Anda di halaman 1dari 18

BAB II

TINJAUAN TEORITIS

A. KONSEP DASAR MEDIS


1. Anatomi Dan Fisiologi
Jantung merupakan sebuah organ yang terdiri dari otot. Otot jantung
merupakan jaringan istimewa karena kalau dilihat dari bentuk dan susunannya
sama dengan otot serat lintang, tetapi cara kerjanya menyerupai otot polos
yaitu di luar kemauan kita (dipengaruhi oleh susunan saraf otonom).
a. Antomi
1) Bentuk
Menyerupai jantung pisang, bagian atasnya tumpul disebut basis
cordis, sebelah bawah agak runcing disebut apeks cordis.
2) Letak
Dalam rongga dada sebelah depan (cavum mediastinum anterior)
antara costa 5 dan 6, dua jari di sebelah papila mamae, pada tempat ini
teraba adanya pukulan jantung yang disebut iktus cordis.
3) Ukuran
Lebih kurang sebesar gengaman tangan kanan dan beratnya kira-kira
250-300 gram.
4) Lapisan-lapisan jantung
a) Endokardium merupakan lapisan jantung sebelah kanan dalam
sekali yang terdiri dari jaringan endotel dan selaput lendir yang
melapisi permukaan rongga jantung
b) Miokardium merupakan lapisan inti dari otot-otot jantung, otot
jantung ini berbentuk bundalan-bundalan otot-otot jantung yaitu;
otot atria, otot ventrikuler. Bundalan otot atrio ventrikuler.
c) Perikardium lapisan jantung sebelah luar yang merupakan selaput
pembungkus, terdiri dari 2 lapisan yaitu lapisan parietal dan viseral
yang bertemu dipangkal jantung membentuk kantung jantung.

4
5

5) Katup-katup jantung
a) Katup trikuspidalis memisahkan antara atrium dan ventrikel kiri
jantung.
b) Katup bikuspidalis memisahkan antra atrium kanan dan ventrikel
kanan jantung.
c) Katup seminalis arteri pulmonalis aorta terletak antara ventrikel
kiri dan aorta.
d) Katup seminalis aorta terletak antara ventrikel sinistra dengan
aorta, dimana darah mengalir menuju kesaluran tubuh. (syaifuddin,
1996).
b. Fisiologi
1) Pengertian jantung
Jantung bergerak mengembang dan menguncup disebabkan oleh
karena adanya rangsangan yang berasal dari susunan saraf otonom.
Dalam kerjanya jantung mempunyai 3 periode yaitu;
a) Periode kontriksi (periode sistole) , suatu keadaan dimana jantung
bagian ventrikel dalam keadaan menguncup.
b) Periode dilatasi (periode diastole), keadaan dimana jantung
mengembang.
c) Periode istirahat, yaitu waktu antara periode kontriksi dan dilatasi
dimana jantung berhenti kira-kira 1/10 detik.
2) Siklus jantung
Merupakan kejadian yang terjadi dalam jantung selama peredaran
darah, gerakan jantung terdiri dari dua jenis yaitu : kontraksi (sistole)
dan peredaran (diastole). Kontraksi dari kedua atrium terjadi secara
serentak yang disebut sistole atrial.
3) Sifat otot jantung
Otot jantung mempunyai ciri-ciri yang khas, kemampuan berkontraksi
otot jantung sewaktu sistol maupun diastol tidak tergantung pada
rangsangan saraf. Konduktivitas (daya hantar) kontriksi melalui setiap
6

serabut otot jantung secara halus sekali dan sangat jelas sekali dalam
berkas his. Kekuatan yang dimiliki otot jantung secara otomatis
dengan tidak tergantung pada ransangan saraf.
4) Denyut arteri
Merupakan suatu gelombang yang teraba pada arteri bila darah
dipompakan keluar jantung, denyut ini dapat diraba pada arteri radialis
dan pedis yang merupakan gelombang tekanan yang dialihkan dari
aorta ke arteri yang merambat lebih cepat. Kecepatan denyut jantung
dalam keadaan sehat dipengaruhi oleh pekerjaan, makanan, emosi,
cara hidup dan umur.
5) Daya pompa jantung
Dalam keadaan istirahat jantung berdebar 70 kali per menit. Pada
waktu banyak pergerakan, kecepatan jantung bisa mencapai 150 kali
per menit dengan gaya pompa 20-25 liter per menit. (syaifuddin,
1996).

