Anda di halaman 1dari 23

BAB II

LANDASAN TEORI

Pada landasan teori ini penulis akan menjelaskan mengenai anaotmi fisiologi,
konsep dasar penyakit dan proses asuhan keperawatan pada klien dengan
tuberkulosus paru.
A KONSEP DASAR MEDIS
1. Definisi
Tuberkulosis adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh
Mycobacterium tuberculosis dan penularan melalui udara. (Black, 1997).
Tuberkulosis adalah penyakit infeksius, yang terutama menyerang
parenkim paru. (Smeltzer & Bare, 1997).
Tuberkulosis adalah suatu penyakit infeksi kronik pada paru yang
karakteristiknya melalui formasi tuberkel atau granulomas. (Luckman &
Sorensens, 1993).
Dari beberapa definisi di atas dapat disimpulkan bahwa Tuberkulosa
Paru (TBC) adalah penyakit infeksi yang menular, bersifat kronis, akut atau
sub akut dimana tempat predileksinya pada parenkim paru dan dapat meluas
pada bagian tubuh yang lain yang disebabkan oleh kuman Mikobakterium
Tuberkulosis berbentuk batang bersifat tahan terhadap asam (BTA), bersifat
dorman dan dapat hidup lama tetapi virulen dalam lingkungannya.

2. Anatomi Sistem Pernapasan


a. Anatomi Sistem Pernapaan Atas
1) Hidung
Merupakan saluran udara yang pertama, mempunyai 2 lubang
(kavum nasi), dipisahkan oleh sekat hidung (septum nasi).
Didalamnya terdapat bulu-bulu yang berguna menyaring udara, debu
dan kotoran yang masuk kedalam lubang hidung. Jalan nafas ini

4
berfungsi sebagai penyaring kotoran dan melembabkan serta
menghangatkan udara yang dihirup ke dalam paru-paru.
2) Sinus Paranasal
Sinus-sinus paranasal termasuk empat pasang rongga bertulang yang
dilapisi oleh kumosa hidung dan epitel kolumnar bertingkat semua
yang bersilia. Rongga-rongga udara ini dihubungkan oleh
serangkaian duktus yang mengalir ke dalam rongga hidung. Sinus-
sinus disebut berdasarkan letaknya, yaitu: sinus frontalis, etmoidalis,
sfenoidalis, dan maksilaris.
3) Konka ( tulang turbinasi)
Tulang turbinasi, atau konka nama yang ditunjukkan oleh
penampilannya yang seperti siput, mengambil bentuk dan posisi
sedemikian rupa sehingga dapat meningkatkan permukaan membran
mukosa saluran hidung dan untuk sedikit menghambat arus udara
yang mengalir melaluinya.
4) Faring, Tonsil, dan Adenoid
Faring, atau tenggorok, adalah struktur seperti tuba yang
menghubungkan hidung dan rongga mulut ke laring. Faring dibagi
menjadi tiga region: nasal, oral, dan laring.
5) Laring
Laring, atau organ suara, adalah struktur epitel kartilago yang
menghubungkan faring dan trakea.
Fungsi utama laring adalah untuk memungkinkan terjadinya
vokalisasi. Laring juga melindungi jalan nafas bawah dari obstruksi
benda asing yang memudahkan batuk. Laring sering disebut sebagai
kotak suara.
b. Anatomi Paru
1) Pleura
Bagian terluar dari paru-paru dikelilingi oleh membran halus, licin
yaitu pleura, yang juga meluas untuk membungkus dinding interior

5
toraks dan permukaan superior diafragma. Pleura parietalis melapisi
toraks, dan pleura viseralis melapisi paru-paru. Antara kedua pleura
ini terdapat ruang, yang disebut spasium pleura, yang mengandung
sejumlah kecil cairan yang melicinkan permukaan dan
memungkinkan keduanya bergeser dengan bebas selama ventilasi.
2) Mediastinum
Mediastinum adalah dinding yang membagi rongga toraks menjadi
dua bagian. Mediastinum terbentuk dari dua lapisan pleura. Semua
struktur toraks kecuali paru-paru terletak antara kedua lapisan pleura.
3) Lobus
Setiap paru dibagi menjadi lobus-lobus. Paru kiri terdiri atas lobus
bawah atas, tengah, dan bawah. Setiap lobus lebih jauh dibagi lagi
manjadi dua segmen yang dipisahkan oleh fisura, yang merupakan
perluasan pleura.
4) Bronkus dan Bronkiolus
Terdapat beberapa divisi bronkus didalam setiap lobus paru. Pertama
adalah bronkus lobaris (tiga pada paru kanan dan dua pada paru kiri).
Bronkus lobaris dibagi menjadi bronkus segmental (10 pada paru
kanan dan 8 pada paru kiri), yang merupakan struktur yang dicari
ketika memiliki posisi drainase postural yang paling efektif untuk
pasien tertentu. Bronkus segmental kemudian dibagi lagi menjadi
bronkus subsegmental. Bronkus ini dikelilingi oleh jaringan ikat
yang memiliki arteri, limfarik, dan saraf.
5) Alveoli
Paru terbentuk oleh sekitar 300 juta alveoli, yang tersusun dalam
kluster antara 15 sampai 20 alveoli. Begitu banyaknya alveoli ini
sehingga jika mereka bersatu untuk membentuk satu lembar, akan
menutupi are 70 meter persegi (seukuran lapangan tenis).

