Anda di halaman 1dari 15

BAB II

LANDASAN TEORI

A. ANATOMI FISIOLOGI
Pada sel-sel yang tidak membelah, DNA ditemukan hampir diseluruh
bagian dalam nukleus. Walaupun dengan mikroskop, molekul DNA tidak dapat
lolos sebagai struktur tersendiri, tetapi hanya sebagai bagian dari bahan dalam
nukleus yang diwarnai dengan jelas. Sewaktu sel mulai membelah, bahan
tersebut mulai mengatur dirinya untuk membentuk untaian kromosom.
Kromosom ini mengandung banyak molekul DNA yang tersusun dalam urutan
tertentu.
Sel-sel tubuh manusia pada umumnya terdiri dari 46 kromosom/23
pasang, merupakan susunan diploid. Dari ke 23 pasang disebut sebagai otosom,
dan 1 pasang kromosom seks. Wanita memiliki 2 kromosom X, dan pria
memiliki 1 kromosom X dan 1 kromosom Y dalam setiap sel. Dalam
terminologi standar, seorang wanita normal ditandai dengan 46 XX, seorang
pria normal ditandai dengan 46 XY. Kromosom yang terbentuk pada setiap
individu berasal dari kedua orangtua dalam porsi yang sama. Ovum dan sperma
normal masing-masing mengandung 23 kromosom, merupakan susunan
haploid, sehingga pembuahan menghasilkan zigot yang tersusun diploid dari 23
pasang yang homolog.
Akan tetapi, kadang-kadang dijumpai penderita Sidrom Down yang
hanya memiliki 46 kromosom. Individu ini ialah penderita Sidrom Down
translokasi 46. t(14 q 21q). setelah kromosom orang tuanya diselidiki terbukti
bahwa ayahnya normal, tetapi ibunya hanya memiliki 45 kromosom, termasuk
satu autosom 21, 1 autosom 14 dan satu autosom translokasi 14q 21q. jelaslah
bahwa ibu itu merupakan “carrier” yang walupun memiliki 45 kromosom
45.xx.t (14q21q) ai adalah normal. Sebaliknya laki-laki “carrier” Sindrom
Down translokasi tidak dikenal dan apa sebabnya demikian, sampai sekarang
belum diketahui. (Suryo.Genetika Manusia. 2001) (Patofisiologi, Edisi 4. 1994)
B. KONSEP DASAR MEDIS
1. Definisi
Sindom Dwon adalah kelainan hereditas biasanya turun temurun, ada
faktor sakit yang kronis diturunkan kepada anak. Sindrom Down merupakan
kelainan dari anak sejak dilahirkan yang dapat disebabkan oleh faktor luar
atau faktor hereditas, atau biasa dikatakan kelainan pada kongenital. Faktor
hereditas diturunkan melalui kromosom. Pada spermatocyit dan ovum
jumlah kromosom setengah dari somatik dan seks, sedang tiap kromosom
ini terdiri dari DNA yang menyusun gen
Kelainan struktur kromosom dapat dikemukakan sebagai berikut :
a.) Molleculer disease
b.) Kromosom biasanya sepasang-sepasang, yang setiap pasang
fungsinya sama yaitu mengatur fase-fase sel tetapi sifat kemempuan
kualitas atau komplikasi tidaklah sama.
c.) Kromosom abnormalitas, jumlah dan bentuk kromosom yang
berlebihan misalnya Trysomi.
d.) Homozigot adalh sifat-sifat kromosom sama, heterozygot
adalah sifat kromosom yang berlainan, dalam heterozygot yang
mempunyai pengaruh banyak disebut dominan dan yang mempunyai
pengaruh kecil disebut resesif. Biasanya suatu corak patologi dominan
dapat timbul bila heterozygot karena ada faktor dominasi. Resesif Traits
Path berlaku untuk abnormal diluar seks kromosom. Adakalanya
dominan turun temurun kadang-kadang resesif, hal ini menimbulkan
autosom yang inkompleks, misalnya : alkaptunori kadang-kadang resesif
dsn kadang dominan.
Sindrom Down dapat disebut juga penyakit Mongoloid. Yaitu
berupa kelainan pada kromosom no 15 dan 21, yang biasanya kedua
kromosom ini berdekatan. Karena salah satu penyebab yang tidak
seharusnya, terjadilah pemecahan yang disebut dispuntum. Karena suatu
penyebab, dapat juga keadaan ini disebut translokasi yang sifatnya sama
karena jumlahnya, tetapi pada pembentukan gamet berlainan.