2. Pengertian
a. Gagal jantung adalah suatu keadaan patofisiologi adanya kelainan fungsi
jantung berakibat jantung gagal memompakan darah untuk memenuhi
metabolisme jaringan dan atau kemampuanya hanya ada kalau disertai
peninggian tekanan pengisian ventrikel kiri. (Noor Syaifulah. Edisi 1,
1996 hal. 975)
b. Gagal jantung adalah suatu keadaan patofisiologi berupa kelainan fungsi
jantung sehingga tidak mampu memompa darah untuk memenuhi
kebutuhan jaringan atau kemampuan hanya ada kalau disertai peningian
volume diastolik secara abnormal. (Kapita Selekta Kedokteran, jilid I,
edisi 3 hal 434).
c. Gagal jantung suatu kedaan yang memperlihatkan pengurangan fungsi
kemampuan jantung memompa darah secara memadai keseluruh bagian
sistem pembuluh darah arteri didalam tubuh. (Ibnu Masud, 1996 hal 136).
7

d. Gagal jantung adalah sindroma yang terjadi bila jantung tidak mampu
memompa darah cukup untuk memenuhi kebutuhan metabolik dan
oksigen jantung (Carpenito, 1999. hal 68).
e. Gagal jantung adalah ketidakmampuan jantung untuk memompa darah
yang adekuat untuk memenuhi kebutuhan jaringan akan oksigen dan
nutrisi (Bare & Smeltzer, vol 2. hal 805. th 2001)

3. Etiologi
Fungsi jantung sebagai pompa dapat dikelompokan menjadi tiga yaitu:
a. Kelainan pada jantung seperti kardiomiopati, katup jantung, sistem
sirkulasi koroneanya.
b. Kelainan pada stroke work atau kerja mekanik jantung. Kelainan ini
karena adanya hambatan faktor afterload seperti meningkatnya tahanan
sistematik vaskular, tingginya tekanan diastolik atau hambatan preload
berupa peningkatan aliran baik vena atau volume darah pada umumnya.
c. Kelainan irama jantung yang dapat menyebabkan jantung tidak efektif
dalam memompa darah ke arteri sepeti fibrilasi flutter atau bentuk aritmia
lainya. (Ibnu Masud, 1996. hal 136)
Kondisi yang mendasari penyebab kelainan fungsi otot jantung meliputi:
a. Hipertensi sistemik/ pulmonal yang mengakibatkan meningkatnya beban
kerja jantung yang akhirnya mengakibatkan hipetropi serabut otot jantung.
b. Peradangan dan penyakit miokardium degeneratif berhubungan dengan
gagal jantung karena kondisi ini secara tidak langsung merusak serabut
otot jantung dan menyebabkan kontraksi menurun.
c. Penyakit jantung lain yang sebenarnya tidak ada secara langsung
mempengaruhi jantung mekanisme yang terlibat mencakup gangguan
aliran darah melalui jantung, misalnya stenosis katub semiluner,
peningkatan mendadak afterload akibat meningkatnya tekanan darah
sistemik dapat menyebabkan gagal jantung tidak ada hipertropi
miokardial. Disritmia jantung yang dapat terjadi dengan sendirinya atau
8

secara sekunder akibat gagal jantung menurunkan efisiensi fungsi jantung.


(Bare & Smeltzer , edisi 8, vol 2 hal 806).