6
3. Etiologi
Penyebab utama penyakit tuberkulosis paru adalah mycobacterium
tuberculosis, adalah batang aerobik tahan asam yang tumbuh dengan lambat
dan sensitif terhadap panas dan sinar ultraviolet. Mycobacterium bovis dan
Mycobacterium avium pernah tetapi kejadiannya jarang, berkaitan dengan
terjadinya infeksi tuberkulosi. (Smeltzer dan Bare, 1997, h.584)

4. Patofisiologi
Individu rentan ynag menghirup basil tuberculosis dan menjadi
terinfeksi. Bakteri dipindahkan melalui jalan napas ke alveoli, tempat
mereka berkumpul dan mulai memperbanyak diri. Basil juga dipindahkan
melalui sistem limfe dan aliran darah kebagian tubuh lainnya (ginjal, tulang,
dan Korteks serebri), dan area paru-paru lainnya (lobus atas). Sistem imun
tubuh berespons dengan melakukan reaksi inflamasi Fagosit (neutrofil dan
makrofag) menelan banyak bakteri; limfosit spesifik tuberkulosis melisis
(menghancurkan) basil dan jaringan normal. Reaksi jaringan ini
mengakibatkan penumpukan eksudat dalam alveoli, menyebabkan
bronkopneumonia. Infeksi awal biasanya terjadi 2 sampai 10 minggu setelah
pemajanan. Massa jaringan baru, yang disebut granulomas, yang merupakan
gumpalan basil yang masih hidup dan yang sudah mati dikelilingi oleh
makrofag yang membentuk dinding protektif. Granulomas diubah menjadi
massa jaringan fibrosa. Bagian (bakteri dan makrofag) menjadi nekrotik,
membentuk massa seperti keju. Massa ini dapat mengalami klasifikasi
membentuk skar kolagenosa. Bakteri menjadi dorman, tanpa perkembangan
penyakit aktif. Setelah pemajanan dan infeksi awal, individu dapat
mengalami penyakit aktif karena gangguan atau respon sistem imun.
Penyakit aktif juga dapat terjadi dengan infeksi ulang dan aktivasi bakteri
dorman. Dalam kasus ini tuberkel ghon memecah menyembuh, membentuk
jaringan parut. Paru yang terinfeksi menjadi lebih bengkak, mengakibatkan
terjadinya bronko pneumonia lebih lanjut, pembentukan tuberkel dan

7
selanjutnya. Kecuali proes tersebut dapat dihentikan, penyebarannya dengan
lambat mengarah kebawah kehilum paru-paru dan kemudian meluas kelobus
yang berdekatan. Proses infeksi umumnya secara laten tidak menunjukkan
gejala sepanjang hidup, sekitar 10% individu yang awalnya terinfeksi
mengalami penyakit aktif dan menjadi sakit TB. Dengan integritas
kekebalan yang menurun karena malnutrisi, infeksi HIV, supresi kekebalan
immunoterapi, atau bertambahnya usia.
(Smeltzer dan Bare, 2001, h. 585).