Anak Sidrom Down ini dilahirkan dengan beberapa kelaionan, antara lain :
a.) Bentuk kepalanya kecil disebut mikkrosephali.
b.) Penutupan fontanel yang lambat.
c.) Muka bundar dengan kepala dari samping yang gepeng.
d.) Matanya hipertelorisma atau jarak antara kedua mata
lebar.
e.) Adanya ephikantus ata adanya lipatan di medial dari
mata.
f.) Kelinan hidung, tulang hidung tidak terbentuk sehingga
pangkal hidungnya rata yang memberi jarak mata jauh.
g.) Mulut kecil dengan lidah yang tampak besar dan
betendensi selalu mengeluarkan lidah.
h.) Adanya strabimus, katarakta dan nystagmus.
i.) Tonus dari leher kecil seakan-akan kepala mau jatuh.
j.) Tonus dari otot perut juga kecil sehingga perut nampak
buncit dan mudah menyebabkan herisumbulicalis dan ingunalis.
k.) Pada thoraks, kelainan jantung (75% disertai kelainan
jantung kongenital) biasanya septal defect/transposisi pembuluh darah
besar.
l.) Ekstermitas pendek, telapak tangan tidak ada tiga garis
melainkan terdapat dua garis transversal disebut siman line
m.) Genital, perkembanagnya lambat dan tidak sempurna,
tanda-tanda kelamin sekunder juga lambat.
n.) Terdapat kelambatan perkembangan : derajat mentalnya
menurun, imbisil, debil, dan idiosi. (Suryo. Genetika Manusia. 2001)
2. Etiologi
Penyebab kelainan kromosom adalah terjadinaya pemecahan
kromosom dan pecahnya hilang/melekat pada kromosom lain. Kejadian ini
disebut translokasi. Pengaturan kembali yang dilakukan sel dapat
enghasilkan keseimbangan normal tetapi dapt juga menjadi tidak seimbang.
Jika terjadi keseimbangan normal, total materi genetik didalam sel dengan
kromosom normal. Pengaturan semacam ini biasanya tidak akan
menimbulkan sindrom klinis. Apabila terjadi ketidakseimbangan maka
terjadi kelebihan atau kekurangan materi genetik dalam barisan sel-sel
tersebut. Pengaturan semacam ini biasanya menimbulkan perubahan dalam
fenotif klinis.
Dijumpai penderita Sindrom Down yang hanya memiliki 46
kromosom. Individu ini ialah penderita Sindrom Down translokasi 46.t
(14q21q). Setelah kromosom dari orang tuanya diselidiki terbukti bahwa
ayahnya normal, tetapi ibunya hanya memiliki 45 kromosom, termasuk satu
autosom 21, 1 autosom 14 dan 1 autosom translokasi 14q21q. Jelaslah
bahwa bahwa ibu merupakan “carrier” yang walaupun memiliki 45
kromosom 45.XX.t (14q21q) ia adalah normal. Sebaliknya, laki-laki
“carrier” Sindrom Down translokasi tidak dikenal dan apa sebabnya ,
sampai sekarang belum diketahui. (Suryo. Genetika Manusia. 2001).
3. Patofisiologi
Sindrom Down dapat terjadi karena umur ibu yang berumur lebih dari
30 tahun. Mungkin karena suatu ketidakseimbangan hormonal. Umur ayah
tidak berpengaruh. Kelainan kehamilan dan kelainan endokrin (pada usia tua
dapat terjadi infertilitas relatif. Kelainan tiroid/ovarium), juga memegang
peranan dalam terjadinya kelainan kromosom atau Sindrom Down.
Seorang perempuan lahir dengan semua oosit yang pernah dibentuknya,
yaitu berjumlah hampir 7 juta, semua oosit tadi berada dalam keadaan
istirahat pada profase I dari meiosis, sejak sebelum ia lahir sampai
mengadakan ovulasi. Dengan demikian maka suatu oosit dapat tinggal
dalam keadaan istirahat untuk 12-45 tahun. Selama waktu yang panjang itu,
oosit dapat mengalami Nondisjungction, yaitu adanya virus, adanya
pengandungan antibodi tiroid tinggi, sel telur akan mengalami kemunduran
apabila setelah satu jam berada di dalam saluran fallopi tidak dibuahi.
Sebaliknya, testis menghasilkan ±200 juta spermatozoa sehari dan meosis di
dalam spermatosit keseluruhannya membutuhkan 48 jam/kurang.