4. Patofisiologi
Setiap hambatan pada arah aliran darah (forward flow) dalam sirkulasi akan
menimbulkan bendungan pada arah yang berlawanan dengan aliran (backward
congestion). Hambatan pengaliran (forward failure) akan menimbulkan
kedaan yang berakibat terjadinya gejala-gejala backward failure dalam sistem
sirkulasi darah. Dengan demikian, sindrom gagal jantung merupakan
manifestasi kumpulan tanda-tanda dan gejala, mekanisme kompensasi jantung
dengan disertai akibat sampingnya. Beberapa mekanisme kompensasi yang
terjadi pada gagal jantung ialah dilatasi ventrikel, hipertropi ventrikel,
kenaikan rangsangan simpatik berupa takikardia dan vasokostriksi perifer.
Peningkatan kadar katekolamine plasma, retensi garam dan cairan badan dan
peningkatan ekstraksi oksigen oleh jaringan jantung bagian kiri dan jantung
bagian kanan merupakan dua pompa pararel yang terpisah secara anatomis,
akan tetapi secara fisiologis masih berhubungan dalam satu sistem sirkulasi.
Bila jantung bagian kanan dan kiri bersama-sama dalam keadaan gagal akibat
gangguan aliran darah dan ada gejala-gejala dan adanya bendungan, maka
akan tampak tanda dan gejala-gejala gagal jantung pada sirkulasi sistemik dan
pada sirkulasi paru, keadaan ini yang disebut gagal jantung kongestif. (Noor,
Syaifulah, edisi, 1996. hal 197)
9

PATOFLODIAGRAM

Hipertensi yang menahun, miokard infark


Stenosis katub mitral / aorta, hipertrofi ventrikel kiri

Penurunan fungsi jantung menahun

CHF

Gagal jantung kiri Gagal jantung kanan

Kontraksi berkurang fungsi ventrikel kanan

Cardiac output berkurang pompa ventrikel kanan

Darah yang dipompa kesirkulasi


kembali ke atrium kiri cardiac output pada paru

kurang suplay O2

masuk ke paru2 deoksigenasi hepar

kongesti pulmonal fungsi glomerolus gg. Sirkulasi hepar

sesak nafas produksi urine gagal ginjal

gg. pola eliminasi edema


anoreksia aktifitas BAK
Penurunan gg. Intoleransi
pola nutrisi pola aktifitas
nafas

Sianosis – extremitas dingin bertanya tentang


DN lambat penyakit

Cardiac
output Cemas
Kurang
( Sumber : capernito ) pengetahuan
10

5. Manifestasi Klinis
a. Edema pada tungkai
b. Hepatomegali dan nyeri tekan pada kuadran kanan atas abdomen terjadi
akibat pembesaran vena hepar.
c. Asites jika pembesaran vena di hepar berkembang, maka tekanan dalam
pembuluh portal meningkat sehingga cairan terdorong keluar rongga
abdomen, pengumpulan cairan dalam rongga abdomen ini dapat
menyebabkan tekanan pada diafragma dan distress pernapasan.
d. Anoreksia dan mual terjadi akibat pembesaran vena dan statis vena
didalam rongga abdomen.
e. Nokturia terjadi karena perfusi renal didukung oleh posisi penderita pada
saat berbaring, karena curah jantung akan membaik dengan istirahat.
f. Lemah karena menurunnya curah jantung, gangguan sirkulasi dan
pembuangan produk sampah, katabolisme yang tidak adekuat dari
jaringan. (Smeltzer & Bare, edisi 8. vol 2, hal. 806)

6. Pemeriksaan Diagnostik
a. EKG : Hipertropi atrial dan ventrikuler penyimpangan aksis
iskemik.
b. Scan jantung : Tindakan penyuntikan fraksi dan memperkirakan
gerakan dinding.
c. Sonogram : Dapat menunjukan dimensi pembesaran bilik,
perubahan dalam fungsi atau struktur katub dan area
penurunan kontraktivitas ventrikuler.
d. Rontgen dada : Dapat menunjukan pembesaran jantung, bayangan
mencerminkan dilatasi/ hipertropi bilik, atau
perubahan dalam pembuluh darah mencerminkan
peningkatan tekanan pulmonal.
e. Oksimetri nadi : Saturasi O2 mungkin rendah, terutama gagal jantung
kongestif akut memperburuk PPOM.
11

(Smeltzer & Bare, 2001. hal 808-805)


