalah perbuatan melanggar hokum. Namun karena hati mereka
menginginkan permasalahan cepat selesai dan mendapatkan apa yang mereka
butuhkan, akhirnya mereka menghiraukan aturan hokum dan menuruti apa yang
mereka anggap benar. Pada saat itulah tahap keenam yaitu tahap orientation of
universal ethical principles berperan. Tahap ini adalah tahap dimana jika ada
konflik antara hokum dan suara hati, maka akan memilih suara hati dan
menghiraukan hukum.

E. SOLUSI

Pengetahuan tentang teori perkembangan moral tidak membuat tugas


mendidik kea rah perkembangan moral itu menjadi lebih mudah. Masala-masalah
pencarian bahan, rganisasi, strategi yang memberikan motivasi dan perhatian
terhadap perbedaan-perbedaan individual masih harus dicarikan jawabnya.

9
Demikian pula kesabaran, toleransi, pengertian masih tetap mutlak diperlukan,
serta peranan orang tua dan guru dalam perkembangan moral.
1. Peranan orang tua
• Perikasalah dan secara aktif mintalah kepada anak
pertimbangan-pertimbangan yang mereka ajkan dalam
mengambil keputusan moral.
• Pertimbangan-pertimbangan mereka jangan dinilai baik atau
buruk, juga keputusan-keputusan mereka jangan dinilai sebagai
benar atau salah.
• Bedakan secara tegas antara aturan-aturan sopan santun dan
aturan rumah tangga dengan masalah-masalah yang
mengandung bobot moral yang menyangkut soal keadilan dan
hubungan antar manusia.
• Hendaknya anak-anak diberi kesempatan unutk menentukan
aturan-aturan yang mengatur kehidupan sehari-hari dalam
keluarga.
• Jangan memberikan stimulasi penalaran moral pada anaki,
apabila anda sedang marah atau penasaran karena kelakuan
anak.
• Pilhlah hukuma-hukuman yang ada hubungannya dengan
kesalahan yang dilakukan oleh anak dan hukuman-hukuman
yang menekankan akibat dari kelakuannya itu terhadap orang
lain/masyarakat.
• Hormatilah hal anak untuk membela diri, kalau anda memberi
hukuman atau penilaian yang tidak adil.
• Secara periodic bicarakanlah dengan anak-anak apa yang
mereka anggap adil dan tidak adil dalam hal hubungan dan tata
cara dalam keluarga.
• Berilah tanggung jawab kepada anak unutk mengerjakan
pekerjaan serta tangggung jawab di rumah.
• Bicarakan masalah-masalah hangat yang menyangkut
keputusan moral, dengan mendesak anak unutk mengajukan
pendirian dan pertimbangan-pertimbangannya.

10
• Susunlah tata tertib kehidupan dan nyatakan tingkah lauku
mana yang anda harapkan, tetapi ingat bahwa anda tidak dapat
mencetak nilai-nilai anda kepada anak anda.

2. Peranan para guru


• Berusahalah sungguh-sungguh untuk menciptakan kelas
sebagai suatu lingkungan, dimana para warganya dapat hidup
dan belajar bersama dalam suasana hormat menghormati.
• Berilah kesempatan pada siswa-siswi untuk
bersuara(berpendapat) dalam menentukan aturan kelas.
• Pilihglah hukuman-hukuman yang da hubungannya
dengan pelanggaran, dan bila mungkin hukuman tersebut
menunjukan kepada siswa-siswi akibat tindakannya teradap
kelompok.
• Berilah kesempatan untuk bekerja dalam kelompok.
• Dalam bercerita dan berdiskusi tentang pengalaman
sehari-hari, bantulah siwa-siswi memikirkan perasaan orang
lain, baik yang sngguh-sungguh terjadi maupunyang fiktif.
• Buatlah permainan peran (semacama drama) dari
kejadian-kejadian yang membawa orang pada kekecrewaan,
ketegangan, pertngakaran, kegembiraan dengan maksud
memberi kesempatan kepada para siswa unutk dapat melihat
kejadian itu dari perspektif dirinya sendiri.
• Diskusikan dalam forum kelas apa yang mereka anggap
sebagai tata cara dan hubungan=hubungan dalam kelas yang
adil dan tidak adil.
• Carialh kesempatan untuk mendengar jawaban tiap siswa
terhadap pentanyaan tentang pertimbangan moral.
• Pancinglah diskusi-diskusi yang akan menariknya ke
penalaran tahap yang lebih tinggi, dengan menggunakan bahan
bacaan, film, dan pengalaman sehari-hari.

11