8
Patoflodiagram Tuberculosis Paru
Kuman basil TB

Menjadi terinfeksius Penumpukkan eksudat dalam alveolus


Resiko penularan Melalui droplet, batuk,
bernapas

Bronkopneumonia
Respon sistem imun fagositosis oleh
neutrofil dan makrofag

Bersihan jalan nafas tidak efektif


Lisis jaringan
normal

Basil yang msih hidup dan Terapi obat OAT Kurang


menetap menjadi Protektif pengetahuan
Membentuk masa pengkejuan dan skar kolagen

Sembuh total
Granulomas diubah menjadi Putus obat
jaringan fibrosa
Ghon atau pengkejuan memecah dalam bronki

Menjadi nekrotik, jaringan parut Dorman

Penyebaran melalui udara


Nyeri dada

Gangguan pola
Batuk, energi banyak diperlukan istirahat tidur

Kelemahan fisik

Anorexia

BB menurun

Gg. Nutrisi

Sumber: Smaltzer & Bare, 1997, h. 585

9
5. Manifestasi Klinis
Tanda dan gejala yang menyertai penyakit tuberkulosis paru adalah:
a. Demam tingkat rendah
b. Keletihan
c. Anoreksia
d. Penurunan berat badan
e. Berkeringat malam
f. Nyeri dada
g. Batuk menetap lebih dari 3 minggu; batuk pada awalnya mungkin non
produktif, tetapi dapat berkembang kearah pembentukan sputum
mukopurulen dengan hemotipsis.
(Smeltzer & Bare, 1997, h.585)

6. Faktor Resiko
Individu yang beresiko tinggi untuk tertular tuberkulosis paru adalah:
a. Orang yang kontak dekat dengan
seseorang yang mempunyai TB aktif
b. Populasi yang kurang
mendapatkan pelayanan kesehatan misalnya ras dan suku minoritas
(Afrika, Amerika Latin, Eskimo, Tuna wisma, Tahanan)
c. Individu imunosupresif, seperti:
1) Lansia
2) Pasien dengan kanker
3) Pasien dengan HIV
4) Mereka yang mendapat terapi kortikosteroid
d. Pengguna obat-obat intra vena
dan alkoholis
e. Setiap individu dengan gangguan
medis yang sudah ada sebelumnya, antara lain misalnya: diabetes

10
mellitus, gagal ginjal kronis, silikosis, gastrektomy, leukimia, lympoma,
malnutrisi.
f. Immigran dengan insiden tinggi
TB (Asia Tenggara, Afrika, Amerika Latin , Karibia)
g. Setiap individu yang tinggal di
institusi (misalnya: fasilitas perawatan jangka panjang, institusi
psikiatrik, penjara)
h. Orang yang tinggal diperumahan
kumuh
i. Petugas kesehatan
(Black, et-al, 1997, h. 1140 )

7. Cara Penularan
Penyakit tuberkulosis ditularkan dari orang ke orang oleh transmisi melalui
udara. Individu terinfeksi, melalui:
a. Berbicara
b. Batuk
c. Bersin
d. Tertawa
e. Menyanyi
(Smeltzer & Bare, 2000, h.585)

8. Pencegahan
a. Pencegahan primer
Berikan tuberkulosis skin test kepada:
1) Orang yang mengalami tanda dan gejala atau pemeriksaan hasil
laboratorium abnormalitas yang diduga secara klinis tuberkulosis
aktif.
2) Orang yang kontak dengan penderita TB atau diduga TBC aktif sebara
klinis.

11
3) Orang yang beresiko tinggi
4) Hasil rontgen abnormal

b. Pencegahan sekunder
1) Ajarkan klien dengan TB untuk kontrol mencegah organisme dengan
memakai masker, menutup mulut bila batuk dan membuang sputum
dengan benar.
2) Evaluasi seseorang yang skin test TB positif tetapi tidak aktif
menderita untuk terapi pencegahan dengan obat isoniazid.
c. Pencegahan tersier
1) Klien harus menjalankan terapi pengobatan dengan obat
antituberkulosis secara tuntas dan lengkap.
2) Mengubah, mencegah dan menangani tingkah laku seseorang yang
mengalami perwatan TB.
( Black, et-al, 1997, h. 1140)

9. Pemeriksaan Diagnostik
a. Kultur sputum : Pada pemeriksaan ini hasilnya positif unutk
mycobacterium tuberculosis pada tahap aktif penyakit
b. Ziehl - Nealsen (pemakaian asam cepat pada gelas kaca untuk usapan
cairan darah ): positif untuk basil asam cepat
c. Tes kulit (PPD, Mantoux, potongan Voll mer): Reaksi positif carea
indurasi 10 mm atau lebih besar, terjadi 48-72 jam setelah injeksi intra
dermal antigen menunjukan penyakit aktif reaksi bermakna pada
pasien yang secara klinik sakit berarti bahwa TB aktif tidak dapat
diturunkan atau infeksi disebabkan oleh micobacterium yang berbeda.