7. Penatalaksanaan
Tujuan dasar penatalaksanaan klien dengan gagal jantung sebagai berikut:
a. Dukung istirahat untuk mengurangi beban kerja jantung.
b. Meningkatkan kekuatan dan efisiensi kontraksi jantung dengan tambahan
bahan-bahan farmakologis.
c. Menghilangkan penimbunan cairan tubuh berlebihan dengan terapi
diuretik, diet dan istirahat.
Adapun penatalaksanaan yang diberikan adalah:
a. Penatalaksanaan farmakologis.
1) Digitalis/ Digoxin
Peningkatan kontraksi otot jantung dan memperlambat sirkulasi
jantung efek yang dihasilkannya, peningkatan curah jantung,
penurunan tekanan vena dan volume darah, peningkatan diuresis.
2) Vasodilator/ natrium nitroprusida/ nitrogliserla
Digunakan untuk mengurangi tekanan terhadap penyemburan darah
oleh ventrikel, yang dapat memperbaiki pengosongan ventrikel dan
peningkatan kapasitas vena, sehingga tekanan pengisian ventrikel kiri
dapat diturunkan dan dapat dicapai penurunan dramatis kongesti paru
dengan cepat.
b. Penatalaksanaan lain
1) Meningkatkan oksigen dengan pemberian oksigen dan menurunkan
konsumsi oksigen melalui istirahat dan pembatasan aktivitas.
2) Diet, klien dianjurkan untuk diet, pantang garam dan pantang cairan.
(Smeltzer & Bare, edisi 8, vol2 hal. 811)

8. Komplikasi
a. Syok kardiogenik
Terjadi bila ventrikel kiri mengalami kerusakan luas.
b. Episode tromboembolik
12

Disebabkan kurangnya mobilitas klien penderita jantung dan adanya


gangguan sirkulasi yang menyertai kelainan ini berperan dalam
pembentukan trombus intrakardial dan intravaskuler.
c. Efusi perikardial dan tamponode jantung
Masuknya cairan kedalam kantung perikadium dan efusi ini menyebabkan
penurunan curah jantung serta aliran baik vena ke jantung dan hasil proses
ini adalah tamponade jantung.
(Smeltzer & Bare, edisi 8, vol2, hal. 813)

B. KONSEP DASAR KEPERAWATAN


Proses keperawatan terdiri dari 5 tahap yang berhubungan: Pengkajian,
Diagnosa Keperawatan, Perencanaan, Pelaksanaan dan Evaluasi (nursalam, 2001,
dikutip dari Iyer, et. al, 1996)
1. Pengkajian
Pengkajian adalah tahap dari proses keperawatan dan merupakan suatu proses
yang sistematis dalam pengumpulan data dari beberapa sumber data. Untuk
mengevaluasi dan mengidentifikasi status kesehatan klien. Tahap pengkajian
merupakan dasar utama dalam pemberian asuhan keperawatan sesuai dengan
kebutuhan individu (Nursalam, 2001)
Pengkajian dengan klien CHF sebagai berikut:
a. Biodata klien meliputi: nama, umur, jenis kelamin, agama, suku,
pendidikan, alamat, dan penanggung jawab serta hubungannya dengan
klien
b. Riwayat kesehatan klien
1) Riwayat kesehatan dulu: Berupa penyakit dahulu yang pernah diderita
yang berhubungan dengan keluhan sekarang.
2) Riwayat kesehatan sekarang: Kaji keluhan klien, kapan mulai tanda
dan gejala, faktor yang mempengaruhi, apakah berhubungan dengan
stress atau kelemahan fisik, apakah ada upaya-upaya yang dilakukan.
3) Riwayat kesehatan keluarga.
13

