Anda di halaman 1dari 17

ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN DENGUE HEMORAGIC

FEVER (DHF)

A. Konsep Dasar Medis


1. Pengertian
a. Dengue Hemoragic Fever (DHF) adalah penyakit yang disebabkan oleh
virus dengue, sejenis virus yang tergolong arbovirus dan masuk kedalam
tubuh penderita melalui gigitan nyamuk aedes aegypti betina
(Christantie.E, 1995).
b. Dengue Hemoragic Fever adalah penyakit yang terdapat pada anak dan
dewasa dengangejala utama demam, nyeri otot dan sendi. (Mansjoer, A et
al, 2001).
c. Demam berdarah dengue (dengue haemorragic fever) ialah penyakit yang
terdapat pada anak dan dewasa dengan gejala utama demam, nyeri otot
dan sendi, yang biasanya memburuk setelah dua hari pertama (IPD Jilid I,
1999).

2. Etiologi
Penyebab DHF disebabkan oleh virus dengan sejenis yang tergolong
arbovirus dan masuk kedalam tubuh penderita melalui gigitan nyamuk Aedes
Aegypti betina.

3. Perubahan Hematologi Pada Infeksi Dengue


Infeksi sekunder virus dengue menyebabkan terjadinya perubahan yang
kompleks dan unik pada berbagai mekanisme homeostatis dalam tubuh
penderita antara lain:
a. Hematokrit dan Hemoglobin
Nilai hematokrit biasanya mulai meningkat pada hari ketiga, dari
perjalanan penyakit dan makin meningkat sesuai dengan proses perjalanan
penyakit Dengue Hemorrhagic Fever (DHF).
b. Trombosit
Trombositopenia merupakan salah satu kriteria sederhana yang diajukan
oleh WHO sebagai diagnosis klinis penyakit Dengue Hemorrhagic Fever
(DHF). Jumlah trombosit biasanya normal selama 3 hari pertama.
Trombositopenia mulai tampak beberapa hari setelah panas, dan mencapai
titik terendah pada fase syok.
c. Leukosit
Pada penderita DHF dapat terjadi leukopenia ringan sampai
leukositosis sedang. Leukopenia dapat dijumpai antara hari pertama dan
ketiga dengan hitung jenis yang masih dalam batas normal. Jumlah
granolosit menurun pada hari ketiga sampai hari kedelapan. Pada syok
berat dapat dijumpai leukositosis dengan neutropenia absolut.
d. Sistem Koagulasi, fibrinolisis, kirin dan komplemen.
Sistem koagulasi disusun oleh faktor-faktor koagulasi berupa protein
inaktif yang beredar dalam darah, apabila terjadi aktivasi normal ataupun
abnormal, faktor koagulasi akan diaktifkan secara beruntun, mengikuti
suatu dekade yang diawali dengan aktifasi faktor XII mulai dari sedikit
kemudian malah lama makin banyak sehingga aklhirnya terbentuk fibrin.

4. Patofisiologi
Setelah virus dengue masuk kedalam tubuh, pasien akan mengalami
keluhan dan gejala karena viremia, seperti demam, sakit kepala, mual, nyeri
otot, pegal seluruh badan, hiperemi ditenggorokan, timbulnya ruam dan
kelaianan yang mungkin muncul pada sistem retikuloendotelial seperti
pembesaran kelenjar-kelenjar getah bening, hati dan limfa. Ruam pada DHF
disebabkan karena kongesti pembuluh darah dibawah kulit.
Fenomena patologis yang utama pada penderita DHF adalah
meningkatnya permealitas dinding kapiler yang mengakibatkan terjadinya
perembesan plasma ke ruang ekstra seluler dibuktikan dengan ditemukannya
cairan dalam rongga serosa, yaitu dalam rongga peritonium, pleura dan
perikardium. Renjatan hipovolemik yang terjadi sebagai akibat kehilangan
plasma, bila tidak segera diatasi akan terjadi anoxia jaringan, asidosis
metabolik dan kematian. Sebab lain kematian dari DHF adalah perdarahan
hebat, perdarahan umumnya dihubungkan dengan trombositopenia, gangguan
fungsi trombosit dan kelainan fungsi trombosit.
Fungsi agregasi trombosit menurun mungkin disebabkan proses
imunologis erbukti dengan terdapatnya kompleks imun dalam peredaran
darah. Kelainan sistem koagulasi disebabkan diantaranya oleh kerusakan hati
iyang fungsinya memang terbukti terganggu oleh aktifasi sistem koagulasi.
Masalah terjadi DIC pada DHF/DSS, terutama pada pasien yang perdarahan
hebat.
Patoflodiagram
Infeksi Dengue Hemorragic Fever