Berhubungan dengan itu Nondisjunction boleh dikatakan tidak pernah
berlangsung selama spermatogenesis.
4. Manifestasi klinis
Anak dengan Sindrom Down sangat mirip satu dengan yang lainnya,
seakan-akan kakak beradik. Retardasi mental sangat menonjol disamping
juga terdapat retardasi jasmani. Kemampuan berpikir dapat digolongkan
pada idiot dan imbisil serta tidak akan mampu melebihi seorang anak yang
berumur 7 tahun. Mereka berbicara dengan kalimat-kalimat sederhana,
biasanya sangat tertarik oada musik dan kelihatan sangat gembira. Wajah
anak sangat khas, kepala kecil dan brakhisephalis dengan daerah oksipital
mendatar. Muka lebar, tulang pipi, hidung pesek, mata letaknya berjauhan,
serta sipit miring ke atas dan samping (seperti Mongol). Iris mata
menunjukkan bercak-bercak (Bronsfield Spots). Lipatan epikantus jelas
sekali, telinga agak aneh, bibir tebal dan lidah besar, kasar dan bercelah-
celah (Scrotal tongue). Pertumbuhan gigi geligi sangat terganggu. Kulit
halus dan longgar, tetapi warnanya normal. Di leher terdapat lipatan-lipatan
yang berlebihan. Pada jari tangan tampak kelingking yang pendek dan
membengkak ke dalam. Pada pemeriksaan radiologis sering ditemukan
falang tengah dan distal rudimenter. Jarak antara jari I dan II, baik pada
tangan maupun kaki agak besar melintang (Simian crease).
Alat kelamin biasanya kecil. Otot hipotonik dan pergerakkan sendi-sendi
berlebihan. Kelainan jantung bawaan seperti defek septum ventrikel sering
ditemukan. Penyakit infeksi terutama saluran pernapasan sering mengenai
anak dengan kelainan Sindrom Down. Angka leukimia timggi. Pertumbuhan
bayi kadang-kadang baik tetapi kemudian menjadi lambat.
5. Pemeriksaan Diagnostik
Amniosentesis
Yaitu pemeriksaan kemungkinan adanya kelainan kromosom pada
bayi yang masih terdapat di dalam kandungan ibunya. Cairan amnion
berikut sel-sel bebas dari fetus (bayi dalam kandungan) diambil sebanyak
10-20 cc dengan menggunakan jarum injeksi. Waktu yang paling baik untuk
melakukan amniosentesi ialah pada kehamilan 14-16 minggu. Jika terlalu
awal dilakukan, cairan amnion belum cukup banyak, sedang jika terlambat
melakukannya, maka akan lebih sulit untuk membuat kultur dari sel-sel
fetus yang ikut terbawa amnion.
Sel-sel fetus setelah melalui suatu prosedur tertentu lalu dibiakkan dan
2-3 minggu kemudian diperiksa kromosomnya untuk dibuat kariotipenya.
Apabila pada kariotipe terlihat adanya 3 buah autosom nomor 21, maka
secara prenatal Sindroma Down sudah dapat dipastikan pada bayi itu.
Resiko adanya bayi Sindrm Down bagi ibu-ibu yang berumur kurang dari
25 th ialah kira-kira satu dalam 1500 kelahiran, pada usia 40 tahun dalam
100 kelahiran, sedangkan pada usia 45 tahun satu dalam 45 kelahiran. Ini
berarti bahwa apabila ibu-ibu yang hamil pada usia 45 tahun diperiksa,
maka satu dari 40 ibu-ibu dapat diduga mengandung bayi Trisomi-21.
dengan diadakannya program Keluarga Berencana Lestari, maka resiko
mendapatkan anak cacat Sindrom Down dan lain-lain yang disebabkan oleh
kelainan kromosom dapat ditekan amat rendah. Amniosentesis dilakukan
pula untuk mengetahui apakah bayi dalam kandungan mengalami gangguan
biokimia.
6. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan untuk penyakit Sindrom Down terdiri dari
a.Pengobatan/therapi
Yang tersedia adalah berbagai macam antibiotika. Dengan adanya
antibiotika, maka usia mereka kini dapat diperpanjang.