c. Pemeriksaan fisik
1) Aktivitas atau istirahat
Gejala : Lemah, letih, sulit bergerak, insomnia, nyeri dada dengan
gangguan aktivitas.
Tanda : Takikardi dan takipnea pada keadaan istirahat atau dengan
aktivitas letargi koma penurunan kekuatan otot.
2) Sirkulasi
Gejala : Adanya riwayat hipertensi, MI akut, penyakit katup jantung,
anemia.
Tanda : Takikardi, perubahan tekanan darah, hipertensi, nadi yang
menurun atau tidak ada (disritmia).
3) Integritas ego
Gejala : Ansietas, kuatir, takut, stress, tergantung pada orang lain.
Tanda : Ansietas dan peka rangsang.
4) Eliminsi
Gejala : Penurunan berkemih, urine berwarna gelap, berkemih pada
malam hari, diare/ konstipasi.
5) Makanan/ cairan
Gejala : Hilang nafsu makan, mual, muntah, peningkatan masukan
garam, gula, lemak, kafein, penambahan berat badan.
Tanda : Penambahan berat badan cepat, distensi abdomen (asites) dan
edema.
6) Neuro sensori
Gejala : Pusing, sakit kepala, kelemahan pada otot, episode pingsan.
Tanda : Letargi, kusut pikir, disorientasi, perubahan perilaku dan
mudah tersinggung.
7) Nyeri/ kenyamanan
Gejala : Nyeri dada, angina akut/kronis dan nyeri abdomen kanan atas.
Tanda : Tidak tenang, gelisah, menarik diri.
8) Pernapasan
14

Gejala : Merasa kekurangan oksigen, batuk dengan atau tanpa sputum.


Tanda : Lapar udara, batuk dengan atau tanpa sputum.
9) Keamanan
Gejala : Perubahan dalam fungsi mental, kehilangan kekuatan atau
tonus otot dan kulit lecet.

2. Diagnosa Keperawatan
Pola dasarnya pembuatan prioritas masalah dibuat berdasarkan
kebutuhan dasar manusia. Menurut Abraham Maslow, meletakan kebutuhan
fisiologis sebagai kebutuhan yang paling dasar, rasa aman, mencintai, harga
diri,dan aktualisasi diri.
Maslow menggambarkan dengan skema piramida yang menunjukan
bagaimana seorang bergerak dari pemenuhan kebutuhan dasar dari tingkat
kebutuhan yang lebih tinggi dengan tujuan akhir.

1
15

Hirarki Abraham Maslow

Keterangan:
1. Kebutuhan fisiologis O2, CO2, Elektrolit, makanan dan seks.
2. Kebutuhan kselamatan dan keamanan, terhindar dari penyakit, pencuri
dan perlindungan hukum.
3. Mencintai dan dicintai; kasih sayang, mencintai, dicintai, diterima.
4. Harga diri; dihrgai dan menghargai (respek dan toleransi)
5. Aktualisasi diri; ingin diakui, berhasil dan menonjol.
Adapun diagnosa keperawatan yang muncul pada klien dengan
Congestive Heart Failure secara teoritis sebagai berikut:
a. Penurunan curah jantung berhubungan dengan perubahan kontraktivitas
miokardial/ penuunan intropik.
b. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai
oksigen.
c. Kelebihan volume cairan berhubungan dengan penurunan perfusi jaringan
organ (ginjal).
d. Resiko tinggi kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan perubahan
membran kapiler – alveolus.
e. Resiko tinggi integritas kulit berhubungan dengan edema dan tirah baring
lama.
f. Kurang pengetahuan mengenai kondisi, kebutuhan pengobatan
behubungan dengan kurang informasi tentang penyakit.
(Doenges 2000, hal 54 – 63)
16