Demam Mual Hepatomegali Alkalosis Trombositopenia Reaksi Derajat


Muntah Respiratorik Imunologik I

Dehidrasi Hemoragik Permeabilitas


Diastesis Vasculer
meningkat

Kebocoran - Hipokonsentrasi
Plasma - Hipoproteinemia
- Efusi serosa
- Hiponatremia II

Hipovolemia

Hipotensi

Syok III

Hipoksia IV
Jaringan

DIC Asidosis
Metabolik
Perdarahan
Masif ( Christante, E.1995 )
Kematian
5. Kasifikasi DHF
WHO, 1986 mengklasifikasikan DHF menurut derajat penyakitnya menjadi 4
golongan, yaitu :
a) Derajat I
Demam disertai gejala klinis lain, tanpa perdarahan spontan, panas 2-7
hari, uji tourniguet positif, trombositopenia dan hemokonsentrasi.
b) Derajat II
Sama dengan derajat I, ditambah dengan gejala-gejala perdarahan spontan
seperti petekie, ekhimosis, hematemesis, melena, perdarahan gusi
c) Derajat III
Ditandai dengan gejala kegagalan peredaran darah seperti nadi lemah dan
cepat, tekanan nadi sempit, tekanan darah menurun
d) Derajat IV
Nadi tidak teraba, tekanan darah tidak teratur (denyut jantung ≥
140x/menit), anggota gerak teraba dingin, berkeringat dan kulit tampak
biru.
(Kapita selekta).

6. Tanda dan Gejala


Selain tanda dan gejala yang ditampilkan berdasarkan derajat penyakitnya,
tanda dan gejala lain adalah :
 Hati membesar, nyeri spontan yang diperkuat dengan reaksi perabaan
 Acites
 Cairan dalam rongga pleura (kanan)
 Ensephalitis: kejang, gelisah, sopor koma.
(Kapita selekta).

7. Pemeriksaan dan Diagnosis


 Trombositopenia (≤ 100.000/mm3).
 Hb dan PCU meningkat (≤ 20 %).
 Leukopenia (mungkin normal atau leukositosis)
 Serologi (uji H): respon anti bodi sekunder.
- Pada renjatan yang berat, periksa: Hb, PCU berulang kali (setiap jam atau 4-
6 jam apabila sudah menunjukan tanda perbaikan), faal hemostasis, FDP,
EKG, foto dada, creatinin serum. (Kapita selekta).

