Anda di halaman 1dari 9

BAB II

TINJAUAN TEORITIS

A. Konsep Dasar Penyakit


1. Defenisi
 Pneumonia adalah infeksi saluran pernafasan akut bagian bawah yang
mengenai parenkim paru, (Mansjoer.at.all,2000)
 Pneumonia adalah proses inflamatori parenkim paru yang umumnya
disebabkan oleh agen infeksius, (Smeltzer & Bare,1996)
 Pneumonia adalah peradangan akut parenkim paru-paru yang biassanya
berasal dari suatu infeksi, (Price & Wilson,1995)

2. Etiologi
Umumnya adalah bakteri, yaitu sreptococcus pneumoniae dan
haemophillus influenza. Pada bayi dan anak kecil ditemikan streus sebagai
penyebab pneumonia yang berat, serius dan sangat progresif dengan
mortalitas tinggi, (Mansjoer.at.all,2000).
Pneumonia mikoplasmaadalah penyebab pneumonia atipikal priker
yang paling umum.mikoplasma organisme kecil yang dikelilingi membran
berlapis tiga tanpa dinding sel. Organisme ini tumbuh pada media kultur
khusus tetapi berbeda dari virus. Pneumonia mikoplasma sering terjadi pada
anak-anak yang sudah besar dan dewasa muda, (Smeltzer & Bare,1996).

3. Manifestasi klinis
Pneumonia bakterial secara khas diawali dengan awitan menggigil,
demem yang timbul dengan cepat, nyeri dada yang terasa ditusuk tusuk yang
dicetuskan oleh bernafas dab batuk. Pasien sangat sakit dengan takipnea
sangat jelas (25-45×/mnt) disertai dengan pernafasan mendengkur, pernafasan
cuping hidung dan penggunaan otot-otot aksesori pernafasan.

1
2

Pneumonia atipikal gejala yang menonjol adalah sakit kepala, demam


tingkat rendah, nyeri pleuritis, miaglia, ruam dan faringitis. Setelah beberapa
hari sputum mukopurulen dikeluarkan.
Nadi cepat dan bersambungan (bounding) dengan peningkatan sekitar
10 ×/mnt untuk setiap kenaikan derajat celcius.
Pada banyak kasus pneumonia, pipi kemerahan, bibir dan bidang kuku
sianosis, berkeringat ; sputum berbusa, bersemu darah (Pneumonia
Pneumococcus); sputum kental (Pneumonia Klebsiella); sputum berwarna
hijau (Pneumonia H Influenza).

4. Patofisiologi.
Pneumonia bakterial menyerang baik ventilasi maupun difusi. Suatu
reaksi inflamasi yang dilakukan oleh pneumococcus terjadi pada alveoli dan
menghasilkan eksudat, yamg mengganggu gerakan dan difusi oksigen serta
karbon dioksida. Sel-sel darah putih, kebanyakan neutrofil juga bermigrasi
kedalam alveoli dan memenuhi ruang yang biasanya mengandung udara. Area
paru tidak mendapat ventilasi yang cukup karena sekresi, oedema mukosa dan
bronkospasme, menyebabkan oklusi parsial bronki atau alveoli dengan
mengakibatkan penurunan tahanan oksigen alveolar. Darah vena yang
memasuki paru-paru melalui area yang kurang terventilasi dan keluar kesisi
jantung tanpa mengalami oksigenasi. Pada pokoknya, darah terpirau dari sisi
kanak kesisi kiri jantung. Percampuran darah yang teroksigenasi dan tidak
teroksigenasi ini akhirnya mengakibatkan hipoksemia arterial, (Smeltzer &
Bare,1996)

5. Pemeriksaan penunjang
 Pemeriksaan darah menunjukan leukositosis denga predominan PMN atau
dapat ditemukan leukopenia yang menandakan prognosis buruk,dapat
ditemukan anemia ringan atau sedang.
 Pemeriksaan radiologis memberi gambaran bervariasi :
3

 bercak konsolidasi merata pada bronkopneumonia.


 bercak konsolidasi satu lobus pada pneumonia lobaris.
 gambaran bronkopneumonia difus atau infiltrat interstisialis
padapneumonia stafilococcus.
 Pemeriksaan cairan pleura
 Pemeriksaan mikrobiologik, spesimen usap tenggorokan, sekresi
nasofaring, bilasan bronkus atau sputum, darah, aspirasi trakhea, fungsi
pleura atau spirasi paru.