3. Perencanaan Keperawatan
Setelah merumuskan diagnosa keperawatan langkah berikut adalah
menentukan perencanaan keperawatan yang melindungi pengembangan
strategi desain untuk mencegah, mengurangi (Nursalam, 2001). Tahap
perencanaan meliputi penentuan prioritas masalah, tujuan, kriteria hasil,
menentukan rencana dan tindakan pelimpahan (medis dan tim kesehatan
lainnya) dan program perintah medis.
Berikut ini disajikan rencana keperawatan berdasarkan masing-msing
diagnosa (Doenges, 2000 hal. 56 – 64)
a. Gangguan penurunan curah jantung berhubungan dengan perubahan
kontraktivitas miokardial/ penurunan onotropik.
Tujuan : Klien dapat beristirahat dengan cukup.
Kriteria hasil : - Wajah tampak rileks
- Tanda vital dalam batas normal
- Kulit teraba hangat
Intervensi:
1) Kaji perubahan sensori
Rasional : dapat menunjukan ketidak adekuatnya porfusi serebral
sekunder terhadap penurunan curah jantung.
2) Pantau auskultsi TD
Rasional : Hipertensi dapat terjadi berhubungan dengan disfungsi
ventrikel.
3) Atar posisi semi fowler
Rasional : Memperbaiki efisiensi kontraksi jantung dan
memudahkan ekspansi paru.
4) Kaji kulit pucat dan sianosis
Rasional : Pucat menunjukan menurunnya perfusi perifer
sekunder terhadap tidak adekuatnya curah jantung
vasokonstriksi dan anemia. (Doenges, 2000 hal 56)
17

b. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan suplai


oksigen miokard.
Tujuan : Klien dapat memenuhi aktivitas sehari-hari.
Kriteria hasil : Dapat menunjukan peningkatan toleransi aktivitas.
Intervensi:
1) Berikan aktivitas sengang yang tidak berat.
Rasional : Menurunkan kerja miokard atau konsumsi O2,
menurunkan resiko komplikasi.
2) Anjurkan klien menghindari peningkatan tekanan abdomen, contoh
mengejar saat defekasi.
Rasional : Aktivitas yang memerlukan menahan napas dan
menunduk dapat mengakibatkan bradikardia, juga
menurunkan curah jantung.
3) Kaji ulang tanda atau gejla yang menunjukan tidak toleran terhadap
aktivitas atau memerlukan pelaporan, pada perawat atau dokter.
Rasional : Palpitasi, nadi tak teratur adanya nyeri dada
ataudispnea dapat mengindikasikan kebutuhan
perubahan program obat/ olah raga.
(Doenges, 2000 hal. 59).

c. Kelebihan volume cairan tubuh berhubungan dengan penurunan pefusi


jaringan organ (ginjal).
Tujuan : Petahan status cairan seimbang dalam waktu 24 jam.
Kriteria hasil : - TTV stabil
- I dan O seimbang
- Tidak ada tanda kelebihan cairan (edema).
Intervensi:
1) Auskultasi bunyi napas untuk adanya krekel.
Rasional : Dapat mengidentifikasi edema paru sekunder akibat
dekompensasi jantung.
18

2) Catat adanya edema dependen.


Rasional : Dicurigai adanya gagal kongest kelebihan volume
cairan.
3) Catat pemasukan dan haluaran
Rasional : Penurunan curah jantung mengakibatkan gangguan
perfusi ginjal.
4) Beikan diet natrium rendah atau minuman.
Rasional : Natrium meningkatkan retensi cairan dan harus
dibatasi.
5) Berikan diuretik: memperbaiki kelebihan ciran
(Doenges, 2000, hal. 60).

d. Resiko tinggi kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan perubahan


membran kapiler.
Tujuan : Mengembalikan pola napas efektif selma 1 x 24 jam,
pembeian terapi .
Kriteria hasil : - Tidak ada tanda yang menunjukkan klien menahan
napas atau menolak batuk.
- Tidak terjadi komplikasi pernapasan.
Intervensi:
1) Kaji fungsi pernapasan bunyi , kecepatan, irama, kedalaman.
Rasional : Penurunan bunyi napas dapat menunjukan
atelekstasisironci menunjukan akumulasi sekret
atau ketidakmampuan untuk membersihkan jalan
napas.
2) Catat kemampuan batuk
Rasional : Pengeluaran sulit bila sekret sangat kental.
3) Berikan posisi semi fowler
19