8. Penatalaksanaan
Indikasi rawat tinggal pada dugaan infeksi virus dengue : panas 1-2 hari
disertai dehidrasi (karena panas, muntah, masukan kurang) atau kejang-
kejang, panas 3-5 hari disertai nyeri perut, pembesaran hati, uji tourniguet
positif/negatif, kesan sakit keras (tidak mau bermain), Hb dan PCV
meningkat, panas disertai perdarahan dan panas disertai renjatan.
a) Grade I dan II : belum atau tanpa rejatan
 Oral ad libitum
 Infus cairan ringer laktat dengan dosis 75 cc/kg BB/ hari untuk anak
dengan BB <10kg bersama-sama diberikan minuman oralit, oralit, air
buah atau susu secukupnya, untuk kasus yang menunjukan gejala
dehidrasi disarankan minum sebanyak-banyaknya dan sesering
mungkin, apabila anak tidak suka minum sama sekali sebaiknya
jumlah cairan infus yang harus diberikan sesuai dengan kebutuhan
cairan penderita dalam kurun waktu 24 jam yang diestimasikan
sebagai berikut :
 100 ml/kg BB/24 jam, untuk anak dengan BB ≤ 25 kg.
 75 ml/kg BB/24 jam, untuk anak dengan BB 26-30 kg.
 60 ml/kg BB/24 jam, untuk anak dengan BB 31-40 kg.
 50 ml/kg BB/24 jam, untuk anak dengan BB 41-50 kg.
 Obat-obatan lain : antibiotika apabila ada infeksi lain, antipiretik
untuk anti panas, darah 15cc/kg BB/hari, perdarahan hebat.
b) Grade III : dengan rejatan
 Berikan infus ringer laktat 20 ml/kg BB/1 jam, apabila menunjukan
perbaikan (tekanan darah terukur lebih dari 80 MmHg dan nadi teraba
dengan frekuensi kurang dari 120x/menit lanjutkan dengan ringer
laktat 10 ml/kg BB/ 1 jam. Jika tekanan darah dan nadi stabil lanjutkan
infus tersebut dengan jumlah cairan dihitung berdasarkan kebutuhan
cairan dalam kurun waktu 24jam dikurangi cairan yang sudah masuk
dibagi dengan sisa waktu (24 jam dikurangi waktu yang dipakai untuk
mengatasi renjatan).
 Apabila satu jam setelah pemakaian caiaran RL 20 ml/kg BB 1 jam
keadaan tekanan darah masih terukur > dari 80 MmHg dan nadi cepat
lemah, akral dingin maka penderita tersebut memperoleh plasma atau
plasma ekspander (dekstran L atau yang lainnya) sebanyak 10 ml/kg
BB/ 1jam dan dapat diulang maksimal 30 ml/kg BB/ dalam kurun
waktu 24 jam.
Jika keadaan umum membaik dilanjutkan cairan RL sebanyak kebutuhan
cairan selama 24 jam dikurangi cairan yang sudah masuk dibagi sisa
waktu setelah dapat mengatasi renjatan. (Kapita selekta, hal 570).

B. KONSEP DASAR KEPERAWATAN


Asuhan keperawatan adalah faktor penting dalam survival klien dan dalam
aspek preventative, pemeliharaan dan rehabilitatif perawatan kesehatan. Untuk itu
samapai pada hal ini, profesi keperawatan telah mengidentifikasi proses
pemecahan massalah yang menggabungkan elemen yang paling relevasi dari
sistem teori dengan menggunakan metode ilmiah . dalam melakukan asuhan
keperawatan terdapat beberapa langkah yang harus ditempuh, langkah tersebut
adalah:
1. Pengkajian
Pengkajian adalah tahap awal dari proses keperawatan dan merupakan
suatu proses yang sistematis dalam pengumpulan data dari berbagai sumber
data untuk mengevaluasi dan mengidentifikasi status kesehatan klien (Iyer, et
al, 1996). Tahap pengkajian merupakan dasar utama dalam memberikan
asuhan keperawatan sesuai dengan kebutuhan individu. Oleh karena itu
pengkajian yang akurat, lengkap, sesuai dengan kenyataan, kebenaran data
sangat penting dalam merumuskan suatu diagnosa keperawatan dan
memberikan pelayanan keperawatan sesuai dengan respon individu. Oleh
karena itu pengkajian yang akurat, lengkap sesuai dengan kenyataan,
kebenaran data sangat penting dalam merumuskan suatu diagnosa
keperawatan dan memberikan pelayanan keperawatan sesuai dengan respon
individu, sebagaimana yang telah ditentukan dalam standar praktek
keperawatan ANA (American Nursing Association). Empat tahap pengkajian
yaitu : pengumpulan data, validasi data, pengorganisasian data dan identifikasi
masalah atau analisa masalah (La odo Junaidi Gaffar, S.Kp, 1999). Untuk
klien dengan DHF pada pengkajian didapat data-data sebagai berikut :
a) Identitas
DHF adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dengue sejenis virus
yang tergolong arbovirus dan masuk kedalam tubuh penderita melalui
gigitan nyamuk aedes aegypti (betina). (Christanti, 1995).
b) Keluhan Utama
c) Riwayat Penyakit Sekarang.
d) Riwayat Penyakit Dahulu
e) Riwayat Penyakit Keluarga
f) Riwayat Kesehatan Lingkungan
g) Riwayat Tumbuh Kembang

2. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan adalah suatu pernyataan yang menjelaskan
respon manusia (status kesehatan atau resiko perubahan pola) dari individu
atau kelompok dimana perawat secara akuntabilitas dapat mengidentifikasi
dan memberikan intervensi secara pasti untuk menjaga status kesehatan
menurun, membatasi, mencegah dan merubah (carpenito, 2000, dikutip dari
”Nursalam, 2001”). Diagnosa Keperawatan yang muncul pada klien dengan
DHF adalah:
a. Peningkatan suhu tubuh (hipertermia) b.d proses penyakit (viremia).
b. Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi :kurang dari kebutuhan tubuh
b.d, mual, muntah anorexia, dan sakit saat menelan.
c. Kurang pengetahuan tentang proses penyakit, diet, perawatan, pengobatan
dan pencegahan b.d kurang informasi.
d. Gangguan aktivitas sehari-hari b.d kelemahan fisik.
e. Gangguan rasa nyaman: nyeri b.d mekanisme patologis (proses penyakit).
f. Resti terjadinya perdarahan lebih lanjut b.d trombositopenia.
g. Resti terjadi syok hipovolemik b.d perdarahan hebat.

3. Perencanaan
Setelah merumuskan diagnosa keperawatan, langkah berikutnya adalah
menentukan perencanaan keperawatan meliputi pengembngan strategi desain
untuk mencegah, mengurangi dan mengoreksi masalah-masalah yang
teridentifikasi pada diagnosa keperawatan, dimana tahapan ini dimulai setelah
menentukan diagnosa keperawatan dan mengumpulkan rencana dokumen
(Iyer, Taptich dan Bennocchi Losey, 1996 dikutip dari ”Nursalam, 2001”).
Tahapan dalam menentukan perencanaan ini meliputi menentukan
prioritas, kriteria hasil, rencana tindakan dan pendokumentasian (nursalam,
2001). Terdapat tiga rencana tindakan dalam tahap rencana tindakan yaitu
rencana tindakan perawat, rencana tindakan pelimpahan (medis dan tim
kesehatan lainnya) dan program medis. Untuk klien yang dalam
pelksanaannya dibantu oleh perawat (Carpenito, 2000). Berdasarkan diagnosa
keperawatan yang muncul pada klien dengan DHF, maka rencana
keperawatan yang dapat dirumuskan antara lain :
a. Peningkatan suhu tubuh (hipertermia) b.d proses penyakit (viremia)
Tujuan:
Suhu tubuh dalam batas normal.
Kriteria hasil :
Suhu tubuh 36.5-37.5oC
Intervensi:
1. Mengkaji saat timbulnya demam.
Rasional:
Untuk mengidentifikasi pola demam klien. (Christantie, E, 1995).
2. Mengobservasi tanda-tanda vital.
Rasional:
Tanda-tanda vital merupakan acuan untuk mengetahui keadaan umum
klien. (Christantie, E, 1995).
3. Memberikan penjelasan tentang penyebab demam.
Rasional:
Penjelasan tentang kondisi yang dialami klien dapat membantu
keluarga mengurangi kecemasan.(Christantie, E, 1995).
4. Menganjurkan klien untuk banyak minum 2500cc/hari.
Rasional:
Peningkatan suhu tubuh mengakibatkan penguapan tubuh meningkat
sehingga perlu diimbangi dengan asupan cairan yang banyak.
(Christantie, E, 1995).

b. Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh b.d


mual, muntah, anorexia, dan sakit saat menelan.
Tujuan :
Kebutuhan nutrisi terpenuhi.
Kriteria hasil :
Klien mampu menghabiskan makanan sesuai porsi yang diberikan.
Intervensi :
1. Mengkaji keluhan mual, sakit menelan dan muntah yang dialami klien.
Rasional :
Untuk menetapkan cara mengatasinya (Christantie, E, 1995).
2. Mengkaji cara/bagaimana makanan dihidangkan.
Rasional :
Cara menghidangkan makanan dapat mempengaruhi nafsu makan.
(Christantie, E, 1995).
3. Memberikan makanan yang mudah ditelan.
Rasional :
Membantu mengurangi keluhan klien dan meningkatkan asupan
makanan karena mudah ditelan (Christantie, E, 1995).
4. Memberikan makanan porsi kecil dan frekuensi sering.
Rasional :
Untuk menghindari mual dan muntah (Christantie, E, 1995).

c. Kurang pengetahuan tentang proses penyakit, diet,perawatan, pengobatan


dan pencegahan b.d kurang informasi.
Tujuan :
Pengetahuan keluarga meningkat.
Kriteria hasil :
Mampu menjawab waktu ditanya tentang proses penyakit.
Intervensi :
1. engkaji tingkat
pengetahuan.
Rasional :
Untuk mengetahui sejauh mana informasi tentang penyakit yang
diketahui serta kebenaran informasi yang didapatkan sebelumnya.
(Christiantie, E, 1995).
2. Mengkaji latar
belakang pendidikan keluarga.
Rasional :
Agar perawat dapat memberikan penjelasan sesuai tingkat pendidikan
sehingga dipahami dan tujuan yang direncanakan tercapai.
(Christiantie, E, 1995).
3. Menjelaskan
tentang proses penyakit dengan sederhana.
Rasional :
Agar informasi dapat diterima dan mudah dimengerti.
(Christiantie, E, 1995).
4. Menggunakan
leaflet atau gambar dalam memberikan penjelasan.
Rasional :
Dapat membantu mengingat penjelasan yang telah diberikan
(Christiantie, E, 1995).

d. Gangguan aktivitas sehari-hari b.d kelemahan fisik.


Tujuan :
Kebutuhan aktivitas terpenuhi.
Kriteria hasil :
Klien mampu mandiri setelah bebas demam.
Intervensi :
1. Mengkaji
keluhan klien.
Rasional :
Untuk mengidentifikasimasalah-masalah klien.
(Christiantie, E, 1995)
2. Mengkaji hal-
hal yang mampu/tidak mampu dilakukan klien.
Rasional :
Untuk mengetahui tingkat ketergantungan..
(Christiantie, E, 1995)
3. Membantu klien
memenuhi kebutuhan sesuai tingkat kemampuan.
Rasional :
Pemberian bantuan sangat diperlukan oleh klien pada saat saat kondisi
lemah dan perawat bertanggung jawab dalam pemenuhan kebutuhan
sehari-hari.
(Christiantie, E, 1995).
4. Memberi
penjelasan tentang hal-hal yang dapat membantu dan meningkatkan
kekuatan fisik.
Rasional :
Dengan penjelasan yang diberikan kepada klien, maka klien
termotivasi untuk kooperatif, seperti mau menghabiskan makanan
yang disediakan.
(Christiantie, E, 1995).

e. Gangguan rasa nyaman: nyeri b.d mekanisme patologis.(proses penyakit)


Tujuan :
Nyeri berkurang sampai hilang.
Kriteria hasil :
Wajah tampak rileks, skala nyeri 0-1
Intervensi :
1. Mengkaji
tingkat nyeri.
Rasional :
Untuk mengetahui berapa berat nyeri yang dialami klien.
(Christiantie, E, 1995).
2. Memberikan
posisi yang nyaman dan ruangan yang tenang.
Rasional :
Respon individu berbeda terhadap nyeri.
(Christiantie, E, 1995).
3. Melakukan
distraksi.
Rasional :
Untuk mengurangi rasa nyeri.
(Christiantie, E, 1995).
4. Memberikan
obat-obat analgesik kolaborasi dengan medis.
Rasional :
Dapat menekan atau mengurangi nyeri.
(Christiantie, E, 1995).

f. Resti terjadinya perdarahan lebih lanjut b.d trombositopenia.