b. Pengasuhan
Anak-anak penderita Sindrom Down diasuh dalam suatu
lembaga/yayasan khusus penderita Sindrom Down dengan asuhan yang
sudah ada.
c.Tes amniosentesis
Amnion berikut sel-sel bebas dari fetus (bayi dalam kandungan) diambil
10-20 cc dengan menggunakan jarum injeksi. Dilakukan pada kehamilan
14-16 minggu. Sel-sel fetus setelah melalui prosedur tertentu lalu
dibiakkan dan 2-3 minggu kemudian diperiksa kromosomnya untuk
dibuat kariotipenya. Bila pada kariotipe dilihat adanya tiga buah
autosom nomor 21 maka secara prenatal Sindrom Down sudah dapat
dipastikan pada bayi itu.
7. Komplikasi
1). Hipotiroidime
Kadang sulit dibedakan. Secara kasar dapat dilihat dari aktivitasnya
karena anak dengan hipotiroidisme sangat lambat dan malas, sedangkan
anak dengan Sindrom Down biasanya sangat efektif.
2). Akondroplasia
3). Rakitis
4). Sindrom Turner
5). Retardasi Mental
6). Kelainan Jantung seperti defek septum ventrikel
7). Penyakit infeksi terutama pernapasan
8). Leukimia tinggi
C. KONSEP DASAR KEPERAWATAN
1. Pengkajian (Doengoes, et all, 1999)
a. Aktivitas/istirahat
Data subyektif
1) Ibu klien mengatakan “anak saya tidak ada aktivitas selain
baring dan menggerakkan tubuhnya”
Data obyektif
1) Klien tampak takipnea pada keadaan baring rata
2) Perubahan posisi klien tampak seutuhnya dilakukan oleh
keluarga
3) Tampak terpasang O2 1 liter/jam
b. Sirkulasi
Data subyektif
1) Ibu klien mengatakan “anak lahir dengan kepala kecil”
2) Ibu klien mengatakan “saya duga anak saya duga penyakit
paru- paru”
3) Ibu klien mengatakan “pertumbuhan anak saya berbeda dengan
anak yang lainnya”
Data obyektif
1) Lingkar kepala
2) Napas terdebgar Rales dengan frekuensi napas 48x/menit
3) Klien tampak tidak ada pertahanan tubuh yang kuat
c. Integritas Ego
Data subyektif
1) Ibu klien mengatakan “anak saya tergantung pada kami”
d. Eliminasi
Data subyektif
1) Bapak klien mengatakan “anak ngompol 5x”
2) Bapak klien mengatakan “anak saya sudah BAB hancur 4x”
3) Orangtua klien mengatakan “banyak dahak putih di mulut anak”

Data obyektif
1) Urine tampak encer, pucat dan ngompol, feses warna kuning
2) Abdomen rata
3) Bising usus 30x/menit
4) Tampak ada asepto menghisap lendir
e. Makanan/Cairan
Data subyektif
1) Keluarga klien mengatakan “anak saya tidak mampu
makan/minum”
Data obyektif
1) BB=5,5 kg. BB turun 2 kg
2) Ada SH dan IV
3) Kulit DBN
f. Hygiene
Data subyektif
1) Bapak klien mengatakan “saya selalu membersihkan anak saya”
Data obyektif
1) Klien tampak bersih
g. Neurosensori
Data subyektif
1) Ibu klien mengatakan “klien kadang kejang-kejang sebentar
Data obyektif
1) Otot seluruh tubuh tampak spasme
2) Tangan tampak mengepal
3) Tampak tegang
h. Pernapasan
Data subyektif
1) Keluarga mengatakan “anak saya susah bernapas dan sering batuk”
Data obyektif
1) Napas terdengar Rales kuat dengan frekuensi napas 48x/menit
2) Terpasang O2 dan SH
3) Mulut selalu terbuka
4) Tampak sputum putih di dalam mulut klien
i. Nyeri/tidak nyaman
Tidak dikjai
j. Seksualitas
Tidak dikaji
k. Interaksi sosial
Data subyektif
1) Ibu klien mengatakan “anak saya bisa melihat kepada orang
yang berbicara pada anaknya”
Data obyektif
1) Tampak melihat kearah suara yang memanggil nama klien
2) Klien tampak sangat disayangi oleh keluarga

2. Diagnosa Keperawatan
a.Bersihan jalan napas takefektif berhubungan dengan peningkatan produksi
sputum
b. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
penurunan status mental/tingkat kesadaran
c.Kurang volume cairan tubuh berhubungan dengan penurunan masukan
oral
d. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik
e.Kurang pengetahuan mengenai kondisi dan kebutuhan tindakan
berhubungan dengan kurang informasi
3. Rencana/Intervensi Keperawatan
Rencana keperawatan merupakan langkah ketiga dalam proses
keperawatan. Berikut ini akan disajikan rencana keperawatan berdasarkan
masing-masing diagnosa (Doengoes, et all, 1999):
a. Untuk diagnosa no.a
Tujuan: Ventilasi dan oksigen adekuat untuk kebutuhan individu
Kriteria: Menunjukkan perilaku mencapai bersihan jalan napas
Intervensi:
1) Kaji frekuensi/kedalaman pernapasan dan gerakan dada
R/: Takipnea, pernapasan dangkal, dan gerakan dada simetris sering
terjadi karena ketidaknyamanan gerakan dinding dada dan atau
cairan paru. (Doengoes 1999, hal.166).
