Anda di halaman 1dari 14

BAB II

TINJAUAN TEORITIS

Pada bab ini akan diuraikan beberapa teori yang akan dijadikan dasar dalam
melakukan asuhan keperawatan sesuai dengan kasus Sesarea pada kehamilan kembar.
Penulis akan menguraikan secara singkat tentang konsep dasar dan Asuhan Keperawatan
sesuai dengan masalah yang diambil dari beberapa referensi lebih jelasnya akan dibahas di
bawah ini.
A. Konsep Dasar Medis
1. Definisi
a. Persalinan merupakan fungsi seorang wanita, dengan fungsi ini produk
konsepsi (janin, air ketuban, placenta, dan selaput ketuban) dilepas dan
dikeluarkan ke dunia luar. (Harry Oxorn, 1990)
b. Ruptur merupakan robeknya atau koyaknya jaringan, (Dorland, 1998)

2. Anatomi fisiologi
a. Anatomi fisiologi
1) Alat genetalia
a) Genetalia eksterna
 Mons veneris
Merupakan bagian yang menonjol dan terdiri dari jaringan
lemak yang menutupi bagiam depan simfisis pubis.
 Labia mayora
Merupakan bagian yang berbentuk lonjong dan menonjol
berasal dari mons veneris berjalan kebawah dan belakang.
 Labia minora
Merupakan lipatan sebelah medial dari libia mayora.
 Klitoris
Merupakan tunggal yang erektis mengandung banyak urat
saraf, lateral oleh labia minora dan posterior oleh perineum. Disini
terdapat saluran skene yang arolok dengan prostat pada laki-laki.

4
5

 Vulva
Berbentuk lonjong dengan ukuran panjang dari muka
kebelakang, disebelah muka dibatasi oleh labia minora dan posterior
oleh perineum. Disini terdapat orifisium uretra eksternum yang kiri
kanannya terdapat saluran skene yang orolog dengan prostat pada
laki-laki.
 Glandula
Vestibularis mayoris bastholiri merupakan kelenjar
terpenting didaerah vagina dan vulva yang mengeluarkan secret
mucus terutama pada waktu koitus.
 Himen
Himen (selaput dara) merupakan lapisan dan menutupi
sebagian introitus vagina.
 Perineum
Daerah antara tepi bawah vulva dengan tepi depan anus.
Batas otot-otot diafragma pelvis (m.levator ani, m.coccygeus) dan
diafragma urogenitalis (m.perinealis transversus profunda,
m.constrictor urethra). Perineal body adalah raphe median m.levator
ani, antara anus dan vagina. Perineum meregang pada persalinan,
kadang perlu dipotong (episiotomi) untuk memperbesar jalan lahir
dan mencegah ruptur.

b) Genetalia internal
 Vagina
Merupakan saluran muskiod membranosa yang
menghubungkan uterus dengan vulva. Ukuran dinding depan 6,5 cm
dan belakang 9,5 cm. Faal penting vagina; sebagai saluran kalvein
dari uterus dapat mengalirkan darah waktu haid dan secret dari
uterus sebagai alat persetubuhan dan sebagai jalan lahir pada waktu
partus.
6