Rasional : Posisi membantu memaksimalkan ekspansi paru dan


menurunkan upaya pernapasan.
4) Berikan oksigen tambahan
Rrasional : Meningkatkan jumlah oksigen yang ada untuk
miokardia.
(Doenges, 2000, hal 62)

e. Resiko tinggi integritas kulit berhubungan dengan edema dan tirah baring
lama.
Tujuan : Mempertahankan integritas kulit.
Kriteria hasil : Klien dapat mendemontrasikan perilaku atau teknik
mencegah kerusakan kulit.
Intervensi:
1) Lihat kulit, catat penonjolan tulang, adanya edema, area sirkulasinya
terganggu atau pigmentasi dan lain-lain.
Rasional : Kulit berisiko karena gangguan sirkulasi perifer,
imobilitas fisik, dan gangguan status nutrisi.
2) Ubah posisi sering ditempat tidur, bantu latihan gerak pasif atau aktif.
Rasional : Memperbaiki sirkulasi atau menurunkan waktu satu
area yang menganggu aliran darah.
3) Berikan perawatan kulit sesering mungkin, minimal dengan
kelembaban dan ekskresi
Rsional : Terlalu kering atau lembab merusak kulit dan
mempercepat kerusakan.
(Doenges, 2000, hal. 63)

f. Kurang pengetahuan mengenai kondisi, kebutuhan pengobatan


behubungan dengan kurang informasi tentang penyakit.
Tujuan : Kebutuhan pengetahuan teratasi.
20

Kriteria hasil : - Klien mampu menyebutkan tentang pengertian


penyakit.
- Klien memutuskan untuk mengubah pola hidup
buruk.
Intervensi:
1) Kaji tingkat pengetahua klien dan keluarga.
Rasional : Belajar lebih mudah bila klien mulai dari pengetahuan
peserta belajar.
2) Berikan penjelasan kepada klien tentang proses penyakit.
Rasional : Informasi menurunkan cemas dan rangsangan
simpatis.

3) Diskusikan dengan klien dan keluarga tentang pengobatan dan


pencegahan.
Rasional : Bertanya dan diskusi dapat menandakan masalah yang
dapat diklarifikasi. (Doenges, 2000, hal. 63-64)
4. Penatalaksanaan
Pelaksanaan merupakan aplikasi dari perencanaan keperawatan oleh
perawat bersama klien. Hal-hal yang harus kita perhatikan dalam melakukan
implementasi adalah intervensi yang dilakukan sesuai dengan rencana.
Setelah dilakukan validasi, dan penguasaan keterampilan
interpersonal, intelektual, dan teknik intevensi harus dilakukan dengan cermat
dan efisien pada situasi yang tepat, keamanan fisik dan psikologis dilindungi
dan dokumentasi keperawatan berupa pencatatan dan pelaporan.
(Nursalam, 2001)

5. Evaluasi
Evaluasi adalah suatu yang direncanakan dan perbandingan yang
sistematis pada status kesehatan klien. Evaluasi terdiri dari dua jenis, yaitu
evalusi formatif dan evaluasi sumatif. Evaluasi formatif disebut juga evaluasi
21

proses, evaluasi jangka pendek maupun evaluasi yang sedang berjalan,


dimana enaluasi dilakukan secepatnya setelah tindakan keperawatan paripurna
dan menjadi sutu metode dalam memonitor kualitas dan efisiensi tindakan
yang diberikan. Bentuk evaluasi ini lazimnya menggunakan format “SOAP”.
Tujuan evaluasi adalah untuk mendapatkan umpan balik rencana
keperawatan, nilai serta meningkatkan mutu asuhan keperawatan melalui hasil
perbandingan standar yang telah dilakukan sebelumnya.

6. Perencanaan Pulang
Informasi yang diberikan kepada klien dibuat sesuai dengan kebutuhan
perawat harus mengkaji kesimpulan fisik untuk menjalankan keperawatan diri
klien. Adapun informasi yang diberikan kepada klien meliputi:
a. Dalam proses penyembuhan klien harus mampu merawtt dirinya sendiri
dengan melanjutkan pengobatan secara teratur sampai merasa sembuh.
b. Meningkatkan keperawatan diri, seperti beristirahat dan diet menurunkan
pemasukan natrium dan cairan.
c. Meningkatkan konsumsi nutrisi bervitamin yang dapat meningkatkan
kekuatan tubuh.
d. Mengetahui tanda dan gejala timbulnya penyakit CHF dan segera berobat
kefasilitas kesehatan masyarakat.