12
d. Foto toraks: Dapat menunjukan infiltrasi lesi awal pada area paru atas.
Perubahan menunjukan lebih luas TB dapat termasuk, area fibrosa.
e. Histologi atau kultur jaringan paru : Positif untuk granuloma TB;
adanya sel raksasa menunjukan nekrosis.

f. Elektrosit : Dapat tak normal tergantung pada lokasi dan beratnya


infeksi; contoh hiponatreamia disebabkan oleh tak normalnya retensi
air dapat ditemukan pada TB paru kronis luar.
g. GDA : dapat normal tergantuing lokasi dan berat dan kerusakan sisa
pada paru.
h. Pemeriksaan fungsi paru : Penurunan kapasitas vital, peningkatan
ruang mati, peningkatan rasio udara residu dan kapasitas paru total,
dan penurunan saturasi oksigen sekunder terhadap infiltrasi
parenkim/fibrosis, kehilangan jaringan paru dan penyakit pleural (TB
paru kronis luar)
(Doenges, 2000, h. 241-242)

10. Komplikasi
TBC paru bila tidak ditangani dengan benar dan baik akan
menimbulkan komplikasi. Komplikasi terdiri atas:
a. Komplikasi dini
1) Pleuritis.
2) Efusi pleura.
3) Empiema.
4) Laringitis.
5) Menjalar ke organ lain (otak, tulang, ginjal, kulit dan usus).

b. Komplikasi lanjut

13
1) Obstruksi jalan nafas (Sindrom Obstruksi Pasca Tuberkulosis).
2) Kerusakan parenkim berat (SOPT/Fibrosis Paru, Kor Pulmonal).
3) Amiloidosis.
4) Karsinoma paru.
5) Sindrom Gagal Nafas Dewasa (ARDS), sering terjadi pada TB
milier dan kavitas TB.
(FKUI, 2000. h. 829).
11. Penatalaksanaan
Tuberkulosis paru diobati terutama dengan agens kemoterapi (agens
antituberkulosis) periode 6-12 bulan.
Lima garis depan digunakan adalah:
a. Isoniazid (INH) : 5 mg/Kg/hr ( IM/PO)
b. Rifamfisin (RIF) : 10 mg/Kg/hr ( PO )
c. Etambutol (EMB) : 15-25 mg/Kg/hr ( PO )
d. Streptomisin (SM) : 15 mg/Kg/Hr ( IM )
e. Pirazinamid (PZA) : 15 – 30 mg/Kg/hr ( PO )

Obat-obat baris kedua adalah :


a. Kapreomisin : 15 – 30 mg/Kg/Hr ( IM )
b. Kanamicin : 15 – 30 mg/Kg/Hr ( IM )
c. Etionamid : 15 – 20 mg/Kg/Hr ( PO )
d. Natrium para amino salisilat : 150 mg/Kg/Hr ( PO )
e. Sikloserin : 15 mg/Kg ( PO )
( Black, 1997, h. 1140 )

14
B KONSEP DASAR KEPERAWATAN
Pada bagian ini penulis akan menguraikan tentang konsep dasar asuhan
keperawatan klien dengan tuberculosis paru dimana asuhan keperwatan ini
menggunakan pendekatan proses keperawatan yang terdiri dari 5 tahap, yaitu :
Pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan keperawatan, pelaksanaan dan
evaluasi. Dikutip dari Iyer et. al., 1996 ( Nursalam, 2001, h. 1).
1. Pengkajian
Pengkajian adalah merupakan tahap awal dari proses keperawatan
dan merupakan proses yang sistematis dalam pengumpulan data sebagai
sumber data untuk mengevaluasi dan mengidentifikasi status kesehatan
klien. Dikutip dari Iyer, et. al., 1996 (Nursalam, 2001, h. 17). Tahap
pengkajian merupakan dasar utama dalam memberikan askep sesuai dengan
kebutuhan individu, sehingga pengkajian akurat, lengkap, sesuai kenyataan
dan kebenaran data sangat penting dalam merumuskan diagnosa
keperawatan.
Dalam tahapan ini dilakukan pengumpulan data yag terdiri dari tiga
metode yaitu komunikasi efektif, observasi dan pemeriksaan fisik. Data
yang dikumpulkan terdiri atas data dasar dan data focus. Dikutip dari Iyer,
et. al., 1996 (Nursalam, 2001, h. 25).
Untuk kasus tuberculosis paru menurut Doenges (2000, h. 241),
pengkajian yang dilakukan meliputi:
a. Identitas