6. Penatalaksanaan medis
 Oksigen 1-2 L /mnt
 IVFD dextrose 10% : NaCl 9% ; 3=1,+KCL 10mEq/500 ml cairan.
 Jika sesak tidak terlalu hebat, dapat dimulai makanan enteral bertahap
melalui NGT dengan foeding drip.
 Jika sekresi lendir berlebihan dapat diberikan inhalasi denga salin normal
dan beta aganis untuk memperbaiki transfor mukosilier.
 Koreksi gangguan keseimbangan asam basa dan elektrolit.
 Antibiotik sesuai hasil biakan
Untuk kasus pneumonia community base :
 ampicillin 100 mg/kg BB/hr dalam 4× pemberian
 klorampenikol 75 mg/kg BB/hr dalam 4× pemberian
Untuk kasus pneumonia hospital base :
 cefotaksim 100 mg/kg BB/hr dalam 2× pemberian
 amikasin 10-15 mg/kg BB/hr dalam 2× pemberian

7. Komplikasi
a) abses kulit
b) abses jaringan lunak
c) otitis media
d) sinusitis
4

e) meningitis purulen
f) perikarditis
g) epiglotitis

B. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan


1. Pengkajian
pengkajian merupakan tahap awal dari proses keperawatan dan
merupakan suatu proses yang sistematis dalam pengumpulan data dari
berbagai sumber,untuk mengidentifikasi status kesehatan lain,
(Nursalam,2001).
Pengkajian klien dengan pneumonia sebagai berikut :
a. Biodata klien meliputi ; nama, TTL, jenis kelamin, anak ke, agama/suku,
pendidikan, alamat dan penanggung jawab serta hubungan keluarga
dengan klien.

b. Riwayat kesehatan
 Riwayat kesehatan sekarang : kaji keluhan klien, kapan mulai tanda
dan gejala
 Riwayat keaehatan masa lalu : berupa penyakit dahulu yang pernah
diderita dan berhubungan dengan keluhan sekarang.
 Riwayat alergi : apakah ada alergi terhadap reaksi-reaksi tertentu
seperti obat atau makanan.

c. Riwayat kesehatan keluarga


Adakah anggota keluarga klien menderita penyakit yang sama?

d. Struktur keluarga/genogram

e. Pengkajian fisik dan pola kesehatan :


 Aktivitas atau istirahat
5

Tanda : letargi, penurunan toleransi terhadap aktivitas.


Gejala : lemah,kelelahan.
 Makanan atau cairan
Tanda : distensi abdomen, badan kurus
Gejala : kehilangan nafsu makan, mual/muntah.
 Neurosensori
Tanda : perubahan mental klien (klien tampak bingung)
Gejala : sakit kepala daerah frontal (infuenza)
 Nyeri atau kenyamanan
Tanda : melindungi area yang sakit (pasien umumnya tidur pada sisi
yang sakit untuk membatasi gerakan)
Gejala : sakit kepala, nyeri dada meningkat pada saat batuk
 Pernafasan
Tanda : sputum (merah muda, berkarat atau purulen)
perkusi (pekak diatas area yang konsilidasi)
Gejala : takipnea,dispnea progresif, pernafasan dangkal, penggunaan
otot aksesoris, pelebaran nasal.
Bunyi : menurun atau tidak ada diatas area yang terlibat atau nafas
bronki.

2. Diagnosa keperawatan
a. Bersihan jalan nafas tidak efektif b.d peningkatan produksi sputum.
Tujuan : pola pernafasan efektif
Kriteria hasil : menunjukan jalan nafas paten dengan bunyi nafas bersih
tidak ada dispnea, sianosis.
Intervensi :
 Kaji frekuensi/kedalama pernafasan dan gerakan dada.
Rasional : takipnea,pernafasan dangkal dan gerakan dada tidak
simetris sering terjadi karena ketidaknyamanan gerakan
dinding dada,(Doenges,1999)
6

 Auskultasi area paru, catat area penurunan atau tidak ada aliran
udara dan bunyi nafas sdventius, misal : krekeles, mengi.

Rasional: penurunan aliran udara terjadi pada area konsilidasi


dengan cairan, bunyi nafas bronkiale ( normal pada
bronkus). Dapat juga terjadi pada area konsolidasi,
(Doenges,1999)
 Berikan cairan sedikitnya 2500 ml/hari,tawarkan air hangat dari pada
dingin.
Rasional: cairan mobilisasi dan mengencerkan sekret,
(Doenges,1999)
 Berikan obat sesuai dengan indikasi, ekspektoran, analgesik.
Rasional: alat untuk menurunkan spasme bronkus dengan mobilisasi
sekret.analgetik diberikan untuk memperbaiki batuk
dengan menurunkan ketidaknyamanan tetapi harus
dugunakan dengan hati-hati,(Doenges,1999)

b. Kerusakan pertukaran gas b.d perubahan membran alveolar kapiler.