Tujuan :
Tidak terjadi tanda-tanda perdarahan.
Kriteria hasil :
Trombosit meningkat.
Intervensi :
1. Monitor tanda-
tanda penurunan trombosit.
Rasional :
Penurunan tanda-tanda trombosit merupakan tanda-tanda ada
kebocoran pem buluh darah yang pada tahap tertentu akan
menimbulkan tanda-tanda klinis nyeri. (Christiantie, E, 1995).
2. Menjelaskan
tentang pengaruh trombositopenia pada klien.
Rasional :
Agar keluarga mengetahui hal-hal yang mungkin terjadi pada klien
(Christiantie, E, 1995).
3. Memonitor
jumlah trombosit
Rasional :
Untuk mengetahui tingkat kebocoran pembuluh darah.
(Christiantie, E, 1995).

4. Menganjurkan
klien banyak istirahat.
Rasional :
Mengajukan klien banyak tidur. (Christiantie, E, 1995).
g. Resti terjadi syok hipovolemik b.d perdarahan hebat.
Tujuan :
Tidak terjadi syok.
Kriteria hasil :
Tanda-tanda vital dalam batas normal (sesuai umur).
Intervensi :
1. Monitor
keadaan umum klien.
Rasional :
Untuk mengetahui kondisi klien selama masa perawatan.
(Christiantie, E, 1995).
2. Monitor tanda-
tanda vital.
Rasional :
Tanda-tanda vital normal menandakan keadaan umum klien baik.
(Christiantie, E, 1995).
3. Monitor tanda-
tanda perdarahan.
Rasional :
Perdarahan yang cepat diketahui dapat diatasi sehingga klien tidak
sampai syok. (Christiantie, E, 1995).
4. Pasang infus
dan beri terapi cairan.
Untuk mengatasi cairan yang hilang. (Christiantie, E, 1995).

4. Pelaksanaan
Pelaksanaan adalah inisiatif dari rencana tindakan untuk mencapai tujuan
yang spesifik (Nursalam 2001) tahap ini merupakan tahap keempat dalam
proses keperawatan oleh karena itu pelaksanaan dimulai setelah rencana
tindakan dirumuskan sesuai skala urgent dan non urgent.
Dalam pelaksanaan tindakan ada tiga yang harus dilalui yaitu : persiapan,
perencanaan, dan pendokumentasian ( Nursalam 2001).
a) Fase persiapan meliputi
1) Review antisipasi tindakan keperawatan
2) Menganalisa pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan
3) Mengetahui komplikasi yang mungkin timbul
4) Persiapan alat
5) Persiapan lingkungan yang kondusif
6) Mengidentifikasi aspek hukum dan etik
b) Fase implementasi
1) Independen
2) Interdependen
3) Dependen
c) Fase dokumentasi
Merupakan suatu catatan lengkap dan akurat dari tindakan yang telah
dilaksanakan dalam pelaksanaan tindakan asuhan keperawatan pada klien
dengan bronkopneumonia perawat dapat berperan sebagai pelaksana
keperawatan, memberi support, pendidikan, advokasi dan pencatatan.

5. Evaluasi
Adalah salah satu yang direncanakan dan perbandingan yang sistematis
pada status kesehatan klien (Nursalam 2001) evaluasi terdiri dari dua jenis
yaitu evalusi formatif atau evaluasi jangka pendek dimana evaluasi ini
dilakukan secepatnya setelah tindakan keperawatan dilakukan sampai tujuan
akhir. Sedangkan evaluasi sumatif ini disebut evaluasi akhir atau jangka
panjang, dimana evaluasi dilakukan pada akhir tindakan keperawatan. Sistem
penulisan pada tahap evaluasi ini umumnya menggunakan sistem SOAP
(Nursalam 2001).

6. Perencanaan Pulang
a. Kondisi, prognosis, dan pencegahan dipahami.
b. Anjurkan klien dan keluarga lebih menjaga kesehatan
dirumah dengan melaksanakan 3 M.
c. Keluarga dan klien mengetahui tanda-tanda komplikasi
seperti perdarahan.