15
Kajian ini meliputi nama, initial, umur, jenis kelamin, agama, suku,
pendidikan pekerjaan dan tempat tinggal klien. Selain itu perlu juga
dikaji nama dan alamat penanggung jawab, serta hubungannya dengan
klien.

b. Riwayat Penyakit Dahulu


Kaji riwayat penyakit yang pernah diderita dari masa kanak-kanak
sampai dewasa, termasuk pengalaman operasi atau cedera akibat
kecelakaan, hal ini penting untuk memaparkan masalah kesehatan klien
yang mungkin dapat menyebabkan komplikasi lebih berat terhadap
penyakit tuberculosis ini.

c. Riwayat Penyakit Sekarang


1) Keluhan Utama
Keluhan demam malam, keringat malam, batuk-batuk
berdahak/berdarah,susah bernapas, keletihan, berkeringat malam,
napsu makan berkurang, penurunan berat badan.
2) Riwayat Perjalanan Penyakit
Berapa lama sakit dialami, hal-hal yang memperingan / memperberat
penyakit.
3) Upaya yang dilakukan untuk mengatasi keluhan.

d. Pola Kesehatan
1) Pola Aktivitas / Istirahat
Klien dapat mengalami penurunan kelemahan, napas pendek karena
kerja, kesulitan tidur pada malam hari, demam malam hari,

16
menggigil atau berkeringat. Ditandai dengan kelemahan otot, nyeri,
dan sesak (tahap lanjut).
2) Pola Integritas ego
Klien dapat mengalami stress, masalah keuangan, perasaan tak
berdaya/ tak ada harapan ditandai menyangkal, ansietas, ketakutan,
mudah terangsang.
3) Pola Nutrisi Metabolik/ cairan
Klien dapat mengeluh kurang nafsu makan,tak dapat mencerna,
penurunan berat badan. Ditandai dengan turgor kulit buruk,
kering/kulit bersisik,kehilangan otot/hilang lemak subkutan.

4) Pola Nyeri / Kenyamanan


Nyeri dada meningkat karena batuk berulang, Ditandai perilaku
distraksi dan gelisah.

5) Pola Pernapasan
Klien mengeluh batuk, produktif atau tak produktif, napas pendek,
riwayat tuberkulosis atau terpajan pada individu terinfeksi. Ditandai
dengan peningkatan frekuensi, pengembangan pernapasan tak
simetris (efusi pleura), perkusi pekak dan penurunan fremitus, bunyi
napas: menurun, tubuler dan atau bisikan pectoral di atas lesi luas.
Krekels tercatat di atas apek paru selama inspirasi cepat setelah batuk
pendek Karakteristik sputum hijau/purulen, mukoid kuning, atau
bercak darah, perubahan mental ( tahap lanjut).

6) Pola interaksi sosial


Klien merasa terisolasi/penolakan karena penyakit menular,
perubahan pola biasa dalam tanggung jawab atau perubahan
kapasitas fisik untuk melaksanakan peran.

17
7) Penyuluhan/pembelajaran
Ditandai dengan adanya riwayat keluarga yang menderita TBC,
ketidakmampuan umum/status kesehatan buruk, gagal untuk
membaik/kambuhnya penyakit serta tidak mau berpartisipasi dalam
terapi.
(Doenges, 2000, h. 240 - 241)

2. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan adalah suatu pernyataan yang menjelaskan
respon manusia dari individu atau kelompok dimana perawat secara
akontabilitas dapat mengidentifikasi dan memberikan informasi secara pasti
untuk menjaga status kesehatan, menurunkan, membatasi, mencegah dan
merubah. Dikutip dari Carpenito, 2000 (Nursalam, 2001, h. 35).
Diagnosa keperawatan adalah masalah kesehatan aktual dan
potensial dimana berdasarkan pendidikan dan pengalaman dia mampu dan
mempunyai kewenangan memberikan tindakan keperawatan. Dikutip dari
Gordon, 1976 (Nursalam, 2001, h. 35).
Menurut Doenges (2000, h. 242 – 248), diagnosa keperawatan yang
muncul pada klien dengan tuberkulosis paru adalah :
a. Bersihan jalan napas tidak efektif b.d sekret kental, upaya batuk buruk,
kelemahan, edema trakeal/faringeal.
b. Resiko tinggi penyebaran infeksi/aktivasi ulang penyakit b.d pertahanan
primer tak adekuat, penurunan kerja silia/stasis sekret, kerusakan
jaringan/penambahan infeksi, terpajan lingkungan dan kurang
pengetahuan untuk menghindari pemajanan patogen.
c. Resiko tinggi kerusakan pertukaran gas b.d penurunan permukaan efektif
paru, atelektasis, kerusakan membrane alveolar-kapiler, sekret kental,
edema bronkhial.
d. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d. kelemahan, sering
batuk/produksi sputum; dispnea, anoreksia.