Tujuan : pola pernafasan efektif
Kriteria hasil: tidak sianosis pada bibir dan kuku,Sao2 92-100%

Intervensi:
 Kaji frekuensi, kedalaman, dan kemudahan bernapas.
Rasional : manifestasikan disstres pernapasan tergantung pada
indikasi derajat keterlibatan paru dan status kesehatan
umum. (Doenges, 1999)
 Kaji status mental
Rasional : Gelisah, mudah terangsang, bingung, dan samnolen dapat
menunjukan hipoksemia/ dehidrasi tetapi dapat sebagian
respon terhadap hipoksemia. (Doenges, 1999)
7

 Tinggikan kepala dan sesering mengubah posisi, nafas dalam dan


batuk efektif.
Rasional: Tindakan ini meningkatkan inspirasi maksimal,
meningkatkan pengeluaran sekcret untuk memperbaiki
ventilasi. (Rujukan pada Dk: bersihan jalan nafas tak
efektif. Doenges, 1999)
 Berikan terapi oksigen dengan benar
Rasional : Tujuan terapi oksigen adalah mempertahankan PaO2
diatas 60 mmHg. Oksigen diberikan dengan metode yang
memberikan pengiriman yang tepat dalam toleransi
pasien. (Doenges, 1999)

c. Intoleransi aktivitas b.d ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan


oksigen.
Tujuan : klien dapat beraktivitas kembali.
Kriteria hasil: Menunjukan peningkatan toleransi terhadap aktivitas yang
dapat diukur dengan tidak adanya dispnea, kelemahan
berlebihan dan tanda-tanda vital DBN.
Intervensi :
 Evaluasi respon respon pasien terhadap aktivitas, catat laporan
dispnea, peningkatan kelemahan/kelelahan dan perubahan tanda-
tanda vital selama dan setelah aktivitas.
Rasional : Menetapkan kemampuan /kebutuhan pasien dan
memudahkan pilihan intervensi.( Doenges,1999).

 Berikan lingkungan tenang dan batasi pengunjung selama fase akut


sesuai indikasi.
Rasional : Menurunkan stress dan rangsangan berlebihan,
meningkatkan istirahat. (Doenges,1999)
8

 Bantu pasien memilih posisi yang nyaman untuk istirahat dan atau
tidur.
Rasional : Pasien mungkin nyaman dengan kepala tinggi, tidur
dikursi menunduk kemeja atau bantal. (Doenges,1999).

 Bantu aktivitas perawatan diri yang diperlukan.


Rasional : Meminimalkan kelelahan dan membantu keseimbangan
suplai dan kebutuhan oksigen. (Doenges,1999).

d. Resiko nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d anoreksia.


Tujuan : kebutuhan nutrisi terpenuhi.
Kriteria hasil : Menunjukan peningkatan nafsu makan, mempertahankan /
meningkatkan BB.
Intervensi :
 Jadwalkan pengobatan pernafasan sedikitnya 1 jam sebelum makan.
Rasional : menurunkan efek mual yang berhubungan dengan
pengobatan ini. (Doenges, 1999)

 Auskultasi bunyi usus, observasi / palpasi distensi abdomen.


Rasional : bunyi usus mungkin menurun / tidak ada bila proses
infeksi berat / memanjang. Distensi abdomen terjadi
sebagai akibat menelan udara atau menunjukan
pengaruh toksi bakteri pada saluran GI.(Doenges,1999).

 Evaluasi status nutrisi umum, ukur BB.


Rasional : adanya kondisi kronis (seperti PPOM atau alkoholisme)
atau keterbatasan keuangan dapat menimbulkan mal
nutrisi,rendahnya tahanan terhadap infeksi dan atau
lambatnyarespon terhasap terapi.(Doenges,1999)
.
9

 Berikan porsi makan kecil dan sering termasuk makanan kering (roti
bakar/krekers) dan atau makanan yang menarik untuk pasien.
Rasional: Tindakan ini dapat meniingkatkan masukan meskipun
nafsu makan mungkin lambat untuk kembali.
(Doenges,1999).