2) Penghisapan sesuai indikasi
R/: Merangsang batukpembersihan jalan napas secara mekanik pada
pasien yang tak mampu melakukan karena batuk takefektif atau
penurunan tingkat kesadaran(Doengoes 1999, hal.166).
3) Bantu mengawasi efek pengobatan nebuliser dan
fisioterapi lain, mis., spirometer insentif, IPPB, tiupan botol, perkusi,
drainase postural. Lakukan diantara waktu makan dan batasi cairan
bila mungkin.
R/: Memudahkan pengenceran dan pembuangan sekret. Koordinasi
pengobatan/jadwal dan majukan oral mengurangi muntah karena
batuk, pengeluaran sputum. (Doengoes 1999, hal.166).
4) Berikan obat sesuai indikasi; mukolitik, ekspektoran, brongkodilator,
R/: alat untuk mengurangi spasme bronkus dengan mobilisasi sekret.
Analgesik diberikan untuk memperbaiki batuk dengan mengurangi
ketidaknyamanan tetapi harus digunakan secara hati-hati, karena
dapat mengurangi upaya batuk/menekan pernapasan. (Doengoes
1999, hal.166).
5) Berikan cairan tambahan, mis., IV, Oksigen
humidifikasi, dan ruang humidifikasi.
R/: Cairan diperlukanuntuk menggantikan kehilangan (termasuk
yang tak tampak) dan memobilisasikan sekret(Doengoes 1999,
hal.166).
b. Untuk diagnosa no. b
Tujuan: Masukan nutrisi adekuat untuk kebutuhan individu
Kriteria: BB progresif kearah tujuan dengan nilainya bebas dari
nutrisi.
Intervensi:
1) Kaji status nutrisi secara kontinue, selama perawatan
setiap hari, perhatikan tingkat energi; kondisi kulit, kuku, rambut,
rongga mulut, keinginan untuk makan/anoreksia.
R/: memberikan kesempatan untuk mengobservasi penyimpangan
dari normal/dasar pasien dan mempengaruhi pilihan intervensi
(Doengoes 1999, hal. 1024).
2) Timbang BB setiap hari dan bandingkan dengan BB
saat penerimaan.
R/: Membuat data dasar, membantu dalam memantau keefektifan
aturan terapeutik, dan menyadarkan perawat terhadap
ketidaktepatan kecendrungan dalam penurunan/penambahan BB
(Doengoes 1999, hal. 1024).
3) Dokumentasikan masukan oral slama 24 ja, riwayat
makanan, jumlah kalori dengan tepat.
R/: Mengidentifikasikan ketidakseimbangan antara perkiraan
kebutuhan nutrisi dan masukan aktual (Doengoes 1999, hal.
1024).
4) Berikan larutan nutrisi pada kecepatan yang
dianjurkan melalui alat kontrol infus sesuai kebutuhan. Atur
kecepatan pemberian setiap jam sesuai anjuran. Jangan
meningkatkan kecepatan untuk “mencapai”.
R/: Ketentuan dukungan nutrisi didasarkan pada perkiraan
kebutuhan kalori dan protein. Kecepatan konisten dari pemberian
nutrisi akan menjamin penggunaan tepat dengan efek samping
lebih sedikit, seperti hiperglikemia/sindrom dumping. Infus secara
umum lebih baik ditoleransi dari pada pemberian makan bolus dan
mengakibatkan perbaikan absorvasi (Doengoes 1999, hal. 1024).
5) Pertahankan retensi selang pemberian makan enteral
dengan membilas air hangat, sesuai indikasi.