18
e. Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar) mengenai kondisi,aturan
tindakanan, pencegahan b,d kurang sumber informasi.

3. Intervensi
Setelah merumuskan diagnosa keperawatan, langkah berikutnya
adalah menetapkan perencanaan keperawatan. Perencanaan meliputi
pengembangan strategi desain untuk mencegah, mengurangi atau
mengoreksi masalah yang diidentifikasi pada diagnosa keperawatan . Tahap
ini dimulai setelah menentukan diagnosa keperawatan dan penyimpulan
rencana dokumentasi.
a. Bersihan jalan napas tak efektif efektif b.d sekret kental, upaya batuk
buruk, kelemahan, edema trakeal/faringeal.
Tujuan : Jalan napas klien bersih dan tidak ada sekret.
Kriteria Hasil : Mempertahankan jalan napas, mengeluarkan sekret
tanpa bantuan., menunjukkan prilaku mempertahankan
bersihan jalan napas dan klien berpartisipasi dalam
pengobatan..
Rencana Tindakan:
1) Kaji fungsi pernapasan, bunyi napas, kecepatan, irama dan
kedalaman dan penggunaan otot dan aksesori.
Rasional : Penurunan bunyi napas dapat menunjukan atelektasis,
Ronki, mengi menunjukan akumulasi sekret/ketidakmampuan untuk
membersihkan jalan napas yang dapat menimbulkan penggunaan otot
aksesori pernapasan dan peningkatan kerja pernapasan
2) Kaji kemampuan untuk batuk efektif, karakter dan jumlah sputum,
adanya hemoptisis.

19
Rasional: Pengeluaran sulit bila sekret sangat tebal. Sputum berdarah
kental atau darah cerah diakibatkan oleh kerusakan (kavitasi) paru
atau luka bronkial dan dapat memerlukan evaluasi/intervensi lanjut
3) Berikan posisi semi fowler.
Rasional: Posisi membantu memaksimalkan ekspansi paru dan
menurunkan upaya pernapasan.
4) Bantu pasien untuk batuk dan latihan napas dalam.
Rasional: Ventilasi maksimal membuka area atelektasis dan
meningkatkan gerakan sekret ke dalam jalan napas besar untuk
dikeluarkan.
5) Pertahankan masukan cairan sedikitnya 2500 ml/hari.
Rasional: Pemasukan tinggi cairan membantu untuk mengencerkan
sekret, membuatnya mudah dikeluarkan.
Kolaborasi :
6) Pemberian obat kortikosteroid sesuai pesanan
Rasional: Berguna pada adanya keterlibatan luas dengan hipoksemia
dan bila respon inflamasi mengancam hidup.
b. Resiko tinggi penyebaran infeksi/aktivasi ulang penyakit b.d pertahanan
primer tak adekuat, penurunan kerja silia/stasis sekret, kerusakan
jaringan/penambahan infeksi, terpajan lingkungan dan kurang
pengetahuan untuk menghindari pemajanan patogen.
Tujuan : Setelah diberikan intervensi tidak terjadi penyebaran
infeksi dan penularan penyakit terhadap orang lain.
Kriteria hasil : Dapat menentukan intervensi mencegah/menurunkan
resiko penyebaran infeksi, klien dan keluarga
melakukan perubahan pola hidup untuk meningkatkan
lingkungan yang aman.
Rencana Tindakan :

20
1) Kaji patologi penyakit fase aktif/tidak aktif dan potensial penyebaran
infeksi melalui droplet udara selama batuk, bersin, meludah, bicara,
tertawa, menangis.
Rasional: Membantu pasien menyadari/menerima perlunya
mematuhi program pengobatan untuk mencegah pengaktifan
berulang/komplikasi.
2) Observasi tanda-tanda vital (TD, DN, S, N).
Rasional : Perubahan nilai tanda vital merupakan indikator adanya
infeksi lanjut.
3) Anjurkan klien untuk batuk/bersin menggunakan tisu dan buang pada
tempat yang tepat serta cuci tangan dengan desinfektan sebelum dan
sesudah kontak dengan klien
Rasional : mencegah terjadinya penularan nasokomial dari pasien ke
perawat atau orang lain.
4) Identifikasi orang yang berisiko terinfeksi.
Rasional: orang yang terpajan ini perlu program pengobatan untuk
cegah penularan dari klien pada orang lain.
5) Jelaskan cara penularan penyakit dan cara menguranginya.
Rasional: pengetahuan tentang ini dapat menurunkan resiko infeksi
dengan merubah pola hidup.