 Uterus
Merupakan organ yang berbentuk seperti buah peer yang
sedikit gepeng, panjang 7-7,5 cm, lebar 5,25 cm dan tebal 2,5 cm
terdiri dari korpus uteri (⅔ bagian atas) dari seviks uteri (⅓ bagian
atas) dab fundus yteri terdiri dari tiga lapis dalam kelvan
endometrium merupakan lapisan bagian dalam yang melapisi karung
uteri, terdapat muara-muara dari saluran kelenjar dan stoma banyak
pembuluh darah berkelok-kelok. Pertumbuhan dan fungsi
endometrium dipengaruhi oleh hormone steroid ovarium . Pada saat
persalinan terdapat kekuatan yang mendorong janin keluar
diantaranya adalah his. His merupakan kontraksi uterus karena otot-
otot rahim bekerja dengan baik, akibatnya otot teraba keras, ibu
merasa nyeri, peningkatan tekanan darah, nadi, pertukaran oksigen
pada utera plasenter kurang (Mochtar, 1994). Pada saat post partum
otot-otot uterus berkontraksi dengan segera pembuluh -pembuluh
darah yang berada diatas anyaman otot uterus akan terjepit sehingga
dapat menghentikan perdarahan segera setelah plasenta keluar. Pada
hari pertama post partum tinggi fundus uteri kira-kira 1 jari dibawak
pusat dan semakin lama bertambah kecil sampai tidak teraba.
Secret yang berasal dari kavum uteri dan vagina dalam masa
nifas (lochea) pada 1 sampai 2 hari post partum lochea lubra (warna
merah darah segar), pada 3 sampai 7 hari post partum lochea
sanginalenta (warna kuning berisi darah dan lender), pada 7 hari
sampai berikutnya lochea serosa (warna kuning tidak berdarah lagi),
setelah 2 minggu post partum lochea alba (cairan putih), lochea
puralental (cairan seperti nanah) jika terjadi infeksi (Mochtar, 1998).
 Tuba fallofi
Merupakan alat yang terdapat pada tepi atas ligamentum latum,
bagian kearah literal mulai dari konu kanan dan kiri, panjangnya
kira-kira 12 cm dan diameternya 7,8 cm.
7

 Ovarium
Merupakan organ yang berfungsi menghasilkan telur, hormone
progesterone dan berfungsi dalam pengaturan haid.
 Parametrium
Merupakan jaringan ikat yang terdapat antara ke-2 ligementum
latum.

3. Etiologi
Sebab-sebab mulainya persalinan dan kenapa terjadi lebih kurang pada umur
kehamilan 40 minggu tidak diketahui dengan pasti. Beberapa teori dikemukakan untuk
mejelaskan fenomena ini:
a. Diduga persalinan mulai apabila uterus telah teregang sampai pada derajat tertentu.
Dengan demikian dapat diterangkan terjadinya persalinan yang awal pada
kehamilan kembar dan hydroamnion.
b. Tekanan bagian terendah janin pada cervix dan segmen bawah Rahim, demikian
pula pada plexus di sekitar cervix dan vagina, merangsang permulaan persalinan
c. Siklus menstruasi berulang setiap 4 minggu, dan persalinann biasanya mulai pada
akhir minggu ke-40 atau 10 siklus menstruasi.
d. Begitu kehamilan mencapai cukup bulan, setiap factor emsional dan fisik dapat
memulai perasalinan. Stimulasi yang demikian antara lain adalah jatuh, kejadian-
kejadian dalam perut misalnya diarrhea, enema dan minyak kastor, atau shock
mental, (Harry Oxorn, 1990)

4. Patoisiologi
Tanda-tanda persalinan sungguhan:
a. Kontraksi uterus terjadi dengan interval yang teratur. Mula-mula timbul setiap 20
atau 30 menit, semakin lama semakin sering. Dengan demikian lajunya persalinan
maka kontraksi menjadi tambah kuat dan tambah lama.
b. Kontraksi uterus dirasakan nyeri
c. Dapat diraba uterus yang mengeras
d. Nyeri dirasakan baik di belakang maupun di depan abdomen
8

e. Persalinan sungguhan secara efektif menyebabkan pembukaan cervix.