R/: Formula enteral mengandung protein yang menghambat selang
pemberian makan (silikon) mungkin daripada selang poliuretan
yang memerlukan pembuangan/pergantian selang (Doengoes
1999, hal. 1024).
c.Untuk diagnosa no. c
Tujuan: Memperbaiki keseimbangan cairan
Ktiteria: Menunjukkan keseimbangan cairan dibuktikkan dengan
parameter individual yang tepat, mis., membran mukosa lembab,
turgor kulit baik, pengisian kapiler cepat, TTV stabil.
Intervensi:
d. Untuk diagnosa no. d
Tujuan: Adanya peningkatan toleransi aktivitas
Kriteria: Melaporkan/menunjukkan peningkatan toleransi terhadap
aktivitas yang dapat diukur dengan tak adanya dispnea, kelemahan
berlebihan, dan tanda vital dalam rentang normal.
Intervensi:
1) Evalusi respon terhadap aktivitas. Catat laporan
dispnea, peningkatan kelemahan/kelelahan dan perubahan TTV
selama dan aktivitas.
R/: Menetapkan kemampuan/kebutuhan klien dan memudahkan
pilihan intervensi (Doengoes 1999, hal. 170).
2) Berikan lingkungan tenang dan batasi pengunjung
selama fase akut sesuai indikasi.
R/: Menurunkan stress dan rangsangan berlebihan, meningkatkan
istirahat (Doengoes 1999, hal. 1024).
3) Bantu klien memilih posisi nyaman untuk istirahat
dan tidur.
R/: Klien mungkun nyaman dengan kepala tinggi (Doengoes
1999, hal. 1024).
4) Bantu aktivitas perawatan diri yang diperlukan.
R/: Meminimalkan kelelahan dan membantu keseimbangan suplai
oksigen (Doengoes 1999, hal. 1024).
e. Untuk diagnosa no. e
Tujuan: memahami penyakit/prognosis
Kriteria: Menyatakan pemahaman kondisi/proses penyakit dan
tindakan intervensi.
Intervensi:
1) Jelaskan proses penyakit individu. Dorong orang
terdekat menanyakan pertanyaan.
R/: Menurunkan ansietas dan dapat menimbulkan perbaikan
partisipasi pada rencana pengobatan (Doengoes 1999, hal. ).
2) Tekankan pentingnya perawatan oral.
R/: Menurunkan pertumbuhan bakteri pada mulut, dimana dapat
menimbulkan infeksi pernapasan atas (Doengoes 1999, hal. ).
3) Diskusikan pentingnya menghindari orang yang
sedang infeksi pernapasan aktif. Tekankan perlunya vaksinasi,
influenza/pnemokokal rutin.
R/: Menurunkan pemajanan dan insiden mendapatkan infeksi
saluran napas atas dan bawah (Doengoes 1999, hal. ).
4. Pelaksanaan
Menurut (Nursalam, 2001, hal. 62) dikutip dari Iyer et all., 1996, ada
beberapa tahap dalam tindakan keperawatan, yaitu:
a. Tahap periapan, yang menuntut perawat mempersiapkan segala
sesuatu yang diperlukan dalam tindakan.
b. Tahap intervensi, adalah kegiatan pelaksanaan dari perencanaan yang
meliputi kegiatan independen (mandiri), dependen (pelaksanaan dari tindakan medis)
dan interdependen (kerjasama dengan tim kesehatan lain).
c. Tahap dokumentasi, adalah pencatatan yang lengkap dan akurat
terhadap kejadian dalam proses keperawatan.
Dalam melakukan asuhan keperawatan klien Sindrom Down yang
perlu diperhatikan adalah ventilasi dan oksigen adekuat, masukan nutrisi
adekuat, memperbaiki keseimbangan cairan, meningkatkan toleransi
aktivitas, memahami prognosis penyakit, (Doengoes, 1999).
Dalam melaksanakan asuhan keperawatan, perawat harus mampu
bekerja sama dengan klien, keluarga serta anggota tim kesehatan yang
lain sehingga asuhan yang diberikan dapat optimal dan komprehensif.

5. Evaluasi
Evaluasi dan penilaian asuahn keperawatan adalah untuk
mengetahui keberhasilan atas tindakan yang akan dilaksanakan. Ada
empat kemungkinan yang akan terjadi yaitu masalah dapat diatasi,
masalah teratasi sebagian, masalah belum teratasi, atau mungakin timbul
masalah baru, (Nuarasalam, 2001).

Anda mungkin juga menyukai