Kolaborasi:
6) Berikan agen anti infeksi sesuai dengan indikasi
Rasional: Agen anti infeksi dapat digunakan sebagai pengobatan dan
cegah komplikasi lanjut.
7) Tekankan untuk tidak menhentikan terapi obat.
Rasional: Karena penyebaran infeksi dapat berlanjut.
c. Resiko tinggi kerusakan pertukaran gas b.d penurunan permukaan
efektif paru, atelektasis, kerusakan membrane alveolar-kapiler, sekret
kental, edema bronkhial.

21
Tujuan : Setelah dilakukan intervensi keperawatan klien tidak
mengalami kerusakan pertukaran gas CO2 dan O2
Kriteria Hasil : Perbaikan ventilasidan oksigenisasi jaringan adekuat
dengan gas darah analisa dalam rentang normal.
Rencana Tindakan:
1) Kaji dyspnea, takipnea, bunyi pernapasan abnormal, meningkatnya
respirasi, keterbatasan ekspansi dada dan fatigue.
Rasional: TB paru menyebabkan efek luas pada paru dan bagian
kecil bronkopneumonia sampai inflamasi difus luas, nekrosis, effusi
pleural, dan fibrosis luas. Efek pernapasan dapat ringan sampai
dispnea berat sampai distres pernapasan.
2) Evaluasi perubahan tingkat kesadaran, catat tanda-tanda sianosis dan
perubahan kulit, selaput mukosa dan warna kuku.
Rasional: Akumulasi sekret/pengaruh jalan napas dapat
mengganggu oksigenisasi organ vital dan jaringan.
3) Demonstrasikan/anjurkan untuk mengeluarkan napas dengan bibir
disiutkan, khususnya untuk pasien dengan fibrosis atau kerusakan
parenkim.
Rasional: Membuat tahanan melawan udara luar, untuk mencegah
kolaps/penyempitan jalan napas, sehingga membantu menyebarkan
udara melalui paru dan menghilangkan/menurunkan napas pendek.
4) Anjurkan untuk bedrest/mengurangi aktifitas.
Rasional: Menurunkan konsumsi oksigen/kebutuhan selama periode
penurunan pernapasan dapat menurunkan beratnya gejala.
Kolaborasi :
5) Berikan oksigen tambahan .
Rasional:: Alat dalam perbaikan hipoksemia yang dapat terjadi
sekunder terhadap penurunan ventilasi/menurunnya permukaan
alveolar paru.

22
d. Gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan
dengan anoreksia.
Tujuan : Meningkatkan perubahan/perilaku pola makan untuk
memenuhi kebutuhan nutrisi.
Kriteria Hasil : Menunjukkan peningkatan berat badan dan bebas dari
tanda-tanda malnutisi.
Rencana Tindakan:
1) Kaji status nutrisi, riwayat mual dan muntah.
Rasional: Berguna dalam mendefinisikan derajat/luasnya masalah
dan pilihan intervensi yang tepat.
2) Kaji pola diet pasien yang disukai/tidak disukai.
Rasional: Membantu dalam mengidentifikasikan kebutuhan/
kekuatan khusus. Pertimbangan keinginan individu dapat
memperbaiki masukan diet.
3) Monitor intake dan output secara periodik.
Rasional: Berguna dalam mengukur keefektifan nutrisi dan
dukungan cairan.
4) Dorong dan berikan periode istirahat sering.
Rasional: Membantu menghemat energi, khususnya bila kebutuhan
metabolik meningkat saat demam.
5) Dorong klien untuk makan sedikit tapi sering dengan makanan
tinggi protein dan karbohidrat.
Rasional: Memaksimalkan masukan nutrisi tanpa kelemahan yang
perlu/kebutuhan energi dari makan makanan banyak dan
menurunkan iritasi gaster.
Kolaborasi
6) Rujuk ke ahli diet untuk menentukan komposisi diet.
Rasional: Memberikan bantuan dalam perencanaan diet dengan
nutrisi adekuat untuk kebutuhan metabolik dan diet.
7) Berikan obat penetralisir asam lambung sesuai indikasi.