f. Bagian terendah janin turun
g. Pada waktu tidak ada his kepala terfixasi
h. Seringkali mengakibatkan penonjolan ketuban.
His palsu adalah kontraksi uterus yang tidak efisien atau spasme usus, kandung
kemih dan otot-otot dinding hati sampai satu bulan sebelum kehamilan cukup bulan.
Kadang-kadang ditimbulkan oleh gangguan pencernaan atau pencahar yang kuat.
Umumnya his palsu timbul sendiri. Datangnya tidak teratur dan sebentar, lebih
dirasakan di bagian depan daripada di bagian belakang.
Kala persalinan:
a. Kala I: dari saat mulainya persalinan sungguhan sampai pembukaan lengkap. Pada
primigravida lamanya 6-18 jam dan pada multipara sampai 10 jam.
b. Kala II: dari pembukaan lengkap sampai lahirnya bayi. Pada primigravida lamanya
30 menit sampai 3 jam, dan pada multipara 5 sampai 30 menit. Median lamnya
persalinan kala dua pada multipara sedikit kurang dari 20 menit dan primigravida
sedikit kurang 50 menit.
c. Kala III: dari lahirnya bayi sampai keluarnya placenta. Lamanya 5 sampai 30
menit.
d. Kala IV: dari keluarnya placenta sampai keadaan ibu postpartum menjadi stabil.
(Harry Oxorn, 1990)
5. Manifestasi klinis
a. Fenomena yang mendahului permulaan perasalinan
1) Lighteningterjadi 2 atau 3 minggu sebelumnya dan merupakan sensasi subjektif
yang dirasakan oleh ibu ketika janin mulai menempati segmen bawah Rahim.
2) Engagement terjadi sampai 2 sampai 3 minggu sebelum kehamilan cukup bulan
pada gravida.
3) Sekresi vagina bertambah banyak.
4) Turunnya berat badan oleh karena eksresi cairan tubuh.
5) Sumbat lender dikeluarkan dari cervix
6) Ada lender daarah (blood show)
7) Cervix menjadi luna dan mendatar
9

8) Nyeri pinggang yang terus-menerus.


9) Terjadi his palsu dengan bermacam-macam frekuensi.
b. Tanda-tanda persalinan sungguhan:
1) Kontraksi uterus terjadi dengan interval yang teratur. Mula-mula timbul setiap
20 atau 30 menit, semakin lama semakin sering. Dengan demikian lajunya
persalinan maka kontraksi menjadi tambah kuat dan tambah lama.
2) Kontraksi uterus dirasakan nyeri
3) Dapat diraba uterus yang mengeras
4) Nyeri dirasakan baik di belakang maupun di depan abdomen
5) Persalinan sungguhan secara efektif menyebabkan pembukaan cervix.
6) Bagian terendah janin turun
7) Pada waktu tidak ada his kepala terfixasi
8) Seringkali mengakibatkan penonjolan ketuban, (Harry Oxorn, 1990)

B. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan


Pada bagian ini penulis akan menguraikan tentang konsep dasar asuhan keperawatan
pada klien dengan post seksio sesarea, ini menggunakan pendekatan proses
keperawatan proses keperawatan yang melalui 5 tahap yaitu Pengkajian, Perumusan
Diagnosa, Intervensi, Implementasi dan Evaluasi.
1. Pengkajian
Ini merupakan tahap awal dan dasar dari tahapan berikutnya, dalam tahap ini
dilakukan pengumpulan data secara anamnesa yang diperoleh dengan wawancara
observasi, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang, serta mempelajari status
klien. Data yang dikumpulkan terdiri dari data dasar dan data fokus
(Nursalam,2001). Setelah mengumpulkan data langkah berikutnya dalam
pengkajian adalah pengelompokan data yang terdiri atas data fisioligis atau
biologis, data psikologis, sosial, dan spritual.untuk kasus seksio sesarea pengkajian
meliputi:
10

a. Data dasar
1) Identitas klien
2) Riwayat kesehatan masa lalu
3) Riwayat kesehatan sekarang
4) Riwayat kesehatan keluarga
5) Riwayat psikologis
b. Pemeriksaan fisik
Tanda-tanda vital, karakter lochea, fundus uteri, payudara, abdomen,
(keadaan luka insisi), kandung kemih, kebersihan diri dan genital.
Bila ibu telah dirawat di ruangan pemulihan postpartum selama persalinan
kala IV, ibu dapat dipindahkan ke unit perawtan postpartum bila kondisinya
telah stabil. Pengkajian awal meliputi pelaporan pada perawat penerima.
Catatan pasien ditinjau kembali untuk mendapatkan informasi dari catatan
prenatal dan persalinan yang akan mempengaruh perawatan selanjutnya.
Catatan prenatal mengingatkan tim pemberi asuhan tentang kemungkinan
kebutuhan pasien untuk vaksnasi rubella atau perlindungan terhadap Rh
isoimunisasi. Pemeriksaan darah janin memperjelas kebutuhan akan
immunoglobulin Rh0.
Perawat mewawancarai pasien secara tidak formal untuk menentukan status
emosional, tingkat energy, letak dan derajat ketidaknyamanan, lapar, haus,
pengetahuannya terhadap perawatan diri dan perawatan bayi, apakah ia akan
menyusui bayinya atau memberikan susu botol. Factor-faktor etik dan
kebudayaan seperti bahasa atau variasi diet dikaji karena mempengaruhi
perawatan dan pemulihan.
Pengkajian tanda-tanda vital, fundus, lokea, kandung kemih,
asupan/haluran, perineum da episiotomy, payudara, eliminasi, dan status
emosional dibuat pada saat ini. Kecuali bila berkembang masalah, pemeriksaan
laboratorium jarang diresepkan. Pengkajian dilakukan setiap 4 sampai 8 jam
sampai pemulangan.
11

2. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan adalah suatu pernyataan yang menjelaskan respon
mausia dan individu atau kelompok dimana perawat secara akuntabilitas dapat
mengidentifikasi dan memberikan intervensi secara pasti untuk menjaga status
kesehatan, menurunkan, membatasi, mencegah dan mengubah (Carpenito,200)
Menurut Doenges et,al.(2001), diagnosa keperawatan yang mungkin timbul pada
klien dengan rupture perineum adalah:
1) Gangguan rasa nyaman : nyeri berhubungan dengan trauma jaringan sekunder
terhadap insisi bedah.
2) Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan kulit yang rusak dan trauma
jaringan akibat insisi bedah.
3) Resiko tinggi gangguan eliminasi BAB: konstipasi diare berhubungan dengan
bedah abdominal dan melemah nya otot abdominal serta nyeri.
4) Resiko kompliksi perdarahan berhubungan dengan trauma jaringan dan cedra
pada insisi.
5) Kurang pengetahuan berhubungan dengan proses perawatan postpartum.

3. Intervensi
Setelah merumuskan diagnosa keperawatan maka dapat dibuat rencana
keperawatan yang sesuai dengan kebutuhan klien.
a. Gangguan rasa nyaman : nyeri berhubungan dengan trauma jaringan sekunder
terhadap insisi bedah.
Tujuan: klien tidak nyeri dengan mampu menggunakan teknik relaksasi
sebagai pengontrol serta pencapaian kesembuhan luka.
Kriteris hasil:
1) Skala intensitas nyeri berkurang sampai hilang.
2) Ekspresi wajah rileks.
3) Kien mampu mendemontrasikan teknik relaksasi dan tarik nafas dalam.
4) klien akan melaporkan penurunan progresif dari nyeri dan peningkatan
dalam beraktifitas.
12

Intervensi:
1) Kaji nyeri, lokasi dan intensitas dengan skala 0-10.
Rasional::
Membantu dalam mengidentifikasi derajat ketidaknyamanan dan kebutuhan
untuk keefektifan analgesik (Doenges,1999).
2) Dorong dan ajarkan penggunaan teknik relaksasi, berikan posisi nyaman,
latihan nafas dalam dan saat batuk berikan bantal.
Rasional::
Mengurangi dan melepaskan tegangan emosional dan otot (Doenges,1999).
3) Dorong mengendalikan nyeri dengan teknik imajinasi.
Rasional::
Meningkatkan kemampuan koping terhadap nyeri yang timbul.
(Doenges,1999).
4) Kolaboresi dengan dokter pemberian obat analgesik IV, menyediakan
analgesik setiap saat.
Rasional::
Analgesik IV akan segera mencapai pusat rasa sakit, menimbulkan
penghilangan yang lebih efektif denga obat dosis kecil. (Doenges,1999).
5) Beri informasi mengenai sifat ketidaknyamanan sesuai kebutuhan.
Rasional::
Kurang memahami keadaan dan penyebab nyeri membuat kecemasan
sehingga koping tidak efektif untuk meredakan nyeri. (Doenges,1999).

b. Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan kulit yang rusak dan trauma
jaringan akibat rupture.
Tujuan:
Klien tidak infeksi pada luka OP dan tidak demam.
Kriteria:
1) Suhu tubuh klien normal 36,5-37,5ºC
2) TTV stabil TD 100-140/60-90 mmHg
3) Luka bersih tidak bereksudat
13

4) WBC normal 4000-11000


Intervensi:
1) Kaji kulit sekitar luka dan kemerahan, eksudat.
Rasional:
Gangguan pada integritas kulit atau dekat dengan luka OP adalah sumber
kontaminasi luka (Doenges,1999).
2) Cuci luka dan ganti balutan operasi secara asepsis dan antiseptik.
Rasional:
Tindakn ini untuk mencegah terjadinya kontaminasi. (Doenges,1999).
3) Identifikasi gangguan pada tekhnik aseptik dengan mengingatkan klien
untuk tidak memegang luka dan tidak membasahkn nya pada saat mandi
Rasional:
Kontaminasi dengan lingkungan atau kontak personal akan menyebabkan
daerah yang steril menjadi tidak steril sehingga dapat meningkatkan resiko
infeksi. (Doenges,1999).
4) Kolaborasi dokter tentang pemberian obat antibiotik sesuai program medis.
Rasional:
Dapat diberikan secara profilaksis bila dicurigai terjadinya infeksi atau
kontaminasi. (Doenges,1999).
5) Ulangi studi laboratorium untuk kemungkinan sistemik .
Rasional:
Peningkatan SDP akan mengidentifikasi adanya infeksi dimana prosedur
operasi akan mengurangi (misalnya appendistis, abses, inflamasi, dan
trauma) atau munculnya infeksi sistemik atau organ. (Doenges,1999).

c. Resiko tinggi gangguan eliminasi BAB: konstipasi diare berhubungan dengan


bedah abdominal dan melemah nya otot abdominal serta nyeri.
Tujuan:
Konstipasi atau diare tidak terjadi dengan mempertahankan pola eliminasi .
Kriteria hasil:
1) Klien dapat melakukan BAB dengan lancar.
14

2) Klien dapat BAB dengan teratur.


3) Konstipasi feses normal.
Intervensi:
1) Auskultasi bising usus, perhatikan distensi abdomen adanya mual muntah.
Rasional:
Indikator adanya perbaikan ileus,mempengaruhi pillihan intervensi,
(Doenges,1999).
2) Bantu klien untuk dapat duduk ditepi tempat tidur dan berjalan
Rasional:
Ambulasi diri membantu merangsang fungsi intestinal dan mengembalikan
peristaltik, (Doenges,1999).
3) Dorong pemasukan cairan adekuat termasuk sari buah, bila dimasukan
peroral dimulai.
Rasional:
Meningkatkan pelunakan tesis, dapat membantu merangsang peristaltik.
(Doenges,1999).
4) Berikan rendam duduk.
Rasional:
Meningkatkan relaksasi otot, meminimalkan ketidaknyamanan.
(Doenges,1999).
5) Kolaborasi pembatasan oral sesuai indikasi.
Rasional:
Mencegah mual muntah sampai paristaltik kembali (1-2 hari).
(Doenges,1999).

d. Resiko kompliksi perdarahan berhubungan dengan trauma jaringan dan cedra


pada insisi.
Tujuan:
Komplikasi perdarahan tidak terjadi selama proses penyembuhan luka.
15

Kriteris hasil:
1) Luka insisi menyatu.
2) Nilai HCT 37%-47% klien tidak pucat.
3) Perdarahan pada luka atau tersembunyi tidak ditemukan.
Intervensi:
1) Kaji tanda perdarahan nyata maupun tersembunyi.
Rasional:
Mengidentifikasi adanya keadaan gawat yang perlu penanganan yang akurat
(Carpenito,1999)
2) Pantau tekanan darah dengan teliti
Rasional:
Hipotensi segera setelah operasi menunjukan perdarahan (Carpenito,1999).
3) Palpasi uterus dan kaji nyeri dan perdarahan pervaginam.
Rasional:
Tindakan ini untuk mencegah terjadinya kontamidasi. (Carpenito,1999)
4) Pantau keadaan luka, hindari terjadinya cedera.
Rasional:
Luka yang baru, mudah mengalami cedera seminimal mungkin.
(Carpenito,1999).
e. Kurang pengetahuan berhubungan dengan proses perawatan postpartum.
Tujuan:
Pengetahuan klien tentang perawatan luka post operasi seksio terpenuhi
Kriteria hasil:
Mengungkapkan pemahaman tentang perawatan luka, kaji kebutuhan belajar
dan catat apakah prosedur direncanakan atau tidak
Intervensi:
1) Kaji kebutuhan belajar dan catat tingkat stress dan apakah prosedur
direncakan atau tidak
Rasional:
Mengidentifikasikan kesiapan klien dan pasangan untuk menerima informs
16

2) Berikan informasi akurat dengan istilah-istilah sederhana, anjurkan


pertanyaan dan mengungkapkan pemahaman mereka
Rasional:
Memberikan informasi dan mengklarifikasikan kesalahan konsep,
memberikan kesempatan untuk mengevaluasi pemahaman klien
Rasional:
3) Bantu klien untuk mengidentifikasikan cara memahami brbagai perubahan
sebagai akibat penyakit dan penanganan yang mempengaruhi
Rasional:
Klien dapat melihat bahwa kehidupannya tidak harus berubah akibat
penyakitnya.

4. Implementasi
Penatalaksanaan adalah intensif dari rencana tindakan untuk mencapai tujuan yang
spesifik. Tujuannya adalah mambantu klien dalam mencapai tujuan yang lebih
diterapkan yang mencakup peningkatan kesehatan, pencegahan penyakit dan
perencanaan tindakan keperawatan yang akan dilaksanakan dengan baik, jika ada
keinginan klien untuk berpartisipasi dalam pelaksanaan tindakan keperawatan dan
selama tahap pelaksanaan, perawat terus melakukan pengumpulan data dan
memilih tindakan keperawatan yang paling sesuai dengan kebutuhan klien.
(Narusalam,2001)

5. Evaluasi
Evaluasi adalah tindakan intelektual untuk melengkapi proses keperawatan yang
menandakan seberapa jauh diagnosa keperawatan.tindakan dan pelaksanaannya
yang sudah berhasil dicapai. (Ignatavicus dan Bayn,1994).
Tujuan evaluasi adalah untuk melihat kemampuan klien dalam mencapai tujuan.
Hal ini bisa dilaksanakan dengan mengadakan hubungan dengan klien berdasarkan
respon klien terhadap tindakan keperawatan yang diberikan. (Narusalam,2001)
17

6. Perencanaan Pulang
a. Menjelaskan tentang komplikasi dari ruptur yaitu:
1) Infeksi pada luka.
Terjadi akibat: tubuh tidak bersih sehingga kuman banyak, tidak atau jarang
dicuci oleh perawat (cara steril), klien memegang luka.
2) Infeksi dalam kandungan.
Terjadi akibat: luka infeksi (bernanah) sehingga kuman dapat menyebar
kedalam kandungan melalui bekas operasi dan ibu akan demam, lemah dan
sakit diperut.
3) Perdarahan.
Terjadi akibat bekas luka tidak menyatu dan meregang karena banyak
mengerakan otot anus.

b. Menjelaskan bahwa cara untuk menghindari komplikasi tersebut adalah:


1) Badan tetap bersih dan bebas dari keringat dan mandi dengan sabun tanpa
membasahi luka.
2) Tidak menyentuh luka dengan barang lain karena bisa terkontaminasi.
3) Istirahat sampai luka menyatu dan sembuh.
4) Jangan mengangkat barang yang berat.
5) Minum obat secara teratur.
6) Makan makanan yang bergizi dan berprotein.

c. Menjelaskan kepada klien dan suami tentang penundaan kehamilan berikutnya


selama proses penyembuhan belum tercapai.
d. Menganjurkan kepada klien untuk meminta persetujuan suami dalam mengikuti
program KB.
e. Informasikan kepada klien untuk segera melaporkan kepada petugas kesehatan
dengan segera bila terjadi tanda-tanda komplikasi dari ruptur perineum.

Anda mungkin juga menyukai