23
Rasional: Dapat membantu menurunkan insiden mual dan muntah
sehubungan dengan obat atau efek pengobatan pernapasan pada
perut yang penuh
8) Berikan terapi parenteral sesuai indikasi.
Rasional: Membantu terpenuhinya kebutuhan cairan dan
pengobatan parenteral
e. Kurangnya pengetahuan mengenai kondisi, pengobatan dan pencegahan
berhubungan dengan kurangnya informasi
Tujuan : Setelah diberikan intervensi klien dan keluarga
menunjukkan perubahan prilaku untuk memperbaiki
kesehatan.
Kriteria Hasil : Klien menyatakan pemahaman proses penyakit/
prognosis dan kebutuhan pengobatan.

Rencana Tindakan:
1) Kaji kemampuan belajar pasien.
Rasional: Belajar tergantung pada emosi dan kesiapan fisik dan
ditingkatkan pada tahapan individu.
2) Identifikasi gejala yang harus dilaporkan: hemoptisis, nyeri dada,
demam, kesulitan napas, kehilangan pendengaran, vertigo.
Rasional: Dapat menunjukkan kemajuan atau pengaktifan ulang
atau efek obat yang memerlukan evaluasi.
3) Tekanan pentingnya mempertahankan protein tinggi dan diet
karbohidrat serta pemasukan cairan adekuat.
Rasional: Memenuhi kebutuhan metabolik membantu
meminimalkan kelemahan dan meningkatkan penyembuhan. Cairan
dapat mengencerkan/ mengeluarkan sekret.
4) Berikan informasi yang spesifik dalam bentuk tulisan.

24
Rasional: Informasi tertulis menurunkan hambatan pasien untuk
mengingat sejumlah besar informasi. Pengulangan menguatkan
belajar
5) Jelaskan dosis obat, frekuensi pemberian dan kerja yang diharapkan.
Rasional: Meningkatkan kerjasama dalam program pengobatan dan
mencegah penghentian obat sesuai perbaikan kondisi pasien .
6) Kaji bagaimana Tuberkulosa ditularkan dan bahaya reaktivasi
Rasional: Pengetahuan dapat menurunkan risiko penularan/
reaktivitas ulang.
Berdasarkan diagnosa keperawatan yang muncul pada klien dengan
tuberkulosis paru, maka rencana keperawatan yang dapat dirumuskan harus
berdasarkan prioritas masalah keperawatan yang muncul. Menurut Doenges,
(2000) prioritas keperawatan sesuai dengan “Teori Maslow”. adalah sebagai
berikut:
1. Meningkatkan/mempertahankan ventilasi/oksigenisasi adekuat.
2. Mencegah penyebaran infeksi
3. Mendukung perilaku/tugas untuk mrmpertahankan kesehatan,
4. Meningkatkan koping strategi efektif
5. Memberikan informasi tentang penyakit/prognosis dan kebutuhan
pengobatan.

4. Perencanaan Pulang
Tujuan Pemulangan:
a. Fungsi pernapasan adekuat untuk memenuhi kebutuhan individu
b. Komplikasi dicegah
c. Pola hidup atau perilaku berubah diangkat untuk mencegah penyebaran
infaksi
d. Proses penyakit/prognosis dan program pengobatan dipahami.

25
Setelah klien dirawat di rumah sakit, pada tahap perencanaan perlu
direncanakan untuk pemulangan klien agar setiap apa yang didapatkan oleh
klien di rumah sakit dapat diterapkan oleh pasien seperti hal-hal berikut ini:
1. Minum obat sesuai dengan resep dokter.
2. Tutup mulut dan hidung bila bersin, batuk, dan tertawa.
3. Cuci tangan dan hati-hati setelah kontak dengan produk tubuh, pakai
masker atau jaringan yang kotor. Batuk dengan tissue dan buang
ditempat tertutup atau dibakar.
4. Gunakan masker pada situasi yang tepat dan gunakan dngan tepat.
5. Usahakan banyak istirahat, lingkungan yang bersih selama perawatan di
rumah, perhatikan ventilasi rumah dan perhatikan gizi yang baik.
6. Jangan menghentikan pengobatan sebelum waktu yang telah ditentukan
agar tidak resistensi terhadap obat.
7. Minta bantuan keluarga untuk pengawasan minuim obat.
8. Berikan penyuluhan secara tertulis terhadap penyakit, dan terapi yang
diberikan.

26